MODERATION: Journal of Islamic Studies Review Volume. Number. Maret 2026 p-ISSN: 2776-1193, e-ISSN: 2776-1517 Hlm: 35-50 Journal Home Page: http://journal. id/index. php/moderation/index INTEGRASI ILMU & AGAMA DALAM PENDIDIKAN: Studi Perbandingan Pemikiran Yudian Wahyudi Dengan Seyyed Hossein Nasr Eko Suwanto. Baha Shofa Mijdal. Sadari3 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta1,. Institut Pembina Rohani Islam Jakarta3 adpetikisindo@gmail. sadari@iprija. Abstract: The thoughts of Yudian and Nasr have made significant contributions to formulating an integrative Islamic education curriculum, namely uniting general and religious sciences within a single epistemological system. Nasr emphasized the importance of Ausacred scienceAy as the foundation of education that integrates with the spiritual and metaphysical dimensions of humankind. Meanwhile. Yudian proposed a more contextual approach through the reconstruction of Islamic epistemology based on local Indonesian social and cultural realities, yet transcendentally spiritual. The curriculum resulting from this synthesis of thought not only bridges the science-religion dichotomy but is also relevant for application in the world of contemporary Islamic education. Relevance to Madrasahs. Islamic Boarding Schools, and Contemporary Islamic Schools. The concept of science-religion integration is highly relevant for application in Islamic educational institutions such as madrasahs. Islamic boarding schools, and contemporary Islamic schools. Pesantren, as traditional Islamic institutions, can adopt Nasr's ideas to strengthen the Sufi and traditional scientific dimensions. Madrasahs and contemporary Islamic schools can integrate Yudian's approach within the context of national curriculum policies and the strengthening of national character based on Islamic values. This aligns with the vision of national Islamic education, which emphasizes not only intellectual intelligence but also spiritual and moral excellence. Therefore, these institutions have a significant opportunity to become pioneers of holistic Islamic education in Indonesia, and even globally. Implementing the integration of science and religion in Indonesia faces serious challenges, such as the dominance of the secular paradigm in science, the limited number of teachers and lecturers who understand Islamic epistemology, and the resistance of a still-dualistic academic culture. However, significant opportunities also exist, particularly with the emergence of Islamic universities adopting an integrative approach, such as UIN Sunan Kalijaga and UIN Syarif Hidayatullah. Globally. Nasr's thinking has made a significant contribution to bridging the dialogue between Islamic and Western intellectual traditions. Meanwhile. Yudian offers a local approach responsive to national dynamics, serving as a model for the Islamic world. Therefore, strengthening collaboration between educational institutions, researchers, and policymakers is key to the successful realization of this integration. Keyword: Integration of Science. Religion. Education. Yudian Wahyudi. Seyyed Hossein Nasr Eko Suwanto Baha Shofa Mijdal. Sadari: [Integrasi Ilmu & Agama Dalam Pendidikan: Studi Perbandingan Pemikiran Yudian Wahyudi Dengan Seyyed Hossein Nas. 35 | Eko Suwanto. Baha Shofa Mijdal. Sadari PENDAHULUAN Pendidikan modern abad ke-21 menghadapi tantangan multidimensi akibat dikotomi ilmu pengetahuan dan agama. 1 Dominasi sains sekuler yang menekankan objektivitas dan rasionalitas telah mengabaikan dimensi spiritual dan etika, memicu krisis eksistensial seperti dehumanisasi teknologi, kerusakan lingkungan dan degradasi moral. 2 Sistem pendidikan global cenderung memprioritaskan kompetensi teknis ketimbang pembangunan karakter, sehingga melahirkan generasi yang Aupintar secara instrumental tetapi miskin secara makna. Ay3 Fenomena ini memunculkan urgensi untuk merekonstruksi paradigma pendidikan yang holistik, yang mampu menjembatani sains dengan nilai-nilai transendental. Integrasi ilmu dan agama muncul sebagai respons intelektual terhadap krisis tersebut. Gagasan ini bertujuan menciptakan sintesis antara rasionalitas ilmiah dan kebijaksanaan spiritual, sehingga ilmu pengetahuan tidak hanya menjawab AubagaimanaAy . , tetapi juga AumengapaAy . dan Auuntuk apaAy . or wha. 5 Menurut Osman Bakar, integrasi bukan sekadar menggabungkan dua disiplin, melainkan membangun epistemologi inklusif yang mengakui wahyu sebagai sumber pengetahuan sahih. 6 Dalam konteks Islam, upaya ini berakar pada tradisi keilmuan klasik, seperti karya Ibnu Sina dan Al-Ghazali, yang memadukan filsafat, sains, dan teologi secara harmonis. Di Indonesia, wacana integrasi ilmu-agama mendapat momentum seiring berkembangnya gerakan Islamisasi ilmu pengetahuan. Yudian Wahyudi. Rektor UIN Sunan Kalijaga, menawarkan pendekatan kontekstual melalui rekonstruksi turats . arisan keilmuan Islam klasi. yang relevan dengan perkembangan sains modern. 8 Dalam Islamisasi Sains, ia menekankan perlunya dialog kritis antara teks agama dan realitas sosial, misalnya dengan mengintegrasikan etika Al-QurAoan dalam riset bioteknologi atau ekonomi syariah. 9 Model ini diimplementasikan di UIN melalui kurikulum berbasis Autriple helixAy . gama, sains, dan kearifan loka. , yang menurut Rosyadi, berhasil memperkuat identitas keislaman tanpa mengisolasi diri dari kemajuan teknologi. Sementara itu. Seyyed Hossein Nasr, melalui buku The Need for a Sacred Science, menawarkan kritik radikal terhadap modernitas. Ia berargumen bahwa krisis ekologi dan spiritual saat ini bersumber dari desakralisasi ilmu pengetahuan yang memisahkan alam dari dimensi metafisik. 11 Nasr mengusung revitalisasi Ausains sakralAy berbasis filsafat Perenialis, yang memandang alam sebagai manifestasi Ilahi sehingga eksplorasi ilmiah harus disertai kesadaran Misalnya, kosmologi Islam tradisional, menurut Nasr, tidak hanya menjelaskan hukum fisika, tetapi juga simbol-simbol spiritual dalam struktur alam semesta. 12 Pendekatan ini, seperti ditegaskan Kalin, memberikan kerangka filosofis untuk ekologi Islam yang menolak antroposentrisme modern. 1Risda Lestari and Siti Masyithoh. AuProblematika Pendidikan Islam di Indonesia Abad 21,Ay Al-Rabwah: Jurnal Ilmu Pendidikan, 17, no. : 53, https://doi. org/10. 47435/al-qalam. 2Azhari Azhari. AuSekularisasi Sains Modern,Ay TADRIBUNA: Journal of Islamic Education Management, 2, no. : 34Ae45. 3UNESCO. OUR FUTURES A New Social, 2021 4Mohammad Muchlis Solichin and Wahab Syakhirul Alim. Integrasi Ajaran Islam Dengan Ilmu Pengetahuan, 2023. 5Mohammad Firdaus. Integerasi Ilmu Agama Dan Ilmu Umum (Jakarta: Yayasan Soebono Mantofani, 2. 6Ronika Putra. Tamrin Kamal, and Abdul Hakim Hanafi. AuIntegrasi Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Studi Islam : Analisis Kritis Konsep Ilmu Pengetahuan,Ay Jurnal Al-MauAoizhoh 6, no. : 1Ae8. 7Ibrahim. AuFilsafat Islam Klasik dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Modern di Eropa,Ay Aqidah-Ta : Jurnal Ilmu Aqidah 3, 1 . : 13Ae25, https://doi. org/10. 24252/aqidahta. 8Dirga Ayu Lestari. AuDiskursus Perkembangan Turats Dalam Islam,Ay Kordinat: Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam XXII, no. : 25Ae40. 9Saidurrahman and Azhari Akmal Tarigan. Rekonstruksi Peradaban Islam (Jakarta: Prenadamedia Group, 2. 10Krisna Wijaya. Nida Rafiqa Izzati, and Syifa Maharani. AuTHE TRIPLE HELIX IN HIGHER EDUCATION AS A ZONE FOR CHARACTER EDUCATION In the Modern Era, the Erosion of Values and Character among Students Due to Technological Advancements Requires an Ideal,Ay Jurnal EL-Tarbawi 16, no. : 2023. 11Seyyed Hossein Nasr. The Need For A Sacred Science (Curzon Press Ltd, 2. 12Fitri Siska Supriatna and Salman Husain. AuKontribusi Filsafat Perenial Sayyed Hossein Nasr Terhadap Sains Modern,Ay Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam Dan Sains 2 . : 177Ae83. 13Siti Ulfiani and Radea Yuli A. Hambali. AuDogma Antroposentrisme Pemicu Krisis Lingkungan Dalam Pandangan Ekoteologi Seyyed Hossein Nasr,Ay Gunung Djati Conference Series 19 . : 530Ae40. 36 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | Perbedaan mendasar antara Yudian dan Nasr terletak pada respons terhadap Yudian mengambil posisi adaptif dengan menerima metodologi sains modern selama diimbangi nilai agama, sementara Nasr menolak epistemologi modern dan mengajak kembali ke tradisi metafisik Islam. Yudian, sebagai akademisi Indonesia, fokus pada praktik integrasi dalam kurikulum pendidikan, sedangkan Nasr lebih menekankan reformasi filosofisideologis. Namun, ke duanya sepakat bahwa ilmu tanpa agama akan kehilangan kompas etika, sebagaimana dinyatakan Guessoum bahwa sains sekuler abai pada pertanyaan tentang Autujuan akhirAy kehidupan manusia. Studi komparatif ini penting untuk memetakan strategi integrasi ilmu-agama di tingkat lokal dan global. Temuan awal menunjukkan bahwa model Yudian cocok diterapkan di masyarakat plural seperti Indonesia, sedangkan gagasan Nasr relevan untuk kritik filsafat sains Barat. Namun, penelitian terdahulu seperti karya Rosyadi dan Kalin belum menyentuh aspek metodologis implementasi ke dua model tersebut dalam konteks multikultural. Tulisan ini mengisi celah tersebut dengan menganalisis kelebihan dan keterbatasan masing-masing paradigma, sekaligus mengusulkan kerangka integratif yang memadukan kontekstualisasi Yudian dengan kedalaman metafisik Nasr. METODE KOMPARASI Biografi Singkat dan Latar Belakang Intelektual Tokoh Yudian Wahyudi Latar Belakang Pendidikan dan Pemikiran Filsafat Islam dan Fikih Budaya Yudian merupakan salah tokoh nasional yang selalu menawarkan ide tentang pembaharuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam yang dihubungkan dengan nasionalisme, inklusifisme dan humanism. 15 Yudian merupakan laki-laki bertanah kelahiran Balikpapan Kalimantan Timur yang lahir pada 17 April tahun 1960. 16 Latar belakang pendidikan Yudian sangat erat dengan dunia pesantren, dimulai dari Pondok Pesantren Termas-Pacitan pada tahun 1973-1978 kemudian dilanjutkan di Pondok Pesantren AlMunawwir Krapyak Yogyakarta pada tahun 1978-1979. Pada jenjang pendidikan tinggi. Yudian melanjutkan pendidikannya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Fakultas SyariAoah dan Hukum . 2 meraih Sarjana Muda/B. dan 1987 meraih Sarjana Lengkap/Drs. ) dan di UGM pada Fakultas Filsafat . 6 meraih Mengambil program M. Islamic Studies di McGill University. Montreal. Kanada, lulus tahun 1993 dengan tesis: AuHasbiAos Theory of Ijtihad in the Context of Indonesia FiqhAy. Dan melajutkan studinya dengan mengambil Ph. Islamic Studies. McGill, lulus pada tahun 2002 dengan disertasi yang berjudul: AuThe Slogan AoBack to the QurAoan and the SunnaAo: A Comparative Study of the Responses of Hasan Hanafi. Muhammad AoAbid al Jabari and Nurcholish Majid. Ay18 14Farid Rachman Naufal et al. AuISLAM PERSPECTIVE OF THE CONCEPT OF WESTERN EDUCATION WITH ISLAMIC EDUCATION,Ay JIIC: Jurnal Intelek Insan Cendekia 1, no. : 803Ae15. 15Hairus Sodik and Siti Hesniyatul Jamila. AuSlogan Ao Pentingnya Menguasai MIPA Dan Bahasa Asing Ao Dalam Konsep Pendidikan Islam Perspektif Yudian Wahyudi Yudian Wahyudi Ao s Thoughts on the Slogan " Importance of Mastering MIPA and Foreign Languages " on Islamic Education,Ay Al-Hamra Jurnal Studi Islam 4, no. : 181Ae94. Djidin and Sahiron Syamsuddin. AuINDONESIAN INTERPRETATION OF THE QURAoAN ON KHILAFAH : The Case of Quraish Shihab Yudian Wahyudi QurAoan 30-38,Ay Al-JamiAoah . 143Ae66, https://doi. org/10. 14421/ajis. 17Yan Yan Supriatman. AuPendidikan Pesantren Menurut Cak Nur Dan Yudian Wahyudi,Ay TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan 1, no. : 113Ae34, https://doi. org/10. 52266/tadjid. 18Yan Yan Supriatman. AuPendidikan Pesantren Menurut Cak Nur Dan Yudian Wahyudi,Ay TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan 1, no. : 113Ae34, https://doi. org/10. 52266/tadjid. Eko Suwanto Baha Shofa Mijdal. Sadari: [Integrasi Ilmu & Agama Dalam Pendidikan: Studi Perbandingan Pemikiran Yudian Wahyudi Dengan Seyyed Hossein Nas. 37 | Eko Suwanto. Baha Shofa Mijdal. Sadari Yudian merupakan salah satu cendekiawan Muslim Indonesia yang memiliki perhatian mendalam terhadap pengembangan filsafat Islam dan rekontekstualisasi hukum Islam dalam ruang budaya lokal. Dalam pandangannya, filsafat Islam tidak hanya dimaknai sebagai produk intelektual masa lalu yang bersifat historis, melainkan sebagai metode berpikir kritis yang senantiasa relevan dengan dinamika zaman. 19 Ia menolak pendekatan tekstual-dogmatis dalam memahami ajaran Islam dan menawarkan pembacaan yang lebih hermeneutik, yaitu pendekatan yang mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan historis dalam menafsirkan teks-teks keagamaan. Yudian berpendapat bahwa unsur-unsur budaya lokal, termasuk kearifan tradisional yang hidup dalam masyarakat Indonesia, seharusnya mendapat ruang dalam proses perumusan dan implementasi hukum Islam. Fikih budaya, dalam perspektif ini, bukan sekadar penerapan hukum berdasarkan teks-teks normatif semata, tetapi juga melibatkan pertimbangan atas nilai-nilai budaya yang kontekstual dan historis. Melalui pendekatan tersebut. Yudian mendorong terbentuknya pemahaman Islam yang inklusif, toleran terhadap perbedaan, dan responsif terhadap dinamika masyarakat. Kiprah Dalam Pengembangan Pemikiran Islam Inklusif di Indonesia Yudian adalah salah satu tokoh yang konsisten mengusung Islam inklusif yang dapat diartikan Islam yang membuka ruang dialog, toleransi, dan keterbukaan terhadap keberagamaan agama, budaya, serta ideologi. Beberapa poin penting dalam pemikirannya yaitu: pertama. Islam Sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam. Yudian sering menekankan bahwa Islam harus tampil sebagai kekuatan yang menyejukkan dan membawa kedamaian, bukan sebagai sumber konflik. Dalam hal ini, ia mengutip prinsip rahmatan lil-Aoalamin. Kedua. Pancasila sebagai Titik Temu. Dalam kapasitasnya di BPIP. Yudian menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai dasar untuk membangun relasi antaragama dan Baginya. Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, justru menjadi wahana untuk mewujudkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan berbangsa yang majemuk. Ketiga. Tafsir Kontekstual atas Ajaran Islam. Ia mendorong pembacaan ajaran-ajaran Islam yang kontekstual dan relevan dengan zaman, termasuk isu-isu HAM, demokrasi, dan keadilan sosial. Dengan pendekatan ini, ia berusaha menghindari tafsir literal yang bisa melahirkan eksklusivisme dan radikalisme. Seyyed Hossein Nasr Latar pendidikan Barat dan Islam Seyyed Hossein Nasr lahir pada tanggal 7 april 1933, di kota Teheran. Iran. Negara tempat lahirnya para sufi, filosofi, ilmuwan dan penyair muslim terkemuka. Ayahnya. Seyyed Waliullah Nasr, di samping masyhur sebagai seorang ulama terkenal di Iran pada masanya, juga dikenal sebagai seorang dokter dan pendidik. Pada masa berkuasanya Reza Shah, ia diangkat setingkat dengan jabatan Menteri Pendidikan . ntuk masa sekaran. 19Dicky Eko Prasetio and Universitas Negeri Surabaya. AuGemercik Pemikiran Pembaruan Islam Yudian Wahyudi,Ay no. February . 20Ahwan Fanani. AuUyl Al-Fiqh versus Hermeneutika Tentang Pengembangan Pemikiran Hukum Islam Kontemporer,Ay ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman 4, no. : 194, https://doi. org/10. 15642/islamica. 21Afthon Yazid. Arif Sugitanata, and Siti Aminah. AuMemetakan Cakrawala Intelektual,Ay TasyriAo : Journal of Islamic Law 3, no. : 123Ae53, https://doi. org/10. 53038/tsyr. 22Ahmad Akso Abdur Rouf. AuOrientalis Plus Di Pondok Pesantren Nawesea Yogyakarta (Studi Literatur Pemikiran Prof. Yudian Wahyud. ,Ay Jurnal Education and Development 10, no. : 305Ae7. 23Yudian Wahyudi. The Slogan AuBack to the Quran and the SunnaAy: A Comparative Study of the Responses of Hasan Hanafi. Muhammad AoAbid Al-Jabiri and Nurcholish Madjid, 2002. 24Nadhif Muhammad Mumtaz. AuHakikat Pemikiran Seyyed Hossein Nasr,Ay Indo-Islamika 4, no. : 169Ae78. 38 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | Sejak kecil. Nasr telah menerima pendidikan dasar secara informal dari lingkungan keluarganya, serta pendidikan tradisional secara formal di Teheran. Di lembaga pendidikan tersebut, ia mempelajari dan menghafal Al-QurAoan serta syair-syair klasik berbahasa Persia, yang kemudian meninggalkan kesan mendalam dalam batin dan pikirannya. Atas inisiatif sang ayah. Nasr melanjutkan studi ke sejumlah ulama terkemuka di Qum Iran, termasuk kepada ThabathabaAoi, penulis tafsir Al-MzAn, untuk memperdalam pemahamannya tentang filsafat, ilmu kalam, dan tasawuf. Pendidikan tinggi Nasr ditempuh di Amerika Serikat, tepatnya di Massachusetts Institute of Technology (MIT), tempat ia meraih gelar (Bachelor of Scienc. dan M. (Master of Art. dalam bidang fisika. Namun, capaian akademik tersebut belum membuatnya puas. Ia kemudian melanjutkan studi ke Universitas Harvard, mengambil bidang Sejarah Ilmu Pengetahuan dan Filsafat, dan berhasil meraih gelar Ph. (Doctor of Philosoph. pada tahun 1958. Meskipun sebagian besar karier Nasr dijalani di dunia Barat, tetapi hal itu tidak membuatnya sepenuhnya mengikuti pola pikir Barat. Ia justru menyampaikan kritik tajam terhadap berbagai kelemahan dalam cara pandang dan pemikiran Barat. Kritik tersebut tergambar jelas dalam beberapa karya pentingnya, seperti Traditional Islam in the Modern World. Islam and the Plight of Modern Man . dan The Encounter of Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man . Buku The Encounter of Man and Nature merupakan respons cemerlang dari perspektif filsafat perennial terhadap krisis lingkungan kontemporer, dengan menawarkan solusi alternatif atas persoalan tersebut. Nasr menekankan bahwa laju perkembangan teknologi dan ekonomi seringkali tidak selaras dengan kebutuhan lingkungan akan kedamaian dan kebersihan. Menurutnya, krisis lingkungan dan sosial yang dihadapi manusia modern bersumber dari adanya ketidakseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan. Peran dalam Pengembangan Filsafat Perennialisme dan Islamisasi Ilmu Nasr merupakan salah satu pemikir Muslim kontemporer yang memiliki pengaruh signifikan dalam pengembangan filsafat perennial dan wacana Islamisasi ilmu Ia dikenal sebagai tokoh utama yang menjembatani antara warisan intelektual Islam klasik dengan tantangan modernitas melalui pendekatan filsafat yang mendalam dan spiritualitas yang kuat. Nasr adalah representasi pemikir Islam yang tidak hanya menekuni aspek keilmuan secara rasional, tetapi juga menekankan pentingnya dimensi metafisis dan transendental dalam memahami realitas. Dalam konteks filsafat perennialisme. Nasr berperan sebagai penerus sekaligus pengembang utama gagasan yang sebelumnya dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Reny Guynon dan Frithjof Schuon. Perennialisme berpijak pada pandangan bahwa terdapat kebenaran abadi . erennial trut. yang menjadi inti dari semua tradisi religius besar di dunia. Nasr menegaskan bahwa di balik keberagaman agama dan budaya, terdapat prinsip-prinsip metafisis universal yang bersumber dari Tuhan yang satu. Dalam karyakaryanya seperti Knowledge and the Sacred dan The Need for a Sacred Science. Nasr menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan sejati harus bersumber dari hikmah ilahiah dan diarahkan untuk menghubungkan manusia dengan realitas transendental. 27 Dengan demikian, ia menolak paradigma sekuler dan positivistik dalam ilmu pengetahuan modern yang cenderung memisahkan antara ilmu dan nilai-nilai spiritual. 25Moh Asror Yusuf. AuKonsep Manusia Ideal Seyyed Hossein Nasr Dan Relevansinya Dengan Pengembangan Karakter Masyarakat Modern Indonesia,Ay Didaktika Religia 4, no. : 135Ae58, https://doi. org/10. 30762/didaktika. 26Aan Rukmana. AuIslam Dan Ilmu Pengetahuan Dalam Pemikiran Nurcholis Madjid Dan Seyyed Hossein Nasr,Ay Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, 2020, 1Ae192. 27Jaipuri Harahap. AuSayyed Hossein Nasr Tentang Filsafat Perennial Dan Human Spiritualitas,Ay Aqlania 8, no. : 73, https://doi. org/10. 32678/aqlania. Eko Suwanto Baha Shofa Mijdal. Sadari: [Integrasi Ilmu & Agama Dalam Pendidikan: Studi Perbandingan Pemikiran Yudian Wahyudi Dengan Seyyed Hossein Nas. 39 | Eko Suwanto. Baha Shofa Mijdal. Sadari Adapun dalam wacana Islamisasi ilmu. Nasr adalah salah satu pemikir awal yang mengangkat isu ini secara serius sebelum berkembang luas pada dekade 1980-an melalui gagasan Ismail Raji al-Faruqi. Nasr menyoroti krisis epistemologis dalam sains modern yang menurutnya telah mengalami sekularisasi dan kehilangan dimensi sakralnya. mengusulkan agar umat Islam melakukan pemulihan terhadap pandangan dunia Islam (Islamic worldvie. yang integratif, di mana ilmu tidak hanya dipahami sebagai hasil rasio manusia, tetapi sebagai bagian dari penyingkapan terhadap realitas Tuhan (Al-aq. Dalam pandangannya, proses Islamisasi ilmu tidak berarti menolak ilmu modern, tetapi mereorientasikan ilmu tersebut agar sejalan dengan nilai-nilai wahyu dan tradisi keilmuan Islam. Dengan pendekatan filsafat perennial yang mengedepankan kedalaman spiritual, serta gagasannya tentang Islamisasi ilmu yang menekankan integrasi antara wahyu dan akal. Nasr telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk kerangka epistemologi Islam Ia mengingatkan umat Islam untuk tidak terjebak pada dikotomi antara tradisi dan modernitas, melainkan membangun paradigma ilmu yang bersifat integral, spiritual, dan kosmologis. Melalui pemikirannya. Nasr tidak hanya mengajak umat Islam untuk kembali kepada tradisi intelektual Islam klasik, tetapi juga untuk membangun peradaban ilmu yang berakar pada nilai-nilai Ilahiah. PEMBAHASAN Konsep Integrasi Ilmu dan Agama menurut Tokoh Konsep Integrasi Ilmu dan Agama menurut Yudian Wahyudi Kritik terhadap Dikotomi Ilmu dalam Sistem Pendidikan Kolonial Menurut Yudian, sebelum masa kolonial, sistem pendidikan Islam di Nusantara pada dasarnya bersifat integral, di mana ilmu agama dan ilmu duniawi . diajarkan secara terpadu dalam lembaga-lembaga tradisional seperti pesantren dan surau. Namun, kolonialisme Belanda secara sistematis memisahkan antara pendidikan Barat . ang berorientasi pada rasionalitas dan sekularism. dan pendidikan pribumi . ang dikonstruksi sebagai tradisional dan hanya mengajarkan agam. Proyek kolonial ini tidak hanya memarginalkan pendidikan Islam secara struktural, tetapi juga membentuk pandangan dikotomik di kalangan Muslim sendiri bahwa ilmu-ilmu non-agama bersifat profan dan tidak penting dalam konteks keislaman. Untuk mengatasi problem dikotomi ilmu warisan kolonial. Yudian mengajukan gagasan rekonstruksi sistem pendidikan Islam yang bersifat integratif, dengan menghapus batasan antara ilmu agama dan ilmu umum. Menurutnya, dalam khazanah keilmuan Islam klasik, tidak terdapat pemisahan secara ontologis maupun epistemologis antara berbagai cabang ilmu pengetahuan. Islam memandang seluruh ilmu, baik yang bersumber dari wahyu maupun yang diperoleh melalui akal, sebagai bagian integral dari proses pencarian kebenaran yang bersumber dari Tuhan. Oleh karena itu. Yudian menekankan pentingnya pengembangan paradigma pendidikan Islam yang holistik, yang memadukan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu empiris dan rasional secara harmonis. 30 Pendekatan ini selaras dengan semangat Islamisasi ilmu pengetahuan yang berpijak pada worldview Islam, yaitu pandangan hidup yang menjadikan wahyu sebagai pusat orientasi pengetahuan dan kehidupan, sehingga seluruh disiplin ilmu diarahkan untuk mendukung tujuan-tujuan etis dan transendental dalam Islam. 28Topik. AuIslamisasi Sains Menurut Sayyed Hossein Nasr,Ay Jurnal Ilmiah Edukatif 6, no. : 121Ae31, https://doi. org/10. 37567/jie. 29Sodik and Jamila. AuSlogan Ao Pentingnya Menguasai MIPA Dan Bahasa Asing Ao Dalam Konsep Pendidikan Islam Perspektif Yudian Wahyudi Yudian Wahyudi Ao s Thoughts on the Slogan " Importance of Mastering MIPA and Foreign Languages " on Islamic Education. Ay 30Sodik and Jamila. AuSlogan Ao Pentingnya Menguasai MIPA Dan Bahasa Asing Ao Dalam Konsep Pendidikan Islam Perspektif Yudian Wahyudi Yudian Wahyudi Ao s Thoughts on the 40 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | Gagasan Islamisasi Ilmu melalui Pendekatan Fiqh Budaya (Fiqh Kultura. Fiqh tidak dapat dipahami secara semata-mata sebagai formulasi hukum normatif yang bersifat universal dan statis. Sebaliknya, fiqh adalah produk ijtihad ulama yang bersifat historis dan kontekstual, sehingga selalu terbuka untuk ditafsirkan ulang sesuai dengan dinamika sosial dan kultural masyarakat. 31 Melalui pendekatan ini, ia berusaha mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu sosial dan humaniora, sebagai bagian dari proses Islamisasi ilmu pengetahuan yang berakar pada nilai-nilai lokal dan tradisi intelektual Islam. Islamisasi ilmu dalam perspektif fiqh budaya tidak dimaksudkan untuk menggantikan ilmu Barat secara total, melainkan untuk mendialogkannya secara kritis dengan pandangan dunia Islam dan realitas lokal. Yudian menekankan bahwa pengetahuan harus dikembangkan dalam kerangka nilai-nilai Islam sekaligus menghargai kearifan budaya masyarakat setempat. 32 Dengan demikian, ilmu pengetahuan yang dihasilkan tidak hanya relevan secara ilmiah, tetapi juga kontekstual secara budaya dan bernilai secara spiritual. Melalui gagasan ini. Yudian mendorong terciptanya sistem pendidikan dan produksi ilmu yang tidak terjebak pada dikotomi antara AuagamaAy dan AuduniaAy atau antara AutradisiAy dan Aumodernitas. Ay Fiqh budaya menjadi titik temu antara wahyu dan budaya, antara teks dan konteks, serta antara Islam dan keindonesiaan. Oleh karena itu, pendekatan ini berkontribusi penting dalam mengembangkan epistemologi Islam yang dinamis, inklusif, dan responsif terhadap tantangan zaman. Upaya Integratif melalui Konteks Lokal dan Kearifan Budaya Nusantara Yudian memandang bahwa keberhasilan pengembangan pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia sangat bergantung pada kemampuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan konteks lokal serta kearifan budaya Nusantara. Dalam pandangannya. Islam tidak datang dalam ruang yang hampa, tetapi hadir dan berkembang di tengah masyarakat yang memiliki kekayaan budaya, bahasa, dan sistem nilai sendiri. 33 Oleh karena itu. Islam harus bertransformasi secara kontekstual tanpa kehilangan substansi ajarannya. Yudian juga melihat pentingnya merekonstruksi sistem pendidikan Islam agar mampu menjembatani antara tradisi keilmuan klasik Islam dan nilai-nilai lokal yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Ia menolak pendekatan puritan yang mengabaikan kearifan lokal, sekaligus mengkritik sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan publik. Sebagai gantinya, ia menawarkan pendekatan integratif yang membangun sintesis antara universalitas nilai-nilai Islam dan partikularitas budaya Nusantara. Dengan pendekatan ini. Yudian tidak hanya berkontribusi dalam memperkaya wacana Islamisasi ilmu di Indonesia, tetapi juga memberikan arah baru bagi pendidikan Islam agar lebih relevan dengan konteks lokal. Pendekatan integratif ini juga mencerminkan semangat rahmatan lil-Aoalamin, di mana Islam hadir sebagai kekuatan spiritual yang menyatu dengan budaya tanpa kehilangan orientasi ilahiah dan misi 31Afthon Yazid. Sugitanata, and Siti Aminah. AuMemetakan Cakrawala Intelektual. Ay 32Supriatman. AuPendidikan Pesantren Menurut Cak Nur Dan Yudian Wahyudi. Ay 33Supriatman. AuPendidikan Pesantren Menurut Cak Nur Dan Yudian Wahyudi. Ay 34Fanani. AuUyl Al-Fiqh versus Hermeneutika Tentang Pengembangan Pemikiran Hukum Islam Kontemporer. Ay Eko Suwanto Baha Shofa Mijdal. Sadari: [Integrasi Ilmu & Agama Dalam Pendidikan: Studi Perbandingan Pemikiran Yudian Wahyudi Dengan Seyyed Hossein Nas. 41 | Eko Suwanto. Baha Shofa Mijdal. Sadari Relevansi Konsep AuSatu Islam. Banyak BudayaAy dalam Pendidikan Konsep Ausatu Islam, banyak budayaAy yang dikemukakan oleh Yudian menegaskan bahwa Islam sebagai agama memiliki nilai-nilai universal yang dapat hidup dan berkembang dalam berbagai bentuk kebudayaan lokal. 35 Dalam pandangan ini. Islam tidak bersifat monolitik secara kultural, melainkan mampu beradaptasi dengan aneka ragam tradisi dan ekspresi sosial di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Prinsip ini memiliki relevansi penting dalam konteks pendidikan, terutama pendidikan Islam yang berada di tengah masyarakat majemuk dan multikultural. Dalam dunia pendidikan, konsep ini menuntut adanya pendekatan pedagogis dan kurikuler yang mengakui dan menghargai keberagaman budaya sebagai aset, bukan sebagai ancaman terhadap keimanan. Melalui perspektif ini, peserta didik diajak memahami bahwa Islam dapat bersanding dengan kearifan lokal, tanpa kehilangan integritas ajarannya. Pendidikan yang menginternalisasi prinsip Ausatu Islam, banyak budayaAy tidak akan memaksakan uniformitas kultural, tetapi justru membangun kesadaran bahwa ekspresi keislaman dapat mengambil bentuk yang berbeda sesuai dengan lingkungan budaya masing-masing. Konsep Ausatu Islam, banyak budayaAy juga relevan dalam pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal seperti gotong royong, musyawarah, toleransi antaragama, dan adab keilmuan sebagai bagian dari pendidikan karakter Islam. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan keislaman, tetapi juga pembentukan akhlak dan kesadaran sosial yang adaptif terhadap realitas multikultural. Dengan demikian, konsep ini menjadi landasan teoretis dan praktis dalam mewujudkan sistem pendidikan Islam yang inklusif, kontekstual, dan berakar pada budaya bangsa, tanpa kehilangan orientasi transendentalnya. Islam tetap satu dalam nilai, tetapi kaya dalam ekspresi budaya. Konsep Integrasi Ilmu dan Agama menurut Seyyed Hossein Nasr Kritik terhadap Sekularisasi dan Reduksi Ilmu ke Dimensi Materialistik Nasr secara tegas mengkritik proses sekularisasi ilmu pengetahuan yang terjadi dalam peradaban Barat modern. 37 Ia memandang bahwa sejak masa Renaisans, ilmu pengetahuan mulai dipisahkan dari iman dan dimensi spiritual, sehingga hanya diukur berdasarkan rasionalitas dan empirisme semata. Akibatnya, ilmu pengetahuan modern menjadi sangat materialistik dan reduksionistik, hanya melihat realitas dari sudut pandang fisik dan mengabaikan aspek metafisik serta spiritual. 38 Nasr menilai bahwa pemisahan ini menyebabkan ilmu kehilangan makna yang lebih dalam dan tujuan spiritualnya. Nasr menyoroti bahwa sekularisasi ilmu pengetahuan tidak hanya terjadi di dunia Barat, tetapi juga mulai memengaruhi dunia Islam. 40 Agama yang semestinya menjadi sumber kebijaksanaan dan makna, justru didekati dengan pendekatan sekular sehingga studi agama pun mengalami sekularisasi. Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan seharusnya tidak terpisah dari iman, dan intelek tidak boleh dipisahkan dari dimensi 41 Nasr melihat bahwa pemisahan ini telah menyebabkan krisis makna dalam peradaban modern. 35Sadari. AuQurAoanic Studies: Ber-Ushul Fiqh Dengan Maqashid Syariah Sebagai Metode Dalam Perspektif Yudian Wahyudi,Ay SHAHIH: Journal of Islamicate Multidisciplinary 3, no. : 47Ae61, https://doi. org/10. 22515/shahih. 36Saidurrahman and Azhari Akmal Tarigan. REKONSTRUKSI PERADABAN ISLAM: Perspektif Prof. Yudian Wahyudi. Ph. 37Syarif Hidayatullah. AuKonsep Ilmu Pengetahuan Syed Hussein Nashr: Suatu Telaah Relasi Sains Dan Agama,Ay Jurnal Filsafat 28, no. : 113, https://doi. org/10. 22146/jf. 38M Amril and Hasian Toyyiba Elpasamani. AuIntegrasi Agama Dan Sains Dalam Persfektif Seyyed Hossein Nasr,Ay Jurnal Pendidikan Tambusai 8, no. : 50649Ae56. 39Rizki Amrillah and Lukmanul Hakim. AuPandangan Kritis Syed Hossein Nasr Terhadap Relasi Sains Dan Agama,Ay Perspektif 1, no. : 525Ae33. 40M Akhsanudin. AuKontekstualisasi Pemikiran Sayyed Hossein Nasr Tentang Pendidikan Islam,Ay Afkaruna: International Journal of Islamic Studies (AIJIS) 2, no. : 34Ae47, https://doi. org/10. 38073/aijis. 41Topik. AuIslamisasi Sains Menurut Sayyed Hossein Nasr. Ay 42 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | Konsep Ilmu Sakral (Sacred Knowledg. dan Urgensi Mengembalikan Ilmu pada Sumber Transenden Nasr memperkenalkan konsep scientia sacra atau ilmu sakral, yaitu ilmu pengetahuan yang tidak hanya berdimensi empiris dan rasional, tetapi juga spiritual dan metafisik. 42 Ilmu sakral adalah pengetahuan yang berasal dari sumber transenden, seperti wahyu, tradisi, dan kebijaksanaan abadi, yang berfungsi sebagai jalan utama menuju Yang Sakral. Menurut Nasr, ilmu sakral tidak hanya berguna untuk keimanan, tetapi juga membantu manusia memahami makna dari segala fenomena di alam ini. Nasr menekankan urgensi mengembalikan ilmu pada sumbernya yang transenden agar ilmu tidak kehilangan makna dan tujuan spiritualnya. Ia berpendapat bahwa alam semesta adalah tanda-tanda . Tuhan, dan struktur alam yang harmonis serta keteraturan kosmos adalah bukti kebijaksanaan Ilahi. 44 Oleh karena itu, ilmu pengetahuan harus dipahami tidak hanya melalui observasi empiris, tetapi juga melalui pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agama dan wahyu. 45 Dengan demikian, ilmu sakral menjadi pengetahuan yang sangat luas, mencakup berbagai bidang ilmu, agama, filsafat, sains, dan Islamisasi Ilmu sebagai Upaya Pemulihan Tradisi Intelektual Islam yang Integral Nasr mendorong integrasi ilmu dan agama melalui konsep Islamisasi ilmu. 46 Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dalam tradisi Islam tidak boleh terpisah dari agama, melainkan harus berlandaskan pada prinsip ketauhidan dan hierarki keilmuan yang utuh. Integrasi ini dimaksudkan untuk memulihkan tradisi intelektual Islam yang integral, di mana ilmu pengetahuan modern dikembalikan ke dalam kerangka pemahaman Islam yang holistik dan spiritual. Namun. Nasr juga membedakan antara sains sakral dan Islamisasi ilmu. Sains sakral dibangun di atas konsep bahwa semua agama memiliki kebenaran esoteris, sementara Islamisasi ilmu menegaskan keunikan ajaran Islam sebagai agama yang benar. 48 Meski demikian, ke duanya sama-sama mengkritisi sekularisasi ilmu pengetahuan. Nasr lebih memperjuangkan sains sakral yang bersifat universal, tetapi ia tetap menghargai keunikan tradisi Islam dalam konteks tertentu. 42Zein Muchamad Masykur. Syamsun NiAoam, and Ngainun Naim. AuScientia Sacra Seyyed Hossein Nasr Perspektif Filsafat Lingkungan Dan Kontribusinya Pada Pengembangan Kajian Ekologis,Ay Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 25, no. : 166Ae83. 43Hidayatullah. AuKonsep Ilmu Pengetahuan Syed Hussein Nashr: Suatu Telaah Relasi Sains Dan Agama. Ay 44Topik. AuIslamisasi Sains Menurut Sayyed Hossein Nasr. Ay 45M Nasir Siola et al. AuDasar-Dasar Dan Sumber Ilmu Pengetahuan,Ay Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu 2, no. : 249Ae 46Akhsanudin. AuKontekstualisasi Pemikiran Sayyed Hossein Nasr Tentang Pendidikan Islam. Ay 47Muhammad Abduh and Kerwanto. AuRelevansi Pemikiran Seyyed Hossein Nasr Tentang Integrasi Islam Dan Sains Terhadap Pendidikan Islam Di Indonesia,Ay EDUMULYA: Jurnal Pendidikan Agama Islam 01, no. : 8Ae24. 48Topik. AuIslamisasi Sains Menurut Sayyed Hossein Nasr. Ay Eko Suwanto Baha Shofa Mijdal. Sadari: [Integrasi Ilmu & Agama Dalam Pendidikan: Studi Perbandingan Pemikiran Yudian Wahyudi Dengan Seyyed Hossein Nas. 43 | Eko Suwanto. Baha Shofa Mijdal. Sadari Peran Spiritualitas dalam Pendidikan Spiritualitas memiliki peran sentral dalam pendidikan menurut Nasr. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga untuk membangun karakter dan spiritualitas peserta didik. Pendidikan yang sejati harus mampu mengintegrasikan aspek spiritual dan intelektual, sehingga peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijaksana dan berakhlak mulia. Nasr berpendapat bahwa untuk menghidupkan spiritualitas, pendidikan harus mengajarkan nilai-nilai sakral dan kebijaksanaan abadi yang ditemukan dalam tradisi 50 Dengan demikian, peserta didik tidak hanya dibatasi oleh parameter empiris dan rasional, tetapi juga dibimbing untuk memahami makna kehidupan, menghargai alam semesta sebagai ciptaan Tuhan, dan mengembangkan kepedulian terhadap sesama dan Pendidikan yang berlandaskan spiritualitas akan membantu manusia mencapai kebijaksanaan dan kesatuan hakikat antara yang mengetahui dan yang diketahui. ANALISIS PERBANDINGAN INTEGRASI ILMU DAN AGAMA DALAM PENDIDIKAN Titik Temu Pemikiran . Kritik terhadap Sekularisasi Ilmu Yudian dan Nasr sama-sama menolak sekularisasi ilmu yang memisahkan antara pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan. Mereka menganggap sekularisasi telah menjauhkan ilmu dari tujuan spiritual dan etis. Bagi Nasr, ini adalah akibat dari modernisme Barat yang menghilangkan dimensi sakral dalam ilmu. 52 Sementara itu. Yudian menyoroti bagaimana sekularisasi berdampak pada sistem pendidikan Islam di Indonesia yang kehilangan ruh nilai . Pengakuan terhadap Pentingnya Nilai Keagamaan dalam Pendidikan Nasr maupun Yudian meyakini bahwa pendidikan harus mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan untuk membentuk manusia yang utuh. Nasr menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam proses belajar sebagai jalan menuju kesempurnaan insan. 54 Yudian memandang nilai agama sebagai dasar dalam pembentukan karakter dan moral peserta didik. 55 Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk akhlak. Komitmen terhadap Rekonstruksi Epistemologi Islam Nasr dan Yudian sama-sama ingin membangun kembali paradigma ilmu pengetahuan yang berakar dari nilai-nilai Islam. Nasr menyebutnya sebagai Auilmu IslamAy yang menggabungkan akal, intuisi, dan wahyu. 56 Yudian lebih memilih pendekatan hermeneutika sosial yang mengaitkan antara teks keagamaan dan konteks budaya. 57 Ke duanya ingin agar ilmu tidak hanya netral, tetapi juga terikat pada nilai Ilahiah. 49Sri Juwita. Agung Hambali, and Andewi Suhartini. AuPhilosophical Thoughts of Islamic Education Seyyed Hossein Nasr Ao s Perspective and Its Relevance in the Modern Education Era,Ay At-TaAodib Journal of Pesantren Education 18, no. : 56Ae69. 50Amril and Elpasamani. AuIntegrasi Agama dan Sains dalam Persfektif Seyyed Hossein Nasr. Ay 51Agung Nurcholis and Mamluatul Hasanah. AuGagasan Scientia Sacra Seyyed Hossein Nasr Dan Implikasinya Dalam Kebijakan Pendidikan Bahasa Arab,Ay International Conference on Islam. Law, and Society (INCOILS) 1, no. : 85Ae94, https://kbbi. id/tradisional. 52Masykur. NiAoam, and Naim. AuScientia Sacra Seyyed Hossein Nasr Perspektif Filsafat Lingkungan Dan Kontribusinya Pada Pengembangan Kajian Ekologis. Ay 53Muh. Zakaria. AuPerkembangan Pemikiran Studi Keislaman Di Indonesia (Paradigma Interpretas. ,Ay TaAodib : Jurnal Penidikan Islam Dan Isu-Isu Sosial 18, no. : 17Ae27. 54Akhsanudin. AuKontekstualisasi Pemikiran Sayyed Hossein Nasr Tentang Pendidikan Islam. Ay 55Yudian Wahyudi. Islam: Percikan Sejarah. Filsafat. Politik. Hukum. Dan Pendidikan (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press. 56Asfa Widiyanto. AuRekontekstualisasi Pemikiran Seyyed Hossein Nasr Tentang Bangunan Ilmu Pengetahuan Dan Pendidikan Islam,Ay ISLAMICA: Jurnal Studi KeIslaman 11, no. : 92Ae105. 57Yudian Wahyudi. Ushul Fikih versus Hermeneutika: Membaca Islam Dari Kanada Dan Amerika (Yogyakarta: Pesantren Nawasea Press, 2. 44 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | Titik Perbedaan Pemikiran . Nasr Lebih Filosofis dan Teosofis Nasr menekankan pendekatan filosofis yang bersumber dari filsafat Islam klasik dan Ia dikenal sebagai tokoh tradisionalis yang menghidupkan kembali pemikiran metafisis dan sakral. Pendekatannya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Suhrawardi. Ibn Arabi, dan tradisi perennial. Fokusnya adalah pada dimensi transenden ilmu, bukan hanya aspek duniawi. Yudian Lebih Kontekstual dan Pragmatis, tetapi Sufi Yudian memusatkan gagasannya pada bagaimana integrasi ilmu dan agama bisa diaplikasikan dalam konteks pendidikan di Indonesia. Ia menggunakan pendekatan praktispraksis dengan mempertimbangkan faktor sosial, budaya, dan politik lokal. 59 Pendekatannya lebih metodis operasional aplikatif, tidak sekadar filosofis, agar dapat langsung diimplementasikan dalam kurikulum. Ini menjadikan gagasannya relevan dengan kebutuhan praktis dunia pendidikan, terlebih lagi karena dilandasi dengan Tarekat Sunan Anbia . ang bertujuan mewujudkan Sorga Dunia sebelum Sorga Akhira. Ia juga menyatakan agar muridmuridnya mengamalkan Solat Hajat. Hizib Revolusi Industri dan Majelis Ayat Kursi. Pendekatan Nasr Lebih Universal dan Metafisis, sedangkan Yudian Lebih Sosial-Kultural dan Lokal, tetapi Transendental Nasr berbicara pada tataran universal, melihat integrasi ilmu-agama sebagai kebutuhan seluruh umat manusia. Ia menggunakan bahasa metafisis yang mengarah pada pencarian makna terdalam dari ilmu. Sementara itu. Yudian lebih fokus pada problematika lokal umat Islam Indonesia, termasuk dalam konteks madrasah dan pendidikan Islam formal, sebagai model bagi dunia Islam. Ia menawarkan solusi yang kontekstual, sesuai dengan realitas sosial dan budaya masyarakat Indonesia60, tetapi tetap dengan landasan ukhrawi . piritual metafisik Tabel 1: Perbandingan Pemikiran Aspek Indikator Kritik terhadap sekularisasi ilmu Persamaan Nilai keagamaan dalam pendidikan Rekonstruksi Islam Arah pendekatan Perbedaan Basis intelektual Yudian Nasr Menolak pemisahan ilmu dan pendidikan Indonesia. Pendidikan harus membentuk berdasarkan nilai Islam. Mengusulkan transendental untuk Islamisasi ilmu di Indonesia. Kontekstual, pragmatis dan transendental, menekankan pendidikan nasional. Berbasis pada sosiologi, hermeneutika dan budaya lokal, tetapi transendental. Mengkritik modernisme Barat yang menyingkirkan nilai sakral dari ilmu pengetahuan. Pendidikan menghubungkan ilmu dengan realitas spiritual dan Ilahiah. Mengusulkan Islamic science yang berakar pada filsafat dan spiritualitas Islam. Filosofis makna dan transendensi ilmu. Berbasis pada filsafat Islam klasik, tasawuf, dan tradisi 58Nadhif Muhammad Mumtaz. AuHakikat Pemikiran Seyyed Hossein Nasr,Ay Indo-Islamika 4, no. : 169Ae78, https://media. com/media/publications/337854-hakikat-pemikiran-seyyed-hossein-nasr-9bd9faed. 59Sumartono. AuBudaya Politik Dalam Masyarakat Pragmatis,Ay LUGAS Jurnal Komunikasi 2, no. : 20Ae26, https://doi. org/10. 31334/jl. 60Sodik and Jamila. AuSlogan Ao Pentingnya Menguasai MIPA Dan Bahasa Asing Ao Dalam Konsep Pendidikan Islam Perspektif Yudian Wahyudi Yudian Wahyudi Ao s Thoughts on the Slogan " Importance of Mastering MIPA and Foreign Languages " on Islamic Education. Ay Eko Suwanto Baha Shofa Mijdal. Sadari: [Integrasi Ilmu & Agama Dalam Pendidikan: Studi Perbandingan Pemikiran Yudian Wahyudi Dengan Seyyed Hossein Nas. 45 | Eko Suwanto. Baha Shofa Mijdal. Sadari Orientasi Fokus penerapan Sosial-kultural dan lokalglobal . pesifik pada konteks Indonesi. sebagai model bagi dunia Islam. Pengembangan dan kebijakan pendidikan berbasis nilai Islam. 46 | MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 Universal . erlaku untuk seluruh umat Reorientasi kesadaran umat terhadap makna sakral ilmu MODERATION: Vol. 06 No. Maret 2026 | KESIMPULAN Integrasi ilmu dan agama dalam pendidikan merupakan upaya strategis untuk menjawab krisis spiritual, etika, dan makna yang ditimbulkan oleh dikotomi antara ilmu sekuler dan nilai-nilai keagamaan. Yudian dan Nasr adalah dua tokoh yang menawarkan paradigma integratif dengan pendekatan berbeda namun saling melengkapi. Yudian mengedepankan pendekatan kontekstual, dengan menekankan pentingnya penggabungan nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikan nasional Indonesia melalui kurikulum berbasis fiqh budaya dan kearifan lokal, tetapi spiritual global. Sementara itu. Nasr menawarkan pendekatan filosofis dan spiritual, menekankan pentingnya ilmu sakral . cientia sacr. yang berpijak pada wahyu dan tradisi metafisis Islam. Yudian dan Nasr sama-sama mengkritisi sekularisasi ilmu dan menyerukan rekonstruksi epistemologi Islam yang menyatukan wahyu, akal, dan pengalaman budaya. Perbedaan terletak pada fokus aplikatif: Yudian di ranah kebijakan pendidikan dan pendekatan transenden, sedangkan Nasr di ranah filsafat keilmuan. Perpaduan ke duanya dapat menjadi fondasi kuat bagi pengembangan pendidikan Islam yang holistik, berakar pada nilai ilahiah sekaligus adaptif terhadap konteks zaman. Bagi Lembaga Pendidikan Islam: Perlu mengembangkan kurikulum yang tidak hanya mengintegrasikan ilmu agama dan umum secara formal, tetapi juga membentuk kepribadian peserta didik yang utuh secara spiritual, intelektual, dan sosial-budaya. Pendekatan fiqh budaya Yudian dapat digunakan untuk mengaitkan kurikulum dengan nilai-nilai lokal untuk diangkat menjadi praktik-praksis tingkat global. Bagi Pemerintah dan Pengambil Kebijakan Pendidikan: Perlu mendorong dan memfasilitasi pembaruan sistem pendidikan Islam dengan menekankan pendekatan integratif berbasis epistemologi Islam yang holistik, serta memberikan pelatihan kepada tenaga pendidik dalam memahami dan mengimplementasikan paradigma integratif. Bagi Akademisi dan Peneliti: Diperlukan kajian lanjutan yang mendalam dan komparatif terkait implementasi integrasi ilmu-agama di berbagai level pendidikan dan masyarakat multikultural. Studi lanjut dapat mengeksplorasi bagaimana sintesis antara pendekatan Yudian dan Nasr dapat diimplementasikan secara efektif dan berkelanjutan. Eko Suwanto Baha Shofa Mijdal. Sadari: [Integrasi Ilmu & Agama Dalam Pendidikan: Studi Perbandingan Pemikiran Yudian Wahyudi Dengan Seyyed Hossein Nas. | Eko Suwanto. Baha Shofa Mijdal. Sadari REFERENSI