Pengaruh Pendidikan dan Media Sosial terhadap Akhlak Siswa dengan Lingkungan sebagai Variabel Mediator Daffa Muhammad Al Irsyad1*. Moh. SyafiAoi1 Universitas Qomaruddin. Gresik. Indonesia * Korespondensi: daffa22sept@gmail. ABSTRACT Received: 22 October 2024 Revised: 3 December 2024 Accepted: 20 December 2024 Citation: Al Irsyad. , & SyafiAoi. Pengaruh pendidikan dan media sosial terhadap akhlak siswa dengan lingkungan sebagai variabel mediator. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies, 2. , 100Ae Morality . reflects values of morality, ethics, and personality in relationships with God, humans, and the environment. Good morality plays a vital role in shaping noble character, strengthening interpersonal relationships, and creating a harmonious social This study aims to examine the influence of education, social media, and social environment on students' morality. The research employs a quantitative approach with a simple random sampling method, involving 61 students from MI Tarbiyatul Aulad. Cerme. Gresik, as the sample. Research instruments include questionnaires, interviews, observations, and documentation. The findings reveal that, partially, education . = 0. and social media . = 0. have significant effects on students' morality. Simultaneously, education and social media influence morality with an Adjusted R Square value of 0. The greatest influence comes from the education variable, with a relationship value of 0. while the social media variable has a relationship value of 0. Additionally, the social environment significantly mediates the relationship between education, social media, and students' morality. This study provides important implications for developing educational strategies and managing social media to enhance students' morality. Keywords: Education. Social Media. Student Morals. Environment ABSTRAK Copyright: A 2024 by the authors. Submitted for possible open-access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttps://creativecommons. org/license s/by-nc-sa/4. 0/). Akhlak adalah sikap yang mencerminkan nilai-nilai moral, etika, dan kepribadian dalam hubungan dengan Tuhan, manusia, dan lingkungan. Peran akhlak yang baik penting dalam membentuk kepribadian mulia, mempererat hubungan antarindividu, dan menciptakan lingkungan sosial yang harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pendidikan, media sosial, dan lingkungan sosial terhadap akhlak siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode sample random sampling yang melibatkan 61 siswa MI Tarbiyatul Aulad. Cerme. Gresik sebagai sampel. Instrumen penelitian meliputi angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, pendidikan . = 0. dan media sosial . = 0. berpengaruh signifikan terhadap akhlak siswa. Secara simultan, pendidikan dan media sosial berpengaruh terhadap akhlak dengan nilai R Square Adjusted sebesar 0. Pengaruh terbesar berasal dari variabel pendidikan dengan nilai hubungan sebesar 726, sedangkan variabel media sosial memiliki nilai hubungan sebesar 0. Selain itu, lingkungan berperan signifikan sebagai mediator antara pendidikan dan media sosial terhadap akhlak siswa. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan strategi pendidikan dan pengelolaan media sosial untuk meningkatkan akhlak siswa. Kata kunci: Pendidikan. Media Sosial. Akhlak Siswa. Lingkungan QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Pendahuluan Akhlak adalah perilaku, watak, dan karakter seseorang dalam hubungannya dengan sesama makhluk dan Tuhannya. Akhlak merupakan sifat yang ada sejak lahir dan tertanam dalam jiwa. Secara umum, akhlak terbagi menjadi dua kategori: akhlak mulia dan akhlak tercela (Pangestu & Rozak, 2. Akhlak mulia dapat membentuk kepribadian yang baik, mempererat hubungan antarindividu, dan menciptakan lingkungan sosial yang harmonis. Sebaliknya, akhlak tercela dapat merusak hubungan, memicu ketegangan sosial, dan mengganggu kesejahteraan bersama (Pangestu & Rozak, 2. Tujuan utama akhlak adalah membentuk individu yang berkarakter kuat dan bertindak sesuai prinsip moral dan etika (Lubis, 2. Menurut Ibn Maskawih (Lubis, 2. , akhlak adalah sikap yang memotivasi seseorang untuk bertindak secara spontan. Al-Ghazali (Zuhri, 2. mendefinisikan akhlak sebagai sifat dalam jiwa yang memungkinkan seseorang bertindak tanpa melalui proses berpikir terlebih dahulu. Dengan demikian, akhlak adalah kondisi batin yang memengaruhi tindakan spontan seseorang, baik atau buruk. Pada era modern, kondisi akhlak sangat beragam dan kompeks. Di satu sisi, terdapat individu yang tetap memegang teguh nilai-nilai akhlak dan moralitas. Namun, di sisi lain, tidak sedikit yang mengabaikan hal tersebut (Suhada et al. , 2. Perkembangan teknologi dan penggunaan gadget yang berlebihan sering kali menyebabkan penurunan akhlak dan moralitas, terutama pada anak-anak. Anakanak menjadi sulit berkonsentrasi dan kurang bersosialisasi, yang berkontribusi pada kemerosotan akhlak mereka. Penelitian oleh (Wensi et al. , 2. menemukan bahwa mayoritas siswa mengalami penurunan akhlak, yang dipengaruhi oleh lingkungan, kurangnya pengawasan orang tua, dan lemahnya pendidikan. Untuk membangun akhlak yang baik, perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang Menurut (Lubis, 2. , faktor utama yang memengaruhi akhlak meliputi pendidikan, lingkungan, media sosial, dan faktor internal individu. Pendidikan memainkan peran besar dalam pembentukan akhlak, karena melalui pendidikan seseorang dapat diarahkan untuk berperilaku baik. Pendidikan berfungsi sebagai gerbang pengetahuan yang memberikan pemahaman untuk membentuk kepribadian yang lebih baik. Selain itu, lingkungan juga berpengaruh signifikan terhadap akhlak seseorang. Lingkungan yang positif dapat memotivasi individu untuk berbuat baik, sedangkan lingkungan yang negatif dapat mendorong seseorang pada perilaku tercela. Media sosial, yang kini telah menjadi kebutuhan primer, juga memengaruhi akhlak secara signifikan (Wibowo, 2. Penggunaan media sosial secara positif dapat mendukung pembentukan akhlak yang baik, sementara penggunaannya secara tidak bijak justru dapat memberikan dampak buruk. Pendidikan adalah proses pembelajaran yang bertujuan meningkatkan kemampuan dan potensi individu agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan, termasuk dalam pendidikan agama Islam. era modern, pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan kognitif, tetapi juga penanaman nilai-nilai akhlak dan budi pekerti (Zuhri, 2. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil meningkatkan akhlak secara menyeluruh, sehingga upaya pembinaan akhlak melalui pendidikan belum mencapai target yang Hal ini memunculkan tantangan bagi para pendidik untuk mencari solusi atas ketimpangan tersebut, salah satunya melalui pemanfaatan media sosial (Acep Ceptian Nurpajar, 2. Sementara itu, media sosial adalah platform yang memungkinkan pengguna untuk berbagi informasi, berinteraksi sosial, dan berpartisipasi secara online, baik melalui website maupun aplikasi (Bakar et al. , 2. Media sosial memiliki dampak positif, seperti mempermudah siswa dalam mencari informasi dan pengetahuan, namun juga membawa dampak negatif. Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat membuat siswa menjadi malas, kurang bersosialisasi, dan menurunkan kedisiplinan. Selain itu, konsumsi budaya luar yang tidak mengedepankan akhlak dan budi pekerti dapat memengaruhi perilaku siswa (Pangestu & Rozak, 2. Pengaruh media sosial terhadap akhlak siswa sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang mendorong perilaku tertentu. Selain pendidikan dan media sosial, lingkungan juga menjadi faktor signifikan dalam membentuk perilaku dan akhlak siswa. Lingkungan, baik secara geografis maupun sosial, berperan besar dalam memengaruhi akhlak. Siswa cenderung meniru apa yang mereka lihat dan dengar dari lingkungan QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Misalnya, kebiasaan baik yang dilakukan seorang siswa dapat mendorong teman-temannya untuk mengikuti, begitu pula sebaliknya dengan kebiasaan buruk (Febriyanti. P, et al, 2. Oleh karena itu, pembentukan akhlak siswa memerlukan sinergi antara pendidikan, pemanfaatan media sosial yang positif, dan lingkungan yang mendukung nilai-nilai moral serta budi pekerti. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pendidikan dan media sosial terhadap akhlak siswa, memberikan wawasan bagi pendidik dan orang tua dalam membangun karakter anak. Secara khusus, penelitian ini bermanfaat bagi MI Tarbiyatul Aulad sebagai acuan untuk mengatasi permasalahan akhlak siswa dan meningkatkan perilaku positif mereka. Implementasi hasil penelitian diharapkan memberikan dampak positif berupa penguatan pendidikan karakter siswa, baik di sekolah maupun Tinjauan Pustaka Akhlak Akhlak adalah perilaku atau tindakan yang mencerminkan moralitas, etika, dan budi pekerti seseorang dalam berinteraksi dengan sesame makhluk, lingkungan, maupun tuhannya. Secara etimologis, istilah akhlak berasal dari kata Arab "al-khuluq", yaitu budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau perilaku. Menurut Al-Ghazali, akhlak adalah karakter atau perilaku bawaan dalam diri seseorang yang memungkinkan seseorang melakukan perbuatan baik tanpa tekanan atau pertimbangan yang Akhlak berasal dari dalam diri dan merupakan bawaan sejak lahir. Namun, seiring waktu, akhlak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal (Mubarak et al. , 2. Menurut Ibnu Qayyim (Akip, 2. , akhlak terbagi menjadi dua jenis: Akhlak Dharuri dan Akhlak Muhtasabi. Akhlak Dharuri adalah akhlak murni yang berasal dari sifat bawaan sejak lahir dan tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Akhlak ini diterapkan secara alami tanpa tekanan atau pengaruh Sebagai pemberian dari Allah SWT, baik atau buruknya akhlak Dharuri bergantung pada takdir yang telah ditentukan. Sedangkan Akhlak Muhtasabi adalah akhlak yang harus dibiasakan dan dilatih agar seseorang dapat berpikir dan bertindak dengan baik. Akhlak tidak muncul secara alami, melainkan memerlukan pembiasaan dan pendidikan yang berkesinambungan untuk terbentuk (Miswar, 2. Dengan demikian, akhlak dapat disimpulkan sebagai perilaku yang melekat dalam diri seseorang dan tercermin dalam tindakan yang dilakukan secara spontan tanpa melalui proses pemikiran mendalam. Dimensi dan Indikator Sebagai variabel dependen, akhlak siswa memiliki dimensi dan indikator meliputi: Akhlak Pribadi dengan indikator mampu menjelaskan perintah Allah SWT terhadap hambanya, mampu membedakan perihal benar dan salah, dan mampu mencanangkan akhlak dalam keadaan darurat. Akhlak Berkeluarga dengan indikator mampu menjelaskan kewajiban berakhlak terhadap orang tua dan keluarga dan mampu membangun akhlak terhadap kerabat. Akhlak Bermasyarakat dengan indiaktor dapat mengetahui larangan dalam masyarakat, dapat membangun akhlak dalam masyarakat dan dapat menerapkan kaidah berakhlak dalam masyarakat. Akhlak bernegara dengan indikator dapat menerapkan akhlak terhadap hubungan bernegara dan dapat membedakan akhlak hubungan luar negeri. Akhlak beragama dengan indikator dapat menerapkan akhlak dan kewajiban terhadap Allah SWT. Pendidikan Dalam perspektif Islam, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi manusia, meliputi potensi fisik, rohani, dan intelektual. Pendidikan Islam dirancang untuk membawa individu menuju kedewasaan yang sempurna melalui penguatan iman dan takwa (Imta. serta penguasaan ilmu QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. pengetahuan dan teknologi (Ipte. Kedua aspek ini diharapkan saling mendukung dalam mengoptimalkan potensi manusia untuk mencapai tujuan utama pendidikan Islam. Ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan, baik ibadah maupun muamalah, menjadikannya ajaran yang bersifat universal. Selain itu, nilai-nilai sosial, akhlak, serta anjuran dan larangan dalam syariat Islam menjadi elemen penting dalam pendidikan. Pendidikan Islam bertujuan untuk mempermudah penghayatan dan pengamalan syariat dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya sebatas transfer pengetahuan secara teoritis, pendidikan Islam juga menekankan praktik nyata dan pembinaan spiritual sesuai dengan ajaran Islam. Sejalan dengan pandangan Islam. Horton dan Hunt (Sazali & Sukriah, 2. , mengemukakan bahwa pendidikan memiliki fungsi nyata . anifest function. sebagai berikut: Mempersiapkan individu untuk siap bekerja. Mengembangkan bakat untuk kepentingan pribadi dan masyarakat. Melestarikan kebudayaan. Menanamkan keterampilan yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam demokrasi. Pendidikan, baik dalam perspektif Islam maupun teori sosial, menempatkan perannya sebagai sarana pembentukan individu yang unggul, baik secara spiritual maupun sosial, demi kebermanfaatan bagi masyarakat luas. Dimensi dan Indikator Pendidikan Variabel Pendidikan memiliki dimensi dan indikator sebagai berikut: (Moeheriono, 2. Dimensi jenjang pendidikan memiliki indikator pendidikan terakhir yang ditamatkan yang meliputi SD. SMP. SMA dan perguruan tinggi Dimensi Spesifikasi Keilmuan memiliki indikator peningkatan keilmuan, tingkat mengimplementasikan keilmuan, dan kedisiplinan. Media Sosial Afriani (Sazali & Sukriah, 2. mendefinisikan media sosial sebagai platform daring yang memfasilitasi pengguna untuk bersosialisasi, menciptakan karya, dan berbagi informasi. Sedangkan Nasrullah ((Puspitarini & Nuraeni, 2. menyatakan bahwa media sosial merupakan sebuah media yang memfasilitasi penggunanya menuangkan ekspresi diri dengan berinteraksi, bekerjasama, berbagi informasi, serta berkomunikasi dengan pengguna lain secara virtual. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein menambahkan bahwa media sosial adalah sekumpulan aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2. 0 , yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content. (Putri et al. , 2. Perkembangan sosial media ini memiliki banyak dampak, baik itu positif maupun negatif, terhadap pendidikan anak remaja, terutama pendidikan akhlak anak. Di sisi positif, media sosial dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan anak cara beradaptasi, bersosialisasi, dan membangun jaringan Media sosial juga memungkinkan anak-anak untuk mengelola hubungan sosial mereka, bahkan mempererat kembali hubungan dengan orang-orang yang mereka sayangi. Namun, penggunaan media sosial yang tidak terarah sering membawa dampak negatif terhadap pendidikan akhlak anak. Banyak anak menggunakan media sosial, seperti Facebook. Twitter, dan Instagram, bukan untuk belajar, melainkan untuk hiburan semata. Hal ini menyebabkan mereka lalai terhadap tugas sekolah, kurang disiplin, serta mudah meniru karya orang lain tanpa memahami esensi pembelajaran. Lebih jauh, media sosial sering dikaitkan dengan akses terhadap konten negatif seperti pornografi, yang dapat merusak akhlak anak jika tidak diawasi secara ketat (Lubis, 2. Dimensi dan Indikator Media Sosial Variabel media sosial memiliki dimensi dan indikator media sosial meliputi (Singh, 2. Online Communities. Dengan indikatornya dapat menjadi sumber informasi, dan dapat menjadi template dalam mengunggah foto atau video QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Interaction. Dengan indikatornya dapat mengundang teman ke media sosial, dapat melakukan komunikasi dua arah, dapat membagikan informasi ke sesame pengguna. Sharing Content. Dengan indikatornya dapat menyampaikan informasi dari media sosial ke pengguna yang lain, dapat memberikan opini terhadap pelayanan kepada kenalan, dapat menerima informasi dari pengguna lain. Accessibility. Dengan indikatornya dapat diakses dengan mudah, dapat berinteraksi denan Credibility. Dengan indikatornya rasa kepercayaan terhadap media sosial, serta media sosial dapat diakses dengan mudahbaik dalam hal upload maupun download. Lingkungan Lingkungan meliputi kondisi atau keadaan sekitar yang dapat mempengaruhi tingkah laku, perkembangan, dan perkembangan. (Purwanto, 2. Lingkungan positif akan membentuk manusia yang berkualitas dalam bersosial, dan begitupun sebaliknya. Lingkungan sosial merupakan kumpulan manusia yang saling berinteraksi dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan yang memberikan pengaruh terhadap tingkah laku, perkembangan, dan pertumbuhan secara fisik maupun mental. Sehingga lingkungan sosial dapat disimpulkan sebagai kondisi sekitar yang memberikan pengaruh atau dipengeruhi, sehingga dalam pelaksanaannya secara langsung mupun tidak langsung menuntut untuk bergaul dengan yang lain. Lingkungan sekolah merupakan lingkungan terpenting setekah lingkungan keluarga. Hal ini karena lingkungan memberikan fasilitas yang dibutuhkan orang tua dalam bertanggungjawab memenuhi kebutuhan anak (Zuhairini, 1. Dimensi dan Indikator Lingkungan Menurut (Dewantara, 2. , lingkungan sebagai variabel mediator mediasi memiliki dimensi dan indikator meliputi: Lingkungan keluarga dengan indikator metode orang tua dalam mendidik dan suasana di lingkungan keluarga. Lingkungan sekolah memiliki indikator yakni relasi guru dengan guru, dan relasi siswa dengan siswa. Lingkungan sosial memiliki indikator yakni bentuk kehidupan masyarakat dan lingkungan dalam bersosial. Penelitian Terdahulu Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) untuk mengidentifikasi, memetakan, dan mengevaluasi temuan penelitian sebelumnya secara kritis. Dari pencarian awal melalui Google Scholar, ditemukan 5. 645 artikel terkait hubungan antara akhlak siswa, pendidikan, media sosial, dan lingkungan. Setelah disaring berdasarkan judul artikel, diperoleh 167 artikel, kemudian difokuskan pada 3 artikel utama yang memiliki relevansi tinggi dengan penelitian ini sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 1. Kebaruan Penelitian Penelitian ini mengkaji pengaruh pendidikan dan media sosial terhadap akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad, dengan lingkungan sebagai variabel mediasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada penambahan variabel mediasi, yang belum banyak digunakan dalam penelitian serupa. Dengan menjadikan lingkungan sebagai variabel mediasi, penelitian ini menawarkan perspektif baru untuk melihat hubungan antara pendidikan, media sosial, dan akhlak siswa secara lebih komprehensif. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Tabel 1. Ringkasan Penelitian Terdahulu tentang Pengaruh Pendidikan. Media Sosial, dan Lingkungan terhadap Akhlak Siswa Peneliti Nurpajar. Pangestu. & Rozak P Ardiyansah, et Judul Pengaruh Pendidikan Agama Islam Terhadap Akhlak Peserta Didik (MTs Al-Mansyur Hujungtiw. Pengaruh Penggunaan Media Sosial YouTube Vlog terhadap Akhlak Siswa Kelas 9 di SMP Islam Al Mustofa Taman Pengaruh Lingkungan Sekolah Terhadap Moral Siswa Sekolah Menengah Pertama Hasil Pendidikan agama Islam berpengaruh signifikan terhadap akhlak peserta didik. Kesamaan Variabel dependen yang sama Penggunaan media pengaruh signifikan Lingkungan signifikan terhadap moral siswa. Metode kuantitatif independen yang Variabel dependen yang sama. Perbedaan Objek pada jenjang MTs, penelitian ini pada siswa MI. Objek pada siswa kelas 9 SMP, penelitian ini pada siswa MI. Objek pada siswa SMP, penelitian ini pada siswa MI. Perumusan Hipotesis Berdasarkan tinjauan pustaka, selanjutnya dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : Pendidikan berpengaruh atas akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad : Media Sosial berpengaruh atas akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad : Pendidikan dan media sosial secara simultan berpengaruh atas akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad : Lingkungan sosial memediasi hubungan antara pendidikan terhadap akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad : Lingkungan sosial memediasi hubungan antara media sosial terhadap akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad Metode Penelitian Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didasarkan pada data konkrit berupa angka dan dianalisis menggunakan statistik untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel (Sugiyono, 2. Penelitian menerapkan model asosiatif untuk memahami korelasi antara dua atau lebih variabel dan strategi studi kasus terpancang . mbedded researc. , di mana masalah dan tujuan telah ditetapkan sejak awal penelitian (Sugiyono, 2. Populasi dan Sampel Populasi adalah seluruh anggota yang menjadi objek penelitian, yang dapat berupa orang, kejadian, atau barang. Dalam penelitian ini, populasi terdiri dari 155 siswa di MI Tarbiyatul Aulad. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili keseluruhan dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling, yaitu metode pengambilan sampel secara acak tanpa membedakan tingkatan siswa di MI Tarbiyatul Aulad. Dengan menggunakan rumus Slovin dan tingkat kesalahan 10%, jumlah sampel yang ditetapkan adalah 61 siswa. Instrumen Penelitian Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh langsung dari sumber pertama. Pengumpulan data dilakukan melalui empat metode utama: QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Kuesioner . Penelitian ini menggunakan metode kuesioner tertutup (Suharsimi, n. ), di mana responden diminta untuk memilih nilai yang dianggap paling sesuai. Variabel dalam penelitian ini diukur menggunakan skala Likert 1Ae5, dengan 1 untuk Sangat Tidak Setuju dan 5 untuk Sangat Setuju. Jumlah pertanyaan untuk setiap variabel adalah sebagai berikut: C Pendidikan (X. : 5 pertanyaan. Contoh: AuSaya mendapat ilmu baru ketika belajar di sekolahAy C Media Sosial (X. : 7 pertanyaan. Contoh:Ay Saya dapat berkomunikasi dengan teman melalui media sosialAy C Akhlak (Y): 5 pertanyaan. Contoh:Ay Saya mampu menjelaskan bagaimana akhlak yang baik kepada orang tuaAy C Lingkungan (M): 5 pertanyaan. Contoh:Ay Guru saya mendukung saya untuk menjadi siswa yang baikAy Responden memberikan penilaian terhadap setiap pertanyaan sesuai dengan persepsi mereka, sehingga menghasilkan data kuantitatif yang digunakan untuk analisis lebih lanjut. Wawancara Wawancara digunakan untuk menggali informasi melalui komunikasi langsung dengan Moeloeng dalam (Arikunto, 2. , mendefinisikan wawancara sebagai proses komunikasi terarah untuk memperoleh informasi tertentu Penelitian ini menggunakan wawancara tidak terstruktur, di mana peneliti mengajukan pertanyaan bebas yang disesuaikan dengan alur penelitian. Metode ini mempermudah peneliti mendapatkan informasi akurat karena pertanyaan bersifat fleksibel dan mendalam. Observasi Observasi dilakukan dengan mengamati fenomena dan perilaku pada objek penelitian. Mardalis menjelaskan bahwa observasi adalah cara pengumpulan data melalui pengamatan langsung terhadap kejadian pada objek penelitian (Mardalis, 2. Peneliti mengamati keadaan, perilaku, dan kegiatan sehari-hari responden untuk mendapatkan data yang akurat. Observasi dilakukan secara terperinci dan digunakan sebagai validasi terhadap data yang diperoleh melalui metode lain. Dokumentasi Dokumentasi adalah pengumpulan data melalui dokumen fisik seperti foto, arsip sekolah, peraturan, dan dokumen lain yang relevan. Peneliti menggunakan dokumen dari MI Tarbiyatul Aulad sebagai sumber data sekunder. Dokumentasi ini juga berfungsi untuk memvalidasi hasil wawancara dengan membandingkan informasi dari dokumen dengan data lapangan. Teknik Analisis Data Berikut adalah analisis data yang digunakan dalam penelitian ini: Uji Statistik Deskriptif Metode ini digunakan untuk memberikan gambaran terstruktur tentang variabel penelitian, seperti akhlak, pendidikan, media sosial, dan lingkungan. Statistik deskriptif membantu mengorganisasikan data secara jelas untuk mempermudah interpretasi. Pengujian Outer Model Dalam penelitian ini pengujian model termasuk outer dan inner model dilakukan menggunakan Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM). PLS-SEM dipilih karena tidak memerlukan asumsi distribusi normal data, cocok untuk model dengan sampel kecil, dan QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. memungkinkan pengembangan model struktural yang kompleks. Dalam penelitian ini, variabel lingkungan berperan sebagai variabel mediasi untuk menganalisis hubungan antara pendidikan dan media sosial terhadap akhlak siswa. Dengan metode ini, penelitian diharapkan dapat memberikan hasil yang valid, reliabel, dan relevan dalam menjawab tujuan penelitian (Rahadi, 2. Evaluasi outer model digunakan untuk menilai validitas dan reliabilitas instrumen penelitian dalam mengukur konstruk yang diuji. Proses ini mencakup pengujian validitas dan reliabilitas sebagai berikut (Muhson, 2. Validitas Konstruk Validitas konstruk memastikan bahwa instrumen penelitian secara valid mengukur ide-ide yang diuji dalam model. Pengujian validitas terdiri dari: o Convergent Validity: Mengukur relevansi antar instrumen dengan nilai outer loading (> . dan Average Variance Extracted (AVE > 0. o Discriminant Validity: Menilai indikator variabel dengan: C Nilai cross loading, di mana indikator harus memiliki nilai tertinggi pada variabelnya sendiri dibandingkan dengan variabel lain. C Fornell and Lacker Criterion, yang mensyaratkan akar AVE variabel lebih besar daripada korelasi antar variabel lainnya. Reliabilitas Konstruk Reliabilitas konstruk mengukur konsistensi dan keakuratan data instrumen penelitian. Instrumen dinyatakan reliabel jika memenuhi: o Composite Reliability: Nilai > 0. o Cronbach Alpha: Nilai > 0. Pengujian outer model ini memastikan bahwa instrumen yang digunakan memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai sebelum melanjutkan ke analisis model struktural. Pengujian Inner Model Pengujian inner model . odel struktura. Inner model adalah model struktural yang digunakan untuk memprediksi adanya korelasi antar variable independent terhadap variable dependen. Selain untuk menguji adanya korelasi antar variable, model struktural ini juga digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian. Berikut adalah berbagai metriks dalam pengujian inner model Nilai R-Square. Nilai R Square digunakan untuk mengidentifikasi tingkat pengaruh suatu Nilai retensi variabel dikatakan rendah apabila nilai R Square di bawah 0. dikatakan sedang apabila antara 0. 33 Ae 0,65, dan tinggi apabila di atas 0. Uji Multikoleniaritas (VIF). Nilai VIF harus < 5 untuk memastikan tidak ada multikolinearitas antar variabel. Uji Path Coefficient. Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah dengan menganalisis nilai Path Coefficient. Mengidentifikasi hubungan positif atau negatif antar variabel menggunakan prosedur Bootstrapping. Nilai koefisien positif (> . menunjukkan hubungan positif, sedangkan koefisien negatif (< . menunjukkan hubungan negatif. (Irwan & Adam, 2. Uji t-value. Hasil uji t-value digunakan untuk menjawab hipotesis. Nilai t-statistic > 1. pada tingkat signifikansi 0. 05 menunjukkan hubungan signifikan antar variabel. Jika tstatistic < 1. 96, hubungan dianggap tidak signifikan. (Irwan & Adam, 2. Hasil dan Pembahasan Hasil Hasil analisis menggunakan Teknik PLS (Partial Least Squar. dengan program SmartPLS 4. untuk menguji hipotesis penelitian dinyatakan dalam bentuk skema PLS dalam Gambar 1. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Gambar 1. Skema PLS Evaluasi Outer Model atau Model Pengukuran Convergent Validity. Convergent Validity diuji menggunakan nilai Outer Loading atau Loading Factor. Berdasarkan data pada tabel 2, sebagian besar indikator variabel memiliki nilai Outer Loading > 0. kecuali indikator MEDSOS 6 dan PEND 4, yang tidak memenuhi kriteria Convergent Validity dan tidak digunakan dalam analisis lebih lanjut. Selanjutnya, tabel 3 menunjukkan hasil pengujian ulang Convergent Validity, di mana semua indikator memiliki nilai Outer Loading > 0. 7, sehingga seluruh indikator dinyatakan memenuhi kriteria validitas dan layak digunakan untuk analisis. Discriminant Validity Pengujian Discriminant Validity dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu Cross Loading. Fornell & Lacker Criterion, dan nilai Average Variance Extracted (AVE). Cross Loading. Indikator dianggap memenuhi kriteria Discriminant Validity jika nilai Cross Loading pada variabelnya lebih besar dibandingkan dengan nilai Cross Loading pada variabel lain. Berdasarkan tabel 4, seluruh indikator pada variabel penelitian memiliki nilai Cross Loading lebih tinggi pada variabelnya sendiri dibandingkan dengan variabel lain, menunjukkan bahwa indikator penelitian memiliki Discriminant Validity yang baik C Fornell & Lacker Criterion. Validitas diuji dengan membandingkan nilai akar AVE suatu variabel dengan korelasi antarvariabel. Berdasarkan tabel 5, setiap variabel memiliki nilai akar AVE lebih tinggi dibandingkan nilai korelasi antarvariabel lain, menunjukkan bahwa validitas masing-masing variabel terpenuhi C Average Variance Extracted (AVE). Nilai AVE digunakan untuk memastikan keabsahan variabel. Seluruh variabel memiliki nilai AVE dalam rentang 0. 609Ae0. yang memenuhi kriteria minimal > 0. Hal ini mengindikasikan bahwa variabel penelitian memiliki Discriminant Validity yang baik. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Tabel 2. Nilai Convergent Validity (Uji . AKHLAK AKHLAK 1 AKHLAK 2 AKHLAK 3 AKHLAK 4 AKHLAK 5 AKHLAK 6 LINGKUNGAN LINGK 1 LINGK 2 LINGK 3 LINGK 4 LINGK 5 MEDIA SOSIAL MEDSOS 1 MEDSOS 2 MEDSOS 3 MEDSOS 4 MEDSOS 5 MEDSOS 6 MEDSOS 7 PENDIDIKAN PEND 1 PEND 2 PEND 3 PEND 4 PEND 5 PEND 6 Tabel 3. Nilai Convergent Validity Final AKHLAK AKHLAK 1 AKHLAK 2 AKHLAK 3 AKHLAK 4 AKHLAK 5 AKHLAK 6 LINGKUNGAN LINGK 1 LINGK 2 LINGK 3 LINGK 4 LINGK 5 MEDIA SOSIAL MEDSOS 1 MEDSOS 2 MEDSOS 3 MEDSOS 4 MEDSOS 5 MEDSOS 7 PENDIDIKAN QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Tabel 3. Nilai Convergent Validity Final (Lanjuta. AKHLAK LINGKUNGAN MEDIA SOSIAL PENDIDIKAN PEND 1 PEND 2 PEND 3 PEND 5 PEND 6 Tabel 4. Nilai Cross Loading AKHLAK LINGKUNGAN MEDIA SOSIAL PENDIDIKAN AKHLAK 1 AKHLAK 2 AKHLAK 3 AKHLAK 4 AKHLAK 5 AKHLAK 6 LINGK 1 LINGK 2 LINGK 3 LINGK 4 LINGK 5 MEDSOS 1 MEDSOS 2 MEDSOS 3 MEDSOS 4 MEDSOS 5 MEDSOS 7 PEND 1 PEND 2 PEND 3 PEND 5 PEND 6 Tabel 5. Fornell and Lacker Criterion AKHLAK LINGKUNGAN MEDIA SOSIAL AKHLAK LINGKUNGAN MEDIA SOSIAL PENDIDIKAN PENDIDIKAN Composite Reliability dan CronbachAos Alpha Reliabilitas variabel dalam penelitian ini diuji menggunakan dua metode Composite Reliability dan CronbachAos Alpha. Composite Reliability. Uji Composite Reliability digunakan untuk mengevaluasi nilai reliabilitas indikator pada setiap variabel. Variabel dinyatakan memenuhi syarat jika nilai Composite Reliability > 0. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. CronbachAos Alpha. Uji CronbachAos Alpha digunakan untuk menentukan apakah variabel dinyatakan reliabel. Variabel dianggap reliabel jika nilai CronbachAos Alpha > 0. Tabel 6. Nilai CronbachAos Alpha dan Composite Reliability Cronbach's Alpha Composite Reliability . Composite reliability . AKHLAK LINGKUNGAN MEDIA SOSIAL PENDIDIKAN Berdasarkan tabel 6, seluruh variabel memiliki nilai Composite Reliability > 0. 6 dan CronbachAos Alpha > 0. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel memenuhi kriteria reliabilitas dan memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi, sehingga layak digunakan dalam analisis penelitian. Evaluasi Inner Model atau Model Struktural Uji R Square. Hasil pengujian inner model atau model struktural menunjukkan bahwa nilai R Square untuk variabel Akhlak adalah 0. 656 dan Lingkungan 0. 704, dengan nilai R Square Adjusted masing-masing sebesar 0. engaruh sedan. untuk Akhlak dan 0. 694 untuk Lingkungan . engaruh tingg. Uji Multikolinearitas (VIF). Sebelum melakukan uji hipotesis, peneliti melakukan uji statistik inner model menggunakan Variance Inflation Factor (VIF) untuk mendeteksi adanya multikolinearitas antarvariabel. Nilai VIF yang lebih rendah dari 5 menunjukkan bahwa multikolinearitas berada dalam batas yang dapat diterima. Berdasarkan hasil yang ditampilkan dalam Tabel 7, seluruh nilai VIF berada di bawah 5, yang menunjukkan bahwa model penelitian ini bebas dari multikolinearitas dan layak untuk dilakukan analisis Tabel 7. Uji VIF Hubungan VIF LINGKUNGAN E AKHLAK MEDIA SOSIAL E AKHLAK MEDIA SOSIAL E LINGKUNGAN PENDIDIKAN E AKHLAK PENDIDIKAN E LINGKUNGAN Uji Hipotesis Dalam pengujian hipotesis, nilai p-values dan t-Statistic digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya pengaruh antar variabel. Nilai p-Values < 0,05 menunjukkan adanya pengaruh. Tabel 8 menunjukkan hasil pengujian setiap hipotesis sebagai berikut: Pengaruh Pendidikan Akhlak Siswa Siswi Nilai original sample sebesar 0,268 menunjukkan pengaruh positif. Selain itu, nilai PValues sebesar 0,025 (< 0,. mengindikasikan adanya pengaruh signifikan antara pendidikan dan akhlak siswa-siswi. Dengan demikian, hipotesis H0 ditolak. Pengaruh Media Sosial Akhlak Siswa Siswi Nilai original sample sebesar 0,209 menunjukkan pengaruh positif. Nilai P-Values sebesar 0,037 (< 0,. menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap akhlak siswa-siswi. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengaruh simultan variabel pendidikan dan media sosial terhadap akhlak siswa diukur menggunakan nilai R Square Adjusted. Dengan nilai 0,638, korelasi antara variabel independen dan dependen tergolong dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dan media sosial bersamasama memiliki kontribusi yang cukup signifikan terhadap akhlak siswa. Tabel 8. Nilai Path Coefficient Path Original sample (O) Sample mean (M) Standard deviation (STDEV) T statistics (|O/STDEV|) p-value <0. <0. LINGKUNGAN EAKHLAK MEDIA SOSIAL E AKHLAK MEDIA SOSIAL ELINGKUNGAN PENDIDIKAN EAKHLAK PENDIDIKAN ELINGKUNGAN Uji Latent Correlations Uji Latent Correlation menunjukkan hubungan antara variabel independen, mediasi, dan Berdasarkan Tabel 9, variabel lingkungan memiliki korelasi tertinggi terhadap akhlak dengan nilai 0. 779, dibandingkan pendidikan . dan media sosial . Tabel 9. Hasil Uji Latent Correlations AKHLAK AKHLAK LINGKUNGAN MEDIA SOSIAL PENDIDIKAN LINGKUNGAN MEDIA SOSIAL PENDIDIKAN Uji Mediasi Uji mediasi digunakan untuk mengidentifikasi apakah variabel lingkungan memediasi . ndirect effec. hubungan antara variabel independen Pendidikan dan Media Sosial dengan variable dependen Akhklak. Nilai p-values yang bernilai <0. 05 menunjukkan variabel mediasi berpengaruh signifikan dalam hubungan variable independen dengan dependen. Tabel 10. Nilai Specific Inderect Effect Variabel Mediasi MEDIA SOSIAL E LINGKUNGAN E AKHLAK PENDIDIKAN E LINGKUNGAN E AKHLAK Original sample (O) Sample mean (M) Standard (STDEV) T statistics (|O/STDEV|) p-value Berdasarkan Tabel 10, variabel lingkungan berperan sebagai mediator signifikan dengan nilai pengaruh antara variabel pendidikan terhadap variabel akhlak sebesar 0. 028 (< 0. dan antara variabel media sosial terhadap variabel akhlak sebesar 0. 009 (< 0. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Pembahasan Pengaruh Pendidikan dan Media Sosial terhadap Akhlak Siswa MI Tarbiyatul Aulad secara Parsial dan Simultan Penelitian ini menemukan bahwa pendidikan memiliki pengaruh signifikan terhadap akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad, menunjukkan peran pentingnya dalam membentuk karakter dan moralitas Pendidikan, baik di sekolah maupun di keluarga, menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati, serta mendorong integritas, kedisiplinan, dan kerja keras. Temuan ini sejalan dengan pandangan (Ramayulis, 2. , bahwa pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan individu yang beriman, bertaqwa, berbudi pekerti luhur, dan berdedikasi terhadap lingkungan sekitar. Media sosial juga berpengaruh signifikan terhadap akhlak siswa, memfasilitasi pertukaran informasi namun berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti penurunan etika komunikasi. Peran orang tua dan guru sangat penting dalam mengedukasi siswa tentang penggunaan media sosial yang bijak untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif. Menurut (Lubis, 2. , perkembangan media sosial yang pesat telah membawa perubahan besar dalam cara manusia Hal ini menekankan perlunya sistem pengawasan dan pelatihan untuk memastikan bahwa media sosial digunakan secara bertanggung jawab, mendukung pembentukan akhlak yang baik, dan meminimalkan risiko penyalahgunaan. Dengan demikian, baik pendidikan maupun media sosial memiliki peran penting dalam pembentukan akhlak siswa yang harus dikelola dengan bijak. Pengaruh Pendidikan dan Media sosial terhadap Akhlak Siswa MI Tarbiyatul Aulad Secara Simultan. Nilai R Square Adjusted menunjukkan variansi akhlak siswa dijelaskan sebesar 63. 80% secara bersamaan oleh semua variabel independen, sedangkan sisanya 37. 20% dijelaskan oleh faktor lain. Hal ini mendukung pernyataan diterimanya H3 bahwa Pendidikan dan Media Sosial secara simultan berpengaruh atas akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad. Pendidikan dipandang sebagai elemen penting dalam membentuk akhlak siswa karena secara langsung mengajarkan nilai-nilai moral dan etika. Melalui kurikulum yang dirancang dengan baik, siswa diajarkan pentingnya kejujuran, tanggung jawab, dan empati, yang menjadi dasar pembentukan karakter yang baik. Di sisi lain, media sosial berfungsi sebagai platform untuk berbagi pengetahuan dan berdiskusi dengan individu dari berbagai latar belakang. Hal ini tidak hanya memperluas wawasan siswa tentang isu-isu etis tetapi juga memberikan kesempatan untuk belajar dari pengalaman orang Dengan demikian, pendidikan dan media sosial memiliki kontribusi yang signifikan dalam membentuk akhlak siswa. Korelasi antara Pendidikan. Media sosial, dan Lingkungan terhadap Akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad . Hasil uji latent correlations (Tabel . menunjukkan bahwa variabel pendidikan memiliki korelasi positif signifikan terhadap akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad. Pendidikan membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis untuk mempertimbangkan dampak etis dari tindakan mereka, sehingga mendukung pengambilan keputusan yang bermoral. Penelitian oleh Nurpajar . juga menegaskan pentingnya pendidikan agama Islam dalam membentuk akhlak siswa sesuai ajaran agama. Selain itu, media sosial memiliki korelasi positif signifikan terhadap akhlak siswa. Media sosial memperluas pemahaman siswa tentang nilai-nilai sosial dan moral, mendorong toleransi, empati, dan wawasan terhadap berbagai perspektif. Seperti dinyatakan oleh Puspitarini dan Nuraeni, . , media sosial mendukung kolaborasi, berbagi ide, dan membangun komunitas yang memfasilitasi perkembangan sosial siswa. Variabel lingkungan, sebagai mediator, memiliki korelasi positif dengan variabel independen dan hubungan kuat dengan akhlak siswa. Korelasi tertinggi ditemukan antara lingkungan dan media sosial, menegaskan peran lingkungan dalam memperkuat pengaruh media sosial terhadap akhlak. Media sosial memungkinkan siswa terhubung dengan lingkungan yang lebih luas, baik nyata maupun Lingkungan yang positif dapat memperkuat nilai-nilai moral siswa, sedangkan paparan QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. lingkungan yang kurang mendukung dapat berdampak negatif. Dengan demikian, interaksi antara media sosial dan lingkungan memainkan peran signifikan dalam membentuk pengalaman sosial dan moral siswa. Lingkungan sebagai Mediator dalam Hubungan antara Pendidikan dan Media sosial Akhlak Siswa MI Tarbiyatul Aulad. Lingkungan sebagai Mediator antara Pendidikan. Media Sosial, dan Akhlak Siswa Hasil analisis menunjukkan bahwa lingkungan secara signifikan memediasi hubungan antara pendidikan dan akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad (Tabel . sehingga hipotesis H4 terbukti. Hal ini dapat disebabkan karena interaksi dengan orang tua, guru, dan teman sebaya memberikan konteks di mana nilai-nilai moral diterjemahkan ke dalam perilaku. Orang tua memperkuat nilai-nilai yang diajarkan di sekolah, guru menjadi teladan dan fasilitator untuk memahami moralitas, sementara teman sebaya memengaruhi internalisasi nilai melalui interaksi sosial. Media sosial memperluas jangkauan interaksi ini, tetapi kualitas lingkungan sosialAibaik mendukung maupun negatifAisangat menentukan bagaimana nilai-nilai dari pendidikan dan media sosial membentuk akhlak siswa. Dengan lingkungan yang mendukung, nilai-nilai tersebut dapat diterapkan secara positif dalam kehidupan sehari-hari. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan dan media sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap akhlak siswa MI Tarbiyatul Aulad, baik secara parsial maupun simultan. Temuan juga menunjukkan bahwa pendidikan memberikan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan media sosial. Selain itu, lingkungan terbukti menjadi mediator yang signifikan dalam hubungan antara pendidikan maupun media sosial dengan akhlak siswa. Hasil ini menegaskan pentingnya peran lingkungan dalam memperkuat dampak pendidikan dan media sosial terhadap pembentukan akhlak siswa. Namun, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Ruang lingkup penelitian yang terbatas hanya pada siswa MI Tarbiyatul Aulad membuat hasilnya kurang dapat digeneralisasi ke konteks atau populasi lain. Selain itu, pengumpulan data yang dilakukan melalui kuesioner berpotensi memunculkan bias, seperti bias sosial atau subjektivitas responden. Pendekatan cross-sectional yang digunakan juga hanya memberikan gambaran hubungan antarvariabel pada satu waktu tertentu, sehingga tidak dapat secara menyeluruh memastikan adanya hubungan kausal. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan lebih banyak sekolah di berbagai wilayah agar hasilnya lebih representatif dan dapat digeneralisasi. Penggunaan metode pengumpulan data yang bervariasi, seperti triangulasi dengan wawancara atau observasi langsung, dapat mengurangi bias Pendekatan longitudinal juga dianjurkan untuk analisis hubungan kausal antarvariabel dari waktu ke waktu. Selain itu, eksplorasi variabel lain, seperti budaya, peran keluarga, atau kondisi sosial ekonomi, dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang faktor-faktor yang memengaruhi akhlak siswa. Pernyataan Konflik Kepentingan Para penulis menyatakan tidak ada potensi konflik kepentingan terkait dengan penelitian, penulisan, dan/atau publikasi dari artikel ini. Daftar Pustaka