PENGARUH MOBILISASI DINI TERHADAP KEJADIAN POST OPERATIVE NAUSEA AND VOMITING (PONV) PADA PASIEN DENGAN ANESTESI INTRAVENA DI RUANG MINA RUMAH SAKIT ISLAM LUMAJANG Kurniawati1. Nur Hamim2. Ainul Yaqin Salam 3 1,2,3 Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo ABSTRAK Insiden mual dan muntah pasca operasi (PONV) diharapkan dapat ditangani secara efektif dan efisien agar pasien dapat pulih secara optimal setelah operasi. Mobilisasi dini berkontribusi pada pemulihan sistem gastrointestinal dan mengurangi efek samping anestesi Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh mobilisasi dini terhadap kejadian mual dan muntah pasca operasi (PONV) pada pasien dengan anestesi intravena di Ruang Mina. Rumah Sakit Islam Lumajang. Metode penelitian menggunakan desain praeksperimental dengan pendekatan desain satu kelompok pre-test dan post-test. Perlakuan yang diberikan adalah latihan mobilisasi dini pada hari pertama setelah operasi selama 20 menit, 5 kali pengulangan per latihan. Latihan dilakukan setelah 6 jam pertama pascaoperasi dan kemudian diamati menggunakan skor Rhodes Index Nausea Vomiting and Retching (RINVR) setelah 24 jam pascaoperasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien pascaoperasi dengan anestesi intravena yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan sampel sebanyak 32 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling, dan uji statistik menggunakan uji Willcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum perlakuan mobilisasi dini, ditemukan 16 responden . %) mengalami mual dan muntah pasca operasi dalam kategori sedang, dan setelah perlakuan ditemukan sebanyak 9 responden . ,1%) mengalami mual dan muntah pasca operasi dalam kategori ringan dan sebanyak 7 responden . ,9%) dalam kategori sedang. Sehingga diperoleh hasil dengan nilai P = 0,000, < 0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan dari perlakuan mobilisasi dini terhadap kejadian mual dan muntah pasca operasi (PONV). Temuan ini menunjukkan bahwa mobilisasi dini memiliki efek positif terhadap kejadian mual dan muntah pasca operasi (PONV). Prosedur Operasi Standar mobilisasi dini dapat diterapkan dalam penanganan mual dan muntah pasca operasi pada pasien dengan anestesi intravena. Kata Kunci: Mobilisasi Dini. Mual dan Muntah. Anestesi Intravena. Pasien Pascaoperasi ABSTRACT The incidence of post operative nausea and vomiting (PONV) is expected to be treated effectively and efficiently so that patients recover optimally after surgery. Early mobilization contributes to the recovery of the gastrointestinal system and reduces the side effects of intravenous anesthesia. This study aims to identify the effect of early mobilization on the Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc incidence of post operative nausea and vomiting (PONV) on patients with intravenous anesthesia in the Mina Room. Lumajang Islamic Hospital. The research method uses a preexperimental design with a pre-test and post-test one group design approach. The treatment given was early mobilization exercises on the first day after surgery for 20 minutes, 5 repetitions per exercise. Exercise was carried out after the first 6 hours postoperatively and then observed using the Rhodes Index Nausea Vomiting and Retching (RINVR) score after 24 hours postoperatively. The population in this study was all postoperative patients with intravenous anesthesia who met the exclusion inclusion criteria, with a sample of 32 The sampling technique uses Purposive sampling a statistical test using the Willcoxon test. The research results showed that before the early mobilization treatment, it was found that 16 respondents . %) experienced postoperative nausea and vomiting in the moderate category and after the treatment it was found that as many as 9 respondents . experienced postoperative nausea and vomiting in the mild category and as many as 7 respondents . 9%) in the moderate category. So that the results were obtained with the value P = 0,000 , < 0. 05 ,which means that there is a significant influence of early mobilization treatment on the incidence of post operative nausea and vomiting (PONV). These findings indicatd that early mobilization has a positive effect on the incidence of post operative nausea and vomiting (PONV). Standard Operating Procedures Early mobilization procedures can be applied in the treatment of postoperative nausea and vomiting in patients with intravenous Keywords: Early Mobilization. Nausea and Vomiting. Intravenous Anesthesia. Postoperative Patient PENDAHULUAN Operasi merupakan suatu prosedur medis yang umumnya digunakan untuk memperbaiki suatu kondisi, dimana suatu penyakit tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan sederhana. Prosedur ini membutuhkan penanganan untuk menghilangkan rasa nyeri dan juga kesadaran yang disebut anestesi. Salah satu jenis anestesi umum adalah anestesi Untuk operasi dengan anestesi intravena bertujuan memastikan ketidaknyamanan dan kecemasan pasien dapat diminimalkan. Meskipun operasi berhasil mengatasi masalah medis yang mendasarinya, pasien seringkali mengalami efek samping postoperatif, seperti mual dan muntah (Rian Andan Dewi, 2. Mobilisasi dini pasca operasi adalah salah satu langkah penting dalam proses pemulihan pasien. Namun, sering kali terjadi hambatan yang membuat pasien enggan atau tidak mampu melakukannya. Beberapa masalah umum yang sering dihadapi oleh pasien dalam upaya mobilisasi dini termasuk pusing akibat obat anestesi, mual dan muntah yang juga disebabkan oleh efek anestesi, serta nyeri pasca operasi. Pusing akibat obat anestesi sering kali terjadi karena anestesi dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan keseimbangan tubuh. Pasien yang mengalami pusing biasanya merasa tidak stabil dan takut jatuh, sehingga mereka cenderung menghindari bergerak. Mual dan muntah adalah efek samping lain yang umum dari Rasa mual ini tidak hanya membuat pasien merasa tidak nyaman, tetapi juga dapat menghambat kemampuan mereka untuk bergerak dengan bebas. Pasien yang merasa mual atau muntah mungkin enggan untuk duduk atau bangun dari tempat tidur, karena khawatir akan memperparah gejala mereka. Nyeri pasca operasi adalah masalah signifikan lainnya. Setelah operasi, area yang dioperasi seringkali masih sangat sakit. Rasa nyeri ini bisa sangat membatasi gerakan pasien dan membuat mereka merasa takut untuk bergerak. Nyeri juga dapat Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc meningkatkan kecemasan dan stres, yang semakin menghambat keinginan untuk melakukan mobilisasi (Fakhrunisa, 2. Di Indonesia, angka mual muntah post operasi belum tercatat dengan jelas. Kejadian mual dan muntah sebesar 31,25% pada post pembedahan laparatomi ginekologi, dan 31,4% pada post operasi mastektomi. mual dan muntah post operasi merupakan penyulit post bedah dimana memimbulkan ketidaknyaman dan pada rawat jalan meningkatkan biaya sekitar 0,1 0,2 % karena kejadian dirawat kembali di rumah sakit. PONV bisa mempengaruhi sekitar Tiga puluh persen dari jumlah lebih dari 100 juta pasien yang melakukan operasi di seluruh dunia. Setiap tahun, sekitar 71 juta pasien menjalani operasi di Amerika Serikat menghadapi PONV. PONV terjadi pada sekitar 10-20% pasien dalam operasi umum, sementara sekitar 70-80% pasien dengan risiko tinggi mengalami PONV. (Mayestika & Hasmira 2. Insiden terjadinya PONV pada pasien pasca operasi berkisar 20% sampai 30%, dimana kejadian tertinggi dapat ditemukan pada 6 jam pertama setelah operasi (Abired et al. Mual muntah pasca operasi bukan hanya mengurangi kualitas hidup pasien, tetapi juga dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk dehidrasi, gangguan elektrolit, dan penundaan Oleh karena itu, penanganan efektif terhadap mual muntah post operatif menjadi krusial dalam memastikan pasien pulih dengan optimal setelah operasi (Fakhrunisa, 2. Mual dan muntah setelah pembiusan intravena dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme yang terkait dengan proses anestesi. Pertama, agen anestesi yang digunakan dapat mempengaruhi pusat muntah di otak. Beberapa anestesi umum, seperti propofol atau opioid, dapat merangsang pusat muntah, yang dapat menyebabkan rasa mual dan muntah setelah Selain itu, penggunaan obat relaksan otot untuk mempermudah proses pembedahan juga dapat berkontribusi pada gejala tersebut. Kedua, adanya perubahan dalam tekanan darah dan aliran darah selama prosedur anestesi juga dapat berpengaruh. Pembiusan intravena seringkali menyebabkan penurunan tekanan darah, dan hal ini dapat mengaktivasi reseptor mual di area otak yang bertanggung jawab untuk regulasi tekanan darah. Perubahan ini dapat menciptakan ketidakseimbangan dan menyebabkan mual serta muntah pada pasien setelah Terakhir, kepekaan individual terhadap agen anestesi dan obat lainnya juga dapat berperan dalam munculnya gejala tersebut. Setiap pasien memiliki respons yang unik terhadap obat-obatan, dan faktor-faktor seperti riwayat mual muntah sebelumnya, usia, atau jenis kelamin dapat memengaruhi sejauh mana seseorang rentan terhadap efek samping tersebut. Oleh karena itu, mual dan muntah setelah pembiusan intravena adalah fenomena kompleks yang melibatkan interaksi berbagai faktor dalam tubuh pasien selama periode anestesi (Yuliana et al. , 2. Salah satu aspek penting dalam manajemen postoperatif adalah mobilisasi dini pasien. Mobilisasi dini telah terbukti berkontribusi pada pemulihan pasien setelah operasi dengan berbagai cara, termasuk peningkatan fungsi paru-paru, sirkulasi darah, dan pemulihan fungsi Namun, masih terdapat kekurangan informasi mengenai pengaruh mobilisasi dini terhadap kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) dengan anestesi intravena (Arif et al. , 2. Mobilisasi dini artinya kegiatan atau proses aktivitas yang dapat dilakukan pasien pasca operasi (Yuliana et al. , 2. Perawat berperan sebagai educator dengan memberikan edukasi tentang mobilisasi dini setelah operasi (Latifah, 2. Mobilisasi dini sangat penting dilakukan untuk mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi setelah operasi. Mobilisasi dini bertujuan untuk mendukung fungsi tubuh, memperlancar peredaran darah, melancarkan pernafasan, meningkatkan tonus otot, serta dapat membantu pasien kembali normal untuk memudahkan aktivitas tertentu dalam memenuhi kebutuhan gerak harian, kegiatan ini juga dapat memberikan kesempatan bagi pasien dan perawat untuk berinteraksi serta berkomunikasi (Sumberjaya & Mertha, 2. Berdasarkan penelitian Dian Zuiatna . ditemukan responden memiliki motivasi Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc melaksanakan mobilisasi dini dengan kategori tinggi, sebagian besar melaksanakan mobilisasi dini, yaitu 21 orang . ,8%). Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p . < 0,05 maka Ho Hal ini berarti motivasi dan pelaksanaan mobilisasi dini secara statistis mempunyai hubungan yang signifikan Sedangkan penelitian yang dilakukan Thaha . menunjukkan bahwa 25 orang . ,5%) motivasi cukup melaksanakan mobilisasi dini. Hasil Analisis Statistik diperoleh nilai A= 0,001< = 0,05, ini berarti ada hubungan yang signifikan antara motivasi pasien dengan pelaksanaan mobilisasi dini pasca seksio secarea di Rumah Sakit Labuang Baji Makassar. Mobilisasi dini setelah prosedur bedah atau perawatan medis dapat memberikan manfaat signifikan bagi pasien. Selain meningkatkan kenyamanan, mobilisasi dini dapat mengurangi kebutuhan akan obat bius total dengan mempercepat proses pemulihan dan mengurangi tingkat nyeri pasien. Aktivitas fisik setelah prosedur juga dapat mengurangi risiko mual dan muntah, memberikan dampak positif pada kesejahteraan pasien secara keseluruhan. Dengan merangsang pergerakan tubuh, mobilisasi dini membantu meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi risiko komplikasi pascaoperasi, dan meningkatkan pengeluaran kringat sehingga obat bius bisa di keluarkan dengan cepat. Keputusan untuk memobilisasi dini harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan individual pasien, dan kerjasama tim perawatan kesehatan menjadi kunci untuk merencanakan dan melaksanakan program mobilisasi yang aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki apakah mobilisasi dini memiliki pengaruh positif terhadap kejadian post operative nausea and vomiting (PONV). Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk merancang intervensi yang lebih efektif dalam manajemen post operatif pasien operasi, memperbaiki kualitas perawatan pasien, dan mengurangi dampak negatif mual muntah pada proses pemulihan. Dari latar belakang diatas peneliti ingin meneliti tentang AuPengaruh mobilisasi dini terhadap kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) pada pasien dengan anestesi intravena di Ruang Mina Rumah Sakit Islam LumajangAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan Pre Eksperimental one group pre test and post test design. rancangan tersebut ialah rancangan yang meliputi hanya satu kelompok atau kelas yang diberikan pra dan pasca uji terhadap satu kelompok tanpa adanya kelompok kontrol atau pembanding. Sehingga dalam penelitian akan dilakukan tes awal . re tes. sebelum memberikan perlakuan dan akan dilakukan tes akhir . ost test Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh pasien pasca operasi dengan anestesi intravena di Rumah Sakit Islam Lumajang sebanyak 32 responden Teknik Sampling Menggunakan purposive sampling HASIL PENELITIAN Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan identifikasi Kejadian Post operative nausea and vomiting (PONV) Mual Frekuensi Persentase . (%) Ringan Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Sedang Berat Total Dari hasil Tabel 1 di dapatkan bahwa separuh responden di Ruang Mina Rumah Sakit Islam Lumajang sebelum diberikan mobilisasi dini mengalami mual muntah kategori sedang sebanyak 16 responden . %) sebelum perlakuan. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Kejadian Post operative nausea and vomiting (PONV) pada pasien dengan anestesi intravena sesudah diberikan mobilisasi dini Mual muntah Ringan Sedang Total Frekuensi . Persentase (%) Dari hasil Tabel 2 di dapatkan bahwa separuh responden di Ruang Mina Rumah Sakit Islam Lumajang mengalami mual muntah kategori ringan dan sedang masing masing sebanyak 16 responden . %) sesudah perlakuan. Tabel silang 3 Kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) pada pasien dengan anestesi intravena sebelum dan sesudah diberikan mobilisasi dini Intervensi Pre Test Post Test Kejadian Post Operative Nausea And Vomiting (PONV) Berat Sedang Ringan Total Dari hasil Tabel silang di dapatkan di dapatkan bahwa separuh responden di Rumah Sakit Islam Lumajang yang mengalami kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) kategori sedang sebanyak 16 responden . %) sebelum perlakuan menjadi 9 responden . ,1%) mengalami mual muntah kategori ringan dan 7 responden . ,9%) mengalami mual muntah tetap kondisi sedang sesudah perlakuan. Tabel 4 uji analisis Pengaruh mobilisasi dini terhadap kejadian post operate nausea and vomiting (PONV) pada pasien dengan anestesi intravena Test Statisticsa Mual muntah sebelum perlakuan- Mual muntah setelah perlakuan -4,264b Asymp. Sig. -taile. 0,000 Wilcoxon Signed Ranks Test Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Based on positive ranks. Hasil uji analisis di atas menunjukkan nilai P = 0,000 , < 0. 05 sehingga didapatkan ada pengaruh mobilisasi dini terhadap kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) dengan anestesi intravena di Ruang Mina Rumah Sakit Islam Lumajang. PEMBAHASAN Identifikasi kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) pada pasien dengan anestesi intravena sebelum diberikan mobilisasi dini di Rumah Sakit Islam Lumajang Mual dan muntah setelah operasi adalah fenomena yang sering terjadi dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan yang signifikan bagi pasien. Gejala ini seringkali muncul sebagai efek samping dari anestesi atau sebagai reaksi terhadap perawatan pasca operasi. Mual dan muntah dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, serta penurunan asupan nutrisi, yang pada akhirnya dapat memperlambat proses pemulihan pasien. Penyebab utama mual dan muntah pasca operasi berkaitan dengan penggunaan anestesi. Anestesi umum dan obat-obatan lain yang diberikan selama operasi dapat memengaruhi pusat muntah di otak. Selain itu, beberapa pasien mungkin lebih sensitif terhadap anestesi atau memiliki riwayat mual pasca operasi, yang meningkatkan risiko terjadinya gejala ini. Faktor-faktor ini seringkali memerlukan penanganan khusus untuk mengurangi dampaknya pada pasien. Mual muntah pasca operasi bukan hanya mengurangi kualitas hidup pasien, tetapi juga dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk dehidrasi, gangguan elektrolit, dan penundaan pemulihan. Oleh karena itu, penanganan efektif terhadap mual muntah post operatif menjadi krusial dalam memastikan pasien pulih dengan optimal setelah operasi (Fakhrunisa, 2. Faktor lain yang dapat mempengaruhi timbulnya mual dan muntah pasca operasi termasuk jenis operasi yang dilakukan dan lama waktu operasi. Operasi yang melibatkan sistem pencernaan atau manipulasi pada perut cenderung meningkatkan risiko mual dan muntah. Selain itu, durasi operasi yang lebih lama dapat memperburuk gejala ini karena pasien lebih lama berada di bawah efek anestesi. Oleh karena itu, mual dan muntah setelah pembiusan intravena adalah fenomena kompleks yang melibatkan interaksi berbagai faktor dalam tubuh pasien selama periode anestesi (Yuliana et al. , 2. Penanganan mual dan muntah pasca operasi biasanya melibatkan penggunaan obat antimual atau antiemetik. Pilihan obat ini dapat bervariasi tergantung pada penyebab dan intensitas Selain itu, perawatan suportif seperti hidrasi yang adekuat dan penyesuaian pola makan juga merupakan bagian penting dari manajemen pasca operasi untuk mengurangi gejala dan mempercepat pemulihan. Secara keseluruhan, mual dan muntah pasca operasi adalah hal yang umum terjadi namun dapat dikelola dengan baik melalui pendekatan medis yang tepat. Dengan pemantauan dan perawatan yang sesuai, pasien dapat merasa lebih nyaman dan mempercepat proses pemulihan mereka. Edukasi mengenai kemungkinan efek samping ini juga penting untuk mempersiapkan pasien dan keluarga mereka menghadapi proses pasca operasi (Arif et , 2. Peneliti berpendapat bahwa bahwa separuh dari responden di Rumah Sakit Islam Lumajang mengalami mual muntah dengan kategori sedang sebanyak 16 responden . %) sebelum perlakuan, mencerminkan prevalensi yang cukup signifikan dari gejala ini di populasi yang diteliti. Hal ini menunjukkan bahwa mual dan muntah merupakan masalah umum yang dihadapi pasien pasca operasi di rumah sakit tersebut. Penting untuk mengidentifikasi dan menangani gejala ini secara efektif, mengingat dampaknya terhadap kenyamanan pasien dan potensi komplikasi seperti dehidrasi dan gangguan elektrolit. Penanganan yang tepat dapat Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc memperbaiki kualitas hidup pasien serta mendukung proses pemulihan yang lebih cepat. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan penerapan strategi pencegahan dan manajemen yang sesuai untuk mengurangi frekuensi dan intensitas mual serta muntah setelah operasi. Selain itu, peneliti menyarankan agar rumah sakit melakukan evaluasi rutin terhadap kebijakan dan praktik terkait penggunaan anestesi serta obat anti-mual untuk memastikan bahwa mereka sesuai dengan kebutuhan pasien. Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko spesifik yang mungkin berkontribusi terhadap mual dan muntah pasca operasi di lingkungan rumah sakit tersebut. Dengan demikian, pendekatan yang lebih sistematis dan berbasis bukti dalam manajemen gejala mual dan muntah dapat meningkatkan kualitas perawatan dan hasil pasca operasi. Peneliti juga mengharapkan bahwa temuan ini dapat memotivasi upaya lebih lanjut untuk mengurangi kejadian mual dan muntah pada pasien di Rumah Sakit Islam Lumajang dan institusi kesehatan lainnya. Identifikasi kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) dengan anestesi intravena sesudah diberikan mobilisasi dini Mual dan muntah pasca operasi adalah gejala yang umum dan dapat mempengaruhi kenyamanan serta pemulihan pasien. Salah satu strategi yang telah terbukti efektif dalam mengatasi masalah ini adalah teknik mobilisasi dini. Mobilisasi dini, yaitu upaya untuk memulai aktivitas fisik ringan sesegera mungkin setelah operasi, dapat membantu mengurangi mual dan muntah dengan berbagai cara. Teknik mobilisasi dini berfungsi untuk mempercepat pemulihan fungsi pencernaan dan sistem gastrointestinal setelah operasi. Dengan bergerak atau melakukan aktivitas fisik ringan, pergerakan usus dapat kembali normal, dan pengeluaran gas dari tubuh dapat difasilitasi. Hal ini mengurangi rasa tidak nyaman di perut yang seringkali berkontribusi pada mual dan muntah. Mobilisasi dini juga membantu mencegah komplikasi seperti ileus, yaitu kondisi di mana usus tidak bergerak secara normal. Salah satu aspek penting dalam manajemen postoperatif adalah mobilisasi dini pasien. Mobilisasi dini telah terbukti berkontribusi pada pemulihan pasien setelah operasi dengan berbagai cara, termasuk peningkatan fungsi paru-paru, sirkulasi darah, dan pemulihan fungsi usus. Namun, masih terdapat kekurangan informasi mengenai pengaruh mobilisasi dini terhadap kejadian mual muntah pada pasien dengan anestesi intravena (Arif et al. , 2. Mobilisasi dini membantu dalam mengurangi efek samping dari anestesi. Anestesi umum seringkali mempengaruhi fungsi gastrointestinal dan dapat menyebabkan mual. Dengan beraktivitas lebih awal, pasien dapat mengurangi efek sisa anestesi dan mempercepat proses Penurunan durasi efek anestesi ini secara tidak langsung dapat mengurangi frekuensi dan intensitas mual serta muntah. Teknik mobilisasi dini harus dilakukan dengan perhatian yang cermat terhadap kondisi fisik pasien dan dengan bimbingan tenaga medis. Mulai dari gerakan ringan seperti duduk di tepi tempat tidur hingga berjalan kecil-kecilan, semua langkah harus dilakukan secara bertahap untuk memastikan keamanan pasien. Penerapan teknik ini secara konsisten dapat mengoptimalkan hasil klinis dan meningkatkan kenyamanan pasien selama fase pemulihan. Mobilisasi dini merupakan pendekatan yang efektif untuk mengelola mual dan muntah pasca operasi. Dengan memperkenalkan aktivitas fisik secara bertahap dan sesuai, pasien dapat merasakan perbaikan dalam gejala serta proses pemulihan yang lebih cepat. Praktik ini juga berkontribusi pada perbaikan kualitas perawatan pasca operasi dan meningkatkan hasil kesehatan secara keseluruhan (Yuliana et al. , 2. Peneliti berpendapat bahwa separuh responden di Rumah Sakit Islam Lumajang mengalami mual dan muntah dalam kategori ringan dan sedang setelah perlakuan, pendekatan mobilisasi dini merupakan faktor kunci dalam pengelolaan gejala tersebut. Teknik mobilisasi dini, yang melibatkan aktivitas fisik ringan sesegera mungkin setelah operasi, berperan penting dalam mengurangi mual dan muntah. Mobilisasi dini membantu mempercepat proses Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc pemulihan sistem pencernaan dan gastrointestinal. Aktivitas fisik ringan seperti duduk di tepi tempat tidur, berjalan kecil-kecilan, dan latihan pernapasan dapat memperbaiki pergerakan usus dan mengurangi penumpukan gas, yang sering menjadi penyebab mual dan muntah. Dengan mengaktifkan sistem pencernaan lebih awal, pasien dapat mengalami penurunan gejala yang lebih cepat dibandingkan jika mereka hanya beristirahat total. Selain itu, mobilisasi dini juga dapat mengurangi dampak sisa efek anestesi. Anestesi umum dapat memengaruhi fungsi gastrointestinal, sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya. Dengan mendorong aktivitas fisik ringan lebih awal, pasien dapat mengurangi efek sisa anestesi dan mempercepat pemulihan sistem tubuh secara keseluruhan. Hal ini secara langsung berkontribusi pada penurunan frekuensi dan intensitas mual dan muntah. Namun, meskipun mobilisasi dini memiliki manfaat signifikan, hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitasnya dalam mengurangi mual dan muntah tidak sepenuhnya optimal. Peneliti menyarankan bahwa teknik mobilisasi dini perlu dilakukan dengan lebih hati-hati dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Menetapkan protokol yang lebih rinci dan mempertimbangkan faktor-faktor individual pasien dapat meningkatkan hasil dari teknik ini. Secara keseluruhan, mobilisasi dini terbukti sebagai strategi yang efektif dalam mengurangi mual dan muntah pasca operasi, namun diperlukan perhatian lebih lanjut dalam pelaksanaannya. Peneliti menganjurkan agar rumah sakit terus mengembangkan dan mengadaptasi metode mobilisasi dini untuk memaksimalkan manfaatnya bagi pasien serta mempercepat proses pemulihan mereka. Pengaruh mobilisasi dini terhadap kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) Hasil uji analisis wilcoxon test menunjukkan nilai <0,05 yaitu . yang berarti bahwa ada Pengaruh mobilisasi dini terhadap kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) pada pasien dengan anestesi intravena di Ruang Mina Rumah Sakit Islam Lumajang. Dari hasil Tabel 5. 6 di dapatkan bahwa separuh responden di Rumah Sakit Islam Lumajang mengalami mual muntah kategori sedang sebanyak 16 responden . %) sebelum perlakuan menjadi 9 responden . ,1%) mengalami mual muntah kategori ringan dan 7 responden . ,9%) mengalami mual muntah tetap kondisi sedang setelah perlakuan. Operasi merupakan suatu prosedur medis yang umumnya digunakan untuk memperbaiki suatu kondisi, dimana suatu penyakit tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan sederhana. Prosedur ini membutuhkan penanganan untuk menghilangkan rasa nyeri dan juga kesadaran yang disebut anestesi. Salah satu jenis anestesi umum adalah anestesi intravena. Untuk operasi dengan anestesi intravena bertujuan memastikan ketidaknyamanan dan kecemasan pasien dapat diminimalkan. Meskipun operasi berhasil mengatasi masalah medis yang mendasarinya, pasien seringkali mengalami efek samping postoperatif, seperti mual dan muntah. Mual dan muntah setelah pembiusan intravena dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme yang terkait dengan proses anestesi. Pertama, agen anestesi yang digunakan dapat mempengaruhi pusat muntah di otak. Beberapa anestesi umum, seperti propofol atau opioid, dapat merangsang pusat muntah, yang dapat menyebabkan rasa mual dan muntah setelah pembiusan. Selain itu, penggunaan obat relaksan otot untuk mempermudah proses pembedahan juga dapat berkontribusi pada gejala tersebut. Kedua, adanya perubahan dalam tekanan darah dan aliran darah selama prosedur anestesi juga dapat berpengaruh. Pembiusan intravena seringkali menyebabkan penurunan tekanan darah, dan hal ini dapat mengaktivasi reseptor mual di area otak yang bertanggung jawab untuk regulasi tekanan darah. Perubahan ini dapat menciptakan ketidakseimbangan dan menyebabkan mual serta muntah pada pasien setelah pembiusan. (Rian Andan Dewi, 2. Mobilisasi dini pasca operasi adalah salah satu langkah penting dalam proses pemulihan Namun, sering kali terjadi hambatan yang membuat pasien enggan atau tidak mampu Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Beberapa masalah umum yang sering dihadapi oleh pasien dalam upaya mobilisasi dini termasuk pusing akibat obat anestesi, mual dan muntah yang juga disebabkan oleh efek anestesi, serta nyeri pasca operasi. Pusing akibat obat anestesi sering kali terjadi karena anestesi dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan keseimbangan tubuh. Pasien yang mengalami pusing biasanya merasa tidak stabil dan takut jatuh, sehingga mereka cenderung menghindari bergerak. Mual dan muntah adalah efek samping lain yang umum dari anestesi. Rasa mual ini tidak hanya membuat pasien merasa tidak nyaman, tetapi juga dapat menghambat kemampuan mereka untuk bergerak dengan bebas. Pasien yang merasa mual atau muntah mungkin enggan untuk duduk atau bangun dari tempat tidur, karena khawatir akan memperparah gejala mereka. Nyeri pasca operasi adalah masalah signifikan lainnya. Setelah operasi, area yang dioperasi seringkali masih sangat sakit. Rasa nyeri ini bisa sangat membatasi gerakan pasien dan membuat mereka merasa takut untuk bergerak. Nyeri juga dapat meningkatkan kecemasan dan stres, yang semakin menghambat keinginan untuk melakukan mobilisasi (Fakhrunisa, 2. Mobilisasi dini sangat penting dilakukan untuk mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi setelah operasi. Mobilisasi dini bertujuan untuk mendukung fungsi tubuh, memperlancar peredaran darah, melancarkan pernafasan, meningkatkan tonus otot, serta dapat membantu pasien kembali normal untuk memudahkan aktivitas tertentu dalam memenuhi kebutuhan gerak harian, kegiatan ini juga dapat memberikan kesempatan bagi pasien dan perawat untuk berinteraksi serta berkomunikasi (Sumberjaya & Mertha, 2. Peneliti berpendapat bahwa mobilisasi dini memainkan peran penting dalam penurunan mual dan muntah pada pasien pasca operasi yang mendapatkan anestesi intravena. Mobilisasi dini, yaitu mulai melakukan aktivitas fisik ringan sesegera mungkin setelah operasi, memiliki dampak positif pada sistem gastrointestinal. Aktivitas seperti duduk di tepi tempat tidur, melakukan gerakan kaki, dan perlahan-lahan berjalan dapat membantu mempercepat pemulihan pergerakan usus dan mengurangi penumpukan gas. Ini sangat penting bagi pasien yang telah menerima anestesi intravena, karena efek sisa anestesi dapat memperlambat fungsi normal pencernaan, meningkatkan risiko mual dan muntah. Salah satu manfaat utama mobilisasi dini adalah kemampuannya untuk mengurangi efek samping dari anestesi intravena. Anestesi intravena dapat mempengaruhi pusat muntah di otak dan fungsi gastrointestinal, yang seringkali berkontribusi pada mual dan muntah. Dengan memulai aktivitas fisik lebih awal, pasien dapat membantu mempercepat eliminasi zat anestesi dari tubuh mereka dan memulihkan fungsi gastrointestinal lebih cepat, yang pada akhirnya mengurangi gejala mual. Namun, meskipun mobilisasi dini menunjukkan potensi manfaat, data menunjukkan bahwa efektivitasnya dalam mengurangi mual dan muntah belum sepenuhnya optimal. Ini mungkin disebabkan oleh variasi individu dalam respons terhadap mobilisasi dini dan anestesi. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan pendekatan yang lebih personal dalam implementasi mobilisasi dini, termasuk penyesuaian berdasarkan kondisi fisik pasien dan evaluasi berkelanjutan terhadap dampaknya. SIMPULAN SARAN Kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) pada pasien dengan anestesi intravena sebelum dilakukan perlakuan mobilisasi dini, sebagian besar yang mengalami mual muntah kategori sedang dari total 32 responden terdapat 16 responden . %) Kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) pada pasien dengan anestesi intravena sesudah dilakukan perlakuan mobilisasi dini, dari total 32 responden terdapat 9 responden . ,1%) yang mengalami mual muntah kategori ringan dan terdapat 7 responden . ,9%) yang mengalami kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) kategori sedang . Hasil uji analisis Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc wilcoxon test menunjukkan nilai <0,05, yaitu ( 0,. yang berarti bahwa ada Pengaruh mobilisasi dini terhadap kejadian post operative nausea and vomiting (PONV) pada pasien dengan anestesi intravena di Ruang Mina Rumah Sakit Islam Lumajang. DAFTAR PUSTAKA