Original Research Paper Karakter Fenotip dan Koefisien Inbreeding pada Ayam F5 Golden Kamper (Gallus gallus domesticu. Phenotype Characters and Inbreeding Coefficient in F5 Golden Kamper Chicken (Gallus gallus domesticu. Elysia Mutiara Azizah1. Budi Setiadi Daryono1, * Faculty of Biology. Universitas Gadjah Mada. Jl. Teknika Selatan. Sekip Utara. Yogyakarta, 55281. Indonesia *Corresponding Author: bs_daryono@mail. Abstrak: Ayam Golden Kamper merupakan ayam hasil persilangan antara ayam pelung dan ayam layer . yang memiliki produktivitas daging dan telur yang baik. Saat ini. Golden Kamper telah mencapai generasi kelima (F5 Golden Kampe. Karakter fenotip ayam F5 Golden Kamper perlu dipelajari untuk mengetahui pewarisan karakter dari tetuanya yaitu F4 Golden Kamper. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakter fenotip ayam F5 Golden Kamper dan menentukan nilai koefisien inbreeding ayam F5 Golden Kamper. Penelitian dilakukan dengan cara hibridisasi ayam betina dan ayam jantan F4 Golden Kamper, pemeliharaan DOC, pengambilan telur, pengambilan data fenotip, dan menghitung nilai koefisien inbreeding ayam F 5 Golden Kamper. Hasil penelitian menunjukkan F5 Golden Kamper memiliki warna ceker putih dan kuning, bulu coklat keemasan dan hitam coklat, dan jengger berbentuk tunggal. Nilai koefisien inbreeding yang diperoleh sebesar 0,386. Hasil menunjukkan bahwa individu ayam F5 Golden Kamper memiliki keseragaman genetik yang rendah dalam suatu populasi. Kata kunci: ayam, golden kamper, karakter fenotip, koefisien inbreeding Abstract: Golden Kamper Chicken is a chicken from crossing between pelung and layer chickens that have good meat and egg productivity. Currently. Golden Kamper has reached its fifth generation ( F5 Golden Kampe. Phenotype characters of F5 Golden Kamper should be studied to know the character inheritance from the parental. F4 Golden Kamper. This research aims to study the phenotype character of F 5 Golden Kamper chickens and to determine the inbreeding coefficient value of F5 Golden Kamper. The research has been done by hybridising F4 Golden Kamper hens and roosters, raising DOC, egg collection, phenotypic data collection, and calculating the inbreeding coefficient value of F5 Golden Kamper chicken. The results showed that F5 Golden Kamper have white and yellow shank, golden-brown and black-brown feather, and single comb. The inbreeding coefficient value obtained is 0,386, shows that individual F5 Golden Kamper chickens have low genetic uniformity in a population. Keywords: chicken, golden kamper, inbreeding coefficient, phenotype characters Dikumpulkan: 29 Juli 2023 Direvisi: 19 Oktober 2023 Pendahuluan Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman genetik ayam lokal di dunia. Indonesia tercatat memiliki 33 jenis ayam lokal (Daryono & Perdamaian, 2. Ayam di Indonesia dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu ayam ras dan ayam buras . ukan ra. Ayam ras merupakan ayam yang dikembangbiakkan dengan tujuan produksi tertentu. Ayam ras dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu ayam petelur. A 2024 Azizah, dkk. This article is open access Diterima: 4 April 2023 Dipublikasi: 30 April 2023 ayam pedaging, dan ayam dwiguna. Contoh dari ayam petelur yaitu ayam layer, contoh ayam pedaging yaitu ayam broiler, sedangkan contoh ayam dwiguna yaitu ayam bangkalan dan ayam siem (Lestari et al. , 2. Ayam buras . ukan ra. atau yang biasa disebut dengan ayam kampung merupakan ayam hutan merah (Gallus gallu. yang telah mengalami proses domestikasi oleh masyarakat setempat (Junaedi et al. , 2. Domestikasi merupakan proses evolusi dari Azizah, dkk. Berkala Ilmiah Biologi , 15 . : 22Ae30 DOI 10. 22146/bib. lingkungan liar ke lingkungan kehidupan sehari-hari manusia. Ayam kampung berasal dari domestikasi ayam hutan merah yang tumbuh, berkembang, dan beradaptasi dalam waktu lama. Tim Gama Ayam Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada yang merupakan tim riset atau penelitian pada bidang pemuliaan ayam kampung atau ayam lokal telah berhasil menghasilkan Ayam F1 Kamper pada tahun 2013 hingga 2014 (Lesmana, 2. Ayam F1 Kamper merupakan ayam hasil outbreeding dari ayam jantan pelung blirik dengan ayam betina layer coklat. Persilangan atau outbreeding dilakukan dengan mengawinkan dua individu yang berasal dari populasi, varietas, atau ras yang berbeda dan tidak memiliki kekerabatan ataupun hubungan kekerabatannya sangat jauh. Melalui outbreeding, variasi genetik dapat meningkat karena persentase heterozigositas individu tersebut secara genetik meningkat. Produktivitas telur maupun daging Ayam F1 Kamper (F1 Kampung Supe. tergolong baik. Akan tetapi, warna bulunya masih cukup beragamdengan tingkat heterozigositas yang tinggi sehingga perlu dilakukan selective breeding (Habibah. Selective breeding dilakukan dengan memperhatikan produktivitas telur, produktivitas daging, dan ketahanan indukan ayam tertentu terhadap penyakit sehingga dapat menghasilkan keturunan yang diinginkan. Selective breeding juga perlu dilakukan untuk memilih indukan sesuai dengan karakter fenotip yang diinginkan (Afifah, 2. Pada tahun 2016. Tim Gama Ayam Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada melakukan persilangan sesama antara Ayam F1 Kamper . antan dan betin. yang biasa disebut dengan inbreeding untuk menghasilkan galur ayam baru dengan fenotip warna bulu keemasan . yang disebut Ayam F2 Kamper atau dikenal dengan ayam Golden Kamper (Mahardhika et al. , 2. Inbreeding merupakan perkawinan atau persilangan antara dua individu yang memiliki hubungan genetik sehingga keturunan mewarisi dua salinan gen nenek moyang yang sama. Autozigositas kemungkinan munculnya gen resesif pada pasangan alel heterozigot. Alel heterozigot memiliki satu gen yang berfungsi normal dan tidak normal . , sehingga pada homozigot resesif, dapat timbul penyakit atau kelainan karena kedua alel tidak berfungsi secara Hingga saat ini, pengaruh dari perkawinan inbreeding ini hanya dapat dilihat dari penghitungan nilai koefisien inbreeding (Verweij Daryono dan Mushlih, 2. Saat ini. Ayam Golden Kamper telah mencapai generasi kelima yaitu generasi F5 GK (Filial ke-5 Golden Kampe. Ayam F5 GK ini sangat perlu diteliti untuk membandingkan karakter fenotip-nya dengan ayam Golden Kamper generasi sebelumnya dan untuk mengetahui nilai koefisien inbreeding ayam Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan inbreeding antara ayam jantan dan betina F4 Golden Kamper untuk memperoleh ayam F5 Golden Kamper serta analisis karakter fenotip ayam F5 Golden Kamper yang berupa warna ceker atau shank, warna bulu, dan bentuk Bahan dan Metode Bahan Penelitian Objek pada penelitian ini adalah DOC ayam F5 Golden Kamper, induk ayam jantan F4 Golden Kamper dan betina F4 Golden Kamper, ayam pelung, serta ayam layer sebagai Bahan yang dibutuhkan adalah pakan jenis BR I untuk ayam DOC . mur 0-7 mingg. , pakan jenis AD II untuk ayam dewasa . mur >7 mingg. , air, egg stimulant Medion, dan vitamin merek VITACHICK. Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain adalah kandang persilangan, kandang DOC, tempat air minum dan pakan, egg tray, timbangan digital . imbangan semi-analiti. merek KrisChef EK9350H untuk menimbang berat badan DOC selama 7 minggu, kamera, alat tulis, mesin tetas, lampu pijar Bohlam 50 watt, kalkulator, dan Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di daerah Pusat Inovasi Agroteknologi Universitas Gadjah Mada (PIAT UGM). Stasiun Penelitian Sawitsari Fakultas Biologi UGM. Depok. Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta, serta di Perusahaan A 2024 Azizah, dkk. This article is open access Azizah, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 22Ae30 DOI 10. 22146/bib. Unggas dan Perakitan Mesin Tetas HTN Tirto Yogyakarta. Penelitian diawali dengan persilangan ayam jantan dan betina F4 Golden Kamper yang dipelihara dalam satu kandang yang sama milik Gama Ayam. Pencahayaan diberikan secara alami dengan bantuan sinar matahari. Pakan yang diberikan berupa pakan AD II. Pakan dan minum diberikan setiap hari secara ad libitum. Setelah satu bulan disilangkan, ayam betina F4 Golden Kamper mulai produktif dalam menghasilkan Telur hasil persilangan diambil setiap hari dari kandang lalu diberi tulisan tanggal telur tersebut diambil. Pemberian tulisan dilakukan dengan pensil. Proses penetasan menggunakan mesin penetasan telur yang berada di Perusahaan Unggas dan Perakitan Mesin Tetas HTN Tirto Yogyakarta. Telur ayam ditetaskan dalam 21 hari dan menjadi DOC (Day Old Chic. DOC yang dihasilkan langsung dibawa ke kandang milik Gama Ayam. DOC F5 Golden Kamper yang telah menetas dipelihara secara intensif di dalam kandang khusus DOC yang diberi lampu pijar 15-Watt selama 24 jam non-stop agar kandang tetap hangat. Pakan berupa BR I dan air diberikan setiap hari secara ad libitum. Anak ayam (DOC) sebanyak 12 ekor dipelihara selama tujuh minggu dengan menjaga kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan anak ayam. Setelah berumur tujuh minggu, dilakukan pengamatan karakter fenotip kualitatif maupun kuantitatif serta penghitungan nilai koefisien inbreeding pada DOC F5 Golden Kamper ini. Karakter fenotip yang diambil dari ayam F5 Golden Kamper terdiri atas karakter kualitatif dan kuantitatif. Karakter kualitatif yang diamati adalah warna ceker atau shank, warna bulu, dan bentuk jengger. Karakter kuantitatif yang dihitung adalah 17 karakter morfometri pada Tujuh belas karakter tersebut antara lain adalah tinggi ayam (TA), tinggi badan (TB), panjang paruh (PP), lebar paruh (LP), tinggi jengger (TJ), panjang punggung (PP. , panjang leher (PL), panjang tibia (PB. , panjang femur (PP. , panjang kepala (PK), lebar kepala (LK), panjang jengger (PJ), panjang badan (PB), lebar badan (LB), lingkar dada (LD), panjang sayap (PS), dan panjang metatarsus atau ceker (PM) (Oktafiantari, 2016. Mahardhika et al. , 2. Penghitungan koefisien inbreeding (KI) ayam dapat menggunakan rumus sebagai berikut. Dalam rumus tersebut, n merupakan banyaknya jalur dari nenek moyang untuk mencapai F 5 Golden Kamper, sedangkan FC merupakan banyaknya perkawinan sedarah pada ancestor F5 Golden Kamper (Daryono & Mushlih, 2. Apabila nilai koefisien inbreeding semakin mendekati angka 1 maka keseragaman genetik dalam suatu populasi akan semakin tinggi. Semakin tinggi keseragaman genetik maka (Daryono & Mushlih, 2. Hasil dan Pembahasan Hasil Tabel 1. Karakter kualitatif DOC F5 Golden Kamper pada umur 7 minggu . Karakter Fenotip DOC F5 GK Kualitatif . Warna kaki Putih atau ceker Kuning Warna bulu Blirik coklat Blirik coklat Bentuk Single Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa ayam F5 Golden Kamper memiliki fenotip warna kaki atau ceker sebanyak 58,3% putih dan 41,7% kuning, warna bulu sebanyak 66,7% blirik coklat keemasan dan 33,3% blirik coklat-hitam, serta bentuk jengger 100% single. Gambar 1. Warna ceker. (A) Ceker putih F5 Golden Kamper, (B) Ceker kuning F5 Golden Kamper, (C) Ceker putih parental betina, (D) Ceker putih parental jantan A 2024 Azizah, dkk. This article is open access Azizah, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 22Ae30 DOI 10. 22146/bib. Berdasarkan gambar 1, parental jantan dan betina yang merupakan ayam F4 Golden Kamper memiliki kaki atau ceker yang berwarna putih, sedangkan pada ayam F5 Golden Kamper muncul 2 fenotip warna kaki, yaitu putih dan Sebanyak 12 ekor DOC ayam F5 Golden Kamper memiliki warna kaki atau ceker 58,3% putih dan 41,7% kuning. Gambar 2. Warna bulu pada ayam. (A) Blirik coklat keemasan F5 Golden Kamper, (B) Blirik coklat-hitam F5 Golden Kamper, dan (C) Blirik coklat keemasan parental Pada ayam F5 Golden Kamper, muncul 2 warna bulu ayam, yaitu 66,7% berwarna blirik coklat keemasan dan 33,7% berwarna coklathitam. Sedangkan parental F4 Golden Kamper memiliki warna bulu blirik coklat keemasan. Hasil ini dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 3. Bentuk jengger single. (A) Ayam F5 Golden Kamper, dan (B) Ayam F4 Golden Kamper (Pratama, 2. Berdasarkan penelitian dan hasil gambar 3, jengger pada ayam F5 Golden Kamper berbentuk 100% single, sedangkan parental atau ayam F4 Golden Kamper juga memiliki bentuk jengger single. Tabel 2. Rata-rata pengukuran karakter morfometri atau kuantitatif DOC F5 Golden Kamper pada umur 7 minggu . No Karakter Panjang . Morfometri Ayam F5 Ayam Ayam Pelu (Pengam GK 1 Tinggi Ayam 28,99 29,30 32,1 (TA) 2 Tinggi Badan (TB) 3 Lebar Paruh (LP) 4 Panjang Paruh (PP) 5 Panjang Kepala (PK) 6 Lebar Kepala (LK) 7 Tinggi Jengger (TJ) 8 Panjang Jengger (PJ) 9 Panjang Badan (PB) 1 Lebar Badan 0 (LB) 1 Lingkar 1 Dada (LD) 1 Panjang 2 Punggung (PP. 1 Panjang 3 Sayap (PS) 1 Panjang 4 Leher (PL) 1 Panjang 5 Tibia (PB. 1 Panjang 6 Femur (PP. 1 Panjang 7 Metatarsus/C eker (PM) 18,93 20,10 1,64 2,00 1,91 2,64 3,00 2,83 4,16 3,50 2,47 3,62 2,30 2,79 0,99 1,00 1,00 2,60 2,50 2,59 14,78 9,70 5,49 5,00 4,94 18,49 17,70 13,72 14,20 13,22 7,00 7,23 7,50 9,34 8,26 8,30 8,90 6,63 8,30 6,79 6,73 5,70 Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui bahwa sebanyak 9 karakter morfometri yaitu tinggi ayam (TA), tinggi badan (TB), panjang paruh (PP), lebar paruh (LP), tinggi jengger (TJ), panjang punggung (PP. , panjang leher (PL), panjang tibia (PB. , dan panjang femur (PP. ayam F5 Golden Kamper memiliki ukuran lebih pendek dibandingkan dengan ayam F4 Golden Kamper dan pelung. Sebanyak 5 karakter morfo metri ayam F5 Golden Kamper paling unggul dibandingkan dengan hasil pengukuran pada ayam F4 Golden Kamper dan pelung. Karakter tersebut antara lain adalah panjang kepala (PK), lebar kepala (LK), panjang jengger (PJ), panjang badan (PB), dan lebar badan (LB). Pada 2 A 2024 Azizah, dkk. This article is open access Azizah, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 22Ae30 DOI 10. 22146/bib. karakter morfometri, lingkar dada (LD) dan panjang sayap (PS), hasil pengukuran ayam F5 Golden Kamper lebih panjang daripada ayam F4 Golden Kamper, namun masih lebih pendek apabila dibandingkan dengan ayam pelung. Pengukuran panjang metatarsus atau ceker (PM) pada ayam F5 Golden Kamper menunjukkan hasil yang lebih panjang daripada ceker ayam F4 Golden Kamper. Akan tetapi, hasil tersebut tidak bisa dibandingkan dengan ayam pelung dikarenakan ketidaklengkapan pengukuran morfometri . anjang ceke. pada penelitian pertumbuhan ayam pelung. Gambar 4. Diagram inbreeding ayam F5 Golden Kamper Berdasarkan gambar 4, dapat diketahui persilangan nenek moyang dan parental dari ayam F5 Golden Kamper yang telah dilakukan pada penelitian sebelumnya. Pembahasan Sebanyak 12 ekor ayam DOC F5 Golden Kamper juga dihitung dan dilihat karakter fenotip atau morfologisnya. Karakter fenotip diteliti dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan karakter fenotip antara ayam F5 Golden Kamper dengan tetuanya serta membedakan jenis kelamin pada DOC yang Karakter fenotip tersebut berupa karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Karakter kualitatif merupakan karakter yang dapat dibedakan secara visual namun karakter tersebut tidak dapat diukur atau bersifat subjektif (Edowai et al. , 2. Karakter kualitatif yang dapat diteliti pada ayam antara lain adalah warna kaki atau ceker, warna bulu, dan bentuk jengger (Damayanti et , 2. Berdasarkan tabel 8, dapat diketahui hasil analisis karakter kualitatif pada ayam F5 Golden Kamper. Semua DOC ayam F5 Golden Kamper memiliki bentuk jengger single. Akan tetapi, terdapat 2 jenis warna bulu dan warna kaki berbeda yang muncul. Warna bulu yang muncul adalah warna blirik coklat keemasan dan coklathitam. DOC nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 9, dan 10 memiliki warna bulu blirik coklat keemasan, sedangkan DOC nomor 7, 8, 11, dan 12 memiliki warna bulu blirik coklat-hitam. Warna kaki atau ceker yang muncul adalah warna putih dan DOC nomor 2, 3, 5, 7, 8, 11, dan 12 memiliki warna kaki putih, sedangkan DOC nomor 1, 6, 4, 9, dan 10 memiliki warna kaki Tiga karakter kualitatif ini kemudian dihitung persentase fenotip-nya. Parameter karakter kualitatif yang pertama adalah warna kaki atau ceker. Warna kaki atau ceker ayam diteliti untuk mengetahui bagaimana pewarisan sifat ceker ini diwariskan dari parental maupun tetua F5 Golden Kamper. Warna kaki atau ceker tersebut kemudian dibandingkan dengan warna kaki atau ceker ayam F4 Golden Kamper. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ilahi et al. , kaki ayam pelung yang merupakan tetua ayam F5 Golden Kamper memiliki warna yang beragam, yaitu abu-abu, kuning, putih, biru, hitam, dan hijau. Munculnya perbedaan warna ceker ini dapat disebabkan oleh adanya pigmentasi. Ketika ceker ayam tampak terang dan basah, ayam masih bereproduksi dan melakukan pigmentasi. Dalam hal ini, pigmen lipochrome dan pigmen melanin sangat Pigmen melanin menyebabkan ceker berwarna hitam, pigmen lipochrome menyebabkan warna kuning pada ceker, sedangkan munculnya warna putih pada ceker disebabkan oleh tidak adanya atau terhambatnya pigmen lipochrome dan melanin (Muharlien et , 2. Warna kaki pada ayam dikendalikan oleh dua jenis gen, yaitu gen terpaut seks atau sexlinked dan gen autosomal. Pada gen terpaut seks, terdapat alel dominan Id yang berperan sebagai penghambat melanin atau pigmen gelap sehingga menghasilkan warna yang terang. Sementara pada alel resesif id, ayam akan memiliki ceker berwarna hitam atau abu-abu (Kunuti et al. Gen autosomal sendiri dibagi menjadi gen autosomal dominan dan gen autosomal resesif. A 2024 Azizah, dkk. This article is open access Azizah, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 22Ae30 DOI 10. 22146/bib. Gen autosomal dominan memiliki alel W yang menghasilkan warna putih pada ceker. Alel tersebut menghambat pembentukan pigmen lipochrome sehingga menghasilkan warna putih. Sedangkan pada gen autosomal resesif, ayam akan memiliki warna kuning pada cekernya karena memiliki alel w (Daryono & Perdamaian. Dalam penelitian ini, warna kaki yang muncul yaitu putih dan kuning . arna teran. sehingga dapat dinyatakan bahwa warna kaki atau ceker pada ayam F5 Golden Kamper dipengaruhi oleh alel dominan (I. gen terpaut Selain itu, 58,3% warna kaki putih dipengaruhi oleh alel W gen autosomal dominan, sedangkan 41,7% warna kaki kuning dipengaruhi oleh alel w gen autosomal resesif. Karakter kualitatif kedua yang diukur adalah warna bulu ayam. Selain pigmentasi pada kaki atau ceker ayam, pigmentasi bulu pada ayam memiliki peran penting dalam penampilan dan keindahan tubuh ayam. Pembentukan warna bulu pada ayam dipengaruhi oleh kombinasi gen terpaut kromosom kelamin . ex-linke. dan gen Pada golongan gen sex-linked, kehadiran alel dominan menyebabkan bulu ayam berwarna merah atau hitam dengan corak atau blirik putih. Pada golongan gen autosomal, terdapat dua jenis alel yaitu alel I dan alel i. Alel I merupakan alel dominan yang memiliki efek menghasilkan bulu berwarna putih atau tidak Alel ii pada ayam akan menghasilkan bulu dengan warna bervariasi (Thalmann et al. Kunuti et al. , 2. Berdasarkan teori tersebut, dapat dinyatakan bahwa warna bulu ayam F5 Golden Kamper dipengaruhi oleh alel resesif . gen autosomal dikarenakan bulunya memiliki warna yang bervariasi. Warna struktural bulu ayam dapat disebabkan oleh banyak dan lamanya refraksi serta refleksi cahaya mengenai bulu ayam. Menurut Thalmann et al. , warna pada bulu ayam juga dipengaruhi oleh kehadiran dua jenis pigmen, yaitu pigmen karotenoid dan pigmen melanin . heomelanin dan eumelani. Hadirnya memunculkan warna kuning dan merah pada bulu ayam. Pigmen pheomelanin dapat menghasilkan warna coklat kekuningan dan merah pada bulu ayam, sedangkan pigmen eumelanin dapat menghasilkan warna coklat serta hitam pada bulu ayam. Munculnya 66,7% warna coklat keemasan pada ayam F5 Golden Kamper dapat disebabkan oleh pigmen pheomelanin dan 33,7% warna coklat-hitam dipengaruhi oleh pigmen eumelanin. Karakter selanjutnya atau yang terakhir adalah bentuk Bentuk jengger pada ayam umumnya memiliki beberapa jenis, yaitu single, pea, walnut, serta rose. Bentuk jengger ini dihasilkan dari adanya interaksi antara gen R dan P. Kedua gen tersebut terletak di kromosom 7 dan 12. Gen R disini menentukan bentuk jengger rose, sedangkan gen P menentukan bentuk jengger Bentuk jengger walnut dan single muncul karena kedua gen ini saling berinteraksi. Genotipe yang dihasilkan dari masing-masing bentuk jengger tersebut berbeda-beda. Hal ini dikarenakan interaksi gen R dan P diwariskan secara dominan-resesif. Genotipe bentuk jengger walnut adalah R-P-, rose yaitu Rpp, pea adalah rrP-, sedangkan single yaitu rrpp (Daryono & Perdamaian, 2019. Kolompoy et al. Bentuk jengger 100% single pada ayam F5 Golden Kamper dapat disebabkan karena gen yang diwariskan secara resesif sehingga menghasilkan genotipe rrpp . Karakter kuantitatif atau morfometri merupakan karakter yang dapat diukur . apat dinyatakan dalam angk. namun bersifat subjektif untuk dibedakan secara visual (Edowai et al. , 2. Pengukuran morfometri dilakukan ketika ayam F5 Golden Kamper berumur 7 minggu . Hasil pengukuran ini kemudian morfometri pada parentalnya . yam F4 Golden Kampe. serta pada tetuanya yaitu ayam pelung. Berdasarkan morfometri atau kuantitatif ini, dapat dinyatakan bahwa pertumbuhan karakter morfometri ayam F5 Golden Kamper telah menurun daripada ayam F4 Golden Kamper dan pelung. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor genetik serta faktor sistem pemeliharaan dan lingkungan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, faktor genetik dapat menyebabkan menurunnya karakter morfometri ayam F5 Golden Kamper dikarenakan sistem persilangan inbreeding. Faktor sistem pemeliharaan dan lingkungan yang dapat menyebabkan menurunnya karakter morfometri ayam F5 Golden Kamper antara lain adalah kurangnya nutrisi pakan yang diberikan A 2024 Azizah, dkk. This article is open access Azizah, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 22Ae30 DOI 10. 22146/bib. ataupun kurangnya sanitasi kandang (Putri et al. Analisis koefisien inbreeding dilakukan untuk mengetahui tingkat inbreeding filial F5 Golden Kamper. Dalam perhitungan tersebut, nilai n ditentukan pada setiap nenek moyang F5 Golden Kamper. Banyaknya jalur dihitung dari nenek moyang tersebut . aik jantan maupun betin. untuk mencapai ayam F5 Golden Kamper. Nilai FC ditentukan dari banyaknya perkawinan sedarah pada ancestor hingga nenek ayam F5 Golden Kamper, yaitu dari ayam pelung, layer, ayam jantan Kamper, betina Kamper, jantan F2 GK, betina F2 GK, jantan F3 GK, dan betina F3 GK. Nilai Fc untuk ayam F3 GK adalah 0 dengan n adalah 2. Nilai F pada ayam F 3 GK jantan adalah 8 sedangkan nilai F pada ayam F3 GK betina juga . Nilai Fc untuk ayam F2 GK adalah 1 dengan n adalah 4. Nilai F pada ayam F2 GK jantan adalah 16 sedangkan nilai F pada ayam F2 GK betina juga 16. Nilai Fc untuk ayam F1 Kamper adalah 2 dengan n adalah 8. Nilai F pada ayam F1 Kamper jantan adalah 512 sedangkan nilai F pada ayam F1 Kamper betina Nilai Fc untuk ayam pelung adalah 3 dengan n adalah 16. Nilai F pada ayam pelung sedangkan nilai F pada ayam layer Nilai F total didapatkan dengan menjumlahkan semua nilai F. Penghitungan koefisien inbreeding ini mendapatkan nilai F sebesar 0,386. Angka ini berada diantara angka 0 hingga 1 dan lebih mendekati 0. Hasil ini menunjukkan bahwa individu F5 Golden Kamper memiliki keseragaman genetik dalam suatu populasi yang masih rendah sehingga gen dominan pada pasangan alel heterozigot masih dapat bertahan. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. DOC ayam F5 Golden Kamper menghasilkan karakter fenotip kualitatif yang sama ataupun berbeda dari kedua induknya. Karakter fenotip pertama adalah warna kaki atau ceker, didapatkan sebanyak 58,3% warna putih dan 41,7% warna kuning. Karakter fenotip kedua yaitu warna bulu, didapatkan sebanyak 66,7% warna bulu blirik coklat keemasan dan 33,3% warna bulu blirik coklat-hitam. Karakter fenotip kualitatif yang ketiga yaitu bentuk jengger, didapatkan semua individu tunggal atau single . Sebanyak 9 dari 17 karakter morfometri atau kuantitatif ayam F5 Golden Kamper memiliki ukuran lebih pendek dibandingkan dengan ayam F4 Golden Kamper dan pelung. Koefisien inbreeding yang didapatkan adalah 0,386, yang menunjukkan bahwa individu ayam F5 Golden Kamper memiliki keseragaman genetik yang rendah dalam suatu populasi. Ucapan terima kasih Penulis berterima kasih kepada editor dan pengulas atas komentar dan saran yang berharga sehingga dapat dihasilkan naskah yang lebih Penulis juga berterima kasih kepada Bapak Heru selaku staf di Stasiun Penelitian Sawitsari Fakultas Biologi UGM. Bapak Triyanto dari Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) UGM, dan Bapak Suryadi atas bantuan pemeliharaan Ayam Golden Kamper selama penelitian. Referensi