e-ISSN: 3025-7905 p-ISSN: 3026-166X FUTURE ACADEMIA The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Volume 2. No 4. Desember 2024 pp. DOI https://doi. org/10. 61579/future. Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Dengan Menggunakan Metode Job Order Costing (Studi Kasus Pada Lentera Konveksi Makassa. Imra Ukhriana Rasul1. Muhammad Azis*2. Azwar Anwar3 1Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia 2Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia 3Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia *Corresponding author E-mail addresses: mazis@unm. ABSTRAK ARTICLE INFO Article history: Received June 23, 2024 Revised July 10, 2024 Accepted August 20, 2024 Available online August 26, 2024 Kata Kunci: Harga pokok produksi. Metode Job order costing, harga jual Keywords: Cost of Production. Job order costing method. Selling Price This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2024 by Author. Published by Yayasan Sagita Akademia Maju. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode job order costing pada Lentera Konveksi Makassar. Fokus penelitian ini adalah harga pokok produksi dengan menggunakan metode job order costing. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Lentera Konveksi memiliki perbedaan pada perhitungan harga pokok produksi dengan metode job order costing. Dalam memproduksi 500 lembar almamater, harga pokok produksi yang dihasilkan perusahan sebesar Rp87. Sedangkan perhitungan harga pokok produksi dengan job order costing adalah Rp90. Perbedaan ini dikarenakan Lentera Konveksi tidak memperhitungkan keseluruhan biaya produksi secara rinci. Terdapat perbedaan dalam penentuan harga jual yang disebabkan karena pemilik usaha Lentera Konveksi tidak menghitung harga jual dengan menggunakan metode yang tepat dan hanya mengacu pada harga Sedangkan pada metode normal pricing, penetapan harga jual dilakukan dengan menambah total biaya produksi dengan laba yang diinginkan. ABSTRACT The research aimed to analyze the calculation of the cost of production using the job order costing method at Lentera Konveksi Makassar. The focus of this research is the cost of production using the job order costing method. The data were collected by observation, interviews, and documentation. The data obtained were analyzed using quantitative descrptive analysis. The results of this research suggest that Lentera Konveksi has difference in calculating tehe cost of production using teh job order costing method. In producing 500 pieces of almamater, the companyAos cost of production is IDR 87. Meanwhile, the calculation of the cost production using job order costing is IDR 90. This difference is because Lentera Konveksi does not take into account overall production costs in detail. There are differences in determining the selling price due to the business owner of Lentera Konveksi not calculating the selling price using the correct method and only referring to market prices. Meanwhile, in the normal pricing method, the selling price is determined by adding the total production costs to the desired profit. Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. PENDAHULUAN Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu komponen penting dalam transformasi aktivitas ekonomi suatu negara maupun suatu daerah. UMKM berkontribusi pada penciptaan pekerjaan dan memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat sehingga sektor ini dijadikan sebagai salah satu cara dalam menurunkan persentase tunakarya di Indonesia. Dengan demikian, semakin banyak UMKM di Indonesia, kesempatan kerja yang tersedia juga akan semakin luas. Saat ini, banyak usaha baru bermunculan mulai dari tingkat usaha mikro, kecil, dan menengah dengan menyediakan produk maupun layanan berbeda. Hal ini mampu menimbulkan persaingan yang ketat antar UMKM. Agar mampu bersaing dan mencapai keunggulan. UMKM perlu menerapkan strategi yang tepat seperti melakukan inovasi baru, meningkatkan layanan pelanggan, hingga mampu menentukan harga yang kompetitif. Akan tetapi, sering kali UMKM menghadapi masalah dalam penerapan strategi tersebut. Permasalahan UMKM umumnya terletak pada pengelolaan keuangan yakni dalam menghitung biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi atau menghasilkan suatu produk. Pengelolaan keuangan yang kurang akurat akan mempengaruhi keadaan finansial suatu usaha. Apabila keuangan dikelola secara efektif dan efisien, maka akan mampu memperoleh laba yang maksimal. Oleh karena itu, pelaku UMKM perlu mengatur strategi untuk mengurangi biaya secara menyeluruh. Biaya merupakan pengeluaran atau pelepasan kekayaan finansial guna memperoleh produk atau layanan yang memberikan nilai sekarang maupun masa yang akan datang (Siregar et al. , 2018:. Biaya produksi dan non produksi yaitu dua kategori pada mekanisme pembuatan suatu barang. Biaya produksi ialah pengeluaran yang dikorbankan saat bahan mentah diolah menjadi barang jadi yang siap untuk dijual (Mulyadi, 2018:. Sedangkan biaya non produksi merujuk pada pengeluaran dan tidak terkait dalam proses produksi (Purwaji et al. , 2018:. Penetapan besarnya biaya produksi perlu dilakukan dengan mengalkulasi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, serta biaya overhead pabrik. Namun, masih banyak usaha yang menggunakan cara sederhana saat perhitungan biaya produksi dan tidak menerapkan metode tertentu. Perkara ini dapat mengakibatkan ketidaktepatan saat menetapkan harga pokok produksi. Harga pokok produksi ialah seluruh pengorbanan biaya produksi yang dikeluarkan pelaku usaha guna memproduksi suatu produk atau barang (Purwanto & Watini, 2. Harga pokok produksi dijadikan sebagai patokan saat penentuan harga jual suatu barang atau layanan. Oleh karena itu, suatu usaha perlu memiliki kemampuan dalam mengalkulasi harga pokok produksi dengan akurat sehingga mampu memaksimalkan laba dan meningkatkan daya saing. Apabila suatu usaha tidak mampu menetapkan harga pokok produksi dengan akurat, maka akan berpengaruh pada kesulitan dalam mengetahui informasi keuntungan maupun kerugian yang diperoleh. Perhitungan harga pokok produksi bisa dikalkulasi dengan menggunakan dua pendekatan pengumpulan, yaitu process costing dan job order costing. Menurut Purwaji et al. process costing didefinisikan sebagai sistem perhitungan harga pokok Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. produksi yang didasarkan pada satuan waktu untuk setiap departemen, sehingga inti dari pencatatan biaya tergantung pada masing-masing departemen. Sedangkan, job order costing didefinisikan sebagai sistem pengumpulan biaya yang terus menerus mengakumulasikan biaya sesuai dengan pekerjaan atau pesanan (Dunia et al. Penggunaan process costing dan job order costing dapat diterapkan pada usaha manufaktur atau Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah. Lentera Konveksi Makassar merupakan salah satu UMKM bidang industri pakaian yang berada di Jalan PaAobentengang. Ruko No. Kel. Mangasa. Kec. Tamalate. Kota Makassar. Usaha ini mulai melakukan kegiatan produksinya sejak tahun 2018 pada bangunan yang memiliki luas sebesar 72m2. Konveksi ini memproduksi almamater. Pakaian Dinas Harian (PDH). Pakaian Dinas Lapangan (PDL), rompi dan bermacam-macam jenis pakaian lainnya yang dikostumisasi dengan pesanan konsumen. Almamater merupakan salah satu pesanan yang diterima oleh Lentera Konveksi. Setiap bulannya. Lentera Konveksi menarget sebanyak 500 pesanan almamater dengan harga jual senilai Rp95. 000 per pesanan. Adapun omzet dari pesanan almamater yang diperoleh tiap bulannya apabila mencapai target yakni sebesar Rp65. Dalam melakukan pesanan, pemesan harus membayar terlebih dahulu sebesar 30% hingga 50% dari harga yang ditetapkan sebagai tanda persetujuan Tahapan proses produksi pada konveksi ini dimulai dari memilih bahan yang sesuai, membuat pola dan memotong bahan, menjahit, membordir, memasang kancing, dan mengemas produk yang telah jadi. Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tahapan tersebut sebanyak 12 orang yang terdiri atas enam orang penjahit, dua orang pembuat pola dan menggunting, satu orang bagian bordir, dua orang bagian pemasangan kancing, dan satu orang bagian pengemasan. Tenaga kerja tersebut diberikan imbalan yang berbeda karena disesuaikan dengan pekerjaan masing-masing divisi. Lentera Konveksi masih menggunakan metode sederhana dalam mengalkulasi harga pokok produksi. Konveksi tersebut hanya menghitung biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja saja, tanpa menghitung biaya overhead pabrik. Unsur-unsur biaya belum dimasukkan secara terperinci sehingga biaya yang seharusnya dibebankan tidak dimasukkan dalam perhitungan harga pokok produksi. Hal ini mengakibatkan ketidaktepatan dalam kalkulasi harga pokok produksi dan penentuan harga jual. Oleh karena itu, diperlukan metode yang tepat dalam menghitung harga pokok produksi pada usaha ini, yakni menggunakan metode job order costing. Berdasarkan penjelasan di atas, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul AuAnalisis Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Menggunakan Metode Job Order Costing (Studi Kasus pada Lentera Konveksi Makassa. Ay. METODE Desain penelitian . esearch desig. merupakan rancangan untuk mengamati, menguji, dan menganalisis data sesuai rumusan masalah penelitian (Sekaran & Bougie, 2022:. Desain penelitian memuat uraian singkat dan bagan yang Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. mencakup: jenis dan sifat penelitian, jenis data, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang menjelaskan terkait perhitungan harga pokok produksi dengan metode job order costing pada Lentera Konveksi Makassar. Data kuantitatif yang diperoleh melalui pengukuran fokus penelitian berupa angka dan kemudian dianalisis dengan metode pengumpulan harga pokok produksi guna mendapatkan kesimpulan sehingga dapat menjawab penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Beberapa informasi yang dikumpulkan mencakup deskripsi umum perusahaan atau usaha, biaya produksi dan biaya non produksi, penentuan harga produksi, serta informasi penjualan. Pada penelitian ini, informasi diperoleh melalui dua jenis sumber data, yakni data primer dan data sekunder. Hasil wawancara langsung dengan pemilik Lentera Konveksi Makassar dan karyawan divisi produksi guna memperoleh informasi seputar harga pokok produksi dan penetapan harga jual merupakan data primer. Sementara itu, data sekunder didapatkan melalui media perantara berupa laporan produksi serta dokumen lain yang berkaitan langsung dengan penelitian ini. Selanjutnya, teknik analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisis data. Teknik ini menyajikan temuan secara objektif berdasarkan data- data dan teori terkait penelitian. Setelah data diperoleh, kemudian dihitung menggunakan metode job order costing. HASIL DAN PEMBAHASAN Penyajian Data Penelitian ini dilakukan pada Lentera Konveksi yang berlokasi di Jalan PaAobentengang. Kel. Mangasa. Kec. Tamalate. Kota Makassar. Usaha ini menerima berbagai macam pesanan seperti almamater. Pakaian Dinas Harian (PDH). Pakaian Dinas Lapangan (PDL), rompi, dan sejenisnya. Pada bulan Maret 2024. Lentera Konveksi menerima pesanan sebanyak 700 pesanan, diantaranya berupa almamater sebanyak 500 lembar. PDH sebanyak 165 lembar, dan rompi sebanyak 35 lembar. Pesanan yang diterima pada bulan Maret merupakan pesanan dengan volume produksi terbanyak dibanding dengan bulan Diantara tiga jenis pesanan tersebut, almamater memiliki volume produksi yang paling tinggi sehingga penulis fokus untuk menghitung harga pokok produksi pesanan almamater. Pesanan almamater yang diterima oleh Lentera Konveksi merupakan pesanan dari salah satu Politeknik yang ada di Makassar, yakni Politeknik Kesehatan Makassar. Lentera Konveksi mampu menyelesaikan pesanan 500 lembar almamater selama 20 Adapun data yang dikumpulkan melalui hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi di lokasi penelitian adalah sebagai berikut . Biaya Bahan Baku Bahan baku yang digunakan oleh Lentera Konveksi dalam memproduksi almamater yaitu Kain American Drill. Dalam menerima pesanan. Lentera Konveksi biasanya membeli kain per meter dengan harga satuan sebesar Rp35. Akan tetapi, apabila jumlah pesanan yang diterima lebih dari 100 lembar, maka Lentera Konveksi membeli kain dalam bentuk pieces . dengan Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. harga satuan sebesar Rp29. 000 per meter. Adapun biaya bahan baku yang dikeluarkan oleh Lentera Konveksi saat memproduksi 500 lembar almamater pada bulan Maret 2024 sebagai berikut. Tabel 1. Biaya Bahan Baku Langsung Lentera Konveksi Keterangan Kuantita s. Harga Satuan . Rp29. Kain American Drill Total Biaya Bahan Baku Langsung Sumber: Hasil Wawancara, 2024 (Data Diola. Jumlah Biaya. = a x . Rp21. Rp21. Lentera Konveksi membeli kain dalam satuan pcs karena pesanan yang diterima sebanyak 500 lembar. Sehingga apabila dihitung dalam satuan pcs. LenteraKonveksi membeli sebanyak 25pcs kain. Ukuran kain dalam setiap pcs yaitu 30 meter dan mampu menghasilkan 20 lembar almamater karena kain yang digunakansetiap almamater sebanyak 1,5 meter. Berdasarkan tabel di atas, 500 lembar almamater membutuhkan kain sebanyak 1,5 meter x 500 lembar = 750 meter dengan harga satuan sebesar Rp29. 000 per meter. Dengan demikian, total biaya yang dikeluarkan oleh Lentera Konveksi untuk membeli bahan baku yakni 750 meter x Rp29. 000 = Rp21. Biaya Tenaga Kerja Langsung Lentera Konveksi membutuhkan waktu selama 20 hari dalam menyelesaikan 500 lembar almamater. Penyelesaian almamater mampu dikerjakanoleh 12 orang tenaga kerja langsung, yang terdiri dari bagian pola dan menggunting, bagian jahit, bagian bordir, bagian pengemasan, dan jasa pemasangan kancing. Berikut biaya tenaga kerja langsung yang dikeluarkan oleh Lentera Konveksi. Tabel 2. Biaya Tenaga Kerja Langsung Lentera Konveksi Keterangan Jumla Jumlah hTKL Produksi . Bagian Pola 2 orang 500 lembar Menggunting Bagian Jahit 6 orang 500 lembar Bagian Bordir 1 orang 500 lembar Bagian 1 orang 500 lembar Pengemasan Jasa Pemasangan 2 orang 500 lembar Kancing Total Biaya Tenaga Kerja Langsung Upah Lembar . Jumlah Upah . =bx. Rp10. Rp 5. Rp13. Rp10. Rp 1. Rp 6. Rp 5. Rp 500. Rp 500 Rp 250. Rp17. Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. Sumber: Hasil Wawancara, 2024 (Data Diola. Berdasarkan tabel 2, dapat dilihat bahwa Lentera Konveksi memiliki dua orang tenaga kerja pada bagian pola dan menggunting dengan upah sebesar Rp10. 000 per lembar. Dengan demikian, upah tenaga kerja yang dikeluarkan oleh Lentera Konveksi untuk bagian ini sebesar Rp10. 000 x 500 lembar = Rp5. Tenaga kerja bagian jahit berjumlah enam orang dengan upah sebesar Rp13. 000 per lembar, sehingga upah tenaga kerja untuk bagian jahit sebesar Rp13. 000 x 500 lembar = Rp6. Selanjutnya. Lentera Konveksi memiliki satu orang tenaga kerja untuk bagian bordir yang mampu menyelesaikan 500 lembar dengan upah Rp20. 000 per lembar sehingga upah yang didapatkan sebesar Rp10. 000 x 500 lembar = Rp5. Untuk menyelesaikan proses produksi. Lentera Konveksi memiliki satu orang tenaga kerja bagian pengemasan dengan upah sebesar Rp2. 400 per lembar, sehingga upah tenaga kerja bagian pengemasan sebesar Rp1. 000 x 500 lembar = Rp500. Selain itu. Lentera Konveksi juga melakukan kerja sama untuk menyelesaikan pesanan yang diterima. Lentera Konveksi menggunakan jasa untukmemasang kancing sebanyak dua orang dengan upah Rp500 per lembar, sehingga upah untuk jasa pemasangan kancing sebesar Rp500 x 500 lembar = Rp250. Dari uraian tersebut, total biaya yang dikeluarkan oleh Lentera Konveksi untuk upah tenaga kerja langsung sebesar Rp17. Biaya Overhead Pabrik Lentera Konveksi belum menghitung biaya overhead pabrik secara rinci dalam melakukan proses produksi. Adapun biaya overhead pabrik yang dihitung oleh Lentera Konveksi saat memproduksi 500 lembar almamater, yaitu: Tabel 3 Biaya Overhead Pabrik Lentera Konveksi Kuantita Harga Keterangan s. Satuan . Biaya Bahan Penolong: Benang Jahit 7 lusin Rp 21. Benang Obras 30 rol Rp 7. Kain Keras Rp 10. Kancing 1000 pcs Plastik 500 pcs Rp 1. Biaya Listrik Total Biaya Overhead Pabrik Sumber: Hasil Wawancara, 2024 (Data Diola. Jumlah Biaya . =ax. Rp 147. Rp 225. Rp 1. Rp 250. Rp 500. Rp 2. Rp 4. Berdasarkan tabel 3, biaya overhead pabrik yang dihitung oleh Lentera Konveksi terdiri atas biaya bahan penolong yang terdiri dari benang jahit, benang obras, kain keras, kancing, dan plastik. Sehingga total biaya bahan penolong yang dihitung oleh Lentera Konveksi sebesar Rp2. Benang jahit yang digunakan oleh Lentera Konveksi dalam memproduksi 500 lembar almamater sebanyak tujuh lusin. Setiap lusin benang mampu Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. menghasilkan 70 hingga 73 lembar almamater. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli setiap lusin benang jahit sebesar Rp21. 000 sehingga biaya benang jahit sebesar Rp21. 000 x 7 lusin = Rp147. Benang obras yang digunakan untuk memproduksi 500 lembar almamater sebanyak 30 roll, karena setiap tiga roll benang mampu menghasilkan 50 lembar Harga benang obras tiap roll sebesar Rp7. 500 sehingga biaya yang dikeluarkan untuk membeli benang obras sebesar Rp7. 500 x 30 roll = Rp225. Terdapat pula kain keras yang digunakan dalam memproduksi almamater. Kain keras yang dibutuhkan dalam memproduksi 500 lembar almamater sebanyak 150 meter karena setiap almamater membutuhkan kain keras sebanyak 0,3 meter dengan harga tiap meter sebesar Rp10. 000 sehingga jumlah biaya yang dikeluarkansebesar Rp10. 000 x 150 meter = Rp1. Kancing merupakan komponen bahan penolong yang digunakan dalam memproduksi almamater. Setiap almamater menggunakan dua pcs kancing sehingga untuk 500 lembar almamater dibutuhkan kancing sebanyak 1. 000 pcs. Harga tiap pcs kancing sebesar Rp250 sehingga total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp250 x 1000 pcs = Rp250. Bahan penolong lainnya yang digunakan yakni plastik. Dibutuhkan 500 pcs plastik dalam proses pengemasan almamater dengan harga satuan sebesar Rp1. 000 sehingga total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp1. 000 x 500 pcs = Rp500. Selain itu, terdapat biaya listrik sebesar Rp2. 000 per bulan. Berdasarkan perhitungan di atas, maka biaya overhead pabrik menurut Lentera Konveksi sebesarRp4. Lentera Konveksi hanya menghitung biaya yang disajikan pada Tabel 3 dan belum menghitung biaya penyusutan peralatan yang digunakan saat proses Adapun peralatan yang digunakan oleh Lentera konveksi dalam melakukan proses produksi disajikan pada tabel berikut ini. Tabel 4 Biaya Peralatan Lentera Konveksi Keterangan Tahun Peroleha n. Kuantita Harga Satuan . Rp 3. Mesin Jahit 6 unit Rp 5. Mesin Obras 4 unit Rp 3. Mesin Potong 1 unit Rp120. Mesin Bordir 1 unit Total Biaya Peralatan Sumber: Hasil Wawancara, 2024 (Data Diola. Jumlah Biaya . =bx. Rp 21. Rp 20. Rp 3. Rp120. Rp164. Berdasarkan tabel di atas. Lentera Konveksi memiliki beberapa peralatan yakni mesin jahit, mesin obras, mesin potong, dan mesin bordir. Mesin jahit yang dimiliki oleh Lentera Konveksi sebanyak enam unit yang masing-masing Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. unitnyadiperoleh dengan biaya sebesar Rp3. 000 pada tahun 2018 sehingga jumlah biaya untuk memperoleh mesin jahit sebesar Rp3. 000 x 6 unit = Rp21. Mesin Obras yang dimiliki oleh Lentera Konveksi diperoleh pada tahun 2018 sebanyak empat unit yang masing-masing unit memiliki harga sebesar Rp5. 000 sehingga biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh peralatan tersebut sebesar Rp5. 000 x 4 unit = Rp20. Selain itu. Lentera Konveksijuga memiliki satu unit mesin potong yang diperoleh pada tahun 2018 dengan hargaRp3. Mesin lain yang dimiliki oleh Lentera Konveksi yakni satu unit mesin bordir yang diperoleh pada tahun 2023 dengan harga Rp120. Berdasarkan uraian biaya di atas, total biaya peralatan mesin dan peralatan lainnya secara keseluruhan sebesar Rp164. Biaya yang dikeluarkan oleh Lentera Konveksi saat membeli peralatan dapat dikatakan besar. Oleh karena itu, dibutuhkan persiapan biaya apabila peralatan atau mesin tersebut mengalami Biaya ini biasa disebut dengan replacement cost. Adapaun biaya yang perlu disiapkan oleh Lentera Konveksi sebesar Rp250. 000 untuk mengganti peralatan yang rusak dan tidak dapat diperbaiki. Analisis Data Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif kuantitatif. Teknik analisis deskriptif kuantitatif ialah teknik yang difungsikan menjelaskan fokus penelitian dengan menghitung data yang telah dikumpulkan dalam bentuk angka. Data yang dianalisis oleh penulis yakni harga pokok produksi Lentera Konveksi. Harga Pokok Produksi Menurut Perhitungan Lentera Konveksi Lentera Konveksi masih menggunakan metode sederhana dalam mengalkulasi harga pokok produksi. Perhitungannya melibatkan tiga elemen biaya, yakni biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overheadpabrik. Namun, konveksi tersebut tidak menghitung biaya overhead pabrik secara keseluruhan sehingga pembebanan biaya tidak dimasukkan dalam perhitungan harga pokok Berikut perhitungan harga pokok produksi menurut Lentera Konveksi dalam memproduksi 500 lembar almamater pada bulan Maret 2024. Tabel 5. Harga Pokok Produksi Menurut Lentera Konveksi Jenis Biaya Biaya Bahan Baku Langsung Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya Overhead Pabrik Total Biaya Jumlah Produksi (Lemba. Harga Pokok Produksi Menurut Lentera Konveksi Sumber: Lentera Konveksi, 2024 (Data Diola. Total Biaya Rp 21. Rp 17. Rp 4. Rp 43. Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. Tabel 5 menunjukkan bahwa Lentera Konveksi mengeluarkan sebesar Rp21. 000 untuk bahan baku. Rp17. 000 untuk tenaga kerja langsung, dan Rp4. 000 biaya overhead pabrik, sehingga total biaya produksi yang dihasilkan sebesar Rp43. Sedangkan pesanan almamater yang dibuat oleh Lentera Konveksi sebanyak 500 lembar. Oleh karena itu, harga pokok produksi yang dihasilkan tiap unitnya sebesar Rp43. 000 / 500 lembar = Rp87. Berdasarkan data dan informasi yang telah diperoleh, pemilik LenteraKonveksi menyatakan bahwa harga jual yang ditetapkan sebesar Rp95. 000/lembar. Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh Lentera Konveksi dalam memproduksi almamater sebesar Rp95. 000Ae Rp87. 244 = Rp7. Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Metode Job Order Costing Lentera Konveksi termasuk usaha yang berproduksi sesuai pesanan sehingga pengumpulan biaya produksi dapat menggunakan metode job ordercosting atau harga pokok pesanan. Penelitian ini berfokus untuk menghitung hargapokok produksi pada pesanan yang diterima, yakni 500 lembar almamater. Pesananini dapat diselesaikan dalam waktu 20 hari. Pada bulan Maret 2024. Lentera Konveksi mengestimasi sebanyak 700 lembar pesanan yang terdiri atas 500 lembar almamater, 165 lembar Pakaian Dinas Harian (PDH), dan 35 lembar rompi. Harga pokok produksi menurut job order costing terdiri atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Untuk biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung, total perhitungan menggunakan metode job order costing sama dengan total perhitungan yang telah dilakukan oleh Lentera Konveksi. Sedangkan, terdapat perbedaan pada perhitungan biaya overhead pabrik karena Lentera Konveksi tidak membebankan biaya overhead pabrik pada pesanan dengan tepat, diantaranya sebagai berikut. Biaya Perlengkapan Biaya perlengkapan yakni biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang memiliki sifat habis pakai atau dapat dimanfaatkan berulang kali. Lentera Konveksi memiliki beberapa perlengkapan dalam memproduksi 500 lembar Berikut tabel perhitungan biaya perlengkapan dalam prosesproduksi Lentera Konveksi. Tabel 6. Biaya Perlengkapan Lentera Konveksi Menurut Job Order Costing Kuantita Harga Jumlah Keterangan s. Satuan Biaya . =ax. Jarum Jahit 1 lusin Rp 20. Rp 20. Kapur Jahit 2 buah Rp 2. Rp 4. Total Biaya Perlengkapan Rp 24. Sumber: Hasil Wawancara (Data Diolah, 2. Tabel 6 menunjukkan bahwa dalam memproduksi 500 lembar almamater, jarum yang digunakan oleh enam orang penjahit Lentera Konveksi masing-masingdua buah sehingga jumlah jarum yang digunakan sebanyak 12 buah atau satu lusin dengan harga sebesar Rp20. 000 per lusin sehingga jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh lima buah jarum sebesar Rp20. 000 x 1 lusin = Rp20. Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. Perlengkapan lainnya yaitu kapur jahit yang berfungsi sebagai pemberi tanda pada kain yang biasanya digunakan untuk memberi garis batas pada kain sebelum proses pemotongan. Dalam melakukan proses pembuatan almamater, satubuah kapur jahit digunakan oleh satu orang bagian pola dan menggunting sehinggakapur jahit yang dibutuhkan sebanyak dua buah dengan harga sebesar Rp2. 000 per buah dan biaya keseluruhan untuk kapur jahit sebesar Rp2. 000 x 2 buah = Rp4. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh perlengkapandalam memproduksi 500 lembar almamater sebesar Rp24. Biaya Penyusutan Peralatan Produksi Penyusutan merupakan penurunan nilai fisik seiring berjalannya waktu Lentera Konveksi memiliki beberapa peralatan yakni mesin jahit, mesin obras, mesin potong, dan mesin bordir. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung penyusutan, salah satunya metode garis lurus. traight line metho. , dengan rumus: Berikut perhitungan penyusutan peralatan Lentera Konveksi. Mesin Jahit Lentera Konveksi memiliki enam unit mesin jahit dengan harga Rp3. 000 per unit yang diperoleh pada tahun 2018. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2023 tentang Penyusutan Harta Berwujud dan/atau Amortisasi Harta Tak Berwujud, mesin jahit termasuk jenis-jenis harta berwujud kelompok dua yang memiliki masa manfaat selama 8 tahun. Harga Perolehan Mesin Jahit = Rp. 000 x 6 Unit Harga Perolehan Mesin Jahit = Rp. Ea Ea "#. $%%. %%% & '()* Ea = ,-. 000/ Ea Ea = ,-. Mesin Obras Lentera Konveksi memiliki empat unit mesin obras dengan harga Rp5. per unit yang diperoleh pada tahun 2018. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2023 tentang Penyusutan Harta Berwujud dan/atau Amortisasi Harta Tak Berwujud, mesin obras termasuk jenis-jenis harta berwujud kelompok dua yang memiliki masa manfaat selama 8 tahun. Harga Perolehan Mesin Obras = Rp. 000 x 4 Unit Harga Perolehan Mesin Obras = Rp. Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. "%. $%%. %%% & '()* = ,-. 000/ Ea = ,-. Mesin Potong Lentera Konveksi memiliki satu unit mesin potong dengan harga Rp3. yang diperoleh pada tahun 2018. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2023 tentang Penyusutan Harta Berwujud dan/atau Amortisasi Harta Tak Berwujud, mesin potong termasuk jenis-jenis harta berwujud kelompok dua yang memiliki masa manfaat selama 8 tahun. 88 9= 88 9= %%%. %%% & '()* 8 8 9 = ,-. 000/ Ea 8 8 9 = ,-. Mesin Bordir Lentera Konveksi memiliki satu unit mesin bordir yang mempunyai 12 kepala dengan harga Rp120. 000 yang diperoleh pada tahun 2023. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2023 tentang Penyusutan Harta Berwujud dan/atau Amortisasi Harta Tak Berwujud, mesin bordir termasuk jenis- jenis harta berwujud kelompok dua yang memiliki masa manfaat selama 8 tahun. #"%. %%%. %%% & '()* = ,-. 000/ Ea = ,-. Berdasarkan uraian perhitungan biaya penyusutan peralatan produksi di atas, berikut tabel penyusutan peralatan proses produksi Lentera Konveksi. Tabel 7. Biaya Penyusutan Peralatan Tahun Umur Jumlah Ekonomis Unit Keterangan Perole . Mesin Jahit 8 tahun Mesin Obras 8 tahun Mesin Potong 2018 8 tahun Mesin Bordir 8 tahun Total Biaya Penyusutan/Tahun Total Biaya Penyusutan/Bulan Harga Perolehan . Rp 3. Rp 5. Rp 3. Rp120. Penyusutan (. =bx. Rp 2. Rp 2. Rp 375. Rp15. Rp20. Rp 1. Sumber: Data Diolah, 2024 Tabel 7 menunjukkan bahwa biaya penyusutan peralatan setiap tahunnya sebesar Rp20. 000 dan biaya penyusutan peralatan per bulan sebesar Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. Rp20. 000/12 bulan = Rp1. Sehingga perhitungan tarif biaya penyusutan pada Maret 2024 dapat dihitung sebagai berikut: = ?%%. ?#@. A&: BCDE(F = ,-. 449/I J5 Berdasarkan perhitungan tarif biaya penyusutan peralatan di atas, maka total biaya penyusutan peralatan yang dibebankan pada pesanan adalah 500 lembar x Rp2. Rp1. Biaya Listrik Biaya listrik yang dibayarkan oleh Lentera konveksi sebesar Rp2. Biaya tersebut tidak dibebankan secara langsung pada produk yang dihasilkan karena terdapat penggunaan listrik di luar proses produksi. Perbedaan ini diakibatkan karena meteran listrik yang digunakan untuk proses produksi merupakan meteran listrik yang juga digunakan di rumah pemilik usaha sehingga peneliti hanya merincikan perhitungan penggunaan kWh untuk aktivitas produksi. Lentera Konveksi menggunakan kilometer golongan rumah tangga R1/TR daya 2. VA dengan tarif sebesar Rp1. 444,70 per kWh. Berikut perhitungan biaya listrik yang digunakan oleh Lentera Konveksi untuk menyelesaikan pesanan pada bulan Maret Tabel 8 Biaya Listrik Lentera Konveksi Keterangan Jumlah . Jam Mesin . Daya Tarif/kWh Jumlah Biaya . Mesin Jahit 10 jam 0,25 kWh Rp1. 444,70 Mesin Obras 10 jam 0,25 kWh Rp1. 444,70 Mesin Potong 10 jam 0,37 kWh Rp1. 444,70 Mesin Bordir 10 jam 0,45 kWh Rp1. 444,70 Total Biaya Listrik/Hari Total Biaya Listrik/Bulan Rp1. Sumber: Data Diolah, 2024 Berdasarkan tabel biaya listrik tersebut, dapat dilihat bahwa biaya penggunaan listrik Lentera Konveksi sebesar Rp1. Sehingga perhitungan tarif biaya listrik pada Maret 2024 adalah sebagai berikut. LM. OPQ. RSN K = TUU V WX K = ,-. 056/I J5 Berdasarkan perhitungan tarif biaya listrik di atas, maka total biaya listrik yang dibebankan pada pesanan adalah 500 lembar x Rp2. 056 = Rp1. Biaya Sewa Bangunan Lentera Konveksi menyewa bangunan dengan luas 72m2 untuk melakukan proses produksi dengan biaya sebesar Rp25. 000 tiap tahun. Sehingga biaya sewa bangunan tiap bulannya sebesar Rp25. 000/12 bulan = Rp2. Berikut tarif Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. perhitungan biaya sewa bangunan Lentera Konveksi dalam memproduksi pesanan yang diterima pada Maret 2024. Z [ 3 Z [ 3 LM. UQP. PPO = TUU V WX = ,-. 976/I J5 Berdasarkan perhitungan tarif biaya sewa bangunan yang telah diuraikan, maka biaya sewa bangunan yang dibebankan pada pesanan adalah 500 lembar x Rp2. Rp1. Berdasarkan uraian perhitungan beberapa kelompok biaya overhead pabrik di atas, maka biaya overhead pabrik berdasarkan metode job order costing yang dikeluarkan oleh Lentera Konveksi dalam memproduksi 500 lembar almamater adalah sebagai berikut. Tabel 9 Biaya Overhead Pabrik Menurut Job Order Costing No Keterangan Jumlah Biaya Biaya Bahan Penolong Rp 2. Biaya Perlengkapan Rp 24. Biaya Penyusutan Peralatan Rp 1. Biaya Listrik Rp 1. Biaya Sewa Bangunan Rp 1. Rp 6. Total Biaya Overhead Pabrik Sumber: Data Diolah, 2024 Tabel 9 menunjukkan keseluruhan biaya overhead pabrik berdasarkan perhitungan job order costing. Biaya overhead pabrik berdasarkan perhitungan joborder costing terdiri dari biaya bahan penolong, biaya perlengkapan, biaya penyusutan peralatan, biaya listrik, dan biaya sewa bangunan dengan total biaya sebesar Rp6. Setelah dilakukan perhitungan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik berdasarkan job order costing, maka harga pokok produksi Lentera Konveksi berdasarkan metode job order costing adalah sebagai berikut. Tabel 10 Harga Pokok Produksi Lentera Konveksi Menurut Job Order Costing Jenis Biaya Total Biaya Biaya Bahan Baku Langsung Rp 21. Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 17. Biaya Overhead Pabrik Rp 6. Total Biaya Produksi Rp 45. Jumlah Produksi . Harga Pokok Produksi Menurut Job Order Costing Sumber: Data Diolah, 2024 Berdasarkan perhitungan pada tabel di atas, harga pokok produksi Lentera Konveksi menurut metode job order costing menunjukkan bahwa biaya bahan baku langsung memiliki nilai sebesar Rp21. 000, biaya tenaga kerja langsung sebesar Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. Rp17. 000, dan biaya overhead pabrik sebesar Rp6. 301, sehingga total biaya produksi yang dihasilkan sebesar Rp45. Sedangkan produksi yang dihasilkan oleh Lentera Konveksi sebanyak 500 lembar pada bulan Maret 2024. Oleh karena itu harga pokok produksi menurut job order costing yang dihasilkan tiap lembar sebesar Rp45. 301 / 500 lembar = Rp90. Perbedaan Harga Pokok Produksi Menurut Lentera Konveksi dengan Metode Job Order Costing Perbedaan perhitungan harga pokok produksi menurut perhitungan Lentera Konveksi dengan perhitungan berdasarkan metode job order costing dalam memproduksi 500 lembar almamater dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 11 Perbedaan Harga Pokok Produksi Menurut Lentera Konveksi dengan Metode Job Order Costing Harga Pokok Produksi MenurutLentera Konveksi Jenis Biaya Total Biaya Biaya Bahan Baku Rp21. Biaya Tenaga Rp17. KerjaLangsung Biaya Overhead Rp 4. Pabrik Total Biaya Rp43. Jumlah Produksi 500 lembar Harga Rp 87. Pokok Produksi Sumber: Data Diolah, 2024 Harga Pokok Produksi denganMetode Job Order Costing Jenis Biaya Total Biaya Biaya Bahan Baku Rp21. Biaya Tenaga Rp17. KerjaLangsung Biaya Overhead Rp 6. Pabrik Total Biaya Rp45. Jumlah Produksi 500 lembar Harga Rp 90. Pokok Produksi Setelah melakukan pengklasifikasian dan analisis terhadap biaya-biaya produksi dan menghitung harga pokok produksi dengan menggunakan metode joborder costing, terdapat selisih antara perhitungan harga pokok produksi yangdilakukan oleh Lentera Konveksi dengan perhitungan menggunakan metode job order costing. Pada perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode job order costing, terdapat biaya perlengkapan, biaya penyusutan, biaya listrik, dan biaya sewa bangunan yang merupakan biaya overhead pabrik yang dibebankan pada pesanan, sedangkan pada perhitungan harga pokok produksi menurut Lentera Konveksi biaya tersebut tidak dibebankan pada pesanan. Hasil perhitungan total biaya produksi menurut Lentera Konveksi sebesar Rp43. 000 dengan harga pokok produksi sebesar Rp87. Sedangkan perhitungan total biaya produksi menggunakan metode job order costing sebesar Rp45. 301 dengan harga pokok produksi sebesar Rp90. Maka selisih harga pokok produksi menurut Lentera Konveksi dengan menggunakan metode job order costing sebesar Rp45. 301 Ae Rp43. 000 = Rp1. 301, selisih harga pokok produksi per unit sebesar Rp90. 813 Ae Rp87. 244 = Rp3. Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. Perhitungan Harga Jual Menurut Lentera Konveksi Dalam penentuan harga jual produk. Lentera Konveksi tidak menerapkan teori akuntansi karena tidak memperhitungkan persentase laba yang diharapkan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik usaha, harga jual yang ditetapkan oleh Lentera Konveksi yakni Rp95. 000/unit almamater. Perhitungan Harga Jual Menurut Metode Normal Pricing Penentuan harga jual normal . ormal pricin. disebut juga dengan cost plus pricing yaitu penentuan harga jual dengan menambahkan laba yang diharapkan ke dalam biaya produksi dengan rumus sebagai berikut. Harga Jual = Biaya Produksi Laba yang diharapkan 8< K = ?%%. %&:. ::@ BCDE(F Berikut rincian perhitungan harga jual berdasarkan harga pokok produksi menggunakan rumus normal pricing: Harga Jual = Biaya Produksi Laba yang diharapkan Harga Jual = Rp45. 301 15% Harga Jual = Rp45. 301 Rp6. Harga Jual = Rp52. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa total harga jual dari Lentera Konveksi sebesar Rp52. Harga jual per produk dapat dilihat dari harga jual dibagi jumlah produk. Nilai ini diperoleh dari keseluruhan biaya produksi ditambah dengan laba yang diharapkan oleh pemilik usaha, yakni sebesar 15% dari biaya produksi. Kemudian harga jual per unit produk dihasilkan dari total harga jual dibagi dengan jumlah produksi . sehingga menghasilkan harga jual sebesarRp104. 434 per Perbedaan Harga Jual Menurut Lentera Konveksi dengan Metode Normal Pricing Perbedaan penetapan harga jual menurut Lentera Konveksi dengan metode normal pricing dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 12 Perbedaan Antara Harga Jual Menurut Lentera Konveksi dengan Metode Normal Pricing Harga Jual Menurut LenteraKonveksi Rp95. Sumber: Data Diolah, 2024 Harga Jual Berdasarkan Metode Normal Pricing Rp104. Berdasarkan tabel 16, harga jual yang ditetapkan oleh Lentera Konveksi sebesar Rp95. 000, sedangkan harga jual berdasarkan metode normal pricing sebesar Rp104. Selisih dari harga jual tersebut yakni Rp104. 434Ae Rp95. 000 =Rp9. Selisih ini terjadi Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. karena dalam menentukan harga jual. Lentera Konveksihanya mengacu pada harga Sedangkan penulis menghitung harga jual berdasarkan metode normal pricing dengan mengacu pada harga pokok produksi metode job order costing dan laba yang diharapkan oleh pemilik. Kartu Harga Pokok Pesanan Kartu harga pokok . ob order cost shee. pesanan merupakan catatan penting dalam penerapan job order costing. Biaya produksi langsung dimasukkan pada job order cost sheet yang terkait secara langsung, sementara itu biaya produksi tidak langsung dimasukkan sesuai dengan tarif tertentu. Berikut kartu harga pokok pesanan 500 lembar almamater. Hasil Penelitian dan Pembahasan Harga pokok produksi merupakan total dari elemen biaya produksi yang dikeluarkan dalam mengolah bahan baku menjadi bahan jadi atau suatu produk. Harga pokok produksi dapat dijadikan sebagai tolak ukur oleh perusahaan untuk menetapkan harga jual. Oleh karena itu, perhitungan harga pokok produksi sangat penting dalam suatu perusahaan untuk menetapkan atau memperkirakan laba yang akan diperoleh. Dari analisis data yang dilakukan diperoleh bahwa harga pokok produksi menurut Lentera Konveksi sebesar Rp87. 244/lembar, sedangkan menurut metode job order costing diperoleh harga pokok produksi sebesar Rp90. 813/lembar. Makaselisih harga pokok produksi menurut Lentera Konveksi dengan menggunakan metode job order costing sebesar Rp3. Harga pokok produksi yang dihitung dengan menggunakan metode job order costing lebih tinggi dibandingkan dengan harga pokok produksi yang dihitung oleh Lentera Konveksi. Hal ini disebabkan karena pihak perusahaan tidak menghitung pembebanan biaya overhead pabrik secara rinci pada pesanan. Biaya overhead pabrik yang dihitung oleh Lentera Konveksi hanya mencakup biaya bahan penolong dan biaya listrik dengan total biaya sebesar Rp4. Sedangkan, biaya overhead pabrik yang dihitung dengan menggunakan metode job order costing terdiri dari biaya bahan penolong, biaya perlengkapan, biaya penyusutan peralatan, biaya listrik, dan biaya sewa bangunan. Jumlah keseluruhan biaya overhead pabrik menurut metode job order costing yaitu Rp6. Selisih biaya overhead pabrik menurut perhitungan Lenter. Konveksi dengan perhitungan menggunakan metode job order costing sebesar Rp1. Selisih yang terjadi tersebut dikarenakan timbulnya biaya perlengkapan, biaya penyusutan peralatan, biaya listrik, dan biaya sewa bangunan yang dibebankan pada pesanan. Harga jual merupakan harga yang ditetapkan berdasarkan biaya produksi dan laba yang diinginkan. Penentuan harga jual yang tepat mampu mencapai laba yang Oleh karena itu, perlu dilakukan perhitungan yang tepat dalam menentukan harga jual. Berdasarkan analisis data yang dilakukan. Lentera Konveksi menetapkan harga jual sebesar Rp95. 000 tiap almamater. Sedangkan, penulis menetapkan harga jual dengan menggunakan metode normal pricing sehingga memperoleh harga jualsebesar Rp104. 434 tiap almamater. Sehingga diperoleh selisih sebesar Rp9. Hal ini disebabkan karena pemilik usaha Lentera Konveksi tidak menghitung hargajual dengan menggunakan metode yang tepat dan hanya mengacu Future Academia. Vol. No. 4 Desember 2024, pp. pada harga pasaran. Sedangkan pada metode normal pricing, penetapan harga jual dilakukan dengan menambah total biaya produksi dengan laba yang diinginkan SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode job order costing pada Lentera Konveksi, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Dalam memproduksi 500 lembar almamater, harga pokok produksi yang dihasilkan Lentera Koveksi sebesar Rp87. Sedangkan perhitungan harga pokok produksi dengan job order costing adalah Rp90. Perbedaan perhitungan ini dikarenakan Lentera Konveksi tidak memperhitungkan keseluruhan biaya produksi secara rinci. , yakni perhitungan biaya overhead pabrik masih kurang tepat karena belum membebankan beberapa unsur biaya kedalam pesanan. Harga jual yang ditetapkan oleh Lentera Konveksi sebesar Rp95. Sedangkan, harga jual menurut metode normal pricing sebesar Rp104. Perbedaan dalam penentuan harga jual disebabkan karena pemilik usaha Lentera Konveksi tidak menghitung harga jual dengan menggunakan metode yang tepat dan hanya mengacu pada harga pasaran. Berdasarkan kesimpulan di atas, terdapat beberapa saran yang perlu dipertimbangkan oleh beberapa pihak, yaitu lentera Konveksi diharapkan melakukan perhitungan harga pokok produksi pada pesanan dengan menggunakan metode yang tepat, yakni metode job order costing. Karena dengan menggunakan metode ini, biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi pesanan diungkapkan secara terpisah sehingga dapat mengetahui biaya produksinya secara akurat. Dalam penentuan harga jual. Lentera Konveksi sebaiknya mempertimbangkan harga pokok produksi sebagai acuan dasar dalam penentuan harga jual dengan menggunakan metode yang tepat, yakni menambah total biaya produksi dan persentase laba yang diinginkan. Untuk peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan penelitian dengan memilih objek yang memiliki karakteristik yang berbada dan telah melakukan pengelolaan keuangan sesuai standar akuntansi untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan dalam perhitungan harga pokok produksi. DAFTAR PUSTAKA