Analisis tingkat Kesadaran masyarakat Desa simpang Sigura Gura dan Partisipasi Mereka dalam Pengelolaan Sampah Feryeldo Rado Hutabalian*1. Dedy Indrian panjaitan2. Tonggo Luhut Hutauruk3. Ariel Tohonan M. Hutasoit4. Lola Greace Situmeang5. Simka Febryna Br Surbakti6. Keren Febrian Mendrofa7 Elisafan Jeremia barus8 Louis Miguel V. Munthe9 Britania Mei Karina Nahampun10. Eben Oktavianus Zai11 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 Teknik Sipil. Peternakan. Seni Musik. Sastra Inggris. Ekonomi Pembangunan. Fakultas Teknik. Peternakan. Bahasa dan Seni. Ekonomi dan Bisnis. Universitas HKBP Nommensen Medan. Indonesia Email: 1feryeldoradohutabalian@gmail. com, 2dedypanjaitan107@gmail. hutauruk@student. id, 4ariel. hutasoit@student. id, 5lola. situmeang@student. febryna@student. id, 7hiyoriverse18@gmail. com, 8elisafanjeremia. barus@student. nahampun@student. id, 10louis21167@gmail. com, ebenzay5@gmail. Abstract The waste problem in Simpang Sigura Gura Village is a major concern due to low public awareness and limited waste management facilities. This study aims to analyze the communityAos awareness of waste issues and evaluate the effectiveness of waste management efforts. The research employs a qualitative descriptive method with a Participatory Rural Appraisal (PRA) approach, involving the community in problem identification and solution Findings indicate that the lack of proper waste management facilities results in widespread littering and frequent open waste burning. Waste management efforts include community discussions, the establishment of village regulations, the construction of bamboo waste bins, and a routine waste collection program. This study aims to propose recommendations for a more effective and sustainable waste management system. Keywords: Waste. Community Awareness. Environmental Management. Simpang Sigura Gura Village. Abstrak Permasalahan sampah di Desa Simpang Sigura Gura menjadi perhatian utama akibat rendahnya kesadaran masyarakat serta keterbatasan sarana pengelolaan sampah. Penelitian kami bertujuan untuk menganalisis tingkat kesadaran masyarakat terhadap permasalahan sampah serta mengevaluasi efektivitas upaya penanganannya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA), melibatkan masyarakat dalam proses identifikasi masalah dan solusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minimnya fasilitas pengelolaan sampah menyebabkan kebiasaan membuang sampah sembarangan dan praktik pembakaran sampah masih sering terjadi. Upaya penanganan dilakukan melalui musyawarah warga, penyusunan regulasi desa, pembuatan tempat sampah berbahan bambu, serta program pengangkutan sampah secara rutin. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan rekomendasi dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Kata Kunci: Sampah. Kesadaran Masyarakat. Pengelolaan Lingkungan. Desa Simpang Sigura Gura. PENDAHULUAN Lingkungan adalah semua benda dan kondisi yang berisi manusia beserta kegiatannya (Darsono, 1. Keberadaannya memiliki dampak signifikan terhadap tingkat kesehatan serta kesejahteraan sosial masyarakat, sehingga tanggung jawab dalam menjaganya harus diemban oleh setiap individu. Namun, sering kali tanggung jawab ini diabaikan, sehingga menimbulkan berbagai permasalahan kebersihan. Permasalahan yang muncul tidak sedikit dan semakin berpengaruh terhadap kelangsungan hidup masyarakat, salah satunya adalah meningkatnya permasalahan sampah di Indonesia menghasilkan sekitar 490 ribu ton sampah setiap harinya, mencapai 178. 000 ton per tahun (Kementerian Lingkungan Hidup, 2. Angka ini tergolong sangat besar bagi sebuah negara dengan populasi sebanyak 274 juta jiwa. Sebagian besar sampah tersebut berasal dari kawasan perkotaan yang menjadi pusat industri, perdagangan, urbanisasi, serta berbagai aktivitas lainnya yang berkaitan dengan kehidupan perkotaan. Timbulan sampah secara nasional dari 290 kab/kota tercatat 31,9 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 64,3% atau setara dengan 20,5 juta ton telah dikelola dengan baik, sedangkan 35,7% atau sekitar 11,4 juta ton masih belum terkelola secara optimal (Sistem Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN). Seiring meningkatnya aktivitas masyarakat, jumlah sampah yang dihasilkan juga semakin Sayangnya, banyak sampah yang dibuang sembarangan tanpa adanya kesadaran akan pengelolaannya, sehingga berdampak negatif terhadap lingkungan. Hal ini tidak hanya mengurangi tingkat kebersihan, tetapi juga menyebabkan pencemaran, memperburuk estetika kota, serta menciptakan lingkungan yang kumuh dan berisiko menjadi sumber berbagai penyakit. Pengelolaan sampah yang buruk dapat memicu berbagai permasalahan lingkungan, seperti pencemaran air dan tanah, penyumbatan saluran air yang berujung pada banjir, serta peningkatan risiko penyebaran penyakit akibat lingkungan yang tidak higienis (Hakim et al. , 2. Bau tidak sedap yang dihasilkan oleh sampah yang membusuk juga dapat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengelolaan sampah yang efektif, mencakup pemilahan dan penempatan sampah pada wadah yang sesuai, pengumpulan dan pemindahan yang terorganisir, hingga proses pengangkutan dan pembuangan akhir yang berkelanjutan (Sahil et al. , 2. Dengan pendekatan yang tepat dalam pengelolaan sampah, kualitas lingkungan dapat ditingkatkan, serta kesehatan masyarakat dapat lebih terjaga. Terletak di Kecamatan Porsea. Kabupaten Toba. Sumatera Utara. Desa Simpang Siguragura merupakan salah satu kawasan permukiman yang berada pada ketinggian tertentu dengan potensi sumber daya alam yang cukup melimpah. Desa ini memiliki lahan yang dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas pertanian dan perkebunan, dengan hasil utama seperti jagung, ubi kayu, cabai, serta berbagai jenis sayuran. Selain itu, desa ini juga dialiri oleh aliran air dari kawasan perbukitan yang dimanfaatkan sebagai sumber irigasi bagi lahan pertanian. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani penggarap dan pengolah lahan pertanian. Namun, meskipun memiliki potensi alam yang baik. Desa Simpang Siguragura masih menghadapi tantangan dalam hal sarana dan prasarana umum. Topografinya yang berbukit dan relatif terpencil membuat akses menuju desa ini cukup sulit. Infrastruktur yang kurang memadai terlihat dari kondisi jalan yang banyak berlubang dan rusak, minimnya penerangan jalan serta transportasi umum, serta keterbatasan fasilitas kesehatan seperti puskesmas. Desa Simpang Siguragura juga menghadapi permasalahan serius dalam pengelolaan sampah. Dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, hasil produksi pertanian, serta alih fungsi lahan perumahan mengurangi area pengelolaan sampah, volume limbah yang dihasilkan dan dibiarkan tanpa pengolahan semakin bertambah. Sayangnya, masyarakat cenderung kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan, di mana kebiasaan membuang sampah sembarangan masih marak terjadi. Hal ini menyebabkan munculnya tumpukan sampah di berbagai lokasi umum, yang pada akhirnya menimbulkan bau tak sedap, penyumbatan saluran air, hingga meningkatkan risiko banjir. Permasalahan ini semakin diperburuk oleh minimnya sarana dan prasarana pengelolaan sampah. Desa Simpang Siguragura tidak memiliki tempat sampah yang memadai, kendaraan pengangkut sampah, maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kurangnya perhatian terhadap penyediaan infrastruktur ini membuat sampah semakin menumpuk dan sulit terkelola. Selain itu, kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan masih rendah, sehingga mereka tidak terlalu mempermasalahkan kondisi ini. Akibatnya, banyak warga yang memilih cara tidak tepat dalam mengurangi volume sampah, seperti membuangnya ke sungai atau membakar tumpukan sampah tanpa mempertimbangkan waktu, lokasi, dan dampaknya. Praktik ini pada akhirnya berkontribusi terhadap pencemaran air, udara, dan tanah, yang semakin memperburuk kondisi lingkungan di desa tersebut. Sejatinya, masyarakat Desa Simpang Siguragura menyadari permasalahan sampah yang mereka Namun, implementasi penanganan dan solusi yang kurang maksimal justru semakin memperburuk kondisi lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah desa untuk menangani permasalahan ini secara lebih efektif. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah menyerap aspirasi warga melalui musyawarah desa. Dalam forum ini, masyarakat dapat menyampaikan keluhan terkait sampah, mulai dari permasalahan pengangkutan hingga potensi pemanfaatan sampah dalam program jangka panjang. Selain itu, pemerintah desa dapat menetapkan peraturan khusus terkait pengelolaan sampah, sehingga masyarakat memiliki pedoman yang jelas dalam menjaga kebersihan lingkungannya. Untuk mendukung implementasi kebijakan ini, perlu direalisasikan pengadaan armada pengangkut sampah dari dinas terkait agar proses pengangkutan dapat berjalan secara rutin dan efisien. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah membangun bank sampah, yang berfungsi tidak hanya sebagai sarana pengelolaan limbah, tetapi juga sebagai pusat edukasi bagi masyarakat mengenai pemanfaatan sampah bernilai Dalam hal ini, karang taruna juga dapat berperan aktif dengan menggerakkan program pemanfaatan sampah untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan warga. Dengan demikian, penyelesaian permasalahan sampah di Desa Simpang Siguragura memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk edukasi berkelanjutan dari pemerintah desa melalui sosialisasi dan pelatihan. Langkah ini bertujuan untuk mendorong masyarakat agar mulai mengelola sampah dengan baik dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesadaran masyarakat Desa Simpang Siguragura terhadap permasalahan sampah, serta mengevaluasi perkembangan upaya penanganannya. Harapannya, dengan adanya strategi yang lebih terarah, desa ini dapat memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih teratur, lingkungan yang lebih bersih, serta meningkatkan kualitas hidup METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA). Metode ini melibatkan masyarakat dalam mengidentifikasi permasalahan sampah serta mencari solusi yang sesuai dengan kondisi lokal. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan responden yang terdiri dari perangkat desa, warga, dan pengelola sampah. Selain itu, dilakukan observasi langsung terhadap kebiasaan masyarakat dalam membuang dan mengelola sampah. Data sekunder diperoleh dari laporan desa, peraturan terkait, serta literatur ilmiah yang relevan. Tahapan penelitian meliputi: Identifikasi masalah melalui wawancara dan observasi langsung. Analisis kondisi lingkungan dengan melihat pola pembuangan sampah dan fasilitas yang tersedia. Diskusi partisipatif dengan masyarakat untuk menggali solusi potensial. Evaluasi upaya yang telah dilakukan, termasuk musyawarah warga, regulasi desa, dan program pengangkutan sampah. HASIL DAN PEMBAHASAN Desa Simpang Siguragura adalah sebuah kawasan yang terletak di Kecamatan Porsea. Kabupaten Toba. Sumatera Utara. Desa ini memiliki karakteristik geografis yang khas dengan bentang alam perbukitan serta aliran sungai yang melintasi wilayahnya. Sebelum menjadi desa mandiri. Simpang Siguragura merupakan bagian dari wilayah administratif desa lain, sehingga beberapa nama dusun atau kampung lama masih digunakan hingga saat ini. Desa ini dihuni oleh masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan membudidayakan ikan, dengan sistem sosial yang masih kental dengan nilai-nilai adat dan budaya setempat. Memiliki luas wilayah sebesar 150 Ha. Desa Simpang Siguragura terbagi atas beberapa dusun, yakni Dusun 1sebesar 70 Ha. Dusun 2 sebesar 70 Ha, dan Dusun 3 sebesar 10 Ha. Desa Simpang Sigura-Gura terletak pada ketinggian antara 932 hingga 1. 300 meter di atas permukaan laut dan dihuni oleh 946 jiwa. Komposisi penduduknya terdiri dari 453 laki-laki dan 494 perempuan. Secara demografis, 230 jiwa termasuk dalam kelompok usia 0-14 tahun, 650 jiwa berada dalam rentang usia produktif 15-64 tahun, dan 66 jiwa merupakan lansia berusia 65 tahun ke atas. Sektor pertanian mendominasi penggunaan lahan desa ini dengan luas sekitar 93 Ha, sementara perikanan mencakup 6 Ha. Selain itu, terdapat 1 Ha yang dimanfaatkan untuk sektor perdagangan darat dan 6 Ha untuk transportasi darat. Desa Simpang Siguragura terletak di daerah perbukitan, yang membuat tanahnya subur serta memiliki sumber air yang melimpah untuk mendukung aktivitas pertanian dan perkebunan masyarakat. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani, sementara yang lain berprofesi di bidang pendidikan maupun seni. Sekitar 80% dari total penduduk bergelut di sektor pertanian, dengan 10% di antaranya merupakan petani penggarap yang mengelola lahan milik orang laindan 10% pekerjaan Selain sektor pertanian, desa ini juga memiliki potensi wisata alam yang cukup berkembang dan sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Aktivitas masyarakat yang beragam, termasuk pertanian dan pariwisata, berkontribusi terhadap peningkatan volume sampah di desa ini, mulai dari limbah rumah tangga, limbah pertanian, hingga sampah dari kegiatan wisata. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, penyediaan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai, serta langkah-langkah strategis dalam mengelola dan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya. Sarana dan Prasarana Pendukung Di Desa Simpang Sigura Gura Berdasarkan hasil observasi, desa ini hanya memiliki beberapa Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang maupun fasilitas daur ulang yang memadai. Minimnya tempat sampah menyebabkan warga membuang sampah di lahan kosong atau sungai. Hanya terdapat satu unit truk sampah yang beroperasi seminggu sekali, yang tidak cukup untuk menampung volume sampah yang terus Kondisi Lingkungan Setelah kami tinjau lebih dalam permasalahan sampah yang terdapat pada Desa Simpang Sigura Gura, memahami kondisi lingkungan merupakan aspek yang sangat penting. Masyarakat di desa ini adalah petani, dengan sekitar 90% penduduk berprofesi di sektor pertanian. Dari jumlah tersebut, sekitar 85-90% merupakan petani penggarap yang mengelola lahan milik orang lain melalui sistem Selain itu, desa ini juga dilewati oleh Sungai Aek Mandosi, yang berperan penting dalam sistem irigasi pertanian masyarakat. Warga Desa Simpang Sigura Gura masih menghadapi permasalahan dalam pengelolaan sampah, yang dapat menjadi semakin serius jika tidak segera ditangani dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah setempat. Kebiasaan membuang sampah sembarangan masih sering ditemukan di berbagai lokasi, seperti di pinggir jalan, selokan, area persawahan, dan fasilitas umum lainnya. Hal ini terjadi akibat rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan lingkungan serta minimnya fasilitas dan sarana pengangkutan sampah. Akibatnya, sampah yang menumpuk tidak hanya menimbulkan bau tak sedap dan menciptakan lingkungan yang tidak sehat, tetapi juga berisiko menyumbat saluran air, yang dapat menyebabkan genangan hingga banjir. Sampah merupakan sisa dari hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang tidak lagi digunakan dan dibuang ke lingkungan, baik berasal dari rumah tangga maupun industri. Menurut Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, pengelolaan sampah mencakup berbagai jenis limbah, baik yang bersifat organik maupun anorganik, serta dapat terurai maupun tidak terurai. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah ini berpotensi mencemari lingkungan. Sebagian besar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) masih menggunakan sistem open dumping, yang menyebabkan pencemaran tanah, air, serta udara di sekitar lokasi dan dapat berdampak negatif pada kesehatan masyarakat. Di Desa Simpang Sigura Gura, masalah penumpukan sampah menjadi perhatian utama. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN), belum ditemukan adanya upaya pengelolaan sampah secara efektif oleh masyarakat, baik untuk sampah organik maupun non-organik. Sampah yang dikumpulkan umumnya hanya dibuang tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut. Bahkan, beberapa warga masih membuang sampah dengan cara memasukkannya ke dalam karung dan membuangnya langsung ke sungai, yang semakin memperburuk pencemaran lingkungan (Sulistianto & Taryono, 2. Keberagaman profesi penduduk di Desa Simpang Sigura Gura serta peningkatan taraf hidup masyarakat turut berkontribusi terhadap meningkatnya produksi sampah yang sulit dikendalikan. Permasalahan ini semakin diperburuk dengan semakin sempitnya lahan pekarangan rumah, sehingga masyarakat tidak memiliki cukup ruang untuk mengelola sampah yang mereka setiap harinya. Akibat keterbatasan fasilitas dan sarana pembuangan yang memadai, warga terpaksa membuang sampah ke dalam Sungai Aek Mandosi, meskipun mereka menyadari bahwa tindakan tersebut berdampak negatif terhadap lingkungan. Namun, karena kurangnya alternatif tempat pembuangan, masyarakat menganggap cara tersebut sebagai solusi yang paling mudah dan praktis. Kesejahteraan suatu desa dapat dilihat dari kondisi lingkungannya yang bersih dan terjaga. Namun, berbeda halnya dengan Desa Simpang Sigura Gura, yang masih menghadapi tantangan dalam menjaga kebersihan lingkungannya. Dampak negatif dari perilaku manusia terhadap lingkungan tidak dapat diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, diperlukan upaya nyata untuk mencari solusi yang tepat guna mengatasi permasalahan ini. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi langkah yang perlu diterapkan agar perubahan yang terjadi dapat membawa manfaat bagi masyarakat. Dengan adanya perbaikan dalam pengelolaan lingkungan, diharapkan kesejahteraan warga dapat meningkat secara berkelanjutan. Chaerul et al. mengkaji berbagai permasalahan dalam pengelolaan sampah di Indonesia, termasuk lemahnya regulasi, keterbatasan fasilitas pembuangan, minimnya penerapan pengomposan, serta pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) yang belum berjalan secara optimal. Sementara itu. Kardono . menyoroti beberapa indikator yang mencerminkan permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia, seperti tingginya jumlah sampah yang dihasilkan, rendahnya cakupan layanan pengelolaan sampah, terbatasnya ketersediaan TPA, kelemahan dalam kelembagaan pengelolaan sampah, serta keterbatasan anggaran yang dialokasikan untuk pengelolaannya. Kegiatan KPPM telah melakukan pemetaan wilayah untuk mengidentifikasi titik-titik permasalahan terkait pengelolaan sampah. Berdasarkan hasil pemetaan di Simpang Sigura Gura, ditemukan bahwa titik-titik penumpukan sampah tersebar di berbagai lokasi strategis, seperti di sekitar kantor desa, depan warung, di beberapa rumah warga, serta sepanjang jalan raya. Namun, beberapa wilayah tertentu masih sulit dijangkau oleh pemerintah desa, terutama di kawasan yang lebih terpencil, sehingga proses pengangkutan sampah menjadi tidak optimal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan akses serta minimnya infrastruktur yang mendukung pengelolaan sampah. Kebersihan lingkungan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Dari hasil penelitian yang dilakukan dalam kegiatan KPPM, ditemukan bahwa keterbatasan akomodasi pengangkutan sampah menjadi faktor utama yang menyebabkan sampah menumpuk di berbagai lokasi. Saat ini, pengangkutan sampah hanya dilakukan sekali dalam seminggu, sehingga sampah yang tidak terangkut semakin menumpuk dan berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan serta kesehatan Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan sistem pengangkutan sampah yang lebih efektif serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang Simpang Sigura Gura memiliki beberapa Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dengan jarak antar TPS yang jauh dan juga Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga sebagian besar masyarakat membuang sampah ke sungai atau membakarnya sebagai solusi sementara. Selain itu, di sepanjang jalan tidak tersedia fasilitas tempat sampah yang memadai sebagai sarana pendukung pengelolaan sampah. Keberadaan tempat sampah sangat penting dalam memilah sampah organik dan non-organik, namun ketersediaannya masih sangat terbatas. Kurangnya fasilitas pembuangan ini menyebabkan banyak rumah tangga tidak memiliki tempat pembuangan yang layak, sehingga berdampak pada kondisi lingkungan yang kurang bersih dan berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan. Simpang Sigura Gura belum memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga sebagian besar masyarakat masih membuang sampah ke sungai atau membakarnya sebagai solusi sementara. Selain itu, di sepanjang jalan tidak tersedia fasilitas tempat sampah yang memadai sebagai sarana pendukung pengelolaan sampah. Keberadaan tempat sampah sangat penting dalam memilah sampah organik dan non-organik, namun ketersediaannya masih sangat Kurangnya fasilitas pembuangan ini menyebabkan banyak rumah tangga tidak memiliki tempat pembuangan yang layak, sehingga berdampak pada kondisi lingkungan yang kurang bersih dan berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan Tingkat Kesadaran Masyarakat Desa Simpang Sigura Gura Masalah sampah di Desa Simpang Sigura Gura muncul akibat rendahnya kesadaran warga dan minimnya fasilitas pengelolaan. Sampah rumah tangga menjadi jenis limbah yang paling banyak dihasilkan, sementara keterbatasan Tempat Penampungan Sementara (TPS) membuat masyarakat membuang sampah sembarangan atau membakarnya, yang berisiko mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan (Ikhsandri, 2. Kesadaran warga terhadap pentingnya kebersihan masih rendah karena kurangnya sosialisasi mengenai sanitasi lingkungan (Rahman et al. , 2. Kebiasaan membuang sampah sembarangan terus berlanjut karena dipengaruhi faktor lingkungan. Selain itu, fasilitas pengangkutan sampah yang terbatas menyebabkan warga terpaksa mencari alternatif seperti membakar sampah, meskipun dapat merusak kualitas udara dan berdampak negatif pada kesehatan. Sebagai langkah penanganan, warga rutin mengadakan kegiatan kerja bakti untuk menjaga kebersihan lingkungan, yang menjadi bagian dari upaya sosial dalam mengelola sampah (Fitri, 2. Sayangnya, pemilahan sampah organik dan non-organik masih belum diterapkan secara maksimal, sehingga potensi daur ulang tidak dimanfaatkan dengan baik. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan edukasi dan penyuluhan mengenai metode pengelolaan sampah yang lebih baik agar kesadaran masyarakat meningkat. Dengan adanya program edukasi berkelanjutan, diharapkan masyarakat dapat mengubah kebiasaan lama dan mulai menerapkan pola hidup yang lebih ramah lingkungan. Upaya Penanganan Sampah di Desa Simpang Sigura Gura Masalah pengelolaan sampah di Desa Simpang Sigura Gura telah menjadi perhatian utama bagi masyarakat dan pemerintah desa. Meskipun sudah ada kesadaran akan dampaknya, upaya penanggulangannya masih menghadapi berbagai tantangan dalam implementasi. Penanganan sampah memerlukan waktu serta dukungan aktif dari seluruh elemen masyarakat agar berjalan efektif. Pemerintah desa telah menginisiasi berbagai langkah untuk mengatasi permasalahan ini. Dalam mengelola sampah, pedoman utama yang digunakan adalah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Paradigma masyarakat terkait sampah perlu diubahAibukan hanya sebagai limbah yang tidak berguna, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai manfaat jika dikelola dengan baik. Untuk itu, pemerintah desa telah melaksanakan beberapa program Penyerapan Aspirasi Warga melalui Musyawarah Dusun Melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan merupakan langkah penting dalam mencari solusi terhadap masalah sampah. Oleh karena itu, pemerintah desa mengadakan musyawarah warga di setiap dusun yang ada di Desa Simpang Sigura Gura. Melalui pertemuan ini, warga dapat menyampaikan permasalahan yang mereka hadapi serta memberikan masukan terkait pengelolaan Musyawarah ini bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan warga dalam menciptakan lingkungan masyarakat bersih dan sehat. Hal ini sejalan dengan pandangan Sastropoetro . bahwa keterlibatan aktif masyarakat sangat penting dalam mencapai tujuan bersama. Penyusunan Peraturan desa mengenai sampah. Untuk mendukung program pengelolaan sampah yang lebih terstruktur, pemerintah desa telah menyusun peraturan desa (Perde. terkait pengelolaan sampah. Regulasi ini menjadi pedoman hukum yang mengatur tanggung jawab masyarakat dalam membuang dan mengelola sampah. Dengan adanya peraturan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan serta memahami konsekuensi dari tindakan yang tidak sesuai aturan. Pembuatan Tempat Sampah dan edukasi sampah dari Bambu oleh KPPM UHN Medan Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan sampah di Desa Simpang Sigura Gura adalah kurangnya fasilitas pembuangan sampah yang memadai. Untuk mengatasi hal ini. Kelompok Pengabdian Pada Masyarakat (KPPM) Universitas HKBP Nommensen Medan berinisiatif membuat tempat sampah dari bambu sebagai solusi sederhana namun efektif. Tempat sampah berbahan dasar bambu ini dibuat dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan kearifan lokal, mengingat bambu mudah ditemukan dan ramah lingkungan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya serta mengurangi praktik pembuangan sampah sembarangan. Selain itu, dengan adanya fasilitas ini, diharapkan pengelolaan sampah di desa dapat lebih terorganisir. Gambar 1. Pembuatan tempat sampah dari bambu Program Pengangkutan Sampah Secara Rutin Sebagai langkah awal dalam pengelolaan sampah yang lebih baik, pemerintah desa dan warga telah sepakat untuk melaksanakan pengangkutan sampah rumah tangga secara rutin setiap minggu. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat kendala seperti keterbatasan armada dan ketidakpastian jadwal pengangkutan. Beberapa warga bahkan harus menyewa kendaraan sendiri agar seluruh sampah dapat terangkut. Evaluasi dan perbaikan jadwal pengangkutan terus dilakukan agar program ini berjalan lebih efektif. Peran Karang Taruna dalam Penanganan Sampah Pemerintah desa menyiapkan strategi jangka panjang dalam menangani permasalahan sampah. Salah satu langkah yang diambil adalah melibatkan Karang Taruna dalam program pemanfaatan Karang Taruna diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam mengedukasi warga tentang pengelolaan sampah serta mengembangkan inisiatif daur ulang. Akhtar & Soetjipto . menekankan bahwa peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga dalam mengelola sampah rumah tangga sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Saat ini, program ini masih dalam tahap perencanaan, namun inisiatif ini menunjukkan bahwa pemerintah desa memiliki komitmen kuat untuk menciptakan gerakan yang berkelanjutan. KESIMPULAN Permasalahan sampah di Desa Simpang Sigura Gura masih menjadi tantangan besar akibat rendahnya kesadaran masyarakat dan keterbatasan sarana pengelolaan sampah. Berdasarkan hasil Program KPPM (Kuliah Pengabdian dan Pemberdayaan Masyaraka. , masyarakat cenderung membuang sampah sembarangan dan melakukan pembakaran sampah sebagai solusi cepat. Hal ini diperburuk dengan kurangnya fasilitas seperti tempat sampah. Tempat Penampungan Sementara (TPS), serta armada pengangkut sampah yang memadai. Sebagai bagian dari Program KPPM, berbagai upaya telah dilakukan untuk menangani permasalahan ini, seperti musyawarah warga untuk meningkatkan kesadaran, penyusunan regulasi desa tentang pengelolaan sampah, serta pembuatan tempat sampah berbahan bambu yang lebih ramah Selain itu, program pengangkutan sampah secara rutin mulai diterapkan meskipun masih menghadapi kendala operasional. Peran aktif Karang Taruna dalam pemanfaatan sampah dan edukasi masyarakat juga menjadi langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan program ini. Agar pengelolaan sampah di desa ini lebih efektif, diperlukan kerja sama yang lebih erat antara masyarakat dan pemerintah desa, terutama dalam penyediaan infrastruktur yang memadai serta peningkatan edukasi mengenai pentingnya kebersihan lingkungan. Dengan penerapan strategi yang tepat dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, diharapkan Program KPPM dapat membantu Desa Simpang Sigura Gura dalam membangun sistem penanganan sampah yang lebih terkoordinasi, untuk menciptakan lingkungan kita yang lebih sehat serta berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA