Jurnal Agroteknologi. Vol. 16 No. Agustus 2025: 1Ae10 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . STRATEGI PENGELOLAAN PENYIMPANAN KEDELAI (Glycine max L. ) TERHADAP SERANGAN KUMBANG KACANG TUNGGAK (Callosobruchus maculatu. (Storage Management Strategy for Soybean (Glycine max L. ) against Cowpea Weevil (Callosobruchus maculatu. ) MUTALAAoLIAH*. ROBI AZIZ ARIFIANTO. SUSILO YUDO SARDONO. Program Studi Proteksi Tanaman. Jurusan Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Jenderal Soedirman Jalan Dr. Soeparno No. Karang Bawang. Grendeng. Purwokerto Utara. Banyumas. Jawa Tengah 53122 *E-mail: mutalaliah@unsoed. ABSTRACT Pests and diseases often cause damage to post-harvest commodities. Callosobruchus maculatus is a type of storage insect that damages legume commodities, especially soybeans. This insect cause damage on bean commodities, especially during the storage process. Chemical pesticides are an alternative material which is a quite effective in controlling postharvest pests and diseases. However, pesticide have several side effects on human health and the environment. Therefore, the control action should integrate several compatible methods by applying the principles of integrated of stored product pest management. This review aimed to elaborate various control method to reduce C. maculatus population and increasing soybean productivity. Several techniques regarding on pest control that could be used in controlling C. maculatus comprises of the use of vacuum packaging, storage sanitation, physical control, the use of plant-based pesticides, gamma radiation, and fumigation. By integrating the control techniques, also taking into account in the principal of integrated stored product pest management could be used as a basis of managing stored product pest population in the storage, so that it could suppress the C. maculatus population and reduce the damage on stored commodities both in quality and quantity. Key words: Bruchid, management, pest, storage PENDAHULUAN Peningkatan kebutuhan pangan di Indonesia didukung dengan adanya pertambahan jumlah penduduk dan permintaan pasar yang semakin tinggi (Akbar et al. Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022, pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya kebutuhan pangan nasional. Selama periode 2020 2022, jumlah penduduk Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, mencapai 275 juta jiwa. Pertumbuhan populasi yang pesat menuntut adanya peningkatan produksi dan distribusi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara merata, sekaligus menjadi tantangan bagi sektor pertanian dan distribusi pangan di Indonesia (Zulfa 2. Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan yang memiliki peran strategis di Indonesia, menempati posisi penting setelah beras dan jagung. Berdasarkan data BPS, kebutuhan nasional kedelai hingga Desember 2023 diperkirakan mencapai 2,7 juta ton. Namun, produksi kedelai domestik masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga pemerintah harus mengandalkan impor untuk menutupi kekurangan tersebut (Grace et al. Kegiatan impor seringkali melibatkan proses penyimpanan produk dalam jangka waktu panjang, baik di gudang maupun dalam proses distribusi. Selama proses ini, produk dapat terpapar oleh kondisi lingkungan yang kurang ideal, seperti kelembapan tinggi atau suhu tidak stabil sehingga memicu timbulnya serangan hama dan penyakit pascapanen. Prakash et al. menyebutkan bahwa kerugian selama periode pascapanen dapat mencapai 10%, sementara kerusakan akibat penyimpanan produk diperkirakan sekitar 6%. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penerapan tindakan pengelolaan komoditas yang tepat untuk melindungi kedelai dari serangan hama dan penyakit selama proses pascapanen dan penyimpanan. Salah satu hama pascapanen utama kacang kedelai adalah Callosobruchus maculatus. Fase merugikan dari spesies hama ini adalah fase larva. Larva akan memakan biji yang disimpan Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. sehingga menyebabkan terjadinya kerugian secara kualitatif maupun kuantitatif (Abdullahi et al. Pengendalian serangan hama ini menjadi fokus pembicaraan penting pada beberapa Pencegahan dan pengendalian hama seringkali dilakukan melalui penggunaan pestisida kimia, seperti metil bromida dan fosfin terutama untuk mengendalikan hama yang tergolong dalam Ordo Coleoptera (Singh & Sharma 2. Pengendalian C. maculatus menggunakan fumigan fosfin teruji efektif namun dapat memberikan beberapa efek samping bagi kesehatan manusia (Athanassiou et al. Dengan demikian, pengendalian hama C. maculatus harus dilakukan secara sistematis untuk mencegah terjadinya kerugian pada produk pascapanen kacang kedelai. Upaya pengendalian difokuskan pada efektivitas berbagai metode pengendalian dengan menerapkan prinsip Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT) untuk memperoleh hasil yang optimal. Tinjauan ini akan membahas potensi dan efektivitas berbagai strategi pengendalian hama C. Penilaian terhadap aplikasi metode pengendalian sangat diperlukan untuk memastikan bahwa upaya pengendalian tidak hanya efektif dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan dan ramah Cowpea Weevil (Callosobruchus maculatu. Hama Callosobruchus maculatus merupakan spesies serangga yang berasal dari Benua Afrika. Hama ini kemudian menyebar ke wilayah tropis dan subtropis di dunia (Garima et al. Serangga C. maculatus disebut juga sebagai cowpea weevil yang menyerang kacang-kacangan di tempat penyimpanan. Serangga C. maculatus merupakan hama gudang primer yang menyerang kedelai selama proses penyimpanan. Hama ini merusak dengan cara menggerek dan memakan bagian dalam biji kedelai (Destiana 2. Menurut Hakim . , kerusakan pada kacang yang disebabkan oleh serangga C. maculatus selama penyimpanan dimulai dengan perilaku bertelur . serangga betina dewasa pada bagian kotiledon biji kacang. Serangga C. maculatus termasuk ke dalam ordo Coleoptera subfamili Bruchidae dan famili Chrysomelidae. Secara morfologi, hama ini berwarna merah kecoklatan dengan bintik-bintik putih kekuningan yang tampak pada bagian abdomennya. Serangga C. maculatus dapat berkembang biak dengan cepat dan membutuhkan waktu sekitar 30-35 hari untuk menyelesaikan siklus Stadia menyerang dari serangga ini ialah fase larva dengan masa hidup larva di dalam biji antara 9 Ae 11 hari. Larva C. maculatus menggunakan tipe mulut penggigit-pengunyah untuk mengunyah makanannya. Larva tidak dapat berpindah antar biji karena keterbatasan perkembangan alat gerak serta ukuran tubuh yang kecil, sehingga larva hanya bergantung pada biji tepat induknya meletakkan telur. Oleh karena itu, perilaku oviposisi serangga betina dapat menentukan kelangsungan hidup keturunannya (Fatima et al. Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Devi . juga menunjukkan bahwa larva C. maculatus tumbuh dan berkembang di dalam biji hingga menjadi imago. Imago betina dapat bertelurhingga 150 butir. Serangga C. maculatus mulai menyerang biji sejak di lapangan hingga saat penyimpanan, serangan tersebut dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 70% (Nuraini et al. maculatus hidup dengan baik pada suhu 32 AC dengan kelembapan 90%. Pada kondisi tersebut, imago muncul pada umur 3-4 minggu setelah bertelur. Imago hama ini memiliki umur yang pendek, yaitu hanya sekitar 7 hari, sedangkan pada kondisi laboratorium dapat bertahan hingga 14 hari. Selama fase imago, hama tidak membutuhkan makanan atau air (Fatimah et al. Ukuran imago hama ini berkisar antara 2-4 mm dengan kepala agak runcing, berwarna cokelat kekuningan, serta terdapat taji pada bagian luar dan dalam tungkai belakang. Fase imago C. maculatus memiliki kemampuan terbang yang terbatas, sehingga hama ini sebenarnya sudah ada sejak masih di lapangan namun baru dapat berkembang biak dengan baik selama penyimpanan. Penggunaan Kemasan Kedap Serangan hama gudang selama proses penyimpanan menjadi masalah utama apabila tidak dikendalikan dengan efektif. Persentase kehilangan hasil akibat hama gudang dapat mencapai 1015%. Serangga C. maculatus merupakan hama yang bersifat aerobik, artinya kemampuan hidup serangga atau mikroorganisme lain sangat ditentukan oleh kadar air bahan dan ketersediaan oksigen dari dalam ruang penyimpanan. Penerapan pengemasan vakum diharapkan dapat melindungi benih dari serangan serangga hama selama penyimpanan (Destiana 2. Kemasan kedap udara dapat membatasi kemampuan hidup serangga, sesuai dengan batas ambang oksigen akibat tidak adanya sirkulasi oksigen di dalam ruangan tersebut. Ketika kandungan oksigen tidak mencukupi, maka serangga akan mati (Murdock et al. Teknologi pengemasan vakum merupakan pendekatan baru untuk memperpanjang daya tahan dan kualitas hasil pertanian pascapanen. Pengemasan vakum memanfaatkan metode pengemasan dengan menghilangkan udara dari kemasan dan menyegelnya secara kedap udara serta menghilangkan oksigen dari sekitar biji-bijian yang akan kita simpan. Ketersediaan oksigen yang Jurnal Agroteknologi. Vol. 16 No. Agustus 2025: 1Ae10 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . minim mengakibatkan serangga tidak dapat bertahan hidup dan juga komoditas simpan berupa bijibijian dapatmempertahankan sifat alaminya dan meningkatkan umur simpan (Meena et al. Kemasan vakum dapat dibuat menggunakan bahan plastik. Pemilihan jenis plastik yang tepat dapat berdampak signifikan terhadap ketersediaan karbon dioksida dalam kemasan. Plastik hermetik adalah jenis kantong plastik yang mampu menciptakan lingkungan hermetik atau tertutup. Keunggulan plastik hermetik adalah kemampuannya untuk meminimalkan pengaruh dari lingkungan luar, seperti air dan udara, sehingga kondisi di dalam kemasan tetap terjaga (Agus & Rogomulyo. Dengan demikian, penggunaan plastik hermetik sangat sesuai untuk menyimpan dan mengawetkan hasil panen biji-bijian di daerah tropis yang panas dan lembap. Produk yang dikemas dalam kantong hermetik tertutup mengalami penurunan kadar oksigen dan peningkatan karbon dioksida dengan cepat. Kondisi tersebut mengakibatkan penurunan jumlah serangga, cendawan, dan hama (Njoroge et al. Plastik hermetik memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan plastik berbahan High-density Polyethylene (HDPE), karena lebih efektif untuk melindungi kedelai yang disimpan dari serangan hama C. Hal ini disebabkan oleh kemasan plastik hermetik dapat menciptakan kadar karbon dioksida yang lebih tinggi dibandingkan plastik HDPE. Kemasan hermetik memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap serangga dibandingkan kemasan HDPE. Kemasan hermetik secara signifikan memengaruhi konsentrasi gas CO2 dan O2, yang menyebabkan kematian C. maculatus mencapai 100% pada hari keempat Selain itu, persentase biji yang terinfestasi telur dalam kemasan hermetik adalah 5,4%, yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan kemasan HDPE yang mencapai 26,23% (Destiana 2. Kebersihan gudang penyimpanan Penyimpanan merupakan salah satu tindakan penanganan pascapanen yang sangat penting. Secara keseluruhan, kerusakan yang disebabkan oleh serangan hama terhadap bahan pangan di gudang mencapai 5-10%. Secara umum, terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi keberadaan hama gudang pada komoditas bahan pangan yang disimpan. Faktor-faktor ini meliputi kondisi komoditas atau bahan yang disimpan, keadaan gudang, serta iklim mikro di dalam gudang yang dapat memengaruhi tingkat kerusakan komoditas tersebut. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan awal kualitas komoditas, menjaga kebersihan gudang, serta melakukan perawatan fisik terhadap fasilitas gudang (Pitaloka 2. Pemeriksaan awal komoditas menjadi tahap yang penting dalam menjaga kualitas kedelai dari serangan hama maupun penyakit. Pemeriksaan kualitas awal kedelai dapat dilakukan menggunakan sampel yang sudah memenuhi standar. Menurut Anwar . sebelum beras disimpan di gudang, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa beras tersebut memenuhi standar (MS). Setelah melewati pemeriksaan dan pengambilan sampel, maka beras dapat disimpan di gudang. Namun, jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa beras tidak memenuhi standar (TMS), maka beras tersebut tidak diperbolehkan untuk masuk gudang. Salah satu syarat penyimpanan adalah jumlah butir patah tidak lebih dari 2 butir, dan pemeriksaan ini dilakukan sebanyak tiga kali. Pemeriksaan kualitas komoditas berupa kadar air yang terkandung pada komoditas menjadi poin penting sebelum komoditas disimpan di gudang. Kegiatan sanitasi gudang penyimpanan pascapanen merupakan aspek krusial dalam menjaga kualitas produk pertanian dalam simpanan. Kegiatan yang dilakukan meliputi pembersihan rutin, mengatur suhu dan kelembaban, serta menggunakan insektisida secara bijaksana dapat meminimalisir kerugian akibat serangan hama. Sanitasi dan pemeriksaan rutin pada area penyimpanan ini dilaksanakan setiap tiga bulan sekali (Nuraini et al. Selain itu, sanitasi dapat dilakukan melalui pemeliharaan fisik gudang. Tujuan dari pemeliharaan kondisi fisik gudang ini adalah untuk memastikan kondisi gudang tetap optimal untuk penyimpanan produk. Kegiatan yang dilakukan terkait dengan pembersihan rutin ialah berupa pembersihan lantai gudang dari debu dan ceceran komoditas yang dapat menarik hama, perbaikan struktur gudang dengan memastikan tidak ada kerusakan pada dinding, atap, dan struktur lainnya yang dapat memengaruhi kualitas penyimpanan, serta pemeriksaan sistem ventilasi yang baik untuk menjaga sirkulasi udara, dan pengaturan suhu dan kelembapan gudang. Pengendalian fisik Pengendalian fisik dapat dilakukan melalui proses pengeringan pada komoditas pertanian. Kacang kedelai yang dikeringkan terlebih dahulu pada suhu 35 AC memiliki ketahanan yang lebih baik selama proses penyimpanan dibandingkan dengan kedelai yang disimpan tanpa melalui proses pengeringan (Coradi et al. Pengeringan yang optimal dapat dilakukan dengan alat pengering yang mudah dioperasikan. Proses ini membantu mencegah terjadinya kontaminasi serta Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. menurunkan kadar air, sehingga pertumbuhan mikroorganisme dapat ditekan dan kualitas kedelai tetap terjaga selama masa penyimpanan. Berbagai aspek dalam proses pengeringan dan kondisi penyimpanan harus diperhatikan untuk mempertahankan kualitas kacang kedelai (Izzati 2. Selain proses pengeringan, pengendalian secara fisik menggunakan suhu tinggi menjadi alternatif untuk mengendalikan C. maculatus pada produk yang disimpan (Karimzadeh et al. Suhu tinggi dan kelembapan yang rendah secara efektif dapat menghambat perkembangan embrio maculatus (Adebayo & Anjorin 2. Bingham et al . melaporkan bahwa peningkatan suhu ruang pada proses penyimpanan biji-bijian menjadi 50 Ae 60 AC selama minimal 24 jam dapat mengendalikan serangga hama gudang. Sementara Mobarakian et al. melaporkan perkembangan populasi C. maculatus dapat dihentikan melalui pengurangan suhu. Pendinginan aerasi pada suhu 17 AC sesegera mungkin setelah proses panen dapat meminimalkan pertumbuhan populasi C. maculatus dan mengurangi kerusakan kacang kedelai sebelum dilakukan pengendalian dengan cara lain (Daglish et al. Barbosa et al. menemukan bahwa radiasi gelombang mikro dengan tingkat daya gelombang mikro 240 W pada frekuensi 2450 MHz selama 120 Ae 150 detik dapat mematikan C. Selain itu, spektrum cahaya merupakan faktor penting dalam mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh C. Berdasarkan laporan Kehinde et al. , tingkat kematian tertinggi hama ini dicapai saat terpapar cahaya berwarna putih. Lebih lanjut, pada cahaya merah dan biru juga terbukti efektif membunuh hama tersebut dengan menggunakan lampu listrik berdaya 25 W. Metode lain sebagai pengendalian fisik dapat dilakukan melalui radiasi sinar gamma. Teknologi radiasi, terutama radiasi sinar gamma merupakan perkembangan teknologi yang dapat dimanfaatkan sebagai metode desinfeksi produk pertanian. Penelitian oleh (Ashraf et 2. mengungkapkan bahwa iradiasi pada imago secara signifikan mengganggu reproduksi C. Aplikasi iradiasi gamma menurunkan daya tetas telur dan kegagalan larva untuk bertahan hidup pada fase perkembangan lanjutan. Perlakuan radiasi sinar gamma oleh Ibrahim et al . dengan memanfaatkan sinar gamma, sumber Coblat -60. Produk ditempatkan pada ruang radiasi dengan jangka waktu dan dosis tergantung yang dibutuhkan. Menurut Soumya . dosis penyinaran 10 Gray (G. dapat menghasilkan daya tetas telur sebesar 56,56%. Dosis penyinaran yang lebih tinggi, sekitar 40 Gy dapa t menyebabkan terjadinya 100,00% sterilitas pada C. maculatus betina dewasa, sedangkan C. jantan dewasa memerlukan 60 Gy untuk memperoleh 96,90% sterilitas. Hammad et al. juga melakukan penelitian yang sama pada 100 g biji kacang kedelai d engan dosis penyinaran 650 Gy. Hasil mengungkapkan bahwa untuk penghambatan total C. dewasa membutuhkan dosis penyinaran lebih tinggi dari 100 Gy. Radiasi sinar gamma menjadi salah satu alternatif pengendalian C. Telur C. maculatus sangat sensitif terhadap paparan tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap perkecambahan biji sehingga tidak merusak produk (Abd et al. Radiasi sinar gamma juga tidak menggunakan bahan kimia beracun sehingga aman bagi konsumen dan Food and Agriculture Organization (FAO) mengakui bahwa iradiasi sinar gamma merupakan metode aman untuk pengendalian hama dan penyakit, serta diakui secara internasional sebagai teknik yang tidak memerlukan bahan kimia. Namun, pemanfaatan perlakuan ini membutuhkan investasi biaya yang cukup besar. Selain itu, terdapat beberapa regulasi penggunaan radiasi pada produk pangan yang berbeda pada setiap negara untuk memenuhi standar keselamatan yang berlaku (Gideon et al. Dengan demikian, pengendalian fisik melalui pemanfaatan MA, perlakuan suhu, maupun perlakuan penyinaran efektif menghambat hingga mematikan C. Pengendalian dengan Pestisida Nabati Pengendalian hama di gudang umumnya lebih banyak menggunakan insektisida dan fumigan sintetis (Pohan 2. Pengendalian tersebut merupakan metode pengendalian hama tercepat. Penggunaan insektisida dan fumigan sintetis dinilai memiliki biaya tinggi, berpotensi mencemari lingkungan, serta dapat menimbulkan risiko bagi konsumen. Pada level petani, pengendalian hama gudang sering dilakukan dengan mengumpulkan dan memusnahkan imago secara mekanik. Namun, metode ini dianggap kurang efektif dalam skala besar atau pada kondisi kerusakan yang parah, karena larva yang hidup dalam biji masih bisa bertahan hingga tahap penyimpanan berikutnya (Siahaya 2. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan insektisida yang lebih aman dan ramah lingkungan. Ekstrak biji Annona reticulata terbukti sangat efektif sebagai insektisida untuk mengendalikan hama C. maculatus (Siahaya 2. Menurut penelitian Nagmouchi & Benammar . , daun A. reticulata mengandung berbagai senyawa kimia, di antaranya alkaloid, steroid, flavonoid, tanin, kuinon, glikosida, senyawa fenolik, asam amino, karbohidrat, dan protein. Acetogenin merupakan Jurnal Agroteknologi. Vol. 16 No. Agustus 2025: 1Ae10 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . rangkaian poliketida, senyawa ini dapat ditemukan di beberapa famili tumbuhan Annonaceae yang berasal dari Asia. Amerika Utara, dan Selatan (Liaw et al. Acetogenin dikenal memiliki beragam manfaat karena strukturnya yang kaya dan aktivitas biologis yang kuat, seperti kemampuannya membunuh serangga dan tungau. Menurut Bernardi et al. , ekstrak yang mengandung Acetogenin dapat memengaruhi pertumbuhan, pola makan, dan cara bertelur Ekstrak biji A. reticulata dapat diaplikasikan dengan melarutkannya ke dalam etanol. Penggunaan larutan A. reticulata pada konsentrasi 0,45% menyebabkan kematian dan kelumpuhan maculatus hingga 100% (Siahaya 2. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa biji A. reticulata memiliki potensi besar sebagai bahanpestisida nabati dalam pengendalian C. Ekstrak biji Schleicera oleosa juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama C. Bria et al. melaporkan bahwa ekstrak biji S. berpotensi sebagai insektisida nabati, dengan toksisitas mencapai lebih dari 80% pada konsentrasi Hasil pengujian menunjukkan bahwa persentase kematian C. maculatus mencapai 88,33% pada perlakuan konsentrasi 1% ekstrak biji S. Tingkat kematian ini disebabkan oleh racun dalam ekstrak yang masuk ke tubuh serangga melalui sistem pernapasan atau pori-pori pada kutikula dan alat mulut, yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh imago C. maculatus melalui aliran darah sehingga menyebabkan kematian. Serangga yang mati akibat perlakuan ini menunjukkan perubahan warna menjadi pudar. Senyawa metabolit sekunder yang ditemukan dalam S. oleosa meliputi flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid (Holil & Griana 2. Flavonoid berfungsi sebagai penghambat nafsu makan serangga, mengurangi aktivitas makan serangga dan berperan sebagai agen pelindung bagi Saponin berperan sebagai zat anti-feeding atau penolak makan yang efektif terhadap serangga, sehingga mencegah kerusakan tanaman lebih lanjut. Tanin, sebagai bahan aktif, bekerja dengan mekanisme racun kontak dan racun perut pada serangga, yang menjadikannya sebagai senyawa pengendali hama alami. Selain itu, terpenoid memiliki beragam fungsi, termasuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan hama serangga, bertindak sebagai repellent, serta mencegah perkecambahan benih gulma dan berperan sebagai antimikroba yang melindungi tanaman dari patogen. Tanaman srikaya (Annona squamos. merupakan alternatif pestisida nabati yang efektif untuk mengendalikan hama dari genus Callosobruchus. Tepung biji srikaya dengan dosis 4 g per 100 g biji kedelai mampu mengendalikan C. analis dengan hasil awal kematian hama dalam 14,5 jam, nilai LT50 . ethal time untuk 50% populas. selama 34 jam, tingkat kematian harian sebesar 32,5%, total mortalitas mencapai 80%, jumlah keturunan hanya 19,25 individu, dan penyusutan berat biji kedelai sebesar 1,93%. (Insani & Salbiah 2. Tepung biji srikaya mengandung squamosin dan annonain yang merupakan dua senyawa dalam golongan asetogenin. Senyawasenyawa ini dapat memengaruhi mortalitas hama C. analis pada kedelai yang disimpan. Squamosin bertindak sebagai racun perut yang menyebabkan gejala pada hama C. analis seperti pergerakan yang menurun, penurunan nafsu makan, dan kejang-kejang yang ditandai dengan terbukanya kedua sayap serta pembengkokan tungkai, sehingga menyebabkan kematian pada serangga (Subagiya & Nurchasanah 2. Pemanfaatan bahan alami, seperti bubuk cengkeh, kemangi suci, serai, dan kunyit, telah terbukti efektif dalam pengendalian hama C. maculatus (Mario et al. Bahan-bahan ini dapat dijadikan sebagai insektisida nabati yang mampu menyebabkan tingkat mortalitas tinggi hingga 100%, sekaligus berperan dalam mencegah oviposisi atau menurunkan kesuburan, serta menghambat produksi keturunan F1 (Mario et al. Efektivitas tersebut dikarenakan tanaman memiliki senyawa organik volatil atau volatile organic compounds (VOC) yang bersifat anti-hama, seperti eugenol . ,64%) dan caryophyllene . ,09%) dalam bubuk cengkeh, estragole . ,13%) dalam kemangi suci, -Citral . ,88%) dalam serai, dan -Zingiberene . ,22%) dalam kunyit (Mario et al. Mekanisme toksisitas dari bahan alami tersebut bekerja dengan menyerang sistem pernapasan serangga (Hamza et al. Serangga dewasa yang terpapar tidak mampu bertahan hidup lebih lama, sehingga aktivitas kawin dan bertelur menurun secara signifikan. Hal ini berdampak pada penurunan tingkat kesuburan serta jumlah keturunan F1 (Mario et al. Selain itu, senyawa volatil yang terkandung dalam bahan alami berperan dalam menurunkan tingkat keberhasilan penetasan telur. VOC dapat menembus korion telur serangga melalui mikropil, sehingga menyebabkan kematian embrio atau larva sebelum berkembang lebih lanjut (Zafar et al. Efek toksisitas aplikasi insektisida nabati terhadap serangan C. maculatus bervariasi tergantung pada dosis yang digunakan. Penyemprotan serbuk cengkeh terbukti dapat menyebabkan kematian total serangga meskipun dengan dosis perlakuan yang rendah. Sementara Jurnal Agroteknologi | DOI: 10. 24014/ja. itu, penggunaan bubuk kemangi suci, serai, dan kunyit juga dalam mengendalikan hama. Namun, memerlukan dosis yang lebih tinggi untuk mencapai tingkat kematian total (Mario et al. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kedia et al. , yang menyatakan bahwa konsentrasi dosis insektisida nabati berperan penting dalam menentukan efektivitas serta aktivitas pengendaliannya terhadap hama. Pengendalian hayati lain yang berpotensi dapat diterapkan untuk mengendalikan hama C. Maculatus yaitu serbuk rimpang jahe. Menurut Mario et al. bubuk jahe memiliki kandungan senyawa alkaloid, monoterpene, diterpene, sesquiterpene, dan gingerol. Perlakuan bubuk jahe dengan dosis 3 g dapat mengendalikan hama C. chinensis lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya berupa kontrol dan bubuk ketumbar. Perlakuan bubuk jahe 3 g terbukti lebih efektif dibandingkan perlakuan kontrol dan bubuk ketumbar dalam mengendalikan C. karena tingkat serta kecepatan mortalitas imago infestasi C. chinensis lebih tinggi dibandingkan perlakukan kontrol dan bubuk ketumbar. Gaseous effect Tekanan konsumen untuk mengurangi penggunaan bahan kimia dalam pengendalian serangga mendorong munculnya tren metode pengendalian alternatif yang tidak beracun dan ramah lingkungan (Guedes et al. Modified atmospheres (MA) menjadi teknik alternatif fumigasi yang tidak beracun dan ramah lingkungan untuk mengendalikan serangga hama Serangga C. maculatus dapat dikendalikan metode gaseous effect dengan peningkatan CO2 diikuti dengan pengurangan O 2 dan N2 pada gudang penyimpanan kedelai pascapanen (Ingabire et al. Hal tersebut sesuai dengan laporan Rajasri et al. yang menyatakan bahwa modifikasi atmosfer dengan peningkatan konsentrasi CO 2 lebih tinggi dapat mencegah komoditas dalam simpanan dari kerusakan serangga dan juga dapat mempertahankan tingkat viabilitas dan kualitas benih pada masa simpan. Kerentanan hama terhadap paparan MA menunjukkan variasi berbeda. Fase telur mengalami kematian mencapai 100% setelah 48 jam paparan sedangkan fase pupa mengalami kematian setelah 120 jam paparan. Kematian mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya waktu paparan CO 2 (Bourne-Murrieta et al. Metode fumigasi telah mengalami perkembangan pesat dalam upaya mengendalikan hama Callosobruchus maculatus. Salah satu metode yang paling umum digunakan adalah fumigasi dengan senyawa fosfin sebagai bahan aktif utama (Arora & Srivastava 2. Fosfin dikenal efektif dalam membasmi berbagai jenis hama, namun penggunaannya tidak lepas dari berbagai Selain menimbulkan risiko keselamatan bagi pekerja yang terpapar, fosfin juga berdampak negatif terhadap lingkungan dan dapat meningkatkan biaya operasional, terutama dalam hal perawatan dan pengelolaan dampak kesehatan (Norwood 2. Penggunaan gas ECO 2FUME merupakan salah satu alternatif penggunaan fumigasi fosfin pada komoditas yang mudah rusak dan menjadi gas fumigasi ramah lingkungan (Su Kim et al. ECO2FUME merupakan gas fumigasi yang mengandung formulasi 2% PH3 dalam CO2 sehingga dapat meningkatkan toksisitas dan meminimalkan kelangsungan hidup serangga (Cato et Pada dosis 50 g/mA, perlakuan gas ini mampu mencapai tingkat mortalitas 100% pada serangga dewasa, sehingga menghambat kemampuan serangga untuk melanjutkan siklus hidupnya ke tahap perkembangan selanjutnya (Amin et al. Selain itu, aplikasi fumigasi tersebut memberikan dampak signifikan terhadap penurunan produktivitas serangga hama, terutama dalam menekan keberhasilan reproduksi jantan, mengganggu proses oviposisi betina, serta menurunkan tingkat keberhasilan penetasan telur (Chiluwal et al. Efektivitas ini menjadikan ECO 2FUME sebagai alternatif pengendalian hama yang potensial dalam perlindungan komoditas pascapanen. PENUTUP Serangga C. maculatus merupakan hama utama pada komoditas kacang kedelai dalam simpanan yang dapat menyebabkan kerugian signifikan dengan menurunkan kualitas dan kuantitas produk dalam simpanan. Strategi pengendalian yang efektif, terutama melalui pendekatan ramah lingkungan dan berkelanjutan dibutuhkan untuk pengelolaan produk pascapanen. Beberapa rekomendasi pengendalian serangga hama C. maculatus yang dapat dilakukan ialah penggunaan kemasan kedap, sanitasi gudang penyimpanan, pengendalian fisik, pemanfaatan bahan alami, radiasi sinar gamma, hingga metode fumigasi. Alternatif pengendalian yang digunakan harus mempertimbangkan biaya yang efektif, aman, dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi Dengan demikian, teknik pengendalian yang dilakukan dapat menekan terjadinya penyusutan kualitas maupun kuantitas pada komoditas yang disimpan. Jurnal Agroteknologi. Vol. 16 No. Agustus 2025: 1Ae10 DOI: 10. 24014/ja. Available online at https://ejournal. uin-suska. id/index. php/agroteknologi/ ISSN 2356-4091 . ISSN 2087-0620 . DAFTAR PUSTAKA