Ketika Agama Menyejarah I(omantddin lltdayat cila y-dl e UUyl -#,J.e z,-ul-b> .rl;ty'l o\ ,t -6 tt.ltr:)J Ju! rl! e-rbll J'r.-, .rii +,-gt--JtrlL:Yl -+Vs lt', Q .rL,l-r,o)tJt #, gil+ c;i;l r, I Ul r*i9-ut )-, ){ grcl ;;.rll ,.(Jt -rr-rlt U"6r. oUft d a-riJt ,;Jt-9 ir-r-rJt ,stt rf .:!J ! ;r.(Jr .rlp:lt :bl e ,*61 I Ur C crJ.> Q sSl-r-tSs-f *S -e F+---r th--h & otJlt rtill JLa.llli^ Jyr .f .'-t(Jl JsV:.t-6+ .6:.rlt i;Jt et: ipt ;r6;1-t: .,;IJt,r+r_ y 6jJt ;,.rJl .g--+frrl t--J Ji 6 vfjcrlS,,+Jt ei:;l dl illryl .,1t .K-, cs-5':-ItJl -b L+ 6l -r.*;r ) l)U .l:l .r,r!:)l ..:Jb,J q.gl a-;;!f ,J lUt ,Vt ,2 c^,.:; dr i/uJf vs)t .#rJl ., ,,eruJl \-{ eL-; s2ir:.rJt..''t- g.iJt,t-ll 7-i.jt .ii-UiiYl9 q.:.r*ll il-' ;re J-a+ 98 Al-lfm{ah,Yol. 40,No. 1,January- June2ffi2 Komaruddin Hidayat KetikaAgamaMenveiarah Abstract Religions, especially Abrahamic religions, are having a great role in building human civilization in the world. History recorded that some of the greatestwonders of the world, such as pyramid in Egypt, Borobudur Temple in Indonesia, and some enorrnous buildings in Greecehave been built under the spirit of religion. since the great role of religions nowadays religion is always attachedto actualphenomena in the frameworkof changes in the world. This article is trying to understand religion without the border of language and culture that is local and particularistic. Abrahamic religions normatively and theologically do not share many differences.However, pragmatically and historically their differences are the big problems of the world. Most of the bloody wars that happened in some parts of the world lately are fueled by religious disagreements. Finally, pragmatically the writer explains the role of religion in the development of great civilizations in the worid, including the role of religion in the democratization of Indonesia. For it, to be a democratic state, pluralism and inclusivism in understanding religion should be the heart of Indonesian society. A. Pendahuluan ampir semuaperabadanbesaryangpernahtumbuh di muka bumi pada mulanya dimotivasi oleh keyakinan agama. Berbagai monumen peradaban semacam bangunan piramid di Mesir, candi Borobudur di Jawa Tengah, dan sekian banyak banyak kuno di Yunani semua itu berdiri karena dorongan keyakinan agama. Belum lagi ratusan bangunan gereja yang begitu megah di Eropah dan masjid yang amat monumental di Makkah dan Madinah adalah bukti nyata kekuatan dan kontribusi agama dalam membangun peradaban dan juga ekspressi arsitektural yang menghiasai lembaran sejarah manusia. Sedemikian kuatrya peranan dan pengaruh agama, sehingga banyak sekali pergolakan dan perubahan besar dalam sejarah dunia moderen tidak bisa dilepaskan dari semangat, isu dan simbol-simbol keagamaan. serangkaian seminar, penerbitan dan dialog seputar masalah keagamaan setiap hari selalu mengisi materi pemberitaan surat kabar, majalah dan televisi baik pada tingkat nasional maupun intemasional. Sampai-sampai peristiwa pembajakan pesawat udara Amerika Al-[mi'ah, Vol. 40,No. L,January-June2002 99 Komaruddin Hidayat KetikaAganraMenyejarah Serikat pada 1L September2001 yang kemudian ditabrakkan ke menara kembar di New York segeradikaitkan dengan serrtimm keagamaan,yang dampaknya sangat mengglobal dan mempengaruhi seting politik dan ekonomi dunia, termasuk Indonesia harus memikul dampaknya. Demikianlah sekedar contoh yang sangat aktual betapa keyakinan dan isu keagamaansangat signifikan dan tali temali dengan aspek kehidupan lain, dan pengaruh ini sekarangmerrjelmadalam sebuahkekuatan jaringan global @:Iobalnetworking) karena sentimen keagamaan memiliki kekuatan untuk menembus batas etnis, negara dan bangsa. Dalam kesempatanini ada tiga pertanyaanpokok yang hendakdibahas secarasingkat. Pertama, bagaimana kita memahami agama yang pada mulanya bersifat transhistoris dan memuat pesanuniversal namun akhirnya tampil dengan wajah dan medium bahasa dan budaya yang bersifat lokal dan partikular. Kedua, siapa yang bertanggungjawab atasjanji-janji agama untuk membangun peradaban unggul dan kalau janji itu gagal untuk dipenuhi bagaimana sikap umat beragama. Ketiga, bagaimana artikulasi Islam di hrdonesia memasuki abad2l ? B. Universalitas dan Partikularitas Islam Agama Islam, sebagaimanajuga agama Yahudi dan Kristen, diyakini sebagaidatang dari Tuhansehinggarumpun agamaIbrahimi disebutsebagai agama wahyu (rcueald rcligzbn). Geneologi ajaran Islam dimulai ketika Muhammad menerima wahyu Allah melalui perantaraan malaikat Jibril di Gua Hira (abad ke-7 M) yang kemudian membisikkan firman Allah dan seiak itu pewahyuan terus berlangsung secaraberangsur selama23 tahun yang kemudian wahyu itu pada urutannya diabadikan secaratertulis ke dalam bentuk mushaf AlQur'an. Ketika firman Allah tertuang ke dalam bahasa (Arab) dan pada urutannya diobyektifkan ke dalam wujud tertulis dalam sebuahmushaf, naka sesungguhnyawahyu Allah itu telah memasuki pelataran sejarah dan terkena kaidah-kaidah sejarahyang bersifat kultural empiris. Bukti yang paling nyata adalah Firman Allah tersebut mengambil lokus bahasa dan budaya Arab yang bersifat partikular, sedangkanpesan Allah mestilah universal, karena ditujukan kepada seluruh manusia. Oleh karenaitu, sifat lokalitasIslamyang muncul dalam lokusbahasadanbudaya Arab sebaiknya difahami sebagaibukti dan wadah yang bersifat instn mental historis, sedangkanpesannyayang universal dan fundamental harus selalu digali dan diformulasikan ke dalam lokus bahasadan budaya non Arab sehingga ekslufisme Arab bukannya sebagaipenghalang penyebaran 100 Al-J&ni'ah,Yol. 40,No. 1,|anuary- |une2002 Komaruddin Hidayaf KetiknAgamaMenyeiarah Islam, melainkan sebagai penyimpan dan penjaga otentisitas ajarannya. Dengan demikiary pemahaman terhadap konteks historis seputar kehidupan Rasul Muhammad dan upaya terjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa non Arab menjadi sangat penting untuk memahami pesan dasar Islam sehingga terjadi pelebaran warvasan dari partikularitas menuju universalitas Islarn. Dalam upaya ini, salah satu hambatan yang perlu kita sadari ialah, mengingat karakter setiap bahasa tidak bisa dipisahkan dari kultur pemilik bahasa, maka produk sebuah penterjemahan dan kontekstualisasi Islam ke dalam bahasa dan budaya lain haruslah menyesuaikan diri dengan dunia yang baru. Dalam hal ini ancaman distorsi tentu saja sulit dielakkan, terlebih jika bahasa lain dimaksud tumbuh dari sebuah masyarakat yang secara kultural dan intelektual masih miskin. Lebih dari itu, ketika seorang melakukan penterjemahan dan memahami sebuah teks, terlebih Al-Qur'an, maka secara mental yang bersangkutan sesungguhnya juga tengah meLakukan penafsiran. Membaca dan memahami sebuah teks adalah juga merupakan pekerjaan menafsirkan dan menulis ulang sebuah teks, hanya saja dalam lembaran mental. Karena teks hanyalah salah satu aspek dari realitas kehidupan beragama, maka pemahaman agama yang hanya menyandarkan pada otoritas teks, tanpa memahami dan mengapresiasi konteks psikologis, sosial, dan demografis di mana sebuah teks suci dilahirkan, rfiaka dimensi universalitasnya bisa jadi akan terkalahkan oleh dimensi tekstualnya sehingga yang lebih mengemuka adalah wajah agama yang partikularistik. Di samping menyandarkan pada kajian teks suci, untuk memahami kehidupan beragama bisa difahami melalui tiga dimensi utama. Yaitu : dimensi personal, dimensi kultural, dan dimensi ultima (ultimate dimension).' Pertama, personal dimension, agama memberikan acuan hidup seseorang untuk memberikan makna bagi setiap tindakan dan peristiwa, baik di kala suka maupun duka. ]ika sains dan teknologi menawarkan jasa teknis untuk penyelenggaraan hidup, maka agama akan memberikan arah dan makna serta tujuanhidup. Kedua, kehadiran suatu agama akanbergerak dan tumbuh melalui wadah kultural, sehingga pada urutannya muncul kultur yang berciri keagamaan, atau simbol-simbol kultural yang digunakan untuk mengekspresikan nilai keagamaan. Mengingat masyarakat tumbuh dalam -Frederick f. Streng, Underctandng Relryzbus ZrF (Dickenson Publishing Company, Califomi a, 1876, hal. l) Al-[mi'ah, Vol.40,No. L,fanuary- ]une 2002 101 Komaruddin Hidayat, KetikaAgamaMenyQarah sebuah kultur yang beragam, maka ekspressisebuahagamasecarakultural dan simbolik bisa juga beragam, sekalipun pesannyasiuna.Contoh yang paling nyata adalah keragamanbahasa,sehinggapesantaqhid substansinya bisa saja sarnanrunun formula bahasanyaberbeda.Ketiga, ultimate dimensiory adalah dimensi yang mengacu pada Yang Absolut, yang kesadaranini akan membedakanadakahsebuahekspressikultural atau tindakan seeorang bersifat religius ataukah tidak. Mengutip ungkapan Frederick Streng : The interaction of these three dimensions of religious phenomena, make the study of religious life a complex effort, becauseit requires the interpretation of a variety of particular cultural expression in relation to a general notion of ultimate value.Mengingat kualitas individu dan budaya di mana sebuah agama tumbuh bukanlah ibarat kasetkosong, maka antaraagflna dan budaya pada akhimya tidak mungkin dipisahkan, sekalipun faktor " f.aith memangdiakui oleh kalangan psikolog sangat mempengaruhi perilaku seseorang. Keyakinan keagamaan seseorang akan merasuki semua aspek kepribadiannya dan secara signifikan mempengaruhi semua tindakan hidupnya.- Menyadari hal yang demikian, maka sangatlah logis, bahkan altruistik, bahwa ekspressidan artikulasi keagarnaantidak pernah berwajah tunggal. Dalam konteks Islam, sekalip* terdapat ajaranbaku yang diyakini sama,rurmun pada level penafsiran, keyakinan, dan tradisi akan ditemukan keragaman, bahkan sebagian keragaman'ini telah melembaga ke dalam sebuahmazhab (schoolof thought) baik dalam filsafat, tasawuf,fiqih, politik, maupun cabang ilmu keislaman lainnya. Dalam tradisi Islam salah satu kekuatan yang mengikat keagamaantadi adalah pesantauhid dan "Thadisi teks" sehingga bukanlah suatu simplifikasi, kata Nasr Hamid Abu Zaid, jika dikatakan peradaban Arab -Islam adalah "peradaban teks". Namun demikiary lanjut Abu Zard, yang membangun peradaban bukanlah teks, melainkan dialektika manusia dengan realitas di satu pihak, dan dialognya dengan teks di pihak lain.'Maka penting kita sadari bahwa dalam studi keagamaantidak cukup hanya tertuiu pada studi teks melainkan juga pada kajian tradisi sehinggamau tidak mau harus melibatkan metodologi ilmu- ^Ibrd,hal.7 "Robert A. Emmons, IhePsychologyof tlltimateConcerfti Motivation and Spirituality in Personality (Ihe Duilford Press, London, 199, hal.89). 'Nasr Hamid [ls7aiQ, Telstualitas AIQw'an Krihk Terhadap t]lum alQur'an (edisi terjemahan dari BahasaArab, LKIS, Yogyakarta, 2001,hal. 1). 702 Al-fim{ah,Vol. 4ONo. 1,fanuary- }une2002 KomaruddtnHidayat,KetikaAgamnMeny4nrnh ilmu sosial.Permasalahanseputar "the transmissionof sacredtradition", misalnya, jasa antropologi dan sosiologi sangatlah diperlukan mengingat semua agama,terlebih Islam, memiliki "cumulative tradition" yang masih terusberkembangyang tentu sajamewadahi aspek-aspekbudaya baik yang bersifat lokal maupun universal, yang bersifat religius maupun sekuler,yang tertulis maupuntidak tertulis, yangkesemuanyaitu diwariskan dari generasi ke generasi dan mengambil simbol bahasa dan budaya yang semakin beragam.- semua ini dimungkinkan karena agama memiliki daya tarik sentripetal,yaitu kemampuanmemberikanlegitimasi dan sublimasiterhadap wilayah sekuler menjadi agamis, dan sebaliknya, agamajuga memiliki kekuatan sentrifugal, yaifu kemampuan agama menerobos dan memasuki wilayah sekulersehinggadomain agamamenjadi meluas.Dengandemikian, khususnya dalam tradisi Islam, karena keyakinan agama seseorangakan mempengaruhi semua aspek kehidupannya. Mengutip pendapat sosiologi agama Peter L. Berger, "Rehpbus legztimafronpuwotg to rcIate the.humanly defined rea.ltqirto ulhmate. uniuersal and saaed realitlt"The inherentlyprecarious and transitoryconstmction of human activity are thus given the semblanceof ultimate security and permanence."Sedemikian besarnya fungsi agamauntuk menciptakan kohesi dan daya tahan sebuahmasyarakat juga dinyatakanoleh sosiologiEmile Durkheim: ... that nearly all the great social institutions were born in religion ... if religion gave birth to all that is essentialin society,that is so becausethe idea of society is the soul of relisor' . secarateologispendapat Durkheim ini tentu mengandung kelemahan besar.Namundari sudutpandangsosiologispada akhimya agamamemang akan hadir dalam realitassosialdan agamabersamaideologi lain tidak bisa lari dari kritik sosial. sebagaifenomenasosial, agamaselalu terikat dengan lokalitas kultur yang bersifat relatif dan partikular. Bahkanpada masaawal pertumbuhannya semuaagamacenderungbersifatkomunialistik.Dalamhal ini agamayahudi merupakan contoh yang paling ekstrim karena ekslusifitasnya yang dinisbatkan hanya pada Bani Israel. Dalam ketiga tradisi lbrahim, adalah -Lebih jauh, lihat Mircea Eliade (editor), TIte.hcyctopdn of Reltgzba Vol. 13 (Macmillan Library ReferenceUSA, New York, 1995,Methodological Issues,hal. g3). 'Pejer L. Berger, 7he sacd Canopy - EJemenb of a socialogrcal 7han7 of ReIi . gion(Anchor Books,New York, 1969,hal.36). Emile Durkheim, The Elementary Form of Religious r"tfe(The Free press, New York, 1995,hal. 421). AI-fm{ ah,Vol.4ONo. 1.,January- June2ffi2 103 Komaruddin Hidayaf KetikaAgamaMenyQarah Islam yang sejak awal sudah menuniukkan cirinya yang kosmopolit baik secarademografis mauPun doktrin, sehinggahanya dalam satu abad sepeninggalRasulMuhammad,Islam tampil sebagaikekuatan dunia yang membentang dari wilayah Afrika Utara, Asia Ti:ngah, daratan Eropah dan Asia Kecil. PenyebaranIslam ini umumnya dilakukan denganpenuh toleran dan penuh peri-kemanusiaan,dan tidak ada aqendauntuk memaksaorang non-muslim untuk berpindah memeluk Islam.Demikianlah, ajaran kebenarandari Tuhan yang bersifat perennial dan transhistorisketika sampaipada manusiaharusmelalui rentanganwaktu dan tempat, sehingga keragaman agama-gamatidak mungkin dinafikan. Begitupun dalam internal Islam sendiri, sesungguhnyabangunan ajaran Islam yang sampai pada kita sudah berbaur dengan konstruksi historis dan konstruksi penafsiran sehingga di hadapan kita terdapat beragam mazhab dan wama lokalitas kultural. Dan di kalangan akademisi, kata Frank Hawling, juga kian disadari semakin banyaknya metodologi terhadap studi keagamaan,sebagai implikasi logis dari perkembangan rumPun keilmuan yang juga selalu berkembang.'Implikusi dari keragailum agamadi muka bumi salahsatunya adalahmunculnya konflik dan kompetisi "truth claim" antar umat beragama. Namun muncul pula mazhab perennialisme yang selalu berusahamencari titik-titik temu antar s€muaagama,menggalipesanTuhanyang samanamun terbungkus oleh tradisi, bahasadan simbol yangberbeda, mengingat Tuhan menyapa umatNya dengan beragam bahasadan beragam lokus budaya.'Secarageneologis,agamaIslamyangsekarang ini dianut tidak kurang dari satu milyard orang dan tersebar di seantero pelosok bumi, pada mulanya merupakan respons pribadi Muhammad terhadap Jibril yang menyampaikan wahyu ilahi untuk bertuhan hanya kepada Allah dan menerimapengangkatandirinya sebagairasulNya. Meskipun fonnat kalimat kesaksiarmya(syahadat)begitu pendek,namun dampaknya sangatluar biasa karena sebuahkesaksiandan manifesto tauhid memPengaruhicaraberpikir 8Fazlur ofReligion,vol. Z ha1.305. Rahman dalam Mircea Eliade, Themqclo@a tF.unk Hawling (dt), Com EmPomy Apprucha to th e Sndy of Religion v ol. l: (Mounton Publishter, Berlin, 1984,hal.5) the humanities toT".,t"r,g filsafat perennial, sebuah pengantar yang bagus ditulis oleh Aldous Philmphy(Flarper and Row, New York, 19a$; |uga Frithjof Schuon, The Petenrual Huxley, The irarccendent tlntyof ReLgions(The Theosophical Publishing House, Wheaton III. USA, 19S4).Kedua buku ini telah diteriemahkan ke dalaur bahasa Indonesia. 104 Vol.40,No. 1,|anuary- fune2002 Al-Jami'ah, Komaruddin Hidayat, IGtika AcamaMenueiarah dan cara hidup seseorang dalam memandang dunianya. Dan ketika tauhid itu melahirkan sebuah ummat yang banyak dan solid maka pada urutannya menimbulkan dampak sejarah yang terus berkelanjutan. Dari pernyataan tauhid terpancar sebuah kekuatan spiritual dan sosial untuk merobohkan ikon yang menjadi pusat sesembahan manusia, entah supremasi kelas, kekayaan, ras, kefurunan, intelekfualitas, dan obyek sesembahan lain yang menghalangi pandangan dan loyalitas seseorang kepada Allah. Dan kini ketika Islam semakin tumbuh mengglobal, maka orang mulai terlatih untuk membedakan antara faham "Islamisme" dan "Arabisme',. Timfutan unfuk membedakan ini begitu mutakhiq, di antara sekian buku yang menyajikan pergulatan seorang muslim dengan kultur Barat adalah struggling to surrender dan Even Angels Ask : A |oumey to Islam in America, oleh Dr. leffrey Lang. Dengan harapan bisa memperdalam keislamannya, lefftey Lang pemah pergi dan tinggal di saudi Arabia untuk mengenal lebih dekat komunitas muslim dan Baitullah tempat Islam dilahirkan. Tetapi akhirnya dia kembali ke Amerika karena menyadari bahwa pemikiran Islam yang tumbuh di Amerika lebih cocok dan menantang baginya katimbang faham Islam yang tumbuh di saudi Arabia yang lebih ditujukan ke masa lalu. D Arab saudi, hrlis Lang, Islam berhenti sebagai kekuatan untuk perkembangan kepribadian, dan membuat iman saya segera kehilangan daya hidupnya. Dalam Kata Peng:rntar edisi Indonesia, Bahkan Malaikatpun Bertanya, Dr. Jalaluddin Rachmat memberi ulasan, Dr. Lang ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan meniadi muslim. Tapi ia gagal.Namun dengan begitu ia berhasil mbnemukan pencerahan baru. Yaifu, no escape from being an American. Menjadi Islam tidak berarti harus meninggalkan semua latar belakang budaya seseorang.Islam tidak pemah datang pada suatu vakum kultural. Sikap kritis Lang yang selaiu bertanya memperoleh pembenaran Al-Qur'an ketika Al-Qur'an sendiri menceritakan bahwa malaikat yang kerjanya hanya bertahmid dan bertasbih pada Allah temyata bisa dan boleh melakukan protes dalam bentuk pertanyaan ketika Allah hendak mengangkat Adam sebagai khalifahNya. |adi, menurut Lang, untuk memahami pesan Islam seseorang harus selalu bersikap kritis, terlebih jika Islam hendak didakwahkan pada masyarakat 6arat. Demikianlah, untuk mengaktualkan pesannya wahyu dari langit membutuhkan respons kritis dan hati yang tulus dari manusia di bumi untuk menciptakan bayang-bayang surga alam seiarah.Mengingat penduduk bumi demikian beragam, dan itu merupakan disain Tuhan, maka kita menemukan Al-lnmi'ah,Vol.4ONo. 1,,january- ]une2002 105 KonuruddinHiday at"KetikaAgamaMeny4 arah Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indoensia, Islam Amerika. Mengutip pendapat Dr. RogerGaraudy, seorangmantan komunis yang menjadi muslim, falaluddin Rachmat mengatakan, keterikatan umat Islam pada masalalu demikian kuatnya sehinggabanggamenamakandirinya kaum salafi, yang secaraharfiah berarti yang terdahulu, yang telah lewat. Karenaratusantahun pertama sejarahIslam bergabungdengansejarahArab, maka Islam masalalu berjalinberkelindandengankearaban."Mereka tidak bisa memisahkan antara kebudayaanArab dengan ajaran Islam' Islam yang melintas ruang dan waktu sekarang dibatasi oleh Ruang Arab dan Waktu yang lalu," tulis Jalaluddin Rachmat"' Tentu saja pendapat ini iangan diartikan sebagai ungkapan sinisme pada kebudayaan Arab karena tanpa mereka kita tidak bisa mewarisi Islam sebagaimanayang ada sekaranginiMelainkan harus difahami sebagai sikap kritis untuk menangkap Pesan universalitas Islam yang terwadahi dalam lokus yang partikular. Bukankah sains dan teknologi yang merupakan fenomena universal pada mulanya juga lahir dari ranah yang bersifat lokal ? Manusia Mitra Tuhan Pencipta Sejarah Semua agama, sebagaimanajuga ideologi, hadir menawarkan janjijanji pada manusia untuk membangun kehidupan yang beradab dan sejahtera.Konsekuensinya, semua agama harus siap diuji oleh mahkamah sejarah dan jika temyata gagal memenuhijanji-ianjinya maka agama pasti akan ditinggalkan oleh calon pemeluknya dan seterusnya akan mengisi lembaran buku sejarah. selain menawarkan janji, agama juga bagaikan kacamata, yang dengannya seorang yang beriman memandang dunia sekitamya dan bagaimanamenafrirkan sertamengkonstruksi realitas duniaOleh karenanya,sekalipun secarafisik tidak kelihatan, keyakinan dan faham agarn sarulgtberpengaruh terhadapseseorangketika meresponikehiduPan. Mengisi visi dan komitmm Islam dalam peradaban,Marshall G.s. Hodgsoo mengutip AlQur'an : "Engkau telah menjadi umat terbaik yang Pernah ttKata Pengantar pada feffrey Lang, Bahkan Malaikatpun krtanya - Membangun Sikaplslamyang-Krifrs(Serambi, fakarta 2001,hal. ix). Buku-buku tentang Islam semakin bermunculan diBarat terutama sejak terjadi Revolusi lran (1977) dan disusul lagi sejak teriadi Tragedf 11September 2001.Sebuahpemetaan yang Uaf-usfittt!1-oleh jane I. Smith, Isiam n,{nte7i,calCllumbia University Press,New York, 1999);danGilles Kepel, AIIah in the lltat-IslamtcMouementsin Amenica and Europe(Starrdford University Press,Californra,19fi. 106 Al-lami'ah,Vol.40,No. 1,|anuary- June2002 Komaruddin HidayaL KetikaAgamaMenyeiaroh dimunculkan untuk umat manusia, seraya menganjurkan kebaikan dan melarang keburukan, dan yang percaya pada Tuhan" (Al-Qur'an,3 : 150). Statemen suci ini merupakan visi umat Islam untuk tampil rnenjadi umat terbaik, karena komitmennya untuk selalu menegakkan kebaikan dan melarang kejahatan, seraya beriman pada Allah. Iman kepada Allah dan keabadian jiwa serta adanya hari pembalasan merupakan ajaran fundamental semua agam4 dan keyakinan ini sangat signifikan pengaruhnya terhadap kehidupan seseorang dan masyarkat unfuk menegakkan moral. Statemen Al-Qur'an di atas sekaligus juga merupakan janji sejarah yang harus diwujudkan oleh umat Islam sehingga keunggulan Islam harus dilihat dari komitmennya untuk menegakkan nilai-nilai kebaikan dan memberantas semua bentuk kejahatan. Bagaimanakah konsep dan perwuiudan "umat terbaik" ini dalam sejarahnya telah memperoleh penafuiran berbeda-beda. Bahwa visi dan keyakinan Islam masih tetap memiliki kekuatan dan harapan memasuki dunia moderen, hal itu tidak diragukan. Tetapi pertanyaannya, ketika umat Islam memasuki pergaulan masyarakat mondial yang demikian plural dan global, cetak biru rosial yang ditawarkan belum memiliki kejelasan. "Mampukah suatu masyarakat dunia betuI-betul dibangun secara efektif atas dasar kesetiaan pada pandangan ketuhanan?", tulis Hodgson'-. Bagaimanakah Islam membangun hubungan antara agama dan negara dalam konteks negdra moderen, juga masih dalam pencarian dan eksperimentasi. Pada masa-masa awal kelahirannya, hampir semua agama besar tumbuh dan dipeluk oleh sebuah komunitas yang relatif terbatas dan tertutup. Kehadiran agama secara signifikan memberikan kekuatan kohesi dan semangat baru pada masyarakat. Dengan demikian, kata Ibnu Khaldun, salah satu faktor penunjang keberhasilan seorang Rasul TiJran adalah adanya dukungan emosional dan "group feeling" dari,kaumnya. Di situ semangat agama dan semangat komunalisme menyatu--. Sekalin sejak awal Islam mengutuk faham kesukuan, namun pada kenyataannya pengaruh relasi kesukuan dan faham dinastiisme sulit dielakkan, yang hal itu masih berkembang hingga hari ini. Memasuki zaman modem, umat Islam bagaikan tersentak ketika mendapatkan bahwa dirinya tidak lagi menjadi "kekuatan dominan" dan dunia Islam tidak lagi merasa sebagai "the center of the '-Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam (edisi Indonesia, Yayasan Paramadina,fakarta,1999,hal. 98). '-Ibnu Khaldun, Muqaddimah (edisi Inggris, Princeton University Press,1989,hal. 126-127). Al-fmi'ah, Vol. 40,No. L,January- |une 2002 L07 Komaruddin Hidayat KetikaAgamaMoryQarah world" sebagaimana yang dijamin oleh Tuhan. Menguatnya ideologi naisonalisme dan kehadiran masyarakat global memaksa umat Islam harus berpikir ulang untuk merumuskan visi dan perannya dalam setting ekonomi dan peradaban global yang telah berubah total dibanding masa-masa kejayaan Islam di abad tengah. Secara historis visi Islam sebagai "umat terbaik" dipertanyakan validitasnya. Memang benar,Islam sejak awal sangat sukses membangun imperium po[tik dari tanah gersang padang pasir dan membangun doktrin bahwa IsLam adalah agama final sehingga Islam, kata Ernest Gellner, merupakan kekuatan agama dan sekaligus politik yang berkembang sangat pesat'". Tietapi memasuki masyarakat industri cerita sukses dan metode penyebaran Islam di abad tengah tidak lagi sepenuhnya cocok diterapkan. Karakter yang sangat berbeda antara Islam dan Kristen sejak dari awal kelahirannya, terutama seputar hubungan antara agama dan negara/ politik pada urutannya melahirkan model teologi dan masyarakat yang juga berbeda antara umat Islam dan umat Kristiani. Secara inheren ajaran Islam mengandung begitu banyak prinsiyprinsip kemodernan baik dalam bidang ekonomi, politik dan sains sehingga Islam sesungguhnya tidak mempunyai hambatan teologis dan epistemologs ketik" memasuki dunia modem. Lagi mengutip pendapat Gellner, "Thus in Islam, an only Islam, purification/ modemisation on the one han4 and the reaffirmation of a putative local old identity on the other, can be done in one and the same language and set of symbols"'-. Pendapat Gellner ini seialan dengan Hodgson bahwa di antara tradisi keagamaan yang ada, Islam memiliki keunikan. Dimulai dari kalangan Arab dengan iklim yang panas dan gersang, sejak dini Islam berkembang merjadi internasional, berkerrbang di daerah utara yang paling dingin dan di daerah tropik yang paling lembab. Kepercayaan Islam terkenal karena kemudahannya untuk difahami, dan ajarannya yang esensial bisa dijelaskan secara sederhana, sehingga di balik keragaman budaya para pemeluknya mudah.sekali diiumpai elemen-elemen yang sama yang menyatukan mereka'". Bahkan sosok Rasul Muhammad, sang pembawa aiaran, menurut Ernest Renan, adalah figur sejarah yang tansParan, perjalanan hidupnya tidak ditutupi oleh berbagai misteri din spekulasi". 'nErnerst Gellner, Muslim fuiety(Cambridge University Press,1995,hal. 2). *Ibid,hal.5 'jrtoagro.,, op a t, hal. lffi "sebagaimana diceritakan oleh Bernard Lewis, Renan mengatakan : ... unlike 108 Al-lim{ ah,Vol.4ONo. 1,January- June2002 Komaruddin Hidayat, Ketika Secara historis-sosiologis, salah satu prestasi menyolok dari Islam adalah kemampuannya menciptakan kohesi sosial dari berbagai suku yang demikian beragam dengan konsep tauhid yang mudah dicerna, d.an keterbukaan Islam untuk menerima simbol dan elemen kultural sebagai media ekspressi dan penyangga pesan dan eksistensi Islam. perkembangan ini terus berlanjut dan proses simbiose ini akan semakin komplek dan colourfuIketika jumlah pemeluk Islam kian berkembang dan menjumpai masyarakat baru dengan simbol-simbol budaya yang juga baru. Dalam sejarahnya, ekspressi dan artikulasi Islam dalam tatanan budaya dan peradaban menunjukkan karakter yang berbeda ketika umat Islam bertemu dengan warisan peradaban luar. Misalnya, ketika Islam masuk ke persia, sebuah rumah intelektual yang sangat akrab dengan warisan yunani yang rasional dan filsafat India yang mistis maka Islam lalu mensintesakan keduanya sehingga dari Persia bermunculan pemikir yang berciri tasawuffalsafi. |adi apa yang sering kita namakan puncak-puncak peradaban Islam adalah sebuah kebudayaan hibrida yang dinafasi oleh prinsip dan semangat tauhid sehingga watak peradaban Islam pada dasarnya bersifat inklusif, tolerans dan terbuka bagi inovasi dan pengembangan intelektual keislaman yang coraknya berbeda dari ekspressi keislaman di tempat kelahirannya, yaitu Makkah dan Madinah'". Di samping sebagai gerakan tawhid dan other religions which werecrqdled in mystery Islam was born in the full light of history. Its roots are at sirrface level, the life of its founder is as well known to us ai those of ttre Reformers of the sixteenth century (7he Arabs n r{tbtory r{atper Colophon Books, New York,L966,hal.36). '"Dalamberbagai ayat AlQur'an danHadith banyak diiumpai perintah agar umat Islam selalu berpikir kritis dan apresiatif terhadap.ilmu, dari *ao putt datangnya. D antaranya riwayat yang menganjurkan umat Islam untuk mencari ilmu sekalipun ke negeri Cina. Sikap inklusif inilah yang mendorong tumbuhnya intelektualisme Islam yang sangat subur di abad tengah, terutama ketika bertemu dengan rasionalitas Yunani-. Sedemikian kayanya warisan intelektual Islam sampai*ampai muncul pendapat bahwa kesuksesanmasalalu yang luar biasa itu telah memanjakangenerasiberikutnyi sehingga rendah ethos ijtihadnya, dan bahkan cenderung taklid, pintu ijtihad ditutup iapat-rapit. Berkembangnya teolo€i fatalisme seringkali dituding sebagai salah saiu penyetab kemunduran ethos keilmuan dalam Islam. Pervez Hoodbhoy, rnisalnya dalam bulunva Islam and Sciencemenulis : In the heyday of its intellectual and scientific development, Islamic society was not a fatalistic society. The fiere debates between those believing in free will (the Qadarites) and the predestinarians (the |abrias) were generally resolvei in favour of the former. But the gradual hegemony of fatalistic Asharile doctrines mortaily weakened the will to power of Islamic society and led to a withering away of its scientific spirit (Zed Book Ltd, London,1991,hal. 120). Al-lnni'nl4Vol.40,No. L,january- june 2002 109 Komaruddin Hidayat, KetikaAgamaMenyQarah perluasan kekuataan politik, Islam juga merupakan kekuatan penyebar peradaban dunia yang secara gemilang mampu menjembatani dan menghubungkan wilayah-wilayah peradaban lokal menjadi peradaban mondial, terutama antara Barat dan Timur. Hal ini dimungkinkan antara iain karena sepeninggalRasul Muhammad tak ada pusat kekuasaanruhani sebagaimanalembaga kepausan di Roma bagi Katolik, sehingga muncul pusat-pusatkeislamandenganwama dan inovasi lokal. Icbih dari itu, ajaran Islam yang sangat menghormati penalaran dan eksplorasi ilmiah secara menakjubkan telah mampu menyulap wilayah Arabia yang semulagersang tak terjamahperadabanluhur tiba-tiba berubah menjadi mata air peradaban Islam yang tetap berkembang hingga sekarang.Oleh karenanya,ketika dalam perjalananseiarahnyaterjadi konflik denganpemeluk Kristen berupa Perang Salib, sesungguhnya merupakan kesia-siaandan bahkan kerugian baik bagi Kristen rurupun Islam karena terlalu banyak energi yang tadinya untuk membangun peradaban bersama lalu beralih untuk menyuburkan sikap saling curiga dan bermusuhan yang berkelanjutan samPaisekarang. Masa-masaproduktif Islam menjadi terganggu ketika umat Islam terjebak ke dalam sengketa politik, baik sesamamuslim sendiri mauPun dengan pihak Yahudi dan Nasrani, dan sekarangumat Islam diprovokasi oleh Samuel Huntington unhrk berhadapan denganBarat dengan teorinya Clashof CiuiItzahorc. Pada hal ketika awal pertumbuhannya Islam telah menunjukkan visi, potensi dan prestasinya yang sangatmena$ubkan dalam membangun peradabanunggul dengan cara damai, intelektual dan beradab.Ini terbukti betapa banyak ilmuwan kelas dunia kala itu yang lahir dari dunia Islam dan betapa besar sumbangan Islam untuk mengantarkan lahirnya ilmu pengetahuandan peradaban moderen Barat. Filsafat Yunani dan kajian rasional-empiris ya.g berkembang pesat di Barat merugnakankontribusi besardari dunia Islam yang diakui semuasejarawandunia--. Pertanyaannya kemudian, mengapadunia Islam yang memiliki asetpolitik, peradabandan ilmu pengetahuanyang tak tertandingi pada masakejayaaruryatetapi gagal mengantarkan munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi moderen sebagaimanayangkemudian malah tumbuh di Eropa Baratyang urutannya malah berb'alikmenguasaidunia Islam ? Di antarapenyebabnyaadalahumat ttseputar tema ini dalam literature Indonesia, antara lain bisa dibaca Mehdi Analisis Abad Nakosteen, Konbzbusi IsJam atas Dunia Intelektual Barat - fukripsi Kremasn Islam (edisi teriemahan dari teks Inggris, Risalah Gusti, Surabaya, 1966\;Juga dan Peradaban (YayasanParamadina, |akarta,l9Z) Nurcholish Madjid, Islam hktn 1i0 Al-lami'ah,Yol:4ONo. 1,January- June2002 Komaruddin Hidayat, IQtika AgamaMenveiarah Islam tidak mampu membangun institusi riset yang independen yang mengabdi pada pengembangan ilmu terapan. Kuahrya peradaban teks dan kekuasaan ulama-umara yang lebih mementingkan ritual dan kekuasaan politik katimbang membangun peradaban telah menyia-nyiakan asset intelektual yang luar biasa besarnyay{rgtelah dimiliki 4unia Islam. Secara karikatural digambarkan oleh Toby E. Huff, teknologi sederhana bemama kompas ketika berada di tangan ulama hanya digunakan untuk menentukan arah kiblat, sedangkan ketika jatuh di Eropa mendorong orang untuk berlayar keliling dunia. Begitupun ilmu astronomi banyak dijadikan instrumen unfuk menenfukan kapan datangnya bulan Ramadhan, sementara di Eropa dijadikan modal melakukan petualangan angkasa. Lilu dinamit yang oleh dunia Islam digunakan untukberperangmenghancurkan tembok musuh, di Eropa dijadikan tenaga untuk menggerakkan industri berat dan kapal besar.-Demikianlah, kitab suci Al-Qur'an dan akumulasi tradisi serta peradaban Islam yang demikian kaya merupakan sumber pencerahan yang tak pernah kering bagi umat Islam. Namun kelihatannya tidaklah cukup efektif untuk membangun peradaban jika tidak disertai iklim kebebasan berekpresi dan bereksperimentasi dengan dul.