Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. CEO OVERCONFIDENCE DAN MANAJEMEN LABA: SEBELUM DAN SESUDAH PANDEMI COVID-19 Multi Konvokesen Adiman. Richa Rachmawati Afag. Ratih Tiyas P . * Universitas Riau. Indonesia Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur. Indonesia Kampus Bina Widya KM. 12,5. Simpang Baru. Kec. Tampan. Kota Pekanbaru. Riau, 28293. Indonesia *Korespondensi Penulis: rajamulti58@gmail. ABSTRACT COVID-19 has impacted by decreasing tourism, hotel, and restaurant revenue. However, at the end of 2020, the share price in the tourism sector showed a positive trend, causing a big question mark for researchers. This study examined the difference in term of CEO overconfidence and earnings management before and after COVID-19. The quantitative method was used with secondary data taken from the financial statements of the tourism, hotel, and restaurant sectors. The data was then analyzed by paired samples t-test analysis. The findings of this study indicate that CEO overconfidence did not significantly affect earnings management in 2018-2019 before the pandemic and CEO overconfidence also did not significantly affect earnings management in 2020-2021 during the pandemic. This shows that the COVID-19 event did not change a manager's behavior. Keywords:CEO Overconfidence. Conservatism. Earning Management ABSTRAK Pandemi COVID-19 berimbas menurunnya pendapatan di sektor pariwisata, hotel, dan restoran. Namun, di penghujung tahun 2020, harga saham emiten sektor pariwisata menunjukkan trend yang positif sehingga menimbulkan tanda tanya besar bagi peneliti. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan antara CEO overconfidence dan manajemen laba sebelum dan sesudah COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif menggunakan data sekunder dari laporan keuangan sektor pariwisata, hotel, dan restoran. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji beda paired sample test. Hasil penelitian menunujukan bahwa CEO overconfidence tidak bepengaruh signifikan terhadap manajemen laba di tahun 2018-2019 sebelum terjadi pandemi dan CEO overconfidence juga tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba di tahun 2020-2021 saat masa pandemi. Hal itu menunjukkan bahwa adanya peristiwa COVID-19 tidak dapat merubah perilaku seorang manajer. Kata kunci: CEO Overconfidence. Konservatisme. Manajemen Laba PENDAHULUAN Pandemi COVID-19 menyebabkan seluruh negara mengalami perubahan. Cepatnya penyebaran pandemi ini menuntut masing-masing negara untuk dapat mengambil langkah cepat dalam menekan penyebaran tersebut. Hal itu cukup berdampak pada bidang ekonomi khususnya di sektor pariwisata, hotel, dan Pandemi COVID-19 berdampak pada perusahaan sektor pariwisata, seperti pada PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk yang diperkirakan mengalami penurunan pendapatan perusahaan hingga mencapai transform Vol. No. April 2025: 88-95 Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. 50% . AB Sadewa sebagai VP brand & communications Panorama mengatakan bahwa dengan banyaknya pembatasan perlintasan antar negara, otomatis berdampak besar bagi PDES sebagai operator tour khusus wisman . Selain itu, kerugian yang cukup besar juga terjadi di sektor perhotelan dan restoran. Seperti pada Pizza Hut (PT Sarimelati Kencana Tb. yang mengalami kerugian bersih sebesar Rp. 93,51 Miliar di tahun 2020 sedangkan pada tahun 2019 . ebelum pandemi COVID-. mencetak laba bersih sebesar Rp. 200,02 Miliar . Sedangkan pada sektor perhotelan, fenomena menjual hotel di Jakarta COVID-19 Namun, adanya kebijakan untuk berpartisipasi mengikuti vaksin Covid 19, berdampak pada tren harga saham. Berdasarkan data Bloomberg, penutupan perdagangan pada hari selasa . /11/2. menunjukkan mayoritas harga saham emiten sektor pariwisata berada di zona hijau, dimana terjadi penguatan sahamsaham dengan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di level 5. 462,73, naik hingga 1,99 persen . Dengan adanya zona hijau tersebut memunculkan tanda tanya bagi peneliti yang mana akibat COVID-19 perusahaan pariwisata tersebut seharusnya mengalami kerugian yang cukup besar. Dampak yang cukup luas di bidang ekonomi akibat pandemi COVID-19 membuat perusahaan harus menerapkan strategi baru untuk menghindari pailit. Sebagai seorang Chief Executive Officer (CEO). CEO memiliki peranan dan tanggung jawab yang besar di sebuah perusahaan (Mahbubi, 2. CEO merupakan jabatan paling tinggi di sebuah perusahaan yang berperan penting dalam mengatur dan mengelola perusahaan agar dapat mencapai target kesuksesan. Apapun keputusan yang diambil oleh CEO memiliki dampak yang besar bagi perusahaan bersangkutan. Dalam hal ini. CEO yang overconfidence yakin akan kemampuannya mengelola perusahaan dan cenderung menghindari pada aktifitas yang dapat memperburuk citra pribadi CEO dan perusahaan yang dipimpinnya (Pierk, 2. Namun, teori agensi mengatakan bahwa agen akan menggunakan keputusan mengelola perusahaan (Kauppi & van Raaij, 2. , pada situasi yang menyebabkan pendapapatan mengalami Adanya pandemi COVID-19 hingga selesainya pandemi berpengaruh terhadap siklus pendapatan perusahaan, beberapa perusahaan masih merangkak dalam tahap Hal ini mungkin menurunkan CEO overconfidence untuk tidak melakukan melakukan manajemen laba. Menurut Meilani et al . , manajemen laba menunjukkan tindakan intervensi laporan keuangan eksternal untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Manajemen laba dalam hal pemerataan laba bertujuan untuk menginvestasikan dananya di perusahaan tersebut (Anggraeni & Dewi, 2. Dana kedepannya dapat diputar sehingga mempercepat pemulihan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat CEO kemungkinannya melakukan manajemen laba dengan membandingkan sebelum dan pasca pandemi COVID-19. Penelitian ini berpendapat bahwa terdapat pengaruh kondisi lingkungan COVID-19 terhadap karakteristik CEO overconfidence dan manajemen laba. Oleh karena itu, peneliti ingin membandingkan apakah terdapat perbedaan perilaku manajemen laba dan CEO overconfidence sebelum dan pasca pandemi COVID-19. transform Vol. No. April 2025: 88-95 Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. Penelitian ini berkontribusi pada literatur dengan menunjukkan bahwa karakteristik CEO overconfidence yang sebelumnya tidak melakukan manajemen laba dalam hal ini perataan laba, dapat berubah sikap ketika terjadi perubahan berpengaruh terhadap perusahaan yang METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif, menggunakan data sekunder dengan menggunakan metode purposive Penelitian ini juga akan membandingkan hasil penelitian sebelum dan pasca terjadinya COVID-19. Lokasi dari penelitian ini dilakukan melalui akses pada situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan website resmi perusahaan yang Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan pada perusahaan sektor pariwisata, restoran, dan perhotelan . perusahaan pada sektor restoran dan 23 sektor hotel dan pariwisat. pada periode 2018-2019 untuk . ebelum terjadinya pandemi COVID-. dan laporan keuangan periode 2020-2021 . asca pandemi COVID-. Definisi Operasional Variabel Penelitian Pada penelitian ini, variabel dependen yaitu manajemen laba. Data yang diperoleh kemudian diukur dengan indeks Eckel . , menggunakan Coefficient Variation (CV) variabel penghasilan dan variabel penghasilan bersih. Indeks eckel bernilai Ou 1 untuk perusahaan yang tidak melakukan manajemen laba sedangkan < 1 untuk perusahaan yang melakukan manajeman laba. Adapun rumus Indeks Manajemen Laba dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Rumus Indeks Manajemen Laba Keterangan: iI : Perubahan laba bersih dalam suatu periode iS : Perubahan penjualan dalam suatu periode CV : Koefisien variasi dari variabel CViI :Koefisien variasi untuk perubahan laba CViS :Koefisien CV iI dan CV iS dapat dilihat pada persamaan Gambar 2. Gambar 2. CV iI dan CV iS Keterangan: :Perubahan laba bersih (I) atau penjualan (S) antara tahun n dengan n-1 :rata-rata perubahan laba bersih (I) atau penjualan (S) antara tahun n dengan n-1 N : Banyaknya tahun yang diamati CEO overconfidence yang dilihat pada penelitian ini adalah variabel independen yang diukur menggunakan rumus DER (Debt to Equity Rati. yaitu pembagian antara total hutang dengan total ekuitas yang kemudian hasilnya dibandingkan dengan median industri pada tahun Penggunaan proksi DER dalam mengukur overconfidence digunakan oleh penelitian terdahulu seperti penelitian Sumiyana et al . Bivianti et al . dan Iswahyudi et al . Berbagai proksi dari overconfidence dijelaskan pada penelitian Sumiyana et al . seperti capital expenditure, overinvestment, earning persistence, stock price persistence, debt to equity rasio, related partyAos transactions, dan political Enam proksi tersebut memiliki pengaruh terhadap manajemen Apabila nilai DER dari setiap indeks lebih besar dari nilai median industri, transform Vol. No. April 2025: 88-95 Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. maka mengindikasikan bahwa manajer tersebut overconfidence begitu juga Setelah hasil DER dari tiap perusahaan diketahui, kemudian diukur menggunakan variabel dummy untuk menentukan apakah manajer memiliki sifat overconfidence atau tidak overconfidence. Nilai 1 untuk manajer yang overconfidence dan nilai 0 untuk manajer yang tidak Teknik Analisis Data Uji statistik deskriptif, uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi digunakan sebagai teknik analisis dalam penelitian ini. Data diolah menggunakan aplikasi SPSS versi Persamaan untuk CEO Overconfidence dan Manajemen laba dapat dilihat pada Gambar 3. ML= 1COa 2COb e Gambar 3. Persamaan CEO Overconfidence dan Majemen Laba Keterangan: ML: Manajemen Laba. CO: CEO Overconfidence. : Konstanta. y: Koefisien regresi. e: error. HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Prosedur Pemilihan Sampel Terdapat pariwisata, hotel, dan restoran . perusahaan pada sektor restoran dan 24 sektor hotel dan pariwisat. yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun Akan tetapi, hanya 27 perusahaan sektor pariwisata, hotel, dan restoran yang mempunyai laporan keuangan lengkap seperti yang tertera pada Tabel 1 berikut. Tabel 1. Sampel Kriteria Manajemen Laba dan CEO Overconfidence Kriteria Perusahaan sektor pariwisata, hotel, dan restoran yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tidak mempunyai laporan keuangan Jumlah Statistik Deskriptif Berdasarkan Tabel 2, manajemen laba tahun amatan 2018 dan 2019 dihitung menggunakan indeks Eckel . menghasilkan nilai minimum sebesar 23,94 yang berasal dari perusahaan Sanurhasta Mitra Tbk. dan nilai maksimum sebesar 139. 57 yang berasal dari perusahaan Bukit Uluwatu Villa Tbk. Untuk nilai maksimum manajemen laba tahun 2020 dan 2021 sebesar 32. 32 oleh perusahaan Mas Murni Indonesia Tbk. Sedangkan nilai minimum manajemen laba ialah sebesar -10. 13 oleh perusahaan Red Planet Indonesia Tbk. Hal ini menandakan bahwa masih terdapat perusahaan yang melakukan manajemen laba karena memiliki nilai <1. Nilai rata-rata manajemen laba pada perusahaan sektor pariwisata, hotel, dan restoran pada tahun 2018 dan 2019 4,4279 (Tabel . menandakan bawa rata-rata perusahaan tidak melakukan manajemen laba karena bernilai Ou1. Pada tahun 2020 dan 2021 juga rata-rata perusahaan tidak melakukan manajemen laba karena memiliki nilai rata-rata 2. Tabel 2. Statistik Deskriptik Manajemen Laba Tahun 2018-2019 dan transform Vol. No. April 2025: 88-95 Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. Min Max Mean Manajemen Laba -23,94 139,57 4,4279 Manajemen Laba -10,13 32,32 2,5330 Berdasarkan Tabel CEO overconfidence yang diukur menggunakan variabel dummy, memberikan nilai ratarata pada tahun 2018 dan 2019 sebesar 0,50 . %) lebih kecil dibandingkan nilai rata-rata di tahun 2020 dan 2021 sebesar 0,79 . %). Tabel 3. Statistik Deskriptif Overconfidence Tahun 2018-2019 dan 2020-2021 Min Max Mean Overconfidence Overconfidence 0,02 3,40 0,7965 0,04 50,19 2,0701 Tahun 2018 sebanyak 14 perusahaan CEO overconfidence dan tahun 2019 terdapat sebanyak 12 perusahaan yang terindikasi memiliki CEO overconfidence. Tahun 2020 dan 2021 . etelah adanya pandemi COVID-. , terdapat 14 perusahaan yang terindikasi memiliki CEO overconfidence dari total 27 sampel. Hasil statistic deskriptif overconfidence tahun 2018-2019 dan 2020-2021 dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Berdasarkan hasil uji asumsi klasik dengan menggunakan dua kali pengujian yang ditunjukkan pada Tabel 4 dan Tabel 5, yaitu pada tahun 2018-2019 serta tahun 2020-2021, untuk uji normalitas diperoleh Asymp. Sig. -taile. 000 di tahun 2018-2019, dan 0. 892 di tahun Pengujian variabel CEO kolmogrof Smirnov karena datanya bersifat Hasil pengujian normalitas variabel CEO overconfidence diperoleh hasil bahwa data berdistribusi normal karena nilai signifikannsi >0. Tabel 4. Overconfidence Tahun 2018-2019 Periode Sig Uji Heterokedastisitas Berdasarkan heterokeadstisitas menggunakan uji glejser (Tabel 5 dan Tabel . , variabel CEO overconfidence tidak mengalami gejala heterokedastisitas pada periode sebelum pandemi dan setelah pandemi Tabel 5. Overconfidence Tahun 20182019 Variabel Sig Batas CEO Over 0. 696 >0,05 Keterangan Tidak Terjadi Heteros Tabel 6. Overconfidence Tahun 20202021 Variabel Sig CEO Over 0. Batas >0,05 Keterangan Tidak Terjadi Heteros Uji Multikolinearitas Selanjutnya, multikolinearitas yang ditunjukkan pada Tabel 7, diperoleh hasil untuk varibel CEO overconfidence tahun 2018-2019 dengan nilai VIF sebesar 1,00 < 10 yang Sementara itu pada tabel 10 ditunjukkan bahwa varibel CEO overconfidence tahun 2020-2021 nilai VIF transform Vol. No. April 2025: 88-95 Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. ialah 1,00 < 10 (Tabel . , sehingga dapat disimpulkan bahwa CEO overconfidence untuk tahun 2018-2019 dan 2020-2021 bebas multikolinearitas. Tabel 7. Overconfidence Tahun 20182019 Variabel CEO Overconfide Toleran 1,000 VIF Keterangan 1,00 Tidak Terjadi Multikolinear Tabel 8. Overconfidence Tahun 20202021 Variabel CEO Overconfide Toleran 1,000 VIF Keterangan 1,00 Tidak Terjadi Multikolinear Uji Autokorelasi Hasil pengujian autokorelasi yang ditunjukkan pada Tabel 9 diperoleh hasil untuk variabel overconfidence tahun 20182019 sebesar 1,5983 < 2,062 < 2,407 artinya data yang digunakan bebas autokorelasi dan untuk varibel CEO overconfidence tahun 2020 sebesar 1,5983 < 2,073 < 2,407 artinya data yang digunakan bebas autokorelasi. Uji R Square yang ditunjukkan pada tabel 13, varibel CEO overconfidence tahun 2018-2019 diperoleh nilai 0,012, artinya bahwa varibel CEO overconfidence berpengaruh terhadap variabel manajemen laba sebesar 1,2% dan untuk varibel CEO overconfidence tahun 2020-2021 nilai R Square menunjukkan nilai 0,004 artinya varibel CEO overconfidence berpengaruh terhadap variabel manajemen laba sebesar 0,4%. Tabel 9. Hasil Uji Autokorelasi Tahun Model Square Durbin Watson Overconfidence Hasil Uji Hipotesis Manajemen Laba CEO Overconfidence Tahun 2018-2019 dan Hasil uji hipotesis pada Tabel 10 menggunakan regresi sederhana tahun CEO signifikansi sebesar 0. Nilai sig. > alpha 0,05. Hal itu menunjukkan bahwa varibel CEO overconfidence tidak disimpulkan hipotesis 1a (H1. yang menjelaskan bahwa CEO overconfidence berpengaruh terhadap manajemen laba sebelum COVID-19 tidak didukung. Hasil uji hipotesis di tahun 2020-2021 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,432 > alpha 0,05. Hal itu menunjukkan bahwa varibel CEO overconfidence tidak disimpulkan hipotesis 1b (H1. yang menjelaskan bahwa CEO overconfidence berpengaruh terhadap manajemen laba sesudah COVID-19 tidak didukung. Oleh karena itu, hasil temuan tahun 2020-2021 tidak sesuai dengan hipotesis. Hal itu menunjukkan bahwa adanya peristiwa COVID-19 ini tidak merubah perilaku seorang manajer. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Anggraeni & Dewi . yang menunjukkan CEO overconfidence tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. CEO overconfidence yang diukur menggunakan proksi hutang terhadap ekuitas tidak mempengaruhi aktifitas manajemen laba. Selain itu, menurut Kennedy et al . tingkat rasa percaya diri seorang CEO akan membuat transform Vol. No. April 2025: 88-95 Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. mereka lebih dianggap oleh kompeten oleh Tabel 10. Ringkasan Hasil Uji Hipotesis Tahun Sig. Ket Tahun Tidak Berpengaruh Tidak Berpengaruh KESIMPULAN Peristiwa pandemi COVID-19 terbukti tidak dapat merubah perilaku manajer dalam melakukan praktik manajemen laba di perusahaan sektor pariwisata, hotel, dan Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya pengaruh oveconfidence terhadap manajemen laba pada periode sebelum dan sesudah pandemi. Hal ini membuktikan bahwa sifat overconfidence yang dimiliki manajer tidak dapat situasi yang dialaminya. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan proksi overconfidence yang lain serta menambah jumlah periode amatan. DAFTAR PUSTAKA