Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume 3. Nomor 3. Juni 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Online Available at: https://journal. id/index. php/jbpai Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme Yuminah Rahmatulloh1*. Muhammad Iqbal2. Ahmad Fardan3. Safry Rahmatullah4 1Ae4 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia Alamat: Jl. Ir. Djuanda No. Ciputat. Tangerang Selatan. Banten. Indonesia 15412 Korespondensi Penulis: yuminah@uinjkt. Abstract. The phenomenon of religious hijrah . piritual migratio. among Generation Z (Gen Z) has emerged as a noteworthy social trend in recent years. This study aims to explore the religious tendencies of Gen Z through a phenomenological approach, focusing on two prominent currents of Islamic preaching: Sufism and Salafism. Employing a qualitative method, in-depth interviews were conducted with selected Gen Z individuals actively engaged in Sufi- and Salafi-oriented preaching communities. The findings reveal that their choice of religious orientation is not solely influenced by theological aspects, but also shaped by social, psychological, and personal spiritual factors. Sufism tends to appeal to those seeking inner peace and spiritual experience, while Salafism attracts individuals who yearn for religious certainty and a firm Islamic identity. These results reflect the complex and diverse nature of Gen ZAos religiosity, emphasizing the need for contextual and humanistic preaching This study hopes to contribute to a deeper understanding of young Muslims' religious patterns and the development of more relevant da'wah approaches in the digital age. Keywords: Gen Z. Hijrah. Phenomenon. Salafism. Sufism Abstrak. Fenomena hijrah keberagamaan di kalangan Generasi Z (Gen Z) menjadi gejala sosial yang menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Studi ini bertujuan untuk memahami kecenderungan corak keberagamaan Gen Z melalui pendekatan fenomenologis, dengan fokus pada dua arus dakwah utama yang dominan, yaitu sufisme dan salafisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap sejumlah informan Gen Z yang aktif mengikuti komunitas dakwah berbasis sufistik dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan corak dakwah tidak semata-mata didasarkan pada aspek teologis, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial, psikologis, serta pencarian makna spiritual yang bersifat Sufisme cenderung diminati oleh mereka yang mencari kedamaian batin dan pengalaman spiritual, sedangkan salafisme lebih menarik bagi mereka yang mendambakan kepastian hukum agama dan identitas keislaman yang tegas. Temuan ini mencerminkan kompleksitas dinamika keberagamaan Gen Z yang tidak homogen, serta pentingnya pendekatan dakwah yang kontekstual dan humanis. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman pola keberagamaan generasi muda serta strategi dakwah yang lebih relevan di era digital. Kata Kunci: Gen Z. Hijrah. Fenomena. Salafisme. Sufisme LATAR BELAKANG Fenomena hijrah keberagamaan dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi bagian penting dari dinamika keislaman di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Istilah hijrah yang sebelumnya identik dengan perpindahan fisik Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, kini telah mengalami perluasan makna, menjadi proses transformasi spiritual dan komitmen menuju kehidupan yang lebih religius. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital. Generasi Z (Gen Z) yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 menjadi kelompok yang paling rentan sekaligus paling adaptif terhadap perubahan nilai, termasuk dalam dimensi keberagamaan. Received: Mei 22, 2025. Revised: Juni 04, 2025. Accepted: Juni 18, 2025. Published: Juni 20, 2025 Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme Gen Z menunjukkan pola keberagamaan yang unik, di mana kecenderungan untuk mencari makna spiritual yang otentik berpadu dengan intensitas interaksi di ruang digital. Media sosial menjadi salah satu kanal utama penyebaran dakwah dan wacana keislaman yang sangat berpengaruh dalam membentuk preferensi religius mereka. Dalam konteks ini, dua corak dakwah yang banyak menarik perhatian adalah sufisme dan salafisme. Keduanya menawarkan pendekatan yang berbeda dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Sufisme menekankan dimensi spiritual, cinta Ilahi, dan pembersihan jiwa. Adapun salafisme lebih menekankan pada purifikasi akidah dan ibadah, yakni kembali kepada praktik Islam generasi salaf, serta kepatuhan pada teks secara literal. Menariknya, meskipun kedua pendekatan tersebut memiliki perbedaan ideologis dan metodologis yang cukup tajam, keduanya sama-sama menemukan resonansi di kalangan Gen Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apa yang mendorong individu Gen Z untuk memilih salah satu corak dakwah tertentu? Bagaimana pengalaman keberagamaan mereka terbentuk melalui interaksi dengan komunitas dakwah sufistik maupun salafi?. Melalui pendekatan fenomenologi, penelitian ini bertujuan untuk menelaah pengalaman subjektif para pelaku hijrah di kalangan Gen Z, khususnya dalam memahami motivasi, proses, dan orientasi keberagamaan mereka. Penelitian ini tidak hanya penting dalam rangka memahami dinamika religiusitas generasi muda, tetapi juga memberikan implikasi strategis bagi pengembangan dakwah Islam yang kontekstual, dialogis, dan relevan dengan tantangan zaman. KAJIAN TEORITIS Hijrah Pengertian Hijrah secara Bahasa & Istilah Secara etimologis, kata hijrah berasal dari akar kata bahasa Arab yakni Auhajarayuhajiru-hijratanAy yang memiliki arti memisahkan diri atau "meninggalkan". Dalam pengertian ini, hijrah mengacu kepada tindakan meninggalkan sesuatu demi sesuatu yang lebih baik. Dalam terminologi Islam, hijrah dimaknai sebagai perpindahan dari suatu tempat atau keadaan, kepada tempat atau keadaan yang lebih baik demi mempertahankan dan mengamalkan ajaran Islam secara lebih sempurna. Menurut kamus Al-Mu'jam al-Wasith, hijrah berarti Auintiqaalu min makaanin ilaa makaanin akharAy . erpindah dari suatu tempat ke tempat lai. , terutama dari negeri kufur ke negeri Islam. Hal ini menunjukkan bahwa hijrah tidak hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga aspek ideologis dan spiritual. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Hijrah dalam ayat Al-QurAoan & Hadits Nabi Menurut M. Fuad Abdul Baqi, dalam Al-QurAoan bentuk kata kerja dan kata benda dari akar kata AuhajaraAy disebutkan lebih dari 30 kali di banyak ayat dalam berbagai bentuk kata dan konteks pemakaiannya. Berikut ini adalah beberapa contoh ayat dalam Al-QurAoan yang menyinggung mengenai Hijrah: a AcEEa Aa eO a OeIA AcEEa o A AcEEa OA AOE aiOE O e a eOI eIA AaI E aOeI IIa eO OE aOeI N a eO ON eaO Aa eO a eO aEA Artinya : AuSesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah, dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyanyang. Ay (Q. S al-Baqarah: . Juga dalam ayat yang lain, misalnya dalam Surah An-Nisa ayat 100 yang berbunyi: A eOEaN aIA a AcEEa OA A U aEOA A e Aa eO a eO aEA a AcEEa O ae AaO eE eA a A aI UI EaO Ue OU OI eI O e a e Ia eI eOaN aINA a AOI eI OacNA AcEEa Aa eO U a eO UIA AcEEa OEIA AOa ae eENa eEI eOa ACe OC e aN EOA Artinya : AuDan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan . yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya . ebelum sampai ke tempat yang dituj. , maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun. Maha Penyayang. Ay (Q. S an-Nisa: Dalam surah Al-Anfal. Allah SWT berfirman: a A aN eI eOEaO aA AcEEa OE aOeI O eO OIA a eO A a AOE aiOE eA AaI E aOeI IIa eO ON a eO ON eaO a eIO aE aN eI O eIAa a aN eI Aa eO a eO aEA A eA AA a aeEA a A a eO O aaI e eIA a eO aE eI AaOA e AEO aeI AE eO aE aI EIA a A a eO I E aE eI aI eI OeEOa aN eI aI eI eO O OaNA a A OE aOeI IIa eO OE eI OaNA A EO C eOI OeI aE eI OOeI aN eI aIOeA AAOeA AC OA a AcEEa aI eIEa eOI A Artinya : AuSesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan . epada Muhajiri. , mereka itu satu sama lain saling Dan . orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetap. jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam . rusan pembelaa. agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Ay (Q. S al-Anfal: . Adapun dalam Hadits. Nabi Muhammad SAW bersabda: aA a I eI N I INO NEE eINA a A eE aINA Artinya : AuOrang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah Ay (H. R Bukhari & Musli. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme Makna Historis Hijrah dalam Islam Dalam sejarah Islam. Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa penting yang menandai berubahnya fase transformasi dakwah Islam dari fase individual dan sembunyi-sembunyi ke fase sosial-politik dan terbuka. Peristiwa ini tidak hanya menjadi titik tolak dalam pembentukan negara Islam pertama di kota Madinah, tetapi juga menjadi simbol perjuangan untuk mempertahankan keyakinan di tengah tekanan dan Menurut Ibnu Hisyam, salah seorang pakar sejarah Islam dalam kitabnya as-Sirah anNabawiyah, hijrah dilakukan atas dasar wahyu dan perintah Allah SWT untuk menyelamatkan umat Islam dari penindasan kaum Quraisy di Mekkah dan untuk membuka jalan bagi kehidupan sosial yang Islami di Madinah. Oleh karena itu, hijrah menjadi titik balik dalam sejarah umat Islam yang menandai transisi dari kondisi terjajah dan lemah, menuju kemerdekaan dan kebebasan beragama. Secara sosial, hijrah juga mengandung makna pembentukan solidaritas dan persaudaraan umat Islam. Peristiwa hijrah menumbuhkan ikatan ukhuwah Islamiyah antara kaum Muhajirin . rang-orang yang hijrah dari Mekka. dan kaum Anshar . enduduk Madinah yang menerima merek. Hal ini menjadi fondasi terbentuknya masyarakat Islam yang egaliter, adil, dan berbasis pada prinsip tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Makna Hijrah dalam konteks Spiritual Dibalik makna literal, hijrah juga dapat dimaknai secara konsep spiritual. Secara konsep, hijrah spiritual adalah proses perpindahan dari kondisi batin yang jauh dari Allah kepada kedekatan ruhani dengan-Nya. Dalam kerangka tasawuf, hijrah spiritual merupakan tahapan awal dalam suluk . erjalanan ruhan. seorang hamba menuju Allah SWT. Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, misalnya, menyebutkan bahwa hijrah sejati adalah hijrah dari hawa nafsu menuju kebenaran ilahiah. Nabi Muhammad SAW sendiri menegaskan hal ini dalam aA a I eI N I INO NEE eINA a A eE aINA Artinya : AuOrang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah Ay (H. R Bukhari & Musli. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hijrah spiritual adalah berpindahnya hati manusia dari cinta dunia menuju cinta Allah, dari hawa nafsu menuju ketundukan terhadap al-Ghazali menuturkan dalam kitabnya. Ihya AoUlumuddin ia berkata : AuHijrah bukan Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari sifat-sifat tercela kepada sifat-sifat terpuji, dari kelalaian kepada kesadaran, dari maksiat menuju taqwa. Ay Dalam arti yang lain, hijrah spiritual sering kali diwujudkan dalam bentuk transformasi gaya hidup. Banyak individu Muslim modern yang AuberhijrahAy dari gaya hidup hedonistik menuju kehidupan yang lebih religius. Fenomena ini dapat dianalisis melalui teori transformasi identitas religius, sebagaimana dibahas oleh Oliver Roy dalam Globalized Islam, bahwa hijrah bukan hanya ekspresi keagamaan, tetapi juga pencarian identitas dan makna hidup di tengah dunia modern. Makna Hijrah dalam Konteks Psikologi Agama Kenneth I. Pargament, seorang pakar psikologi psikologi agama asal Amerika Serikat, memandang bahwa psikologi agama adalah ilmu yang mengkaji bagaimana keyakinan dan pengalaman spiritual mempengaruhi cara individu menghadapi tekanan dan perubahan hidup. Dalam pandangannya, pengalaman religius seperti hijrah merupakan bentuk dari religious coping, yakni strategi untuk mengatasi masalah eksistensial dan psikologis dengan pendekatan spiritual. Artinya, hijrah bukan hanya tindakan fisik atau sosial, tetapi juga cara seseorang menata ulang orientasi hidup berdasarkan nilai-nilai transendental. Makna hijrah juga berkaitan erat dengan teori religious conversion yang dikemukakan oleh Lewis Rambo. Ia menyatakan bahwa konversi religius, yang bisa dikaitkan dengan proses hijrah spiritual, merupakan perubahan mendalam dalam orientasi hidup seseorang, yang mencakup unsur krisis, pencarian, perjumpaan, dan keputusan untuk berubah. Dalam tahaptahap tersebut, hijrah terjadi sebagai jawaban terhadap krisis makna, yang mendorong seseorang mencari ketenangan melalui jalan agama. Viktor Frankl, seorang psikolog eksistensial, menekankan pentingnya pencarian makna dalam menghadapi penderitaan dan kekosongan hidup. Dalam karyanya ManAos Search for Meaning. Frankl menyebut bahwa manusia sanggup menanggung penderitaan asalkan ia memiliki makna yang dijadikan sandaran. Hijrah dalam konteks ini dapat dilihat sebagai bentuk logotherapy, yaitu terapi berbasis makna yang membimbing seseorang untuk menemukan arah hidup melalui nilai-nilai spiritual. Dengan demikian, hijrah dalam pandangan psikologi agama adalah perjalanan batin yang kompleks: dari kekosongan menuju pemaknaan, dari kegelisahan menuju ketenangan, dari keterpecahan jiwa menuju kesatuan spiritual. Proses ini tidak selalu tampak di permukaan, tetapi memberikan dampak mendalam pada kesehatan mental, orientasi hidup, dan relasi individu dengan Tuhan dan sesama. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme Generasi Z (Gen Z) Pengertian Gen Z Generasi Gen sebagai iGeneration. Zoomers, atau Post-Millennials, merupakan kelompok generasi yang lahir setelah generasi Milenial, umumnya mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, meskipun batas tahun ini dapat sedikit berbeda menurut beberapa pakar. Menurut Williams, generasi ini merupakan generasi pertama yang tumbuh dengan teknologi digital secara intensif sejak masa kecil, yang membentuk cara mereka berpikir, belajar, dan berinteraksi sosial secara Gen Z merupakan generasi digital-native pertama yang tidak mengenal dunia tanpa internet, media sosial, dan perangkat pintar. Artinya sejak usia dini, mereka telah terbiasa dengan akses cepat terhadap informasi dan keterhubungan global. Hal ini membawa dampak besar pada cara mereka membentuk identitas diri dan menjalani kehidupan sehari-hari. Menurut laporan dari McCrindle Research. Gen Z sangat terhubung dengan dunia maya, multitasking, serta terbiasa menyerap informasi dalam waktu singkat melalui media visual. Fakta-Fakta seputar Gen-Z Salah satu fakta utama mengenai Gen Z, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, adalah ketergantungan mereka terhadap teknologi digital. Menurut laporan Pew Research Center, sekitar 95% remaja Gen Z memiliki atau memiliki akses terhadap ponsel pintar, dan hampir 45% menyatakan bahwa mereka Auselalu onlineAy. Ini menunjukkan bagaimana teknologi digital telah menjadi bagian integral dalam hidup mereka. Selain itu. Gen Z juga menunjukkan kecenderungan kuat terhadap nilai-nilai keadilan sosial, keberagaman, dan inklusivitas. Mereka cenderung lebih terbuka terhadap perbedaan gender, ras, dan orientasi seksual dibandingkan generasi sebelumnya. Sebuah studi oleh Ernst & Young menunjukkan bahwa 63% Gen Z percaya bahwa keberagaman adalah faktor penting dalam membangun komunitas atau tempat kerja yang sehat. Dalam hal pendidikan dan karier. Gen Z lebih pragmatis dan realistis dibandingkan generasi Milenial. Mereka menyadari pentingnya stabilitas finansial dan cenderung lebih tertarik pada jalur karier yang menjanjikan prospek ekonomi yang baik. Deloitte Global Millennial Survey 2020 menunjukkan bahwa meskipun Gen Z peduli terhadap isu sosial, mereka juga sangat memperhatikan kestabilan ekonomi pribadi dan prospek karier jangka Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Karakteristik Gen Z Menurut Para Ahli Menurut Seemiller dan Grace dalam bukunya Generation Z Goes to College, terdapat beberapa karakter utama yang mencolok dari Gen Z, antara lain: Teknologi sebagai bagian identitas diri. Gen Z tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi menjadikannya bagian dari identitas mereka. Mereka belajar, bekerja, bersosialisasi, dan bahkan membentuk citra diri melalui platform digital. Mandiri dan Inovatif. Gen Z cenderung memiliki semangat wirausaha tinggi. Mereka gemar mencoba hal baru, belajar otodidak melalui internet, dan mengeksplorasi peluang usaha sejak usia muda. Pragmatis dan realistis. Tidak seperti Milenial yang lebih idealis. Gen Z lebih realistis dalam memandang dunia. Mereka menyadari tantangan ekonomi global dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan keuangan maupun karier. Peduli terhadap isu global. Gen Z memiliki kesadaran sosial tinggi. Mereka peduli terhadap isu lingkungan, keadilan sosial, dan perubahan iklim. Menurut laporan dari IBM Institute for Business Value, lebih dari 75% Gen Z menyatakan bahwa keberlanjutan dan etika perusahaan memengaruhi keputusan mereka dalam membeli produk. Menghargai keautentikan dan keterbukaan. Dalam Gen menghargai kejujuran, transparansi, dan otentisitas. Mereka cenderung skeptis terhadap informasi yang terkesan manipulatif atau tidak jujur, dan lebih mempercayai konten yang bersifat personal dan alami. Sufisme Pengertian Sufisme Sufisme atau dalam bahasa arab disebut sebagai tasawuf, merupakan dimensi spiritual sekaligus aliran keagamaan dalam Islam yang menekankan penyucian jiwa, kecintaan kepada Allah, dan pencapaian kedekatan spiritual . aAorifa. dengan-Nya. Secara etimologis, kata "sufi" diyakini berasal dari kata AusufAy yang berarti kain wol, yang merujuk pada pakaian kasar yang dikenakan oleh para asketis Muslim awal sebagai simbol kesederhanaan dan penolakan terhadap duniawi. Dalam konteks keilmuan Islam. Sufisme dipandang sebagai jalan batin . yang berakar dari syariat dan bertujuan mencapai tingkatan yang lebih tinggi yaitu, maAorifat. Imam karyanya Ihya Ulumuddin, menyebut tasawuf sebagai al-Ghazali "inti Islam" menyempurnakan aspek syariat dengan dimensi batiniah yang mendalam. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme Sufisme sebagai Dimensi Spiritual dalam Islam Mayoritas ulama klasik dan kontemporer, termasuk tokoh-tokoh seperti Imam alGhazali. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan Ibnu Khaldun, memahami Sufisme . sebagai dimensi batiniah dari ajaran Islam, yang berfokus pada tazkiyatun nafs . enyucian jiw. , kedekatan dengan Allah . aAorifa. , dan akhlak mulia. Dalam kerangka ini. Sufisme bukanlah suatu aliran tersendiri, melainkan bagian integral dari Islam yang melengkapi dimensi syariah . dan akidah . Imam al-Ghazali, mengutip perkataan salah seorang ulama terkemuka, yang mengatakan: AuBarang siapa yang berfiqh tanpa tasawuf, maka dia fasik. Dan barang siapa yang bertasawuf tanpa fiqh, maka dia zindik. Namun barang siapa yang menggabungkan antara fiqh dan tasawuf, maka dia telah memperoleh kebenaran. Ay Sufisme sebagai Aliran atau Kelompok dalam Islam Namun dalam perkembangan sejarah. Sufisme juga berkembang menjadi tarekattarekat yang memiliki struktur, ajaran, dan silsilah khusus. Dalam hal ini, ia tampak seperti aliran karena memiliki tokoh pendiri misalnya seperti Abdul Qadir al-Jailani. Bahauddin Naqsyaband, dan tokoh-tokoh tarekat lainnya. Uniknya setiap tarekat ini memiliki metode dzikir dan latihan spiritual khusus, yang masing-masingnya dipimpin oleh seorang guru pendamping yang disebut sebagai mursyid. Corak Pendekatan Dakwah Sufisme Dakwah Sufisme tidak bersifat konfrontatif atau formalistik, melainkan bersifat halus, etis, dan penuh kasih sayang. Para sufi menyampaikan ajaran Islam melalui keteladanan hidup, akhlak yang luhur, dan pendekatan budaya yang akomodatif. Dalam sejarahnya, para sufi seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Jalaluddin Rumi lebih menekankan kasih sayang, cinta ilahi, dan toleransi sebagai sarana dakwah. Pendekatan dakwah Sufisme memiliki beberapa karakteristik utama: Pendekatan Personal dan Spiritual Para sufi mengutamakan pendekatan hati ke hati. Dakwah mereka tidak dilakukan dengan cara retorika atau debat, melainkan dengan membimbing individu kepada pengenalan diri dan pengenalan Tuhan. Mereka memfokuskan pada pembersihan hati . azkiyatun naf. sebagai pintu masuk untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara mendalam. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Akulturatif dan Inklusif Di berbagai wilayah, para sufi berhasil mengislamkan masyarakat dengan pendekatan akulturatif, yakni menyelaraskan dakwah Islam dengan budaya lokal tanpa menghilangkan substansi tauhid. Contoh nyata terlihat dalam proses islamisasi di Nusantara, di mana para Wali Songo menggunakan pendekatan kultural dan kesenian untuk menyebarkan ajaran Islam tanpa menimbulkan resistensi. Transformasi Sosial Dakwah Sufisme juga berperan dalam membentuk masyarakat yang damai, harmonis, dan religius. Para sufi tidak hanya menjadi guru spiritual, tetapi juga agen perubahan sosial, memberikan solusi atas problem kemiskinan, kebodohan, dan konflik sosial dengan nilai-nilai sufistik seperti zuhud, tawakal, dan ikhlas. Karakteristik Dakwah Sufisme Dakwah Sufisme memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari bentuk dakwah lainnya. Adapun karakteristik utamanya antara lain: Berbasis Akhlak dan Keteladanan Para sufi menjadikan akhlak sebagai pusat dakwah. Mereka lebih menekankan praktik moral dan kesalehan pribadi daripada wacana teologis yang abstrak. Keteladanan dalam perilaku sehari-hari menjadi metode dakwah yang paling efektif bagi mereka. Kontemplatif dan Reflektif Sufisme mendorong umat Islam untuk merenungi makna kehidupan dan hubungan dengan Tuhan. Melalui zikir, khalwat . , dan muhasabah . , sufi mengajak manusia untuk berdakwah kepada dirinya sendiri sebelum berdakwah kepada orang lain. Universal dan Damai Dakwah Sufisme menekankan prinsip kasih sayang universal . ahmatan lil Aoalamii. Oleh sebab itu, pesan yang dibawa tidak hanya untuk umat Islam, tetapi juga ditujukan kepada seluruh umat manusia, bahkan makhluk hidup lainnya. Hal ini memungkinkan dakwah sufi diterima di berbagai komunitas lintas budaya dan agama. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme A Anti-Kekerasan dan Non-Konfrontatif Sufisme menghindari pendekatan kekerasan dalam dakwah. Mereka menolak penggunaan paksaan atau tekanan dalam menyebarkan ajaran Islam, sesuai dengan prinsip "la ikraaha fi diin" . idak ada paksaan dalam agam. Perkembangan Dakwah Sufisme di Indonesia Sufisme atau tasawuf memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Sufisme bukan hanya sebagai pendekatan spiritual, tetapi juga menjadi strategi dakwah yang adaptif terhadap budaya lokal. Penyebaran Islam melalui pendekatan sufistik di Indonesia berlangsung secara damai, bertahap, dan penuh dengan kearifan lokal, menjadikannya sebagai kekuatan utama dalam Islamisasi nusantara sejak abad ke-13 M. Berikut diantara fakta-fakta mengenai perkembangan dakwah sufisme di Indonesia: Masuknya Islam Melalui Jalur Sufi Islam masuk ke Nusantara tidak melalui ekspansi militer, tetapi melalui perdagangan dan dakwah yang dilakukan oleh para pedagang dan ulama sufi. Para sufi memiliki kemampuan beradaptasi dengan kebudayaan lokal, memanfaatkan simbolsimbol lokal, serta menyisipkan nilai-nilai Islam dalam praktik budaya setempat. Hal ini mempermudah proses akulturasi dan penerimaan masyarakat lokal terhadap ajaran Islam. Salah satu jalur penyebaran yang paling berpengaruh adalah melalui jaringan tarekat, seperti Tarekat Syattariyah. Qadiriyah. Naqsyabandiyah, dan Tijaniyah. Ulama sufi seperti Syaikh Yusuf al-Makassari dan Syaikh Abdul Rauf as-Singkili memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran tasawuf di wilayah Indonesia bagian timur dan barat. Peran Wali Songo dalam Dakwah Sufistik Wali Songo adalah figur utama dalam dakwah Islam di Jawa. Mereka dikenal sebagai tokoh-tokoh sufi yang berdakwah dengan pendekatan kultural. Sunan Kalijaga, misalnya, memadukan dakwah dengan kesenian dan budaya Jawa, seperti wayang dan gamelan, sehingga ajaran Islam mudah diterima masyarakat tanpa menimbulkan konflik budaya. Pendekatan ini merupakan bentuk tasawuf amali yang menekankan pada penghayatan spiritual melalui laku hidup sederhana, toleransi, dan cinta kasih. Dengan metode dakwah yang lembut dan humanis, para wali berhasil mengislamkan kerajaan-kerajaan besar seperti Demak. Cirebon, dan Banten. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Perkembangan Tarekat di Masa Kolonial Pada masa kolonial Belanda, tarekat sufi menjadi wadah spiritual sekaligus sosial-politik bagi umat Islam. Banyak gerakan perlawanan terhadap penjajah lahir dari komunitas tarekat. Misalnya, perlawanan Diponegoro . 5Ae1. yang didukung oleh jaringan Tarekat Syattariyah dan Qadiriyah. Tarekat juga menjadi sarana pendidikan Islam dan penguatan identitas keislaman di tengah tekanan Pesantren sebagai pusat pendidikan Islam tradisional banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai sufistik. Nilai-nilai ini terlihat dalam sistem pembelajaran kitab-kitab tasawuf seperti IhyaAo Ulumuddin karya Imam al-Ghazali yang banyak diajarkan di pesantren. Eksistensi dan Reaktualisasi Sufisme di era Modern Di era modern, dakwah Sufisme mengalami revitalisasi. Banyak ulama dan tokoh sufi beradaptasi dengan media sosial dan forum publik untuk menyebarkan pesan-pesan spiritualitas Islam. Organisasi seperti JamAoiyyah Ahlith Thariqah alMuAotabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) memainkan peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi tasawuf di Indonesia. Di sisi lain, banyak kalangan urban tertarik pada sufisme karena dianggap mampu memberikan jawaban terhadap kekeringan spiritual dan kegelisahan hidup modern. Fenomena majelis dzikir dan kajian tasawuf di kota-kota besar menjadi indikasi bangkitnya kesadaran spiritual masyarakat kontemporer. Salafisme Pengertian Salafi dalam Konteks Pemahaman Istilah Salafi berasal dari kata salaf, yang secara etimologis berarti "pendahulu" atau "generasi awal. " Dalam konteks keislaman, salaf merujuk kepada tiga generasi pertama umat Islam, yakni para sahabat Nabi Muhammad SAW, tabiAoin . enerasi setelah sahaba. , dan tabiAout tabiAoin . enerasi setelah tabiAoi. Ketiga generasi ini diyakini sebagai umat terbaik dalam memahami dan mengamalkan Islam secara murni dan lurus sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Artinya, istilah Salafi mengacu mengikuti manhaj salaf . etode para pendahulu umat Isla. , yaitu para sahabat Nabi Muhammad SAW, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Dalam konteks pemahaman. Salafi bukanlah nama organisasi atau kelompok formal, melainkan merujuk pada cara berpikir dan cara Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme memahami agama yang berlandaskan Al-QurAoan dan Sunnah dengan pemahaman generasi awal umat Islam. Hal ini didasari atas hadits berikut: A C eIaO aI E aOeI OEa eOI aN eI aI E aOeI OEa eOI aN eIA a AO ae EIA Artinya : AuSebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya. Ay (H. Bukhari & Musli. Pemahaman Salafi menekankan pentingnya mengikuti dalil yang sahih dan menghindari takwil berlebihan terhadap teks agama. Prinsip utamanya adalah bahwa Islam telah sempurna pada masa Nabi dan para sahabat, dan karenanya umat Islam masa kini hendaknya kembali kepada kemurnian ajaran tersebut. Seperti yang ditegaskan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, seorang ulama terkemuka dari Kerajaan Saudi Arabia : AuSalafiyyah adalah berpegang teguh pada apa yang diamalkan oleh para sahabat, tabi'in, dan generasi awal dalam akidah, ibadah, dan muamalah. Ay Salafi dalam Konteks Aliran Keagamaan Dalam konteks modern, istilah Salafi juga berkembang menjadi bentuk aliran keagamaan yang memiliki struktur dakwah, lembaga pendidikan, dan tokoh-tokoh sentral. Meskipun secara prinsip tetap merujuk pada manhaj salaf. Salafisme sebagai aliran keagamaan memiliki ciri khas seperti penolakan terhadap praktik bidAoah, loyalitas terhadap ulama yang dianggap lurus, serta semangat dalam dakwah tauhid. Menurut Hamid Fahmy Zarkasyi, dalam bukunya yang berjudul AuManhaj Salaf antara Taqdis dan KritikAy, ia menuturkan bahwa Salafisme kontemporer merupakan gerakan transnasional yang memiliki karakteristik khusus: skripturalisme, purifikasi akidah, serta resistensi terhadap budaya lokal yang dianggap bertentangan dengan sunnah. Dalam praktiknya. Salafi sebagai aliran keagamaan juga membentuk jaringan kajian, media dakwah, hingga institusi pendidikan yang tersebar luas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salafi sebagai aliran keagamaan juga terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan strategi dakwah dan orientasi sosial-politik, yaitu: Salafi dakwah . , yang berfokus pada pendidikan dan pengajaran kitab-kitab klasik tanpa terlibat dalam politik. Salafi haraki . , yang lebih terbuka terhadap isu-isu sosial dan politik Islam. Salafi jihadi, yang mengadopsi pendekatan militan dengan klaim menegakkan syariat secara menyeluruh melalui kekuatan. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Corak Pendekatan Dakwah Salafi Secara teoretis, dakwah Salafi berangkat dari prinsip Auar-rujuAo ilaal kitaabi wa sunnahAy, yaitu kembali kepada Al-QurAoan dan Sunnah dengan pemahaman generasi awal umat Islam. Gerakan ini memiliki akar pemikiran yang kuat dalam literatur Islam klasik, dengan titik tekan pada kemurnian akidah, penolakan terhadap bidAoah . novasi dalam agam. , serta upaya pemurnian praktik keagamaan dari unsur-unsur yang dianggap menyimpang. Pendekatan ini bersifat tekstual dan literal, menolak takwil yang dianggap sebagai bentuk Dakwah Salafi menekankan ittibaAo . daripada taqlid . eniru secara membabi but. , sehingga para daAoi Salafi mendorong umat untuk merujuk langsung kepada dalil-dalil syarAoi, bukan sematamata mengikuti otoritas ulama tertentu tanpa dalil. Dakwah Salafi memiliki pendekatan yang khas dan dapat dikategorikan ke dalam beberapa corak utama, yaitu: Pendekatan Tarbiyah Aqidah (Pembinaan Akida. Fokus utama dakwah Salafi adalah pembinaan akidah tauhid. Segala bentuk penyimpangan dalam akidah dan ibadah seperti syirik, khurafat, dan bidAoah menjadi fokus koreksi dalam dakwah ini. Oleh karena itu, dakwah Salafi sangat gencar mengkritisi praktik-praktik keagamaan yang dianggap tidak memiliki dasar dari AlQurAoan dan Sunnah. Pendekatan Ilmiah dan Berbasis Nash Dakwah Salafi mengedepankan argumentasi ilmiah berbasis nash, dengan rujukan utama kitab-kitab hadits shahih dan tafsir salaf. Mereka menolak metode rasionalistik dalam memahami agama jika bertentangan dengan teks yang eksplisit. Hal ini menjadikan dakwah Salafi sering dianggap kaku atau tidak kontekstual oleh kelompok lain. Anti-politik dan Anti-aktivisme Sosial . arian tertent. Dalam spektrum tertentu, dakwah Salafi bersifat apolitis, menolak keterlibatan langsung dalam urusan kekuasaan dan demonstrasi, karena dianggap dapat menimbulkan fitnah dan tidak sesuai dengan prinsip ketaatan kepada ulil amri. Pendekatan ini disebut dengan Salafi Jami atau Madkhaly yang banyak tersebar di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme A Penggunaan Media dan Teknologi Meskipun cenderung konservatif dalam isi ajaran, dakwah Salafi cenderung adaptif terhadap media dan teknologi. Di Indonesia, banyak saluran YouTube, radio dakwah, hingga platform media sosial yang dikelola oleh komunitas Salafi guna menyebarkan dakwah secara luas dan sistematis. Karakteristik Dakwah Salafi Karakteristik dakwah Salafi dapat dikenali dari sejumlah ciri utamanya, yaitu: Pemurnian (Tanzhi. Upaya untuk membersihkan agama dari pengaruh yang dianggap asing terhadap Islam seperti filsafat Yunani, mistisisme sufi, dan bidAoah-bidAoah yang berkembang dalam praktik keagamaan umat Islam. Eksklusivisme Salafi cenderung membatasi otoritas keilmuan pada ulama yang berada dalam jaringan Salafi itu sendiri, sehingga menghasilkan pola dakwah yang tertutup terhadap pandangan luar. Loyalitas dan Permusuhan . l-walaAo wal baraA. Konsep ini menjadi prinsip penting dalam dakwah Salafi, yang berarti mencintai dan membela orang-orang yang berpegang teguh pada tauhid dan sunnah serta membenci dan menjauhi pelaku bidAoah dan kesyirikan. Perkembangan Dakwah Salafi di Indonesia Perkembangan dakwah Salafi di Indonesia merupakan salah satu fenomena penting dalam studi kontemporer Islam di Asia Tenggara. Gerakan ini menandai proses transnasionalisasi ideologi keislaman yang berpijak pada pemurnian ajaran agama, dengan akar teologis yang kuat dengan warisan pemikiran Ibnu Taymiyyah serta Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Di Indonesia. Salafisme berkembang dengan corak tersendiri, memadukan pengaruh global dengan konteks lokal. Berikut diantara fakta-fakta mengenai perkembangan dakwah salafi di Indonesia: Transmisi Ideologi Salafi ke Indonesia Masuknya ideologi Salafi ke Indonesia tidak bisa dilepaskan dari hubungan intelektual dan kultural antara Indonesia dan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Sejak tahun 1980-an, mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Islam Madinah Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. dan institusi sejenis membawa pulang ide atau gagasan Salafi dan mulai mendirikan lembaga pendidikan dan dakwah. Di antara alumni tersebut, banyak yang kemudian menjadi tokoh penting dalam penyebaran dakwah Salafi, seperti JaAofar Umar Thalib dan Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Strategi Dakwah Salafi di Era Kontemporer Dalam dua dekade terakhir, gerakan Salafi di Indonesia mengadopsi berbagai strategi dakwah yang efektif untuk menjangkau umat. Selain pengajaran di masjid dan pesantren, mereka memanfaatkan media sosial. YouTube, podcast, dan radio dakwah untuk menyebarkan materi kajian, tanya jawab keislaman, serta fatwa. Strategi ini mencerminkan apa yang disebut oleh Dale Eickelman dan Jon Anderson sebagai AuIslamic Reformation in the Public SphereAy, yaitu pemanfaatan teknologi komunikasi untuk memperluas otoritas keagamaan. Di samping itu, lembaga-lembaga pendidikan Salafi juga berkembang pesat, seperti Pesantren Islam al-Irsyad Tengaran di Semarang. MaAohad Jamilurrahman di Yogyakarta. Pesantren Minhajussunnah dan Pesantren Ibnu Taimiyah di Bogor, serta Pesantren al-Furqon di Gresik. Institusi-institusi ini memainkan peran dalam membina generasi muda Muslim dalam kerangka pemikiran Salafi, dengan kurikulum berbasis tauhid, akidah, dan manhaj salaf. Kritik dan Respons terhadap Dakwah Salafi Meskipun berkembang pesat, dakwah Salafi juga mendapat kritik dari berbagai kalangan, terutama dari kelompok Islam tradisionalis seperti Nahdlatul Ulama (NU). Salafi dianggap terlalu eksklusif dan konfrontatif dalam menyikapi praktik keagamaan lokal seperti ziarah, tahlil, dan maulid, yang oleh mereka dianggap sebagai bidAoah. Di sisi lain, kelompok Salafi juga menolak pendekatan tasawuf dan tarekat yang dianggap tidak memiliki dasar yang sahih. Namun, dalam beberapa konteks, dakwah Salafi menunjukkan kecenderungan adaptif, seperti menerima kerja sama dengan pemerintah dalam program deradikalisasi, atau menekankan ketaatan kepada ulil amri . emerintah sa. sebagai bagian dari ajaran manhaj Salafi. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dalam menyikapi tantangan politik dan sosial di Indonesia. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi fenomenologi, yang bertujuan untuk memahami makna pengalaman subjektif para individu Generasi Z dalam proses hijrah keberagamaan mereka. Pendekatan fenomenologi digunakan untuk menggali secara mendalam pengalaman religius yang dialami oleh partisipan, serta memahami bagaimana mereka memberi makna terhadap pilihan corak dakwah sufistik maupun salafi yang mereka jalani. Penelitian ini merujuk pada pendekatan fenomenologi transendental sebagaimana yang dikembangkan oleh Moustakas . , yang menekankan pemahaman mendalam terhadap esensi pengalaman individu. HASIL PENELITIAN Penelitian ini mengkaji secara mendalam fenomena hijrah keberagamaan di kalangan Generasi Z, khususnya dalam konteks kecenderungan terhadap corak dakwah sufistik dan Berdasarkan hasil wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap delapan informan yang aktif dalam komunitas dakwah, diperoleh beberapa tema utama yang mencerminkan dinamika proses hijrah, pemaknaan religiositas, serta pemilihan orientasi dakwah oleh Generasi Z. Motivasi Hijrah: Pencarian Makna dalam Krisis Kehidupan Sebagian besar informan menyatakan bahwa motivasi awal dalam proses hijrah bukan sekadar keinginan memperbaiki ibadah, melainkan berakar dari kegelisahan eksistensial. Krisis identitas, tekanan hidup, perasaan kosong, hingga pengalaman traumatis . eperti kehilangan, kegagalan, atau keterasingan sosia. menjadi pemicu refleksi spiritual. Salah satu informan menyebutkan: AuAwalnya saya merasa hidup ini kosong, meskipun secara materi Tapi ada yang hilang. Lalu saya nonton video kajian, dari situ saya mulai sadar saya butuh Tuhan. Ay Fenomena ini sesuai dengan konsep religious coping dari Kenneth I. Pargament, bahwa pengalaman spiritual seperti hijrah merupakan respon adaptif terhadap tekanan psikologis, di mana individu menata ulang orientasi hidup berdasarkan nilai-nilai Kecenderungan terhadap Corak Dakwah: Sufisme vs. Salafisme Temuan menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam motivasi dan karakteristik individu yang memilih antara dakwah sufistik dan dakwah salafi. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Sufisme: Damai. Reflektif, dan Personal Informan yang memilih dakwah sufistik menekankan pencarian kedamaian batin, pengalaman spiritual, dan hubungan personal dengan Tuhan. Mereka tertarik pada nilai-nilai seperti cinta Ilahi, tazkiyatun nafs . enyucian jiw. , serta ajaran tentang ikhlas dan sabar. Kajian yang mereka ikuti banyak berfokus pada introspeksi diri, zikir, serta akhlak. AuSaya merasa tenang setelah ikut majelis dzikir. Tidak merasa dihakimi, justru diajak mengenal diri dan mendekat ke Allah secara lembut. Ay Sufisme dalam konteks ini dipahami bukan sebagai aliran tertutup, melainkan sebagai jalan spiritual yang menghidupkan sisi batiniah Islam. Hal ini sejalan dengan pemikiran Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, yang menyebut tasawuf sebagai "inti dari agama". Salafisme: Tegas. Teksual, dan Berorientasi pada Kepastian Sementara itu, informan dari komunitas salafi menekankan pentingnya kepastian hukum, kejelasan dalil, serta konsistensi dalam beribadah sesuai sunnah. Mereka cenderung menghindari bentuk keberagamaan yang dianggap "tidak sesuai dalil", dan sangat berhati-hati terhadap praktik bidAoah. AuSaya lebih nyaman dengan ustaz yang menyampaikan dalil. Jelas, tegas, dan tidak pakai tafsir aneh-aneh. Islam itu sudah sempurna, tinggal kita ikuti. Ay Pilihan terhadap dakwah salafi banyak dipengaruhi oleh keinginan membangun identitas keislaman yang kuat, serta keyakinan bahwa pemurnian akidah adalah jalan menuju keselamatan. Hal ini menguatkan gagasan dari Syaikh Shalih al-Fauzan, bahwa salafiyah adalah berpegang teguh pada apa yang diyakini dan diamalkan oleh generasi awal Islam. Peran Komunitas: Ruang Sosial. Pembinaan, dan Dukungan Emosional Komunitas dakwah menjadi tempat sentral dalam proses hijrah para informan. Baik dalam komunitas sufistik maupun salafi, para anggota merasa mendapatkan dukungan moral, pembinaan keagamaan, serta solidaritas sosial yang kuat. Dalam komunitas sufistik, hubungan emosional dan spiritual dengan guru atau mursyid menjadi penting. Di sisi lain, komunitas salafi menyediakan struktur pembelajaran yang sistematis dan rutin, seperti halaqah kitab, pelatihan tajwid, dan program tahfidz. AuSaya merasa punya keluarga baru setelah ikut komunitas ini. Kami saling mengingatkan, saling bantu, dan bareng-bareng belajar agama. Ay Peran komunitas ini juga sejalan dengan teori konversi religius dari Lewis Rambo, yang menempatkan "komunitas" sebagai tahap penting dalam proses perubahan orientasi hidup. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme Media Sosial: Ruang Awal Hijrah dan Kanal Dakwah Digital Media sosial memiliki kontribusi besar sebagai pemicu awal hijrah dan sebagai ruang konsolidasi keagamaan bagi para informan. Sebagian besar informan mengaku mengenal dakwah dari YouTube. TikTok, atau Instagram. AuSaya dulu mulai nonton kajian di TikTok. Lama-lama penasaran, terus ikut majelis offline-nya. Ay Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi religiositas Gen Z berlangsung secara digital, sesuai dengan gagasan Oliver Roy tentang Globalized Islam, yaitu Islam yang berkembang dan dipraktikkan dalam ruang-ruang publik global dan maya. Namun, media sosial juga menjadi sumber tantangan karena membuka ruang bagi polarisasi corak dakwah dan debat ideologis yang bisa memicu konflik antar kelompok. Dampak Hijrah terhadap Kehidupan Pribadi dan Sosial Hijrah tidak hanya mengubah praktik keagamaan para informan, tetapi juga mengubah pola pikir, gaya hidup, relasi sosial, dan arah hidup secara keseluruhan. Beberapa informan mengalami pertentangan dari keluarga, tetapi tetap teguh karena merasa telah menemukan makna hidup yang lebih hakiki. AuSaya dulu hedon, suka foya-foya. Tapi setelah hijrah, saya lebih bahagia walaupun hidup sederhana. Yang penting hati tenang. Ay Secara keseluruhan, proses hijrah memberikan efek positif terhadap stabilitas emosional, kedisiplinan hidup, dan hubungan dengan Tuhan. Dalam sudut pandang psikologi agama, hijrah berfungsi sebagai proses logoterapi yang mengarahkan individu menemukan makna dan arah hidup secara spiritual, sebagaimana ditegaskan oleh Viktor Frankl dalam ManAos Search for Meaning. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini mengungkap bahwa fenomena hijrah di kalangan Generasi Z merupakan ekspresi religiositas yang kompleks dan multidimensional. Hijrah bukan sekadar perubahan gaya hidup menuju religiusitas formal, tetapi mencerminkan pencarian makna, jawaban atas kegelisahan eksistensial, serta upaya membangun identitas spiritual di tengah tantangan dunia Kecenderungan terhadap corak dakwah sufisme maupun salafisme tidak bisa dilepaskan dari faktor sosial, psikologis, dan pengalaman spiritual yang personal. Sufisme cenderung menarik bagi mereka yang mencari kedamaian batin, pengalaman ruhani, dan relasi spiritual yang lembut. Sebaliknya, salafisme menarik bagi mereka yang mendambakan kepastian hukum agama, struktur ajaran yang tegas, serta identitas keislaman yang kuat. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 e-ISSN: 3031-8343. p-ISSN: 3031-8351. Hal. Komunitas dakwah memainkan peran penting dalam proses transformasi religius ini, tidak hanya sebagai ruang pembinaan keagamaan, tetapi juga sebagai tempat pencarian solidaritas, dukungan emosional, dan penguatan jati diri. Media sosial berfungsi sebagai gerbang awal bagi sebagian besar informan untuk mengenal dakwah, namun juga menjadi ruang yang rentan terhadap polarisasi dan konflik ideologis. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan beberapa hal. Pertama, para dai dan institusi dakwah sebaiknya menerapkan pendekatan yang kontekstual, empatik, dan dialogis dalam menyampaikan ajaran Islam kepada Gen Z. Pendekatan dakwah tidak cukup hanya menekankan aspek teologis dan normatif, tetapi juga harus mempertimbangkan dimensi psikospiritual, bahasa digital, dan budaya populer yang dekat dengan keseharian Gen Z. Kedua, komunitas dakwah perlu memperkuat nilai inklusivitas dan kolaborasi antarkelompok, serta menghindari sikap eksklusif yang dapat menciptakan sekat sosial dan polarisasi. Ketiga, diperlukan pelatihan dakwah yang mendorong keterampilan komunikasi lintas generasi, pemahaman psikologi anak muda, serta kemampuan literasi digital bagi para pendakwah. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah dan keragaman informan, yang sebagian besar berasal dari latar belakang perkotaan dan komunitas digital. Oleh karena itu, studi lanjutan disarankan untuk melibatkan informan dari berbagai wilayah dan konteks sosial yang lebih beragam, seperti pesantren, komunitas marginal, atau lingkungan pendidikan Dengan demikian, pemetaan kecenderungan hijrah religius di kalangan Gen Z akan lebih komprehensif dan aplikatif bagi pengembangan strategi dakwah Islam di masa UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan artikel ini. Ucapan terima kasih khusus disampaikan kepada para informan dari kalangan Generasi Z yang dengan terbuka telah membagikan pengalaman hijrah mereka, sehingga memperkaya data dan pemahaman dalam studi ini. Penulis juga mengapresiasi dukungan dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, baik dalam bentuk fasilitas maupun bimbingan akademik. Tak lupa, terima kasih kepada rekan-rekan sejawat dan dosen pembimbing yang telah memberikan masukan konstruktif selama proses penulisan. Artikel ini juga merupakan bagian dari hasil penelitian mandiri yang dilaksanakan pada tahun 2025. Segala bantuan dan kontribusi tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan publikasi ini. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae VOLUME 3. NOMOR 3. JUNI 2025 Fenomena Tren Hijrah Keberagaman di Kalangan Gen Z: Studi Fenomenologi Kecenderungan terhadap Corak Dakwah Sufisme dan Salafisme DAFTAR PUSTAKA