ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA HEMOROID DI RUMAH SAKIT BUDI KEMULIAAN KOTA BATAM TAHUN 2023 Muhammad Rifki1. Andi Asda Astiah2. Aghnia Hernawati3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, muhammadrifki@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, andiasdaastiah@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, aghnia. herna26@gmail. ABSTRACT Background: Symptoms of hemorrhoid can happen because of many risk factors such as age, history of hemorrhoid in family, lack of fiber foods consumption, lack of water, history of constipation, wrong habits of defecation and physical activity. The purpose of this research is to know the correlation between many risk factor that can effect the incident of hemorrhoid. Methods: This research was observational analytic study with case control design. Total samples included 72 people. Samples were obtained by purpossive sampling. The primary data obtained by recording the interviews based on questionairre and analyzed using univariate, bivariate with chisquare. Results: The results showed that hemorrhoid more common in person above 45 years old . ,2%), no family history 80. 6%, heavy physical activity 58. 3%, no history of constipation 63. 9%, squatting defecation position 52. 8% , and low fiber consumption of 61. The results of this study was that there was a significant relationship between physical activity . =<0. , history of constipation . =<0. , fiber consumption . =<0. , defecation position . =<0. , age . =0. against And there is no relationship between family history . =<0. and the incidence of Conclusion: There is a significant realtionship between fiber consumption, physical activity, defecation position, age, history of constipation with hemorrhoids. There is no relationship between a family history of hemorrhoids and the incidence of hemorrhoids. Keywords: hemorrhoid, constipation, activity ABSTRAK Latar Belakang: Gejala hemoroid dapat disebabkan karena beberapa faktor seperti usia, riwayat hemoroid pada keluarga, asupan serat yang kurang, asupan air yang kurang, riwayat konstipasi, pola buang air besar yang salah, dan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan beberapa faktor risiko yang mempengaruhi kejadian hemoroid. Metode: Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross sectional. Total sampel penelitian berjumlah 72 orang. Sampel didapatkan dengan metode purpossive sampling. Data primer didapatkan dengan mencatat hasil wawancara berdasarkan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat dengan chi-square. Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan karakteristik pasien hemoroid terbanyak usia >45 tahun 51,4%, tidak ada riwayat keluarga 80,6%, aktivitas fisik berat 58,3%, tidak ada riwayat konstipasi 63,9%, posisi defekasi jongkok 52,8%, dan konsumsi serat rendah 61,1%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik . =<0,. , riwayat konstipasi . =<0,. , konsumsi serat . =<0,. , posisi defekasi . =<0,. , usia . =0,. terhadap hemoroid. Dan tidak ada hubungan antara riwayat keluarga . =<0,. dengan kejadian hemoroid. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi serat, aktivitas fisik, posisi defekasi, usia, riwayat konstipasi dengan hemoroid. Tidak ada hubungan Riwayat hemoroid pada keluarga dengan kejadian hemoroid. Kata kunci: hemoroid, konstipasi, aktivitas Universitas Batam Batam Batam Page 56 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 PENDAHULUAN Kesehatan merupakan hal yang sangat terpenting bagi seluruh manusia di dunia, mengacu kepada Undang-Undang RI no 36 tahun 2009 tentang kesehatan yang mendefinisikan sehat sebagai suatu kondisi yang secara fisik, mental, spiritual, maupun produktivitas sosial dan ekonomi yang baik (Kemenkes, 2. Pada perkembangan zaman sekarang ini faktor perubahan gaya hidup yang mempengaruhi derajat kesehatan, setiap individu semakin mengabaikan pola hidup yang sehat khususnya pada saat mengkonsumsi makanan, sudah banyak makanan fast food dan junk food yang rendah akan serat dan kandungan gizinya yang mengakibatkan gangguan pada sistem pencernaan, salah (Rahmawati, 2. Hemoroid merupakan pembengkakan vena di sekitar dubur. Masyarakat umum Indonesia mengenal hemoroid dengan sebutan wasir atau ambeien, faktanya bahwa masih banyak yang kurang pemahaman terkait penyakit di daerah anorektal . nus dan rektu. tersebut (Risandi, 2. Sehingga menyebabkan data prevalensi terkait hemoroid yang sulit di dapat dan juga terbatas karena masyarakatnya sendiri tidak melakukan pemeriksaan medis di pelayanan kesehatan (Godeberge dkk, 2. Insiden penyakit ini diderita sekitar 4,4% penduduk dunia diperkirakan menderita penyakit hemoroid di tahun 2019. Menurut data Departemen Kesehatan (Depke. tahun 2017 prevalensi hemoroid di Indonesia 5,7% dari total populasi atau sekitar 10 juta orang. Jika data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018 menyebutkan terdapat 12,5 juta jiwa penduduk Indonesia mengalami penyakit hemoroid. Universitas Batam Batam Batam Penyakit ini menyerang laki-laki maupun perempuan dengan usia puncaknya 45-65 tahun. Pada umumnya, gejala klasik hemoroid yaitu nyeri dubur, gatal. Tingginya prevalensi kejadian hemoroid dipengaruhi oleh berbagai macam faktor risiko antara lain usia, sembelit, duduk lama, tekanan abdominal meningkat . umor, kehamila. , minim olahraga, pola buang air besar buruk, seks anal, keturunan, dan kurangnya konsumsi makanan berserat serta konsumsi Jika tidak diobati, hemoroid akan berbahaya dan menurunkan kualitas hidup. Beberapa pekerjaan yang memiliki risiko terjadinya hemoroid adalah supir bus, ibu rumah tangga, buruh, dan karyawan. Faktor usia merupakan faktor yang tidak dapat diubah, dengan bertambahnya usia terjadi banyak perubahan-perubahan pada saluran gastrointestinal seperti jaringan ikat pada kanalis anal melemah sehingga hemoroid menonjol ke dalam lumen kanalis anal (Iriyanto, dkk, 2. Selain itu, riwayat hemoroid pada keluarga merupakan faktor risiko terjadinya hemoroid, namun belum diketahui hal apa yang mendasari. Hal ini dihubungkan dengan kebiasaan yang sama di keluarga Feses lebih sulit di eliminasi akibat konsumsi serat yang rendah, diikuti dengan konsumsi air yang kurang dapat menyebabkan feses menjadi kering dan Hal ini menyebabkan terjadinya terjadinya hemoroid karena harus mengejan lebih kuat saat defekasi (Widowati, 2. Seiring masyarakat indonesia tidak memperhatikan pola konsumsi dimana salah satunya adalah kurangnya konsumsi serat. Apabila konsumsi serat berkurang, maka feses akan terdorong keluar oleh gerakan Page 57 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 peristaltik, sehingga dapat menyebabkan Hal ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan di pembuluh darah daerah anus, yaitu pleksus hemoroidalis menjadi merenggang sehingga terjadi Dampak dari masuknya pengaruh barat ke Indonesia, terjadi perubahan posisi defekasi, dari posisi jongkok ke posisi Masalah yang dapat ditimbulkan dari penggunaan jamban duduk adalah timbulnya konstipasi, apendisitis dan hemoroid (Tanjung, 2. Dari penelitian yang dilakukan Sikirov tahun 2013, posisi jongkok merupakan posisi termudah untuk pengosongan usus dibandingkan dengan posisi duduk saat defekasi. Pada posisi jongkok, sudut anorektal . ntara anus dan rektu. menjadi lurus oleh karena fleksi maksimal dari paha sehingga memudahkan pengosongan rektum. Sedangkan pada posisi duduk, dibutuhkan upaya mengejan lebih besar untuk defekasi dibandingkan dengan posisi jongkok. Faktor risiko kejadian lainnya adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik dapat dipengaruhi oleh pekerjaan. Orang-orang dengan pekerjaan terlalu lama duduk, terlalu lama berdiri atau pekerjaan berat seperti kuli berada pada risiko tinggi untuk kejadian hemoroid (Ansari et al, 2. Seseorang dengan pekerjaan yang berat tentu akan memiliki aktivitas fisik yang berat pula. Aktivitas fisik berat memiliki risiko 2,79 kali terhadap kejadian hemoroid (Nugroho, 2. Selain faktor diatas, terlalu lama duduk lebih dari dua jam juga merupakan faktor risiko terjadinya hemoroid dimana dapat terjadi pelebaran atau pembesaran pembuluh vena didaerah poros usus atau disekitar dubur akibat tekanan yang terus-menerus karena duduk yang terlalu lama sehingga dapat meningkatkan tekanan intra abdominal. Universitas Batam Batam Batam Berdasarkan data yang didapatkan dari rekam medik Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam, jumlah pasien hemoroid pada tahun 2020 sebanyak 75 orang . ,5%), tahun 2021 sebanyak 66 orang . , kemudian mengalami kenaikan di tahun 2022 yaitu sebanyak 152 orang . ,8%). Peneliti melakukan survei pendahuluan pada 20 pasien poli bedah Rumah Sakit Budi Kemuliaan kota Batam, didapatkan 6 diantaranya mengalami hemoroid. Berdasarkan latar belakang diatas, dengan banyaknya faktor risiko hemoroid, maka peneliti tertarik melakukan penelitian mempengaruhi kejadian hemoroid di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batam. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis analitik observasional dengan rancangan penelitian yang digunakan yaitu crosectional. Data penelitian dikumpulkan dengan data sekunder berupa rekam medik Populasi dalam penelitian ini keseluruhan pasien rawat jalan di poli bedah Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batam. Populasi penelitian ini sebanyak 1225 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Non-Probability Sampling dengan jenis Purposive Sampling dan didapatkan sampel minimal sebanyak 72 Analisis data menggunakan uji Chisquare. Page 58 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Pasien Poli Bedah RSBK Batam Tabel 1. Distribusi Frekuensi Usia Usia Frekuensi Persentase (Tahu. (%) Ou 45 tahun < 45 tahun Total Pada hasil penelitian tabel 1 tentang distribusi frekuensi berdasarkan usia didapatkan sebanyak 37 pasien . ,4%) berusia Ou 45 tahun, dan sebanyak 35 pasien . ,6%) berusia < 45 tahun. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian di RSUD AlIhsan Bandung pada Maret-Mei 2018, didapatkan responden usia < 45 tahun sebanyak 37 orang dan usia Ou45 tahun ada 8 orang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Erianto, dkk . yang melakukan penelitian tentang hubungan faktor Usia Lansia Pada Kejadian Hemoroid Di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Tahun 20172019. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa ada beberapa faktor penyebab adalah diatas 45 tahun. Sejalan dengan semakin bertambahnya usia, tentu tubuh sudah semakin rentan terkena penyakit. Hal ini disebabkan pada usia 45 tahun sering dikaitkan dengan kondisi kesehatan yang menurun, seperti mulai menderita nyeri sendi, memiliki tekanan darah tinggi, mengalami sesak napas, serta peningkatan terhadap risiko penyakit jantung, hemoroid, stroke dan Hal-hal yang perlu dilakukan seperti menghindari makanan olahan, mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur sesuai dengan yang direkomendasikan, mulai berhenti merokok, serta mengurangi Universitas Batam Batam Batam asupan makanan yang memiliki lemak dan kandungan garam tinggi. Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi banyak perubahan seperti jaringan ikat kanalis anal melemah sehingga hemoroid menonjol ke dalam lumen, dilatasi vena hemoroidalis sehingga membentuk bantalan anal. Keadaan ini semakin meningkat setelah melewati usia 30 tahun. Selain itu perubahan-perubahan anatomis, seperti anatomi dinding usus, berkurangnya suplai darah, dan perubahan neuronal instrinsik, ikut berkontribusi terhadap lama transit dan berkurangnya kandungan air dalam feses. Sehingga menyebabkan feses keras (Sianipar, 2. Pada kolon terjadi peningkatan kelokan pembuluh darah, sehingga motilitas kolon berkurang. Akibatnya absorpsi air dan elektrolit meningkat, feses lebih keras, sehingga sulit buang air besar. Hal ini didukung dengan peristaltik kolon yang telah melemah sehingga gagal mengosongkan rektum dan terjadi konstipasi (Fatmah, 2. Feses keras akan menyebabkan peningkatan gaya gesekan pada bantalan anal, ditambah dengan usaha mengejan akan menyebabkan terjadinya pembesaran dan pembengkakan pada bantalan anal yang berujung (Lohsiriwat, 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Riwayat Keluarga Pasien Poli Bedah RSBK Batam Tabel 2. Distribusi Frekuensi Riwayat Keluarga Riwayat Frekuensi Persentase Keluarga . (%) Ada Tidak Ada Total Page 59 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Berdasarkan tabel 2 hasil penelitian yang telah terlaksana, riwayat hemoroid dalam keluarga menunjukkan bahwa dari 72 responden terdapat 14 pasien . ,4%) yang memiliki riwayat keluarga hemoroid sementara pasien yang tidak ada riwayat keluarga hemoroid berjumlah 58 pasien . ,6%). Hal ini sejalan dengan penelitian Mahesa . yang juga mendapatkan responden dengan riwayat keluarga hemoroid lebih sedikit dibanding yang tidak ada riwayat keluarga. Hal ini sejalan dengan penelitian surya . tentang faktor terjadinya hemoroid di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali tahun 2020 didapatkan hasil pada kelompok riwayat keluarga, tidak adanya hubungan bermakna antara riwayat keluarga dengan kejadian Hemoroid, dimana hanya 5 . %) orang dengan dari seluruh sampel. Riwayat penyakit keluarga adalah riwayat medis dimasa lalu dari anggota keluarga yang mempunyai hubungan darah, hal-hal yang relevan untuk riwayat penyakit pasien dimasa lalu, releven pula untuk riwayat penyakit keluarga. Data-data yang memberikan pandangan tentang penyakit pasien sekarang dan factor risiko. Riwayat penyakit keluarga juga penting karena persamaan faktor-faktor fisik yang dimiliki pasien dan keluarganya. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Aktifitas Fisik Pasien Poli Bedah RSBK Batam Tabel 3. Distribusi Frekuensi Aktifitas Fisik Durasi Frekuensi Persentase Tidur . (%) Berat Ringan Total Universitas Batam Batam Batam Berdasarkan tabel 3 hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 72 responden, didapatkan sebanyak 42 pasien . ,3%) yang memiliki aktivitas fisik berat. Sedangkan pasien yang memiliki aktivitas fisik ringan sebanyak 30 pasien . ,7%). Responden diwawancarai tentang aktivitas fisik yang dilakukan selama satu minggu, mencakup kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh responden dan apabila responden masih aktif bekerja atau melakukan pekerjaan sukarela. Kemudian dilakukan penilaian untuk menentukan nilai aktivitas fisik setiap responden dan digolongkan ke dalam aktivitas berat dan Hasil penelitian ini sejalan dengan Tarigan . Karakteristik Penderita Hemoroid Di Klinik Bpjs Kecamatan Lubuk Pakam Periode Januari sampai Desember 2019202 Klinik Etika dimana aktivitas fisik terjadinya hemoroid. Orang-orang dengan pekerjaan terlalu lama duduk . upir, pegawai, siswa, dan lain-lai. , terlalu lama berdiri . atpam, bodyguard, dan lain lai. atau pekerjaan berat . uli bangunan, kuli panggul, dan lain-lai. berada pada risiko tinggi untuk kejadian hemoroid (Khan et al, 2. Hasil Afifah Muthmainnah pada tahun 2013, pekerjaan yang bersifat statis . urang mobilisas. berpeluang sebesar 6,5 kali untuk menderita hemoroid dibandingkan pekerja yang sifat pekerjaannya dinamis. Seseorang dengan aktivitas yang berat memerlukan adaptasi terhadap sistem tubuhnya dengan memberikan tahanan tinggi pada vena hemoroidalis dan akan terjadi penekanan yang berlebihan pada vena di daerah anus. Selain itu juga terjadi penekanan yang Page 60 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 berlebihan pada otot sfingter ani. Hal-hal tersebutlah yang berpengaruh terhadap terjadinya hemoroid (Nugroho, 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Riwayat Konstipasi Pasien Poli Bedah RSBK Batam responden selama satu minggu terakhir. Pertanyaan yang diajukan mencakup frekuensi defekasi responden dalam satu minggu tanpa bantuan laksatif. Beberapa ketidaksesuaian diet, penggunaan obatobatan, usia lanjut. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Riwayat Konstipasi Distribusi Frekuensi Berdasarkan Posisi Defekasi Pasien Poli Bedah RSBK Riwayat Frekuensi Persentase Konstipasi . (%) Batam Ada Tidak Tabel 5. Distribusi Frekuensi Posisi Total Berdasarkan tabel 4 hasil penelitian Posisi Frekuensi Persentase distribusi frekuensi riwayat konstipasi Defekasi . (%) Duduk menunjukkan bahwa dari 72 responden. Jongkok didapatkan sebanyak 26 pasien . ,1%) Total memiliki riwayat konstipasi , dan sebanyak 46 pasien . ,9%) tidak memiliki riwayat Berdasarkan tabel 5 hasil penelitian Konstipasi adalah kesulitan atau distribusi frekuensi posisi defekasi hambatan pengeluaran tinja melalui kolon menunjukkan bahwa dari 72 responden . , biasanya disertai kesulitan saat didapatkan sebanyak 34 pasien . ,2%) defekasi . uang air besa. Padan keadaan dengan posisi defekasi duduk , dan normal, dalam 24 jam kolon harus sebanyak 38 pasien . ,8%) dengan posisi defekasi jongkok. Dengan masuknya mengosongkan sisi makanan yang telah pengaruh Barat ke Indonesia, terjadi membusuk dan bakteri berikut zat-zat lain perubahan posisi defekasi, dari posisi yang tidak di perlukan tubuh. Selama 24 jongkok ke posisi duduk. Masalah yang jam tersebut, ada yang melakukan defekasi dapat ditimbulkan dari penggunaan jamban 1-3 kali. Dikatakan konstipasi jika duduk adalah timbulnya konstipasi, defekasinya jarang dan konsistensi tinjanya apendisitis dan hemoroid. keras serta sulit. Hal ini sejalan dengan penelitian Hasil penelitian ini sesuai dengan Lovita . dengan judul Hubungan penelitian Widowati dimana konstipasi Riwayat Keluarga. Konstipasi. Posisi diyakini sebagai salah satu faktor resiko Defekasi. Lama Defekasi dengan Kejadian hemoroid, walaupun banyak penelitian Hemoroid pada Pasien di Poli Bedah gagal untuk mengkorelasikannya. Umum RSUD Dr. Mohamad Soewandhie Pengukuran konstipasi pada responden Surabaya yang menyatakan terdapat dilakukan melalui wawancara dengan hubungan antara posisi defekasi dengan menggunakan kuesioner yang dalamnya kejadian hemoroid pada pasien terdapat pertanyaan tentang kuantitas dan Pada posisi duduk, sudut anorektal kualitas defekasi yang dialami oleh tidak selurus pada saat posisi jongkok. Universitas Batam Batam Batam Page 61 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 sehingga waktu untuk defekasi menjadi lama, hal ini akan menyebabkan feses lebih lama tertahan di dalam rektum, sehingga menyebabkan feses menjadi keras akibat absorpsi air yang terus berlanjut. Selain itu pada posisi duduk lebih membutuhkan akibatnya terjadi pembendungan pada bantalan anal . Rata-rata waktu yang dihabiskan responden untuk defekasi lebih lama pada posisi duduk dibandingkan dengan posisi jongkok dan posisi duduk dengan tumpuan. Responden juga menilai bahwa posisi duduk 2-2,5 kali lebih sulit daripada posisi jongkok dalam hal defekasi. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Konsumsi Serat Pasien Poli Bedah RSBK Batam Tabel 6. Distribusi Frekuensi Konsumsi Serat Konsumsi Frekuensi Persentase Serat . (%) Rendah Cukup Total Berdasarkan tabel 6 hasil penelitian distribusi frekuensi konsumsi serat menunjukkan bahwa dari 72 responden didapatkan sebanyak 44 pasien . ,1%) yang konsumsi serat rendah, dan sebanyak 28 pasien . ,9%) yang konsumsi serat Seiring perkembangan zaman pola makan konsumsi serat di masyarakat semakin berkurang. Perilaku konsumsi rendah serat seperti jajanan yang berbahan dasar tepung atau aci semakin meningkat, hal ini dapat mempengaruhi keadaan gizi seseorang menjadi kekurangan nutrisi sehingga dapat menimbulkan berbagai Universitas Batam Batam Batam Hal ini sejalan dengan penelitian surya . tentang faktor terjadinya hemoroid Di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali tahun 2020 didapatkan hasil adanya hubungan konsumsi serat dengan kejadian Hemoroid, dimana dengan meningkatkan resiko mengalami hemoroid. Serat makanan adalah bahan makanan residu sel tanaman yang tidak dapat dihidrolisis . oleh enzim pencernaan manusia dalam suasana asam di lambung, serta hasil-hasil fermentasinya tidak dapat digunakan oleh tubuh. Serat makanan memiliki kemampuan mengikat air di dalam kolon membuat bertambahnya volume feses, melunakan konsistensi feses dan memperpendek waktu transit di usus. (Kusharto. CM. Dengan makanan rendah serat dapat menyebabkan sulit buang air besar sehingga perlu usaha mengejan saat mengeluarkan feses. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan di pembuluh darah di daerah anus, yaitu plexus hemoroidal menjadi merenggang sehingga terjadi hemoroid. Bila sudah terjadi penonjolan hemoroid yang tidak bisa masuk kembali ke bentuk semula maka perlu dilakukan operasi. (Wolters Kluwer et al, 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Hemoroid Pasien Poli Bedah RSBK Batam Tabel 7. Distribusi Frekuensi Kejadian Hemoroid Frekuensi Persentase Hemoroid . (%) Tidak Total Berdasarkan tabel 7 hasil penelitian distribusi frekuensi hemoroid di poli bedah Page 62 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 menunjukkan bahwa dari 72 responden didapatkan bahwa sebanyak 32 responden . ,4%) mengalami hemoroid , dan sebanyak 40 responden . ,6%) tidak memiliki hemoroid. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian surya, dkk . yang mendapatkan hasil responden yang mengalami hemoroid lebih banyak dibanding responden yang tidak mengalami Hemoroid daging dari anus . karena buang air besar yang keras dan berulang-ulang dan sering kali disertai darah karena terluka. Ambeien merupakan penyakit yang disebabkan oleh pembengkakan pembuluh darah dibagian poros usus, baik disebelah dalam maupun disebelah luar lubang dubur. Sepintas bentuknya mirip bisul yang berwarna merah kebiruan. Pembengkakan ini menyebabkan terhambatnya aliran darah ke perut. Hemoroid / wasir memiliki tingkatan stadium yaitu I. II, i dan IV, pada stadium penonjolan/proplaps pada bagian anus yang tidak dapat masuk kembali secara spontan maupun dengan bantuan tangan secara manual, terasa nyeri dan dibutuhkan penanganan tindakan operasi untuk mengatasi masalah tersebut. Masalah hemoroid tentunya dapat dicegah sedini mungkin dengan mengetahui apa saja faktor-faktor resiko terjadinya hemoroid. Dengan diketahuinya faktor faktor risiko dari hemoroid tentunya akan memberikan rekomendasi upaya pencegah. Analisis Bivariat Hubungan Usia dengan Kejadian Hemoroid pada Pasien Poli Bedah Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam Tabel 8. Hubungan Usia dengan Kejadian Hemoroid Usia Ou45 tahun < 45 tahun Total Hemoroid Tidak Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 8 diatas, menunjukkan bahwa dari 37 responden yang berusia Ou45 tahun sebanyak 21 responden . 8%) mengalami hemoroid dan 16 responden . ,2%) tidak mengalami hemoroid. Sedangkan dari 35 responden yang berusia <45 tahun sebanyak 11 responden . ,4%) mengalami hemoroid dan 24 responden . ,6%) tidak mengalami hemoroid. Setelah dilakukan analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil nilai p = 0,031 Universitas Batam Batam Batam Total p Value 0,031 . O 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, yaitu terdapat hubungan antara usia dengan kejadian hemoroid pada pasien poli bedah rumah sakit budi kemuliaan kota batam. Penelitian ini sesuai dengan penelitian Kyle . yang menyatakan faktor usia mempengaruhi kejadian hemoroid, usia diatas 46 tahun memiliki risiko tinggi terhadap kejadian hemorrhoid. Pada usia tua terjadi degenerasi dari jaringanjaringan tubuh, otot sphincter pun juga menjadi tipis. Karena sphincternya Page 63 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 melemah maka dapat timbul prolaps. Selain itu pada usia tua juga sering terjadi sembelit berlebihan pada saluran cerna. Hal tersebut menyebabkan konsistensi tinja menjadi Sehingga terjadi penekanan berlebihan pada plexus hemorrhoidalis yang dipicu oleh proses mengejan untuk mengeluarkan tinja (Kyle, 2. Penelitian Sakina . menemukan bahwa usia tua cenderung memiliki derajat hemoroid internal yang lebih tinggi dari pada usia muda. Penelitian Fitrianto . menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hemoroid adalah dari kelompok usia 40 Ae 49 tahun, yaitu sebanyak 27 pasien ,42%) Kelompok usia 30 Ae 39 tahun dan 50 Ae 59 tahun merupakan kelompok kedua tertinggi dengan jumlah yang sama yaitu 19 pasien . %). Hal ini menunjukkan bahwa hemoroid banyak didapatkan pada usia-usia produktif. Padatnya aktivitas yang dilakukan juga (Fitriyanto, 2. Penelitian ini sesuai dengan teori, peningkatan usia akan memperparah kejadian hemoroid internal. Sel secara terus-menerus akan dirusak oleh radikal Kerusakan sel oleh radikal bebas ini tidak diimbangi oleh kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri melalui proses regeneratif karena kemampuannya yang telah menurun. Selanjutnya, sel yang telah rusak akan menumpuk hingga bertahuntahun sampai titik dimana sudah tidak bisa Menurut kepustakaan, hemoroid memiliki faktor resiko yang cukup banyak antara lain kurangnya mobilisasi, konstipasi, cara buang air besar yang tidak benar, kurang minum, kurang memakan makanan berserat . ayur dan bua. , faktor genetika, kehamilan, penyakit yang meningkatkan tekanan intraabdomen . umor abdomen, tumor usu. , dan sirosis Jadi, dengan melihat faktor resiko tersebut, jelas pada penderita dengan usia tua, struktur atau organ akan mulai melemah dan lazimnya pola hidup juga akan berubah (Makmun, 2. Hubungan Riwayat Keluarga dengan Kejadian Hemoroid pada Pasien Poli Bedah Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam Tabel 9. Hubungan Riwayat Keluarga dengan Kejadian Hemoroid Riwayat Keluarga Ada Tidak Ada Total Hemoroid Tidak Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 9 diatas, menunjukkan bahwa dari 14 responden yang memiliki riwayat hemoroid dalam keluarga sebanyak 4 responden Universitas Batam Batam Batam Total p Value 0,183 . ,6%) mengalami hemoroid dan 10 responden . ,4%) tidak mengalami Sedangkan dari 58 responden yang berusia tidak memiliki riwayat hemoroid dalam keluarga sebanyak 28 Page 64 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 ,3%) mengalami hemoroid dan 30 responden . ,7%) tidak mengalami Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khan et al. , dari 311 pasien hemoroid terdapat 195 orang yang memiliki riwayat keluarga menderita hemoroid, sedangkan 116 orang tidak memiliki riwayat hemoroid pada Setelah dilakukan analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil nilai p = 0,183 . O 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima, yaitu terdapat tidak hubungan antara riwayat keluarga dengan kejadian Hasil penelitian ini sejalan dengan peneleitian yang dilakukan oleh Afifah . yang dilakukan di RSUP. Dr. M Djamil padang sebanyak 42 responden didapatkan tidak ada peranan yang bermakna antara riwayat keluarga/genetik dengan kejadian hemoroid eksterna dan Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori, yaitu riwayat keluarga merupakan Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bharath et al. SNPs . ingle nucleotide polymorphism. dalam gen FOXC2, merupakan faktor transkripsi yang terlibat dalam pengembangan sistem limfatik dan vaskuler. Apabila terjadi mutasi pada gen tersebut, maka dapat mencetuskan terjadinya varises vena, kegagalan katup vena, dan hemoroid. Selain itu juga dapat dihubungkan dengan kebiasaan keluarga dalam hal pola hidup, diet, dan buang air besar. Hal ini dapat terjadi karena ada faktor lain yang lebih dominan terhadap kejadian hemoroid, selain itu jumlah sampel yang diambil Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hemoroid pada Pasien Poli Bedah Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam Tabel 10. Hubungan Antara Aktivitas Fisik dengan Kejadian Hemoroid Aktifitas Fisik Berat Ringan Total Hemoroid Tidak Pada tabel 10 diatas, menunjukkan bahwa dari 42 responden yang berusia melakukan aktivitas fisik berat sebanyak 26 responden . ,9%) mengalami hemoroid dan 16 responden . ,1%) tidak mengalami Sedangkan dari 30 responden yang melakukan aktivitas fisik ringan sebanyak 6 responden . %) mengalami hemoroid dan 24 responden . %) tidak Universitas Batam Batam Batam Total p Value 0,000 mengalami hemoroid. Setelah dilakukan analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil nilai p = 0,000 . O 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, yaitu terdapat hubungan aktivitas fisik dengan kejadian hemoroid. Hasil ini serupa dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nugroho . yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan derajat hemoroid. Page 65 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 Berdasarkan teori, yang berada pada risiko tinggi untuk terjadinya hemoroid adalah pekerjaan terlalu lama duduk . upir, siswa, pegawai, dan lain- lai. , terlalu lama berdiri . atpam dan lain-lai. , pekerjaan yang berat . uli bangunan, buruh dan lain-lai. Hal ini berkaitan dengan peningkatan tekanan intraabdomen, penekanan yang berlebihan pada vena didaerah anus, selain itu juga penekanan yang berlebihan pada sfingter ani yang berpengaruh terhadap kejadian hemoroid (Khan et al. , 2015. Nugroho. Berdasarkan hasil penelitian ini, sulit pekerjaan karena pekerjaan pasien hemoroid sangatlah beragam, sehingga dikelompokkan berdasarkan aktivitas fisik. Sedangkan berdasarkan teori, yang berada pada risiko tinggi untuk terjadinya hemoroid adalah pekerjaan terlalu lama duduk . upir, siswa, pegawai, dan lainlai. , terlalu lama berdiri . atpam dan lain-lai. , pekerjaan yang berat . uli bangunan, buruh dan lain-lai. Hal ini berkaitan dengan penekanan yang berlebihan pada vena didaerah anus, selain itu juga penekanan yang berlebihan pada sfingter ani yang berpengaruh terhadap kejadian hemoroid (Khan et al. , 2015. Nugroho, 2. Hubungan Riwayat Konstipasi dengan Kejadian Hemoroid pada Pasien Poli Bedah Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam Tabel 11. Hubungan Antara Riwayat Konstipasi dengan Kejadian Hemoroid Riwayat Konstipasi Ada Tidak ada Total Hemoroid Tidak Pada tabel 11 diatas, menunjukkan bahwa dari 26 responden yang memiliki riwayat konstipasi sebanyak 16 responden . ,5%) mengalami hemoroid dan 10 responden . ,5%) tidak mengalami Sedangkan dari 46 responden yang tidak memiliki riwayat konstipasi sebanyak sebanyak 16 responden . ,8%) mengalami hemoroid dan 30 responden . ,2%) tidak mengalami hemoroid. Setelah dilakukan analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil nilai p = 0,000 . O 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, yaitu Universitas Batam Batam Batam Total p Value 0,000 terdapat hubungan riwayat konstipasi dengan kejadian hemoroid. Konstipasi berarti pelannya pergerakan tinja melalui usus besar yang disebabkan oleh tinja yang kering dan keras pada colon descenden yang menumpuk karena absorpsi cairan yang berlebihan. Pada konstipasi diperlukan waktu mengejan yang lebih lama. Tekanan yang keras saat mengejan dapat mengakibatkan pada plexus hemorrhoidalis sehingga menyebabkan hemorrhoid. Saat konstipasi, terjadi kegagalan pengosongan rektum, sehingga defekasi tidak sempurna, rektum rileks, dan keinginan defekasi menghilang. Sehingga Page 66 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 menyebabkan feses tertumpuk sedangkan absorpsi air dari massa feses akan terus Hal ini lah yang menyebabkan feses menjadi kering dan keras, sehingga akan lebih sulit dikeluarkan. Tekanan pada feses yang berlebihan akan menyebabkan timbulnya kongesti vena hemoroidalis (Lindseth, 2. Selain itu, dengan feses yang keras dan menumpuk akan memerlukan usaha mengedan yang meningkatkan tekanan hemoroidalis terjepit. Saat inilah terjadi pembesaran dan pembendungan bantalan Feses yang keras juga dapat menimbulkan perdarahan yang merupakan keluhan utama hemoroid interna, akibat trauma dari pergerakan usus (Makmun. Hubungan Posisi Defekasi dengan Kejadian Hemoroid pada Pasien Poli Bedah Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam Tabel 12. Hubungan Antara Posisi Defekasi dengan Kejadian Hemoroid Posisi Defekasi Duduk Jongkok Total Hemoroid Tidak Pada tabel 12 diatas, menunjukkan bahwa dari 34 responden dengan posisi defekeasi duduk dsebanyak 22 responden . ,7%) mengalami hemoroid dan 12 responden . ,3%) tidak mengalami Sedangkan dari 38 responden dengan posisi defekasi jongkok sebanyak . ,3%) hemoroid dan 28 responden . ,7%) tidak mengalami hemoroid. Setelah dilakukan analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil nilai p = 0,001 . O 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, yaitu terdapat hubungan posisi defekasi dengan kejadian hemoroid. Hasil analisis ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan di RS. Dr. Kariadi Semarang, bahwa hasil penelitiannya mengatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara posisi saat buang air besar dengan kejadian hemoroid. Universitas Batam Batam Batam Total p Value 0,001 Pemakaian jamban duduk juga dapat Menurut dr. Eka Ginanjar, dengan pemakaian jamban yang duduk posisi usus dan anus tidak dalam posisi tegak. Sehingga akan menyebabkan tekanan dan gesekan pada vena di daerah rektum dan anus. Berbeda halnya pada penggunaan jamban jongkok. Posisi jongkok saat defekasi dapat mencegah terjadinya konstipasi yang secara tidak langsung dapat mencegah terjadinya hemorrhoid. Hal tersebut dikarenakan pada posisi jongkok, valvula ilicaecal yang terletak antara usus kecil dan caecum dapat menutup secara sempurna sehingga tekanan dalam colon cukup untuk mengeluarkan feses. Posisi defekasi berpengaruh terhadap kelancaran defekasi. Hal ini ditinjau dari sudut anorektal, tekanan intraabdomen, dan lamanya waktu untuk defekasi. Pada posisi duduk, sudut anorektal tidak selurus pada Page 67 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 saat posisi jongkok, sehingga waktu untuk defekasi menjadi lama, hal ini akan menyebabkan feses lebih lama tertahan di dalam rektum, sehingga menyebabkan feses menjadi keras akibat absorpsi air yang terus berlanjut. Selain itu pada posisi duduk lebih membutuhkan usaha mengedan sehingga terjadi peningkatan tekanan pembendungan pada bantalan anal (Sikirov, 2003. Sakakariba et al. , 2010. Ahmed et al. , 2013. Hubungan Konsumsi Serat dengan Kejadian Hemoroid pada Pasien Poli Bedah Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam Tabel 13. Hubungan Antara konsumsi Serat dengan Kejadian Hemoroid Konsumsi Serat Rendah Cukup Total Hemoroid Tidak Pada tabel 13 diatas, menunjukkan bahwa dari 44 responden yang konsumsi serat rendah sebanyak 26 responden . ,1%) mengalami hemoroid dan 18 responden . ,9%) tidak mengalami Sedangkan dari 28 responden yang konsumsi serat cukup sebanyak 6 responden . ,4%) mengalami hemoroid dan 22 responden . ,6%) tidak mengalami Setelah dilakukan analisis bivariat dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil nilai p = 0,002 . O 0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak, yaitu terdapat hubungan konsumsi serat dengan kejadian hemoroid. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Widowati . yang menyatakan tidak adanya hubungan antara konsumsi serat dengan Serat berfungsi merangsang aktivitas usus untuk mengeluarkan feses secara Selain itu serat makanan . dalam feses dapat menyerap air, sehingga volume feses semakin bertambah dan Universitas Batam Batam Batam Total p Value 0,002 menjadi lunak (Irianto & Waluyo, 2. Apabila konsumsi serat rendah, konsistensi feses akan menjadi keras, sehingga diperlukan usaha mengejan, yaitu dengan perengangan tiba-tiba kanalis anal. Pada saat ini terjadi pembesaran dan pembendungan bantalan anal (Makmun. Beberapa fungsi cairan adalah untuk membantu pencernaan, penyerapan nutrien, media eliminasi sisa metabolisme, dan lainlain. Berbagai dikeluarkan melalui melalui kulit, saluran pernapasan, saluran cerna . , dan saluran kemih . Biasanya, seseorang kehilangan cairan 150-200 ml/hari melalui defekasi dan 75% dari kandungan feses saat defekasi adalah cairan. Apabila jumlah cairan yang dikonsumsi rendah akan menyebabkan feses menjadi kering dan Sehingga diperlukan usaha mengejan (Nugroho & Santoso, 2. Serat adalah sejenis karbohidrat dalam makanan nabati yang tidak dapat dicerna atau diserap oleh tubuh. Berbeda dengan Page 68 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 jenis karbohidrat pada umumnya, tubuh tidak bisa menguraikan serat menjadi molekul gula yang lebih sederhana. Itulah alasannya, tubuh membutuhkan serat sebagai pengikat air dalam tubuh, karena serat dalam makanan akan bergerak menuju melancarkan pencernaan. Melansir laman Harvard T. Chan School of Public Health, serat terbagi menjadi dua kategori utama. Berikut perbedaan keduanya. Serat larut air Serat larut air seperti pektin, gom, dan mucilage bercampur dengan cairan yang Anda konsumsi, kemudian membentuk massa seperti gel di dalam saluran pencernaan Serat mengendalikan gula darah dan menurunkan kolesterol. Makanan yang kaya akan serat larut air di antaranya oat, kacang-kacangan, lentil, apel, dan buah berry. Serat tidak larut air Serat tidak larut air membantu pergerakan makanan dalam saluran Serat ini juga mempunyai manfaat lain, yakni menambah massa feses sehingga cocok untuk orang yang . serat tidak larut air dapat ditemukan dalam gandum, kacang-kacangan, serta sayuran seperti bayam, kangkung, dan kembang kol. Kebanyakan makanan nabati mengandung serat larut dan tidak larut air, tapi jumlahnya mungkin berbeda-beda. Cara paling mudah untuk mendapatkan asupan keduanya ialah dengan mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. Pada saat kekurangan serat, massa feses menjadi terlalu sedikit untuk Universitas Batam Batam Batam dapat didorong keluar oleh gerak peristaltik usus. Akibatnya dapat menyebabkan sulit buang air besar sehingga perlu usaha mengejan saat Hal menyebabkan peningkatan tekanan di pembuluh darah di daerah anus, yaitu (Ditjen Bina Gizi dan KIA KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data di Poli Bedah Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam, ditemukan bahwa sebagian besar responden . ,4%) berusia di atas 45 tahun. Meskipun demikian, mayoritas responden . ,6%) tidak memiliki riwayat hemoroid dalam Aktivitas fisik yang dominan adalah aktivitas berat . ,3%), sedangkan mayoritas responden . ,9%) tidak memiliki riwayat konstipasi sebelumnya. Sebagian besar responden . ,8%) melakukan defekasi dengan posisi jongkok, dan mayoritas . ,1%) mengkonsumsi serat dalam jumlah rendah. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia . = 0,. , aktivitas fisik . = 0,. , riwayat konstipasi . = 0,. , posisi defekasi . = 0,. , dan konsumsi serat . = 0,. dengan kejadian hemoroid pada pasien di Poli Bedah Rumah Sakit Budi Kemuliaan tahun 2023, namun tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat keluarga dengan kejadian hemoroid . = 0,. SARAN Diharapkan penelitian berikutnya agar dapat melakukan penelitian secara intensif dan komprehensif mengenai faktor risiko pola makan terhadap kejadian hemoroid Page 69 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 1 JANUARI 2025 khususnya pada kuisioner pertanyaan yang berhubungan dengan makanan berserat untuk menggunakan form FFQ (Food Frequency Questionnair. responden agar tidak terjadi data yang homogen dan mendapatkan jumlah konsumsi serat yang bervariasi dari masing-masing responden. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menghaturkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada Direktur Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batamyang telah memberikan izin dan kesempatan untuk melaksanakan penelitian di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batam. DAFTAR PUSTAKA