Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. Ketersediaan Fasilitas Pendidikan SLTA dan Estimasi Peserta Didik untuk Proyeksi Kebutuhan Ruang Belajar Di Kabupaten Wonosobo Tahun 2029 Heru Setiawan 1,*. Puji Hardati 2. Edi Kurniawan 3 Program Studi Geografi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Semarang. Kampus UNNES Sekaran. Gunungpati Semarang 50229. Indonesia *) Email Korespondensi: herrstiawn@students. Sitasi: Setiawan. H 1. Hardati. P 2. Kurniawan. E 3, . Ketersediaan Fasilitas Pendidikan SLTA dan Estimasi Peserta Didik untuk Proyeksi Kebutuhan Ruang Belajar Di Kabupaten Wonosobo Tahun 2029. Jurnal Sains Geografi. Vol. Issue 2 Sejarah Artikel: Diterima: 31 Juli 2025 Revisi: 17 November 2025 Disetujui: 18 November 2025 Online: 25 November 2025 Publikasi: 25 November 2025 Copyright: A 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttps://creativecommons. org/licens e s/by/4. 0/). Abstract The increasing trend in school participation at the SLTA level (SMA/SMK/MA) in Wonosobo Regency has led to a rising demand for educational facilities, particularly classrooms. This study aims to analyze facility availability, project student enrollment, and identify additional classroom needs in 2029. quantitative-descriptive approach was employed. The analysis shows there are 70 SLTA units with varying service capacities. By 2029, student enrollment is projected to reach 36,448, with distribution patterns following the availability of existing Classroom demand increases in line with student Currently, there is both a shortage and surplus of 82 classrooms, with shortages mainly found in public SLTA. The additional classroom need by 2029 is estimated at 156 units. promote equitable access, service coverage, and reduce centralization, new public SLTA are recommended in Garung. Kejajar, and Leksono Districts. Keyword: Availability. SLTA educational facilities, student enrollment, projection, classrooms. Abstrak Tren peningkatan partisipasi sekolah jenjang SLTA (SMA/ SMK/MA) di Kabupaten Wonosobo berdampak pada meningkatnya kebutuhan fasilitas pendidikan, khususnya ruang Penelitian ini bertujuan menganalisis ketersediaan, proyeksi jumlah peserta didik, dan mengidentifikasi tambahan kebutuhan ruang belajar tahun 2029. Pendekatan yang digunakan kuantitatif-deskriptif. Hasil analisis menunjukkan terdapat 70 unit SLTA dengan daya layan beragam. Pada 2029, peserta didik diproyeksikan mencapai 36. 448 jiwa, dengan distribusi mengikuti sebaran fasilitas tersedia. Kebutuhan ruang belajar meningkat seiring pertumbuhan peserta didik. Saat ini terdapat kekurangan dan kelebihan ruang belajar masing-masing 82 unit, dengan kekurangan dominan pada SLTA negeri. Tambahan kebutuhan ruang belajar 2029 diperkirakan sebanyak 156 unit, untuk pemerataan akses, jangkauan, dan mengurangi sentralitas, diperlukan pendirian SLTA negeri di Kecamatan Garung. Kejajar, dan Leksono. Kata Kunci: ketersediaan, fasilitas pendidikan SLTA, peserta didik, proyeksi, ruang belajar. Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. PENDAHULUAN Masalah utama pendidikan seperti pemerataan, tingkat partisipasi, mutu dan relevansi, efisiensi, serta efektivitas masih menjadi masalah utama pendidikan di Indonesa yang disebabkan oleh faktor seperti laju pertumbuhan penduduk dan biaya yang mahal (Nurhuda. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 memuat kebijakan terkait program percepatan pelaksanaan Wajib Belajar 12 tahun. Kebijakan tersebut ditujukan kepada semua anak usia sekolah yang tidak besekolah agar dapat kembali bersekolah, tujuannya untuk pemerataan pendidikan berkualitas sebagai modal pembangunan sosial ekonomi di Indonesia. Kenyataanya program wajib belajar 12 tahun belum mampu secara maskimal pada daerah-daerah tertentu, hal ini bisa diakibatkan pada akses pendidikan yang tidak mendukung, jumlah peserta didik yang tidak sebanding dengan sekolah, maupun adanya budaya yang mempengaruhi peserta didik (Margiyanti & Maulia, 2. Statistik Pendidikan Indonesia 2023 menunjukkan semakin tinggi kelompok umur persentase Anak Tidak Sekolah (ATS) semakin meningkat, terlihat bahwa ATS kelompok umur 16-18 tahun atau usia pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sebesar 19,20%, dengan wilayah perdesaan angka ATS sebanyak 24,50% (Badan Pusat Statistik. Data Pokok Pendidikan Kemendikbud dan EMIS Kemenag 2024, jumlah SLTA di Kabupaten Wonosobo sebanyak 70 unit dengan rincian jenis 17 unit SMA, 30 unit SMK, dan 23 unit MA dengan 19 unit sekolah negeri dan 51 unit sekolah swasta. Jumlah peserta didik SLTA mencapai 30. 745 jiwa dengan sebaran terbanyak pada jenis SMK 15. 317 jiwa. Sebaran jumlah fasilitas pendidikan SLTA di setiap kecamatan juga masih sangat timpang, karena Kecamatan Wonosobo terdapat 12 unit, sedangkan Kecamatan Kalibawang hanya terdapat 1 Kartika & Fikriyah . memberikan kesimpulan bahwa meningkatnya jumlah penduduk harus diimbangi dengan ketersediaan fasilitas, termasuk fasilitas pendidikan tujuannya agar penduduk dapat terlayani untuk mengakses fasilitas pendidikan. Penduduk yang tinggal pada suatu wilayah membutuhkan dukungan fasilitas pelayanan untuk menjalankan kehidupan dan aktivitasnya, sehingga diperlukan analisis untuk melihat gambaran secara nyata terkait pencapaian pelayanan publik serta evaluasinya (MutaAoali, 2015:. Perencanaan jumlah kebutuhan fasilitas pendidikan SLTA dapat menggunakan pedoman SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan, dengan tujuan supaya terjadi keseimbangan antara jumlah peserta didik terhadap jumlah SLTA yang tersedia maupun jumlah ruang belajar untuk menampung peserta didik. Penyediaan fasilitas pendidikan SLTA yang tidak proporsional serta jangkauan pelayanan yang melebihi daya tampung fasilitas akan mengakibatkan sebagian masyarakat tidak terlayani secara efektif, akibatnya terjadi kecendrungan untuk memilih sekolah di luar tempat tinggalnya, maka dari itu perlu adanya evaluasi guna mengetahui tingkat keefektifan terhadap fasilitas yang sudah ada untuk memenuhi kebutuhan penduduk (Uang et al. , 2. Penduduk tersebut terutama pada penduduk usia potensial SLTA yaitu 16-18 tahun yang harus diimbangi dengan ketersediaan fasilitas yang mencukupi baik dari segi jumlah fasilitas maupun jumlah unit ruang belajar yang tersedia pada suatu wilayah. Pertumbuhan penduduk dan proses perencanaan harus sejalan agar tercipta pemerataan kesempatan dan pembangunan yang adil bagi semua pihak. Pentingnya melakukan perencanaan untuk kedepannya dengan memproyeksikan penduduk, khususnya pada tahun 2029 mendatang untuk memperkirakan kebutuhan fasilitas pendidikan SLTA. Proyeksi pendidikan SLTA bermanfaat untuk memperkirakan banyaknya jumlah kebutuhan peserta didik, jumlah guru dan tenaga pendidik, jumlah sarana prasrana pendidikan SLTA termasuk kebutuhan ruang belajar (Purnomo, 2. Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan konsep tingkat ketersediaan fasilitas untuk mengetahui kelengkapan jenis fasilitas pendidikan SLTA. Faktor geografis dapat memengaruhi tingkat partisipasi sekolah, faktor geografis tersebut meliputi jarak, lokasi, dan aksesibilitas. Tujuan dari penelitian ini tentunya untuk mendapatkan gambaran mengenai tingkat ketersediaan fasilitas pendidikan SLTA pada masing-masing kecamatan yang kemudian dilanjutkan untuk mengetahui tingkat kecukupan fasilitas pendidikan SLTA yang tersedia pada saai ini, dan merencanakan tambahan kebutuhan ruang belajar untuk lima tahun kedepan. Selain itu untuk memetakan sebaran fasiilitas agar mampu memberikan gamabaran peserta didik dalam mengakses. METODE Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Wonosobo, alasannya lokasi penelitian yang relevan dengan sebaran jumlah fasilitas pendidikan SLTA yang bervariasi antara wilayah perdesaan dan perkotaan, topografi heterogen mempengaruhi aksesibilitas terhadap fasilitas pendidikan SLTA, dan meningkatnya Angka Partsipasi Sekolah (APS) pada jenjang SLTA dari tahun tahun sebelumnya. Sampel area penelitian, meliputi empat kecamatan yaitu Kecamatan Wadaslintang. Wonosobo. Kalibawang, dan Garung dengan jumlah 21 unit lokasi area sarana dan prasarana fasilitas pendidikan SLTA, teknik yang digunakan yaitu purposive sampling berdasarkan kecamatan dengan jumlah fasilitas, penduduk, peserta didik, luas terbanyak dan paling sedikit. Sampel manusia sebanyak 120 peserta didik yang tersebar di sampel area dengan menggunakan teknik accidental sampling. Gambar 1. Peta lokasi penelitian Sumber: Hasil Analisis, 2025 Variabel penelitian yang digunakan meliputi variabel proyeksi peserta didik serta kebutuhan ruang belajar pada fasilitas pendidikan SLTA. Data yang digunakan meliputi data primer dan sekunder. Data primer yang dibutuhkan meliputi titik lokasi koordinat SLTA dan jangkauan peserta didik dengan teknik pengumpulan melalui observasi lapangan dan survei Data sekunder meliputi jumlah peserta didik, jumlah penduduk usia 16-18 tahun, jumlah rombongan belajar, jumlah ruang belajar, serta jenis dan tipe SLTA, data tersebut Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. dilakukan dengan teknik studi dokumen dari instansi daerah baik langsung maupun tidak langsung, seperti mellaui Website BPS. Dapodik. EMIS Kemenag, dan Disdukcapil. Teknik analsis yang digunakan meliputi analisis ketersediaan fasilitas, analisis proyeksi penduduk geometrik, analisis tetangga tersedekat, dan analisis kebutuhan ruang belajar. Analisis ketersediaan fasilitas digunakan untuk mengidentifikasi jumlah serta kelengkapan fasilitas pendidikan SLTA pada setiap kecamatan dilihat dari banyaknya pilihan terhadap jumlah, jenis, dan statusnya, menggunakan skala Guttman yaitu dengan bentuk nominal tersedia . dan tidak tersedia . Tingkat ketersediaan dihitung dengan jumlah eksisiting serta persentase jumlah unit yang tersedia dari total wilayahnya. Analisis proyeksi geometrik digunakan untuk mengestimasi jumlah peserta didik dan penduduk usia 16-18 tahun sebagai dasar untuk melihat daya tampung fasilitas pada tahun ycyei = ycya UI . a ye. yei Keterangan: Jumlah penduduk pada tahun t Jumlah penduduk pada tahun awal Angka pertumbuhan penduduk geometrik Periode proyeksi dalam tahun Untuk mencari pertumbuhan penduduk dengan: ya ycyei yei yee= Oeya ycyea Analisis tetangga terdekat digunakan untuk menganalisis sebaran keruangan fasilitas pendidikan SLTA dan permukiman penduduk. Analisis dapat dilakukan menggunkan ArcGIS 8 dengan tools nearest neighbor analysis. Kriteria tersebut didasarkan pada indeks T yaitu untuk mengetahui apakah persebaran objek tersebut mengelompok, acak, atau seragam, dengan hasil akhir berupa nilai indeks yang berkisar dari 0-2,15. Gambar 2. Klasifikasi pola sebaran menggunakan nearest neighbor analysis Analisis kebutuhan ruang belajar menggunakan pedoman SNI 03-1733-2004, sehingga akan mendapatkan hasil proyeksi tambahan kebutuhan ruang belajar. ycycycycyc = Keterangan: cycycycycyaya Oeycycycycycyc ) yeo yeC% yc SSLTA Kebutuhan ruang belajar tingkat SLTP LSLTP10 Proyeksi lulusan SLTP selama 5 tahun LSLTPS Jumlah lulusan SLTP yang dapat ditampung Presentase lulusan SLTP yang lanjut STLA Daya tampung paling efektif dan efiesien peserta didik (Permendibudristek No 23 Tahun 2. Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Ketersediaan Fasilitas Pendidikan SLTA Metode yang dapat digunakan untuk mengetahui ketesediaan fasilitas salah satunya dengan metode skala Guttman yaitu dengan bentuk nominal tersedia . dan tidak tersedia . Skala Guttman penting digunakan untuk mengetahui jumlah ketersediaan fungsi pelayanan wilayah serta perkembangannya untuk dijadikan sebagai dasar penyusunan metode skalogram guna mengukur hierarki pusat pelayanan (MutaAoali, 2. Hasil analisis ketersediaan menunjukkan bahwa Kecamatan Wonosobo memiliki fasilitas pendidikan SLTA terlengkap yaitu 6 jenis baik negeri maupun swasta meliputi SMA. SMK, dan MA. Sebaliknya. Kecamatan Kalibawang memiliki ketersediaan fasilitas terendah dengan satu jenis, yaitu SMK negeri. Kecamatan lainnya menunjukkan variasi antara 2-5 jenis dengan status negeri maupun swasta dengan persentase 33,33%-83,33%. SLTA swasta memegang peran penting dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan khususnya jenis SMK dan MA. Ketersediaan fasilitas menjadi objek analisis lanjutan untuk mengetahui tingkat ketersediaan, yang dihitung dengan jumlah unit tersedia, sehingga menjadi informasi penting kaitannya dengan penyediaan pelayanan dan alokasi ruang pada wilayah yang membutuhkan. Tabel 1. Tingkat Ketersediaan Fasilitas Pendidikan SLTA 2025 Kecamatan Wadaslintang Kepil Sapuran Kalibawang Kaliwiro Leksono Sukoharjo Selomerto Kalikajar 10 Kertek 11 Wonosobo 12 Watumalang 13 Mojotengah 14 Garung 15 Kejajar Kab Wonosobo SMA Negeri SMK SMA Swasta SMK KF(%) 8,57 10,00 5,71 1,43 5,71 5,71 2,86 11,43 2,86 7,14 17,14 4,29 10,00 2,86 4,29 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Catatan: JF = jumlah fasilitas. KF = ketersediaan fasilitas Kecamatan Wonosobo sebagai ibu kota kabupaten memiliki konsentrasi pelayanan pendidikan yang tinggi yaitu terdapat 12 unit fasilitas pendidikan SLTA dengan jenis dan status yang lengkap. Kecamatan lain seperti Selomerto. Kepil, dan Mojotengah relatif memiliki tingkat pelayanan pendidikan cukup dibandingkan wilayah lainnya. Ketersediaan dan tingkat ketersediaan menujukkan bahwa fasilitas pendidikan SLTA di Kabupaten Wonosobo masih cukup terpusat seperti di Kecamatan Wonosobo dan Mojotengah. Pemerintah Daerah memiliki peran penting dalam penyediaan akses yang merata dengan adanya fasilitas pendidikan SLTA Kecamatan Leksono. Garung, dan Kejajar pada saat ini belum memiliki SLTA negeri. Lokasi satuan fasilitas pendidikan diharapkan berada di kawasan permukiman penduduk dengan jarak optimum, tujuannya agar peserta didik tidak memerlukan jarak perjalanan yang jauh untuk menjangkau faslilitas pendidikan serta dalam perencanaan pengembangan fasilitas pendidikan diutamakan menyebar mengikuti pola sebaran permukiman penduduk (Febrianty et al. , 2. Melalui metode nearest neighbor analysis visualisasinya adalah sebagai berikut. Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. Gambar 3. Pola sebaran fasilitas pendidikan SLTA . dan permukiman . Sumber: Hasil Analisis, 2025 Sebaran keruangan lokasi fasilitas pendidikan SLTA di Kabupaten Wonosobo menunjukkan tipe pola mengelompok berdasarkan hasil analisis tetangga terdekat dengan indeks 0,71. Analisis pola sebaran fasilitas perlu mempertimbangkan pola sebaran permukiman penduduk, karena penduduk sebagai pengguna aktual layanan fasilitas SLTA, pengguna aktual fasilitas tersebut adalah peserta didik aktif yang sedang menempuh pendidikan SLTA. Peserta didik pada SLTA menurut Statistik Pendidikan berada pada rentang usia 16-18 atau disebut sebagai penduduk potensial usia SLTA. Adapun data time series 2019-2024 dapat dilihat pada garfik berikut. Gambar 2 Grafik peserta didik aktual dan potensial Sumber: Dapodik dan EMIS Kemenag, 2025 Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. Tahun 2019-2024 mengalami tren peningkatan pertambahan sebanyak 10. 356 penduduk. Jumlah peserta didik SLTA juga mengalami kenaikan sebanyak 4. 811 jiwa selama lima tahun. Meskipun terdapat peningkatan jumlah peserta didik SLTA, selisih antara penduduk 16-18 tahun dan peserta didik menunjukkan bahwa tidak seluruh penduduk usia 16-18 tahun mengakses pendidikan jenjang SLTA. Oleh karena itu, menjadi penting untuk melihat sebaran permukiman penduduk. Sebaran permukiaman penduduk menunjukkan indeks 0,81 yang juga tersebar mengelompok. Indeks sebaran fasilitas pendidikan SLTA cenderung lebih mengelompok dibandingkan permukiman penduduk, artinya terdapat permukiman penduduk yang perlu menjangkau dengan jarak yang jauh, bahkan hanya untuk memilih sekolah Berikut hasil survei online kepada 120 peserta didik di 4 kecamatan terkait dengan jangkuan yang diperlukan oleh peserta didik. Tabel 2. Jangkauan dan Jarak Peserta Didik Menuju SLTA Sumber: Survei online peserta didik, 2025 Hasil data survei online tersebut, terlihat bahwa banyak perseta didik tidak memilih lokasi fasilitas terdekatnya pada kecamatan yang sama, artinya terdapat faktor lain selain jarak dan lokasi yang memengaruhi peserta didik untuk memilih layanan pendidikan SLTA. Kemampuan fasilitas pendidikan SLTA dalam melayani peserta didik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat kelengkapan sarana, sumber daya manusia, sekolah unggul, lokasi sekolah, biaya pendidikan, ekstrakurikuler, serta mutu pendidikan (Lestari et al. , 2. Proyeksi Peserta Didik SLTA Proyeksi angka peserta didik dihitung berdasarkan data histori laju pertumbuhan peserta Pertumbuhan penduduk merupakan perubahan jumlah yang dipengaruhi oleh beberapa aspek demografi termasuk kelahiran, kematian, dan migrasi yang menunjukkan tingkat pertambahan penduduk per tahun (Astawa & Sarmita, 2. Pertumbuhan penduduk pada penelitian ini dimaksudkan khusus pada pertumbuhan peserta didik SLTA yang digunakan untuk proyeksi kebutuhan ruang belajar. Proyeksi dianalisis untuk jangka 5 tahun kedepan yaitu tahun 2029, hasil proyeksi peserta didik 2029 diprediksi mencapai 36. 448 peserta didik dengan pertumbuhan 3,46% per tahun. Hasil analisis pertumbuhan dan proyeksi secara rinci di setiap kecamatan yaitu sebagai berikut. Tabel 3. Proyeksi Peserta Didik SLTA Di Kabupaten Wonososbo Tahun 2029 Kecamatan Wadaslintang Kepil Sapuran Kalibawang Kaliwiro Leksono Jumlah Peserta Didik SLTA Laju Pertumbuhan (%) 4,32 6,30 7,30 10,87 9,33 -6,40 Proyeksi Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. Lanjutan Sukoharjo Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Kab. Wonosobo 7,47 -1,52 15,00 2,93 1,59 7,57 3,51 13,20 3,02 3,46 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Pertumbuhan dan proyeksi peserta didik pada suatu wilayah kecamatan tidak selalu mencerminkan jumlah penduduk potensial usia sekolah yang terdapat pada kecamatan tersebut, namun secara umum berkaitan erat dengan jumlah fasilitas pendidikan yang tersedia. Jumlah penduduk potensial pada jenjang SLTA yaitu berusia 16-18 tahun diproyeksikan mencapai 991 jiwa di tahun 2029 dengan laju pertumbuhan 3,96% per tahun. Hasil pertumbuhan dan proyeksi secara rinci tiap kecamatan yaitu sebagai berikut. Tabel 4. Proyeksi Penduduk Usia 16-18 Tahun Di Kabupaten Wonososbo Tahun 2029 Kecamatan Wadaslintang Kepil Sapuran Kalibawang Kaliwiro Leksono Sukoharjo Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Kab. Wonosobo Penduduk Umur 16-18 Tahun Laju Pertumbuhan (%) 7,62 7,28 5,72 5,29 6,24 6,19 6,95 8,97 6,25 4,82 5,24 2,42 2,42 3,96 3,36 5,80 Proyeksi Sumber: Hasil Analisis, 2025 Penduduk potensial yang tinggi pada suatu wilayah tidak selalu diikuti oleh jumlah peserta didik yang tinggi di wilayah tersebut, hal ini bisa disebabkan oleh tingkat ketersediaan fasilitas pendidikan yang rendah, rendahnya angka partisipasi pendidikan, maupun faktor geografis yang menghambat penduduk usia sekolah untuk melanjutkan sampai SLTA seperti faktor jangkauan dan aksesibilitas. Alasan lain bisa disebabkan karena peserta didik memilih layanan fasilitas yang lebih berkualitas dan lokasinya berada diluar kecamatan domisilnya, peserta didik di beberapa kecamatan. Oleh karena itu perlu untuk menghitung rasio peserta didik yang melanjutkan ke SLTA secara total di Kabupaten Wonosobo. Tingkat rasio ketersediaan fasilitas pendidikan mencerminkan daya tampung satuan pendidikan dalam menampung penduduk pada usia sekolah tersebut (Halina et al. , 2. Rasio yang dianalisis adalah tingkat rasio lulus lanjut yang menggambarkan seberapa banyak peserta didik yang melanjutkan dari jenjang SLTP ke SLTA yang memberikan gambaran tentang efektivitas transisi pendidikan serta potensi hambatan yang mungkin dihadapi, seperti keterbatasan akses maupun faktor sosial ekonomi. Rasio lulus lanjut peserta didik mencapai 0,80% di tahun 2024, adapun rincian data rasio lulus lanjut 2017-2024 yaitu sebagai berikut. Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. Tabel 5. Rasio Lulus Lanjut Peserta Didik SLTP yang Melanjutkan SLTA Peserta didik SLTP Tahun Peserta didik Peserta didik SLTA Tahun Peserta didik Rasio lulus 0,6522 0,6726 0,6786 0,7019 0,7264 0,7464 0,7650 0,8046 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Kenaikan rasio lulus-lanjut tersebut mencerminkan membaiknya akses terhadap pendidikan, meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan menengah, serta kemungkinan adanya dukungan kebijakan yang mendorong transisi jenjang pendidikan. Rasio yang belum mendekati 1 mengindikasikan sebagian lulusan SLTP tidak melanjutkan ke SLTA, yang dapat disebabkan oleh faktor sosial ekonomi, geografis, maupun keterbatasan daya Rasio dapat digunakan untuk melihat daya tampung dan kesiapan fasilitas pendidikan SLTA berupa sarana yang mencukupi untuk menampung jumlah peserta didik SLTP yang akan melanjutkan ke SLTA. Daya tampung fasilitas pendidikan disesuaikan dengan jumlah maksimal peserta didik pada setiap unit fasilitas yang diinterpretasikan dengan banyaknya jumlah rombongan belajar pada setiap wilayah (Henlita & Handayeni, 2. Daya tampung fasilitas disesuaikan dengan batas maksimal efektif peserta didik setiap rombongan belajar yang disesuaikan dengan jumlah ruang belajar. Jumlah ruang belajar mencapai 992 unit dengan daya tampung 35. 712 peserta didik, sedangkan jumlah rombongan belajar eksisting sedikit lebih tinggi yaitu 996 unit dengan daya tampung 35. 856 peserta didik, artinya terdapat penggunaan ruang lain untuk kegiatan Adapun data rinci daya tampung fasilitas setiap kecamatan yaitu sebagai berikut. Tabel 6. Daya Tampung Fasilitas Pendidikan SLTA Kabupaten Wonosobo Tahun 2024 Kecamatan Wadaslintang Kepil Sapuran Kalibawang Kaliwiro Leksono Sukoharjo Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Kab. Wonosobo Rombongan belajar Unit Daya tampung Unit Ruang belajar Daya tampung Sumber: Hasil Analisis, 2025 Jumlah maksimal peserta didik untuk setiap unit rombongan belajar adalah 36 peserta didik, sesuai dengan pedoman Permendikbudristek No 22 tahun 2023 tentang standar sarana dan prasarana pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Jumlah rombongan belajar mencerminkan daya tampung tampung aktual terhadap peserta Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. didik yang sedang menjalani atau mengikuti proses pembelajaran, sedangkan rombongan belajar mencerminkan estimasi jumlah peserta didik SLTA yang dapat ikut serta secara aktif belajar dalam sistem pendidikan formal di seluruh kecamatan. Beberapa kecamatan memiliki jumlah rombongan belajar yang lebih sedikit dari jumlah ruang belajar yang tersedia seperti Kecamatan Sapuran. Kaliwiro. Leksono. Selomerto. Kertek. Wonosobo. Garung, dan Kejajar, artinya kecamatan tersebut masih memiliki ruang belajar yang kosong, sehingga dapat dimanfaatkan untuk menerima tambahan peserta didik pada setiap kegiatan pembelajaran. Proyeksi Kebutuhan Ruang Belajar Kebutuhan fasilitas pendidikan, seperti ruang belajar merupakan masalah yang dihadapi di berbagai daerah dan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memenuhinya (Asadullah, 2009 dalam Nuranti, 2. Ketidakseimbangan antara jumlah peserta didik dengan jumlah ruang belajar tersedia menyebabkan kelebihan daya tampung, menghambat efektivitas pembelajaran, dan menurunnya kenyamanan belajar. Jumlah kekurangan dan kelebihan ruang belajar menunjukkan angka yang sama yaitu 82 unit, namun hal tersebut tidak langsung dapat disubtitusikan karena jumlah sebaran yang bervariasi, adapun rinciannya sebagai berikut. Tabel 7. Kondisi Eksisting Jumlah Ruang Belajar SLTA di Kabupaten Wonosobo 2024 Kecamatan Wadaslintang Kepil Sapuran Kalibawang Kaliwiro Leksono Sukoharjo Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Unit Kekurangan Ruang Belajar Lokasi SMKN 1 Wadaslintang SMA Ma`arif Wadaslintang SMKN 1 Kepil SMAN 1 Sapuran SMKN 1 Kalibawang SMAN 1 Kaliwiro SMKN 1 Sukoharjo SMKN 1 Kalikajar SMAN 1 Kertek SMKN 1 Wonosobo SMKN 2 Wonosobo SMK Informatika Wonosobo SMAN 1 Watumalang SMAN 1 Mojotengah SMK Takhassus Al Qur'an Wonosobo Unit Kelebihan Ruang Belajar Lokasi MA Ar Risalah Kepil SMK Al Madani MA Manbaul Chikmah MA Berbaur MA Nurul Qur`an SMK Muh 3 Wonosobo SMA Ma`arif Leksono SMK Taruna Negara MA Matholi Ul Anwar MA Takhassus Al Qur'an SMK Wiratama 45. 2 Wonosobo MA SA Al Hikam Cendekia MA NU Darul Islah SMK Andalusia MA As Shofa Wonosobo SMA Kristen Wonosobo SMA Muh Wonosobo SMK Gema Nusantara SMK Muh 1 Wonosobo SMK Wiratama 45. 1 Wonosobo MAN 2 Wonosobo SMA Takhassus Al Qur'an SMK Karya Mandiri NU Garung SMA NU Kejajar Sumber: Dapodik dan EMIS, 2025 Data ruang belajar di beberapa kecamatan, seperti Wadaslintang. Wonosobo. Kalikajar, dan Watumalang, mengalami kekurangan yang cukup signifikan, terutama pada sekolah negeri seperti SMKN 1 Wadasalintang. SMKN 1 Wonosobo. SMK N 1 Kalikajar, dan SMAN 1 Watumalang. Kekurangan tersebut menunjukkan bahwa tingginya tekanan terhadap fasilitas Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. pendidikan formal seiring meningkatnya jumlah peserta didik. Sebaliknya, beberapa satuan pendidikan swasta menunjukkan kelebihan ruang belajar, seperti SMK Muhammadiyah 1 Wonosobo. MA NU Darul Islah Kertek, dan MA Berbaur Sapuran. Fenomena tersebut mencerminkan ketidakseimbangan dalam pemanfaatan ruang belajar, karena sebagian sekolah mengalami kelebihan kapasitas sementara sekolah lain memiliki daya tampung belum optimal. Kabupaten Wonosobo perlu melakukan perencanaan kebutuhan ruang belajar jenjang SLTA secara terukur, khususnya untuk proyeksi tahun 2029. Perencanaan tersebut menjadi penting dilakukan guna mengestimasi pertumbuhan jumlah peserta didik serta memastikan ketersediaan ruang belajar yang memadai dan sesuai standar. Pedoman yang dapat digunakan adalah SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan, yang salah satunya mencantumkan standar kebutuhan ruang belajar berdasarkan jumlah peserta Perhitungan kebutuhan ruang belajar tahun 2029 akan didasarkan pada proyeksi jumlah peserta didik SLTA dan disesuaikan dengan rasio ideal kapasitas ruang belajar sesuai Adapun hasil proyeksi kebutuhan ruang belajar tahun 2029 sebagai berikut. ycycycycyc = . cycycycycye Oeycycycycycyc ) yeo yeC% yc Proyeksi lulusan SLTP tahun 2029 Pertumbuhan . peserta didik 2014-2019 adalah sebagai berikut. yc= Oe1 yc = 0,0124 yc= Oe1 Hasil proyeksi peserta didik SLTP tahun 2029 adalah sebagai berikut. = . = . 0,0. ycE = 42. 680 ycyyceycyceycycyca yccycnyccycnyco Jumlah lulusan SLTP yang dapat ditampung yaycN = yaycycoycoycaEa ycycycaycuyci ycayceycoycaycycayc yceycoycycnycycnycycycuyci ycu yaycaycyca ycycaycoycyycycuyci yceyceyceycoycycnyce . yaycN = 992 ycu 36 yaycN = 35. 712 ycyyceycyceycycyca yccycnyccycnyco Persentase lulusan SLTP yang melanjutkan ke SLTA yaycycoycoycaEa ycyyceycyceycycyca ycIyaycNya yceycoycycnycycnycycnycuyci ycE ycu100% yaycycoycoycaEa ycyyceycyceycycyca yccycnyccycnyco ycIyaycNycE 3 ycycaEaycycu ycyceycayceycoycycoycuycyca 745 ycyyceycyceycycyca yccycnyccycnyco 208 ycyyceycyceycycyca yccycnyccycnyco = 80,46% Adapun hasil proyeksi kebutuhan ruang belajar serta distribusi pada setiap kecamatan tahun 2029 di Kabupaten Wonosobo adalah sebagai berikut. 680 Oe 35. x 80,46% ycI . x 80,46% ycI ycI = 156 unit ruang belajar Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. Rincian sebaran kebutuhan ruang belajar untuk setiap kecamatan yaitu sebagai berikut. Tabel 8. Proyeksi Kebutuhan Ruang Belajar Fasilitas Pendidikan SLTA Tahun 2029 Kecamatan Wadaslintang Kepil Sapuran Kalibawang Kaliwiro Leksono Sukoharjo Selomerto Kalikajar Kertek Wonosobo Watumalang Mojotengah Garung Kejajar Kab. Wonosobo Persentase Peserta Didik SLTA Jumlah Persentase 7,91 6,01 8,71 2,74 3,94 0,83 4,22 6,35 4,70 5,55 26,39 3,43 19,07 1,54 1,68 100,00 Kebutuhan Ruang Belajar 2024 Kebutuhan Ruang Belajar 2029 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Hasil proyeksi tersebut menunjukkan bahwa terjadi konsentrasi kebutuhan ruang belajar di kawasan tengah kabupaten yang memiliki jumlah peserta didik lebih besar, serta kecamatan yang memiliki jenis SLTA negeri yang cukup lengakp yang dapat ditandai dengan ketersediaan SMA. SMK. MA negeri dalam satu kecamatan di wilayah tersebut. Kecamatan yang akan diproyeksikan kebutuhan ruang ruang belajarnya Ou 10 unit ditandai dengan ketersediaanya Ou 2 SLTA negeri seperti Kecamatan Wadasalintang dan Sapuran dengan masing-masing 1 SMK negeri dan 1 SMA negeri. Kecamatan Selomerto dengan 2 SMA negeri. Kecamatan Wonosobo dengan 1 SMA negeri, 2 SMK negeri, serta 1 MA negeri. dan Kecamatan Mojotengah dengan 1 SMA negeri dan 1 MA negeri. Pada tahun 2024 telah terjadi kekurangan jumlah ruang belajar yang ditandai dengan jumlah rombongan belajar yang lebih besar, kekurangan pada tahun 2024 sebanyak 82 unit ruang belajar yang tersebar di 11 kecamatan kecuali Kecamatan Selomerto. Leksono. Garung, dan Kejajar yang saat ini masih tercukupi. PEMBAHASAN Ketersediaan Fasilitas Pendidikan SLTA Kajian ketersediaan dan tingkat ketersediaan fasilitas pendidikan SLTA digunakan sebagai dasar untuk mengetahui kesenjangan pelayanan antar wilayah di Kabupaten Wonosobo. Ketersediaan fasilitas pada suatu wilayah sangat berkaitan erat dengan pencapaian dibidang pendidikan (Uang et al. , 2. Wilayah bagian tengah seperti Kecamatan Wonosobo dan Mojotengah memiliki jenis dan status dengan jumlah terbanyak, sehingga kecamatan tersebut memiliki lebih banyak pilihan layanan pendidikan. Keberadaan sekolah unggulan dan favorit di ibu kota maupun pusat kabupaten memperkuat persepsi masyarakat akan kualitas pendidikan yang lebih baik, daya tariknya semakin tinggi, dan mendorong konsentrasi fasilitas SLTA di wilayah tersebut. Kecamatan Kalibawang. Garung. Kalikajar, dan Sukoharjo terbatas dalam aspek jumlah, jenis, maupun status layanan fasilitas pendidikan SLTA. Persebaran fasilitas pendidikan SLTA seharusnya tidak hanya berdasarkan jumlahnya, namun juga memperhatikan aspek sebaran kualitasnya, berdasarkan akreditasinya hanya terdapat 15 unit atau 21,42% SLTA terakreditasi A meliputi Kecamatan Wadaslintang. Sapuran. Kaliwiro. Selomerto, dan Watumalang masing-masing 1 unit. Kertek 2 unit. Mojotengah 3 unit, serta Wonosobo 5 unit. Selain itu, sebaran SLTA negeri juga tidak tersebar Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. dan tersedia di seluruh kecamatan, seperti Kecamatan Garung. Kejajar, dan Lekosono sampai saat ini belum memiliki SLTA negeri. Kecenderungan sebaran terlihat bahwa SLTA dengan akreditasi A serta SLTA negeri lebih memiliki melayani lebih banyak peserta didik. SLTA negeri dan SLTA dengan akreditasi A setidaknya melayani > 400 peserta didik. Kecamatan Garung. Kejajar. Leksono jumlah peserta didik total satu kecamatannya merupakan yang terendah, yaitu Kecamatan Garung 303 peserta didik. Kejajar 528 peserta didik, dan Leksono 421 peserta didik. Perbedaan kondisi mencerminkan perlunya kolaborasi peran pemerintah dengan setiap unit fasilitas pendidikan SLTA supaya tercapai ketersediaan dan jangkauan yang berkeadilan. Hal tersebut sejalan dengan Febrianty et al. , . yaitu lokasi fasilitas pendidikan diharapkan berada dalam kawasan permukiman penduduk dengan jarak optimum, tujuannya agar peserta didik tidak memerlukan jarak yang jauh untuk menjangkau faslilitas pendidikan dalam pengembangan fasilitas pendidikan diutamakan menyebar mengikuti pola sebaran keruangan permukiman. Proyeksi Peserta Didik SLTA Kecamatan Kalikajar memiliki jumlah penduduk usia 16-18 tahun tertinggi, sedangkan Kecamatan Kejajar memiliki jumlah terendah. Penduduk potensial yang tinggi pada suatu wilayah tidak selalu diikuti dengan jumlah peserta didik yang tinggi pula pada wilayah tersebut, yang dapat dipengaruhi oleh tingkat ketersediaan, daya tampung, kualitas fasilitas pendidikan SLTA, serta perbedaan persepsi pada peserta didik. Faktanya peserta didik tertinggi terdapat di Kecamatan Wonosobo dan Mojotengah, sebagaimana jumlah penduduk potensial kurang dari jumlah peserta didik. Secara spasial, wilayah dengan jumlah peserta didik yang lebih besar dari penduduk potensialnya cenderung memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap dan aksesibilitas baik, sehingga menarik peserta didik dari luar wilayahnya. Hal ini mencerminkan daya tarik dan daya saing wilayah tersebut sebagai pusat layanan pendidikan, namun juga menunjukkan bahwa analisis kebutuhan ruang belajar tidak bisa hanya mengacu pada data penduduk lokal, tetapi juga perlu mempertimbangkan mobilitas peserta didik antar wilayah. Peningkatan jumlah penduduk secara langsung mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap berbagai fasilitas pelayanan termasuk fasilitas pendidikan (Munawaroh et al. , 2. Perencanaan menggunakan proyeksi penduduk sejalan dengan Beti . dalam Dinda et al. yaitu data kependudukan tidak hanya dibutuhkan untuk mendukung perencanaan pembangunan eksisiting, tapi juga dapat menjadi dasar penting dalam merancang kebijakan pembangunan jangka panjang dengan menggunakan proyeksi penduduk. Analisis terhadap proyeksi peserta didik menunjukkan bahwa proyeksi berfungsi sebagai alat prediktif dan Secara prediktif, proyeksi memberi gambaran tren demografis dan pola pertumbuhan pendidikan berdasarkan data historis. Secara preventif, proyeksi membantu menghindari kesenjangan layanan pendidikan, seperti kekurangan fasilitas di daerah dengan pertumbuhan tinggi atau kelebihan daya tampung di daerah dengan penurunan peserta didik. Rasio lulus lanjut peserta didik SLTP yang melanjutkan SLTA menjadi aspek pendukung yang cukup penting untuk perencanaan kebutuhan ruang belajar. Jumlah rombongan belajar mencerminkan daya tampung aktual terhadap peserta didik yang sedang menjalani proses pembelajaran bukan daya tampung berdasarkan ketersediaan jumlah ruang belajar yang tersedia pada kondisi eksisiting, daya tampung yang digunakan untuk analisis kebutuhan ruang belajar menggunakan data jumlah ruang belajar yang tersedia. Tujuannya agar SLTA dengan jumlah rombel lebih banyak dari jumlah ruang belajar yang tersedia ikut dipertimbangkan guna meningkatkan kecukupan dan keseimbangan. Analisis ini sejalan dengan Khafid . bahwa daya tampung fasilitas pendidikan merupakan banyaknya calon peserta didik yang dapat diterima menjadi peserta didik berdasarkan ketersediaan fasilitas serta daya dukung yang dimiliki oleh setiap satuan fasilitas pendidikan. Proyeksi peserta didik Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. yang semakin tinggi akan meningkatkan kebutuhan ruang belajar dan semakin memenuhi daya tampung maksimal yang masih tersedia. Proyeksi Kebutuhan Ruang Belajar Pemerintah daerah perlu mempertimbangkan redistribusi sumber daya, baik melalui pembangunan unit ruang belajar baru di sekolah negeri yang kekurangan maupun optimalisasi pemanfaatan ruang di SLTA swasta yang terdapat kelebihan ruang belajar. Peningkatan mutu dan branding SLTA swasta dapat menjadi strategi untuk menarik lebih banyak peserta didik dan menyeimbangkan beban antara negeri dan swasta. Pendekatan perencanaan juga harus berbasis analisis tren partisipasi pendidikan, sebaran demografis penduduk potensial usia 1618 tahun, serta karakteristik sosial ekonomi masyarakat. SLTA swasta dengan kelebihan ruang belajar, misalnya perlu didorong melalui dukungan pemerintah dalam bentuk kemitraan, peningkatan akreditasi, dan program insentif lainnya yang memungkinkan peningkatan minat masyarakat untuk mendaftar. Hal ini sejalan dengan upaya memperkuat peran sektor swasta dalam pemerataan pendidikan, tanpa mengorbankan kualitas. Proyeksi jumlah peserta didik yang telah dianalisis dapat menjadi acuan utama dalam merumuskan kebutuhan program pendidikan lainnya, seperti penyediaan sarana dan prasarana, tenaga pendidik, pembiayaan, serta berbagai aspek pendukung lain yang bertujuan memfasilitasi peserta didik (Santosa & Rahmawati, 2. Kebutuhan ruang belajar tahun 2029 dianalisis dengan menggunakan pedoman pada SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan. Indikator yang digunakan meliputi proyeksi lulusan SLTP selama lima tahun, jumlah lulusan SLTP yang dapat ditampung, persentase lulusan SLTP yang melanjutkan ke SLTA, serta daya tampung 36 peserta didik berdasarkan pedoman teknis Permendikbudristek No 22 tahun 2023. Angka proyeksi peserta didik lebih besar dari jumlah peserta didik yang dapat ditampung, maka artinya akan ada tambahan kebutuhan ruang belajar. Distribusi proyeksi tambahan kebutuhan ruang belajar didasarkan pada persentase jumlah peserta didik terhadap peserta didik total kabupaten. Distrubsi proyeksi tambahan ruang belajar ini sangat berkaitan dan berbanding lurus dengan kemampuan menampung peserta didiknya, sebagaimana Kecamatan Wonosobo diproyeksikan pada tahun 2029 dibutuhkan tambahan 65 ruang belajar dan Mojotengah sebanyak 40 ruang belajar. Kondisi yang sama juga terlihat bahwa kecamatan yang tidak memiliki SLTA negeri yaitu Garung. Kejajar, dan Leksono proyeksi tambahan kebutuhan ruang belajar cukup rendah dibandingkan 12 kecamatan lainnya. Hal tersebut sangat berkaitan dengan ambang batas atau threshold peserta didik, sehingga setiap satu unit fasilitas pendidikan SLTA mampu melayani secara efektif. Adanya thresold atau ambang batas kelayakan pelayanan fasilitas dimaksudkan supaya lokasi pusat pelayanan tetap bisa bertahan, sehingga terjamin kelangsungan pelayanannya (Sadyohutomo, 2008:. Kecamatan Garung meresmikan pembentukan SMAN 1 Garung pada tanggal 10 April 2025, yang sebelumnya menginduk di SMAN 1 Mojotengah. Pendirian SMAN 1 Garung tersebut akan memudahkan jangkauan peserta didik di Kecamatan Garung dan Kejajar serta wilayah sekitarnya yang selama ini belum memiliki SLTA negeri, yang sebelumnya untuk mengkases SLTA negeri harus menempuh jarak cukup jauh menuju Kecamatan Mojotengah dan Wonosobo sebagai pilihannya. Hal ini menunjukkan bahwa pembukaan sekolah baru, apabila direncanakan dengan proyeksi kebutuhan yang matang, dapat mengurangi beban fasilitas pendidikan eksisting, memperpendek jarak tempuh, dan meningkatkan partisipasi sekolah, terutama dari kelompok ekonomi menengah ke bawah yang sebelumnya mungkin terkendala secara geografis dan finansial. Kecematan Leksono dan Kejajar juga belum memiliki satupun SLTA negeri, sementara jumlah penduduk potensial usia 16-18 tahun pada wilayah tersebut cukup tinggi dan terus Kondisi tersebut menyebabkan keterbatasan jangkauan layanan pendidikan. Melalui analisis jumlah peserta didik di wilayah sekitarnya, maka Kecamatan Leksono dan Kejajar perlu mendirikan SMK negeri. Penduduk Kecamatan Leksono untuk melanjutkan Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. SMK negeri harus menuju ke SMKN 1 Sukoharjo. SMKN 1 Wonosobo, maupun SMKN 2 Wonosobo sebagai pilihan lokasi terdekatnya, terlihat bawha peserta didik di ketiga SMK tersebut sangat tinggi yaitu > 1. 000 peserta didik dengan rombongan belajar > 30 unit, sehingga pendirian SMK negeri menjadi cukup ideal. Kecamatan Kejajar juga dapat direncanakan dengan mendirikan SMK negeri, jangkauan yang cukup jauh yang harus dilalui penduduk untuk mengakses SMK negeri yaitu melewati Kecamatan Garung dan Mojotengah. Bahkan untuk menjangkau SMA negeri dari lokasi terdekatnya peserta didik harus menuju Kecamatan Mojotengah dan Watumalang serta melewati Kecamatan Garung, sehingga biaya layanan, waktu tempuh, serta jarak fasilitas pendidikan menuju SLTA negeri membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang cukup banyak. Setalah sebelumnya di Kecamatan Garung sudah diresmikan SMA negeri, maka menjadi ideal jika Kecamatan Kejajar didirikan SMK negeri, supaya penduduk di kedua kecamatan tersebut dapat memili SLTA negeri baik SMA maupun SMK dan minat penduduk untuk melanjutkan ke SLTA negeri dapat terpenuhi. Alasan krusial pendirian SMK negeri di wilayah tersebut adalah untuk meningkatkan jangkauan serta mengurangi biaya layanan yang sebelumnya membutuhkan banyak biaya untuk sekadar mengkases layanan pendidikan. Keluarga kurang mampu lebih berisiko tidak melanjutkan ke jenjang SLTA karena faktor biaya dan jarak. Pendirian SLTA negeri di wilayah ini juga mendukung prinsip pemerataan pendidikan, memperkuat keadilan spasial, serta menjawab kebutuhan ruang belajar yang terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk usia sekolah. KESIMPULAN Ketersedian dan tingkat ketersediaan fasilitas pendidikan SLTA pada saat ini terbatas. Peserta didik cenderung memilih SLTA negeri meskipun harus menempuh jarak yang jauh untuk menjangkaunya. Sebaran mencukupi dari segi jumlah, namun SLTA negeri maupun SLTA terakreditasi A tidak tersedia di setiap kecamatan, sehingga perlunya kolabirasi antara sektor pemangku kebijakan pendidikan di Kabupaten Wonosobo untuk menciptakan layanan pendidikan yang adil. Peserta didik pada tahun 2029 diproyeksikan mencapai 36. 488 peserta didik dengan sebaran bervariasi. Rasio lulus lanjut peserta didik SLTP yang melanjutkan ke SLTA sebesar 0,80 artinya partisipasi pendidikan SLTA semakin baik yang ditandai dengan angka rasio semakin mendekati 1. Daya tampung fasilitas pendidikan SLTA masih belum mencukupi sampai tahun 2029, sehingga menjadi sangat penting untuk menghitung kekurangan kebutuhan ruang belajar serta meningkatkan kualitas pelayanan terutama di tiga Kecamatan yaitu Leksono. Garung, dan Kejajar. Jumlah kebutuhan ruang belajar tahun 2029 diproyeksikan mencapai 156 unit. Sebaran didominasi pada SLTA negeri yang mengindikasikan tingginya minat penduduk untuk melanjutkan ke SLTA negeri. Hasil proyeksi kebutuhan ruang belajar sangat barbanding lurus dengan kemampuan satuan pendidikan dalam melayani peserta didik, semakin tinggi peserta didik proyeksi kebutuhan ruang belajar semakin tinggi pula. Tingginya beban fasilitas pendidikan di beberapa kecamatan salah satu solusinya dapat dilakukan dengan pemertaan pendirian SLTA negeri di Kecamatan Garung. Kejajar, dan Leksono agar layanan pendidikan dapat adil dan berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis sampaikan banyak terima kasih dengan dengan segala hormat kepada segenap pihak yang telah berkontribusi dalam setiao proses pengumpulan data dan penyusunan artikel. Dukungan, saran, serta referensi yang diberikan sangat membantu memperdalam kekritisan analisis yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas dari kajian artikel ini. Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 21009/JSG. DAFTAR PUSTAKA