JKM Jurnal Kesehatan Masyarakat STIKES Cendekia Utama Kudus P-ISSN 2338-6347 E-ISSN 2580-992X Vol. No. Agustus 2022 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA MENGENAI PENDIDIKAN SEKS DENGAN PERILAKU MENGARAH KEPADA SEKS BEBAS DI SMK KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2021 Riska Nanda Febriyana1. Dayan Hisni2. Cholisah Suralaga3 Program Studi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nasional Email: riskanandaf@gmail. ABSTRAK Masa remaja merupakan masa dengan rentang usia 10 sampai 24 tahun. Perilaku seks pada remaja dalam hal terjadinya sebuah transisi ini remaja akan berkembang mengarah kepada kematangan seksualitasnya. Berdasarkan data Survey kepada remaja dengan total responden 100 orang yang berpacaran, 63% hanya sebatas berpegangan tangan, 40 % ciuman, 20% pernah meraba bagian sensitif, 2 % penah melakukan hubungan seksual. Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap remaja mengenai pendidikan seks yang mengarah kepada perilaku seks bebas di SMK Kota Tangerang Selatan Tahun Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan Cross-Sectional digunakan untuk mengetahui adakah korelasi antar kedua variabel, besar populasi penelitian ini sebanyak 124 responden dengan total sampel sebanyak 95 menggunakan teknik stratified sampling. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner pengetahuan mengenai pendidikan seks, sikap remaja, dan perilaku mengarah kepada seks bebas. Kuesioner ini telah diuji validitas dan reliabilitas dengan nilai koefisien Cronbach Alpha sebesar 0,890. Data dianalisis menggunakan chi-square untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah kepada seks bebas. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antar tingkat pengetahuan dengan perilaku mengarah kepada seks bebas didapati hasil p-value sebesar 0. 000 < 0. 05, dan terdapat hubungan antar sikap remaja mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah kepada seks bebas didapati hasil p-value sebesar 0. 007 < 0. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah kepada seks bebas di SMK Kota Tangerang Selatan Tahun Dengan meningkatkan pembelajaran mengenai pendidikan seks maka hal ini sangat diperlukan sekali untuk mengubah tatanan tingkat pengetahuan, sikap serta perilaku remaja kearah yang jauh lebih baik. Kata Kunci: Pengatahuan Remaja. Sikap Remaja. Perilaku Remaja. Seks Bebas ABSTRACT Adolescence is a period with an age range ranging from 10 to 24 years. Sex behavior in adolescence in the event of a transition, teenager will developing to the maturity of his sexuality. Based on survey data of teenagers with a total of 100 respondents who are dating, 63% only held hands, 40% kissed, 20% had groped sensitive parts, 2% had sex. To find out level of knowledge and attitudes of adolescents regarding sex education that leads to free sex behavior in SMK Kota Tangerang Selatan in 2021. This quantitative research using the Crosectional approach is used to find out if there is a correlation between the two variables. The population in this study was 124 respondents with a total sample of 95 using stratified sampling techniques. The research instrument consists of knowledge questionnaires regarding sex education, adolescent attitudes, and behavior leading to casual sex. This questionnaire has been tested for validity and reliability with a Cronbach Alpha coefficient value of 0. Data analyzed using chi-square to find out if there is a relationship between the level of knowledge adolescent attitudes about sex education and behavior leading to free There is a relationship between a teenager's level of knowledge and attitude regarding sex education and behavior leading to casual sex in SMK Kota Tangerang Selatan in 2021. Improving learning about sex education as this is very necessary to change the order of knowledge levels and leads Adolescent attitudes and behaviors in a much better direction. Keywords: Adolescent Knowledge. Adolescent Attitudes. Teen Behavior. Free Sex LATAR BELAKANG Perilaku seks pada remaja muncul dikarenakan sebuah transisi Beberapa remaja akan merasa kebingungan dalam memahami apa saja yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Kemudian sebagian remaja memiliki sebuah keinginan atau kemauan serta adanya tuntutan yang berasal dari psikologis yang muncul . Stanley Hall menyatakan pada proses ini remaja akan mengalami konflik dan perubahan dikarenakan adanya perubahan yang disebabkan oleh lingkungan sekitarnya . Terlebih lagi dengan adanya perkembangan teknologi di Indonesia sangat memudahkan akses menuju pornografi di kalangan para remaja . Kemudian Hatimah menyatakan bahwasanya penyebab terjadinya suatu perilaku seks bebas dapat terjadi akibat ketidakharmonian didalam kehidupan secara psikis dan juga terjadinya ketidakintegrasi dalam hubungan keluarga . Kusumawati & Zuchdi menyatakan pentingnya penanaman moral sejak dini diharuskan dengan penjelasan yang logis seperti halnya bagaimana suatu tindakan boleh atau tidaknya dilakukan sesuai dengan kemampuan cara berpikir pada anak saat itu. Hal ini dikarenakan perilaku remaja Indonesia saat ini menimbulkan rasa khawatir dan cemas bagi orang tuanya . Berdasarkan data yang dimiliki oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 93,7% remaja SMP dan SMA pernah melakukan kegiatan berciuman dan juga oral seks. Hal ini dikarenakan oleh salah satu faktor utama yaitu minimnya tingkat pengetahuan seksual pada remaja, sehingga remaja beranggapan jika melakukan tindakan seksual adalah kegiatan yang biasa dilakukan dalam gaya berpacaran pada saat ini . Menurut penelitian terdahulu juga menyatakan bahwa remaja yang terpapar oleh pornografi cenderung memiliki pengaruh akan perilaku seksual. Data menunjukan sebanyak 97% siswa SMP dan SMA di Indonesia pernah melihat atau sudah terpapar konten pornografi . Berdasarkan data KPAI tahun 2011 sebanyak 32 % remaja di beberapa kota besar Indonesia seperti Jakarta. Surabaya, dan Bandung pernah melakukan hubungan seksual. Pada survey tahun 2016 dari tingkat SD,SMP, maupun SMA di kabupaten Bandung, 99 % pernah melihat gambar porno atau film porno, 1 % tidak mempunyai fasilitas yang memadai untuk mengaksesnya. Survey selanjutnya kepada remaja dengan total responden 100 orang yang berpacaran, mendapatkan 63% berpegangan tangan, 40 % ciuman, 20% pernah meraba bagian sensitif, 2 % pernah melakukan hubungan seksual . Lawrence Green Notoatmodjo pengetahuan serta sikap merupakan kondisi dari faktor yang berasal dari internal atau diri sendiri, yang dimana hal ini termasuk ke dalam faktor predisposisi . Hal ini didukung dengan hasil dari penelitian terdahulu, yang didapati hasil . =0,000<0,. dengan nilai R 2 0,615 yang berarti ada hubungan antara pengetahuan sikap remaja dan perilaku yang mengarah ke seks bebas . Pendidikan seks adalah salah satu upaya dalam mengurangi adanya dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan seperti contohnya terjadinya pelecehan seksual, terjadinya kehamilan diluar pernikahan, kejadian aborsi serta penyakit menular seksual atau yang biasa disebut dengan PMS . Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 26 oktober 2021 di SMK Kota Tangerang Selatan yang disesuaikan dengan kriteria yang sudah peneliti tentukan pada siswa kelas 12 berjumlah 10 siswa dan siswi yang berusia 17-19 tahun dan berjenis kelamin laki-laki serta Setelah peneliti memberikan kuisioner mengenai tingkat pengetahuan mengenai pendidikan seks, sikap remaja pendidikan seks dan perilaku remaja, yang berjumlah 35 butir pertanyaan. Dari kuesioner tersebut menghasilkan 7 siswa memiliki pengetahuan yang cukup namun memiliki sikap dan perilaku negatif, 3 lainnya memiliki hasil pengetahuan yang kurang serta memiliki sikap dan perilaku negatif. Dari hasil tersebut dapat diidentifikasikan bahwa siswa dan siswi di SMK Kota Tangerang Selatan cenderung mengarah kepada seks bebas. Menurut Irianto . tahap perkembangan pada remaja dalam proses penyesuaian tahap usia dewasa diantaranya adalah usia remaja awal yang berkisar 11-13 tahun, remaja madya usia 14-16 tahun, remaja akhir usia 17-20 tahun. Bisa dikatakan remaja dengan umur 17-20 tahun merupakan fase ideal bagi untuk seorang remaja mengetahui mengenai pentingnya Pendidikan seks agar dapat menghindari sikap dan prilaku negatif yang dapat cenderung mengarah ke seks bebas . Maka dari itu, sesuai dengan latar belakang dan studi pendahuluan yang dilakukan sebelumnya penilitian ini dibuat dengan judul AuHubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Remaja Mengenai Pendidikan Seks Dengan Perilaku Mengarah Kepada Seks Bebas Di SMK Kota Tangerang Selatan Tahun 2021Ay METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi yang bertujuan untuk mengetahui suatu fenomena yang terjadi melalui adanya studi analisis Penelitian ini digunakan untuk identifikasi mengenai adanya hubungan antar tingkat pengetahuan dan juga sikap remaja pada pendidikan seks dengan perilaku mengarah kepada seks bebas. Pendekatan yang digunakan pendekatan Cross-Sectional, karena pada penelitian ini menggunakan satu waktu atau point time dalam melakukan Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan populasi seluruh siswa dan siswi kelas XII yang masih menempuh pendidikannya di SMK Kota Tangerang Selatan dengan jumlah populasi sebanyak 124 Berdasarkan hasil dari perhitungan slovin maka maka jumlah sampling yang dibutuhkan adalah 95 responden, menggunakan teknik stratified sampling dengan proses pemelihannya menggunakan cara pembagian sesuai dengan strata kelompok. Teknis analis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat untuk menjelaskan dan mendeskripsikan karakteristik variable yang diteliti. Tahapan analisis selanjutnya adalah menggunakan bivariate dengan tujuan untuk menghubungkan dua variabel yang memiliki sebuah HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Hasil dari analisis univariat pengetahuan mengenai Pendidikan seks, sikap remaja, dan perilaku siswa dan siswi di SMK Kota Tangerang Selatan. Tabel 1. Distribusi frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Responden Usia Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Jurusan OTKP TKJ Total Frekuensi (N) Presentase (%) Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi tabel 1 didapati hasil responden terbanyak berusia 17 tahun sebanyak 68 siswa atau . ,6%), hasil jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki sebanyak 50 atau . ,6%), sebagaian besar responden berasal dari urusan OTKP dengan jumlah siswa dan siswi sebanyak 28 atau . ,5%) Tabel 2. Tingkat pengetahuan mengenai Pendidikan seks Kategori Frekuensi (N) Kurang Cukup Baik Total Presentasi (%) Berdasarkan pada tabel 2 telah diketahui bahwasanya hasil dari tingkat pengetahuan siswa dan siswi SMK Kota Tangerang Selatan ini, dari jumlah responden yang berjumlah 95 siswa dan siswi diperoleh hasil pengetahuan yang baik sebanyak 15 atau . 8%) responden, hasil pengetahuan cukup sebanyak 53 atau . 8%) responden. Dan sebanyak 27 atau . 4%) responden yang memiliki hasil pengetahuan kurang. Tabel 3. Sikap Remaja Mengenai Pendidikan Seks Kategori Frekuensi (N) Negatif Positif Total Presentasi (%) Berdasarkan pada tabel 3 telah diketahui bahwasanya hasil dari sikap siswa dan siswi di SMK Kota Tangerang Selatan ini dari jumlah responden yang berjumlah 95 siswa dan siswi diperoleh hasil sikap positif diketahui ada sebanyak 24 atau . 3%) responden, kemudian hasil sikap negatif sebanyak 71 atau . 7%) responden. Tabel 4. Perilaku Mengarah Kepada Seks Bebas Kategori Frekuensi (N) Negatif Positif Total Presentasi (%) Berdasarkan pada tabel 4 telah diketahui bahwasanya hasil dari perilaku siswa dan siswi SMK Kota Tangerang Selatan ini dari jumlah 95 responden diketahui bahwasanya hasil perilaku positif didapati sebanyak 39 atau . 1%), dan dengan hasil perilaku yang memiliki hasil negatif didapati sebanyak 56 atau . 9%) responden. Analisis Bivariat Tabel 5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Mengenai Pendidikan Seks dengan Perilaku Mengarah Kepada Skes Bebas Di SMK Kota Tangerang Selatan Tahun 2021 Tingkat Pengetahuan Pendidikan Seks Kurang Cukup Baik Total Negatif Perilaku Positif Total P value Berdasarkan tabel 2 diperoleh dari hasil tersebut, dari 27 siswa dan memiliki tingkat pengetahuan kurang terdapat 17,9% dengan perilaku negatif, sedangkan terdapat 10,5% menunjukkan perilaku positif. Selanjutnya, dari 53 siswa dan siswi yang memiliki tingkat pengetahuan cukup terdapat 38,9% menunjukkan perilaku negatif, sedangkan 16,8% menunjukkan perilaku yang positif. Dan 15 siswa dan siswi yang memiliki tingkat pengetahuan baik terdapat 2,1% menunjukan perilaku negatif dan,7% menunjukan perilaku positif. Dari hasil uji chi square didapati hasil nilai p value = 0. Tabel 6. Hubungan Sikap Remaja Mengenai Pendidikan Seks dengan Perilaku Mengarah Kepada Seks Bebas Di SMK Kota Tangerang Selatan Tahun 2021 Sikap Perilaku Total Remaja Negatif Positif Pendidikan Seks Negatif Positif Total Berdasarkan tabel 3 diperoleh hasil sikap remaja mengenai pendidikan seks siswa dan siswi SMK Kota Tangerang Selatan. Dari 71 siswa yang memiliki sikap negatif terhadap pendidikan seks terdapat 50,5% remaja memiliki perilaku yang negatif dan 24,2% memiliki perilaku Sedangkan, dari 24 siswa dan siswi yang memiliki sikap positif mengenai pendidikan seks, terdapat sebanyak 8,4% memiliki prilaku negatif dan 16,8% remaja memiliki perilaku positif. Dari hasil uji chi square didapati nilai P value = 0. 007 < 0. 05 dan nilai OR sebesar 4. Pembahasan Tingkat Pengetahun Mengenai Pendidikan Seks Dari pengetahuan siswa dan siswi di SMK Kota Tangerang Selatan mengenai pendidikan seks adalah cukup. Hal tersebut dapat disebabkan karena tingkat rasa ingin tahu di kalangan remaja cukup tinggi. Hal ini di dukung dengan teori Menurut Notoatmodjo jika pengetahuan merupakan sebuah hasil dari rasa tahu seseorang akan obyek atau penginderaan yang dimilikinya . Proses penginderaan sendiri terjadi melalui panca indera pada manusia yang diantaranya seperti: penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan perasa. Sehingga tingkat pengetahuan ini akan melalui beberapa tahapan atau tingkatan yang diantaranya adalah remaja akan mulai timbul rasa ingin tahu, kemudian remaja akan mulai memahami dan mengaplikaskan akan hal yang telah didapati sampai kepada seseorang akan mulai menganalisis dan melakukan evaluasi. Sikap Remaja Mengenai Pendidikan Seks Dari hasil penelitian dapat disimpulkan jika siswa dan siswi di Kota Tangerang Selatan memiliki sikap yang cenderung negatif. Hal ini dapat disebabkan karena adanya faktor-faktor yang memengaruhi sikap remaja terhadap pendidikan seks seperti halnya pengalaman pribadi, pengaruh akan orang lain, pengaruh budaya, ataupun karena luasnya informasi yang berasal dari media masa. Seperti yang dikatakan oleh Azwar . mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi sikap seseorang . Perilaku Mengarah Kepada Seks Bebas Dari hasil penelitian dapat disimpulkan jika siswa dan siswi di Kota Tangerang Selatan memiliki perilaku yang cenderung negatif yang dimana hal ini dapat mengarah kepada perilaku seks bebas. Menurut Notoatmodjo menyatakan bahwasanya jika perilaku merupakan suau aktivitas mahluk hidup yang memiliki keterkaitan dengan satu sama lainnya. Kemudian perilaku sendiri terbagi menjadi beberapa faktor yang dapat memengaruhi perilaku akan seseroang yang diantaranya adalah: faktor predisposisi yang berasal dari internal, faktor pemungkin, dan faktor penguat . Dalam beberapa kelompok remaja perilaku seks merupakan suatu aktivitas yang begitu dominan, yang jika hal tersebut ditelusuri maka halhal tersebut dikarenakan adanya beberapa faktor yang penyebab utamanya adalah minimnya atau kurangnya pengetahuan mengenai seks terpadu yang didapat dari sekolah ataupun didapat dari orang tua. Tingkat Pengetahuan mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah kepada seks bebas Hasil dari penelitian ini sebagian besar tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh siswa dan siswi di SMK Kota Tangerang Selatan ini diperoleh hasil tingkat pengetahuan yang cukup serta hasil perilaku yang negatif. Maka dari itu, untuk menghindari kejadian atau aktivitas yang tidak diinginkan perlu dilakukan keterpaparan informasi yang tinggi dari sumber yang jelas. Menurut Burhan pengetahuan akan sangat penting bagi pengetahuan megenai pendidikan seks, karena pendidikan seks sendiri memiliki pengaruh terhadap sikap yang nantinya akan ditentukan oleh remaja dan dapat berdampak kepada perilaku yang baik pula kedepannya . Saat seorang remaja tidak mengetahui dengan benar apa itu seks bebas dengan dampak yang akan terjadi dikemudian hari remaja tersebut akan cenderung tidak memiliki rasa peduli dan melakukan perilaku yang melebihi batas kewajaran. Hal ini dapat diselaraskan dengan dilakukannya kegiatan sosialisasi ataupun seminar mengenai pendidikan seks pada remaja hingga kepada dampak-dampaknya sehingga hal ini nantinya dapat dofungsikan sebagai salah satu cara sebagai pencegahan terjadiya perilaku menyimpang atau mengarah kepada seks bebas itu sendiri. Sikap remaja mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah kepada seks bebas Dalam proses perkembangan dan kematangnya fungsi seksual pada seorang remaja dapat menimbulkan sebuah tekanan atau dorongan serta rasa ingin memuaskan hasrat seksualnya terhadap lawan jenis dengan melakukan hubungan berpacaran . Pada masa remaja disinilah terjadinya suatu perubahan serta berkesinambungan atau terjadi secara terus-menerus. Seperti halnya perkembangan pada seksualitas dan perubahan-perubahan komposisi tubuh, yang dimana hal ini akan memberikan sebuah perubahan terbesar pada sang remaja . Sikap terbagi menjadi 2 bentuk yang diantaranya adalah sikap positif dan juga sikap negatif. Sikap positif sendiri merupakan intrepretasi dari sebuah wujud nyata pada perasaan seseorang dalam memerhatikan halhal positif serta terpaparnya informasi yang baik, serta sikap negatif sebuah sikap yang perlu dihindari, karena pada hakikatnya sikap negatif ini akan mengarahkan seseorang kepada suatu kesulitan serta kegagalan. Dari penjelasan tersebut didapati hasil sikap serta perilaku yang negatif, dapat diharapkan jika peran orangtua serta peran tenaga pendidik dalam hal ini sangatlah penting guna untuk menghindari keadaan seorang remaja yang akan semakin terjerumus kepada kegiatan tuna Susila, sehingga remaja akan cenderung menjauh dan enggan untuk bercerita atau menjelaskan hal-hal yang terjadi padanya. Hubungan pendidikan seks dengan perilaku mengarah kepada seks bebas di SMK Kota Tangerang Selatan Tahun 2021 Berdasarkan dengan hasil data dari terkumpulnya data responden telah dilakukan pengolahan data maka dari itu pada bagian ini akan dijelaskan mengenai hasil dari pembahsan dengan apa yang dirumuskan oleh peneliti. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa pada nilai P-value hubungan antara tingkat pengetahuan mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah seks bebas di SMK Kota Tangerang Selatan Tahun 2021 sebesar 0. 000 < 0. 05 yang berarti ada hubungan antara tingkat pengetahuan mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah seks bebas di SMK Kota Tangerang Selatan. Pada nilai P-value hubungan antara sikap remaja mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah seks bebas di SMK Kota Tangerang Selatan sebesar 0. 007 < 0. Sehingga dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwasanya ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah seks bebas di SMK Kota Tangerang Selatan Tahun 2021. Berdasarkan hasil analisis diatas menggunakan chi-square peneliti dapat menganalisa jika seorang remaja yang memiliki pengetahuan cukup maka sikap dan perilaku seorang remaja mungkin saja cenderung menjadi negatif atau dapat mengarah kepada seks bebas. Hal ini mungkin saja terjadi disebabkan karena terbatasnya informasi yang diterima oleh remaja tersebut yang menyebabkan tidak menyeluruhnya informasi yang didapat dan berasal dari sumber yang salah. Mungkin saja, remaja tersebut mendapatkan informasi dari media masa atau pengaruh dari orang terdekat atau keadaan lingkungan sekitarnya. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh (Sari, 2014 dalam Setyaningsih, 2. yang menyatakan bahwasanya pengetahuan seseorang tidak memiliki pengaruh yang secara relevan dengan sikap ataupun perilaku seksual kepada seorang remaja . Dengan seiringnya perkembangan zaman mengenai perilaku seksual yang dilakukan oleh seorang remaja semakin menghawatirkan dan remaja cenderung lebih terbuka terhadap seks bebas disebabkan aktivitas berpacaran yang mengarah kepada seks bebas serta didukung dengan pergeseran moral dalam masyarakat yang semakin jauh yang membuat hal tersebut menjadi hal yang biasa, padahal penyimpangan perilaku seksual merupakan hal yang harus dihindari oleh setiap masing-masing orang . Kemudian Notoatmodjo menyatakan bahwasanya pengetahuan adalah faktor yang sangat berpengaruh dalam pembentukkan tingkah laku atau karakteristik seseorang mengenai objek akan suatu hal. Dalam hal ini pengetahuan juga dapat memiliki artian postitif dan juga negatif, dua hal tersebut yang nantinya akan menentukkan sikap seseorang mengenai objek yang ia tangkap. Keterlibatan peran orang tua dalam hal ini juga sangatlah dibutuhkan sebagai pembentukkan peran yang matang dengan proses pola pemikiran remaja yang dapat dikatakan labil akan keputusan maupun tindakan-tindakan yang diperbolehkan dan tidak dperbolehkan untuk dilakukan . SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil pembahasan bahwasanya ada hubungan tingkat pengetahuan dan sikap remaja mengenai pendidikan seks dengan perilaku mengarah kepada seks bebas di SMK Kota Tangerang Selatan Tahun 2021 dengan hasil P-value sebesar 0. 000 < 0. 05 dan P-value 007 < 0. Sehingga peneliti dapat menyimpulkan jika seorang remaja yang memiliki pengetahuan cukup maka sikap dan perilaku seorang remaja mungkin saja cenderung menjadi negatif atau dapat mengarah kepada seks bebas. Hal ini mungkin disebabkan karena terbatasnya informasi yang diterima oleh remaja yang menyebabkan tidak menyeluruhnya informasi yang didapat dan berasal dari sumber yang Saran Adapun saran yang dapat dihaturkan oleh peneliti kepada SMK terkhususnya para tenaga pengajar dan guru BK untuk meningkatkan pembelajaran mengenai pendidikan seks yang sebagaimana hal ini sangat diperlukan sekali untuk mengubah tatanan tingkat pengetahuan, sikap serta perilaku remaja kearah yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan untuk terjadi seperti terjadinya hamil diluar nikah ataupun terpaparnya konten pornografi. DAFTAR PUSTAKA