KRITIK MORALITAS SOSIAL-POLITIK DALAM PUISI HAWAMISH AoALA DAFTAR ALNAKSAH DAN PUISI LES PAUVRES GENS (Kajian Sastra Bandin. Ahmad WahyudiA. Sukron KamilA Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia ahmad25yud@gmail. comA , sukronkamil@uinjkt. ABSTRACT This study examines and compares the social-political moral criticism in Nizar QabbaniAos HawAmish AoalA Daftar al-Naksa and Victor HugoAos Les Pauvres Gens, aiming to offer concrete evidence of EastAeWest literary comparison that challenges Eurocentric frameworks. emphasizes that literary value should not be judged solely by Western aesthetic standards, as each work is shaped by the poetAos cultural and historical context. Using a descriptive qualitative method, the study interprets each poem by linking its language and themes to its socio-political background. Data were collected through library research and analyzed using Marxist Humanism. The research highlights the stylistic contrast between the two poets: Qabbani employs direct, sharp, and metaphorical language, while Hugo adopts a narrative and romantic tone. Both poems criticize authorities for social inequality, poverty, injustice, and political repression. QabbaniAos poem makes explicit accusations regarding the Arab worldAos defeatAiblaming moral decay, internal conflict, and political oppression. Hugo, in contrast, conveys implicit criticism of poverty and social inequality in France under the authoritarian rule of Napoleon i. Although written a century apart, the poems share a common message: literature can be a powerful instrument of social critique and change. The comparison reinforces that literary evaluation must consider diverse cultural perspectives rather than rely solely on Eurocentric standards. Keywords : Qabbani. Hugo. HawAmish AoalA Daftar al-Naksa. Les Pauvres Gens. Comparrative Literrature. ABSTRAK Penelitian ini membahas dan membandingkan kritik moralitas sosial-politik dalam puisi HawAmish AoalA Daftar al-Naksa karya Nizar Qabbani dan Les Pauvres Gens karya Victor Hugo. Tujuannya adalah memberikan bukti konkret perbandingan sastra Timur dan Barat serta menentang kerangka eurosentris yang menilai sastra hanya dengan standar estetika Barat. Penelitian ini menegaskan bahwa setiap karya sastra harus dipahami melalui konteks budaya dan sejarahnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan mengaitkan bahasa dan tema kedua puisi dengan situasi sosial-politiknya. Data dikumpulkan melalui studi pustaka kemudian dianalisis menggunakan teori Humanisme Marxis. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan gaya bahasa yang jelas: Qabbani menggunakan bahasa yang lugas, tajam, dan penuh metafora, sedangkan Hugo menggunakan gaya naratif dan Keduanya menyuarakan kritik terhadap penguasa terkait ketimpangan sosial, kemiskinan, ketidakadilan, dan represi politik, meskipun dengan pendekatan berbeda. Qabbani mengungkapkan kritik secara eksplisit terhadap kemunduran moral, konflik internal, dan represi politik di dunia Arab. Sementara itu. Hugo menyampaikan kritik secara implisit terhadap kemiskinan dan ketimpangan pada masa Napoleon i. Meskipun terpaut satu abad, kedua puisi menunjukkan bahwa sastra merupakan alat kritik sosial yang mampu mendorong Perbandingan ini menegaskan pentingnya menilai sastra melalui perspektif yang lebih luas, bukan hanya dari sudut pandang Eropa. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 218 Kata Kunci : Qabbani. Hugo. HawAmish AoalA Daftar al-Naksah. Les Pauvres Gens. Sastra Banding PENDAHULUAN Kata Puisi berasal dari bahasa Yunani yaitu poiesis, yang memiliki arti penciptaan. Dalam Bahasa Inggris disebut poetry yang berakar dari kata poet, berarti membuat atau (Reynhat, 2022, p. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang ditulis dengan memperhatikan estetika gaya Bahasa untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan penyair tentang suatu hal. Pemahaman ini sejalan dengan Clive Samson yang dikutip dalam Pengajaran Apresiasi Puisi, dikatakan bahwa puisi merupakan karya sastra dengan bentuk pengucapan bahasa yang ritmis, yang mengungkapkan pengalaman intelektual pengarang secara imajinatif dan penuh emosional dengan bahasa yang (Yulianto, 2018, p. Sebagai karya sastra yang mampu mengungkapkan gagasan dan perasaan penyair, puisi memiliki fungsi yang juga efektif untuk menyuarakan kritik dari penyair terhadap suatu fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya. (Nuzula, 2025, p. Dengan demikian, puisi juga dapat merepresentasikan dinamika suatu kondisi masyarakat, meliputi kondisi sosial, politik, ekonomi, budaya bahkan ideologi yang dianut masyarakat pada masa lampau. Oleh karena itu, puisi seringkali menjadi alat kritik yang tajam secara sarkastik terhadap para penguasa atas ketidakadilan dan kerusakan moral pemerintahan sebagai pengambil kebijakan yang menentukan kehidupan masyarakat. Puisi-puisi bernuansa kritik terhadap penguasa sering menjadi alat penggerak dan motivasi bagi pendengar atau pembaca pada masa itu untuk memperjuangkan keadilan dan menuntut perubahan. Penyair yang seringkali mengkritik penguasa dengan puisi-puisi sarkastik, kontroversial, dan penuh pesan moral adalah Nizar Qabbani, penyair asal Suriah, yang juga merepresentasikan kondisi dunia Arab pada masanya, dan Victor Hugo, penyair asal Prancis, yang merepresentasikan kondisi dunia Barat. Dua penyair ini menjadi bukti bahwa sastra bisa digunakan untuk melawan hegemoni kekuasaan yang tidak adil dan mengkritisi ketimpangan Nizar Qabbani lahir pada 21 maret 1923 di Kawasan bernama Mundzinah Syahm. Suriah. Dalam catatan hariannya. Nizar mengaku bahwa ia mewarisi kemahiran berpuisinya dari sang kakek. Ahmad Abu Khalil Qabbani, seorang penulis naskah drama yang hebat pada (Qabbani, 2022, p. Nizar lahir dan besar ditengah keluarga tradisional dan konservatif, ia menyaksikan kakak perempuannya bunuh diri karena menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Latar belakang inilah yang menyebabkan puisinya lebih banyak bertemakan hak-hak perempuan dan cinta. (Qurrota, 2022, pp. 124Ae. Namun. Nizar juga dikenal sebagai penyair yang peka terhadap politik dunia Arab. Ia seringkali melancarkan Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 219 serangan dan kritik terhadap penguasa Timur Tengah yang dictator dan represif dalam banyak puisinya. (Qabbani, 2022, p. Puisi AuHawaamisy Aoala Daftar al NaksahAy merupakan salah satu puisi dari antologi puisi berjudul AuAAomal as SiyasiyahAy yang memuat kumpulan puisi politik Nizar Qabbani yang mengkritik ketidakadilan dan otoritarianisme penguasa. (Qabbani, 2000, p. Puisi ini bertemakan kritik terhadap penguasa dan ajakan perubahan atas kekalahan koalisi bangsa Arab melawan Israel pada perang enam hari, yang disebut peristiwa Naksah pada tahun 1967. Dari sisi dunia barat. Victor Marie Hugo merupakan penyair besar asal Prancis beraliran romantisme. Victor Hugo lahir pada 26 Februari 1802 di Besancon. Prancis. (Hugo, 2008, p. Victor Hugo dianugerahi gelar bangsawan oleh Raja Louis-Philippe I pada 1845 yang membuatnya aktif dalam dunia politik. Selain seorang penulis. Victor juga pernah menjadi senator Prancis. Victor Hugo merupakan seorang republikan, ia sangat menentang Hal itu ditunjukkan dengan hampir seluruh karya-karyanya menyuarakan isu sosial dan politik. Salah satu karyanya yang menyuarakan isu ketimpangan sosial dengan sarkastik adalah puisinya yang berjudul AuLes Pauvres GensAy dari antologi puisinya yang berjudul La Legende des siecles . (Heras & Ramon, 1994, p. Puisi AuLes Pauvres GensAy diciptakannya pada masa pengasingan karena melawan pemerintahan otoriter raja Napoleon i. Puisi ini berisi kritikan Victor Hugo terkait moralitas penguasa atas ketimpangan sosial, korupsi, dan pelanggaran hak asasi manusia yang tejadi. Para penguasa dan bangsawan hidup dengan mewah, sementara rakyat kecil hidup miskin dan menderita. Walaupun berasal dari dua latar budaya dan periode yang berbeda, kedua penyair ini memiliki kesamaan visi dan ideologi untuk menentang struktur kekuasaan yang tidak adil. Melalui puisi-puisinya yang indah, mereka mengkritik moral penguasa terkait arah kebijakan sosial dan politik yang menyengsarakan rakyat. Menurut David Hume dalam pikirannya tentang moralitas yang dikutip oleh Andre Ata, dikatakan bahwa moralitas merupakan sebuah sistem tatanan yang menyentuh intisari kehidupan manusia karena memiliki fungsi regulatif bagi kehidupan manusia baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai pribadi(Ata Ujan, 2011. Praktik-praktik korupsi pemerintah yang merugikan rakyat, kebijakan politik yang tidak adil, dan ketimpangan sosial memunculkan pesimistis akan moralitas sebuah bangsa. Namun, mengutip pikiran Montesquieu dalam Moralitas. Lentera Peradaban Dunia karya Andre Ata, dikatakan bahwa eksistensi sebuah bangsa dan negara masih tetap ada selama masyarakat memiliki moralitas. Tanpa moralitas, sebuah masyarakat tidak memiliki dasar (Ata Ujan, 2011, pp. 9Ae. Maka dari itu, melalui karya-karyanya. Nizar Qabbani dan Victor Hugo menyuarakan kritiknya terhadap buruknya moralitas para penguasa. Sebagai pemimpin negara, mereka membuat rakyat menderita akibat kalah perang dan menderita dalam kemiskinan. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 220 Sastra banding adalah kajian terhadap hubungan historis suatu sastra nasional tertentu dengan sastra nasional. (Kamil, 2022, p. Kajian sastra banding dalam penelitian ini merupakan sastra banding mazhab Eropa yang dimana fokus kajiannya adalah pada keterpengaruhan diantara sastra tersebut. Karya sastra apa yang memengaruhi dan yang (Kamil, 2022, p. Sastra banding mendalami bagaimana lalu lintas inspirasi karya sastra suatu negara memengaruhi karya sastra di negara lain, baik dari segi estetika bentuk yang meliputi gaya bahasa maupun estetika maknanya yang meliputi rasa, imajinasi dan Untuk mengkaji hubungan historis dan menemukan keterpengaruhannya, kajian sastra banding juga mempelajari Sejarah hubungan sebuah negara dengan negara lain, baik yang bersifat individual . maupun bersifat nasional yang cakup politik, budaya, pendidikian dan lain sebagainya yang memengaruhi terbentuknya sastra. (Kamil, 2022, p. Moralitas erat kaitannya dengan Humanisme. Untuk menganalisa kritik moralitas sosial-politik dalam kedua puisi tersebut, penelitian ini menggunakan teori Humanisme Marxis. Humanisme Marxis merupakan konsep yang menguraikan sudut pandang humanis Karl Marx yang berfokus pada hakikat manusia, kondisi sosial yang memungkinkan perkembangan manusia, dan perlawanan terhadap alienasi serta ketidakadilan(Wissam, 2. Dalam konteks sastra. Eagleton merangkum pandangan Marx terkait istilah superstruktur dalam kehidupan manusia yang mencakup hukum, politik, agama, etika dan estetika. Seni dan sastra merupakan bagian dari superstruktur tersebut. Berdasarkan pandangan tersebut. Eagleton menyatakan bahwa karya sastra merupakan bentuk persepsi, cara khusus memandang dunia, dan dengan demikian, karya sastra memiliki hubungan dengan cara pandang dunia yang merupakan mentalitas sosial atau ideologi suatu zaman(Eagleton, 2002, 5Ae. Sehingga dapat dikatakan bahwa sastra merupakan bagian integral dari kehidupan ekonomi, politik, dan sosial. Dengan kata lain, pemahaman karya sastra harus merujuk pada latar belakang produksi karya sastra tersebut, yang berkaitan dengan realitas kehidupan sosial masyarakat. Terutama pristiwa-pristiwa konflik yang dialami penyair dalam hidupnya, seperti yang digambarkan Nizar Qabbani dan Victor Hugo dalam puisinya. Inti dari Humanisme Marxis adalah keyakinan memperjuangkan keadilan sosial yang didasarkan pada nilai-nilai moralitas kemanusiaan. Ketidakadilan yang terjadi pada sistem kelas borjouis dan proletar yang menjadi fokus Marx, juga terjadi dalam hubungan antara penguasa dan rakyat. Konsep teori ini relevan untuk menganalisa kritik moralitas sosial-politik dalam puisi Nizar Qabbani dan Victor Hugo. PENELITIAN TERDAHULU Penelitian yang menganalisa puisi Hawamisy Aoala Daftar al Naksah karya Nizar Qabbani, maupun puisi Les Pauvres Gens karya Victor Hugo telah dilakukan oleh beberapa Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 221 peneliti. Diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Prisilia Anghuril Aeni dengan judul Sosiologi Sastra dalam Puisi Hawamisy Aoala Daftar al Naksah : Refleksi Konflik PalestinaIsrael. Penelitian ini menganalisis puisi Nizar dengan perspektif sosiologi sastra Alan Swingewood, yang bertujuan untuk memahami bagaimana puisi ini menggambarkan trauma kekalahan Arab, kritik terhadap penguasa dan harapan untuk generasi mendatang. (Anghuril, 2024, p. Francisco Ramon Trives menganalisa pemilihan gaya Bahasa yang digunakan dalam puisi Les Pauvres Gens sehingga mempengaruhi makna yang dimunculkan dalam puisi Hugo dengan pendekatan linguistik dan sastra. Trives menganalisa puisi Hugo dari baris 1-43 dengan judul Approche Linguistico-littyraire de: Victor Hugo: Les Pauvres Gens, vers 1 y 43. (Heras & Ramon, 1. Serta penelitian oleh Firdausi Nuzula yang menganalisa puisi Wathan Khain, karya Ahmad Matar dan puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia (MAJOI) karya Taufiq Ismail dengan kajian sastra banding. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan ideologi perlawanan dalam kedua puisi tersebut dengan menggunakanan perspektif marxis. (Nuzula, 2. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah disebutkan, belum ada penelitian yang secara khusus mengkaji puisi Nizar Qabbani sebagai representasi dunia Arab, dan puisi Victor Hugo sebagai representasi dunia Barat dengan kajian sastra banding perspektif Humanisme Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kritik moralitas sosial-politik dalam puisi Hawamisy Aoala Daftar al Naksah karya Nizar Qabbani dan puisi Les Pauvres Gens karya Victor Hugo, serta melakukan kajian perbandingan diantara keduanya untuk membantah klaim orientalis, yang berpendapat bahwa sastra barat lebih baik dan indah, sementara sastra arab dianggap kaku, kuno dan tidak berkembang. Penelitian ini menjadi jawaban atas pertanyaan penulis sendiri mengenai sastra bandingan eurosentris yang selama ini belum terjawab, apakah ada kajian perbandingan sastra Barat dan sastra Arab sehingga orientalis menilai sastra lain lebih rendah. Pendekatan sastra bandingan digunakan karena memungkinkan penulis ataupun pembaca untuk memahami karya sastra lintas budaya. Bagaimana Nizar Qabbani dan Victor Hugo yang berasal dari latar budaya dan sosial-politik yang berbeda, mengekspresikan kritiknya untuk melawan ketidakadilan penguasa. Untuk mencapai tujuan penelitian, berikut rurmusan masalah penelitian. Menganalisa latar belakang sosial-politik dari kedua puisi saat diciptakan. Menganalisa teks puisi yang merepresentasikan kritik moralitas sosial-politik: . Membandingkan persamaan dan perbedaan kedua puisi. METODE PENELITIAN Penilitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menyajikan data secara deksriptif. Penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian yang bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan induktif untuk menganalisis sumber data(Rukin, 2. Penelitian ini Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 222 menggunakan sumber data primer, yaitu puisi Hawamisy Aoala Daftar aL Naksah yang diambil dari antologi puisi AAomal as Siyasiyah karya Nizar Qabbani dan puisi Les Pauvres Gens dari antologi puisi La Legende Siecles karya Victor Hugo. Sekaligus sumber data sekunder, yaitu segala sumber data yang menjadi referensi untuk membantu proses penelitian ini, baik berupa buku, jurnal atau penelitian yang relevan. Pengumpulan data diambil dengan menggunakan teknik pustaka, yaitu simak dan catat. Penulis membaca dan memahami puisi dengan seksama, kemudian mencatat teks puisi yang menunjukkan kritik baik secara implisit maupun Teknik analisis data meliputi beberapa tahapan, yaitu. menelusuri latar belakang sosial politik yang terjadi pada saat kekalahan Arab tahun 1967 dan pada saat raja napoleon i memerintah Prancis ketika Victor Hugo membuat puisi tersebut. Membaca, mencatat serta menginterpretasikan teks puisi dengan bersandar pada teori Humanisme Marxis. membandingkan persamaan dan perbedaan puisi, bagaimana bentuk puisi dan cara penyair menyampaikan kritik moralitas sosial-politik dalam puisinya. Hasil dari penelitian ini merupakan sebuah Kesimpulan yang berbentuk tulisan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam kaitannya dengan interdisiplin ilmu sosial dan politik, karya sastra tidak hanya dipandang sebagai alat ekspresi individual, tetapi juga sebagai cerminan realitas dinamika kehidupan Masyarakat yang menjadi lingkungan penyair. (Nyoman, 2. Selain itu, sastra juga mampu berperan aktif sebagai sarana kritik yang menyangkut kondisi sosial dan politik. Karya sastra selalu sarat akan subjektifitas pengarang, subjektifitas itulah yang menunjukkan ideologi dan sikap pengarang dalam merespon fenomena yang terjadi di sekitarnya. Dengan demikian kita bisa membaca sikap dan pandangan Nizar dan Hugo yang mengkritik moralitas para penguasa dengan perspektif Humanisme Marxis. Pada bagian ini, untuk memahami kritik moralitas sosial-politik yang terdapat pada kedua puisi tersebut, akan diklasifikasikan teks puisi yang berisi kritikan secara eksplisit maupun implisit, yang meliputi konsep alienasi, martabat manusia, kritik terhadap penguasa, dan emansipasi. Poin-poin tersebut didasari pada pikiran Marx muda yang humanistik dalam karyanya yang berjudul Economic and Philosophic Manuscripts of 1844(Blunden, n. Namun, akan terlebih dahulu diuraikan latar belakang sosial politik kedua puisi agar konteks penelitian ini mudah dipahami. Latar belakang sosial-politik puisi Hawamisy Aoala Daftar an Naksah Puisi Hawamisy Aoala Daftar al Naksah dilatarbelakangi situasi sosial-politik dunia Arab yang sangat memprihatinkan akibat kekalahan koalisi Arab yang terdiri dari Mesir. Suriah dan Yordania dalam perang 6 hari pada tahun 1967 melawan Israel. Kekalahan ini merupakan yang paling telak dan memalukan bagi bangsa Arab, sejak perang pada tahun 1948. Selain Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 223 karena mengubah tatanan wilayah strategis, seperti semenanjung sinai di Mesir. Yerusalem dan tepi barat di Yordania, serta dataran tinggi Golan di Suriah yang satu persatu berhasil direbut Israel, kekalahan ini membuat kependudukan Israel atas Palestina semakin kuat dan Penaklukan besar ini berhasil menambah 42. 000 mil persegi wilayah Israel, yang membuatnya merasa superior karena memperoleh wilayah strategis yang signifikan. (Sousa, 2. Bagi dunia Arab, kekalahan ini menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap wacana politik dunia Arab, serta membuat bangsa Arab merasa begitu hina dan kehilangan Kekalahan ini juga memicu reaksi dari berbagai kalangan, termasuk sastrawan Arab seperti Nizar Qabbani dengan puisinya yang mengkritik penguasa. Setela peristiwa naksah. Nizar lebih menitik beratkan isu-isu politik dalam tema puisinya. Kehinaan dan kesedihan bangsa Arab pasca perang juga diamini oleh sastrawan Arab peraih nobel. Naguib Mahfouz. Dikutip dari The 1967 and 1973 Arab-Israeli Wars : Causes of Triumphs and Failures karya David Sousa. Naguib Mahfouz mengungkapkan bahwa : Autidak pernah sebelumnya atau sesudahnya dalam hidup saya mengalami kehancuran seperti yang saya rasakan saat ituAy. (Sousa, 2. Kekalahan bangsa Arab pasca invasi Israel yang didukung Barat pada tahun 1967 membuat bangsa Arab semakin menunjukkan kemunduruannya. Selain karena aksi-aksi imperialisme pasca perang dunia II, bangsa Arab selalu disibukkan dengan konflik-konflik internal dan antarnegara, baik demi kepentingan politik, kepentingan geostrategis, bahkan kepentingan ideologi bagi sebagian kelompok-kelompok agama(Nainggolan, 2020, p. Suriah sendiri, terjadi ketidakstabilan politik pasca kekalahan melawan Israel, yang selanjutnya membuat pemerintahan yang otoriter berorientasi ke dalam, regresif, dan semakin keras yang memperburuk AuhubunganAy negara dengan masyarakat. Rezim Suriah saat itu menghadapi krisis legitimasi dan otoritas, rakyat semakin kehilangan kepercayaan kepada penguasa, hingga akhirnya terjadi kudeta yang dilakukan oleh Hafez Assad pada 1970(Alaaldin, 2. Kekalahan itu juga menjadi cerminan bahwa ide pan-Arabisme yang diproyeksikan untuk menyatukan bangsa Arab hanya retorika dan gagal dalam praktiknya. Sehingga kemudian menyebabkan runtuhnya solidaritas untuk membela Palestina. Fokus negara-negara tersebut menjadi berubah untuk merebut wilayahnya kembali yang diduduki Israel, bukan lagi membebaskan Palestina dari pendudukan Israel(Sousa, 2. Latar Belakang Sosial-Politik Puisi Les Pauvres Gens Puisi Les Pauvres Gens merupakan salah satu puisi dari antologi puisi La Legende des Siecles yang terbit pada tahun 1859(Hugo, 1859, p. Puisi ini terbit di masa pemerintahan raja Napoleon i yang terpilih sebagai penguasa Republik Prancis kedua pada Namun, ia mengkudeta parlemennya sendiri untuk memperoleh kekuasaan Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 224 penuh dan memperpanjang masa jabatannya sehingga ia menjadi raja Prancis periode kekaisaran kedua pada tahun 1852. (Spencer, 2. Dengan kekuasaan penuh, selanjutnya ia bertindak secara otoriter, terutama dalam membungkam kaum yang mengkritiknya, seperti kaum sosialis dan para sastrawan, termasuk didalamnya Victor Hugo. Setelah kudeta, represi politik terjadi pada masyarakarat oposisi sayap kiri, 26. 000 orang ditangkap. Pemenjaraan ini juga disertai dengan pembatasan pers, tidak ada artikel surat kabar yang membahas isu politik atau sosial yang boleh terbit tanpa izin pemerintah. (Simon, 2. Sebagai seorang Republikan. Victor Hugo sangat menentang otoritarianisme. Akibat dari kritikannya yang tajam terhadap raja, membuatnya diasingkan dari Prancis selama hampir 20 tahun. Selama pengasingan dari tahun 1851. Hugo tinggal di Belgia selama satu tahun, kemudian pindah ke Inggris sampai akhirnya kembali ke Prancis setelah jatuhnya raja Napoleon i pada tahun 1870. Meskipun diasingkan. Hugo tetap aktif mengkritik melalui puisi-puisinya yang penuh dengan satir. Tahun pertama masa pengasingannya ia menulis Napoleon le petit . dan Histoire dAoun crime yang berisi kritik tajam terhadap raja tersebut(Barrere, 2. Selama Pemerintahannya. Raja Napoleon i hanya fokus terhadap Pembangunan di Paris sebagai pusat kota, tetapi kebijakannya terhadap kaum buruh dan masyarakat miskin dianggap menyedihkan(Spencer, 2. Bresler dalam tulisannya yang dikutip sebuah artikel menyebutkan bahwa raja Napoleon i merupakan sosok anomali dalam hal pengembangan demokrasi parlementer, hak pilih universal, pembatasan kaum borjouis dan aristokrasi, hak untuk pekerja dan lain sebagainya, sang raja lebih dekat dengan para kaum bangsawan dengan segala kemewahannya(Simon, 2. Merespon kudeta yang dilakukan Napoleon i. Marx mengungkapkan kritiknya dalam The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte bahwa revolusi Prancis 1848 telah disulap sebagai tipu muslihat seorang penjudi . erujuk Napoleon . dan negara kembali ke bentuk tertuanya(Marx, 1. Di Pancis sendiri, bahkan sebelum revolusi 1848, ketidakstabilan politik dan ekonomi terus terjadi. Seperti pada tahun 1846, terjadi gagal panen dan krisis ekonomi skala besar, makanan langka dan mahal, pengangguran meningkat. Di dalam pemerintahan sendiri terjadi krisis moral(Furnier, 2. Serangkaian problematika inilah yang melatar belakangi Victor Hugo menulis puisi Les Pauvres Gens. Kritik Moralitas Sosial-Politik pada puisi Hawamisy Aoala Daftar al Naksah Alienasi . Terjemah Teks Puisi Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 225 Bait 14 Apakah kita ini benar Auumat terbaik A" A a AaNEe Iae aI " aO ae a I s Ca e a e a ae EaE IA yang dilahirkan untuk manusiaAy? Bait 17 Andai ada yang memberiku rasa andai aku bisa menemui sang Sultan,akan a A aOaO E eacEA A aIA a A aOA:aACa eEa EaNA Aa aI Cae aOA a AE aaEaEa E aI eA a AaO aI e a aOEa a a UI aO aaOA Tuanku Sultan, anjing-anjingmu yang buas telah mengoyak jubahku, mata-mata aAEa eO a a U aO eI aI aIaO E a aIIA a AEa eO aE eIa a eaa O a a eI aCa a aE E eacEA aAIA AOaOIa aN eI aO aaOA AaIaOAa aN eI aO aaOA A a eCa aI aN eI aO aaOA a a aA EaECAUAOIA a a AEaECa aa E aIe A mata mereka di belakangku. AaO eae aOaOIa a eO aaOA hidung mereka di belakangku. AaO aO eEaaOIa a eI aNa eIA kaki mereka di belakangku. AA aCaaOA e a A a e aI a A seperti takdir, seperti vonis, mereka menginterogasi istriku, mencatat nama-nama sahabatku. Konsep alienasi yang dikemukakan Marx dalam tulisannya yang menjadi dasar perspektif Humanisme Marxis berjudul Economic and Philosophic Manuscript of 1844 merujuk pada kondisi dimana pekerja atau manusia terasingkan atas hasil kerjanya(Marx, 1859, p. Dalam konteks yang lebih luas, hasil kerja manusia tidak terbatas pada sebuah produk komersial yang menghasilkan keuntungan. Tetapi juga berupa kebudayaan, karya tulis, sebuah gagasan dan lain sebagainya yang merupakan produk dari kebebasan berpikir dan kratifitas manusia. Dengan demikian, konsep alienasi juga terjadi bukan hanya pada ranah ekonomi antara kaum borjuis dan proletar, tetapi juga pada ranah sosial-politik dimana seseorang merasa asing akan sesuatu. Konsep keterasingan pada puisi Nizar Qabbani digambarkan secara implisit pada bait ke 14 dan dan ke17. Pada bait ke 14. Nizar mengungkapkan rasa kehilangan atas identitas sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia. Esensi dari narasi tersebut menjadi dipertanyakan oleh Nizar Qabbani dengan pesimis. Seperti yang kita tahu, pada era kejayaan Islam, bangsa Arab menjadi penggerak peradaban Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 226 dimana Damaskus . bu kota Suriah sekaran. menjadi pusatnya. Kalimat AaNEe Iae aI " aO aeA A" A a A a I s Ca e a e a ae EaE IAmencerminkan kekecewaan atas kemunduran bangsa Arab. Pada bait ke 17. Nizar Qabbani menggambarkan bentuk represi dari penguasa yang otoriter terhadap dirinya. Kalimat pada bait itu menunjukkan keterasingan akan kebebasan berekspresi dan menyampaikan gagasan sebagai hasil berfikir manusia. Selain itu, pembungkaman semacam ini menyebabkan keterasingan rakyat akan negara yang seharusnya melindungi kebebasan warga negaranya. Martabat Manusia Terjemah Teks Puisi Bait 1 A a eIaO Ea aE eIA Aku meratap. atas kata-kata kita yang berlubang, aA E eaEae a aO a ECaaO aIAUAOA a aAE aaE aIIa eE aI eCA seperti sepatu tua yang usang. A aOE AU aA aO eE aN aAUA eEa eN aA AaO aI aA a AaO aI eA a A a eIaO Ea aE eIA. A a eIaO Ea aE eIA atas kosa kata kehinaan,cercaan. AaI aN aOa eE aA eE a EaO Ca a auEaO eE aN aO aI aA dan makian. Aku meratap. Bait 4 kita harus merasa malu pada puisipuisi kita sendiri. AIaA a acE a a eI I ea a aE Ia eI a e aA Bait 7 kita hanya mengenakan kulit tipis a a AEaCa e Ea a eIa Ca e a a E aA a AA UAEO a a aN aE OA ca AaOA sedang jiwa kita masih jahiliah. Hakikat martabat manusia dijelaskan dengan istilah species-being yang menekankan esensi manusia sebagai makhluk yang universal dan juga kreatif. Marx mengatakan bahwa manusia sebagai makhluk bukan hanya dalam teori dan menjadi sebuah objek, tetapi sebagai makhluk yang aktual dan juga hidup dengan kebebasannya(Marx, 1859, p. Martabat melekat pada setiap individu manusia, bukan hanya pada penguasa atau kaum kapitalis, dan martabat manusia harus dihormati dan dilindungi. Dengan demikian, setelah jatuhnya kehormatan bangsa Arab pasca kekalahan melawan Israel pada tahun 1967, melalui puisinya. Nizar mengkritik Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 227 untuk membangun Kembali kehormatan dan melindungi martabat bangsa Arab dengan menjadi manusia yang aktual dan mengembalikkan nilai-nilai solidaritas bangsa Arab. Kalimat A aOE AU aA aO eE aN aAUA eEa eN aAmenggambarkan bagimana Bahasa yang AaO aI aA digunakan dalam komunikasi bangsa Arab. Hal ini menunjukkan kemunduran moral dan intelektual bangsa Arab setelah kekalahan melawan Israel, mereka saling menyalahkan dan mencurigai satu sama lain. Nizar Qabbani juga mengkritik cara berfikir bangsa Arab pada saat itu yang dianggap sebagai salah satu penyebab kekalahan dengan kalimat A aI aN aOa eE aA eE a EaO Ca a uaEaO eE aN aO aI aA. Dalam bait selanjutnya. Nizar mengajak pembaca untuk merenung akan budaya bangsa Arab yang mahir beretorika dengan puisi yang indah, tetapi gagal dalam praktiknya. Secara keseluruhan bait-bait diatas mengandung kritik sosial yang sangat tajam dan mendalam terkait martabat bangsa Arab sendiri dengan menyinggung budaya dan cara berfikir, serta mengkritik paradoks bangsa Arab yang pemikiran dan moralitasnya terbelakang. Kritik itu dituliskan dalam puisinya dengan mengatakan bahwa bangsa Arab mempunyai jiwa jahiliyah, tetapi ditutupi kemajuan peradaban. Kritik terhadap penguasa Terjemah Teks Puisi Bait 9 Kebodohan kita telah memaksa kita A a aEaIaA e AaEEAaIaA membangun lima puluh ribu tenda sAA a eO aI s aaO aA a Aa eIaOIa a eEA pengungsian yang baru. Bait 12 Yahudi tak masuk lewat perbatasan kita,tetapi. seperti semut melalui celah-celah AaI a a aE E aO aNO a Ia eI aaO aIaA AOaO aIaA a A Ia eIA. AEEaO EaE I eI aEA a a. AaO au I aIA kelemahan kita. Bait 17 Tuanku Sultan, kau telah kalah perang dua kali, a A aOaO E eacEA A aIA a AaOA terkurung seperti semut dan tikus. A aI aO aeIA a AEaCa e a eaa E a eA A e aIaA a AeAA a AaE a I aIAA karena kau telah bercerai dari AIA a AaI aA a a U EaE I eI aE aOE a eA Karena AIA a aA eI CA a a eEA a AuE eIA a aE a IEa eIAA a A O aA a AA Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 228 Peristiwa perang enam hari . l Naksa. , mengubah puisi-puisi Nizar yang sebelumnya sarat akan tema cinta menjadi puisi kritik kepada penguasa, fokus kepada isu politik, dan juga keprihatinannya tentang isu Palestina. Seperti pada bait-bait diatas. Nizar mengkritik secara langsung dan tegas para penguasa Arab yang a A aOaO E eacEA direpresentasikan dengan kalimat A aIA a A aOA. Ia mengungkapkan bahwa bangsa Arab telah kalah perang dua kali . erujuk pada perang tahun 1948 dan 1. yang disebabkan karena pemerintah telah bercerai dari kemanusiaan dan rakyat yang terkurung seperti semut dan tikus. Secara implisit, bait ini mengandung kritik atas hak dan kebebasan rakyat yang dikekang oleh penguasa. Rakyat dilarang ikut serta dalam mengawasi kebijakan pemerintah yang bertindak secara otoriter dan semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Nizar Qabbani mengungkapkan bahwa bangsa Yahudi . erujuk pada Israe. yang menjadi musuh bangsa Arab pada saat itu, memasuki perbatasan bukan dari garis depan, tetapi menyusup secara diam-diam seperti semut melalui celah kelemahan bangsa Arab. Kalimat ini mengandung kritik terhadap penguasa yang membiarkan bangsa Yahudi masuk. Dikutip dari sebuah artikel berjudul Pengulangan Kepalsuan di Perang 6 hari Arab-Israel 1967 yang mengungkapkan bahwa pada tahun 1959. Gamal Abdul Naser menandatangani penyelesaian masalah Palestina secara Diketahui bahwa telah terjadi penyuapan untuk kesepakatan damai tersebut, dimana Mesir dan Suriah mendapatkan masing-masing satu juta dollar. Dalam perang enam hari. Gamal Abdul Naser memerintahkan tentaranya melarikan diri tanpa menyerang dan meninggalkan semua senjata. Peperangan tersebut dianggap hanya sebagai kamuflase yang menyebabkan kehormatan dan martabat bangsa Arab dipermalukan(Nasrulloh, 2. Emansipasi Terjemah Teks Puisi Bait 19 Kami ingin generasi yang marah. U AIa aO a aA AaUA a AOE A kami ingin generasi yang membajak U AIa aO a aA aAOE Oa eA aE a EAaCA aAONA a AaO aO eI aEA a aAO a Ia eI aA a A EA yang mencabut sejarah dari akar- ACA a AaO aO eI aEA a A E aA eE a Ia Ia E a e aIA kedalaman jiwa. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 229 Bait 20 e a AaO a acO aN EA aEA Wahai anak-anak. dari Samudera hingga Teluk, kalian adalah bulir-bulir harapan, kalian adalah generasi yang akan AIa a aE E aI aEA a A a eI a eIAUaAIa Ia E aIa Oa E eaE aEaOA A aO eE aa E a e aE aEA a AaO a eI a aIA a AEO aE EaOA AaO aO eC a aE E a eAOaOIa AaO aaO aIaA mematahkan belenggu, aO aO eC a aE E a aOEA yang akan membunuh candu di e a AaO a acO aN EA :aEA khayalan kami. a AaO aIA AIa a aE E aI aEA A a A a A aOA. AOA a AE aA A AaO a aO aIa E aCaO aI aA e aAO EA a a a aA a eI a eI aA Wahai anak-anak: aA aO eN a aI E aN aO aIA a AaO a eI a aIA a AEO aE EaOA wahai hujan musim semi Wahai bulir-bulir harapan, kalian adalah benih kesuburan di tengah kehidupan kami yang tandus, dan mengalahkan kekalahan. Emansipasi merupakan perjuangan yang mengupayakan pembebasan dari kondisi keterkekangan untuk mendapatkan kesetaraan hak dalam berbagai aspek kehidupan, seperti hak Pendidikan, kebebasan berpendapat dan juga partisipasi Dengan demikian, emansipasi menjadi transendensi positif sebagai resolusi dari alienasi, yang mampu mengembalikan esensi manusia secara utuh sebagai makhluk sosial. Menurut Marx, konsep komunisme merupakan pemikiran yang tepat sebagai implementasi emansipasi, yang bisa menjadi penyelesaian konflik antara manusia dan alam, serta konflik manusia dengan manusia(Marx, 1859, p. Dalam konteks puisi Nizar Qabbani, ia menyerukan perjuangan emansipasi kepada generasi muda yang diharapkan bisa membawa perubahan yang lebih baik dari generasi Pada kalimat A aO eE aa E a e aE aEA a AO a eI a aIA, a AEO aE EaOA a Nizar memiliki pengharapan kepada generasi muda sebagai agen perubahan untuk memperbaiki sistem yang mengekang kebebasan masyarakat dalam berekspresi dan berpartisipasi pada ranah politik sebagai warga negara. Nizar juga memotivasi generasi muda agar tidak mengulangi kesalahan generasi sebelumnya dengan kalimat ACA a AO aO eI aEA, a A E aA eE a Ia Ia E a e aIA a yang mempunyai makna bahwa generasi muda akan merevolusi dasar-dasar pemikiran, ideologi dan budaya bangsa Arab, agar menjadi bangsa yang bermoral, tidak hanya pandai beretorika dengan keindahan kata-kata dan slogan heroik tetapi gagal dalam praktik. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 230 melainkan bangsa yang mampu mengalahkan kekalahan. Generasi mudalah yang diharapkan untuk mengimplementasikan perjuangan emansipasi bangsa Arab atas hak-haknya. Kritik Moralitas Sosial-Politik pada puisi Les Pauvres Gens Alienasi Teks Puisi Terjemah Bait 3 Elle songe, elle ryve. Ai et tant de Ia termenung, ia bermimpi Ai dan betapa pauvrety ! miskinnya ia! Ses petits vont pieds nus lAohiver comme Anak-anaknya bertelanjang kaki, baik lAoyty. musim dingin maupun panas. Pas de pain de froment. On mange du Tak ada roti gandum. Mereka makan roti pain dAoorge. Ces mornes visions troublent son ceur. Bayangan-bayangan mengganggu hatinya. Seperti malam. yA la nuit. Elle tremble et pleure. gemetar dan menangis Bait 4 Son seul ! Suaminya sendirian! Seul dans cette ypre nuit ! Pas dAoaide. Sendirian dalam malam yang keras ini! Ses enfants sont trop petits. Ai yi myre ! Tiada pertolongan. Anak-anaknya terlalu Tu dis : A SAoils ytaient grands ! Ai leur kecil. Ai Wahai ibu! Engkau berkata: pyre seul ! A AuSeandainya mereka sudah besar! Ayah Plus tard, quand ils seront prys du pyre, mereka sendirian!Ay Nanti, saat mereka partis, ikut sang ayah pergi,Engkau Tu diras en pleurant : A Oh ! sAoils ytaient berkata petits ! A AuOh! Seandainya mereka tetap kecil!Ay Bait 6 Une femme immobile et renversye. Seorang bergerak, terlentang. Les pieds nus, le regard obscur, lAoair Kakinya telanjang, tatapannya kosong, wajahnya mengerikan. Un cadavre . Ai autrefois, myre joyeuse Sebuah mayat. Ai dulu, ia ibu yang riang Ai dan kuat. Ai Le spectre ychevely de la misyre morte . Kini bayangan kusut dari kemiskinan yang mati. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 231 Ce qui reste du pauvre aprys un long Sisa-sisa perjuangan panjang. Kesejahteraan merupakan hak setiap masyarakat yang harus terpenuhi dalam Salah satu tujuan berdirinya suatu negara adalah menciptakan dan menjamin kesejahteraan rakyatnya. Maka dengan itu, para penguasa atau pemerintah yang menjalankan negara berkewajiban dan bertanggung jawab mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali melalui kebijakan dan program-program yang mampu meningkatkan kualitas hidup setiap warga negara, sehingga tidak ada lagi kemiskinan dan ketimpangan sosial yang menjadi masalah Namun, melalui pembacaan implisit penulis terhadap puisi Les Pauvres Gens karya Victor Hugo yang dikaitkan dengan historis sastra tersebut, ditemukan gambaran bahwa kesejahteraan tidak diperoleh sebagaimana mestinya oleh kaum nelayan dan buruh sebagai masyarakat yang terpinggirkan di Prancis. Kondisi memprihatinkan nelayan yang dinarasikan pada puisi merepresentasikan bahwa kaum buruh dan kelas pekerja lainnya mengalami alienasi atau keterasingan dari kesejahteraan akibat penguasa yang amoral terhadap kaum kelas pekerja dan buruh dalam membuat kebijakan. Seperti yang dikutip dari Revolution in France: 1789,1830, 1848 karya Erika Spencer bahwa kebijakan pemerintah Prancis saat itu fokus untuk memodernisasi Paris sebagai pusat kota dan juga membangun infrastruktur(Spencer, 2. Kebijakan ini berdampak signifikan terhadap kelas pekerja dan buruh, yang pada akhirnya terpinggirkan demi Pembangunan karena mereka juga tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan biaya hidup yang semakin tinggi di pusat kota. Disisi lain, masyarakat pesisir dan pedesaan tetap berada dalam kemiskinan. Kebijakan lain adalah perjanjian perdagangan bebas dengan Inggris yang disebut perjanjian Cobden-Chevalier, yang menyepakati impor bebas dari kedua negara(Steeve, 2. Kebijakan ini membuat Masyarakat miskin seperti nelayan dan petani kecil sulit bersaing dengan produk Victor Hugo menggambarkan kondisi kemiskinan dan ketimpangan sosial dalam puisinya dengan menarasikan cerita kehidupan sebuah keluarga nelayan yang miskin dengan lima orang anaknya. Kemiskinan itu digambarkan secara detail bahwa anak mereka tidak punya alas kaki dan tidak pernah makan roti gandum. Ses petits lAohiver lAoyty. Pas de pain de froment. On mange du pain dAoorge. Kemiskinan juga membuat mereka dilema akan pertumbuhan anak-anak mereka yang kelak dewasa harus menghadapi Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 232 kerasnya lautan. Pada bait keenam, diceritakan bahwa istri nelayan itu menemukan tetangga mereka yang merupakan seorang janda telah mati meninggalkan kedua anaknya, kemiskinan membuatnya tidak mampu mengobati sakitnya. Hal ini merupakan sebuah ironi dari pemerintah yang hanya fokus pada pembangunan kota, tetapi rakyat miskin tetap menderita. Penulis membaca bait ini sebagai kritik terhadap moralitas penguasa. Martabat Manusia. Emansipasi, dan Kritik terhadap penguasa Teks Puisi Terjemah Bait Elle dit : A yA propos, notre voisine est Ia berkata: AuOmong-omong, tetangga kita sudah mati. CAoest hier quAoelle a dy mourir, enfin. Kemarin ia pasti meninggal, nAoimporte, kapan, tak penting. Dans la soirye, aprys que vous fytes Sore hari, setelah kau pergi. Ia meninggalkan dua anak, yang masih Elle laisse ses deux enfants, qui sont kecil. Yang satu bernama Guillaume dan LAoun sAoappelle Guillaume et lAoautre satunya Madeleine. Madeleine . LAoun qui ne marche pas, lAoautre qui parle Yang satu belum bisa berjalan, yang y peine. satunya baru bisa bicara. La pauvre bonne femme ytait dans le Perempuan Ay Diable ! diable ! dit-il en se grattant la Sial! sial! katanya sambil menggaruk tyte. Nous avions cinq enfants, cela va faire Kita sudah punya lima anak, kini jadi Dyjy, dans la saison mauvaise, on se Musim buruk ini saja kita kadang tak allons-nous makan malam. Bagaimana kita akan Comment bertahan? faire ? Bah! Sudahlah! Bukan salahku. Bah ! tant pis ! ce nAoest pas ma faute. Itu urusan Tuhan. CAoest lAoaffaire Du bon Dieu. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 233 Ouvrons aux deux enfants. Nous les Bukalah pintu untuk dua anak itu. Kita mylerons satukan mereka semua. Cela nous grimpera le soir sur les Mereka akan naik ke pangkuan kita setiap malam. Ils vivront, ils seront fryre et seur des Mereka menjadi saudara bagi lima lainnya. Quand il verra quAoil faut nourrir avec les Ketika Ia melihat kita harus memberi nytres Cette petite fille et ce petit garyon. Dua anak kecil ini bersama anak kita. Le bon Dieu nous fera prendre plus de Tuhan akan memberi kita lebih banyak Manusia sebagai mahkluk sosial, harus berlandaskan pada moralitas sebagai sebuah sistem tatanan yang memiliki fungsi regulatif secara tidak tertulis untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dalam suatu masyarakat. Dengan menjunjung nilai-nilai moralitas, memungkinkan manusia untuk berbuat baik kepada manusia lainnya, dan secara mendalam menunjukkan kemuliaan martabat dan esensi manusia sebagai makhluk sosial. Kemuliaan itu dapat ditemukan dalam kutipan bait dari puisi Victor Hugo diatas. Ia menarasikan sebuah kisah didalam puisi bagaimana keluarga nelayan yang hidup serba kekurangan dalam kemiskinannya dihadapkan dengan peristiwa yang menguji sisi kemanusiaan mereka. Tetangganya yang miskin telah mati dan meninggalkan dua orang anak yang masih kecil, ditengah kondisi yang sulit dan serba kekurangan untuk menghidupi lima orang anak, mereka dihadapkan dengan pilihan untuk membiarkan dua anak itu atau Dengan kebaikannya, keluarga nelayan miskin itu memilih untuk merawat dua anak yatim piatu tersebut dan mempercayakan segala urusan kepada Tuhan. Meskipun hidup dalam kemiskinan, mereka tetap bermartabat dengan menunjukkan esensi moralitas manusia sebagai makhluk sosial. Melalui pembacaan implisit, penulis menemukan makna bahwa dibalik cerita yang dinarasikan dalam bait tersebut. Victor Hugo menyajikan emansipasi dan harapan perubahan melalui tindakan individu yang mengedepankan moralitas dan nilai-nilai kebaikan terhadap sesama manusia. Meskipun secara eksplisit tidak menuliskan kalimat yang menuntut perubahan atas ketimpangan sosial dan kemiskinan secara lugas. Tetapi melalui puisinya. Victor Hugo mengajarkan kita bagaimana seharusnya manusia bertindak dengan berprinsip pada nilai-nilai kemanusiaan sebagai landasan penerapan moral seperti keluarga nelayan tersebut. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 234 bahkan dalam kondisi sulit sekalipun, baik itu orang miskin, bangsawan, terutama Tindakan moral individu yang terus menerus dilakukan oleh seluruh manusia akan menghasilkan perubahan akan masyarakat yang lebih harmonis. Begitu pun kebijakan penguasa yang didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan akan menghasilkan kesejahteraan. Dengan demikian. Tindakan moral individu merupakan bentuk emansipasi yang ditawarkan Hugo sebagai transendensi dari alienasi atas Dari sisi lain, nilai kebaikan nelayan yang dimunculkan Hugo dalam puisinya merupakan satir untuk mengkritik pemerintah. Hugo menggunakan moralitas rakyat miskin sebagai kritik terhadap masalah ketimpangan sosial dan kemiskinan yang terjadi di Prancis. Puisinya dapat dimaknai secara implisit bahwa aksentuasi martabat kaum miskin dengan nilai-nilai moralnya adalah sindiran terhadap penguasa yang Puisi ini memperlihatkan bagaimana moralitas tetap dipegang teguh oleh rakyat miskin di pesisir yang menjadi korban atas kebijakan penguasa, sementara penguasa yang semestinya lebih bermoral dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan demi kesejahteraan rakyat, justru gagal dalam mengemban amanat moral dan kemanusiaan untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Persamaan dan Perbedaan Puisi Hawamisy Aoala Daftar al-Naksah dan puisi Les Pauvres Gens Dari pembacaan secara mendalam yang telah dilakukan terhadap puisi Hawamisy Aoala Daftar al-Naksah dan puis Les Pauvres Gens, ditemukan beberapa persamaan dan perbedaan diantara kedua puisi tersebut. Diantaranya sebagai berikut. Puisi Hawamisy Aoala Daftar al Naksah Puisi Les Pauvres Gens Persamaan Kedua puisi berisi kritikan terhadap penguasa atas permasalahan yang terjadi di Menyoroti kondisi Masyarakat yang lemah akibat dari sistem kekuasaan Kedua puisi menggunakan sistem penulisan rima, meskipun pada puisi Nizar Qabbani ada bait yang tidak berima Perbedaan Objek kritik politik dan pemikiran Objek kritik sosial-ekonomi bangsa Arab Gaya Bahasa langsung, tegas, dan Gaya Bahasa lebih romantisme dan naratif metafor tajam Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 235 Kritik secara eksplisit Kritik secara implisit dengan satir Puisi bebas Puisi lama Emansipasi perubahan Emansipasi dengan moral individual Puisi Hawamisy Aoala Daftar al-Naksah dan puisi Les Pauvres Gens memiliki kesamaan tema yang mengangkat realitas kondisi sosial dan politik yang terjadi menurut pandangan pengarang sebagai bagian dari masyarakat. Kedua puisi ini juga menyoroti kondisi masyarakat yang lemah karena sistem kekuasaan. Nizar Qabbani menggambarkan kelemahan masyarakat Arab dengan keterkekangan dari kebebasan berekspresi dan menyampaikan kritik atau gagasan terhadap otritarianisme rezim penguasa. Selain itu, dalam puisi Hawamisy Aoala Daftar al-Naksah juga digambarkan lemahnya kondisi bangsa Arab secara pemikiran, kebudayaan dan juga lemahnya moralitas bangsa Arab yang dianggap menjadi penyebab kemunduran dan kekalahan atas Israel pada peristiwa perang enam hari. Sama halnya dengan Victor Hugo yang menyoroti kondisi masyarakat yang lemah secara finansial karena masalah ketimpangan sosial dan kemiskinan yang diakibatkan kelalaian penguasa terhadap rakyatnya di wilayah termarjinalkan, seperti pedasaan dan Oleh karena itu. Hugo menarasikan kisah ironi nelayan miskin dalam puisinya untuk merepresentasikan realitas yang terjadi pada masyarakat miskin di pedesaan dan pesisir Prancis. Dari segi struktur penulisan baris-baris puisi. Nizar Qabbani menggunakan sistem penulisan rima, dimana bunyi akhiran kata dari setiap baris selaras dalam satu bait. Penulisan rima memerlukan pemilihan diksi yang tepat secara fonetik dan juga ketepatan makna kata tersebut dengan kesatuan makna dari bait puisi. Hampir seluruh bait puisi Nizar Qabbani berima dengan keindahan diksinya. Seperti pada bait keenam yang memiliki kesamaan akhiran bunyi baris sebagai berikut A aIaA a e AE aca AaO aIA A a aI Ia eI aA aeO aIaA e a AA a aIa A e a A eOAaIa A A aO aE Ia eI Ca aI aIaA a AaOA Keserasian pola huruf dan akhiran bunyi yang selaras memberikan Kesan indah, bait yang harmonis dan ritmis, nyaman didengar, serta menciptakan suasana hati tertentu dari Puisi Nizar tidak seluruh baris pada baitnya berima, terdapat juga bait dengan bunyi akhiran baris yang berbeda, seperti pada bait kesembilan berikut ini. A a aEaIaA e AaEEAaIaA Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 236 sAA a eO aI s aaO aA a Aa eIaOIa a eEA Perbedaan bunyi akhiran dapat dilihat pada bait diatas. Huruf-huruf pembentuk kata terakhir setiap baris pun berbeda. Meskipun tidak berima, hal tersebut tidak menyebabkan puisi kehilangan nilai estetikanya. Ini merupakan bagian dari kebebasan penulis dalam bentuk dan ekspresi yang lebih mempriotitaskan keutuhan makna. Hal tersebut menjadikan puisi Hawamisy Aoala Dafar al-Naksah termasuk jenis puisi bebas atau SyiAor Hurr yang tidak terikat oleh batasan yang mengatur keselarasan rima, jumlah baris dan sebagainya. Berbeda dengan Victor Hugo yang menggunakan sistem penulisan rima dengan pola setiap dua baris memiliki akhiran dengan bunyi yang sama . esuai dengan pelafalan bahasa Pranci. pada keseluruhan bait puisinya. Seperti pada bait pertama berikut ini. Il est nuit. La cabane est pauvre, mais bien close. Le logis est plein dAoombre, et lAoon sent quelque chose Qui rayonne y travers ce crypuscule obscur. Des filets de pycheur sont accrochys au mur. Dapat dilihat bahwa huruf-huruf terakhir pembentuk kata memiliki bunyi yang sama secara pelafalan bahasa Prancis dan membentuk pola rima yang terdapat pada bait diatas. Ini menunjukkan keindahan penggunaan diksi yang tepat dalam puisi dan memberi kesan musikalitas yang harmonis. Pola rima tersebut diterapkan secara konsisten oleh penyair dalam keseluruhan baris puisinya. Hal ini menjadikan puisi Les Pauvres Gens karya Victor Hugo sebagai jenis puisi lama, karena terikat dengan aturan baku keselarasan rima. Keterikatan puisi lama terhadap aturan baku tidak berarti menjadikannya kaku, melainkan mengedepankan estetika gaya penulisan dengan keselarasan bunyi. Perbedaan jenis puisi juga menjadi ciri khas dan bergantung pada selera penyair dalam kebebasan berekspresi melalui puisinya. Perbedaan selanjutnya dari kedua puisi tersebut adalah isu permasalahan yang menjadi objek kririk dan cara mengekspresikannya. Meskipun keduanya mengkritik penguasa, tetapi isu permasalahan yang menjadi fokus utama berbeda. Nizar Qabbani mengangkat permasalahan politik dan otoritarianisme penguasa, serta otokritik terhadap kemunduran bangsa Arab yang secara akumulatif menjadi penyebab kekalahan atas Israel pada perang enam hari. Sedangkan Hugo lebih mengedepankan isu sosial-ekonomi dan kemanusiaan dengan menggambarkan penderitaan rakyat miskin yang tidak diperhatikan oleh penguasa. Victor Hugo menyampaikan kritik terhadap penguasa atas isu ketimpangan sosial dan kemiskinan secara implisit. Ia menggunakan cerita kehidupan nelayan miskin yang menderita di pesisir Prancis sebagai alegori untuk mengkritik pemerintah secara satir. Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 237 Sementara Nizar Qabbani menyampaikan kritik melalui puisinya secara eksplisit dan a A aOaO E eacEA langsung kepada penguasa dengan menyebut A aIA a A aOAyang merujuk langsung pada rajaraja atau pemimpin negara-negara Arab. Nizar juga secara jelas menggambarkan tindakan otoriter yang dilakukan penguasa untuk membungkam kebebasan berkekspresi. Puisi Hawamisy Aoala Daftar al-Naksah memiliki gaya bahasa yang lebih tegas, langsung dan kaya akan metafor tajam yang menjadi karakteristik puisi-puisi Arab. Nizar Qabbani menggunakan repetisi pada kalimat A a eIaO Ea aE eIA. A a eIaO Ea aE eIAdan pertanyaan retoris seperti eAaNEA A" A a A Iae aI " aO ae a I s Ca e a e a ae EaE IAsebagai bentuk ekspresi betapa besarnya rasa kekecewaan dan kemarahan Nizar Qabbani. Gaya bahasa ini menciptakan kesan yang kuat untuk menggambarkan kemunduran bangsa Arab yang sangat diratapi oleh Nizar Qabbani sekaligus mengkritiknya. Nizar Qabbani juga menggunakan metafora yang menggambarkan aparat pemerintah yang mengawasi rakyat seperti anjing yang mengoyak baju jubah. Ia juga menggambarkan rakyat seperti tikus karena terkurung dari kebebasan. Sementara puisi Les Pauvres Gens memiliki gaya bahasa yang lebih naratif karena meceritakan sebuah peristiwa yang dialami nelayan miskin. Puisi Hugo juga cenderung bersifat romantisme karena Hugo menekankan perasaan emosional yang dialami tokoh nelayan serta mengeksplorasi alam dengan menggambarkan kondisi lautan yang mencekam. Hal lainnya yang menjadi perbedaan dari kedua puisi ini adalah konsep emansipasi yang ditawarkan oleh kedua penyair atas hal yang mereka kritik. Meskipun kedua puisi mengkritik kegagalan penguasa, konsep emansipasi dalam merefleksikan konteks zaman dan pandangan penyair. Nizar Qabbani menuntut emansipasi politik dan moralitas bangsa Arab secara kolektif. Hal itu ditunjukkan dengan menasihati dan menaruh pengharapan kepada generasi muda yang akan datang untuk melakukan perubahan secara masif. Baik perubahan atas sistem kekuasaan yang lebih bebas dan adil, maupun memajukkan kembali pemikiran bangsa Arab yang telah mengalami kemunduran akibat kesalahan generasi sebelumnya. Sementara Hugo menawarkan emansipasi dalam bentuk tindakan moral individu dan nilai-nilai kemanusiaan. Analisis perbandingan puisi Hawamisy Aoala Daftar al-Naksah dan puisi Les Pauvres Gens menyajikan sebuah penelitian secara objektif antara sastra Arab dan sastra Barat dalam kajian sastra banding. Perbandingan ini secara konkrit bertujuan menentang klaim orientalis yang bersifat eurosentris dalam menilai sastra Arab. Dimana klaim tersebut menganggap sastra Arab inferior dibandingkan sastra Barat dengan standar estetika sastra Barat. Salah satu orientalis yang beranggapan demikian adalah Ernest Renan, seorang sastrawan Prancis. Dikutip dari Islam and Positive Orientalism In the Age of Ideology : Ernest Renan as an Example. Renan menganggap bahwa bangsa Arab terbatas pada lirisisme yang puisinya Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 238 hanya bertema perasaan personal dan subjektif(Khosht, 2010, p. Renan juga menganggap sastra Arab miskin metafora karena tidak memiliki variasi, hanya berupa puisi liris pribadi(Khosht, 2010, p. Selain itu, dikatakan bahwa bangsa Arab tidak memiliki kepekaan terhadap keindahan sastra seperti kepekaan bangsa Yunani sebagai standarnya(Khosht, 2010. Seluruh anggapan ini bersifat eurosentris dan tidak dapat dibenarkan. Seperti pada hasil perbandingan yang telah dilakukan, dalam perkembangannya sastra Arab tidaklah seperti apa yang dikatakan oleh Ernest Renan. Keterpengaruhan Dalam perkembangannya, sastra modern Arab secara umum mengalami perubahan karena dipengaruhi oleh sastra Barat. Keterpengaruhan itu terjadi baik dari segi bentuk maupun isi atau gagasan yang melatarbelakangi karya sastra tersebut. Secara bentuk misalnya, sastra Arab klasik tidak mengenal puisi bebas seperti karya Nizar Qabbani, begitupun dengan bentuk sastra yang lain. Perubahan bentuk maupun gagasan dalam perkembangan sastra Arab sudah menjadi bagian dari sastra Arab modern itu sendiri, sebab keterpengaruhan tidak dapat dihindari ketika bangsa Arab bersentuhan dengan budaya dan pemikiran Barat, yang dimulai dari pendudukan Prancis atas Mesir pada tahun 1798(Kamil, 2022, p. Pengaruh Barat dalam hal sastra pun semakin masif seiring meluasnya kependudukan Barat di Timur Tengah, seperti halnya Suriha sebagai negara asal Nizar Qabbani yang berada dibawah mandatori Prancis dari tahun 1923-1946. Suriah berada dibawah kendali Prancis dari tahun yang sama dengan lahirnya Nizar Qabbani, sehingga masa pendidikan Qabbani berada dibawah sistem pendidikan yang dikendalikan Prancis. Oleh sebab itu Nizar Qabbani dipengaruhi sastrawan dan pemikir lain dari Prancis melalui proses pendidikan dan bahan bacaan, khususnya Hugo yang merupakan simbol kebesaran dan kebanggaan Prancis dalam hal kesusastraan. Keterpengaruhan ini umum terjadi pada penyair Arab modern lainnya seperti Adonis yang dijelaskan dalam buku Sastra Banding karya Prof. Sukron Kamil(Kamil, 2022, p. Pada saat berkuasa di Suriah. Prancis secara masif memperluas pengaruhnya dalam berbagai aspek, termasuk yang paling efektif adalah pengaruh dalam sistem pendidikan untuk menyebarkan budaya, pola pikir, dan ideologi Prancis kepada kaum terpelajar. Seperti yang dikutip dari jurnal The Mandate of Syria: Extending French Imperial Influence bahwa sektor pendidikan telah disesuaikan dengan standar Prancis dan mewajibkan penggunaan bahasa Prancis sebagai bahasa pengantar, selain itu dikatakan bahwa hampir setiap aspek kehidupan Suriah berada dibawah kendali Prancis(Nakhle, 2021, p. Dalam hal budaya, termasuk didalamnya sastra digunakan juga untuk memfasilitasi penyebaran pengaruh Prancis(Nakhle, 2021, p. , ini menunjukkan bahwa akses Nizar Qabbani kepada sastra Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 239 Prancis merupakan hasil dari strategi difusi budaya. Dalam buku Syria and Lebanon Under French Mandate oleh Longrigg, dikatakan juga bahwa Sebagian besar universitas, sekolah menengah, dan mayoritas sekolah dasar adalah milik Prancis(Longrigg, 1958, p. Nizar Qabbani sendiri menempuh pendidikan menengah di National Scientific College School yang kurikulumnya dipengaruhi standar Prancis. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa pengajaran di sekolah menengah dan universitas menggunakan bahasa Prancis, menggantikan bahasa Turki(Longrigg, 1958, p. Salah satu kebijakan yang dibuat oleh Prancis pada tahun pertama mandatorinya adalah menjadikan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi di Suriah dan Lebanon(Longrigg, 1958, p. Bukti-bukti hubungan historis dominasi pendidikan Prancis atas Suriah selama masa pertumbuhan Nizar Qabbani menunjukkan bahwa adanya keterpengaruhan dari segi pemikiran dan gagasan dalam membuat puisi perlawanan Hawamisy Aoala Daftar al Naksah, sama halnya dengan pemikiran dan gagasan Victor Hugo dalam puisi Les Pauvres Gens. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkap kritik moralitas sosial dan politik terhadap penguasa dalam puisi Hawamisy Aoala Daftar al-Naksah karya Nizar Qabbani dan puisi Les Puvres Gens karya Victor Hugo. Nizar Qabbani mengekspresikan kemarahan dan kekecewaanya dengan meratapi kemunduran bangsa Arab pasca mengalami kekalahan untuk kedua kalinya atas Israel pada perang enam hari tahun 1967. Nizar menggambarkan penyebab kekalahan bangsa Arab karena penguasa yang otoriter dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan disertai pemikiran dan budaya bangsa Arab yang terbelenggu retorika. Sementara itu. Hugo mengritik penguasa Prancis yang gagal untuk mensejahterakan rakyat miskin. Melalui kisah ironi nelayan miskin. Hugo menunjukkan paradoks moral bahwa rakyat miskin tetap memegang teguh moralitas meskipun menderita, sementara penguasa justru bertindak dengan amoral dalam mengambil kebijakan. Nizar Qabbani menggunakan bahasa yang lugas, tegas, dan penuh metafora tajam untuk menyampaikan kritiknya secara langsung terhadap penguasa. Sedangkan Hugo menulis dengan gaya naratif dan romantik, ia mengkrtitik secara implisit melalui kisah humanis yang menyentuh. Nizar Qabbani menyerukan perubahan kolektif dan kebangkitan moral bangsa Arab melalui generasi muda sebagai agen emansipasi. Sedangkan Hugo menekankan perubahan melalui tindakan moral individu yang menjadi fondasi kemanusiaan Dari hasil perbandingan ini, dapat disimpulkan bahwa klaim orientalis yang menilai sastra Arab lebih rendah dari sastra Barat adalah keliru. Anggapan bahwa sastra Arab bersifat Volume 08 Nomor 02. Juli Ae November 2. 240 statis, miskin metafora, dan hanya berfokus pada lirisisme personal terbantahkan oleh karya Nizar Qabbani yang sarat simbol, kritik sosial, dan kesadaran politik yang tajam. Kajian ini membuktikan bahwa baik sastra Arab maupun Barat memiliki nilai estetika, kekuatan moral, dan fungsi sosial yang sama-sama penting bagi kemanusiaan, serta keduanya layak dihargai dalam derajat yang sejajar dalam studi sastra dunia. Sastra Arab modern mengalami perubahan besar akibat pengaruh sastra Barat, terutama sejak pendudukan Prancis atas wilayah Arab, termasuk Suriah sebagai tanah kelahiran Nizar Qabbani. Karena Suriah berada di bawah mandat Prancis sejak tahun kelahiran Qabbani, pendidikan dan lingkungan intelektualnya dibentuk oleh sistem dan kurikulum Prancis yang menjadikan bahasa Prancis sebagai bahasa pengantar serta menjadikan sastra Prancis termasuk karya-karya Victor Hugo sebagai bagian dari bahan bacaan utama. Dominasi budaya dan pendidikan ini menciptakan ruang keterpaparan yang intens terhadap gagasan, pola pikir, dan estetika sastra Prancis. Dengan demikian, hubungan historis antara Prancis dan Suriah mengindikasikan terjadinya keterpengaruhan pada pemikiran dan gagasan Qabbani, yang tampak dalam puisinya seperti Hawamisy Aoala Daftar al-Naksah, sebagaimana juga terjadi pada banyak penyair Arab modern lainnya. REFERENSI