AL-ATHFAL STAI MUHAMMADIYAH PROBOLINGGO p-ISSN 2723-245X e-ISSN 2723-0813 Vol. No. , p. Available online at https://jurnal. staim-probolinggo. id/Al-Athfal DETEKSI DINI GIZI KURANG DAN RISIKO GAGAL TUMBUH: URGENSI PEMANTAUAN RUTIN DI USIA GOLDEN AGE Heri Yusuf Muslihin. Aini Loita. Yayu Fauziah. Nazwa Rahmadani. Wulan Nur Zaidah, *Sopi Masturoh Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia *e-mail: sopimasturoh@upi. https://jurnal. staim-probolinggo. id/Al-Athfal/article/view/960 Abstract: The golden age . Ae5 year. is a critical period for children's growth and development, so early detection of malnutrition and the risk of growth failure is crucial to prevent long-term This study aims to explore the urgency of routine monitoring of early childhood nutritional status and identify risk factors for growth failure. The research method used a descriptive qualitative approach with field observation techniques on 40 children aged 0Ae72 months at the Ciroyom Integrated Health Post (Posyand. Tasikmalaya. Data were collected through anthropometric measurements, parent interviews, and developmental examinations using the PreScreening Development Questionnaire (KPSP), hearing, and vision tests. The results showed that some children experienced stunting and wasting, as indicated by z-scores below WHO Causal factors include a lack of parental nutritional knowledge, suboptimal parenting patterns, unhygienic environments, and recurrent infections. The conclusion of this study confirms that routine monitoring through Posyandu and comprehensive growth and development detection are essential as early intervention strategies to prevent growth failure in early childhood. Keywords: early detection. growth failure. early childhood. golden age ARTICLE HISTORY Received 20 June 2025 Revised 12 July 2025 Accepted 15 July 2025 Abstrak Masa golden age . Ae5 tahu. merupakan periode kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga deteksi dini terhadap gizi kurang dan risiko gagal tumbuh menjadi sangat penting untuk mencegah dampak jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi urgensi pemantauan rutin status gizi anak usia dini dan mengidentifikasi faktorfaktor risiko gagal tumbuh. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi lapangan terhadap 40 anak usia 0Ae72 bulan di Posyandu Ciroyom. Tasikmalaya. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara orang tua, serta pemeriksaan perkembangan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), tes pendengaran, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian anak mengalami stunting dan wasting, yang ditunjukkan melalui nilai z-score yang berada di bawah standar WHO. Faktor penyebab meliputi kurangnya pengetahuan gizi orang Al-athfal. Vol. 06 No. : 378 Heri Yusuf Muslihin. Etc. Deteksi Dini Gizi Kurang Dan Risiko Gagal Tumbuh: Urgensi Pemantauan Rutin Di Usia Golden Age tua, pola asuh yang kurang optimal, lingkungan tidak higienis, dan infeksi berulang. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pemantauan rutin melalui posyandu dan deteksi tumbuh kembang yang menyeluruh sangat diperlukan sebagai strategi intervensi dini untuk mencegah gagal tumbuh pada anak usia dini. Kata kunci: deteksi dini. gizi kurang. gagal tumbuh. anak usia usia emas INTRODUCTION Masa usia dini . Ae6 tahu. merupakan periode krusial dalam kehidupan individu yang sering disebut sebagai masa golden age, karena pada tahap ini anak mengalami perkembangan yang pesat di berbagai aspek. Pertumbuhan yang terjadi mencakup dimensi fisik, motorik, emosional, kognitif, psikososial, hingga spiritual. Seluruh proses perkembangan berlangsung secara menyeluruh dan terpadu. Oleh karena itu, kemampuan anak untuk melanjutkan ke tahapan perkembangan berikutnya sangat dipengaruhi oleh aktivitas motoriknya. Aktivitas ini akan berdampak langsung pada kebiasaan dan perilaku sehari-hari. Kecerdasan motorik anak juga dipengaruhi oleh aspek perkembangan lainnya, khususnya perkembangan fisik dan intelektual (Lubis et al. , 2. Namun, fase emas ini sangat rentan terhadap gangguan pertumbuhan, salah satunya stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang dapat dimulai sejak kehamilan dan berlanjut setelah kelahiran. Menurut Sudiman dalam Ngaisyah, stunting pada anak balita mencerminkan status gizi kronis yang tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga menjadi cerminan dari kondisi sosial ekonomi keluarga di masa lalu. Dampak stunting yang terjadi dalam dua tahun pertama kehidupan anak sering kali bersifat permanen dan sulit Salah satu faktor utama dari aspek sosial ekonomi yang berkontribusi terhadap terjadinya stunting adalah rendahnya pendapatan orang tua dan kurangnya ketahanan pangan dalam keluarga (Dermawan et al. , 2. Stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah riwayat berat badan lahir rendah pada balita dan riwayat penyakit infeksi yang pernah. Bukan hanya itu faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stunting antara lain rendahnya asupan energi dan protein hewani, pola asuh yang kurang tepat, terutama dalam pemberian makan dan pemenuhan kebutuhan gizi anak, juga berperan signifikan. Kurangnya keragaman pangan dan sanitasi lingkungan yang buruk, seperti tidak tersedianya air bersih dan fasilitas jamban, turut meningkatkan risiko stunting. Oleh karena itu, intervensi yang menyeluruh sangat diperlukan, termasuk edukasi gizi bagi ibu, peningkatan kesejahteraan keluarga, penyediaan makanan bergizi sejak masa kehamilan, serta perbaikan pola asuh dan lingkungan tempat tinggal anak (Nugroho et al. , 2. Upaya yang bisa dilakukan dalam mengatasi stunting di antaranya dengan meningkatkan pelaksanaan ASI ekslusif minimal selama 6 bulan, penerapan inisiasi menyusui dini pada masa kelahiran anak, ketersediaan pangan atau makanan baik Al-athfal. Vol. 06 No. : 379 Heri Yusuf Muslihin. Etc. Deteksi Dini Gizi Kurang Dan Risiko Gagal Tumbuh: Urgensi Pemantauan Rutin Di Usia Golden Age secara kuantitas dan kualitasnya, pengasuhan yang baik dan benar (Basri Aramico. Salah satu langkah preventif yang sangat penting adalah deteksi dini terhadap kondisi gizi kurang dan risiko gagal tumbuh melalui skrining tumbuh kembang secara rutin dan terencana, baik di posyandu maupun fasilitas kesehatan. Sayangnya, pemantauan ini sering kali belum dilaksanakan secara menyeluruh, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi tepat waktu (Evy Noorhasanah,dkk 2. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi urgensi deteksi dini dan pemantauan rutin terhadap status gizi anak usia dini, khususnya pada masa golden age, serta untuk menganalisis kondisi riil anak-anak yang mengalami risiko gagal tumbuh, guna mendorong praktik pencegahan stunting yang lebih efektif sejak dini. RESEARCH METHODS Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan dua metode utama, yakni observasi di lapangan dan studi Kedua metode ini dipilih untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai kondisi gizi dan pertumbuhan anak usia dini serta pentingnya deteksi dini melalui pemantauan rutin pada masa golden age . Ae72 Observasi lapangan dilakukan saat kegiatan skrining tumbuh kembang anak yang bertempat di Posyandu Ciroyom. Kecamatan Indihiang. Kota Tasikmalaya, pada tanggal 16 Mei 2025. Subjek observasi terdiri dari 40 anak usia 0Ae72 bulan yang dibagi ke dalam kelompok umur sesuai dengan rentang usia golden age. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive, yakni anak-anak yang hadir dan mendapatkan pemeriksaan menyeluruh pada hari tersebut. Teknik pengumpulan data mencakup pengukuran antropometri . erat badan, panjang/tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan ata. , wawancara anamnesis singkat dengan orang tua, serta pemeriksaan perkembangan melalui Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), tes daya dengar, dan tes daya lihat. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif menggunakan klasifikasi status gizi berdasarkan standar antropometri WHO dan pedoman nasional dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Temuan-temuan dari hasil observasi kemudian dikategorikan dalam klasifikasi seperti gizi normal, gizi kurang, risiko gagal tumbuh, hingga gangguan pertumbuhan linear. Untuk memperkuat hasil observasi dan menambahkan landasan teoritis, penelitian ini juga dilengkapi dengan studi literatur. Literatur dikumpulkan melalui platform Google Scholar dengan kata kunci Augizi kurang pada balita,Ay Audeteksi dini tumbuh kembang,Ay Aupemantauan pertumbuhan,Ay dan Austunting pada anak usia dini. Ay Studi literatur dianalisis menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. guna mengidentifikasi faktor-faktor penyebab gizi kurang, dampak dari keterlambatan deteksi tumbuh kembang, serta efektivitas pemantauan rutin oleh keluarga dan Al-athfal. Vol. 06 No. : 380 Heri Yusuf Muslihin. Etc. Deteksi Dini Gizi Kurang Dan Risiko Gagal Tumbuh: Urgensi Pemantauan Rutin Di Usia Golden Age tenaga kesehatan di posyandu atau fasilitas layanan kesehatan lainnya. RESULTS AND DISCUSSION Konsep Gizi Kurang dan Gagal Tumbuh Gizi kurang . pada anak usia dini merupakan permasalahan kesehatan yang serius, ditandai oleh ketidakseimbangan antara asupan energi serta zat gizi yang harus dipenuhi dengan jumlah yang diterima. Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan berbagai kondisi yang berdampak negatif terhadap proses tumbuh kembang anak (Jahari, 2. Secara umum. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkategorikan kondisi kekurangan gizi atau undernutrition menjadi empat jenis utama, yaitu wasting . alnutrisi aku. , stunting . alnutrisi kroni. , underweight . erat badan kuran. , dan defisiensi mikronutrien (Wardani & Sarah Renyoet, 2. Salah satu manifestasi nyata dari malnutrisi adalah gagal tumbuh . rowth falterin. , yaitu kondisi di mana kecepatan pertumbuhan anak, baik dalam aspek berat badan maupun tinggi badan, mengalami perlambatan yang signifikan bila dibandingkan dengan kurva pertumbuhan anak sehat menurut standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Status gizi anak dan potensi gagal tumbuh diidentifikasi melalui indikator antropometri seperti BB/U. TB/U, dan BB/TB. BB/U menunjukkan gizi umum. TB/U menilai pertumbuhan jangka panjang, dan BB/TB menilai status gizi akut. Hasil pengukuran dibandingkan dengan standar WHO menggunakan nilai z-score. Nilai z-score adalah ukuran statistik yang menunjukkan tingkat hasil pemeriksaan anak yang menyimpang dari nilai rata-rata populasi acuan. Pada konteks gizi, nilai z-score digunakan untuk menentukan batasan status gizi anak. Misalnya, kondisi stunting atau pendek kronis pada anak diidentifikasi apabila nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) berada di bawah Ae2 standar deviasi (SD) dari median standar WHO. Hal ini menandakan adanya gangguan pertumbuhan panjang atau tinggi badan yang disebabkan oleh kekurangan gizi jangka panjang maupun faktor lingkungan lainnya. Sementara itu, wasting, yang menggambarkan malnutrisi akut, diidentifikasi melalui nilai z-score berat badan sesuai tinggi badan (BB/TB) yang juga kurang dari Ae2 SD. Kondisi ini menunjukkan penurunan berat badan yang signifikan dan cepat, biasanya akibat kekurangan energi yang mendesak, seperti yang dialami saat infeksi berat atau kelaparan. Al-athfal. Vol. 06 No. : 381 Heri Yusuf Muslihin. Etc. Deteksi Dini Gizi Kurang Dan Risiko Gagal Tumbuh: Urgensi Pemantauan Rutin Di Usia Golden Age Gambar 1. Hasil CatatanPemeriksaan Anak Hasil observasi menunjukkan anak-anak seperti inisial SN dan ANM memiliki TB/U kategori pendek dan BB/TB dalam rentang gizi kurang. Ini menandakan adanya risiko gagal tumbuh akibat kekurangan gizi. Anak inisial SN usia hampir 3 tahun seharusnya memiliki tinggi A95Ae98 cm dan berat badan sekitar 12Ae13 kg. Dengan tinggi hanya 89,4 cm dan BB 10,65 kg, maka anak ini masuk kategori TB/U pendek . , dan BB/TB rendah . Selain itu, lingkar lengan atas (LiLA) 14 cm menunjukkan cadangan energi kurang optimal, mendekati ambang risiko gizi buruk. Inisial ANM yang memiliki tinggi badan 78 cm untuk anak usia 28 bulan jauh di bawah standar WHO . ang idealnya sekitar 87Ae90 c. , sehingga dikategorikan sangat pendek. Berat badan yang rendah untuk tinggi tersebut menunjukkan bahwa anak ini tidak memiliki cukup massa tubuh relatif terhadap tinggi badannya artinya, anak mengalami wasting. Golden Age dan Urgensi Nutrisi Masa Golden Age, yang mencakup rentang usia 0 hingga 5 tahun, adalah masa yang sangat krusial dan menentukan bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Pada fase ini, nutrisi yang diterima anak memiliki peranan yang sangat krusial karena berpengaruh langsung terhadap pembentukan sel-sel saraf, perkembangan kemampuan kognitif, serta penguatan sistem imun tubuh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian intervensi gizi yang optimal selama masa Golden Age dapat secara signifikan menurunkan risiko terjadinya stunting serta meningkatkan kemampuan intelektual dan fungsi otak anak secara keseluruhan (Rahmi, 2. Secara lebih spesifik, masa Golden Age ini mencakup 1000 hari pertama kehidupan, dimulai sejak masa konsepsi sampai anak mencapai usia dua tahun, kemudian dilanjutkan hingga mencapai usia lima tahun. Pemantauan dini terhadap status gizi dan tumbuh kembang anak menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa apabila ditemukan adanya gangguan. Menurut Oktaviani. Feri. Susmini, & Al-athfal. Vol. 06 No. : 382 Heri Yusuf Muslihin. Etc. Deteksi Dini Gizi Kurang Dan Risiko Gagal Tumbuh: Urgensi Pemantauan Rutin Di Usia Golden Age Soewito . menegaskan pentingnya deteksi dini ini, terutama melalui edukasi yang diberikan kepada para ibu dan kader kesehatan mengenai pemantauan tumbuh kembang anak sejak awal. Dengan pendekatan ini, masalah gizi yang sering kali menjadi penyebab utama gangguan pertumbuhan dan perkembangan dapat dicegah sedini mungkin, sehingga anak-anak dapat menikmati masa tumbuh kembang yang optimal dan lebih sehat di masa depan. Dari laporan observasi, anak berinisial NAN menunjukkan bahwa meskipun ada perkembangan motorik yang baik, status tinggi badan dan berat badan mereka rendah, yang mengindikasikan bahwa masa 1000 HPK tidak dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dasar. Tinggi badan 84,7 cm untuk anak usia 29 bulan termasuk dalam kategori pendek, karena standar WHO menyebutkan tinggi ideal untuk anak perempuan usia ini sekitar 89Ae91 cm. Ini menunjukkan adanya stunting, yaitu gangguan pertumbuhan linier akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang. Berat badan 10,7 kg untuk tinggi 84,7 cm juga tergolong rendah, menunjukkan wasting atau kekurangan gizi akut. Selain itu. LiLA 13 cm mendekati batas bawah status gizi normal . ut-off: 12,5Ae13,5 c. , yang artinya cadangan lemak dan otot anak minim. Meskipun anak menunjukkan motorik yang baik, seperti berjalan atau berbicara sesuai tahap usia, status gizi tetap buruk karena perkembangan motorik tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan fisik. Ini menunjukkan bahwa selama masa 1000 HPK, anak kemungkinan besar tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Hal ini mencerminkan ketidakseimbangan antara stimulasi dan pemenuhan gizi, yang bisa berdampak pada fungsi otak dan imunitas jangka panjang. Nutrisi berkualitas selama Golden Age sangat penting, terutama nutrien esensial seperti protein, zat besi, yodium, seng, dan vitamin A yang mendukung perkembangan otak dan kekebalan tubuh. Malnutrisi dini meningkatkan risiko gangguan perkembangan mental, sosial, dan penyakit degeneratif di masa dewasa. Oleh karena itu, pelaksanaan intervensi gizi yang terencana dengan baik dan berkelanjutan perlu menjadi fokus utama dalam kebijakan kesehatan bagi anak usia Hal ini didukung oleh hasil penelitian Wulandari. Flora, & Fajar . yang menunjukkan bahwa pelatihan dan penyuluhan yang diberikan kepada kader posyandu meningkatkan kemampuan mereka dalam melakukan pengukuran antropometri serta mendeteksi stunting sejak tahap awal. Faktor Penyebab Gizi Kurang Pada Usia Dini Salah satu penyebab utama gizi kurang pada anak usia dini adalah ketidakcukupan asupan makanan, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Kurangnya variasi dalam konsumsi makanan serta jumlah asupan yang tidak memenuhi kebutuhan harian anak dapat berdampak langsung pada status gizi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan yang tidak optimal, seperti tidak mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan pemberian makanan pelengkap yang tidak sesuai kebutuhan, merupakan faktor signifikan yang berkontribusi terhadap kejadian berat badan kurang . (Nuradhiani. Al-athfal. Vol. 06 No. : 383 Heri Yusuf Muslihin. Etc. Deteksi Dini Gizi Kurang Dan Risiko Gagal Tumbuh: Urgensi Pemantauan Rutin Di Usia Golden Age Selain pola makan, infeksi berulang seperti ISPA dan diare turut memperburuk kondisi gizi anak. Infeksi ini dapat menurunkan nafsu makan dan mengganggu penyerapan nutrisi, yang berisiko menyebabkan gizi kurang hingga gagal tumbuh. Oleh karena itu, pencegahan dan penanganan infeksi secara efektif sangat penting untuk menjaga status gizi anak (Irawan & Hastuty, 2. Kebersihan lingkungan yang buruk juga menjadi salah satu penyebab tidak langsung dari permasalahan gizi. Akses yang terbatas terhadap air bersih, sanitasi yang kurang mencukupi, serta minimnya penerapan pola hidup bersih dan sehat di masyarakat dapat meningkatkan risiko anak terpapar infeksi. Lingkungan yang tidak higienis menciptakan rantai penyakit yang berdampak buruk pada status gizi Penyediaan fasilitas air bersih dan sistem sanitasi yang layak secara signifikan dapat menurunkan angka malnutrisi pada anak usia dini (Nuradhiani, 2. Faktor sosial ekonomi juga tidak kalah penting dalam memengaruhi status gizi anak. Keluarga dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi cenderung mampu memberikan sarana dan prasarana yang menunjang proses perkembangan anak secara optimal (Mushlihin et al. , 2. Pendapatan keluarga yang rendah dan rendahnya tingkat pendidikan ibu berkontribusi terhadap risiko kurang gizi. Ibu yang memiliki keterbatasan pengetahuan tentang gizi dan pola pengasuhan anak cenderung memberikan makanan yang tidak bervariasi dan kurang bergizi. Bukti dari berbagai studi komunitas menunjukkan bahwa prevalensi stunting cenderung tinggi di wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan, terutama di daerah pedesaan atau wilayah dengan kondisi ekonomi rendah (Lince amelia et al. , 2. Pentingnya Skrining Gizi Berkala: Deteksi Dini Tumbuh Kembang AUD Maraknya kasus permasalahan gizi pada anak menjadi perhatian bahwa perlu diadakannya skrining . Deteksi permasalahan anak melalui skrining gizi berkala merupakan langkah awal dalam pencegahan risiko malnutrisi dan juga hambatan lainnya pada anak usia dini. Menurut Dirjen Pembinaan Kesmas . dalam (Hayati et al. , 2. Deteksi dini tumbuh kembang anak usia dini merupakan proses pemeriksaan yang terencana dan menyeluruh untuk mendeteksi permasalahan tumbuh kembang dan resiko yang di timbulkan seperti permasalahan fisik, biomedis, ataupun psikologi sosialnya. Hal ini bertujuan untuk menelusuri permasalahan pada anak lebih dini guna dalam mencegah, menstimulasi, penyembuhan, dan pemulihan bisa di intervensikan dengan tepat waktu selama periode penting peningkatan fisik dan kematangan anak. Dengan memberikan penanganan yang tepat sesuai dengan tahap perkembangan anak, maka kemungkinan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan anak secara lebih maksimal dapat terwujud. Adapun skring dapat berupa pemeriksaan berat badan (BB), pemeriksaan tinggi badan (TB), dan lingkar kepala secara rutin. Peninjauan pada berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala dengan teratur dapat memberikan peranan yang krusial dalam mengidentifikasi gangguan pertumbuhan Al-athfal. Vol. 06 No. : 384 Heri Yusuf Muslihin. Etc. Deteksi Dini Gizi Kurang Dan Risiko Gagal Tumbuh: Urgensi Pemantauan Rutin Di Usia Golden Age perkembangan anak misalnya gizi buruk, stunting, ataupun obesitas pada anak. Meninjau dari data Kementrian Kesehatan RI, menunjukan angka terjadinya hambatan tumbuh kembang anak di Indonesia tercatat memiliki kenaikan yang signifikan (Lailaturohmah et al. , 2. WHO mencatat 1 dari 3 anak di setiap negara salah menganalisis grafik Memahami cara membaca KMS dan WHO Growth Chart penting untuk deteksi dini masalah gizi. KMS berisi kurva standar pertumbuhan dengan warna yang menunjukkan pola kenaikan berat badan, seperti garis merah dan area kuning hingga hijau yang menandakan pertumbuhan normal (Sani & Annisa, 2. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi dan kesehatan pada anak usia 0Ae5 tahun, terutama di masa golden age. Deteksi stunting dilakukan melalui pengukuran tinggi badan berdasarkan standar WHO, di mana tinggi badan <-2SD menunjukkan stunting, dan <-3SD menunjukkan stunting berat. Ciri utama stunting adalah pertumbuhan dan perkembangan anak yang melambat, serta dapat berdampak pada fisik, mental, kognitif, dan kemampuan berpikir anak. (Rochmatun Hasanah et al. , 2. Stunting mempengaruhi banyak hal dalam diri anak dan berpotensi pada dampak jangka panjag yang memengaruhi kualitas kehidupan anak dan produktivitas dimasa yang akan datang (Fauziah et al. , 2. Situasi ini menuntut keterlibatan serius dari orang tua dalam mengatasi masalah yang terjadi. Selain keluarga, tenaga kesehatan berperan penting dalam proses intervensi deteksi dini tumbuh kembang anak. Menurut Wulandari & Kusumastuti, . menyatakan bahwa peran tenaga kesehatan diantaranya melakukan pemantauan pada transformasi yang dialami oleh seseorang yang mana hal tersebut berkaitan dengan permasalahan kesehatan yang muncul dan memverikan dampak yang signifikan pada status kesehatan seseorang, melalui pengamatan ataupun pengumpulan informasi secara lansung. Selain itu. Tenaga kesehatan berperan sebagai advocator, edukator, motivator, dan fasilitator dalam sosialisasi kesehatan. Sosialisasi ini meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat, khususnya dalam pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi dan pola asuh yang tepat. Dengan demikian, kesadaran hidup sehat tumbuh dan angka stunting dapat ditekan melalui perubahan berbasis pengetahuan (Wahyunnisa et al. , 2. Risiko Gagal Tumbuh Kembang Anak Risiko gagal tumbuh kembang anak akan memberikan perubahan yang signifikan dalam proses kehidupan anak. Mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menyatakan bahwa keadaan kesehatan masyarakat dapat menjadi kategori kronis apabila statistik angka stunting melebihi angka 20%. Kebenaran ini memberikan petunjuk bahwa stunting khususnya di Indonesia sudah menjadi permasalahan kronis yang memasuki tingkat nasional, dengan situasi yang sangat mengkhawatirkna yaitu di 14 provinsi yang mana hal ini melebihi angka ratarata nasional (Daracantika et al. , 2. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti disalah satu layanan Al-athfal. Vol. 06 No. : 385 Heri Yusuf Muslihin. Etc. Deteksi Dini Gizi Kurang Dan Risiko Gagal Tumbuh: Urgensi Pemantauan Rutin Di Usia Golden Age kesehatan tercatat ada 8 anak yang mengelami risiko gagal tumbuh kembang. Apabila dipersentasekan maka ada 20% dari jumlah keseluruhan anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang. Hal ini berarti daerah tersebut termasuk kategori kronis, yang tentunya harus diberikan intervensi dan layanan yang lebih Pentingnya Pemantauan Rutin Banyak masyarakat memiliki persepsi bahwasannya posyandu hanya sekedar kegiatan menimbang anak yang dianggap dapat ditunda di lain waktu. Namun sebenarnya, kebijakan dari pemerintah menyatakan bahwa posyandu memiliki fungsi dalam memfasilitasi pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak sekaligus sebagai upaya skrining dan deteksi terhadap hambatan perkembangn anak. Sebaiknya, kader posyandu tidak sebatas terampil dalam malakukan pengukuran antropometri saja, tetapi juga harus mempu melaksanakan skrining pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh (Putri & Dwihestie, 2. Dari tempat yang sudah diteliti. Posyandu di daerah tersebut dilaksanakan rutin sebulan sekali, biasanya pada minggu ke-2 atau ke-3 pukul 08. 00Ae11. 00, sesuai kesepakatan bersama. Hal ini sesuai dengan Buku Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu 2011 yang menyebutkan bahwa posyandu umumnya dilakukan sebulan sekali, namun bisa lebih sering jika diperlukan. Kegiatan dilaksanakan oleh kader di lokasi yang mudah dijangkau masyarakat, sesuai anjuran pedoman agar tempat posyandu mudah diakses warga. Kader diwilayah tersebut berjumlah kurang lebih 10 orang, dan memiliki peranan dan tugas tersendiri. Yang mana setiap pemeriksaan dipegang oleh satu orang, seperti pemeriksaan berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan, tes daya lihat, tes daya dengar, dan pemberian PMT. Hal ini sejalan dengan ketentuan Penyelenggaraan Kegiatan dalam Buku Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu 2011 yang menyatakan bahwa kegiatan rutin posyandu dilaksanakan dan dijalankan oleh kader posyandu dengan dukungan teknis dari puskesmas serta pihak terkait lainnya. Saat posyandu berlangsung, minimal terdapat lima kader yang bertugas. Jumlah tersebut disesuaikan dengan tahapan yang dilakukan posyandu, yang mengacu pada sistem lima langkah (Kemenkes. Strategi Pencegahan dan Intervensi Dini Upaya pencegahan stunting diperlukan adanya tindakan pemberian gizi yang khusus disesuaikan pada 1000 hari pertama kehidupan anak (HPK), khususnya pada fase usia 0-6 bulan dan 7-23 bulan. Pada anak usia 0-6 bulan, intervensi yang paling penting adalah dengan pemberian asi eksklusif, dan untuk anak usia 7-23 bulan dengan pemberian makanan tambahan (PMT) disesuaikan dengan usianya, fortifikasi mikronutrien . aram beryodium, zat bes. , suplementasi . ink, vitamin A 2x/tahu. , imunisasi, serta pemberantasan cacing. Kasus gizi buruk membutuhkan penanganan khusus melalui tata laksana gizi buruk yang komprehensif (Prastiwi et Al-athfal. Vol. 06 No. : 386 Heri Yusuf Muslihin. Etc. Deteksi Dini Gizi Kurang Dan Risiko Gagal Tumbuh: Urgensi Pemantauan Rutin Di Usia Golden Age , 2. Selain gizi, aspek lingkungan juga memengaruhi kondisi kesehatan anak. Oleh karena itu, ketersediaan air bersih dan sistem sanitasi yang memadai menjadi faktor pendukung yang tidak boleh diabaikan. Dalam hal pemantauan pertumbuhan, peran posyandu sangat vital sebagai pusat layanan kesehatan masyarakat yang memungkinkan skrining rutin terhadap berat badan, tinggi badan, dan perkembangan lainnya. Melalui pemantauan berkala di posyandu, tanda-tanda awal stunting dapat terdeteksi lebih cepat dan memungkinkan intervensi segera (Romadona et al. , 2. Tak kalah penting adalah edukasi kepada orang tua, terutama ibu, mengenai pentingnya bekal makanan sehat dan pola makan bergizi untuk anak. Edukasi ini mencakup pemahaman mengenai jenis makanan bergizi, cara penyajiannya, serta pentingnya menjaga kebersihan makanan dan lingkungan. Dengan keterlibatan aktif orang tua dalam menerapkan pola asuh sehat dan perhatian penuh terhadap nutrisi, maka upaya pencegahan stunting akan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan (Romadona et al. , 2. CONCLUSION Deteksi dini gizi kurang dan risiko gagal tumbuh pada anak usia dini sangat penting dilakukan secara rutin, khususnya selama masa golden age . Ae5 tahu. Hasil observasi menunjukkan bahwa anak yang tidak mendapatkan pemantauan tumbuh kembang secara berkala berisiko tinggi mengalami stunting dan wasting, yang merupakan indikator dari kekurangan gizi kronis dan akut. Faktor-faktor seperti pola asuh ibu, asupan makanan yang tidak seimbang, infeksi berulang, serta sanitasi lingkungan yang buruk menjadi penyebab utama gangguan tumbuh Oleh karena itu, keterlibatan aktif tenaga kesehatan dan kader posyandu dalam pemantauan serta edukasi kepada orang tua menjadi sangat krusial. Pola asuh yang baik dan pemantauan gizi secara berkala dapat mencegah risiko gagal tumbuh secara signifikan. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar dilakukan pengembangan model intervensi berbasis komunitas, studi longitudinal mengenai dampak jangka panjang pemantauan rutin terhadap perkembangan anak, serta penelitian komparatif di berbagai wilayah guna mengetahui efektivitas program intervensi yang berbeda. Selain itu, evaluasi terhadap efektivitas edukasi gizi dalam mengubah perilaku orang tua juga penting untuk dilakukan guna memperkuat upaya pencegahan stunting secara menyeluruh. REFERENCES