Margaretha Hadia Babur dan Yoga Suharman Pelemahan Kekuatan Rusia di Suriah dan Transisi Hegemonik Kekuasaan Bashar al-Assad Margaretha Hadia Babur Faculty of Economics and Social Science. International Relations Study Program Universitas Amikom Yogyakarta gretha@students. Yoga Suharman Faculty of Economics and Social Science. International Relations Study Program Universitas Amikom Yogyakarta shrmn@amikom. Abstrak Artikel ini menganalisis hubungan kausalitas antara melemahnya pengaruh Rusia di Suriah dan transisi hegemoni kekuasaan Bashar al-Assad. Penelitian sebelumnya telah membahas hubungan antara Uni Soviet dan Partai BaAoath, fragmentasi oposisi, krisis kemanusiaan dan ketegangan geopolitik di Suriah. Artikel ini mengisi kesenjangan teoritis dari riset-riset terdahulu dengan menggunakan tiga konsep dari pemikiran Antonio Gramsci, yakni blok historis . istorical blo. , transisi hegemonik . egemonic transitio. , dan interregnum. Penelusuran proses . rocess tracin. digunakan sebagai cara menguraikan proses kausal dengan melihat pada urutan kejadian dan hubungan sebab akibat. Argumen artikel ini adalah bahwa blok historis Rusia-Suriah yang terbentuk sejak era Soviet hingga pra kejatuhan Assad melemah karena tiga faktor: . pergeseran fokus Rusia ke dua fokus berbeda, yang melemahkan hubungan material . konomi-milite. dan non-material . meningkatnya tekanan oposisi domestik dari aliansi sosial . ocial allianc. anti-rezim. tekanan internasional yang mendorong pergeseran hegemoni Assad. Dalam konteks ini, interregnum yang dimaknai sebagai fase ketidakpastian, berkontribusi pada transisi kekuasaan Assad dan mendorong perubahan formasi politik di Suriah. Kata Kunci: Blok Historis. Hegemoni. Interregnum. Suriah. Rusia Abstract This article examines the causal relationship between Russia's declining influence in Syria and the hegemonic transition of Bashar Al-Assad's regime. While previous scholarship has address into the Soviet Union - Ba'ath Party relationship, opposition fragmentation, humanitarian crises, and geopolitical tensions in Syria, this study fills a gap by applying Antonio Gramsci's AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Pelemahan Kekuatan Rusia di Suriah dan Transisi Hegemonik Kekuasaan Bashar al-Assad thought of historical bloc, hegemonic transition, and interregnum, utilizing the process tracing The core argument posits that the historical bloc between Russia and Syria, established during the Soviet era and persisting until Assad's pre-fall period, deteriorated due to three primary factors: . Russia's diversion of focus to multiple fronts, weakening both material . conomic-militar. and non-material . escalating domestic opposition from anti-regime social alliances. international pressures prompting a shift in Assad's hegemonic power. In this context, the interregnum, characterized by uncertainty, further contributed Assad's power transition and spurred political changes in Syria. Keywords: Historical Bloc. Hegemony. Interregnum. Syria. Russia Pendahuluan Hubungan Rusia-Suriah merupakan salah satu aliansi strategis paling konsisten di Timur Tengah sejak era Perang Dingin. Sejak Hafez al-Assad pada 1970. Suriah menjadi sekutu utama Uni Soviet dan kemudian Rusia. Kedua negara berbagi visi ideologis sosialisme, anti-imperialisme serta kepentingan strategis dalam membendung pengaruh Amerika Serikat (AS) di kawasan (Erkan 2023. Akgyden and Atmaca 2023. Ataman 2. Hubungan keduanya berlanjut selama beberapa dekade, bahkan setelah Uni Soviet Runtuh. Sebagaimana dinyatakan Kreutz . bahwa AuRusia has continued to modernize and repair military hardware, and the weapons used by the Syrian army are 90 percent Soviet or Russian in originAy (Kreutz 2. Dukungan militer, ekonomi, dan diplomasi dari Moskow telah menjadi pilar utama keberlangsungan sosialisme dan rezim BaAoath di Suriah (Trudolyubov and White 2. , membentuk blok historis . istorical blo. , yakni satu perpaduan antara struktur material yang mencakup ekonomi-militer dan suprastruktur ideologis (Cox 1. Meski demikian, sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022, kapasitas Moskow untuk mempertahankan perannya di Suriah mengalami kemunduran relatif. Sumber daya militer dan finansial dialihkan untuk kepentingan geopolitik di Eropa Timur, sementara sebagian pasukan dan sistem pertahanan udara ditarik dari Suriah. Kondisi ini melemahkan dukungan material terhadap rezim Bashar al-Assad, yang sebelumnya cukup bergantung dengan patronase Rusia (Phillips 2. Hal ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya tekanan dari oposisi domestik dan kekuatan ekstra regional, seperti AS dan sekutu, yang memperkuat dukungan terhadap kelompok kontra hegemoni di Suriah. Kombinasi antara pelemahan dukungan Rusia dan menguatnya oposisi mendorong terjadinya momentum krisis atau dalam perspektif Gramscian disebut sebagai interregnum, yakni fase transisi ketika tatanan lama melemah dan tatanan baru belum terbentuk secara mapan (Stahl 2019. Gramsci 1. AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Margaretha Hadia Babur dan Yoga Suharman Pada 8 Desember 2024. Bashar al-Assad meninggalkan Suriah untuk mencari suaka politik di Rusia, sebuah langkah yang menjadi titik balik dalam sejarah negara tersebut (Tempo Aulia 2. Keputusan ini diambil setelah tekanan politik yang semakin meningkat dari berbagai pihak baik oposisi domestik maupun komunitas internasional dari AS dan Uni Eropa (Hassan 2. Kepergian Assad juga sekaligus menandai berakhirnya perang saudara yang telah berlangsung selama 13 tahun, yang telah menyebabkan jutaan orang mengungsi dan kehancuran sebagian dari infrastruktur negara (Kabalan 2. Sejak peristiwa kejatuhan rezim tersebut. Partai BaAoath yang telah berkuasa di Suriah sejak 1963 dan menjadi pilar kekuatan utama kekuasaan Assad mengumumkan penangguhan aktivitasnya hingga waktu yang belum ditentukan (ANTARA News 2. Berangkat dari latar belakang tersebut, artikel ini mengajukan pertanyaan: bagaimana pelemahan kekuatan Rusia di Suriah berkontribusi terhadap transisi hegemonik kekuasaan Bashar al-Assad? Artikel ini bertujuan untuk menguraikan hubungan kausalitas antara pelemahan dukungan Rusia, melemahnya legitimasi Assad, dan dinamika politik domestik-internasional dengan metode penelusuran proses . rocess tracin. dan dikaji melalui perspektif Gramscian. Tinjauan Literatur Sejumlah riset terdahulu telah mengungkap dinamika politik dalam konflik Suriah dengan fokus pada keterlibatan negara-negara besar. Akgyden dan Atmaca . dalam artikel berjudul AuThe Roots of the Soviet Syrian Alliance: A Neo-Gramscian PerspectiveAy menelusuri relasi hegemonik antara Uni Soviet dan rezim BaAoath . , yang dibangun melalui kesepakatan ideologis, institusional, dan material. Uni Soviet memberikan dukungan militer, ekonomi dan politik kepada Suriah sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Suriah mengadopsi sosialisme dan anti-imperialisme sebagai basis legitimasi rezim (Akgyden and Atmaca 2. Selanjutnya. Lund . dalam artikel berjudul AuFrom Cold War to Civil War: 75 Years of Russian-Syrian RelationsAy melacak evolusi hubungan bilateral Rusia . ebelumnya Uni Sovie. dan Suriah sejak . , menyoroti peran Rusia sebagai patron militer utama. Meskipun sempat melemah pasca 1991 tetapi kembali menguat pada 2000-an seiring ketegangan antara Rusia dan Barat. Artikel berikutnya ditulis oleh Phoenna et. yang berjudul AuPeran Nasional Rusia Terhadap Konflik Suriah . Ay menguraikan konsep National Role Conceptions dari Kalevi J. Holsti, untuk menjelaskan Rusia sebagai sekutu terpercaya . aithful all. melalui diplomasi, veto di PBB dan operasi militer. AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Pelemahan Kekuatan Rusia di Suriah dan Transisi Hegemonik Kekuasaan Bashar al-Assad Artikel Pipes . berjudul AuSyria: The Cuba of the Middle EastAy menggarisbawahi posisi Suriah sebagai proksi Soviet dalam melawan AS dengan dukungan terhadap kelompok militan dan anti-Amerika di Lebanon. Sementara Mogannam . dalam AuSyriaAos antiimperialist mask: unveiling contradictions of the left through anti-capitalist thoughtAy mengkritik paradoks neoliberalisme Suriah di balik retorika anti-kapitalis. Beberapa penelitian terdahulu berfokus pada hubungan antara Uni Soviet dan Suriah dalam mempertahankan rezim Assad melalui dukungan ideologis, militer dan diplomasi serta kepentingan geopolitik. Berbeda dengan sejumlah penelitian terdahulu, artikel ini mengisi celah riset terdahulu dengan meminjam perspektif Gramscian untuk menganalisis hubungan kausalitas antara sejumlah aspek, yakni pelemahan pengaruh Rusia dan transisi hegemonik kekuasaan rezim Bashar al Assad di Suriah berdasarkan tiga konsep, yakni, blok historis . istorical blo. , transisi hegemonik . egemonic transitio. dan interregnum. Kerangka Analisis Kajian ini memanfaatkan ide-ide Gramscian untuk menelusuri pergeseran kekuasaan yang berlangsung di Suriah, diantaranya blok historis . istorical blo. , transisi hegemonik . egemonic transitio. dan interregnum. Pertama, blok historis . istorical blo. didefinisikan sebagai kesatuan dialektis antara struktur material . konomi dan politi. dan suprastruktur yang mencakup ideologis dan budaya dalam suatu masyarakat (Hoare and Smith 1. Konsep ini menegaskan bahwa stabilitas hegemonik tercapai ketika kelas sosial berhasil mempertahankan dominasinya. Dalam konteks ini, negara dalam pengertian Gramscian yang luas dipandang sebagai entitas yang memelihara blok historis melalui penyebaran budaya guna memperkuat legitimasi dan kontrol politiknya (Cox 1985, . Blok historis juga dipahami sebagai koalisi kekuatan sosial yang menciptakan dan menopang dominasi kelas tertentu. Pada tingkat global, konsep ini diperluas oleh Robert W. Cox . untuk menganalisis bagaimana kekuatan hegemonik seperti negara-negara kapitalis maju dan lembaga internasional mempertahankan supremasi mereka melalui interaksi antara kekuatan ekonomi, hegemoni ideologis dan institusi politik (Cox 1. Namun blok historis bisa mengalami krisis. Hal ini kerap dipicu oleh ketimpangan antara elemen-elemen pembentuknya, terutama ketika terjadi disrupsi dalam kepemimpinan ideologis atau transformasi tatanan politik (Gills 1. Kedua, proses pergeseran kekuatan dapat ditelaah melalui konsep transisi hegemonik . egemonic transitio. , dimana transisi kekuasaan dipandang sebagai fenomena dinamis, yang terkait erat dengan transformasi struktur sosial domestik suatu negara (Gills 1. Menurut AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Margaretha Hadia Babur dan Yoga Suharman Gramsci, negara adalah medan konflik sosial yang menempatkan perjuangan hegemoni diantara kelas-kelas sosial (Gramsci, 1971: 176 dikutip Gills 1. Untuk mencapai hegemoni, tiga prasyarat utama harus terpenuhi: . kesadaran kritis aktor terhadap posisinya dalam struktur sosial, . pembentukan aliansi strategis dengan kelompok subordinat untuk memperluas basis legitimasi, dan . dominasi ideologis melalui internalisasi wacana dan nilainilai dominan (Adamson 1. Analisis Gramscian mengenai perebutan hegemoni dibedakan antara dominasi yang mengandalkan instrumen koersif melalui militer dan represi politik dengan hegemoni yang dicirikan oleh penerimaan sukarela melalui konsensus . Mekanisme transformasi hegemoni ini selanjutnya dikonseptualisasikan melalui dua paradigma strategis: . war of movement yang dimanifestasikan oleh perubahan revolusioner melalui konfrontasi langsung dan . war of position yang mengedepankan perubahan bertahap melalui pergeseran ideologis dan sosial (Gramsci, 1971 dikutip Gills 1. Ketiga, dinamika transisi hegemonik kerap melibatkan fase krisis yang disebut Gramsci sebagai AuinterregnumAy, yaitu periode dimana tatanan lama mengalami kemunduran sementara tatanan baru belum terinstitusionalisasi sepenuhnya: Authe old is dying and the new cannot be in this interregnum a great variety of morbid symptoms appearAy (Hoare and Smith 1. Dalam konteks transisi kekuasaan di Suriah, fase ini dicirikan oleh gejala-gejala patologis . orbid symptom. seperti ekstremisme, krisis legitimasi, dan kebingungan ideologis (Stahl Situasi ini menggambarkan bagaimana ketidakmampuan suatu kekuatan hegemonik dalam hal ini Rusia dan rezim hegemonik Suriah untuk mempertahankan blok historis yang telah terbentuk sebelumnya, yang pada gilirannya menghasilkan ketidakpastian politik dan membuka ruang bagi aktor-aktor alternatif untuk membentuk kekuatan kontra-hegemonik. Oleh karena itu, konsep-konsep Gramsci seperti blok historis, interregnum dan transisi hegemonik mempunyai kontribusi penting untuk menjawab pertanyaan dalam artikel ini, yakni bagaimana pelemahan kekuatan Rusia di Suriah berkontribusi terhadap transisi hegemonik rezim Bashar al-Assad? Selama beberapa dekade, blok historis antara Rusia dan Suriah dibangun melalui tiga pilar utama: . dukungan material, . legitimasi politik di forum internasional dan . konsolidasi ideologis yang mengandung narasi anti-barat dan antiimperialisme. Berangkat dari gagasan tersebut, situasi yang berkembang di Suriah menggambarkan dinamika transisi kekuatan. Pertama, pelemahan dukungan Rusia telah menciptakan krisis bagi stabilitas hegemonik rezim Bashar al-Assad, yang selama ini bergantung dengan patronase Rusia. Kedua, fragmentasi kekuasaan yang ditandai dengan kemunculan aktor-aktor sosial. AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Pelemahan Kekuatan Rusia di Suriah dan Transisi Hegemonik Kekuasaan Bashar al-Assad baik oposisi domestik maupun kekuatan ekstra regional yang berusaha memperebutkan posisi Kondisi krisis ini mempercepat proses keretakan blok historis, yang sebelumnya menjadi pilar kekuasaan Bashar al-Assad. Berkurangnya dukungan Rusia bagi Assad menciptakan krisis legitimasi, sementara para pendukung Suriah seperti Iran dan kelompok loyalisnya belum cukup kuat untuk memberi dukungan dan karena itu, transisi kekuatan hegemonik menjadi semakin tidak terhindarkan. Metode Artikel ini memanfaatkan metode process tracing (PT) sebagai bagian dari penelitian kualitatif dalam penelitian sosial dan politik. PT digunakan untuk menelusuri hubungan kausalitas dalam suatu peristiwa atau fenomena dengan menyoroti urutan peristiwa (Beach Collier 2011. Smith 2. Dalam konteks pelemahan Rusia di Suriah terhadap kejatuhan rezim Assad. PT digunakan untuk menelusuri bagaimana faktor-faktor tertentu seperti menguatnya gerakan kontra-hegemoni berkontribusi terhadap transisi kekuatan Bashar al-Assad. Selanjutnya, teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran studi dokumen yang mencakup jurnal nasional dan internasional, buku serta artikel-artikel ilmiah yang relevan dengan kebutuhan penelitian. Studi dokumen dilakukan tanpa melibatkan interaksi langsung dengan subjek penelitian. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang diperoleh dari sumber sekunder. Interpretasi digunakan untuk menganalisis data dan dokumen yang dikumpulkan untuk memahami bagaimana pelemahan Rusia berpengaruh terhadap kejatuhan rezim Assad. Hal penting lain yang perlu diuraikan pada bagian metode ini adalah batasan penelitian. Dalam pemikiran Antonio Gramsci, sejarah merupakan proses dialektis yang membentuk hubungan antara struktur sosial, ideologi, dan kekuasaan. Gramsci menjelaskan konsep historicity of the philosophy of praxis yang menekankan bahwa sejarah merupakan suatu proses yang dialektis yang terus berkembang. Perkembangan sejarah merupakan suatu kesatuan temporal, dimana kondisi masa kini tidak dapat dipisahkan dari warisan masa lalu, karena unsur-unsur esensial dari peristiwa terdahulu tetap hidup dan berkontribusi dalam membentuk realitas saat ini (Stanford Encyclopedia of Philosophy 2. Pandangan ini menegaskan bahwa sejarah menempatkan interaksi kompleks antara struktur sosial, ideologi dan kekuasaan yang secara dinamis membentuk arah perubahan sosial (Hoare and Smith 1. Dialektika historis Gramsci menekankan bahwa perubahan sosial terjadi dalam jangka panjang, di mana berbagai kelompok sosial berusaha membangun AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Margaretha Hadia Babur dan Yoga Suharman hegemoni baru di dalam struktur politik yang ada. Oleh karena itu, meski penelitian ini berfokus pada transisi yang berlangsung pada akhir tahun 2024. Rentang sejarah yang terjadi pada periode sebelumnya tetap akan dirujuk untuk mengurai sekuensi kausal pola transisi terkait bagaimana ideologi mengakar, berkembang, melemah, dan mengalami rekonstruksi sesuai dengan kondisi material yang ada saat ini. Analisis dan Pembahasan 1 Pembentukan Blok Historis Era Soviet dan Rusia di Suriah Pembentukan blok historis antara Rusia dan Suriah tidak terlepas dari dinamika geopolitik yang berlangsung sejak era Perang Dingin. Timur Tengah menjadi medan pertarungan ideologis antara Amerika Serikat dan Uni Soviet (Reich and Gotowicki 1. Dalam konteks ini. Uni Soviet memberikan dukungan kepada kelompok negara yang dianggap tertindas oleh kapitalisme barat, termasuk Suriah dengan tujuan membangun pemerintahan yang berlandaskan sosialisme (Bartz 2. Kepentingan bersama untuk melawan imperialisme Barat memperkuat hubungan ideologis antara keduanya, sehingga Suriah menjadi basis kekuatan ideologis Soviet di kawasan Timur Tengah (Al-Basre 2. Fase awal hubungan ini dimulai dengan perjanjian antara Uni Soviet dan Suriah pada tahun 1946 (Aghayev and Katman 2. Perjanjian ini mencakup pemberian dukungan militer dan diplomatik yang diberikan sebelum Suriah merdeka dari Prancis. Selanjutnya, setelah krisis Suez 1956, hubungan Suriah-Soviet semakin intensif. Hal ini terbukti dengan penandatanganan perjanjian bantuan ekonomi dan teknis pada tahun 1957 serta peningkatan kerja sama militer antara kedua negara . Uni Soviet berkomitmen untuk mendukung pemerintah Suriah dalam mencapai kemerdekaan penuh, termasuk mendesak evakuasi pasukan Prancis dan Inggris, mengirim guru untuk membangun sistem pendidikan yang bebas pengaruh Barat, menandatangani perjanjian ekonomi, perdagangan, dan navigasi, serta mengirim personel militer untuk membantu pembangunan angkatan bersenjata. Sebagai imbalannya. Suriah memberikan status Aumost favoured nationAy kepada Uni Soviet (Ginat 2. Bantuan Soviet difokuskan pada transformasi ekonomi negara-negara mitra melalui investasi di sektor pendidikan, pelatihan teknis, serta pengembangan industri, dengan tujuan menanamkan prinsip-prinsip sosialisme (Dawisha 1979. Barghoorn 1. Memasuki dekade 1950-an, hubungan bilateral semakin menguat seiring gelombang revolusi progresif di Timur Tengah, dimana Uni Soviet mengisi kekosongan kekuatan internasional sejak Inggris dan Amerika Serikat menolak mendukung gerakan revolusioner AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Pelemahan Kekuatan Rusia di Suriah dan Transisi Hegemonik Kekuasaan Bashar al-Assad Arab (Shad et al. Ketidakstabilan politik Suriah pasca kemerdekaan ditandai serangkaian kudeta militer 1949-1953, menciptakan ruang bagi perluasan pengaruh Soviet melalui dukungan militer berupa jet tempur MiG-15 dan MiG-17 serta penempatan instruktur militer di Suriah (Even 2. Kudeta militer 1954 yang membawa partai BaAoath ke panggung politik semakin memperkuat ikatan ideologis dengan Soviet (Aghayev and Katman 2. Periode ini diikuti oleh perluasan perjanjian kerja sama pada sektor pendidikan dan kebudayaan 1956-1962 (Aghayev and Katman 2. Momentum semakin menguat sejak pembentukan Republik Arab Bersatu tahun 1958, yang semakin mempererat hubungan Suriah dengan blok Soviet (Dostal 2. Rusia melanjutkan strateginya dengan memperkuat pengaruh budaya dan ideologinya di Suriah melalui pendidikan serta diplomasi publik. Bahasa Rusia mulai diajarkan di sekolah-sekolah Suriah, dengan jumlah siswa yang meningkat dari 000 pada 2020 menjadi 39. 500 pada 2025 (Yassin 2. Program ini menunjukkan bahwa Rusia berupaya memenangkan posisi dan membentuk generasi baru yang lebih dekat dengan budaya dan nilai-nilai Rusia. Adopsi doktrin sosialisme memperdalam kesamaan pandangan anti-imperialis yang berakar dari pengalaman perjuangan kemerdekaan Suriah (Torrey 1969. Ginat 2. Persamaan sikap anti barat ini menciptakan konvergensi ideologis yang membentuk hegemoni Soviet di Suriah (Akgyden 2. Hubungan antara Uni Soviet dan Suriah selama Perang Dingin mencerminkan dinamika geopolitik yang kuat, didasarkan pada neksus antara kepentingan strategis, ideologi, budaya, dan kebutuhan militer-ekonomi. Hubungan historis ini bersifat timbal balik dan saling Suriah memperoleh pasokan senjata strategis berkelanjutan dari Uni Soviet untuk menghadapi Israel dalam konflik Arab-Israel, sementara Uni Soviet memperoleh pijakan di Suriah sebagai akses ke Timur Tengah dan Afrika Utara, memungkinkan Moskow menyeimbangkan pengaruh Amerika Serikat di kawasan tersebut. Pasca runtuhnya Uni Soviet pada 1991. Suriah mengalami ketidakpastian politik dan ekonomi akibat hilangnya dukungan dari blok Timur. Namun rezim otoriter Hafiz al-Assad tetap bertahan dengan mengandalkan kontrol ketat atas militer dan Partai BaAoath. Ketika Bashar al-Assad naik ke puncak kekuasaan pada tahun 2000, hubungan dengan Rusia sebagai penerus Uni Soviet kembali menguat, terutama melalui dukungan militer dan politik, seperti pasokan senjata dan veto di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi rezim Suriah dari intervensi Barat. Meskipun Uni Soviet telah bubar. Rusia bersama Cina dan Iran membentuk semacam Aublok baruAy yang mendukung otoritarianisme Suriah, mencerminkan kesinambungan dinamika aliansi global ala Perang Dingin. Kejatuhan Uni Soviet tidak mengakhiri blok politik di Suriah, melainkan mentransformasikannya melalui kebangkitan kembali pengaruh Rusia dan aliansi AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Margaretha Hadia Babur dan Yoga Suharman strategis yang menjaga kelangsungan rezim Assad hingga konflik Suriah pasca-Arab Spring (Ghafur 2. Pada 2004-2005, hubungan bilateral memasuki fase lebih konkret menyusul tekanan Barat terhadap Suriah. Krisis diplomatik mencuat ketika Suriah dituduh terlibat dalam pembunuhan PM Lebanon Rafik al-Hariri, memicu resolusi PBB berisi ancaman sanksi. Rusia menggunakan hak vetonya untuk melindungi Suriah, sekaligus menegaskan penolakannya terhadap intervensi Barat. Momentum penting terjadi pada Januari 2005 ketika Presiden Bashar al-Assad mengunjungi Moskow untuk pertama kalinya kunjungan yang menghasilkan kesepakatan penghapusan 73% utang luar negeri Suriah senilai $13. 4 miliar (Blank 2. Langkah ini menyelamatkan Suriah dari isolasi dan sanksi serta menjadi fondasi bagi intervensi militer Rusia di Suriah satu dekade kemudian (Lund 2. Intervensi militer Rusia di Suriah pada tahun 2015 menjadi titik balik yang melanjutkan blok historis sejak perang dingin (Phoenna. Purnama, and Dermawan 2023. Trujillo 2. , ditandai dengan bantuan material dan pelatihan kader dari Moskow (Krykowska 2. Strategi Rusia berfokus pada stabilisasi Rezim Assad sambil mencegah pengambilalihan kekuasaan oleh oposisi atau kelompok jihadis (Oligie 2. Hal ini mencerminkan penolakan Rusia terhadap perubahan besar dan memanfaatkan aliansinya dengan rezim-rezim otoriter sebagai upaya menahan pengaruh Barat serta mencegah penyebaran ideologi yang berpotensi mengancam status quo (Ginor 2. Kepemimpinan Bashar al-Assad yang bersifat otoriter serta dominasi Partai Ba'ath memperkuat posisi Rusia di Suriah (Yonker and Solomon 2. Pada saat yang sama. Rusia secara konsisten memblokir resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang berpotensi mengancam kekuasaan Bashar al-Assad (Borshchevskaya 2. Blok historis dalam konteks hubungan Rusia Ae Suriah direfleksikan dalam bentuk kombinasi antara kepentingan strategis, ideologi, dan dinamika geopolitik. Soviet berperan dalam mendukung Partai Ba'ath, yang mengusung sosialisme dan pan-Arabisme. Sejak era Perang Dingin. Uni Soviet membangun hubungan erat dengan Suriah melalui penyebaran nilainilai sosialisme dan anti-imperialisme. Aliansi ini menjadi bagian dari blok historis yang lebih luas, di mana Uni Soviet dan Suriah membentuk hubungan saling menguntungkan dalam menghadapi dominasi geopolitik Barat di Timur Tengah. Rusia sebagai penerusnya tetap mempertahankan hubungan ini dengan melanjutkan dukungan terhadap rezim Bashar al-Assad, yang mencerminkan kesinambungan proyek hegemonik yang telah dibangun sebelumnya. Dari konsepsi blok historis, keterlibatan Rusia di Suriah sejak 2015 merefleksikan strategi jangka panjang yang berakar pada hubungan ideologis dan kepentingan geopolitik yang lebih luas. AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Pelemahan Kekuatan Rusia di Suriah dan Transisi Hegemonik Kekuasaan Bashar al-Assad 2 Interregnum: Momentum Krisis dan Transisi Hegemonik Blok historis yang terbentuk melalui dukungan militer, ekonomi dan ideologis sejak era Soviet hingga Rusia terhadap Suriah mulai mengalami perubahan pada dekade awal 2020-an. Perubahan ini mencapai puncaknya pada Februari 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina menjadi titik balik hubungan kedua negara (Smagin 2. Perubahan ini secara signifikan menggeser perhatian Rusia sebagai pendukung utama rezim Bashar al-Assad. Rusia menyadari rezim Assad tidak memiliki legitimasi kuat dan hanya membebani keuangan mereka. Perubahan ini merupakan hasil gabungan kegagalan internal Suriah dan pergeseran prioritas Rusia (Giustozzi 2. Tekanan internasional, terutama dari AS, turut memengaruhi situasi di Suriah. Sanksi ekonomi dari AS dan sekutu yang memperburuk kondisi ekonomi, beberapa di antaranya ditujukan pada sektor-sektor krusial, seperti energi, perbankan, dan telekomunikasi, serta institusi utama, termasuk bank sentral (The Economist 2. Pada sisi lain, pihak Barat memperkuat oposisi melalui berbagai saluran. Sejak tahun 2011, lebih dari $1,3 miliar bantuan stabilisasi telah diberikan oleh AS untuk wilayah Suriah di luar kendali rezim. Bantuan ini dipandang sebagai elemen penting dalam misi AuOperation Inherent ResolveAy (OIR) karena mengurangi ketegangan sosial dan ekonomi yang sebelumnya dimanfaatkan oleh ISIS meningkatkan kapasitas otoritas lokal, serta mendukung masyarakat sipil (Humud 2. Keterlibatan aktif Amerika Serikat dan aliansi Barat dalam dinamika konflik Suriah berdampak pada keseimbangan kekuatan geopolitik dan dinamika domestik. Pergeseran hegemoni seiring dengan melemahnya pengaruh Rusia telah menciptakan ketidakpastian yang lebih luas, memengaruhi hubungan antara negara-negara kawasan, serta menimbulkan konsekuensi terhadap stabilitas politik Suriah. Momentum yang ditandai oleh pelemahan Rusia di Suriah, memperkuat gerakan kontra hegemoni dari aliansi sosial . ocial alliance. yang menantang legitimasi kekuasaan Bashar al-Assad. Momentum ini mendorong keterlibatan lebih lanjut dari aktor eksternal, terutama Amerika Serikat sebagai penopang kekuatan pihak oposisi yang terus memperkuat dukungannya (National Coalition of Syrian Revolution and Opposition Forces 2023. Mudore and Safitri 2. Kelompok oposisi, terutama The Army of Conquest, mencakup berbagai kelompok berbasis Islam, seperti Ahrar al-Shaman. Faylaq alSham dan Free Syrian Army (FSA) berhasil memanfaatkan dukungan eksternal ini (Mudore and Safitri 2. Pada 8 Desember 2024, kota Damaskus berhasil dikuasai oleh kelompok pemberontak bersenjata, yang menyebabkan Presiden Bashar al-Assad yang telah lama berkuasa harus meninggalkan negara tersebut. Kehilangan kendali atas Damaskus pada Desember 2024 AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Margaretha Hadia Babur dan Yoga Suharman menjadi simbol runtuhnya otoritarianisme yang selama ini didukung oleh Rusia di kawasan Peristiwa ini terjadi setelah perang saudara yang berlangsung selama 13 tahun, yang secara de facto menandai akhir dari dominasi rezim Assad (Alshamary et al. Kondisi ini semakin memperburuk situasi politik dan keamanan di Suriah serta meningkatkan ketidakpastian mengenai kemampuan Rusia dalam mempertahankan pengaruhnya di wilayah Pasca-kejatuhan Bashar al-Assad. Suriah memasuki fase interregnum yang penuh Faksi Kurdi yang didukung AS dan kelompok Sunni yang didukung Turki saling bersaing mengisi kekosongan kekuasaan. Fase transisi ini menggambarkan prinsip Cox bahwa perubahan hegemoni melibatkan persaingan panjang sebelum mencapai keseimbangan baru (Cox 1. dan mencerminkan runtuhnya basis suprastruktur yang terbentuk sejak era Soviet. Pelemahan Rusia di Suriah mencerminkan pelemahan dukungan material seperti finansial dan militer serta keretakan blok historis yang menopang rezim Bashar al-Assad. Rusia, yang selama ini berperan sebagai kekuatan hegemonik dengan menyediakan sumber daya dan narasi anti-Barat, semakin kehilangan kapasitasnya untuk mempertahankan dominasi di Suriah sejak invasi ke Ukraina pada 2022. Ketika negara patron mengalami pelemahan, aparatus hegemonik yang dibangun mulai runtuh, menciptakan peluang bagi oposisi domestik dan aktor eksternal untuk mendorong transformasi sosial dan politik. Kejatuhan Assad pada gilirannya bukan hanya hasil dari perlawanan oposisi, tetapi juga konsekuensi dari kegagalan Rusia dalam mempertahankan proyek hegemoniknya di Suriah. Dengan berkurangnya keterlibatan Rusia dan ketidakmampuan aktor lain untuk mengisi kekosongan kekuasaan. Suriah memasuki fase ketidakpastian politik yang mengarah pada fragmentasi kekuasaan atau bahkan persaingan hegemonik baru. Hal Ini menegaskan bahwa pelemahan kekuatan Rusia merupakan elemen kunci dalam transisi hegemonik kekuasaan Bashar Al Assad di Suriah. Dalam konteks demikian, muncul skenario yang mungkin terjadi di Suriah. Pertama, fragmentasi semakin tajam dan menyebabkan kebuntuan politik. Jika kelompok-kelompok utama gagal mencapai kesepakatan, maka Suriah dapat mengalami situasi seperti Libya pasca 2011, di mana negara terpecah tanpa pemerintahan pusat yang kuat. Dalam kondisi ini, konflik berkepanjangan akan melemahkan legitimasi kelompok-kelompok yang bersaing, berpotensi membentuk formasi negara gagal . ailed stat. Kedua, fragmentasi dapat berkembang menjadi keseimbangan kekuasaan baru. Jika kelompok seperti Kurdi dan Arab Sunni menunjukkan fleksibilitas politik dan bernegosiasi untuk membentuk pemerintahan sementara yang inklusif, maka Suriah berpotensi bergerak menuju stabilitas yang lebih besar. AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Pelemahan Kekuatan Rusia di Suriah dan Transisi Hegemonik Kekuasaan Bashar al-Assad Hal ini mencirikan bahwa dunia tanpa hegemoni dominan menuntut proses kompromi yang Ketiga, fragmentasi justru dapat mempercepat kemunculan hegemoni baru. Dalam skenario ini, salah satu aktor misalnya AS maupun Turki berhasil mengkonsolidasikan pengaruhnya secara lebih dominan, menciptakan tatanan baru yang lebih terkonsolidasi di dalam negeri Suriah. Momentum ketidakpastian yang terjadi berpotensi membentuk tatanan politik berbeda di Suriah, baik dalam bentuk sistem yang lebih demokratis maupun otoriter. Namun, hingga saat ini, arah perubahan tersebut masih belum dapat dipastikan mengingat kondisi politik dan keamanan yang masih tidak stabil. Pelemahan pengaruh Rusia di Suriah melampaui kemunduran dalam aspek material dan mencerminkan kegagalan dalam mempertahankan basis suprastruktur proyek hegemoniknya. Dalam konteks transisi kekuasaan, melemahnya dominasi Rusia berkontribusi terhadap runtuhnya hegemoni Bashar al-Assad dan membuka peluang bagi oposisi untuk memperebutkan posisi hegemonik . ar of positito. Oleh karena itu, fragmentasi yang terbentuk di Suriah bisa berkembang ke arah yang belum dapat diprediksi, tergantung pada sejauh mana aktor-aktor baru mampu membangun konsensus. 3 Delegitimasi Kekuasaan Bashar al-Assad Delegitimasi kekuasaan Bashar al-Assad dapat dipahami sebagai konsekuensi logis dari melemahnya kekuatan dan pengaruh Rusia di Suriah serta meningkatnya tekanan dari kelompok-kelompok kontra-hegemoni yang menentang rezim tersebut. Legitimasi eksternal yang menopang pemerintahan Assad mengalami pelemahan. Sejumlah sanksi ekonomi yang dijatuhkan terhadap Rusia telah menyebabkan berkurangnya kapasitas negara tersebut dalam mempertahankan keterlibatannya di Suriah. Bantuan militer yang sebelumnya disuplai secara konsisten mulai mengalami pengurangan, sehingga pasukan pemerintah Suriah mengalami kesulitan dalam menghadapi serangan dari kelompok oposisi dan faksi bersenjata lainnya. Selain itu, diplomasi Rusia di tingkat internasional mengalami kemunduran, yang mengakibatkan berkurangnya dukungan terhadap pemerintahan Bashar al-Assad dalam forum Selain faktor eksternal, berbagai dinamika internal turut mempercepat delegitimasi Bashar al-Assad. Ketidakpuasan yang meluas di kalangan masyarakat Suriah akibat krisis ekonomi dan kelangkaan sumber daya telah menyebabkan meningkatnya sentimen antipemerintah. Ketidakmampuan rezim dalam mengatasi permasalahan ekonomi serta ketergantungan yang berlebihan terhadap aktor eksternal telah memperlemah kepercayaan publik terhadap pemerintahan Bashar al-Assad. Fragmentasi dalam institusi negara dan AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Margaretha Hadia Babur dan Yoga Suharman masyarakat sipil semakin mempercepat proses ini. Konflik internal yang terjadi di dalam pemerintahan dan angkatan bersenjata telah melemahkan posisi Assad di tengah tekanan dari oposisi, kelompok pemberontak dan tekanan internasional. Pemerintahan Partai BaAoath, yang menjadi fondasi kekuasaan Assad, berakhir setelah 61 tahun berada dalam kendali politik Suriah. Masa pemerintahan ini juga mencakup 53 tahun dominasi keluarga Assad yang diwarnai oleh berbagai konflik (Anadolu Ajans 2. Kehadiran Rusia di Suriah telah mendapatkan legitimasi melalui permintaan resmi rezim Assad untuk melakukan intervensi. Namun, seiring dengan kemunduran relatif Rusia, legitimasi Bashar al-Assad tersebut turut melemah. Hal ini berkaitan erat dengan fenomena yang lebih luas, yaitu krisis otoritas yang terjadi ketika kelas penguasa kehilangan legitimasi dan persetujuan dari masyarakat (Hoare and Smith 1. Kekalahan Assad juga menandai kekalahan strategis bagi Rusia, yang selama ini berperan sebagai pendukung utama rezim tersebut (Alshamary et al. Presiden Joe Biden menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan momen bersejarah bagi rakyat Suriah. Selain itu, ia menegaskan bahwa Austrategi kami telah menggeser keseimbangan kekuatan di Timur TengahAy (Gowayed et al. Lengsernya Bashar al-Assad turut menjadi pukulan bagi Rusia, yang sebelumnya menganggap intervensinya pada 2015 sebagai kemenangan strategis atas Barat karena berhasil mempertahankan rezim tersebut. Delegitimasi kekuasaan Bashar alAssad pada gilirannya memperbesar peluang bagi lahirnya kekuatan-kekuatan alternatif dan memberikan keuntungan strategis bagi Amerika Serikat (Outzen 2. Kesimpulan Pelemahan kekuatan Rusia di Suriah berkontribusi terhadap transisi hegemonik kekuasaan Bashar al-Assad terjadi melalui fase interregnum dan krisis legitimasi. Ketergantungan rezim Assad pada Rusia dalam aspek militer, ekonomi, dan suprastruktur telah menjadi faktor kunci dalam mempertahankan kekuasaannya selama lebih dari satu dekade perang saudara. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, fokus dan sumber daya Moskow beralih, menyebabkan berkurangnya keterlibatan Rusia di Suriah. Hal ini memicu serangkaian krisis yang mempercepat kejatuhan Assad. Sanksi internasional juga membatasi opsi alternatif bagi rezim Assad untuk mencari dukungan dari negara lain. Akibatnya, ketidakstabilan ekonomi memperdalam ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Assad. Dalam konteks sosial-politik, berkurangnya hegemoni Rusia turut melemahkan otoritarianisme yang selama ini menopang stabilitas rezim Assad, sehingga memicu krisis legitimasi yang semakin dalam di tengah meningkatnya represi dan pelanggaran hak asasi AEGIS Vol. 9 No. July 2025 Pelemahan Kekuatan Rusia di Suriah dan Transisi Hegemonik Kekuasaan Bashar al-Assad Ketidakmampuan rezim untuk mengelola krisis internal tanpa dukungan Rusia akhirnya memberikan momentum bagi kelompok oposisi untuk memperluas pengaruhnya dan menantang dominasi Assad. Dengan hilangnya pijakan strategis dan dukungan eksternal yang melemah, delegitimasi yang selama bertahun-tahun mengguncang Suriah mencapai titik puncaknya pada Desember 2024, ketika rezim Assad runtuh setelah 54 tahun berkuasa, mengakhiri dominasi Partai BaAoath yang menandai pergeseran besar dalam dinamika politik negara dan kawasan. Hal ini memberikan peluang bagi kelompok oposisi untuk merebut kembali kendali atas beberapa wilayah, serta meningkatkan tekanan terhadap Bashar al-Assad. Secara ideologis, rezim BaAoath yang selama ini mendapat dukungan penuh dari Rusia mulai kehilangan pijakan. Melemahnya kekuatan Rusia menyebabkan fragmentasi dalam struktur kekuasaan di Suriah dan mempertajam fragmentasi antar faksi politik yang tidak lagi sepenuhnya selaras dengan kepentingan Moskow. Krisis legitimasi Assad semakin diperparah oleh ketidakmampuannya menawarkan stabilitas politik dan ekonomi, sehingga banyak generasi muda memilih untuk mengungsi atau bergabung dengan oposisi. Hal ini mempercepat proses transisi hegemonik rezim Bashar al-Assad setelah lebih dari lima dekade berkuasa. Keputusan Partai BaAoath untuk menangguhkan aktivitasnya secara tidak terbatas menandai akhir dari hegemoni politik yang telah berlangsung sejak 1963 dan menggeser formasi negara. Penelitian ini membuka peluang eksplorasi lebih lanjut mengenai dinamika transisi kekuasaan di Suriah pasca runtuhnya rezim Assad, dengan menyoroti aktor-aktor politik baru dan peran komunitas internasional dalam membentuk pemerintahan baru. Selain itu, studi mendatang dapat meneliti pelemahan hegemoni Rusia di Suriah dan dampaknya terhadap keseimbangan geopolitik regional, terutama dalam hubungannya dengan Iran. Turki, dan Amerika Serikat. Krisis legitimasi rezim otoriter seperti Assad juga dapat dibandingkan dengan kasus serupa di negara lain, terutama dalam konteks patronase dengan kekuatan eksternal. Selain itu, mengingat ketidakpastian politik Suriah, studi mengenai penajaman fragmentasi politik, permusuhan atau rekonstruksi ulang negara pasca otoritarian di Suriah menjadi sangat relevan untuk ditelusuri lebih lanjut. Referensi