IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS DI SEKOLAH Daimah. Meilinda Putri. Nilam Ludyra Azzahra. Nurul Huda. SyafiAoul Anam Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Jurusan Tarbiyah Institut Agama Islam An-Nawawi Purworejo Email: linda2021222@gmail. Abstract Character is a human trait that reflects oneAos identity. Character education certainly needs to be given to someone from an early age. Bacause with character education, a balance between society and religion will be created. Islamic education means education that studies knowledge about the Islamic religion which is mandatory for all Muslims. In it there are various Islamic values including moral values, creed, and shariAoa. These values need to be given to students at all levels so that in life they do not get lost and do not deviate from their religious teachings. The form of implementing these educational values can be applied by example, habituation, advice, and punishment where these four things will lead students to a better life. Keywords: Islamic education, implementation, character, and religion Abstrak Karakter merupakan sifat manusia yang mencerminkan jati diri seseorang. Pendidikan karakter tentunya perlu diberikan kepada seseorang sejak dini. Karena dengan pendidikan karakter, akan tercipta keseimbangan antara sosia dan agama. Pendidikan Islam berarti pendidikan yang mempelajari keilmuan teentang agama Islam yang bersifat wajib bagi seluruh umat Islam. Didalamnya terdapat berbagai nilai-nilai keislaman antara lain nilai akhlak, akidah, dan syariat. Nilai-nilai tersebut perlu diberikan kepada para peserta didik yang ada pada segala jenjang agar dalam kehidupaan tidak tersesat dan tidak menyeleweng dari ajaran Bentuk dari pengimplementasian nilai-nilai pendidikan itu dapat diterapkan dengan keteladanan, pembiasaan, nasihat, dan hukuman dimana keempat hal tersebut akan mengarahkan peserta didik kepada kehidupan yang lebih baik. Kata kunci: Pendidikan Islam, implementasi, karakter, dan religius A. Pendahuluan Karakter merupakan sebuah sifat yang memiliki makna tidak jauh dengan kata akhlak dalam bahasa arab. Maka dari itu, dapat diartikan bahwa karakter merupakan tindakan yang mencerminkan jati diri seseorang. Ketika membicarakan masalah akhlak Imam Al-Ghazali mengilustrasikan bahwa yang dimaksud dengan akhlak adalah perbuatan baik yang berasal dari hati 1 Sedangkan seorang ahli yang bernama Lickona memandang karakter sebagai suatu watak seseorang dalam menanggapi situasi dengan cara yang terbaik dan tindakan yang memiliki moral. Selain itu, menurut pendapatnya, karakter memiliki tiga bagian yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yaitu pengetahuan akan moral, perasaan, dan perilaku bermoral. Definisi tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan karakter adalah sebuah sikap seseorang yang mencerminkan dirinya sendiri dalam bertingkah laku, berpakaian, bertutur kata, dan beribadah kepada Allah. Maka setelah mendapatkan makna dari karakter muncullah konsep dari pendidikan karakter. Dalam pendidikan karakter maka pendidikan tersebut meliputi berbagai hal yang menjelaskan bagaimana usaha yang dapat dilakukan untuk membentuk kebiasaan baik pada setiap individu. Dalam pendidikan karakter ini, tentunya yang menjadi target utama adalah mereka yang mengenyam bangku pendidikan agar mereka dapat menanamkan karakter baik mereka sejak awal dan tidak menyeleweng dari umumnya karakter seorang pelajar. Pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini pada anak seiring dengan perkembangan zaman yang berada pada ilmu pengetahuan dan Karena pada zaman ini, para guru tidak hanya dituntut memiliki Awaliyani Mahmudiyah dan Mulyadi. AuPembentukan Karakter Religius di Madrasah Ibtidaiyah Berbasis PesantrenAy, dalam ZAHRA: Research and Tought Elementary School of Islam Journal. Vol. Nomor 1, 2021 Thomas Lickona. Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik, (Bandung: Nusa Media, 2. , hlm. Sarmin. AuPendidikan Karakter (Sebuah Pendekatan Nila. Ay, dalam Jurnal Al-TaAodib. Vol. Nomor 1, 2016, hlm. kemampuan sesuai dengan zaman tetapi harus juga mampu membentuk karakter siswanya. Dalam membentuk karakter siswa yang bertaqwa, berakhlak, serta memiliki pengatahuan yang luas untuk mengembangkan potensi dirinya, pendidikan harus sangat memperhatikan aspek sikap dan perilaku individu, tidak hanya peningkatan terhadap pengetahuan saja. Fungsi dan tujuan pendidikan nasional secara terperinci dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan guna mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak, berilmu, juga bertanggung jawab. Dengan pengertian tersebut, maka pendidikan karakter menjadi sebuah pembelajaran yang wajib ditanamkan sejak awal pada semua jenjang pendidikan, baik itu pendidikan sekolah dasar maupun perguruan tinggi. Karakter religius merupakan karakter pertama dan yang paling utama yang harus ditanamkan kepada anak sedini mungkin untuk menjadi dasar ajaran agama dalam kehidupannya. 5 Religius berasal dari bahasa asing yang mempunyai arti agama. Karakter ini sangat perlu dikembangkan dalam lembaga-lembaga pendidikan, terutama pada pendidikan dasar guna menghadapi perubahan zaman dan penurunan nilai moral pada kalangan pelajar diera sekarang. Fenomena maraknya perilaku anarkis dan perilaku menyimpang dikalangan remaja atau siswa bahkan mahasiswa, aksi-aksi kekerasan, seks bebas, narkoba, pornografi, tawuran antar pelajar, penipuan, serta pencurian sudah sangat sering terjadi dan menjadi konsumsi harian media masa. 6 Untuk mewujudkan karakter yang religius tentunya Eny Wahyu Suryanti dan Febi Dwi Widayanti. AuPenguatan Pendidikan Karakter Berbasis ReligiusAy, dalam Seminar Nasional Hasil Riset: Conference on Innovation and Application of Science and Technology. Malang: Universitas Widyagama, 2018, hlm. Rahma Nurbaiti, dkk. AuPembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pembiasaan Aktivitas KeagamaanAy, dalam el-Bidayah Journal of Islamic Elementary Education. Vol. Nomor 1, 2020, hlm. Heri Cahyono. AuPendidikan Karakter: Strategi Pendidikan Nilai dalam Membentuk Karakter ReligiusAy, dalam Jurnal RiAoayah. Vol. Nomor 2, 2016, hlm. dibutuhkan tenaga pendidik yang mampu menjadi teladan bagi siswa. Proses pembentukan karakter tidak akan terlaksana jika para pendidik hanya sebatas memberikan perintah kepada siswa untuk melaksanakan ajaran agama, akan tetapi ia juga harus mampu memberikan contoh agar dapat dijadikan teladan bagi siswanya. Dengan demikian, pendidikan karakter harus diintegrasikan dengan pendidikan keagamaan agar tercipta keseimbangan antara sosial dan agama. Peranan agama dapat memenuhi kebutuhan seseorang dalam hal pengarah, pembimbing, dan penyeimbang karakter peserta didik. Maka fokus pada pendidikan karakter bisa terarah pada pengenalan, pendalaman, dan interpersonal yang meningkat juga hilangnya kedisiplinan peserta didik secara drastis. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengindahan tuntunan Maka dari itu, agama yang berfungsi sebagai pedoman hidup harus dilekatkan kembali guna mengatur noma-norma dalam kehidupan juga pengimplementasian nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari dapat mengantisipasi pengaruh negatif pada perubahan zaman sekarang ini. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian Systematic Literature Review (SLR). Penggunaan metode penelitian ini adalah dikarenakan kurangnya akses untuk meneliti secara langsung sehingga lebih baik ketika digunakan metode ini. Uraian di dalam literatur review ini diharapkan mampu mengarahkan pada penyusunan kerangka pemikiran yang jelas mengenai pemecahan masalah yang sudah diuraikan sebelumnya pada Metode penelitian dengan kajian literatur ini, bermakna bahwa bahan yang diambil guna menyusun karya tulis bersumber dari penelusuran dan sumber kepustakaan dengan membaca buku, jurnal, dan terbitan-terbitan lain yang memuat isu yang berkaitan dengan topik yang ada. Penelitian ini dimulai dengan menelusuri pustaka yang berhubungan dengan topik yang Penelusuran ini akan menjadi bahan yang relevan sebagai data dalam penelitian. Dengan menelusuri berbagai pustaka maka akan ditemukan penelitian yang yang pernah dilakuakan sebelum ini. Literatur review merupakan suatu kerangka, konsep dasar, juga orientasi guna melakukan analisis dan klasifikasi fakta-fakta yang dikumpulkan dalam penelitian yang sedang dilakukan. Sembernya merupakan rujukan yang relevan dan terbaru juga sesuai dengan yang terdapat dalam kepustakaan acuan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan landasan teori yang bisa memecahkan masalah yang sedang diteliti dan ini merupakan langkah awal agar peneliti dapat lebih memahami masalah yang diteliti sesuai dengan kerangka berpikir ilmiah. Dalam melakukan review yang perlu dipastikan adalah menghindari kutipan pendapat para pakar yang tidak disertai adanya pembahasan yang mengarah kepada topik berbidang Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode ini adalah perlunya menganalisis, mensintesis, meringkas, dan meembandingkan hasilhasil penelitian yang satu dengan yang lainnya. Dua komponen utama yang perlu diperhatikan ketika menggunakan metode literatur review adalah kerangka teori dan kajian teori yang terkait dengan topik dan tema penelitian. Di dalamnya terdapat tiga macam tipe literatur review, yaitu literatur review naratif, literatur review kualitatif, dan literatur review kuantitatif yang merupakan pondasi dari penelitian. Tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan gambaran tentang topik yang sedang dibahas yang sudah pernah dikerjakan orang lain sebelumnya. Setidaknya ada tiga aspek utama guna melakukan literatur review, yaitu survei artikel yang terkait dengan isu yang sedang dibahas, berikan evaluasi terhadap isu terkait kemudian ringkas gambaran-gambaran yang ada, dan mendapatkan masukan yang terkait dengan isu dari publikasi mulai dari publikasi yang terbaru hingga publikasi yang lama sehingga dapat didapatkan gambaran secara jelas. Dari kajiannya, maka dapat diambil berbagai manfaat kenapa kita perlu melakukan literatur review, yaitu: Menempatkan posisi pekerjaan pada posisi relatifnya Menggambarkan keterhubungan antara satu penelitian dengan penelitian yang lain terkait isu yang dibahas Mengidentifikasi cara lain untuk menginterpretasikan dan mencari Manjadikan alternatif literatur review ini untuk menjadi dasar kita di penelitian yang berikutnya Mempertentangkan penelitian-penelitian sebelumnya yang kontras. Untuk menjadikan literatur review sebagai metode penelitian, tentunya ada banyak cara yang bisa kita gunakan untuk mengkajinya. Langah-langkah yang dapat diambil adalah sebagai berikut. Formulasi permasalahan Yaitu pemilihan topik sesuai dengan isu dan interest. Permasalahan juga harus ditulis dengan lengkap dan tepat. Cari literatur Langkah inilah yang paling penting, karena langkah ini membantu kita untuk mendapatkan gambaran dari topik penelitian. Sumber-sumber penelitian tersebut juga memberi berbagai macam gambaran tentang ringkasan dari beberapa penelitian terdahulu. Evaluasi data Data ini bisa berupa data kualitatif, data kuantitatif, mauun data yang berasal dari kombinasi keduanya. Analisis dan interpretasikan Diskusikan dan temukan serta ringkas literatur. Kunci utama dari metode literatur review adalah melihat sebanyakbanyaknya literatur ang ada guna menjadi bahan acuan. Dalam proses melihat ini dicarilah persamaan, perbedaan, serta mencari alasan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Proses ini dimaksudkan untuk menginterpretasikan penelitian yang akan dilakukan dibandingkan dengan penelitian yang sudah lebih dahulu. Yang tidak boleh terlupakan juga bahwa setiap bahan pustaka yang diambil sebagai literatur harus dicantumkan sumbernya di dalam daftar pustaka secara jelas dan relevan. Pembahasan Pendidikan Islam dan Nilai-Nilainya Pendidikan islam dalam artian pendidikan formal merupakan pendidikan yang lebih mengedepankan agama Islam ketimbang yang Sebagaimana yang telah diketahui bahwasanya pendidikan islam berasal dari kata pendidikan dan Islam. Pendidikan berasal dari kata didik dengan memberi awalan AupeAy dan akhiran AukanAy, yang mengandunng arti AuperbuatanAy . al, cara, dan sebagainy. dan kata Islam yang merupakan agama atau anutan. 7 Pada tahun 1960 diadakan seminar pendidikan Islam se-Indonesia, yang akhirnya merumuskan bahwa pendidikan Islam merupakan bimbingan terhadap pertumbuhan jasmani dan rohani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. Selain hal tadi. Miqdad Yeljin guru besar Islam Ilmu Sosial Universitas Muhammad bin SuAoud di Saudi Arabia mengemukakan Islam membentuk manusia muslim yang sempurna dari segala aspek yang bermacam-macam aspek seperti kesehatan, akal, keyakinan, kejiwaan, akhlak, kemauan, dan daya cipta dalam semua tingkat pertumbuhan yang disinari oleh cahaya Islam dengan berbagai metode yang terkandung di 9 Maka dapat dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah sebuah proses pemberian pengetahuan dan nilainilai Islam kepada peserta didik dengan pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, pengarahan, dan pengembangan potensinya untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat. Muhammad Muntabihun Nafis. Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Teras, 2. , hlm. Ibid. , hlm. Ibid. , hlm. Setelah mengetahui uraian pendidikan islam, maka selanjutnya adalah terdapat berbagai nilai yang pendidikan Islam yang harus implementasikan kepada para peserta didik. Nilai yang pertama adalah nilai-nilai akhlak. Nilai akhlak berarti budi pekerti, etika, dan moral yang merupakan perangani manusia dari dalam dirinya yang terganbar pada perangai di luar dirinya sebagai perbuatan yang tidak memerlukan pikiran untuk melakukannya. Akhlak juga dapat berarti kebiasaan, karena perbuatan yang diulang-ulang akan menjadi mudah dikerjakan, maka ketika sebuah pekerjaan dilakukan berulang-ulang dan menjadi kebiasaan, maka itulah yang disebut akhlak. Nilai-nilai yang terbentuk dari nilai akhlak antara lain adalah sabar, syukur, ikhlas, jujur, dermawan, rendah hati, amanah, dan pemaaf. Nilai yang selanjutnya adalah nilai-nilai akidah. Akidah merupakan ikatan yang menjadi gantungan atau panutan dari segala sesuatu. Kedudukan dari akidah sangatlah inti karena menjadi pokok dan asas dari ajaran agama Isam dimanapun berada. Dalam akidah terdapat rukun iman yang berkaitan dengan menjadi pedoman umat Islam guna menjalani Enam poin penting dari rukun iman adalah keyakinan kepada Allah, keyakinan kepada para Malaikat Allah, keyakinan kepada Kitab Allah, keyakinan kepada para Nabi dan Rasul Allah, keyakinan kepada hari kiamat, dan keyakinan kepada takdir Allah. Dengan keyakinan tersebut, akidah akan menuntun dan mengemban dasar keutuhan yang dimiliki oleh manusia sejak lahir, memberikan ketenangan dan ketentraman jiwa, dan memberikan pedoman hidup yang pasti. Nilai yang terakhir adalah nilai-nilai syariat atau nilai ibadah. Nilai ibadah merupakan gabungan antara seseorang dalam menjalankan kehidupan di dunia menuju akhirat nanti. Maka dari itu, untuk dicantumkanlah sebuah rukun Islam yang menjadi ibadah wajib yang Habib Muhtarudin dan Ali Muhsin. AuNilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Kitab alMawaAoiz al-AoUsfuriyyahAy, dalam Jurnal Pendidikan Islam. Vol. Nomor 2, 2019, hlm. menjamin masuknya surga. Dalam menjalankan ibadahnya manusia dituntut untuk mengerjakan ibadah yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah lebih dahulu ketimbang ibadah yang menyangkut hubungan manusia dengan manusia lainnya. Karakter Religius Karakter merupakan tingkah laku seseorang yang mencerminkan diri mereka secara utuh. Karakter yang harus ditekankan dalam penanaman karakter seorang peserta didik adalah karakter religius. karakter religius berarti adalah karakter yang menerapkan nilai yang berhubungan dengan Tuhan. Secara singkat, religius berakar dari kata religion yang artinya taat pada agama. Religius adalah kepercayaan atau keyakinan pada suatu kekuatan yang besar diatas kekuasaan manusia. Karakter religius sendiri dalam Islam dapat dikatakan karakter berperilaku dan berakhlak sesuai dengan apa yang diajarkan dalam pendidikan Islam. Kriteria seseorang yang dapat dikatakan seorang religius adalah ketika nilai-nilai keagamaan tertanam di dalam dirinya. Selain itu, religius adalah ketika seseorang mampu patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleransi terhadap pelaksanaan agama lain, dan bisa hidup rukun berdampingan dengan pemeluk agama lain. Karakter religius yang seperti tersebut sangat dibutuhkan dan harapannya bisa menjadi penunjang dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral. Ketika seseorang belum bisa bertingkah laku seperti ini, maka seseorang tersebut belum memenuhi kriteria seorang yang religius. makadari itu, diperlukan adnya pengimplementasian yang baik agar peserta didik mampu memahami dan bertingkah laku sesuai karakter yang religius. Ibid. , hlm. Muhammad Nahdi Fahmi dan Sofyan Susanto, 2018. AuImplementasi Pembiasaan Pendidikan Islam dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Sekolah DasarAy, dalam Pedagogia: Jurnal Pendidikan. Vol. Nomor 2, 2018, hlm. Pengimplementasian di Sekolah Pengimplementasian nilai-nilai Islam merupakan mengaplikasikan sebuah nilai-nilai ajaran Islam yang telah dirancang sedemikian rupa yang bertujuan mengubah sikap seseorang agar membaik dan tidak bertentangan dengan agama. Dalam pengimplementasian tersebut tentunya diperlukan cara-cara yang kiranya efektif guna mendidik peserta Cara yang efektif akan mempermudah pendidik dan juga peserta yang akan menjadi target dari tujuan pendidikan itu sendiri karena tidak menjadikan hal tersebut rumit. Cara-cara tersebut antara lain adalah dengan penekanan materi pembelajaran, teladan dari guru, nasihat, dan kebiasaan sehari-hari. Langkah-langkah mengoptimalkan pembelajaran materi Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pembelajaran di sekolah. Pendidikan agama disekolah tentunya sangat berpengaruh terhadap transformasi sikap dan norma dari para peserta didik yang ada di sekolah. Disana diharapkan dengan adanya pendidikan agama Islam perilaku para peserta didik dapat terkendali dan tidak menyeleweng dari agama. Setelah pemberian materi pendidikan Islam menyempurnakan iman, takwa, dan berakhlak yang mulia. Adapun implementasi yang pertama adalah dengan Keteladanan. Keteladanan dalam bahasa arab disebut dengan istilah uswah yang berarti perbuatan baik yang dapat ditiru oleh orang lain. 14 Dalam implementasi di sekolah maka seorang guru harus mampu memberikan teladan bagi para peserta didiknya seperti halnya secara langsung pendidik mengajak siswa sholat dhuha berjamaah. Maka secara tidak langsung ia memberikan teladan yang bersifat bisa ditiru dilain waktu yang akan Selain dengan perbuatan yang dapat dilakukan, pendidik juga Nur Ainiyah. Au Pembentukan Karakter Melalui Pendidikan Agama IslamAy, dalam Jurnal Al-Ulum (Jurnal Studi-Studi Isla. Vol. Nomor 1, 2013, hlm. Armal Arief. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, . akarta: Ciputat Press, 2. , hlm. bisa memberi contoh dengan ucapannya sehingga ketika naluri seorang peserta didik yang suka menirukan pendidik akan dengan sendirinya mengerjakan apa yang dikerjakan maupun yang disarankan oleh Ketika dia terbiasa melihat perbuatan positif, maka secara otomatis akan muncul jiwa kepribadian yang mrnimbulkan sikap-sikap terpuji pada perilakunya. Implementasi yang selanjutnya adalah dengan metode pembiasaan dalam perilaku. Pembiasaan adalah suatu cara yang dapat dilakukan agar anak berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan ajaran agama yang Dalam pembentukan karakter, metode ini termasuk yang sangat praktis dalam pembinaan pembiasaan-pembiasaan untuk melaksanakan suatu kegiatan di sekolah. 15 Kebiasaan dapat menjadi karakter seseorang jika ia senang atau memiliki keinginan terhadap sesuatu tersebut kemudian mengulang-ulanginya. Seperti halnya dengan membiasakan sikap disiplin, membiasakan berdoa sebelum belajar, berpakaian rapi, dan membiasakan hal-hal lain yang bersifat positif agar karakter yang religius tersebut bisa terbentuk dengan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Selain itu ada implementasi yang berupa nasihat. Metode ini merupakan cara yang fleksibel yang paing baik digunakan oleh pendidik. Saat dilingkungan sekolah dimanapun tempatnya, ketika melihat terdapat kemungkaran atau melanggar norma-norma yang ada, maka minimal yang bisa dilakukan seorang pendidik adalah dengan menasihati dengan cara yang baik. Menasihati berbeda dengan memarahi, maka ketika menasihati harus dengan kata-kata yang lembut yang dapat menyentuh hati peserta didik agar dapat berubah dari melakukan kesalahan. Implementasi yang terakhir yang dapat dilakukan adalah metode Metode hukuman ini adalah wujud pendisiplinan dan Ahmad Muhajir Ansori. AuStrategi Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Islam pada Peserta DidikAy, dalam Jurnal Pusaka: Media Kajian dan Pemikiran Islam, hlm. Ibid, hlm. mempertanggungjawabkan perbuatan yang dilakukannya. Dilakukannya metode ini karena ketika dari metode sebelumnya kurang efektif maka diberlakukanlah metode ini kepada para peserta didik untuk manjadi agar peserta yang melakukan kesalahan tidak mengulanginya lagi. 17 Dengan berbagi strategi yang digunakan dan berbagi kebijakan yang berlaku, akan terbentuklah nilai-nilai yang matang dalam jiwa peserta didik, sebagai bentuk karakter yang didasari berbagai kompetensi. Sebagimana yang dikemukakan oleh Thomas Lickona bahwa memiliki pengetahuan tentang moral tidaklah cukup untuk menjadi manusia berkarakter, nilai moral harus disertai dengan adanya karakter bermoral. Kesimpulan Pendidikan Islam merupakan sebuah proses pemberian pengetahuan dan nilai-nilai Islam kepada peserta didik dengan pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, pengarahan, dan pengembangan potensi peserta didik. Sedangkan nilai-nilai pendidikan Islam terdiri dari nilai akhlak, nilai akidah, dan nilai syariat atau ibadah. Karakter religius merupakan karakter yang menerapkan nilai yang berhubungan dengan Tuhan. Maka dari itu, pengimplementasian nilai-nilai Islam yang dapar dilakukan guna pembentukan karakter religius di sekolah adalah keteladanan, pembiasaan, nasihat dan hukuman. Ibid, hlm. Daftar Pustaka