Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Jurnal Agrisistem Seri Sosek dan Penyuluhan Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 DOI: https://doi. org/10. 52625/j-agr-sosekpenyuluhan. Syamsir et al. p-ISSN 2089-0036 e-ISSN 2722-1938 KARAKTERISTIK PETANI PERKOTAAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DI KOTA GORONTALO Characteristics of Urban Farmers and Agricultural Land Use Change in Gorontalo City Syamsir1*. Isran Jafar1. Zainal Abidin1. Zilan Towalu1. Figo Wanto Suleman1 Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Ichsan Gorontalo. Jalan Ahmad Nadjamuddin No 17 Kota Gorontalo kode pos : 95128 ABSTRAK Urgensi keberlanjutan pertanian perkotaan memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan khususnya daerah perkotaan, regenerasi petani dan alih fungsi lahan pertanian di daerah perkotaan memberi tantangan kompleks bagi keberlanjutan pertanian perkotaan, namun demikian menurut data luasan lahan pertanian di Kota Gorontalo, lahan pertanian mengalami penurunan luasan, yang secara langsung dapat berakibat pada pemenuhan kebutuhan hidup atau pangan petani pada wilayah perkotaan. Tujuan penelitian ini yaitu memberikan potret kondisi petani yang ada di Kota Gorontalo dari segi kehidupan petani, regenerasi petani dan karakteristiknya, serta alih fungsi lahan yang terus berlangsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, tahapan awal dari penelitian menyajikan karakteristik petani. Hasil dari penyajian data awal digambarkan dengan pendekatan kualitatif termasuk hubungannya dengan regenerasi petani dan alih fungsi lahan pertanian di Kota Gorontalo. Penelitian dilakukan di Kota Gorontalo dengan membagi 2 jenis informan yaitu petani yang ada di Kota Gorontalo dan instansi pemerintah, penelusuran/pengumpulan data menggunakan metode Snowball Sampling yang dimulai dari petani sebagai informan awal dengan metode in-depth Interview. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 93,34% informan penelitian hanya berstatus sebagai petani penggarap dan 6,66% berstatus sebagai petani dengan hak milik. Kaitan dengan regenrasi petani, 26 petani menyatakan tidak mempunyai generasi pelanjut sebagai petani dikarenakan kurangnya minat dan ketertarikan anaknya untuk meanjutkan usahatani keluarga, hanya terdapat 2 orang petani yang menyatakan mempunyai anak untuk melanjutkan atau bekerja pada bidang pertanian, demikian halnya jika terjadi alih fungsi lahan 15 petani menyatakan berhenti menjadi petani dan 13 petani menyatakan akan bertahan bekerja di pertanian. Kata kunci: Alih Fungsi Lahan. Karakteristik Petani. Pertanian Perkotaan ABSTRACT The urgency of urban agricultural sustainability plays an important role in meeting food needs, especially in urban areas. Farmer regeneration and agricultural land conversion in urban areas pose complex challenges for the sustainability of urban agriculture. However, according to data on agricultural land area in Gorontalo City, agricultural land has decreased in area, which can directly impact the fulfillment of living or food needs of farmers in urban areas. The purpose of this study is to provide a portrait of the conditions of farmers in Gorontalo City in terms of farmer life, farmer regeneration and its characteristics, and ongoing land conversion. This study uses a qualitative approach, the initial stage of the study presents the characteristics of farmers. The results of the initial data presentation are described with a qualitative approach including its relationship with farmer regeneration and agricultural land conversion in Gorontalo City. The study was conducted in Gorontalo City by dividing 2 types of informants, namely farmers in Gorontalo City and government agencies, data collection using the Snowball Sampling method starting from farmers as initial informants with the in-depth Interview method. The results of the study showed that 93. 34% of research informants only had the status of sharecroppers and 6. 66% had the status Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Syamsir et al. of farmers with ownership rights. In relation to farmer regeneration, 26 farmers stated that they did not have a successor generation as farmers due to the lack of interest and interest of their children to continue the family farming business, there were only 2 farmers who stated that they had children to continue or work in the agricultural sector, likewise if there was a change in land function, 15 farmers stated that they would stop being farmers and 13 farmers stated that they would continue working in agriculture. Keywords: Land Use Change. Farmers Characteristics. Urban Agriculture @ 2025 Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Halaman Jurnal, https://ejournal. polbangtan-gowa. id/index. php/J-Agr-Sosekpenyuluhan/article/view/494/version/494 Received 25 June 2025 Accepted 28 December 2025 Published Online 31 December 2025 * Email Korespondensi: ancyagri@gmail. PENDAHULUAN Pertanian pada daerah perkotaan memiliki ciri khas tersendiri dibanding dengan pertanian yang ada di daerah pedesaan. Seperti dari segi demografi yang sebagian besar lahan pertanian di perkotaan berada di antara bangunan sarana prasarana pemerintahan, perusahaan, kantor dan jalan raya. Termasuk pola hidup petani perkotaan sangat berbeda dengan petani pada umumnya di desa, juga dari segi kepemilikan lahan, kebanyakan petani di daerah perkotaan hanya sebatas petani penggarap. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya (Syamsir et al. , 2. menemukan bahwa 83,33% petani di Kota Gorontalo hanya sebatas petani penggarap tanpa memiliki penguasaan penuh terhadap lahan yang digunakan. Kota menjadi pusat aktivitas berbagai sektor (Gultom & Harianto, 2. Oleh karena itu, paradigma masyarakat secara umum mengenai aktivitas pertanian yang biasanya berlokasi di pedesaan menjadi salah satu alasan pertanian di perkotaan tidak cukup diminati, selaras dengan yang dikemukakan oleh (Arvianti et al. , 2. bahwa persepsi pemuda jika berkerja pada sektor non pertanian di perkotaan jauh lebih Pemuda menganggap bertani tidak menjamin kesejahteraan di masa depan (Maihani et al. , 2. Sama halnya dengan daerah lainnya. Kota Gorontalo yang termasuk dalam daerah yang sedang berkembang membutuhkan sumberdaya lahan untuk menunjang pembangunan yang dilaksanakan. Fenomena ini berdampak langsung terhadap berkurangnya lahan pertanian di Kota Gorontalo. Hasil penelitian (Syukri & Arifin, 2. mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun terakhir . 0 Ae 2. terjadi perubahan alih fungsi lahan sawah seluas 103,17 Ha. Sejalan dengan pernyataan tersebut, hasil penelitian (Moliju et al. , 2. juga menyampaikan bahwa pada Tahun 2022 di Kota Gorontalo terdapat 60 titik lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi lahan non pertanian. Jika terus berlangsung maka akan berdampak pada ketahanan pangan daerah (Rolianjana et al. , 2. Keberadaan pertanian di Kota Gorontalo memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan, meskipun jumlahnya terbatas banyak keluarga petani yang menjadikan pertanian pada wilayah perkotaan sebagai mata pencaharian utama Alih fungsi lahan adalah berubahnya penggunaan lahan atau konversi lahan dalam kurun waktu tertentu (Abidin & Syamsir, 2. Alih fungsi lahan pertanian tejadi bukan tanpa upaya pegendalian, pemerintah Kota Gorontalo telah mengeluarkan perwako (Peraturan Wali Kot. tentang pengendalian alih fungsi lahan sawah beririgasi teknis (Perwako Kota Gorontalo, 2. Namun demikian alih fungsi lahan masih tetap berlangsung setiap tahunnya. Oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memberikan gambaran pertanian di Kota Gorontalo dan fenomena alih fungsi lahan yang terjadi. Sektor pertanian memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan (Ashari & Syamsir. Syamsir & Winaryo, 2. Urgensi keberlanjutan pertanian perkotaan memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan khususnya daerah perkotaan, regenerasi petani dan alih fungsi lahan pertanian di daerah perkotaan memberi tantangan kompleks bagi keberlanjutan pertanian perkotaan. Dalam penelitian (Syamsir et al. , 2. mengenai peran pemerintah dalam penanganan alih fungsi lahan pertanian di Kota Gorontalo menyatakan bahwa pemerintah telah mengambil langkah dalam hal membuat kebijakan mengenai pengendalian alih fungsi lahan pertanian yang terjadi. Beberapa hasil penelitian sebagai literatur yang menunjukkan pemahaman yang sama mengenai pentingnya kajian mengenai alih fungsi lahan pertanian perkotaan. Namun umumnya lebih menyorot kepada luasan lahan yang beralih fungsi dan upaya pemerintah dalam pengendaliannya. salah satu upaya Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Syamsir et al. untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan perlu dilakukan upaya pengendalian alih fungsi lahan (Djoni et al. ,2. Alih fungsi lahan pertanian terus mengalami kenaikan (Putri, 2. Petani beralih bekerja pada sektor lain di luar pertanian karena alih fungsi lahan yang terjadi (Sari & Yuliani, 2. Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari penelitian sebelumnya mengenai strategi bertahan hidup petani perkotaan di Kota Gorontalo dengan penyajian pendapatan dan biaya hidup keluarga petani (Syamsir et al. , 2. kebaruan yang ditawarkan dalam penelitian ini yaitu memberikan potret karakteristik dari petani perkotaan Kota Gorontalo dari sisi tantangan hingga regenerasinya, juga penelusuran secara kualitatif dan dibahas secara bersamaan dengan alih fungsi lahan yang terjadi lewat sudut pandang petani dan pembuat kebijakan. Penelitian ini penting untuk dilaksanakan karena dapat memperkaya referensi mengenai potret pertanian perkotaan dan alih fungsi lahan pertanian di Kota Gorontalo yang masih sangat terbatas, bahkan belum pernah diteliti sebelumnya, demikian halnya dengan pertanian perkotaan di daerah lain, penelitian ini dapat menjadi rujukan yang memberikan gambaran pertanian perkotaan meskipun memiliki ciri masing Ae masing pada tiap daerah. Berdasarkan uraian sebelumnya maka tujuan penelitian ini dikategorikan menjadi 2 bagian, yaitu pertama melihat kondisi petani yang ada di Kota Gorontalo dari segi kehidupan petani, regenerasi petani dan karakteristiknya, kedua alih fungsi lahan yang terus berlangsung memerlukan upaya pengendalian dari berbagai pihak sehingga dibutuhkan gambaran yang jelas proses terjadinya alih fungsi lahan yang dipotret lewat sudut pandang petani dan pemangku kebijakan. MATERI DAN METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, tahapan awal dari penelitian menyajikan karateristik petani . Pendidikan, pendapatan dalam bertani, pendapatan non pertanian, status kepemilikan lahan, luas lahan, tanggungan keluarga dan pengalaman berusaha tan. sehingga data tersebut akan dipaparkan lewat tabulasi. Hasil dari penyajian data awal digambarkan dengan pendekatan kualitatif termasuk hubungannya dengan regenerasi petani dan alih fungsi lahan pertanian di Kota Gorontalo. Penelitian dilakukan di Kota Gorontalo pada Bulan Juli Ae Bulan Oktober 2024. Informan penelitian dikategorikan menjadi 2 jenis informan, pertama yaitu petani yang ada di Kota Gorontalo dengan kriteria petani dengan lahan yang terpisah dengan lahan pertanian lain, ini berdasarkan pertimbangan bahwa lahan tersebut rentan beralih fungsi, jumlah petani informan penelitian dibatasi berdasarkan informasi yang diperoleh, kedua, instansi pemerintah (Dinas pertanian. Penyuluh Pertanian. Pemda Kota Gorontal. Penelusuran / pengumpulan data menggunakan metode Snowball Sampling yang dimulai dari petani sebagai informan awal dengan metode In-depth Interview dengan memanfaatan perangkat Recorder agar semua data terdokumentasi dengan baik. Hasil penelitian ini dapat memperkaya referensi mengenai potret pertanian perkotaan dan alih fungsi lahan pertanian di Kota Gorontalo, sehingga dapat menjadi bagian dari dasar perumusan kebijakan terkait pertanian perkotaan Gambar 1 : Lokasi Penelitian (Kota Gorontal. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Syamsir et al. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di Kota Gorontalo dengan konsen utama yaitu petani perkotaan, karakteristik petani memegang merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan bertani yang dijalankan oleh petani. Penelitian ini melihat karakteristik petani yang ada di Kota Gorontalo. Jumlah informan penelitian berjumlah 30 petani dengan kriteria lahan rentan beralih fungsi. Adapun karakteristik yang dilihat disampaikan pada tabel 1. Tabel 1. Karakteristik Petani Informan Uraian Tingkat Umur 27 Ae 33,83 33,83 Ae 40,67 40,67 Ae 47,50 47,50 Ae 54,33 54,33 - 61,17 61,17 - 68 Jenis Kelamin Laki - laki Perempuan Pendidikan SMP SMA Tanggungan Keluarga 1Ae2 2Ae3 3Ae 4 4Ae5 5Ae6 Pengalaman Usahatani 5 Ae 12,50 12,50 Ae 20,00 20,00 Ae 27,50 27,50 Ae 35,00 35,00 Ae 42,50 42,50 Ae 50,00 Luas Lahan (H. 0,2 Ae 0,5 0,5 Ae 0,8 0,8 Ae 1,1 1,1 Ae 1,4 1,4 Ae 1,7 1,7 - 2 Satus Lahan Milik Sendiri Petani Penggarap Rata Ae rata Pendapatan Petani jumlah (Oran. Presentase 3,33 0,00 20,00 40,00 23,33 13,33 96,67 3,33 13,33 16,67 50,00 30,00 10,00 6,67 3,33 10,00 40,00 23,33 10,00 16,67 60,00 13,33 13,33 3,33 10,00 6,66 93,34 (IDR) Rp 13. Sumber: Analisis Data Primer 2024 Tabel 1 menyajikan karakteristik petani informan, terlihat bahwa tingkat umur petani sebagian besar berada pada usia yang tidak produktif, sebanyak 40 % berumur 47 Ae 54,33 tahun. Usia mempengaruhi tingkat produktifitas dalam bekerja, dalam bidang pertanian sendiri umur sangat mempengaruhi keberhasilannya dikarenaka sebagian besar mengandalkan pekerjaaj fisik (Prasetya & Putro, 2. Distribusi jenis kelamin informan penelitian menunjukkan bahwa 96,67% berjenis kelamin laki Ae laki, hal tersebut sejalan dengan kegiatan dalam pertanian yang membutuhkan fisik, namun demikian 1 petani perempuan informan merupakan pemilik lahan dengan luas lahan hingga 2 Ha yang mempekerjaan beberapa buruh tani, atau digolongkan dalam petani besar. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Syamsir et al. Pendidikan petani berpengaruh dalam kegiatan bertani yang dijalankan, petani dengan pendidikan yang tinggi cenderung memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai, termasuk dalam mencari informasi terkait pengembangan usahataninya, hal ini sejalan dengan penelitian (Wirayuda & Arka, 2. bahwa tingkat pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas petani. Pendidikan berpengaruh positif terhadap kinerja tenaga kerja pada bidang pertanian (Oktavia et al. ,2. Tanggungan keluarga petani informan terbesar berada pada 1 Ae 2 Orang, dengan jumlah 15 Orang petai atau sebanyak 50 %. Dalam kegiatan bertani, anggota keluarga memegang peranan penting, tenaga kerja dalam keluarga menjadi salah satu modal yang kuat, keluarga juga sebagai generasi pelanjut dalam meneruskan usahatani yang dimiliki. Anggota keluarga berperan penting dalam usaha yang dijalankan oleh keluarga (Takasenserang et al. , 2. Distribusi pengalaman usahatani petani informan menunjukkan terdapat 12 petani dengan rentang pengalaman 12,50 Ae 20 tahun, hal tersebut memperlihatkan bahwa petani memiliki modal yang kuat dalam hal pengalaman yang dimiliki. Semakin lama pengalaman bertani seseorang mengindikasikan banyaknya pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh. Faktor penting dalam usahatani yang dijalankaan yaitu tersedianya lahan dengan kepemilikan sendiri, petani dengan status petani penggarap sangat rentan kehilangan lahan garapan bahkan berhenti menjadi Demikian halnya dengan petani informan menunjukkan bahwa 93,34% hanya berstatus sebagai petani penggarap, sehingga dapat disimpulkan bahwa petani tersebut berpeluang kehilangan lahan garapan akibat dari alih fungsi lahan di Kota Gorontalo yang terus berlagsung. (Pratiwi & Moeis, 2. Menyatakan bahwa petani dengan status penggarap atau bukan hak milik cenderung menerapkan pertanian yang tidak Luas lahan dari keseluruhan petani informan seluas 18,8 ha dengan rata Ae pendapatan yang diperoleh setiap petani dalam satu musim tanam sebesar Rp. petani dengan status sebagai petani petani penggarap memiliki kewajiban untuk memberikan sebagian hasil panen kepada pemilik lahan. Pembagian kepada pemilik lahan yang berlaku di Kota Gorontalo yaitu setiap 0,2 Ha lahan, petani memberikan beras sejumlah 150 Kg kepada pemilik lahan. Jadwal tanam atau musim tanam petani di Kota Gorontalo tidak serentak, awal penanaman disesuaikan dengan ketersediaan pengairan untuk pengolahan lahan. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan keluarga terdapat beberapa petani informan yang bekerja di luar dari bidang pertanian, seperti tukang ojek, buruh bangunan, berdagang, buruh bangunan dan karyawan toko, selain sebagai mata pencaharian tambahan juga merupakan jalan keluar bagi petani pada saat mengalami gagal panen, rata Ae rata petani mendapat tambahan pendapatan sebesar Rp 100. 000 setiap hari dari pekerjaan sampingan yang diambil, namun demikian tidak semua petani dapat mengakses peluang pekerjaan yang tersedia dikarenakan petani hanya mengandalkan informasi dari kerabat atau teman sesama petani. Menurut (Olumoyegun & Olumoyegun, 2. bahwa modal sosial berperan penting bagi kehidupan sehari Ae hari petani, baik dalam menjalankan usahatani atau sebagai wadah akses informasi. Pendapat lain yang dikemukakan oleh (Zhu et al. , 2. bahwa modal sumberdaya manusia yang dimiliki petani dapat membantu petani bekerja pada sektor non pertanian, namun demikian berdasarkan distribusi umur rata Ae rata petani yang sebagian besar di atas 50 tahun dengan pendidikan Sekolah Dasar memperkecil peluang petani mendapatkan pekerjaan yang lebih menghasilkan. Data pada tabel 1 menunjukkan bahwa 63% petani responden berada pada usia produktif, yaitu kurang dari 54 tahun, sehingga jika alih fungsi lahan pertanian terus terjadi akan berdampak langsung pada pengurangan jumlah pekerja produktif pada bidang pertanian. Selain itu pengalaman usaha tani yang didominasi 40% petani memiliki pengalaman 12 Ae 20 tahun, juga menjadi modal penting yang seharusnya menunjang secara penuh usaha tani yang dijalankan. Namun demikian status kepemilikan lahan yang hanya petani penggarao, menjadi kendala utama petani untuk mempertahankan lahan mereka. Regenerasi petani perkotaan Kota Gorontalo Fenomena penurunan jumlah petani mengindikasikan terjadinya pergeseran minat petani untuk bertahan bekerja pada sektor petanian (Ani et al. , 2. Umur petani menentukan produktivitas dalam menjalankan usahataninya, umur petani yang tidak lagi produktif membutuhkan tambahan tenaga kerja dari dalam keluarga sendiri ataupun tenaga kerja upahan atau buruh tani. Selain itu anggota keluarga yang terlibat sebagai petani terutama anak dari petani tersebut berpeluang memunculkan generasi petani yang baru untuk melanjutkan usahatani keluarga dengan modal pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki meskipun hanya sebatas petani penggarap. Pertanyaan terbuka ditanyakan kepada informan penelitian terkait regenerasi pertanian yang dimaksud disajikan pada gambar 2: Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Syamsir et al. Regenerasi Petani tidak ada Gambar 2: Gambaran Regenerasi Petani Informan Gambar 2 menunjukkan gambaran regenerasi petani informan, terdapat 26 informan menjawab Autidak adaAy anggota keluarga yang membantu dalam menjalankan usahatani yang dikelolah, 2 petani yang menjawab bahwa dalam mengolah lahannya dibantu oleh anaknya dan bersedia melanjutkan pekerjaan orang tua sebagai petani penggarap, dan 2 orang menjawab bahwa dalam mengolah usahatani dibantu oleh Temuan ini menunjukkan kerentanan terputusnya regenerasi petani, bahkan dalam keluarga sendiri yang berdasarkan data yang ada, mayoritas petani mengelola lahan mereka sendiri tanpa dibantu oleh anggota keluarga, hal ini berdampak pada tidak terjadinya pewarisan keahlian dan budaya kerja pertanian dalam keluarga petani. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peluang terputusnya generasi petani dalam keluarga responden sangat besar. Peranan orang tua dalam keluarga sangat besar dalam menciptakan atau menumbuhkan generasi petani dalam keluarga, hal ini sejalan dengan pernyataan (Ranzez et al. , 2. bahwa peran orang tua sebagai penyuluh dalam keluarga dapat memunculkan niat bertani serta membekali keterampilan dan pengetahuan dalam pertanian. selain itu persepsi pemuda yang menganggap bekerja pada bidang pertanin tidak mampu memenuhi kebutuhan masa depan juga menjadi alasan generasi baru pertanian sulit tercipta. Pendapat yang berbeda disampaikan oleh (Kovych et al. , 2. bahwa akses lahan . mempengaruhi minat petani muda bekerja pada bidang pertanian, petani muda cenderung menganggap bahwa status sebagai petani menggarap menghasilkan pendapatan yang lebih sedikit dikarenakan harus berbagi hasil dengan pemilik lahan. Hal ini sesuai dengan temuan penelitian bahwa 93% petani berstatus sebagai petani penggarap dan tidak memiliki generasi pelanjut untuk bekerja pada bidang pertanian sebagai penerus usaha keluarga. Selain peran internal keluarga petani, pandangan generasi muda juga menjadi salah satu penyebab tidak tertariknya angkatan kerja saat ini dengan pertanian, banyak yang memandang pertanian tidak mampu dijadikan sebagai sumber penghasilan utama dan membutuhkan pekerjaan fisik yang melelahkan, penelitian (Nawawi et al. , 2. menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal yang menjadi penyebab fenomena tidak tertariknya pemuda dalam pertanian, faktor internal berupa pandangan orang tua dan masyarakat umumnya yang menganggap bahwa profesi sebagai petani tidak menjamin masa depan yang cerah serta dianggap kurang bergengsi dan pekerjaan kantoran lebih bisa menjamin masa depan. Di samping itu peran generasi muda dalam pertanian punya peran yang sangat penting saat sekarang ini, pemuda dengan modal pengetahuan mengenai teknologi dapat membantu percepatan modernisasi dalam pertanian ke arah yang lebih baik. Regenerasi petani mempengaruhi modernisasi pertanian, hal ini disebabkan karena akrabnya pemuda dengan teknologi serta mampu berinovasi (Marpaung & Bangun, 2. Alih Fungsi Lahan Pertanian di Kota Gorontalo Tingginya jumlah lahan pertanian di perkotaan yang beralih fungsi menjadi lahan non pertanian salah satunya disebabkan oleh perkembangan pembangunan infrastruktur, baik untuk kebutuhan publik, perumahan ataupun perusahaan. Kaitan dengan alih fungsi lahan salah satu petani informan penelitian menyampaikan bahwa: Ausaya hanya penggarap, tetapi pemilik tanah pernah memberitahukan bahwa sawah ini akan dialihfungsikan menjadi perumahanAy Status petani penggarap membatasi akses petani terhadap lahan yang digarap, keputusan mengalihfungsikan lahan pertanian ke non pertanian sepenuhnya dipegang oleh pemilik lahan. Hal tersebut semakin menambah kerentanan petani perkotaan di Kota Gorontalo. Hasil penelitian (Pratomo & Wijayanti. Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Syamsir et al. menyimpulkan bahwa penyebab alih fungsi lahan yang terjadi disebabkan oleh pendapatan petani dan tingginya harga jual lahan. Gambar 3. Potret Udara Salah Satu Lahan Pertanian di Kecamatan Kota Utara. Kota Gorontalo Gambar 3 memberikan gambaran alih fungsi lahan yang terjadi, selain perumahan beberapa lahan pertanian juga digunakan sebagai lahan pembangunan gedung perkantoran dan tempat usaha. Hal demikian terjadi karena tingginya nilai tawar dari lahan pertanian tersebut yang disebabkan oleh kebutuhan akan lahan yang terus meningkat. Alih fungsi lahan ini terjadi pada banyak titik di Kota Gorontalo, dengan berbagai macam peruntukan, jika fenomena ini terus berlangsung maka luasan lahan pertanian akan terus mengalami penurunan, yang berimplikasi pada pemenuhan kebutuhan pangan dan hilangnya lahan garapan petani di Kota Gorontalo. Pesatnya pertumbuhan daerah perkotaan dan tingginya laju pertumbuhan penduduk menyebabkan kebutuhan akan lahan semakin meninggi pula (Hidayat et al. , 2. Salah satu petani informan dengan status pemilik lahan menyampaikan bahwa AuJika harga cocok atau tinggi saya akan menjual lahan ini tapi itu juga saya akan diskusikan dengan petani yang sering membantu saya menggarap lahan iniAy. Alih fungsi lahan pertanian di Kota Gorontalo terus mengalami penurunan berdasarkan data (BPS, 2. luasan lahan sawah di Kota Gorontalo tahun 2017 seluas 843 Ha dan terus mengalami penurunan luasan hingga Tahun 2023 tersisa 761 Ha. Penurunan luasa lahan pertanian secara langsung berdampak pada turunnya produksi pangan di Kota Gorontalo. Salah satu informan penelitian dari pejabat pada dinas pertanian Kota Gorontalo terkait alih fungsi lahan pertanian menyatakan bahwa Auadanya alih fungsi lahan di Kota Gorontalo menurut saya pribadi tidak setuju, karena mengakibatkan angka produksi dan produktivitas menurun dan ketersediaan lahan di Kota Gorontalo berkurangAy. Dampak dari alih fungsi lahan selain berkurangnya angka produksi dan ketersediaan lahan, yaitu hilangnya pekerjaan atau mata pencaharian petani penggarap, bahkan beberapa petani informan menyampaikan akan berhenti menjadi petani jika lahan yang digarap sekarang dijual oleh pemilik atau beralih fungsi menjadi lahan non pertanian. Berikut data jawaban petani informan dengan status petani penggarap jika lahan yang diolah beralih fungsi atau dijual. Respon Petani Informan Penelitian bertani di tempat lain berhenti menjadi petani Gambar 4. Tabulasi Jawaban Informan penelitian jika lahan garapan beralihfungsi menjadi lahan non pertanian Diterbitkan oleh. Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa Jurnal Agrisistem : Sosek dan Penyuluhan. Volume 21 Nomor 2. Desember 2025 Syamsir et al. Gambar 4 memberikan gambaran pekerjaan informan penelitian setelah lahan beralih fungsi, 15 informan memutuskan berhenti untuk bertani dan mencari pekerjaan di luar pertanian namun beberapa menyampaikan akan terus bertani jika mendapatkan lahan garapan yang baru, 13 informan masih tetap bertani karena masih punya lahan garapan di luar wilayah Kota Gorontalo, data pada gambar 4 menunjukkan dampak alih fungsi lahan jika terjadi pada lahan garapan petani, sebagian besar petani akan berhenti bekerja pada bidang pertanian karena tidak memiliki lahan lain untuk dikelola. Dengan demikian hal tersebut semakin memperkuat kerentanan pertanian perkotaan di samping tidak terciptanya regenerasi petani dalam keluarga petani. Hasil penelitian (Mk et al. , 2. juga menyampaikan bahwa tidak sedikit petani yang berhenti menjadi petani atau bekerja di luar pertanian setelah lahan yang digarap beralihfungsi menjadi lahan non pertanian. Jika dilihat dari data yang disajikan pada tabel 1 modal pengalaman bertani yang dimiliki oleh informan sangat besar, rata Ae rata pengalaman yang dimiliki oleh 30 informan penelitian yaitu 26 Tahun. Pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari selama ini akan terhenti jika mereka berhenti menjadi Informan penelitian dari dinas pertanian Kota Gorontalo menyampaikan bahwa Ausolusi yang akan dilakukan mengenai alih fungsi lahan yang terus berlangsung yaitu dengan melakukan pendampingan secara intens kepada petani untuk meningkatkan hasil produksi sehingga dapat menekan niat atau minat pemilik lahan untuk menjual lahannya, sebenarnya juga sudah ada kebijakan sebagai upaya dari pemerintah mengenai alih fungsi lahan serta prosedurnya, terutama lahan sawah irigasiAy. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian berdampak pada menurunnya luasan lahan pertanian dan produksi, selain itu dampak langsung dari alih fungsi lahan terhadap petani di Kota Gorontalo yaitu hilangnya lahan garapan petani sebagai sumber penghasilan. Petani tidak punya akses penuh terhadap lahan yang digarap karena dibatasi penguasaan lahan yang hanya sebagai penggarap. Demikian halnya dengan regenerasi petani, yang berdasarkan hasil penelitian memberi gambaran bahwa dari 30 informan penelitian, terdapat 26 petani yang memiliki peluang terputusnya generasi petani dalam keluarga, beberapa faktor penyebab seperti kurangnya ketertarikan anggota keluarga untuk melanjutkan usahatani keluarga dan anggapan bahwa pertanian tidak menjamin masa depan sebagai mata pencaharian. Beberapa petani memiliki pekerjaan lain pada bidang non pertanian namun masih tergolong pendapatan tidak tetap karena petani juga dibatasi oleh sumberdaya manusia yang dimiliki. Dibutuhkan jalan keluar dari dampak adanya fenomena alih fungsi lahan, baik solusi dari berkurangnya luasan lahan ataupun solusi bagi keluarga petani yang kehilangan lahan garapan, dibutuhkan kerjasama berbagai pihak termasuk kebijakan Ae kebijakan pada bidang pembangunan pertanian yang juga memperhatikan keluarga petani sebagai obyek yang juga menerima dampak yang sangat berpengaruh terhadap penghidupan keluarganya. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih peneliti ucapkan sebesar - besarnya kepada informan penelitian yang bersedia berkontribusi dalam penelitian ini, terutama kepada petani perkotaan yang ada di Kota Gorontalo, terima kasih juga kepada pihak dinas pertanian Kota Gorontalo dan semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini. Terima kasih pula peneliti ucapkan kepada Lembaga Penelitian (Lemlit Unisa. sebagai lembaga internal kampus yang mewadahi semua dosen dan penelitian di Universitas Ichsan Gorontalo, dan terima kasih peneliti ucapkan kepada Kemdikbudristek yang telah memberikan anggaran dan mewadahi berlangsungnya penelitian ini denga nomor SK 0667/E5/AL. 04/2024. DAFTAR PUSTAKA