El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam STRATEGI GURU DALAM MEMBENTUK KEDISIPLINAN SISWA MELALUI PEMBIASAAN DAN KETELADANAN DI SMP MUKHTARUL AoADALAH BOGOR Nurhadi1*. Rifqi Hafizh Amrullah2. Masfarwati Muslim3 1,2,3 Prodi Manajemen Pendidikan Islam. STAI Al-Qudwah Depok. Indonesia *Korespodensi: caknur@staiq. ABSTRACK This research was motivated by the still low level of discipline among junior high school students in an Islamic-based school. This condition poses a challenge in developing studentsAo disciplinary character in a sustainable manner. The study aims to analyze teachersAo strategies in fostering student discipline through habituation and role modeling. The research employed a qualitative approach with a case study design conducted at SMP Mukhtarul AoAdalah Kemang Bogor. Research data were collected through observations, interviews, and documentation involving the principal, foundation chairman, teachers, homeroom teachers, and students as research informants. Data analysis was carried out through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study indicate that the development of student discipline is implemented through the habituation of positive behavior, teacher role modeling, continuous supervision, a humanistic approach, and the integration of religious activities into daily school Teacher role modeling becomes an important factor in building studentsAo awareness of discipline because students tend to imitate the behaviors demonstrated by their teachers. This study contributes to the development of character education studies by emphasizing that the formation of student discipline requires the integration of school culture, educatorsAo role modeling, and character building based on religious values. Keywords: Student Discipline. Teacher Role Modeling. Habituation. Character Education. Islamic-Based School ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya tingkat kedisiplinan siswa sekolah menengah pertama di Sekolah berbasis islam. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam membentuk karakter disiplin siswa secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru dalam membentuk kedisiplinan siswa melalui pembiasaan dan keteladanan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan di SMP Mukhtarul AoAdalah Kemang Bogor. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan kepala sekolah, ketua yayasan, guru, wali kelas, serta siswa sebagai informan penelitian. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan kedisiplinan siswa dilakukan melalui Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam pembiasaan perilaku positif, keteladanan guru, pengawasan yang berkelanjutan, pendekatan humanis, serta integrasi kegiatan religius dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Keteladanan guru menjadi faktor penting dalam membangun kesadaran disiplin siswa karena siswa cenderung meniru perilaku yang dicontohkan oleh guru. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian pendidikan karakter dengan menegaskan bahwa pembentukan disiplin siswa memerlukan integrasi antara budaya sekolah, keteladanan pendidik, dan pembinaan karakter berbasis nilai-nilai religius. Kata Kunci: Kedisiplinan Siswa. Keteladanan Guru. Pembiasaan. Pendidikan Karakter. Sekolah Berbasis Islam PENDAHULUAN Kedisiplinan siswa merupakan salah satu indikator penting dalam keberhasilan proses pendidikan karena berkaitan langsung dengan pembentukan karakter, efektivitas pembelajaran, dan terciptanya lingkungan sekolah yang Dalam konteks pendidikan modern, disiplin tidak lagi dipahami sematamata sebagai kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga sebagai bentuk kemampuan pengendalian diri, tanggung jawab sosial, serta kesadaran moral peserta didik dalam menjalankan kewajibannya sebagai pelajar. Fenomena menurunnya kedisiplinan siswa masih menjadi persoalan yang banyak ditemukan di berbagai jenjang pendidikan, termasuk pada tingkat sekolah menengah pertama. Bentuk pelanggaran disiplin yang sering muncul antara lain keterlambatan hadir ke sekolah, ketidakpatuhan terhadap tata tertib, penggunaan gawai saat pembelajaran berlangsung, rendahnya tanggung jawab terhadap tugas akademik, hingga perilaku kurang menghargai proses pembelajaran di kelas. Kondisi tersebut mengalami peningkatan kompleksitas pada era digital akibat tingginya intensitas penggunaan media sosial dan lemahnya kontrol terhadap perilaku belajar siswa di lingkungan sekolah maupun keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya disiplin siswa dapat berdampak terhadap penurunan motivasi belajar, kualitas interaksi pembelajaran, serta perkembangan karakter peserta didik secara keseluruhan (Utomo & Setyadi, 2. Selain itu, pendidikan karakter berbasis disiplin menjadi salah satu prioritas utama dalam sistem pendidikan Indonesia karena berkaitan dengan pembentukan generasi yang bertanggung jawab, mandiri, dan berintegritas (Aulia et al. , 2. Dalam konteks pendidikan Islam, kedisiplinan tidak hanya diposisikan sebagai aturan institusional, tetapi juga sebagai bagian dari internalisasi nilai moral dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari siswa (Hidayat et al. , 2. Meskipun berbagai kebijakan penguatan pendidikan karakter telah diterapkan di sekolah, implementasi pembentukan disiplin siswa dalam praktik pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan empiris. Sejumlah penelitian sebelumnya cenderung berfokus pada aspek normatif pendidikan karakter atau menempatkan guru hanya sebagai pelaksana aturan sekolah, sehingga belum banyak mengungkap secara mendalam bagaimana strategi guru dibangun melalui pembiasaan dan keteladanan dalam konteks keseharian pendidikan di sekolah berbasis Islam. Penelitian tentang kedisiplinan siswa juga umumnya dilakukan pada Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam jenjang sekolah dasar atau hanya menyoroti peran guru secara umum tanpa mengeksplorasi dinamika sosial dan kultural yang memengaruhi keberhasilan pembentukan disiplin siswa pada tingkat sekolah menengah pertama. Di sisi lain, perubahan perilaku generasi digital menyebabkan pendekatan disiplin konvensional tidak lagi sepenuhnya efektif apabila tidak dibarengi dengan strategi pembinaan yang bersifat humanis, persuasif, dan berbasis keteladanan. Guru dituntut tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga figur moral yang mampu membangun budaya disiplin secara konsisten melalui interaksi sehari-hari dengan Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pembentukan karakter disiplin siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas keteladanan guru, pembiasaan perilaku positif, pengawasan berkelanjutan, serta sinergi antara sekolah dan keluarga (Hasibuan et al. , 2. Namun demikian, masih terdapat keterbatasan kajian yang secara spesifik mengkaji strategi guru dalam membentuk disiplin siswa di sekolah berbasis Islam dengan pendekatan studi kasus kualitatif yang mendalam. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang mampu menjelaskan praktik pembentukan kedisiplinan siswa secara kontekstual agar dapat memberikan kontribusi teoritis maupun praktis terhadap pengembangan pendidikan karakter di sekolah Islam. Secara konseptual, penelitian ini berpijak pada paradigma pendidikan karakter yang menempatkan guru sebagai agen utama dalam proses internalisasi nilai kedisiplinan kepada peserta didik. Pembentukan karakter disiplin dalam lingkungan sekolah dapat dilakukan melalui proses pembiasaan, penguatan perilaku positif, pengawasan, pemberian teladan, serta penciptaan budaya sekolah yang mendukung perilaku tertib dan bertanggung jawab. Dalam perspektif social learning theory, perilaku disiplin siswa terbentuk melalui proses observasi dan imitasi terhadap figur yang dianggap memiliki otoritas atau keteladanan, termasuk guru sebagai aktor sentral dalam pembelajaran sosial siswa. Oleh sebab itu, keteladanan guru memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan perilaku disiplin peserta didik karena siswa cenderung meniru perilaku yang mereka lihat secara langsung dalam lingkungan sekolah. Selain itu, pendekatan pembiasaan juga menjadi strategi penting dalam pendidikan karakter karena perilaku yang dilakukan secara berulang akan berkembang menjadi kebiasaan dan nilai personal dalam diri Penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa pembentukan karakter disiplin yang efektif memerlukan integrasi antara pembiasaan perilaku positif, penguatan aturan sekolah, dan keteladanan guru secara konsisten (Maulana, 2. Dalam konteks pendidikan Islam, strategi pembiasaan dan keteladanan memiliki relevansi yang kuat karena pendidikan tidak hanya bertujuan mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak dan perilaku sosial peserta didik melalui contoh nyata yang diberikan oleh pendidik (Malik & Sunardi, 2. Dengan demikian, kedisiplinan siswa dipahami bukan sekadar kepatuhan administratif terhadap tata tertib sekolah, melainkan sebagai proses pembentukan karakter yang berlangsung secara terusmenerus melalui interaksi pendidikan di lingkungan sekolah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru dalam membentuk kedisiplinan siswa melalui pembiasaan dan keteladanan di SMP berbasis Islam, khususnya di SMP Mukhtarul AoAdalah Kemang Bogor. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk strategi pembinaan disiplin yang diterapkan guru, faktor-faktor yang Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam memengaruhi keberhasilan pembentukan disiplin siswa, serta hambatan yang dihadapi guru dalam proses pembinaan karakter disiplin di lingkungan sekolah. Adapun pertanyaan penelitian yang dikembangkan dalam penelitian ini meliputi: bagaimana strategi guru dalam membentuk kedisiplinan siswa melalui pembiasaan dan keteladanan. bagaimana implementasi pembiasaan dan keteladanan dalam kehidupan sekolah sehari-hari. faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pembentukan karakter disiplin siswa di sekolah berbasis Islam. Fokus penelitian tersebut dipandang penting karena pembentukan disiplin siswa tidak dapat dilepaskan dari kualitas interaksi pendidikan antara guru dan peserta didik, terutama dalam konteks sekolah Islam yang menempatkan pendidikan karakter sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada upaya menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai strategi pembentukan disiplin siswa melalui pendekatan pembiasaan dan keteladanan dalam konteks sekolah menengah pertama berbasis Islam. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih banyak menyoroti disiplin sebagai implementasi tata tertib sekolah atau fungsi kontrol perilaku siswa, penelitian ini menempatkan guru sebagai aktor utama pembentuk kultur disiplin melalui praktik keseharian yang bersifat edukatif dan persuasif. Penelitian ini juga memberikan kontribusi konseptual terhadap pengembangan kajian pendidikan karakter dengan menekankan hubungan antara keteladanan guru, pembiasaan perilaku, dan pembentukan budaya disiplin sekolah dalam konteks pendidikan Islam. Selain itu, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan praktis bagi sekolah dalam mengembangkan strategi pembinaan disiplin siswa yang lebih humanis, kontekstual, dan adaptif terhadap tantangan pendidikan era digital. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini diharapkan mampu memperkaya literatur mengenai implementasi pendidikan karakter disiplin di sekolah Islam sekaligus memperkuat kajian empiris tentang peran strategis guru dalam membangun budaya disiplin siswa secara berkelanjutan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian bertujuan memahami secara mendalam fenomena sosial yang berkaitan dengan strategi guru dalam membentuk kedisiplinan siswa melalui pembiasaan dan keteladanan pada konteks alamiah sekolah berbasis Islam. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman komprehensif mengenai pengalaman, perilaku, interaksi, dan makna yang dibangun oleh subjek penelitian dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Pendekatan studi kasus digunakan karena penelitian difokuskan pada satu kasus tertentu, yaitu praktik pembentukan kedisiplinan siswa di SMP Mukhtarul AoAdalah Kemang Bogor, sehingga peneliti dapat mengeksplorasi fenomena secara mendalam, kontekstual, dan holistik. Studi kasus dalam penelitian pendidikan digunakan untuk memahami dinamika sosial, perilaku, serta proses implementasi kebijakan atau strategi pendidikan dalam setting tertentu secara detail dan sistematis (Merriam & Grenier, 2. Pendekatan ini juga relevan digunakan dalam penelitian pendidikan karakter karena memungkinkan peneliti menelaah praktik pembiasaan dan keteladanan secara langsung dalam interaksi sosial antara Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam guru dan siswa di lingkungan sekolah (Hamilton & Finley, 2. Selain itu, penelitian kualitatif dengan desain studi kasus dinilai efektif untuk mengungkap realitas empiris mengenai strategi guru dalam membangun budaya disiplin siswa yang tidak dapat diukur hanya melalui pendekatan kuantitatif (Aspers & Corte. Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh guru dan karyawan sekolah yang berada di lingkungan SMP Mukhtarul AoAdalah Kemang Bogor. Adapun penentuan informan penelitian dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu sesuai kebutuhan penelitian. Teknik purposive sampling dalam penelitian kualitatif digunakan untuk memilih individu yang dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman, dan keterlibatan langsung terhadap fenomena yang diteliti sehingga mampu memberikan informasi yang mendalam dan relevan (Campbell et al. , 2. Informan utama dalam penelitian ini terdiri atas kepala sekolah, ketua yayasan pesantren dan SMP, guru, wali kelas, serta beberapa siswa yang dipilih berdasarkan keterlibatan mereka dalam proses pembinaan disiplin di sekolah. Kepala sekolah dan ketua yayasan dipilih karena memiliki peran dalam penyusunan kebijakan dan budaya disiplin sekolah, sedangkan guru dan wali kelas dipilih karena berinteraksi langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran dan pembinaan karakter seharihari. Sementara itu, siswa dipilih untuk memperoleh perspektif mengenai implementasi pembiasaan dan keteladanan guru dalam membentuk perilaku disiplin di lingkungan sekolah. Pemilihan informan dilakukan secara bertahap hingga data yang diperoleh mencapai tingkat kejenuhan informasi . ata saturatio. , yaitu kondisi ketika data tambahan tidak lagi menghasilkan informasi baru yang signifikan dalam penelitian (Hennink & Kaiser, 2. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara langsung di lingkungan sekolah untuk mengamati perilaku disiplin siswa, interaksi antara guru dan siswa, implementasi tata tertib sekolah, serta praktik pembiasaan dan keteladanan yang diterapkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Observasi dalam penelitian kualitatif memungkinkan peneliti memperoleh data empiris mengenai perilaku sosial dan aktivitas subjek penelitian secara natural tanpa manipulasi situasi penelitian (Busetto et al. , 2. Selain observasi, penelitian ini juga menggunakan wawancara mendalam . n-depth intervie. untuk menggali informasi mengenai strategi guru, hambatan pembinaan disiplin, bentuk keteladanan yang diterapkan, serta persepsi informan terhadap efektivitas pembentukan karakter disiplin siswa. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur agar peneliti memiliki fleksibilitas dalam mengeksplorasi jawaban informan sesuai konteks penelitian. Teknik wawancara semi-terstruktur dinilai efektif dalam penelitian pendidikan karena memungkinkan terjadinya eksplorasi pengalaman dan interpretasi sosial informan secara lebih mendalam (Kallio et al. , 2. Teknik dokumentasi digunakan untuk melengkapi dan memperkuat data penelitian melalui pengumpulan dokumen seperti tata tertib sekolah, arsip pelanggaran siswa, foto kegiatan pembiasaan, jadwal kegiatan sekolah, serta dokumen administratif lain yang relevan dengan penelitian. Penggunaan berbagai teknik pengumpulan data tersebut dilakukan untuk Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam meningkatkan kedalaman informasi sekaligus memperkuat validitas data melalui triangulasi sumber dan metode (Fusch et al. , 2. Keabsahan data dalam penelitian ini dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari kepala sekolah, guru, wali kelas, siswa, dan pihak yayasan untuk memperoleh konsistensi data penelitian. Sementara itu, triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sehingga data yang diperoleh dapat saling melengkapi dan memperkuat temuan penelitian. Selain triangulasi, peneliti juga menerapkan teknik member checking dengan mengonfirmasi hasil wawancara kepada informan guna memastikan kesesuaian interpretasi data dengan pengalaman yang dimaksud oleh informan penelitian. Penerapan triangulasi dan member checking merupakan strategi penting dalam menjaga kredibilitas penelitian kualitatif karena dapat meminimalkan bias interpretasi dan meningkatkan kepercayaan terhadap hasil penelitian (Stahl & King, 2. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, peneliti melakukan proses pemilihan, penyederhanaan, pengelompokan, dan pemfokusan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sesuai fokus penelitian mengenai strategi guru dalam membentuk kedisiplinan siswa. Reduksi data dilakukan secara berkelanjutan sejak awal pengumpulan data hingga penelitian selesai agar data yang diperoleh lebih terorganisasi dan relevan dengan tujuan penelitian. Tahap berikutnya adalah penyajian data, yaitu menyusun data dalam bentuk narasi deskriptif, matriks tematik, dan pengelompokan kategori sehingga memudahkan peneliti memahami hubungan antar temuan penelitian. Penyajian data dalam penelitian kualitatif berfungsi membantu peneliti mengidentifikasi pola, tema, dan keterkaitan antar fenomena sosial yang ditemukan selama penelitian berlangsung (Miles et al. , 2. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi data melalui interpretasi makna, pencarian pola hubungan, serta pengecekan konsistensi data hasil Kesimpulan dalam penelitian ini dibangun secara induktif berdasarkan temuan empiris yang diperoleh dari lapangan sehingga mampu menggambarkan secara komprehensif strategi guru dalam membentuk kedisiplinan siswa melalui pembiasaan dan keteladanan di sekolah berbasis Islam. Dalam proses analisis, peneliti menggunakan bantuan pencatatan digital dan pengelompokan data tematik secara manual untuk mempermudah proses kategorisasi, interpretasi, dan pengorganisasian data penelitian. HASIL PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan kedisiplinan siswa di SMP Mukhtarul AoAdalah Kemang Bogor dilakukan melalui strategi pembiasaan dan keteladanan yang diterapkan secara berkelanjutan dalam aktivitas pendidikan sehari-hari. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala sekolah, guru, wali kelas, dan siswa, ditemukan bahwa kedisiplinan diposisikan sebagai bagian penting dari pembentukan karakter siswa di lingkungan sekolah berbasis Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Islam. Implementasi disiplin tidak hanya diwujudkan melalui penerapan tata tertib sekolah, tetapi juga melalui pembiasaan perilaku tertib yang dilakukan secara rutin sejak siswa memasuki lingkungan sekolah hingga kegiatan pembelajaran selesai. Beberapa bentuk pembiasaan yang diterapkan meliputi pembiasaan datang tepat waktu, penggunaan seragam sesuai ketentuan, pelaksanaan kegiatan keagamaan secara teratur, pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan sekolah, pembiasaan memberi salam kepada guru, serta pembiasaan mengikuti proses pembelajaran secara tertib di dalam kelas. Hasil observasi menunjukkan bahwa guru secara aktif mengingatkan siswa mengenai pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan arahan secara langsung ketika terjadi pelanggaran tata tertib sekolah. Dokumentasi sekolah juga memperlihatkan adanya aturan tertulis mengenai tata tertib siswa, jadwal kegiatan harian, serta bentuk pembinaan disiplin yang diterapkan di lingkungan sekolah. Praktik pembiasaan tersebut dilakukan secara konsisten sebagai bagian dari kultur sekolah Islam yang menekankan keteraturan, tanggung jawab, dan pembentukan akhlak siswa. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembiasaan perilaku positif secara konsisten dapat mendukung terbentuknya karakter disiplin siswa dalam lingkungan pendidikan formal (Suryana et al. , 2. Hasil wawancara dengan guru dan wali kelas menunjukkan bahwa keteladanan guru menjadi strategi utama dalam membentuk kedisiplinan siswa. Guru berupaya menunjukkan perilaku disiplin melalui tindakan nyata seperti datang tepat waktu ke sekolah, berpakaian rapi sesuai aturan, melaksanakan tugas mengajar secara konsisten, menjaga tutur kata, serta mematuhi tata tertib sekolah. Berdasarkan pengamatan di lapangan, siswa cenderung lebih mudah mengikuti aturan ketika guru memberikan contoh perilaku disiplin secara langsung dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Kepala sekolah menyampaikan bahwa pembentukan disiplin siswa tidak cukup dilakukan melalui pemberian aturan atau hukuman semata, tetapi memerlukan keteladanan yang terus-menerus dari seluruh tenaga Selain itu, guru juga membangun pendekatan persuasif dengan memberikan nasihat, motivasi, dan arahan kepada siswa yang melakukan pelanggaran disiplin. Hasil wawancara dengan beberapa siswa menunjukkan bahwa mereka lebih menghormati guru yang dianggap mampu memberikan contoh baik dibandingkan guru yang hanya menekankan aturan tanpa menunjukkan perilaku disiplin dalam praktik sehari-hari. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa interaksi yang baik antara guru dan siswa mempermudah proses pembinaan disiplin karena siswa merasa diperhatikan dan dibimbing secara personal oleh guru. Penelitian lain mengungkapkan bahwa keteladanan guru memiliki hubungan kuat dengan pembentukan karakter dan perilaku disiplin siswa di lingkungan sekolah (Rahmawati & Nugroho, 2. Selain pembiasaan dan keteladanan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan dan pengendalian perilaku siswa dilakukan secara intensif oleh guru dan pihak sekolah. Pengawasan dilakukan sejak siswa datang ke sekolah hingga proses pembelajaran selesai. Guru piket dan wali kelas memiliki peran dalam memantau kehadiran siswa, ketepatan penggunaan atribut sekolah, serta perilaku siswa selama kegiatan belajar berlangsung. Berdasarkan hasil observasi, guru memberikan teguran langsung kepada siswa yang datang terlambat, tidak Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam mengenakan seragam sesuai ketentuan, berbicara saat pembelajaran berlangsung, atau menggunakan gawai di dalam kelas tanpa izin. Teguran dilakukan secara bertahap mulai dari teguran lisan, pembinaan personal, hingga pemanggilan orang tua apabila pelanggaran dilakukan secara berulang. Dokumentasi sekolah menunjukkan adanya pencatatan terhadap pelanggaran disiplin siswa sebagai bentuk pengawasan dan evaluasi perilaku siswa selama berada di lingkungan Dalam beberapa kasus, guru juga melakukan pendekatan individual kepada siswa untuk mengetahui faktor penyebab pelanggaran disiplin yang Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengawasan yang konsisten dan pendekatan personal dapat membantu meningkatkan kepatuhan siswa terhadap aturan sekolah (Fitriyani et al. , 2. ttps://jurnal. php/tarbawi/article/view/7. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kedisiplinan siswa di sekolah. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan wali kelas, faktor internal yang memengaruhi perilaku disiplin siswa meliputi rendahnya kesadaran diri, kurangnya motivasi belajar, serta kondisi emosional siswa yang belum stabil pada usia remaja. Sementara itu, faktor eksternal meliputi pengaruh lingkungan keluarga, pergaulan teman sebaya, penggunaan media sosial, serta kurangnya pengawasan orang tua di rumah. Guru menyampaikan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan menjadi salah satu tantangan utama dalam pembinaan disiplin siswa karena menyebabkan siswa kurang fokus dalam pembelajaran dan sering mengabaikan aturan sekolah. Hasil observasi menunjukkan bahwa beberapa siswa masih membawa telepon genggam ke dalam kelas dan mencoba menggunakannya saat pembelajaran berlangsung. Selain itu, terdapat siswa yang datang terlambat karena kurangnya kontrol dari lingkungan keluarga terhadap waktu belajar dan aktivitas sehari-hari siswa. Kepala sekolah menjelaskan bahwa pembentukan disiplin siswa memerlukan kerja sama antara sekolah dan keluarga agar pembinaan karakter dapat berjalan secara Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa lingkungan keluarga dan kontrol penggunaan media digital memiliki pengaruh terhadap pembentukan perilaku disiplin siswa pada usia sekolah menengah pertama (Prasetyo et al. , 2. Berdasarkan hasil observasi lapangan, sekolah juga menerapkan berbagai kegiatan keagamaan sebagai bagian dari pembentukan disiplin siswa di lingkungan sekolah berbasis Islam. Kegiatan tersebut meliputi salat berjamaah, pembacaan doa sebelum dan sesudah pembelajaran, pembiasaan membaca Al-QurAoan, serta kegiatan pembinaan akhlak yang dilakukan secara rutin. Guru menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan religiusitas siswa, tetapi juga melatih keteraturan, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap aturan bersama. Dokumentasi sekolah memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan menjadi bagian dari jadwal rutin harian siswa dan dilaksanakan dengan pengawasan guru secara langsung. Berdasarkan wawancara dengan siswa, sebagian besar siswa memahami bahwa disiplin merupakan bagian dari ajaran agama yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa budaya religius di sekolah Islam dapat mendukung pembentukan karakter disiplin dan perilaku sosial positif siswa (Nugraha et al. , 2. Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengalami beberapa hambatan dalam proses pembentukan kedisiplinan siswa. Hambatan tersebut meliputi perbedaan karakter siswa, rendahnya kesadaran sebagian siswa terhadap pentingnya disiplin, pengaruh lingkungan luar sekolah, serta kurang optimalnya dukungan keluarga dalam pembinaan perilaku siswa. Guru menyampaikan bahwa terdapat siswa yang cenderung sulit diarahkan dan sering mengulangi pelanggaran disiplin meskipun telah diberikan pembinaan. Selain itu, perkembangan teknologi dan media sosial menyebabkan siswa lebih mudah terdistraksi sehingga memengaruhi konsentrasi belajar dan kepatuhan terhadap aturan sekolah. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa guru membutuhkan kerja sama yang lebih intensif dengan orang tua dalam mengawasi perilaku siswa di luar lingkungan Beberapa wali kelas menyampaikan bahwa pembinaan disiplin akan lebih efektif apabila terdapat kesinambungan antara aturan sekolah dan pola pengasuhan di rumah. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keberhasilan pembentukan disiplin siswa dipengaruhi oleh kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial siswa (Fadillah et al. , 2. Temuan penelitian lainnya menunjukkan bahwa pendekatan humanis menjadi salah satu strategi yang diterapkan guru dalam membina kedisiplinan Guru tidak hanya memberikan hukuman terhadap pelanggaran disiplin, tetapi juga berupaya memahami kondisi siswa dan memberikan pembinaan secara Berdasarkan hasil wawancara, guru lebih mengutamakan pendekatan nasihat, motivasi, dan komunikasi interpersonal sebelum memberikan sanksi kepada siswa. Observasi di lingkungan sekolah menunjukkan bahwa guru berusaha menjaga hubungan yang baik dengan siswa agar proses pembinaan berjalan lebih Dalam beberapa kasus, guru melakukan dialog langsung dengan siswa untuk mengetahui alasan keterlambatan, pelanggaran aturan, atau penurunan motivasi belajar yang dialami siswa. Pendekatan tersebut dilakukan agar siswa tidak merasa ditekan, tetapi tetap memahami pentingnya mematuhi aturan sekolah. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pendekatan humanis dalam pendidikan dapat meningkatkan kesadaran disiplin siswa dan memperkuat hubungan positif antara guru dan peserta didik (Lestari et al. , 2. Berdasarkan hasil dokumentasi dan observasi, sekolah juga menerapkan sistem pembinaan disiplin secara kolektif melalui keterlibatan seluruh guru dan tenaga kependidikan. Kepala sekolah menegaskan bahwa pembentukan disiplin siswa bukan hanya menjadi tanggung jawab wali kelas atau guru tertentu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh unsur sekolah. Guru piket, guru mata pelajaran, staf sekolah, dan pihak yayasan turut terlibat dalam menjaga keteraturan lingkungan sekolah dan mengawasi perilaku siswa. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa koordinasi antar guru dilakukan untuk memantau perkembangan perilaku siswa dan menentukan langkah pembinaan terhadap siswa yang melakukan pelanggaran disiplin secara berulang. Selain itu, sekolah juga melibatkan orang tua melalui komunikasi langsung ketika terjadi pelanggaran tertentu yang memerlukan perhatian khusus. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa budaya disiplin sekolah lebih mudah terbentuk apabila terdapat keterlibatan kolektif seluruh warga sekolah dalam proses pembinaan karakter siswa (Widodo et , 2. Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa menunjukkan perubahan perilaku disiplin setelah mengikuti pembiasaan dan pembinaan yang diterapkan sekolah secara rutin. Berdasarkan hasil wawancara, siswa mulai terbiasa datang tepat waktu, mengikuti kegiatan sekolah secara tertib, serta lebih menghargai aturan yang berlaku di lingkungan sekolah. Guru juga menyampaikan bahwa tingkat pelanggaran disiplin tertentu mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya, terutama terkait keterlambatan dan ketidakpatuhan terhadap atribut Hasil observasi menunjukkan bahwa suasana pembelajaran di kelas relatif lebih tertib ketika guru menerapkan pendekatan disiplin secara konsisten dan memberikan contoh perilaku yang baik kepada siswa. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembiasaan dan keteladanan yang dilakukan secara terusmenerus dapat memengaruhi pembentukan perilaku disiplin siswa secara positif dalam lingkungan pendidikan (Kurniawan et al. , 2. 2 Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru dalam membentuk kedisiplinan siswa di SMP Mukhtarul AoAdalah Kemang Bogor dilaksanakan melalui dua pendekatan utama, yaitu pembiasaan dan keteladanan yang diterapkan secara konsisten dalam aktivitas pendidikan sehari-hari. Temuan ini menegaskan bahwa pembentukan kedisiplinan siswa tidak hanya bergantung pada penerapan aturan formal sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi sosial, budaya sekolah, dan perilaku guru sebagai figur sentral dalam proses pendidikan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pembiasaan perilaku disiplin seperti datang tepat waktu, mengikuti kegiatan keagamaan, menaati tata tertib sekolah, dan menjaga keteraturan selama pembelajaran menjadi bagian integral dari pembentukan karakter siswa. Selain itu, keteladanan guru melalui perilaku disiplin, tanggung jawab, dan sikap profesional dalam keseharian sekolah turut membentuk kepatuhan dan kesadaran siswa terhadap pentingnya disiplin. Temuan tersebut selaras dengan tujuan penelitian yang berupaya mengidentifikasi strategi guru dalam membentuk kedisiplinan siswa melalui pembiasaan dan keteladanan di sekolah berbasis Islam. Dalam konteks ini, disiplin tidak hanya dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan sekolah, tetapi juga sebagai proses internalisasi nilai dan pembentukan karakter yang berlangsung secara berkelanjutan. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa pembentukan karakter disiplin memerlukan keterlibatan aktif guru dalam menciptakan budaya sekolah yang mendukung perilaku tertib, tanggung jawab, dan kesadaran moral siswa (Sari et al. , 2. Temuan penelitian ini dapat dipahami melalui perspektif social learning theory yang menekankan bahwa perilaku individu terbentuk melalui proses observasi dan imitasi terhadap figur yang dianggap memiliki otoritas sosial. Dalam konteks pendidikan, guru berperan sebagai model sosial yang diamati dan ditiru oleh siswa dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Ketika guru menunjukkan perilaku disiplin seperti datang tepat waktu, mematuhi aturan sekolah, menjaga tutur kata, dan melaksanakan tugas secara konsisten, siswa cenderung menginternalisasi perilaku tersebut sebagai bagian dari kebiasaan sosial yang layak diikuti. Temuan ini memperlihatkan bahwa keteladanan memiliki posisi strategis dalam pembentukan karakter disiplin siswa karena siswa tidak hanya belajar melalui Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam instruksi verbal, tetapi juga melalui pengalaman sosial dan pengamatan langsung terhadap perilaku guru. Selain itu, pembiasaan perilaku disiplin secara berulang menunjukkan adanya proses habituasi yang memungkinkan nilai disiplin berkembang menjadi budaya sekolah dan karakter personal siswa. Penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa pembiasaan dan modeling merupakan pendekatan efektif dalam pendidikan karakter karena memungkinkan siswa memperoleh pengalaman konkret mengenai perilaku yang diharapkan dalam lingkungan sosial sekolah (Yusuf & Mulyadi, 2. Dalam perspektif pendidikan Islam, temuan penelitian menunjukkan bahwa pembentukan disiplin siswa tidak dipisahkan dari proses internalisasi nilai religius dan akhlak. Pembiasaan kegiatan keagamaan seperti salat berjamaah, pembacaan doa, dan pembinaan akhlak menjadi sarana pembentukan keteraturan, kepatuhan, dan tanggung jawab siswa dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kedisiplinan di sekolah berbasis Islam tidak hanya dipahami sebagai mekanisme pengendalian perilaku, tetapi juga sebagai bagian dari pembentukan moral dan spiritual peserta didik. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pendidikan Islam memiliki orientasi integratif antara pengembangan aspek kognitif, afektif, dan perilaku siswa. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa budaya religius di sekolah dapat berfungsi sebagai instrumen pembentukan karakter disiplin karena aktivitas keagamaan yang dilakukan secara rutin mampu membangun kesadaran moral dan keteraturan perilaku siswa (Fauzi et al. , 2. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengawasan dan pendekatan humanis yang diterapkan guru menjadi bagian penting dalam pembinaan kedisiplinan siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai pengontrol aturan sekolah, tetapi juga sebagai pembimbing yang berupaya memahami kondisi psikologis dan sosial siswa. Pendekatan persuasif melalui nasihat, komunikasi interpersonal, dan pembinaan personal menunjukkan bahwa pembentukan disiplin lebih efektif ketika dilakukan melalui hubungan edukatif yang positif antara guru dan siswa. Temuan ini mengindikasikan adanya perubahan paradigma pembinaan disiplin dari pendekatan represif menuju pendekatan edukatif dan humanistik. Dalam konteks pendidikan modern, strategi disiplin yang menekankan penghargaan terhadap siswa dan penguatan kesadaran internal dianggap lebih efektif dibandingkan penerapan hukuman semata. Penelitian terdahulu menjelaskan bahwa pendekatan humanistik dalam pendidikan dapat meningkatkan motivasi intrinsik siswa untuk mematuhi aturan karena siswa merasa dihargai dan dilibatkan dalam proses pembentukan perilaku positif (Pramono et al. , 2. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa pembentukan kedisiplinan siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang saling berkaitan. Faktor internal seperti rendahnya kesadaran diri, motivasi belajar, dan kontrol emosi siswa memengaruhi tingkat kepatuhan terhadap aturan sekolah. Sementara itu, faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, teman sebaya, penggunaan media sosial, dan perkembangan teknologi turut memengaruhi perilaku disiplin siswa di lingkungan Dalam konteks era digital, penggunaan gawai secara berlebihan menjadi tantangan baru dalam pembentukan disiplin karena menyebabkan siswa lebih mudah terdistraksi dan kurang fokus terhadap pembelajaran. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa perkembangan Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam teknologi digital membawa dampak signifikan terhadap perubahan perilaku belajar dan disiplin siswa, terutama pada jenjang sekolah menengah pertama (Ningrum et , 2. Dibandingkan dengan penelitian terdahulu, penelitian ini menunjukkan beberapa persamaan dan perbedaan. Persamaan utama terletak pada temuan bahwa keteladanan guru dan pembiasaan perilaku positif merupakan faktor penting dalam pembentukan disiplin siswa. Penelitian oleh Hidayati et al. menunjukkan bahwa budaya disiplin sekolah lebih mudah terbentuk ketika guru mampu menjadi role model bagi siswa dalam aktivitas sehari-hari. Namun, penelitian ini memiliki perbedaan karena dilakukan dalam konteks sekolah berbasis Islam dengan penekanan pada integrasi pembiasaan religius dan pendidikan karakter disiplin. Selain itu, penelitian ini tidak hanya menyoroti implementasi tata tertib sekolah, tetapi juga mengeksplorasi dinamika hubungan interpersonal antara guru dan siswa dalam proses pembentukan disiplin. Penelitian lain umumnya lebih banyak berfokus pada efektivitas aturan sekolah atau penerapan punishment sebagai instrumen pengendalian perilaku siswa, sedangkan penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan pembiasaan dan keteladanan lebih dominan digunakan dalam praktik pendidikan di sekolah berbasis Islam. Kontribusi ilmiah penelitian ini terletak pada penguatan perspektif bahwa pembentukan disiplin siswa merupakan proses sosial dan kultural yang berlangsung melalui interaksi keseharian di lingkungan sekolah. Penelitian ini memperluas kajian pendidikan karakter dengan menunjukkan bahwa pembiasaan dan keteladanan tidak hanya berfungsi sebagai strategi pedagogis, tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan budaya sekolah yang mendukung internalisasi nilai disiplin pada siswa. Selain itu, penelitian ini memberikan kontribusi empiris mengenai implementasi pembentukan karakter disiplin dalam konteks sekolah Islam yang memadukan unsur religiusitas, pembiasaan sosial, dan hubungan edukatif antara guru dan siswa. Temuan penelitian ini juga memperlihatkan bahwa keberhasilan pembinaan disiplin memerlukan keterlibatan kolektif seluruh unsur sekolah, termasuk kepala sekolah, guru, wali kelas, dan keluarga siswa. Penelitian sebelumnya menegaskan bahwa budaya sekolah yang kolaboratif memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan implementasi pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal (Ananda et al. , 2. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Penelitian dilakukan pada satu sekolah berbasis Islam sehingga temuan penelitian bersifat kontekstual dan tidak dapat digeneralisasi secara luas pada seluruh sekolah menengah pertama di Indonesia. Selain itu, penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jumlah informan terbatas sehingga hasil penelitian lebih menekankan kedalaman informasi dibandingkan generalisasi statistik. Keterbatasan lain terletak pada dinamika subjektivitas informan dalam menyampaikan pengalaman dan persepsi mengenai pembentukan disiplin siswa. Penelitian ini juga belum mengeksplorasi secara mendalam keterkaitan antara strategi disiplin sekolah dengan tingkat capaian akademik siswa atau pengaruh faktor sosial-ekonomi keluarga terhadap perilaku disiplin siswa. Oleh karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk memperluas cakupan penelitian pada berbagai jenis sekolah, jenjang pendidikan, atau pendekatan metodologis yang berbeda agar Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pembentukan disiplin siswa dalam konteks pendidikan Indonesia. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa sekolah perlu mengembangkan strategi pembentukan disiplin yang tidak hanya berorientasi pada penerapan aturan formal, tetapi juga menekankan keteladanan guru, pembiasaan perilaku positif, dan pendekatan humanis dalam pembinaan siswa. Guru perlu diposisikan sebagai figur moral dan sosial yang mampu menjadi model perilaku disiplin bagi peserta didik. Selain itu, penguatan kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi penting untuk menciptakan kesinambungan pembinaan karakter siswa di lingkungan rumah dan sekolah. Dalam konteks kebijakan pendidikan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan program pendidikan karakter yang lebih adaptif terhadap tantangan era digital dan perubahan perilaku generasi Penelitian selanjutnya juga direkomendasikan untuk mengkaji efektivitas model pembiasaan dan keteladanan dalam berbagai konteks budaya sekolah serta mengintegrasikan pendekatan teknologi pendidikan dalam pembinaan karakter disiplin siswa. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi guru dalam membentuk kedisiplinan siswa di SMP Mukhtarul AoAdalah Kemang Bogor dilaksanakan melalui pendekatan pembiasaan dan keteladanan yang diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Pembiasaan dilakukan melalui penerapan aktivitas rutin seperti datang tepat waktu, mengikuti kegiatan keagamaan, menaati tata tertib sekolah, menjaga ketertiban pembelajaran, serta membangun budaya sopan santun di lingkungan sekolah. Sementara itu, keteladanan guru diwujudkan melalui perilaku disiplin, tanggung jawab, kepatuhan terhadap aturan, serta sikap profesional dalam interaksi pendidikan dengan siswa. Penelitian ini juga menemukan bahwa pembentukan kedisiplinan siswa dipengaruhi oleh faktor internal berupa kesadaran diri, motivasi belajar, dan kondisi emosional siswa, serta faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, teman sebaya, perkembangan teknologi, dan penggunaan media sosial. Selain menerapkan pengawasan dan aturan sekolah, guru menggunakan pendekatan humanis melalui nasihat, pembinaan personal, dan komunikasi interpersonal untuk membangun kesadaran disiplin siswa secara bertahap. Secara konseptual, penelitian ini memperkuat pandangan bahwa pembentukan disiplin siswa merupakan proses pendidikan karakter yang berlangsung melalui interaksi sosial dan budaya sekolah, bukan sekadar penerapan kontrol atau hukuman formal. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian pendidikan karakter dan pendidikan Islam dengan menempatkan pembiasaan dan keteladanan sebagai strategi utama dalam internalisasi nilai disiplin di sekolah berbasis Islam. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pembinaan disiplin memerlukan keterlibatan kolektif seluruh unsur sekolah serta dukungan keluarga dalam menciptakan kesinambungan pembinaan karakter siswa. Temuan penelitian ini juga memberikan kontribusi praktis bagi sekolah dalam mengembangkan strategi pembinaan disiplin Jurnal El Madrasa : Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 Copyright: A2026. Nurhadi. Rifqi Hafizh Amrullah Masfarwati Muslim El Madrasa Vol. 6 No. 1 : Januari Ae Juni 2026 P-ISSN 2807-8993. E-ISSN 2830-5124 Hal. 1 Ae 16 Jurnal Manajemen Pendidikan Islam yang lebih edukatif, persuasif, dan adaptif terhadap tantangan perilaku siswa pada era digital. Penelitian ini memiliki implikasi bahwa penguatan budaya disiplin di sekolah perlu dilakukan melalui integrasi antara keteladanan guru, pembiasaan perilaku positif, pembinaan religius, dan pendekatan humanis yang berorientasi pada kesadaran internal siswa. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas kajian pada berbagai jenis sekolah, jenjang pendidikan, maupun pendekatan metodologis yang berbeda agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai strategi pembentukan disiplin siswa dalam konteks pendidikan Selain itu, penelitian mendatang juga dapat mengembangkan analisis mengenai hubungan antara pembentukan disiplin, perkembangan teknologi digital, dan dinamika pendidikan karakter pada generasi muda. DAFTAR PUSTAKA