Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 112 - 119 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/631 Pelatihan Lateral Cone Hops With Sprint Lebih Baik daripada Countermovement Jump Dalam Meningkatkan Kekuatan Tungkai Dan Kecepatan Lateral Cone Hops With Sprint Training Is Better ThanInside Countermovement Jump Increase Limb Strength And Speed Nurul Hikmah1 Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan nurulhikmahhakim08@gmail. Diterima: 2 Sep 2025 Ditinjau: 17 Sep 2025 Disetujui: 31 Okt 2025 Publikasi Online: 30 Jan 2026 ABSTRAK Permainan bola voli adalah cabang yang paling populer di Indonesia yang membutuhkan fisik yang baik, karena permainan ini selalu bergerak secara terus menerus, loncatan yang tinggi, pukulan keras dan konsentrasi. Kemampuan teknik yang cukup penting dalam olahraga bola voli adalah kemampuan menyerang. pike/smas. dan menghalang . Dengan menggunakan kedua teknik ini dengan baik maka sekitar 80% dapat mencetak angka dalam untuk mampu melakukan spike atau smash yang mematikan dibutuhkan lompatan yang tinggi, pukulan keras, kecepatan maupun power otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelatihan lateral cone hops with sprint lebih baik daripada countermovement jump dalam meningkatkan kekuatan tungkai dan kecepatan pada tim bola voli. Metode Penelitian yang digunaakan peneliti adalah jenis penelitian ekperimen dengan menggunakan desain Quasi Ekperimen. Dalam penelitian ini menggunakan metode two-grup pre test dan post test design. Kelompok Perlakuan I diberikan latihan lateral cone hops with sprint dan Kelompok Perlakuan II diberikan latihan countermovement jump. Jumlah sampel masing-masing kelompok perlakuan sebanyak 17 orang dan masing-masing kelompok diberikan latihan 3 kali seminggu selama 4 minggu. Pengukuran kekuatan tungkai menggunakan Leg Dynamometer, dan pengukuran kecepatan menggunakan Sprint30 Meter Test. Hasil penelitian menunjukkan pada Kelompok Perlakuan I terjadi peningkatan kekuatan tungkai dan kecepatan. Sedangkan pada Kelompok Perlakuan II peningkatan kekuatan tungkai dan kecepatan. Terdapat perbedaan yang signifikan pada peningkatan kekuatan tungkai dan kecepatan pada Kelompok Perlakuan I dan Kelompok Perlakuan II. Simpulan latihan lateral cone hops with sprint lebih baik daripada countermovement jump dalam meningkatkan kekuatan tungka dan kecepatan pada tim bola Kata Kunci : kekuatan tungkai, kecepatan, lateral cone hops with sprint, countermovement jump. ABSTRACT Background: Volleyball is the most popular branch in Indonesia that requires good physicality, because this game is always moving continuously, jumping high, hitting hard and concentrating. Technical skills that are quite important in volleyball are the ability to attack . pike/smas. and block. By using these two techniques properly, about 80% can score in the game. To be able to do a deadly spike or smash requires high jumps, hard hits, speed and muscle power. This study aims to determine that lateral cone hops with sprint training is better than countermovement jumps in increasing leg strength and speed in volleyball teams. Method: The research used by the researcher is an experimental research type using a Quasi Experimental design. In this study, the two-group pre-test and post-test design methods were used. Treatment group I was given lateral cone hops with sprint exercise and Treatment Group II was given countermovement jump exercise. The number of samples for each treatment group was 17 people and eachgroup was given exercise 3 times a week for 4 weeks. Measurement of legstrength using the Leg Dynamometer, and measurement of speed using the Sprint 30 Meter Test. Results: Treatment Group I there was an increase in leg strength and speed. Meanwhile,in the Treatment Group II, the post-test increase in leg strength and speed. There was a significant difference in the increase in leg strength and speed in Treatment Group I and Treatment Group II. Conclusion lateral cone hops with sprint exercise is better than the countermovement jump in increasing leg strength and speed on the volleyball team. Keywords : leg strength, speed, lateral cone hops with sprint, countermovement jump. PENDAHULUAN Salah satu dari sekian banyak cabang olahraga, permainan bola voli adalah cabang yang paling populer di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dengan tersedianya sarana dan prasarana pemain bola voli diseluruh lapisanmasyarakat, dan banyak tumbuh perkumpulan bola voli yang terbentuk baik didesa maupun dikota. Dalam permainan bola voli terdapat penguasaan gerak yang harus Pelatihan Lateral Cone Hops With Sprint Lebih Baik daripada Counter. | Nurul Hikmah 112 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 112 - 119 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/631 Cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku untuk mencapai sesuatu yang optimal . Bola voli merupakan salah satu cabang olahraga yang dimainkan oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan dari segala tingkatan usia. Kondisi fisik dalam permainan bola voli merupakan salah satu prasyarat yangsangat diperlukan dalam setiap usaha peningkatan prestasi. Kondisi fisik adalah satu kesatuan yang utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan, baik peningkatannya maupun pemeliharaannya . Pada cabang olahraga bola voli dibutuhkan fisik yang baik, karena permainan ini selalu bergerak secara terus menerus, loncatan yang tinggi, pukulan keras dan konsentrasi. Misalnya kecepatan pikiran, membaca permainan lawan, disiplin, dan kelihaian serta kecerdikan dalam bermain (Hendra, 2. Kondisi fisik antara lain daya tahan . , kekuatan . , kecepatan (Spee. , kelincahan . dan daya ledak . Kemampuan teknik yang cukup penting dalam olahraga bola voli adalah kemampuan menyerang . pike/smas. dan menghalang . Dengan menggunakan kedua teknik ini dengan baik maka sekitar 80% dapat mencetak angka dalam permainan. Spike atau smash merupakan senjatautama untuk mematikan lawan. Ahmadi . berpendapat bahwa untuk mampu melakukan spike atau smash yang mematikan dibutuhkan lompatanyang tinggi, pukulan keras, kecepatan maupun power otot. Plyometric adalah macam latihan yang bertujuan menghubungkan gerakan kecepatan dan kekuatan untuk menghasilkan gerakan-gerakaneksplosif yang dapat merangsang sel serabut saraf sehingga dapat diambil keuntungan untuk meningkatkan tinggi jumping smash dan block pada atlet bola voli. Istilah ini sering digunakan dalam menghubungkan gerakan lompat yang berulangulang atau latihan reflek regang untuk menghasilkan reaksi yang eksplosif. Dari pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa latihan plyometric dapat memperbaiki kinerja kekuatan dan kekuatan pemain terutama bermanfaat untuk meningkatkan output kekuatan otot dan kinerja atlet dan merupakan penentu penting keberhasilan dalam olahraga . Plyometric training telah digunakan sebagai metode latihan terutama untuk mengembangkan kekuatan, kecepatan, dan power. Sebelumnya, latihan plyometric adalah salah satu latihan yang favorit yang dilakukan oleh pelatih saat ini, terutama kepada cabang olahraga yang membutuhkan kemampuan daya ledak, kecepatan, kelincahan, dan kekuatan otot tungkai atau otot lengan . Dalam penelitian ini peneliti menggunakan plyometric training berupalatihan Lateral Cone Hops with Sprint dan Countermovement Jump sebagai latihan yang dilakukan terhadap perubahan kekuatan dan kecepatan pada tim bola voli. Tidak adanya program latihan kekuatan dan kecepatan yang diberikan maka kurangnya pengetahuan tentang manfaat dan efektifitas akan plyometric training tersebut. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat praexperimental. Penelitian ini merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menggambarkan perubahan kekuatan dan kecepatan pemain bola voli setelah pemberian plyometric training. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest-posttest design. Berdasarkan hasil perhitungan sampel diperoleh jumlah sampel sebanyak 20 orang yang akan diteliti dengan pemberian latihan plyometric training berupa countermovement jump dan lateral cone hops with sprint. Pelatihan Lateral Cone Hops With Sprint Lebih Baik daripada Counter. | Nurul Hikmah 113 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 112 - 119 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/631 HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur Umur 15 tahun 16 tahun 17 tahun 18 tahun Jumlah Plyometric Training f (%) Tabel diatas menunjukkan bahwa paling banyak responden yang berusia 18 tahun yaitu 6 orang . %), serta lebih banyak responden yang berusia 16 sampai 17 tahun . %) daripada responden yang berusia 15 tahun yaitu 4 orang . %). Tabel 2 Distribusi Nilai Kekuatan Pada Pre Test dan Post Test Latihan Countermovement Jump Pengukuran Kekuatan Tungkai RerataASD p-value Pre-test Leg Dynamometer (K. Post-test Leg Dynamometer (K. 185,76A7,47 283,38A7,96 0,000 Tabel 2 memperlihatkan mean dari pre-test kekuatan tungkai yang diukur dengan leg dynamometer adalah 185,76A7,47 Setelah diberikan latihan countermovement jump selama 4 minggu dengan frekuensi pertemuan 3 kali dalam seminggu dengan total pertemuan 12 kali, nilai rerata dari kelompok perlakuan II dimana kekuatan tungkai meningkat menjadi 283,38A7,96 saat post-test. Nilai p-value pada paired sample-test = 0,000. Hasil tersebut menyatakan ada perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test kekuatan tungkai pada latihan countermovement Nilai p-value pada paired sample-test = 0,000. Hasil tersebut menyatakan ada perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test kekuatan tungkai pada kelompok perlakuan II yang diberikan latihan countermovement jump. Tabel 3 Pre dan Post-test Kecepatan Latihan Countermovement Jump Pengukuran Kecepatan RerataASD p-value Pre-test Sprint 30 Meter . 17 5,22A0,49 0,000 Post-test Sprint 30 Meter . 17 3,76A0,36 Tabel 3 memperlihatkan mean dari pre-test kecepatan yang diukur dengan sprint 30 meter test adalah 4,21A0,22. Setelah diberikan latihan countermovement jump selama 4 minggu dengan frekuensi pertemuan 3 kali dalam seminggu dengan total pertemuan 12 kali, nilai rerata dari kelompok perlakuan II dimana kecepatan meningkat menjadi 4,04 A 0,21 detik saat post-test. Nilai p-value pada paired sample-test = 0,000. Hasil tersebut menyatakan ada perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test kecepatan pada latihan Countermovement Jump. yang diberikan latihan countermovement jump. Pelatihan Lateral Cone Hops With Sprint Lebih Baik daripada Counter. | Nurul Hikmah 114 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 112 - 119 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/631 Tabel 4 Pre dan Post-test Kekuatan Tungkai Latihan Lateral Cone Hops With Spint Pengukuran Kekuatan RerataASD p-value Pre-test Leg Dynamometer (K. 185,05A6,52 0,000 Post-test Leg Dynamometer (K. 292,91A6,30 Tabel 4 memperlihatkan mean dari pre-test kekuatan tungkai yang diukur dengan leg dynamometer adalah 185,05A6,52. Setelah diberikan latihan lateral cone hops with sprint selama 4 minggu dengan frekuensi pertemuan 3 kali dalam seminggu dengan total pertemuan 12 kali, nilai rerata dari kelompok perlakuan I dimana kekuatan tungkai meningkat menjadi 292,91A6,30 saat post-test. Hasil analisis statistik menggunakan paired-sample t-test didapatkan nilai pvalue=0,000. Hasil tersebut menyatakan ada perbedaan yang signifikan antara pre-test dan posttest kekuatan tungkai kelompok perlakuan I yang diberikan latihan lateral cone hops with sprint yang berarti latihan tersebut dapat meningkatkan kekuatan tungkai. Tabel 5 Pengukuran Kecepatan RerataASD p-value Pre-test Sprint 30 Meter . 5,37A0,71 0,000 Post-test Sprint 30 Meter . 3,78A0,32 Tabel 5 memperlihatkan mean dari pre-test kecepatan yang diukur dengan sprint 30 meter test 5,37A0,71. Setelah diberikan latihan lateral cone hops with sprint selama 4 minggu dengan frekuensi pertemuan 3 kali dalam seminggu dengan total pertemuan 12 kali, nilai rerata dari kelompok perlakuan I dimana kecepatan meningkat menjadi 3,78A0,32 saat post-test. Hasil analisis statistik menggunakan paired-sample t-test didapatkan nilai p-value=0,000. Hasil tersebut menyatakan ada perbedaan yang signifikan antara pre-test dan post-test kecepatan kelompok perlakuan I yang diberikan latihan lateral cone hops with sprint yang berarti latihan tersebut dapat meningkatkan kecepatan. Tabel 6 Post-test Leg Dynamometer RerataASD p-value Kelompok Perlakuan I 292,91A6,30 0,001 Kelompok Perlakuan II 283,38A7,96 Table 6 memperlihatkan hasil independet t-test didapatkan nilai p-value=0,001 pada leg dynamometer . <0,. Hal ini berarti adanya peningkatan kekuatan tungkai pada tim bola voli setelah dilakukan pemberian latihan pada kedua kelompok memiliki perbedaan yang signifikan. Dari data statistik diatas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan nilai antara Latihan Lateral Cone Hops With Sprint dan Contermovement Jump. Jika dilihat dari nilai rerata, yang diberikan latihan lateral cone hops with sprint menunjukkan peningkatan kekuatan tungkai yang lebih baik daripada latihan countermovement jump. Dilihat dari data selisih peningkatan kekuatan tungkai, kelompok perlakuan Lateral Cone Hops With Sprint memiliki nilai yang lebih besar daripada kelompok Contermovement Jump. Pelatihan Lateral Cone Hops With Sprint Lebih Baik daripada Counter. | Nurul Hikmah 115 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 112 - 119 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/631 Tabel 7 Post-test Sprint 30 Meter Test Post-test Sprint 30 Meter Test Kelompok Perlakuan I RerataASD p-value 3,78A0,37 0,010 Kelompok Perlakuan II 4,04A0,38 Tabel 7 memperlihatkan hasil independet t-test didapatkan nilai p-value=0,010 pada sprint 30 meter . <0,. Hal ini berarti adanya peningkatan kecepatan pada tim bola voli setelah dilakukan pemberian latihan pada kedua kelompok memiliki perbedaan yang signifikan. Dari data statistik diatas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan nilai antara kelompok yang diberikan latihan lateral cone hops with sprint menunjukkan peningkatan kecepatan yang lebih baik daripada kelompok yang diberikan latihan countermovement jump. Dilihat dari data selisih peningkatan kecepatan, lateral cone hops with sprint memiliki nilai yang lebih besar daripada countermovement jump. Tabel di atas menunjukkan bahwa pemberian plyometric training lateral cone hops with sprint lebih baik dari pada countemovement jum dan dapat menghasilkan pengaruh yang bermakna terhadap peningkatan kecepatan pada pemain voli SMA Keberbakatan Olahraga Makassar. PEMBAHASAN Pengaruh plyometric training terhadap perubahan kekuatan Kekuatan merupakan tenaga kontraksi otot yang dicapai dalam sekali usaha maksimal. Kekuatan merupakan unsur yang sangat penting dalam aktifitas olahraga, karena kekuatan merupakan daya penggerak dan pencegah cidera. Nuril Ahmadi . mengemukakan Kekuatan adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja maksimal. Dan kekuatan banyak digunakan atau diperlukan hampir di semua cabang olahraga, misalnya dalam olahraga permainan, atletik, maupun olahraga beladiri. Penjelasan di atas bahwa kekuatan merupakan kemampuan otot untuk dapat mengatasi tahanan atau beban, menahan atau memindahkan beban dalam menjalankan aktivitas olahraga. Untuk itu kekuatan otot lengan sangat dibutuhkan dan diperlukan dalam melakukan lempar cakram Dari uraian di atas, jelaslah bahwa kekuatan otot tungkai merupakan komponen kondisi fisik yang dapat mempengaruhi hasil smash dalam olahraga bolavoli. Gerakan dalam melakukan smash, merupakan aktivitas fisik yang dilakukan seseorang dalam olahraga permainan, merupakan kerjasama alat gerak seperti tulang, otot rangka, tendon, ligamen dan sistem syaraf . Olahraga merupakan salah satu latihan fisik yang baik untuk menjaga dan meningkatkan kebugaran jasmani. Kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan jenis kegiatan fisik yang memerlukan kekuatan, daya tahan, dan fleksibilitas. Bahkan, sebuah pemahaman dari segi ilmu biomekanik dan fisiologi latihan memperlihatkan bahwa banyak produk baru yang awalnya menyatakan dapat meningkatkan kekuatan, kecepatan dan power mungkin malah merugikan mereka . Plyometric training lateral cone hops with sprint yang diaplikasikan dalam penelitian ini terdiri dari latihan melompat/meloncat explosive dengan cepat. Bentuk latihan tersebut dapat menstimulasi kemampuan bergerak cepat pada responden sehingga akan berkembang kemampuan kekuatan dalam melompat. Dengan memberikan latihan yang berulang-ulang akan terjadi adaptasi pada tubuh dimana tubuh akan memiliki komponen-komponen kekuatan yang Hal ini terbukti dari hasil penelitian ini yang menunjukkan adanya pengaruh yang bermakna terhadap peningkatan kekuatan setelah di berikan Latihan lateral cone hops with Pelatihan Lateral Cone Hops With Sprint Lebih Baik daripada Counter. | Nurul Hikmah 116 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 112 - 119 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/631 Pengaruh Plyometric Training Terhadap Peningkatan Kecepatan Kecepatan merupakan salah satu komponen dasar biomotor yang diperlukan dalam setiap cabang olahraga. Setiap aktivitas olahraga baik yang bersifat permainan, perlombaan, maupun pertandingan selalu memerlukan komponen biomotor kecepatan. untuk itu kecepatan merupakan salah satu unsur biomotor dasar yang harus dilatihkan dalam upaya mendukung pencapaian prestasi atlet. Pada umumnya, latihan kecepatan dilakukan setelah atlet dilatih daya tahan dan kekuatan. Ini menunjukkan bahwa kecepatan merupakan unsur yang dominan pada . Kecepatan adalah kemampuan otot atau sekelo mpok otot untuk menjawab rangsang dalam waktu secepat . Kecepatan sebagai basil perpaduan dari panjang ayunan tungkai dan jumlah langkah. Dimana gerakan panjang ayunan dan jumlah langkah merupakan serangkaian gerak yang sinkron dan kompleks dari sistem neuromuskuler. Dengan bertambahnya panjang ayunan dan jumlah langkah akan meningkatkan kecepatan bergerak. Untuk itu dalam membahas unsur kecepatan selalu berpijak pada konsep dasarnya, yaitu: perbandingan antara waktu dan jarak, sehingga sehingga unsur kecepatan selalu berkaitan dengan waktu reaksi, frekuensi gerak per unit waktu, dan kecepatan menempuh jarak tertentu . ecepatan gera. Artinya, agar dapat bergerak cepat tergantung dari kecepatan reaksi saat awal gerak, kemampuan tubuh menempuh jarak dengan waktu tertentu, serta frekuensi langkah larinya . Olahraga bola voli sangat membutuhkan kecepatan karena gerakan-gerakan passing, service melompat, smash dan block. Jika pemain bola voli memiliki tingkat kecepatan yang tinggi maka akan memiliki performa yang tinggi dalam suatu event . , apalagi jika ditunjang oleh tingkat kekuatan yang tinggi. Dalam olahraga bola voli, kekuatan dan kecepatan tidak dapat dipisahkan karena untuk mencapai kecepatan yang tinggi dibutuhkan fondasi yaitu kekuatan . , power . aya leda. , dan kelincahan . Plyometric training yang diaplikasikan terdiri dari latihan melompat menyamping melewati suatu tanda, dan latihan berlari cepat dalam waktu sesingkat dan secepat mungkin. Bentuk latihan tersebut dapat menstimulasi kemampuan bergerak cepat pada responden sehingga akan berkembang kemampuan bereaksi dengan cepat, kecepatan yang tinggi dan keseimbangan yang tinggi. Dengan memberikan latihan yang berulang-ulang akan terjadi adaptasi pada sistem tubuh dimana tubuh akan memiliki kemampuan bergerak cepat sesuai dengan tuntutan. Hal ini terbukti dari hasil penelitian ini yang menunjukkan adanya pengaruh yang bermakna terhadap peningkatan kecepatan setelah di berikan plyometric training . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian plyometric training dapat menghasilkan peningkatan kecepatan pada pemain bola voli dengan hasil statistik rata-rata pre test 4,6730 menjadi 3,9340 saat post test. Adapun penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu penelitian Febrianti Zarra Pratiwi. Hari Setijono, dan Yusuf Fuad pada tahun 2018 tentang Pengaruh Latihan Plyometric Front Cone Hops Dan Countermovement Jump Terhadap Power dan Kekuatan Otot Tungkai dimana penelitian ini dilakukan terhadap pemain bola voli dan penelitian tersebut mendapatkan hasil bahwa latihan pliometrik dapat disimpulkan bahwa dari metode latihan plyometric front cone hops dan plyometric counter movement jump lebih efektif untuk peningkatan dua komponen kondisi fisik kekuatan dan power otot tungkai dengan variabel kekuatan sebesar 0,015 sig. > 0,05 maka dapat diartikan ada pengaruh signifikan latihan countermovement jump terhadap peningkatan kekuatan otot tungkai dan variabel kekuatan sebesar 0,37 atau sig. 0,05 maka dapat diartikan tidak terdapat pengaruh yang signifikan latihan front cone hops terhadap peningkatan kekuatan otot tungkai . Adapun penelitian lain yang relevan dengan penelitan ini yaitu penelitian Rikhma Wahyu Winarti pada tahun 2013 tentang Pengaruh Plyometric Training Terhadap Kekuatan Otot Tungkai. Kecepatan dan Kemampuan Vertical Jump Pada Pemain Bola Voli di Ge-Lighting Sleman DIY dan penelitian tersebut mendapatkan hasil bahwa latihan pliometrik dapat Pelatihan Lateral Cone Hops With Sprint Lebih Baik daripada Counter. | Nurul Hikmah 117 Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 112 - 119 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/631 disimpulkan bahwa dari metode tersebut hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kecepatan atlet bola voli Ge-Lighting sebelum dan sesudah latihan plyometric. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t hitung = 6. 038 > t tabel 2. 07, dan nilai signifikansi 000 < 0. 05, maka hasil ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan. Dengan demikian hipotesis alternatif (H. yang berbunyi AuAda pengaruh latihan plyometric terhadap kecepatan pemain bola voli di Ge-Lighting Sleman DIYAy, diterima. Artinya latihan plyometric memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kecepatan pemain bola voli di Ge-Lighting Sleman DIY. Adanya peningkatan kekuatan otot tungkai karena program latihan plyometric. Ada pengaruh latihan plyometric terhadap kecepatan dan pemain bola voli di Ge-Lighting Sleman DIY, dengan nilai t hitung 6. 038 > t tabel 2. 07, dan nilai signifikansi 0. 000 < 0. kenaikan persentase sebesar 2. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Latihan plyometric training lateral cone hops with sprint lebih baik dari pada countermovement jump terhadap peningkatan kekuatan dan kelincahan pada pemain bola volly. Oleh karena itu, metode ini dapat diterapkan secara Sebagai saran. Peneliti tidak bisa mengontrol latihan lain diluar diberikannya latihan pada subjek, terlebih peneliti hanya memantau latihan 3 hari dalam seminggu. Pada saat melakukan pengukuran kekuatan tungkai menggunakan leg dynamometer dan pengukuran kecepatan menggunakan sprint 30 meter test peneliti tidak didampingi oleh orang yang berkompeten atau profesional. DAFTAR PUSTAKA