JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 7 Nomor 1. Januari 2024 PENGELOLAAN PROGRAM PERCONTOHAN PENDIDIKAN KESETARAAN PAKET B DI SANGGAR KEGIATAN BELAJAR (SKB) KABUPATEN KARAWANG Rizky Afif1*. Sutarjo2. Uum Suminar3 1,2,3 Pendidikan Masyarakat. Universitas Singeperbangsa Karawang. Jawa Barat. Indonesia 1910631040050@student. id, 2sutarjo@staff. id, 3suminar_uum@yahoo. Received: Juli, 2023. Accepted: January, 2024 Abstract This study aims to describe the management of the Package B equivalency education pilot program at the Karawang Learning Activity Center. This research uses a qualitative approach with descriptive methods, involving data collection through observation, interviews, and documentation. The subjects of this study were the head of the SKB, 1 tutor, 2 tutors and 2 residents studying package B equality education at SKB Karawang. Analysis of research data was carried out through the stages of data reduction, data presentation, and conclusions and verification regarding program planning, organizing, implementing, evaluating and developing. The results of the research analysis show that pilot program planning begins with setting goals, identifying learning needs, designing a curriculum based on life skills, and designing funding for academic and skills equivalence activities. Models in organizing resources include administrators, educators and education staff, as well as learning resources through the division of structural tasks by dividing study groups. Mobilization is carried out through motivational efforts carried out by tutors and tutors in socialization activities, intracurricular/academic learning, on a scheduled basis and vocational skills based on the needs and interests of the learning community so that the participation of the learning residents is fully involved. Guidance is carried out by internal and external parties through supervision, monitoring and direct and indirect supervision. The assessment is focused on assessing the process and evaluating the results of the learning community and tutors. Development of a Package B pilot program that is already running in partnership with institutions that utilize graduates to continue to a higher level. Based on the results of this analysis, it can be concluded that the package B equality education program at SKB Karawang has the uniqueness of being a pilot in planning, organizing, activating, evaluating, and developing which results in graduates being able to continue to a higher level. Recommendations for the development of the Package B equality program as a pilot, are expected to be expanded more broadly by establishing a network of partnerships through DUDI and other relevant stakeholders in the utilization of graduates in the field of independent life skills. The implementation of the Package B equality education program benefits the wider community. Keywords: Pilot Program Management. Package B Equality. SKB Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan program percontohan pendidikan kesetaraan Paket B di Sanggar Kegiatan Belajar Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, melibatkan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan Dengan subyek penelitian ini ialah Kepala SKB, 1 orang Pamong Belajar, 2 orang tutor dan 2 orang warga belajar pendidikan kesetaraan paket B di SKB Karawang. Analisis data penelitian dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan simpulan serta verifikasi tentang perencanaan, pengorganisasian, pelaksanan, penilaian dan pengembangan program. Hasil analisis penelitian diperoleh gambaran bahwa percontohan perencanaan program diawali dengan menentukan tujuan, identifikasi kebutuhan belajar, merancang kurikulum berbasis kecakapan hidup . ife skill. , dan merancang pembiayaan untuk kegiatan kesetaraan akademik dan keterampilan. Percontohan dalam pengorganisasian sumber daya meliputi pengelola, pendidik dan tenaga kependidikan, serta sumber belajar melalui pembagian tugas struktural dengan membagi rombongan belajar. Penggerakan Volume 7. No. Januari 2024 pp 68-76 dilakukan melalui upaya motivasi yang dilakukan oleh pamong dan tutor pada kegiatan sosialisasi, pembelajaran intrakurikuler/akademik, secara terjadwal dan keterampilan vocational berdasarkan kebutuhan dan minat warga belajar sehingga partispasi warga belajar terlibat penuh. Pembinaan dilakukan oleh pihak internal maupun eksternal melalui supervisi, monitoring dan pengawasan secara langsung dan tidak langsung. Penilaian difokuskan pada penilaian proses dan penilaian hasil warga belajar maupun tutor. Pengembangan program percontohan Paket B yang sudah berjalan melalui kemitraan dengan lembaga yang memanfaatkan lulusan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Berdasarkann hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa program pendidikan kesetaraan paket B di SKB Karawang memiliki keunikan sebagai percontohan dalam perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, penilaian, dan pengembangan yang menghasilkan lulusan dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Rekomendasi untuk pengembangan program kesetaraan paket B sebagai percontohan, diharapkan dapat ditingkatkan lebih luas lagi dengan menjalin jejaring kemitraan melalui DUDI dan stakeholder terkait lainnya dalam pemanfataan lulusan dibidang kecakapan hidup kemandirian penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan Paket B bermanfaat bagi masyarakat secara luas. Kata Kunci: Pengelolaan Program Percontohan. Kesetaraan Paket B. SKB How to Cite: Afif. Sutarjo & Suminar. Pengelolaan Program Percontohan Pendidikan Kesetaraan Paket B Di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Karawang. Comm-Edu (Community Education Journa. , 7 . , 68-76 PENDAHULUAN Di era modern dan globalisasi, pendidikan sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dan perkembangan kebutuhan sosial dan kebutuhan belajar yang semakin berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin aktif mengembangkan program pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar mereka yang belum terpenuhi. Pada Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 menyatakan bahwa AuPendidikan adalah hak setiap warga negaraAy. Pasal ini menjelaskan bahwa setiap warga negara, tanpa memandang status sosial, usia dan kondisi fisik, berhak memperoleh pendidikan yang layak. Hal ini merupakan upaya untuk pembangunan Indonesia, karena pendidikan merupakan faktor penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang Pendidikan dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan martabat manusia. Pembentukan manusia yang baik harus sesuai dengan jati diri bangsa, agar memiliki kemandirian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demikian, masih terdapat berbagai permasalahan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Utamanya permasalahan seperti . anak prasekolah yang besar jumlahnya, . banyaknya anak usia sekolah yang tidak tertampung oleh lembaga pendidikan sekolah yang ada, . besarnya jumlah orang dewasa yang tidak mempunyai kesempatan mengikuti pendidikan sekolah, . banyaknya jumlah anak putus sekolah, dan . besarnya jumlah lulusan suatu jenjang pendidikan sekolah yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada kenyataannya, angka anak usia sekolah yang putus sekolah karena berbagai hal masih banyak sekali jumlahnya. Upaya pemerintah dalam mengentaskan jumlah anak putus sekolah yang meningkat, melalui Kemendikbud menggagas program wajib belajar 12 tahun. Tujuannya untuk memperbesar kesempatan belajar pada anak putus sekolah karena berbagai alasan sosial, ekonomi maupun Seperti yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008. Permasalahan pendidikan yang terjadi pada jalur formal, memposisikan pendidikan non formal mengambil peran untuk membantu masyarakat dalam menangani masalah tersebut sesuai 70 Afif. Sutarjo & Suminar. Pengelolaan Program Percontohan Pendidikan Kesetaraan Paket B Di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Karawang dengan fungsinya seperti yang dikemukakan oleh Djuju Sudjana . Bahwa peran pendidikan non formal adalah sebagai pelengkap, pendidikan non formal berfungsi untuk melengkapi kemampuan peserta didik dengan jalan memberikan pengalaman belajar yang tidak diperoleh dalam pendidikan sekolah. Sebagai penambah, pendidikan non formal bertujuan untuk menyediakan kesempatan belajar. Sebagai pengganti, pendidikan non formal menyediakan kesempatan belajar bagi anak-anak atau orang dewasa yang karena berbagai alasan tidak memperoleh kesempatan untuk memasuki satuan pendidikan sekolah. Program pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaran, pendidikan ketrampilan dan pendidikan kesetaraan yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI. SMP/MTs, dan SMA/MA yang mencakup program paket A, paket B, dan paket Program pendidikan nonformal dalam penelitian ini difokuskan pada Pendidikan Kesetaraan Paket B yang ditujukan bagi peserta didik yang berasal dari masyarakat kurang beruntung, tidak pernah sekolah, putus sekolah dan putus lanjut, serta usia produktif yang ingin meningkatkan pengetahuan dan kecakapan hidupnya. Juga untuk masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan SMP/MTS sederajat karena berbagai alasan seperti keterbatasan ekonomi, kesibukan pribadi, akibat Drop Out (DO), dan berbagai macam lainnya. Berdasarkan hasil observasi sementara pada SPNF Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Karawang yang sudah terakteditasi A, penulis menemukan praktik baik pengelolaan layanan program kesetaraan Paket B yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akademik maupun kecakapan hidup . ife skil. sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan karakteristik satuan pendidikan di lingkungan sekitarnya. penelitian ini memfokuskan pada pengelolaan terhadap program pendidikan kesetaraan paket B, sebab hal tersebut memiliki banyak aspek yang mempengaruhi pengelolaan SKB secara umum. Pengeloaan program pendidikan sangat diperlukan dengan harapan dapat meningkatkan efektivitas sumber daya dalam suatu lembaga untuk mencapai tujuan yang dapat memberikan hasil yang efektif. Dalam pengelolaan program pendidikan non formal terdapat beberapa fungsi, menurut Djuju Sudjana . menyatakan ada enam fungsi yaitu, perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, penilaian, dan pengembangan. Adanya pengelolaan diharapkan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai sasaran dan kebutuhan di masyarakat. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang mempelajari masalah-masalah yang ada serta tata cara kerja yang berlaku untuk menggambarkan sesuatu secara sistematis, obyektif, dan akurat. (Sugiyono, 2. penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang menghasilkan data deskriptif dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif berfokus pada pemahaman terhadap fenomena yang diteliti dan melibatkan proses pengumpulan, analisis, dan interpretasi data yang bersifat subjektif. Subjek yang akan diteliti pada penelitian ini ialah seorang kepala lembaga sebagai informan kunci serta 1 orang pamong, 2 orang tutor dan 2 orang warga belajar pendidikan kesetaraan paket B di SKB Karawang sebagai informan pendukung dalam mendapatkan informasi terkait proses pengelolaan pendidikan kesetaraan paket B serta faktor yang mempengaruhinya. Teknik Volume 7. No. Januari 2024 pp 68-76 pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan analisis data melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sanggar Kegiatan Belajar Kabupaten Karawang didirikan pada tahun 1998 dan terletak di Jl. Pangkal Perjuangan Desa Tanjung Mekar Karawang. Sesuai dengan Perbup Karawang No. Tahun 2017 Sanggar Kegiatan Belajar ini telah dialih fungsikan dari UPTD pada Dinas Pendidikan. Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Karawang menjadi sebuah satuan pendidikan Pengelolaan program pendidikan nonformal di Sanggar Kegiatan Belajar ini difokuskan untuk pemenuhan kebutuhan akademik dan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik dan karakteristik satuan pendidikan di sekitarnya. Pada SKB Karawang, tersedia berbagai jenis program pendidikan nonformal yang diselenggarakan. Pendidikan Kesetaraan Paket B dan Paket C. Pendidikan Anak Usia Dini. Pelatihan dan kursus. Taman Bacaan Masyarakat Digital. Dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar pendidikan kesetaraan paket B di SKB Karawang terdapat beberapa unsur untuk mendukung keberhasilan dan keberlangsungan kegiatan tersebut dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dari masing masing unsur tersebut saling berkaitan satu sama lainnya. Diantaranya seperti warga belajar, pendidik dan tenaga kependidikan, waktu pembelajaran, materi bahan ajar, sarana dan prasarana. Pembahasan Proses Pengelolaan Program Percontohan Pendidikan Kesetaraan Paket B di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Karawang Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, proses pengelolaan program percontohan pendidikan kesetaraan paket B di SKB Karawang terdapat beberapa tahapan seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, penilaian dan pengembangan, dari masing masing tahapan tersebut saling terkati satu sama lainnya. Pada proses perencanaan terdapat beberapa indikator seperti penentuan tujuan, identifikasi kebutuhan belajar, kurikulum, dan biaya. Salah satu unsur dalam perencanaan adalah tujuan/latar belakang terbentuknya lembaga, adapun latar belakang serta tujuan terbentuknya Sanggar Kegiatan Belajar Karawang dan diselenggarkannya program pendidikan kesetaraan paket B adalah inisiatif pemerintah kabupaten Karawang untuk memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat yang tidak terakomodasi oleh pendidikan formal dan menyelenggarakan program pendidikan nonformal sesuai kebutuhan masyarakat. Identifikasi dilakukan sosialisasi dan rapat dengan pihak kelurahan/desa sekitar untuk mengedepankan kebutuhan belajar yang ada di masyarakat dan melakukan proses penerimaan warga belajar kepada masyarakat sekitar tanpa ada seleksi khusus, siapa saja yang ingin melanjutkan sekolah dapat mendaftar dengan persyaratan membawa ijazah terakhir. Sementara itu, rekrutmen tutor dilakukan secara tertutup, di mana tutor dapat melamar langsung kepada pengelola sesuai dengan kebutuhan mata pelajaran yang ada. Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan 72 Afif. Sutarjo & Suminar. Pengelolaan Program Percontohan Pendidikan Kesetaraan Paket B Di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Karawang kesetaraan Paket B adalah kurikulum 2013 pihak pengelola akan melakukan pembinaan dan implementasi kurikulum merdeka sesuai ketentuan yang berlaku dengan materi/bahan ajar yang berasal dari modul, buku paket, dan internet. Selain itu, akan direncanakan perubahan jadwal kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan pada hari kerja Senin hingga Jumat dari jam 8 pagi hingga selesai. Pembiayaan program pendidikan kesetaraan Paket B diperoleh dari APBN dan APBD yang disalurkan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang, serta diturunkan melalui Bantuan Operasional Sekolah Program (BOSP). Pagu anggaran dalam satu tahun adalah sebesar 28. 000 dengan nilai salur 14. 000 yang digunakan untuk keperluan operasional seperti pembelian alat pembelajaran dan gaji tutor. Pada proses pengorganisasian terdapat beberapa indikator diantaranya penentuan sumber belajar, rombongan belajar, dan pembagian tugas pengelola. Sumber belajar yang ada pada pendidikan kesetaraan Paket B telah dirancang dan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Sumber belajar tersebut mencakup buku pelajaran, media penunjang pembelajaran, pamong, tutor, sarana prasarana, modul pembelajaran. RPP, silabus, dan sumber belajar lainnya yang Pembagian rombongan belajar menjadi tiga kelas . elas VII. Vi. IX) yang disatukan dalam satu ruangan pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk mengorganisasi proses belajar mengajar sesuai dengan pengalaman belajar warga belajar. Dalam pembagian tugas setiap tutor diberikan tugas sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya, dan dalam beberapa kasus, ada tutor yang merangkap tugas sebagai operator dan tutor di program lainnya. Pembagian tugas ini akan mengoptimalkan pelaksanaan program pendidikan kesetaraan Paket B. Pada proses penggerakan dilakukan motivasi dalam pengembangan warga belajar, pamong, dan tutor dalam Program Pendidikan Kesetaraan Paket B. Melalui upaya motivasi yang dilakukan oleh pamong dan tutor, seperti memberikan pembinaan, arahan, dorongan, dan pemberian reward, diharapkan warga belajar dapat meningkatkan semangat belajar, keaktifan, dan partisipasi dalam pembelajaran. Pada proses pembinaan terdapat beberapa indikator diantaranya peran pamong serta tutor, supervise, monitoringdan pengawasan. Peran pamong dan tutor sangat penting dalam melakukan pembinaan terhadap warga belajar. Pembinaan dilakukan secara langsung oleh pamong dengan meninjau pembelajaran, memantau perkembangan warga belajar, dan melakukan monitoring terhadap kegiatan pamong, tutor, dan warga belajar. Aktivitas supervisi, monitoring, dan pengawasan dilakukan oleh penilik pembina tingkat wilayah dan kecamatan bertujuan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran, pengelolaan program, dan kegiatan lainnya berjalan dengan baik, dilakukan secara langsung dengan meninjau kegiatan pembelajaran, melakukan evaluasi, dan mengidentifikasi kendala serta masalah yang dihadapi oleh peserta didik dan pengelola program. Kegiatan ini dilakukan secara berkala, minimal sekali dalam satu semester, untuk memastikan perbaikan dan peningkatan yang kontinu dalam Program Pendidikan Kesetaraan Paket B. Pada proses penilaian terdapat beberapa indikator diantaranya penilaian proses dan penilaian Proses penilaian ini dilakukan oleh wali kelas atau pendekatan langsung kepada warga belajar untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi dan memberikan solusi serta motivasi. Selain itu, penilaian juga melibatkan pemberian tugas individu atau kelompok sebagai pengukuran perkembangan belajar. Penilaian tidak hanya terbatas pada warga belajar, tetapi juga terhadap pamong dan tutor, dengan dilakukan evaluasi kinerja dan memberikan saran dan Penilaian hasil warga belajar dilakukan oleh pamong dan tutor melalui berbagai metode penilaian, termasuk ulangan harian, uji kesetaraan, asesmen sumatif akhir semester. Volume 7. No. Januari 2024 pp 68-76 UTS. UAS, dan penilaian nasional. Penilaian mencakup aspek sikap, karakter, keaktifan, literasi, dan numerasi dengan hasil penilaian warga belajar dilaporkan dalam bentuk buku Pada proses pengembangan terdapat beberapa indikator diantaranya pengembangan program keterampilan dan pengembangan lulusan. Dalam pengembangan Program Pendidikan Kesetaraan Paket B di SKB Karawang, terdapat program keterampilan menjahit yang menjadi bagian integral dari kurikulum. Tujuan dari program keterampilan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan praktis dan pengalaman warga belajar dalam bidang menjahit. Meskipun pengembangan keterampilan tersebut sudah dilakukan dengan maksimal dan didukung oleh peralatan dan bahan yang memadai, masih terdapat kendala terkait kurangnyamotorik dan kemampuan warga belajar dalam menghasilkan karya yang optimal. Pada Program Pendidikan Kesetaraan Paket B, lulusan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau kehidupan selanjutnya. Mayoritas lulusan program ini melanjutkan ke jenjang berikutnya, seperti Paket C. SMA Negeri, atau Hal ini menunjukkan bahwa lulusan Program Pendidikan Kesetaraan Paket B telah memenuhi standar yang ada dan memenuhi kebutuhan belajar masyarakat. Standar lulusan pada program ini berperan penting dalam menjaga kualitas pendidikan yang diberikan. Faktor Pendukung dan Penghambat Pengelolaan Program Percontohan Pendidikan Kesetaraan Paket di Sanggar Kegiatan Belajar Karawang Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pada setiap proses pengelolaan program percontohan pendidikan kesetaraan paket B di SKB Karawang tidak terlepas terhadap faktor yang mempengaruhinya diantaranya faktor pendukung dan faktor penghambat. Pada faktor pendukung terdapat beberapa indikator yang menjadi pendukung dalam proses pengeloaan diantaranya kurikulum, sarana prasarana, waktu belajar, sumber belajar dan Kurikulum pada pendidikan kesetaraan paket B tersebut dianggap sesuai dengan kebutuhan belajar warga belajar. Kurikulum ini telah dirancang untuk memenuhi persyaratan dan ketentuan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu, kurikulum tersebut mencakup berbagai mata pelajaran yang penting untuk kehidupan seharihari dan persiapan lanjutan dalam pendidikan atau pekerjaan. Secara umum, sarana dan prasarana dianggap sudah cukup memadai untuk menunjang pembelajaran, meskipun ada beberapa fasilitas yang sudah rusak atau tidak layak pakai. Pengadaan sarana dan prasarana melibatkan proses perencanaan anggaran, pengajuan biaya kepada pemerintah atau dinas terkait, serta melibatkan berbagai pihak. Namun, secara keseluruhan, sarana dan prasarana dianggap cukup memadai dan mendukung proses pembelajaran, termasuk ruang kelas, perpustakaan, bahan ajar, komputer, mesin jahit, dan sumber daya lainnya. Alokasi waktu pembelajaran sudah sesuai dengan ketentuan dan kurikulum yang berlaku, telah mempertimbangkan kebutuhan belajar, dan mencakup waktu yang cukup. Namun, perlu diatasi masalah ketepatan waktu tutor untuk memastikan efektivitas pelaksanaan pembelajaran. Sumber belajar yang ada dalam pendidikan kesetaraan paket B dianggap telah sesuai dengan ketentuan yang ada, memenuhi kebutuhan belajar warga belajar, dan cukup memadai. Sumber belajar tersebut meliputi berbagai elemen seperti tutor yang sesuai kompetensinya, buku materi, modul pembelajaran, sumber daya alam dan non-alam, media penunjang pembelajaran, pamong, sarana prasarana. RPP). Silabus, dan lainnya yang menunjang kegiatan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan kesetaraan paket B telah berupaya menyediakan sumber belajar yang komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan warga belajar. Lingkungan 74 Afif. Sutarjo & Suminar. Pengelolaan Program Percontohan Pendidikan Kesetaraan Paket B Di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Karawang sekitar dan lingkungan teman sebaya memiliki pengaruh signifikan terhadap pengembangan warga belajar dalam Program Pendidikan Kesetaraan Paket B. Lingkungan yang mendukung, termasuk dukungan keluarga, teman sebaya, dan masyarakat sekitar, dapat meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan kepercayaan diri warga belajar. Pada faktor penghambat terdapat beberapa indikator yang menjadi penghambat dalam proses pengelolaan diantaranya rombongan belajar, partisipasi warga belajar, dan biaya. Dalam Program Pendidikan Kesetaraan Paket B, terdapat satu rombongan belajar yang dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kelas VII. Vi, dan IX, yang disatukan dalam satu ruangan pembelajaran. Namun, penyatuan kelas tersebut menjadi hambatan bagi tutor dalam penyampaian materi ajar kepada warga belajar. Beberapa tutor mengalami kesulitan dalam memberikan materi pelajaran secara efektif karena tingkatan kelas yang berbeda dalam satu ruangan pembelajaran. Partisipasi warga belajar terdapat variasi dalam tingkat partisipasi warga belajar. Secara umum, warga belajar terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran seperti mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, dan berinteraksi dengan pengajar dan sesama peserta didik. Terdapat juga upaya dari tutor dan pengelola program untuk menyediakan bimbingan, pembelajaran, dan dukungan kepada warga belajar. Namun demikian, masih terdapat beberapa warga belajar yang tidak aktif dalam pembelajaran, seperti bolos pelajaran atau cenderung berdiam diri saat pelajaran berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada tantangan dalam meningkatkan partisipasi warga belajar secara konsisten. Dalam pembiayaan meskipun terdapat bantuan dari pemerintah dalam bentuk Bantuan Operasional dan Dana Alokasi Khusus, masih terdapat keterbatasan dalam jumlah dana yang diberikan. Hal ini menyebabkan biaya operasional yang diperoleh masih kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan program dengan efektif dan efisien. KESIMPULAN Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa program pendidikan kesetaraan Paket B di Sanggar Kegiatan Belajar Karawang merupakan inisiatif pemerintah Kabupaten Karawang dalam memberikan layanan pendidikan nonformal kepada masyarakat yang tidak terakomodasi oleh pendidikan formal. Pamong serta tutor sebagai pengelola pendidikan nonformal pada SKB Karawang memfokuskan tujuan memenuhi kebutuhan akademik dan kecakapan hidup dari peserta didik. Dalam menyelenggarakan berbagai jenis pendidikan nonformal termasuk Pendidikan Kesetaraan Paket B. Proses pengelolaan Program Pendidikan Kesetaraan Paket B melibatkan tahapan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, penilaian, dan pengembangan setiap tahapan ini saling terkait dan mendukung keberhasilan program. Pengelola program Pendidikan Kesetaraan Paket B di SKB Karawang pada proses perencanaannya telah berupaya merencanakan tujuan program, mengidentifikasi kebutuhan belajar, menentukan kurikulum dan merancang pembiayaan program. Proses pengorganisasian dilakukannya penentuan sumber belajar komprehensif yang mendukung kebutuhan belajar warga belajar, pembagian rombongan kelas dan pembagian tugas pengelola. Selain itu, pada proses penggerakan upaya motivasi yang dilakukan oleh pamong dan tutor, seperti memberikan pembinaan, arahan, dorongan, dan pemberian reward, diharapkan warga belajar dapat meningkatkan semangat belajar, keaktifan, dan partisipasi dalam pembelajaran. Proses pembinaan dilakukan oleh pihak internal yaitu kepala lembaga maupun eksternal yaitu penilik pembina yang melakukan supervisi, monitoring dan pengawasan secara langsung dan Volume 7. No. Januari 2024 pp 68-76 tidak langsung dilakukan secara berkala minimal sekali dalam satu semester, untuk memastikan perbaikan dan peningkatan program. Proses penilaian difokuskan pada penilaian proses melibatkan pemberian tugas individu atau kelompok sebagai pengukuran perkembangan belajar dan penilaian hasil warga belajar melalui berbagai metode penilaian, termasuk ulangan harian, uji kesetaraan, asesmen sumatif akhir semester. UTS. UAS, dan penilaian nasional. Penilaian mencakup aspek sikap, karakter, keaktifan, literasi, dan numerasi dengan hasil penilaian warga belajar dilaporkan dalam bentuk buku rapor. Penilaian tidak hanya terbatas pada warga belajar, tetapi juga terhadap pamong dan tutor, dengan dilakukan evaluasi kinerja dan memberikan saran dan masukan dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran. Proses pengembangan dilakukan untuk memajukan penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan Paket B agar lebih baik dengan pengembangan program keterampilan dan kompetensi lulusan, lulusan pada program ini telah memenuhi standar yang ada dan memenuhi kebutuhan belajar masyarakat, dengan mayoritas lulusan melanjutkan ke jenjang berikutnya atau bekerja. Faktor pendukung yang mempengaruhi pengelolaan program meliputi kurikulum yang sesuai, sarana prasarana yang memadai, alokasi waktu pembelajaran yang memadai, sumber belajar yang relevan, dan lingkungan yang mendukung. Namun, terdapat juga faktor penghambat seperti pembagian rombongan belajar yang menimbulkan tantangan dalam penyampaian materi ajar, variasi partisipasi warga belajar, dan keterbatasan biaya operasional. Dengan pemahaman atas faktor pendukung dan penghambat yang ada, dapat dilakukan upaya perbaikan dan pengembangan berkelanjutan untuk menjaga kualitas pendidikan dalam Program Pendidikan Kesetaraan Paket B di Sanggar Kegiatan Belajar Karawang. DAFTAR PUSTAKA