JURNAL Al-Manaj Volume 5. Nomor 1 Juni 2025 P-ISSN: 27752062 E-ISSN: 27758729 HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS AGAMA DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH: ANALISIS KONTEN FILM AISYAH, BIARKAN KAMI BERSAUDARA Hamdan1. Ali Mustafa2*. Fachrur Rizha3 1,2,3 Institut Agama Islam Negeri Takengon. Aceh Tengah. Indonesia *Email: ammustafa8@gmail. Kata kunci Abstrak Komunikasi lintas agama, hambatan komunikasi, film Komunikasi lintas agama adalah salah satu elemen krusial dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan inklusif. Dalam konteks pendidikan, komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai instrumen penting untuk membangun saling pengertian dan menghargai perbedaan. Artikel ini membahas sebuah film berjudul AuAisyah: Biarkan Kami BersaudaraAy karya Herwin Novianto . Film ini mengangkat cerita tentang seorang guru muslimah yang ditugaskan untuk mengajar di wilayah terpencil yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Tiga hal yang menjadi fokus penelitian, yaitu: . representasi komunikasi lintas agama dalam pembelajaran, . hambatan-hambatan komunikasi lintas agama, dan . upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis Hasil penelitian mengungkap bahwa film AuAisyah: Biarkan Kami BersaudaraAy merepresentasikan komunikasi lintas agama dalam dua bentuk, yaitu verbal dan non-verbal, dan dalam tensi harmonis dan Hambatan komunikasi lintas agama dalam konteks pembalajaran yang ditemukan dalam film ini meliputi perbedaan nilai, stereotip dan prasangka, disinformasi, dan sikap tidak terbuka. Upaya mengatasinya antara lain meningkatkan literasi lintas agama, dialog terbuka dan diskusi, penerimaan dan toleransi, menunjukkan empati dan ketulusan, serta melibatkan opinion leader. Temuan penelitian menegaskan kontribusinya pada pengembangan kajian komunikasi lintas budaya dan lintas agama, serta memperkaya perspektif tentang peran media sebagai refleksi sekaligus instrumen edukatif dalam membangun kesadaran multikultural. Keywords Interfaith barriers, film Abstract Interfaith communication is one of the crucial elements in creating a harmonious and inclusive society. In the context of education, communication not only serves as a means of conveying information, but also as an important instrument to build mutual understanding and respect for differences. This article discusses a film entitled AAisyah: Let Us Be BrothersA by Herwin Novianto . The film tells the story of a Muslimah teacher who is assigned to teach in a remote area where the majority of the population is Catholic. Three things are the focus of the research, namely: . representation of interfaith communication in learning, . barriers to interfaith communication, and . efforts made to overcome these barriers. This research uses qualitative method with content analysis technique. The results revealed that the film AAisyah: Let Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 Us Be BrothersA represents interfaith communication in two forms, namely verbal and non-verbal, and in harmonious and disharmonious The barriers to interfaith communication in the context of teaching found in this film include differences in values, stereotypes and prejudices, disinformation, and non-openness. Efforts to overcome them include increasing interfaith literacy, open dialogue and discussion, acceptance and tolerance, showing empathy and sincerity, and involving opinion leaders. The research findings confirm its contribution to the development of cross-cultural and interfaith communication studies, as well as enriching perspectives on the role of the media as a reflection as well as an educative instrument in building multicultural awareness. Pendahuluan Komunikasi lintas agama adalah salah satu elemen krusial dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan inklusif. Hal ini sangat diperlukan terutama di negara yang pluralistik seperti Indonesia. Dalam konteks pendidikan, di mana terdapat latar belakang agama yang beragam pada siswa dan guru, maka komunikasi lintas agama tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai instrumen penting untuk membangun saling pengertian dan menghargai perbedaan. Problemnya, proses komunikasi seperti ini sering kali dihadapkan pada berbagai hambatan, baik yang bersifat linguistik, kultural, maupun psikologis. Perbedaan dalam interpretasi simbol-simbol budaya dapat menjadi salah satu sumber utama terjadinya misinterpretasi dan konflik (Purnomo et al. Hal ini sangat mungkin terjadi dalam komunikasi lintas agama. Hambatan komunikasi lintas agama di lingkungan sekolah dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk stereotip negatif, prasangka, dan perbedaan nilai yang dianut oleh siswa dan pendidik dari latar belakang agama yang berbeda. Asumsi-asumsi negatif terhadap agama lain sering kali berakar pada persepsi yang tidak akurat, yang pada akhirnya memperburuk relasi antar kelompok agama. Hambatan-hambatan ini bukan hanya menurunkan efektivitas proses pembelajaran, tetapi juga dapat menimbulkan segregasi dan memperkuat konflik sosial dalam skala yang lebih luas. Film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, yang rilis tahun 2016, mengisahkan perjalanan seorang guru Muslim yang mengajar di komunitas mayoritas non-Muslim di Nusa Tenggara Timur (Novianto, 2. , menjadi salah satu karya yang relevan untuk dianalisis dari sudut pandang komunikasi lintas agama dalam pembelajaran di sekolah. Bagaimanapun, film merupakan sebuah media yang dapat digunakan untuk merekonstruksi realitas sosial (Andrews, 2. Seperti halnya film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, setidaknya ada dua realitas sosial yang diangkat dalam karya Herwin Novianto ini. Pertama, realitas masyarakat Indonesia yang majemuk. Indonesia memiliki beragam suku, bahasa, dan agama. Kedua, realitas yang terjadi di Indonesia pada tahun 2015-2017 adalah banyaknya terjadi kasus terorisme (Prasetia, 2. Dengan demikian, hambatan-hambatan yang dialami oleh Aisyah mengajar siswa beda agama dalam film ini, dapat dipahami sebagai realitas sosial yang ditemui di dunia nyata. Kajian terdahulu sudah banyak mengulas film yang sama. Peneliti sebelumnya cenderung melihat film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara dari perspektif nilai-nilai yang ditonjolkan oleh film, seperti nilai toleransi (Amah, 2018. Arvenanda, 2024. Malik, 2021. SM, 2017. Subang, 2018. Suprikhatin, 2020. Usman, 2. , nilai sosial (Hidayat, 2017. Nathasya, 2021. Ramadian, 2. , nasionalisme (Setyowati & Sari, 2. , nilai pendidikan dan profesionalitas guru (Amah, 2018. Dewa, 2018. Doppert & Witarti, 2020. Yanti & Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 Rabiaty, 2. , nilai kesabaran (Machbubah, 2. , nilai kemanusiaan (Susiati, 2. , nilai kebersamaan dan pertentangan (Susiati, 2020a, 2020. , serta budaya (Berliantina, 2. dan multikulturalisme (Rahmahesti, 2. Kajian penelitian ini menggunakan perspektif baru, yakni pendekatan komunikasi dan pendidikan dilihat dari sisi hambatan komunikasi lintas agama dalam konteks pembelajaran di sekolah. Dengan menggunakan teknik analisis konten, artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi tiga hal dari film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, yaitu: . representasi komunikasi lintas agama dan pembelajaran di sekolah, . hambatan-hambatan komunikasi lintas agama dalam pembelajaran, dan . upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi pembelajaran yang lebih inklusif dan mendukung terciptanya lingkungan belajar yang harmonis bagi semua siswa, tanpa memandang latar belakang agama mereka. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah film Indonesia bertema pendidikan yang berjudul AuAisyah: Biarkan Kami BersaudaraAy karya Herwin Novianto (Novianto, 2. yang ditayangkan pada pertengahan Mei 2016. Dalam hal ini, peneliti mengambil dokumen video film tersebut dari saluran akun YouTube eM We. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak (Susiati, 2020. Dengan teknik ini, peneliti melihat dan mendengar secara teliti setiap objek yang ditampilkan dalam film baik teks, gambar, dialog maupun adegan-adegan yang ditayangkan dalam film. Data penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis konten . ontent analysi. (Bungin, 2012. Elo & Kyngys, 2007. Krippendorff, 2. Video yang dijadikan objek penelitian ini berdurasi 1 jam 41 menit 14 detik. Pemutaran video film dilakukan dari awal hingga akhir. Semua scene dalam video menjadi objek analisis penelitian. Hal ini dilakukan untuk melihat secara komprehensif tentang representasi komunikasi lintas agama, hambatanhambatan yang muncul, serta upaya yang dilakukan untuk mengatasinya. Secara umum, unit analisis dalam penelitian ini dibagi ke dalam tiga bagian. Pertama, teks, meliputi semua yang ditampilkan dalam bentuk teks seperti teks subtitle, informasi pemain, dan durasi film. Kedua. Peneliti mendengar dengan teliti setiap bunyi yang dimunculkan film, seperti dialog dan musik latar. Ketiga, gambar dan video. Gambar, gestur, dan ekspresi pemain yang ditampilkan pada film menjadi objek dalam penelitian ini. Analisis terhadap objek teks, audio, gambar dan video ini dilakukan secara integratif, sehingga proses identifikasi, klasifikasi, dan penarikan kesimpulan tidak parsial. Hasil dan Pembahasan Representasi Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah Representasi Komunikasi Lintas Agama Selain bertema pendidikan, film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara juga menonjolkan nuansa religi, tepatnya tentang interaksi antarumat beragama. Secara akademis, film ini telah banyak dikaji sebagai film yang mengandung nilai-nilai toleransi beragama. Dengan demikian, muatan komunikasi lintas agama merupakan sesuatu yang konkret ditemukan dalam film karya Herwin Novianto ini. Sosok Aisyah yang diperankan oleh Laudya Cynthia Bella memiliki latarbelakang keluarga muslim religius di daerah Ciwidey. Jawa Barat. Sementara tempat ia mengajar. Nusa Tenggara Timur memiliki penduduk yang mayoritas non-muslim. Bahkan, di Dusun Derok digambarkan dalam film sebagai sebuah daerah terpencil yang penduduknya semua beragama Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 Katolik. Aisyah adalah satu-satunya yang beragama Islam karena ia seorang pendatang. Sehari-hari. Aisyah berinteraksi dengan umat Katolik baik dalam masyarakat maupun ketika mengajar di sekolah. Di Derok. Aisyah tinggal di rumah yang disediakan oleh Kepala Dusun. Jadi, selain lintas budaya, film ini juga mengkonstruk fenomena komunikasi lintas agama. Adapun komunikasi lintas agama yang diangkat dalam film ini adalah komunikasi antarumat Islam dan Katolik. Terdapat beberapa adegan yang memunculkan aspek religiusitas dari kedua sisi Religiusitas Islam ditampilkan melalui personal Aisyah dan ibunya, serta setting keberagaaman di Jawa Barat ketika suasana Ramadan. suasana menjelang mudik lebaran umat Islam. Secara simbolik-nonverbal. Aisyah dan ibunya dipersonalisasi sebagai figur yang konsisten mengenakan busana muslimah, yakni jilbab. Sementara dalam bentuk verbal. Aisyah dan ibunya dalam beberapa adegan ditampilkan menyebut beberapa kalimat Islami seperti AuassalamuAoalaikumAy ketika bertelpon. AualhamdulillahAy ketika mendapat kabar diterima yayasan menjadi guru. AuInsya Allah, aminAy ketika Aisyah dialog dengan kepala sekolah, dan AuastagfirullahalAazhimAy ketika mendengar tuduhan siswa kepada Aisyah. Selain itu, religiusitas juga ditampilkan oleh Aisyah dalam gestur dan ritual ibadah. Aisyah menengadahkan tangan dan mengusap wajah . anda berdo. sebelum memulai makan bakso dan makan bersama dengan warga dusun Derok. Aisyah juga menampilkan adegan berwudu/tayammum dan ritual Salat dalam beberapa adegan. Dari sudut pandang Katolik, religiusitas pemeluknya ditampilkan dalam beberapa figur, simbol, dan ritual. Secara simbolik non-verbal, religiusitas ditampilkan oleh seorang perempuan yang memakai kostum biarawati ketika Aisyah di dalam bis perjalanan menuju Derok. visualisasi patung Bunda Maria di rumah kepala dusun. pohon Natal ketika Aisyah dan siswa pergi ke Atambua. dan kalung salib yang dipakai oleh Lordis Defam. Dalam bentuk verbal antara lain ditampilkan oleh Pedro dan istrinya yang menggunakan kalimat AuPuji TuhanAy, kata AuSuster MariaAy yang disebut oleh kepala dusun, dan kata Aupatung Bunda MariaAy yang disebutkan oleh Siku Tavarez. Lalu dalam bentuk simbolik-ritual ditampilkan oleh kepala dusun dan warga Dusun Derok ketika menjamu makan Aisyah. Di sisi lain, penggunaan nama-nama pemeran yang ditampilkan dalam film juga sebenarnya memberi nunasa religiusitas. Secara kultural di Indonesia. AuAisyahAy adalah nama yang menunjukkan identitas kuat seorang muslimah. Sementara nama seperti AuPedroAy. AuYohanesAy. AuLordisAy. AuSiku TavarezAy, dan AuMarceloAy memiliki bias persepsi sebagai identitas bagi non-muslim. Jadi, selain memuat kesan budaya, nama juga mengandung kesan agama. Dalam konteks komunikasi, terdapat beberapa scene yang menampilkan aktivitas komunikasi lintas agama. Pertama, ketika Aisyah dalam perjalanan ke Derok, ia berdialog dengan seorang penumpang perempuan yang mengenakan pakaian biarawati. Kedua, komunikasi dengan Pedro saat pertama kali tiba di lokasi tempat mengajar. Ketiga, ketika Aisyah disambut oleh Kepala Dusun dan warga Dusun Derok. Keempat, komunikasi antara Aisyah dan Mama Dusun . stri Kepala Dusu. Kelima, komunikasi Aisyah dengan siswa di SD 1 Derok, termasuk Lordis Defam. Keenam, komunikasi Aisyah dengan paman Lordis Defam. Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 Tabel 1. Bentuk Komunikasi Lintas Agama dalam Film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara Verbal Dialog interaktif Non-Verbal Ekspresi: empati, kaget, benci, marah Diskusi ajaran/nilai-nilai agama Gestur: gestur berdoa, sentuhan Ritual: berwudu, tayammum, salat, puasa Benda-benda agama: jilbab, kalung salib, gambar/patung Bunda Maria, pohon Natal Sumber: Diolah dari Data Penelitian Secara garis besar, komunikasi lintas agama yang ditampilkan dalam film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, terjadi dua bentuk. Pertama, komunikasi verbal. Komunikasi verbal dilakukan dalam bentuk percakapan langsung atau dialog yang bersifat interaktif. Adegan yang mewakili ini diantaranya ialah ketika Aisyah berdialog dengan siswa di halaman sekolah membincangkan tentang agama yang dianut oleh Aisyah. Kedua, komunikasi nonverbal. Komunikasi non-verbal ditampilkan dalam bentuk penggunaan simbol-simbol nonverbal ketika interaksi lintas agama berlangsung. Simbol-simbol non-verbal yang muncul dalam komunikasi lintas agama pada film ini adalah ekspresi, gestur, ritual, dan benda-benda Ekspresi terlihat ketika Aisyah pertama kali disambut oleh warga Dusun Derok. Aisyah terkejut bahkan jatuh pingsan setelah dipanggil AuSuster MariaAy oleh Kepala Dusun. Begitupun sebaliknya, kepala dusun dan warga tegang ketika mendengar penjelasan Pedro bahwa Aisyah seorang muslimah. Berikut cuplikan dialog dalam film: Kepala Dusun: AuPantas tadi beta panggil dia Maria, dia bingungAy Pedro: AuHmm. Ibu guru pu nama AsiyahAy Siku Tavarez: AuIbu guru Aisyah agama Islam dia bukan susterAy Pedro: AuAduh, siapa bilang dia susterAy Siku Tavarez: Autadi bapak kepala dusun bilang dia susterAy (Novianto, 2. Selain itu, empati juga masuk ke dalam ekspresi komunikasi antarumat beragama yang ditampilkan dalam Fim Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara. Mama Dusun . stri Kepala Dusu. meminta maaf kepada Aisyah karena keterbatasan air sehingga khawatir Aisyah tidak bisa menunaikan ibadah Salat. Sebaliknya. Aisyah berempati betapa sulitnya mendapatkan air bersih sehingga ia membantu mengambil air ke sumbernya dan bahkan memilih untuk tayammum daripada berwudu. Dua adegan ini setidaknya menggambarkan empati dalam komunikasi lintas agama. Selanjutnya, gestur dapat diamati saat warga Dusun Derok dan Aisyah berdoa sesuai agama masing-masing dalam acara jamuan makan bersama. Juga dalam kelas ketika Aisyah menyentuh beberapa siswa seperti Julia Okid. Komunikasi dengan ritual misalnya terjadi ketika Aisyah melakukan Salat dan puasa Ramadan di depan siswa. Sedangkan penggunaan simbol benda agama terlihat jelas pada kostum jilbab yang digunakan Aisyah dan kalung Salib yang dipakai oleh Lordis Defam. Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 Gambar 1. Jamuan Makan Bersama Warga Dusun Derok Dilihat dari perspektif tensi komunikasi, aktivitas komunikasi lintas agama yang terjadi dalam film ada dua bentuk, yaitu komunikasi harmonis dan disharmonis. Komunikasi harmonis terjadi dalam banyak adegan. Antara lain dalam komunikasi Aisyah dengan Pedro. Kepala Dusun. Mama Dusun, dan para siswa kecuali Lordis Defam. Komunikasi Aisyah dengan Lordis pada awalnya disharmonis, hingga pada akhir cerita menjadi harmonis. Komunikasi disharmonis juga terjadi antara Aisyah dan paman Lordis. Representasi Pembelajaran di Sekolah Film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara mempresentasikan tema pendidikan yang cukup kuat, dari awal hingga akhir cerita film. Bahkan, film ini dirilis dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardikna. pada Mei 2016. Dalam prolog film ini, sang tokoh utama. Aisyah, diperkenalkan sebagai seorang anak berusia 20-an tahun yang baru lulus sarjana pendidikan. Impian Aisyah adalah menjadi seorang guru sesuai dengan latar belakang Hal ini ditunjukkan dalam adegan dimana Aisyah menolak ketika dipromosikan ibunya agar bekerja selain guru. AuSoalnya kalau kerja di tempat Uwa kan gak nyambung sama jurusan teteh. Iya, masa sarjana pendidikan kerja jadi tukang pupukAy, kata Aisyah. Dalam dialog yang lain, bahkan ketika mendapatkan tantangan mengajar di lokasi terpencil. Aisyah menunjukkan tekad kuat menjalani cita-citanya sebagai guru. Dalam film ini. Aisyah yang berasal dari Ciwidey. Jawa Barat, mewujudkan citacitanya dengan mengajukan lamaran sebagai guru di daerah terpencil melalui sebuah yayasan. Alhasil, ia diterima dan ditugaskan menjadi guru sekolah dasar di Derok, sebuah dusun di Distrik Timor Tengah Utara. Nusa Tenggara Timur. Di sana. Aisyah memiliki sekitar 15 orang murid yang didominasi oleh laki-laki. Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 Gambar 2. Suasana Pembelajaran di Kelas SD 1 Derok Realitas pembelajaran di sekolah yang ditemukan dalam penelitian ini sejalan dengan temuan beberapa penelitian terdahulu yang banyak mengangkat nilai pendidikan dan profesionalitas guru (Amah, 2018. Dewa, 2018. Doppert & Witarti, 2020. Yanti & Rabiaty, 2. Setidaknya terdapat enam kali komunikasi guru dan murid dengan setting kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Keenam adegan ini dapat ditandai dengan tampilan enam kustom berbeda yang digunakan oleh Aisyah di dalam kelas. Pertama kali ketika Aisyah diperkenalkan oleh kepala sekolah sekaligus hari pertama Aisyah mengajar. Terakhir, ketika Aisyah singgah di sekolah menjelang pulang ke Jawa Barat dalam rangka mudik lebaran. Aisyah bertemu dengan satu murid bernama Lordis Defam yang tadinya membenci berubah menjadi simpati. Selain pembelajaran di sekolah, film ini juga menggambarkan bagaimana interaksi dan komunikasi guru-murid di luar kelas. Adegan seperti ini ditampilkan beberapa kali. Pertama, ketika Aisyah berdialog dengan Siku Tavarez perihal mempertanyakan alasan para siswa tidak masuk sekolah. Kedua, ketika Aisyah berdialog dengan murid di halaman sekolah membincangkan latarbelakang Aisyah dan keragaman agama di Indonesia. Ketiga, saat Aisyah dan para murid pergi ke pasar Atambua diantar oleh Pedro . iperankan oleh Arie Kritin. Keempat, ketika belajar eksperimen di luar kelas, termasuk saat membuat ornamen perayaan Natal dan media penyulingan air. Kelima, saat Aisyah dan para siswa berkunjung ke rumah Lordis Defam dan berujung di rumah sakit. Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran yang Dikonstruksi dalam Film Film ini menampilkan sejumlah tantangan yang dihadapi Aisyah dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru kontrak. Sebagai daerah terpencil, tentu keterbatasan fasilitas menjadi kendala yang tidak mungkin diabaikan. Aisyah menembus jarak tempuh sejauh 10 kilo meter dari tempat domisili untuk sampai ke sekolah. Ketiadaan sumber listrik dan keterbatasan air menjadi kendala yang cukup serius. Aisyah harus menggunakan jasa orang lain untuk mengisi daya listrik telepon selulernya. Selain itu, fasilitas sekolah dan keadaan sosial ekonomi masyarakat menyebabkan Aisyah hanya mengandalkan komunikasi langsung atau tatap muka dalam pembelajaran. Pertama kali Aisyah masuk mengajar, para siswa terlihat tegang dan takut. Tidak satupun yang menjawab salam Aisyah. AuSelamat pagi anak-anak, selamat pagi anak-anakku Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 semuaAy. Aisyah mencoba memperbaiki suasana dengan ramah meminta siswa memperkenalkan diri secara bergantian. Namun, ternyata seorang siswa bernama Lordis Defam berdiri dan marah. Ia malah mengajak siswa lain pulang. Akibat dari kejadian ini, selama satu pekan siswa mogok sekolah. Bahkan, mereka enggan menjelaskan apa alasan yang mendasari sikap tersebut. Gambar 3. Lordis Defam marah kepada Aisyah Adegan seperti ini menjelaskan bahwa keterbatasan fasilitas dan jarak, bukanlah kendala utama yang dihadapi oleh Aisyah dalam melaksanakan tugas sebagai guru. Justru, kendala utama pembelajaran yang dikonstruksi oleh Herwin Novianto melalui film ini adalah hambatan komunikasi. Perbedaan budaya dan agama dapat memicu sejumlah kendala dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini mengidentifikasi empat hambatan utama pembelajaran dalam konteks komunikasi lintas agama. Empat hambatan tersebut adalah perbedaan nilai dan keyakinan, stigma dan prasangka, disinformasi, dan kurang terbuka. Perbedaan Nilai dan Keyakinan Dalam konteks komunikasi lintas agama, perbedaan nilai dan keyakinan adalah sebuah Perbedaan ini yang kemudian berpotensi menghambat komunikasi Dalam kasus film ini, kostum Aisyah yang mengenakan jilbab sebagai implementasi keyakinan Aisyah sebagai umat Islam menimbulkan kecemasan pada siswa di Selain itu, adegan Salat dan Puasa yang dilakukan oleh Aisyah di hadapan siswa memberikan kesan AuberbedaAy. Dalam konteks film ini, terdapat ungkapan ringan yang mengindikasikan kebingungan dari siswa. Siswa (Siku Tavare. : AuTiap hari Ibu sering berdoa koh?Ay Guru (Aisya. : AuSatu hari cuma lima kali saAy Siswa (Siku Tavare. : AuLima kali? Banyak itu. Ibu sonde capek koh?Ay(Novianto. Ini adalah penggalan dialog yang terjadi antara Aisyah dan para siswa. Dialog ini terjadi di rumah sakit ketika mereka menjaga Lordis yang sedang di rawat akibat terjatuh. Dalam kesempatan itu, para siswa melihat Aisyah melakukan ritual Salat. Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 Stigma dan Prasangka Stereotip negatif tentang Aisyah sebagai Auorang luarAy yang membawa nilai-nilai asing menjadi hambatan utama dalam film ini. Ada beberapa stigma yang dikemukakan secara eksplisit oleh siswa kepada Aisyah sebagai seorang muslimah. Terdapat sebuah adegan dimana dua orang siswa. Marcelo dan Budiama, mengungkapkan alasan mereka bersikap dingin kepada Aisyah. Ternyata. Marcelo memiliki prasangka bahwa kedatangan Aisyah ke desa mereka untuk menghancurkan gereja. Begitupun Budiama menyangka bahwa Aisyah datang hendak membawa pasukan dan membakar rumah-rumah mereka. Dalam film tersebut jelas digambarkan bahwa stigma dan prasangka negatif menjadi hambatan utama yang menyebabkan komunikasi guru dengan peserta didiknya bermasalah. Aisyah dihindari oleh siswanya karena terdapat stigma tentang Islam sebagai agama teroris, yang memicu munculnya prasangka negatif kepada Aisyah. Herwin Novianto, sutradara film ini, sepertinya mengangkat realitas sosial yang ada di Indonesia ketika itu. Menurut sebuah berita, tahun 2015-2017 tercatat sebanyak 336 tersangka kasus terorisme (Prasetia, 2. Dan kala itu, pelaku terorisme yang ditangkap di Indonesia kerap mengaku atas nama agama Islam. Dalam komunikasi pembelajaran di sekolah, stigma dan prasangka berkaitan kredibilitas guru sebagai komunikator. Kredibilitas komunikator adalah salah satu faktor penting yang mendukung efektivitas komunikasi. Ketika siswa memiliki stereotip dan prasangka negatif terhadap guru, itu sama artinya dengan mendegradasi kredibilitas guru. Disinformasi Disinformasi maksudnya di sini adalah informasi salah yang dengan sengaja disebarkan untuk menyesatkan orang lain (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbudristek, 2. Dalam film ini, salah satu sebab siswa takut dan membenci Aisyah adalah adanya upaya secara sengaja menyebarkan informasi yang salah tentang Islam. Terdapat dua pengakuan terkait hal ini. Pertama. Marcelo dan Budiama mengaku bahwa mereka diberi informasi oleh Lordis Defam kalau Aisyah memiliki niat buruk datang ke Dusun Derok, yaitu menghancurkan gereja dan membakar rumah-rumah warga. Jadi, dalam konteks ini. Lordis Defam adalah orang yang menyebabkan terjadinya disinformasi. Kedua, pengakuan Lordis Defam sendiri bahwa ia memiliki persepsi buruk tentang Aisyah atas informasi dari pamannya. Berikut dialog Aisyah dan Lordis: Lordis: AuLo orang jahat, orang jahat tidak boleh mengajar di tempat kamiAy Aisyah: AuBeta pung salah apa?Ay Lordis: AuLo orang Islam toh, paman ku bilang orang Islam suka menghancurkan gerejaAy(Novianto, 2. Berdasarkan dialog tersebut, berarti disinformasi yang terjadi dalam film tersebut terjadi secara berantai. Pertama dari paman Lordis, lalu dari Lordis kepada siswa SD 1 Derok Hal ini lah yang menjadi sumber masalah komunikasi Aisyah dengan siswanya. Siswa enggan diajar oleh Aisyah karena dianggap mereka Aisyah adalah pribadi yang jahat. Jadi, disinformasi menjadi hambatan dalam komunikasi pembelajaran. Sikap Tidak Terbuka Hambatan utama lainnya dari komunikasi lintas agama dalam pembelajaran di sekolah yang dapat diidentifikasi melalui Film Aisyah: Biarkan Kami BersaudaraAy adalah sikap kurang terbuka. Tidak terbuka maksudnya ada dua, pertama tidak menyampaikan informasi Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 apa adanya . , kedua tidak membuka diri untuk berkomunikasi. Terdapat dua adegan terkait hal ini. Pertama, kasus ketika Siku Tavarez diajak berdialog oleh Aisyah mempertanyakan penyebab siswa tidak mau diajar olehnya. Namun. Siku tidak terbuka, ia malah menutupi alasan sebenarnya. Siku berkilah, bahwa dia tidak masuk kelas karena menjenguk saudaranya. Ternyata, obrolan mereka terlihat oleh Lordis. Akhirnya Lordis memukul Siku. Lordis lah yang mengintimidasi siswa lain agar tidak berinteraksi dan terbuka dengan Aisyah. Setelah Siku dipukul Lordis, ia masih melakukan ketidakjujuran berikutnya. Siku mengatakan kalau dia dipukul oleh sejenis hantu, untuk menutupi Lordis, pelaku sebenarnya. Akhirnya fakta terungkap setelah Aisyah masuk kelas di hari berikutnya. Dari sinilah kemudian Aisyah mencari tahu kenapa siswa takut kepada Lordis sehingga harus Kedua, sikap tidak terbuka ditunjukkan oleh paman Lordis. Aisyah tidak memiliki kesempatan untuk diskusi dan dialog secara terbuka dengan paman Lordis. Sehingga, hubungan Aisyah dan paman Lordis tidak menunjukkan ending yang positif. Karena pamannya yang menutup diri inilah. Lordis menjadi sulit diajak komunikasi oleh Aisyah. Ketika Aisyah dan siswa lain datang hendak berkomunikasi dengan Lordis, pamannya justru mengusir mereka. Gambar 4. Lordis Defam marah kepada Aisyah Adegan lain menggambarkan bahwa ketika Aisyah mulai melakukan dialog dengan Lordis di rumah sakit, tiba-tiba sang paman menjemput paksa Lordis dan membawanya pulang. Hal ini juga menegaskan terdapat upaya secara sengaja untuk menutup akses komunikasi antara Lordis dan gurunya. Aisyah. Inilah antara lain yang menjadi hambatan utama komunikasi lintas agama dalam pembelajaran di sekolah. Upaya Mengatasi Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran Selanjutnya, bagian ini mengidentifikasi solusi . roblem solvin. yang dikonstruksi dalam Film AuAisyah: Biarkan Kami BersaudaraAy untuk mengatasi hambatan komunikasi lintas agama dalam pembelajaran di sekolah. Penelitian ini menemukan setidaknya lima solusi untuk mengatasi hambatan komunikasi lintas agama Islam-Katolik dalam pembelajaran di Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 Meningkatkan Literasi Lintas Agama Literasi lintas agama yang memadai dapat membantu mengatasi hambatan Film menunjukkan bahwa Aisyah berusaha belajar tentang budaya dan agama masyarakat setempat, yang membantu mengurangi kesalahpahaman. Demikian pula warga dan siswa yang diajar Aisyah, mereka secara bertahap berupaya mengenal agama Islam. Literasi lintas agama dapat mengurangi stereotip dan prasangka, serta memperkuat pemahaman antara kelompok agama yang berbeda. Dalam teori komunikasi, pengenalan yang mendalam satu sama lain antara komunikator dan komunikan dapat mempengaruhi tingkat keintiman relasi. (West & Turner, 2. Dalam film digambarkan Aisyah memberikan penjelasan kepada siswa tentang keragaman agama di Indonesia. Bahkan, seiring sejalan pembelajaran di dalam dan luar kelas. Aisyah terus mendapatkan kesempatan untuk memberikan pemahaman kepada siswa Katoliknya tentang Islam. Dampaknya, siswa Aisyah memiliki wawasan yang memadai tentang Islam. Wawasan keagamaan ini berbanding lurus dengan sikap moderasi beragama. (Aziz, 2. Semakin moderat keberagaman seseorang, maka semakin mudah ia menjalin komunikasi lintas agama. Dialog Terbuka dan Diskusi Dialog terbuka dan diskusi antara Aisyah dan masyarakat desa adalah solusi kunci untuk mengatasi hambatan komunikasi. Melalui dialog, kedua belah pihak dapat memahami dan menghargai perbedaan satu sama lain. Dialog terbuka adalah langkah penting dalam membangun pemahaman dan mengurangi ketegangan. Solusi ini dalam film diaplikasikan oleh Aisyah secara jelas. Pertama, ketika ia berdialog dengan Siku Tavarez mendiskusikan alasan siswa tidak mau masuk kelas. Kedua, dialog dengan kepala dusun dan beberapa warga. Ketiga. Aisyah kerap diskusi dengan siswa di kelas tentang hambatan komunikasi yang terjadi. Keempat, secara khusus Aisyah berupaya membangun dialog dengan Lordis dan pamannya. Hanya saja, paman Lordis tetap menutup akses untuk dialog dan diskusi. Secara teoretis, keterbukaan . adalah salah satu faktor yang menentukan efektivitas komunikasi. Dengan keterbukaan, komunikator menciptakan relasi yang lebih intim dan dapat mengidentifikasi sumber masalah yang menghambat jalannya komunikasi. Dengan dasar inilah kemudian pintu-pintu penyelesaian masalah terbuka. Penerimaan dan Toleransi Nilai-nilai toleransi mendapatkan porsi yang cukup besar dalam film ini. Ini sekaligus menegaskan bahwa salah satu solusi penting yang dapat diterapkan untuk memperlancar komunikasi lintas agama dalam pembelajaran adalah penerimaan dan toleransi. Hal ini ditunjukkan dalam adegan berdoa menurut agama masing-masing pada acara jamuan makan bersama di Dusun Derok. Kemudian adapula adegan toleransi dimana siswa memberi waktu gurunya (Aisya. untuk menunaikan Salat di sela-sela interaksi mereka. Ada dua adegan menarik yang dapat disoroti dalam film ini. Pertama, adegan ketika Aisyah dan siswanya di rumah sakit. Di sana, seorang siswa menawarkan diri untuk membantu Aisyah membelikan makanan untuk berbuka puasa. AuKalau ibu mau beli makanan buat buka puasa, suruh katong saAy, kata Siku Tavarez (Novianto, 2. Kedua, adegan dimana warga dusun mengumpulkan uang untuk membantu Aisyah membeli tiket mudik Sebaliknya. Aisyah juga menunjukkan sikap toleran ketika warga dusun merayakan Natal. Bahkan. Aisyah mengajarkan siswa untuk membuat kreasi hiasan Natal bersama. Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 Penerimaan dan toleransi merupakan hal yang krusial dalam mengatasi hambatan komunikasi lintas agama. Film ini menunjukkan bahwa karakter-karakter akhirnya belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain, yang membantu mereka membangun hubungan yang lebih harmonis. Penerimaan terhadap perbedaan budaya dan agama adalah langkah penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif. Dalam Islam, toleransi . memiliki akar dalil yang jelas. Menghargai agama orang lain dapat membuka ruang komunikasi sekaligus menghindarkan pandangan-pandangan negatif dari masyarakat. (Thadi & Supian, 2. Menunjukkan Empati dan Ketulusan Penerimaan siswa dan warga terhadap Aisyah juga didasarkan pada personalitasnya. Dalam beberapa adegan, kemampuan Aisyah menunjukkan sikap empati terhadap permasalahan yang dialami warga, terutama kepada siswanya, membuka ruang komunikasi yang lebih intensif. Manakala terjadi persoalan air bersih yang dialami siswa dan warga dusun. Aisyah hadir memberikan solusi dengan membuat media penyulingan air. Ketulusan dan empati kepada Lordis merupakan adegan penting yang mendukung temuan ini. Biaya pengobatan yang ditanggung Aisyah mengundang respek anak yang lain Ketika Aisyah mendapatkan penentangan dari siswa lain saat ingin membantu Lordis, penjelasan Aisyah memberikan pemahaman bahwa ia berempati kepada Lordis. Aisyah menjelaskan kepada anak yang lain bahwa karakter Lordis Defam yang agak keras bisa jadi dipengaruhi oleh latarbelakang keluarga, dimana ia diasuh oleh seorang paman yang Sambil memberikan sentuhan kasih sayang kepada siswa. Asiyah menyatakan. AuKatong semua sonde boleh benci sama Lordis Defam. Katong harus berikan cinta dan kasih karena mungkin selama ini dia sonde pernah dapatkanAy. Kalimat ini memberikan kesan ketulusan dari Aisyah kepada peserta didiknya. Dalam adegan itu. Lordis yang semula tidak sadar kemudian terbangun dan mendengar dialog tersebut. Efeknya, itulah yang kemudian mengubah sikap Lordis kepada Aisyah, dari benci menjadi respek. Solusi yang terakhir ini pada dasarnya berkaitan dengan meningkatkan kredibilitas guru sebagai komunikator, antara lain ia mampu memberi solusi atas permasalahan yang dihadapi siswanya . roblem solve. Source credibility adalah faktor penting dalam komunikasi lintas agama, terlebih dalam pembelajaran. Kredibilitas ini tidak hanya mencakup aspek kapasitas dan kapabilitas komunikator, tapi juga mencakup aspek keteladanan, ketulusan, dan empati (D. Johnson, 1. Dalam komunikasi krisis, ketulusan komunikator memberi pengaruh penting dalam membuka kesediaan audien menerima pesan. (Boman et al. , 2. Melibatkan Opinion Leader Ketika mengalami kebuntuan akses untuk melakukan komunikasi dengan siswa. Aisyah melibatkan Kepala Dusun untuk menjembatani mereka. Atas bantuan Kepala Dusun yang komunikasi dengan wali siswa, akhirnya siswa kembali hadir sekolah setelah absen satu Dari sinilah kemudian terbuka kembali ruang komunikasi antara Aisyah dan siswa SD 1 Derok. Secara teori, eksistensi opinion leader memiliki peran penting dalam menjembatani komunikasi persuasif (Rizal et al. , 2. , terutama pada masyarakat tradisional. Jadi, dalam kondisi tertentu, hambatan komunikasi dapat diselesaikan dengan melibatkan tokoh yang berperan sebagai opinion leader. Hamdan. Ali Mustafa. Fachrur Rizha Hambatan Komunikasi Lintas Agama dalam Pembelajaran di Sekolah: Analisis Konten Film Aisyah. Biarkan Kami Bersaudara Jurnal Al-Manaj Vol. 05 No. 01 Juni 2025 : Hal 12-27 Simpulan Artikel ini menyimpulkan bahwa komunikasi menjadi faktor penting dalam menunjang keberhasilan pembelajaran di sekolah. Hambatan komunikasi dapat memutus interaksi antara guru dan murid. Oleh karena itu, mengatasi hambatan-hambatan komunikasi merupakan kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh guru sekaligus komunikator dalam pembelajaran. Film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara merepresentasikan komunikasi lintas agama dalam dua bentuk, yaitu verbal dan non-verbal, dan dalam tensi harmonis dan disharmonis. Film ini juga menunjukkan berbagai hambatan komunikasi lintas agama dalam konteks Hambatan tersebut meliputi perbedaan nilai, stereotip, disinformasi, dan tidak Beberapa solusi yang ditawarkan adalah meningkatkan literasi lintas agama, dialog terbuka dan diskusi, penerimaan dan toleransi, menunjukkan empati dan ketulusan, serta jika perlu melibatkan opinion leader untuk melakukan upaya mediasi. Temuan penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian ilmu komunikasi, khususnya dalam konteks komunikasi lintas budaya dan lintas agama, serta memperkaya perspektif tentang peran media sebagai refleksi sekaligus instrumen edukatif dalam membangun kesadaran multikultural. Penelitian ini membuka peluang untuk studi lebih lanjut mengenai komunikasi lintas agama dalam konteks pembelajaran. Penelitian yang akan datang dapat mengeksplorasi bagaimana simbol dan tanda dalam media lain mempengaruhi komunikasi lintas agama, serta mengembangkan strategi praktis untuk mengatasi hambatan Penelitian ini juga dapat membantu dalam merancang program pendidikan lintas agama yang lebih efektif. Di sisi lain, menggunakan multi-objek dalam kajian film dapat memberikan temuan yang lebih komprehensif sekaligus impresif. Film-film bernuansa pendidikan tidak hanya diproduksi Indonesia, tapi banyak negara. Tinjauan komparatif untuk ini dapat dipertimbangkan pada penelitian yang akan datang. Referensi