Journal of Management and Bussines (JOMB) Volume 6. Nomor 1. Januari - Juni 2024 p-ISSN: 2656-8918 e-ISSN: 2684-8317 DOI: https://doi. org/10. 31539/jomb. ANALISIS PENDAPATAN ASLI DAERAH DAN PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DENGAN TINGKAT KEMISKINAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA PROVINSI JAWA TIMUR Ninda Talita Utami1. Niniek Imaningsih2 Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jawa Timur1,2 nindatalitaa@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di provinsi Jawa Timur selama periode 2007-2021, dengan Kemiskinan sebagai variabel antara atau variabel intervening. Pendekatan kuantitatif diterapkan menggunakan teknik regresi linier berganda dan analisis jalur . ath analysi. sebagai metode utama. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan secara langsung antara PAD. PMDN, dan IPM. Namun, melalui analisis jalur, tidak terlihat indikasi pengaruh tidak langsung melalui Kemiskinan terhadap IPM dari PAD dan PMDN. Implikasi temuan ini dapat memberikan pandangan lebih mendalam terkait strategi pembangunan daerah, dengan menyoroti pentingnya meningkatkan PAD dan PMDN secara langsung untuk mendukung peningkatan IPM. Simpulan, hasil penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman dinamika interaksi variabel ekonomi dan sosial dalam konteks pembangunan regional di provinsi Jawa Timur. Kata Kunci : Indeks Pembangunan Manusia. Pendapatan Asli Daerah. Penanaman Modal Dalam Negeri. Tingkat Kemiskinan ABSTRACT This research aims to evaluate the impact of Regional Original Income (PAD) and Domestic Investment (PMDN) on the Human Development Index (HDI) in East Java province during the 2007-2021 period, with poverty as an intermediate variable or intervening variable. A quantitative approach is applied using multiple linear regression techniques and path analysis as the main methods. The research results show that there is a direct positive and significant relationship between PAD. PMDN, and HDI. However, through path analysis, there is no indication of an indirect influence through poverty on HDI from PAD and PMDN. The implications of these findings can provide a deeper insight into regional development strategies, by highlighting the importance of increasing PAD and PMDN directly to support increasing HDI. In conclusion, the results of this research contribute to understanding the dynamics of the interaction of economic and social variables in the context of regional development in the province of East Java. Keywords: Human Development Index. Regional Original Income. Domestic Investment. Poverty Level Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . PENDAHULUAN Sejak 2007 sampai 2021 pergerakan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Jawa Timur cenderung mengalami pertumbuhan kea rah yang positif secara konstan setiap tahunnya. Kenaikan yang terjadi secara konstan yang dialami oleh Provinsi Jawa Timur mengindikasikan bahwa pemerintah daerah telah berupaya secara konsisten untuk terus mendorong adanya perubahan dalam peningkatan kesejahteraan Namun meskipun kecenderungan capaian nilai IPM Provinsi Jawa Timur adalah meningkat, capaian nilai tersebut masih belum bisa berada diatas nilai IPM nasional dan beberapa provinsi lainnya di Pulau Jawa. Dalam 7 tahun terakhir capaian nilai IPM Provinsi Jawa Timur berada secara konsisten menduduki posisi paling akhir karena memiliki angka indeks yang rendah dibandingkan . Tabel 1. Indeks Pembangunan Manusia Per Provinsi di Pulau Jawa Tahun DKI Jkt Banten 78,99 77,59 70,27 78,38 70,96 80,06 78,89 71,42 80,47 79,53 71,95 80,76 79,99 72,44 80,77 79,97 72,45 81,11 80,22 72,72 Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur, 2022 Jabar 70,05 70,69 72,03 72,09 72,45 Jateng 69,49 69,98 70,52 71,12 71,73 71,87 72,16 Jatim 68,95 69,74 70,27 70,77 71,71 72,14 Terdapat beberapa kategori capian dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang telah ditetapkan oleh UNDP (United Nations Development Programm. (Cahya, 2. antara lain dengan nilai capaian lebih dari 80 maka dapat dikelompokkan pada kategori sangat tinggi, kemudian untuk nilai capaian yang berada pada rentang angka 70 sampai 80 akan dikelompokkan pada kategori tinggi, selanjutnya pada kategori sedang capian nilai berada pada rentang angka 60 sampai 70 dan apabila capaian nilai berada pada angka dibawah 60 maka dapat dikelompokkan pada kategori rendah. Sehingga berdasarkan kategori yang telah ditetapkan oleh UNDP diatas. Provinsi Jawa Timur berada pada kategori diantara sedang dan tinggi. Sehingga dalam 15 tahun terakhir. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Jawa Timur dikategorikan sebagai wilayah dengan capaian sedang-tinggi dan seperti yang dapat dilihat pada tabel diatas. Provinsi Jawa Timur konsisten menduduki posisi terakhir. Kemiskinan merupakan satu dari sekian banyak permasalahan yang umum dan cukup sering terjadi pada negara di seluruh belahan dunia, terutama pada negara berkembang seperti di Indonesia. Kemiskinan mampu menjadi sebuah faktor penghambat dalam upaya peningkatan kualitas manusia. Hal ini dikarenakan kemiskinan menjadikan seseorang memiliki batasan dalam mendapatkan hak-hak mereka, seperti mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak, mendapatkan hak untuk mengenyam jenjang pendidikan yang layak, dan mendapatkan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya (Aditya et al. , 2. Penurunan angka kemiskinan menjadi salah satu fokus utama dalam urusan pemerintahan. Semakin rendah angka kemiskinan maka dapat menunjukkan semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Dalam mengatasi angka kemiskinan, pemerintah dengan Pendapatan Asli Daerah yang Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . 189-202 merupakan satu aspek penting dalam menjalankan urusan pemerintahan bagi tiap pemerintah daerah. Tak hanya itu, adanya kegiatan penanaman modal juga dapat dijadikan sebagai salah satu upaya yang bisa mendorong peningkatan kesejahteraan dengan menekan angka kemiskinan. Penanaman Modal Dalam Negeri akan mendorong terciptanya pembukaan lapangan pekerjaan baru sehingga penyerapan tenaga kerja dan pendapatan per kapita pun ikut meningkat. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pembangunan merupakan salah satu bagian cukup krusial dalam hal peningkatan kesejahteraan masyarakat serta mampu menekan angka kemiskinan. Adanya peran pemerintah dalam pengalokasian Pendapatan Asli Daerah dan juga investasi atau Penanaman Modal Dalam Negeri akan mengurangi kemiskinan dan mendorong perbaikan kualitas sumber daya manusia dan secara tidak langsung akan juga memberikan pengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. TINJAUAN PUSTAKA Pendapatan Asli Daerah Berdasarkan pada pasal 1 UU Nomor 33 Tahun 2004. Pendapatan Asli Daerah (PAD) ialah segala bentuk pendapatan daerah yang diterima sebagai penerimaann dan berasal dari pengelolaan potensi daerah baik dari segi SDM maupun SDA yang berada dilingkup daerah untuk kemudian dilakukan pungutan-pungutan yang telah ditetapkan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang ada dan berlaku (Wulandari & Iryanie, 2. Adanya otonomi daerah menyebabkan pemerintah daerah dipacu untuk lebih bisa melakukan inovasi dan berkreasi sebaik mungkin dalam melakukan pengelolaan dan eksploitasi potensi daerah sebagai sumber penerimaan daerah yang nantinya bisa menjadi penunjang dalam proses pembangunan yang berkelanjutan. Segala bentuk potensi daerah diupayakan secara optimal untuk dapat dikelola sedemikian rupa agar mampu menjadi sumber penghasilan/penerimaan dan bermanfaat bagi daerah itu sendiri. Hal ini dikarenakan Pendapatan Asli Daerah adalah pilar dalam pendanaan daerah dalam penentuan kemampuan pelaksanaan perekonomian yang diukur melalui besar kecilnya kontribusi yang didapatkan terhadap APBD (Aditya et al. semakin besar pendapatan yang didapatkan oleh pemerintah daerah yang berarti kontribusi PAD terhadap APBN juga semakin besar. Penanaman Modal Dalam Negeri Investasi berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi dengan digunakan sebagai alat untuk mengembangkan dan memulihkan perekonomian (Nisa & Handayani, 2. Penanaman Modal Dalam Negeri memiliki definisi sebagai kegiatan penambahan modal usaha dengan pelaku penanaman modal adalah sektor swasta dalam negeri sebagai penyuntik dana. Adanya kegiatan investasi atau penanaman modal dapat memberikan multiplier effect dimasyarakat. Kegiatan investasi mampu menyediakan lapangan dan peluang pekerjaan baru sehingga mampu meningkatkan proses penyerapan banyak tenaga kerja yang lebih lanjut pada tingkat kemiskinan dan pengangguran akan berkurang sehingga dampak lebih lanjut yang ditimbulkan adalah kesejahteraan masyarakat setempat mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena kegiatan penanaman modal menjadi salah satu komponen dari pengeluaran agregat yang dimana apabila tingkat investasi meningkat maka permintaan agregat dan pendapatan nasional juga akan meningkat. Penanaman modal dapat mendorong perusahaan untuk melakukan ekspansi atau memperluas usaha dimana akan terjadi penciptaan pangsa pasar baru, pengembangan fasilitas-fasilitas dan adanya perekrutan tenaga kerja baru. Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . 189-202 Penciptaan pasar baru dan perekrutan tenaga kerja kemudian akan mampu mengurangi angka pengangguran dan secara tidak langsung mampu menekan angka kemiskinan. Terdapat beberapa aspek yang dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat suatu daerah, kegiatan investasi atau penanaman modal diharapkan berdampak pada kesejahteraan masyarakat (Darsana, 2. Kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasinya mengartikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang memiliki keterbatasan kemampuan untuk menunjang kebutuhan dasarnya, seperti pemenuhan kebutuhan pokok dan barang non pangan Penduduk dapat termasuk dalam kategori masyarakat miskin ketika rerata pengeluaran per kapita per bulan tidak berada dibawah garis kemiskinan. Menurut Harniati dalam buku karya Bhinadi . kemiskinan dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis antara lain: Kemiskinan Alamiah merupakan suatu kondisi dimana seseorang memiliki ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok hidupnya yang dikarenakan rendahnya kualitas sumber daya alam. Kemiskinan Kultural merupakan suatu kondisi dimana seseorang atau kelompok kurang memiliki usaha dan sikap kerja keras dalam hal mencari dan mendapatkan pendapatan yang cukup guna memperbaiki tingkat kehidupannya dan menjalani kehidupan secara layak. Kemiskinan Strruktural terjadi akibat dari suatu implementasi yang kurang efektif dan efisien baik secara langsung atau tidak langsung yang dikarenakan oleh tatanan kelembagaan dan struktur sosial di masyarakat. Selain itu, kemiskinan struktural dapat terjadi ketika terjadi sebuah ketergantungan diantara 2 kelompok masyarakat. Adanya ketergantungan yang tinggi oleh kelompok masyarakat miskin terhadap masyarakat sosial diatasnya akan mengakibatkan hilangnya kemampuan dari kelompok masyarakat miskin untuk memberikan tawaran . argaining positio. Kemiskinan terjadi tidak hanya akibat dari satu atau dua aspek saja, namun penyebab terjadinya kemiskinan cukup kompleks bisa berasal aspek lainnya, seperti kondisi dan ketersediaan sumber daya alam, kegagalan strategi pembangunan nasional, kualitas SDM, dan masih banyak lagi. Dalam upaya memahami kemiskinan terdapat teori besar . rand theor. atau paradigma yang berkembang antara lain : Teori Neo-Liberal, kemiskinan lebih diartikan sebagai permasalahan perorangan yang disebabkan oleh adanya kelemahan ataupun keterbatasan pilihan hidup yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan dan mekanisme pasar (Syahyuti, 2. Sehingga berdasarkan pada teori ini, perluasan kesempatan memilih oleh individu dapat ditingkatkan melalui penguatan pasar dan pertumbuhan ekonomi yang harus terus didorong agar senantiasa mengalami perluasan dan perkembangan. Kemiskinan dalam pandangan teori Sosial Demokrasi memiliki pandangan yang berbeda dari teori sebelumnya. Pada teori ini, kemiskinan lebih dipandang sebagai sebuah permasalahan struktural. Titik fokus penyelesaian kemiskinan diarahkan pada kesetaraan kesempatan masyarakat dalam mengakses sumber-sumber dan fasilitas kemasyarakatan (Syahyuti, 2. Teori yang dikemukakan oleh Ragnar Nurkse . menyebutkan bahwa masalah kemiskinan tidak memiliki akhir dan ujung sehingga semua unsur Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . 189-202 penyebab kemiskinan akan terus saling terhubung. Dalam teorinya Nurkse . mengemukakan bahwa kemiskinan . dan ketidaksempurnaan pasar akan berpengaruh pada tingkat produktivitas. Ketimpangan Pendapatan (Gini Rati. Ketimpangan merupakan parameter dalam mengukur sejauh mana pemerataan pendapatan atau derajat ketidakmerataan distribusi pendapatan penduduk dalam suatu Menurut Yusuf . adanya ketimpangan yang tinggi dalam suatu daerah dapat menyebabkan peningkatan kemiskinan. Teori mengenai ketimpangan telah dimunculkan oleh beberapa ahli diantaranya adalah Douglas C. North yang menyatakan dalam analisa teori Pertumbuhan Neo-Klasik bahwa terdapat korelasi antara tingkat pembangunan ekonomi dan tingkat ketimpangan pembangunan antara wilayah satu dan lainnya yang kemudian dikenal dengan Hipotesa Neo-Klasik. Dalam Hipotesa NeoKlasik dikatakan adanya ketimpangan pembangunan wilayah atau daerah akan cenderung mengalami pertambahan dan akan terus merangkak naik hingga berada pada titik maksimum. Setelah mencapai titik maksimum maka ketimpangan pembangunan perlahan akan mulai menurun. Myrdal pada tahun 1997 dalam teori yang menyatakan bahwa terdapat 2 hubungan dalam pembangunan ekonomi dan ketimpangan yakni spread effect dan backwash effect. Spread effect atau dampak sebar adalah adanya pembangunan ekonomi yang dapat mendatangkan keuntungan. Sedangkan Backwash atau dampak balik merupakan adanya kegiatan pembangunan ekonomi namun tidak memberikan keuntungan atau mendatangkan kerugian yang lebih lanjut akan berdampak pada berkurangnya aliran modal pembangunan yang diperlukan daerah. Indeks Pembangunan Manusia Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan Indeks Pembangunan Manusia merupakan sebuah indikator penting sebagai parameter untuk menentukan dan mengetahui tingkat keberhasilan dan tingkat kualitas hidup manusia. IPM adalah alat yang cukup ideal yang dapat digunakan. Indeks Pembangunan Manusia dapat menggambarkan bagaimana dan sejauh mana masyarakat dapat mengakses/memperoleh manfaat dari pembangunan nasional seperti fasilitas kesehatan, pendidikan dan lain Terdapat 3 dimensi dasar pembentuk Indeks Pembangunan Manusia antara lain pendidikan, kesehatan dan pendapatan riil perkapita. Semakin tinggi nilai dari hasil perhitungan IPM yang didapatkan, maka akan semakin baik tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut. Status Indeks Pembangunan Manusia diklasifikasikan menjadi 3 kategori status yaitu sangat tinggi apabila nilai IPM>80, kemudian apabila nilai IPM berada pada rentang 70-80, kategori sedang ketika nilai 60 < IPM < 70 dan pada kategori rendah nilai IPM kurang dari 60. Dalam bukunya. Todaro dan Smith . menyatakan bahwa modal manusia atau human capital bermakna suatu konsep penting yang ditujukan sebagai upaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia. Pada tahun 1960. Theodore Schultz mengemukakan sebuah teori mengenai Human Capital Theory of economic growth. Menurutnya, investasi terhadap modal manusia dalam pembangunan dapat mencerminkan dalam hal kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sutau negara. Adanya investasi yang mendorong pembangunan manusia nantinya juga akan medorong peningkatan kualitas SDM dan tingkat produktivitas tenaga kerja. Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . METODE PENELITIAN Pendekatan kuantitatif dipilih untuk digunakan dalam proses penelitian. Pendekatan kuantitatif berdefinisi sebagai kajian sistematis terhadap suatu fenomena. Pendekatan penelitian kuantitatif mengaitkan variabel-variabel tertentu yang berkaitan dengan hasil penelitian. Karena penelitian bersifat kuantitatif maka data yang akan digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik Jawa Timur berupa PAD. PMDN. Kemiskinan dan Indeks Pembangunan Panusia. Terdapat beberapa bentuk dan tahapan dalam melakukan analisis dalam penelitian yang selanjutnya akan disebut sebagai metode penelitian yang diantaranya adalah analisis regresi berganda, uji asumsi klasik, uji hipotesis dan uji sobel. Uji Asumsi Klasik merupakan pengujian data yang dilakukan sebelum melakukan pengujian lain. Pengujian asumsi klasik dilakukan menggunakan OLS (Ordinary Least Squar. , yang apabila selama proses pengujian terindikasi lolos uji, maka selanjutnya data dapat diolah dengan metode pengujian lainnya. Uji-F digunakan untuk mengungkap apakah sepenuhnya variabel independen yang digunakan dalam penelitian dengan model persamaan regresi yang ditetapkan secara serempak berpengaruh terhadap variabel dependen. Ghozali, 2018 menyatakan bahwa dalam pelaksanaan uji f dapat dilakukan pengambilan keputusan dengan cara mengukur fhitung > ftabel dan kemudian akan diperoleh hasil keputusan. Uji t merupakan tahapan pengujian untuk mengetahui peran/kontribusi secara parsial atau individual pada variabel independen terhadap variabel dependen (Nurhalimah, 2. Dalam penelitian ini, teknik yang akan digunakan adalah teknik analisis jalur atau path analysis dengan menggunakan uji sobel yang dimana merupakan teknik lanjutan dari teknik analisis regresi untuk memperkirakan hubungan timbal balik antar variabel penelitian. Anlisis jalur digunakan untuk melihat hubungan secara tidak langsung antar variabel penelitian. HASIL PENELITIAN Series: Residuals Sample 2007 2021 Observations 15 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability Gambar 1. Hasil Uji Normalitas Sumber: Output Eviews 12, 2023 Pada uji asumsi klasik, tahap pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan uji normalitas yang bertujuan untuk mendeteksi bagaimana pola sebaran data penelitian Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . 189-202 yang akan digunakan. Dalam uji ini, data-data yang telah diolah dan dikelompokkan selanjutnya akan diuji untuk melihat pola sebaran data sebaran data variabel penelitian baik variabel terikat maupun variabel bebas berdistribusi dengan normal. Model regresi yang memiliki sebaran data normal merupakan kriteria pemodelan regresi yang ideal. Hasil pengujian dari uji normalitas yang secara jelas dipaparkan pada tabel dibawah. Terlihat bahwa uji data memiliki sebaran/distribusi normal. Hal ini dapat dilihat melalui nilai probabilitas sebesar 0,511899 dan Jarque-Bera sebesar 1,339257. Hal tersebut mengindikasikan bahwasannya data penelitian terindikasi memiliki sebaran distribusi normal karena nilai probabilitas yang bernilai lebih dari 0,05 dan nilai Jarque-Bera yang tidak melampaui 2. Tabel 2. Hasil Uji Multikolinieritas Variable KEM PAD PMDN Coefficient Variance 25E-08 03E-09 Uncentered VIF Centered VIF Untuk hasil uji multikolinearitas pada persamaan pada tabel di atas diperoleh bahwasannya seluruh variabel dalam penelitian memiliki nilai Variance Inflation Factor (VIF) berada pada angka yang tidak melebihi 10, sehingga dapat dikatakan ketiga variabel lolos uji multikolinearitas. Artinya variabel pencarian yang digunakan tidak memiliki keterikatan yang cukup kuat satu sama lain. Tabel 3. Hasil Uji Heteroskesdastisitas F-statistic Obs*R-squared Scaled explained SS Prob. Prob. Chi-Square. Prob. Chi-Square. Nilai untuk hasil uji hatarokedastisitas pada persamaan diatas adalah sebesar 1,681546. Dalam ketentuan yang telah ditetapkan dalam pengambilan keputusan adalah dengan nilai yang digunakan sebesar 0,05, apabila melampaui angka tersebut dapat dipastikan bahwa data variabel penelitian lolos uji heteroskedastisitas. Tabel 4. HasilUji Autokorelasi F-statistic Obs*R-squared Prob. Prob. Chi-Square. Diperoleh nilai probabilitas Obs*R-squared adalah sebesar 1,7140. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa data terbebas dari uji autokorelasi dan tidak terindikasi adanya hubungan yang kuat antar variabel bebas. Berdasarkan tabel diatas, diperoleh persamaan regresi sebagai berikut : Y = X1 X2 Z IPM = 43,43484 0,000533PAD 0,000107PMDN 1,162806KEM Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . 189-202 Dari persamaan regresi diatas, selanjutnya dapat diinterpretasikan secara deskriptif sebagai berikut : Berdasarkan hasil uji diperoleh nilai konstanta dengan angka sebesar 43,43484 yang dimana hal itu memiliki makna apabila PAD (X. PMDN (X. dan Kemiskinan (Z) tidak memiliki perubahan atau sama dengan 0, maka Indeks Pembangunan Manusia (Y) akan tumbuh sebesar 43,43484. Dengan nilai koefisen regresi sebesar 0,000533, diindikasikan bahwa setiap terjadi pertambahan 1% pada variabel PAD (X. , angka capaian IPM (Y) Provinsi Jawa Timur juga turut mengalami perubahan atau kenaikan dengan nilai sebesar 0,000533%, begitu juga sebaliknya. Koefisien regresi yang diperoleh pada variabel PMDN (X. adalah sebesar 0,000107 dimana hal ini akan mengindikasikan bahwa setiap terjadi pertambahan 1% pada variabel PMDN (X. , maka akan berpengaruh dan menimbulkan kenaikan sebesar 0,000107 pada variabel IPM (Y), begitu juga sebaliknya. Koefisien regresi variabel Kemiskinan (Z) dengan nilai sebesar 1,162806 mengindikasikan bahwa setiap terjadi pertambahan 1% pada variabel Kemiskinan (Z), maka dampak yang ditimbulkansetelahnya adalah terjadinya peningkatan IPM (Y) sebesar 1,162806% dan begitu juga Tabel 5. Hasil Uji R2 (Koefisien Determinas. Tahap 2 R-squared Adjusted R-squared of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statisti. Mean dependent var dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat Berdasarkan tabel di atas, kolom adjusted R-squared memiliki nilai 0,7079 yang dapat diartikan bahwa variabel Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Kemiskinan menjelaskan bahwa dapat berkontribusi dan mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia sebagai variabel (Y) sebanyak 70,79%. Kemudian sebesar 29,21% merupakan jumlah persentase dari varibel eksternal yang tidak dimasukkan kedalam variabel penelitian yang menerangkan variabel IPM (Y). Tabel 6. Hasil Uji F Simultan R-squared Adjusted R-squared of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statisti. Mean dependent var dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . 189-202 Penentuan keputusan pada pengujian simultan menggunakan kriteria Ftabel. Sehingga sebelum menentukan pengaruh secara simultan, harus menentukan besaran Ftabel terlebih dahulu. Ftabel pada perhitungan persamaan regresi 1 adalah 3,587 yang merupakan hasil perhitungan pada program Microsoft excel. Pada tabel diatas, menunjukkan bahwa nilai Fhitung yang terdapat pada kolom F-statistik adalah 12,31056 > 3,587 nilai Ftabel, dengan nilai probabilitas sebesar 0,000772 < 0,05 atau nilai Hal tersebut mengindikasikan bahwa secara serempak variabel Pendapatan Asli Daerah. Penanaman Modal Dalam Negeri dan Kemiskinan menunjukkan pengaruh yang positif dan secara signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Tabel 7. Uji t Parsial Variable KEM PAD PMDN Coefficient Std. Error 50E-05 t-Statistic Prob. Pada perhitungan nilai t-tabel, nilai sig ( = 0,. dengan df 11 . diperoleh nilai sebesar 2,20. Pada hasil yang telah ditunjukkan pada angka yang tertera pada tabel diatas, hasil t-hitung sebesar 2,956629 yang dimiliki oleh variabel PAD adalah lebih besar dari nilai t-tabel penelitian sebesar 2,20 dan dengan nilai signifikansi variabel PAD 0,0131 > 0,05. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa variabel independen yaitu Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif secara langsung dan signifikan pada variabel Indeks Pembangunan Manusia. Dengan nilai t-tabel yang sama, variabel kemiskinan memiliki nilai t-hitung sebesar 4,381378 dimana nilai ini lebih besar dari 2,20 nilai t-tabel dan dengan nilai signifikansi 0,0011 < 0,05. variabel Kemsikinan berpengaruh signifikan secara positif dan langsung terhadap variabel Indeks Pembangunan Manusia. Variabel Penanaman Modal Dalam Negeri memiliki t-hitung yang dapat dilihat pada kolom t-Statistic sebesar 2,378845 > 2,20 dengan nilai probabilitas sebesar 0. 0366 > 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa variabel (PMDN) Penanaman Modal Dalam Negeri berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap variabel Indeks Pembangunan Manusia. Uji sobel merupakan perhitungan yang ditujukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh secara tidak langsung pada variabel bebas terhadap variabel terikat yang diperantarai oleh variabel intervening. Pengaruh secara tidak langsung ditunjukkan berdasarkan hasil perkalian koefisien . dengan menggunakan uji sobel sebagai berikut: Pada pengujian pertama akan melihat bagaiman variabel kemiskinan akan mampu memberikan pengaruh pada variabel PAD terhadap variabel IPM dengan Kemiskinan sebagai variabel intervening. Sab = Oo. ca 2 ycyca2 ) . ca2 ycyca 2 ) . cyca2 ycyca 2 ) Oo. ,162. ,000. 2 (Oe0,000. ,265. ,000. ,265. 2 = Oo0,000000021466 0,000000019119 0,000000001118 = Oo0,000000041704 = 0,000204214490 Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . 189-202 Selanjutnya hasil perkalian nilai koefisien . diatas dapat digunakan untuk mengitung t-tabel pengaruh variabel intervening dengan perhitungaan menggunakan rumus : t = ycycayca Oe0,00060582 t = 0,000204214490 = -2,966596175 Berdasarkan perhitungan menggunakan uji sobel di atas, hasil t-hitung yang diperoleh adalah -2,966 lebih besar dari 1,96 nilai t tabel. Dengan tingkat signifikansi 0,00060582 < 0,005 disimpulkan bahwa variabel dependen . yaitu IPM tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dengan PAD sebagai variabel bebas dan kemiskinan sebagai variabel perantara atau intervening. Selain itu, pada persamaan kedua dilakukan uji Sobel untuk mengetahui apakah variabel Kemiskinan dapat memiliki pengaruh dan mampu berperan sebagai variabel perantara dari variabel PMDN dengan variabel IPM. = Oo. ca 2 ycyca2 ) . ca2 ycyca 2 ) . cyca2 ycyca 2 ) Oo. ,162. ,0000. ,00000. ,265. ,000. ,265. 2 = Oo0,000000003233 0,000000000005 0,000000000168 = Oo0,000000003407 = 0,000058370396 Dengan hasil perkalian nilai koefisien . diatas, selanjutnya dapat digunakan untuk mengitung t-tabel pengaruh variabel intervening dengan rumus sebagai berikut: Sab ycIycayca 0,00001026 t = 0,000058730396 = 0,17570463 Setelah mendapatkan perolehan hasil perhitungan uji sobel diatas, hasil t-hitung yang didapatkan adalah sebesar 0,17570463 yang bernilai kurang dari 1,96 . erupakan ttabe. dan nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,00001026. Maka dapat disimpulkan bahwa koefisien variabel perantara tidak memiliki pengaruh dalam memediasi variabel bebas . yaitu Pennanaman Modal Dalam Negeri dengan variabel terikat . yaitu Indeks Pembangunan Manusia. PEMBAHASAN Dengan hasil perhitungan yang didapatkan diatas dapat diartikan bahwa variabel independen yaitu dalam perhitungan secara langsung kedua variabel menunjukkan adanya pengaruh yang disebabkan secara signifikan terhadap variabel dependen yakni IPM. Kemudian apabila dianalisa melalui perhitungan melalui Kemiskinan sebagai variabel intervening atau secara tidak langsung maka hasil yang diperoleh adalah tidak berpengaruh baik dari Pendapatan Asli Daerah dan Penanaman Modal Dalam Negeri. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap Indeks Pembangunan Manusia Pendapatan Asli Daerah secara individual atau parsial memiliki dampak secara langsung dengan signifikan dan positif terhadap IPM pada Provinsi Jawa Timur tahun Tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian oleh Aditya et al. , 2021. Fernandes & Putra, 2022. Sembiring, 2019 menjelaskan bahwa variabel Pendapatan Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . 189-202 Asli Daerah memiliki pengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia secara positif. Pendapatan Asli Daerah memiliki peranan yang penting dalam mendorong perbaikan dan perubahan dalam kualitas sumber daya manusia yang dimiliki daerah. Alokasi anggaran dana pemerintah yang dapat menunjang kebutuhan kesehatan dan pendidikan masyarakat dapat menambah tingkat kesejahteraan masyarakat. Pendapatan yang diterima daerah yang kemudian dioptimalkan dengan tujuan untuk meningkatkan kemandirian daerah dengan mengalokasikan untuk belanja modal dan pembangunan perekonomian daerah akan mengurangi ketergantungan terhadap alokasi anggaran dari pemerintah pusat . Pengaruh Penanaman Modal Dalam Negeri terhadap Indeks Pembangunan Manusia Variabel PMDN memiliki pengaruh terhadap variabel IPM di Provinsi Jawa Timur tahun 2007-2021 secara signifikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa adanya kegiatan penanaman modal atau investasi swasta khususnya investasi domestik sudah mampu memberikan efek yang berarti terhadap tingkat kualitas dan kesejahteraan masyarakat yang berdomisili di Provinsi Jawa Timur. Sejalan dengan penelitian oleh (Harahap, 2. adanya kegiatan PMDN akan memberikan peningkatan peluang atau kesempatan kerja yang semakin banyak sehingga akan mendorong pengurangan jumlah seperti tingkat pengangguran, tingkat kemiskinan, dan ketimpangan pendapatan. Sehingga dengan semakin banyaknya kegiatan investasi domestik maka akan mampu menekan angka masyarakat miskin. Penyerapan tenaga kerja mampu menambah pendapatan per kapita riil masyarakat serta mampu mendorong daya beli masyarakat sehingga menyebabkan tingkat kualitas dan kesejahteraan masyarakat membaik. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah terhadap Indeks Pembangunan Manusia melalui Kemiskinan. Dilihat dari hasil pengujian variabel PAD terhadap Kemiskinan terdapat dampak atau pengaruh negatif secara signifikan. Namun, ketika IPM diuji terhadap kemiskinan, ternyata tidak ada pengaruhnya. Sama halnya dengan hasil dari penelitian yang diperoleh (Aditya et al. , 2. juga menunjukkan bahwa kemiskinan di Provinsi Jawa Timur sebagai variabel mediasi gagal memediasi antara variabel pendapatan primer daerah dengan variabel Indeks Pembangunan Manusia selama tahun 2007-2021. PAD akibat kemiskinan tidak berpengaruh terhadap IPM karena tingginya angka kemiskinan di sebagian besar Jawa Timur masih tinggi dan ketimpangan pendapatan yang tidak terpaut cukup lebar. Adanya gap jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Timur yang tinggi menyebabkan fokus pengalokasian Pendapatan Asli Daerah yang berbeda. Lebih lanjut gap yang tidak begitu lebar pada ketimpangan pendapatan Provinsi Jawa Timur menyebabkan adanya perubahan pada kemiskinan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat di Provinsi Jawa Timur. Pengaruh Penanaman Modal Dalam Negeri terhadap Indeks Pembangunan Manusia melalui Kemiskinan. Penanaman Modal Dalam Negeri melalui kemiskinan gagal mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia Jawa Timur 2007-2021. Namun secara langsung. Penanaman Modal Dalam Negeri dapat berdampak pada IPM. Adanya kegiatan penanaman modal dalam negeri tidak mendorong pengentasan kemiskinan, sehingga tidak dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Dikarenakan oleh fokus Journal of Management and Bussines (JOMB) 6 . 189-202 pembangunan yang kurang tepat dimana pembangunan daerah yang difokuskan untuk meingkatkan pada sektor tertentu tetapi juga disisi lain memberikan efek negatif kepada sektor-sektor lainnya. Selain itu, masih belum tersebarnya secara merata alokasi investasi di wilayah Provinsi Jawa Timur dan kegiatan penanaman modal yang bersifat kurang produktif dalam melibatkan tenaga kerja juga akan berpengaruh terhadap ketidakmampuan kemiskinan menjadi variabel intervening. Sesuai dengan penelitian (Firdaus, 2. fird bahwa bahwa tidak berpengaruhnya Penanaman Modal Dalam Negeri terhadap kemiskinan dapat disebabkan karena kegiatan penanaman modal kurang mendorong terbukanya lapangan pekerjaan baru bagi penduduk. Sedikitnya penyerapan tenaga kerja yang menyebabkan tingkat pengangguran tidak berkurang dan kemudian terindikasi bahwa dalam pendapatan riil dan daya beli masyarakat tidak ada perubahan sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat pun tidak mengalami perbaikan meskipun tingkat penanaman modal bertambah. SIMPULAN Dengan terlaksananya penelitian diatas, diperolehlah ringkasan atau kesimpulan yang dapat dijabarkan sebagai berikut: . PAD Daerah Provinsi Jawa Timur sebagai sumber pendapatan daerah secara signifikan berpengaruh langsung terhadap IPM di Provinsi Jawa Timur. Artinya. PAD berperan penting dalam mendorong terjadinya perubahan kearah yang lebih baik dan positif yakni perbaikan kualitas SDM dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Jawa Timur. PMDN berdampak langsung terhadap IPM di Provinsi Jawa Timur. Hal tersebut dapat dipahami bahwa semakin banyak investasi maka semakin dapat mendorong peningkatan kesempatan kerja yang pada akhirnya berdampak pada penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan, serta tingkat kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Kemiskinan sebagai variabel perantara masih belum bisa membuat PAD berpengaruh secara signifikan terhadap IPM Provinsi Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun volume perolehan PAD tinggi, namun tidak menimbulkan intervensi pada pengentasan kemiskinan dan memberikan dampak pada IPM di Provinsi Jawa Timur. PMDN dengan Kemiskinan sebagai variabel perantara, menunjukkan bahwa tidak terjadinya dampak secara signifikan terhadap IPM di Provinsi Jawa Timur. Hal ini mengindikasikan bahwa melalui kemiskinan. PMDN tidak sepenuhnya mampu memberikan dampak yang optimal untuk mengatasi kemiskinan, sehingga kesejahteraan pun rakyat tidak berubah. DAFTAR PUSTAKA