Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. Perumusan Indikator Kemiskinan dan Pengukuran Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Desa Pagedangan Ilir. Kronjo. Tangerang Achmad Reza Widjaja Bakrie University Jl. Rasuna Said Kav. C-22. Jakarta 12920 *Corresponding author: awidjaja@bakrie. Diterima : 25 Juli 2019 Disetujui : 25 September 2019 Abstract: Apparatus often do not have standard and specific indicators for determining pre-prosperous families. It will, as a matter of fact, create an impact on targeting the beneficiaries of a welfare program, to the extent that it will cause the community welfare program less effective. This research aims to formulate indicators of poverty and measurement of community welfare in Pagedangan Ilir Village. The formulation of poverty indicators and measurements of welfare is a review from various poverty indicators or standard welfare measures, which are previuosly produced by government and other research institutions. In this research, a study by Center for International Forestry Research (CIFOR) becomes the basic benchmark to measure the community welfare in Pagedangan Ilir Village, by which the results obtained in the form of welfare based on indicator index, dimension index and aggregate index. The results show that in aggregate, there are no families in Pagedangan Ilir Village classified as "Very Poor", 32% of families are classified as "Poor", while 67% and 1% of them are classified as "Prosperous" and "Very Prosperous", respectively. In terms of classification of welfare levels according to the average aggregate welfare index, the family in Pagedangan Ilir Village is categorized as "Prosperous" with an index of 55. Key words: Formulation of indicators, measurement of welfare, poverty. PENDAHULUAN Kemiskinan dan kesejahteraan adalah dua hal yang sangat berkaitan dan sulit untuk dipisahkan. Berbagai konsep telah dirilis berkaitan dengan pendekatan dalam Pendekatan tentang kesejahteraan yang pertama mengatakan bahwa seseorang dapat dikatakan lebih sejahtera jika ia memiliki kuasa yang lebih besar atas suatu sumberdaya. Yang menjadi fokus di sini adalah ukuran sebuah rumah tangga atau seseorang memiliki sumber daya yang cukup dalam memenuhi kebutuhannya. Di lain pihak, kemiskinan diukur dengan membandingkan pendapatan seseorang dengan ambang batas kemiskinan yang ditetapkan oleh suatu ukuran, dimana orang tersebut dianggap miskin jika pendapatannya di bawah ambang batas tersebut. Sebagai contoh. Bank Dunia menetapkan ambang batas kemiskinan dengan pendapatan kurang dari USD 1 per hari sebagai katagori Ausangat miskinAy, dan pendapatan kurang dari USD 2 per hari sebagai katagori AumiskinAy. Ambang batas kemiskinan di Indonesia ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan menggunakan konsep kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasar . asic needs approac. , dimana kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar makanan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki ratarata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis Pendekatan kedua untuk kesejahteraan dan kemiskinan adalah dengan melayangkan survei untuk mendapatkan informasi apakah individu atau rumah tangga mampu mengkonsumsi jenis barang tertentu, bagaimana tempat tinggalnya, tingkat kesehatannya serta tingkat Dalam pandangan ini analisis kesejahteraan lebih bersifat pengukuran tradisional atau berada di luar ukuran kemiskinan secara moneter. Pendekatan lainnya mengatakan bahwa kesejahteraan berasal dari kemampuan untuk berfungsi di dalam Dengan demikian, kemiskinan iu ada ketika orang tidak memiliki kemampuan hidup yang layak, tidak memiliki penghasilan, memiliki pendidikan yang tidak memadai, atau memiliki kesehatan yang buruk, rasa tidak aman, rendahnya kepercayaan diri, rasa ketidakberdayaan, yang semua itu mengakibatkan seseorang tidak memiliki kebebasan dalam menuntut hak-haknya. Pandangan terakhir ini menilai bahwa kemiskinan adalah fenomena multidimensi yang tidak memiliki solusi sederhana. Di seluruh dunia, kesejahteraan dan kemiskinan masih menjadi domain penting dalam proses pembangunan ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. sebuah negara. Sepenuhnya diyakini oleh para ahli ekonomi pembangunan bahwa sebuah proses pembangunan dinyatakan berhasil apabila tingkat kesejahteraan masyarakat di dalam wilayah ekonomi itu meningkat, yang biasanya berdampak pada peningkatan pendapatan per kapita, penurunan angka kemiskinan dan penurunan tingkat pengangguran. Di Indonesia, pemerintah terus berusaha mengurangi kesejahteraan masyarakatnya. Terdapat empat strategi dasar yang telah ditetapkan dalam rangka mempercepat penanggulangan kemiskinan: Menyempurnakan program perlindungan sosial Peningkatan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar Pemberdayaan masyarakat Pembangunan yang inklusif Di samping itu. Pemerintah Indonesia juga sedang mengupayakan Percepatan Penanggulangan Kemiskinan melalui berbagai program yang dilakukan oleh Kementerian dan Lembaga terkait antara lain seperti: Kartu Indonesia Sehat (KIS) Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) Berdasarkan pemasalahan di atas, studi ini akan melakukan kajian lebih lanjut atas berbagai indikator kemiskinan atau kesejahteraan yang baku yang dibuat oleh lembaga penelitian resmi, ditambah beberapa penelitian terdahulu, dalam rangka mendapatkan indikator yang lebih tepat dan sesuai dengan karakter Desa Pagedangan Ilir. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul AuPerumusan Indikator Kemiskinan dan Pengukuran Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Desa Pagedangan Ilir. Kronjo. TangerangAy. Penelitian ini diharapkan akan dapat menghasilkan: Rumusan indikator kemiskinan yang sesuai sebagai alat ukur kesejahteraan yang lebih baik bagi Desa Pagedangan Ilir. Program Indonesia Pintar (PIP) Program Keluarga Harapan (PKH) Program Beras untuk Keluarga Miskin (Raski. Agar seluruh program penanggulangan kemiskinan yang diupayakan di atas dapat berjalan efektif, pemerintah tentu harus mengawalinya dengan menargetkan program tersebut terutama kepada golongan pra-sejahtera. Menurut Silva . , pengetahuan yang komprehensif akan sangat dibutuhkan dalam menilai penduduk yang termasuk dalam golongan pra-sejahtera, termasuk diantaranya dengan cara mendata tempat tinggal dan profil sosial ekonomi mereka. Oleh karena itu, penentuan pra-sejahtera menggunakan indikator kemiskinan yang baku merupakan hal yang sangat penting, untuk dijadikan sebuah variabel bagi pengambil keputusan. Berdasarkan hal itu, penulis melihat adanya permasalahan yang berhubungan dengan penentuan keluarga prasejahtera di Indonesia. Dalam kenyataannya, penentuan keluarga pra-sejahtera di Indonesia belum secara komprehensif menggunakan indikator kemiskinan atau kesejahteraan yang yang dikeluarkan oleh BPS, dinasdinas sosial, atau lembaga-lembaga resmi lainnya. Obyek dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Pagedangan ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Ilir. Kecamatan Kronjo. Kabupaten Tangerang, dimana penilaian keluarga pra-sejahtera di sana ditentukan oleh para Ketua Rukun Tetangga (RT) dengan cara survei ke tempat tinggal para warganya. Permasalahan lain yang penulis temukan adalah bahwa tidak ada satupun pendekatan yang sempurna untuk dapat dijadikan standar umum penilaian tingkat kesejahteraan masyarakat. Berbagai standar nasional pun belum tentu dapat diterapkan bagi setiap wilayah ekonomi di Indonesia karena terdapatnya beragam budaya dan keadaan ekonomi rumah tangga di Indonesia (Cahyat, 2. Pada prakteknya, indikator kemiskinan atau kesejahteraan yang ada pada umumnya hanya menekankan pada pengukuran berbagai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang dan papan. Hasil masyarakat Desa Pagedangan Ilir dari berbagai indikator kemiskinan yang telah dirumuskan. Rekomendasi bagi para pembuat kebijakan di Desa Pagedangan Ilir dalam upaya untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakatnya. KAJIAN PUSTAKA Definisi dan Konsep Kemiskinan Definisi kemiskinan terus berkembang seiring dengan semakin kompleksnya faktor penyebab, indikator, maupun permasalahan lain yang melingkupinya. Kemiskinan tidak hanya dipandang dari dimensi ekonomi saja, namun meliputi dimensi sosial, kesehatan, pendidikan dan bahkan politik. Gonner . berpendapat bahwa kemiskinan dimaknai sebagai Aukurangnya kesejahteraanAy dan Aukesejahteraan sebagai kurangnya kemiskinanAy. Dalam hal ini, kemiskinan diartikan sebagai menurunnya tingkat kesejahteraan individu, karena keduanya saling terkait Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. dan memandang masalah yang sama dari dua dimensi yang berbeda. Kemudian. Sajogyo dalam Prayitno & Arsyad . , menyatakan bahwa kemiskinan adalah suatu tingkat kehidupan yang berada di bawah standar kebutuhan hidup minimum yang ditetapkan berdasarkan atas kebutuhan pokok pangan yang membuat orang cukup bekerja dan hidup sehat, berdasarkan atas kebutuhan beras dan gizi. Dalam perkembangannya, terdapat dua paradigma atau teori besar . rand theor. mengenai kemiskinan. paradigma neoliberalisme dan teori demokrasi sosial. Teori neoliberalisme yang dipaparkan Hobbes. Lock & Mill mengatakan bahwa komponen penting dalam masyarakat adalah sebuah kebebasan individu berlandaskan paham ekonomi klasik yang dikemukakan oleh Adam Smith dan Hayek, yang mengedepankan azas laissez faire dengan mekanisme pasar bebasnya. Implikasinya, kemiskinan adalah merupakan persoalan individual yang disebabkan oleh pilihan individu yang Kemiskinan akan hilang dengan sendirinya apabila kekuatan pasar diperluaskan sebesar-besarnya dan pertumbuhan ekonomi dipacu setinggi-tingginya. Teori demokrasi sosial, di lain pihak, memandang kemiskinan sebagai persoalan struktural, bukan individual masyarakat. Kemiskinan disebabkan adanya ketidakadilan atau ketimpangan dalam masyarakat akibat tersumbatnya akses kelompok tertentu atas sumber daya yang ada. Teori ini berporos pada prinsip-prinsip ekonomi Untuk menanggulangi kemiskinan diperlukan strategi berupa pemberdayaan dana, wawasan serta keberlanjutan yang bersifat residual. pendekatan yang sempurna dalam mengukur yang dapat menjadi standar umum (Cahyat, 2. Bahkan sebuah standar nasional pun belum tentu cocok untuk diterapkan pada setiap wilayah sebuag negara karena keanekaragaman budaya dan keadaan ekonomi rumah Beberapa institusi resmi yang mengeluarkan indikator kemiskinan yang sering digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan di Indonesia diantaranya adalah: Badan Pusat Statistik (BPS) BPS menetapkan empat belas indikator kemiskinan, untuk mengklasifikasikan rumah tangga miskin dan menentukan rumah tangga yang berhak menerima Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Rumah tangga yang layak menerima PKH adalah yang memenuhi sembilan indikator kemiskinan. Kementerian Sosial Republik Indonesia Sementara itu. Kementerian Sosial Republik Indonesia memiliki sebelas indikator kemiskinan yang tercantum dalam Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia No. 146/HUK/2013 tentang Penetapan Kriteria dan Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Berbagai konsep yang lebih modern dengan komparasi dari berbagai negara mencoba menerjemahkan konsep kemiskinan dengan pendekatan yang lebih komprehensif. Banyak negara menerjemahkan kemiskinan hanya dari sisi pendapatan, konsumsi atau akses terhadap layanan (Haug, 2. Bank Dunia dan UNDP (United Nations Development Programm. kemiskinan yang mencakup berbagai aspek seperti kebutuhan dasar, gaya hidup yang ditentukan sendiri, pilihan, aset, kapabilitas, inklusi sosial, ketidaksetaraan, pemberdayaan dan kesejahteraan subyektif (Locatelli. World Bank, 2. BKKBN mengelompokan suatu keluarga ke dalam lima kriteria, yaitu keluarga pra-sejahtera (KPS). Keluarga Sejahtera I (KS-I). Keluarga Sejahtera II (KS-II). Keluarga Sejahtera i (KS-. , dan Keluarga Sejahtera i Plus (KS-i Plu. Aspek keluarga ini ditentukan berdasarkan dua puluh satu indikator yang merupakan faktor-faktor dominan yang menjadi kebutuhan setiap keluarga, termasuk diantaranya pemenuhan kebutuhan dasar, kebutuhan psikologis, kebutuhan pengembangan dan kebutuhan aktualisasi diri untuk berkontribusi bagi masyarakat. Bagi BKKBN, keluarga yang dikatagorikan sebagai KPS dan KS-I adalah keluarga yang menjadi sasaran utama dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Lembaga Penelitian SMERU Indikator Kemiskinan dan Berbagai Alat Ukur Kesejahteraan Agar berbagai program penanggulangan kemiskinan berjalan efektif, sebuah negara perlu memiliki indikator kemiskinan yang dapat digunakan sebagai instrumen dalam mengambil kebijakan. Tidak ada satupun Pengukuran kesejahteraan yang dilakukan oleh lembaga penelitian SMERU (Akhmadi. Yursin & Yumna pengumpulan data yang dikenal dengan nama Community-Based Monitoring System (CBMS) yang memanfaatkan daftar pertanyaan yang mudah dipahami dan melibatkan masyarakat lokal dalam Hasil yang diperoleh melalui sistem pengumpulan data ini lebih peka terhadap berbagai kondisi yang bersifat lokal. ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. Beberapa indikator kesejahteraan keluarga menurut lembaga ini meliputi beberapa kelompok seperti: status perkawinan, jenis kelamin kepala keluarga, tingkat pendidikan kepala keluarga dan pasangannya, pekerjaan dan sektor pekerjaan kepala keluarga, konsumsi makanan, kepemilikan harta benda, kepemilikan hewan ternak, beberapa indikator kesehatan dan kesejahteraan lainnya, serta akses terhadap lembaga keuangan. Center International (CIFOR) Forestry Research CIFOR mengembangkan sistem pemantauan kemiskinan dengan pendekatan pembelajaran Setiap proses dalam sistem pemantauan kemiskinan ini merupakan hasil konsultasi dan kolaborasi yang ekstensif dengan pemerintah daerah setempat (Albornoz. Becker. Cahyat, dkk. Aspek-aspek yang terdapat dalam model Nested Spheres of Poverty (NESP) dijadikan acuan untuk menyusun indikator kemiskinan. Keterkaitan Berbagai Indikator Kemiskinan dan Pengukuran Kesejahteraan Berbagai indikator kemiskinan yang digunakan oleh BPS. BKKBN. Kementerian Sosial RI dan berbagai penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Lembaga Peneitian SMERU dan Center of International Foresty Research (CIFOR) memberikan masukan kepada peneliti dalam mengembangkan model penelitian saat ini, yang kemudian diadaptasi sesuai dengan keadaan obyek penelitian, yaitu masyarakat Desa Pagedangan Ilir. Dalam tulisan ini penelitian CIFOR yang lalu dijadikan sebagai dasar perumusan indikator kemiskinan dan pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat di Desa Pagedangan Ilir. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian eksploratif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggali secara luas tentang penyebab atau hal-hal yang memengaruhi terjadinya sesuatu (Arikunto, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga (KK) yang bermukim di Desa Pagedangan Ilir, dengan jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 100 KK. Adapun tipe pengambilan sampel yang digunakan yaitu cluster random sampling. Terdapat lima Rukun Warga (RW) di Desa Pagedangan Ilir, dimana dari setiap RW tersebut diambil beberapa sampel secara acak. Kemudian, proses pengumpulan data dilakukan dengan cara mendatangi rumah responden dan mewawancarainya, didampingi oleh Ketua RW atau RT setempat. Uji Instrumen Penelitian Gambar 2. 1: Model Nested Spheres of Poverty (NESP) (Sumber: Center for International Forestry Research . ) Pada model NESP, beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa kemiskinan dan kesejahteraan Pertama, kesejahteraan subyektif . ubjective welfare (SWB)) yang bersifat sangat individu dan emosional. Kedua, kesejahteraan inti . ore aspect. yang terdiri dari kebutuhan dasar yang bersifat material . maupun non-material, yang mencakup aspek gizi dan kesehatan, pengetahuan, dan kekayaan materi. Ketiga, lingkungan pendukung . ontex aspect. yang terbagi menjadi dua, yaitu lingkungan sektoral . lam, ekonomi, ekonomi dan sosia. sera lingkungan lintas sektoral . arana/infrastruktur pelayanan/program Dalam penelitian ini penulis merujuk pada indikator kemiskinan berdasarkan CIFOR atas uji cobayang mereka lakukan di Kutai Barat. Indonesia (Albornoz. Becker. Cahyat, dkk. ,2. ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Penelitian ini menggunakan dua alat uji instrumen penelitian, yaitu uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu uji validitas internal dan uji validitas eksternal. Uji validitas internal yaitu apabila kuesioner secara teoritis telah mencerminkan apa yang hendak diukur dan diuji dengan mengonsultasikan kuesioner kepada minimal tiga orang ahli, yang dianggap memiliki pengalaman dan pengetahuan luas mengenai obyek penelitian. Sementara itu, uji validitas eksternal dalam penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali: . melalui analisis frekuensi jawaban yang diujicobakan kepada 30 responden untuk membuang indikator yang memiliki jawaban seragam . ampir 100 %) dan untuk mengetahui apakah bahasa yang digunakan dalam kuesioner sudah sesuai dengan kemampuan pemahaman responden, . uji validitas terhadap 100 responden yang merupakan sampel di dalam obyek penelitian, dengan menggunakan korelasi Pearson yang mengkorelasikan skor item dengan skor total item. Pengujian signifikansi 0,05 dengan uji 2 sisi. Jika nilai positif dari r hitung > r tabel, maka item dapat dinyatakan Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. valid atau agar lebih mudah, jika nilai signifikansi < 0,05 maka item valid. memberikan batas nilai yang sama banyak dalam 4 katagori yang ada. Dalam hal ini sangatlah jelas setiap klasifikasi kesejahteraan memiliki batas nilai yang sama, yaitu seperempat dari 100 atau masing-masing memiliki rentang batas nilai sebesar 25. Klasifikasi sangat miskin adalah yang memiliki batas nilai sebesar 0-25,00, klasifikasi miskin dengan batas nilai sebesar 25,01-50,00, klasifikasi sejahtera dengan batas nilai sebesar 50,0175,00, dan klasifikasi sangat sejahtera dengan batas nilai sebesar 75,01-100. Uji reliabilitas merupakan indeks atau angka yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur dalam mengukur gejala yang sama. Uji reliabilitas ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh sebuah alat ukur dapat diandalkan dan dipercaya. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan Cronbach Alpha. Suatu variabel/indikator dikatakan reliabel jika memiliki Cronbach Alpha >0. 6, sementara jika memiliki Cronbach Alpha kurang dari 0,6 berarti kurang baik, sedangkan Cronbach Alpha 0,6-0,799 dapat diterima dan Cronbach Alpha 0,8-1,0 adalah baik. Hal yang ingin diteliti oleh peneliti adalah indikator kemiskinan dan pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat yang dianalisis secara kuantitatif. Kesejahteraan masyarakat merupakan ukuran yang kompleks dan memiliki banyak pertanyaan. Item-tem pertanyaan tersebut dikelompokkan dan diuji per indikator agar benar-benar yakin dapat menjelaskan indikator tersebut dengan baik. METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Dalam uji validitas dan uji reliabilitas tersebut, penulis memasukan angka-angka yaitu berupa skala 1-4, dimana 1 adalah sangat miskin, 2 adalah miskin, 3 adalah sejahtera dan 4 adalah sangat sejahtera, atau jika dalam kuesioner pilihan jawaban yang berada di posisi paling atas memiliki skala 1, sementara pilihan jawaban yang berada di posisi paling bawah memiliki skala 4. Hasil pengolahan dan analisis data dari uji validitas dan uji reliabilitas tersebut akan menunjukan perangkat survey kesejahteraan yang sesuai bagi Desa Pagedangan Ilir, yaitu berupa item-item pertanyaan dalam setiap indikator kemiskinan yang sudah valid dan reliabel. Kedua, pengolahan data dengan cara menghitung indeks indikator kemiskinan/kesejahteraan, indeks dimensi kesejahteraan dan indeks kesejahteraan agregat untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat desa Pagedangan Ilir. Dalam hal ini, pengolahan data masih menggunakan pendekatan secara kuantitatif, dimulai dengan memberikan skor 1-4 pada setiap pilihan jawaban kesejahteraan yang akan dibuat, yaitu sangat miskin memiliki skor 1, miskin memiliki skor 2, sejahtera memiliki skor 3 dan sangat sejahtera memiliki skor 4. Dengan kata lain, jika dalam kuesioner pilihan jawaban berada di posisi paling atas akan memiliki skor 1, sementara pilihan jawaban yang berada di posisi paling bawah akan memiliki skala 4. Dalam empat klasifikasi kesejahteraan yang telah disampaikan di atas, penulis menggunakan metode kuartil sebagai pedoman untuk Setelah klasifikasi tersebut, maka langkah berikutnya menghitung indeks indikator, indeks dimensi dan indeks Dalam menghitung indeks indikator, digunakan sebuah rumus dari Albornoz. Becker. Cahya, dkk. sebagai berikut. Rumus 1. Menghitung Indeks Indikator Indeks Indikator = ( Jumlah skor diperolehOeNilai skor minimum Nilai skor maksimumOeNilai skor minimum ) x 100 Jumlah skor yang diperoleh, didapat dari total keseluruhan skor di dalam item pertanyaan tiap indikator. Jumlah skor minimum indikator didapat dari banyak item pertanyaan dalam tiap indikator, kemudian dikalikan dengan nilai skor terendah yaitu 1. Sementara itu, jumlah skor maksimum indikator didapat dari banyak item pertanyaan dalam tiap indikator, kemudian dikalikan dengan nilai skor tertinggi yaitu 4. Terdapat 11 indikator dan 41 pertanyaan yang ada di dalam kuesioner penelitian ini dengan rincian Setelah diketahui indeks indikator, maka langkah berikutnya adalah menghitung indeks kesejahteraan dimensi dan indeks kesejahteraan agregat, untuk mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat Desa Pagedangan Ilir secara keseluruhan. Indeks dimensi didapat dengan menghitung rata-rata indeks indikator yang ada pada tiap dimensi yaitu dimensi kesejahteraan subyektif yang di dalamnya mencakup indeks indikator Kemudian dimensi kesejahteraan inti di dalam terdapat indeks indikator gizi dan kesehatan, sandang, kondisi hunian dan aset, serta tingkat pengetahuan. Kemudian, dimensi kesejahteraan lingkungan sektoral yang di dalamnya terdapat indeks indikator lingkungan ekonomi, lingkungan sosial, lingkungan politik, lingkungan alam, serta ketergantungan pada laut dan Dan yang terakhir adalah dimensi lingkungan lintas sektoral yang di dalamnya mencakup indeks indikator infrastruktur dan pelayanan. Selanjutnya, indeks agregat diperoleh dengan cara menghitung rata-rata dari tiga indeks dimensi kesejahteraan, yaitu indeks dimensi kesejahteraan inti, indeks dimensi kesejahteraan lingkungan sektoral dan ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. indeks dimensi kesejahteraan lintas lingkungan sektoral. Sementara indeks dimensi kesejahteraan subjektif tidak dimasukan dalam perhitungan indeks kesejahteraan agregat karena sifatnya yang sangat emosional dan sangat mudah berubah yang berakibat kurang obyektif. Namun, indikator/dimensi kesejahteraan subyektif dalam penilitian ini, namun dipisahkan dalam satu indikator/dimensi kesejahteraan tersendiri, karena subyektifitas kesejahteraan, termasuk perasaan, juga terdapat dalam pengukuran tingkat kesejahteraan model NESP. Perhitungan seluruh indeks di atas, tidak hanya berguna untuk pengklasifikasian dan pengukuran kesejahteraan, tetapi juga dapat digunakan untuk memeringkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga kesejahteraan tersebut dapat mengetahui berbagai hal yang masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan di wilayah Frekuensi Persentase Laki-laki Perempuan Total 20-29 Tahun 30-39 Tahun 40-49 Tahun 50-59 Tahun > 60 Tahun Total Nelayan Buruh Tani Petani Wiraswasta/Dagang Karyawan Swasta Asisten Rumah Tangga HASIL DAN PEMBAHASAN Satpam/Security Berdasarkan data yang ada di dalam penelitian, maka hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut. Pekerja Bidang Jasa Total Hasil Uji Validitas < Rp. Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan secara internal dan eksternal. Uji validitas internal dilakukan dengan mengonsultasikan kuesioner kepada tiga aparat desa Pagedangan Ilir, yaitu Kepala Seksi Kesejahteraan masyarakat. Kepala Seksi Pemerintahan dan Kepala Seksi Urusan Umum di Pemerintahan Desa Pagedangan Ilir. Hasil dari uji validitas internal yang berupa kesimpulan dari tiga aparat di atas yaitu bahwa instrumen penelitian yang dibuat bisa mengukur objek penelitian secara tepat. Rp. 000-Rp. Rp. 000 - Rp. Rp. 000 - Rp. Rp. 000-Rp. Rp. 000-Rp. Total 1 Orang 2 Orang 3 Orang 4 Orang 5 Orang 6 Orang 7 Orang 8 Orang Total Selanjutnya, uji validitas eksternal dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson yang mengkorelasikan skor item dengan skor total item. Hasil uji validitas eksternal menunjukkan bahwa sebanyak 11 indikator dinyatakan valid. Hasil Uji Reliabilitas Uji reliabilitas ini merupakan uji kehandalan yang bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh sebuah alat ukur dapat diadalkan dan dipercaya. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan Cronbach Alpha. Hasil uji reliabilitas menyatakan bahwa 11 indikator dinyatakan Karakteristik Responden Jenis Kelamin Umur Pekerjaan Pendapatan Per Bulan Jumlah Tanggungan Sumber: Data diolah Hasil Pengukuran Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Desa Pagedangan Ilir Karakteristik Responden Pada tabel di bawah ini disajikan karakteristik data responden yang diperoleh dari pengolahan data primer penelitian ini. Tabel 1 . Karakteristik Responden ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Langkah selanjutnya adalah melalukan pengolahan data untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat Desa Pagedangan Ilir, yaitu dengan cara menghitung indeks indikator, indeks dimensi kesejahteraan dan indeks Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. kesejahteraan agregat. Berikut ini adalah tabel hasil pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat Desa Pagedangan Ilir dari tiap indikator, dimensi dan agregat. Tabel 2. Hasil Pengukuran Tingkat Kesejahteraan Masyakat Desa Pagedangan Ilir Klasifikasi (%) Indikator/dimensi/Ag Sangat Miskin Miskin Sejaht Sangat Sejahter Indikator Perasaan Sejahtera Dimensi Kesejahteraan Subjektif Indikator Gizi dan Kesehatan Indikator Sandang Indikator Hunian dan Aset Indikator Tingkat Pengetahuan Dimensi Kesejahteraan Inti Indikator Lingkungan Ekonomi Indikator Lingkungan Sosial Indikator Lingkungan Politik Indikator Lingkungan Alam Indikator Ketergantungan pada Laut dan Ladang Dimensi Kesejahteraan Sektoral Indikator Infrastruktur dan Pelayanan Dimensi Kesejahteraan Lintas Sektoral Kesejahteraan Agregat Gambar 3. Ringkasan Rata-Rata Indeks Kesejahteraan Sumber: Data 2018, diolah Pada gambar di atas terlihat bahwa rata-rata indeks perasaan adalah sebesar 69,56. Hal ini menandakan bahwa secara keseluruhan keluarga yang tinggal di Desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy apabila dilihat dari perasaan tinggal desa Pagedangan Ilir. Kemudian, rata-rata indeks gizi dan kesehatan sebesar 62,08. Dengan demikian, secara keseluruhan keluarga di Desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy jika dilihat berdasarkan tingkat gizi dan kesehatan. Sedangkan rata-rata indeks sandang sebesar 57,67, artinya secara keseluruhan keluarga di Desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy apabila diukur berdasarkan pemenuhan kebutuhan sandang. Selanjutnya, rata-rata indeks kondisi hunian dan aset sebesar 77,27, yang artinya secara keseluruhan keluarga di Desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy apabila dilihat berdasarkan keadaan tempat tinggal dan kepemilikan aset. Sumber: Data diolah 2018 Ringkasan Rata-rata Kesejahteraan Indeks Klasifikasi Menurut metode klasifikasi kesejahteraan yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa apabila memiliki rata-rata indeks sebesar 0-25,00, maka diklasifikasikan AuSangat MiskinAy, rata-rata indeks sebesar 25,01-50,00, maka diklasifikasikan AuMiskinAy, rata-rata indeks sebesar 50,01-75,00, maka diklasifikasikan AuSejahteraAy, dan rata-rata indeks sebesar 75,01-100, maka diklasifikasikan AuSangat SejahteraAy. Hasilnya. Desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy karena memiliki rata-rata indeks agregat 55,88 atau lebih besar 5,88 dari klasifikasi AuMiskinAy. Gambar di bawah ini ringkasan klasifikasi tingkat kesejahteraan keluarga Desa Pagedangan Ilir. Rata-rata indeks tingkat pengetahuan adalah 50,44. Hal ini menandakan bahwa secara keseluruhan keluarga di Desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy berdasarkan tingkat pengetahuan dari sarana informasi yang dimiliki. Kemudian, rata-rata indeks lingkungan ekonomi adalah 62,89, yang menandakan bahwa secara keseluruhan keluarga di desa tersebut diklasifikasikan AuSejahteraAy apabila dilihat berdasarkan keadaan ekonomi. Selanjutnya, rata-rata indeks lingkungan sosial adalah 52,92, yang artinya bahwa secara keseluruhan keluarga di Desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy apabila dilihat berdasarkan lingkungan sosial. Rata-rata indeks lingkungan politik sebesar 72,56. Hal tersebut menggambarkan bahwa secara keseluruhan keluarga di Desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy apabila dilihat berdasarkan lingkungan Rata-rata indeks lingkungan alam adalah sebesar 57,80, yang artinya bahwa secara keseluruhan keluarga di desa tersebut diklasifikasikan AuSejahteraAy apabila dilihat berdasarkan lingkungan alam. Kemudian, rata-rata indeks ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. ketergantungan pada laut dan ladang adalah sebesar 31,83. Hal tersebut menggambarkan bahwa secara keseluruhan keluarga di sana diklasifikasikan AuMiskin Ay. Hal ini dapat diartikan bahwa keluarga di lingkungan tersebut masih mengandalkan dan bergantung pada laut dan ladang dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, atau dengan kata lain laut dan lading merupakan sarana mata pencaharian utama mereka. Rata-rata indeks infrastruktur dan pelayanan adalah sebesar 50,17. Hal ini menandakan bahwa secara keseluruhan keluarga di Desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy apabila dilihat berdasarkan sarana pendukung yaitu infrastruktur dan pelayanan. Kemudian, kesejahteraan subyektif memiliki indeks ratarata yang sama dengan indeks perasaan yaitu 69,56. Selanjutnya,rata-rata indeks kesejahteraan inti adalah sebesar 61,87. Dengan demikian, bahwa secara keseluruhan keluarga di desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy apabila dilihat berdasarkan kebutuhan dasar material maupun non-material. Rata-rata indeks kesejahteraan lingkungan sektoral adalah sebesar 55,60. Hal tersebut menggambarkan bahwa secara keseluruhan keluarga di desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy apabila dilihat berdasarkan keadaan lingkungan sektoral. Selanjutnya, kesejahteraan lingkungan lintas sektoral memiliki indeks rata-rata yang sama dengan indeks infrastruktur dan pelayanan yaitu 50,17. Terakhir, rata-rata indeks kesejahteraan agregat adalah sebesar 55,88. Hal ini menandakan bahwa secara keseluruhan keluarga di desa Pagedangan Ilir diklasifikasikan AuSejahteraAy berdasarkan seluruh indikator dan dimensi pengukuran kesejahteraan yang telah dirumuskan. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang dilakukan dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu, terdapat sebelas indikator dan empat puluh satu item pertanyaan yang sesuai dijadikan alat ukur kesejahteraan yang baku bagi Desa Pagedangan Ilir. Kesebelas indikator tersebut terbagi ke dalam empat dimensi, yaitu . dimensi kesejahteraan subyektif yang hanya terdiri dari indikator perasaan yang secara keseluruhan memiliki tiga item pertanyaan, . dimensi kesejahteraan inti yang terdiri dari indikator gizi dan kesehatan, sandang, kondisi hunian dan aset, serta tingkat Dimensi ini secara keseluruhan memiliki lima belas item pertanyaan, . dimensi kesejahteraan lingkungan sektoral termasuk diantaranya indikator lingkungan ekonomi, lingkungan sosial, lingkungan politik, lingkungan alam, serta indikator ketergantungan pada laut dan ladang. Dimensi kesejahteraan lingkungan ISSN: 2620-777X Copyright ee 2019 sektoral ini secara keseluruhan memiliki sembilan belas item pertanyaan. Dan . dimensi kesejahteraan lingkungan lintas sektoral yang hanya terdiri dari indikator infrastruktur dan program kesejahteraan yang secara keseluruhan memiliki empat item pertanyaan. Hasil olah data mengenai pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat Desa Pagedangan Ilir menunjukan bahwa secara agregat tidak ada keluarga di Desa Pagedangan Ilir yang diklasifikasikan AySangat MiskinAy. AuMiskinAy, 67 % keluarga yang diklasifikasikan AuSejahteraAy, serta terdapat 1% keluarga yang diklasifikasikan AuSangat SejahteraAy. Kemudian, mengenai klasifikasi tingkat kesejahteraan menurut indeks rata-rata kesejahteraan agregat, keluarga di desa Pagedangan Ilir dikatagorikan AuSejahteraAy dengan indeks sebesar 55,88. Meskipun demikian, tetap perlu diwaspadai karena rata-rata indeks agregat tersebut memiliki selisih hanya 5,88 dengan klasifikasi miskin dengan indeks 50,00. Oleh karena itu. Desa Pagedangan Ilir tetap perlu melakukan berbagai langkah perbaikan pada indikator-indikator yang dianggap lemah dalam rangka menekan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Kemudian, masyarakat desa, terutama bagi keluarga yang diklasifikasikan sangat miskin dan miskin. Desa Pagedangan Ilir dapat mengembangkan berbagai usaha dengan cara memanfaatkan potensi desa yang dimiliki, yaitu perikanan dan pertanian. Strategi yang dapat dijalankan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga yang bermata pencaharian sebagai nelayan, buruh tani dan petani dapat dengan cara membuat fasilitas pelatihan untuk meningkatkan keterampilan baik itu untuk keterampilan berwirausaha ataupun lainnya. Aparat Desa Pagedangan Ilir juga dapat mencari investor atau pihakpihak yang peduli terhadap kesejahteraan masayarakat di sana untuk dapat memanfaatkan potensi desa, baik itu sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikemukakan juga rumusan indikator kemiskinan yang dihasilkan dan metode pengukuran kesejahteraan dalam penelitian sebagai kontribusi bagi Pemerintahan Desa Pagedangan Ilir agar tingkat kesejahteraan masyarakat dapat diketahui dan dimonitor secara lebih baik. Selain itu. Pemerintahan Desa Pagedangan Ilir dapat mengetahui hal-hal apa saja yang perlu ditingkatkan di Desa Pagedangan Ilir dalam upaya untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Kemudian, memberikan gambaran tingkat kesejahteraan yang lebih akurat bagi lembaga-lembaga keuangan mikro di Indonesia maupun pihak-pihak yang peduli mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat Desa Pagedangan Ilir Journal of Entrepreneurship. Management, and Industry (JEMI) Vol. No. 3, . , pp. dan dapat mempermudah proses seleksi penerima manfaat suatu program perbaikan kesejahteraan masyarakat Desa Pagedangan Ilir. Terakhir, memberikan kontribusi akademis yaitu berupa referensi untuk merumuskan indikator kemiskinan dan pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat dan bisa dimanfaatkan untuk penelitian selanjutnya. Bpk/Swd*** Purwanto. Adi. Pengertian kemiskinan menurut para ahli. REFERENSI