Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan Vol. No. 1 Januari 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 129-140 DOI:https://doi. org/10. 59031/jkpim. Availableonlineat . https://jurnal. id/index. php/jkppk Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film AuDua Garis BiruAy ( Teori Roland Barthes ) Monika Hediana Tanga1. Katharina Woli Namang2 Universitas Muhammadiyah Maumere Alamat. Jl. Sudirman No. Kelurahan. Waioti. Kec. Alok Tim. Kabupaten Sikka Korespondens Penulisi . Monikahediana6@gmail. Abstract. This study aims to analyze the moral messages in the film Dua Garis Biru using Roland Barthes' semiotic The film tells the story of the challenges faced by a pair of teenagers dealing with an unplanned pregnancy, leading to conflicts involving expectations, responsibilities, and social impacts. Through Barthes' semiotic theory, this study explores how signs in the film, both verbal and visual, construct deeper meanings related to morality, social norms, and cultural pressures. Using Barthes' two stages of semiotics, denotation and connotation, the research identifies the direct meanings of the film's elements and their more complex interpretations, reflecting moral values within society. The analysis reveals that the film conveys a moral message about the importance of personal and social responsibility in facing the consequences of oneAos actions, as well as how society evaluates individual life choices. This study provides insights into how films can serve as a powerful medium for delivering moral messages through meaningful signs. Keywords: semiotic analysis, moral messages. Roland Barthes. Dua Garis Biru film, signs. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pesan moral yang terdapat dalam film Dua Garis Biru menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Film ini mengisahkan tentang permasalahan yang dihadapi oleh sepasang remaja yang hamil di luar nikah, yang memunculkan konflik antara harapan, tanggung jawab, dan dampak Dengan menggunakan teori semiotika Barthes, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana tanda-tanda dalam film, baik verbal maupun visual, membentuk makna yang lebih dalam terkait dengan moralitas, norma sosial, dan tekanan budaya. Melalui dua tahap semiotika Barthes, yaitu denotasi dan konotasi, penelitian ini mengidentifikasi makna langsung dari elemen-elemen film serta interpretasi yang lebih kompleks yang mencerminkan nilai-nilai moral dalam masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa film ini menyampaikan pesan moral tentang pentingnya tanggung jawab pribadi dan sosial dalam menghadapi konsekuensi dari tindakan, serta bagaimana masyarakat memberikan penilaian terhadap pilihan hidup individu. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana media film dapat menjadi sarana penyampaian pesan moral yang kuat melalui penggunaan tanda-tanda yang sarat makna. Kata Kunci: analisis semiotika, pesan moral. Roland Barthes, film Dua Garis Biru, tanda. PENDAHULUAN Film sebagai bentuk seni audiovisual telah menjadi salah satu media komunikasi yang kuat dan berpengaruh dalam masyarakat. Film bukan hanya hiburan semata, tetapi juga dapat menjadi wahana penyampaian pesan, nilai-nilai, serta moral kepada penonton. Dalam konteks ini, analisis semiotika memiliki peran penting dalam mengungkap makna dan pesan yang terkandung dalam Sinema adalah media yang memiliki dampak besar dalam membentuk pandangan dan nilainilai masyarakat. Film, sebagai salah satu bentuk seni visual, seringkali digunakan untuk menyampaikan pesan moral, sosial, dan budaya. Film yang memiliki pesan moral yang kuat dapat memberikan pengaruh yang mendalam pada pemirsa dan membantu membentuk pemahaman Received: October12, 2024. Revised: November 13, 2024. Accepted: November, 14, 2024. Online Available: Desember, 18, 2024. Published: January 01, 2025 * Monika Hediana Tanga. Monikahediana6@gmail. Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film AuDua Garis BiruAy ( Teori Roland Barthes ) mereka tentang berbagai aspek kehidupan. ada disitus BKKBN 2019. Kemudian dari permasalahan ini, didapatkan adanya nilai berita seperti up to date, human interest, konflik dan seks, serta dapat to educate people and sosial control yang mana itu semua adalah tentang jurnalistik, karena film merupakan bagian dari jurnalistik juga yiatu sebagai salah satu media massa dan penyebaran informasi. Sinema merupakan salah satu bentuk seni yang memiliki kekuatan untuk memengaruhi dan menciptakan pemahaman terhadap nilai-nilai sosial, budaya, dan moral dalam masyarakat. Film sebagai media visual seringkali tidak hanya menghibur, tetapi juga dapat menyampaikan pesan moral kepada penontonnya. Salah satu genre film yang sering kali menyajikan berbagai pesan moral dengan cara yang unik dan menghibur adalah film horor komedi, atau yang dikenal dengan istilah "Dua Garis Biru". Dalam film ini, berbagai tanda, simbol, dan narasi digunakan untuk menyampaikan pesan moral kepada penonton. Oleh karena itu, analisis semiotika menjadi pendekatan yang relevan dan bermanfaat untuk menggali makna dan pesan moral dalam film ini. Film ini telah menjadi sorotan di masyarakat karena menampilkan cerita yang kompleks dan penuh makna moral. Melalui karakter, plot, simbol, dan dialog dalam film ini, pesan moral yang beragam mungkin disampaikan kepada audiens. Analisis semiotika adalah pendekatan yang kuat untuk memahami bagaimana pesan moral direpresentasikan dalam film. Semiotika, sebagai ilmu yang mempelajari tanda-tanda dan makna, dapat membantu dalam membongkar cara simbol, citra, dan narasi digunakan dalam film untuk menyampaikan pesan moral tertentu. Dalam konteks ini, penelitian ini akan mengkaji bagaimana pesan moral dalam film "Dua Garis Biru" direpresentasikan melalui tanda-tanda dan makna yang ada dalam film. Film juga menjadi sarana baru untuk sarana hiburan serta alat komunikasi yang signifikan. Film adalah media komunikasi yang bersifat audio visual untuk menyampaikan suatu pesan kepada sekelompok . orang yang berkumpul disuatu tempat tertentu (Effendy, 2009:. Dua Garis Biru merupakan film besutan rumah produksi Starvision Plus yang rilis pada pertengahan tahun 2019 dan ditayangkan kembali diaplikasi Iflix diakhir tahun 2019, yang disutradarai dan naksahnya ditulis langsung oleh Ginatri S. Noer. Film ini dibintangi oleh Angga Yunanda sebagai Bima dan Zara JKT48 sebagai Dara. Namun dibalik itu semua, film ini sempat manuai kontroversi hingga adanya petisi yang berisikan boikot film dua garis biru karena dianggap tabu dan dikhawatirkan malah disalah artikan oleh remaja, tapi pada akhirnya film tersebut mendapatkan dukungan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang mengatakan bahwa film AuDua Garis BiruAy menjadi wadah untuk berdiskusi tentang pernikahan dini yang masih dianggap tabu di Indonesia. Dikatakan juga sebagai media untuk membangun awareness pemangku kebijakan dan pemangku kepentingan tentang perilaku berisiko remaja yang menjadikannya rentan mengalami pernikahan di usia dini, kehamilan tidak diinginkan, dan terinfeksi penyakit menular seksual hingga aborsi yang tidak aman, dilansir dari situs BKKBN 2019. Teori semiotika Roland Barthes membantu kita memahami bagaimana makna terkonstruksi melalui tanda-tanda yang ada dalam film. Dengan mengkaji makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam film, kita dapat mengungkap pesan moral yang ingin disampaikan oleh Misalnya, warna biru yang dominan dalam film, mulai dari judul hingga tes kehamilan. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 129-140 dapat diinterpretasikan sebagai simbol harapan dan kebahagiaan. Namun, warna biru juga dapat diartikan sebagai simbol kesedihan dan kekecewaan, mengingat konsekuensi yang harus dihadapi Dara dan Bima setelah mengetahui kehamilan Dara Melalui analisis semiotika, kita dapat mengidentifikasi pesan moral yang ingin disampaikan oleh film "Dua Garis Biru", seperti pentingnya tanggung jawab, konsekuensi, dan pencarian jati diri. Film ini mengajak semua pihak untuk lebih peka terhadap isu-isu moral yang dihadapi remaja dan memberikan dukungan yang diperlukan. Dengan demikian, analisis semiotika menjadi alat yang ampuh untuk mengungkap pesan moral yang tersembunyi di balik simbol dan tanda dalam film "Dua Garis Biru" dan mendorong kita untuk berpikir kritis tentang norma-norma sosial yang berlaku. Penelitian yang memiliki topik tentang analisis semiotika pernah dilakukan oleh penelitian Pertama, yang berjudul Representasi Pesan Moral Dalam Film Onde Mande: Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce. Artikel ini membahas pesan moral dalam film "Onde Mande" dengan fokus pada tema budaya dan tradisi masyarakat Minangkabau. Menggunakan analisis semiotika Charles Sanders Peirce untuk mengungkap makna di balik simbol dan tanda dalam film. Analisis Semiotika Pesan Moral dalam Film Animasi Toy Story 4. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk pesan moral dan memahami makna pesan moral dalam film animasi "Toy Story 4". Menggunakan analisis semiotika Roland Barthes untuk mengungkap makna pesan moral yang terkandung dalam film. Analisis semiotika dan pesan moral pada film imperfect 2019 karya ernest prakasa . Artikel ini bertujuan untuk mempresentasikan makna pesan moral di dalam film "Imperfect" dan bagaimana film tersebut dapat menyampaikan pesan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan analisis semiotika Charles Sanders Peirce untuk mengungkap makna pesan moral. KAJIAN PUSTAKA 1 Teori Semiotika Roland Barthes Roland Barthes adalah salah satu ahli semiotika yang menunjukkan sebuah doktrin semiotika baru yang memungkinkan para peneliti untuk menganalisa sistem tanda guna membuktikan bagaimana komunikasi nonverbal terbuka terhadap interpretasi melalui makna tambahan atau connotative (Bouzida, 2. Pemikiran Roland Barthes mengenai semiotika telah memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana tanda dan bahasa memainkan peran penting dalam memahami budaya dan konstruksi sosial. Dia menunjukkan bagaimana bahasa bukan hanya alat untuk komunikasi, tetapi juga alat untuk menciptakan sensasi dan respon Barthes juga menantang pandangan bahwa bahasa adalah sesuatu yang statis dan merinci bagaimana makna dalam tanda selalu tergantung pada konteks sosial dan budaya. Pemikiran Barthes tentang semiotika masih mempengaruhi studi budaya dan teori kritis saat ini, dan telah membantu kita memahami betapa pentingnya pemahaman tanda-tanda dalam masyarakat kita. Artikel ini hanya menyentuh permukaan pemikiran kompleks Roland Barthes dalam semiotika, tetapi ia adalah seorang pemikir yang memiliki pengaruh yang mendalam dalam kajian budaya dan bahasa. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film AuDua Garis BiruAy ( Teori Roland Barthes ) Penelitian yang sama pernah dilakukan oleh beberapa penelitian. Pertama, penelitian yang berjudul AuAnalisis Logo Real Madrid dengan Pendekatan Semiotika Charles Sanders PierceAy Penelitian ini menganalisis logo klub sepakbola Real Madrid sebagai corporate identity menggunakan teori semiotika Charles Sanders Pierce. Penelitian ini menemukan bahwa huruf M. C, dan F pada logo Real Madrid melambangkan nama awal klub, yaitu Madrid Club de Futbol. Kedua, penelitian yang berjudul AuPenerapan Semiotika Michael Riffaterre dalam Pemaknaan Karya SastraAy. Penelitian ini membahas tentang teori, metode, dan penerapan semiotika dalam pemaknaan karya sastra. Penelitian ini menggunakan teori dan metode semiotika Michael Riffaterre yang diuraikan dalam bukunya Semiotics of Poetry . Penelitian ini tidak hanya diterapkan pada puisi, tetapi juga diperluas pada karya fiksi . Ketiga, penelitian yang berjudul AuSemiotika dalam Kajian Ilmu LinguistikAy Penelitian ini membahas tentang hubungan antara semiotika dan linguistik, dengan fokus pada peran tanda dalam komunikasi dan pemahaman Penelitian ini menitikberatkan pada teori semiotika Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce, yang dianggap sebagai bapak semiotika modern. 2 Nilai Moral Nilai moral berkaitan dengan aturan baik dan buruk dalam suatu tindakan. Nilai moral memiliki ciri-ciri tertentu. Pertama nilai moral berkaitan dengan tnggung jawab, kedua berkaitan dengan hati nurani, kemudian bersifat mewajibkan, dan terakhir bersifat formal. Nilai moral memiliki kaitan dengan karya sastra. Hal tersebut karena setiap karya sastra bertujuan untuk menyampaikan nilai moral yang terkandung di dalamnya. Setiap karya sastra hadir untuk memberikan pembelajaran dan sekaligus pendidikan secara tidak langsung kepada pembaca. Nilai moral termasuk salah satu unsur pembangun karya sastra yaitu unsur ekstrinsik (Bertens, 2013:. Istilah moral memiliki keterkaitan dengan karya sastra. Salah satunya yaitu novel. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya karya sastra yang memunculkan nilai-nilai moral di dalam setiap cerita dan tokoh-tokohnya. Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Pendapat tokoh lain. Nurgiyantoro . mengatakan bahwa seorang pengarang memiliki tujuan untuk menciptakan karya sastra yang dapat berfungsi memberikan nilai-nilai kehidupan yang baik. Karya sastra dapat dijadikan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dapat menampilkan nilai-nilai yang berfungsi mendidik. Suatu karya sastra fiksi berusaha menampilkan nilai-nilai moral yang baik dapat diteladani oleh pembaca. Melalui cerita dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah, pembaca diharapkan dapat mengambil pesan-pesan moral yang disampaikan dan yang diamanatkan. Djojosuroto . mengatakan bahwa dalam suatu karya fiksi terkadang ada tokohtokoh yang memiliki karakter yang kurang baik. Karakter yang kurang baik tersebut secara tidak langung memiliki nilai moral yang kurang baik pula, tetapi bukan berarti suatu karya fiksi mengajarkanmoral yang kurang baik kepada pembaca. Sebagai seorang pembaca juga harus memilah nilai moral yang baik dan nilai moral yang kurang baik bagi kehidupannya. Seperti dijelaskan bahwa moral yang disampaikan, pengarang dalam karya sastra biasanya selalu menampilkan pengertian yang baik. Seorang pembaca yang baik akan meneladani karakter tokoh JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 129-140 yang memiliki nilai moral yang baik. Jadi, kehadiran karya fiksi bermanfaat bagi pembaca dalam kaitannya dengan moral yang baik. Penelitian yang sama pernah dilakukan oleh beberapa penelitian. Pertama, penelitian yang berjudul AuAnalisis Semiotika tentang Pesan Moral dalam Film AuNgeri Ngeri SedapAy. Penelitian ini menganalisis pesan moral yang terkandung dalam film "Ngeri Ngeri Sedap" menggunakan pendekatan semiotika. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana film tersebut dapat mempengaruhi penonton dalam membentuk pemahaman moral dan nilai-nilai di tengah Kedua, penelitian yang berjudul AuNilai-Nilai Moral dalam Film "Nobody Knows" Penelitian ini mendeskripsikan nilai-nilai moral yang terdapat di dalam film "Nobody Knows". Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dan observasi film untuk memperoleh data. Penelitian ini memberikan analisis tentang bagaimana film tersebut dapat menyampaikan pesan moral kepada penonton. Ketiga, penelitian yang berjudul AuImplementasi Penanaman Nilai-Nilai Moral dan Kemandirian Sosial di Sekolah Dasar Qurrota AAoyunAy. Penelitian ini meneliti tentang konsep nilai moral dan kemandirian sosial di Sekolah Dasar Qurrota AAoyun, strategi penanaman nilai tersebut, dan implikasi nilai moral dan kemandirian sosial bagi siswa. Penelitian ini memberikan gambaran tentang upaya konkret dalam menanamkan nilai moral dan kemandirian sosial di lingkungan pendidikan. Film "Dua Garis Biru" karya Gina S. Noer telah menjadi objek penelitian menarik bagi para akademisi, khususnya yang tertarik pada analisis semiotika dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Film ini mengangkat isu sensitif tentang kehamilan di luar nikah pada remaja, dan melalui narasi yang kuat dan karakter yang relatable, film ini berhasil memicu diskusi dan refleksi tentang berbagai aspek kehidupan remaja, khususnya dalam konteks keluarga, pendidikan, dan masa depan. Kajian pustaka ini akan membahas berbagai penelitian yang telah dilakukan untuk menganalisis pesan moral dalam film "Dua Garis Biru" dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes 1 Makna Denotasi. Konotasi, dan Mitos Penelitian yang dilakukan oleh Bahiyah. Abdullah, dan Rizki, menekankan pentingnya memahami makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam film "Dua Garis Biru" untuk mengungkap pesan moral yang ingin disampaikan. Makna Denotasi merupakan makna literal yang tampak secara langsung dalam film, seperti adegan Dara melakukan tes kehamilan dan mendapatkan hasil Makna denotasi ini menunjukkan konsekuensi langsung dari hubungan seks pranikah, yaitu Makna Konotasi merupakan makna tambahan yang dihubungkan dengan makna denotasi, seperti perubahan drastis dalam kehidupan Dara dan Bima setelah mengetahui kehamilan. Makna konotasi ini menunjukkan kesulitan dan tantangan yang dihadapi oleh remaja dalam menghadapi kehamilan di luar nikah, termasuk stigma sosial, tekanan keluarga, dan kesulitan ekonomi. Makna Mitos merupakan makna yang dibentuk oleh budaya dan masyarakat, seperti stigma negatif dan pandangan moral yang menghakimi kehamilan di luar nikah. Makna mitos ini menunjukkan bagaimana norma-norma sosial dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku terhadap JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film AuDua Garis BiruAy ( Teori Roland Barthes ) kehamilan di luar nikah, serta bagaimana film ini berusaha untuk mempertanyakan norma-norma 2 Menjelajahi Simbol dan Tanda dalam Film Penelitian-penelitian tersebut juga meneliti simbol dan tanda yang digunakan dalam film "Dua Garis Biru" untuk menyampaikan pesan moral. Contohnya, penggunaan warna biru dalam judul film dan dalam tes kehamilan Dara dapat diinterpretasikan sebagai simbol harapan dan Namun, warna biru juga dapat diartikan sebagai simbol kesedihan dan kekecewaan, mengingat konsekuensi yang harus dihadapi Dara dan Bima setelah mengetahui kehamilan Dara. Selain itu, penelitian oleh Bahiyah,menekankan pentingnya menganalisis dialog dalam film "Dua Garis Biru" untuk memahami pesan moral yang ingin disampaikan. Dialog dalam film ini menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami oleh penonton. Dialog ini juga mengandung pesan moral yang ingin disampaikan, seperti pentingnya tanggung jawab, konsekuensi, dan pencarian jati diri. 3 Pesan Moral Tanggung Jawab. Konsekuensi, dan Pencarian Jati Diri Melalui analisis semiotika, penelitian-penelitian tersebut mengidentifikasi pesan moral yang ingin disampaikan oleh film "Dua Garis Biru" Pertama, tanggung jawab. Film ini menekankan pentingnya tanggung jawab atas tindakan, baik untuk Dara dan Bima yang harus menghadapi konsekuensi dari hubungan seks pranikah, maupun untuk keluarga mereka yang harus mendukung dan membantu. Kedua, konsekuensi. Film ini menggambarkan secara realistis konsekuensi dari kehamilan di luar nikah, seperti stigma sosial, tekanan keluarga, dan kesulitan ekonomi. Ketiga, pencarian jati diri. Film ini menunjukkan bagaimana Dara dan Bima menghadapi dilema moral dan berusaha menemukan jati diri mereka dalam situasi yang sulit. Keempat, pesan moral ini tidak hanya ditujukan untuk remaja, tetapi juga untuk orang tua, guru, dan masyarakat pada umumnya. Film ini mengajak semua pihak untuk lebih peka terhadap isu-isu moral yang dihadapi remaja dan memberikan dukungan yang diperlukan. METODE PENELITIAN 1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Penelitian kualitatif menggunakan pendekatan deskriptif bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian dengan cara mendeskripsikannya (Fiantika et al. Menurut Moleong . penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti pelaku,persepsi,motivasi,tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 129-140 bentuk kata-kata dan bahasa,pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. 2 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian bisa berada di beberapa tempat seperti di Studio Film. Lokasi Digital ( medsos dan forum onlin. , dan Lokasi Konseptual. 3 Subjek Penelitian Penelitian ini berfokus pada Analisis Semiotika Pesan Moral. Representasi Pendidikan Seks, dan Kritik Sosial. 4 Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunnakan teknik pengumpulan data dengan cara Observasi. Film Teknik ini melibatkan menonton film secara berulang dan mencatat simbolsimbol, tanda-tanda, dan elemen visual yang menarik perhatian. Fokusnya adalah pada bagaimana elemen-elemen tersebut menyampaikan pesan moral, nilai, dan makna dalam film. Studi Literatur, teknik ini melibatkan membaca dan menganalisis sumber-sumber yang relevan dengan film "Dua Garis Biru," seperti ulasan film, artikel tentang semiotika, dan teori-teori film yang relevan. Dokumentasi, teknik ini melibatkan pengumpulan data dari berbagai sumber seperti skrip film, poster film, dan materi promosi film. 5 Teknik Analisis Data Analisis data menurut Sugiyono . adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan menurut Moleong . 7:280-. analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. HASIL DAN PEMBAHASAN Film "Dua Garis Biru," yang disutradarai oleh Gina S. Noer, merupakan karya yang menarik untuk dianalisis dari perspektif semiotika, khususnya menggunakan teori Roland Barthes. Film ini mengisahkan tentang dua remaja. Bima dan Dara, yang terjebak dalam hubungan yang membawa konsekuensi besar, yaitu kehamilan di luar nikah. Melalui analisis semiotika, kita dapat menggali pesan moral yang terkandung dalam film ini serta bagaimana representasi budaya dan sosial di Indonesia berperan dalam narasi tersebut. Roland Barthes, seorang ahli semiotika Prancis, mengembangkan teori yang membedakan antara dua tingkat makna: denotasi dan konotasi. Denotasi adalah makna literal dari suatu tanda. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film AuDua Garis BiruAy ( Teori Roland Barthes ) sedangkan konotasi adalah makna tambahan yang muncul dari konteks sosial dan budaya. Selain itu. Barthes juga memperkenalkan konsep mitos, yang merujuk pada narasi yang dibangun oleh masyarakat untuk menjelaskan dan memberikan makna terhadap fenomena tertentu. Analisis Denotatif Dalam film "Dua Garis Biru," denotasi dari cerita ini adalah hubungan romantis antara Bima dan Dara yang berujung pada kehamilan. Pada awalnya, film ini menggambarkan momenmomen kebahagiaan dan cinta remaja, tetapi seiring berjalannya waktu, situasi berubah menjadi krisis ketika Dara hamil. Kehamilan ini bukan hanya masalah pribadi bagi mereka, tetapi juga menciptakan dampak sosial yang luas, termasuk stigma dari masyarakat dan tekanan dari keluarga. Contoh Denotatif Scene pertama: Momen bahagia Bima dan Dara saat berkumpul bersama teman-teman Scene kedua: Transisi ke situasi kritis ketika Dara mengetahui bahwa dia hamil. Analisis Konotatif Konotasi dalam film ini mencerminkan isu-isu sosial yang lebih dalam mengenai pendidikan seks di Indonesia. Kehamilan di luar nikah sering kali dianggap sebagai aib dan stigma bagi perempuan, seperti yang dialami Dara. Dalam konteks ini, film ini mengajak penonton untuk melihat bagaimana kurangnya pendidikan seks dapat menyebabkan konsekuensi serius bagi Contoh Konotatif Simbol kerang: Dalam satu adegan, kerang yang dimasak melambangkan keinginan dan nafsu remaja yang tidak terkontrol. Ketika kerang dibuka, itu juga bisa diinterpretasikan sebagai pembukaan terhadap realitas pahit dari keputusan mereka. Lingkungan kumuh: Rumah Bima yang kumuh menggambarkan latar belakang sosial ekonomi yang mempengaruhi keputusan hidupnya. Analisis Nilai Moral Berdasarkan Teori Roland Barthes Denotasi dan Konotasi Menurut Barthes, setiap tanda memiliki dua tingkat makna: denotatif . akna litera. dan konotatif . akna yang lebih dalam dan sering kali terkait dengan konteks sosial dan buday. Dalam film "Dua Garis Biru," kita dapat mengidentifikasi beberapa nilai moral melalui analisis ini. Contoh 1: Tanggung Jawab atas Tindakan Denotasi: Bima dan Dara terpaksa menghadapi konsekuensi dari kehamilan di luar nikah. Konotasi: Film ini mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan penting untuk bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat, terutama dalam konteks hubungan JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 129-140 Contoh 2: Pentingnya Pendidikan Seks Denotasi: Kurangnya pemahaman tentang seksualitas menjadi salah satu penyebab utama masalah yang dihadapi oleh Bima dan Dara. Konotasi: Film ini menyoroti pentingnya pendidikan seks sebagai cara untuk mencegah situasi serupa terjadi pada remaja lainnya, serta mendorong orang tua untuk lebih terbuka dalam membahas topik ini. Nilai Moral dalam Hubungan Manusia Film ini juga menggambarkan berbagai nilai moral dalam hubungan antar manusia, baik itu antara orang tua dan anak maupun antar pasangan. Contoh 3: Komunikasi antara Orang Tua dan Anak Denotasi: Keluarga Bima dan Dara mengalami kesulitan dalam berkomunikasi mengenai masalah yang dihadapi. Konotasi: Menunjukkan bahwa komunikasi terbuka sangat penting untuk mencegah kesalahpahaman dan membantu anak-anak merasa nyaman berbagi masalah mereka dengan orang Contoh 4: Dukungan Keluarga Denotasi: Orang tua Bima dan Dara awalnya marah tetapi akhirnya memberikan dukungan. Konotasi: Film ini menggambarkan nilai pengampunan dan pentingnya dukungan keluarga dalam menghadapi kesulitan hidup. Nilai Moral terhadap Diri Sendiri Film ini juga mengajak penonton untuk merenungkan hubungan mereka dengan diri sendiri. Contoh 5: Kesadaran Diri Denotasi: Bima dan Dara harus menghadapi kenyataan dari tindakan mereka. Konotasi: Mengajarkan pentingnya kesadaran diri dan refleksi terhadap tindakan yang diambil, serta dampaknya terhadap kehidupan mereka sendiri dan orang lain. Contoh 6: Pentingnya Ibadah Denotasi: Karakter Bima terlihat menunda salat. Konotasi: Menyiratkan bahwa spiritualitas harus dijaga agar tidak terjerumus ke dalam perilaku negatif, serta pentingnya iman dalam menghadapi tantangan hidup. Nilai Moral Sosial Film "Dua Garis Biru" juga mencerminkan isu-isu sosial yang lebih luas, seperti stigma terhadap kehamilan di luar nikah. Contoh 7: Stigma Sosial JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film AuDua Garis BiruAy ( Teori Roland Barthes ) Denotasi: Keluarga Dara merasa malu ketika mengetahui kehamilan anak mereka. Konotasi: Menggambarkan bagaimana masyarakat sering kali memberikan stigma kepada individu yang terjebak dalam situasi sulit, serta pentingnya empati terhadap mereka. Contoh 8: Harapan untuk Masa Depan Denotasi: Meskipun menghadapi banyak kesulitan. Bima dan Dara berusaha untuk menjalani hidup mereka. Konotasi: Mencerminkan harapan bahwa meskipun masa lalu tidak dapat diubah, individu masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan masa depan mereka. Berikut adalah kutipan nilai moral dari film "Dua Garis Biru" yang dapat dianalisis menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Kutipan-kutipan ini mencerminkan berbagai nilai moral yang terkandung dalam film dan dapat diinterpretasikan melalui dua tingkat makna: denotatif dan "Kita harus bertanggung jawab atas setiap pilihan yang kita buat. Denotasi: Menyatakan pentingnya tanggung jawab. Konotasi: Menggambarkan konsekuensi dari tindakan remaja dalam hubungan mereka. "Cinta itu indah, tapi tidak tanpa risiko. Denotasi: Menyiratkan bahwa cinta memiliki sisi positif dan negatif. Konotasi: Mengingatkan penonton akan risiko yang dihadapi remaja dalam hubungan "Pendidikan seks adalah hal yang penting, bukan tabu. Denotasi: Menekankan perlunya pendidikan seks. Konotasi: Mengajak masyarakat untuk lebih terbuka tentang pendidikan seksual. AuSetiap kesalahan adalah pelajaran berharga. Denotasi: Menggambarkan bahwa kesalahan dapat menjadi pembelajaran. Konotasi: Mendorong penonton untuk tidak takut berbuat salah, tetapi belajar dari "Keluarga adalah tempat pertama kita belajar tentang cinta dan tanggung jawab. Denotasi: Menyatakan peran keluarga dalam pendidikan nilai. Konotasi: Menggambarkan pentingnya dukungan keluarga dalam membentuk karakter "Komunikasi adalah kunci untuk memahami satu sama lain. Denotasi: Menyiratkan bahwa komunikasi terbuka sangat penting. Konotasi: Mendorong hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. "Waktu tidak bisa diputar kembali, jadi gunakanlah dengan bijak. Denotasi: Mengingatkan bahwa waktu terus berjalan. Konotasi: Menyiratkan pentingnya membuat keputusan yang tepat saat ini. "Memaafkan adalah langkah pertama untuk menyembuhkan luka. Denotasi: Menggambarkan proses memaafkan. Konotasi: Menekankan pentingnya pengampunan dalam hubungan antar manusia. "Jangan biarkan stigma masyarakat menghalangi kebahagiaanmu. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 129-140 Denotasi: Mengingatkan untuk tidak terpengaruh oleh pendapat orang lain. Konotasi: Mendorong individu untuk tetap percaya diri meskipun menghadapi tekanan "Kita semua berhak mendapatkan kesempatan kedua. Denotasi: Menggambarkan pentingnya memberi kesempatan kepada orang lain. Konotasi: Menyiratkan nilai pengampunan dan harapan untuk perbaikan. KESIMPULAN Melalui analisis semiotika berdasarkan teori Roland Barthes, film Dua Garis Biru menyampaikan berbagai pesan moral yang mendalam melalui makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam narasi, simbol, dan adegan visual. Pada tingkat denotasi, film ini menggambarkan kisah nyata tentang konsekuensi kehamilan di luar nikah yang dialami oleh Bima dan Dara, menyoroti dinamika hubungan mereka, tekanan keluarga, dan stigma sosial yang Pada tingkat konotasi, film ini memperlihatkan isu-isu yang lebih luas seperti pentingnya pendidikan seks, peran keluarga dalam mendukung anak, dan perlunya komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak. Simbol-simbol seperti kerang dan lingkungan rumah Bima memperkaya makna konotatif, menunjukkan realitas sosial, ekonomi, dan budaya Indonesia yang turut memengaruhi konflik dan solusi dalam cerita. Pesan moral yang terkandung dalam film ini meliputi: Pentingnya tanggung jawab atas setiap tindakan yang diambil, terutama dalam hubungan Perlunya pendidikan seks yang terbuka dan tidak dianggap tabu untuk mencegah konsekuensi yang tidak diinginkan. Nilai komunikasi yang jujur antara orang tua dan anak untuk membangun kepercayaan dan mencegah kesalahpahaman. Peran keluarga sebagai dukungan emosional dan sosial dalam menghadapi kesulitan. Kesadaran diri dan refleksi terhadap tindakan, termasuk pentingnya memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kritik terhadap stigma sosial terhadap perempuan yang menghadapi kehamilan di luar nikah, yang seharusnya digantikan dengan empati dan dukungan. Melalui pendekatan semiotika ini. Dua Garis Biru tidak hanya menjadi cerminan realitas sosial, tetapi juga menawarkan harapan bahwa kesalahan dapat menjadi pelajaran, dan setiap individu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri serta meraih masa depan yang lebih baik. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film AuDua Garis BiruAy ( Teori Roland Barthes ) DAFTAR REFERENSI Ginanti. Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film AuDua Garis BiruAy (Doctoral dissertation. Universitas Islam Kalimantan MAB). Nassarudin. Sumiharti. , & Zahar. NILAI ESTETIKA DALAM UNGKAPAN ADAT MELAYU RIAU KARYA TENAS EFFENDY SUNTINGAN MAKMUR HENDRIK DAN KAWAN-KAWAN. Aksara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2. , 165-175. Bouzida. Septembe. The semiology analysis in media studies: Roland Barthes Approach. In Proceedings of SOCIOINT14-International Conference on Social Sciences and Humanities (Vol. No. 10, pp. Claudia. Analisis Nilai Moral dalam Novel Menjadi Tua dan Tersisih Karya Vany Chrisma W (Doctoral dissertation. Universitas Islam Ria. Karison. , & Setiawan. Moral Messages in Bradley Cooper AuA Star is BornAy Movie. Enjelia Karison: 177010065 (Doctoral dissertation. Sastra Inggri. Mastoah. Nilai Moral dan Nilai Budaya dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata. Primary: Jurnal Keilmuan dan Kependidikan Dasar, 8. , 43-56. Fiantika. 6 Tujuan Penelitian Kualitatif. Metodologi Penelitian Kualitatif, 12. Jannah. , & Yuliawati. PENGARUH KOMPETENSI SDM DALAM MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN DI ERA REVOLUSI 4. Journal of Syntax Literate, 7. Sintiani. Junita. , & Meutia. ANALISIS PENCEGAHAN FRAUD DI JURNAL INDONESIA YANG TERBIT PADA TAHUN 2020. MUQADDIMAH: Jurnal Ekonomi. Manajemen. Akuntansi dan Bisnis, 1. , 190-200 Monikahediana6@gmail. com1 airincute93@gmail. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025