Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 MEDIA POP UP BOOK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUANMEMBACA PADA ANAK USIA DINI Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyyah AL-Hidayah Tasikmalaya e-mail: aisyahraudhatuljannah1990@gmail. com, lucky. lukmanhamid@gmail. srihilmawatirostika@student. ABSTRACT This article contains pop up book media to improve reading skills in early childhood. The problem encountered was that early childhood experienced difficulties in recognizing letter symbols. Early childhood cannot distinguish one letter from another, and there is still incorrect pronunciation of letters in reading. This happens one of them caused by inaccurate media used in the learning In overcoming this problem, the authors took the initiative to use pop up book media as an alternative media for learning to read. In this paper using a descriptive method with a qualitative approach. The author describes the facts or circumstances or symptoms that appear as they are. Keywords: pop up book media, reading ability, early childhood ABSTRAK Artikel ini memuat tentang media pop up book untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak usia dini. Permasalahan yang ditemui yaitu anak usia dini mengalami kesulitan dalam mengenal simbol-simbol huruf. Anak usia dini belum bisa membedakan huruf yang satu dengan yang lainnya, dan masih ada pelafalan huruf yang salah dalam membaca. Hal ini terjadi salah satunya di sebabkan oleh kurang tepatnya media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dalam mengatasi masalah tersebut, penulis berinisiatif untuk menggunakan media pop up book sebagai alternatif media pembelajaran membaca. Pada tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penulis menggambarkan fakta-fakta atau keadaan maupun gejala yang tampak sebagaimana adanya. Kata kunci: media buku pop up, kemampuan membaca, anak usia dini. PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan pendidikan prasekolah yang diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2003 pasal 28 ayat 1, yang menyatakan bahwa PAUD diselenggarakan sebelum pendidikan dasar. Fauziddin, dkk. 2016, hlm. 163, menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini bertujuan untuk membantu anak didik dalam mengembangkan berbagai potensi yang ada, baik berupa fisik maupun psikis yang meliputi berbagai aspek perkembangan yaitu nilai agama dan moral, sosial emosional, kognitif, fisik motorik, bahasa serta seni, dengan tujuan mempersiapkan anak untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Raudhatul Athfal merupakan salah satu layanan pendidikan anak usia dini yang terdapat di dalam jalur pendidikan formal. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI pasal 28 ayat 3 yang berbunyi : AuPendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal terdiri dari berbagai bentuk seperti. Raudhatul Athfal. Taman Kanak-kanak dan bentuk lain yang sederajat. Jika ditinjau dari perkembangan bahasa, anak usia dini berada pada tahap linguistik yaitu fase pengembangan tata bahasa. Sehingga keterampilan dalam berbicara berkembang pesat yakni mencapai 9 kata perhari dan memiliki perbendaharaan kosakata yang semakin meningkat yaitu menguasai 14. 000 kosakata Templin . alam Suyanto, 2008, hlm. Dalam kemampuan berbahasa secara lisan, anak usia dini sudah mampu Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 1 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 berkomunikasi dengan baik. Namun untuk kemampuan membaca anak masih mengalami kesulitan dalam mengingat (Suyanto, 2008, hlm. karena melibatkan berbagai unsur seperti huruf, simbol, kata, kalimat, tata bahasa dan cara melafalkannya. Perkembangan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan kognitif anak, sehingga anak berada pada fase prakonseptual dan seiring berjalannya waktu akan muncul pemikiran simbolis (Desmita, dalam Hadiyanti, 2009 hlm. Hal ini sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Bruner . alam Thobroni, 2016, hlm. bahwa salah satu tahapan perkembangan kognitif seseorang terjadi pada tahap simbolik yaitu seseorang mampu memiliki ide-ide abstrak yang dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Selain itu, termaktub dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137, 2014, hlm. 61, pada STPPA (Standar Tingkat pencapaian Perkembangan Ana. menyatakan bahwa perkembangan bahasa meliputi tiga macam yakni memahami bahasa, mengungkapkan bahasa, dan keaksaraan. Pada STPPA khususnya pada anak usia 5-6 tahun harus mencapai tingkat perkembangan yang optimal salah satunya dalam mengenal keaksaraan, seperti anak dapat memahami terhadap hubungan bentuk dan bunyi huruf, meniru bentuk huruf serta memahami kata dalam cerita, mulai diperkenalkan atau menyebutkan simbol-simbol huruf dan mengenal suara huruf awal dari benda-benda yang ada di sekitarnya. Hal inilah yang menjadi dasar adanya pembelajaran pengenalan keaksaraan pada anak usia dini. Maka dari itu, guru harus menjadi fasilitator bagi anak, karena guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan, menilai, mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini formal, non formal, dan informal (Undang-undang Nomor 14 Tahun 2. Guru memiliki peran penting dalam menentukan berhasil tidaknya siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Jika dikaitkan dengan prinsip pembelajaran PAUD yaitu bahwa anak belajar melalui kegiatan bermain (Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat, 2015, hlm. Dengan kegiatan bermain, anak-anak dapat melatih otot besar dan kecil, menambah pengetahuan, mengelola emosi, bersosialisasi, melatih keterampilan berbahasa dan lainlain. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa bermain memberikan dampak positif salah satunya yaitu perkembangan bahasa anak. Perkembangan bahasa dapat di stimulus dengan kemampuan membaca anak usia dini melalui pengenalan simbol-simbol huruf (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137. Tahun 2014, hlm. Hal ini merupakan aspek utama yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan dan kreativitas anak. Kemampuan membaca adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh setiap anak, karena membaca merupakan sumber informasi yang akan dikembangkan pada setiap berfikir anak (Matin, dkk. , 2. Kegiatan membaca disini bertujuan untuk mempermudah kegiatan anak dalam mengenal simbol-simbol huruf dengan cara menyederhanakan huruf atau kata. Harus disadari bahwa penguasaan bahasa itu sangat diperlukan dalam kehidupan dan perlu ditanamkan sejak dini. Sebagian orang mengatakan bahwa belum saatnya anak usia dini untuk belajar membaca namun perlu kita ketahui penerapan membaca kepada anak sebaiknya menggunakan metode pembelajaran kreatif dan berbasis media permainan edukatif sehingga pada saat anak bermain tanpa disadari hal tersebut merupakan kegiatan belajar bagi anak. Untuk membangun potensi bahasa pada anak, maka guru harus menciptakan media berupa alat peraga edukatif yang dapat menstimulus anak dalam proses belajar. Media tersebut tentunya harus menarik minat anak agar tidak bosan dan harus sesuai dengan tahapan perkembangan usia dan kebutuhan anak. Dengan demikian, jika anak mengenal huruf dengan baik, cenderung memiliki kemampuan membaca lebih baik (Muter, dkk. dalam Suyanto, 2008, hlm . Sehingga pemilihan media harus tepat agar kemampuan membaca anak usia dini berkembang secara optimal. Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 2 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Menurut Guslinda dkk. , . 8, hlm. menyatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru kepada siswa atau anak sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian anak sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran siswa terjadi dan berlangsung lebih efisien. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa media pembelajaran merupakan suatu alat, metode, atau tekhnik yang digunakan dalam menyalurkan pesan sehingga dapat membangkitkan minat dan motivasi anak dalam mengikuti proses belajar Penggunaan media dalam proses belajar mengajar memiliki urgensi yang sangat penting, karena dalam proses belajar mengajar guru dan siswa tidak lepas dari penggunaan media yang diharapkan menjadi umpan balik dan diharapkan dapat mencapai hasil yang optimal. Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan di PAUD adalah media pop up Menurut Dzuanda . 1, hlm. , pop upbook adalah sebuah buku yang mempunyai bagian yang dapat bergerak atau memiliki unsur tiga dimensi serta memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik, mulai dari tampilan gambar yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka. Sedangkan menurut Muktiono . 3, hlm. pop up book merupakan salah satu media yang dapat bergerak, memberi efek kejutan, dan, memiliki tampilan gambar yang berbeda dari yang lainnya, serta dapat ditegakkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pop upbook adalah media yang dirancang yang berbentuk tiga dimensi dengan variasi bentuk dan gambar yang menarik serta unik. Dengan adanya pop upbook untuk berbagai keperluan, juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Pengenalan huruf dengan media pop up book dapat mengembangkan kemampuan membaca dan secara tidak langsung akan menambah perbendaharaan kata bagi anak, karena anak mengetahui kosakata serta dapat memberikan kontribusi pada guru untuk meningkatkan pembelajaran secara efektif dan efisien. Selain itu media pop upbook dapat menarik perhatian semua kalangan khususnya pada anak usia dini. Ketika media pop upbook digunakan dalam pembelajaran, anak-anak terkejut dan menyukai bentuk gambar yang di munculkan saat setiap halamannya dibuka. Kegiatan membaca melalui pop up book secara tidak langsung telah mengembangkan kemampuan membaca pada anak. Anak diberikan kebebasan dalam mengembangkan kemampuan membaca dengan berbagai macam kegiatan. Hasil observasi dilapangan, terungkap bahwa dalam melaksanakan pembelajaran kemampuan membaca pada anak usia dini belum menggunakan media yang tepat. Hal ini ditunjukan dengan kemampuan membaca anak terutama dalam mengenal simbol-simbol huruf masih rendah. Proses pembelajarannya pun dinilai cukup monoton dan Selain itu, fenomena yang muncul antara lain : pertama, anak belum mengenal huruf alfabet dan belum bisa membedakan huruf yang satu dengan yang lainnya, kedua, pengucapan huruf yang salah, ketiga, belum mengenal suku kata awal dan belum bisa merangkaikan huruf yang satu dengan huruf yang lain. Tulisan mengenai kemampuan membaca dengan menggunakan media pop upbook sebelumnya sudah pernah di teliti oleh Canggih Devi Djijar dengan judul AuEfektifitas Media Pop Up Book dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Cerita Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas 1 Sekolah Dasar Brawijaya Smart School Malang Tahun Pelajaran 2014/2015Ay pada tahun 2015. Persamaan pada tulisantersebut dengan artikel ini terdapat pada media yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca pada siswa yaitu dengan media pop up book. Sedangkan perbedaannya terletak pada peningkatan kemampuan membaca cerita di kelas 1 Sekolah Dasar dan pada tulisan ini peneliti fokus pada kemampuan membaca anak usia dini dalam mengenal, membunyikan dan membedakan simbol-simbol huruf. Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 3 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 MEDIA POP UPBOOK Menurut Salahudin dalam Aqib dkk. , media dalam bahasa Latin yaitu medius, memiliki arti sebagai suatu alat untuk menyampaikan suatu maksud. Kemudian pendapat lain dikemukakan oleh Gagne dan Briggs . alam Arsyad, 2007, hlm. mengatakan bahwa media pembelajaran adalah komponen sumber belajar fisik yang digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Rita . alam Guslinda dkk. , 2018, hlm. berpendapat menganai definisi media adalah tekhnik atau cara pembelajaran deskriptif dan demonstrasi yang disampaikan melalui suatu alat. Sementara itu. Hamdani . alam Haryati, 2017, hlm. , mengungkapkan bahwa media adalah wahana fisik atau komponen sumber belajar yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa, yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Sedangkan media pembelajaran merupakan suatu media yang memberikan pesan-pesan atau informasi yang mengandung maksud-maksud pengajaran. Maka dapat disimpulkan bahwa media adalah alat bantu fisik atau segala sesuatu yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan pesan yang digunakan dalam proses belajar mengajar agar lebih cepat difahami, memudahkan siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta dapat merangsang minat belajar anak. Dalam proses belajar dan mengajar, media memiliki peran yang sangat penting karena dapat mempertinggi kegiatan belajar anak didik yang akan memberikan hasil belajar yang lebih baik dari pada tanpa menggunakan media. Oleh karena itu, penggunaan media perlu diperhatikan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran anak, tergantung pada apa yang dipersiapkan guru sebelum proses belajar mengajar berlangsung. Sehingga media memiliki fungsi salah satunya yaitu sebagai tolak ukur siswa dalam meningkatkan motivasi dan sikap siswa terhadap suatu materi pembelajaran. Pada umumnya, media pembelajaran berguna untuk memberikan pengalaman Dengan adanya media yang disesuaikan dengan tujuan belajar, maka akan meningkatkan hasil belajar yang baik. Edgar Dale dengan teorinya AuThe Cone of ExperienceAy dalam Guslinda dkk. 8, hlm. mengemukakan bahwa pesan atau informasi yang disampaikan akan semakin abstrak jika hanya disampaikan hanya menggunakan kata-kata verbal, tanpa mengetahui apa yang terkandung dalam informasi Namun sebaliknya, jika pesan atau informasi yang disampaikan secara jelas, maka siswa akan mengalami pengalaman belajar yang efektif dan efisien serta tidak terjadi salah persepsi. Tujuan dari kerucut pengalaman (The Cone of Experienc. ini adalah sebagai suatu presentasi dari tingkat pengalaman yang konkret menuju tingkat pengalaman yang abstrak . Dale berkeyakinan bahwa ide-ide berupa informasi dapat mudah difahami oleh peserta didik jika pengalaman belajar disampaikan secara konkret agar tujuan belajar dapat tercapai secara efektif. Berikut klasifikasi pengalaman belajar menurut tingkat dari yang paling konkret ke yang paling abstrak yang dikenal dengan teori Au The Cone of ExperienceAy Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 4 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Abstrak Simbol Simbol Visual Radio, gambar tetap Gambar gerak Televisi Pameran Karya Wisata Demonstrasi Dramatisasi pengalaman Konkret Pengalaman tak langsung Pengalaman langsung Gambar 1 Kerucut pengalaman Edgar Dale (Miftah, 2013, hlm. Berdasarkan diagram diatas, hal ini menunjukkan bahwa informasi yang diperoleh berada pada dasar kerucut yang mampu menyajikan pengalaman belajar yang konkret, sedangkan penggunaan media dalam pemberian pengalaman belajar yang abstrak, menuju ke puncak yang kerucut. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media-media yang ada pada dasar kerucut akan memberikan pengalaman belajar yang konkret, akan menambah pengetahuan siswa, dan mempermudah pemahaman siswa. Sejalan dengan teori diatas, media pembelajaran berguna untuk memudahkan siswa dalam memahami sesuatu yang dianggap sulit atau menyederhanakan sesuatu yang kompleks (Suyanto, 2008, hlm. Fungsi media pembelajaran menurut Levied dan Lentz (Guslinda, 2018, hlm. yaitu sebagai berikut: . Fungsi atensi, yaitu dengan media bergambar siswa dapat mengingat isi pelajaran. Fungsi afektif, yaitu dapat menggugah emosi dan sikap siswa yang dimunculkan ketika belajar dengan teks bergambar. Fungsi kognitif, yaitu siswa memahami dan mengingat informasi yang disampaikan melalui gambar sehingga mencapai tujuan yang diharapkan. Fungsi kompensatoris, yaitu dapat memberikan kontribusi bagi siswa yang lambat dan lemah dalam menerima serta memahami isi Sementara itu. Jamil . alam Hudria, 2017, hlm. menyatakan pendapatnya mengenai fungsi media, yaitu . fungsi atensi, artinya dari media tersebut bisa menampilkan sesuatu yang dapat menarik perhatian siswa, . fungsi motivasi, artinya menyadari untuk lebih giat lagi dalam belajar, . fungsi afektif, artinya merubah sikap dan emosi siswa terhadap suatu materi pelajaran, dan . fungsi kompensatoris, artinya dengan media diharapkan dapat memfasilitasi siswa yang lemah dalam memahami pelajaran yang disajikan guru, . fungsi psikomotorik, artinya dengan media dapat meningkatkan kegiatan motorik siswa, dan, . fungsi evaluasi, artinya menjadi tolak ukur dalam memberikan penilaian terhadap siswa dalam merespon materi pelajaran. Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran berpengaruh dan memiliki dampak yang besar dalam proses belajar mengajar terhadap minat dan motivasi siswa. Selain itu media juga dapat meningkatkan perhatian, sikap, motorik, dan kognitif siswa sehingga guru dapat menyajikan pembelajaran yang dapat memudahkan siswa dalam memahami suatu materi pelajaran. Terutama bagi anak usia dini yang dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 5 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 dengan kegiatan-kegiatan seperti mengamati, menalar dan mengkomunikasikan yang tentunya sejalan dengan kurikulum K-13. Media memiliki beberapa jenis, diantaranya menurut Fadilah . alam Salamah, 2019, 39-. , media dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: . Media Visual (Grafi. , salah satu jenis media yang dapat menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan dengan menggunakan indera penglihatan. Pesan yang disampaikan berbentuk simbol-simbol . Media Audio adalah media yang dapat menyalurkan informasi kepada penerima pesan dengan menggunakan indera pendengaranOepesan yang disampaikan berupa lambang-lambang auditif, baik verbal . maupun non verbal. Media Proyeksi (Audio Visua. , adalah media yang memiliki persamaan dengan media visual, namun perbedaannya adalah pada media visual, siswa dapat berinteraksi langsung dengan pesan media yang bersangkutan, sedangkan pada media proyeksi diam terlebih dahulu dan harus diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihat oleh peserta didik. Sementara itu. Sudjana dan Rivai . alam Guslinda dkk. , 2018, hlm. media terbagi pada: . media grafis atau disebut juga dengan media dua dimensi, seperti gambar, poster, kartun, dan lain-lain. media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat, model susun, pop up book, diorama, dan lain-lain. media proyeksi seperti slide, strips, film. OHP, dan lain-lain, dan. lingkungan sebagai media pembelajaran. Berdasarkan beberapa pendapat mengenai pengelompokkan media diatas, maka dapat disimpulkan bahwa media bermacam-macam baik berupa gambar, media berupa gerak, media dua dimensi, media tiga dimensi. Namun, media yang banyak dikenal oleh banyak orang yaitu media visual, media audio, dan audio visual. Oleh karena media memiliki bermacammacam jenis, maka dari itu guru hanya tinggal memilih media apa yang sesuai dan tepat dengan tujuan dan materi pembelajaran. Berdasarkan pengelompokkan jenis-jenis media diatas, maka salah satu media yang dapat digunakan dan tepat anak usia dini adalah media pop up book. Marlina dkk . alam Aulawiyah, 2019, hlm. menyatakan bahwa pop upbook adalah seni kertas yang menarik berbentuk struktur tiga dimensi saat dibuka dan memiliki struktur dua dimensi ketika ditutup. Sementara itu. Yulia . alam Kusuma, 2017, hlm. menyebutkan bahwa pop up book merupakan sebuah buku dengan memiliki bentuk yang menarik karena dapat bergerak saat dibuka setiap halamannya. Chabibah . alam Kusumawardani, 2019, hlm. pop upbook merupakan suatu buku tiga dimensi yang dapat bergerak atau timbul. Maka dapat disimpulkan bahwa pop up book adalah sebuah buku yang memiliki unsur tiga dimensi yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka, dapat datar kembali ketika halamannya ditutup, dapat ditegakkan, menarik perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran serta memberikan visualisasi yang indah, unik, dan bermakna. Sehingga media pop upbook memberikan peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran anak usia dini terutama bagi anak yang memiliki kekurangan dalam minat baca. KEMAMPUAN MEMBACA Mengingat bahwa anak usia dini merupakan masa dimana anak dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya, maka potensi tersebut harus distimulus oleh guru, orang tua dan lingkungan sesuai dengan tahap perkembangan anak sehingga dapat berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu, usia dini merupakan usia emas . olden ag. dimana pada usia ini anak memiliki kemampuan belajar yang luar biasa sehingga pada usia tersebut perkembangan anak harus Diantara potensi-potensi yang harus dikembangkan diantaranya yaitu kemampuan berbahasa. Salah satu dari kemampuan berbahasa yang harus dimiliki oleh anak yaitu kemampuan membaca. Dengan membaca, anak diharapkan dapat memahami maksud dari suatu kata dan memahami adanya hubungan antara bahasa lisan dengan Kemampuan membaca anak usia dini merupakan kemampuan dalam mengubah simbol huruf ke dalam pengucapan lisan, mampu mengaitkan apa yang diucapkan anak Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 6 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 dengan simbol dalam bentuk huruf, mampu melakukan kombinasi bunyi, cara merangkai huruf-huruf dan mampu membacanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Steinberg . alam Susanto, 2011, hlm. bahwa kemampuan membaca anak usia dini adalah membaca yang diajarkan secara terprogram pada usia prasekolah. Program disini menunjukkan pada kegiatan-kegiatan pengenalan perkataan-perkataan yang utuh yang diberikan kepada anak melalui permainan dan kegiatan yang menarik sebagai perantara pembelajaran Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa membaca pada usia dini merupakan suatu proses kegiatan pembelajaran yang terprogram seperti mengenalkan pengetahuan dalam mengenal huruf-huruf, kata-kata, serta menghubungkan rangkaian huruf tersebut dengan bunyi dan maknanya yang disampaikan kepada anak melalui kegiatan yang menarik minat anak. Kemampuan membaca sangat penting bagi anak , maka guru harus mengembangkan kemampuan membaca sejak dini. Jika guru mengajarkan anak untuk membaca sejak dini, maka hal itu sangat baik dilakukan dan tentunya harus memperhatikan batas-batas aturan perkembangan usia prasekolah. Selain itu, belajar membaca anak bisa dibina dan dipupuk dari awal, bahkan sebelum anak memasuki usia sekolah, karena membaca merupakan kemampuan dasar yang penting bagi kemajuan masyarakat maupun individu. Keberhasilan kemampuan membaca anak usia dini dipengaruhi oleh faktor kesediaan orang tua dalam menyediakan serta menciptakan suasana yang kondusif dirumah melalui penyediaan bacaan untuk mengembangkan kemampuan membaca. Hal ini dapat dilakukan melalui praktek, pembiasaan, dan latihan agar potensi membaca anak berkembang secara optimal. Mengingat bahwa aktivitas membaca sangat penting bagi perkembangan kecerdasan anak, maka kemampuan membaca dapat berkembang secara optimal jika guru menciptakan media yang tepat. Rendahnya kemampuan membaca anak disebabkan oleh kurangnya guru dalam memvariasikan media dalam mengembangkan kemampuan membaca, sehingga kurang menarik. Oleh karena itu, penulis mencoba mendeskripsikan mengenai media pop upbook dalam meningkatkan kemampuan membaca pada anak usia dini. METODE Berdasarkan permasalahan diatas, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif (Qualitative Researc. Menurut Sumanto . alam Dasim, 2012, hlm. Aupendekatan deskriptif kualitatif adalah deskripsi dan interpretasi kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang tumbuh, proses yang berlangsung, akibat yang terjadi atau kecenderungan yang tengah berkembangAy. Sementara itu Nawawi dkk. , . alam Ufie, 2013, hlm. mengungkapkan tulisan kualitatif adalah keadaan objektif dilukiskan berdasarkan fakta-fakta yang terlihat yang kemudian diambil kesimpulan umum yang dilandasi fakta-fakta historis. Prabowo, dkk. 3, hlm. menuturkan pendapatnya bahwa deskriptif kualitatif adalah tekhnik penyajian data terhadap suatu objek kajian yang dilakukan secara mendalam dengan memperhatikan faktor-faktor yang berkaitan terhadap objek tersebut. Dalam pendekatan kualitatif deskriptif, penulis memiliki kedudukan yang paling penting karena harus terlibat langsung dengan subjek penulisan. Sehingga penulis disebut dengan instrumen yang paling utama(Maleong dalam Siyoto, , 2015, hlm. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, bahwa media pop upbook merupakan salah satu jenis media yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar yang memiliki unsur tiga dimensi, menarik perhatian anak, menyenangkan, dan dapat ditegakkan. Sabuda . alam Haryanti, 2017, hlm. berpendapat bahwa pop upbook memiliki arti sebagai sesuatu yang muncul. Sementara itu. Yulia . alam Kusuma, 2017, hlm. menyebutkan bahwa pop up book merupakan sebuah buku dengan memiliki bentuk yang Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 7 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 menarik karena dapat bergerak saat dibuka setiap halamannya. Sejalan dengan pendapat diatas. Indrawati . 3, hlm. mengungkapkan bahwa pop upbook sekilas sama tekhniknya dengan origami dimana keduanya menggunakan teknik melipat kertas. Namun perbedaan dari keduanya yaitu jika origami lebih fokus pada penciptan suatu objek sedangkan pop up book lebih cenderung pada pembuatan mekanik kertas sehingga gambar tersebut lebih menarik dari sisi dimensi, perubahan bentuk sehingga dapat bergerak yang disusun sealami mungkin. Maka dapat disimpulkan bahwa pop upbook merupakan sebuah buku yang memiliki unsur tiga dimensi yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka, dapat datar kembali ketika halamannya ditutup, dapat ditegakkan, menarik perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran serta memberikan visualisasi yang indah, unik, dan bermakna. Menurut sejarah, pop upbook digunakan untuk mengajarkan anatomi, matematika, membuat prakiraan astronomi, dan meramalkan nasib tepatnya sejak abad ke-13 (Dzuanda, 2009, hlm. Media pop upbook sangat tepat digunakan dalam proses pembelajaran terutama bagi anak usia dini. Menurut teori Piaget dalam Khadijah, 2016, hlm 70, tahapan perkembangan kognitif anak berada pada tahap pra operasional konkret, yaitu terjadi pada rentang usia 2-7 tahun dimana tahap pemikiran anak lebih pada simbolis namun tidak disertai dengan pemikiran operasional, artinya anak mulai memahami simbolsimbol tanpa memahami apa arti dari simbol-simbol tersebut. Hal inilah yang menjadi acuan bagi guru untuk mengembangkan kemampuan membaca pada anak dengan mengenalkan simbol-simbol huruf pada anak melalui media pop up book. Muktiono . alam Rahmadan. berpendapat bahwa dengan digunakannya media pop up book, pembelajaran pun akan terasa menyenangkan dibandingkan dengan menggunakan media lain, karena media pop upbook dapat menyajikan visualisasi bentuk-bentuk yang dibuat dengan melipat, bergerak, dan, muncul sehingga memberi efek terkejut dan kekaguman siswa ketika setiap halamannya dibuka. Hal ini akan memberi kesan tersendiri kepada pembaca agar mudah diingat ketika menggunakan media ini. Media pop upbook memiliki kekurangan dan kelebihan. Adapun kekurangan media pop up book menurut Dzuanda . alam Sylvia, 2015, hlm. yaitu: . dalam mengerjakannya membutuhkan waktu yang lebih ekstra. harganya relatif mahal. Sejalan dengan pendapat diatas. Indriyana . alam Kusuma, 2017, hlm. juga menjelaskan bahwa kekuranganmedia pop up bookantara lain: . membutuhkan keterampilan khusus. penyajiannya berupa unsur visual saja. Maka dari itu, dapat disimpulkan kekurangan-kekurangan pop upbookyaitu: . membutuhkan kesabaran dan keterampilan khusus dalam pembuatan media ini karena membutuhkan waktu yang lama. jika digunakan berulang kali, maka media ini akan mengalami kerusakan. dibandingkan dengan buku lainnya, pop upbook membutuhkan biaya yang relatif mahal. hasilnya terbatas pada tulisan atau gambar sehingga tidak dapat menjelaskan kejadian yang bersifat gerak. Kelebihan dari media pop upbook menurut Fadilah . alam Haryanti, 2017, hlm. yaitu: . media ini dipandang lebih praktis dan mudah untuk dibawa kemana-mana. bersifat unik karena memiliki unsur dimensi sehingga menimbulkan antusiasme peserta didik. peserta didik dapat menggunakannya sendiri maupun berkelompok dan kegiatan belajar lebih menarik serta menyenangkan. Setiap media tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan, namun untuk pembuatannya media pop up book sendiri itu tergantung dari kreativitas seorang pendidik. Jika guru menginginkan hasil pembelajaran membaca pada anak usia dini meningkat, maka gunakanlah media yang dapat menarik perhatian anak agar termotivasi untuk lebih giat lagi dalam belajar membaca. Setelah penulis bahas mengenai media pop up book, berikut langkah-langkah Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 8 Jurnal Keislaman dan Pendidikan stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 VOL. 1 NO. 2, 2020 Tabel 1. Langkah Pembuatan Media Pop up Book Bahan-bahan yang harus dipersiapkan yaitu, karton putih, kertas lipat, gunting, lem, dan spidol. Bahan dan Alat Keterangan 2 Kertas karton . atu untuk bagian jilid dan satu untuk bagian dalam media pop Kertas lipat Gunting Lem Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 9 Jurnal Keislaman dan Pendidikan stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 VOL. 1 NO. 2, 2020 Spidol Setelah dilampirkan bahan pembuatan media pop up book sertakan cara pembuatannya seperti dibawah ini: diatas, akan penulis Tabel 2. Cara Pembuatan Media Pop upBook Langkah-langkah Keterangan Karton putih dipotong menjadi beberapa bagian untuk bagian jilid media pop upbook . karton biasanya dipotong menjadi 8 Bagian karton putih yang lain dipotong sesuai ukuran kertas lipat yaitu 16 X 16 cm Kemudian lipat kertas karton bagian kanan dan kiri menjadi bentuk segi panjang Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 10 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 Lipat bagian atas dan bawah kertas menjadi bentuk segi Kemudian lipat menjadi bentuk segi tiga Tarik ujung segi tiga bagian kanan dan kiri ke bagian dalam Lipat bagian dalam kertas hingga Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Page 11 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 Agar menarik, tambahkan kertas lipat yang sudah dipotong-potong menjadi bentuk segi tiga ke dalam kertas karton yang sudah dilipat tadi dengan lem Kembalikan ke bentuk semula Tempelkan ke dalam jilid karton yang sudah dipotong tadi, posisikan di bagian tengahnya, dan beri sedikit lem dibagian atas. Tutup kertas tadi kedalam jilid karton dan agak sedikit ditekan agar lemnya menempel dan diamkan beberapa menit Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Page 12 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 Buka tambahkan simbol huruf dengan spidol pada bagian dalam pop up book dengan huruf vokal . , e, i, o, u, dan suku kata awal ba, be, bi, bo, bu, ca, ce, ci, co, cu dan Kemudian tambahkan kalimat-kalimat seperti: ba-lon, bibir bo-la, dan bu-nga pada halaman buku pop up selanjutnya. Langkah-langkah diatas dapat dilakukan berulang-ulang dan tiap halamannya dapat diisi dengan kalimat-kalimat sehingga menjadi sebuah buku dan Agar lebih menarik, beri sedikit hiasan di bagian Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Page 13 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Setelah penulis paparkan mengenai bahan dan langkah-langkah pembuatan media pop up book diatas, maka dapat disimpulkan bahwa media inidapat memberikan pengaruh yang positif dalam meningkatkan kemampuan membaca anak usia dini. Kegiatan membaca dengan media pop up book dapat digunakan ketika proses pembelajaran Membaca dengan media pop up book juga dapat dilakukan pada saat kegiatan inti dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan tema yang sedang dibahas. Pertama-tama, guru mencontohkan terlebih dahulu cara membaca huruf-huruf vokal secara berulang-ulang lalu anak menirukan bacaannya. Kedua, guru mencontohkan cara membaca kalimat-kalimat sederhana pada pop up book secara berulang-ulang lalu anak Ketiga, sebagai bahan evaluasi guru bertanya pada setiap anak untuk menirukan simbol-simbol huruf vokal dan kalimat-kalimat sederhana yang terdapat pada media pop up book. Hal ini dapat dilakukan secara berulang-ulang sampai anak dapat Selain itu, anak bisa menyentuh langsung media pop up book secara Sebagaimana terlihat pada gambar berikut dibawah ini : Gambar 2 Proses Pembelajaran menggunakan media Pop Up Book Gambar 3 Anak belajar membaca dan menyentuh media Setelah anak-anak membaca dengan menggunakan media pop up book, anak begitu antusias dalam dan mudah dalam mengahafal huruf-huruf dan kalimat yang ada dalam media tersebut. Maka kegiatan membaca anak menjadi lebih menyenangkan dan tidak Selain itu, sebagaimana kita tahu bahwa membaca merupakan wahyu Allah yang pertama diturunkan. Sehingga membaca sangat penting diajarkan sejak usia dini mengingat perintah Allah Swt. , yang termaktub dalam Al-QurAoan surat Al-AoAlaq ayat 1-5 yang berbunyi : A) EI EII IA4( A) EO EI ECEIA3( A) C OE EEIA2( A) EC EI I II ECA1(AC I E EO ECA )5( AEI OEIA Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 14 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 Artinya: Au Bacalah dengan . nama tuhanmu yang menciptakan, . Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, . Bacalah, dan tuhanmu lah yang maha mulia, . Yang mengajarkan dengan pena, . Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya . Berdasarkan ayat diatas, perintah membaca ditunjukkan bagi seluruh manusia bahkan membaca merupakan perintah pertama dari Allah Swt. , bagi umat Islam. Oleh karena itu, membaca memiliki peran yang sangat penting begitu pula bagi anak-anak. Meskipun membaca merupakan proses yang teratur, karena membaca bukan hanya mengenal huruf-huruf, menggabungkan kata ataupun mengenal bentuk huruf, tetapi membaca merupakan kemampuan untuk memahami makna kata-kata, makna kalimat, dan harus memiliki kemampuan dalam berkonsentrasi, mengingat, menguasai, mengkritik, dan mampu mengekspresikan kembali apa yang telah dibaca. Sebagaimana telah dikemukakan pembahasan diatas, bahwa membaca sangat penting ditanamkan sejak dini agar anak dapat mengembangkan potensinya dan memiliki kesiapan untuk memasuki jenjang selanjutnya. Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda, oleh karena itu guru harus mempersiapkan secara matang kegiatan pembelajaran sesuai tahapan usia anak. Kegiatan yang dapat menstimulasi anak dalam membaca dapat dilakukan oleh guru maupun orang tua melalui kegiatan yang bervariasi dan inovatif, salah satunya dengan penggunaan media yang tepat. Mengembangkan potensi anak usia dini dalam kemampuan membaca dapat dilakukan salah satunya melalui media tiga dimensi pop up book. Media ini dapat digunakan sebagai alternatif guru dalam mengenalkan simbol-simbol huruf, huruf-huruf vokal, huruf-huruf konsonan, dan suku kata awal. Media pop upbook dapat menambah motivasi dan rasa antuasias anak ketika kegiatan belajar berlangsung. Hal ini sejalan dengan pendapat Yulianti, dkk. alam Khomah dkk. , 2015, hlm. bahwa media pop upbook dapat menumbuhkan minat belajar siswa lebih aktif ketika proses pembelajaran Selain itu, dengan digunakannya media ini suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan karena anak ikut terlibat dalam membuka, menutup, dan menggeser pop up book. Sehingga siswa menjadi lebih semangat dalam mengikuti pembelajaran, dapat membaca dengan lafal yang jelas, mengetahui bentuk huruf, dan dapat membedakan huruf-huruf serta mengetahui suku kata awal. Berdasarkan pembahasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media pop up book dapat meningkatkan kemampuan membaca anak usia dini. KESIMPULAN Berdasarkan pemaparan penulis diatas, menunjukkan bahwa media pop up book dapat meningkatkan kemampuan membaca pada anak usia dini. Pengembangan bahasa melalui kegiatan membaca pada anak usia dini sangat penting dilakukan karena anak sedang berada pada masa emas . olden ag. , dimana keenam potensi anak harus dikembangan secara optimal. Keenam potensi tersebut meliputi: Nilai agama moral, sosial emosional, fisik motorik, kognitif, bahasa, dan seni. Ke-enam potensi ini harus dikembangkan agar anak siap untuk memasuki jenjang selanjutnya. Salah satu potensi yang harus dikembangkan yaitu perkembangan bahasa anak yang dapat dilakukan dengan mengenalkan keaksaraan atau simbol-simbol huruf dengan media yang inovatif dan Salah satu media yang dapat dipersiapkan oleh guru yaitu media pop upbook yang dapat dibuka dan di tutup. Dengan digunakannya media pop upbook dalam merangsang perkembangan kemampuan membaca anak, dapat memberikan dampak yang postif, misalnya anak lebih antusias dalam belajar membaca karena dapat menyentuh langsung media yang digunakan ketika kegiatan belajar berlangsung. Selain itu, media pop upbook selalu memberikan visualisasi yang menarik karena merupakan media tiga dimensi sehingga anak merasa senang dan mudah dalam memahami materi yang Adapun keunggulan lain dari media pop up book dibandingkan dengan media lainnya yaitu: . media pop up book menambah pengalaman belajar baru bagi Aisyah Raudhatul Jannah. Lukman Hamid. Rostika Srihilmawati Page 15 Jurnal Keislaman dan Pendidikan VOL. 1 NO. 2, 2020 stit-alhidayah. ISSN: 2721-5504 siswa, . media pop up book dapat menjelaskan konsep yang abstrak menjadi lebih jelas, . menjadikan suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, efektif, dan interaktif, dan, . media pop up book dapat menghibur siswa. Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut: . Untuk memperoleh hasil belajar dalam membaca mencapai hasil maksimal, guru hendaknya menggunakan media atau metode yang bervariasi agar tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan dapat membangun motivasi dan keaktifan siswa dalam belajar, . Dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan, guru dituntut untuk memiliki dan menambah pengetahuan, mengasah kreatifitas, serta memahami komponenkomponen yang dibutuhkan dalam pembelajaran, . Dalam pembuatan media, hendaknya guru memanfaatkan bahan-bahan bekas yang ada disekitar agar dapat melestarikan lingkungan agar tetap bersih dan sehat. DAFTAR PUSTAKA