Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Peran Pesantren dalam Pembentukan Karakter Moderasi Beragama Santri di Pondok Pesantren Bina Insani Susukan Kabupaten Semarang Erlina Uswatun Khasanah Program Studi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana. Universitas Islam Negeri Salatiga. Indonesia linuswatun162@gmail. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana Pondok Pesantren Bina Insani Susukan di Kabupaten Semarang memengaruhi moderasi beragama santri. Mengingat keragaman budaya Indonesia, moderasi beragama penting untuk mendorong pola pikir yang seimbang, toleran, dan menghargai perbedaan individu. Penelitian ini menggabungkan metodologi studi lapangan dengan pendekatan kualitatif. Pengamatan langsung terhadap kegiatan pendidikan, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan wali pondok pesantren, ustaz/ustazah . uru agam. , dan santri digunakan untuk mengumpulkan data. Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan merupakan metode yang digunakan untuk melakukan analisis data. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pondok pesantren memainkan peran penting dalam membantu santri menginternalisasi pentingnya moderasi beragama melalui tiga cara utama. Pertama, dengan menggunakan kurikulum yang menggabungkan muatan Islam, kewarganegaraan kontekstual, dan pengajaran kitab kuning. Kedua, melalui budaya pesantren yang mengutamakan kolaborasi, disiplin, dan toleransi dalam interaksi sehari-hari. Ketiga, melalui kegiatan ekstrakurikuler termasuk praktik sosial kemasyarakatan, pengembangan kepemimpinan, dan diskusi tentang berbagai tema. Agar para santri dapat memahami ajaran agama baik secara tekstual maupun praktis dalam kerangka kehidupan sosial yang beragam, penerapan ini dapat menumbuhkan pola pikir yang inklusif, kritis, dan moderat. Menanamkan nilai-nilai moderasi beragama dan mendidik santri untuk menjadi pembawa damai di masyarakat juga merupakan tujuan penting Pondok Pesantren Bina Insani Susukan. Kata Kunci: Pesantren. Moderasi Beragama. Karakter Santri. Bina Insani. Toleransi PENDAHULUAN Indonesia adalah salah satu negara paling kosmopolitan di dunia. Kondisi sosialbudaya dan geografis negara yang luas dan beragam menunjukkan hal ini. Islam. Kristen. Hindu. Buddha. Konghucu, dan beberapa kelompok agama lainnya merupakan beberapa di antara sekian banyak agama dan kepercayaan yang dianut masyarakat Indonesia. Demi kepentingan semua orang, keberagaman dan keragaman suku, kelompok etnis, budaya, agama, dan bahasa ini merupakan aset luar biasa yang harus dihargai, dipupuk, dijaga, dan dipelihara (Wahidah, 2. Menurut Albania . , moderasi beragama di Indonesia mengacu pada sudut pandang, watak, dan perilaku yang senantiasa menjunjung tinggi nilainilai luhur, berperilaku adil, dan menjauhi perilaku keagamaan yang berlebihan. Dengan demikian, hal ini menyoroti perlunya moderasi beragama sebagai taktik untuk menangkal intoleransi dan radikalisme, yang dapat mengganggu ketertiban sosial. Lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Indonesia yang berfokus pada pengajaran agama disebut pesantren. Di antara ciri-ciri utama mereka adalah: . Pondok . , juga dikenal sebagai asrama, adalah tempat tinggal para santri dan mencerminkan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 tradisi "asrama". Masjid, yang berfungsi sebagai tempat ibadah dan tempat berkumpul untuk kegiatan keagamaan termasuk salat dan belajar. Mempelajari sastra Arab tradisional dengan anotasi interpretasinya dikenal sebagai "Studi Kitab Kuning". Santri, yang bersekolah di pesantren yang mempraktikkan ajaran Islam. Kyai adalah pengajar dan pemimpin agama (Rusmiati dkk. , 2. Mustahil untuk melebih-lebihkan pentingnya pesantren dalam pengembangan karakter. Kepribadian yang kuat dikembangkan secara efektif di pesantren melalui kehidupan sehari-hari, yang dijiwai dengan nilai-nilai tanggung jawab, disiplin, kesederhanaan, dan kepedulian sosial. Suasana pendidikan yang mendorong pembentukan karakter yang kuat diciptakan oleh sistem pesantren, interaksi antara santri dan kiai, serta adat istiadat hidup bermasyarakat. Pesantren menyediakan pendidikan karakter yang tidak hanya teoretis tetapi juga terapan dalam kehidupan sehari-hari para santri. Ketika membandingkan pesantren dengan lembaga pendidikan lain, inilah salah satu keunggulannya (Niswah dkk. , 2. Berikut ini adalah beberapa penelitian yang mencakup subjek yang sebanding dengan penelitian peneliti sendiri. Pertama. Model Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama di Pesantren Miftahul Ulum Lumajang. Melalui berbagai strategi, termasuk praktik pengajaran inklusif, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan beragama, dan penetapan tujuan serta materi pembelajaran yang konsisten dengan ideologi Aswaja, penelitian ini menjelaskan bagaimana nilai-nilai moderasi beragama diinternalisasi di pesantren (Aisyah, 2. Kedua. Pesantren Tahfidzul Wa Ta'limul Qur'an. Masjid Agung Surakarta, menerapkan moderasi beragama. Penekanannya adalah pada bagaimana kegiatan pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler memasukkan prinsip-prinsip moderasi beragama, termasuk toleransi, antikekerasan, debat, dan cinta tanah air (Raharja dkk. , 2. Dari penelitian di atas serupa dengan yang akan dilakukan peneliti yaitu menekankan penanaman moderasi melalui tujuan dan materi ajar Aswaja, metode inklusif, kegiatan ekstrakurikuler, dan pembiasaan ibadah, penerapan nilai toleransi, anti kekerasan, musyawarah, dan cinta tanah air dalam pembelajaran maupun kegiatan luar kelas. Pondok Pesantren Bina Insani Susukan Kabupaten Semarang menjadi salah satu pesantren yang berupaya menanamkan nilai moderasi beragama melalui integrasi kurikulum, pengembangan budaya toleransi, serta program-program pembinaan santri. Berdasarkan pra-survei yang dilakukan, pesantren ini menerapkan pendekatan holistik dalam pembentukan karakter santri, namun belum banyak kajian akademik yang mendalami perannya secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis peran Pondok Pesantren Bina Insani dalam membentuk karakter moderasi beragama santri. Alternatif solusi yang ditawarkan adalah penguatan kurikulum, budaya pesantren, dan kegiatan sosial sebagai media internalisasi nilai moderasi. Solusi yang dipilih adalah menganalisis implementasi konkret dari ketiga aspek tersebut. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan peran pesantren dalam menanamkan nilai moderasi beragama dan menyiapkan santri sebagai agen perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 METODE Metodologi penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Dalam penelitian kualitatif, topik atau partisipan dideskripsikan secara holistik dan rinci menggunakan pendekatan alamiah dalam keadaan tertentu (Alaslan, 2. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana Pondok Pesantren Bina Insani Susukan di Kabupaten Semarang membantu santri memperoleh nilainilai moderasi beragama. Seluruh santri, orang tua, dan ustaz dan ustazah Pondok Pesantren Bina Insani merupakan populasi penelitian. Populasi didefinisikan sebagai kumpulan individu, organisasi, peristiwa, atau topik penelitian yang perlu dikarakterisasi atau digeneralisasi (Swarjana & Skm, 2. Di sisi lain, sampel adalah bagian dari ukuran dan komposisi populasi (Hutami, 2. Pengambilan sampel secara purposif, yaitu teknik yang memilih subjek berdasarkan kriteria tertentu, digunakan untuk menentukan sampel penelitian Subjek dipilih karena dianggap paling berpengetahuan dan terlibat langsung dalam proses internalisasi moderasi beragama (Suriani & Jailani, 2. Dengan demikian, pengasuh pesantren, tiga ustaz, tiga ustazah, dan satu siswa SMA dan satu siswi menjadi informan Sampling purposif, juga dikenal sebagai judgment sampling, merupakan strategi pengambilan sampel yang digunakan. Metode ini memilih partisipan dari komunitas berdasarkan tujuan dan isu penelitian untuk mewakili karakteristik demografis yang telah ditentukan sebelumnya (Nursalam, 2. Instrumen penelitian membantu peneliti dalam proses pengumpulan data, dan kriteria seleksi untuk penelitian ini adalah mereka yang memiliki pengalaman dan keterlibatan dalam kegiatan pembelajaran dan budaya pesantren terkait nilai-nilai moderasi beragama (Widiana dkk. , 2. Kriteria tersebut meliputi lembar catatan, aturan wawancara, dan pedoman observasi. Penelitian ini berfokus pada tiga bidang utama: budaya pesantren, kegiatan yang mempromosikan moderasi beragama, dan perpaduan kurikulum agama dan sekuler. Protokol wawancara, catatan lapangan, serta catatan dan arsip kegiatan terkait merupakan instrumen pengumpulan data. Pendekatan interaktif Miles dan Huberman, yang menekankan bahwa kegiatan analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan hingga penelitian selesai, digunakan untuk melakukan analisis data (Sakiah & Effendi, 2. Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan merupakan tiga langkah utama dalam proses analisis. Untuk mendapatkan hasil yang menyeluruh dan mendalam, analisis dilakukan secara simultan sejak tahap pengumpulan data lapangan hingga kesimpulan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Pesantren dalam Pembentukan Karakter Moderasi Beragama Santri di Pondok Pesantren Bina Insani Susukan Kabupaten Semarang Hasil temuan penelitian diperoleh melalui wawancara dengan berbagai narasumber, meliputi pimpinan Pondok Pesantren Bina Insani Susukan Kabupaten Semarang, para pengabdian putra dan putri, serta santri putra dan santri putri. Wawancara dilakukan untuk menggali pemahaman, penerapan, serta tantangan dalam implementasi nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan pesantren. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Temuan penelitian disusun berdasarkan urutan pertanyaan penelitian yang mencakup aspek: yaitu strategi memasukkan nilai moderasi beragama ke dalam proses pembelajaran dan pengajian, metode pembelajaran yang efektif untuk menanamkan sikap toleransi, pelatihan dan pendampingan guru dalam penguatan moderasi beragama, serta tantangan yang dihadapi dalam pengajaran nilai-nilai moderasi di pesantren. Selain itu, penelitian ini juga memaparkan hasil wawancara dengan pimpinan pesantren dan para santri guna memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai implementasi moderasi beragama baik dari sisi kebijakan lembaga maupun pengalaman langsung di lapangan. Temuan disajikan terlebih dahulu secara deskriptif berdasarkan hasil wawancara, kemudian diikuti dengan pembahasan yang mengaitkan data empiris dengan teori, hasil penelitian terdahulu, dan literatur yang relevan. Dengan demikian, bagian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang utuh mengenai bagaimana nilai-nilai moderasi beragama diinternalisasikan, dipraktikkan, serta dihadapi tantangannya di lingkungan Pondok Pesantren Bina Insani. Integrasi Nilai Moderasi Beragama dalam Pembelajaran dan Pengajian Integrasi adalah proses menggabungkan berbagai komponen untuk menciptakan suatu kesatuan yang kohesif yang dapat bekerja sama dan menghindari konflik guna mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan (Makmur, 2. Pesantren memberikan kesempatan kepada santri untuk belajar tidak hanya secara akademis tetapi juga dalam pengembangan moral dan etika berdasarkan ajaran Islam, yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, melalui sistem pendidikan yang menjunjung tinggi interaksi langsung antara santri dan kyai . (Kusuma & Musthofa. Nilai- nilai atau pilar utama moderasi beragama seperti tawassuth . alan tenga. , tasamuh . , tawazun . , dan iAotidal . (Haris, 10 C. ) diintegrasikan ke dalam materi ajar dan metode pengajaran, baik dalam kajian kitab kuning maupun dalam diskusi keagamaan sehari-hari. Berdasarkan wawancara dengan para pengabdi dan pimpinan pondok, nilai-nilai moderasi beragama diintegrasikan secara menyeluruh dalam kegiatan pembelajaran dan pengajian di Pondok Pesantren Bina Insani. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan secara terpisah, melainkan disisipkan ke dalam materi ajar seperti akidah, akhlak, dan sejarah Islam. Metode yang digunakan antara lain: . Diskusi lintas madzhab, yang memungkinkan santri memahami perbedaan amaliyah dan mencari titik temu secara bijak. Refleksi dan studi kasus sosial, agar santri mampu mengaitkan ajaran Islam dengan kehidupan masyarakat dan . Pemanfaatan media digital secara bijak, dengan pembimbingan guru agar santri mampu menyeleksi informasi keagamaan yang valid. Selain itu, keteladanan ustadz dan kyai menjadi instrumen utama dalam menanamkan nilai moderasi. Hasil ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Bina Insani menerapkan model pendidikan moderasi berbasis kurikulum dan budaya. Pendekatan tersebut sesuai dengan gagasan Aisyah . yang menegaskan bahwa pendidikan moderasi efektif dilakukan melalui internalisasi nilai Aswaja (Ahlussunnah wal JamaAoa. : tawassuth . , tasamuh . , dan tawazun . Integrasi nilai moderasi dalam seluruh mata pelajaran Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 memperlihatkan bahwa pesantren memandang moderasi bukan sekadar topik tambahan, tetapi bagian integral dari pendidikan karakter santri (Muhtarom et al. , 2. Dengan demikian, moderasi beragama di Bina Insani tidak berhenti pada konsep, melainkan menjadi budaya yang dihidupi dalam keseharian santri. Metode Efektif dalam Menanamkan Sikap Toleransi Santri Penggunaan strategi pembelajaran aktif yang mendorong interaksi antar siswa dari berbagai latar belakang merupakan salah satu cara yang efektif untuk menanamkan toleransi dan cita-cita kebangsaan. Siswa dapat didorong untuk bertukar pengalaman dan belajar satu sama lain melalui berbagai kegiatan, termasuk diskusi kelompok, simulasi, dan proyek kooperatif (Hardiyanto dkk. , 2. Berdasarkan wawancara para narasumber menyebut beberapa metode yang dianggap paling efektif dalam menanamkan sikap toleran pada santri, antara lain: . Pembelajaran aktif dan partisipatif, seperti diskusi kelompok, kerja sama proyek, dan studi kasus. Kegiatan sosial lintas kelompok, yang memberi pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat . Ceramah dan kisah keteladanan . irah nabawiya. , yang memperkuat nilai-nilai dan . Keteladanan guru dan kyai, yang menjadi faktor kunci karena santri lebih mudah meniru perilaku nyata dibanding teori. Metode yang diterapkan mencerminkan prinsip pendidikan humanistik-konstekstual, di mana pembelajaran menempatkan pengalaman langsung sebagai media internalisasi nilai. Menurut Niswah et al. , pendidikan karakter di pesantren bersifat living values education nilai-nilai tidak diajarkan melalui ceramah semata, melainkan dihidupi dalam keseharian. Kegiatan sosial lintas kelompok juga memperkuat kesadaran multikultural santri, sejalan dengan pandangan Wahidah . bahwa keberagaman hanya dapat dijaga melalui pendidikan yang menumbuhkan empati dan penghormatan terhadap perbedaan. Dengan demikian, metode partisipatif dan keteladanan figur guru menjadi dua aspek paling berpengaruh dalam pembentukan sikap toleran santri di pesantren ini. Pelatihan dan Pendampingan bagi Guru Terkait Moderasi Beragama Pelatihan, terkadang disebut praktik, adalah semacam proses pembelajaran yang menggunakan teknik yang mengutamakan praktik di atas teori agar dapat memperoleh dan meningkatkan kemampuan dengan cepat di luar sistem pendidikan saat ini. (Suhardi, 2. Sedangkan pendampingan adalah serangkaian rencana dan pendekatan yang digunakan untuk memfasilitasi pertukaran informasi yang efektif antara pendamping dan masyarakat atau kelompok sasaran (Jamasy et al. , 2. Maka untuk mencapai tujuan menanamkan budaya nasional dan kualitas moral kepada siswa, peningkatan moderasi beragama di madrasah harus mampu memprediksi perkembangan tersebut secara efisien (Harmi, 2. Generasi muda akan diberkahi kepribadian, karakter yang kuat, dan tidak tercabut dari akar budaya bangsa sehingga mampu terus berkiprah di masa kini (Risna et al. , n. Dari hasil wawancara diketahui bahwa pelatihan tentang moderasi beragama dilakukan melalui berbagai jalur, yaitu: . Pelatihan internal oleh pimpinan dan pengasuh pondok dalam bentuk pengajian rutin dan pembimbingan langsung. Pelatihan formal dari Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Kementerian Agama dan BNPT, yang membahas integrasi nilai moderasi dalam RPP dan strategi pencegahan radikalisme. Kerja sama dengan lembaga non-pemerintah, seperti Wahid Foundation dan Maarif Institute, dalam pelatihan moderasi berbasis perdamaian dan dan . Pelatihan daring . untuk mempermudah akses. Namun, sebagian guru belum mendapatkan pelatihan formal, menandakan perlunya pemerataan akses. Temuan ini mengindikasikan bahwa Pondok Pesantren Bina Insani memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya kompetensi guru dalam bidang moderasi. Pelatihan yang beragam mencerminkan adanya kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat sipil, sebagaimana direkomendasikan oleh Raharja et al. dalam model penguatan moderasi beragama di pesantren. Meskipun demikian, ketimpangan akses menunjukkan bahwa kebijakan pelatihan harus diperluas agar semua pendidik memiliki pemahaman yang sama tentang moderasi, sehingga praktik pendidikan di pesantren berjalan konsisten di semua lini (Malik et al. , 2. Tantangan dalam Pengajaran Moderasi di Pesantren Tantangan adalah suatu hal atau bentuk usaha yang memiliki tujuan untuk menggugah kemampuan (Manajemen. Tantangan Dan Hambatan Badan Usaha Milik Desa BUM Desa, 2. Satu tantangan utama adalah kesenjangan akses terhadap teknologi yang dapat menyebabkan ketidaksetaraan dalam kesempatan belajar (Hakim, n. Pada wawancara dengan narasumber ada beberapa tantangan yang diungkapkan oleh responden meliputi: . Pemahaman sempit terhadap agama dan fanatisme golongan. Pengaruh media sosial dan disinformasi keagamaan. Perbedaan latar belakang santri. Keterbatasan bahan ajar kontekstual. Kurangnya dukungan dari lingkungan eksternal . rang tua atau masyaraka. Dilema menjaga keseimbangan antara sikap moderat dan keteguhan akidah. Kendala ini menunjukkan bahwa implementasi moderasi beragama tidak lepas dari tantangan sosial, kultural, dan digital. Albina . menyebut bahwa salah satu hambatan utama moderasi di era modern adalah derasnya arus informasi intoleran di media sosial yang dapat mengaburkan pemahaman umat terhadap nilai keseimbangan. Untuk mengatasi hal tersebut. Pondok Pesantren Bina Insani mengadakan pembinaan rutin dan pelatihan literasi digital, agar santri terbiasa memfilter informasi dan tidak terjebak dalam narasi ekstrem. Upaya ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya menanamkan moderasi secara teologis, tetapi juga melalui pendidikan literasi keagamaan digital (Sirajuddin, 2. Pemahaman dan Sikap Santri terhadap Moderasi Beragama Hasil wawancara dengan santri menunjukkan bahwa mereka memahami moderasi sebagai sikap seimbang dan menolak ekstremisme. Nilai ini mereka pelajari melalui: . Interaksi sosial antar-santri dengan latar belakang berbeda. Pembelajaran formal dan pembiasaan di asrama. Keteladanan guru dan pengasuh. Santri juga menyadari bahwa media sosial dapat memperkuat atau melemahkan nilai moderasi tergantung pada cara Pemahaman ini menggambarkan bahwa pendidikan karakter moderat di pesantren berhasil diinternalisasikan melalui pendekatan Aulearning by livingAy, yaitu belajar dari kehidupan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pandangan Hidayat . bahwa pendidikan moderasi di pesantren efektif bila didukung oleh lingkungan yang inklusif dan penuh interaksi sosial yang Santri di Bina Insani telah menunjukkan kemampuan untuk menafsirkan perbedaan sebagai rahmat, bukan ancaman, yang berarti nilai tasamuh dan tawazun telah tertanam kuat. Berdasarkan keseluruhan temuan dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Bina Insani Susukan Kabupaten Semarang telah berhasil menjadi model pendidikan moderasi beragama yang holistik. Ciri-cirinya meliputi: . Integrasi nilai moderasi dalam kurikulum dan budaya pesantren, bukan hanya dalam teori, tetapi juga praktik kehidupan sehari-hari. Metode pembelajaran aktif dan keteladanan guru, yang efektif dalam menanamkan toleransi dan anti-ekstremisme. Pelatihan guru dan kolaborasi lintas lembaga, yang memperkuat kapasitas pendidik. Kebijakan pembinaan literasi digital dan sosial, untuk menangkal pengaruh intoleran dari luar pesantren. Budaya pesantren yang terbuka, dialogis, dan humanis, yang memungkinkan nilai moderasi tumbuh alami dalam diri santri. Dengan demikian, pesantren ini tidak hanya mencetak santri berilmu dan berakhlak, tetapi juga generasi moderat, adaptif, dan siap menjadi agen perdamaian di masyarakat multikultural Indonesia. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pondok Pesantren Bina Insani Susukan Kabupaten Semarang memiliki peran yang signifikan dalam menanamkan dan menginternalisasikan nilai-nilai moderasi beragama kepada para santri. Moderasi beragama di pesantren ini tidak hanya dijadikan sebagai konsep normatif, tetapi telah diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari santri melalui proses pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan. Visi dan misi pesantren yang menekankan pembentukan santri berakhlak mulia, toleran, dan cerdas sosial menjadi dasar kuat dalam pelaksanaan berbagai kegiatan pendidikan berbasis moderasi. Nilai-nilai seperti keseimbangan, keadilan, toleransi, dan keterbukaan ditanamkan melalui kurikulum yang terintegrasi, kegiatan diskusi lintas mazhab, pelatihan kepemimpinan, serta pembinaan karakter yang dilakukan secara berkelanjutan. Peran kyai dan ustadz sebagai teladan juga menjadi faktor kunci yang memperkuat proses internalisasi nilai moderasi, karena keteladanan mereka memberikan contoh nyata bagi santri tentang bagaimana bersikap sabar, adil, dan menghargai perbedaan. Faktor pendukung utama keberhasilan program moderasi di pesantren ini adalah adanya budaya keterbukaan, kerja sama lintas lembaga, dan lingkungan sosial yang inklusif. Namun demikian, tantangan tetap muncul terutama dari perbedaan latar belakang santri dan pengaruh negatif media sosial. Meski begitu, pesantren mampu mengatasinya melalui pembinaan rutin, penguatan literasi digital, dan bimbingan tentang etika bermedia. Dengan demikian, pesantren ini telah berhasil menjadi model pendidikan karakter Islam yang menyeimbangkan antara pengetahuan agama dan kemampuan sosial dalam konteks masyarakat multikultural. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Implikasi Temuan penelitian ini memberikan implikasi penting bagi penguatan teori dan praktik pendidikan moderasi beragama di lingkungan pesantren. Secara teoretis, hasil penelitian ini memperkuat pandangan bahwa pesantren memiliki potensi besar sebagai lembaga transformasi sosial dan moral dalam menanamkan nilai-nilai Islam Wasathiyah. Model pendidikan berbasis integrasi antara kurikulum, keteladanan, dan pembiasaan yang diterapkan di Pondok Pesantren Bina Insani dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan teori pendidikan karakter berbasis nilai moderasi beragama. Secara praktis, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan moderasi beragama tidak harus dilakukan melalui perubahan besar dalam struktur kurikulum, melainkan melalui pendekatan kontekstual yang menekankan pembiasaan, dialog, dan keteladanan. Pendekatan ini dapat menjadi model pembinaan santri di berbagai pesantren lain agar mampu menciptakan generasi yang religius sekaligus toleran. Dalam konteks kebijakan, temuan ini dapat menjadi masukan bagi Kementerian Agama Republik Indonesia dan lembaga pendidikan Islam untuk memperkuat program moderasi beragama berbasis pesantren. Penguatan kapasitas guru dan kyai, peningkatan literasi digital, serta pelatihan kepemimpinan moderat bagi santri perlu terus dilakukan agar nilai-nilai moderasi dapat berkembang secara lebih luas dan berkelanjutan di kalangan generasi muda Muslim Indonesia. Rekomendasi Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, beberapa rekomendasi yang dapat diajukan antara lain sebagai berikut: Bagi Pondok Pesantren Bina Insani, perlu dilakukan penguatan program literasi digital moderat agar santri lebih bijak dalam menghadapi arus informasi global, serta memperluas kolaborasi lintas agama dan lembaga pendidikan lain untuk memperkaya pengalaman moderasi santri. Bagi lembaga pendidikan Islam lainnya, model pendidikan moderasi yang diterapkan di Bina Insani dapat dijadikan inspirasi untuk mengembangkan sistem pendidikan yang menyeimbangkan antara kecerdasan spiritual, sosial, dan emosional. Bagi pemerintah dan pemangku kebijakan, penting untuk memperluas dukungan terhadap pesantren dalam bentuk pelatihan guru, bantuan kurikulum berbasis moderasi, dan penguatan jejaring pesantren moderat di seluruh Indonesia. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperdalam kajian tentang efektivitas program moderasi beragama di berbagai tipe pesantren . alaf atau moder. serta meneliti bagaimana penerapan nilai moderasi ini berpengaruh terhadap perilaku sosial santri setelah kembali ke masyarakat. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Bina Insani telah berhasil menjadi ruang pendidikan yang menumbuhkan semangat toleransi, keseimbangan, dan kebersamaan. Nilai-nilai moderasi beragama yang diinternalisasikan di pesantren ini tidak hanya membentuk pribadi santri yang berkarakter, tetapi juga menyiapkan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 mereka untuk menjadi agen perdamaian dan penggerak harmoni sosial di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. DAFTAR PUSTAKA