Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 Available at http://jurnal. id/jpterpadu Jurnal Perikanan Terpadu P-ISSN: 2599-154X E-ISSN: 2745-6587 Analisis Komposisi dan Struktur Vegetasi Mangrove di Wilayah Pesisir Kota Lhokseumawe Analysis of the Composition and Structure of Mangrove Vegetation in the Coastal Area of Lhokseumawe City Arief Maulana1. Munandar1. Dewi Fithria1. Edwarsyah1. Wintah1. Prodi Masgister Ilmu Perikanan. Jurusan Perikaan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Teuku Umar. Aceh. Indonesia. Prodi Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Teuku Umar. Aceh. Indonesia. Prodi Magister Ilmu Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Teuku Umar. Aceh. Indonesia. Prodi Sumber Daya Akuatik. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Teuku Umar. Aceh. Indonesia. Prodi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Teuku Umar. Aceh. Indonesia *Korespondensi: munandar@utu. Article Information Submitted Revised Accepted Published 03/09/2024 28/10/2024 01/11/2024 01/11/2024 Keywords : Ecosystem. Gastropoda. Lhokseumawe. Mangrove. Vegetation Abstract The mangrove ecosystem functions as a transitional area between land and sea, has a crucial contribution to coastal areas both ecologically, economically, and socially. This ecosystem is spread across all sub-districts in the coastal area of Lhokseumawe City. This study aims to examine mangrove vegetation and the abundance of gastropods in the area. This study uses a quantitative descriptive method with transect technique and will be carried out from June 1 to August 1, 2024. This research was conducted in Banda Sakti District. Muara Satu District, and Muara Dua District in Lhokseumawe City. The results of the study showed that mangrove vegetation in the area was dominated by main species such as Rhizophora stylosa. Rhizophora mucronata. Avicennia alba, and Avicennia marina. and the gastropods found included T. Cassidula nucleus. Littoraria scabra. As for the conclusion, the types of the mangrove found consist of four types, namely A. A alba. mucronata and R stylosa. the density of the tree level type R stylosa at station II is 3200 ind/Ha. The value is higher than the type found at station i A. marina of 300 ind/Ha and I. The relative density for the three stations is the same 100 ind/Ha. The INP of the sapling has the same value of 200 ind/Ha and the INP of the seedling level of the mangrove type A. marina R. stylosa and A. The amount is the same, namely 200 ind/Ha. Then for suggestions, the Government and related agencies in the Lhokseumawe must focus on mangrove management starting from designing procedures for mangrove Page . Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 management so that it is sustainable in the coastal area of Lhokseumawe city for future generations. Maulana. Munandar. Fithria. Edwarsyah. , & Wintah. Analisis komposisi dan struktur vegetasi mangrove di wilayah pesisir Kota Lhokseumawe. Jurnal Perikanan Terpadu 5. PENDAHULUAN Ekosistem hutan bakau atau lebih dikenal dengan istilah mangrove merupakan kawasan hutan yang tumbuh di daerah rawa dengan air payau dan tersebar di sepanjang garis pantai. Pertumbuhan ekosistem ini dikendalikan oleh dinamika pasang surut air laut dan memiliki peran ekologis yang signifikan. Menurut Rahmanto . mangrove merupakan ekosistem lahan basah yang terletak di wilayah pesisir, berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan serta menyimpan kekayaan alam dengan nilai yang sangat besar. Dengan luas mencapai 3. 140,68 hektare pada tahun 2015, ekosistem mangrove di Indonesia menyumbang sekitar 23% dari total ekosistem mangrove dunia yang memiliki luas keseluruhan 16. 000 Ha. (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2. Ekosistem mangrove merupakan area transisi antara ekosistem darat dan laut yang memainkan peran krusial dalam menjaga kestabilan ekosistem pesisir. Menurut (Iswahyudi et al. hutan mangrove merupakan merupakan sumber daya alam yang memiliki nilai ekologis, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Dari sisi ekologi, hutan mangrove berperan dalam melindungi lingkungan darat dan laut, menjadi habitat berbagai fauna, menahan gelombang laut dan angin, mengendalikan intrusi air asin, serta menyediakan lokasi pemijahan dan tempat berlindung bagi biota laut. Selain itu, mangrove membantu pembentukan lahan baru melalui proses sedimentasi dan menjaga kualitas air. Secara ekonomi, hutan mangrove memberikan kontribusi berupa hasil kayu . isalnya kayu konstruksi, arang, dan kayu baka. dan hasil non-kayu . eperti produk nipah, obat-obatan, dan sektor perikana. Jenis akar dari spesies seperti Rhizopora sp. Avicennia sp. , dan Sonneratia sp. dengan struktur tanah berpori dan berparit, memberikan perlindungan alami bagi larva kerang (Bahtiar et al. Fungsi lain yang tidak kalah penting adalah kemampuannya menyerap karbon dioksida (COCC) untuk meminimalisir dampak pemanasan global (Ely et al. Menurut data BPS Provinsi Aceh 2014-2015, keseluruhan mangrove di Kota Lhokseumawe 15 hektar, kondisi rusak 7 Ha, kondisi rusak sedang 5 Ha, kondisi baik 3 Ha. Hasil studi sebelumnya mencatat bahwa mangrove di lokasi kajian telah mengalami pengurangan luas secara berkelanjutan dari tahun ke tahun sebelum program pengembalian fungsi dijalankan (Fitrianingsih & Rahayu 2. Mangrove mayor seperti Rhizopora apiculata. Sonneratia caseolaris. Avicennia alba. Avicennia marina, dan Nypa fruticans mendominasi di Kota Lhokseumawe, dengan kerapatan di Muara Dua mencapai 33-400 ind/ha, tertinggi 400 ind/ha. Page | 46 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 Terdapat juga gastropoda Telescopium di hutan mangrove Desa Cut Mamplam Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe (Harahap et al. Fungsi krusial lain dari hutan mangrove yaitu absorben CO2 untuk meminimalisir pemanasan global yang terjadi saat ini (Ely et al. Ekosistem mangrove alami tersebar di semua Kecamatan yang terdapat di pesisir Kota Lhokseumawe, namun terdapat beberapa aktivitas masyarakat yang terus berupaya untuk membuka lahan tambak baru, pembutan jalan, perluasan permukiman di kawasan mangrove. Salah satu kontribusi ekologi mangrove yang sangat krusial adalah sebagai penyerap karbon alami yang dapat mengurangi kadar karbon dioksida diatmosfer (Azzahra 2. Tingginya kegiatan antropogenik tersebut dapat merugikan keberadaan ekosistem mangrove secara ekologi, ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang lebih dalam tentang pengelolaan mangrove supaya berkelanjutan di Kota Lhokseumawe. METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2024. Deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan metode transek garis digunakan sebagai teknik pengumpulan data. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Banda Sakti. Kecamatan Muara Satu. Kecamatan Muara Dua dan Kecamatan Banda sakti. Kota Lhokseumawe. Figure 1. Research location Bahan dan Alat Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya ATK, kamera hand phone sebagai dokumentasi, alat ukur kualitas air, tali rafia, meteran untuk mengukur serta mebuat petak plot kemudian untuk melihat lokasi mangrove mengunakan aplikasi Citra Satelit atau arcgis, kuesioner dan Global Posotioning System (GPS) dan Aquades untuk mencuci alat salt-refraktometer. Page | 47 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 Sumber Data Informasi data dikumpulkan melalui dua jenis data, yakni data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara mengamati langsung kondisi lapangan termasuk melakukan pengamatan visual vegetasi mangrove dan dianalisis dengan menggunakan metode transek garis, serta wawancara mendalam dengan individu-individu yang memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait pengelolaan serta pemanfaatan wilayah pesisir saat ini. Sementara itu, data sekunder didapatkan melalui analisis dokumen dan survei ke berbagai institusi yang memiliki tanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan pantai dan pesisir. Metode ini dirancang untuk memastikan kelengkapan dan keakuratan informasi yang relevan dengan fokus penelitian. Analisis Data Analisis vegetasi mangrove Struktur vegetasi mangrove dianalisis dengan menerapkan metode transek garis (Fachrul, 2. yang diposisikan tegak lurus terhadap garis pantai. Tiga stasiun penelitian ditetapkan berdasarkan distribusi mangrove di tiga kecamatan, dengan setiap stasiun terdiri dari tiga substasiun. Pengamatan dilakukan pada satu garis transek yang membentang dari laut menuju darat sepanjang vegetasi mangrove yang ada. Jalur transek yang dibuat diharapkan dapat mewakili seluruh wilayah kajian serta zona-zona mangrove yang terdapat di dalamnya (Gambar . Jarak antar transek di setiap sub-stasiun adalah 100 meter. Sea direction Land direction Contour direction Figure 2. Illustration of mangrove data collection Information: Plot A = Sub-plot size 10 m x 10 m, for trees Plot B = Sub-plot size 5 m x 5 m, for trees Plot C = Sub-plot size 1 m x 1 m, for trees Identifikasi jenis mangrove Proses identifikasi berbagai jenis mangrove yang ditemukan di lokasi penelitian dilakukan secara langsung di lapangan, dengan memanfaatkan buku panduan pengenalan mangrove Page | 48 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 yang disusun oleh Noor et al. sebagai acuan utama. Buku ini menyediakan informasi yang mendetail mengenai ciri-ciri morfologi dan karakteristik masing-masing spesies mangrove, sehingga memungkinkan peneliti untuk mengenali dan membedakan jenis-jenis mangrove yang ada dengan lebih tepat. Kerapatan jenis (D. Kerapatan jenis (D. mengacu pada banyaknya tegakan dari spesies tumbuhan ke-i yang ada dalam suatu unit wilayah tertentu. Penentuan kerapatan jenis ini dilakukan dengan memakai rumus yang telah disusun untuk menghitung jumlah individu setiap jenis tumbuhan dalam area yang ditentukan (Bengen, 2. Di = ycuycn ya Information : Species density : Total number of individuals : Total area of sampling area Kerapatan relative (RD. Kerapatan relatif (RD. merujuk pada perbandingan antara jumlah tegakan dari jenis ke-i dengan total jumlah tegakan dari semua jenis yang ada dalam suatu area penelitian. Konsep ini sangat berguna untuk menggambarkan proporsi kontribusi setiap jenis terhadap total populasi vegetasi yang ada. (Bengen, 2. Untuk menentukan kerapatan Relatif (RD. menggunakan rumus RDi = [ ycuycn ] ycu 100 Ocycu Information RDi : Relative density : Total number Ocn : Total stands of all types Frekuensi jenis (F. Frekuensi jenis (F. adalah kemungkinan ditemukannya jenis ke-i dalam seluruh petak contoh yang dibuat, dibandingkan dengan jumlah total petak contoh yang ada (Bengen, 2. , untuk menghitung frekuensi jenis (F. digunakan rumus Page | 49 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 Fi = ycyycn Ocyce Information : Type frequency : Number of sample plots where the species was found Ocf : Total number of sample plots created . Frekuensi relative (RF. Frekuensi relatif (RF. merupakan rasio antara frekuensi kemunculan jenis ke-i dengan total frekuensi kemunculan semua jenis yang ada di dalam area pengamatan (Bengen, 2. Untuk menghitung nilai frekuensi relatif, digunakan rumus sebagai berikut Information RFi : Relative frequency of types : Type frequency Ocf : Total number of sample plots created . Penutupan jenis (C. Penutupan jenis (C. mengacu pada luas area yang tertutup oleh jenis tumbuhan ke-i dalam suatu unit area tertentu (Bengen, 2. Untuk menghitung nilai penutupan jenis, digunakan rumus sebagai berikut Information : Type closure OcBA : Ad2/4 . =diameter of trunk at chest height . =circumference/A). A =3. : Total area of sampling area . Penutupan relative (RC. Penutupan relatif (RC. merupakan rasio antara luas penutupan jenis ke-i dengan total luas penutupan yang dihasilkan oleh semua jenis tumbuhan yang ada dalam area tersebut (Bengen, 2. Berikut persamaannya yacyaCya = ( yaycn ) yeo yayaya Ocyca Information RCi : Relative closure : Type closure Page | 50 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 : Total closure for all types Indeks nilai penting (INP) Untuk menghitung indeks nilai penting spesies mangrove, digunakan rumus yang telah dirumuskan secara khusus. Rumus ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai tingkat dominansi atau kontribusi suatu spesies mangrove dalam ekosistemnya, dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti jumlah individu, distribusi, dan peran ekologis dari spesies tersebut di area penelitian Sofian et al. Berikut persamaannya Untuk tingkat pohon menggunakan rumus INP = RDi RFi RCi Untuk tingkat semai dan pancang menggunakan rumus INP = RDi RFi RCi Information INP : Importance value index RDi : Relative density RFi : Relative frequency RCi : Relative closure Setelah itu, data tersebut akan diolah menggunakan perangkat lunak seperti Ms Excel atau SPSS, yang kemudian akan dianalisis untuk memperoleh pemahaman yang mendalam. Hasil analisis akan memberikan gambaran untuk memecahkan permasalahan yang ada dalam penelitian serta merumuskan strategi pengelolaan mangrove yang berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Jenis Mangrove Berdasarkan Tabel 1, jenis mangrove yang ditemukan pada ketiga stasiun di Kota Lhokseumawe yaitu A. A alba. mucronata dan R. Berdasarkan hasil pantauan dilokasi penelitian. marina untuk tingkat pancang mendominasi sebesar 167 ind/m2 di bandingkan R. stylosa dari family Rizhophoraceae pada ST i. Beberapa jenis mangrove mayor menjadi penyusun utama vegetasi mangrove di kawasan Kota Lhokseumawe, yaitu R. marina, dan Nypa fruticans (Fitrianingsih et al. Indentifikasi visual mangrove juga dilakukan dari segi bentuk akar, daun, buah, bunga dan juga kulit batang mangrove menggunakan buku petunjuk identifikasi (Noor et al. Table 1. Total number of mangrove specimens found in Lhokseumawe City Types of mangroves Species Tree ST I Avicenia marina ST II Stakes ST i ST I ST II Seedling ST i ST I ST II ST i Page | 51 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 Rizhophora mucronate Rizhophora stylosa Avicenia alba Analisis Vegetasi Mangrove Pohon Vegetasi bakau . tingkat pohon yang ditemukan pada stasiun I. II dan i di Kota Lhokseumawe terdata pada tabel 2. Kerapatan jenis tingkat pohon R stylosa pada stasiun II 116 ind/m2 sedangkan A marina diperoleh nilai lebih sebesar 0. 056 ind/m2 dan 0. ind/m2 untuk stasiun I dan i. Kerapatan relative untuk ketiga stasiun yaitu sama 100 ind/m 2. Selanjutnya, frekuensi jenis dan relatif memberikan hasil yang relative sama untuk semua stasiun yaitu 1 ind/m2 dan 100 ind/m2. Penutupan jenis stasiun I. A marina yaitu 19. 11 ind/m2, pada stasiun II penutupan jenis R stylosa mempunyai nilai 7. 36 ind/m2. Kemudian stasiun i A marina dengan jumlah 3. 46 ind/m2. Penutupan relative dan INP memiliki nilai yang sama pada ketiga stasiun yaitu 100 ind/m2 dan 300 ind/m2. Penelitian ini menggambarkan bahwa mangrove dari family Rhizophoraceae mampu beradaptasi pada lingkungan dengan kadar salinitas yang tinggi. Temuan ini didukung oleh Speer et al. yang menyatakan bahwa salinitas ideal untuk pertumbuhan family Rhizoporaceae berkisar antara 8 Ae 18 ppt. Table 2. Analysis of tree-level mangrove vegetation found in Lhokseumawe City Station Species Avicennia marina Total Rhizophora stylosa Total i Total Avicennia marina Tree RDi (%) RFi (%) RCi (%) INP Analisis Vegetasi Mangrove Pancang Bedasarkan tabel 3, vegetasi mangrove yang ditemukan pada stasiun I. II dan i di Kota Lhokseumawe untuk tingkat pancang. Data menunjukkan kerapatan jenis A marina pada stasiun i sebesar 22 ind/m2. Sedangkan pada stasiun satu ditemukan R mucronata sebesar 0. 093 ind/m2 diikuti oleh R stylosa sebesar 0. 48 ind/m2. Kerapatan relatif pancang baik R. dan A. marina jumlahnya adalah sama sebesar 100 ind/m2. Frekuensi jenis dan relative pada stasiun I,II dan i yaitu 1 ind/m2 dan 100 ind/m2. Selanjutnya INP di ketiga stasiun juga memberikan Page | 52 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 hasil yang sama yaitu 300 ind/m2. Hal ini selaras dengan kajian terdahulu yang dilakukan oleh Pramudji . yang menjelaskan bahwa tidak seimbangan kompetisi antar jenis mangrove dalam satu habitat menjadi faktor yang menyebabkan variasi pada nilai frekuensi relatif, di mana beberapa jenis menjadi kurang dalam memperoleh unsur hara. Table 3. Analysis of mangrove vegetation at the sapling level found in Lhokseumawe City Station Species Rizhopora mucronata Total Rhizophora stylosa Total i Avicennia marina Total Sapling RDi (%) RFi (%) INP Analisis Vegetasi Mangrove Samai Bedasarkan tabel 4, vegetasi mangrove yang ditemukan pada tingkat semai. Kerapatan Jenis pada stasiun I yaitu R. mucronata sebesar 2,333 ind/m2 dan pada stasiun II di temukan R. stylosa sebesar 12 ind/m2, sedangkan pada stasiun i terdapat A. marina dengan nilai 55 ind/m2. Kerapatan relative dari ketiga stasiun jumlahnya sama yaitu 100 ind/m2. Selanjutnya, frekuensi jenis dan relative pada stasiun I. II dan II sama jumlahnya yaitu 1 ind/m 2 dan 100 ind/m2. Kemudian nilai INP A. stylosa pada ketiga stasiun yaitu 200 ind/m2. Mangrove semai dari jenis A. marina berkembang di habitat dekat laut dengan substrat lumpur berpasir, sehingga proses adaptasinya berlangsung dengan baik. Bengen . mengungkapkan bahwa vegetasi mangrove tumbuh optimal pada tanah berlumpur dan memiliki toleransi terhadap substrat yang mengandung pasir. Table 4. Analysis of mangrove vegetation at seedling level found in Lhokseumawe City Station Species Rizhopora mucronata Total Rhizophora stylosa Total i Total Avicennia marina Seedling RDi (%) RFi (%) INP Page | 53 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 Kelimpahan Gastropoda Bedasarkan gambar 3 menunjukkan kerapatan jenis gastropoda yang teridentifikasi pada ketiga stasiun di Kota Lhokseumawe yaitu T. palustris 87 individu terdapat ST I. II dan i. Kemudian C. nucleus 27 individu hanya di ST I dan II. dan L. scabra 20 individu tersebar di ST I, i. Kemudian Nerita plicata 27 individu hanya terdapat di ST II. telescopium 16 individu terdapat di ST I. Gastropda jenis T. palustris yang meruapakan bagian dari family Potamididae adalah spesies khas mangrove yang memiliki kesukaan terhadap habitat berlumpur (Baharuddin et al. Melani et al. mengungkapkan bahwa hewan gastropoda biasanya memilih habitat di bawah akar mangrove atau melekat pada batangnya. Hal ini disebabkan oleh ekosistem mangrove dengan substrat lumpur yang kaya akan unsur organik sebagai cadangan nutrisi. Kajian Tuheteru et al. menyatakan bahwa substrat yang memiliki partikel besar dan kasar, seperti pasir, memiliki karakteristik tertentu. Figure 3. Density of gastropod species found in Lhokseumawe City Parameter Kualitas Air Berdasarkan hasil pengukuran . , pH tanah pada lokasi penelitian berkisar antara 5,3-6,2. Hal ini selaras dengan eksplorasi oleh Murdiyanto . bahwa pH tanah di habitat mangrove cenderung berada antara 4,5 dan 6,5 namun dapat menjadi lebih rendah dalam situasi Pengukuran pH air disekitar mangrove di lokasi penelitian pada ke tiga stasiun, ekosistem tersebut dapat dikategorikan produktif, berada dalam kisaran tertentu dengan nilai 5,3-6,2. Perairan dengan pH tersebut masih tergolong normal. Table 5. Mangrove water quality parameters found in Lhokseumawe City Page | 54 Jurnal Perikanan Terpadu 5. , 45-56 Parameters Value ST I ST II ST i Soil pH Water pH Temp Dissolved oxygen Salinity Substrate Sandy mud Sandy mud Sandy Pratiwi . menyimpulkan bahwa bagi biota akuatik yang mendiami area hutan mangrove seperti krustasea mempunyai rentang pH yang ideal yakni 5-9 untuk keberlangsungan Bedasarkan hasil pengecekan dilapangan suhu rata-rata di ketiga stasiun yaitu dengan nilai 28,8-32,6. Hasil pengecekan dilapangan. DO rata-rata pada ketiga stasiun yaitu dengan nilai 5,7-6,6 ppm. Standar parameter kualitas air laut untuk DO >5 mg/L (Kepmen LH, 2. Hasil pengukuran salinitas air laut pada stasiun I. II dan i menunjukkan salinitas rata-rata 30Ae31 ppt, meskipun tinggi masih memungkinkan pertumbuhan mangrove. Salinitas ideal ekosistem mangrove sendiri berkisar antara 0Ae28 ppt (Choirudin et al, 2. mucronata tumbuh pada substrat lumpur berpasir, sedangkan A. marina lebih sering ditemukan di substrat berpasir. Menurut Hawari & Amin . arus yang kuat di perairan terbuka menyebabkan dominasi substrat pasir. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkap bahwa ekosistem mangrove di wilayah pesisir Kota Lhokseumawe didominasi oleh empat spesies utama, yaitu A. mucronata, dan R. Analisis struktur vegetasi menunjukkan bahwa R. stylosa memiliki kerapatan tertinggi pada tingkat pohon di stasiun II, yaitu 0,116 ind/mA, sedangkan A. marina mendominasi pada tingkat pancang di stasiun i dengan kerapatan 22 ind/mA dan tingkat semai di stasiun i dengan nilai 55 ind/mA. Nilai Indeks Nilai Penting (INP) pada berbagai tingkat pertumbuhan relatif stabil di semua Gastropoda yang ditemukan meliputi T. telescopium, dan Nerita plicata, dengan T. palustris sebagai spesies paling melimpah. Kualitas lingkungan seperti pH, suhu. DO, dan salinitas masih berada dalam kisaran yang mendukung pertumbuhan mangrove. Hasil ini menegaskan pentingnya pengelolaan mangrove secara berkelanjutan di Kota Lhokseumawe sebagai penyangga ekosistem pesisir dan habitat biodiversitas penting. UCAPAN TERIMA KASIH