Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual Vol. No. May 2024 pp. E-ISSN: 2541-4224. P-ISSN: 2541-4216 DOI: http://dx. org/10. 28926/briliant. Analisis Praktik Pendidikan di Kampung Naga Berdasarkan Konsep Tripusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara Erlangga Kusuma Yuda. Nuryani. Ila Rosmilawati. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jl. Raya Jkt Km 4 Jl. Pakupatan. Kec. Cipocok Jaya. Kota Serang. Indonesia Email: 1yuda060398@gmail. com, 2nuryani081992@gmail. irosmilawati@untirta. Abstract: Education is one of the key aspects in the development of a Tersedia Online di http://w. php/briliant Sejarah Artikel Diterima 14 Desember 2023 Direvisi 20 Desember 2023 Disetujui 27 Desember 2023 Dipublikasikan 30 Mei 2024 Keywords: Educational Practice. Education Tricenter. Kampung Naga Kata Kunci: Kampung Naga. Praktik Pendidikan. Tripusat Pendidikan Corresponding Author: Name: Erlangga Kusuma Yuda Email: yuda060398@gmail. Among them, it functions to build society, create cultural transformation, produce skilled workers, create tools for social However, there is moral degradation in society, including. The rise in cases of corruption, non-compliance with the law, violence and bullying, intolerance between religions, ethnicities and groups indicates that there are problems in education in society. This phenomenon is very rarely found in Kampung Naga. This is the background to this research. The aim is to analyze what educational practices exist in Kampung Naga using Ki Hajar Dewantara's tricenter theory of education. The research method used is ethnography and is complemented by literature study. The results of this research suggest that all educational practices in the village have a synergy of the three elements. be it family, school and community. From these educational practices, the people of Kampung Naga have succeeded in maintaining their identity. Maintaining the culture and customs that have been passed down from our ancestors. And can prevent the influence of foreign cultures and strange trends that develop on social media. Abstrak: Pendidikan merupakan salah satu aspek kunci dalam pembangunan suatu masyarakat. Diantaranya berfungsi untuk membangun masyarakat, menciptakan transformasi budaya. Menghasilkan tenaga kerja ahli, menciptakan alat kontrol sosial. Namun, adanya degradasi moral dalam masyarakat diantaranya. maraknya kasus korupsi, ketidak patuhan hukum, kekerasan dan bullying, intoleransi antar agama, suku dan golongan mengindikasikan adanya permasalahan dalam pendidikan pada masyakat. Fenomena tersebut sangat jarang ditemukan di Kampung Naga. Hal tersebut menjadi latar belakang penelitian ini. Tujuannya adalah menganalisis apa saja Pratik pendidikan yang terdapat di Kampung Naga dengan teori tripusat pendidikan Ki Hajar Dewantara. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi dan dilengkapi dengan studi pustaka. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa semua praktik pendidikan yang ada di kampung memiliki sinergi dari ketiga elemen. baik itu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dari praktik pendidikan tersebut, masyarakat Kampung Naga berhasil mempertahankan jati diri. Menjaga budaya dan adat istiadat yang sudah diwariskan oleh leluhur. Serta dapat mencegah pengaruh budaya asing dan tren-tren aneh yang berkembang di media sosial. BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu aspek kunci dalam pembangunan suatu masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu fungsi pendidikan adalah membangun masyarakat, menciptakan transformasi budaya. Menghasilkan tenaga kerja ahli, menciptakan alat kontrol Sehigga masyarakat terus berkembang secara berkelanjutan (Sujana, 2. Pendidikan merupakan sebuah ranah kolaboratif. Sehingga perlu berbagai aspek untuk menciptakan sebuah lingkungan pendidikan yang baik. Hal tersebut selaras dengan konsep yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu konsep tripusat pendidikan. Tiga pilar utama dalam dalam pendidikan adalah alam keluarga, alam perguruan . , dan alam pergerakan pemuda . Ketiga aspek tersebut harus sinergis dan sejalan (Sapdi, 2. Namun, adanya degradasi moral dalam masyarakat diantaranya. maraknya kasus korupsi, ketidak patuhan hukum, kekerasan dan bullying, intoleransi antar agama, suku dan golongan. Belum lagi pesatnya perkembangan teknologi. Menyebabkan anak kecanduan games online, menciptakan gaya hidup hedonis dan konsumtif karena pengaruh media social, serta lunturnya sopan santun dalam bentuk penampilan dan sikap. Akibat meniru fasion dan gaya hidup dari budaya asing (Prihatmojo & Badawi, 2. Hal tersebut mengindikasikan adanya permasalahan dalam pendidikan pada masyakat. Bedasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan ketua adat Kampung Naga, bentuk bentuk degradasi moral tersebut sangat jarang ditemukan bahkan nihil di wilayah desa adat Kampung Naga. Semua penduduk Kampung Naga memiliki komitmen untuk menjaga budaya dan kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur mereka (Nurislaminingsih et al. , 2. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah bangunan yang tidak bertambah dan listrik yang tidak boleh masuk, serta berbagai upacara adat yang masih terus dilakukan. Fenomena ini sangat menarik untuk dikaji lebih dalam. Menganalisis praktik pendidikan apa saja yang dilakukan sehingga dapat membentuk masyarakat yang memiliki kesadaran dalam memegang teguh adat leluhur dan menaati aturan budaya yang ada. Memang sudah ada beberapa penelitian terdahulu yang meneliti tentang pendidikan di Kampung Naga. Seperti penelitian yang dilakukan (Ruqayah, 2. mengenai pola asuh pendidikan pada Kampung Naga. Ada juga penelitian dari (Robiah et al. , 2. tentang penyelenggaraan nilai agama dan moral anak usia dini pada kearifan lokal Kampung Naga. Namun belum ada yang menganalisis praktik pendidikan di Kampung Naga dari sudut pandang konsep tri pusat pendidikan Ki Hajar Dewantara. Maka dari itu artikel ini bertujuan untuk menganalisis praktik pendidikan yang diterapkan di kampung adat Kampung Naga menggunakan konsep tri pusat pendidikan Ki Hajar Dewantara. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi etnografi yang dilaksanakan pada tanggal 7-8 Oktober 2023. Etnografi sendiri merupakan sebuah metode penelitian yang bertujuan memahami sebuah masyarakat yang sedang berkembang (Koeswinarno, 2. yang dilakukan langsung ke lapangan. Kemudian data tersebut ditambah dengan menggunakan studi Studi literatur merupakan sebuah metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari teori, konsep, dan penelitian terdahuu yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan (Adlini et al. , 2. Bentuk data yang didapat bisa berupa jurnal ilmiah, buku maupun karya ilmiah lainnya. Sumber data pada penelitian ini adalah hasil wawancara dengan sesepuh dan warga setempat serta didukung oleh jurnal ilmiah yang terdapat pada google scholar. Tema artikel yang dicari adalah konsep tripusat pendidikan dan sistem pendidikan di Kampung Naga. Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Menggunakan landasan kerangka teori berupa konsep tri pusat pendidikan Ki Hajar Dewantara mengenai tiga elemen dalam pendidikan. Sehingga hasil analisis yang didapat akan menghasilkan apa saja praktik pendidikaan yang ada di Kampung Naga dan apakah mencakup ketiga elemen Prosedur penelitian yang dilaksanakan meliputi: . mencari ide mengenai penelitian yang dilakukan, . menegaskan fokus penelitian, . Melakukan pengambilan data dengan 392 BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 wawancara dan observasi di Kampung Naga . Menambahkan data dari buku dan artikel-artikel jurnal ilmiah, . melakukan rekontruksi bahan dan membuat simpulan yang didapat dari data yang ada, . melakukan review atas data yang telah dianalisis dan menjawab tujuan penelitian, . merumuskan hasil penelitian (Tahmidaten & Krismanto, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Tripusat Pendidikan Konsep tripusat pendidikan merupakan sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Konsep ini mengacu kepada tujuan pendidikan (Tarigan et al. , 2. Terciptanya sebuah pendidikan yang baik memerlukan sinergitas dari ketiga elemen yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. (Sukarman, 2. karena dari ketiga elemen tersebut anak Sehingga membangun suasana yang positif untuk tumbuh kembang anak merupakan hal yang sangat krusial. Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama bagi anak. Menjadi dasar pendidikan bagi anak. Pada alam keluarga, orang tua memiliki tanggung jawab dalam tiga bentuk pendidikan. Yaitu sebagai guru . , pengajar, dan suri tauladan (Amaliyah, 2. Ketiga peran tersebut saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Dalam keluarga, anak belajar tentang cinta kasih, berkerjasama, disiplin serta interaksi antara pribadi yang intens (Saleh, 2. Sehingga karakter dan kepribadian anak sebagian besar terbentuk dalam keluarga. Lembaga sekolah merupakan pusat pendidikan formal dalam tatanan sosial. Pendidikan sekolah memberikan pengalaman kepada siswa secara terstruktur dan berjenjang (Bariyah, 2. Dengan bersekolah anak mendapatkan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu. Dilatih skill yang berguna untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya anak yang sudah melakukan pendidikan di sekolah diharapkan menjadi warga masyarakat yang baik, bermoral, bertanggung jawab serta menjadi bagian dalam peningkatan pembangunan di segala bidang kehidupan bernegara (Hidayati, 2. Ki Hajar Dewantara memandang lembaga pendidikan sebagai sistem among. Guru merupakan pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi yang kompeten. Pendidik juga perlu memiliki jiwa pemimpin yang demokratis. (Rahmat Hidayat, 2. Dengan tiga filosofi utama yaitu Ing Ngarso Suntolodo yang memiliki arti di depan menjadi teladan. Ing Madyo Mangun Karso memiliki arti yang tengah memberikan bimbingan. Tut Wuri Handayani memiliki arti di belakang memberikan dukungan. Hasil akhirnya, pendidikan memiliki fungsi menuntun anak untuk menemukan kodratnya sebagai manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (Sugiarta et al. , 2. Masyarakat merupakan lingkungan yang memiliki peran besar dalam tumbuh kembang Masyarakat merupakan kumpulan individu yang hidup dalam wilayah yang sama dan memiliki ikatan sosial yang kuat. (Saeful & Ramdhayanti, 2. Masyarakat berperan besar dalam perkembangan kecerdasan jiwa dan budi pekerti pada anak. Dalam masyarakat yang sehat perlu adanya tokoh yang menjadi guru sebagai panutan dan suri tauladan (Sapdi, 2. Sehingga menjadi contoh bagi anak dalam mengembangkan budi perkerti. Dalam masyakarat. Ki Hajar Dewantara memiliki Konsep Neng-Ning-Nung-Nang (Sapdi, 2. Neng memiliki arti meneng yang bermakna ketentraman lahir yang diwujudkan oleh suasana fisik. Hal ini dapat dilihat dari emosi yang stabil, kondusif dan tenang. Ning memiliki arti Wening yang bermaka ketentraman batin dan kejernihan nurani. Memiliki pemikiran yang rasional dan menyelesaikan masalah dengan logis dan runut. Nung memiliki arti Hanung yang bermakna kebesaran jiwa dan luasnya wawasan. Legowo menerima kritik, bersikap optimis, serta selalu memandang hari depan dengan penuh harapan dan jiwa besar. Nang memiliki arti menang yang bermakna kemenangan moral dan kemenangan fisik. Kemenangan ini dicapai ketika sudah menerapkan Neng-Ning-Nung tanpa merugikan pihak lain. Konsep kemenangan terhadap kesulitan, ujian, penindasan, penyelewengan, penghinaan, kemiskinan, kebodohan. BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 Kampung Naga Berdasarkan letak geografisnya. Kampung Naga berada di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Tasikmalaya. Kecamatan Salawu. Desa/Kelurahan Neglasari. Letak Kampung Naga sekitar satu kilometer dari jalan raya dengan kondisi jalan yang menurun karena berada di lembah. Wilayahnya dikelilingi oleh sungai, empang, hutan dan bukit. Bagian barat. Kampung Naga berbatasan dengan Bukit Naga. Bagian timur berbatasan dengan Sungai Ciwulan dan Hutan Lindung. Sebelah selatan berbatasan dengan jalan raya bukit dan Tasikmalaya-Bandung (Qodariah & Armiyati, 2. Secara keseluruhan, luas pemukiman Kampung Naga adalah 1,5 hektare (Ningrum, 2. dengan banyak bangunan yang sudah ditentukan, yaitu sejumlah 110 buah. Bangunan tersebut diantaranya rumah warga, balai patemon, masjid, rumah ageng, leuit. Rumah warga semuanya memiliki arah yang sama. Membujur dari barat ke timur dengan pintu rumah berada di utara atau di selatan. Berdasarkan demografisnya Kampung Naga selalu mempertahankan jumlah kepala keluarga yang tinggal berjumlah 100 kepala keluarga. Menurut penuturan mang Heri selaku penduduk Kampung Naga, jika ada anggota keluarga yang akan menikah maka akan dimusyawarahkan siapa yang berada di Kampung Naga siapa yang keluar dari kampung. Sering kali pihak orang tua yang keluar dari kampung dan yang muda bertahan di kampung. Tujuannya agar yang muda dapat lebih memahami adat istiadat yang ada di kampung. Mata pemcaharian masyarakat Kampung Naga mayoritas adalah petani. Sawah dan ladang yang mereka tanami tidak jauh dari pemukiman. Adapun tamanan yang biasa ditanam adalah padi serta beberapa jenis sayuran (Nursalis et al. , 2. Hasil padi yang didapat biasanya langsung dikumpulkan di leuit. Menurut Mang Ijad, selain menjadi petani, beberapa masyarakat Kampung Naga juga biasa membuat kerajinan berbahan dasar bambu. Jenis kerajinan yang dibuat berupa perabotan rumah tangga. Sistem pemerintahan yang ada di Kampung Naga cukup unik. Hal ini disebabkan karena adanya dua sistem yang pakai dan saling berkerja sama yaitu sistem adat dan sistem resmi dari Sistem adat pada Kampung Naga memiliki beberapa jabatan yang memiliki fungsi mengatur masyarakat Kampung Naga secara adat. Jabatan tersebut diantaranya punduh adat . etua ada. , kuncen,dan lebe (Nurohman & Gunawan, 2. Sedangkan untuk sistem resmi pemerintahan sama seperti daerah lainnya yaitu ketua RT, ketua RW, dan Kepala Kampung. Dalam pelaksanaanya, punduh adat memiliki tugas mengatur seluruh aktivitas masyarakat Kampung Naga terutama dalam ritual adat. kuncen memiliki tugas menjadi pemimpin dalam setiap pelaksanaan upacara adat (Purnama, 2. sedangkan lebe memiliki tugas untuk mengurusi jenazah warga Kampung Naga yang meninggal. Jadi seluruh rangkaian prosesi pemakaman di Kampung Naga menjadi tanggung jawab dari lebe. (Nurohman & Gunawan. Sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kampung Naga adalah Agama Islam. Sedangkan untuk pelaksanaannya terdapat akulturasi dengan adat dan Kebudayaan Sunda. Dalam masyarakat Kampung Naga terdapat konsep tri tangtu buana. Konsep ini memiliki tiga komponen yaitu tuhan, alam semesta, dan manusia (Fairuzahira et al. , 2. Dalam masyarakat Kampung Naga memiliki sebuah ritual keagamaan bernama hajat Hajat sasih sendiri merupakan sebuah upacara adat yang dilakukan oleh seluruh warga sanaga. Baik yang berada di Kampung Naga maupun di luar Kampung Naga. Tujuan dari upacara hajat sasih adalah memohon keselamatan dan keberkahan kepada tuhan yang maha esa serta ungkapan rasa syukur atas semua nikmat yang sudah diberikan (Sukmayadi et al. , 2. pelaksanaan hajat sasih dilakukan sebanyak enam kali selama satu tahun. Diantaranya adalah Bulan Muharam untuk menyambut tahun baru Hijriah, bulan Maulud untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bulan Jumadil Akhir untuk memperingati pertengahan bulan Hijriah. Bulan Nisfu SyaAoban untuk menyambut bulan suci romadhan, bulan Syawal untuk menyambut hari raya Idul Fitri, dan bulan Zulhijah untuk menyambut hari raya Idul Adha (Harashani, 2. 394 BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 Masyarakat Kampung Naga mau menerima inovasi dan perkembangan teknologi yang Namun hal tersebut harus selaras dengan adat istiadat yang berlaku (Karwati & Mustakim, 2. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Mang Heri selaku warga Kampung Naga bahwa selama tidak melanggar adat dan mengubah tatanan kehidupan budaya dan adat maka teknologi dan inovasi diperbolehkan. Sedangkan jika mengubah adat dan merusak lingkungan maka Hal tesebut dapat dilihat dari diperbolehkannya HP karena kepentingan pembelajaran daring serta fungsi-fungsi lain yang menunjang kehidupan. Sedangkan untuk pelarangan listrik dilakukan karena memiliki lebih banyak dampak negatif jika dipasang. Kesimpulannya, masyarakat Kampung Naga merupakan sebuah masyarakat adat yang masih memegang teguh nilai nilai adat dan kearifan lokal yang diwarisi oleh leluhur. Hal tersebut tercermin dari interaksi antar warga, interaksi warga dan lingkungan, sistem pertanian, bangunan, kebudayaan, serta pengolahan lahan yang masih berpedoman pada tradisi leluhur (Heryadi & Miftahudin, 2. Kearifan lokal tersebut kemudian dihayati, dipraktikan, serta diwariskan dari generasi ke generasi sehingga membentuk sebuah masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi akan budayanya sendiri (Swaradesy, 2. Praktik Pendidikan Keluarga di Kampung Naga keluarga di Kampung Naga sebenarnya memiliki kesadaran tinggi akan pendidikan. Baik itu pendidikan formal mengenai sekolah maupun pendidikan non formal mengenai adat istiadat, kearifan lokal, serta budaya dari leluhur. Hal ini diperkuat dengan keterangan Mang Ijad selaku warga dari Kampung Naga yang menjelaskan bahwa anak-anak Kampung Naga dapat bersekolah sejauh atau setinggi mungkin. Tapi jika sudah di adat harus mempertahankan kelokalan. Mempertahankan gaya hidup bukan hidup gaya. Minimal ulah poho kana purwadaksa. Awal dan Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Ruqayah, 2. mengenai Pola asuh keluarga pada masyarakat Kampung Naga dapat disimpulkan sebagai berikut. pola asuh pada masyarakat Kampung Naga memiliki pengaruh berdasarkan mata pencahariannya. Keluarga petani secara garis besar memiliki kecenderungan menerpkan pola asuh otoriter sedangkan keluarga pedagang, pengrajin, dan pemandu lebih demokratis dalam menerapkan pola asuh, walaupun dalam beberapa aspek menganut pola asuh otoriter. Terutama dalam penanaman nilainilai budaya dan tradisi, kekerabatan serta kedisiplinan. Hal tersebut terwujud dalam bentuk anjuran dan larangan yang mengacu pada kata pamali. Keluarga Kampung Naga jika dilihat dari unsur penuntun memiliki beberapa praktik yang dapat diidentifikasi. Diantaranya sebagai berikut. Mang Heri selaku pemandu memaparkan masyarakat Kampung Naga memiliki satu aturan adat yang unik. Aturan tersebut membatasi jumlah keluarga yang tinggal di Kampung Naga. Hal tersebut menyebabkan perlu adanya keluarga yang pindah ke luar Kampung Naga jika dalam keluarga tersebut ada yang menikah. Biasanya untuk menentukan siapa yang pindah akan diadakan musyawarah dalam keluarga Namun seringkali yang pindah merupakan orang tua dari anak yang baru menikah. Secara tidak langsung peristiwa tersebut merupakan bentuk tuntunan. Mang Heri selaku warga Kampung Naga menjelaskan, peristiwa tersebut memiliki tujuan agar pasangan keluarga baru dapat memahami lebih dalam adat dan budaya yang ada di Kampung Naga. Bentuk pelaksanaannya dengan memberikan pembiasaan dan pengalaman langsung bagi pasangan muda untuk mengenal lebih dalam semua adat istiadat dan tradisi yang ada di Kampung Naga. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan (Hasanah et al. , 2. bahwa pembiasaan sangat efektif untuk membangun sikap dan perilaku baik. Dalam pengajaran, keluarga di Kampung Naga memang tidak mengajarkan ilmu-ilmu formal yang biasanya diajarkan oleh sekolah. Untuk pembelajaran mengaji pun, mayoritas warga Kampung Naga mempercayakan pada tokoh pendidik yang ada di masyarakat. Biasanya dilaksanakan setelah sholat magrib (Robiah et al. , 2. Namun masyarakat Kampung Naga memberikan pembelajaran berupa nilai-nilai yang menjadi bekal hidup bagi anak-anak Kampung Naga. Salah satunya adalah bentuk menejemen waktu. Ibu O dan Ibu Y selaku ibu di Kampung BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 Naga memiliki kesamaan dalam mendidik anak. Mereka berdua menerapkan batasan yang jelas untuk kegiatan anak. Semua terjadwal serperti pagi sampai siang anak sekolah, siang sampai sore anak main, magrib anak mengaji, habis isya sampai jam 9 malam diberikan waktu bermain HP, kemudian tidur. Mengenai anjuran dan larangan pamali orang tua secara berkala terus menerus mengingatkan dan memberikan pemahaman sampai hal tersebut menjadi pemahaman bagi anak. Jika dilihat dari sudut pandang suri tauladan, keluarga Kampung Naga banyak memberikan contoh baik pada anak. Mang Heri selaku masyarakat Kampung Naga menjelaskan orang tua dalam keluarga selalu memberikan contoh dalam setiap aktifitas dan kegiatan sehingga menjadi tauladan bagi anak. Hal ini juga dikuatkan oleh penjelasan dari ketua adat bahwa anak Kampung Naga tidak pernah ditakut-takuti oleh hukuman atau diberikan iming-iming hadiah. Anak dibiarkan memahami sendiri cotoh dan suri tauladan yang sudah diberikan oleh orang tua sehingga nanti pemahaman yang tumbuh memang datang dari kesadaran diri sendiri. Konsep tersebut dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Makhmudah, 2. yang menyatakan bahwa salah satu fungsi keluarga adalah memberikan perbuatan, kegiatan, dan perkatan yang dapat dicontoh dan diteladani oleh anak karena anak merupakan seorang peniru yang ulung. Praktik Pendidikan Sekolah di Kampung Naga Sebenarnya jika dilihat dari kacamata tripusat pendidikan, masyarakat Kampung Naga bukan pelaku utama dalam alam pendidikan. Hal ini dapat dilihat tidak adanya sekolah di Kampung Naga, baik itu SD. SMP. SMA. Namun tidak seperti masyarakat adat Baduy Dalam yang tidak memperbolehkan warganya sekolah. Masyarakat Kampung Naga sangat mendukung adanya pendidikan. Masyarakat Kampung Naga memiliki peran sebagai peserta didik untuk anakanak dan wali murid bagi orang tua. Bentuk dukungan dari masyarakat Kampung Naga mengenai pendidikan formal dapat dilihat dari beberapa tindakan. Diantaranya adalah. selalu mengusahakan fasilitas tentang Hal tersebut dapat dilihat dengan diperbolehkan adanya HP untuk pembelajaran Padahal masyarakat Kampung Naga sendiri sangat selektif akan penggunaan teknologi. Mang Heri selaku penduduk Kampung Naga mengatakan masyarakat Kampung Naga selalu mendukung generasi muda untuk mencapai pendidikan setinggi-tingginya. Asalkan memiliki kemauan dan kemampuan. Secara tidak sadar, sebernarnya masyarakat Kampung Naga sudah menerapkan salah satu falsafah pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu Tut Wuri Handayani. Artinya memberikan dorongan moral dan semangat kepada anak Kampung Naga (Suwahyu, 2. Selalu berusaha memberikan pendidikan yang terbaik bagi generasi muda Kampung Naga. Sehingga anak Kampung Naga dapat melaksanakan kewajibannya selaku siswa dengan baik. Praktik Pendidikan Masyarakat di Kampung Naga Inti dari pendidikan pada masyarakat Kampung Naga adalah suri tauladan. Hal ini didasarkan pada keterangan Pak Ijad selaku warga Kampung Naga. Cara mengenalkan budaya, adat istiadat dan tradisi yang ada di Kampung Naga kepada anak dilakukan dengan mengajak langsung anak dalam kegiatan adat istiadat dan tradisi yang ada. Sehingga anak memiliki pengalaman langsung. Menjadi partisipan dalam setiap kegiatan. Jika dilihat dari sudut pandang tripusat pendidikan, wujud Neng yang berarti meneng dalam Kampung Naga dapat dilihat dari kondisi masyarakat yang tenang. Interaksi masyarakat yang sehat tanpa banyak terganggu oleh teknologi. Hal tersebut dipengaruhi oleh tidak adanya listrik sehingga minim alat eletronik di Kampung Naga. Walaupun HP sudah boleh masuk, namun karena akses isi dayanya jauh. Maka penggunaan HP juga menjadi lebih efesien dan tidak Unsur Wening yang ada di Kampung Naga dapat dilihat dari budaya pamali yang masih mengakar kuat. Seperti yang disampaikan oleh ketua adat Kampung Naga, bahwa pamali sudah menjadi bagian dari budaya yang menjadi tuntunan dan gaya hidup. Budaya pamali ini memberikan banyak dampak positif bagi masyarakat Kampung Naga. Penelitian dari (Gustiana 396 BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 & Supriatna, 2. mengungkapkan bahwa budaya pamali menjadi landasan ekologis bagi masyarakat Kampung Naga sehingga berdampak pada kelestarian hutan sampai saat ini. Budaya pamali juga dapat menjadi kontrol sosial di masyarakat (Sumartias et al. , 2. Wujud Hanung dalam masyarakat Kampung Naga tercermin dari kesadaran dan penerimaan bahwa teknologi memang tidak dapat dihindari. Sehingga masyarakat Kampung Naga menerima jika memang hidup berdampingan dengan teknologi. Contohnya adalah penggunaan gawai untuk pembelajaran daring. Namun hal tersebut tetap memiliki batasan. Tidak semua teknologi boleh masuk ke Kampung Naga. seperti yang diungkapkan Mang Heri, teknologi boleh digunakan oleh masyarakat Kampung Naga. Selama tidak melanggar adat, merubah tatanan kehidupan adat dan budaya maka diperbolehkan. Tapi kalo sudah merubah adat maka tidak boleh. Wujud akhirnya adalah menang. Konsep menang dalam masyarakat Kampung Naga ini adalah kemenangan dalam mempertahankan jati diri. Menjaga budaya dan adat istiadat yang sudah diwariskan oleh leluhur. Ditengah gempuran banyaknya budaya asing yang datang. Serta pengaruh media sosial yang meunculkan banyak tren-tren aneh. Masyarakat Kampung Naga tetap kukuh menjalankan kehidupan berlandaskan adat istiadat warisan leluhur. Diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh (Heryadi & Miftahudin, 2. yang menyatakan bahwa nilai-nilai kearifan dan budaya yang diwariskan baik secara lisan maupun tertulis yang menjaga eksistensi masyarakat Kampung Naga dari berbagai perkembangan dari luar. SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Kampung Naga merupakan sebuah masyarakat adat yang masih memegang teguh nilai-nilai adat dan kearifan lokal yang diwarisi oleh leluhur. Kearifan lokal tersebut kemudian dihayati, dipraktikan, serta diwariskan dari generasi ke generasi sehingga membentuk sebuah masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi akan budayanya sendiri. Hal tersebut ternyata tidak lepas dari praktik pendidikan yang dilakukan. Jika dilihat dari hasil analisis menggunakan kerangka teori tripusat pendidikan Ki Hajar Dewantara maka dapat disimpulkan bahwa tiga elemen dalam masyarakat Kampung Naga saling bersinergi untuk mendidik. Keluarga di Kampung Naga dapat menjadi guru . , pengajar, dan suri tauladan. Begitupun dalam unsur sekolah, walaupun masyarakat Kampung Naga bukan pelaku utama dalam alam pendidikan. Tetapi menerapkan salah satu filsafat Ki Hajar Dewantara yaitu tut wuri handayani. Terakhir dalam unsur masyarakat, masyarakat Kampung Naga secara tidak sadar menerapkan konsep Neng-Ning-Nung-Nang dari Ki Hajar Dewantara. Sinergi dari ketiga elemen mengenai praktik pendidikan yang menjadi salah satu faktor masyarakat Kampung Naga dapat mempertahankan jati diri. Menjaga budaya dan adat istiadat yang sudah diwariskan oleh leluhur. Ditengah gempuran banyaknya budaya asing yang datang. Serta pengaruh media sosial yang meunculkan banyak tren-tren aneh. Masyarakat Kampung Naga tetap kukuh menjalankan kehidupan berlandaskan adat istiadat warisan leluhur. Hasil Penelitian ini masih berupa konsep mengenai semua praktik pendidikan yang dilakukan di Kampung Naga. Sehingga diharapkan dari hasil penelitian ini dapat menjadi landasan untuk penelitian lebih lanjut. Baik sebagai pengintegrasian praktik-ptraktik ini dalam lembaga sekolah formal, maupun penerapan nilai nilai yang terkandung hasil penelitian kepada kurikulum, atau media pembelajaran yang ada. DAFTAR RUJUKAN Adlini. Dinda. Yulinda. Chotimah. , & Merliyana. Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6. , 974Ae980. https://doi. org/10. 33487/edumaspul. Amaliyah. Konsep pendidikan keluarga menurut Ki Hadjar Dewantara. Jurnal Pendidika Tambusai, 5. , 1766Ae1770. Bariyah. Peran Tripusat Pendidikan dalam Membentuk Kepribadian Anak. Jurnal Kependidikan, 7. , 228Ae239. https://doi. org/10. 24090/jk. BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 Fairuzahira. Rukmi. indira, & Sari. Elemen Pembentuk PermukimanTradisional Kampung Naga. Jurnal Tata Kota Dan Daerah, 12. , 29Ae38. https://doi. org/10. 21776/ub. Gustiana. , & Supriatna. Ecological Value of Kecap Pamali in the Community of Kampung Naga. Tasikmalaya Regency. Ta Dib : Jurnal Pendidikan Islam, 10. , 1Ae8. https://doi. org/10. 29313/tjpi. Harashani. Local Wisdom of Kampung Naga in The Era of Globalization. Jhss (Journal Humanities Social Studie. , 2. , 51Ae54. https://doi. org/10. 33751/jhss. Hasanah. Ardana. Alexsa. , & Rahmawati. PERANAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK. STIMULUS. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2. , 448Ae455. Heryadi. , & Miftahudin. Analisis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Kampung Naga. Diglosia: Jurnal Pendidikan. Kebahasaan. Dan Kesusastraan Indonesia, 7. , 117Ae https://unma. id/jurnal/index. php/dl/article/view/4573https://unma. id/jurnal/ind php/dl/article/download/4573/2658 Hidayati. Konsep Integrasi Tripusat Pendidikan Terhadap Kemajuan Masyarakat. Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 11. , 203Ae224. https://doi. org/10. 21043/edukasia. Karwati. , & Mustakim. Model Pemberdayaan Masyarakat Terintegrasi Dengan kearifan dan nilai budaya lokal melalui pendekatan sosial entrepreneurship. Jurnal Ilmiah VISI PGTK PAUD Dan Dikmas, 13. , 157Ae164. Koeswinarno. Memahami Etnografi Ala Spradley. Jurnal Smart, 1. , 257Ae265. https://doi. org/10. 18784/smart. Makhmudah. Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak. Martabat: Jurnal Perempuan Dan Anak, 2. https://doi. org/10. 21274/martabat. Ningrum. Dinamika Masyarakat Tradisional Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya. MIMBAR. Jurnal Sosial Dan Pembangunan, 28. , 47Ae54. https://doi. org/10. 29313/mimbar. Nurislaminingsih. Komariah. , & Yudha. Pemetaan Pengetahuan Lokal Sunda di Kampung Naga-Tasikmalaya. Anuva: Jurnal Kajian Budaya. Perpustakaan. Dan Informasi, 6. , 217Ae230. https://doi. org/10. 14710/anuva. Nurohman. , & Gunawan. Konstruksi Identitas Nasional Pada Masyarakat Adat: (Studi Kasus Di Kampung Naga Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalay. Journal Politics Policy, 1. , 125Ae154. https://doi. org/10. 21776/ub. Nursalis. Sofwan. Mustika. , & Loita. Kebudayaan Masyarakat Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya. Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni, 1. , 95Ae103. https://w. id/index. php/magelaran/article/view/467 Prihatmojo. , & Badawi. Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Mencegah Degradasi Moral di Era 4. DWIKA CENDEKIA Jurnal Riset Pedagogik, 4. , 142Ae152. https://jurnal. id/jdc Purnama. Kearifan Lokal Masyarakat Adat Kampung Naga Sebagai Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat. Jurnal Pendidikan Sosiologi Dan Humaniora, 12. , 30Ae36. https://doi. org/10. 26418/j-psh. Qodariah. , & Armiyati. Nilai-Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Adat Kampung Naga Sebagai Alternatif Sumber Belajar. SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial, 10. , 10Ae20. https://doi. org/10. 21831/socia. Rahmat Hidayat. Paradigma Pendidikan Profetik dalam Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Aktualisasinya di Era Disrupsi. Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan Dan Studi Keislaman, 11. , 60Ae73. https://doi. org/10. 33367/ji. 398 BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024 Robiah. Elan. , & Mulyadi. Penyelenggaraan Nilai Agama dan Moral Anak Usia Dini pada Kearifan Lokal Kampung Naga. Desember, 6. , 147Ae152. Ruqayah. Pola Asuhan Anak dalam Penanaman Nilai-nilai pada Masyrakat Kampung Naga. Kawalu: Journal of Local Culture, 2. , 63Ae80. Saeful. , & Ramdhayanti. Konsep Pemberdayaan Masyarakat Dalam Islam. SYARAoIE, 3, 1Ae17. https://stai-binamadani. e-journal. id/Syarie Saleh. Reinterpretasi Tri Pusat Pendidikan : Sebuah Telaah Kritis FilosofisPedagogis. Juornal Of Elementary Education, 03. , 58Ae63. Sapdi. Implementasi Pendidikan Nilai Dalam Tri Pusat Pendidikan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 8. , 649Ae656. https://doi. org/10. 5281/zenodo. Sugiarta. Mardana. Adiarta. , & Artanayasa. Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara (Tokoh Timu. Jurnal Filsafat Indonesia, 2. , 124Ae136. https://doi. org/10. 23887/jfi. Sujana. Fungsi Dan Tujuan Pendidikan Indonesia. Adi Widya: Jurnal Pendidikan Dasar, 4. , 29Ae39. https://doi. org/10. 25078/aw. Sukarman. Sinergitas Peran Tri Pusat Pendidikan Dalam Pembelajaran Berbasis Daring Di Masa Pandemi Covid-19. MAGISTRA: Media Pengembangan Ilmu Pendidikan Dasar Dan Keislaman, 11. , 112Ae129. https://doi. org/10. 31942/mgs. Sukmayadi. Retnasari. , & Merkuri. Penguatan Identitas Nasional Melalui Nilai Kearifan Lokal Upacara Hajat Sasih pada Masyarakat Adat Kampung Naga. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 12. , 116Ae122. https://ppjp. id/journal/index. php/pkn/article/view/14904 Sumartias. Subekti. Perbawasari. , & Bakti. Between Myths and Ethos: Framing Messages for Environmental Communication of Kampung Naga Tasikmalaya West Java. Sosiohumaniora-Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Dan Humaniora, 24. , 175Ae182. https://doi. org/10. 24198/sosiohumaniora. Suwahyu. Pendidikan Karakter Dalam Konsep Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara. INSANIA : Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 23. , 192Ae204. https://doi. org/10. 24090/insania. Swaradesy. KONSEP KEBERSIHAN MASYARAKAT KAMPUNG NAGA DALAM PERSPEKTIF ECO-PHILOSOPHY. WASKITA, 27Ae40. https://w. edu/download/66257639/Antropologi_Metafisika. pdf#page=119 Tahmidaten. , & Krismanto. Permasalahan Budaya Membaca di Indonesia (Studi Pustaka Tentang Problematika & Solusiny. Scholaria: Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 10. , 22Ae33. https://doi. org/10. 24246/j. Tarigan. Alvindi. Wiranda. Hamdany. , & Pardamean. Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Perkembangan Pendidikan di Indonesia. Mahaguru: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar , 3. , 149Ae159. https://doi. org/10. 33487/mgr. BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 9 Nomor 2. Mei 2024