Article Analisis Tindak Tutur dalam Transaksi Jual Beli Sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang Sahrul Muzekki1*. Linda Ramadhanty Januar2 STKIP PGRI Sampang. sahrul20jeky@gmal. STKIP PGRI Sampang. lindajanuar1201@gmail. * Correspondence: sahrul20jeky@gmal. Citation: Muzekki. & Januar. Analisis Tindak Tutur Dalam Transaksi Jual Beli Sapi Di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Journal of Literature Language and Academic Studies (JLLANS). Vol. 03 No. 01 April 2024, p11-19. https://doi. org/10. 56855/jllans. Academic Editor: Zaenal Arifin Abstrak: Fenomena tindak tutur dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang terdengar memiliki berbedaan antara pedagang-pedagang dipasar pada Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini difokuskan pada . bagaimana bentuk tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang, . bagaimankah kesantunan berbahasa yang terdapat dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskritif kualitatif, karena data yang diperoleh berupa deskripsi tuturan para pembeli dan penjual sapi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya penggunaan tindak tutur lokusi, iloksui, dan perlokusi dalam melakukan transaksi dan hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak semua para pedagang maupun pembeli sapi menggunakan kesantunan berbahasa tetapi juga ada yang melanggar prinsip kesantuan berbahasa. Kata Kunci: tindak tutur, pasar margalela kabupaten sampang, kesantunan berbahasa Received: February 06, 2024 Accepted: March 22, 2024 Published: April 18, 2024 Pendahuluan Copyright: A 2024 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) . ttps://creativecommons. org/license s/by/4. 0/). Berbagai permasalahan yang ada dalam komunikasi sangat dipengaruhi oleh peristiwa dan situasi tertentu. Di dalam komunikasi tidak ada tuturan tanpa situasi tutur. Situasi tutur sangat penting dalam pragmatik. Maksud tuturan yang sebenarnya hanya dapat diidentifikasi melalui situasi tutur yang mendukungnya. Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan penutur . tau penuli. dan ditafsirkan pendengar . tau Sebagai akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya dari pada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri. Tindak tutur sebagai dari pragmatik merupakan penuturan kalimat untuk menyampaikan sesuatu kepada pendengar agar apa yang menjadi maksud dari pembicara dipahami oleh pendengar yang bisa berbentuk kalimat perintah, pertanyaan, pernyataan dan sebagainya. Jenis-jenis tindak tutur dalam transaksi jual beli di pasar tradisional itulah yang menarik untuk diteliti oleh penulis. Banyaknya penjual dan pembeli khususnya di Pasar Margalela Kabupaten Sampang akan memunculkan komunikasi atau tindak tutur yang Tuturan yang muncul pada saat proses jual beli juga bervariasi ada yang bertujuan untuk menunjukkan, meminta, menyebutkan, menjelaskan, menawarkan, menganjurkan, menolak, menyetujui, berterimakasih dan lain-lain. Bersamaan dengan itu, tidak jarang penjual dan pembeli megucapkan kata-kata kasar, kata-kata menghina, bahkan diantara pembeli tersebut sampai-sampai memukul penjual atau memukul barang dagangan disaat proses tawar menawar. Hal itu terjadi ketika para pembeli tidak setuju dengan harga yang dipasang oleh penjual atau para pembeli menjelekkan barang https://journals. org/index. php/jllans E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 12 of 9 dagangan dengan tujuan mendapatkan harga yang semurah-murahnya dan menjualnya kembali ke tempat yang lain dengan harga yang tinggi. Fenomena kebahasaan ini tentu saja menarik untuk diteliti karena dapat menambah wawasan kelilmuan linguistik saat Fenomena tindak tutur dalam proses transaksi jual beli sapi di pasar Margalela Sampang ini dikaji dengan tinjauan pragmatik. Adapun alasan pengambilan tinjauan pragmatik dalam penelitian ini karena banyak muncul keterkaitan bahasa dengan unsur-unsur eksternal yang menjadi ciri khas ilmu pragmatik yang dimunculkan antara penjual dan pembeli dalam proses transaksi jual beli sapi di pasar Margalela Kabupaten Sampang. Sebagian besar tuturan yang terdapat dalam proses jual beli khususnya di pasar Margalela Kabupaten Sampang secara tidak langsung menerapkan teori tindak tutur sehingga hal tersebut menarik untuk dikaji. Peneletian ini memeliki tujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk tindak tutur yang digunakan dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Magalela Kabupaten Sampang, dan mendeskripsikan bentuk-bentuk kesantunan berbahasa yang terdapat dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Magalela Kabupaten Sampang. Metode Jenis penelitian mengenai tindak tutur dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi, atau hal lain-lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian (Arikunto, 2010:. Subyek penelitian ini adalah beberapa informan yang melakukan transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Data dari penelitian ini dipilih dan telah cukup mewakili sampel yang dibutuhkan. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu metode observasi dengan metode dokumentasi. Data yang sudah terkumpul lalu ditranskripsikan yang selanjutnya dilakukan penganalisisan. Data dianalisis menggunakan teori Milles dan Huberman . diantaranya ada reduksi data, display data, dan kesimpulan. Data collection Data display Data reduction Conclusions: drawing/verifying Gambar 1. Komponen dalam analisis data . nteraktive mode. E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 13 of 9 Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian ini adalah ada dua kategori yaitu, . bentuk-bentuk tindak tutur lokusi, iloksu, dan perlokusi, dalam transaki jual beli sapi di Margalela Kabupaten Sampang. bentuk-bentuk kesantunan berbahasa dalam transaki jual beli sapi di Margalela Kabupaten Sampang. Penggunaan Tindak Tutur dalam Trasakasi Jual Beli Sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang Penggunaan tindak tutur lokusi Berdasarkan teori, tindak tutur lokusi dibagi menjadi tiga kategori, yakni lokusi pertanyaan, pernyataan, dan perintah. Dalam kategori tindak tutur pertanyaan pada prinsipnya dapat diketahui dengan mudah. Tindak tutur pertanyaan ini sering dilakukan oleh seseorang dalam berbagai kegiatan. Penggunaan tindak tutur lokusi pertanyaan tersebut dapat dilihat seperti di bawah ini. Kutipan transaksi 1: B1: Berempah riah? Berapa ini? S1: Sangak pettok nikah Sembilan tujuh ini B1: Sangak toreh Sembilan ayo S1: Sangak nem seket. Sembilan enam lima puluh B1: Sangak pon jiah Kak Sembilan pas itu Kak Situasi pada percakapan di atas, ketika peristiawa transaksi antara pembeli (B. dan penjual (S. di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Seorang pembeli (B. menanyakan harga sapi kepada penjual (S. yang ditujunya. Peristiwa transaksi diawali oleh pembeli (B. yang menanyakan harga sapi. Warna emosi yang ditumbulkan biasa saja. Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan yang dicetak tebal. Tuturan yang dicetak tebal di atas merupakan tindak tutur lokusi pertanyaan karena tuturannya jelas untuk menanyakan sesuatu sesuai dengan apa yang dituturkan penutur tanpa ada maksud lainnya. Dalam tuturan terlihat jelas maksud dari penutur hanya utnuk mengemukakan suatu pertanyaan. Tuturan yang dilakukan oleh pembeli (B. tersebut berisi suatu pertanyaan untuk mengetahui harga sapi kepada seorang penjual (O. yang ditujunya. Tuturan pembeli (B. yang berisi pertanyaan untuk mengetahui harga sapi kepada seorang penjual (O. sapi ini yang disebut tindak tutur lokusi pertanyaan. Setelah melakukan analisis, jenis tindak tutur lokusi yang digunakan dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang ditemukan terdiri dari tiga ketegori tuturan yaitu tindak tutur lokusi pertanyaan, tindak tutur lokusi pernyataan, dan tindak tutur lokusi perintah. Dalam tindak tutur lokusi ditemukan sebanyak 88 tuturan, yakni tindak tutur lokusi pertanyaan berjumlah 49 tuturan, tindak tutur lokusi pernyataan berjumlah 33 tuturan, dan tindak lokusi perintah berjumlah 6 tuturan. E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 14 of 9 Penerapan tindak tutur ilokusi Jenis penggunaan tindak tutur ilokusi dalam peristiwa melakukan transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang, seperti tindak tutur asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif. Di bawah ini disajikan sampel dan analisis data tersebut. Kutipan transaksi 15: S11: Yak silangah yak silangah Ini silangannya ini silangannya B11: Yeh silo-lasilo la dinah. Yak sejutah seket Ya biarin meskipun silo. Ni satu jutah lima puluh S11: Tak ebegi Tidak dikasih B11: Yak telloratos Ini tiga ratus S11: Makkeh pettongatos tak ejueleh Meskipun tujuh ratus tidak dijual B11: Yak pakratos, berempah? Ini empat ratus, berapa? . ambil menepuk tangan si penjua. S11: Yak pak ebuh. Guh silang silang Ini empat ribu. Guh silang silang Situasi pada percakapan di atas ketika terjadi peristiwa melakukan transaksi antara penjual (S. sapi dan pembeli (B. di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Seorang penjual (S. sapi meuturkan sebuah kebenaran dan mengekspresikan melalui sebuah pemberitahuan atau pernyataan kepada seorang pembeli (B. Pembeli (B. menawar harga sapi seharga tiga ratus kepada penjual (S. Kemudian penjual memberitahukan bahwa meskipin tujuh ratus tidak akan dijual. Emosi yang ditimbulkan ada penekanan dari penjual (S. Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan yang dicetak tebal. Tuturan yang dicetak tebal di atas merupakan tindak tutur ilokusi asertif karena di dalam tuturan tersebut bertujuan untuk meginformasikan atau menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan kepada lawan tutur. Seorang penjual (S. sapi menyatakan bahwa meskipun dengan harga tujuh ratus tidak akan dijual. Tuturan penjual (S. sapi yang bertujuan untuk membicaraka suatu kebenaran dan diekspresikan dengan tuturan peryataan dalam bentuk penolakan. Mengenai pernyataan yang dituturkan oleh penjual (S. sapi tersebut ini yaang disebut tindak tutur ilokusi asertif. Setelah melakukan analisis, jenis tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang di temukan lima katergori data yakni tindak tutur ilokusi asertif, tindak tutur diektif, tindak tutur ekspresif, tindak tutur ilokusi komisif, dan tindak tutur deklaratif. Dalam tindak tutur ilokusi ditemukan sebanyak 98 tuturan, yakni tindak tutur ilokusi asetif berjumlah 59 tuturan, tindak tutur ilokusi direktif berjumlah 20 tuturan, tindak tutur ekspresif berjumlah 8 tuturan, tindak tutur komisif berjumlah 11 tuturan, sedangkan jenis tindak tutur ilokusi dekrlaratif tidak ditemukan dalam tuturan transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Penerapan tindak tutur perlokusi Dalam peristiwa transaksi antara penjual dan pembeli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang yang peneliti dapatkan, ditemukan data yang mengandung jenis tindak tutur perlokusi dengan berbagai klasifikasi. Klasifikasi penggunaan tindak tutur perlokusi dalam peristiwa transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 15 of 9 seperti tindak tutur perlokusi verbal dan tindak perlokusi verbal nonverbal. Di bawah ini disajikan sampel beserta analisis data tersebut. Kutipan transaksi 21: B2: Yak tos seket Ini seratus lima puluh . ambil menepuk tangan si penjua. S2: Enjek, mun ken padeeh lemaratos tak naremah Tidak, kalau hanya sama lima ratus tidak mau menerima B2: Yak duratos Ini dua ratus . ambil menepuk tangan si penjua. S2: Tak kerrah mun ebebe lemaratos Tidak mungkin kalau di bawah lima ratus Situasi pada percakapan di atas ketika terjadi peristiwa transaksi antara penjual (S. sapi dengan pembeli (B. di Pasar Magalela Kabupaten Sampang. Pembeli (B. sebelumnya telah memasang harga tawaran namun oleh penjual (S. sapi menolak. Dengan penolakan oleh penjual (S. sapi, pembeli memberikan respon dengan menaikkan lagi harga tawaran menjadi dua ratus sambil menepuk tangan si penjual (S. Warna emosi yang ditmbulkan biasa saja. Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan yang dicetak Tuturan yang dicetak di atas merupakan tindak tutur perlokusi verbal nonverbal karena pada peristiwa transaksi tersebut lawan tutur menanggapi penutur dengan ucapan . yang disertai dengan gerakan badan . Pada tuturan tersebut pembeli (B. menanggapi pernyataan penolakan dari penjual (S. sapi dengan disertai gerakan Pembeli (B. menaggapi pernyataan penolakan dari penjual (S. sapi dengan menambahkan harga tawarannya sebesar dua ratus sambil memberikan gerakan dengan menepuk tangan si penjual (S. Tanggapan dari pembeli berupa tuturan lisan Auini dua ratusAy . disertai dengan gerakan tubuh . sambil menepuk tangan si penjual (S. sapi ini yang disebut dengan tindak tutur perlokusi verbal nonverbal. Setelah melakukan analisis, jenis tindak tutur perlokusi yang terdapat dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang ditemukan dua ketegori, yakni tindak tutur perlokusi verbal, dan tindak tutur perlokusi verbal nonverbal. Dalam tindak tutur perlokusi ditemukan sebanyak 51 tuturan, yakni tindak tutur perlokusi verbal berjumlah 27 tuturan, dan tindak tutur perlokusi verbal nonverbal berjumlah 24 tuturan. Bentuk-Bentuk Kesantunan Berbahasa dalam Transaki Jual Beli Sapi di Margalela Kabupaten Sampang. Data menunjukkan sangat minimnya penggunaan prinsip kesantunan dalam berbahasa dan lebih banyak tuturan yang dituturkan oleh pembeli maupun penjual cenderung memaksa dan bersifat keras dalam berbahasa. Di bawah disajikan sampel beserta analisis data mengenai prinsip kesopanan serta pelanggarannya dalam melakukan transaksi jual bel sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. 1 Pelanggaran Maksim Kearifan Kutipan transaksi 3: S2: Padeh ollenah jerum makkeh nik-kenik nikah Sama hasilnya jarum meskipun kecil ini E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 16 of 9 B2: Marah labegi pettok seket Ayo dikasih tujuh lima puluh S2: Dibebe belluk tak ebeghieh Di bawahnya delapan tidak dikasih B2: Ariah berempah riah? Ini berapa ini? S2: Begi belluk lemak, gerus Kasih delapan lima, laris Situasi pada percakapan di atas ketika terjadi peristiwa transaksi antara penjual (S. sapi dengan pembeli (B. di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Warna emosi yang ditimbulkan bernada tinggi dan ada penekanan dari kedua pihak. Tuturan yang diucapkan oleh pembeli (B. sedikit memaksa terhadap penjual (S. sapi dalam melakukan transaksi jual beli sapi. Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan yang dicetak tebal. Tuturan yang dicetak tebal di atas merupakan pelanggaran maksim kearifan karena di dalam tuturan tersebut telah memaksimalkan kerugian dan meminimalkan keuntungan lawan tuturnya. Tuturan yang diucapkan pembeli (B. AuAyo dikasih tujuh lima puluhAy bersifat memaksa dan menimbulkan atau memaksimalkan kerugian dan meminimalkan keuntungan dari penjual (S. sapi 3 Pelanggaran Maksim Pujian Kutipan transaki 12: S2: Wak mun ngalaah tang endik roh serajeh Tuh kalau mau ngambil punyaknya saya yang besar B2: Yak pessenah ning sapolo rech Uangnya hanya sepuluh nih S2: Yak yak lakalak dubelles jutah Ini-ini ambil dua belas juta B2: Ekalaah sangak Mau diambil sembilan S2: Yeh tak olle Ya tidak dapat B2: Jek sapenah ngak jiah Sapinya seperti itu S2: Dinah Biarin Situasi pada percakapan di atas ketika terjadi peristiwa transaksi antara penjual (S. sapi dengan pembeli (B. di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Warna emosi yang ditimbukan biasa saja. Tuturan yang diucapkan oleh pembeli (B. memberitahukan bahwa sapi dagangan dari kepada penjual (S. sapi tidak bagus atau berkualitas kurang Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan yang dicetak tebal. Tuturan yang dicetak tebal merupakan pelanggaran maksim pujian karena di dalam tuturan tersebut dengan jelas memaksimalkan kecaman terhadap lawan tutur. Tuturan oleh pembeli (B. AuSapinya seperti ituAy mengejek sapi danganngan milik penjual (S. Ini yang disebut dengan pelanggaran maksim pujian. E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 17 of 9 4 Pelanggaran Maksim Kerendahan Hati Kutipan transaksi 15: S11: Ella Ba, reng randeh seandik Ba. Wallahih reng randeh Jangan Ba, janda ini yang punyak Ba. Wallahih orang janda B11: Ken ajuellagi kakeh yeh? Hanya menjualkannya saja kamu ya? S11: Iyeh Ba, enjek cocok riah Ba, tolang jiah lebur Ba lanjeng empek jiah. jek pas melleah argenah nemebuh gula pas nemmuh Iya Ba, cocok ini Ba, tulang itu bagus Ba panjang anak sapi ini. Kalau beli harganya enam ribu tidak bakalan ada. B11: Iyeh riah la sajiah Cong Iya ini sudah segitu Cong Situasi pada percakapan di atas ketika terjadi peristiwa transaksi antara penjual (S. sapi dengan pembeli (B. di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Warna emosi yang ditimbulkan ada penekana dari penjual (S. Tuturan oleh penjual (S. sapi memberitahukan bahwa sapi dagangannya berkualitas baik kepada pembeli (B. Hal tersebut bisa dilihat pada tuturan yang dicetak tebal. Tuturan yang dicetak tebal di atas merupakan pelanggaran maksim kerendahan hati karena di dalam tuturan tersebut mengandung pujian terhadap diri sendiri atau kepada barang dagangannya sendiri. Tutuan penjual (S. sapi AuIya Ba, cocok ini Ba, tulang itu bagus Ba panjang anak sapi ini. Kalau beli harganya enam ribu tidak bakalan adaAy ini berarti penjual (S. sapi memuji sapi daganganya sendiri dan itu yang disebut dengan pelanggaran maksim kerendahan hati. 5 Penerapan Maksim kesepakatan dan Kedermawanan Kutipan transaksi 15: B11: Yak Ini . ambil menambahkan uangny. S1: Ella jemak Ba seket riah ongkoseh Ba Mohon jangan Ba lima puluh ini ongkosnya Ba B11: Yeh marah rah Ya inilah S11: Marah Ba, ken polanah din reng randeh riah Ba. riah muak tong seket ebuh ongkoseh Ba, ken orengah le naremah bersse Ba nem jutah jiah. Marah kemmah sagemien riah Ba Ayolah Ba, ini karna punyaknya orang janda Ba, ini bawak satu lima puluh ribu ongkosnya Ba, biar orangnya nerima bersih Ba enam juta ini. Mana dua puluh lima ribunya Ba B11: Ladinah rah Sul Biarinlah Sul S11: Ella haram jemak Ba, engkok benni cekkak reng randeh koh, mun benni reng randeh la ebegi bik engkok Jangan haram mohon Ba, saya buka lengket tapi orang janda, kalau bukan janda sudah dikasih sama saya B11: Yak etambanah lemaebuh Ni ditambah lima ribu . ambil memberikan uan. S11: Ella, seket. Adduh masyaallah Jangan, lima puluh. Aduh masyaallah E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 18 of 9 B11: Yella yak reh seket Ya sudah ini lima puluh ribu S11: Le deiyeh Ya seperti ini Situasi pada percakapan di atas ketika terjadi peristiwa transaksi antara penjual (S. sapi dengan pembeli (B. di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Warna emosi yang ditimbulkan ada sedikit nada tinggi dan penekanan dari kedua pihak. Tuturan yang diucapkan oleh pembeli (B. memberitahukan bahawa sepakat dengan harga yang diminta oleh penjual (S. Hal tesebut dapat dilihat pada tuturan yang dicetak tebal. Tuturan yang dicetak tebal di atas merupakan penerapan maksim kesepakatan karena di dalam tuturan tersebut mengandung kesepakatan antara diri sendiri dengan orang lain atau lawan tuturnya. Tuturan pembeli (B. AuYa sudah ini lima puluh ribuAy menunjukkan kesepakatan harga yang sebelumnya sudah dipasang oleh penjual (S. Tuturan pembeli (B. tersebut memberitahukan bahwa dirinya telah sepakat dengan menambah harga tawaranya sebesar lima puluh ribu kepada penjual (S. sapi ini yang disebut dengan maksim kesepakatan. Bukan hanya itu saja pembeli (B. juga menerapkan prinsip kedermawanan karna telah memaksimalkan kerugian diri sendiri. Setelah melakukan analisis terhadap tuturan di lapangan, banyak tuturan penjual sapi maupun pembeli tidak penerapkan prinsip kesantunan dalam berbahasa dan didominasi oleh pelanggaran prinsip kesantunan. Kesimpulan dan Saran Jenis tindak tutur yang digunakan dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang terdiri dari tiga jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur lokusi. Tindak tutur ilokusi, dan tindak tutur perlokusi. Dalam tindak tutur lokusi ditemukan terdiri dari tiga ketegori tuturan yaitu tindak tutur lokusi pertanyaan, tindak tutur lokusi pernyataan, dan tindak tutur lokusi perintah. Dalam tindak tutur lokusi ditemukan sebanyak 88 tuturan, yakni tindak tutur lokusi pertanyaan berjumlah 49 tuturan, tindak tutur lokusi pernyataan berjumlah 33 tuturan, dan tindak lokusi perintah berjumlah 6 tuturan. Sementara itu tindak tutur ilokusi terdiri dari lima katergori data yakni tindak tutur ilokusi asertif, tindak tutur diektif, tindak tutur ekspresif, tindak tutur ilokusi komisif, dan tindak tutur deklaratif. Dalam tindak tutur ilokusi ditemukan sebanyak 98 tuturan, yakni tindak tutur ilokusi asetif berjumlah 59 tuturan, tindak tutur ilokusi direktif berjumlah 20 tuturan, tindak tutur ekspresif berjumlah 8 tuturan, tindak tutur komisif berjumlah 11 tuturan, sedangkan jenis tindak tutur ilokusi dekrlaratif tidak ditemukan dalam tuturan transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. Dalam tindak tutur perlokusi ditemukan dua ketegori, yakni tindak tutur perlokusi verbal, dan tindak tutur perlokusi verbal nonverbal. Dalam tindak tutur perlokusi ditemukan sebanyak 51 tuturan, yakni tindak tutur perlokusi verbal berjumlah 27 tuturan, dan tindak tutur perlokusi verbal nonverbal berjumlah 24 tuturan. Jenis prinsip kesantunan yang digunakan dalam transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang banyak yang melanggar prinsip kesantunan yang dilakukan oleh pembeli maupun pedagang sapi dari pada penerapan kesantunan berbahasa dalam melakukan transaksi jual beli sapi. Dari hasil ringkasan atau rekapitulasi data terdapat lima kategori, yakni maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, dan maksim kesepakatan. Dalam maksim kearifan berjumlah 19 tuturan E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 19 of 9 dalam bentuk pelanggaran, maksim kedermawanan berjumlah 2 tuturan dan hanya 1 tuturan yang berbentuk pelanggaran, maksim pujian berjumlah 4 tuturan dalam bentuk pelanggaran, maksim kerendahan hati berumlah 8 tuturan dalam bentuk pelanggaran, dan maksim kesepakatan berjumlah 1 tuturan dalam bentuk penerapan maksim kesepakatan. Sedangakan untuk maksim simpati peneliti tidak menemukan dalam tuturan transaksi jual beli sapi di Pasar Margalela Kabupaten Sampang. References