Jurnal JAPS Volume 6. Nomor 2 Agustus 2025 P-ISSN: 2722-161X E-ISSN: 2722-1601 DOI:10. 46730/japs. Dampak Implementasi Kebijakan Pendidikan Seks Di SMP Negeri 2 Meureubo Terhadap Perilaku Peserta Didik Roza Amalia1. Agus Pratama2 Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teuku Umar Email: rozaamalia58@gmail. Kata kunci Abstrak Pendidikan Seksual. SMP Negeri Meureubo. Impelemntasi Kasus kekerasan seksual seperti sex bebas, pergaulan bebas di Indonesia terus terjadi. SMP Negeri 2 Meureubo merupakan lembaga sekolah yang memiliki kasus tersebut. Pendidikan seksual merupakan pendidikan sex yang sangat penting diimplementasikan di lembaga pendidikan tingkat pertama. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak implementasi kebijakan pendidikan seksual di SMP Negeri 2 Meureubo Terhadap Peserta Didik. Menggunakan metode kualiatif deskriptif dengan teori kebijakan oleh George C. Edward i yaitu dengan melihat empat indikator antara lain: Komunikasi. Sumber Daya. Disposisi, dan Struktur Birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan Dampak program terlihat dalam peningkatan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga perilaku dan melindungi diri dari pelecehan seksual. Namun, tantangan masih ada dalam mengubah perilaku sebagian siswa secara menyeluruh. Dengan upaya yang berkelanjutan, seperti pelatihan dan bimbingan tambahan di masa depan, program ini memiliki potensi untuk terus memperkuat pembentukan sikap dan perilaku positif siswa. Keywords Sexual Education. Meureubo State Middle School. Policy Abstract Cases of sexual violence such as free sex and promiscuity in Indonesia continue to occur. SMP Negeri 2 Meureubo is the school institution that has this case. Sexual education is sex education which is very important to be implemented in first level educational institutions. This research aims to see the impact of implementing sexual education policies at SMP Negeri 2 Meureubo on students. Using descriptive qualitative methods with policy theory by George C. Edward i, namely by looking at four indicators, including: Communication. Resource. Disposition. Bureaucratic Structure. The research results show that the impact of the program is seen in increasing students' awareness of the importance of maintaining behavior and protecting themselves from sexual harassment. However, challenges remain in changing the behavior of some students completely. With continued efforts, such as additional training and guidance in the future, this program has the potential to continue to strengthen the formation of positive attitudes and behavior in students. Pendahuluan Kasus kekerasan seksual di Indonesia telah menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir, dengan tingkat kejadian yang semakin meningkat. Menurut data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), jumlah laporan kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia pada tahun 2020 mencapai angka yang mengkhawatirkan, dengan lebih dari 5. 000 kasus dilaporkan (Wahyuningsih Yulianti. Namun, fakta ini mungkin hanya dapat mencerminkan sebagian kecil dari gambaran sebenarnya, untuk mengingat banyak kasus kekerasan seksual yang tidak dilaporkan karena faktor stigma, ketakutan, dan kurangnya kesadaran akan hak-hak korban (Rizal, 2. Penanganan hukum terhadap pelaku juga masih menjadi tantangan, dengan rendahnya tingkat pengadilan dan hukuman yang seringkali tidak memadai. Kondisi ini menunjukkan perlunya tindakan yang lebih keras dan terkoordinasi dari pemerintah, lembaga masyarakat, dan individu untuk mencegah dan mengatasi kekerasan seksual di Indonesia (Harlen, 2. Menurut data kementrian Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak mencatat kasus kekerasan seksual terhadap anak di Tingkat SMP mencapai 5. 838 yang menjadi korban sebanyak 5. 095 perempuan dan 1. 270 laki-laki sepanjang tahun 2024. Provinsi Aceh secara keseluruhan memiliki angka atau jumlah kasus sebanyak 217 kasus kekerasan seksual pada anak Tingkat SMP sepanjang tahun 2024 (Kemenpa,2. Berdasarkan data tersebut kasus kekerasan seksual sangat berdampak dan banyak merugikan calon-calon generasi bangsa di masa yang akan datang. Kasus kekerasan seksual semakin hari semakin menjamur, anak-anak di Aceh sering mengalami kasus kekerasan seksual, seks bebas, pornografi dan kejahatan yang berhubungan dengan seks belum pada waktunya (Septiani, 2. Oleh karena nya jika di sekolah terdapat pendidikan seksual atau kebijakan terkait dengan pendidikan seksual maka anak-anak akan lebih terarah dan paham akan dampak negatif yang mungkin bisa saja terjadi menimpa mereka. Sekolah menjadi tempat yang paling aman dalam memberikan pendidikan seksual dikarenakan dalam faktor waktu, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu belajar di sekolah dan berjumpa dengan guru serta temanteman sebaya (Rachmayanti, 2. Kekerasan seksual merupakan tindakan pemaksaan yang dilakukan secara fisik maupun non fisik yang dapat merusak karena mengarah pada perbuatan pelecehan terhadap korban (Suhadianto & Ananta, 2. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMP Negeri 2 Meureubo, lembaga sekolah SMP Negeri 2 Meureubo memiliki masalah terhadap kekerasan seksual yang dialami oleh peserta didik. Masalah tersebut terjadi karena kurangnya edukasi atau pengetahuan siswa terkait dengan bahaya dan dampak terhadap kekerasan seksual di sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah bersama guru BK dan Pusat Informasi Konseling Remaja di SMP Negeri 2 Meureubo mengambil kebijakan membuat Pendidikan seksual di sekolah bersama dengan Mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa dari Universitas Teuku Umar. Program tersebut telah dilaksanakan sejak akhir tahun 2023, saat ini program tersebut telah dilaksanakan oleh kader yang di bentuk yaitu pada organisasi Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R). Program yang di jalankan berbentuk edukasi secara digital dan langsung. Pendidikan seksual sangat penting dilakukan terutama di tingkat lembaga Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena anak-anak SMP sangat rentang terjerat dalam kasus tersebut (Hudat et al. , 2. Anak-anak di tingkat SMP cenderung lebih suka melakukan hal-hal yang baru dan lebih banyak penasaran terhadap sesuatu yang belum pernah di cobanya (Sartika et al. , 2. Pendidikan seks yang diselenggarakan di tingkat SMP memiliki peran yang sangat penting dalam membantu remaja untuk memahami perubahan fisik dan emosional yang mereka alami selama masa pubertas (Magta & Yeni Lestari, 2. Dengan memahami proses ini secara lebih baik, anak-anak akan lebih mampu mengelola emosi dan perasaan mereka dengan sehat, serta membuat keputusan yang bijaksana terkait dengan kesehatan Selain itu, pendidikan seks di SMP juga penting dalam membantu mencegah perilaku seksual yang tidak sehat, seperti kekerasan seksual, pelecehan, dan kehamilan pada usia remaja yang dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan psikologis dan fisik mereka. Dengan demikian, kebijakan pendidikan seks yang terintegrasi dan menyeluruh di tingkat SMP menjadi sangat penting dalam membentuk perilaku yang positif dan kesehatan seksual yang baik pada masa dewasa mereka (Yassir et al. , 2. Sekolah merupakan salah satu lembaga institusi pendidikan menengah yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan perilaku peserta didik (Yassir et , 2021. Sebagai bagian dari sistem pendidikan formal, sekolah ini memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan yang holistik kepada siswa, termasuk dalam hal pendidikan seks (Prabawati & Ni Wayan Supriliyani, 2. Di sekolah, anak-anak dapat menerima informasi yang akurat dan terperinci tentang berbagai hal, serta pentingnya pengambilan keputusan yang yang tepat. Selain itu, sekolah juga memberikan kesempatan untuk membahas secara terbuka dan mendalam tentang nilai-nilai seperti penghargaan diri, penghormatan terhadap keberagaman, serta pentingnya komunikasi yang efektif dalam hubungan interpersonal, yang semuanya merupakan aspek penting dari pendidikan seksual yang berkelanjutan (Faruq, 2. Dengan demikian, melalui pendekatan yang terintegrasi dan mendukung di sekolah, sehingga anak-anak dapat dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk membuat keputusan yang bijaksana dan sehat dalam kehidupan mereka sehari-hari (Hikmah Muhaimin et al. , 2. Dari program yang telah dilaksanakan oleh pihak sekolah, perlu adanya evaluasi dampak efektivitas dari implementasi kebijakan yang telah diambil dalam menyelesaikan masalah (Delia Alfrianty et al. , 2. Tentunya dalam menggunakan media gital dalam pelaksanaan program edukasi pendidikan seksual sesuai dengan perkembangan teknologi yang sangat mudah di akses (Nastasya et al. Implementasi kebijakan akan berjalan lancar jika dilakukan evaluasi dan sosialisasi agar efektif sesuai dengan yang diharapkan (Ansar et al, 2. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bernadetha et al . mengatakan bahwa pendidikan seksual hanya dilakukan di dalam keluarga saja (Nadeak et al, 2. Selanjutnya penelitian lain yang dilakukan oleh Ipah et al, . mengatakan bahwa remaja SMP dan SMA memiliki pandangan yang cukup positif terkait dengan pendidikan seksual, oleh karena nya pendidikan seksual ini tidak akan terlihat tabu jika dilakukan guna menghindari hal-hal yang tidak di inginkan (Ipah Saripah et al. Penelitian lain yang dilakukan oleh Nurbaiti et al . mendapati bahwa 100% pendidikan seksual penting dilakukan di tingkat SMP karena guru menjadi orang yang sangat berperan dalam membentuk pemahaman anak tentang pendidikan seksual (Nurbaiti et al. , 2. Beranjak dari latar belakang dan penelitian terdahulu penelitian terkait AuDampak Kebijakan Pendidikan Seks Di Smp Negeri 2 Meureubo Terhadap Perilaku Peserta DidikAy penting untuk dilakukan guna mengetahui bagaimana dampak kebijakan pendidikan yang telah dilakukan di SMP Negeri 2 Meureubo apakah memiliki dampak perubahan perilaku atau tidak terhadap peserta didik yang telah mengikuti program Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. penelitian kualitatif deskriptif Menurut Krisyantono . yang menjelaskan bahwa penelitian kualitatif deskriptif merupakan sebuah penelitian dengan menggunakan data-data yang diperoleh baik dari hasil wawancara, ataupun dengan hasil observasi lapangan yang dilakukan selama masa penelitian berlangsung. Kemudian data-data tersebut dinarasikan atau dikembangkan dengan data-data yang sudah didapatkan dengan kata-kata yang disusun untuk menggali data yang lebih dalam terkait dengan dampak kebijakan pendidikan seksual di SMP Negeri 2 Meureubo. Penelitian ini menggunakan teori kebijakan oleh George C. Edward i yaitu dengan melihat empat indikator antara lain: Komunikasi, sumber daya, disposisi, struktur birokrasi. Adapun sumber data primer dari penelitian ini yaitu dari data wawancara mendalam, analisis dokumen dan observasi. Selanjutnya sumber data sekunder dari penelitian ini yaitu bersumber pada jurnal dan buku terkait dengan Lokasi penelitian ini yaitu di SMP Negeri 2 Meureubo, dengan objek penelitian yaitu dampak kebijakan pendidikan seksual dengan informan kunci dari penelitian ini yaitu terdiri dari . Kepala Sekolah. Pembina Pusat Informasi Konseling Remaja. Selain informan kunci adapun informan pendukung dari penelitian ini yaitu peserta didik yang menjadi pengurus dalam Pusat Informasi Konseling Remaja sebanyak 3 orang perwakilan yang terdiri dari ketua, sekretaris dan anggota. Setelah data terkumpulkan adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Pembentangan data. Reduksi data. Verifikasi data dan Penarikan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Hasil dan Pembahasan SMP Negeri 2 Meureubo merupakan sekolah pertama yang menjadi lokasi fokus program pengabdian masyarakat oleh tim PKM-PM Pendidikan Seksual. Pada program ini tim mengedukasi siswa tentang pendidikan seksual karena sekolah ini telah diobservasi dan hasil menunjukkan bahwa pengetahuan tentang seks bebas, pergaulan bebas, dan kekerasan seksual yang masih sering terjadi dikalangan siswa atau peserta Program pengabdian tersebut telah berlangsung selama empat bulan dan pasca pelaksanaan tim telah berhasil membentuk kader PIK-R Aneuk Meutuah dan sekolah telah mengeluarkan kebijakan tentang pendidikan seksual di sekolah tersebut untuk menunjukkan komitmen sekolah bahwa pentingnya peran sekolah dalam menjaga siswa dari perilaku yang menyimpang. Oleh karenanya, penelitian ini melihat bagaimana dampak implementasi dari program pendidikan seksual yang telah dilakukan pasca pengabdian tersebut dengan menggunakan teori implementasi kebijakan oleh George C Edward i yang diliat dari segi Komunikasi. Sumber Daya. Disposisi dan Struktur Birokrasi hasil penelitian dan pembahasanya yang telah didapati antara lain sebagai Komunikasi Hasil penelitian dalam bidang komunikasi pada pihak sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, pembina PIKR, penasehat PIKR serta kader PIKR memberi tanggapan bahwasanya kebijakan pendidikan seksual yang telah dilakukan disekolah memiliki dampak yang sangat penting sebagaimana hasil wawancara yang telah dilakukan berikut AuMenurut kami sebagai kepala sekolah pendidikan seks ini perlu, arti nya masih dalam batas pelajaran untuk di ketahui oleh siswa atau anak yang berusia nya antara 12 sampai 18 tahun ini usia remaja dan ini memang perlu diajarkan dan diberitahukan kepada si anak. bahwa pendidikan seks itu menunjang untuk siswa agar dia tau apa untung rugi nya dari seks itu seks itu sendiri dalam tanda kutip mungkin perlu berkelanjutan untuk pendidikan yang semacam ini tapi masih dalam batas batas tertentu arti nya moral dan keagamaan kita jaga. ya efektif artinya siswa tau dia kalau dia berbuat begini artinya resikonya ini kan begitu kalau dia berbuat begini berarti permasalahan yang akan timbul begini gitu contoh lain ketika siswa seorang katakan lah terlanjur dia dalam hubungan seksual lalu dia hamil ternyata hamil ini kan terjadi kefatalan bagi si pelaku jadi makanya pendidikan seks itu juga perlu untuk di tindak lanjuti agar si siswa tau apa akibat sebab dan akibat dari pada seks itu sendiriAy (Ibnu Abas. Kepala Sekolah 2. AuSaya rasa bagus karena sesuai dengan keadaan sekarang yaitu siswa itu terlalu kurang memahami mengenai seksual padahal itu sangat penting untuk kehidupan menurut saya efektif tapi secara keseluruhan untuk SMP 2 Meureubo khusus nya itu anak-anak nya tu kurang memahami tentang seksual itu jadi perlu di informasikan lebih detail lagiAy (Maisarah Hafli. Pembina PIK-R 2. AuMenurut ibu kebijakan yang diterapkan di smp negeri 2 meureubo itu memang sudah sangat benar karena memang pendidikan seks itu memang kita seperti tadi kata nya tidak boleh ada duduk antara laki dengan perempuan itu tidak boleh, kemudian film-film porno tidak boleh itu memang sangat dilarang karena bisa membahayakan kepada siswa-siswa itu sendiriAy (Ratna Juita. Penasehat/Guru Selanjutnya, pertanyaan terkait dampak juga peneliti tanyakan pada siswa yang merupakan pengurus PIK-R : AuSemenjak ada nya PIK-R di sekolah SMP ini banyak yang nama nya pelecehan seksual tapi semenjak sudah ada kader PIK-R di smp ini sudah kekurangan karena kader-kader itu yang mengingatkan orang itu. sebagai kader kami selalu mengingatkan orang yang terjadi dalam pelecehan walaupun kami sudah mengingatkan tapi kalau mereka tetap buatkan itu tanggung jawab nya bukan dikami lagiAy (Alfa. Pengurus PIK-R 2. AuSelama ada PIK-R ni masih ada jugak yang gimana ya kita bilng. iya kasus-kasus itu tapi lebih jarang. iya mempengaruhi juga sedikit, enggak semua tapi rata-rata sihAy (Kia. Pengurus PIK-R 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan seksual yang diterapkan di SMP Negeri 2 Meureubo memberikan dampak positif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang seksualitas. Kepala sekolah menekankan bahwa pentingnya pendidikan seksual ini dalam membekali siswa usia 12-18 tahun agar memahami konsekuensi dari tindakan seksual serta menjaga moral dan nilai keagamaan. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mencegah perilaku yang dapat berdampak negatif, seperti kehamilan di luar nikah, dengan memberikan pemahaman tentang sebab-akibat dari aktivitas seksual. Pembina PIK-R juga mengungkapkan bahwa siswa di sekolah tersebut cenderung memiliki pemahaman yang minim tentang seksualitas, sehingga pendidikan ini perlu diperkuat melalui informasi yang lebih terstruktur dan detail. Selain itu, penasehat PIK-R menyatakan bahwa kebijakan ini sudah tepat, terutama dalam melarang hal-hal yang dapat memicu perilaku negatif, seperti duduk berdekatan antara laki-laki dan perempuan serta akses terhadap konten pornografi. Dari sisi siswa yang menjadi kader PIK-R, keberadaan program ini terbukti membantu mengurangi kasus pelecehan seksual di sekolah. Kader PIK-R berperan sangat aktif dalam mengingatkan dan mengedukasi teman-temannya, meskipun belum sepenuhnya dapat menghilangkan kasus-kasus tersebut. Namun, siswa mengakui bahwa program ini secara bertahap mengubah pola perilaku, meskipun efeknya masih memerlukan penguatan lebih Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seksual berbasis moral dan pengawasan aktif memberikan dampak yang signifikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan sadar akan isu seksualitas. Selanjutnya, peneliti menggali pertanyaan terkait dengan perubahan dalam perilaku komunikasi peserta didik di lingkungan sekolah setelah implementasi kebijakan pendidikan seks, seluruh informan memberikan jawaban adanya perubahan dari segi komunikasi yang telah terjalin selama ini: AuTentu ada perubahan setelah terjadi ada kebijakan itu implementasi nya ada perubahan walau tidak secara siknifikan kemudian dia bertahapAy (Kepala Sekolah. AuAdasih perubahan nya yang awalnya mereka tidak tau itu hanya candaan saja tapi sebenarnya secara mendetail itu lebih ke arah apa nama nya tu pelecehan itu jadi mereka bisa membedakan gimana yang bersenda dimana yang memang pelecahan seksual. kalau untuk berbagi mengenai masalah seksual itu jangan ke kepada guru terkadang sama orang tua pun mereka masih malu untuk membicarakan karena itu adalah bersifat sensitifAy (Pembina PIK-R 2. AuAda misalnya lagi jalan anak-anak kan tiba-tiba nanti ada yang pegang ini nya, ada yang pegang apa, ada yang pegang pantat nya, ada yang pegang dada nya itu mereka melaporkan keguru misalnya mereka tidak senang kalau ada orang yang melakukan begituAy (Penasehat PIKR-R/ Guru 2. Dari hasil tersebut, informan pendukung yang merupakan siswa atau pengurus PIKR juga membenarkan adanya perubahan : AuAda di smp ini waktu tu sebelum ada kader mereka itu bebas tapi semenjak sudah ada kader mereka itu kayak mana kita bilang kayak ngk berani gitu karena sudah kami ingatkan bahwa perilaku ini tidak bagusAy (Siswa/Pengurus PIK-R, 2. Auiya ada perubahan kak, karena awalnya banyak teman-teman yang gak mau mengadukan kasus nya, tapi adanya kami sekarang banyak yang mau terbukaAy (Siswa/Pengurus PIK-R, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perubahan positif dalam perilaku komunikasi peserta didik di lingkungan sekolah setelah implementasi kebijakan pendidikan seksual. Kepala sekolah mencatat bahwa meskipun perubahan terjadi secara bertahap dan belum signifikan, dampaknya sudah mulai dirasakan. Pembina PIK-R menambahkan bahwa siswa kini lebih mampu membedakan antara candaan dan pelecehan seksual, meski masih ada rasa enggan untuk berbicara secara terbuka mengenai isu seksual karena sifatnya yang sensitif. Guru sebagai penasehat PIK-R juga melihat peningkatan keberanian pada siswa untuk melaporkan tindakan yang mereka anggap tidak pantas, seperti pelecehan fisik. Dari perspektif siswa yang menjadi kader PIK-R, mereka mengamati bahwa ada perubahan perilaku teman-temannya, di mana siswa menjadi lebih waspada dan teredukasi tentang pentingnya menjaga batas perilaku. Selain itu, siswa yang sebelumnya enggan mengadukan kasus yang mereka alami dan kini lebih terbuka untuk berbagi dengan kader PIK-R, untuk menunjukkan bahwa program ini berhasil menciptakan ruang komunikasi yang lebih aman dan suportif di sekolah. Untuk mengetahui sebagai perubahan yang telah terjadi peneliti menanyakan bagaimana tentang penggunaan media atau materi pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan seks di SMP Negeri 2 Meureubo selama ini: Aubagus dan juga memadai artinya ilmu itu sampai ke si anak udah sangat efektifAy (Kepala Sekolah, 2. Auwebsite itu bagus bisa maksud nya lebih informasi nya tu lebih besar gitu karena banyak orang yang memang membaca nya termaksud juga siswa siswi Smpn 2 Meureubo jadi kita share dan mereka membaca jadi ngk harus cara mengkomunikasi langsung dengan media pun kita juga bisa. Efektif ya Cuma untuk tindak lanjut lagi karena memang terkadang kan siswa itu lupa dengan hal-hal yang peraturan-peraturan sebenarnya hal peraturan yang harus di lebih di tingkatkan lagi istilah nya begini mereka mengetahui mengenai seksual itu tetapi mereka kurang memahami hukum nya misalnya kita membuat seksual itu mendapatkan hukuman berapa tahun penjara terus harus juga memberitaukan informasi dan mereka tidak semena-mena terhadap orang lainAy (Pembina PIK-R. AuMemang cocok maksunya media yang mereka berikan itu memang sangat bagus dengan ada media itu siswa lebih mengerti dengan ada gambar-gambar gitu kanAy (Guru/Penasehat, 2. Pengurus juga memiliki opini yang sama terkait dengan penggunaan media pembelajaran pendidikan seksual sejauh ini sangat efektif : AuKalau sudah ada media itu bisa kita edit mereka melihat nya dengan enak begitu jadi i yang enggak boleh kita lakukan jadi gini lah pokok nya. menurut alfa efektif dalam selama pendidikan iniAy (Siswa/Pengurus PIK-R, 2. Aumenurut akia bagus, bijak juga mudah di pahami iya efektif lebih mudah di pahamiAy (Siswa/ pengurus PIK-R, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media dan materi pembelajaran dalam pendidikan seksual di SMP Negeri 2 Meureubo dinilai sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Kepala sekolah menilai bahwa materi yang digunakan pada program ini sudah memadai dan mampu menyampaikan informasi penting secara jelas kepada siswa. Pembina PIK-R menambahkan bahwa penggunaan media digital, seperti website, memberikan dampak positif karena dapat menjangkau siswa lebih luas dan memberikan akses informasi yang lebih besar. Namun, ia juga menekankan perlunya peningkatan dalam memberikan pemahaman terkait aspek hukum yang berhubungan dengan perilaku seksual, sehingga siswa tidak hanya memahami konsekuensi moral tetapi juga sanksi hukum yang berlaku. Dukungan serupa juga disampaikan oleh guru dan pengurus PIK-R. Guru menyatakan bahwa media pembelajaran yang dilengkapi dengan visual, seperti gambar, membantu siswa untuk lebih memahami materi. Siswa yang menjadi pengurus PIK-R juga menyebutkan bahwa media yang digunakan efektif karena menyajikan informasi secara menarik dan mudah dipahami, sehingga mampu membantu siswa untuk membedakan mana perilaku yang benar dan salah. Keseluruhan temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran yang interaktif dan informatif memainkan peran penting dalam keberhasilan pendidikan seksual di sekolah ini. Meskipun efektivitas media dan materi pembelajaran telah terbukti dalam meningkatkan pemahaman siswa, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan seksual di SMP Negeri 2 Meureubo. Salah satu tantangan utama adalah perlunya pembaruan materi secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman serta perubahan sosial dan budaya. Materi yang tidak diperbarui berisiko menjadi kurang menarik atau tidak sesuai dengan kebutuhan siswa pada saat ini. Selain itu, meskipun media digital telah memberikan dampak positif dalam penyebaran informasi, tidak semua siswa bisa memiliki akses yang sama terhadap Faktor seperti keterbatasan perangkat elektronik dan koneksi internet dapat menjadi kendala bagi beberapa siswa dalam mengakses informasi yang disediakan melalui website atau media digital lainnya. Oleh karena itu, perlu adanya strategi tambahan, seperti penyediaan materi dalam bentuk cetak atau sesi diskusi langsung, agar seluruh siswa dapat memperoleh pemahaman yang setara. Lebih lanjut, pembelajaran mengenai aspek hukum dalam pendidikan seksual juga menjadi perhatian yang perlu ditingkatkan. Pemahaman siswa tentang hukum yang berkaitan dengan perilaku seksual, seperti perlindungan anak dan hukum kekerasan seksual, masih terbatas. Untuk mengatasi hal ini, pihak sekolah dapat berkolaborasi dengan instansi terkait, seperti kepolisian atau lembaga perlindungan anak, guna memberikan pemahaman yang lebih mendalam melalui seminar atau lokakarya. Dengan mengatasi tantangan-tantangan tersebut, pendidikan seksual di SMP Negeri 2 Meureubo dapat menjadi lebih komprehensif dan inklusif. Pendekatan yang menggabungkan berbagai metode pembelajaran serta melibatkan berbagai pihak akan semakin memperkuat efektivitas program ini dalam membentuk pemahaman dan sikap positif siswa terhadap kesehatan reproduksi dan perilaku seksual yang bertanggung Sumber Daya Hasil penelitian terkait Sumber Daya yang ada di SMPN 2 Meureubo dalam kebijakan serta program pendidikan seksual yang telah diimplementasikan terkait bagaimana dukungan pihak-pihak terkait dalam program ini antara lain semua pihak saling mendukung dalam pelaksanaan program : AuBaik kami sangat mendukung langkah-langkah untuk selanjutnya kami mohon ditindak lanjuti untuk diteruskan sampai setiap tahun nya ada perubahan dari tingkah laku si siswa tentang pemahaman seks pemaham seks ya pendidikan seks yang di adakan disekolah kita seperti ada panguyuban yang kemaren apa nama nya apa. iya itu pikr ya. jadi jadi adalah satu panguyuban organisasi atau ya payung dari pada si anak si siswa untuk saling berbagi informasi tentang pendidikan seks itu sendiriAy (Kepala Sekolah, 2. AuPasti, dukungan nya mungkin untuk kedepan akan di tegakkan lagi karena memang setiap tahun nya itu pasti ada ya orang dari luar itu baik dari puskesmas kadang-kadang ada dari dinas sosial itu datang kesekolah karena memang di sini sekolah ini pernah juga membentuk PIK-R kekgitu ya memang mengarahnya arah nya lebih materi nya juga salah satu pendidikan seksual. kalau itu sih lebih ke kita lebih ke infomasikan lagi kemudian kita punyak PIK-R salah satunya kita punyak pamplet yang udah di buat di depan sekolah bahwa kita itu punya pusat informasi konseling itu salah satu nya pendidikan seksualAy (Pembina PIK-R, 2. AuKalau sekolah sangat mendukung misalnya ada anak-anak yang membawa HP menonton film porno jadi anak itu bisa diambil HP nya atau bisa anak itu dikeluarkan dari sekolah langsung sanksiAy (Guru/Penasehat, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya dan dukungan berbagai pihak di SMPN 2 Meureubo menjadi kunci dalam keberhasilan pelaksanaan program pendidikan Kepala sekolah menegaskan pentingnya kesinambungan program ini setiap tahun dan menyoroti keberadaan PIK-R sebagai wadah siswa untuk berbagi informasi dan belajar tentang pendidikan seksual. Pembina PIK-R juga menekankan dukungan eksternal dari puskesmas dan dinas sosial yang berkontribusi melalui materi edukasi dan penguatan program, termasuk penyediaan pusat informasi konseling. Selain itu, guru menyampaikan bahwa dukungan sekolah terlihat dalam penerapan sanksi tegas terhadap pelanggaran, seperti larangan menonton konten pornografi, untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran. Secara keseluruhan, kolaborasi internal dan eksternal menunjukkan komitmen kuat untuk mendukung pendidikan seksual yang berkelanjutan di sekolah. Terkait dengan dukungan dari pihak-pihak tersebut pengurus PIK-R juga membenarkan adanya dukungan yang sangat baik yang telah terjalin selama ini : AuGuru-guru sekolah ini sangat mendukung pada kader-kader PIK-R karena mereka tau sendiri bahwa masalah-masalah di SMP ini terlalu banyak tapi semenjak sudah ada kami guru-guru itu melibatkan semua ke kami misalnya menyuruh kami mengurangi masalah-masalah disiniAy (Siswa/Pengurus, 2. AuSebagian mendukung penuh kak, seperti pembina, kepala sekolah dan guruAy (Siswa/Pengurus, 2. Selanjutnya peneliti melihat bagaimana apakah kader terlibat aktif setelah PKM selesai dan melanjutkan program pendidikan seks dengan baik: AuUntuk keaktifan siswa yang lebih tau pembinnya, karena yang sering koordinasi itu pembina, saya rasa mereka cukup aktifAy (Kepala Sekolah, 2. AuMereka antusias sekali untuk melahirkan web nya Cuma ya memang siswa ya mereka lebih fokus belajar gitu tetapi untuk lingkungan sekitar mereka sudah memberikan informasi kepada teman-teman nya satu sekolah smp ini mereka tau bahwa kita itu bersenda boleh tapi tidak boleh sampai melakukan pembicaraan atau tindakan yang mengarah kepada pelecehanAy (Pembina PIK-R, 2. AuKader-kader yang sudah di latih kemarin sudah,dibina mereka berkerja dengan sangat baikAy (Guru/Penasehat, 2. Pengurus PIK-R juga membenarkan bahwa selama ini mereka aktif dalam melaksanakan kebijakan tersebut : AuAktif selama ini walaupun tidak ada lagi pelatihAy (Siwa/Pengurus, 2. AuAktif kak, tapi sebagaian pengurus ada juga yang lalaiAy (Siwa/Pengurus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan dari pihak sekolah terhadap pengurus PIK-R di SMPN 2 Meureubo sangat baik dan berkontribusi dalam keberhasilan pelaksanaan program pendidikan seksual. Para guru secara aktif mendukung kader PIKR dengan melibatkan mereka dalam upaya mengurangi masalah yang terjadi di sekolah. Kepala sekolah dan pembina PIK-R juga mengakui antusiasme siswa dalam menjalankan program ini, termasuk inisiatif untuk menyebarkan informasi kepada teman-teman mereka, meskipun prioritas utama siswa tetap pada kegiatan belajar. Guru menilai bahwa kader yang telah dilatih menunjukkan kinerja yang baik, sementara siswa PIK-R sendiri mengonfirmasi bahwa mereka tetap aktif melaksanakan kebijakan meskipun ada beberapa pengurus yang kurang konsisten. Dukungan yang berkelanjutan dan koordinasi yang solid antar pihak menjadi kunci dalam menjaga efektivitas program ini di sekolah. Disposisi Selanjutnya pada disposisi peneliti menggali data tentang adanya perubahan disposisi atau sikap peserta didik terkait dengan topik-topik pendidikan seks setelah implementasi kebijakan ini di SMP Negeri dan perubahan tentang seksualitas di sekolah: AuSaya melihat memang ada perubahan yang kita liat disana setelah pelatihan kemaren nya namun keberlanjutan nya karena kami sebagai kepala sekolah kan tidak setiap hari bisa memantau itulah tidak bisa memantau dari dekat seringsering ya dari wali-wali kelas dan wakil kepala sekolah dibidang kesiswaan nantik kita ya kami pikir ya di format dengan bagus ya jelas sehingga si siswa terpantau apa yang dia sudah lakukan dan bagaimana efek dari pada pendidikan itu sendiriAy (Kepala Sekolah, 2. Auya seperti yang saya sampaikan tadi itu sangat perubahan nya sangat bagus ya memang mereka dari awal tidak tau ya karena seakan-akan itu Cuma hal biasa padahal informasi dari psikologi itu bisa mengganggu mental orang karena memegang atau membicarakan hal-hal yan hal bagian sensitif itu kepada temanteman nya. ya ada contoh nya kayak kemaren itu ada temannya yang vidio seks itu jadi mereka sudah paham tidak menyebar sembarangan vidio tersebut karena memang udah tau bahwa itu bisa di masukan dalam undang- undang pelecehan seksual dan itu tidak boleh disebarkan luaskanAy (Pembina PIK-R, 2. AuAda perubahan di antara anak-anak seperti, kalau kemaren mereka misalnya ada duduk antara laki-laki dan perempuan mungkin dengan ada nya pendidikan ini mereka sudah tau bahwa tidak boleh dekat-dekat sama laki-laki. ada batasanbatasan nyaAy (Guru/Penasehat, 2. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan disposisi atau sikap peserta didik terkait topik pendidikan seks setelah implementasi kebijakan di SMP Negeri 2 Meureubo. Kepala sekolah mencatat bahwa meskipun ada perubahan positif yang terlihat, keberlanjutan pemantauan perilaku siswa membutuhkan pengelolaan yang lebih sistematis oleh wali kelas dan pihak kesiswaan. Pembina PIK-R menambahkan bahwa siswa kini lebih sadar akan dampak negatif dari tindakan yang melibatkan bagian tubuh sensitif, termasuk memahami implikasi hukum dari penyebaran konten yang melanggar, seperti video yang mengandung unsur pelecehan seksual. Guru juga melihat perubahan dalam interaksi siswa, di mana mereka mulai menjaga batasan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Secara keseluruhan, pendidikan seksual telah membantu membentuk kesadaran siswa terhadap perilaku yang lebih bertanggung jawab dan sesuai dengan norma yang berlaku. Dari pengurus atau siswa juga mengalami perubahan sebagaimana yang telah terkonfirmasi oleh pengurus antara lain sebagai berikut : AuDulu nya pas sebelum ada kader mereka ini enggak takut gitu kepada siapa pun mau ngomong apa pun, melakukan apa pun, tapi semenjak tahun kemarin kan ada PIK-R mereka itu mulai takut dan terus orang itu menyadari bahwa kelakuan mereka itu tidak baikAy (Siwa/Pengurus, 2. AuMasi ada juga yang melakukan ada juga yang udah berubah, selama adanya PIKR ini kakAy (Siswa/Pengurus, 2. Selanjutnya peneliti melihat apakah pendidikan seks di sekolah ini telah membantu dalam membentuk sikap positif peserta didik terhadap pengambilan keputusan yang sehat dan bertanggung jawab terkait dengan seksualitas mereka : AuIya seperti saya katakan tadi jadi ya setelah mereka tau artinya mereka tidak melakukan nya lagi berarti itu memang sudah sewajarnya terjadi dan ada yang tidak sewajarnya terjadi dan melanggar moral dan agama akhlak misalnya ya perilaku kurang baik kurang sopan ya kurang hajar terhadap kawan nya yang lain sehingga berakibat bagi kelakuan dia yang tidak baik gitu si perempuan ini menjadi bulan bulana menjadi hidup dia menjadi sebuah tekanan yang dilakukan di oleh si pelaku yang tidak yang belum tau tentang pendidikan seks tadi jadi ya artinya pendidikan seks itu memang perlu kemudian kalau bisa memang harus diterapkan dengan kaidah keagamaan moral dan sebagainya dan harus dijagaAy (Kepala Sekolah, 2. Auya mereka sudah sangat positif apa lagi yang menjadi anggota-anggota nya itu dan mereka sudah menyebarkan kepada teman-teman nya bagaimana cara menjaga diri kemudian bagaimana mencegah juga dari pelecehan-pelecehan seksualAy (Pembina PIK-R, 2. AuAda maksudnya kan mereka tidak ada kebelakang-belakang semua bisa di pantau oleh guruAy (Guru/Penasehat, 2. Hal tersebut di benarkan oleh pengurus PIK-R yang mengatakan bahwa kebijakan ini telah membentuk sikap positif peserta didik terhadap pengambilan keputusan yang sehat dan bertanggung jawab terkait dengan seksualitas : AuAda perubahan, karena program ini membawa dampak positif bagi kami dan kami dapat menyebarkan nya lagi kepada siswa yang lainAy (Siswa/Pengurus, 2. Aukalau pacaran-pacaran gitu banyak. kalau untuk yang seks gitu enggak adaAy (Siswa/Pengurus, 2. Kepala sekolah menegaskan bahwa pendidikan seksual telah membantu membentuk kesadaran siswa tentang pentingnya bertindak sesuai moral dan agama, sementara pembina PIK-R menyebutkan bahwa anggota PIK-R secara aktif menyebarkan informasi tentang menjaga diri dan mencegah pelecehan seksual kepada teman-teman Pengurus PIK-R juga mengakui dampak positif kebijakan ini, termasuk pembentukan sikap yang lebih bertanggung jawab terkait keputusan seksual, meskipun perilaku pacaran tetap ada, namun siswa telah memahami batasan-batasan yang sehat. Hal ini menegaskan bahwa program pendidikan seksual di sekolah telah memberikan pengaruh positif dalam membentuk sikap dan perilaku siswa secara menyeluruh. Struktur Birokrasi Pada indikator ini peneliti melihat bagaimana peran pihak sekolah dalam memfasilitasi implementasi kebijakan pendidikan seks di SMP Negeri 2 Meureubo. Apakah pihak sekolah memainkan peran penting dalam memastikan bahwa sumber daya dan dukungan yang diperlukan tersedia. Informan kunci mengatakan bahwa semua pihak turut memfasilitasi: AuPeran sekolah mengingatkan melihat mendengarkan terus apabila ada pelaku perilaku perilaku yang tidak wajar sekolah hanya bisa mengingatkan bahwa itu adalah kelakuan yang tidak wajar yang tidak baik untuk dilaksakana kan atau di lakukan jadi sehingga nanti jika ada siswa-siswa yang perilaku nya tidak sehat di ini perlu di beri sanksi agar dia tidak mengulangi nya. iya itu apa bila siswa memerlukan ini suatu kebutuhan pihak sekolah menyediakan kebutuhan yang di butuhkan tadiAy (Kepala Sekolah, 2. AuFasilitas nya karena memang itu sifat sensitif kadang kalau untuk Cuma sekedar memberikan mading dan menempelkan mading mengenai pelecehan seksual kemudian juga terkadang kita juga terus memberitahukan kepada siswa bersenda itu ada tempat nya kemudian kami pun juga membuka satu ruang khusus buat siswa/I yang memang membutuhkan konsultasi mengenai itu. khusus untuk pelecehan seksual itu bukan. ada kami sudah memberikan fasilitas untuk mereka ketika mereka membutuhkan, membuat web itu juga kami sudah sediakanAy (Pembina PIK-R, 2. AuAda disediakan komputer untuk bisa mereka desian poster dan konten kan di lab komputerAy (Guru/Penasehat, 2. Kepala sekolah menyatakan bahwa peran utama sekolah adalah memberikan pengawasan dan pengingat kepada siswa mengenai perilaku yang tidak wajar serta memberikan sanksi bagi yang melanggar untuk mencegah pengulangan. Selain itu, pembina PIK-R menjelaskan bahwa sekolah telah menyediakan fasilitas seperti mading untuk menyebarkan informasi, ruang konsultasi khusus untuk siswa yang membutuhkan, dan web sebagai sarana informasi. Guru penasehat juga menambahkan bahwa laboratorium komputer telah dimanfaatkan untuk membantu siswa dalam mendesain poster dan konten edukasi terkait pendidikan seksual. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung dan menyediakan sumber daya yang memadai untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa terkait isu-isu seksual. Untuk menguatkan pernyataan tersebut peneliti juga menanyakan kepada pengurus apakah ada fasilitas yang diberikan oleh pihak-pihak terkait, benar bahwa pihak-pihak tersebut telah memfasilitasi pengurus dalam implementasi kebijakan pendidikan seksual: AuIya, pihak sekolah banyak memfasilitas kami, seperti peminjaman lab dan madingAy (Siswa/pengurus, 2. AuIya ada di fasilitas kami ada di kasi ruangan juga, lab dan madingAy (Siswa/Pengurus, 2. Hasil penelitian memperkuat temuan bahwa pihak sekolah telah memberikan dukungan fasilitas yang memadai untuk mendukung implementasi kebijakan pendidikan seksual di SMP Negeri 2 Meureubo. Pengurus PIK-R menyebutkan bahwa sekolah memfasilitasi mereka dengan peminjaman laboratorium komputer untuk kegiatan desain konten dan poster, serta menyediakan mading untuk menyebarluaskan informasi. Selain itu, ruang khusus juga diberikan kepada pengurus untuk mendukung pelaksanaan program pendidikan seksual. Fasilitas-fasilitas ini menjadi bukti konkret komitmen sekolah dalam mendukung kader PIK-R dalam menjalankan peran mereka, sehingga kebijakan pendidikan seksual dapat diimplementasikan secara efektif di lingkungan Selanjutnya peneliti melihat apakah terdapat perubahan dalam alokasi anggaran sekolah sebagai akibat dari implementasi kebijakan pendidikan seks. Seperti, apakah terdapat peningkatan anggaran untuk pelatihan guru, pengadaan materi pembelajaran, atau kegiatan-kegiatan terkait pendidikan seks : AuKami pikir tidak ada jika terjadi perubahan tidak terlalu memberatkan dari pada kepala sekolah kalau pun harus di bantu dan juga tidak menjadi suatu suatu kebutuhan yang memberatkan pembiayaan yang ada yang lainAy (Kepala Sekolah. AuSaat ini belum tapi kemungkinan kedepan itu saya akan menyampaikan juga kita akan memberikan kembali pelatihan bahkan bimbingan di khusus untuk smpn 2 meureuboAy (Pembina, 2. AuAda tapi ga banyak karena kita semua ada di siniAy (Guru/Penasehat, 2. Terkait dengan pernyataan tersebut peneliti telah mengkonfirmasi dengan siswa atau pengurus antara lain sebagai berikut: Auiya ada kak, seperti yang kami sampaikan tadi dari segi kegiatan juga udah bertambah sekarang kami sering buat konten di labAy (Siswa/Pengurus, 2. Auada kak, karena sering buat konten dan kegiatan edukasi untuk kawan-kawan yang lainAy (Siswa/Pengurus, 2. Kepala sekolah menyatakan bahwa meskipun tidak ada perubahan anggaran besar, pihaknya tetap berusaha mendukung pelaksanaan kebijakan tanpa membebani anggaran yang sudah ada. Pembina PIK-R menyampaikan rencana untuk mengadakan pelatihan di masa depan, sementara guru penasehat menyebutkan bahwa anggaran yang ada masih Namun, pengurus PIK-R mengonfirmasi adanya peningkatan kegiatan, seperti seringnya pembuatan konten edukasi di lab, yang menunjukkan adanya alokasi waktu dan sumber daya tambahan meskipun anggaran tidak meningkat secara signifikan. Ini menunjukkan adanya komitmen dari sekolah untuk terus mendukung pelaksanaan kebijakan pendidikan seksual meskipun dalam keterbatasan anggaran. Peneliti juga menanyakan terkait dengan bagaimana pihak sekolah memfasilitasi pemantauan dan evaluasi terhadap efektivitas program pendidikan seks. Apakah terdapat mekanisme tertentu untuk mengukur dampak program ini terhadap perilaku peserta didik: AuPihak sekolah memantau menyelusuri bagaimana keberlangsungan pendidikan seksual ini melalui guru atau badan sekolah seperti guru BK wali kelas, wakil kepala sekolah, untuk selalu memantau kegiatan atau perilaku anak didik yang tentang pemahaman seksual tadi mekanisme pengukur ya. jadi tata cara mekanisme untuk mengukur dari sebuah tindakan ini tidak perlu alat khusus dia kan tapi cukup dengan memantau memperhatikan terus menasehati memberi petunjuk agar apa yang dilakukan itu menjadi suatu ilmu atau ada manfaat nya dari apa yang telah di lakukan dari sebuah pendidikan seks iniAy (Kepala Sekolah, 2. AuKalau saya sendiri memantau web nya saya liat. mekanisme ? enggak ada. kemaren saya liat kayak nya kan mereka semangat kan bahkan mereka ngeshare sama kawan-kawan nya di grupAy (Pembina PIK-R, 2. AuAda, melalui pembina PIK-R terus ibu juga sering pantau website yang telah di buatAy (Guru. Penasehat, 2. Dalam hal pemantauan dan evaluasi efektivitas program pendidikan seks di SMP Negeri 2 Meureubo, pihak sekolah menggunakan pendekatan yang lebih informal namun tetap terstruktur. Kepala sekolah menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan melalui pengawasan yang dilakukan oleh guru BK, wali kelas, dan wakil kepala sekolah, yang secara aktif memperhatikan dan menasehati siswa tentang pemahaman dan perilaku terkait seksualitas. Meskipun tidak ada alat ukur khusus, pihak sekolah memanfaatkan observasi langsung sebagai mekanisme untuk menilai dampak program ini terhadap perilaku siswa. Pembina PIK-R juga menambahkan bahwa meskipun tidak ada mekanisme formal yang terstruktur, pemantauan dilakukan dengan memeriksa kegiatan siswa melalui website dan melihat bagaimana mereka membagikan informasi kepada teman-teman mereka. Hal yang sama juga dilakukan oleh guru penasehat, yang secara aktif memantau perkembangan kegiatan di website dan mendukung keberlanjutan program tersebut. Selain itu, pihak sekolah juga mengandalkan umpan balik dari siswa dan orang tua sebagai bagian dari proses evaluasi. Siswa didorong untuk berbagi pengalaman serta pemahaman mereka mengenai materi yang telah diajarkan melalui diskusi kelompok, wawancara informal, maupun refleksi tertulis. Beberapa guru BK menyebutkan bahwa mereka kerap mengadakan sesi tanya jawab dengan siswa untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terhadap pendidikan seks yang diberikan. Selain dari siswa, pihak sekolah juga melibatkan orang tua dalam proses evaluasi program ini. Melalui pertemuan rutin, seperti rapat orang tua dan wali kelas, sekolah memberikan kesempatan kepada orang tua untuk menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka terkait perubahan sikap anak-anak mereka di rumah. Hal ini memungkinkan pihak sekolah untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas mengenai efektivitas program pendidikan seks dalam membentuk perilaku siswa di lingkungan Di sisi lain, meskipun pemantauan dilakukan secara informal, beberapa tantangan masih dihadapi dalam menilai efektivitas program ini. Salah satu kendala utama adalah kurangnya alat ukur yang dapat memberikan data kuantitatif mengenai perubahan sikap dan pemahaman siswa. Selain itu, tidak semua siswa merasa nyaman untuk terbuka mengenai pengalaman dan pemahaman mereka terkait seksualitas, yang dapat mempengaruhi akurasi evaluasi yang dilakukan. Untuk mengatasi tantangan ini, pihak sekolah berupaya meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan pendidikan seks melalui pendekatan yang lebih interaktif, seperti permainan edukatif, simulasi, dan pemanfaatan media sosial. Dengan metode ini, diharapkan siswa dapat lebih terbuka dalam mendiskusikan isu-isu terkait seksualitas serta meningkatkan pemahaman mereka secara lebih mendalam. Meskipun evaluasi masih bersifat kualitatif, pihak sekolah terus berupaya mengembangkan sistem pemantauan yang lebih sistematis guna meningkatkan efektivitas program pendidikan seks di SMP Negeri 2 Meureubo. Simpulan Implementasi kebijakan pendidikan seksual di SMP Negeri 2 Meureubo telah membawa dampak positif yang signifikan terhadap perubahan disposisi dan sikap siswa. Program ini membantu siswa memahami pentingnya menjaga batasan dalam hubungan antar lawan jenis serta menyadari dampak negatif dari tindakan yang tidak sesuai dengan norma sosial dan agama. Pendidikan seksual juga mendorong siswa untuk mengambil keputusan yang lebih sehat dan bertanggung jawab terkait seksualitas mereka. Pengurus PIK-R secara aktif menyebarkan informasi edukatif kepada teman-temannya, sementara fasilitas yang disediakan, seperti laboratorium komputer, mading, ruang konsultasi, dan website, menjadi sarana pendukung yang efektif. Dukungan ini mencerminkan komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pelaksanaan kebijakan pendidikan seksual. Meski belum ada perubahan signifikan pada alokasi anggaran, sekolah mampu memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mendukung program ini tanpa membebani anggaran tambahan. Pemantauan efektivitas program dilakukan secara informal melalui observasi guru, pembina PIK-R, dan pemanfaatan website, meskipun belum dilengkapi dengan mekanisme evaluasi formal. Dampak program terlihat dalam peningkatan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga perilaku dan melindungi diri dari pelecehan seksual. Namun, tantangan masih ada dalam mengubah perilaku sebagian siswa secara menyeluruh. Dengan upaya yang berkelanjutan, seperti pelatihan dan bimbingan tambahan di masa depan, program ini memiliki potensi untuk terus memperkuat pembentukan sikap dan perilaku positif siswa. Referensi