ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB EFEKTIVITAS PENGELOLAAN SAMPAH DI TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH 3R (TPS 3R) DI KECAMATAN TANTA KABUPATEN TABALONG Gemma Galgani Harun Bhodas*. Muhammad Riyandi Firdaus Bhodas221@gmail. riyandi@stiatabalong. Program Studi Administrasi Negara Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Tabalong Komplek Stadion Olah Raga Saraba Kawa Pembataan Tanjung Ae Tabalong Telp/Fax . 2022484 Kode Pos 7012 Email: info@stiatabalong. ABSTRAK TPS 3R adalah pendekatan pengelolaan sampah pada skala komunal, melibatkan pemerintah dan masyarakat, termasuk yang berpenghasilan rendah di permukiman padat. Mengutamakan prinsip Reduce. Reuse, dan Recycle. TPS 3R mengurangi sampah dari sumbernya dan beban di TPA. Fasilitas TPS 3R penting untuk pengelolaan sampah yang efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk Untuk mengetahui bagaimanakah efektifitas pengelolaan sampah berbasis TPS 3R serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pengelolaan sampah berbasis TPS 3R pada TPS 3R di kecamatan Tanta kabupaten Tabalong. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara kepada informan yang berjumlah 6 orang. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model interaktif untuk menganalisis data hasil penelitian yaitu menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahawa efektivitas pengelolaan sampah berbasis TPS 3R pada TPS 3R di kecamatan Tanta kabupaten Tabalong Belum Efektif. Hal ini dinyatakan dari 3 indikator hanya 1 indikator yang sudah efektif, yaitu ketepatan sasaran. Adapun faktor penghambat Program TPS 3R di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong menghadapi kendala berupa kurangnya tenaga kerja, sarana dan prasarana yang tidak memadai, serta keterbatasan dana. Selain itu, partisipasi masyarakat yang minim juga menghambat jalannya Kata Kunci: Efektivitas. Pengelolaan Sampah. Pengelolaan Sampah 3R (TPS 3R) EFFECTIVENESS OF WASTE MANAGEMENT AT THE 3R WASTE PROCESSING SITE (TPS 3R) IN TANTA SUB-DISTRICT. TABALONG REGENCY ABSTRACT The 3R Waste Processing Site (TPS 3R) is a community-scale waste management approach involving the government and the community, including low-income residents in densely populated settlements. Prioritizing the principles of Reduce. Reuse, and Recycle. TPS 3R reduces waste at its source and lessens the burden on TPS 3R facilities are crucial for effective waste management. The objectives of this research are to determine the effectiveness of TPS 3R-based waste management and to identify the factors influencing the effectiveness of TPS 3R-based waste management at the TPS 3R in Tanta Sub-district. Tabalong Regency. The research method used is a descriptive study with a qualitative approach. The data sources used are primary and secondary data. Data collection techniques included observation, documentation, and interviews with 6 The data analysis technique used in this research employs an interactive model to analyze the research findings, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study indicate that the effectiveness of TPS 3R-based waste management at the TPS 3R in Tanta Sub-district. JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB Tabalong Regency is Not Yet Effective. This is indicated by the fact that only 1 out of 3 indicators is effective, namely the accuracy of targets. Furthermore, the inhibiting factors for the TPS 3R Program in Tanta Subdistrict. Tabalong Regency include a lack of manpower, inadequate facilities and infrastructure, and limited Additionally, minimal community participation also hinders the program's progress. Keywords: Effectiveness. Waste Management, 3R Waste Processing Site (TPS 3R) PENDAHULUAN Sampah dan pengelolaannya kini menjadi masalah yang kian mendesak dikota kota di Indonesia, sebab apabila tidak dilakukan penanganan yang baik akan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan yang merugikan atau tidak diharapkan sehingga dapat mencemari lingkungan, baik terhadap tanah, air dan udara. Untuk mengatasi masalah pencemaran tersebut diperlukan penanganan dan pengendaliaan terhadap sampah. Penanganan dan pengendalian akan menjadi semakin kompleks dan rumit dengan semakin kompleksnya jenis maupun komposisi dari sampah sejalan dengan majunya Oleh karena itu, penangan sampah diperkotaan relatif rumit dibanding sampah di desa-desa (Malina, 2. Masalah yang sering muncul dalam penanganan sampah kota adalah masalah biaya operasional yang tinggi dan semakin sulitnya ruang yang pantas untuk pembuangan sebagai akibat biaya operasional yang tinggi, kebanyakan kota-kota di Indonesia hanya mampu mengumpulkan dan membuang sekitar 60% dari seluruh produksi Dari 60% ini, sebagian besar ditangani dan dibuang dengan cara yang tidak seniter, boros dan mencemari (Muhdar, 2. Sampah merupakan hasil dari kegiatan manusia yang bisa dihasilkan secara tidak di tersengaja atau Sampah bisa juga dihasilkan karena kegiatan alam. Sampah yang dihasilkan dari proses alam atau kegiatan manusia tidak memiliki nilai (Pratama. Penanganan memerlukan biaya yang relatif mahal. Semakin meningkatnya jumlah penduduk terutama dalam skala perkotaan, semakin meningkat pula jumlah sampah yang dihasilkan. Jika pada suatu kota tidak optimal dalam melakukan pengelolaan sampah. JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 maka mencemari lingkungan skitar dan berdampak buruk bagi kesehatan (Anggraini, 2. Untuk mencapai efektivitas dan efisiensi yang tinggi disetiap tahap penanganan sampah harus dilakukan pengoperasian dan pemeliharaan sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang ditetapkan . ementrian pekerjaan umum, 2. Secara umum terdapat lima aspek penting dalam pengelolaan hukum/peraturan, pembiayaan, dan partisipasi Penyelenggaraan Tempat pengolahan sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) merupakan pola pendekatan pengelolaan persampahan pada skala komunal atau kawasan, dengan melibatkan peran aktif pemerintah dan masyarakat, melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, termasuk untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan/atau yang tinggal dipermukiman yang padat dan kumuh. Pada prinsipnya, penyelenggaraan TPS 3R diarahkan pada konsep Reduce . Reuse . enggunakan kembal. , dan Recycle . aur ulan. , dimana dilakukan upaya untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya pada skala komunal atau kawasan, untuk mengurangi beban sampah yang harus diolah secara langsung di TPA sampah. (Karya, 2. Pengelolaan sampah yang maksimal membuhtuhkan tempat dimana sampah dapat dikelola dengan baik. Salah satu tempat yang berfungsi untuk mengelola sampah dari sumbernya yaitu TPS 3R. Dalam peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga menjelaskan bahwa tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (Reuse. Reduce. Recycl. yang selanjutnya disebut TPS 3R adalah tempat dilaksanakannya kegiatan ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang skala kawasan. Daur ulang dan penggunaan kembali sampah yang efektif dapat menciptakan lapangan pekerjaan, pembangunan Sampah yang tidak dikelola dengan baik hingga menumpuk dapat menyebabkan banjir, lingkungan menjadi kotor, kumuh, dan berbahaya bagi kesehatan manusia (Heriyati, 2. Pembakaran sampah secara terbuka dapat menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan sekitar. Berdasarkan penelitian (Agenc. , 2. , bahawa pembakaran sampah secara terbuka dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti gangguan saluran pernapasan, gangguan hormonal, dan penyakit kanker. Gangguan kesehatan dipicu karena adanya gas beracun yang dihasilakan dari proses pembakaran sampah seperti: CH4. CO, dll. Hal tersebut bertolak belakang dengan prinsip TPA Tujuan diadakannya TPS 3R yaitu untuk melindungi kualitas udara akibat polusi dari hasil pembakaran sampah. Pelarangan pengelolaan sampah dengan cara dibakar juga tercantum didalam UU No. 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Dalam pengelolaan sampah bukan saja dititik beratkan pada pemerintah saja, namun diperlukan kesadaran dan kemandirian dari masyarakat sehinga dapat diharapkan tercapainya suatu sistem persampahan yang efektif, baik dan tidak merusak lingkungan. Menurut kementrian PUPR bantuan program pembuatan TPS 3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce. Reuse dan Recyl. saat ini didapatkan dua desa yang ada di kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong. Kalsel. Bantuan dalam bentuk fasilitas bangunan ini berhasil diterima Desa Warukin dan juga Desa padang panjang, setelah melalui beberapa proses. Kedua desa tersebut memiliki kelompok swadaya masyarakat (KSM) dalam pengelolaan sampah untuk di Desa Warukin ada KSM Nawuraha dan di Desa padanag panjang ada KSM Menanti. Keduanya dinilai berhasil melakukan pengelolaan terhadap sampah rumah tangga,dimana sekitar 40% persennya merupakan jenis sampah organik. Bantuan berupa JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 pembangunan TPS 3R dengan nilai masing-masing 600 juta bersumber dari APBN ini sekarang sudah mulai dilaksanakan. Dengan dibangunnya dua TPS 3R ini bisa menjadi momentum untuk membuat warga semakin peduli dalam pengelolaan sampah, serta bisa menjadi pemicu bagi desa lain untuk dapat melaksanakan program pengelolaan sampah di wilayah masing-masing. (Banjarmasinpost. Keberadaan program TPS 3R yang didukung Bank sampah ini, sangat berdampak positif terhadap pengelolaan sampah yang ada. Program ini bertujuan untuk mengurangi kuantitas dan memperbaiki karakteristik sampah, yang akan diolah secara lebih lanjut ditempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Selain itu keberadaan TPS 3R juga turut berperan dalam menjamin umur manfaat dari TPA sampah di kabupaten sesuai rencana. Sedangkan dalam penyelengaraannya, kegiatan ini juga menekankan pada peran masyarakat dan pemerintah daerah untuk keberlanjutan TPS 3R. (Banjarmasin. tribunnews, 2. Program TPS 3R untuk mengelola sampah di Kecamatan Tanta berada di Desa Warukin untuk TPS 3R Nawuraha dan Desa Padang Panjang untuk TPS 3R Menanti. Berdasarkan hasil penelitian permasalahan yang ada dari berbagai sistem pengelolaan sampah di TPS 3R di Kecamatan Tanta adalah terkendala dalam operasional, saran dan prasarana sehingga pengelolaan belum efektif dari aspek teknis operasional sering kali pengengkutan yang belum maksimal dikarenakan dari segi fasilitas maupun pekerja, terkendala karena sarana dan prasarana yang untuk saat ini tidak memadai dalam program pengelolaan sampah TPS 3R , dari aspek organisasi pengurus yang dibentuk tidak manjalankan sesuai tugas, dan fungsinya dari aspek pembiayaan masyarakat yang belum memiliki kesadaran untuk membayar iuran, dalam pengelolan sampah serta kurangnya pendamping kepada masyrakat dari pengurus TPS 3R yang ada di Kecamatan Tanta dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB masalah pengelolaan sampah dengan judul Auefektivitas pengelolaan sampah di tempat pengolahan sampah 3R (TPS 3R) di kecamatan Tanta, kabupaten TabalongAy. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu Penelitian oleh (Salinding, 2. berjudul AuEfektivitas Pengelolaan Sampah Oleh Dinas Kebersihan Dan Pertamanan Kota ManadoAy menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan studi kasus, serta analisis data melalui observasi, wawancara. Hasil menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Kota Manado belum efektif karena minimnya pengangkutan, kurangnya sarana prasarana. Penelitian oleh . inasari, 2. berjudul AuEfektivitas Pengelolaan Sampah Di Kota DenpasarAy meneliti pengelolaan sampah di Kota Denpasar dalam konteks pertumbuhan Pemerintah Kota Denpasar menerapkan UU Nomor 18 Tahun 2008 yang mencakup pengurangan sampah dengan metode reduce, reuse, dan recycle, serta penanganan sampah melalui pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan, dan pemprosesan akhir. Penelitian menunjukkan upaya pengurangan sampah dengan Perwali No 36 Tahun 2018 tentang pengurangan sampah plastik serta pemanfaatan sampah organik untuk pupuk kompos. Penanganan sampah dilakukan di TPS sebelum dibawa ke TPA untuk mengurangi volume penumpukan Penelitian oleh (Mandasari, 2. berjudul AuEfektivitas Program Tempat Pengelolaan Sampah Reduce. Reuse. Recycle (TPS 3R) Dalam Menanggulangi Pencemaran Lingkungan Di Kota Tangerang SelatanAy menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan induktif, serta analisis teori efektivitas dari Duncan dalam Steers. Data JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 8 informan, dokumentasi, dan Temuan menunjukkan kurangnya sumber daya manusia dan lahan untuk TPS 3R di Tangerang Selatan. Meskipun demikian, program TPS 3R efektif dalam mengurangi volume sampah, meningkatkan kerjasama antara Dinas Lingkungan Hidup dan masyarakat, serta mendorong partisipasi aktif Dukungan berkelanjutan dari Dinas Lingkungan Hidup dan peningkatan sosialisasi serta sarana prasarana diperlukan. Penelitian oleh (Ismail, 2. berjudul AuEfektivitas Badan Lingkungan Hidup Dalam Penanganan Sampah Di Kota GorontaloAy menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengelolaan sampah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Kota Gorontalo cukup baik, namun masih terkendala oleh partisipasi masyarakat, keterbatasan finansial, serta sarana dan Masyarakat sulit mengubah paradigma tentang sampah, yang dianggap sebagai barang tidak berguna dan dibuang Hal ini menghambat efektivitas pengelolaan sampah di Gorontalo. Penelitian oleh (Lestari, 2. berjudul AuEfektivitas Pengelolaan Sampah Dalam Mewujudkan Kota Semarang Bersih (Studi Kasus: Pengelolaan Sampah di TPA Jatibaran. Ay menggunakan teori efektivitas dari beberapa pakar dan kriteria efektivitas dari Gibson. Dengan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara dan dokumentasi, penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di TPA Jatibarang sudah cukup efektif berkat inovasi yang terus ditingkatkan. Kendala utamanya adalah pendanaan sarana dan prasarana yang belum mencukupi. Disarankan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah guna mengurangi beban TPA. KERANGKA TEORI Pengertian Efektivitas ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB Menurut (Handayaningrat, 1. Efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Apabila sasaran atau tujuan telah tercapai sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya, maka dikatakan efektif, sedangkan kalau tujuan atau sasaran itu tidak selasai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan maka pekerjaan itu tidak efektif. Kemudian (Prihartono, 2. efektivitas diartikan sebagai tingkat keberhasilan mencapai Sasaran diartikan sebagai keadaan atau kondisi yang diinginkan. Sedangkan efisiensi adalah perbandingan terbaik antara input dan output, atau sering disebut ratio input dan output. Dalam hal ini efektivitas merupakan pencapaian tujuan organisasi melalui pemanfaatan sumber daya yang dimiliki secara efisien, ditinjau dari sisi masukan . , proses, maupun keluaran . Dalam hal ini yang dimaksud sumber daya meliputi ketersediaan personil, sarana dan prasarana serta metode dan model yang digunakan. Suatu kegiatan dikatakan efisien apabila dikerjakan dengan benar dan sesuai dengan prosedur sedangkan dikatakan efektif bila kegiatan tersebut dilaksanakan dengan benar dan memberikan hasil yang bermanfaat. Indikator Efektifitas (Budiani, 2. menyebutkan beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur efektivitas suatu program adalah. Ketepatan sasaran, yaitu sejauh mana peserta program tepat yang sudah ditentukan Menurut Makmur ketepatan sasaran lebih berorientasi kepada jangka pendek dan lebih bersifat operasional, penentu sasaran yang tepat baik ditetapkan secara indvidu maupun sasaran yang ditetapkan organisasi sesungguhnya sangat menentukan keberhasilan aktivitas organisasi. Demikian pula sebaiknnya, jika sasaran yang ditetapkan itu kurang tepat maka akan menghambat pelaksanaan berbagai kegiatan itu sendiri. Sosialisasi, yaitu kemampuan penyelenggaraan program dalam melakukan sosialisasi program JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 sehingga informasi mengenai pelaksanaan masyarakat pada umumnya dan sasaran peserta program pada khususnya. Menurut Wilcox dalam Mardikonto, memberikan informasi merupakan langkah awal yang dilakukan untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dan memperlancar dalam melanjutkan suatu pekerjaan, karena dengan memberikan meningkatkan pengetahuan bagi orang yang menerima informasi tersebut. Sosialisasi penanganan sampah sudah dilakukan namun masih kurangya perhatian dari masyarakat PencapaianTujuan program, sejauh mana kesesuaian antara hasil program dengan tujuan program yang telah ditentukan sebelumnya. Pemantauan, yaitu kegiatan yang dilakukan setelah dilaksanakan program sebagai bentuk perhatian kepada peserta program. Selanjutnya menurut Winardi, pengawasan meliputi tindakan mengecek dan membandingkan hasil yang dicapai dengan standar-standar yang telah Apabila hasil yang dicapai menyimpang dari standar yang berlaku perlu Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat efektivitas dalam sebuah organisasi atau faktor-faktor Karakteristik Organisasi ( struktur dan organisas. Penekanan ciri organisasi oleh Steers adalah terhadap struktur dan teknologi karena kedua variabel tersebut sangat Perubahan yang bersifat inovatif dalam hubungan interaktifantar anggota-anggota organisasi atau penyusunan hubungan SDM akanmeningkatkan efektivitas organisasi. Dengan tercapainya berbagai kemajuan di dalam struktur organisasi, misalnya dengan meningkatkan spesialisasi fungsi, ukuran ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB organisasi, sentralisasi pengambilan keputusan Tercapainya kemajuan di dalam teknologi dapat memperkenalkan cara-cara yang lebih produktif dengan menggunakan sarana-sarana Pemanfaatan kedua hal tersebut secara baik, yakni struktur dan teknologi akan mempermudah organisasi untuk mencapai Karakteristik Lingkungan . etepatan atas keadaan lingkunga. Karakteristik lingkungan ini mencapai dua aspek yang saling berhubungan yaitu lingkungan ekstern dan lingkungan intern. Lingkungan ekstern yaitu semua lingkungan kekuatan yang timbul diluar batasanbatasan organisasi. Lingkungan interen pada umumnya dikenal sebagai iklim organisasi yang meliputi bermacam-macam atribut lingkungan kerja. Karakteristik Pekerjaan . erbedaan sifat pekerj. Lingkungan dalam bekerja memiliki pandangan tujuan kebutuhan dan kemampuan yang berbeda-beda, individu ini memiliki pengaruh langsung terhadap rasa ketertarikan pada organisasi dan potensi kerja. Tanpa rasa keterkaitan dan prestasi, efektivitas mustahil akan tercapai. Kebijakan dan praktek manajemen Kebijakan mekanisme yang meliputi penetapan tujuan strategi, pencarian dan pemanfaatan sumber daya secara efisien, menciptakan lingkungan prestasi, proses komunikasi, kepemimpinan dan pengembalian keputusan serta adaptasi dan inovasi organisasi. Dalam hal ini, manejer sangat penting untuk mengarahkan kegiatankegiatan secara propesional untuk mencapai Deinisi Sampah Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang pengelolaan sampah, definisi sampah yaitu sisa aktivitas manusia sehari-hari dan/atau proses alam yang JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 berbentuk padat. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO) definisi sampah yaitu sesuatu yang tidak disenangi, tidak digunakan, tidak dipakai, dan tidak terjadi dengan sendirinya (Dobiki, 2. Jumlah sampah yang setiap tahunnya bertambah karena jumlah penduduk yang semakin tinggi serta kualitas masyarakat dilingkungan tersebut dan juga disertai dengan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi yang akan membentuk pegeseran pola hidup masyarakat yang cenderung konsumtif. Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah rangkaian proses yang digunakan untuk melakukan penanganan terhadap sampah dengan beberapa rangkaian sistem, dimulai dari pewadahan, pengumpulan sampah, pengangkutan sampah ke TPS/TPS 3R/TPST, pengolahan, dan terakhir ke TPA atau tempat pemrosesan akhir. Peran TPS 3R dalam pengelolaan sampah skala perkotaan yaitu sebagai infrastruktur untuk sistem pengolahan pada skala komunal berbasis masyarakat (Karya, 2. Penyelenggaraan pengelolaan sampah didasari dengan asas manfaat, tanggung jawab, keselamatan, keamanan, dan asas ekonomi. Hal tersebut dilakukan supaya tingkat kesehatan masyarakat semakin baik, kualitas lingkungan semakin bak, serta menjadikan sampah menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengelolaan sampah (UU No,18 Tahun 2. Tempat Pengelolaan Sampah 3R (TPS 3R) Menurut Permen PU No. 3 Tahun 2013. Pemerintah maupun masyarakat sudah sepatutnya menyelenggarakan sarana prasaarana persampahan guna menangani sampah rumah tangga. Dewasa ini, pemilahan dan reduksi sampah dari sumber rumah tangga terlihat kurang memadai. Maka diperlukan solusi untuk meningkatkan pengelolaan sampah dari sumber rumah tangga melalui konstribusi masyarakat. ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB Pengadaan TPS 3R (Reduce. Reuse. Recycl. merupakan pola pengelolaan persampahan secara Pelaksanaan adanya sarana TPS 3R ini melibatkan kontribusi dari masyarakat dan Pemerintah menyediakan programprogram yang ditujukan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat. TPS 3R menekankan pengelolaan sampah melalui pengurangan sampah, pengolahan sampah dari sumber, dan pemanfaatan Pelaksanaan kegiatan di TPS 3R ini meliputi pewadahan, pengangkutan sampah, pengumpulan sampah, dan pengolahan (Karya. Tujuan Program TPS 3R Menurut (Karya, 2. program TPS 3R bertujuan untuk meminimalisir jumlah dan memperbaiki karakteristik sampah. Lahan untuk penyediaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di wilayah perkotaan terbatas. Dalam pelaksanaanya, kegiatan ini melibatkan masyarakat dan Pemerintah Daerah, pemberdayaan masyarakat dan Pemerintah Daerah serta pembinaan dan Pemerintah Daerah TPS 3R merupakan tempat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, dimana pengelolaan sampah berbasis masyarakat adalah suatu pendekatan pengelolaan sampah yang diarahkan pada permintaan dan kebutuhan Faktor Pendukung Keberlanjutan Program Pengelolaan Sampah Berbasis 3R Faktor Internal Semakin terimplementasikannya sebuah paradigma baru dalam pengelolaan sampah mampu mengubah pandangan masyarakat yang sebelumnya dianggap sebagai objek pembangunan, saat ini berubah menjadi subyek yang akan menjalankan suatu Oleh karena itu partisipasi masyarakat secara menyeluruh menjadi faktor utama keberhasilan program pengelolaan sampah berbasis 3R ini. Dengan partisipasi penuh dari masyarakat, maka pengelolaan sampah berbasis 3R JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 secara nyata dapat maksimal dan sesuai dengan tujuan yang ditentukan. Sarana dan Prasarana. Dalam program pengelolaan sampah berbasis 3R yang masyarakat, maka sarana dan prasarana merupakan kebutuhan tau hal penting dalam proses berjalannya suatu program Dengan difasilitasi sarana dan prasarana yang memadai oleh pemerintah dalam proses pelaksanaan TPS 3R sebagai tempat pengelolaan sampah berbasis 3R diharapkan akan dapat berjalan dengan Sarana dan prasarana tersebut meliputi alatalat berat timbangan, motor tossa untuk kendaraan berjalan, dan etalase sebagai tempat beberapa keterampilan yang akan dijual, serta beberapa drum yang digunakan sebagai tempat pembuatan kompos. Faktor Eksternal Keterlibatan masyarakat sekitar, adanya keterlibatan dan dukungan masyarakat ini akan mampu menunjang berjalannya suatu programpengelolaan sampah berbasis 3R. Moeljarto Tjokrowinoto (Mardikanto, 2. mengatakan bahwa pembangunan yang berpusat pada rakyat . , dalam pengambilan keputusan harus diletakkan pada masyarakat itu Partisipasi masyarakat yang telah ada mampu memperlancar jalannya proses pengelolaan sampah rumah tangga yang bertujuan untuk mengurangi volume Kerjasama dengan Lembaga atau Dinas Adanya mempermudah TPS 3R dalam menjalankan program yang telah diberikan untuknya. Peran Dinas Kebersihan. Dinas Lingkungan Hidup tentunya sangat menunjang terlaksanakannya program tersebut dengan Lembaga atau Dinas terkait tidak hanya membantu dalam hal anggaran atau pendanaan saja, tetapi juga dengan ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB memberikan beberapa fasilitas yang dIbutuhkan guna menjalankan tujuannya Faktor Penghambat Keberlanjutan Program Pengelolaan Sampah Berbasis 3R. Faktor Internal Ketidaksiapan anggota, hambatan dalam suatu organisasi dalam menjalankan peran dan tugasnya juga berasal dari dalam suatu organisasi tersebut. Penghambat dari internal yang biasanya sering dijumpai adalah Keidaksiapan anggota dalam hal pengambilan sampah rumah tangga sewaktu waktu masyarakat membutuhkan. Sehingga sampah rumah tangga akan menumpuk untuk beberapa hari pada suatu tempat baik pada lingkungan rumah, sekolah-sekolah maupun pertokoan yang telah bekerjasama dengan TPS 3R ini. faktor internal tersebut akan mengakibatkan lingkungan sekitar menjadi kotor dan jauh dari kebersihan lingkungan. Hal ini menyebabkan proses pelaksanaan program pengelolaan sampah berbasis 3R melalui TPS 3R tidak berjalan dengan semestinya. dengan baik, akan memiliki nilai ekonomis. Mindset masyarakat yang tidak mendukung penuh program pengelolaan sampah berbasis 3R ini tentunya menjadi ancaman besar terhadap pelaksanaan program. Masyarakat yang memiliki mindset tersebut cenderung berasumsi bahwa program akan dilakukan hanyalah program menguntungkan pihakpihak tertentu saja dan merugikan beberapa pihak lainnya. (Pratama, 2. Kerangka Konseptual Gambar Kerangka Konseptual Faktor Eksternal Ketidakdisiplinan membantu pengelolaan sampah, program pengelolaan sampah rumah tangga berbasis 3R melalui TPS 3Rdapat terkendala dalam pelaksanaanya apabila masyarakat tidak mengikuti prosedur yang telah disepakati Contohnya adalah masyarakat tidak disiplin dan partisipatif dalam memilah sampah rumah tangganya sendiri. Tindakan berpengaruh pada proses pengelolaan Rendahnya masyarakat sekitar. Pemikiran masyarakat sekitar yang tidak terbuka terhadap program pemberdayaan yang ada menjadi kendala bagi pelaksanaannya. Masyarakat harus memiliki mindset yang memandang penting sampah yang apabila dikelola JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 Sumber: diolah peneliti, 2024 METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, yaitu mengkaji objek yang mengungkapkan fenomena-fenomena yang ada secara konsektual melalui pengumpulan data yang diperoleh, dengan melihat unsur-unsur sebagai satuan objek kajian yang saling terkait selanjutnya Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, dan ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena yang lainnya (Syamsuddin, 2. Berdasarkan uraian di atas, maka diharapkan agar dapat memberikan gambaran bagaimana Efektivitas Pengelolaan Sampah Di Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS 3R) Di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini dilaksanakan di TPS 3R Nawuraha dan TPS 3R Menanti Padang Panjang di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong. Hal yang dijadikan sebagai objek penelitian ini adalah bagaimana Efektivitas pengelolaan sampah di tempat pengelolaan sampah 3R (TPS 3R) di kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong. Sumber Data Data Primer Data primer merupakan data yang didapatkan secara langsung oleh peneliti dari sumber data utama, yaitu dari pihak yang terlibat dalam penelitian meliputi informasi inti, triangulasi, serta observasi (Sugiyono, 2. Dalam penelitian ini sumber informasi yang didapatkan oleh peneliti secara langsung dari sumber data pertama pada lokasi penelitian melalui wawancara, observasi dan dokumentasi pada subjek yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini yang akan memberikan informasi seputar penelitian yang akan penulis teliti adalah aktor-aktor atau partisipan yang terlibat di dalam pengelolaan sampah di tempat pengelolaan sampah 3R (TPS 3R) di kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong antar lain, seperti Pengurus TPS 3R. Pekerja TPS 3R, dan beberapa masyarakat sekitar. Data Sekunder Pengertian (Sugiyono, 2. merupakan data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen. JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 Melalui buku-buku, laporan-laporan, dokumen, serta catatan yang banyak memuat informasi yang bisa mendukung peneliti. sumber data tertulis yang digunakan sebagai informasi pendukung dalam analisis primer Sumber data sekunder berfungsi sebagai penunjang data Dalam hal ini peneliti berada dalam mengumpulkan data Peneliti memanfaatkan data yang telah dikumpulkan pihak lain. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data dari informasi Observasi Pengamatan atau observasi adalah sebuah aktivitas terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang informasi-informasi dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian. Proses dalam mendapatkan informasi-informasi tadi haruslah objektif, nyata serta dapat dipertanggung jawabkan Observasi juga pengamatan dan pencatatan secara sistematis mengenai gejala- gejala yang diteliti. Observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan secara langsung maupun tidak langsung (Adi, 2. Secara etimologi, observasi berasal dari bahasa latin yang memiliki arti melihat dan Dengan demikian pengertian observasi secara etimologi adalah proses untuk melihat dan memperhatikan suatu objek tertentu untuk mendapatkan data dan informasi yang Wawancara Wawancara adalah pertemuan yang dilakukan oleh dua orang untuk bertukar informasi maupun suatu ide dengan cara tanya ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB jawab, sehingga dapat dikerucutkan menjadi sebuah kesimpulan atau makna dalam topik tertentu (Sugiyono, 2. Wawancara . memiliki tujuan yang jelas dan memiliki makna yang melebihi maksud dari percakapan biasa, proses wawancara ini terjadi dengan adanya komunikasi bolak-balik antara pewawancara dengan orang yang diwawancarai, untuk menggali topik tertentu yang dibahas. Dokumentasi Dokumentasi ialah suatu sistem yang dilakukan untuk penyimpanan dokumen dengan memakai aktualisasi yang teliti dari penulisan sumber informasi khusus dari sebuah rialah, amanat, buku dan Undang-undang. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan . ife historie. , ceritera, biografi, peraturan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lainlain (Sugiyono, 2. Sumber Informasi Informan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 6 orang dengan 2 informan kunci, dan 4 informan pendukung. Informan kunci dalam penelitian ini adalah pengurus TPS 3r Nawuraha Desa Warukin dan pengurus TPS 3r Menanti Desa padang panjang. Sedangkan informan pendukung adalah petugas TPS 3r dan masyrakat sekitar yang menjadi subjek dalam penelitian. Teknik Analis Data Reduksi Data Istilah reduksi data dalam penelitian kualitatif dapat disejajarkan maknanya dengan istilah pengolahan data . ulai dari editing, koding, hingga tabulasi dat. yang mencakup kegiatan mengikhtiarkan hasil pengumpulan data selengkap mungkin dan memilah-milahnya kedalam suatu konsep tertentu, kategori tertentu JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 atau tema tertentu. Dalam melakukan penelitian kualitatif, peneliti setiap harinya bisa mendapatkan banyak data, baik dari hasil wawancara, dari hasil observasi, atau dari sejumlah dokumen. Data yang terekam dalam apa yang disebut dengan Aucatatan-catatan lapanganAy . tersebut, tentunya perlu dirangkum, diikhtisarkan, atau diseleksi, masing-masing bisa dimasukkan kedalam kategori tema yang termasuk dalam kategori pekerjaan analisis yang disebut reduksi data. Penyajian Data Penyajian data dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah peneliti dalam melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian tertentu dari penelitian. Penyajian data dilakukan dengan cara mendeskripsikan hasil wawancara yang dituangkan dalam bentuk uraian dengan teks naratif, dan didukung oleh dokumen-dokumen, serta foto-foto maupun gambar sejenisnya untuk diadakanya suatu Penarikan Kesimpulan Penarikan Kesimpulan adalah melakukan pengumpulan data. Peneliti melakukan analisa dan mencari bentuk, tema, hubungan persamaan, dan sebagainya dan dipaparkan dalam kesimpulan. Dalam sebuah penelitian ini, penarikan kesimpulan dilakukan dengancara mengambil intisari dari rangkaian kategori hasil HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Ketepatan Sasaran Program. Dalam penelitian ini ketepatan sasaran program diukur dengan kepada siapa program pengelolaan sampah TPS 3R tersebut ditujukan. Menurut (Budiani, 2. , indikator memberikan gambaran sejauh mana sebuah program dapat menjangkau peserta yang tepat ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB menjadi sasarannya sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya. Ketepatan sasaran program pengelolaan sampah TPS 3R di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong dengan visi menjaga kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah yang baik dan misi dapat menjadikan lingkungan terjaga kebersihannya melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyrakat agar sadar dan peduli pentingnya mengelola sampah dan menjaga lingkungan. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh TPS 3R Nawuraha Desa warukin dan TPS 3R Menanti Desa Padang Panjang dapat disimpulkan bahwa ketepan sasaran program pengelolaan sampah TPS 3R di Kecamatan Tanta dapat dikatakan sudah tepat sasaran karena pihak pengurus TPS 3R yang ada di Kecamatan sudah melaksanakan tugasnya untuk meningkatakan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sesuai dengan sasaran dari program TPS 3R yang ada di Kecamatan yaitu tempat pengelolaan sampah reuse, reduce, dan recycle . engurangi, menggunakan dan daur ulan. lalu pendekatan pengelolaan sampah 3R mulai dari menjemput sampah dari tiap rumah, pemilahan sampah, pengelolaan sampah organik yang akan dijadikan kompos. Sosialisasi Program. Sosialisasi menjadi tahap penting yang juga menentukan berhasil atau tidaknya suatu Sebab sebagus apapun programnya jika tidak didorong dengan kemampuan para penyelenggara dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang menjadi sasarannya maka tidak akan dirasakan kebermanfaatannya. Menurut (Budiani. Sosialisasi merupakan kemampuan penyelenggaraan melakukan sosialisasi sehingga informasi mengenai pelaksanaan masyarakat pada umumnya dan sasaran peserta program pada khususnya. Sosialisasi program Pengelolaan sampah oleh TPS 3R yang ada di JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong merupakan titik awal untuk menentukan keberhasilan dan pencapaian program, dengan demikian sosialisasi harus dilakukan dengan sistematis dan terancana kapada masyarakat yang menjadi sasaran program pengelolaan TPS Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan mengenai sosialisasi program pengelolaan sampah yang dilakukan oleh TPS 3R Nawuraha Desa warukin dan TPS 3R Menanti Desa Padang Panjang dapat dikatakan sudah berjalan. Namun belum efektif karena banyak dari masyarakat yang belum paham dan mengerti bagaimana program pengelolaan TPS 3R ini berjalan, pengelolaan yang dimaksud disini hanya sebatas tidak membuang sampah sembarangan, dan dari pihak TPS 3R yang ada di Kecamatan Tanta melakukan penjemputan sampah di lingkungan masyarakat. Pencapaian Tujuan Program. Dalam penelitian ini menurut (Budiani, 2. , yaitu sejauh mana kesesuaian antara hasil program dengan tujuan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Artinya sejauh mana tujuan program Pengelolaan sampah oleh TPS 3R yang ada di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong yang telah disepakati bersama dapat terealisasiksn dengan baik, hal ini dapat dilihat sejauh mana hasil pelaksanaan program Pengelolaan sampah oleh TPS 3R yang ada di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh TPS 3R Nawuraha Desa warukin dan TPS 3R Menanti Desa Padang Panjang dapat disimpulkan bahwa pencapian tujuan program pengelolaan sampah TPS 3R yang ada di Kecamatan Tanta belum efektif dikarenakan pencapaian tujuan pengelolaan sampah untuk saat ini belum dapat dilaksanakan sepenuhnya. Untuk saat ini pengelolaan sampah yang ada di TPS 3R Kecamatan Tanta hanya sebatas ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB mengangkut sampah dari masyrakat kemudian melakukan pemilahan di TPS tanpa adanya pengolahan seperti pencacahan dan pengayakan serta pengomposan sampah. Pemantauan Program. Pemantauan program merupakan salah satu indikator efektivitas program menurut (Budiani, 2. , yaitu dilakukan setelah dilaksanakan program sebagai bentuk perhatian kepada peserta Idealnya program harus disertai dengan pemantauan atau pengawasan agar berjalan sesuai dengan target sasaran yang telah ditetapkan dan mencapai tujuan program. Sehingga dalam melakukan pemantauan didalamnya juga terdapat upaya yang dilakukan terhadap temuan atau permasalahan yang terjadi supaya program dapat berjalan dengan optimal dan sepenuhnya bermanfaat bagi masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan maka bentuk pemantauan dan evaluasi program yang dilakukan oleh TPS 3R Nawuraha Desa Warukin dan TPS Menanti Desa padang Panjang dapat disimpulkan cukup efektif karena pemantauan dan pelaporan yang dilakukan oleh pihak pengurus TPS di Kecamatan Tanta dan juga dari DLH dilakukan cukup terarah untuk operasional program TPS 3R di Kecamatan Tanta, kabupaten Tabalong. Pembahasan Ketepatan Sasaran Program. Berdasarkan hasil wawancara, program pengelolaan sampah TPS 3R di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong, telah tepat sasaran dan berhasil melibatkan masyarakat Desa Warukin dan Desa Padang Panjang dalam pengangkutan, pemilahan, dan pengelolaan sampah, yang berdampak positif pada kebersihan lingkungan. Indikator ketepatan sasaran program ini meliputi keterlibatan aktif masyarakat, peningkatan kesadaran dan partisipasi dalam pengelolaan sampah. JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 kebersihan lingkungan yang lebih baik, serta dukungan dan penerimaan positif dari masyarakat terhadap program ini. Meski demikian, perlu ada peningkatan dalam sosialisasi untuk memastikan semua lapisan masyarakat memahami pentingnya pengelolaan sampah 3R, peningkatan fasilitas pendukung seperti tempat sampah dan alat pengolah sampah organik, serta program pelatihan pemilahan sampah. Sosialisasi Program. Berdasarkan hasil wawancara, sosialisasi program pengelolaan sampah oleh TPS 3R di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong, telah dilakukan namun belum sepenuhnya efektif, karena masih banyak masyarakat yang belum memahami cara pemilahan sampah yang benar meskipun sosialisasi telah dilaksanakan. Kritik utama adalah kurangnya efektivitas sosialisasi, tidak konsistennya pemilahan sampah oleh masyarakat, dan informasi yang terbatas mengenai manfaat jangka panjang pengelolaan sampah 3R. Pencapaian Tujuan Program. Berdasarkan pencapaian tujuan program pengelolaan sampah oleh TPS 3R di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong, belum efektif karena saat ini program hanya mencakup pengangkutan dan pemilahan sampah tanpa melibatkan proses pengolahan lebih lanjut seperti pencacahan, pengayakan, dan pengomposan, akibat keterbatasan fasilitas. Meskipun ada rencana jangka panjang seperti pembuatan bank sampah, tujuan tersebut belum tercapai. Kritik utama adalah keterbatasan fasilitas, kurangnya fokus pada pengembangan jangka panjang, dan belum terlaksananya semua tahapan pengolahan. Pemantauan Program. ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB Berdasarkan pemantauan program pengelolaan sampah oleh TPS 3R di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong, masih kurang efektif karena pemantauan dan evaluasi dilakukan tidak rutin, dengan pengawasan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) hanya sebulan sekali dan pemantauan internal tidak dilakukan setiap hari. Hal ini mengakibatkan sejumlah kendala dalam pelaksanaan program, seperti ketidaksesuaian dengan standar yang ditetapkan. Kritik utama adalah frekuensi pemantauan yang tidak memadai, keterbatasan pengawasan DLH, dan kurangnya evaluasi menyeluruh. Faktor Penghambat TPS 3R Di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong Dalam pengelolaan sampah oleh TPS 3R di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong, terdapat beberapa faktor penghambat utama yang mempengaruhi jalannya program. Pertama, sarana dan prasarana yang kurang memadai, seperti kerusakan pada mesin pencacah dan pengayak serta kendaraan pengangkut sampah yang sudah tua, menghambat efektivitas operasional. Kedua, keterbatasan sumber dana menjadi masalah signifikan, dengan pendapatan dari retribusi masyarakat dan penjualan barang daur ulang yang tidak selalu mencukupi untuk menutupi biaya operasional dan perawatan alat. Ketiga, kurangnya partisipasi dan pemahaman masyarakat mengenai pemilahan sampah pengelolaan sampah. Kombinasi dari faktorfaktor ini termasuk fasilitas yang rusak, dana yang tidak mencukupi, dan rendahnya kesadaran masyarakat merupakan hambatan pengelolaan sampah TPS 3R di Kecamatan Tanta, sehingga program tersebut belum berjalan secara efektif. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti melalui hasil dari wawancara, observasi dan dokumentasi terkait efektivitas pengelolaan sampah ditempat pengolahan sampah 3R (TPS 3R) di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong, dapat disimpulkan : Efektivitas Pengelolaan sampah dilakukan oleh TPS 3R yang ada di Kecamatan Tanta belum berjalan secara efektif. Hal ini dilihat dari ketepatan sasaran program, sosialisasi program, pencapaian tujuan program, dan pemantauan program. Dalam mencapai target untuk pengelolaan sampah TPS yang ada di Kecamatan Tanta hanya melakukan pengangkutan dan juga pemilahan sampah dari rumah masyarakat Desa tanpa adanya pencacahan, pengayakan, dan pengomposan sampah, karena masih banyak kendala yang dialami. Dalam program pengelolaan sampah TPS 3R yang ada di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong dari hasil penelitian yang dilakukan didapati masih banyak faktor penghambat yang ada di TPS 3R di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong yang mempengaruhi jalannya program penglolaan sampah TPS 3R diantaranya, dari kondisi aspek kelembagaan untuk di TPS 3R Nawuraha Desa Warukin keterbatasan tenaga kerja yang ada, dari sarana dan prasarana yang dimiliki oleh TPS yang ada di kecamatan Tanta sangat kurang, fasilitas sarana dan prasarana tidak memadai seperti kendaraan pengangkut sampah (Toss. yang dimiliki oleh TPS 3R Nawuraha Desa Warukin sebanyak 3 buah. Tossa yang aktif beroperasi di TPS 3R Nawuraha Desa Warukin saat ini hanya 1 buah serta untuk mesin pencacah dan pengayak sampah di TPS Nawuraha Desa Warukin dan TPS 3R Menanti Desa Padang Panjang yang untuk saat ini belum bisa digunakan sehigga belum maksimal dalam pengelolaan sampah, selain itu keterbatasan dana yang dimiliki, dan kurangnya partisipasi dan peran masyrakat desa dalam pengelolaan sampah yang juga menjadi kendala bagi TPS KESIMPULAN JAPB : Volume 8 Nomor 2, 2025 ISSN : 2723-0937 DOI. 35722/japb Https://jurnal. id/index. php/JAPB 3R yang ada di Kecamatan Tanta. Kabupaten Tabalong. SARAN