Jurnal Teknologi Kedirgantaraan. Vol. 5 No. Januari 2020. P-ISSN 2528-2778. E-ISSN 2684-9704 DOI : https://doi. org/10. 35894/jtk. SIMULATOR PESAWAT MELEWATI VHF OMNIDIRECTIONAL RADIO RANGE (VOR) Ariawan D. Rachmanto*. Iswanto Prodi Teknik Informatika - Fakultas Ilmu Komputer dan Informatika Universitas Nurtanio Bandung Corresponding Author : ariawan@unnur. Abstrak. Penerbangan pesawat terbang komersial selalu mengikuti flight plan yang dibuat, flight plan dibuat pilot berdasarkan airways yang sudah ada. Airways menghubungkan antara airport dengan VOR/DME, dimana VOR/DME dalam penerbangan dikenal sebagai peralatan navigasi udara . VOR/DME diperlukan penerbang supaya tidak kehilangan arah sehingga pesawat dapat terbang ke airport tujuan. Instrument HSI memberikan visualisasi bearing, course, from to dan deviasi VOR/DME Informasi dari HSI merupakan informasi yang digunakan pilot untuk sampai ke VOR/DME Tujuan penelitian adalah membuat perangkat lunak simulasi pergerakan pesawat melewati VOR, metode pengembangan perangkat lunak menggunakan model Prototype dengan cara melihat perangkat yang sudah ada. Simulasi dan pemodelan dilakukan dengan meletakkan VOR/DME pada latitude dan longitude sesuai dengan letak di darat, kemudian memodelkan letak VOR/DME menggunakan peta MapX4. 5, pesawat dikondisikan terbang pada airport yang ditentukan, instrument HSI dimodelkan dengan menggunakan GL Studio, dengan menggunakan bahasa pemrograman C#, data VOR/DME Indonesia dan airport Indonesia disimpan dalam Excell. Hasil perhitungan kemudian divisualisasikan pada instrument HSI, hasil visualisasi instrumen dibandingkan dengan Garmin Integrated Flight Deck (GIFD) Trainer, version 14. 01 pada kondisi yang sama. Kata kunci : IFR. VOR/DME. Airways. HSI. Abstract. Commercial airplane flights always follow the flight plan that was made, the flight plan was made by the pilot based on the existing airways. Airways connects airports with VOR/DME, where VOR/DME in flight are known as air navigation equipment. VOR/DME is needed by a pilot so that he does not lose direction so that the aircraft can fly to the destination The HSI instrument provides visualization of bearing, course, from to and destination VOR/DME deviations. Information from HSI is information that the pilot uses to get to the next VOR/DME. The purpose of this research is to make an aircraft movement simulation software approaching VOR, a software development method using the Prototype model by looking at existing devices. Simulation and modeling are done by placing VOR/DME at latitude and longitude in accordance with the location on land, then modeling the location of VOR/DME using MapX4. 5 map, air conditioned flight at the specified airport. HSI instrument is modeled using GL Studio, using language C # programming. Indonesian VOR/DME data and Indonesian airports are stored in Excel. The calculation results are then visualized on the HSI instrument, the instrument visualization results are compared with the Garmin Integrated Flight Deck (GIFD) Trainer, version 14. 01 under the same conditions. Keywords: IFR. VOR/DME. Airways. HSI. PENDAHULUAN Pendidikan Pilot (Penerban. sangat mahal karena dalam pendidikan tersebut tidak hanya dikenalkan secara teori tetapi juga dilakukan praktek terbang. Sebelum terbang dengan pesawat terbang seorang calon penerbang akan diperkenalkan instrumen-instrumen Instrument tersebut ada yang terdapat di darat seperti alat navigasi (Navigation Aids disingkat NavAid. , ada juga instrumen yang terdapat dalam cockpit pesawat seperti Omni-Bearing Selector (OBS) atau Course Deviation Indicator (CDI). HSI (Horizontal Situation Indicato. Semua pesawat terbang dilengkapi dengan sistem navigasi agar pesawat dapat sampai airport tujuan dengan Sistem navigasi penerbangan terdiri dari kumpulan berbagai peralatan navigasi udara yang berguna untuk memberi panduan seperti halnya arah, jarak, kecepatan terhadap suatu bandar udara, ketinggian terhadap daratan, serta memberikan panduan pendaratan . ketika cuaca buruk yang kesemuanya itu keamanan penerbangan. Gambar 1. Kedatangan dari Cilacap Setiap pesawat terbang yang akan take off atau landing . mempunyai panduan yang harus ditaati, pada gambar dibawah ini sebagai contoh pesawat akan mendarat di landasan Husein Sastranegara dengan arah kedatangan dari Cilacap. Setiap pesawat terbang yang take off atau landing mempunyai panduan yang harus ditaati, pada gambar 1 di atas sebagai ilustrasi pesawat akan mendarat di landasan Husein Sastranegara dengan arah Cilacap. Runway . andasan Husein Sastranegara mempunyai arah 1100 dan arah sebaliknya 2900 atau biasa ditulis dengan RWY 11/29. Bandara Husein Sastranegara mempunyai 2 peralatan navigasi udara yaitu VOR/DME dan NDB. VOR/DME untuk bandara Husein dengan kode BND terletak pada koordinat latitude = -6,882078 dan longitude = 107,512339 frekuensi = 117. Heading pesawat agar dapat mencapai BND harus diarahkan Sebelum terbang Pilot berkewajiban penerbangannya . light pla. yang akan . ermasuk konsumsi bahan bakar, dan kemampuan . Flight plan dapat mengikuti airways yang sudah ada, dimana airways ini menghubungkan antara waypoint, waypoint dapat berupa titik-titik yang sudah ditentukan dapat berupa airport. VOR. NDB atau Waypoint yang telah disepakati. Untuk dapat terbang sesuai dengan flight plan yang telah ditentukan, pilot dapat terbang secara visual . isual fligh. nstrument fligh. Terbang instrument adalah dengan menggunakan peralatan VOR merupakan alat bantu navigasi jarak sedang, yang bekerja menggunakan frekuensi radio sangat tinggi (VHF/Very High Frequenc. VOR memungkinkan pesawat menuju tujuan, dengan memanfaatkan stasiun VOR di darat tanpa tergantung dari keadaan cuaca . aitu dengan menggunakan bantuan instrument atau dengan bantuan autopilo. Penerbang dapat memanfaatkan stasiun VOR terdekat dengan bandara pada saat tinggal landas kemudian memilih waypoint dapat berupa VOR/DME atau NDB. Tidak semua VOR dilengkapi dengan DME. VOR bekerja pada frekuensi VHF dari 108 sampai 117. 95 MHz. VOR adalah alat navigasi udara yang berfungsi memberikan informasi jarak kepada pesawat, sudut miring antara pesawat dan transmiter dari DME. Prinsip kerja VOR/DME adalah penerbang melakukan tune frekwensi pada VOR/DME yang menjadi tujuan. Kemudian instrument akan memberikan informasi bearing, slant range . arak mirin. antara pesawat dengan VOR, sehingga dengan informasi tersebut pilot akan tepat ke VOR/DME tujuan. Diperlukan biaya yang besar jika belajar navigasi dengan menggunakan pesawat terbang, sehingga untuk taraf pembelajaran dibuat Simulator VOR yang pesawat yang akan melewati VOR/DME. Simulasi yang dibuat dengan meletakkan . VOR/DME tempat/daratan yang dimodelkan pada MapX4. 5, posisi latitude dan longitude VOR/DME sesuai dengan letak didaratan, demikian juga pesawat yang akan melewati Navaids longitudenya dimulai dari airport terdekat. Pada perangkat lunak yang dikembangkan pesawat dapat diatur heading . rah nose pesawat yang dihitung berdasarkan kutub utar. , kecepatan pesawat . ircraft spee. juga kecepatan angin . ind spee. II. DASAR TEORI Sistem Navigasi Udara Terdapat beberapa peralatan navigasi udara yang digunakan dalam membantu arah penerbangan pesawat, dalam navigasi udara dikenal ada VOR/DME. NDB. ILS dan masih banyak lagi. Dalam penelitian ini hanya membuat perangkat lunak simulasi pesawat pada waktu akan dan setelah melewati VOR/DME, hasil perhitungan bearing, course distance divisualisasikan pada model instrument HSI. Instrument HSI pada pesawat terbang memvisualisasikan bearing, deviasi , course dalam satuan derajat berdasarkan perhitungan dari signal yang diberikan VOR/DME Penerbang memanfaatkan stasiun VOR di darat pada saat tinggal landas, setelah mencapai VOR tujuan, pilot melakukan tune frekwensi pada VOR berikutnya sebagai arah penerbangan begitu seterusnya sampai pesawat mencapai airport tujuan. Dalam navigasi terbang dikenal istilah heading, magnetic bearing dan relative Heading adalah sudut arah hidung pesawat yang diukur berdasarkan kutub utara sebagai acuan. Magnetic bearing adalah sudut yang tercipta antara garis lurus pesawat terhadap stasiun peralatan navigasi (VOR atau NDB/ADF) dengan garis lurus pesawat dan kutub utara. Relative bearing adalah sudut yang tercipta antara heading pesawat dengan garis lurus antara pesawat dan navigation ground Untuk lebih jelasnya seperti pada gambar di bawah ini. Gambar 2 . Magnetic bearing dan relative Pada gambar 2 pesawat terbang pada heading 300 , true bearing navaids 900, bearing pesawat terhadap navaids adalah Perhitungan berdasarkan kutub utara. Posisi atau letak pesawat terbang dan letak VOR/DME dinyatakan dengan Geographic Coordinate System (GCS), yaitu suatu sistem koordinat muka bumi yang direpresentasikan dari permukaan bumi untuk mendefinisikan posisi dipermukaan Setiap tempat di permukaan bumi di definisikan dengan nilai lintang . dan bujur . Satuan koordinatnya adalah derajat. Jarak diantara posisi pesawat dengan VOR/DME . menggunakan formulasi berikut ycycaycycayco = acosA. O sin. O cos. O cos. coycuycu1 Oe ycoycuycu. ) . ycayceycaycycnycuyci = ycoycuycc. coycuycu1 Oe ycoycuycu. O cos. , cos. O sin. Oe ycycnycu. O cos. O cos. coycuycu1 Oe ycoycuycu. ), 2 O ycyyc. Menghitung posisi pesawat terbang pada waktu berikutnya dapat dihitung dengan ycOycI ycIycOya = ( ) O sinA. cOya Oe yaycIycI) ycNyaycI ycoycaycycuyceyc = asinA. O cos. O sin. O cos. ) ycoycuycuycuyceyc = ycoycuycc. coycuycu1 Oe asin. O sinA. )/cosA. ) . ,2 O . Oe . Dimana : menentukan pergerakan pesawat saat akan melalui VOR/DME, instrument penerima data-data VOR/DME mempunyai 3 macam fungsi/indikator. , yaitu : Menentukan azimuth, yaitu sudut searah jarum jam antara arah utara dari stasiun VOR dengan garis yang menghubungkan stasiun tersebut dengan pesawat terbang. Menunjukkan deviasi kepada pilot, yaitu apakah pesawat berada di kiri, kanan atau tepat pada jalur penerbangan yang benar/dipilih. Sehingga mengetahui posisi pesawat terhadap VOR/DME pilot dapat memposisikan pesawat sesuai dengan arah VOR/DME yang akan dilalui. Menunjukkan apakah arah pesawat terbang menuju atau meninggalkan stasiun VOR tujuan. VOR selalu dilengkapi dengan DME (Distance Measuring Equipmen. , adalah alat navigasi udara yang berfungsi memberikan informasi jarak kepada pesawat, jarak yang di berikan adalah sudut miring antara pesawat dan transmiter dari DME ini dan bukan jarak sesungguhnya antara pesawat dan DME. lat1 = latitude 1, latitude pesawat. lon1 = longitude 1, longitude pesawat. lat2= latitude 2, latitude VOR. lon2 = longitude 2, longitude VOR bearing dalam radian jarak dalam mile SWC = Speed. Wind and Course. Sistem Instrument HSI Dalam Pesawat Letak stasiun VOR di darat diletakkan sedemikian rupa. VOR digunakan untuk menuntun pesawat menuju bandara tujuan. Dalam penerbangan pilot pesawat terbang dengan bantuan VOR/DME atau dengan menggunakan dua stasiun VOR terdekat. Perlengkapan penerima VOR di pesawat Gambar 3. Instrument HSI Untuk VOR/DME Instrument menampilkan VOR/DME berupa distance, bearing, course dapat dilihat pada instrument Horizontal Situation Indicator (HSI), seperti pada Gambar 3 . Instrument HSI tersebut merupakan instrument HSI yang terdapat pada pesawat, terdapat komponen-komponen penting yaitu : Heading bug yaitu indikator kompas menunjukkan sudut tujuan arah Jika diaktifkan, pesawat akan terbang sesuai arah heading bug Bearing adalah sudut antara pesawat terbang dengan VOR/DME tujuan. TO-FROM Indicator kepada pilot bahwa bearing yang sudah ditentukan akan membawa pesawat menuju atau meninggalkan VOR station. Aircraft Symbol. Simbol pesawat yang digunakan sebagai referensi, yang akan memberikan informasi lebih dalam penggunaan instrument. Course deviation, digunakan sebagai navigasi pesawat untuk menentukan seberapa besar deviasi posisi lateral pesawat . terhadap VOR/DME tujuan, jika lokasi pesawat di sebelah kiri VOR/DME, jarum mengalihkan posisi pesawat ke kanan begitu Langkah-langkah pengoperasian sistem navigasi VOR ditunjukkan oleh urutan proses berikut ini . Pilot memilih frekuensi VOR dan memastikan identitas VOR station yang dipilih dengan mendengarkan kode suara dari VOR berupa 3 huruf berupa kode morse. Receiver menerima sinyal RF yang terdiri dari frekuensi carrier dan subcarrier Receiver melakukan proses decoding kepada sinyal yang diterima untuk mengetahui perbedaan fasa diantara Setelah perbedaan fase didapatkan, sudut bearing ditentukan kemudian dikirimkan ke indikator dan ditampilkan agar dapat dibaca oleh pilot. Begitu pula dengan TO-FROM indicator-nya. Pilot sampai pesawat mencapai titik (VOR Kemudian pilot memilih VOR station berikutnya sesuai dengan jalur penerbangannya. Pilot melakukan penerbangan dengan VOR station sebagai acuan sampai Setelah mendekati bandara tujuan akhirnya, pilot mengganti frekuensi VOR ke frekuensi ILS (Instrument Landing Syste. untuk pendaratan di runway. Analisis Sistem Analisis terhadap sistem peralatan navigasi udara VOR/DME bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku sistem dalam hal ini HSI (Horizontal Situation Indicato. , cara kerja dan merancang model. Simulasi pergerakan pesawat terbang mendekati VOR/DME dapat dilihat pada map, heading, course ditampilkan pada model instrument HSI. Perangkat lunak Simulator VOR yang dikembangkan mempunyai kemampuan sebagai berikut. Pengguna dapat mengatur heading, kecepatan dan arah angin, dengan Penguna dapat melakukan zoom in dan zoom out, pan tool dan arrow tool pada peta dimana pergerakan pesawat Pengguna menggunakan 1 VOR/DME atau 2 VOR/DME pada menu yang telah disediakan, dengan memilih nama VOR/DME. Perangkat lunak menampilkan peta dengan VOR/DME, airways dan airport dimana posisi awal dari pesawat. Perangkat menunjukkan letak VOR/DME pada peta, jika VOR/DME tidak ditentukan atau tidak dipilih terlebih dahulu. Pengguna dapat menentukan heading pesawat agar menuju ke VOR/DME yang ditentukan atau dipilih. Heading pesawat dapat ditampilkan pada bagian tampilan besaran heading perangkat lunak. Map pada perangkat lunak dapat line/garis pesawat dengan VOR/DME, baik VOR 1 atau VOR 2. Instrument HSI dapat menampilkan distance dalam Nm (Nautical Mil. dan bearing . alam degre. antara pesawat dengan VOR. Pengguna dapat mengubah letak pesawat sesuai dengan data airport yang ada. Pengguna dapat menambah data VOR/DME dan data airport yang sudah i. PERANCANGAN DAN REALISASI Perancangan Sistem Sistem dikembangkan menggunakan MapX 4 untuk tampilan map dengan koordinat airport dan koordinat VOR/DME. Pesawat diterbangkan dari airport terdekat, heading, course dan kecepatan pesawat dapat Model instrument HSI pesawat yang dikembangkan menggunakan GL Studio Version 4. 0, informasi lebih lengkap https://disti. com/?utm_campaign=product_ domain&utm_source=simulation. com&utm _medium=domain&ref=dp2. Bahasa pemrograman yang digunakan untuk membuat perangkat lunak simulasi Visual Studio Perancangan perangkat lunak Simulasi dimulai dengan membuat rancangan display perangkat lunak. Jika pada pesawat terbang pemilihan VOR dilakukan dengan tune frekwensi VOR tujuan, dalam perangkat lunak yang dibuat harus ditentukan terlebih dahulu posisi pesawat. VOR 1 dan VOR 2. Flowchart dari sistem yang dikembangkan seperti gambar Memilih lokasi airport. VOR/DME yang menjadi Menentukan kecepatan VOR Valid Hitung distance. Atur Heading dan Course Bearing dan ditampilkan di Pesawat di Map bergerak Stop Gambar 4. Flowchart Simulasi VOR/DME Keterangan gambar 4 VOR1 dan VOR 2 ditentukan terlebih dahulu, jika distance antara pesawat dengan VOR lebih kecil range maka kode VOR muncul di instrument HSI. Sistem menghitung distance dan bearing antara pesawat VOR Hasil perhitungan di visualisasikan dalam instrumen HSI. Perancangan perangkat lunak Simulator VOR dapat ditunjukkan seperti pada Gambar 5. Aplikasi ini terdiri dari 1 antarmuka dengan terdapat data input, data output, maps dan instrument pesawat terbang. Berikut merupakan gambar tampilan antarmuka dari aplikasi yang telah dibuat Gambar 5. Design Simulator VOR Gambar 6. Tampilan Simulator VOR/DME Tampilan dikelompokkan menjadi data pesawat, data angin, map. Data pesawat terdapat data airport. atitude dan longitud. , altitude dibuat kontstan, terdapat input yang dapat diatur oleh pengguna seperti speed, heading dan course. Bearing merupakan hasil perhitungan , bearing merupakan sudut antara pesawat dengan VOR/DME. Terdapat pilihan airport pesawat terbang mulai diterbangkan. Data airport dapat diupdate dengan menambah airport Indonesia sesuai dengan format data yang Data-data ketersediaan peta tampilan. Gambar 7. Data Pesawat Dan Data Angin Tabel 1. Keterangan Instrument. Gambar Keterangan Slicer untuk mengatur Speed pesawat. Generic mengatur heading pesawat. Generic mengatur course pesawat. Button untuk mengaktifkan Vor 1 dan Vor 2di instrument EHSI. Data VOR merupakan data dari VOR/DME yang menjadi tujuan pesawat Dapat digunakan 2 data VOR/DME dalam hal ini dipilih berdasarkan nama VOR/DME, pada pesawat terbang pilihan VOR/DME menggunakan frekwensi dari VOR/DME yang menjadi tujuan, frekwensi VOR/DME Budiarto 115. 8 MHz dan DKI Jakarta 114. yang aktif. Heading pesawat 2500 , course ditunjukkan dengan jarum hijau pada Heading VOR Gambar 9. Instrument EHSI Pada peta simulasi dapat ditunjukkan pesawat dengan heading 2500 , letak VOR/DME Jakarta VOR/DME Budiarto. Garis merah dan kuning sebagai garis penghubung antara pesawat terbang dengan VOR/DME yang menjadi tujuan. Peta simulasi seperti pada gambar berikut. Gambar 8. Data VOR Terdapat pilihan VOR/DME yang menjadi tujuan pesawat terbang. Data VOR/DME menambah VOR/DME di Indonesia sesuai dengan format data yang diberikan. Datadata VOR/DME yang dipergunakan disesuaikan dengan ketersediaan peta Instrument EHSI dipergunakan untuk menampilkan data-data hasil perhitungan VOR/DME. VOR/DME, . Pada gambar instrument (Gambar 9. ) data VOR 1 ditunjukkan 8, kode VOR/DME BTO, bearing 2650 jarak 19 Nm. Data VOR 2 VOR/DME DKI, bearing 25 jarak 21 Nm. Pada instrument ditunjukkan bahwa VOR 1 Gambar 10. MAP Simulasi IV. PENGUJIAN Perangkat lunak Simulator VOR dibandingkan dengan perangkat lunak Garmin Integrated Flight Deck (GIFD) Trainer, version 14. 01 dibuat oleh Garmin Ltd. Pengujian dilakukan pada airport Husein Sastranegara Bandung, heading Gambar 12 B. Simulator VOR- DKI Gambar 11 A. GIFD Trainer- MFD Gambar 11 B. GIFD Trainer- PFD Gambar 12 A. Simulator VOR- HLM GIFD Trainer terdiri dari tampilan MFD . ambar 11A) dan tampilan PFD . ambar 11B) menunjukkan pesawat berada pada airport Halim Perdanakusuma (WIHH) dengan heading 2900 . Vor 1 113. 3 HLM bearing terhadap HLM 1580 dan Vor2 114. DKI bearing terhadap DKI 260. Gambar HSI pada instrument PFD menunjukkan Vor 2 (DKI), jarak dari pesawat terhadap DKI 20,6 Nm, sedangkan terhadap HLM 0 Nm. Perangkat lunak Simulator VOR yang dikembangkan ditunjukkan seperti Gambar 12 A dan B. Perangkat Simulator VOR yang dikembangkan terdiri dari map, instrument HSI, pengatur heading, course dan speed Pada gambar 12A disimulasikan pesawat mulai terbang dari Halim Perdanakusuma dengan heading 2900 . Halim Perdanakusuma (HLM) dan vor Jakarta (DKI) (Gambar 12B). Hasil visualisasi jarak terhadap HLM adalah 0 Nm, bearing pesawat terhadap HLM 1530 sedangkan jarak terhadap DKI adalah 21 Nm bearing terhadap DKI 280. Hasil perbandingan instrument HSI dapat ditunjukkan seperti Gambar 13. Course HSImenunjukkan sebesar 3360 untuk instrument HSI GIFD Trainer, pada instrument HSI perangkat lunak yang dikembangkan sebesar 3360. Perangkat Simulator VOR yang dikembangkan diuji mulai terbang pada bandara Adi Sucipto (WARJ) dengan heading 2800, dengan menggunakan VOR HLM , untuk kemudian menggunakan VOR CLP setelah melewati JOG. Hasil menggunakan perangkat GIFD Trainer seperti Gambar 14. Hasil simulasi dengan menggunakan GIFD Trainer jarak pesawat terbang terhadap JOG adalah 7. 7 Nm, jarak terhadap CLP 6 Nm, bearing pesawat terhadap JOG adalah 2630 , bearing terhadap CLP adalah 2770 dapat dilihat dari jarum hijau pada PFD. Gambar 14 B. GIFD Trainer Bandara Adi Sucipto-PFD Hasil menggunakan data input yang sama, heading 2800, menggunakan VOR HLM dan VOR CLP dengan perangkat lunak yang dikembangkan dapat ditunjukkan hasil simulasinya seperti Gambar 15. Gambar 13A Perbandingan Visualisasi Instrument HSI Ae GIFD Trainer Gambar 15A dan 15 B dengan menggunakan input yang sama dengan perangkat GIFD Trainer, pada map dapat divisualisasikan pesawat terbang berada pada Adi Sucipto (WARJ), jarak pesawat dengan VOR JOG adalah 7 Nm dengan bearing pesawat terhadap JOG adalah 2640, sementara jarak pesawat dengan CLP adalah 87 Nm dengan bearint 2750. Gambar 13B Perbandingan Visualisasi Instrument HSI Ae Perangkat Lunak Gambar 15 A. Perangkat Lunak Simulator VOR dari Bandara Adi Sucipto - JOG Gambar 14 A. GIFD Trainer Bandara Adi Sucipto-MFD Gambar 16 A. Instrumen HSI GIFD Trainer JOG Gambar 15 B. Perangkat Lunak Simulator VOR dari Bandara Adi Sucipto Ae CLP Hasil simulasi GIFD Trainer dibandingkan dengan menggunakan perangkat lunak yang dikembangkan dengan menggunakan input yang sama untuk VOR JOG, dapat divisualisasikan pada instrumen HSI seperti Gambar 16. Gambar 16 A hasil simulasi dengan GIFD Trainer jarak pesawat dengan VOR JOG 7. 3 Nm, bearing 2630 dan course Gambar 16B hasil simulasi dengan menggunakan perangkat lunak yang jarak dengan VOR JOG adalah 7 Nm, bearing 2640, course 2640 seperti ditunjukkan panah hijau. Hasil GIFD Trainer perangkat lunak yang dikembangkan dengan menggunakan input yang sama untuk VOR CLP, dapat divisualisasikan pada instrumen HSI seperti Gambar 17. Gambar 16 B. Instrumen HSI Simulator VOR JOG Gambar 17A Instrumen HSI GIFD Trainer CLP Hasil simulasi dengan GIFD Trainer jarak pesawat dengan VOR CLP 83. 6 Nm, bearing 2740 dan course 960 panah hijau (GIFD Traine. Hasil simulasi dengan menggunakan perangkat lunak yang jarak dengan VOR CLP adalah 86 Nm, bearing 2750, course 960 seperti ditunjukkan panah putih (Simulator VOR). Aplikasi Simulasi VOR dijalankan dengan mengatur speed 420 knot, hasil simulasi dapat diperlihatkan seperti pada Gambar 18. Gambar 17 B Instrumen HSI Simulator VOR CLP Gambar 19 memvisualisasikan pesawat sebelum melewati CLP pada jarak 2 Nm, bearing 2990 , tanda from/to menunjukkan to CLP. Perbesaran HSI diperlihatkan pada Gambar 20. Gambar 18 A Simulasi Dengan Speed 420 knot sebelum melewati JOG jarak 1 Nm Gambar 20. HSI sebelum pesawat melewati CLP jarak 2 Nm Pesawat disimulasikan tetap terbang dengan speed 420 knot sampai melewati CLP seperti pada Gambar 21. Gambar 18 B Simulasi Dengan Speed 420 knot setelah melewati JOG jarak 1 Nm Heading pesawat 2700 , bearing 2110 dengan course 2560 tanda pergerakan pesawat garis hijau pada peta. Tanda from/to menunjukkan to . JOG, setelah melewati JOG tanda from/to berubah seperti gambar, bearing pesawat terhadap JOG 1340. Pesawat disimulasikan tetap terbang dengan speed 420 knot untuk mencapai CLP sebagai VOR tujuan berikutnya Gambar 21. Simulasi Dengan Speed 420 knot tepat melewati CLP jarak 0 Nm Gambar 21 memvisualisasikan pesawat tepat melewati CLP dengan jarak 0 Nm, bearing 90 , tanda from/to menunjukkan from CLP. Perbesaran HSI diperlihatkan pada Gambar 22. Gambar 19. Simulasi Dengan Speed 420 knot sebelum melewati CLP jarak 2 Nm VI. DAFTAR PUSTAKA Gambar 22. HSI tepat pesawat melewati CLP jarak 0 Nm KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Setelah melakukan rancang bangun perangkat lunak Simulator VOR, penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut : Instrument HSI yang dikembangkan sesuai dengan perangkat lunak lain dalam hal ini Garmin Integrated Flight Deck (GIFD) Trainer. Hasil visualisasi HSI pada perangkat Simulator VOR dikembangkan dengan input yang sama menunjukkan hasil yang sama dengan GIFD. Jarak dan bearing antara pesawat dengan VOR/DME menunjukkan hasil yang sama dengan GIFD, jika ada perbedaan karena posisi latitude dan longitude VOR/DME GIFD tidak Visualisasi map dapat diperbesar untuk menampilkan lebih jelas VOR/DME. Saran