Determinan Terjadinya Stunting pada AnakA (Futry Maysura. Samino. Khoidar Amirus, dk. Determinan Terjadinya Stunting pada Anak Usia 0-24 Bulan di Kabupaten Aceh Besar Determinants of Stunting in 0-24 Month Old Children in Aceh Besar Regency Futry Maysura1. Samino2. Khoidar Amirus2. Lensoni2. Ambia Nurdin2 Prodi Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Malahayati. Lampung. Indonesia Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati. Lampung. Indonesia Universitas Korespondensi Penulis : putrimaisura65@gmail. ABSTRACT. According to UNICEF data in 2020, the global prevalence of stunting in young children in 2019 showed that around 21. 3% or 144 million children under five years old were still According to data from the Health Department, the number of stunting cases is very high. In 2019 it was 22. 4%, in 2020 . 7%), in 2021 . 1%), in 2022 . 9%) and in 2023 . 3%). The purpose of this study is to determine the determinants of stunting in children aged 0-24 months in Aceh Besar Regency in 2024. This study uses a quantitative research design with a cross-sectional study design. The sample size used was 384 respondents, with sample measurement using the Lamaslow formula. The results of this conclusion are Based on the final table, the dominant variable related to stunting events is the food security variable with an OR of 1. 668, meaning that food security is 1. 668 times more at risk for stunting. For the variables of infectious disease and parental knowledge, they become confounding variables because the P-value is > 0. The conclusion of this study is that for this study, there are 7 variables that are all significant with a P-value of 0, < alpha value of 0. Keyeords : Stunting. Determinan. Tolder ABSTRAK Menurut data UNICEF 2020, prevalensi global stunting pada anak kecil pada tahun 2019 menunjukkan bahwa sekitar 21,3% atau 144 juta anak di bawah usia lima tahun masih stunting. Menurut data yang terdapat di Dinas Kesehatan jumlah angka stunting itu sangat Pada tahun 2019 22,4%, tahun 2020 . ,7%), tahun 2021 . ,1%), tahun 2022 . ,9%) dan 2023 . ,3%). Tujuan Penelitian untuk mengetahui apa Saja Determinan Terjadinya Stunting Pada Anak Usia 0-24 Bulan Di Kabupaten Aceh Besar Tahun 2024. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan desain potong lintang (Cross Sectional Stud. Jumlah sampel yang digunakan adalah 384 responden dengan pengukuran sampel menggunakan rumus lameslow. Hasil Dari Kesimpulan ini adalah Berdasarkan pada table akhir yang menjadi variable dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting terdapat pada variable ketahanan pangan dengan nilai Or 1. 668 artinya ketahanan pangan beresiko 1. 668 lebih besar untuk kejadian untuk variable penyakit infeksi dan pengetahuan orang tua menjadi variable convonding karna nilai P-Value > 0. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Kesimpulan dari penelitian ini adalah Untuk penelitian ini terdapat 7 variabel yang semua yang signifikan nilai P-value 0, < nilai 0,05. Kata Kunci : Stunting. Determinan. Balita Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 513-518 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Determinan Terjadinya Stunting pada AnakA (Futry Maysura. Samino. Khoidar Amirus, dk. PENDAHULUAN Masalah gizi dengan stunting . alita pende. merupakan salah satu masalah gizi yang paling serius, terutama negara-negara keterbelakangan pertumbuhan hubungan linier anak balita akibat akumulasi gizi kurang yang persisten durasi, dari awal kehamilan hingga usia 24 bulan. Pertumbuhan perkembangan anak pada masa kanakkanak dapat menghambat perkembangan menghambat perkembangan intelektual Anak masalah gizi memiliki Risiko penurunan kemampuan intelektual, produktivitas, kemungkinan risiko penyakit degeneratif di masa depan (Unsunnidhal et al. , 2. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022, angka stunting turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di Menurut data stunting yang di peroleh dari riset SSGI (Survei Studi Status Gizi Indonesi. tahun 2021 Provinsi Aceh dengan prevalensi sebesar 33,2%, sedangkan di Kabupaten Aceh besar Prevalensi yang diperoleh adalah 32,4%. Maka dapat kita lihat bahwa data dari SSGI setiap Kab/Kota di Aceh tahun 2021 dan 2022 wilayah kerja Aceh Besar terdapat tinggi angka Stunting pada Balita. Sehinggah peneliti tertarik untuk meneliti pada wilayah kerja Aceh Besar. Menurut data yang terdapat di Dinas Kesehatan jumlah angka stunting itu sangat tinggi. Pada tahun 2019 22,4%, tahun 2020 . ,7%), tahun 2021 . ,1%), tahun 2022 . ,9%) dan 2023 . ,3%). Sempat terjadi naik turun persentase angka stunting di Aceh besar, namun untuk angka stunting itu sendiri di bulan Febuari 2024 terdapat 4. 318 anak yang terdata stunting. Kepala Dinas Kesehatan (Dinke. Aceh, dr. Hanif Aceh menempati urutan dibandingkan dengan provinsi lain, atau sekitar 33,2% dari jumlah balita di Aceh mengalami stunting. Pemerintah Aceh juga akan melakukan program penguatan di tingkat Desa, dengan membentuk tim penanganan stunting di tingkat Desa bekerja sama dengan Aparat Desa. PKK, dan tim dari Puskesmas setempat selain itu. Kepala Dinkes Aceh ini menyebutkan, saat ini yang sudah terdata nama-nama anak stunting di Aceh berjumlah 12. AuKalau kita bagi secara rata-rata dari jumlah sekitar 6000 lebih Desa di Aceh, maka ada 2 anak per Desa yang Menurut perhitungan kita, saat ini ada sekitar 45% dari jumlah anak stunting yang baru tercatat, dan masih ada 65% lagi yang belum tercatat di Dinkes Aceh. Minimnya angka pemberian ASI di Aceh akan berdampak meningkatnya masalah stunting. Karena itu pola asuh menyusui ASI harus ditingkatkan. Asi ibu itu sangat bagus untuk pertumbuhan BKKBN sedang meminimalisir angka kematian ibu bayi (Sahidal, 2. Menurut profil kesehatan Aceh 2019, menyatakan bahwa provinsi paling ujungbarat Indonesia yaitu Aceh ini berada di urutan ke - 3 nasional tertinggi angka stunting. Angka stunting di 23 kabupaten/ kota di Provinsi Aceh tahun 2019, pendek dan sangatpendek adalah status gizi yang berdasarkan pada indeks tinggi badan menurut umur(TB/U). Persentase balita pendek sebesar 7%. Kabupaten Simeulue persentasetertinggi balita pendek yaitu Daerah terendah untuk kategoritersebut adalah Kabupaten Aceh singkil sebesar 0,6%. Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, kejadian stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Secara internal, stunting dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berhubungan langsung dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi, seperti pola asuh. ASI eksklusif, makanan pendamping ASI, imunisasi lengkap, kecukupan protein dan mineral, penyakit infeksi, dan genetik. Secara eksternal dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi keluarga, seperti tingkat pendidikan ibu, keluarga, dll. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa penanganan stunting secara keseluruhan tidak cukup di bidang kesehatan saja, tetapi juga Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 513-518 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Determinan Terjadinya Stunting pada AnakA (Futry Maysura. Samino. Khoidar Amirus, dk. harus menyentuh aspek sosial ekonomi (Nisa, 2. Tujuan umum penelitian untuk Saja Determinan Terjadinya Stunting Pada Anak Usia 024 Bulan Di Kabupaten Aceh Besar Tahun METODE Jenis penelitian yang digunakan menggunakan desain potong lintang atau Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2024 di Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar. Populasi dalam penelitian ini adalah anak stunting yang terlapor dalam EPPGBM (Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyaraka. bulan Februari 2024 berjumlah 560 dengan sampel 384 Variable independent dalam penelitian ini yaitu asupan makan, pengetahuan orang tua, status ekonomi keluarga, pola asuh, penyakit infeksi, faktir lingkungan dan ketahanan pangan. Variable dependen dalam penelitian ini yaitu kejadian stunting HASIL Tabel. Hubungan Kejadian Asupan Makan Pada Kejadian Stunting Sangat Pendek Jumlah P-Value 95% CI Pendek Kurang Baik . Baik Tabel 2. Hubungan Kejadian Penyakit Infeksi Pada Kejadian Stunting Sangat Pendek Jumlah P-Value 95% CI Penyakit Pendek Infeksi Terinfeksi . Tidak Terinfeksi Tabel 3. Hubungan Kejadian Ketahanan Pangan Pada Kejadian Stunting Sangat Pendek Jumlah P-Value 95% CI Ketahanan Pendek Pangan Baik . Kurang Baik 141 Tabel 4. Hubungan Kejadian Pola Asuh Pada Kejadian Stunting Sangat Pendek Jumlah P-Value 95% CI Pendek Pola Asuh Baik . Kurang Baik Tabel 5. Hubungan Kejadian Faktor Lingkungan Pada Kejadian Stunting Sangat Pendek Jumlah P-Value 95% CI Faktor Pendek Lingkungan Baik . Kurang Baik Tabel 6. Hubungan Kejadian Status Sosial Ekonomi Pada Kejadian Stunting Status Sosial Sangat Pendek Jumlah P-Value 95% CI Ekonomi Pendek Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 513-518 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Determinan Terjadinya Stunting pada AnakA (Futry Maysura. Samino. Khoidar Amirus, dk. Baik Kurang Baik . Tabel 7. Hubungan Kejadian Pengetahuan Orang Tua Pada Kejadian Stunting Sangat Pendek Jumlah P-Value 95% CI Pengetahuan Pendek Orang Tua Baik . Kurang Baik Tabel 8. Hasil Akhir Analisis Multivariat Regresi Logistik Terjadinya Stunting Pada Balita Model Variabel p-value Selisih nilai Odd ratio Katahanan pangan -0,59% Faktor lingkungan -0,90% Pengetahuan orang tua 0. Pola asuh -0,65% PEMBAHASAN Hubungan Asupan Makan dengan Kejadian Stunting Penelitian ini telah menemukan bahwa dari 384 balita, didapatkan balita yang mengalami stunting sebanyak 261 dikatakan dengan sangat pendek, 123 Responden dengan kategori Pendek. Uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan makan dengan kejadian balita stunting pada di Kabupaten Aceh Besar . = 0,. Asupan energi yang tidak cukup dapat menyebabkan ketidak seimbangan energi yang bisa menimbukan masalah Kejadian stunting adalah kondisi peristiwa yang terjadi dalam periode waktu dalam jangka panjang. Sebuah Cina menunjukkan bahwa penyebab stunting yaitu akibat defisiensi energi dan protein yang berlangsung jangka waktu yang Balita yang mengalami konsumsi energi kurang, fungsi dan struktural perkembangan otak akam berpengaruh dan juga terlambatnya pertumbuhan dan perkembangan kognitif. Asupan energi yang didapatkan dari makanan yang bersumber dari zat gizi makro seperti karbohidrat, protein dan lemak. Selain itu Energi berfungsi sebagai penunjang pertumbuhan, serta memiliki peran dalam proses aktivitas fisik. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa Protein pertumbuhan pada anak balita. Asupan terhadap level plasma insulin growth factor I (IGF-I), protein matriks tulang, dan faktor pertumbuhan, serta kalsium dan fosfor yang berperan penting dalam formasi tulang. (Sari, 2. Hubungan Penyakit Infeksi dengan kejadian stunting Penelitian ini telah menemukan bahwa dari 384 balita, didapatkan balita yang mengalami stunting sebanyak 261 dikatakan dengan sangat pendek, 123 Responden dengan kategori Pendek. Uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Penyakit Infeksi dengan kejadian balita stunting pada di Kabupaten Aceh Besar . = 0,. Dalam penelitian ini (Fransisca et al. dengan berjudul Hubungan Antara Penyakit Infeksi Dengan Kejadian Stunting Pada Baduta Usia 0 Ae 24 Bulan Di Puskesmas Kiarapedes Kecamatan Kiarapedes Kabupaten Purwakarta Tahun 2020 Hasil penelitian berdasarkan analisis bivariat yang tidak berhubungan dengan Puskesmas Kiarapedes adalah kejadian penyakit infeksi ISPA dengan nilai p-value sig. 0,190 > 0,05. Yang berhubungan dengan Puskesmas Kiarapedes adalah Kejadian penyakit infeksi Diare dengan nilai p- value sig. 0,031 < 0,05. Terdapat hubungan antara penyakit infeksi diare dengan kejadian Puskesmas Kiarapedes Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 513-518 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Determinan Terjadinya Stunting pada AnakA (Futry Maysura. Samino. Khoidar Amirus, dk. Kecamatan Kiarapedes Kabupaten Purwakarta. Dan hubungan antara penyakit infeksi ISPA dengan kejadian stunting di Puskesmas Kiarapedes Kecamatan Kiarapedes Kabupaten Purwakarta. Penelitian Solin, . menemukan ada hubungan antara riwayat menderita penyakit infeksi seperti diare dan cacingan dengan stunting. Penyakit kejadian stunting dimana infeksi disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan cacing. penyakit Penyakit infeksi banyak dialami bayi dan balita penyakit, penyakit infeksi. Hubungan Keamanan Pangan dengan kejadian stunting Penelitian ini telah menemukan bahwa dari 384 balita, didapatkan balita yang mengalami stunting sebanyak 261 dikatakan dengan sangat pendek, 123 Responden dengan kategori Pendek. Hubungan Kejadian Ketahanan Pangan Pada Kejadian Stunting, diketahui bahwa dari 191 ketahanan pangan terdapat 120 . 8%) yang mengalami stunting dengan kategori baik, kemudian dari 193 ketahanan pangan 141 . ,1%) yang mengalami stunting dengan kategori kurang baik, berdasarkan hasil uji chisquer terdapat nilai P-value 0,041 < nilai 0,05 artinya ada hubungan ketahanan pangan dengan kejadian Nilai Odd rasio terdapat 1. artinya ketahanan pangan baik beresiko 604 (CI 95% 1. kali lebih besar terjadi stunting dibandingkan dengan ketahanan pangan yang baik. Sehingga hipotesis penelitian ini Ha Ini terdapat hubungan yang signifikan antara ketahanan pangan dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian (Zalukhu et al. , 2. yang berjudul Ketahanan Pangan dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Masa Pandemi Covid-19. Hasil penelitian ini Hasil penelitian didapatkan 29 balita memiliki status gizi stunting . ,9%) dan 54 balita memiliki status gizi normal . ,1%). Selain itu, juga didapatkan jumlah rumah tangga tahan pangan 51,8%, rawan pangan tanpa kelaparan 28,9%, dan rawan pangan dengan kelaparan 18,1%. Berdasarkan uji regresi logistik rumah tangga rawan pangan tanpa kelaparan tidak berhubungan secara signifikan kejadian stunting . = Sedangkan pada rumah tangga rawan pangan dengan kelaparan berhubungan kejadian stunting . <0,. , baik pada model yang tidak disesuaikan maupun pada model yang disesuaikan . aAKoefisien: 77,14 . %CI: 8,72-682,. aA-Koefisien: 87,70 . %CI: 9,57804,. aA-Koefisien: 153,41 %CI: 11,46-2053,. Hubungan Pola Asuh kejadian stunting Hubungan Kejadian Pola Asuh Pada Kejadian Stunting, diketahui bahwa dari 64 pola asuh terdapat 51 . kategori baik, kemudian dari 320 pola asuh 210 . 6%) yang mengalami stunting dengan kategori kurang baik, berdasarkan hasil uji chisquer terdapat nilai P-value 0,040 < nilai 0,05 artinya ada hubungan pola asuh dengan kejadian Nilai Odd rasio terdapat 0. artinya pola asuh baik beresiko 0. 487 (CI 95% 0. kali lebih besar terjadi stunting dibandingkan dengan pola asuh yang baik. Penelitian ini sejalan dengan (Erna Kusuma Wati. Setiyowati Rahardjo, 2. yang berjudul Faktor Yang Berhubungan Dengan Pola Asuh Makan Anak Usia 0-24 Bulan Di Kabupaten Banyumas dengan hasil penelitian Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yati tahun 2018 di Kabupaten Banyumas dengan p=0,001, dalam penelitian tersebut menyatakan terdapat hubungan pola pemberian makanan dengan kejadian stunting pada balita usia 24 bulan. Penelitian yang dilakukan oleh Fauziah . juga mendapatkan hasil bahwa balita yang mempunyai riwayat pola pemberian makan yang kurang memiliki peluang mengalami stunting jika di bandingkan dengan balita yang mempunyai riwayat pola pemberian makan yang baik dengan nilai p-value = 0,000. Hubungan Faktor Lingkungan dengan kejadin stunting Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 513-518 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Determinan Terjadinya Stunting pada AnakA (Futry Maysura. Samino. Khoidar Amirus, dk. Hasil penelitian ini terdapat Hubungan Kejadian Faktor Lingkungan Pada Kejadian Stunting, diketahui bahwa dari 284 Faktor Lingkungan terdapat 83 . 0%) yang mengalami stunting dengan kategori baik, kemudian dari 100 Faktor Lingkungan 178 . 7%) yang mengalami stunting dengan kategori kurang baik, berdasarkan hasil uji chisquer terdapat nilai P-value 0,000 < nilai 0,05 artinya ada hubungan Faktor Lingkungan dengan kejadian stunting. Nilai Odd rasio terdapat 0. 344 artinya Faktor Lingkungan baik beresiko 0. (CI 95% 0. kali lebih besar terjadi stunting dibandingkan dengan Faktor Lingkungan yang baik. Penelitian ini (Retno Eka Sari, 2. yang berjudul Association of Exclusive Breastfeeding Environmental Sanitation with the Incidence of Stunting in Toddlers Age 24-59 Months dengan hasil Hasil penelitian pada analisis bivariat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting diperoleh p- value= 0,043 < 0,05, dan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting diperoleh p-value= 0,728 Ou 0,05. Kesimpulan yaitu terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita dan tidak terdapat hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting pada balita. Hubungan Status Sosial Ekonomi Keluarga Dengan Kejadian Stunting Hubungan Kejadian Status Sosial Ekonomi Pada Kejadian Stunting, diketahui bahwa dari 191 Status Sosial Ekonomi terdapat 120 . 0%) yang mengalami stunting dengan kategori baik, kemudian dari 193 Status Sosial Ekonomi 141 . 1%) yang mengalami stunting dengan kategori kurang baik, berdasarkan hasil uji chisquer terdapat nilai P-value 0,041 < nilai 0,05 artinya ada hubungan Status Sosial Ekonomi dengan kejadian stunting. Nilai Odd rasio 604 artinya Status Sosial Ekonomi baik beresiko 1. 604 (CI 95% kali lebih besar terjadi stunting dibandingkan dengan Status Sosial Ekonomi yang baik. Sehingga hipotesis penelitian ini Ha diterima. Ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ketahanan pangan dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian (Yuningsih et al. , 2. yang berjudul Hubungan Status Sosial Ekonomi dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 0-24 Bulan Di Puskesmas Kaliwates dengan hasil penelitian Hasil Hubungan Pengetahuan Orang Tua dengan Kejadian Stunting Hubungan Kejadian Pengetahuan Orang Tua Pada Kejadian Stunting, diketahui bahwa dari 191 Pengetahuan Orang Tua terdapat 139 . 5%) yang mengalami stunting dengan kategori baik, kemudian dari 189 Pengetahuan Orang Tua 122 . 6%) yang mengalami stunting dengan kategori kurang baik, berdasarkan hasil uji chisquer terdapat nilai P-value 0,028 < nilai 0,05 artinya ada hubungan Pengetahuan Orang Tua dengan kejadian stunting. Nilai Odd rasio 601 artinya Pengetahuan Orang Tua baik beresiko 0. 601 (CI 95% kali lebih besar terjadi stunting. Sehingga hipotesis penelitian ini Ha diterima. Ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara Ibu stunting pada balita. Penelitian ini sejalan dengan (Sari, 2. yang berjudul Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Anak Usia 0-24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Biromaru. Dengan hasil penelitian Indeks tinggi badan menurut usia (TB/U) kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) atau di bawah rata-rata standar saat ini dianggap Stunting memiliki dampak terhadap kehidupan diantaranya berupa peningkatan risiko terjadinya morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh Selain itu, stunting dapat menyebabkan gangguan kognitif dan Faktor mempengaruhi kejadian stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengetahuan ibu tentang gizi dengan kejadian stunting pada anak usia 0-24 Pengetahuan mengenai stunting sangatlah diperlukan bagi seorang ibu karena pengetahuan ibu mengenai menyebabkan anak berisiko mengalami Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 513-518 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Determinan Terjadinya Stunting pada AnakA (Futry Maysura. Samino. Khoidar Amirus, dk. Berdasarkan penelitian yang telah diteliti yaitu dengan hasil Berdasarkan pada table akhir yang menjadi variable dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting terdapat pada variable ketahanan pangan dengan nilai Or 1. artinya ketahanan pangan beresiko 1. lebih besar untuk kejadian stunting. berdasarkan hasil uji chisquer terdapat nilai P-value 0,041 < nilai 0,05 artinya ada hubungan ketahanan pangan dengan kejadian stunting. Nilai Odd rasio 604 artinya ketahanan pangan baik beresiko 1. 604 (CI 95% 1. kali lebih besar terjadi stunting dibandingkan dengan ketahanan pangan yang baik. Penelitian ini sejalan dengan (Hasan, 2. Yang berjudul Maternal Height and Family Food Security are Risk Factors for Stunting in Coastal Areas of Central Buton Regency: A Case Control Study, dengan hasil Hasil penelitian ini juga menemukan adanya fakta bahwa ketahan pangan keluarga merupakan faktor resiko kejadian stunting pada Ketahanan pangan rumah tangga ketahanan pangan daerah baik di wilayah atau regional. Ketahanan pangan rumah tangga juga dapat dilihat dari indikator kecukupan gizi. Zat gizi yang hingga kini digunakan sebagai indikator ketahanan pangan adalah tingkat kecukupan gizi makro yaitu energi dan protein. Rumah tangga dengan tingkat kecukupan energi protein yang rendah termasuk kategori mengalami asupan energi protein kronis, sehingga dalam jangka panjang akan khususnya anak balita, pada kondisi demikian ketahanan pangan rumah tangga dapat dikatakan sebagai faktor resiko kejadian stunting. Pendapat peneliti, apa yang dilapangan yaitu terjadi Di Aceh Besar, masalah ketahanan pangan memainkan peran penting dalam prevalensi stunting. Stunting adalah masalah kesehatan masyarakat yang terjadi ketika anak tidak perkembangan kognitif yang optimal akibat kekurangan gizi kronis, terutama 000 hari pertama kehidupan. Meskipun Aceh adalah daerah agraris yang kaya akan sumber daya alam, akses terhadap pangan bergizi sering kali tidak merata di seluruh wilayah, terutama di Transportasi yang terbatas dan infrastruktur yang kurang memadai dapat membatasi penduduk dari mendapatkan makanan bergizi. Tingkat kemiskinan yang tinggi dapat menghambat akses masyarakat terhadap makanan bergizi. Banyak keluarga mungkin tidak mampu membeli makanan yang kaya akan gizi, atau tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang diet seimbang. Namun jika dilihat lagi banyak Masyarakat yang pangan dari pasar namun untuk lahan memproduksi ketahanan pangan sangat luas sekali, dan juga banyak Masyarakat sangat ingin cepat saji untuk makanan kesehari-hariannya. Adopsi pola makan yang tidak makanan yang rendah gizi tetapi tinggi kalori . akanan cepat saji, misalny. , dopsi pola makan yang tidak makanan yang rendah gizi tetapi tinggi kalori . akanan cepat saji, misalny. Di tengah hamparan sawah hijau dan jajaran pohon kelapa yang menjulang, terdapat sebuah cerita yang mendalam tentang ketahanan pangan di Aceh Besar, yang tak terelakkan menyebabkan tingginya angka stunting di kalangan anak-anak. Di desa-desa terpencil yang dikelilingi oleh keindahan alam Aceh, masyarakat hidup dari pertanian dan perikanan yang seharusnya melimpahkan keberkahan. Namun, kehidupan mereka tidak selalu semanis tampilannya. Akses terhadap pangan bergizi sering kali menjadi tantangan yang nyata. Alih-alih menikmati hasil bumi yang melimpah, beberapa keluarga harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka setiap hari. Petani dengan mata yang lelah, setelah berhari-hari bekerja di bawah teriknya matahari, terkadang hanya bisa menyaksikan panen yang tidak mencukupi untuk memberi makan keluarga mereka. Ketidak pastian cuaca dan akses terbatas terhadap teknologi pertanian Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 513-518 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Determinan Terjadinya Stunting pada AnakA (Futry Maysura. Samino. Khoidar Amirus, dk. Masyarakat yang hidup dalam kemiskinan sering kali terjebak dalam siklus di mana mereka tidak memiliki pilihan selain mengonsumsi makanan yang mungkin kurang bergizi. Mereka tidak hanya kekurangan gizi, tetapi juga informasi yang tepat tentang pola makan yang sehat dan bergizi bagi anak-anak mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, ibuibu yang penuh cinta mencoba memberi yang terbaik untuk anak-anak mereka, tetapi sering kali terbatas dalam pengetahuan tentang gizi yang seimbang. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan kuat dan cerdas, kadang-kadang malah harus menghadapi tantangan stunting, sebuah masalah kesehatan yang merampas mereka dari potensi penuh mereka. Namun, di antara tantangan dan kesulitan, ada cahaya harapan. Programprogram pemerintah dan bantuan dari non-pemerintah berusaha keras untuk meningkatkan kondisi ini. Melalui pelatihan pertanian, pendidikan gizi, dan pemberdayaan ekonomi lokal, langkah-langkah bertahap diambil untuk memperbaiki ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat Aceh Besar. Di ujung cerita ini, terdapat harapan untuk masa depan yang lebih Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, perjuangan melawan stunting dan kekurangan gizi di Aceh Besar semakin mengarah ke arah yang lebih cerah. Semoga suatu hari nanti, setiap anak di sini dapat tumbuh dengan sehat dan kuat, menggapai impian mereka tanpa terhambat oleh masalah SIMPULAN Terdapat hubungan antara Pola Asuh . - value 0,. Pengetahuan Orang Tua ( p- value 0,. Status Ekonomi Keluarga . - value 0,. Asupan Makan . - value 0,. Penyakit Infeksi . - value 0,. Faktor Lingkungan . - value 0,. dan Ketahanan Pangan . - value 0,. terhadap kejadian stunting pada balita usia Usia Anak Usia Anak 0-24 Bulan. SARAN Tingkatkan pengetahuan tentang pemberian makanan yang baik kepada anak balit Praktik Gizi Sehat: Terapkan praktik pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan anak dan berikan makanan pendamping ASI yang tepat setelahnya. Perhatikan sanitasi dan kebersihan lingkungan serta praktik cuci tangan yang baik untuk mencegah Libatkan mendukung tumbuh kembang anak dengan memberikan perhatian dan stimulasi yang baik. Pastikan akses yang mudah dan terjangkau terhadap layanan kesehatan, termasuk imunisasi dan pemeriksaan kesehatan rutin bagi ibu hamil dan anak balita. Tingkatkan program-program gizi dengan fokus pada pencegahan stunting, termasuk penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya gizi sejak dini. Perbaiki infrastruktur sanitasi dan air bersih untuk memastikan lingkungan yang sehat bagi pertumbuhan anak-anak. DAFTAR PUSTAKA