JURNAL ABDI INSANI Volume 13. Nomor 6. Juni 2026 http://abdiinsani. e-ISSN : 2828-3155. p-ISSN : 2828-4321 EDUKASI DAGUSIBU OBAT DENGAN BENAR PADA MASYARAKAT DI KELURAHAN LAMBARA. KECAMATAN TAWAELI Dagusibu Education On Proper Medicine Use Among Community Members In Lambara Urban Village. Tawaeli Subdistrict Yunlis Kenta1*. Mariyani1. Niluh Puspita Dewi2 Program Studi S1 Farmasi STIFA Pelita Mas Palu, 2Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker STIFA Pelita Mas Palu Jalan Wolter Monginsidi No. 106A Palu. Sulawesi Tengah Alamat Korespondensi: yunliskenta@gmail. (Tanggal Submission: 7 Februari 2026. Tanggal Accepted : 29 Juni 2. Kata Kunci : Abstrak : DAGUSIBU, Edukasi Kesehatan. Obat. Apoteker Kelurahan Lambara. Kecamatan Tawaeli, masih menghadapi risiko kesalahan pengelolaan obat akibat keterbatasan informasi serta meningkatnya praktik pengobatan mandiri, sehingga edukasi penggunaan obat yang aman perlu diperkuat di tingkat rumah tangga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan warga RT 09 Kelurahan Lambara mengenai konsep DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan, dan Buang Obat dengan Bena. Metode pelaksanaan berupa penyuluhan satu hari oleh tim STIFA Pelita Mas Palu melalui ceramah menggunakan media banner, pembagian brosur, serta pelatihan praktis dengan contoh kemasan obat, yang dilaksanakan melalui koordinasi dengan pihak kelurahan dan ketua RT. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan gratis . ula darah, kolesterol, dan asam ura. , serta konsultasi oleh Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 22 dari 27 peserta . ,48%) mengalami peningkatan pemahaman terkait cara memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat secara benar. Kesimpulannya, edukasi berbasis DAGUSIBU yang disertai praktik sederhana dan evaluasi preAepost test efektif sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan praktik pengelolaan obat yang aman pada masyarakat. Abstract : Key word : DAGUSIBU, Health Education. Medicine. Pharmacist Lambara Urban Village. Tawaeli Subdistrict, still faces the risk of errors in medicine management due to limited information and the increasing practice of self-medication. therefore, education on safe medicine use needs to be strengthened at the household level. This community service activity aims to increase residents of RT 09. Lambara Urban Village, awareness and knowledge of the DAGUSIBU concept (Obtain. Use. Store, and Dispose of Medicines Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Kenta et al. , 1181 Properl. The implementation method is a one-day education session by the STIFA Pelita Mas Palu team, delivered through a lecture using a banner as the medium, the distribution of brochures, and practical training using examples of medicine packaging, carried out in coordination with the urban village administration and the neighborhood head (RT). Evaluation is conducted using pre-tests and post-tests to measure increases in participantsAo knowledge. This activity is also complemented by free health checks . lood glucose, cholesterol, and uric aci. and consultation with a pharmacist. The evaluation results show that 22 of 27 participants . 48%) experienced an increase in understanding of how to obtain, use, store, and dispose of medicines properly. In conclusion. DAGUSIBU-based education, accompanied by simple practice and preAepost test evaluation, is effective in improving understanding and safe medication management practices in the community. Panduan sitasi / citation guidance (APPA 7th editio. Kenta. Mariyani, & Dewi. Edukasi Dagusibu Obat dengan Benar Pada Masyarakat di Kelurahan Lambara. Kecamatan Tawaeli. Jurnal Abdi Insani, 13. , 1181-1187. https://doi. org/10. 29303/abdiinsani. PENDAHULUAN Kelurahan Lambara merupakan salah satu kelurahan administratif di wilayah Kecamatan Tawaeli. Provinsi Sulawesi Tengah, yang sebagian wilayahnya merupakan hunian tetap . bagi masyarakat pasca bencana (Surtiari, 2. Karakteristik wilayah huntap dengan kepadatan hunian yang relatif tinggi, latar belakang pendidikan masyarakat yang beragam, serta dominasi pekerjaan di sektor informal dan usaha kecil menengah mendorong tingginya praktik pengobatan mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi tersebut, keterbatasan informasi terkait penggunaan obat yang benar berpotensi meningkatkan risiko kesalahan dalam memperoleh, menggunakan, menyimpan, hingga membuang obat. Sehingga, edukasi kesehatan yang mudah dipahami di tingkat rumah tangga menjadi kebutuhan mendesak, khususnya melalui pendekatan DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan, dan Buang Obat dengan Bena. (Ikhsan et al. , 2. DAGUSIBU merupakan konsep edukasi kefarmasian yang dikembangkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pengelolaan obat secara menyeluruh, aman dan rasional. Hal ini ditunjukkan sebagai respons terhadap tingginya praktik pengobatan mandiri di masyarakat yang sering kali tidak diimbangi dengan pengetahuan yang memadai tentang obat. Berdasarkan hasil pendampingan dan sosialisasi DAGUSIBU, masih ditemukan berbagai permasalahan seperti kesalahan dalam pemilihan obat, penggunaan yang tidak sesuai aturan pakai, penyimpanan yang kurang aman, serta pembuangan obat kedaluwarsa yang tidak tepat, yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan dan dampak pada lingkungan (Gemantari et al. , 2. Pendekatan DAGUSIBU memiliki keunggulan yang sangat signifikan dalam edukasi kesehatan masyarakat karena menempatkan partisipasi aktif masyarakat sebagai inti dari proses pembelajaran, bukan sekadar penyampaian informasi satu arah. Pendekatan ini mendorong masyarakat untuk terlibat langsung dalam memahami dan menerapkan prinsip pengelolaan obat melalui diskusi, contoh konkret, dan praktik sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sifatnya yang praktis dan aplikatif menjadikan DAGUSIBU mudah diterima oleh berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang beragam. Selain meningkatkan kesadaran, pendekatan ini juga berorientasi pada perubahan perilaku jangka panjang, sehingga masyarakat tidak hanya mengetahui informasi yang benar, tetapi mampu menerapkannya secara konsisten dalam pengelolaan obat di tingkat rumah tangga. Dengan demikian. DAGUSIBU menjadi strategi edukasi yang efektif untuk memperkuat peran masyarakat dalam menjaga keamanan penggunaan obat secara mandiri dan bertanggung jawab (Ardinal et al. , 2025. Rasyadi et al. , 2. Jika kesalahan penggunaan obat tidak diatasi secara efektif di masyarakat, konsekuensinya dapat sangat serius bagi kesehatan publik. Penggunaan obat yang tidak rasional, termasuk Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Kenta et al. , 1182 swamedikasi tanpa informasi yang memadai, dapat menyebabkan efek samping yang merugikan, interaksi obat yang tidak diinginkan, resistensi antimikroba, serta penurunan efektivitas terapi yang berdampak pada morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi di masyarakat. Studi perilaku konsumsi obat menunjukkan bahwa kesenjangan antara pengetahuan dan praktik penggunaan obat yang tepat masih menonjol di banyak komunitas, sehingga meningkatkan risiko komplikasi kesehatan yang seharusnya dapat dicegah melalui edukasi dan intervensi kefarmasian yang tepat (Laletaa et al. , 2. Peran apoteker dalam pelayanan kesehatan masyarakat sangat strategis, khususnya dalam mitigasi risiko penggunaan obat yang tidak tepat melalui edukasi, konseling, dan informasi yang akurat kepada pasien dan komunitas. Apoteker tidak hanya menyediakan obat, tetapi juga bertanggung jawab dalam memberikan penjelasan tentang cara penggunaan, dosis, efek samping, serta pentingnya kepatuhan terhadap terapi yang benar agar tujuan pengobatan dapat tercapai secara optimal dan Partisipasi apoteker dalam edukasi obat di masyarakat mendukung peningkatan keselamatan penggunaan obat dan menurunkan kejadian terkait kesalahan medikasi, yang merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan dan perlindungan pasien (White et al. Widyaningrum et al. , 2025. Tim dosen STIFA Pelita Mas Palu sebagai pelaksana program pengabdian kepada masyarakat bersama mahasiswa melaksanakan penyuluhan tentang AuSosialisasi dan Edukasi DAGUSIBU (Dapatkan. Gunakan. Simpan, dan Buang Obat dengan Bena. pada Masyarakat Kelurahan Lambara. Kecamatan TawaeliAy sebagai langkah strategis dalam menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan praktik pengelolaan obat di masyarakat. Dalam kegiatan ini, apoteker berperan sebagai edukator dan sumber informasi kefarmasian yang memberikan penjelasan mengenai penggunaan obat yang aman, rasional, dan bertanggung jawab sesuai prinsip DAGUSIBU. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat RT 09 Kelurahan Lambara agar mampu menerapkan pengelolaan obat secara benar dan berkelanjutan di tingkat rumah tangga. Kegiatan ini juga mendukung pelaksanaan rencana strategis LPPM dalam mewujudkan Tridharma Perguruan Tinggi serta sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya di Provinsi Sulawesi Tengah. METODE KEGIATAN Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan survei awal dan observasi lapangan untuk mengidentifikasi permasalahan utama, yaitu masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan obat dan belum pernah menerima edukasi DAGUSIBU sebelumnya. Tim pelaksana kemudian melakukan koordinasi dengan aparat Kelurahan Lambara dan Ketua RT 09 sebagai mitra Tahap persiapan meliputi penyusunan materi edukasi, penyiapan media dan instrumen evaluasi, serta pembagian tugas tim. Kegiatan inti dilaksanakan selama satu hari, diawali dengan pretest, dilanjutkan penyampaian materi melalui ceramah dan pembagian brosur, serta diakhiri dengan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta. Edukasi diperkuat dengan praktik singkat menggunakan contoh kemasan obat agar peserta lebih mudah memahami penerapan prinsip DAGUSIBU. Kegiatan pendukung meliputi pemeriksaan kesehatan gratis, konsultasi oleh apoteker, serta penyaluran bantuan sembako kepada 27 kepala keluarga. Kegiatan ini dilaksanakan di RT 09 Kelurahan Lambara. Kecamatan Tawaeli. Provinsi Sulawesi Tengah, dengan sasaran utama masyarakat setempat sebagai penerima edukasi dan evaluasi pengetahuan. Selain itu, masyarakat yang mengikuti pemeriksaan kesehatan dan penerima bantuan sembako menjadi sasaran tambahan dalam rangka memperluas manfaat dan dampak kegiatan (Sari et al. , 2025. Wisni et al. , 2. Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Kenta et al. , 1183 Gambar 1. Brosur DAGUSIBU HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu analisis permasalahan, edukasi dan sosialisasi DAGUSIBU, serta evaluasi peningkatan pengetahuan Tahap awal berupa analisis kebutuhan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat RT 09 Kelurahan Lambara belum pernah mendapatkan edukasi terkait pengelolaan obat dengan prinsip DAGUSIBU, meskipun praktik pengobatan mandiri cukup sering dilakukan. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara kebutuhan masyarakat akan informasi obat dan pemahaman yang dimiliki, sehingga diperlukan intervensi edukatif yang terstruktur dan mudah dipahami (Fathnin et al. , 2. Tahap kedua yaitu edukasi dan sosialisasi DAGUSIBU oleh apoteker, dilaksanakan melalui metode ceramah interaktif yang didukung media banner dan brosur, serta diperkuat dengan praktik langsung menggunakan contoh kemasan obat. Pendekatan ini dipilih karena bersifat praktis dan kontekstual, sehingga memudahkan masyarakat dalam memahami prinsip pengelolaan obat yang benar di tingkat rumah tangga. Edukasi yang bersifat aplikatif dinilai efektif dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat dan meningkatkan pemahaman, sebagaimana dilaporkan dalam berbagai kegiatan pengabdian berbasis DAGUSIBU yang menekankan perubahan perilaku melalui pendekatan sederhana dan partisipatif (Dhaneswari et al. , 2. Tahap evaluasi dilakukan melalui pengukuran tingkat pengetahuan masyarakat menggunakan pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah pelaksanaan edukasi. Pada pre-test, tidak terdapat peserta dengan tingkat pengetahuan sangat baik, sementara sebagian besar peserta berada pada kategori baik . ,74%) dan cukup . ,03%), serta masih terdapat 18,52% peserta dengan pengetahuan kurang. Setelah diberikan edukasi, hasil post-test menunjukkan bahwa 22 dari 27 peserta . ,48%) mencapai kategori pengetahuan sangat baik dan sisanya berada pada kategori baik . ,51%), tanpa ditemukan lagi Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Kenta et al. , 1184 peserta dengan tingkat pengetahuan cukup maupun kurang. Perubahan ini menunjukkan bahwa metode edukasi yang digunakan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat secara menyeluruh (Shalahuddin et al. , 2. Table 1. Tingkat Pengetahuan Peserta Tingkat Pengetahuan Pre-test Peserta . Persentase (%) Sangat Baik Baik 40,74 Cukup 37,03 Kurang 22,22 Total Post-test Peserta . Persentase (%) 81,48 18,51 Peningkatan tingkat pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan DAGUSIBU efektif sebagai strategi edukasi kefarmasian di masyarakat. Edukasi yang dikombinasikan dengan media visual dan praktik langsung membantu peserta memahami cara memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat dengan benar, sehingga tidak hanya meningkatkan aspek kognitif tetapi juga mendorong kesiapan masyarakat untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan seharihari. Hal ini sejalan dengan teori pendidikan kesehatan yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman langsung lebih efektif dalam membentuk pemahaman dan perilaku dibandingkan penyampaian informasi secara pasif (Widyaningrum et al. , 2. Selama pelaksanaan kegiatan, kendala yang dihadapi relatif minimal, terutama keterbatasan waktu pelaksanaan dan perbedaan tingkat pemahaman awal peserta. Namun, kendala tersebut dapat diatasi melalui penyampaian materi secara bertahap dan penggunaan bahasa yang sederhana. Respon masyarakat, aparat kelurahan, dan Ketua RT 09 terhadap kegiatan ini sangat positif, yang ditunjukkan dengan keaktifan peserta selama diskusi, antusiasme dalam praktik, serta dukungan penuh yang Kegiatan pendukung berupa pemeriksaan kesehatan dan konsultasi oleh apoteker juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang diberikan dan meningkatkan kebermanfaatan kegiatan secara keseluruhan (Setiadi et al. , 2. Secara keseluruhan, hasil dan pembahasan ini menunjukkan bahwa edukasi DAGUSIBU yang dilaksanakan secara terstruktur, partisipatif, dan berbasis kebutuhan masyarakat mampu meningkatkan pengetahuan pengelolaan obat secara signifikan. Gambar 2. Penyampaian Materi. Diskusi dan Pemeriksaan Darah Sederhana Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Kenta et al. , 1185 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Edukasi DAGUSIBU terbukti efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat, ditunjukkan oleh peningkatan proporsi peserta dengan tingkat pengetahuan sangat baik dari 0% pada pre-test menjadi 81,48% pada post-test Saran Hal ini diharapkan dapat dilaksanakan di wilayah lainnya yang masih minim informasi, khususnya dalam upaya meningkatkan penggunaan obat yang aman dan bertanggung jawab di tingkat rumah tangga. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat STIFA Pelita Mas Palu yang telah memberi dukungan moral dan dana Pengabdian Kepada Masyarakat. DAFTAR PUSTAKA