Vol. 10 No. : 45-84 DOI: https://doi. org/10. 47454/itqan. ISSN: 2442-255X, e-ISSN: 2579-6275 DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Studi Analisis Farsh al-Hurf dalam Tafsir MarAh Labd Surah AlBaqarah THE IMPACT OF QIRA'AT ON INTERPRETATION An Analytical Study of Farsh al-Hurf in Tafsir MarAh Labd of Surah Al-Baqarah A EC OE EAOA A EOEO EA EOA OA AO I EO OA O ECA Feni Tamimul Ummah Institut Agama Islam Taribiyatut Tholabah. Lamongan. Indonesia 21762310081@iai-tabah. Tri Tami Gunarti Institut Agama Islam Taribiyatut Tholabah. Lamongan. Indonesia Tritami033@gmail. Mubarok Ahmadi Institut Agama Islam Taribiyatut Tholabah. Lamongan. Indonesia Ahmadi. edy1@gmail. Abstrak Kajian penafsiran Al-Qur'an tidak hanya terbatas pada aspek-aspek klasik seperti asbabun nuzul, makki-madani, dan munasabah ayat, tetapi juga mencakup pengaruh varian qiraAoat dalam pemahaman lafaz-lafaz Al-Qur'an. QiraAoat, sebagai disiplin ilmu dalam ulumul Qur'an, telah menjadi salah satu alat penting dalam penafsiran Al-Qur'an. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh QiraAoat dalam tafsir MarAh Labd, khususnya pada penafsiran surah Al-Baqarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis tekstual terhadap beberapa ayat dalam Surah Al-Baqarah yang memiliki perbedaan bacaan menurut variasi qira'at. Objek formal penelitian ini adalah pendekatan analisis QirAAoat, khususnya farsh al-uurf, dalam penafsiran Al-QurAoan, sedangkan objek materialnya adalah surah Al-Baqarah. Hasil pembahasan dan penelitian ini menunjukkan bahwa QiraAoat yang disampaikan Syaikh Nawawi dalam penafsiran Surah Al-Baqarah memiliki dampak terhadap produksi makna dan penafsiran yang disampaikan. Setidaknya terdapat 10 Farsh al-Hurf dalam QS. Al-Baqarah yang memiliki dampak terhadap penafsiran. 10 Farsh al-Hurf yang disampaikan memiliki beberapa dampak, antara lain: dampak substansial yang menjelaskan perbedaan mazhab Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. hukum fikih, dampak kepada redaksional yang berimplikasi pada perbedaan makna khitab dan mukhattab, dan dampak kepada perbedaan makna yang tidak substansial karena mengeksplorasi sinonim dari sebuah lafaz. Penjelasan qiraAoat Syaikh Nawawi meskipun tidak semuanya berdampak pada substansial produksi makna, namun cukup berdampak dalam hal redaksional. Kata Kunci: Qira'at Al-Qur'an. Farsh al-Hurf. Tafsir MarAh Labd. Variasi Bacaan AlQur'an Abstract The study of Qur'anic interpretation is not only limited to classical aspects such as asbabun nuzul . ircumstances of revelatio. Makki-Madani classification, and the coherence . of verses but also includes the influence of qiraAoat variations in understanding Qur'anic words. QiraAoat, as a discipline within ulumul QurAoan . he sciences of the Qur'a. , has become an essential tool in Qur'anic This study aims to examine whether qiraAoat influences the interpretation in Tafsir MarAh Labd, particularly in the exegesis of Surah Al-Baqarah. Using a qualitative approach with textual analysis methods, this research analyzes several verses in Surah Al-Baqarah that exhibit differences in recitation due to qiraAoat The formal object of this research is the analytical approach to QirAAoAt, particularly farsh al-uurf, in the interpretation of the QurAoan, while the material object is Surah Al-Baqarah. The findings indicate that the qiraAoat presented by Shaykh Nawawi in his interpretation of Surah Al-Baqarah has an impact on meaning production and exegesis. At least ten instances of Farsh al-Hurf in Surah Al-Baqarah affect interpretation. These variations have different implications, including: Substantial impact, which explains differences among Islamic jurisprudential . schools of thought. Editorial impact, which influences the distinction in meaning between khitab . and mukhattab . he addresse. Non-substantial meaning differences, which explore synonyms of specific words. Although not all of Shaykh NawawiAos discussions on qiraAoat result in substantial changes in meaning production, they significantly influence the editorial aspects of interpretation. Keywords: QurAoanic QiraAoat. Farsh al-Hurf. Tafsir MarAh Labd. QurAoanic Recitation Variations. AIEAA UAuI AO ECI EEOI E CA OE EOI ECEOO IE EIOEA U A E IEAUA OEI IO EOAUAIEOE OIEOIA AO EA EC OA ANIA c aA OA. AEA ECIA A II EO IENI OAAUA E AO EOI ECIAUA ECA AA47AA AADAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRANAA AAFeni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok AhmadiAA AADoi: https://doi. org/10. 47454/itqan. AEAOA . AONA NN E uOE EEA I IO O EC OA AOA A"I EO"A UAE OI OA AO O ECA . AOI NN E IEIN IEOOA AI EO EEOE IEOA E II O O EC EO O AONA AC IEAA . AI IEOO EAOO (IEOO EOEE) EE ANO EOEA AUA AAOA A EOAA UAOA AO ECI EEOIA UAOA IO I IOONA AECAUAA AcA AIEO NO O ECA. AOC N I NN E I EC EO ENA AEO Io OA AO O EC EI NE O OA uI IEOI OEAO IECIA. AcA AOC I A C II IO A EOA OA EOA UA OE EAO A AONA UAIINA:A ONO OIE OA EA IEN EACNOA UA EOO OIE OAA a AOIEAUA O ONO OIE OA OI IEAA AEEA OA AO EA AcA AI AO EO Io EEC E OO UA AI uOE OOA AEEAOA. AOOE EI IIA AONO OA IEOIA UAAuIN OaNI OA u EI EEOO EEIA ECOIA. AeI IEAO A :AC ECI A UAA EOAA UAAO I EOA UAEO IoA AEIOIA UAEA ECA PendahuluanAA AADiskursus penafsiran Al-QurAoan tidak hanya terfokus kepada AAkajian asbAbun nuzl, makki-madani, munasabah ayat, dan hadis. PenafsiranAA al-QurAoan juga muncul didampingi dengan penjelasan varian qiraAoat dalamAA AAsebuah lafaz. Kajian qiraAoat yang sejatinya masuk dalam disiplin ulumulAA AAQurAoan tersendiri, realitanya juga dimasukkan menjadi salah satu alat dalamAA AAmenafsirkan Al-QurAoan. Penafsiran Al-QurAoan tidak dapat berdiri sendiri,AA AAnamun juga perlu adanya integrasi keilmuan dari berbagai bidangAA Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Salah satu disiplin ilmu yang diintegrasikan dalam kajian tafsir Al-QurAoan adalah kajian qiraAoat. Integrasi qiraAoat dalam penafsiran pernah dilakukan Syaikh Nawawi dalam QS. Al-Baqarah: 58, yang menafsirkan lafaz nagfir. Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan dua pandangan imam qiraAoat, yakni Imam NafiAo yang sama dengan pendapat Imam AoAshim, dan pendapat Ibnu AoAmir menggunakan lafaz tugfar dengan mengganti nun menjadi taAo taAonis dan majhul. 1 Konsekuensi perbedaan bacaan tersebut berimplikasi kepada penafsiran, sebab shamir yang digunakan berbeda. Disiplin ilmu qiraAoat memengaruhi mufassir dalam menjelaskan makna lafaz Al-QurAoan. Selain itu dalam QS. Al-Baqarah: 125. Syaikh Nawawi juga menafsirkan lafaz Watta khizu. Dalam penjelasannya. Syaikh Nawawi menyampaikan dua pandangan imam qiraAoat, yakni Ibnu Kasir yang sependapat dengan Abu AoAmr. Hamzah, imam AoAshim, dan Al-Kisai membaca lafaz Watta khizu dengan Kha yang di-kasrah-kan dalam bentuk Amar yakni Watta khizu. Sedangkan Imam NafiAo dan Ibnu AoAmir membacanya dalam bentuk Madi yakni Wat takhazu dengan Kha yang difathah-kan. Konsekuensi perbedaan bacaan tersebut juga berimplikasi kepada penafsiran, sebab harakat yang digunakan berbeda menimbulkan makna yang juga berbeda. Kajian tentang integrasi dan pengaruh qiraAoat dalam penafsiran AlQurAoan telah menjadi trending isu di kalangan sarjana Al-QurAoan. Hal ini disebabkan adanya implikasi makna dari varian qiraAoat ketika dibandingkan dengan lafaz Al-QurAoan riwayat Ashim. Beberapa penelitian memiliki kecenderungan dari berbagai sisi, yakni: keterpengaruhan qiraAoat dalam penafsiran seperti yang telah diteliti oleh Muhammad Irham 3, kemudian 1 Al-AoAllamah Asy -Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labi. (Sinar Baru Algensindio, 2. 2 Ibid. 3 Muhammad Irham. AuImplikasi Perbedaan Qiraat Terhadap Penafsiran Alquran,Ay AlBayan: Jurnal Studi Ilmu Al- QurAoan dan Tafsir 5, no. , https://doi. org/10. 15575/albayan. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Sukhairu Sulaiman, dan Mohamad Marzuqi Abdul Rahim4. Moh. Fathurrozi5. Sufyan Muttaqin6 kemudian Masnida yang lebih berfokus pada Karakteristik dan Manhaj Tafsir MarAh Labd7, kemudian Siti Azwanie Che Omar dan Sedek Ariffin menganalisis wajah-wajah qiraAoat terhadap manuskrip Al-QurAoan. 8 Dari kecenderungan di atas, diskusi pengaruh qiraAoat masih menjadi kajian yang masih minim untuk dikaji, terlebih tafsir Kajian tentang pengaruh qirAAoat dalam penafsiran masih memiliki celah . untuk dikaji lebih lanjut. Hal ini terlihat dari kecenderungan penelitian sebelumnya yang lebih banyak menitikberatkan pada aspek kebahasaan atau perbandingan bacaan semata, tanpa mengelaborasi dampaknya secara mendalam terhadap konstruksi makna dalam tafsir. Padahal, problem varian qirAAoat dalam sebuah penafsiran memiliki implikasi signifikan terhadap pemaknaan ayat-ayat Al-QurAoan, baik dalam aspek hukum, teologis, maupun stilistika bahasa. Penelitian ini akan secara khusus mengeksplorasi pengaruh varian qirAAoat dalam Tafsir MarAh Labd karya Syaikh Nawawi al-Bantani, dengan fokus pada Surah al-Baqarah. Surah al-Baqarah dipilih karena merupakan surah terpanjang dalam AlQur'an, yang kaya akan tema-tema hukum, akidah, dan sejarah umat terdahulu, sehingga memiliki banyak kemungkinan perbedaan bacaan . arsh al-uur. yang berdampak terhadap konstruksi penafsiran. Selain itu, sebagai surah Madaniyah yang turun pada fase pembentukan masyarakat 4 Sulaiman Sukhairu dan Abdul Rahim Mohamad Marzuqi. AuPenggunaan Ilmu QiraAoat dalam Ayat Hukum berdasarkan Tafsir Al-Quran di Nusantara,Ay Journal of Knowledge and Learning in Islamic Tradition and Culture 2, no. : 23Ae37. 5 Moh Fathurrozi. AuQiraAoat Dalam Tafsir Marah Labid: Studi Analisis Penggunaan Dan Implikasi QiraAoat Atas Hukum,Ay Jurnal Ulunnuha 12, no. : 90Ae105. 15548/ju. 6 sufyan Muttaqin. Al-Qurthubi. Implikasi Qiraat Terhadap Tafsir: Analisis Tentang Ayat Thaharah Dalam Tafsir Al-Qurthubi, 1 . : 41Ae58. 7 Masnida. AuKarakteristik Dan Manhaj Tafsir Marah Labid Karya Syekh Nawawi AlBantani,Ay Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan. Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam Vi, 1 . : 1978Ae4767. 8 Siti Azwanie Che Omar dan Sedek Ariffin. AuAnalisis Wajah-Wajah Qiraat Dalam Surah Al-Baqarah: Kajian Terhadap Manuskrip Al-Quran Mss 4322,Ay Jurnal Qiraat 4, no. : 1Ae11. Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Islam. Surah al-Baqarah menjadi ruang penting bagi tafsir untuk menampilkan beragam pendekatan pemaknaan, termasuk dari perspektif qirAAoat. Terdapat dua rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini, yakni: . Apa saja Farsh al-Hurf yang terdapat dalam tafsir MarAh Labd, khususnya dalam QS. Al-Baqarah?. bagaimana pengaruh penjelasan Farsh alHurf terhadap penafsiran yang disampaikan? Dua rumusan masalah tersebut, akan dijawab menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library Penulis akan mendeskripsikan tentang Farsh al-Hurf dan kemudian menganalisis dampak serta pengaruh terhadap penafsiran. Diskursus penafsiran tidak hanya muncul disebabkan oleh sosiologi dari konteks sebuah ayat, namun juga dipengaruhi oleh faktor pengetahuan mufassir. Disiplin ilmu qiraAoat menjadi salah satu ilmu yang memengaruhi penafsiran Al-QurAoan. Penulis berasumsi bahwa penjelasan qiraAoat yang disampaikan oleh Syaikh Nawawi memiliki pengaruh dalam pemaknaan, baik itu pengaruh yang substansial maupun redaksional. Selain itu, penelitian ini juga akan membantah pendapat Farid Essack yang menyatakan bahwa disiplin ilmu qiraAoat tidak berpengaruh dalam penafsiran Al-QurAoan. Diskursus qiraAoat menjadi sebuah kajian yang urgent untuk melihat lebih jauh pengaruh mufassir dalam menyampaikan makna Al-QurAoan. Sejarah Perkembangan QiraAoat Diskursus qiraAoat Al-QurAoan masih menjadi peluang dan tantang bagi para pengkaji Al-QurAoan di dunia. Ilmu qiraAoat merupakan salah satu disiplin ulumul QurAoan yang mempelajari tata cara menuturkan kosakata Al-QurAoan dan cara membacanya yang berbeda dengan menisbatkan pada ahli qurraAo . hli qiraAoa. 9 Secara etimologi lafaz qiraAoat merupakan bentuk masdar dari akar kata qa-ra-Aoa yang berarti bacaan, dari sini tampak bahwa 9 1 Muhammad Roihan Nasution. QiraAoat SabAoah Khazanah Bacaan Al-QurAoan. Teori dan Praktik, (Medan: Perdana Publishing, 2. , 1. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. kata qiraAoat memiliki akar kata yang sepadan dengan Al-QurAoan. Sedangkan menurut terminologi, qiraAoat merupakan sebuah mazhab yang dipegang oleh seorang imam dalam pelafalan Al-QurAoan, baik secara huruf maupun secara hukum sesuai dengan riwayat imam tersebut. 11 Definisi qiraAoat menjadi diskusi penting yang telah dikembangkan pada zaman Nabi. Sejarah qira'at Al-QurAoan dimulai sejak zaman Nabi Muhammad Saw. , saat beliau menerima wahyu di Gua HiraAo. Dalam momen tersebut. Allah memerintahkan Nabi untuk AuIqraAoAy . , sebuah perintah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Perintah ini bukan hanya mengandung makna membaca, tetapi juga mengandung panggilan untuk mendalami dan memahami isi Al-QurAoan sebagai pedoman hidup. 12 Sedangkan perkembangan qira'at dan variasi cara membaca muncul ketika terjadi perbedaan di antara para sahabat dalam membaca Al-QurAoan, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits yang cukup panjang. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Umar bin Khattab mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqan dengan bacaan yang belum pernah dibaca oleh Rasulullah Saw. Selepas berdoAoa. Umar bertanya kepada Hisyam siapa yang mengajarinya, dan Hisyam menjawab bahwa Rasulullah yang mengajarinya. Mendengar hal itu. Umar mengajak Hisyam menemui Rasulullah dan meminta agar Hisyam membacakan surat AlFurqan. Rasulullah pun membenarkan hal tersebut, dan menjelaskan bahwa Al-QurAoan itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu di antaranya. 13 Dari narasi di atas, sejarah qiraAoat 10 Muhammad Yusuf dkk. AuTelaah Komparasi Farsyul Huruf Dalam Qiraat Hafsh Dan SyuAobah Serta Implikasinya Terhadap Persepsi Ayat-Ayat Ahkam,Ay Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir 5, no. : 56Ae69, https://doi. org/10. 62109/ijiat. 11 Ibid. 12 Masykur H. Mansyur. AuIqraAo Sebagai Bentuk Literasi Dalam Islam,Ay HAWARI : Jurnal Pendidikan Agama Keagamaan Islam . 1Ae7, https://doi. org/10. 35706/hw. 13 Adisti Firnanda Pratiwi Hakmi Hidayat. Rossa Safira Putri Yuwono. Miftakhul Ula Irzalia Febrianti. AuQiraAoat Al-QurAoan,Ay Mushaf Journal 16, no. : 173Ae86. Lihat juga. MA. Dr. Abdur Rokhim Hasan. SQ. QiraAoat Al-QurAoan Dan Tafsirnya . a aa a aa e a a eAacEE aEaONA ca AOa a aOEA a AEA eCaI OAA a e a a a e a a aa a ca AacEE aA acacEA ca a a e a a a A OC OAU sAOI e aI aIA a A aI aNI aI A: A OCOEAUAA a a a AEA a a a AI I I EA ca ca ea e a ca a a a e a a a a a A EC aA a a e aA AAUANEE aEOeN aO aE aIA aa a a e a a e a ca a a AacEE acEA AO a aNA s A A au N aO OC a OE aAUAa aNA a a A AIAUAaOE aIA a A EI OC aIaON OEAUAO sA aAOA EA a AE A Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. dipelopori dari faktor lahjah yang dirujuk melalui riwayat hadis. Selain itu, kemunculan varian bacaan sejatinya bertujuan untuk memudahkan para sahabat pada zaman itu. Pemahaman qiraAoat sudah menjadi kebutuhan dan menjadi hal penting dalam memahami Al-QurAoan. Namun perlu diketahui bahwa dalam qiraAoat terdapat berbagai jenis yang memiliki ciri khas tersendiri. Hal ini karena setiap QiraAoat memberikan nuansa dan makna yang berbeda dalam membaca Al-QurAoan. Macam-macam qiraAoat sendiri terbagi menjadi yaitu qiraAoat berdasarkan kualitas keshahihan dan kuantitas perawinya. Berdasarkan kualitas keshahihan, qiraAoat dibagi menjadi enam macam. Pertama Mutawatir, kedua Masyhur, ketiga Ahad, keempat Syaz, kelimat Mudraj, keenam MauduAo. Sedangkan berdasarkan kwantitas perawi terbagi menjadi tiga. Pertama, qiraAoat SabAoah, kedua qiraAoat asyarah, ketiga qiraAoat arbaAoa Aoasyrah. 14 QiraAoat dapat dikatakan shahih apabila memenuhi beberapa Pertama. QiraAoat harus mempunyai sanad yang mutawatir. Kedua, sesuai dengan Rasm Usmani. Ketiga, sesuai dengan kaidah tata Bahasa Arab. 15 Dirkursus varian qiraAoat masih menjadi perbincangan, baik secara teori maupun praktik di kalangan sarjana Al-QurAoan. Dalam qiraat sendiri terdapat kaidah QiraAoat Quraniyah, yaitu ushuliyyah dan farshul uuruf. Dua kaidah ini penting untuk mendalami ilmu qiraAoat Al-QurAoan. Alasan utama adalah bahwa kaidah-kaidah ini memberikan kerangka yang jelas tentang bagaimana membaca dan a ea a a e a ca a a ca a A aCe aaIA: AE a eC ae Ca aEA a Aac aA ca AOAA e ca A a aUAEA aEA a eA aA aCEAUA AaEaacea aN aNAUA acac aEac aIA AON a aOEA A aI eI C a aE aN aNa EO E aO aIA:AA aa aa a a a a e e a a a a e a a ca ca a ca a a a a a e a a ca ca a ca ca a a e a aA AaIe aE eCAUAOE a eO aI Ca a aA AacEE AacE acEE EO aN OEI C C aIONA a A A auI OEAUA EA: A ACEAUAacEE AacE acEE EO aN OEIA a aa aa a aa a e ea ea a a a e a e a a a a e a a a a e a Aac a ac ac a a a e a a ac a a a e a OA A ACEAUAIEONA a AOA EI C aA s AI OE A a AOEA a A auOI aI N OC aO a EACA:A ACEAUAacEE AacE acEE EO aN OEIA a Aa aN CON auOE A a a a a a a a a a e a e a e e a a ca a a e a a a ca ca a ca a a a a a a a a a a a e a a a e a ca a a a ca AacEE aA acacEA ca AOEA acEEA A ACE AUA C O aNI AC EO aN E aC E aO aIN OCAUA A aENA:AacEE AacE acEE EO aN OEIA a AOEA e a a a a a e e a a ca a e a e a a a a ca a a a a a a a a e a ca a a a ca AOEA a ca AacEE aA acacEA a:AacEE aEaOe aN aO aEacIA A ACE AUA AC O IA AC E aC E aO C aOIA:A I CEAU A AEEaE I aEA:AaEOe aN aO aEIA a a e a a a a ca e a e a a a a e a ca a a a a a e a e a )Aac aII aNA (ON EOA A ACO I OAUA uaI aN EC eI I aE aOE ae a a a sAA AAEEaE I aEA 14 Hilya Anis Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat Dalam Surah Ali Imra. Ay . 15Ibid. Lihat juga. Hakmi Hidayat. Rossa Safira Putri Yuwono. Miftakhul Ula Irzalia Febrianti. AuQiraAoat Al-QurAoan. Ay Lihat juga. Ahmad Fathoni. AuRagam Qiraat Al-QurAoan,Ay Suhuf 2, no. : 53Ae72, https://doi. org/10. 22548/shf. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. memahami variasi bacaan. Misalnya, dalam prinsip-prinsip dasar ushuliyyah yang berlaku secara luas, mencakup cara-cara seperti membaca mim jama', berbagai bentuk mad, serta aturan tentang fath dan imalah. Prinsip-prinsip ini mencakup semua kata atau frasa yang sejalan dengan mereka. Adapun pengertian Farsh al-Hurf itu sendiri, yaitu suatu kaidah yang menerangkan tentang bacaan pada ayat atau surat tertentu dengan bacaan tertentu yang disandarkan kepada ahli qurraAo. 16 Farshul uuruf merujuk pada aturan spesifik untuk membaca kata atau frasa tertentu dalam setiap surat dari Al-QurAoan. Perbedaan pada farshul uuruf inilah yang melahirkan beberapa makna dan hukum yang berbeda pada tiap riwayat tanpa adanya pertentangan dalam keshahihan kedua riwayat. 17 Dua kaidah besar dalam diskursus qira,at menjadi pijakan penting dalam perbedaan makna penafsiran. Kaidah Farsh al-Hurf dan ushuliyyah tidak hanya muncul secara alamiah, namun disusun sistematis oleh para ulama qurrA. Terdapat beberapa kategori imam yang kemudian diklasifikasikan menjadi qiraat sabAoah, qiraat asyrah, dan qiraat arbaAoah asyr. Berikut ini nama-nama imam QiraAoat sepuluh dan rawi-rawinya. Imam NAfiAo al-Madan . Ae169 H), berasal dari al-Ashbahani dan bermukim di Madinah. Dua perawinya yang terkenal adalah: QAln (Isa bin Mina, 120Ae220 H), wafat di Madinah. Warsh (Usman bin SaAoid al-Mishr, 110Ae197 H), wafat di Mesir Imam Ibn Katsr al-Makk . Ae120 H), berasal dari Makkah. Dua perawinya adalah: Al-Bazzi (Ahmad bin Muhammad, 170Ae250 H), dikenal dengan julukan Abu al-Hasan. Qunbul (Muhammad bin Abdur Rahman, 195Ae291 H), dikenal dengan julukan Abu AoAmr. 16 Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. Ay 17 Yusuf dkk. AuTelaah Komparasi Farsyul Huruf Dalam Qiraat Hafsh Dan SyuAobah Serta Implikasinya Terhadap Persepsi Ayat-Ayat Ahkam. Ay lihat juga. Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. Ay Lihat juga, 18 Dr. Abdur Rokhim Hasan. SQ. QiraAoat Al-QurAoan Dan Tafsirnya. Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Abu AoAmr al-Bashri . Ae154 H), nama lengkap Zaban bin al-AlaAo, berasal dari Bashrah. Perawinya: Ad-Duri . Ae246 H) dan As-Susi . 261 H). Ibnu Amir . Ae118 H), nama lengkap Abdullah bin Amir, berasal dari Damaskus. Perawinya: Hisyam . Ae245 H) dan Ibnu Dzakwan . Ae242 H). Ashim . 127/128 H), nama lengkap Ashim bin Bahdalah dari Kufah. Perawinya: SyuAobah . Ae193 H) dan Hafsh . Ae180 H). Hamzah . Ae156 H), nama lengkap Hamzah bin Habib dari Kufah. Perawinya: Khalaf . Ae229 H) dan Khallad . Ae220 H). Al-KisAAoi . 189 H), nama lengkap Ali bin Hamzah dari Kufah. Perawinya: Abu al-Harits . 240 H) dan Ad-Duri . uga perawi Abu AoAm. Abu JaAofar . 128 H), nama lengkap Yazid bin al-QaAoqaAo dari Madinah. Perawinya: Ibnu Wardan . 160 H) dan Ibnu Jammaz . 170 H). YaAoqub al-Hadhrami . 205 H), dari Bashrah. Perawinya: Ruwais . 238 H) dan Rauh . 234/235 H). Khalaf al-AoAsyir, juga perawi Hamzah, dari Baghdad. Perawinya: Ishaq . 286 H) dan Idris . 292 H). Para imam di atas memiliki ciri khas tersendiri sebab memiliki factor yang memengaruhinya. Beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya variasi qira'at. Variasi qiraAoat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: . permintaan Nabi Muhammad SAW. Jibril untuk menambahkan huruf bacaan. pengulangan bacaan AlQurAoan oleh Jibril selama Ramadhan. perbedaan dialek Arab. perbedaan mazhab qiraAoat. penyebaran Islam ke berbagai wilayah. keberadaan riwayat mutawatir terkait tujuh qiraAoat. Secara eksternal, orientalis seperti Jeffery dan Goldziher menyebut ketiadaan titik dan harakat sebagai penyebab perbedaan, namun pandangan ini terbantahkan oleh fakta sejarah perkembangan tulisan Arab. 19 Aswadi Syuhada dkk. Qira Ao At Al-Qur Ao an : Genealogi Kemunculan Dan, 26, no. April . : 44Ae58, https://doi. org/10. 22373/substantia. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Diskursus qiraAoat memiliki peran penting dalam pondasi dasar mengenal ulumul QurAoan. Berangkat dari Nabi sebagai pelopor keilmuan tersebut, para sahabat dan tabiin kemudian mengembangkan dalam beberapa aspek. Yahya bin YaAomur, salah seorang murid Abu Aswad adDuali,20 Ilmu qiraAoat, yang berkembang dari riwayat, lahjah, dan berbagai faktor linguistik, telah menjadi disiplin tersendiri. Urgensinya mencakup: pendalaman makna Al-QurAoan. penguatan ilmu tajwid. pelestarian keaslian teks wahyu. peningkatan pemahaman bahasa Arab. penguatan ikatan spiritual dengan Al-QurAoan. Dengan demikian, mempelajari qiraAoat bukan hanya bernilai akademis dan praktis, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah melalui pemahaman yang lebih dalam terhadap firman-Nya. 21 Ulama Nusantara pun tak luput menjadikan ilmu qiraAoat sebagai bagian penting dalam karya-karya mereka. Syaikh Nawawi al-Bantani, salah satu mufasir terkemuka, mengintegrasikan kajian qiraAoat dalam penafsiran makna ayat-ayat AlQurAoan, menunjukkan kedalaman ilmunya serta kekayaan tradisi tafsir di Nusantara. Selayang Pandang Tafsir MarAh Labd dan Syaikh Nawawi AlBantani Syekh Nawawi al-Bantani merupakan salah satu ulama yang berpengaruh dalam dunia Islam khususnya, baik di kancah lokal dan 22 Beliau mempunyai nama lengkap Muhammad Nawawi ibn Umar ibn Arabi al-Tanara al-Jawi al-Bantani, atau lebih dikenal dengan sebutan Nawawi al-Bantani. Beliau lahir pada tahun 1230 H/1813 M di desa Tanara kecamatan Tirtayasa kabupaten Serang provinsi Banten Indonesia. Ayah beliau bernama Umar Ibn Arabi, seorang pejabat 20 Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. Ay 21 Hakmi Hidayat. Rossa Safira Putri Yuwono. Miftakhul Ula Irzalia Febrianti. AuQiraAoat Al-QurAoan. Ay 22 Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. Ay Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. penghulu yang memimpin masjid di Tanara. Adapun ibunya bernama Zubaidah, perempuan asli penduduk Tanara. 23 Dari latar belakang keluarganya yang terhormat dan silsilahnya yang bersambung dengan Nabi Muhammad Saw. 24, beliau memiliki legitimasi dan kredibilitas yang kuat di kalangan umat Islam. Misalnya, dengan banyaknya jumlah karya tulis beliau yang menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan,25 kemudian beberapa gelar dari beberapa negara Islam seperti Arab Saudi. Mesir dan Suriah,26 dan karyanya yang menjadi rujukan di berbagai pesantren dan institusi pendidikan Islam, baik di Indonesia maupun di luar negeri, 27 menunjukkan Syaikh Nawawi memiliki pengaruh besar. Syaikh Nawawi adalah role model ulama Nusantara yang turut berkiprah menyebarkan Islam di level internasional. Kecerdasan Syaikh Nawawi al-Bantani tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal namun juga internal. Faktor internal, sejak kecil Syekh Nawawi memang sudah diarahkan ayahnya menjadi seorang ulamaAo. Awalnya beliau dididik langsung oleh sang ayah, kemudian ia berguru kepada K. Sahal, seorang ulama di Banten. Usai dari Banten, ia berguru kepada ulama besar Purwakarta, yaitu Kyai Yusuf. Pada usia 15 tahun, syekh Nawawi berkesempatan berangkat ke Tanah Suci bersama dua saudaranya untuk menunaikan ibadah haji, kurang lebih 3 tahun di sana, ia manfaatkan untuk belajar ilmu Kalam. Bahasa dan Sastra Arab. Ilmu Hadits. Tafsir dan Ilmu Fiqih. Setelah itu beliau Kembali ke Tanah Air pada tahun 1833 M, dengan khazanah keilmuannya yang relatif cukup untuk membantu ayahnya mengajar para santri. Akan tetapi dengan 23 Ibid. 24 Ahmad Wahyu Hidayat. AuPemikiran Syekh Nawawi aL-Bantani dan Relevansinya di Era Modern,Ay Aqlam Journal of Islam and Plurality 4, no. : 197. Lihat juga. Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. Ay 25 Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. Ay 26 Ibid. 27 Anas Mujahiddin dan Muhammad Asror. AuTelaah Tafsir Marah Labid Karya Nawawi Al-Bantani,Ay Ulumul QurAoan: Jurnal Kajian Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir 1, no. : 81Ae87, https://doi. org/10. 58404/uq. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. kondisi Nusantara yang tidak stabil pada saat itu akibat penjajahan Belanda, beliau kembali ke Mekkah untuk kedua kalinya, guna memperdalam keilmuan-nya. Adanya kesempatan ini tidak digunakan Syekh Nawawi dengan sia-sia. 28 Lantaran ketajaman otaknya, ia tercatat sebagai salah satu murid terpandang di Masjidil Haram, misalnya sewaktu Syekh Ahmad Khatib Sambas uzur sebagai Imam Masjidil Haram. Syekh Nawawi ditunjuk sebagai pengganti. Sejak saat itulah ia dikenal dengan julukan Syekh Nawawi al-Jawi. Ketika di Tanah Haram. Syekh Nawawi mendapat bimbingan pertama kali dari Syekh Khatib Sambas (Mursyid Tarekat Qadariyah dan Naqsyabandiya. dan Syekh Abdul Ghani Duma, ulama asal Indonesia yang bermukim di Tanah Haram. Setelah itu, beliau belajar kepada Syekh Sayyid Ahmad Dimyati dan Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya juga merupakan ulama asal Indonesia yang bermukim di Makkah, beliau menyantri dengan sungguh-sungguh kepada Syaikh Muhammad Khatib al-Hanbali. Setelah itu. Syekh Nawawi melanjutkan studinya kepada ulama besar di Mesir dan Syam (Suria. Menurut penuturan Abdul Jabbar yang dikutip oleh Saiful Amin Ghofur. Syekh Nawawi juga pernah merantau sampai ke Mesir untuk menuntut ilmu. Guru sejatinya juga berasal dari negeri piramida ini, seperti Syekh Yusuf Sumbulawi dan Syekh Ahmad Nahrawi. 29 Guru-guru dan rihlah ilmiah beliau ke beberapa negeri menjadi factor eksternal dalam kecerdasan Syaikh Nawawi. Dibalik kesuksesan serorang murid terdapat peran penting dari guru-gurunya. Di antara nama Ae nama guru Syekh Nawawi al-Bantani: . KH Umar . KH Sahal . KH Yusuf . Syekh AoAbd al-Ghani Bima . 28 Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. Ay Lihat juga. Mujahiddin dan Asror. AuTelaah Tafsir Marah Labid Karya Nawawi Al-Bantani. Ay Lihat juga. Afiqul Adib. AuSyekh Nawawi Al-Bantani: Kajian Pemikiran Pendidikan Islam dan Relevansinya di Abad-21,Ay Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan 16, no. : 444, https://doi. org/10. 35931/aq. 29 Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. Ay Lihat juga. Mujahiddin dan Asror. AuTelaah Tafsir Marah Labid Karya Nawawi Al-Bantani. Ay Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Syekh AoAbd al-Hamid Baghistani . Syekh Ahmad Dimyathi . Syekh Ahmad Nahrawi . Syekh Ahmad Zaini Dahlan . Syekh Junaid al-Betawi . Syekh Khatib Duma al-Hambali . Syekh Khatib Sambas . Syekh Yusuf Sumbulawen. Dari sekian banyak guru tersebut, ada tiga guru yang dianggap sangat berpengaruh bagi Syekh Nawawi, baik dari segi pemikiran maupun ajarannya, yaitu Syekh Ahmad Nahrawi. Syekh Junaid al-Betawi, dan Syekh Ahmad Dimyathi. Ketiga guru ini merupakan ulama masyhur di Makkah pada masa itu, dan melalui mereka, karakter serta pemikiran Syekh Nawawi terbentuk. Selain itu, dua guru lainnya yang berperan besar dalam pemikirannya adalah Syekh Muhammad Khatib as-Sambasi dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan, keduanya merupakan tokoh ulama di Madinah. Khususnya dalam bidang qira'at. Syekh Nawawi belajar dari Syekh Ahmad Dimyathi. Pasca Syekh Nawawi al-Bantani menimba ilmu dari beberapa ulama masyhur. Syaikh Nawawi kemudian mengajarkan ilmunya kepada masyarakat Indonesia. Beberapa murid Syaikh Nawawi masuk dalam radar tokoh-tokoh nasional Islam yang berperan aktif tidak hanya dalam dakwah Islam, tetapi juga dalam perjuangan nasional. Beberapa di antaranya adalah: . KH. Asnawi dari Kudus, . KH. AsyAoari dari Bawean, . KH. Daud dari Perak. Malaysia, . KH. Hasyim AsyAoari dari Tebuireng. Jombang. Jawa Timur, . KH. Kholil dari Bangkalan. Madura. Jawa Timur, dan . KH. Tubagus Bakri. 31 Peran Syaikh Nawawi memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan para kyai Nusantara. Tidak hanya menghasilkan murid. Syaikh Nawawi juga menghasilkan karya-karya. Pertama, dalam cabang tafsir, karya menonjolnya adalah kitab Tafsir MarAh Labd. Kedua, dalam bidang tasawuf, beliau menulis beberapa karya seperti Salalimul Fudhala, yang 30 Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. Ay Lihat juga. Mujahiddin dan Asror. AuTelaah Tafsir Marah Labid Karya Nawawi Al-Bantani. Ay Lihat juga. Adib. AuSyekh Nawawi Al-Bantani: Kajian Pemikiran Pendidikan Islam dan Relevansinya di Abad-21. Ay 31 Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. merupakan syarah dari kitab Hidayah al-Azkiya, serta Mishbah al-Zhalam, dan Bidayah al-Hidayah. Ketiga, dalam bidang hadits, terdapat Tanqiu alQaul, yang merupakan syarah dari kitab Lubab al-Hadits karya Imam alSuyuthi. Keempat, dalam bidang tauhid, karyanya termasuk Fath al-Majid, yang merupakan syarah kitab al-Durr al-Faraid fi al-Tauhid, dan Tijan alDarari, syarah dari kitab fi al-Tauhid karya al-Bajuri. Kelima, dalam bidang sejarah, beliau menulis al-Ibriz al-Dani. Bughyah al-Awwam, dan Fath alSamad. Keenam, dalam bidang fiqih, karyanya antara lain Sullam alMunajah, al-Tausyikh . yarah dari kitab Fath al-Qarib al-Mujib karya Ibnu Qasim al-Ghaz. , al-Tsimar al-YaniAoah, dan al-Fath al-Mujib. Ketujuh, dalam bidang bahasa dan kesusastraan Arab, karyanya meliputi Fath al-Ghafir alKhathiyah dan Lubab al-Bayan. 32 Karya Syaikh Nawawi berperan penting dalam pembelajaran di pesantren dan berbagai Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Karya tafsir Syaikh Nawawi juga menjadi salah satu tafsir yang dipelajari di berbagai kampus di Indonsia. Tafsir MarAh Labd MarAh Labd li Kasyfi MaAona QurAoan al-Majid adalah kitab tafsir yang ditulis oleh Syekh Nawawi al-Bantani, yang juga dikenal sebagai Al-Tafsir Al-Munir. Syekh Nawawi menulis kitab ini atas permintaan dan dorongan para ulamaAo yang dihormati beliau sewaktu berada di Makkah, 33 yang menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang berpengaruh, serta karyakaryanya yang dihargai dan dibutuhkan di kalangan para ulama. Hal itu ditandai dengan penghargaan dari ulama Mesir dan Makkah setelah dipublikasikan di dua negeri tersebut. 34 Kitab ini, diselesaikan pada tahun 32 Mujahiddin dan Asror. AuTelaah Tafsir Marah Labid Karya Nawawi Al-Bantani. Ay Lihat juga. Adib. AuSyekh Nawawi Al-Bantani: Kajian Pemikiran Pendidikan Islam dan Relevansinya di Abad-21. Ay 33 Mujahiddin dan Asror. AuTelaah Tafsir Marah Labid Karya Nawawi Al-Bantani. Ay lihat juga. Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. Ay 34 Mujahiddin dan Asror. AuTelaah Tafsir Marah Labid Karya Nawawi Al-Bantani. Ay Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. 1305 H/1884 M dan diterbitkan di Makkah setelah diteliti oleh ulama Makkah pada tahun 1887 M. Kitab memiliki signifikansi, karena sering dijadikan kitab pegangan pokok kurikulum setelah Tafsir Jalalain. Selain itu dari segi isinya, tafsir ini merupakan standar dasar pemikiran Syekh Nawawi dan mempengaruhi banyak karya lainnya. Dengan demikian, "MarAh Labd" bukan hanya sekadar tafsir, tetapi juga mencerminkan kontribusi besar Syekh Nawawi dalam pengembangan pemikiran Islam yang berlandaskan Ahlussunnah wal JamaAoah dalam bidang teologi. SyafiAoiyah dalam bidang fikih, dan AsyAoariyah dalm dalam ilmu. Meski disebut sebagai kitab yang memiliki pengaruh besar dalam dunia Islam, terkhusus dalam dunia pendidikan. Tafsir MarAh Labd tentu tidak akan lepas dari penilaian para ulamaAo dan para akademisi, sehingga pasti akan ada kelebihan serta kekurangan yang terdapat pada kitab Misalnya kelebihan dari kitab MarAh Labd sendiri yaitu pertama. Terdapat beragam metode dan corak yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-QurAoan. Kedua, bahasa yang digunakan ringkas, mudah dipahami dan tidak membuat pembaca merasa bosan untuk membacanya. Ketiga. Menjelaskan perbedaan macam bacaan qiraAoat, dan juga memaparkan ilmu balaghah, dan nahwu sharafnya. Keempat, menggunakan rujukan kitab-kitab tafsir muAotabar yang pemahaman penyusunnya terhadap seluk-beluk bahasa Arab tidak diragukan lagi. Sedangkan kekuranganya adalah . Syekh Nawawi jarang menyebutkan kualitas dan sanad hadis dalam menafsirkan Al-QurAoan tanpa ada sebab yang melatarbelakanginya. Dalam menjelaskan masalah hukum. Syekh Nawawi hanya cenderung pada madzab tertentu, yaitu madzab SyafiAoi. Syekh Nawawi jarang menafsirkan ayat dengan ayat, padahal alangkah baiknya dalam penafsirannya sering dikemukakan munasabah ayat, sehingga tafsirannya tersebut dapat memenuhi unsur-unsur bi al-MaAotsur, yaitu menafsirkan ayat dengan ayat dan menafsirkan ayat dengan hadis. 35 Ibid. 36 Salamah. AuFarsy Al-Huruf Dalam Tafsir Marah Labid Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi QiraAoat dalam Surah Ali Imra. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Farsh al-Hurf dalam Tafsir MarAh Labd Salah satu ciri khas dalam Tafsir MarAh Labd yakni eksplorasi kajian qiraAoat dalam bidang qiraAoat ketika menjelaskan tafsir. Tidak jarang Syaikh Nawawi menampakkan keahliannya dalam bidang qiraAoat ketika menjelaskan penafsiran sebuah ayat. Penulis akan memaparkan mengenai ayat yang mengandung Farsh al-Hurf dalam QS. Al-Baqarah. Dalam surah tersebut, penulis menemukan 78 ayat yang mengandung Farsh al-Hurf. Namun, dalam Tafsir MarAh Labd ayat tersebut tidak semuanya berimplikasi pada penafsiran. Peneliti hanya menemukan 10 ayat yang berimplikasi terhadap penafsiran, sedangkan 68 ayat lainnya tidak berimplikasi terhadap penafsiran. 10 ayat tersebut antara lain: Q. S AlBaqarah ayat 11. S Al-Baqarah ayat 119. S Al-Baqarah ayat 125. Al-Baqarah ayat 144. S Al-Baqarah ayat 165. S Al-Baqarah ayat 210. S Al-Baqarah ayat 222. S Al-Baqarah ayat 249. S Al-Baqarah ayat 259. S Al-Baqarah ayat 271. Farsh al-Hurf tanpa Penafsiran Farsh al-Hurf Farsh al-Hurf tidak Berpengaruh berpengaruh pada ke Penafsiran Penafsiran a A aCOeEAQ. S . :11. A aO a a eOI aCOeEAQ. S . :9, a a ca a a a S . :13. A N aOAQ. S A AENIAQ. S . :36, e a a aaea . :29. AOaEIA a A OCE AQ. S . :48, ae a ac S . :54. A OI IEac aIOAQ. S . :51, a acI eA e EA . :61. AE eIA ca AaOA aAEa eIOA a a a eaaea . :58. A IEOIAQ. :62. A N a UOAQ. aAOe a . :74. ANA a eaaea . :67. A OEIOIAQ. A OaE aa eOIAQ. S . :10, a ca a S . :119. Aac eOA a AOA a eaae a S . :125. AOIEOIA S . :144. A& O aOA A Oa a eOIAQ. S . :165, a A a eAQ. S . :210, A aA A O e aN eIAQ. S . :222, al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoanAA AAVol. 10 No. : 45-84AA AADoi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Aaeaa aA Aea aA AA Q. S . :259,AII a aA AaN A Q. S . :83,AI & AQ. SAA Aac a aA Aa aUA AA Q. S . :249,A eA eOI A Q. S Q. S . :81,AEC a A. :75,AA AaeA Aa e UA a a aA AE OA a A,Aa A AOA AA Q. S . :271. AOOA a Aa aA AA,AN a eOI AQ. SAA a AA Q. S . :85,AA a eO aN eIA AOe aA AacOeEA a Q. S . :97,AA AE aA A aA a Q. S . :98,AO aIOeEOEA AacA AeaA AO OA AIE A. :87,AA Aa aA AaO aI A. :90,AA a AA aIO aNA a AE a a eOA AQ. S . :128,AA Aa aA A a acO AQ. S . :143,AA AA. :126,AA AE acI E O aIO OA AEO a AQ. S . :158,AA a Q. SAOE aA A&A Aae eA AII aA a a A AQ. S . :164,AA AA . :102,A O aA Aae aA a AN AI aI AQ. S . :168,AA AA Q. S . :106,AII aA Aa aA AeA a Q. S . :116,AOCEO A Q. S . :173,A a acA AeA Aa a aA AA Q. S . :117,AAOaE eOI A Q. S . :189,AEaOa eO aA AO eA a eaA AeA AEE aIA AA Q. S . :124,Aa N aI OCOE A. :208,AA a A AAQ. SAA AcA A. :214,AA AA Q. S . :132,AOOA a a AeA AEIaa aA AEIeA Aa a O e a AQ. SAA AA Q. S . :148,AIOacENA AaeA a AeA Aa e a a e a A Q. SAOI A. :220,AA AA Q. S . :149,AIEOIA a a a AeA AacA AacA AA. :233,AA Ae ac IONIA AaOEE acI E e acA AacA AEA A&A AacA a a a AaeA a AA AQ. S . :237,AA Aac eA AIO sA a Q. S . :177,AA AI AQ. S . :251,AA AA eOaA AAQ. SAA AA. :182,AA a a Aa a a EEN AQ. S . :258,AA AA Q. S . :184,AIA AA62AA AA63AA AADAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRANAA AAFeni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok AhmadiAA AADoi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Aea aA Ae aA Aae a AaeaaeA AAIO AQ. S . :273,AA a AA,AIOe a aA Aacs AQ. S . :279,AA Aa aA AA Q. S . :280,A aA acC eOA Aae a aA A a eOIA AAQ. SAA AEC eI & aO aEaEIEO aO aA AN aI AQ. S . :265,AA a Aa aea eA AA,ACaEONI AQ. S . :185,AA A a aA A a aA ACaE eOE eI A,AOaCaE eOE eIA Aa aA A& aA AQ. S . :191,AA Aa aA AA Q. S . :197,AA a eOCA a AA Q. S . :219,AE a eOA Aac a a eA a Q. S . :229,AOAA a AA Q. S . :236,AC a aNA AUA AAca Q. S . :240,AO aAOacA a aA A aANA AA Q. SAAOA a Q. SA a e a eA AOI A. :245,AA Aa acA AaeA AA,AE A,AO A. :246,AA a Q. S . :254,A aA aA a Q. SAA A e U A,a a eA AA aN acIA a Aa a ac aA AaOE OIIO A. :260,AA AUA a aA AAQ. S . :267,AA AaUA a Q. Sa a OE a aA AA,A a aA Aa A AA Q. SAA aNI A. :282,AA Aa eA AA. :283,AA AA,AAOa aA aA AA. :281. Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. AOA A aOOa a aAQ. S . :284, A aOEa aNAQ. S . :285. Dari tiga table di atas, peneliti mengkategorikan Farsh al-Hurf dalam 3 aspek: pertama. Farsh al-Hurf tanpa penafsiran. Kedua. Farsh alHurf tidak berpengaruh ke penafsiran. Ketiga. Farsh al-Hurf berpengaruh pada penafsiran. Maksud dari Farsh al-Hurf tanpa penafsiran yaitu, ketika mengangkat Surah Al-Baqarah sebagai fokus kajian. Langkah awal yang dilakukan penulis adalah dengan mencari Farsh al-Hurf yang terdapat pada surah Al-Baqarah dengan bantuan aplikasi Taqribul Maysir Lisyatibiyah, dari aplikasi itu penulis menemukan sebanyak 78 Farsh alHurf dalam Surah Al-Baqarah. Namun 30 dari 78 Farsh al-Hurf itu, penulis tidak menemukan keterangan cara baca dari imam qiraAoat, terutama arti atas 30 Farsh al-Hurf tersebut dalam tafsir MarAh Labd. Sedangkan yang dimaksud Farsh al-Hurf tidak berpengaruh pada penafsiran oleh peneliti yaitu, ketika penulis menemukan Farsh al-Hurf, namun Farsh al-Hurf tersebut hanya di terangkan cara baca imam qiraAoat tanpa dijelaskan arti dari perbedaan bacaan tersebut, misal pada surah Al- a a ca a a a Baqarah ayat 36, terdapat Farsh al-Hurf pada lafaz AAENIA, imam hamzah membacanya dengan memakai Alif sesudah Za, sedangkan imam yang lain membacanya tanpa Alif, tetapi menggunakan Lam yang di tasydid. Kemudian. Farsh al-Hurf yang hanya diterangkan cara baca salah satu imam, seperti pada surah Al-Baqarah ayat 74, terdapat Farsh al-Hurf pada a eaaea lafaz AIEOIA. Ibnu Kasir membaca YaAomalun. Dalam aspek kedua ini peneliti menemukan 38 Farsh al-Hurf yang tidak berpengaruh ke Farshul huruf tersebut hanya disampaikan perbandingan dengan beberapa imam qurraAo lainnya oleh Syaikh Nawawi. Terakhir. Farsh al-Hurf berpegaruh pada penafsiran, yaitu ketika terdapat Farsh al-Hurf yang dibaca imam qiraAoat dan dijelaskan arti dari DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. perbedaan pembacaan tersebut misalnya pada Surah Al-Baqarah ayat 222, a a ea terdapat Farsh al-Hurf pada lafaz AON eIA. Ibnu Kasir. NafiAo. Abu AoAmr. Ibnu Amir, dan Hafs, serta YaAokub Al-Hadrami membaca dengan lafaz Yathurna . yang di-sukun-kan dan Ha yang di-dammah-kan, artinya hingga darah haidnya terhenti. Adapun SyuAobah. Hamzah, dan Al-Kisai membacanya dengan Ta dan Ha yang di-tasydid-kan, yakni Yattahharna, artinya sampai mereka mandi jinabah. Dalam aspek ketiga ini, penulis menemukan 10 Farsh al-Hurf yang berpengaruh pada penafsiran. Implikasi QiraAoat Terhadap Penafsiran dalam Tafsir MarAh Labd S Al-Baqarah: 10 a a a a a AOA CaEa eON eI acI a Aa aA a A aN aIA e a AacEE aI a U aOE aN eI a aacEeI i a aI EI eO OaE aa eOIA aa Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta. Ayat tersebut menjelaskan tentang keadaan orang-orang yang memiliki penyakit dalam hati, yang merujuk pada keraguan, kemunafikan, atau niat jahat. Sebab sifat mereka yang selalu berdusta dan tidak jujur. Allah menambah penyakit dalam hati mereka, yang mengakibatkan mereka menerima azab yang sangat pedih. Ini menunjukkan konsekuensi dari tindakan mereka dan bagaimana ketidakjujuran dapat mengakibatkan kerugian yang lebih besar di akhirat. Pada ayat tersebut. Syekh Nawawi al- a ea e a Bantani menjelaskan perbedaan qiraAoat pada lafaz AOE aOIA. Imam NafiAo. Ibnu Katsir. Abu Amr, dan Ibnu Amir membaca dengan tasydid yakni Yukazzibun, artinya disebabkan mereka mendustakan Nabi Saw. Sedangkan UlamaAo lain membacanya dengan meringankan zal tanpa tasydid, 37 Kemenag. Al-QurAoan Dan Terjemahannya, ketiga (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-QurAoan. Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. artinya karena mereka berdusta dalam ucapan mereka yang mengatakan. AuKami beriman dalam hati kamiAy. Dalam penjelasan itu, yang dimaksud AuMerekaAy adalah AoAbdullah ibnu Abu Wajd ibnu Qais dan MuAotib ibnu Qusyair. 38 Konsekuensi dari perbedaan qiraAoat tersebut menimbulkan a makna yang berbeda, di mana Imam AoAsim menggunakan bentuk - AAEA a ea a a A OA aEAdari fiAoil tsulasi mujarrod dan Imam NafiAo menggunakan bentuk - AA acEA a aa A OA OEAdari fiAoil mazid rubaAoi, yang memiliki faidah sesuatu yang AosangatAo. Oleh a Aa ac a a a OA karena itu, jika menggunakan bentuk A OAEA- AAEA. Imam Nawawi hendak menyampaikan bahwa Ibn Qais dan Ibn Qusyair memiliki sifat yang sangat berdusta di dalam hatinya. S Al-Baqarah: 119 e a e a a a e a a ca U e a ca U e a Aac e a e a e a e a OA A Ea aO aIA a AaI EIE aEC aO OI aO OE AE I AA 39 e Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Nabi Muhamma. dengan hak sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Engkau tidak akan dimintai . tentang penghuni-penghuni neraka. Syaikh Nawawi juga menyamapaikan penjelasan qira,at dalam QS. Al-Baqarah: 119. Ayat tersebut menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad Saw. diutus sebagai pembawa kabar gembira bagi para pengikutnya dan sebagai pemberi peringatan bagi orang-orang kafir. Selain itu. Nabi tidak bertanggung jawab atas orang-orang yang tidak beriman. Perbedaan qiraAoat a ea pada ayat di atas terdapat pada lafaz A aAEA. Syekh Nawawi dalam kitab tafsir MarAh Labd menjelaskan bahwa Jumhur ulamaAo membacanya dengan Ta dan Lam yang di-rafaAo-kan kedua-duanya sebagai kalimat berita. Sehingga 38 Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labid Jilid . (Sinar Baru Algesindo, 2. 39 Kemenag. Al-QurAoan Dan Terjemahannya. 40 Ibid. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. menimbulkan makna, bahwa Nabi Muhammad Saw. bukanlah orang yang dimintai pertanggungjawaban tentang mereka, mengapa mereka tidak mau beriman kepada sesuatu yang diturunkan kepada Nabi sesudah Nabi sampaikan kepada mereka risalah yang dipercayakan kepada Nabi. Imam NafiAo membacanya dengan bacaam jazm dan TaAo yang difathah-kan sebagai . Sehingga menimbulkan makna larangan kepada Nabi Muhammad untuk menanyakan tentang sesuatu yang akan menimpa mereka kelak di hari kiamat. Hal itu sebagai peringatan tentang realitas azab yang keras kepada orang-orang kafir, sehingga pendengar tidak akan mendengar beritanya. Konsekuensi dari perbedaan qiraAoat tersebut menimbulkan makna yang berbeda dari setiap bacaan. Syaikh Nawawi meskipun menggunakan qiraah AoAshim, namun ia juga menyampaikan pendapat Imam NafiAo, secara tidak langsung Syaikh Nawawi ingin menyampaikan makna larangan . dan makna peniadaan . melalui dua varian qiraat yang disampaikan. S Al-Baqarah: 125 e a e a a U a a a e a ca e e a ca a U e a a ca Ae a a e a e e a a a U OA AacO aII ICIa aNI IAacE O aNIA a AaO a EI EaO Ia EEIA a A OII OA ca ca a a e e a a e ca a eA eOE e N aI aO e IOe aE a eI a ON a aOA 43 e a ca AEE a EO aA AE aAIO OA a AO EaE aO aAIO OEA a a a a (Ingatla. ketika Kami menjadikan rumah itu (KaAoba. tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. (Ingatlah ketika Aku katakan,) AuJadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Ay (Ingatlah ketik. Kami wasiatkan kepada Ibrahim dan Ismail. AuBersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, serta yang rukuk dan sujud . !Ay44 Ayat tersebut menjelaskan tentang Allah yang menyebut KaAobah sebagai tempat berkumpul dan yang aman bagi manusia, serta menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat salat. Syekh Nawawi al-Bantani 41 Al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labid Jilid . 42 Ibid. 43 Kemenag. Al-QurAoan Dan Terjemahannya. 44 Ibid. Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. a ca menyatakan perbedaan qiraAoat ayat tersebut pada lafaz Aac eOA a A aOA. Ibnu Katsir. Abu AoAmr. Hamzah dan AoAsim serta Al-Kisai membacanya dengan Kha yang di-kasrah-kan dalam bentuk Amar yakni Watta khizu. Dalam hal ini terdapat keterangan, bahwa Qatadah dan As-Suddi diperintakan untuk melaksanakan shalat di dekat maqam Ibrahim. Imam NafiAo dan Ibnu AoAmir menggunakan dalam bentuk Madi AuWat takhazuAy, dengan Kha yang difathah-kan, yang berarti sebagai berita tentang putra Nabi Ibrahim dan keturunannya, bahwa mereka menjadikan maqamnya sebagai tempat 45 Konsekuensi dari perbedaan qiraAoat tersebut menimbulkan makna yang berbeda dari setiap bacaan. Kedua lafaz yang disampaikan memiliki bentuk amar, namun memiliki makna yang berbeda. Jika menggunakan lafaz AacA a A Abermakna AomenjadikanAo dan jika menggunakan lafaz AacA bermakna AumengambilAy. Syaikh Nawawi dalam hal ini ingin menyampaikan tentang perintah dan kabar gembira dengan perbedaan lafaz tersebut. Jika perintah, maka khitab dimaksud dalam ayat tersebut bisa dimungkinkan Qatadah, as-Suddi, dan Nabi Muhammad seperti yang disampaikan Az-Zuhailiy. 46 Akan tetapi, jika yang digunakan adalah fiil masi, maka maknanya adalah kabar gembira bahwa telah diperkenankan makam ibrahim sebagai musalla. S Al-Baqarah: 144 a e Aa OA a ca Aa a a OA a e a ca a a a ea AE CeEa U a eA a AA a ca AON A aOE aO aNEA a AC I O CE aO aNE aOA EI a AEI aOacEaIA e ca ca a e a a a a ca a a e a a a e a e ae e a AacEO aIA a A a EI a a Ea aIa aOO I EI eI A aOE eO aO eONE eI aN O aIA a a a a e Aa e a e a a a e a a e a a ac a e a ac e ac OA 47 a e a a e a ca a AacEE a sE I OIEOIA AE acEEIOI IN EC aII aNI OIA a AOO EA Sungguh. Kami melihat wajahmu (Nabi Muhamma. sering menengadah ke Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, 45 Al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labid Jilid . 46 Wahbab Al-Zuhaili. Tafsir Al-Munir (Dar Al-Fikr, 2. 47 Kemenag. Al-QurAoan Dan Terjemahannya. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benarbenar mengetahui bahwa . emindahan kiblat ke Masjidilhara. itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. Ayat di atas menjelaskan tentang pemindahan kiblat dari arah sebelumnya ke Masjidilharam di Makkah. Allah menyatakan bahwa Dia memperhatikan Nabi Muhammad SAW yang sering menengadah ke langit, dan sebagai jawaban atas harapan tersebut. Allah memerintahkan Nabi untuk menghadap ke Masjidilharam. Ayat ini juga menegaskan bahwa orang-orang yang diberi kitab . hlul kita. sebenarnya mengetahui bahwa perubahan kiblat ini adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Selain itu. Allah menegaskan bahwa Dia tidak lengah terhadap perbuatan mereka. Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan perbedaan qiraAoat ayat tersebut pada a eaae a lafaz AOIEOIA. Ibnu AoAmir. Hamzah dan Al-Kisai membacanya dengan memakai Ta, sedangkan ulamaAo lainya membacanya dengan menggunakan ya sesuai dengan ayat. Konsekuensi dari perbedaan cara baca tersebut menjadikan objek yang dituju berbeda. Dimana ketika dibaca dengan menggunakan Ta maka khitab yang dituju adakalanya kepada kaum muslim, adakalanya kepada ahli kitab. Sedangkan, ketika dibaca dengan menggunakan ya, merujuknya kepada HaAoulaAoi. Konsekuensi dari perbedaan qiraAoat tersebut menimbulkan objek yang dituju berbeda dari setiap bacaan. S Al-Baqarah: 165 e ca a Aa e ac ac a e a e a e a U ac ac e a a e a a OA AacEO aI aIIa eeOA a AacEE OA a caO aI aI IEA a AacEE IA a AaOOINI EA a A II O a aII O aIA ca a a a ca a e ca a a a a e a e a a e ee a a a a e ca a a e a a Aa a ac a U OA AaOe U acOIA a AacEE OEO OOA a AacEEA a a AacEOI EIO a OOI E I ECOA a A A a ae ae a a AA a AacEE aO EA 48 Ibid. 49 Al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labid Jilid . 50 Kemenag. Al-QurAoan Dan Terjemahannya. Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Di antara manusia ada yang menjadikan . selain Allah sebagai tandingan-tandingan . agi-Ny. yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekiranya orangorang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab . ada hari Kiama. , bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, . iscaya mereka menyesa. Ayat diatas menjelaskan tentang cinta orang-orang beriman kepada Allah dan penyesalan orang-orang yang zalim, yang akan muncul jika mereka melihat betapa kerasnya azab di hari kiamat. Syekh Nawawi menyatakan perbedaan qiraAoat ayat tersebut pada lafaz AO aOA. Jumhur ulama membacanya Yara dengan memakai Ya dengan Hamzah yang di-fathahkan pada Anna. Yang menurut pendapat qiraAoat sabAoah artinya Seandainya orang-orang yang mempersekutukan Allah itu mengetahui kerasnya azab Allah dan kekuatan-Nya, niscaya mereka tidak akan menjadikan sekutusekutu bagi Allah. Sedangkan selain qiraat sabAoah, dibaca dengan Hamzah yang di-kasrah-kan, sehingga bermakna Seandainya orang-orang yang zalim karena menyembah berhala sembahan mereka untuk menolong mereka, niscaya mereka akan mengatakan. AuSesungguhnya seluruh kekuatan itu milik Allah. Ay52 Imam NafiAo dan Ibnu AoAmir membacanya dengan memakai Ta yakni Tara dan Hamzah yang di-fathah-kan, yakni Anna sebagai khitab yang ditujukan kepada Rasulullah Saw atau kepada setiap orang yang layak untuk dikhitab. Sehingga menimbulkan makna, seandainya engkau melihat ketika orang-orang yang zalim menyaksikan azab Allah yang menimpa mereka, tentulah engkau melihat bahwa seluruh kekuatan itu milik Allah. Namun, jika Hamzah Inna di-kasrah-kan, maka menimbulkan makna AuSeandainya engkau melihat orang-orang yang mempersekutukan Allah itu ketika mereka menyaksikan azab, tentulah engkau katakan bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan itu milik Allah. Ay Namun. Ibnu AoAmir 51 Ibid. 52 Al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labid Jilid . DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. membacanya dengan men-dammah-kan Ya sehingga menjadi Yura. Konsekuensi dari perbedaan qiraAoat tersebut menimbulkan makna yang berbeda dari setiap bacaan. Lafaz inna dan anna secara makna tidak memiliki perbedaan yang substansial, namun hanya memiliki perbedaan aturan tata letak redaksional. Akan tetapi, lafaz yurA menggunakan bentuk majhul yang maknanya berkonsekuensi pasif . S Al-Baqarah: 210 ae eae a aa aa a a e a AacEE e a a OA a AaN eE aOIe a a eO aI acEe a eI OaceOa aN aIA A EI aA a AOA E sE II EIIa aOEIEOaE OCA ae a ea a a A a E aI eO aA AacEE A a AO aOEA Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu . ada hari Kiama. , kecuali kedatangan Allah dalam naungan awan bersama malaikat . ntuk melakukan perhitunga. , sedangkan perkara . telah diputuskan. Kepada Allahlah segala perkara Ayat diatas menjelaskan tentang harapan orang-orang yang ingkar dan menantikan kedatangan Allah pada hari Kiamat, yang akan datang dalam naungan awan bersama malaikat untuk melakukan perhitungan atas amal perbuatan mereka. Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan perbedaan a a a qiraAoat ayat tersebut pada lafaz A eA. Ibnu Ksir. Abu AoAmr, dan Asim membacanya sebagaimana redaksi. TurjaAou dalam bentuk mabni majhul. Sedangkan Ibnu AoAmir. Hamzah, dan Al-Kisai membacanya dalam bentuk mabni fail, yakni TarjiAou yang bermakna Tasiru. Konsekuensi dari perbedaan qiraAoat tersebut, jika dibaca TurjaAou maka artinya sesuai dengan arti yang tertera dalam ayat, yaitu AuDan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusanAy, hal ini memberikan makna, bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada hamba-hambaNya untuk mengatur urusan-urusan yang berkaitan dengan makhluk-Nya di dunia. Namun ketika sudah berada di akhirat, maka tiada yang berkuasa untuk memutuskan sesuatu selain Allah. Adapun Ibnu AoAmir. Hamzah, dan Al-Kisai membacanya dengan bentuk 53 Ibid. Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. mabni faAoil TarjiAou, yang bermakna Taru yakni kembali. Sebagaimana makna yang terdapat pada Q. S Asy-Syura: 53. 54 Konsekuensi dari perbedaan qiraAoat tersebut menimbulkan makna yang tidak begitu substansial, hanya perbedaan redaksional. S Al-Baqarah: 222 Ua aa ea a aeaa eaa Aa ea a OA eAE aI E e aIOA AaEO EI a a aOA E aI aOe a aOEA a AOA AOA ANA AEA ACA AOOAEOIA a e a e ca a e a a a e ca a a a a a e a e a a ca a e a a e a ca AacEE aaOA a AacEE acIA a A a aI a aE aIA ACONI ac ONI A a NI AONI aII OA 55 a e Aac ac e a a a ac e a a a OA AaO EIN aOIA a AEO aIO OA Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhamma. tentang haid. Katakanlah. AuItu adalah suatu kotoran. Ay Maka, jauhilah para istri . ari melakukan hubungan inti. pada waktu haid dan jangan kamu dekati mereka . ntuk melakukan hubungan inti. hingga mereka suci . abis masa hai. Apabila mereka benar-benar suci . etelah mandi waji. , campurilah mereka sesuai dengan . yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. Ayat di atas menjelaskan tentang larangan Allah terhadap suami untuk mendekati atau berhubungan intim dengan istrinya pada waktu haid, sebelum istri tersebut suci. Ayat ini turun berkenaan dengan kebiasaan kaum Yahudi yang menjauhi istri mereka ketika haid. Dari hal tersebut, para sahabat menanyakannya pada Rasulullah, lalu Allah menurunkan firman -Nya, wayas Aoalunaka Aoanil-mahidiqul huwa azan faAotazilunnisaAoa fil-mahid. Rasulullah bersabda, yang mana ketika istri-istri kalian haid, kalian boleh melakukan apapun kecuali berhubungan badan. Mendengar Keputusan Rasulullah, kaum yahudi berasumsi bahwa Rasulullah tidak mau membiarkan urusan mereka, kecuali Rasulullah menyatakan pendapat yang berbeda dari mereka, atas persoalan itu. Mendengar hal itu. Usaid bin Hudair dan Abbad bin Bisyr mendatanggi Rasulullah dan berkata, kaum 54 Ibid. 55 Kemenag. Al-QurAoan Dan Terjemahannya. 56 Ibid. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. yahudi mengatakan begini dan begitu, jadi kami tidak membiarkan para istri tinggal serumah dengan kami selama haid. Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan perbedaan qiraAoat ayat a a ea tersebut pada lafaz AON eIA. Ibnu Katsir. Abu Amr. Ibnu AoAmir, dan Hafs, serta YaAokub Al-Hadrami membaca Yathurna dengan TaAo yang di-sukun-kan dan HaAo yang di-dammah-kan, sehingga menimbulkan arti hingga darah haidnya terhenti. Adapun SyuAobah. Hamzah dan Al-KisaAoi membacanya dengan TaAo dan HaAo yang di-tasydid-kan, yakni Yattaharna, yang artinya sampai mereka mandi jinabah terlebih dahulu. Dari perbedaan pengucapan lafaz tersebut menimbulkan perbedaan hukum yang terkandung didalamnya. Dimana ketika dibaca Yathurna, akan berbunyi bahwa apabila darah haid perempuan berhenti, tidak dihalalkan bagi suami menyetubuhinya, kecuali sesudah mandi jinabah, ini adalah pendapat Imam Malik. Al-AuzaAoi. As-Sauri, dan Asy Syafi yang telah bersepakat. Sedangkan ketika dibaca Yattaharna, akan berbunyi apabila seorang melihat tanda suci sebelum sepuluh hari, maka suami tidak boleh mendekati istri. Namun, jika dia melihat tanda suci pada hari kesepuluh, suami boleh menggaulinya sekalipun belum mandi jinabah, ini adalah pendapat Abu Hanifah yang termasyhur. 59 Melihat perbedaan pandangan para ulama, mengesankan bahwa dua pandangan yang berbeda dapat dikompromikan, yaitu Allah melarang suami berhubungan seks dengan istri yang sedang haid sampai berhenti haidnya. 60 Syaikh Nawawi dalam hal ini memberikan penjelasan perbedaan qiraAoat untuk mengeksplorasi perbedaan hukum di kalangan imam mazhab. 57 Al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labid Jilid . Lihat Juga. Kemenag. Asbabun Nuzul, cetakan ke (Lajnah Pentashihan Mushaf Al-QurAoan, 2. 58 al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labid Jilid . 59 Ibid. 60 Muhammad Esa Prasastia Amnesti dan Ahmad Yusam Thobroni. AuPengaruh Perbedaan QiraAoat Shahih dalam Penafsiran Al-QurAoan dan Implikasinya Terhadap Hukum,Ay Jurnal Pendidikan Indonesia . 1572Ae81, https://doi. org/10. 59141/japendi. Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. S Al-Baqarah: 249 a e aa a a e a e a e a a ca a a e a a e a e a a a a a ca a a Aa a aII aN AEO aA a AAEI AAE EO aEIO a CE aI acEE I aEOEI aIN s AIIA ca a a e a e a e ca e a a a aA a eAa U OaN AA a AcI acEA AOA a a AA Aa eO aII aNA AIA AIA e AaI OcIA a ee A aOII EI OIN AaIN aIA e a aa a a a e ca a a a a a a ca a a e a e Aac a e U OA AacEO aI aIIa eO aI aN CE eO E aC IEa acEa eO aIA a AaE C aEOE IINI AEI ON NO OA a a a ca e a ca a a e ca a a a e ca a a a AacEEA aa a a a AE eI OI eI a s C aEOeE sA a aE eO aOI eO aN CEA a AacEOI OIOI INI IECOA e Uae a Ua e aa a a a a a 61 a e AacOIA a AE aA E aO a a aIA a a AacEE OacEE I EAA Maka, ketika Talut keluar membawa bala tentara(-ny. , dia berkata. AuSesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka, siapa yang meminum . , sesungguhnya dia tidak termasuk . -ku. Siapa yang tidak meminumnya, sesungguhnya dia termasuk . -ku kecuali menciduk seciduk dengan tangan. Ay Akan tetapi, mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talu. dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata. AuKami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Ay Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata. AuBetapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Ay Allah bersama orang-orang yang sabar. Ayat di atas menjelaskan tentang ujian yang dihadapi oleh Talut dan pasukannya ketika mereka hendak melawan Jalut. Talut menginformasikan pasukannya, bahwa Allah akan menguji mereka dengan sebuah sungai, di mana hanya mereka yang tidak mengonsumsi airnya yang termasuk dalam golongannya. Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan Ua a perbedaan qiraAoat ayat tersebut pada lafaz A eAA. Ibnu Kasir. Abu AoAmr dan AoArafah membacanya dengan Gin yang di-fathah-kan, yakni Garfatan. Hal yang sama juga juga dilakukan oleh YaAokub dan Khalaf. Sedangkan Asim. Ibnu Amir. Hamzah, dan Al-Kisai membacanya dengan dammah, yakni Gurfah. Dengan perbedaan cara baca, menimbulam perbedaan makna, kemenag. Al-QurAoan Dan Terjemahannya. Ibid. DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Dimana ketika Gurfah dibaca dengan Gin yang di-dammah-kan memiliki arti sedikit air yang dihasilkan dari satu cidukan telapak tangan. Adapun Garfah, memiliki arti seciduk air. Seciduk air cukup untuk mereka, hewan kendaraan, dan muatan mereka. 63 Konsekuensi dari perbedaan qiraAoat tersebut menimbulkan makna yang berbeda dalam sebuah alat . , oleh karena itu Syaik Nawawi secara tidak langsung ingin menyampaikan perbedaan makna dengan ilustrasi sebuah alat. S Al-Baqarah: 259 a a a a ca a e a a ca a e ca a e a a AOE a a eO aN Ca aE a cI Oa e NNA AacEE a e aA AOOA a AO EA aa a AacEO I OE CO s O aaN A a AacEE Ia a aaIs a acI a aaN Ca aEA a eA Ca aE aEA a eAE eI aEA a AaI eO aN a aIa aNA A Oa eO UI eOA e a a a a a a a a a e a e a a a a a e ca e a a a aE E eI Oa aIacNA Aa e a Oa eOIs CE E Ea aI aIs AI aOE aIE OA a a ea aea a e a e ae a ca Ae a a a U OA a aOIe a e OE a Aa aN acIA a AE aO aIEaEE Oa EEIA a A OI aOE E aIa EOA IIA a a ca a a ca a a Aa a a e a a a ac a a a OA e a 64 e a e a AaEA Aa s C aOA AIO E CE EI I acEE OEA AIE a eO aN E e UI AEI A Atau, seperti orang yang melewati suatu negeri yang . angunan-bangunanny. telah roboh menutupi . atap-atapnya. Dia berkata. AuBagaimana Allah menghidupkan kembali . ini setelah kehancurannya?Ay Lalu. Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya . Dia (Alla. AuBerapa lama engkau tinggal . i sin. ?Ay Dia menjawab. AuAku tinggal . i sin. sehari atau setengah hari. Ay Allah berfirman. AuSebenarnya engkau telah tinggal selama seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, . lihatlah keledaimu . ang telah menjadi tulang-belulan. dan Kami akan menjadikanmu sebagai tanda . ekuasaan Kam. bagi manusia. Lihatlah tulangbelulang . eledai it. , bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging . ehingga hidup kembal. Ay Maka, ketika telah nyata baginya, dia pun berkata. AuAku mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala Ay65 63 Al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labid Jilid . 64 Kemenag. Al-QurAoan Dan Terjemahannya. 65 Ibid. Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Ayat diatas menjelaskan tentang tentang kekuasaan Allah dalam menghidupkan kembali makhluk setelah mati. Dalam ayat tersebut, terdapat cerita, seseorang melewati negeri yang telah hancur dan meragukan kemampuan Allah untuk menghidupkannya kembali. Setelah Allah mematikannya selama seratus tahun dan kemudian membangkitkannya, orang itu menyadari bahwa waktu yang dia rasakan hanya sehari atau setengah hari. Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya dengan mempertahankan makanan dan minumannya yang tidak berubah, sementara keledainya telah menjadi tulang-belulang. Melalui proses ini, orang tersebut akhirnya memahami dan mengakui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan perbedaan qiraAoat ayat ea aea a a AEOA IIA. Imam NafiAo. Ibnu Kasir, dan Abu Amr tersebut pada lafaz AaNA membacanya dengan memakai Ra, yakni Nansyuruha artinya bagaimana Kami menghidupkan dan menciptakannya kembali. Sedangkan Imam Hamzah dan Al-Kisai membacanya dengan Za, yakni Nunsyizuha artinya bagaimana Kami Menyusun tulang-belulang itu kembali. 67 Lafaz AIIaA memiliki makna menyusun atau membangun kembali, sedangkan lafaz AIA memiliki makna yang hampir kontradiktif, sebab lafaz nasyara juga memiliki makna AomenyebarkanAo. AomenggantungkanAo. AomengeluarkanAo. tetapi ia juga memiliki makna Aomenghidupkan kembaliAo. 68 Syaikh Nawawi dalam hal ini memberikan eksplorasi varian bacaan untuk memperkenalkan sinonim dari sebuah lafaz, meskipun lafaz tersebut riskan untuk disalahpahami. Varian qiraAoat yang disampaikan Nawawi tidak substansial secara makna, hanya sekadar redaksional. 66 Al-Jawi. TAFSIR Al-Munir (Marah Labid Jilid . 67 Al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labid Jilid . 68 Ibnu Manzur. Lisanul Arab . DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. S Al-Baqarah: 271 a a a a a a a a e a e a e a a a e a e a e a a ca a a ca a caA eO EA aea e AE eIA A A aI aI aaN O aI acAON OON EAC ANOA a AaI O EACA a AE eI OI eI aOOA a eAE OA a aIA a aA aOOA 69 e a a e a a e a a a a AE eI OacEE aI IEOI aOA Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik. (Akan tetapi,) jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Ayat di atas menjelaskan tentang perilaku orang yang bersedekah, meskipun menampakkan sedekah itu baik, menyembunyikannya justru lebih baik. Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan perbedaan qiraAoat ayat Aa aOA tersebut pada lafaz AOEAA. Ibnu Kasir. Abu AoAmr, dan AoAsim dalam riwayat Abu Bakar membacanya dengan Nukaffiru dengan memakai Nun dan RaAo yang di-rafaAo-kan. Sedangkan NafiAo. Hamzah, dan Al-Kisai membacanya dengan memakai Nun dan Jazm AuNukaffirAy, sehingga memiliki arti Kami menghapuskan sebagian dosa-dosamu sesuai dengan kadar sedekahmu. Ibnu AoAmir dan Hafs dari AoAsim membacanya Yukaffiru dengan memakai Ya dan Ra yang di-rafaAo-kan, yang berarti Allah akan menghapuskan atau sedekah yang dilakukan secara diam-diam akan Selain itu, dalam qiraAoat syazzah ada yang membaca Tukaffir dengan memakai Ta dan Jazm, sedangkan faAoilnya merujuk kepada Adapun Al-Hasan membacanya dengan memakai Ta dan nasab dengan meng-idmar-kan An. Konsekuensi dari perbedaan pengucapan lafaz tersebut menimbulkan perbedaan makna. Pembacaan dengan lafaz nukaffir, makna tersebut akan berbunyi, bahwa Allah akan menghapus dosa-dosa kamu sesuai dengan kadar sedekah yang dilakukan. Sedangkan ketika dibaca Yukaffiru, akan bermakna Allah akan menghapuskan 69 Kemenag. Al-QurAoan Dan Terjemahannya. 70 Ibid. 71 Al-Jawi. Tafsir Al-Munir (Marah Labid Jilid . Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. dosamu, atau dengan sedekah yang dilakukan secara sembunyi. 72 Dari perbedaan qiraAoat di atas tidak menimbulkan pengaruh substansial pada penafsiran, hanya memunculkan perbedaan samir dan khiab yang Tabel Kesimpulan Pembahasan Bacaan QiraAoat Arti/Makna A OaE aa eOIAImam NafiAo. Ibnu disebabkan mereka mendustakan Katsir. Abu Amr, dan Nabi Saw. Ibnu Amir membaca dengan tasydid yakni Yukazzibun UlamaAo lain karena mereka berdusta dalam membacanya dengan ucapan mereka yang mengatakan, zal AuKami beriman dalam hati kamiAy. tanpa tasydid yakni Yukazibun 72 Ibid. A e aAEA Jumhur ulamaAo membacanya dengan Ta dan Lam yang dirafaAo-kan Bahwa Nabi Muhammad bukanlah orang yang dimintai pertanggung jawaban atas mereka, mengapa tidak diturunkan kepada Nabi. Imam NafiAo membacanya dengan bacaam jazm dan TaAo di-fathah-kan sebagai . larangan larangan kepada Nabi Muhammad untuk menanyakan tentang sesuatu yang akan menimpa mereka kelak di hari kiamat a ca a Aac eOA a AOA DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Ibnu Katsir. Abu AomenjadikanAo AoAmr. Hamzah dan AoAsim serta Al-Kisai membacanya dengan Kha yang di-kasrahkan dalam bentuk Amar yakni Watta Imam NafiAo dan Ibnu AumengambilAy AoAmir menggunakan dalam bentuk Madi AuWat takhazuAy, dengan Kha yang difathah-kan a a a AO e aIE eOIA Ibnu AoAmir. Hamzah Al-Kisai membacanya dengan memakai Ta ketika dibaca dengan menggunakan Ta maka khitab yang dituju adakalanya kepada kaum muslim, adakalanya kepada ahli kitab ulamaAo lainya ketika dibaca dengan menggunakan membacanya dengan ya, merujuknya kepada HaAoulaAoi sesuai dengan ayat A& Oa aOA AOa a eOIA Jumhur Yara dengan memakai Ya dengan Hamzah yang di-fathah-kan Anna Seandainya orang-orang Allah mengetahui kerasnya azab Allah dan kekuatan-Nya, niscaya mereka tidak akan menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah selain qiraat sabAoah. Seandainya orang-orang yang zalim dengan karena Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Hamzah yang kasrah-kan di- sembahan mereka untuk menolong mereka, niscaya mereka akan mengatakan. AuSesungguhnya seluruh kekuatan itu milik Allah. Ay Imam NafiAo dan Ibnu AoAmir membacanya dengan memakai Ta Tara Hamzah yang difathah-kan a Aa eA A aA seandainya engkau melihat ketika orang-orang menyaksikan azab Allah yang menimpa mereka, tentulah engkau melihat bahwa seluruh kekuatan itu milik Allah Ibnu Ksir. Abu AoAmr. AuDan Asim dikembalikan segala urusanAy sebagaimana redaksi. TurjaAou dalam bentuk mabni majhul Allah Ibnu AoAmir. Hamzah. Taru yakni kembali. Sebagaimana Al-Kisai makna yang terdapat pada Q. S Asymembacanya dalam Syura: 53 bentuk mabni fail, yakni TarjiAou yang bermakna Tasiru AO e aN eIA Ibnu Katsir. Abu hingga darah haidnya terhenti Amr. Ibnu AoAmir, dan Hafs, serta YaAokub AlHadrami membaca Yathurna dengan TaAo yang di-sukun-kan dan HaAo yang di-dammahkan DAMPAK QIRA'AT TERHADAP PENAFSIRAN Feni Tamimul Ummah. Tri Tami Gunarti. Mubarok Ahmadi Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. SyuAobah. Hamzah dan sampai mereka Al-KisaAoi terlebih dahulu membacanya dengan TaAo dan HaAo yang ditasydid-kan. Yattaharna Ua a A eAA Ibnu Kasir. Abu AoAmr air seciduk AoArafah membacanya dengan Gin yang di-fathahkan, yakni Garfatan Asim. Ibnu Amir, sedikit air yang dihasilkan dari satu Hamzah, dan Al-Kisai cidukan telapak tangan. membacanya dengan dammah, yakni Gurfah a a eAIaIA Aa aNA Imam NafiAo. Ibnu bagaimana Kami menghidupkan Kasir, dan Abu Amr dan menciptakannya kembali membacanya dengan memakai Ra, yakni Nansyuruha Imam Hamzah dan bagaimana Kami Menyusun tulangAl-Kisai membacanya belulang itu kembali dengan Za, yakni Nunsyizuha A a a a OAImam NafiAo. Hamzah. Kami AEAA AOOA menghapuskan sebagian Al-Kisai dosa-dosamu sesuai dengan kadar membacanya dengan sedekahmu memakai Nun dan Jazm AuNukaffir Al Itqan : Jurnal Studi Al-QurAoan Vol. 10 No. : 45-84 Doi: https://doi. org/10. 47454/itqan. Ibnu AoAmir dan Hafs Allah akan menghapuskan atau AoAsim sedekah yang dilakukan secara diam-diam akan menghapuskan Yukaffiru memakai Ya dan Ra yang di-rafaAo-kan Simpulan Keterpengaruhan qira,at dalam sebuah penafsiran cukup memberikan gambaran dari sebuah isu penelitian. QiraAoat yang disampaikan Syaikh Nawawi dalam penafsiran Surah Al-Baqarah memiliki dampak terhadap produksi makna dan penafsiran yang disampaikan. Setidaknya terdapat 10 Farsh al-Hurf dalam QS. Al-Baqarah yang memiliki dampak terhadap penafsiran. 10 Farsh al-Hurf yang disampaikan memiliki beberapa dampak, antara lain: dampak substansial yang menjelaskan perbedaan mazhab hukum fikih, dampak kepada redaksional yang berimplikasi pada perbedaan makna khitab dan mukhattab, dan dampak kepada perbedaan makna yang tidak substansial karena mengeksplorasi sinonim dari sebuah lafaz. Penjelasan qiraAoat Syaikh Nawawi meskipun tidak semuanya berdampak pada substansial produksi makna, namun cukup berdampak dalam hal redaksional. Penjelasan qiraAoat Syaikh Nawawi ini dapat dibuktikan kembali dengan sampling data yang berbeda, yakni dengan surah atau tema lain. Daftar Pustaka