Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya MULTIKULTURALISME DALAM SEJARAH ISLAM Jahrona Harahap1 ,Meyniar Albina2 Pendidikan Agama Islam,Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Email: jahronahrp3@gmail. com1,meyniaralbina@uinsu. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana multikulturalisme dalam sejarah islam baik itu pada masa Nabi ,Muhammad Saw,Masa Bani Abbasiyah ,dan Umayyah. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian library research, ataupun penelitian kepustakaan. Library research atau kepustakaan yaitu penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai literatur. Literatur yang diteliti tidak terbatas pada buku-buku tetapi dapat juga berupa bahan-bahan dokumentasi, majalah, jurnal, dan surat kabar. Penekanan penelitian kepustakaan adalah ingin menemukan berbagai teori, hukum, dalil, prinsip, pendapat, gagasan dan lain-lain yang dapat dipakai untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang diteliti Adapun hasil penelitian ini yaitu . Multikulturalisme mulai berkembang melewati batasan keragaman pada masyarakat Arab asli, keragaman kultur ini terjadi karena adanya hubungan antara budaya luar Islam dan luar budaya Arab. Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah kebudayaan Islam bertemu dengan kebudayaan Arab. Persia. Romawi, juga kebudayaan India. Kata Kunci: Multikulturalisme,Sejarah,Islam Abstract This research aims to find out how multiculturalism was in Islamic history, both during the time of the Prophet. Muhammad Saw, the Abbasid period, and the Umayyah. The research method used is library research or library Library research is research in which data collection is carried out by collecting data from various The literature studied is not limited to books but can also include documentation materials, magazines, journals and newspapers. The emphasis of library research is to find various theories, laws, postulates, principles, opinions, ideas and so on that can be used to analyze and solve the problems studied. The results of this research are: Multiculturalism began to develop beyond the limits of diversity in native Arab This cultural diversity occurred because of the relationship between cultures outside Islam and outside Arab culture. During the reign of the Abbasid dynasty. Islamic culture met Arab. Persian. Roman and Indian Keywords: Multiculturalism. History. Islam PENDAHULUAN Sejarah Islam terbentang dalam kurun waktu yang sangat panjang, sekitar 15 abad semenjak kelahiran agama Islam pada abad ke-6 M sampai perkembangannya sekarang pada awal abad ke-21 M, dan wilayah penyebaran serta cakupan peristiwa sejarahnya yang luas, telah menumbuhkan pola-pola keislaman dan multikulturalisme yang sangat unik. Pola umum multikulturalisme yang dimaksud di sini secara garis besar dapat dipetakan ke dalam periodesasi sejarah Islam zaman klasik . , zaman pertengahan . , dan zaman modern . 0-sekaran. Pada masing-masing periodeperiode tersebut juga menunjukkan karakteristik Islam dalam keragamannya yang berkembang secara internal akibat bentukan umat Islam sendiri, maupun keragaman sosial-budaya mereka akibat pengaruh eksternal umat Islam. Perkembangan Islam dan multikulturalisme sebetulnya telah berlangsung semenjak masa Nabi Muhammad saw. , karena selain Islam pada masanya berhadapan dengan keragaman budaya masyarakat Arab, juga banyak cara yang dilakukan Nabi menyebarkan ajaran tauhid itu secara akomodatif dengan sistem budaya masyarakat tersebut. Demikian seterusnya proses multikularisme tumbuh dan berkembang hingga zaman keemasan Islam. Kajian masalah ini dilakukan terhadap gejala-gejala sejarah Islam pada periode klasik, yang diharapkan menjadi fenomena awal serta perspektif sejarah yang lebih fundamental untuk memahami Islam dan multikulturalisme. (Abdurahman, 2. Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya Nabi Muhammad Saw. adalah tokoh yang patut dijadikan teladan dalam hal membumikan Ketika Nabi saw. , hijrah ke Madinah, beliau mulai memimpin berbagai komunitas yang berbeda latar belakang agama, suku, politik yang disatukan dalam satu bingkai dimana imam sebagai payung hukum utama di atas tata sosial berdasarkan suku dan kabilah tertentu. Muhammad adalah orang yang berhasil menjadi pemimpin seluruh komponen masyarakat, dan bukan hanya kaum Islam saja. (Noor & Ag, n. Dalam permasalahan yang akan di bahas dalam penelitian ini yaitu bagaimana multikulturalisme dalam sejarah islam baik itu pada masa Nabi ,Muhammad Saw,Masa Bani Abbasiyah ,dan Umayyah. Penelitian tentang hal ini sudah banyak dilakukan, namun tentunya penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian lainnya. Untuk mengetahui perbedaan tersebut, berikut dieksplorasi ragam penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini di antaranya penelitian tentang Multikulturalisme dalam masa priode klasik(Abdurahman, 2. , masyarakat multikultur indonesia pada masa awal perkembangan islam: sebuah telaah literature (Syaputra & Selvianti, 2. METODE Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian library research, ataupun penelitian Library research atau kepustakaan yaitu penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai literatur. Literatur yang diteliti tidak terbatas pada buku-buku tetapi dapat juga berupa bahan-bahan dokumentasi, majalah, jurnal, dan surat kabar. Penekanan penelitian kepustakaan adalah ingin menemukan berbagai teori, hukum, dalil, prinsip, pendapat, gagasan dan lain-lain yang dapat dipakai untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang diteliti. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan yang digunakan studi deskriptif. Menurut Suharsimi dalam Aiman Faiz, pendekatan deskriptif adalah penelitian yang dilakukan demi mendapatkan informasi terkait dengan status atau gejala yang ada. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Multikulturalisme pada Masa Nabi Muhammad Saw Dakwah Nabi Muhammad saw. pada awal kerasulannya memperoleh sambutan luas dari masyarakat lapisan bawah, terutama para budak. Hal ini mudah dipahami mengingat kondisi sosial mereka memamg sangat membutuhkan pembebasan. Sebaliknya, sambutan dari masyarakat lapisan atas sangat sedikit, khususnya hanya datang dari istri Nabi, keluarga dan kerabat dekat saja. Tatkala Nabi Muhammad saw. berdakwah secara terbuka, yakni tiga tahun setelah kerasulannya, tidak banyak pemuka Quraisy yang bersedia menyambutnya. Bahkan, pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah Rasulullah. Semakin bertambahnya jumlah pengikut Nabi semakin keras tantangan dilancarkan kaum Quraisy. Nabi Muhammad saw. adalah tokoh yang patut dijadikan teladan dalam hal membumikan Ketika Nabi saw. hijrah ke Madinah, beliau mulai memimpin berbagai komunitas yang berbeda latar belakang agama, suku, politik yang disatukan dalam satu bingkai kepemimpinan agama sebagai payung hukum utama di atas tata sosial berdasarkan qabilah tertentu. Muhammad saw. adalah orang yang berhasil menjadi pemimpin seluruh komponen masyarakat. Di Madinah, berbagai budaya, agama dan aliran politik bisa disatukan sehingga kehidupan Madinah pada waktu itu dapat berlangsung damai. Muhammad saw. memimpin komunitas besar Yahudi yang banyak menguasai aspek ekonomi, politik dan kultur Madinah. Nabi Muhammad saw. mampu menciptakan kedamaian di kalangan masyarakat multikultural dikarenakan beliau berhasil meletakkan dasar hubungan persahabatan yang baik dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam. Agar stabilitas masyarakat dapat diwujudkan. Nabi Muhammad mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Ikatan perjanjian itu dituangkan dalam sebuah piagam yang menjamin kebebasan beragama orang-orang Yahudi sebagai suatu komunitas. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan. Kemerdekaan agama dijamin. Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya dan seluruh anggota masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan negeri dari serangan luar. Dalam perjanjian itu jelas disebutkan bahwa Nabi Muhammad menjadi kepala pemerintahan karena sejauh menyangkut peraturan dan tata tertib umum, otoritas mutlak diberikan kepada beliau. Dalam bidang sosial, beliau juga meletakkan dasar persamaan antar sesama. (Dudung Abdurrahman, 2. Dengan demikian, dakwah Nabi Muhammad tidak hanya mengubah lanskap spiritual masyarakat Arab pada masa itu, tetapi juga memberikan teladan dalam membangun hubungan antarbudaya yang harmonis dan saling menghormati. Keberhasilan beliau dalam memimpin masyarakat multikultural di Madinah menjadi warisan penting dalam sejarah Islam dan pelajaran berharga bagi interaksi sosial di era modern. 2 Multikulturalisme pada Masa Umayyah Sebagai dinasti pertama dalam Islam. Daulah Umayyah memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan pondasi-pondasi kekuasaan Islam, khususnya dalam konteks pembangunan kebudayaan Islam. Telah umum diketahui bahwa Daulah Umayyah, khususnya yang berpusat di Damaskus terkenal dengan kebijakan Arabisasi. Namun, sebagaimana dijelaskan Gerald Hawting, arus AuArabisasiAy tidak lebih dari sekedar konstruksi dan ekspansi kebudayaan yang ditandai dengan penggunaan bahasa Arab di seluruh wilayah kekuasaan Islam Daulah Umayyah saat itu. Dalam catatan sejarah, konflik antar agama dalam kehidupan sosial di Damaskus relatif tidak Konflik sosial yang ada hanya terjadi di antara beberapa suku. Dua suku yang seringkali terlibat dalam konflik adalah suku Himyariyah dan Mudariyah. Kerukunan antar umat beragama ini didorong oleh kebijakan pemerintah Daulah Umayyah yang memiliki perhatian berimbang dan adil terhadap penganut agama lainnya. Para khalifah Daulah Umayyah memberikan perlindungan secara proporsional terhadap tempat-tempat suci agama-agama di Damaskus, seperti gereja, katedral, sinagoge, dan tempat suci lainnya. Pihak penguasa Daulah Umayyah bahkan pernah mengambil kebijakan perbaikan bangunan gereja Kristen di wilayah Edessa yang rusak karena bencana gempa Biaya rehabilitasi bangunan itu diambil dari dana yang dihimpun dari umat Islam. (Masa & Abbasiyah, 2. Fakta multikulturalisme pada masa ini juga dapat dilihat dari struktur sosial. Masyarakat di Damaskus terdiri dari empat komponen utama, yaitu bangsa MuslimArab, bangsa-bangsa Muslim nonArab, bangsa-bangsa non-Arab, dan budak. Bangsa Muslim-Arab menempati kelas tertinggi dalam stratifikasi sosial di Damaskus, mereka adalah para elit penguasa Daulah Umayyah, baik dari keluarga kerajaan maupun kelompok aristokrat Arab. Pengeluaran negara untuk membiayai golongan teratas ini cukup tinggi. Ketika Khalifah al Walid I berkuasa, anggaran pemerintah untuk subsidi golongan atas yang berada di Damaskus mencapai 45. Sedangkan ketika Marwan I menjadi khalifah, kota Hims beserta distriknya menganggarkan dana sebesar 20. 000 untuk biaya pensiun pada pejabat kekhalifahan. Meskipun menempati strata tertinggi dalam pelapisan sosial di kota Damaskus, bukan berarti golongan Muslim-Arab adalah golongan mayoritas. Philip K. Hitti mencatat bahwa meskipun Damaskus sebagai ibukota kekhalifahan Daulah Umayyah Timur telah bertransformasi menjadi sebuah kota dengan ciri khas Islam, secara umum penduduk Damaskus, bahkan hingga ke kota-kota kecil, pedesaan, dan daerah pegunungan, adalah penganut agama Kristen. (Abdurahman, 2. Daulah Umayyah, sebagai dinasti pertama dalam sejarah Islam, memainkan peran krusial dalam membangun fondasi kekuasaan dan kebudayaan Islam. Kebijakan Arabisasi yang diterapkan di bawah kepemimpinan mereka, terutama di Damaskus, tidak hanya bertujuan untuk memperkuat identitas Arab tetapi juga sebagai upaya untuk menyatukan berbagai kelompok etnis dan agama di wilayah kekuasaan Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya 3 Multikulturalisme pada Masa Dinasti Abbasiyah Pendiri Dinasti Abbasiyah adalah keterunan dari Abbas yang merupakan paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abdullah al-Suffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah alAbbas. Dinasti Abbasiyah terbagi menjadi 4 periode sejarah. Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah kebijakan dan pola kepemimpinan para khalifahnya mengalami perbedaan hal ini karena disesuaikan dengan kondisi sosial, politik dan budaya pada masa tersebut. Dinasti Abbasiyah berhasil menciptakan peradaban dan menorehkan prestati gemilang pada periode I . H/750 M-232 H/847 M). Keberhasilan tersebut dapat diraih karena para khalifah Dinasti Abbasiyah periode I terkenal dengan pribadi yang kuat, khalifah menjadi pusat kekuasaan politik juga Mayarakat hidup dengan makmur sat apusat pemerintahannya di kota Baghdad. Dinasti Abbasiyah mencapai puncak kejayaan pada masa khalifah Harun Al-Rasyid . M-809 M) kemudian dilanjutkan khalifah AlMaAomun . M-833 M) yang merupakan anak dari Harun Al-Rasyid. Khalifah Harun Al-Rasyid dan Al-MaAomun menggunakan harta yang dimiliki untuk kepentingan sosial seperti: lembaga pendidikan, kesehatan, rumah sakit, pusat kajian ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesastraan berada pada masa keemasan ini. Khalifah Al-MaAomun merupakan khalifah yang sangat mencintai ilmu, hal ini dibuktikan dengan kegemarannya mendirikan banyak sekolah. Bukti sejarah terpenting yang Al-MaAomun wariskan adalah pembangunan Bait al-Hikmah, yang merupakan pusat penerjemahan juga berfungsi sebagai pendidikan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Baghdad sebagai pusat pemerintahan pada masa ini menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan (Hasanah & Heni Verawati, 2. Berdasarkan fakta sejarah tersebut maka sebenarnya pada masa Dinasti Abbasiyah . Multikulturalisme mulai berkembang melewati batasan keragaman pada masyarakat Arab asli, keragaman kultur ini terjadi karena adanya hubungan antara budaya luar Islam dan luar budaya Arab. Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah kebudayaan Islam bertemu dengan kebudayaan Arab. Persia. Romawi, juga kebudayaan India. Para khalifah memiliki tujuan untuk memperkenalkan budaya luar Arab ke dalam masyarakat muslim melalui kegiatan penterjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berasal dari peradaban-peradaban besar itu. Kecenderungan multikulturalisme juga bertolak dari keterbukaan para khalifah untuk menerima pengaruh kebudayaan luar Arab, disamping itu keterlibatan masyarakat luar Arab sendiri bagi proses pembentukan serta pengembangan kebudayaan Islam. Penerapan konsep pendidikan multikultural selain di Bayt alHikmah lebih bersifat internal dan khusus yang lebih menekankan pada aspek keragaman dan kesederajatan peserta didik dalam proses Berikut implementasi nilai multikultural pada institusi selain Bayt al-Hikmah yaitu: Kebebasan dan kesetaraan. Kebebasan ini meliputi pemilihan materi ajar, pendidik serta kelompok belajar sesuai yang diinginkan oleh peserta didik. Keadilan bagi kelompok minoritas, meliputi keadilan bagi peserta didik yang kurang mampu atau Pemerintah mengupayakan untuk memberikan bantuan berupa pendidikan gratis, perlengkapan alat tulis, sampai tunjangan hidup yang diberikan setiap bulan, dana bantuan ini bersumber dari lembaga wakaf. Keadilan bagi peserta didik. Pendidik bersikap adil dan tidak membeda-bedakan atau mengistimewakan peserta didik tertentu. Semua peserta didik diperlakukan sama meskipun berasal dari latarbelakang yang berbeda-beda (Saihu, 2. Jurnal Aplikasi Pendidikan dan Sosial Budaya : Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan. Ilmu Ekonomi, dan Ilmu Sosial |E-ISSN 3063-2021 | Volume 2 Nomor 1 . DOI:https://doi. org/10. 58466/adidaya 3 KESIMPULAN Sejarah Islam terbentang dalam kurun waktu yang sangat panjang, sekitar 15 abad semenjak kelahiran agama Islam pada abad ke-6 M sampai perkembangannya sekarang pada awal abad ke-21 M, dan wilayah penyebaran serta cakupan peristiwa sejarahnya yang luas, telah menumbuhkan pola-pola keislaman dan multikulturalisme yang sangat unik. dakwah Nabi Muhammad tidak hanya mengubah lanskap spiritual masyarakat Arab pada masa itu, tetapi juga memberikan teladan dalam membangun hubungan antarbudaya yang harmonis dan saling menghormati. Keberhasilan beliau dalam memimpin masyarakat multikultural di Madinah menjadi warisan penting dalam sejarah Islam dan pelajaran berharga bagi interaksi sosial di era modern. Multikulturalisme mulai berkembang melewati batasan keragaman pada masyarakat Arab asli, keragaman kultur ini terjadi karena adanya hubungan antara budaya luar Islam dan luar budaya Arab. Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah kebudayaan Islam bertemu dengan kebudayaan Arab. Persia. Romawi, juga kebudayaan India. DAFTAR PUSTAKA