e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. PENGUATAN LITERASI KRITIS DAN KESADARAN GENDER SISWA SMA MELALUI UNIT VOICE AND VISIBILITY SEBAGAI DUKUNGAN SDG 5 Iskandar Zulkarnain1. Meida Rabia Sihite2. Linda Astuti Rangkuti3. Widia Fransiska4. Putra Thoip Nasution5. Firda Fadhilah Muzanni Lubis6 1,2,3,4,5,6 Pendidikan Bahasa Inggris. Universitas Alwashliyah Medan iskandarzulkarnain1277@gmail. com1, meidarabia55@gmail. com2, lindaray003@gmail. widiafransiska@univamedan. id4, thoipputra123@gmail. com5, fadhilahfirda32@gmail. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA Swasta Muhammadiyah 1 Medan pada tanggal 16 September 2025 dengan tujuan memperkuat literasi kritis dan kesadaran gender siswa melalui unit pembelajaran Voice and Visibility. Unit ini dirancang sebagai respon atas minimnya integrasi isu kesetaraan gender (SDG . dalam buku ajar Bahasa Inggris Kurikulum Merdeka. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan berbasis genre (GBA), problem-based learning (PBL), dan project-based learning (PjBL) dengan durasi 90 menit, melibatkan 30 siswa kelas XII. Aktivitas meliputi analisis teks diskusi, penulisan teks argumentatif, serta proyek kreatif berupa kampanye digital tentang kesetaraan gender. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa mampu memahami isu gender secara kritis, menyampaikan pesan aksi nyata melalui poster dan kampanye digital, serta menunjukkan keterlibatan kolaboratif dalam proyek. Respon siswa positif, dengan ketertarikan pada isu gender sebagai hal baru yang belum pernah mereka pelajari sebelumnya, meskipun mereka menyarankan adanya aktivitas warm-up untuk meningkatkan suasana belajar. Kegiatan ini menegaskan pentingnya integrasi nilai keberlanjutan dan kesetaraan gender dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai dukungan terhadap pencapaian SDG 5. Kata Kunci : literasi kritis, kesadaran gender. SDG 5 (Gender Equalit. , pembelajaran berbasis proyek, teks ABSTRACT This community service activity was conducted at SMA Swasta Muhammadiyah 1 Medan on September 16, 2025, aiming to strengthen studentsAo critical literacy and gender awareness through the Voice and Visibility learning unit. The unit was designed as a response to the limited integration of gender equality issues (SDG . in English textbooks under the Kurikulum Merdeka. The implementation employed a genre-based approach (GBA), problem-based learning (PBL), and project-based learning (PjBL) within a 90-minute session involving 30 twelfth-grade students. Activities included analyzing discussion texts, writing argumentative texts, and creating creative projects such as digital campaigns on gender equality. The results indicated that students were able to critically understand gender issues, deliver concrete action messages through posters and digital campaigns, and demonstrate collaborative engagement in project work. Students expressed positive responses, showing interest in gender equality as a new topic they had never studied before, while suggesting the inclusion of warm-up activities to make learning more enjoyable. This program highlights the importance of integrating sustainability values and gender equality into English language learning as a contribution to achieving SDG Keywords: Critical literacy. Gender awareness. SDG 5 (Gender Equalit. Project-based learning. Discussion e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. PENDAHULUAN Pendidikan memegang peran strategis dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. , yakni agenda global yang ditetapkan oleh Perserikatan BangsaBangsa untuk mendorong transformasi sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan hingga tahun 2030(Kopnina, 2018. Pountney, 2. Dari 17 tujuan yang dirumuskan . ihat Gambar . Tujuan ke-4: Pendidikan Berkualitas menjadi fondasi utama yang menopang keberhasilan pencapaian seluruh tujuan Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan memiliki mandat yang lebih luas dari sekadar penyampaian pengetahuan kognitif. ia juga berfungsi sebagai instrumen pembentukan karakter, pengembangan sikap kritis, serta penanaman kepedulian terhadap isu-isu global seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan keberlanjutan lingkungan (Maoela et al. , 2. Gambar 1. Sustainable Development Goals Pembangunan berkelanjutan merupakan agenda global yang dirumuskan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. hingga tahun 2030. SDGs menekankan transformasi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang saling terintegrasi untuk menciptakan masyarakat yang adil, damai, dan berkelanjutan (United Nations, 2. Salah satu tujuan yang krusial adalah SDG 5 tentang kesetaraan gender, yang menekankan pentingnya menghapus diskriminasi terhadap perempuan dan laki-laki serta memastikan partisipasi penuh dan setara dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Kesetaraan gender bukan hanya isu moral, tetapi juga prasyarat bagi pembangunan berkelanjutan. Penelitian menunjukkan bahwa negara dengan tingkat kesetaraan gender yang tinggi cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi lebih stabil, tingkat kesehatan masyarakat lebih baik, serta kualitas demokrasi yang lebih kuat (Kabeer, 2. Oleh karena itu, pendidikan menjadi arena strategis untuk menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender sejak dini. Dalam konteks inilah, pembelajaran Bahasa Inggris memiliki potensi strategis sebagai wahana penguatan kesadaran global dan nilai-nilai SDGs. Bahasa Inggris tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium untuk mengenalkan perspektif lintas budaya dan isu-isu kemanusiaan yang bersifat global (Cordova. Dengan demikian, integrasi SDGs dalam pembelajaran Bahasa Inggris dapat menjadi jembatan untuk menanamkan nilai tanggung jawab sosial, kesadaran lingkungan, dan partisipasi aktif dalam pembangunan Namun, kenyataannya di Indonesia, pembelajaran Bahasa Inggris masih berfokus pada aspek linguistik dan pencapaian akademik semata, tanpa secara eksplisit mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan atau pendidikan karakter ke dalam kurikulum dan metode pengajaran (Hendawy et al. , 2024. Okubo et al. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya gejala krisis karakter di kalangan siswa, termasuk rendahnya empati, kejujuran, dan kesantunan, serta lemahnya kesadaran digital (Fransiska, 2023. Fransiska et e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. , n. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi dan terhubung, ketidaksiapan siswa dalam hal etika digital dan kesadaran sosial dapat berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, keterampilan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas menjadi bekal utama bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan global (Trilling & Fadel. Literasi kritis, sebagai bagian dari keterampilan tersebut, menekankan kemampuan siswa untuk tidak hanya memahami teks, tetapi juga menganalisis ideologi, bias, dan representasi yang terkandung di dalamnya (Luke, 2. Hal ini sangat relevan di era digital, ketika siswa dihadapkan pada arus informasi yang masif, termasuk isu-isu sosial seperti kesetaraan gender, diskriminasi, dan stereotip budaya. Bahasa Inggris, sebagai mata pelajaran lintas budaya, memiliki potensi besar untuk menjadi medium pendidikan nilai. Melalui teks, diskusi, dan proyek kreatif, siswa dapat diajak untuk menghubungkan pembelajaran bahasa dengan isu-isu sosial yang relevan. Namun, kenyataan di Indonesia menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris masih dominan berorientasi pada hasil akademik semata, seperti ujian dan nilai, tanpa banyak mengintegrasikan nilai keberlanjutan maupun pendidikan karakter (Saritepeci & Yildiz Durak, 2. Lebih lanjut, kebutuhan akan keterampilan abad ke-21, berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi, menjadi semakin mendesak. Keterampilan ini diakui sebagai kemampuan utama dalam menghadapi disrupsi teknologi, perubahan (Martinez, 2022. Schroeder & Curcio, 2022. Sihite et al. , n. Yidana & Aboagye, 2. sosial, dan tantangan dunia kerja global. Sayangnya, pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah sering kali belum memberikan ruang yang cukup untuk pengembangan keterampilan ini secara Dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang model konseotual pembelajaran Bahasa Inggris berbasis SDGs dan keterampilan abad ke-21 yang dapat diterapkan secara kontekstual di sekolah-sekolah Indonesia. Model ini tidak hanya mengembangkan kompetensi bahasa, tetapi juga membentuk karakter siswa agar menjadi individu yang reflektif, bertanggung jawab, dan sadar terhadap permasalahan lokal maupun global (Arthur, 2024. Deo et al. , 2024. Gymez-Martyn et al. , 2021. Kristjynsson et al. , 2. Kurikulum Merdeka yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi berupaya memberikan fleksibilitas bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan berorientasi pada profil pelajar Pancasila. Namun, analisis terhadap buku ajar Bahasa Inggris Kurikulum Merdeka menunjukkan bahwa meskipun sekitar 70% dari 17 butir SDGs telah tercakup, isu kesetaraan gender (SDG . masih belum terakomodasi secara eksplisit. Misalnya, buku Work in Progress . elas X). English for Change . elas XI), dan Life Today . elas XII) memang memuat tema-tema seperti kesehatan (SDG . , pendidikan (SDG . , pekerjaan layak (SDG . , dan aksi iklim (SDG . Namun, topik gender equality tidak muncul secara langsung, baik dalam teks maupun aktivitas pembelajaran. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan yang perlu diisi melalui inovasi pembelajaran tambahan. Selain kesenjangan kurikulum. Indonesia juga menghadapi tantangan berupa krisis karakter di kalangan Penelitian menunjukkan adanya penurunan empati, meningkatnya perilaku intoleran, serta rendahnya kesadaran sosial di kalangan siswa (Palmquist et al. , 2. Dalam konteks gender, stereotip tradisional masih kuat, misalnya anggapan bahwa perempuan lebih cocok mengurus rumah tangga sementara laki-laki bekerja di luar rumah. Stereotip ini tidak hanya membatasi potensi individu, tetapi juga memperkuat ketidaksetaraan struktural (Aljuaid, 2. Minimnya kesadaran gender di kalangan siswa SMA dapat berdampak pada masa depan mereka, baik dalam dunia kerja maupun kehidupan sosial. Oleh karena itu, intervensi pendidikan yang menekankan literasi kritis dan kesadaran gender menjadi sangat mendesak. Sebagai respon terhadap kesenjangan tersebut, tim pengabdian masyarakat merancang unit pembelajaran berjudul Voice and Visibility. Unit ini bertujuan untuk memperkuat literasi kritis dan kesadaran gender siswa melalui teks diskusi, proyek kreatif, dan kampanye digital. Fokus utama unit ini adalah mengajak siswa untuk menganalisis ekspresi dan kosakata terkait kesetaraan gender, memahami struktur dan ciri kebahasaan teks diskusi, menulis teks diskusi tentang isu gender equality, serta melakukan proyek kampanye digital untuk menyuarakan kesetaraan gender. Pendekatan yang digunakan adalah Genre-Based Approach (GBA), yang menekankan pemahaman struktur teks. Problem-Based Learning (PBL), yang mengajak siswa memecahkan e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. masalah nyata. serta Project-Based Learning (PjBL), yang mendorong siswa menghasilkan produk kreatif seperti poster dan kampanye digital (Nguyen et al. , 2. Kegiatan ini tidak hanya mendukung SDG 5 tentang kesetaraan gender, tetapi juga terkait dengan SDG 13 tentang aksi iklim melalui indikator keberhasilan yang menekankan aksi nyata, kolaborasi, dan kesadaran Dengan melibatkan siswa dalam proyek kampanye digital, kegiatan ini menumbuhkan keterampilan abad ke-21 sekaligus membangun kesadaran sosial yang relevan dengan agenda global (Okada et al. , 2. Artikel ini bertujuan untuk mendokumentasikan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di SMA Swasta Muhammadiyah 1 Medan pada 16 September 2025, menjelaskan latar belakang pentingnya integrasi isu gender dalam pembelajaran Bahasa Inggris, mendeskripsikan metode pelaksanaan unit Voice and Visibility, menganalisis hasil kegiatan berdasarkan respon siswa dan capaian indikator, serta memberikan rekomendasi untuk pengembangan pembelajaran berorientasi SDGs di sekolah. METODE PELAKSANAAN PENGABDIAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 16 September 2025 di SMA Swasta Muhammadiyah 1 Medan dengan melibatkan 30 siswa kelas XII. Durasi kegiatan adalah 90 menit, dengan fokus pada penguatan literasi kritis dan kesadaran gender melalui unit pembelajaran Voice and Visibility. Unit ini dirancang sebagai respon terhadap minimnya integrasi isu kesetaraan gender dalam buku ajar Bahasa Inggris Kurikulum Merdeka, sehingga diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan relevan dengan agenda global SDGs, khususnya SDG 5 tentang kesetaraan gender. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan kombinasi pendekatan Genre-Based Approach (GBA). Problem-Based Learning (PBL), dan Project-Based Learning (PjBL). GBA digunakan untuk membantu siswa memahami struktur teks diskusi, termasuk bagian isu, argumen pro, argumen kontra, serta kesimpulan atau rekomendasi (Brookfield, 2017. Gadot & Tsybulsky, 2. PBL diterapkan dengan mengajak siswa menganalisis permasalahan nyata terkait kesetaraan gender, seperti isu kesenjangan upah atau pembagian peran rumah tangga, sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dalam memecahkan masalah (Nguyen et al. , 2. Sementara itu. PjBL digunakan untuk mendorong siswa menghasilkan produk kreatif berupa poster digital dan kampanye media sosial yang menyuarakan kesetaraan gender, sehingga mereka tidak hanya belajar secara teoritis tetapi juga melakukan aksi nyata (Fields et al. , 2. Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan tahap thematic and trigger awareness, di mana siswa diajak mengamati gambar dan mendiskusikan pentingnya kesetaraan gender. Tahap ini berfungsi sebagai pemantik kesadaran awal dan membangun keterhubungan antara isu global dengan pengalaman sehari-hari siswa. Selanjutnya, siswa mengikuti sesi think and talk yang berisi pertanyaan reflektif, seperti apakah mereka pernah melihat situasi ketidaksetaraan gender di sekitar mereka, bagaimana dampaknya terhadap kehidupan, dan mengapa anak muda perlu peduli terhadap isu ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dirancang untuk menumbuhkan empati sekaligus melatih kemampuan analisis kritis terhadap fenomena sosial (Luke, 2. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Gambar 2. Trigger Awareness Ae Voice and Visibility Tahap berikutnya adalah eksplorasi teks diskusi berjudul Gender Equality in Society, yang diadaptasi dari sumber East Asia Forum. Siswa diminta mengidentifikasi struktur teks, ciri kebahasaan seperti penggunaan modal dan konjungsi, serta membedakan argumen pro dan kontra. Aktivitas ini bertujuan untuk memperkuat keterampilan literasi kritis sekaligus pemahaman genre teks diskusi. Setelah itu, siswa diarahkan untuk membangun ide utama dari sebuah topik, misalnya AuShould men and women be paid the same for the same job?Ay, dengan menyusun bagian isu, argumen mendukung, argumen menolak, dan kesimpulan. Gambar 3. Activities Ae Voice and Visibility Pada tahap produksi teks, siswa menulis paragraf diskusi sederhana dengan topik AuShould women and men share the same household responsibilities?Ay. Aktivitas ini melatih keterampilan menulis argumentatif sekaligus menginternalisasi nilai kesetaraan gender. Selanjutnya, siswa bekerja dalam kelompok untuk proyek kreatif berupa penulisan teks eksposisi analitis dengan tema AuShould the media represent men and women equally?Ay. Dalam proyek ini, siswa diarahkan menggunakan kosakata kunci seperti equality, discrimination, stereotype, dan empowerment, serta ekspresi kausal seperti some people argue thatA atau itAos clear thatA. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. Tahap terakhir adalah connection to real life, di mana siswa membuat kampanye digital tentang kesetaraan gender. Mereka mendesain poster digital berisi pesan singkat, mempresentasikannya di depan kelas, dan kemudian membagikannya melalui media sosial dengan caption yang mendorong audiens untuk peduli terhadap isu gender. Aktivitas ini tidak hanya melatih keterampilan bahasa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial dan keberanian untuk bersuara di ruang publik. Gambar 4. Aktivitas Siswa Saat di Kelas Secara keseluruhan, metode pelaksanaan pengabdian ini dirancang untuk mengintegrasikan keterampilan bahasa Inggris dengan nilai keberlanjutan, literasi kritis, dan kesadaran gender. Dengan kombinasi GBA. PBL, dan PjBL, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang holistik, di mana siswa tidak hanya memahami teks secara akademik, tetapi juga mengaitkannya dengan isu nyata dan menghasilkan aksi sosial yang berdampak. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di SMA Swasta Muhammadiyah 1 Medan pada tanggal 16 September 2025 berhasil mencapai tujuan utama, yaitu memperkuat literasi kritis dan kesadaran gender siswa melalui unit pembelajaran Voice and Visibility. Selama 90 menit, sebanyak 30 siswa kelas XII terlibat aktif dalam berbagai aktivitas yang dirancang dengan pendekatan Genre-Based Approach (GBA). Problem-Based Learning (PBL), dan Project-Based Learning (PjBL). Aktivitas yang dilakukan meliputi analisis teks diskusi, penulisan teks argumentatif, serta proyek kreatif berupa kampanye digital tentang kesetaraan gender. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa mampu memahami isu kesetaraan gender secara kritis. Hal ini terlihat dari kemampuan mereka dalam mengidentifikasi struktur teks diskusi, membedakan argumen pro e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. dan kontra, serta menyusun kesimpulan yang logis. Selain itu, siswa juga berhasil menulis teks diskusi sederhana dengan topik yang relevan, seperti pembagian peran rumah tangga dan kesetaraan upah antara lakilaki dan perempuan. Aktivitas ini tidak hanya melatih keterampilan menulis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari. Indikator keberhasilan yang ditetapkan dalam kegiatan ini tercapai dengan baik. Pertama, siswa menunjukkan pemahaman kritis terhadap isu gender dan dampaknya. Kedua, mereka mampu menyampaikan pesan aksi nyata melalui produk kreatif berupa poster digital dan kampanye media sosial. Poster yang dibuat menampilkan pesan sederhana namun kuat, seperti ajakan untuk menghapus diskriminasi dan mendorong kesetaraan kesempatan. Ketiga, siswa menunjukkan keterlibatan kolaboratif dalam proyek kelompok, baik dalam diskusi maupun dalam pembuatan produk kampanye. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa pembelajaran berbasis proyek mampu menumbuhkan keterampilan sosial sekaligus memperkuat nilai Gambar 5. Aktivitas Siswa Saat di Kelas Respon siswa terhadap kegiatan ini sangat positif. Dalam wawancara singkat setelah kegiatan, mereka menyatakan ketertarikan terhadap isu gender dan equality karena merupakan hal baru yang belum pernah mereka pelajari sebelumnya. Siswa merasa bahwa pembelajaran Bahasa Inggris menjadi lebih bermakna karena dikaitkan dengan isu sosial yang relevan. Namun, mereka juga memberikan masukan agar kegiatan serupa di masa mendatang dilengkapi dengan aktivitas warm-up seperti permainan bahasa atau ice-breaking, sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan interaktif. Masukan ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga reflektif terhadap proses pembelajaran yang mereka alami. Pembahasan dari hasil kegiatan ini menegaskan bahwa integrasi isu kesetaraan gender dalam pembelajaran Bahasa Inggris memiliki dampak signifikan terhadap literasi kritis siswa. Dengan menggunakan teks diskusi sebagai media, siswa dilatih untuk melihat isu dari berbagai sudut pandang, mempertimbangkan e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Desember 2025. Vol. 4 No. DOI: 10. 47662/jaliye. argumen yang berbeda, dan menyusun kesimpulan yang rasional. Hal ini sejalan dengan konsep literasi kritis yang menekankan analisis terhadap ideologi dan representasi dalam teks (Luke, 2. Selain itu, proyek kampanye digital memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan gagasan mereka secara kreatif sekaligus melatih keterampilan komunikasi di ruang publik. Kegiatan ini juga memperlihatkan relevansi langsung dengan SDG 5 tentang kesetaraan gender. Melalui pembelajaran yang kontekstual, siswa tidak hanya memahami konsep gender equality secara teoritis, tetapi juga diajak untuk melakukan aksi nyata dalam bentuk kampanye digital. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Inggris tidak lagi sekadar berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter dan nilai keberlanjutan. Hal ini mendukung pandangan bahwa pendidikan harus berperan sebagai agen perubahan sosial yang mendorong tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (UNESCO, 2. KESIMPULAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH Kesimpulan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di SMA Swasta Muhammadiyah 1 Medan pada tanggal 16 September 2025 berhasil menunjukkan bahwa integrasi isu kesetaraan gender dalam pembelajaran Bahasa Inggris dapat memperkuat literasi kritis sekaligus menumbuhkan kesadaran sosial siswa. Melalui unit Voice and Visibility, siswa tidak hanya belajar memahami struktur teks diskusi dan menulis teks argumentatif, tetapi juga diajak untuk mengaitkan pembelajaran bahasa dengan isu nyata yang relevan dengan kehidupan mereka. Hasil kegiatan memperlihatkan bahwa siswa mampu menganalisis isu gender secara kritis, menyampaikan pesan aksi nyata melalui poster dan kampanye digital, serta menunjukkan keterlibatan kolaboratif dalam proyek kelompok. Respon positif siswa, yang menyatakan ketertarikan terhadap isu gender sebagai hal baru, menjadi bukti bahwa pembelajaran berbasis SDGs dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Kegiatan ini menegaskan pentingnya peran pendidikan dalam mendukung pencapaian SDG 5 tentang kesetaraan gender. Dengan mengintegrasikan nilai keberlanjutan ke dalam pembelajaran Bahasa Inggris, sekolah dapat berkontribusi pada pembentukan generasi muda yang kritis, empatik, dan siap menghadapi tantangan global. Selain itu, masukan siswa mengenai perlunya aktivitas warm-up menjadi refleksi berharga untuk pengembangan kegiatan serupa di masa mendatang, sehingga pembelajaran dapat berlangsung lebih interaktif dan menyenangkan. Ucapan Terima Kasih