Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Civics Education through Contextual Learning at Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga: Bridging Theory with Real-World Application Syamsia Ilyas1. Ose Kopong2 1 Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga 2 RA. Darussalam Lamahoda Correspondence: syamsiahilyas80@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Contextual Learning. Civics Education. PPKN. Madrasah Ibtidaiyah, student engagement, citizenship education, teacher ABSTRACT This study explores the implementation of Contextual Learning in improving Civics Education (PPKN) at Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga. Contextual Learning focuses on connecting the learning material to real-world situations, helping students relate academic content to their everyday experiences. In the context of Civics Education, this approach encourages students to understand the values of citizenship, democracy, and national identity by applying these concepts to practical scenarios they encounter in their daily lives. The research adopts a qualitative approach, utilizing classroom observations, interviews with teachers, and surveys of students to assess the effectiveness of Contextual Learning in enhancing student engagement, understanding, and the ability to apply PPKN The findings reveal that when Civics Education is taught through Contextual Learning, students are more engaged and able to grasp complex civic concepts more easily. They show a better understanding of topics such as rights and responsibilities, democracy, and cultural diversity, and are able to discuss and apply these ideas in various real-life contexts. However, challenges such as varying levels of student motivation and limited access to resources were observed. The study emphasizes the importance of teacher facilitation and the need for adequate materials and resources to support the successful implementation of Contextual Learning. Overall, this study concludes that Contextual Learning is an effective approach for teaching Civics Education at Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga, fostering a deeper understanding of civics and encouraging students to become active, responsible citizens in their communities. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting dalam pembentukan karakter bangsa. Mata pelajaran ini tidak hanya mengajarkan tentang hak dan kewajiban warga negara, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi dalam diri siswa. Di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga, pembelajaran PPKN memegang peranan penting dalam mempersiapkan generasi muda untuk menjadi warga negara yang aktif, bertanggung jawab, dan memahami peran mereka dalam Namun, dalam prakteknya, pembelajaran PPKN sering kali dilakukan dengan metode yang konvensional, sehingga siswa cenderung merasa kurang terlibat dan tidak dapat mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Budi . menunjukkan bahwa salah satu tantangan utama dalam pengajaran PPKN adalah kurangnya keterkaitan antara materi dengan pengalaman nyata siswa. Pendekatan yang lebih inovatif, seperti Contextual Learning, diharapkan dapat mengatasi masalah ini. Contextual Learning adalah pendekatan yang menghubungkan pembelajaran dengan konteks dunia nyata, membantu siswa melihat relevansi materi yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memberikan peluang bagi siswa untuk Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 memahami konsep-konsep PPKN melalui situasi yang mereka hadapi dalam lingkungan sosial Sari . menyatakan bahwa Contextual Learning membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan karena mereka dapat langsung melihat aplikasinya dalam kehidupan mereka. Di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga, penerapan Contextual Learning dalam pembelajaran PPKN dirasa sangat relevan. Sebagian besar siswa di sini belum memiliki gambaran yang jelas mengenai konsep-konsep seperti demokrasi, hak asasi manusia, atau kewarganegaraan. Pembelajaran yang terlalu teoretis sering kali membuat siswa merasa materi tersebut jauh dari kehidupan mereka. Oleh karena itu, melalui pendekatan Contextual Learning, diharapkan siswa dapat lebih memahami bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiawan . menjelaskan bahwa pendekatan ini memungkinkan siswa untuk lebih memahami konteks sosial dan budaya yang ada di sekitarnya, menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan aplikatif. Salah satu cara untuk mengimplementasikan Contextual Learning adalah dengan menghubungkan materi PPKN dengan pengalaman nyata siswa. Misalnya, mengajak siswa untuk berdiskusi tentang masalah sosial yang ada di komunitas mereka atau melibatkan mereka dalam kegiatan yang berkaitan dengan kewarganegaraan, seperti pemilihan umum atau program sosial lainnya. Hal ini akan memungkinkan siswa untuk tidak hanya menghafal konsep-konsep, tetapi juga memahami bagaimana hal tersebut diterapkan dalam kehidupan Kurniawan . mengungkapkan bahwa penghubungan pembelajaran dengan pengalaman sosial dan budaya siswa dapat meningkatkan keterlibatan mereka dalam Namun, meskipun Contextual Learning menawarkan banyak manfaat, tantangan dalam penerapannya juga cukup besar. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya yang tersedia, seperti materi pembelajaran yang relevan dan akses terhadap teknologi yang dapat mendukung proses eksplorasi siswa. Di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga, meskipun ada beberapa sumber daya yang dapat digunakan, namun fasilitas teknologi dan materi pembelajaran terkadang tidak memadai untuk mengimplementasikan pendekatan ini secara maksimal. Agus . mencatat bahwa keterbatasan fasilitas ini dapat menghambat efektivitas Contextual Learning, terutama dalam pembelajaran yang melibatkan teknologi. Penting bagi guru untuk dapat memfasilitasi penerapan Contextual Learning dengan baik, mengingat karakteristik siswa yang beragam. Beberapa siswa mungkin sudah terbiasa dengan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif, sementara yang lain mungkin masih kesulitan untuk beradaptasi dengan metode baru. Oleh karena itu, guru harus siap untuk memberikan bimbingan yang sesuai dan menciptakan lingkungan yang mendukung keterlibatan semua Nur . menjelaskan bahwa keberhasilan penerapan Contextual Learning sangat bergantung pada kemampuan guru untuk memfasilitasi dan mengelola kelas dengan baik, memastikan setiap siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Selain itu, faktor motivasi siswa juga sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran PPKN dengan pendekatan Contextual Learning. Siswa yang termotivasi untuk memahami konsepkonsep kewarganegaraan dan Pancasila dengan baik cenderung lebih aktif dalam proses Sebaliknya, siswa yang kurang tertarik atau kurang termotivasi mungkin akan merasa pembelajaran ini kurang relevan dan sulit dipahami. Setiawan . menekankan bahwa motivasi intrinsik siswa dalam pembelajaran sangat penting untuk mencapai hasil yang maksimal, terutama dalam pembelajaran yang berbasis pada eksplorasi dan pengalaman Sebagai langkah untuk meningkatkan motivasi siswa, penting untuk mengaitkan materi PPKN dengan masalah nyata yang dihadapi oleh siswa di masyarakat. Misalnya, mengajak siswa untuk mempelajari kasus-kasus sosial yang ada di sekitar mereka atau bahkan melibatkan mereka dalam kegiatan yang berkaitan dengan masalah kewarganegaraan, seperti kegiatan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 kemanusiaan atau lingkungan. Prasetyo . mengemukakan bahwa menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman sosial siswa dapat membuat materi PPKN lebih relevan dan menarik bagi mereka, yang pada gilirannya akan meningkatkan keterlibatan mereka. Penerapan Contextual Learning juga dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis. Dalam proses eksplorasi, siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan, mencari solusi, dan mengkritisi informasi yang mereka terima. Ini merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam konteks menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab. Hidayati . menambahkan bahwa keterampilan berpikir kritis yang diperoleh melalui Contextual Learning dapat membantu siswa memahami berbagai perspektif dan membuat keputusan yang lebih bijaksana. Namun, penerapan Contextual Learning juga memerlukan perencanaan yang matang, terutama dalam memilih tema atau isu yang relevan dengan kehidupan siswa. Pembelajaran yang terlalu jauh dari kehidupan mereka dapat menyebabkan siswa merasa bahwa materi tersebut tidak berguna atau sulit diterapkan. Oleh karena itu, guru harus pandai memilih topik yang relevan dengan kehidupan siswa dan dapat membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Susanto . menyatakan bahwa relevansi materi dengan kehidupan siswa sangat penting untuk menjaga keterlibatan dan minat mereka dalam pembelajaran. Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi dapat menjadi alat yang sangat mendukung penerapan Contextual Learning dalam pembelajaran PPKN. Penggunaan internet, video, dan berbagai sumber daya digital lainnya dapat memperkaya materi pembelajaran dan memberikan siswa lebih banyak kesempatan untuk mengeksplorasi konsep-konsep PPKN dari berbagai Namun, akses terhadap teknologi di beberapa daerah masih terbatas, dan ini menjadi salah satu tantangan dalam implementasi Contextual Learning. Wahyu . menunjukkan bahwa meskipun teknologi dapat memperkaya pengalaman belajar, akses yang terbatas dapat menghalangi sebagian siswa untuk mendapatkan manfaat maksimal. Penting bagi Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga untuk mengembangkan strategi yang lebih komprehensif dalam mengimplementasikan Contextual Learning. Salah satunya adalah dengan memastikan bahwa semua siswa memiliki akses yang setara terhadap sumber daya yang diperlukan untuk pembelajaran. Dengan adanya dukungan yang cukup, baik dari segi fasilitas, materi, maupun bimbingan guru, penerapan Contextual Learning dapat berjalan dengan lebih Wulandari . mengungkapkan bahwa dengan dukungan yang tepat. Contextual Learning dapat menjadi metode yang sangat efektif dalam pembelajaran PPKN, memungkinkan siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan aplikatif. Secara keseluruhan, penerapan Contextual Learning dalam pembelajaran PPKN di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan kewarganegaraan dan karakter siswa. Dengan pendekatan yang tepat, siswa dapat lebih memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila, demokrasi, serta hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara. Oleh karena itu, sangat penting bagi semua pihak, terutama guru dan sekolah, untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung penerapan Contextual Learning secara maksimal. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk mengeksplorasi penerapan Contextual Learning dalam pembelajaran PPKN di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga. PTK dipilih karena metode ini memungkinkan peneliti untuk mengamati perubahan dan perbaikan yang terjadi selama siklus perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus bertujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran berdasarkan temuan yang diperoleh pada siklus sebelumnya. Budi . mengemukakan bahwa PTK memungkinkan guru untuk melakukan intervensi langsung dalam proses pembelajaran dan mengamati dampaknya secara nyata. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga yang mengikuti mata pelajaran PPKN. Pemilihan kelas ini dilakukan dengan purposive sampling, mengingat karakteristik siswa yang relevan untuk melihat pengaruh Contextual Learning pada pemahaman dan keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Penelitian ini menggunakan berbagai instrumen untuk mengumpulkan data, seperti observasi kelas, wawancara dengan guru, dan angket untuk mengukur keterlibatan dan pemahaman siswa. Kurniawan . menjelaskan bahwa penggunaan instrumen yang bervariasi memungkinkan peneliti untuk mendapatkan data yang lebih lengkap mengenai efektivitas penerapan suatu metode Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan angket. Observasi dilakukan untuk menilai interaksi siswa dalam diskusi kelompok, kemampuan mereka dalam menghubungkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari, dan tingkat keterlibatan mereka dalam proses eksplorasi materi. Wawancara dengan guru dilakukan untuk mengetahui pengalaman dan pandangan guru mengenai penerapan Contextual Learning serta tantangan yang dihadapi selama pembelajaran. Angket dibagikan kepada siswa untuk mengukur sejauh mana mereka merasa bahwa pendekatan ini membantu mereka memahami materi PPKN dan meningkatkan keterlibatan mereka dalam kelas. Agus . mengungkapkan bahwa kombinasi observasi dan angket memberikan gambaran yang komprehensif tentang dampak metode pembelajaran terhadap siswa. Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari dua siklus, yang masing-masing mencakup tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada siklus pertama, guru memperkenalkan Contextual Learning dengan menghubungkan materi PPKN tentang hak dan kewajiban warga negara dengan isu-isu aktual yang ada di masyarakat. Pada siklus kedua, berdasarkan hasil refleksi dari siklus pertama, guru akan mengoptimalkan kegiatan eksplorasi siswa dengan menambahkan diskusi kelompok dan penelitian mandiri mengenai topik-topik tertentu dalam konteks kehidupan sehari-hari. Nur . menyatakan bahwa refleksi setiap siklus memungkinkan pengajaran untuk diperbaiki sesuai dengan temuan yang ada. Data yang diperoleh dari observasi dan angket akan dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dari observasi dan wawancara akan dianalisis untuk menemukan tema-tema yang muncul terkait dengan peningkatan keterlibatan dan pemahaman Sedangkan data kuantitatif yang diperoleh dari angket akan dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan tingkat pemahaman dan motivasi siswa setelah penerapan Contextual Learning. Setiawan . mencatat bahwa analisis gabungan antara data kualitatif dan kuantitatif memberikan hasil yang lebih mendalam mengenai efektivitas suatu metode dalam RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama penerapan Contextual Learning dalam pembelajaran PPKN di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga, ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menghubungkan materi dengan pengalaman nyata mereka. Meskipun siswa diberikan penjelasan mengenai pentingnya mengaitkan nilai-nilai Pancasila dan kewarganegaraan dengan kehidupan sehari-hari, sebagian besar siswa kesulitan dalam memahami konsep-konsep tersebut dalam konteks sosial yang lebih luas. Beberapa siswa terlihat lebih nyaman dengan pembelajaran yang bersifat teoritis dan langsung, seperti ceramah dari guru. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Contextual Learning menawarkan pendekatan yang lebih aktif, masih diperlukan waktu dan dukungan yang lebih untuk membantu siswa beradaptasi dengan metode ini. Setiawan . mencatat bahwa perubahan pola pikir dalam pembelajaran membutuhkan waktu dan strategi pengajaran yang tepat untuk membangun keterkaitan antara teori dan praktik. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Namun, pada siklus kedua, terjadi peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan siswa. Setelah diberikan penjelasan yang lebih terstruktur dan mendalam, serta aktivitas yang lebih berkaitan dengan situasi nyata, siswa mulai lebih mudah menghubungkan materi dengan pengalaman sosial mereka. Misalnya, ketika membahas tentang hak dan kewajiban warga negara, siswa mulai bisa mengaitkannya dengan isu-isu aktual di masyarakat, seperti pemilu dan pengelolaan lingkungan. Proses diskusi kelompok yang dilakukan pada siklus kedua memberikan kesempatan bagi siswa untuk berbagi pendapat dan saling belajar, yang meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi. Kurniawan . menyebutkan bahwa kolaborasi dalam kelompok mendorong siswa untuk lebih aktif dan bertanggung jawab dalam memahami materi. Penerapan Contextual Learning juga membawa dampak positif terhadap peningkatan pemahaman konsep kewarganegaraan. Pada siklus pertama, banyak siswa yang merasa kesulitan untuk memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara dalam konteks yang lebih Namun, setelah mereka diberi kesempatan untuk mengeksplorasi kasus-kasus nyata yang melibatkan kewarganegaraan, mereka mulai dapat melihat bagaimana konsep-konsep tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, mereka bisa lebih memahami pentingnya partisipasi aktif dalam memilih pemimpin, mengelola sampah, atau melibatkan diri dalam kegiatan sosial. Agus . menjelaskan bahwa ketika siswa diberi kesempatan untuk menerapkan konsep-konsep yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari, pemahaman mereka menjadi lebih mendalam dan bermakna. Salah satu tantangan yang ditemukan dalam penerapan Contextual Learning adalah adanya perbedaan dalam tingkat pemahaman siswa. Beberapa siswa, terutama yang memiliki latar belakang sosial-ekonomi yang lebih rendah, merasa kesulitan dalam mengaitkan materi dengan pengalaman mereka. Mereka kesulitan untuk melihat relevansi materi PPKN dengan kehidupan mereka karena kurangnya akses informasi atau keterbatasan dalam pengalaman Hal ini mempengaruhi keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih personal dan adaptif untuk mengatasi kesenjangan ini, seperti memberikan contoh kasus yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hidayati . menyatakan bahwa pengajaran yang lebih individual dapat membantu mengatasi ketimpangan pemahaman antar siswa. Dalam hal motivasi belajar. Contextual Learning berpengaruh positif dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran PPKN. Pada siklus pertama, meskipun sebagian besar siswa aktif dalam mendengarkan penjelasan guru, mereka tidak terlalu terlibat dalam diskusi Namun, pada siklus kedua, setelah diberi kesempatan untuk mendiskusikan topiktopik yang relevan dengan kehidupan mereka, seperti hak dan kewajiban sebagai warga negara atau pemilu, siswa menunjukkan antusiasme yang lebih besar. Mereka lebih bersemangat untuk berbagi pendapat dan aktif dalam mencari solusi terhadap masalah sosial yang dibahas. Setiawan . menyatakan bahwa motivasi siswa akan meningkat ketika mereka merasa bahwa materi pembelajaran relevan dengan kehidupan mereka, yang memungkinkan mereka untuk mengaitkan pengetahuan dengan pengalaman nyata. Penerapan Contextual Learning juga membantu meningkatkan keterampilan sosial siswa, terutama dalam bekerja sama dalam kelompok. Diskusi kelompok yang diadakan pada siklus kedua memperlihatkan adanya peningkatan dalam kemampuan siswa untuk mendengarkan pendapat teman, menghargai perbedaan, dan bekerja sama untuk mencapai solusi. Hal ini sangat penting dalam pembelajaran PPKN, yang mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Keterampilan komunikasi dan kolaborasi yang dikembangkan selama diskusi kelompok akan bermanfaat bagi siswa dalam kehidupan sosial mereka di luar sekolah. Nur . mengungkapkan bahwa keterampilan sosial yang berkembang dalam pembelajaran berbasis eksplorasi sangat penting untuk membentuk warga negara yang aktif dan bertanggung Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Namun, meskipun keterampilan sosial siswa meningkat, beberapa siswa masih menunjukkan kecenderungan untuk tidak terlalu aktif dalam diskusi kelompok. Beberapa siswa merasa lebih nyaman menjadi pendengar daripada berpartisipasi aktif dalam percakapan. Hal ini bisa disebabkan oleh rasa tidak percaya diri atau ketakutan untuk mengungkapkan pendapat di depan teman-temannya. Untuk mengatasi hal ini, guru perlu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung agar semua siswa merasa nyaman untuk berbicara dan berkontribusi dalam diskusi. Susanto . menekankan bahwa menciptakan lingkungan yang mendukung sangat penting untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran berbasis Selain tantangan dalam keterlibatan. Contextual Learning juga membawa tantangan dalam hal pengelolaan waktu. Proses eksplorasi yang dilakukan dalam diskusi kelompok membutuhkan waktu yang cukup lama, sementara kurikulum PPKN yang padat membuatnya sulit untuk memberikan waktu yang cukup untuk semua topik yang perlu dibahas. Beberapa topik yang seharusnya dibahas lebih mendalam sering kali terlewatkan karena keterbatasan waktu yang Oleh karena itu, penting untuk merencanakan waktu dengan cermat dan memilih topik-topik yang paling relevan dan penting untuk dibahas dalam konteks kehidupan siswa. Wahyu . menyarankan agar guru dapat menyesuaikan perencanaan waktu dengan fleksibilitas, agar setiap siswa memiliki cukup kesempatan untuk terlibat dalam proses Secara keseluruhan, penerapan Contextual Learning dalam pembelajaran PPKN di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga memberikan dampak positif dalam meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan keterampilan sosial siswa. Meskipun terdapat beberapa tantangan, seperti perbedaan pemahaman antar siswa dan keterbatasan waktu, hasil yang diperoleh pada siklus kedua menunjukkan bahwa metode ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara Dengan perencanaan yang matang dan pengelolaan yang baik. Contextual Learning dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk memperdalam pemahaman siswa terhadap konsep-konsep PPKN dan menumbuhkan rasa tanggung jawab mereka sebagai warga negara. Wulandari . menegaskan bahwa penerapan Contextual Learning yang tepat dapat meningkatkan kualitas pendidikan kewarganegaraan dan membantu siswa menjadi warga negara yang lebih aktif dan bertanggung jawab. CONCLUSION Berdasarkan temuan yang diperoleh dari penerapan Contextual Learning dalam pembelajaran PPKN di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga, dapat disimpulkan bahwa pendekatan ini membawa dampak positif terhadap keterlibatan, pemahaman, dan keterampilan sosial siswa. Penerapan Contextual Learning memungkinkan siswa untuk mengaitkan materi PPKN yang mereka pelajari dengan situasi dan pengalaman nyata yang ada di kehidupan mereka seharihari. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan, serta membantu siswa untuk memahami dengan lebih mendalam nilai-nilai kewarganegaraan dan Pancasila yang diajarkan. Pada siklus pertama, meskipun siswa mulai menunjukkan keterlibatan yang aktif, mereka masih merasa kesulitan dalam menghubungkan materi dengan kehidupan mereka sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa penerapan Contextual Learning membutuhkan waktu bagi siswa untuk beradaptasi, terutama jika mereka lebih terbiasa dengan metode pembelajaran yang bersifat ceramah dan pasif. Namun, pada siklus kedua, setelah adanya bimbingan yang lebih terstruktur dan kesempatan untuk berdiskusi mengenai kasus-kasus nyata di masyarakat, siswa mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keterlibatan dan pemahaman mereka. Mereka mulai mampu menghubungkan teori dengan praktik, seperti memahami hak dan kewajiban warga negara melalui contoh-contoh yang terjadi di lingkungan mereka. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain itu. Contextual Learning juga berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa. Ketika siswa dapat melihat relevansi antara materi yang diajarkan dengan kehidupan mereka, mereka menjadi lebih tertarik dan bersemangat untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini terbukti dari peningkatan keaktifan siswa dalam berdiskusi dan mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam mengenai topik-topik yang sedang dibahas. Penerapan pendekatan ini juga membuktikan bahwa motivasi intrinsik siswa akan meningkat ketika mereka merasa bahwa materi yang dipelajari memiliki nilai guna langsung bagi kehidupan mereka. Namun, meskipun banyak manfaat yang diperoleh, beberapa tantangan masih harus diatasi dalam penerapan Contextual Learning. Salah satunya adalah adanya kesenjangan dalam tingkat pemahaman siswa. Beberapa siswa merasa kesulitan untuk mengaitkan materi dengan pengalaman mereka, terutama bagi mereka yang berasal dari latar belakang sosial-ekonomi yang lebih rendah dan kurang terpapar dengan informasi tentang kewarganegaraan. Untuk itu, perlu adanya perhatian khusus dari guru dalam memberikan penjelasan lebih lanjut serta memberi ruang bagi mereka untuk berbagi pengalaman atau contoh yang lebih relevan. Dengan begitu, seluruh siswa dapat merasakan manfaat dari pembelajaran ini. Selain itu, pengelolaan waktu juga menjadi tantangan yang signifikan dalam penerapan Contextual Learning. Diskusi dan eksplorasi yang dilakukan selama pembelajaran membutuhkan waktu yang lebih banyak, sementara dalam kurikulum yang terbatas, tidak semua topik dapat dibahas dengan mendalam. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk melakukan perencanaan yang matang agar setiap topik yang relevan dapat diberikan perhatian yang cukup tanpa mengabaikan materi lainnya. Manajemen waktu yang baik akan memastikan bahwa proses eksplorasi dapat berlangsung secara efektif tanpa terburu-buru. Secara keseluruhan, penerapan Contextual Learning dalam pembelajaran PPKN di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara Dengan mengaitkan teori dengan praktik nyata, siswa menjadi lebih terlibat, termotivasi, dan mampu memahami nilai-nilai kewarganegaraan secara mendalam. Meskipun terdapat beberapa tantangan, seperti kesenjangan kemampuan siswa dan keterbatasan waktu, pendekatan ini tetap menunjukkan potensi yang besar dalam memperkaya pengalaman belajar siswa dan membentuk mereka menjadi warga negara yang lebih aktif dan bertanggung jawab. Ke depan, dengan perencanaan dan pengelolaan yang lebih baik. Contextual Learning dapat menjadi metode yang lebih optimal dalam pembelajaran PPKN di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Menanga. REFERENCES