Fitriyanti. A Fadila LITERATUR REVIEW ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGETAHUAN KARYAWAN NON MEDIS TENTANG BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) Fitriyanti1. A Fadila2 Program Studi S1 Keperawatan STIKES Mitra Adiguna Palembang1,2 Email : radenayu. dila23@gmail. ABSTRAK Kecelakaan lalu lintas mengakibatkan kerusakan pada beberapa organ akibat trauma. Organ yang paling cepat mengalami kerusakan adalah otak. Korban kecelakaan dapat semakin buruk kondisinya atau berujung kematian jika tidak ditangani dengan cepat khususnya pada kasus henti jantung dan henti Seorang perawat sangat penting untuk mempelajari BHD, karena BHD sangat diperlukan dalam tindakan darurat untuk membebaskan jalan napas, membantu pernapasan dan mempertahankan sirkulasi darah sehingga dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan karyawan non medis tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Dinkes Provinsi Sumatera Selatan tahun 2024. Jenis literatur review yang diguanakan dalam penelitian ini adalah scoping review. Kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor, pengetahuan, karyawan non medis, bantuan hidup dasar (BHD). Saran diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya melakukan BHD. Sehingga, masyarakat akan memiliki pengetahuan dan wawasan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Kata Kunci : Faktor-Faktor. Pengetahuan. Bantuan Hidup Dasar ABSTRACT Traffic accidents result in damage to several organs due to trauma. The organ that experiences damage most quickly is the brain. Accident victims' condition can get worse or lead to death if not treated quickly, especially in cases of cardiac arrest and respiratory arrest. It is very important for a nurse to learn BHD, because BHD is very necessary in emergency measures to clear the airway, assist breathing and maintain blood circulation so that it can save a person's life. The aim of the research is to analyze factors related to non-medical employees' knowledge about Basic Life Support (BHD) at the South Sumatra Province Health Office in 2024. The type of literature review used in this research is a scoping The keywords used in this research are factors, knowledge, non-medical employees, basic life support (BHD). It is hoped that the suggestions will provide information to the public regarding the importance of carrying out BHD. So, the public will have knowledge and insight about the factors related to Basic Life Support (BHD). Keywords : Factors. Knowledge. Basic Life Support Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila PENDAHULUAN Keperawatan merupakan pelayanan keperawatan yang komprehensif diberikan kepada pasien dengan injuri atau sakit yang mengancam Perawat gawat darurat harus memiliki pengetahuan untuk menangani respon pasien pada resusitasi, syok, trauma, mengancam jiwa lainnya. Keadaan henti jantung dan henti nafas adalah kasus yang sering terjadi pada pasien gawat darurat. Henti jantung atau cardiac arrest adalah keadaan dimana terjadi penghentian mendadak sirkulasi normal darah karena kegagalan jantung berkontraksi secara efektif (Nugroho, 2. Henti jantung dan henti napas merupakan kasus yang sering terjadi pada pasien gawat darurat dan tidak hanya terjadi di bangsal gawat darurat tetapi dapat terjadi di semua bagian rumah sakit. Henti jantung harus ditangani dengan segera karena penanganan yang tidak tepat dan terlambat akan menyebabkan kematian pada pasien atau sering disebut dengan istilah kematian otak atau kematian permanen (Rizki, 2. Henti jantung bisa menyebabkan kematian otak dan kematian permanen dalam jangka waktu 8 sampai 10 menit orang tersebut mengalami henti jantung. Terjadinya henti jantung bisa disebabkan oleh timbulnya aritmia yaitu takikardi ventrikel, fibrilasi ventrikel, aktivitas listrik tanpa nadi dan asistol. Selain itu juga dinding parut yang terbentuk di dinding dalam arteri dapat menghambat sistem konduksi langsung dari jantung sehingga dapat meningkatkan terjadinya disritmia dan penyakit jantung (Suharsono & Ningsih, 2. Penyakit penyebab kematian nomor satu didunia dan telah merenggut sekitar 17,9 juta nyawa Data World Health Organization (WHO) menyatakan dari total kematian akibat penyakit tidak menular 38% nya disebabkan oleh Penyakit jantung dan pembuluh darah (Shidqi, 2. Salah satu penyakit jantung penyebab kematian terbesar adalah kejadian henti jantung atau sudden cardiac Menurut American Heart Association (AHA) merupakan kejadian rusaknya kelistrikan di menyebabkan detak jantung tidak teratur . sehingga mengganggu aliran darah ke otak, paru-paru dan organ lainnya. Di Amerika Serikat. AHA mengkaji setiap tahunnya lebih dari 350. 000 kasus henti jantung diluar rumah sakit atau Out Of Hospital Cardiac Arrest (OHCA) dan 90% meninggal dunia. Setidaknya Angka kejadian henti jantung berkisar 10 dari 000 orang normal yang berusia dibawah 35 tahun. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, prevalensi penyakit jantung di Indonesia yang terdiagnosis oleh dokter sebesar 1,5% dan di Sumatera Selatan sebesar 1,2% dengan jumlah kasus 33. 556, namun angka kejadian henti jantung mendadak belum Kejadian diatas dapat ditangani dengan melakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di menit-menit awal (Shidqi. Penyakit kematian terbesar adalah kejadian henti jantung atau sudden cardiac arrest. Menurut American Heart Association (AHA) henti jantung merupakan kejadian rusaknya kelistrikan di jantung secara mendadak yang menyebabkan detak jantung tidak teratur . sehingga mengganggu aliran darah ke otak, paruparu dan organ lainnya. Di Amerika Serikat. AHA mengkaji setiap tahunnya lebih dari 350. 000 kasus henti jantung diluar rumah sakit atau Out Of Hospital Cardiac Arrest (OHCA) dan 90% meninggal dunia. Setidaknya Angka kejadian henti jantung berkisar 10 dari Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila 000 orang normal yang berusia dibawah 35 tahun. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, prevalensi penyakit jantung di Indonesia yang terdiagnosis oleh dokter sebesar 1,5% dan di Sumatera Selatan sebesar 1,2% dengan jumlah kasus 33. 556, namun angka kejadian henti jantung mendadak belum Kejadian diatas dapat ditangani dengan melakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di menit-menit awal (Shidqi. Tindakan BHD pada pasien henti jantung di menit-menit awal sangat penting. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan angka pasien bertahan hidup sebanyak 4% dan pada pasien napas spontan sebanyak Suyonto . juga menjelaskan bahwa satu jam yang pertama adalah waktu yang sangat penting dalam penanganan penyelamatan yaitu dapat menekan sampai 90% angka kematian. Hal tersebut dapat dilakukan oleh orang perawat maupun oleh masyarakat biasa. Peran serta masyarakat dalam mencegah kematian yang disebabkan oleh henti nafas dan henti jantung sangat penting mengingat kasus tersebut paling umum ditemukan di tengah-tengah masyarakat dimana dan kapan saja, maka sangat perlu bagi masyarakat umum untuk mengetahui cara penanganan segera seperti bantuan hidup dasar (BHD). Selain itu penting bagi masyarakat memberikan pendidikan dan pelatihan pertolongan tersedak, luka bakar, keracunan dan tenggelam (Fandizal, 2. Pengetahuan tentang bantuan hidup dasar (BHD) atau Basic Life support (BLS) sangat penting bagi masyarakat awam karena kejadian kegawatdaruratan dapat di jumpai dimana saja dan kapan saja. Sehingga dapat menjadi bekal untuk menolong orang lain. Bantuan hidup dasar merupakan tindakan yang bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan fungsi organ vital pada korban henti jantung dan henti napas dengan memberikan kompresi dada atau resusitasi jantung paru dan pemberian napas bantuan (Fandizal, 2. Pengetahuan BHD (Bantuan Hidup Dasa. masyarakat umum di negara Barat masih Penelitian yang dilakukan oleh Rajapakse . tentang pengetahuan CPR di masyarakat Republik Slovenia, resusitasi umumnya lemah, hanya 1,2% mengetahui jumlah kompresi, 2,2% mengetahui perbandingan kompresi dan ventilasi yang benar pada dewasa, dan hanya tiga dari 500 subjek . ,6%) mengetahui keduanya . umlah kompresiventilas. Berdasarkan Nugroho . , menjelaskan bahwa faktor-faktor keberhasilan memberikan BHD pada pasien henti jantung dan nafas di pengaruhi oleh tingkat pengetahuan, usia, pendidikan, masa kerja, pengalaman, pelatihan. Berdasarkan Okvitasari . yang berjudul faktorfaktor penanganan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Suppor. pada kajadian kecelakaan lalu lintas di SMK. Hasil penelitian menunjukan terbanyak adalah pengetahuan kurang yaitu 59,38%, berdasarkan perilaku yang terbanyak adalah perilaku kurang yaitu 64,58% dan tidak menangani BHD sebanyak 63,54%. Terdapat hubungan yang signifikan antara Faktor pengetahuan dan Faktor perilaku dengan penanganan BHD pada Kejadian Lakalantas . = 0,000 < 0,. Penelitian Mongkau. menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pelatihan bantuan hidup dasar bagi masyarakat awam terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila Menurut (Mongkau, 2. menjelaskan bahwa salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi pengetahuan adalah informasi. Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat mempercepat seseorang memperoleh pengetahuan yang baru Peran serta masyarakat dalam mencegah kematian yang disebabkan oleh henti nafas dan henti jantung sangat penting mengingat kasus tersebut paling umum ditemukan di tengahtengah masyarakat dimana dan kapan saja, maka sangat perlu bagi masyarakat umum untuk mengetahui cara penanganan segera seperti bantuan hidup dasar (BHD). Selain itu penting bagi masyarakat memberikan pendidikan dan pelatihan pertolongan tersedak, luka bakar, keracunan dan tenggelam. Melalui program kegiatan pendidikan dan pelatihan BHD meningkatkan pengetahuan tentang BHD memberikan pertolongan pertama pada kasus henti nafas dan henti jantung, kasus tersedak, luka bakar, keracunan dan tenggelam dengan demikian angka kematian dan kesakitan dapat diatasi (Fernando, 2. Bantuan Hidup Dasar (BHD) dapat diajarkan kepada siapa saja. Setiap orang dewasa seharusnya memiliki keterampilan BHD, baik tenaga kesehatan maupun karyawan non medis khususnya di Dinkes Provinsi Sumatera Selatan yang seharusnya dibekali dengan pengetahuan seputar Bantuan Hidup Dasar (BHD) agar dapat memberikan pertolongan keselamatan dengan segera jika menemukan seseorang yang mengalami henti jantung maupun henti nafas baik di lingkungan masyarakat. Berdasarkan permasalahan dan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuLiteratur Review Analisis FaktorFaktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Karyawan Non Medis Tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD)Ay METODE Penelititan ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode kepustakaan atau literatur review. Jenis literatur review yang diguanakan dalam penelitian ini adalah scoping review. Kriteria jurnal yang akan direview adalah artikel jurnal penelitian dengan subyek manusia tentang pengaruh faktorfaktor pengetahuan karyawan non medis tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dengan rentang waktu penerbitan jurnal tahun HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelurusan Jurnal Berdasarkan hasil penelusuran di Google Schoolar dengan kata kunci faktorfaktor pengetahuan karyawan non medis tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD), peneliti menemukan 371 judul artikel yang sesuai dengan kata kunci. Artikel yang ditemukan sesuai dengan kata kunci tersebut belum semuanya memiliki tema yang sesuai dengan tujuan penelitian dan terdapat artikel yang duplikasi. Peneliti kemudian melakukan penelusuran menggunakan penelusuran lanjutan Google Schoolar dengan mencari kata kunci dalam judul . n titl. yang sesuai kata kunci yang sama dan didapat sebanyak 185 jurnal. Artikel penelitian yang memiliki kemiripan tema / isi penelitian kemudian dipilih berdasarkan kriteria yang paling layak dan sesuai dengan tujuan penelitian. Jurnal penelitian yang tidak terpilih, terdapat kemiripan, dan tidak sesuai dengan kriteria inklusi kemudian dilakukan eksklusi yaitu Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila Sebanyak 185 artikel yang ditemukan tersebut kemudian dilakukan skrining untuk melihat apakah artikel tersebut memiliki naskah lengkap atau tidak, selanjutnya 90 artikel kemudian dieksklusi karena tidak tersedia artikel full text sehingga didapatkan 95 artikel full text. Asasemen kelayakan dilakukan terhadap 95 artikel full text. Artikel penelitian yang memiliki kemiripan tema / isi penelitian kemudian dipilih berdasarkan kriteria yang paling layak dan sesuai dengan tujuan Jurnal penelitian yang tidak terpilih, terdapat kemiripan, dan tidak sesuai dengan kriteria inklusi kemudian dilakukan eksklusi sebanyak 95 artikel, sehingga didapatkan 5 artikel full text yang dilakukan review. PEMBAHASAN Jurnal Pawiliyah . yang Berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Tentang Bantuan Hidup Dasar Pada Tim Pemadam Kebakaran Dan Penyelamatan Kota Bengkulu Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kota Bengkulu tahun 2023. Populasi dalam penelitian ini yaitu tim pemadam kebakaran dan penyelamatan Kota Bengkulu. Sample pada penelitian ini yaitu tim pemadam kebakaran dan penyelamatan Kota Bengkulu. Instrument penelitian yang digunakan penelitian ini menggunakan kuesioner. Dalam penelitian ini lebih di fokuskan pada pada faktor lama kerja, tingkat pendidikan dan pengetahuan tim pemadam kebakaran dan penyelamatan Kota Bengkulu tentang Bantuan Hidup Dasar. Hasil dari penelitian ini Lama kerja . -value = 0,. dan tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pengetahuan dengan signifikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lama kerja dan tingkat pendidikan . -value = 0,. adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan tentang BLS pada tim pemadam kebakaran dan penyelamatan di Kota Bengkulu. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa lama kerja dan tingkat pengetahuan dengan signifikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lama kerja dan tingkat pendidikan adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan tentang BLS pada tim pemadam kebakaran dan penyelamatan di Kota Bengkulu. Menurut Sesriyanti . , intelegensi yang berhubungan dengan daya fikir seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin luas Pendidikan merupakan suatu faktor yang menentukan dalam Mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses pengembangan diri kepribadian seseorang yang dilaksanakan secara sadar dan penuh tanggung jawab untuk meningkatkan pengetahuan keterampilan nilai-nilai menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pengetahuan responden juga dapat dipengaruhi oleh pendidikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Amanda et al. , . yang menyatakan bahwa semakin baik pendidikan seseorang akan semakin mudah untuk paham dan menerima informasi, seseorang yang bekerja di sektor formal Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila akan lebih mudah mendapatkan informasi atau pengetahuan karena dilingkungan tempat bekerja bisa bertukar informasi, seseorang yang memiliki informasi akan memiliki pengetahuan yang luas dan bisa dibandingkan dengan seseorang yang belum mendapatkan informasi. Dari disimpulkan bahwa pengetahuan tentang bantuan hidup dasar sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pula Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang memiliki pendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula. Pengetahuan seseorang ini akan menentukan bagaimana seseorang itu bersikap dalam melakukan pertolongan pertama dan memberikan bantuan hidup dasar. Jurnal Anggraini . yang Berjudul Faktor-Faktor Berhubungan dengan Pengetahuan Pegawai PT. KAI Services Palembang Terhadap Tindakan Bantuan hidup dasar (BHD) Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kota Palembang tahun Populasi dalam penelitian ini yaitu pegawai non medis PT. KAI Services Palembang. Sample pada penelitian ini yaitu semua pegawai yang bertugas di lapangan PT. KAI Services devisi K2 (OB). Customer services, satpam, kepala stasiun Palembang yang berjumlah 40 Instrument dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Dalam penelitian ini lebih di fokuskan pada pada faktor pendidikan, pelatihan dan pengalaman terhadap pengetahuan tentang BHD. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara variabel pendidikan . value = 0,. , pelatihan . value = 0,. dan pengalaman . value = 0,. dengan pengetahuan pegawai PT. KAI Services Palembang terhadap tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) tahun 2022. Menurut (Notoatmodjo, 2. dijelaskan bahwa pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau Pendidikan kesehatan adalah agar masyarakat berperilaku hidup sehat atau lebih terinci lagi agar masyarakat tahu, mau dan mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Menurut (Nirmalasari, 2. , menjelaskan bahwa pelatihan merupakan proses pendidikan jangka pendek yang menyatukan pembelajaran secara teori dan praktek, sehingga pelatihan merupakan pengetahuan seseorang. Pelatihan dapat signifikan karena memiliki faktor-faktor Salah satu faktor yang menjadikan pelatihan dengan metode simulasi dapat meningkatkan pengetahuan yaitu karena peserta dibimbing langsung oleh pelatih yang telah memiliki sertifikat Hal yang sama diungkapkan (Nirmalasari, 2. , bahwa pelatihan merupakan konsep belajar yang berfokus Pelatihan membentuk dasar dari pelaksanaan Pelatihan mengingat serta memperbarui lagi pengetahuan dan keterampilan yang Dalam penelitian Anggraini . berhubungan dengan pengetahuan pegawai KAI Services terhadap tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Dengan mengikuti Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila BHD pengetahuan seseorang dalam melakukan tindakan BHD sebaliknya orang yang tidak mengikuti pelatihan BHD maka akan memiliki pengetahuan yang kurang tentang tindakan BHD. Keterampilan akan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap keterampilan pegawai KAI Services dalam melakukan tindakan BHD. Namun dalam penelitian ini ada sebagian responden yang tidak mengikuti pelatihan tetapi memiliki pengetahuan baik tentang tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Hal ini karena mereka belum mengetahui sama sekali tentang tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan hanya tahu sebatas melihat atau menolong saja dan belum mengetahui secara detail tentang tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Jurnal Okvitasari . yang Berjudul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penanganan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Suppor. Pada Kajadian Kecelakaan Lalu Lintas di SMK Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Penelitian ini telah dilaksanakan di SMK 5 Banjarmasin tahun Populasi dalam penelitian ini yaitu semua siswa SMK 5 Banjarmasin. Sample pada penelitian ini yaitu sebagian siswa SMK 5 Banjarmasin sebanyak 96 Instrument penelitian yang dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Dalam penelitian ini lebih di fokuskan pada pada faktor jenis kelamin, pengetahuan dan perilaku terhadap tindakan BHD. Hasil penelitian pengetahuan kurang yaitu 59,38%, berdasarkan perilaku yang terbanyak adalah perilaku kurang yaitu 64,58% dan tidak menangani BHD sebanyak 63,54%. Terdapat hubungan yang signifikan antara faktor pengetahuan dan faktor perilaku dengan penanganan BHD pada Kejadian Lakalantas . = 0,. Banyaknya siswa siswi SMK 5 Banjarmasin perilaku kurang karena siswa siswi SMK 5 Banjarmasin yang menganggap penanganan pada korban kecelakaan lalu lintas dengan korban henti napas dan henti jantung hanya bisa ditangani oleh tim yang berhak yaitu tim medis serta adanya rasa takut untuk menolong dikarenakan tidak mempunyai keahlian dalam melakukan penanganan Hasil penelitian pada variabel pengetahuan tentang Penanganan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Suppor. menggambarkan bahwa sebagian besar pengetahuan siswa siswi SMK 5 Banjarmasin tentang Penanganan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Suppor. kurang, itu tergambar dari banyaknya responden tidak mengetahui apa itu Penanganan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Suppor. , apa tujuan dari Penanganan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Suppor. dan bagaimana prosedur atau tata cara melakukan Penanganan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Suppor. Pengetahuan disini mencakup pengertian, tujuan, manfaat, cara melakukan dan akibat Penanganan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Suppor. Pengetahuan terhadap Bantuan Hidup Dasar kurang baik dikarenakan responden adalah siswa siswi yang belum pernah Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Suppor. Menurut Mubarok merupakan dorongan dasar untuk ingin tahu, untuk mencari penalaran, dan untuk Adanya unsur pengalaman yang semula tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu akan disusun, ditata kembali dan diubah sedemikian rupa, sehingga tercapai suatu konsistensi. Pengetahuan juga merupakan hasil mengingat suatu hal. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila termasuk mengingat kembali kejadian yang pernah dialami baik sengaja maupun tidak sengaja dan ini terjadi setelah seseorang pengamatan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan pendidikan, pekerjaan, umur, pengalaman, kebudayaan dan lingkungan sekitar dan Dalam penelitin ini juga dijelaskan bahwa pengetahuan berkaitan erat dengan perilaku manusia yaitu sebagai bentuk pengalaman dan interaksi individu dan Khususnya menyangkut berhubungan erat dengan kesehatan. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang . ver Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh Jurnal Ulfah . Yang berjudul Analisis Faktor Yang Memengaruhi Intensi Masyarakat Terhadap Bantuan Hidup Dasar (BHD) Pada Korban Kecelakaan Lalu Lintas Berdasarkan Theory Of Planned Behavior (TPB) Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Penelitian ini telah dilaksanakan di wilayah Kelurahan Manyar Sabrangan dan Kelurahan Kenjeran tahun Populasi dalam penelitian ini yaitu Semua masyarakat di wilayah Kelurahan Manyar Sabrangan dan Kelurahan Kenjeran. Sample pada penelitian ini yaitu sebagian Semua masyarakat di wilayah Kelurahan Manyar Sabrangan dan Kelurahan Kenjeran Instrument penelitian yang dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Dalam penelitian ini lebih di fokuskan pada pada faktor pengetahuan, sikap, norma subjektif. Perceived Behavior Control terhadap tindakan BHD. Hasil dari analisis pengetahuan dengan sikap, value p= 0,004 . O 0. r= 0,363 dengan arah hubungan Terdapat hubungan antara pengetahuan dengan norma subjektif . = 0,011 r =0,. dengan arah hubungan Terdapat hubungan antara pengetahuan dengan PBC . = 0. 000 r= 0,. dimana arah hubungan positif. Terdapat hubungan antara sikap dengan intensi . = 0,000 r= 0,. dengan arah hubungan positif. Terdapat hubungan antara norma subjektif dengan intensi . = 0,000 r= 0,. dengan arah hubungan Terdapat hubungan antara PBC dengan intensi . = 0,006 r= 0,. dengan arah hubungan positif. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap BHD, sebagian kecil masyarakat memiliki pengetahuan yang baik dengan sikap negatif dikarenakan masyarakat telah mengetahui cara melakukan BHD akan tetapi mereka yakin bahwa jika mereka tetap melakukan BHD kepada korban kecelakaan lalu lintas, malah akan menimbulkan konsekuensi kepada mereka. Sedangkan Masyarakat yang memiliki pengetahuan baik dengan sikap negatif karena keyakinan mereka mengenai konsekuensi dari melakukan BHD yaitu korban akan semakin parah atau tidak membaik setelah mereka melakukan pertolongan dengan melakukan BHD sehingga memberikan kerugian baginya. Sebagian kecil masyarakat memiliki anggapan membawa korban langsung ke rumah sakit dan langsung ditangani oleh petugas kesehatan merupakan hal terbaik untuk menolong korban dan sebagian besar masyarakat memiliki pengetahuan baik dengan tingkat norma subjektif yang sedang (Ulfah, 2. Menurut Sugiharto masyarakat dapat memperoleh tindakan Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila BHD dari persepsi dan motivasi pemerintah yang telah mengadakan kegiatan pelatihan BHD dan petugas kesehatan yang juga sebagai pelatih. Sehingga, menimbulkan suatu intensi pada masyarakat untuk melakukan apa yang didukung oleh pemerintah dan petugas kesehatan yang juga sebagai pelatih. Persepsi seseorang ditentukan oleh dua faktor utama yaitu, pengalaman masa lalu dan faktor pribadi. Menurut Ajzen . , salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat Pengalaman masa lalu individu terhadap suatu perilaku juga dipengaruhi oleh informasi yang didapatkan dari orang lain, misalnya pengalaman orang yang dikenal. Seseorang akan melakukan perilaku tersebut karena terbentuknya suatu niat. Individu tersebut mengevaluasi perilaku secara positif ditambah mendapatkan tekanan dari sosial dan memiliki kesempatan untuk melakukan suatu Masyarakat banyak yang memiliki keinginan untuk melakukan BHD pada korban kecelakaan lalu lintas. Akan tetapi, adanya hambatan yang mengontrol perilaku tersebut dikarenakan oleh kurangnya media sosialisasi dan enggan terlibat dalam urusan hukum menjadikan proses menjadi tidak maksimal dan menyebabkan seseorang memiliki kekuatan intensi sedang. adanya media untuk mensosialisasikan BHD dan pemerintah meberikan jaminan hukum dapat meningkatkan kontrol perilakunya dan menghasilkan intensi yang kuat untuk melakukan BHD pada korban kecelakaan lalu lintas (Ulfa, 2. Jurnal (Hasanah, 2. yang Berjudul Faktor-Faktor Berhubungan Dengan Sikap Polisi Lalu Lintas Dalam Pemberian Bantuan Hidup Dasar (BHD) Pada Pertolongan Pertama Kecelakaan Lalu Lintas Di Polresta Pekanbaru Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Penelitian ini telah dilaksanakan di Polrestabel Pekanbaru. Populasi dalam penelitian ini yaitu semua polisi lalu lintas di Polresta Pekanbaru dengan jumlah sampel sebanyak 96 Instrument penelitian yang dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Dalam penelitian ini lebih di fokuskan pada faktor emosional, pengetahuan, pengaruh orang lain yang dianggap lebih penting dalam pemberian pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas. Hasil analisa univariat mayoritas responden berusia dewasa awal . -35 tahu. 3%), berjenis kelamin laki-laki . 2%), berpendidikan perguruan tinggi . ,7%), faktor emosional tinggi . 6%), pengetahuan cukup . 2%), pengaruh orang lain yang dianggap lebih penting . 3%), pengalaman menangani korban sudah pernah . 9%), sikap negatif . 2%). Hasil menunjukkan variabel yang berhubungan dengan sikap polisi lalu lintas dalam pemberian bantuan hidup dasar pada pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas yaitu pengetahuan Pvalue = 0. pengalaman menangani korban Pvalue = Untuk variebel yang tidak berhubungan dengan sikap polisi lalu lintas dalam pemberian bantuan hidup dasar pada pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas yaitu faktor emosional Pvalue = 0. pengaruh orang lain yang dianggap lebih penting Pvalue = 0. Memberikan bantuan hidup dasar dibutuhkan sikap yang mampu untuk memberikan tindakan bantuan hidup dasar. Menurut Azwar . faktor-faktor yang mempengaruhi sikap seseorang antara lain: faktor yang pertama adalah pengalaman pribadi, pengetahuan, pengaruh orang yang dianggap lebih penting, faktor emosional mempertahankan ego yang sedang dialami karena adanya emosi dapat memperngaruhi sikap individu terhadap objek tertentu. Jika faktor-faktor terganggu maka akan Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila mempengaruhi sikap individu dalam pemberian tindakan bantuan hidup dasar. Menurut Lestari . , umumnya individu cendrung untuk memiliki sikap yang searah dengan sikap orang yang dianggapnya lebih penting. Kecendrungan ini biasanya berupa keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap lebih penting. Orang yang dianggap lebih penting biasanya adalah orang-orang yang berada disekitar antara lain orang tua, keluarga, atasan atau orang yang status sosial lebih tinggi, teman kerja, istri atau suami. Namun tidak semua individu yang memiliki kencendrungan ini karena sebagian individu menggunakan pengetahuan dan faktor emosional dalam pembentukan sikap. Jurnal Milda Wati . yang Berjudul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keterampilan Perawat Dalam Melakukan Tindakan Bantuan Hidup Dasar di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Intensive Care Unit (ICU) RSUD Lubuk Sikaping Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Penelitian ini telah dilaksanakan di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Intensive Care Unit (ICU) RSUD Lubuk Sikaping. Populasi dalam penelitian ini yaitu semua semua perawat yang bertugas di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Intensive Care Unit (ICU) RSUD Lubuk Sikaping. Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Dalam penelitian ini lebih di fokuskan pada faktor pengetahuan, pendidikan, pelatihan. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan pengetahuan . value =0,. , pendidikan . dan pelatihan . value = 0,. dengan tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Intensive Care Unit (ICU) RSUD Lubuk Sikaping. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Cristian . bahwa pengetahuan yang baik sangat berpengaruh pada keterampilan atau kemampuan seseorang menerapkan pengetahuan yang dimiliki kedalam bentuk tindakan dimana perawat harus memiliki keterampilan baik dalam komunikasi efektif, objektif dan kemampuan dalam membuat keputusan klinis secara tepat dan tepat agar perawatan setiap pasien menjadi maksimal. Menurut Sitorus . Tingkat pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan faktor-faktor sosial, perilaku demografi seperti pendapatan, gaya hidup, atau status kesehatan. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang, karena dapat membuat seseorang untuk lebih mudah menerima ide-ide atau teknologi (SDKI,2. Pendidikan keperawatan harus dikembangkanpada menghasilkan lulusan yang memiliki sikap, pengetahuan dan keterampilan profesional agar dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai perawat professional. Pendidikan perawat profesi akan mencerminkan kemampuan seseorang untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik. Orang yang mempunyai mempunyai pengalaman yang tinggi, dan memiliki pola pikir yang lebih matang sehingga bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tingkat pendidikan seseorang juga bisa menentukan kedudukan seseorang, semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula jabatan yang akan diduduki oleh seseorang Tingkat pendidikan yang tinggi akan mempunyai kemampuan berfikir yang matang, berfikir rasional sehingga akan terlihat kualitas kerja yang baik dibandingkan dengan tingkat pendidikan perawat vokasional (Wati, 2. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila Penelitian ini sejalan dengan teori Nurniningsih, 2021, lama seorang perawat yang bekerja dirumah sakit dari mulai awal bekerja sampai saat selesai seorang perawat berhenti bekerja. Semakin lama masa kerja seseorang dalam bekerja maka semakin banyak pengetahuan dan pengelaman yang dimilikinya, hal ini dapat membantu dalam Lama bekerja seseorang dapat diketahui dari mulai awal perawat bekerja sampai saat berhenti atau masa sekarang saat masih bekerja di rumah sakit. Semakin lama masa kerja seseorang maka akan semakin terampil dan pengalaman menghadapi masalah dalam pekerjaannya. Apabila seseorang bekerja belum cukup mengakibatkan hal-hal yang kurang baik antara lain belum menghayati pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Sedangkan sangat dibutuhkan dalam meningkatkan pengetahuan, dan pengalaman yang lebih pelatihan perawat dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan terhadap suatu tindakan yang akan dilakukan dalam suatu ruangan, sehingga perawat memiliki kualitas kerja yang baik. Pada penelitian ini melakukan perubahan atau mengubah perilaku seorang perawat dari tidak mengetahui menjadi mengetahui dan mampu melakukan tindakan tertentu. Pada penelitian ini dibutuhkan pelatihan kegawatdaruratan supaya perawat bisa melakukan penanganan pasien sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan (Wati. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dari artikel dan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat ditarik kesimpulan dari 6 faktor-faktor berhubungan dengan tindakan pemberian Bantuan Hidup Dasar (BHD) didapatkan beberapa faktor yang berhubungan dengan BHD diantaranya lama kerja, tingkat pendidikan, pelatihan, pengalaman, jenis kelamin, perilaku, norma subjektif. Perceived Behavior Control, emosional, dan pengaruh orang lain yang dianggap lebih penting. Dalam hal ini pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan Bantuan Hidup Dasar (BHD) sangat penting untuk dipelajari oleh masyarakat umum dalam menangani korban-korban kecelakaan maupun korban cedera lainnya yang bertujuan untuk mempertahankan hidup dan mencegah terjadinya kecacatan. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan cara memberikan penyuluhan atau pelatihan kepada masyarakat awam mengenai pengetahuan dan keterampilan dari Bantuan Hidup Dasar (BHD). Saran Bagi STIKES Mitra Adiguna Palembang Bagi diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemberian informasi dan menjadi bahan bacaan ilmiah atau materi keperawatan untuk mengetahui faktorfaktor yang berhubungan dengan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Bagi Masyarakat Umum Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada melakukan BHD. Sehingga, masyarakat akan memiliki pengetahuan dan wawasan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Bagi Peneliti Selanjutnya Dapat melakukan penelitian serupa dengan menggunakan sampel yang lebih banyak lagi, serta menambahkan variabel lain dan melakukan penelitian dengan menggunakan metode yang berbeda sehingga penelitian tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dapat lebih bervariasi. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Fitriyanti. A Fadila DAFTAR PUSTAKA