ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 ANALISIS FAKTOR RISIKO PADA KANKER SERVIKS DI RUMAH SAKIT BADAN PENGUSAHAAN BATAM Acholder T Perdoman1. Andi Ipaljri Saputra2. Yafia Rahmi3 1Fakultas Kedokteran Universitas Batam, acholderperdoman@univbatam. 2Fakultas Kedokteran Universitas Batam, andiipaljrisaputra@univbatam. 3Fakultas Kedokteran Universitas Batam, yafiarahmi@gmail. ABSTRACT Background: Cervical cancer is a leading cause of cancer-related death among women worldwide, with a high prevalence, particularly in developing countries. The primary cause of cervical cancer is infection with the human papillomavirus (HPV). Other risk factors include smoking habits, a history of vaginal childbirth, the use of hormonal contraceptives, and age. Methods: The study uses a quantitative approach with an analytical observational design employing Pearson correlation analysis. Data is collected from patient medical records. Results: The research results on 183 samples showed a strong correlation . =0. = . between smoking history and cervical cancer, a moderate correlation . =0. = . between vaginal delivery history and cervical cancer, a very weak correlation . =0. = 0. between contraceptive use and cervical cancer, and a weak correlation . =0. = 0. between age and cervical cancer in OB-GYN patients at the Batam Free Trade Zone Hospital in 2023. Conclusion: Based on this research, it is concluded that the null hypothesis (Ha ) is rejected and the alternative hypothesis (H. is accepted, meaning there is a correlation between smoking history, vaginal delivery history, contraceptive use, age, and cervical cancer in OBGYN patients at the Batam Free Trade Zone Hospital in 2023 Keywords: Cervical cancer. Smoking habits. Vaginal childbirth. Hormonal contraceptives. Age ABSTRAK Latar Belakang: Kanker serviks merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita di seluruh dunia, dengan prevalensi tinggi terutama di negara berkembang. Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi human papilomavirus (HPV). Faktor risiko lainnya meliputi kebiasaan merokok, riwayat bersalin pervaginam, hubungan seksual usia dini, multi partner sex, pemakaian kontrasepsi hormonal, dan usia. Multiple Sex Partner, melakukan aktivitas seksual pada usia. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan korelasi pearson. Data diambil dari rekam medis pasien obgyn RSBP Batam Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik quota sampling sebanyak 183 sampel. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi pearson Hasil: Hasil penelitian pada 183 sampel terdapat korelasi kuat . =0. = 0. antara riwayat lama merokok dengan kanker serviks, korelasi sedang . =0. = 0. antara riwayat persalinan pervaginam dengan kanker serviks, korelasi sangat lemah . =0. = 0. , antara pemakaian kontrasepsi dengan kanker serviks, korelasi lemah . =0. = 0. , antara dan usia dengan kanker serviks pada Pasien obgyn Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam tahun 2023. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa bahwa Ha ditolak dan Ha diterima atau terdapat korelasi riwayat merokok, riwayat persalinan pervaginam, pemakaian kontrasepsi, usia, dengan kanker serviks pada Pasien obgyn Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam tahun 2023. Kata kunci: Kanker serviks, kebiasaan merokok, riwayat persalin pervaginam, riwayat penggunaa kontrasepsi, usia Universitas Batam Page 146 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 PENDAHULUAN Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum ditemukan pada perempuan dan menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di kalangan wanita di seluruh dunia. Setiap dua menit, seorang wanita kehilangan nyawanya akibat kanker serviks di seluruh Berdasarkan data Global Burden of Cancer, penyakit ini menempati peringkat keempat sebagai jenis kanker yang paling banyak menyerang perempuan secara Pada tahun 2020, sekitar 604. wanita didiagnosis mengidap kanker serviks, dan sebanyak 342. 000 di antaranya meninggal dunia (Sung et al. , 2021 & Arbyn et al. , 2020 ). Penyakit ini berkembang di serviks, yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan Infeksi Human Papillomavirus (HPV) adalah penyebab utama dari kanker Meskipun kanker ini dapat dicegah dengan vaksinasi HPV dan pemeriksaan rutin seperti tes Pap, tetap saja kanker serviks menjadi tantangan kesehatan global yang serius. Deteksi dini dan penanganan disebabkan oleh kanker serviks Di Indonesia, angka kematian akibat kanker serviks sangat tinggi, dengan satu perempuan meninggal setiap jam. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO 2. Indonesia mencatat jumlah kasus baru tertinggi ketiga dan angka kematian tertinggi keempat di kawasan Asia Tenggara. Penyakit ini juga menjadi jenis kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia, dengan angka kejadian 23,4 kasus per 100. 000 penduduk dan tingkat kematian mencapai 13,9 kasus per 100. Kanker serviks merupakan tumor ganas yang berkembang pada leher rahim akibat pertumbuhan abnormal sel epitel serviks, yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan perempuan. Penyebab utamanya adalah infeksi human papillomavirus (HPV) yang berlangsung lama, terutama di negaranegara Universitas Batam Skrining berbasis HPV sangat penting untuk pencegahan dan deteksi dini (Evriati & Yasmon, 2. Sebagian besar kasus kanker serviks ditularkan melalui kontak seksual. Terdapat 15 jenis HPV yang berisiko menyebabkan kanker serviks, di antaranya tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 73. Dari jumlah tersebut. HPV tipe 16 dan 18 menjadi penyebab lebih dari 75% kasus (Jhingran & Rodriguez, 2. Namun, keberadaan virus HPV saja tidak cukup untuk menyebabkan kanker. Faktor lain seperti sistem kekebalan tubuh yang lemah, kebiasaan merokok, penggunaan kontrasepsi, serta faktor genetik juga Penyakit ini lebih sering terjadi pada perempuan yang telah menikah atau aktif secara seksual. Selain itu, wanita dengan HIV memiliki risiko enam kali lebih tinggi terkena kanker serviks, dengan sekitar 6% kasus global terjadi pada penderita HIV. Imunisasi dapat membantu mengurangi risiko infeksi HPV pada kelompok ini (Stelzle et al. , 2. Berbagai penelitian menunjukkan adanya 30 faktor risiko utama yang berkaitan dengan kanker serviks. Beberapa di antaranya adalah memiliki lebih dari satu pasangan seksual, berhubungan seksual di usia muda, kebiasaan merokok, faktor keturunan, riwayat persalinan pervaginam, penggunaan kontrasepsi hormonal, dan pasangan dengan riwayat hubungan seksual multipel (Aballya et al. , 2. Menurut Fonseca-Moutinho . , kebiasaan merokok meningkatkan risiko HPV berkembangnya neoplasia serviks dan kanker serviks. Nikotin dalam rokok juga berdampak pada sistem imun lokal, meningkatkan risiko karsinogenesis serviks. Wanita yang merokok memiliki risiko 4 hingga 13 kali lebih tinggi mengalami kanker serviks dibandingkan yang tidak merokok (Winarto & Hariyono, 2. Selain itu, riwayat melahirkan juga menjadi faktor risiko. Studi oleh Pranitia menemukan bahwa jumlah anak dan jarak antar kehamilan mempengaruhi risiko Page 147 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 kanker serviks. Wanita yang sering melahirkan dalam rentang waktu yang pendek lebih rentan mengalami luka pada organ reproduksi, yang memperbesar kemungkinan infeksi HPV. Perubahan berkontribusi terhadap penurunan daya tahan tubuh, meningkatkan risiko kanker Diketahui bahwa perempuan yang melahirkan tiga kali atau lebih memiliki risiko lebih besar terkena kanker serviks (Chandrawati & Ravik. Tingginya angka kejadian kanker serviks sebagian besar disebabkan oleh rendahnya kesadaran serta keterbatasan akses terhadap skrining dan vaksinasi HPV (Sung et al. , 2. Sekitar 80% kasus yang terdiagnosis sudah berada dalam stadium lanjut atau bahkan tahap terminal, sehingga angka kematian tinggi. Oleh karena itu, diperlukan analisis menyeluruh terhadap faktor risiko kanker serviks di bidang obstetri dan ginekologi guna merumuskan strategi pencegahan yang lebih efektif. Di Kota Batam. Dinas Kesehatan mencatat 96 kasus kanker serviks dalam periode Januari hingga Juni 2024, menjadikannya jenis kanker terbanyak kedua di wilayah tersebut. Angka ini juga didukung dengan keberadaan layanan deteksi dini di seluruh puskesmas Kota Batam. Berdasarkan data rekam medis dari Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam, pada tahun 2023 terdapat 562 kasus kanker serviks, yang merupakan jumlah cukup signifikan dibandingkan total kasus kanker lainnya di rumah sakit tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko dan kejadian kanker serviks pada suatu periode tertentu. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari catatan rekam medis pasien yang menjalani perawatan di departemen obstetri dan ginekologi di Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam sepanjang tahun 2023. Universitas Batam Pengambilan menggunakan metode quota sampling, yang memungkinkan penelitian ini untuk memperoleh representasi yang seimbang dari populasi pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 183 pasien. Untuk menganalisis hubungan antara variabel dalam penelitian ini, digunakan uji korelasi Pearson, yang bertujuan untuk mengukur kekuatan serta arah hubungan antara faktor risiko dengan kejadian kanker HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Usia Tabel 1. Distribusi Frekuensi Usia Tingkat Usia < 35 tahun Ou35 tahun Total Frekuensi . Persentase (%) Dari Tabel 1, dari 183 sampel yang diteliti dapat diketahui data distribusi frekuensi usia responden. Didapatkan untuk usia sampel Ou35 tahun lebih banyak persen persentase . ,5%) . dibandingkan dengan < 35 tahun. Dalam penelitian ini termasuk dalam kelompok usia di atas 35 tahun, yang merupakan kelompok dengan risiko lebih tinggi terhadap kanker serviks dari usia yang lebih mudah. Penurunan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi HPV dan perubahan fisiologis yang terjadi seiring bertambahnya usia, berkontribusi pada peningkatan kerentananya terhadap kanker (Arbyn et al. , 2020. Smith et al. Lesi pra-kanker serviks lebih sering ditemukan pada wanita berusia di atas 35 tahun, dengan puncaknya terjadi pada kelompok usia 40 hingga 55 tahun. Peningkatan risiko ini terjadi akibat paparan karsinogen yang semakin lama serta menurunnya sistem kekebalan tubuh seiring bertambahnya usia (Winarto, 2. Berdasarkan hasil penelitian, pada usia Ou35 tahun menunjukkan angka yang lebih Page 148 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 tinggi, yaitu 173 responden, yang mengindikasikan bahwa risiko kanker serviks meningkat seiring bertambahnya Wanita berusia lebih dari 35 tahun lebih rentan terhadap infeksi HPV dan mengalami penurunan daya tahan tubuh meningkatkan peluang terjadinya kanker Oleh karena itu, penting bagi kelompok usia ini untuk menjalani pemeriksaan rutin dan vaksinasi HPV untuk mendeteksi dan mencegah kanker serviks sejak dini. Distribusi Frekuensi Riwayat Lama Merokok Tabel 2. Distribusi Frekuensi Riwayat Merokok Riwayat lama Merokok <5 tahun Ou5 tahun Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan Tabel 2, dari 183 sampel yang diteliti, sebanyak 114 pasien . %) memiliki riwayat merokok kurang dari lima tahun, sementara 69 pasien . %) telah merokok selama lima tahun atau lebih. Temuan ini sejalan dengan penelitian Rainta, yang menegaskan bahwa merokok merupakan salah satu faktor risiko utama kanker serviks. Kandungan zat berbahaya dalam rokok dapat merusak sel-sel serviks dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga meningkatkan risiko infeksi HPV penyebab utama kanker serviks. (FonsecaMoutinho,2. Merokok dikaitkan dengan peningkatan infeksi HPV serta risiko neoplasia dan Efek tembakau dan dampaknya terhadap sistem imun lokal berperan dalam karsinogenesis Wanita perokok memiliki risiko 4 hingga 13 kali lebih tinggi terkena kanker non-perokok (Winarto & Hariyono, 2. Nikotin merusak mukosa rahim dan mempercepat perkembangan sel kanker, sementara merokok juga melemahkan sistem imun, meningkatkan kerentanannya terhadap Universitas Batam infeksi HPV yang berhubungan dengan kanker serviks (Jean Paul et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian, pasien dengan riwayat merokok lebih dari 5 tahun . %) memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker serviks. Merokok dalam jangka panjang dapat merusak sel serviks dan menurunkan sistem kekebalan tubuh, yang memperburuk kondisi infeksi HPV, penyebab utama kanker serviks. Zat kimia dalam rokok, seperti nikotin, mempercepat kerusakan sel dan memicu perkembangan Oleh karena itu, penghentian merokok sangat penting untuk mengurangi risiko kanker serviks. Distribusi Frekuensi Riwayat Persalinan Pervaginam Tabel 3. Distribusi Riwayat Persalinan Pervaginam Riwayat Persalinan Pervaginam Nullipara Primipara Multipara Grandemultipara Total Frekuensi . Persentase (%) Dari tabel 3 dapat diketahui distribusi Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 183 sampel yang dianalisis, sebanyak 111 pasien . ,7%) tergolong Multipara, 57 pasien . ,1%) termasuk dalam kategori Grandemultipara, 12 pasien . ,6%) merupakan Primipara, dan 3 pasien . ,6%) masuk dalam kelompok Nullipara. Penelitian Rainta, . menunjukkan bahwa riwayat melahirkan lebih dari tiga kali merupakan faktor risiko kanker serviks. Persalinan berulang kali dapat meningkatkan paparan hormon, menyebabkan trauma pada jaringan serviks, serta meningkatkan risiko infeksi, yang perkembangan kanker serviks. Menurut penelitian Pranitia dkk. jumlah anak dan jarak antar kehamilan berpengaruh terhadap risiko kanker serviks. Wanita yang sering melahirkan dengan jeda kehamilan yang singkat lebih rentan mengalami luka di organ reproduksi. Page 149 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 sehingga lebih mudah terinfeksi HPV. Selain itu, perubahan hormon selama kehamilan juga mempengaruhi daya tahan tubuh, meningkatkan risiko perkembangan kanker serviks. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 111 pasien . ,7%) dengan riwayat Multipara melahirkan lebih dari satu kali memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker serviks. Pengalaman menyebabkan trauma pada serviks dan perubahan hormon yang berkontribusi pada peningkatan risiko. Meskipun multiparitas meningkatkan risiko, faktor lain seperti infeksi HPV, merokok, dan pemeriksaan rutin juga memainkan peran penting. Oleh karena itu, wanita dengan riwayat multipara perlu menjalani pemeriksaan kanker serviks secara teratur untuk deteksi dini. Distribusi Frekuensi Riwayat Pemakaian Kontrasepsi Tabel 4. Distribusi Riwayat Pemakaian Kontrasepsi Riwayat Pemakaian Kontrasepsi Tidak Hormonal IUD Tubektomi Total Frekuensi . Persentase (%) Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 183 sampel, sebanyak 96 pasien . ,5%) menggunakan kontrasepsi hormonal, 39 pasien . ,3%) tidak menggunakan kontrasepsi, 36 pasien . ,7%) memakai kontrasepsi IUD, dan 12 pasien . ,6%) menjalani tubektomi. Menurut Dina Azmilatun Waliyuna di RSUD Dr. Soetomo, . menunjukkan bahwa mayoritas pasien kanker serviks yang menggunakan kontrasepsi hormonal suntik selama lebih dari lima tahun berusia antara 41 hingga 50 Hasil menunjukkan Squamous Cell Carcinoma, dan sebagian besar belum pernah menjalani pemeriksaan deteksi dini seperti pap smear. Universitas Batam Penggunaan kontrasepsi hormonal progesteron dapat meningkatkan risiko pertumbuhan sel abnormal yang berpotensi menjadi kanker. Konsumsi pil kontrasepsi dalam jangka panjang juga dapat meningkatkan risiko kanker serviks, meskipun risiko ini akan berkurang setelah Sebaliknya, menggunakan IUD diketahui memiliki risiko lebih rendah terkena kanker serviks, bahkan pemakaian IUD juga dikaitkan Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak . ,5%) Penggunaan kontrasepsi ini diketahui dapat berhubungan dengan peningkatan risiko kanker serviks, kekebalan tubuh dan meningkatkan kerentanannya terhadap infeksi HPV. Meskipun demikian, kontrasepsi hormonal tetap menjadi pilihan utama untuk Oleh karena itu, penting bagi wanita yang menggunakan metode ini untuk menjalani pemeriksaan rutin untuk deteksi dini kanker serviks. Distribusi Frekuensi Derajat Kanker Serviks Tabel 5. Distribusi Frekuensi Derajat Kanker Serviks Derajat Kanker Serviks CIN 1 CIN 2 CIN 3 Invasive Ca Total Frekuensi . Persentase (%) Tabel 6 menunjukkan distribusi derajat kanker serviks dari yang paling umum hingga yang paling jarang. Dari 183 pasien, 91 sampel . ,7%) didiagnosis dengan CIN 3, 65 sampel . ,5%) dengan CIN 2, 15 sampel . ,2%) dengan kanker invasif Page 150 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 (Invasive C. , dan 12 sampel . ,6%) dengan CIN 1. Menurut Winata ,. kanker serviks menjadi salah satu penyakit yang paling banyak diderita oleh wanita di seluruh Human papillomavirus (HPV) merupakan penyebab utama kanker serviks, sehingga penyakit ini dapat dicegah. Sebelum berkembang menjadi kanker serviks invasif, lesi prakanker serviks berkembang dan diklasifikasikan menjadi 3 stadium: CIN1 (LSIL). CIN2, dan CIN3 (CIN2 atau disebut juga HSIL). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyusun program Aoscreen-and-treatAo untuk mengobati lesi prakanker serviks segera sebelum berkembang menjadi Namun, diperlukan modalitas yang sederhana dan aman dengan efikasi yang tinggi untuk mengakomodasi strategi ini. Asam trikloroasetat (TCA) memiliki penelitian menunjukkan efikasi yang tinggi untuk mengobati lesi prakanker serviks dengan cara yang sederhana, aman, dan hemat biaya. TCA berpotensi menjadi pengobatan yang efektif untuk lesi prakanker serviks. CIN adalah kondisi diklasifikasikan menjadi tiga tingkat CIN 1 kondisi perubahan sel ringan yang biasanya tidak memerlukan pengobatan dan sering kali sembuh dengan sendirinya dalam waktu satu tahun. Sedangkan pada CIN 2 perubahan sel sedang yang mempengaruhi dua pertiga ketebalan epitel serviks. Ada risiko lebih tinggi bahwa sel abnormal ini dapat berkembang menjadi kanker serviks jika tidak ditangani. Dan pada CIN 3 perubahan sel berat yang mempengaruhi seluruh ketebalan epitel serviks. CIN 3 sering disebut sebagai karsinoma in situ dan dianggap sebagai tahap prakanker yang memerlukan pengobatan untuk mencegah perkembangan menjadi kanker serviks CIN 3 adalah bentuk perubahan sel yang paling parah pada serviks, yang mempengaruhi seluruh ketebalan epitel Pada tahap ini, sel-sel abnormal memiliki potensi untuk berkembang menjadi kanker serviks invasif jika tidak mendapatkan pengobatan yang tepat. Penelitian menunjukkan bahwa CIN 3 merupakan tahap yang sangat rentan untuk berkembang menjadi karsinoma serviks invasif, yaitu kanker serviks yang telah menyebar ke jaringan di luar serviks. Oleh karena itu, deteksi dini dan intervensi medis sangat penting pada tahap CIN 3 untuk mencegah perkembangan ke stadium kanker invasif Berdasarkan hasil penelitian, diagnosis CIN 3 menunjukkan bahwa kondisi ini sudah mencapai tahap prakanker pada Universitas Batam Page 151 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 Analisis Bivariat Distribusi Faktor Faktor Yang Berisiko Terhadap Derajat Keparahan Kanker Serviks Tabel 7. Distribusi Faktor Faktor Yang Berisiko Terhadap Derajat Keparahan Kanker Serviks Variabel Independen C1N1 Riwayat Merokok Riwayat Persalinan Pevaginam Riwayat Pemakaian Kontrasepsi Usia <5 tahun Ou5 tahun Nullipara Primipara Multipara Grandemultipara Tidak kontrasepsi Hormonal IUD Tubektomi <35 tahun Ou35 tahun Kanker Serviks CIN2 CIN3 Hubungan riwayat lama meroko dengan kanker serviks Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada responden dengan riwayat merokok kurang dari 5 tahun, tingkat keparahan kanker serviks didominasi oleh CIN 2 dan CIN 3, masing-masing dengan 54 sampel . ,4%). Sementara itu. CIN 1 ditemukan pada 6 sampel . ,3%) dan tidak ada kasus Invansive Ca . ,0%). Sebaliknya, pada responden dengan riwayat merokok lebih dari 5 tahun, kasus CIN 3 menjadi yang paling dominan dengan 37 sampel . ,6%), diikuti oleh Invansive Ca sebanyak 15 sampel . ,7%). CIN 2 sebanyak 11 sampel . ,9%), dan CIN 1 dengan 6 sampel . ,7%). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin lama seseorang memiliki riwayat merokok, berkembangnya kanker serviks ke tahap yang lebih berat. Berdasarkan hasil analisis dari korelasi antara riwayat merokok dengan kejadian kanker serviks memiliki nilai r = 0. yang menunjukkan adanya korelasi kuat antara kedua variabel tersebut. Hasil uji Universitas Batam Total Invasive Pvalue statistik menunjukkan korelasi yang bermakna dengan p-value sebesar 0. sehingga hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (Ha. Data dari Rumah Sakit Onkologi Surabaya mengungkapkan bahwa zat-zat berbahaya dalam rokok dapat diserap oleh paru-paru dan kemudian disebarkan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Wanita perokok memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak Zat-zat kimia dalam rokok berpotensi merusak DNA sel serviks, yang pada akhirnya meningkatkan risiko kanker Selain itu, kebiasaan merokok juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi, termasuk infeksi Human Papillomavirus (HPV). Menurut Armenda & Helda, . penelitian menunjukkan bahwa baik perokok aktif maupun pasif memiliki risiko lebih tinggi dalam mempercepat progresivitas infeksi HPV menjadi lesi prakanker dan bahkan kanker serviks Sebuah studi longitudinal oleh Page 152 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 Trimble . di Amerika Serikat menemukan bahwa perokok aktif dan pasif memiliki risiko yang signifikan terhadap perkembangan lesi prakanker atau Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN). Hal ini diperkuat oleh penelitian Torres et al. yang menyatakan bahwa wanita yang masih aktif merokok memiliki risiko relatif dua kali lebih tinggi mengalami lesi prakanker berat . % CI: 1,2-3,. Namun, dalam kedua studi ini tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara riwayat merokok di masa lalu dengan kejadian lesi Analisis korelasi yang kuat antara riwayat merokok dan kejadian kanker serviks dengan nilai r = 0. 722, serta p-value sebesar 0. 000, yang menegaskan adanya hubungan signifikan antara kedua faktor tersebut. Zat berbahaya dalam rokok, termasuk nikotin dan tar, dapat merusak DNA sel-sel serviks, yang memicu perkembangan sel abnormal dan meningkatkan risiko kanker serviks. Selain itu, merokok juga dapat menurunkan kekebalan tubuh, membuat individu lebih rentan terhadap infeksi HPV yang merupakan penyebab utama kanker serviks. Hubungan pervaginam dengan kanker serviks Pada kelompok wanita yang belum pernah melahirkan . , kasus kanker serviks didominasi oleh CIN 1 dengan 2 sampel . ,7%) dan CIN 2 dengan 1 sampel . ,3%), sementara tidak ditemukan kasus CIN 3 maupun Invansive Ca. Di kelompok primipara . anita yang pernah melahirkan satu kal. CIN 1 ditemukan pada 6 sampel . ,0%), diikuti oleh CIN 2 pada 5 sampel . ,7%), dan CIN 3 pada 1 sampel . ,3%). Tidak ada kasus Invansive Ca dalam kelompok ini. Pada kelompok multipara . anita yang pernah melahirkan lebih dari satu kali tetapi kurang dari lima kal. , distribusi kanker serviks didominasi oleh CIN 2 dengan 54 sampel . ,6%) dan CIN 3 dengan 53 sampel . ,7%). Sementara itu. CIN 1 hanya ditemukan pada 4 sampel . ,6%), dan tidak ada kasus Invansive Ca. Universitas Batam Di kelompok grandemultipara . anita yang telah melahirkan lima kali atau lebi. CIN 3 menjadi kasus yang paling banyak ditemukan dengan 37 sampel . ,9%), diikuti oleh Invansive Ca sebanyak 15 sampel . ,3%). CIN 2 dengan 5 sampel . ,8%), dan tidak ada kasus CIN 1. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin sering seorang wanita melahirkan secara pervaginam, semakin tinggi risiko berkembangnya kanker serviks ke tahap yang lebih lanjut Menurut penelitian herlana et al . pada angka paritas, semakin besar risiko seorang wanita mengalami kanker Meskipun demikian, paritas bukanlah penyebab langsung, melainkan faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena kanker Trauma serviks yang terjadi akibat persalinan serta luka yang berulang pada organ reproduksi selama proses persalinan dapat meningkatkan risiko masuknya HPV, yang merupakan agen utama penyebab kanker serviks. Selain itu, perubahan kadar hormon progesteron dan estrogen selama kehamilan juga dapat berperan dalam perkembangan kanker serviks. Selama perempuan lebih rentan terhadap infeksi HPV dan perkembangan sel kanker. Selain itu, imunitas tubuh yang lebih rendah selama kehamilan dan persalinan juga berkontribusi dalam meningkatkan risiko kanker serviks. Penelitian Damayanti et al. menemukan bahwa wanita dengan paritas lebih dari tiga kali memiliki risiko 3,1 kali lebih tinggi terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita dengan paritas tiga kali atau kurang (OR 3,1. CI: 1,1-8,7. p = 0. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sharma dan Sanjay . , yang menyebutkan bahwa wanita dengan paritas tiga hingga lima kali memiliki risiko 3,16 kali lebih tinggi mengalami kanker serviks dibandingkan dengan wanita dengan paritas kurang dari tiga kali . OR 3,16. 95% CI: 1,12-8,91. p = 0. Page 153 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 Berdasarkan data yang ada, wanita yang nullipara . elum pernah melahirka. menunjukkan mayoritas kasus kanker serviks dalam bentuk CIN 1, dengan tidak ada temuan CIN 3 atau Invansive Ca. Sementara itu, pada kelompok primipara . ernah melahirkan satu kal. , terdapat distribusi yang lebih beragam dengan CIN 1 sebagai temuan dominan, tetapi juga ada kasus CIN 3 meski dalam jumlah kecil. Pada kelompok multipara . ebih dari satu, tetapi kurang dari lima kali melahirka. , temuan didominasi oleh CIN 2 dan CIN 3, sementara pada grandemultipara . ima kali atau lebi. , kasus CIN 3 dan Invansive Ca lebih banyak ditemukan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan risiko kanker serviks seiring dengan semakin seringnya seorang wanita melahirkan. Hubungan riwayat pemakaian kontresespsi dengan kanker serviks Pada kelompok wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi, kanker serviks paling banyak ditemukan dalam bentuk CIN 3 dengan 24 sampel . ,5%), diikuti oleh Invansive Ca dengan 12 sampel . ,8%). CIN 2 sebanyak 2 sampel . ,1%), dan CIN 1 sebanyak 1 sampel . ,6%). Sementara itu, pada kelompok pengguna kontrasepsi hormonal, kasus terbanyak adalah CIN 2 dengan 50 sampel . ,1%), diikuti oleh CIN 3 dengan 36 sampel . ,5%). CIN 1 dengan 10 sampel . ,4%), dan tidak ditemukan kasus Invansive Ca. Pada pengguna kontrasepsi IUD . , distribusi kasus menunjukkan dominasi CIN 3 dengan 21 sampel . ,3%), diikuti oleh CIN 2 dengan 12 sampel . ,3%). Invansive Ca dengan 2 sampel . ,6%), dan CIN 1 dengan 1 sampel . ,6%). Sedangkan pada kelompok wanita yang menjalani tubektomi . terilisasi permane. CIN 3 menjadi kasus terbanyak dengan 10 sampel . ,3%), diikuti oleh CIN 2 dan Invansive Ca yang masingmasing memiliki 1 sampel . ,3%), dan tidak ditemukan kasus CIN 1 Berdasarkan hasil analisis dari nilai korelasi antara riwayat pemakaian Universitas Batam kontrasepsi dengan kejadian kanker serviks sebesar r = 0. 106, yang menunjukkan korelasi yang sangat lemah. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan p-value 154, sehingga hipotesis nol (H. diterima dan hipotesis alternatif (Ha. Dengan demikian, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan kontrasepsi dengan kejadian kanker serviks. Penelitian yang dilakukan di Poli Onkologi Satu Atap RSUD Dr. Soetomo . menunjukkan bahwa mayoritas penderita kanker serviks dalam penelitian ini telah menggunakan kontrasepsi selama lebih dari lima tahun, dengan jumlah mencapai 179 penderita . ,3%). Hasil ini konsisten dengan penelitian El-Moselhy et . , yang menyebutkan bahwa penggunaan kontrasepsi hormonal lebih dari lima tahun meningkatkan risiko kanker serviks sebesar 2,86 kali lipat. Menurut penelitian Meihartati, . berkontribusi dalam meningkatkan risiko kontrasepsi hormonal adalah perubahan menyebabkan agen karsinogenik, termasuk HPV, lebih lama bertahan di serviks. Selain itu, kontrasepsi hormonal juga dapat menyebabkan defisiensi asam folat, yang berperan dalam metabolisme mutagen, sehingga dapat meningkatkan risiko mutasi Estrogen juga diduga berperan sebagai kofaktor yang memicu replikasi DNA HPV, yang pada akhirnya dapat Berdasarkan data yang ada. Pada kelompok wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi, kanker serviks paling sering ditemukan dalam bentuk CIN 3 . ,5%) dan Invansive Ca . ,8%). Pada kelompok pengguna kontrasepsi hormonal, kasus terbanyak adalah CIN 2 . ,1%), diikuti oleh CIN 3 . ,5%). Pengguna IUD juga menunjukkan dominasi CIN 3 . ,3%), dengan sedikit kasus Invansive Ca . ,6%). Wanita yang menjalani Page 154 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 memiliki angka tertinggi untuk CIN 3 . ,3%). Dengan signifikan antara penggunaan kontrasepsi dan kejadian kanker serviks, dengan nilai korelasi yang sangat lemah . = 0,. dan p-value 0,154. Penelitian sebelumnya kontrasepsi hormonal dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker serviks hingga 2,86 kali lipat. Mekanisme yang mungkin terlibat termasuk perubahan memperpanjang paparan HPV serta peran estrogen dalam mempercepat replikasi DNA HPV. Hubungan anatar usia dengan kanker serviks Pada kelompok usia di bawah 35 tahun, kanker serviks paling banyak ditemukan dalam bentuk CIN 2 dengan 6 sampel . ,0%) dan CIN 1 dengan 4 sampel . ,0%). Tidak ditemukan kasus CIN 3 maupun Invansive Ca dalam kelompok usia ini. Sebaliknya, pada wanita berusia 35 tahun ke atas, kasus CIN 3 mendominasi dengan 91 sampel . ,6%), diikuti oleh CIN 2 sebanyak 59 sampel . ,1%). Invansive Ca dengan 15 sampel . ,7%), dan CIN 1 dengan 8 sampel . ,6%). Temuan ini mengindikasikan bahwa risiko kanker serviks yang lebih berat meningkat seiring bertambahnya usia. Korelasi antara variabel usia dengan kanker serviks adalah diperoleh r= 0. yang dimana bermakna korelasi antara variabel ini sangat lemah. Hasil uji statistik menunjukan terdapat korelasi yang bermakna antara usia dengan kanker serviks. Dari hasil uji korelasi pearson didapatkan p-value sebesar 0,000 sehingga H01 ditolak dan Ha1 diterima. Menurut penelitian Nike Arta . bahwa perempuan yang rawan menderita kanker serviks sebagian besar berusia >35 Pada usia 35-55 tahun memiliki risiko 2-3 kali lipat untuk menderita kanker mulut rahim . Semakin tua usia Universitas Batam kemunduran, proses tersebut tidak terjadi pada suatu alat saja tetapi pada seluruh organ tubuh. Semua bagian mengalami kemunduran, sehingga pada usia lanjut lebih banyak kemungkinan jatuh sakit, atau mudah mengalami infeksi. Sejalan dengan penelitian eka setiarini . bahwausia >35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker serviks. Semakin tua usia seseorang, maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker serviks. Meningkatnya risiko kanker serviks pada meningkat dan bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta makin lemahnya sistem kekebalan tubuh akibat usia sehingga penderita kanker serviks yang memiliki usia lebih tua ratarata datang dengan stadium yang telah Berdasarkan data yang ada. Pada wanita berusia di bawah 35 tahun, kanker serviks sebagian besar ditemukan dalam bentuk CIN 2 . %) dan CIN 1 . %), tanpa adanya kasus CIN 3 atau Invansive Ca. Di sisi lain, pada wanita berusia 35 tahun ke atas, kasus CIN 3 menjadi yang paling dominan . ,6%), diikuti oleh CIN 2 . ,1%) dan Invansive Ca . ,7%). Ini menunjukkan bahwa risiko kanker serviks yang lebih berat meningkat seiring bertambahnya usia. Analisis statistik menunjukkan adanya korelasi yang lemah antara usia dan kejadian kanker serviks dengan nilai r sebesar 0. Uji korelasi Pearson menghasilkan p-value 0,000, yang menunjukkan bahwa hubungan ini signifikan secara statistik. Artinya, meskipun korelasinya lemah, semakin tinggi usia seseorang, semakin besar pula peluang mereka untuk mengalami kanker KONTRIBUSI TEMUAN DALAM BIDANG KEILMUAN Temuan memberikan kontribusi signifikan dalam kesehatan reproduksi dan onkologi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan Page 155 ZONA KEDOKTERAN VOL. 15 NO. 2 MEI 2025 yang kuat antara riwayat merokok dengan kanker serviks, yang memperkuat bukti ilmiah mengenai peran faktor gaya hidup dalam perkembangan penyakit ini. Selain itu, hubungan sedang antara riwayat persalinan pervaginam dengan kanker serviks menambah wawasan tentang pengaruh trauma serviks akibat persalinan terhadap risiko kanker serviks. Penemuan mengenai hubungan yang sangat lemah antara penggunaan kontrasepsi dan usia dengan kejadian kanker serviks juga memberikan pemahaman baru terkait faktor risiko yang lebih dominan dalam patogenesis kanker serviks. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam merancang program pencegahan dan edukasi masyarakat mengenai faktor risiko kanker serviks, serta dapat menjadi referensi bagi penelitian lebih lanjut dalam bidang epidemiologi kanker serviks. SIMPULAN Hasil penelitian yang dilakukan pada 183 sampel di Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam Tahun 2025. Analisis korelasi menunjukkan bahwa riwayat merokok memiliki hubungan yang kuat dengan kanker serviks . -value 0. 000, r= . , riwayat persalinan pervaginam memiliki hubungan sedang dengan kanker serviks . -value 0. 000, r= 0. penggunaan kontrasepsi memiliki hubungan yang sangat lemah dengan kanker serviks . -value 0. 154, r= 0. , sedangkan usia memiliki hubungan yang sangat lemah dengan kanker serviks . -value 0. 000, r= UCAPAN TERIMAKASIH Peneliti mengucapkan terimakasih kepada penanggung jawab tempat penelitian yaitu Bapak/Ibu Direktur Rumah Sakit Badan Pengusahaan Kota Batam yang telah megizinkan peneliti mengambil data penelitian untuk menyelesaikan penelitian SARAN Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi responden untuk meningkatkan Universitas Batam pengetahuan dan kesadaran tentang pencegahan kanker serviks, bagi rumah pelayanan kesehatan, bagi institusi pendidikan sebagai referensi ilmiah, dan bagi penelitian selanjutnya sebagai dasar untuk studi lebih lanjut mengenai faktor risiko dan pencegahan kanker serviks. DAFTAR PUSTAKA