JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Strategi Pembelajaran Kolaboratif dalam Meningkatkan Hafalan Al-QurAoan Anak: Studi di PKBM Liwaul Hamdi *Miftahurrahmat1. Mashuri Mashuri2. Nurjanah Ismail3. Abdul Hadi4 1-4 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh. Aceh. Indonesia Email: rahmatyana791@gmail. Abstract This study aims to determine the form of cooperation between teachers and parents in improving children's responsibility in memorising the Qur'an at PKBM Liwaul Hamdi. This study uses a descriptive qualitative method with data collection techniques through observation, questionnaires, and interviews. The results of the study indicate that the active roles of teachers and parents are crucial in supporting children in memorising the Qur'an. Positive attitudes, exemplary behaviour, and integrity on the part of teachers and parents are key factors in fostering children's sense of responsibility towards their memorisation. Additionally, intensive communication and the ability to manage emotions in supervising children constitute effective forms of collaboration. This study emphasises that collaboration between teachers and parents not only impacts children's memorisation success but also shapes their character and religious attitudes. Therefore, this synergistic relationship needs to be consistently nurtured in various educational institutions as part of a character education strategy based on Islamic values. Keywords: Collaborative Strategy. QurAoan Memorization. Children. Education. PKBM Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kerja sama antara guru dan orang tua dalam meningkatkan tanggung jawab anak dalam menghafal Al-QurAoan di PKBM Liwaul Hamdi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, angket, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran aktif guru dan orang tua sangat penting dalam mendampingi anak-anak menghafal Al-QurAoan. Sikap positif, keteladanan, serta integritas guru dan orang tua menjadi faktor kunci dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab anak terhadap hafalannya. Selain itu, komunikasi yang intens serta kemampuan mengelola emosi dalam pengawasan terhadap anak menjadi bentuk kerja sama yang efektif. Penelitian ini menegaskan bahwa kolaborasi antara guru dan orang tua tidak hanya berdampak pada keberhasilan hafalan anak, tetapi juga pada pembentukan karakter dan sikap religius mereka. Oleh karena itu, hubungan sinergis ini perlu ditumbuhkan secara konsisten di berbagai lembaga pendidikan sebagai bagian dari strategi pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keislaman. Kata Kunci: Strategi Kolaboratif. Hafalan Al-QurAoan. Anak. Pendidikan. PKBM *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Pendidikan memegang peranan krusial dalam membentuk kualitas individu dan kelompok dalam masyarakat. Ia bukan hanya sarana untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai, etika, dan keterampilan sosial yang diperlukan dalam kehidupan. Dalam konteks kenegaraan, pendidikan menjadi fondasi utama untuk membangun peradaban dan menjalin hubungan diplomatik antarnegara. Oleh karena itu, sistem pendidikan yang kuat dan inklusif menjadi kunci dalam menciptakan sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing global. Lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, pesantren, dayah, dan balai pengajian turut berperan penting dalam mewujudkan misi ini, dengan memberikan pengajaran yang berorientasi pada pengembangan karakter dan tanggung jawab peserta didik. (Kurniaku & Mavianti, 2. Sayangnya, tantangan besar muncul pada generasi muda saat ini, khususnya generasi Z, yang cenderung kurang memahami makna dan pentingnya tanggung jawab pribadi. Pola hidup yang serba instan dan pengaruh teknologi yang masif kerap menjauhkan mereka dari kesadaran terhadap hal-hal mendasar, seperti disiplin dan kemandirian. Contoh sederhana seperti kesiapan untuk bersekolah Ae bangun pagi, mandi, dan berangkat tepat waktu Ae seringkali masih dianggap sebagai rutinitas yang bergantung pada dorongan orang tua, bukan sebagai bagian dari tanggung jawab pribadi. Ketidaksadaran ini berpotensi menimbulkan sikap acuh, kurang disiplin, dan minim rasa tanggung jawab dalam kehidupan mereka seharihari. (Rifky et al. , 2. Untuk itu, perlu adanya kolaborasi yang intens antara keluarga dan lembaga pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab sejak usia dini. Orang tua harus menjadi teladan dalam mendidik anak-anak mereka, sementara guru dan pendidik berperan sebagai penguat dalam membentuk karakter peserta didik di lingkungan sekolah. Pendidikan karakter harus menjadi bagian integral dari kurikulum, tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, generasi muda akan tumbuh sebagai pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Peran orang tua sangat berpengaruh terhadap peningkatan kesadaran anak dalam hal tanggung jawab mereka pribadi yang nantinya akan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesuatu yang bersifat sosial seandainya suatu saat menjadi seorang pemimpin. Allah SWT berfirman dalam surat al-Mudassir ayat 38, yang s A aINeO IaA e aE acE Ia eA Iaa aE aA Artinya: AuSetiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Ay Ayat di atas menerangkan tentang sikap yang wajib ada dalam jiwa seorang manusia yang dinamakan dengan tanggung jawab, hal ini dikarenakan kita sebagai seorang hamba adalah makhluk dari seorang pencipta yang tujuannya untuk beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baik ibadah. (Soleha et al. , 2. Dalam konteks pembentukan karakter dan kesadaran tanggung jawab pada anak, guru memegang peranan yang sangat penting selain orang tua. Kolaborasi antara keduanya merupakan kunci dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif, baik di rumah maupun di sekolah. Guru sebagai pendidik formal dapat menanamkan nilai-nilai tanggung jawab melalui proses pembelajaran dan keteladanan, sedangkan orang tua sebagai pendidik utama di rumah dapat memperkuat dan menindaklanjuti nilai-nilai tersebut dalam keseharian anak. Dengan adanya sinergi antara guru dan orang tua, anak akan lebih mudah memahami dan menerapkan tanggung jawab secara menyeluruh dalam hidupnya(Suherman & Ridwan, 2. Sayangnya, dalam praktiknya, komunikasi antara guru dan orang tua masih sangat terbatas. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anak kepada pihak sekolah, seakan-akan tanggung jawab moral dan akademik anak hanyalah tugas guru. Ini merupakan bentuk kekeliruan yang cukup serius karena dalam prinsip pendidikan Islam maupun etika keluarga, orang tua tetap menjadi aktor utama dalam mendidik anak, khususnya sebelum mereka mencapai usia Ketidakterlibatan orang tua bisa berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak, baik dari segi kedisiplinan, motivasi belajar, maupun pembentukan (Muryati & Hariyanti, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Anak adalah amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai Oleh karena itu, sudah seharusnya orang tua memberikan perhatian penuh terhadap proses pendidikan anaknya, baik formal maupun Perhatian ini tidak cukup hanya dalam bentuk materi atau fasilitas, tetapi lebih penting lagi berupa bimbingan moral dan spiritual yang sesuai dengan potensi dan kecenderungan anak. Pendidikan yang diberikan kepada anak harus mampu menggali dan mengarahkan bakatnya ke jalan yang benar, sehingga ia tumbuh sebagai pribadi yang bertanggung jawab, berakhlak mulia, dan berdaya saing tinggi. Dalam membentuk kesadaran tanggung jawab pribadi sejak dini, sangat penting untuk memperkuat pendidikan agama Islam. Pendidikan ini bukan sekadar transfer ilmu agama, tetapi juga merupakan proses bimbingan untuk menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Pendidikan agama Islam bertujuan agar peserta didik mampu memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjadikan Islam sebagai pandangan hidup, anak-anak akan memiliki landasan moral dan spiritual yang kuat untuk menghadapi tantangan Salah satu bentuk implementasi nyata dari pendidikan Islam adalah penguatan dalam hafalan, terutama hafalan Al-QurAoan. Proses menghafal tidak hanya menanamkan kedisiplinan dan konsistensi, tetapi juga melatih daya ingat dan kepekaan spiritual anak. Hafalan Al-QurAoan menjadi sarana penting dalam memperkuat hubungan anak dengan Allah SWT serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. Oleh karena itu, baik guru maupun orang tua harus terus memantau dan membimbing anak dalam proses ini agar mereka tumbuh menjadi generasi yang bertanggung jawab, cerdas, dan berakhlak QurAoani(NANA, 2. METODE Dalam penelitian ini penulis memggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dimana peneliti langsung turun ke lapangan dan bertemu langsung dengan narasumber. Pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi yaitu. wawancara, observasi, angket dan dokumentasi. Dalam penelitian ini juga penulis bermaksud untuk menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu. (Ummah, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Data yang diperoleh oleh penulis berasal dari narasumber yakni informasi yang diberikan oleh Kepala Sekolah. Wakil Kepala Bidang Kesiswaan. Guru Bimbingan Konseling. Guru Pendidikan Agama Islam. Wali Murid dan siswa. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian penulis ini menggunakan teknik purposive sampling yang dimana objek kajian yang ingin penulis teliti sesuai dengan tujuan penelitian itu sendiri dan penulis juga yang menentukannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh murid yang ada di kelas tafsir hafalan al-QurAoan. Dan sampel dalam penulisan kajian ini adalah murid kelas x di PKBM Liwaul Hamdi yang berjumlah 30 siswa, 1 guru Pendidikan Agama Islam dan orang tua (Rukminingsih & Latief, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Kerja Sama Guru dan Orang Tua Kolaborasi atau kerja sama merupakan suatu proses sosial yang terjadi ketika dua orang atau lebih berupaya mencapai tujuan bersama melalui pembagian kerja dan persatuan visi. Dalam konteks sosiologi, kolaborasi merupakan bentuk kontak sosial positif yang paling mendasar. Abdul Syani menegaskan bahwa kerja sama terjadi saat individu atau kelompok melakukan tindakan-tindakan tertentu yang saling mendukung dan saling memahami demi mencapai hasil kolektif yang telah disepakati. Kolaborasi menjadi esensial dalam kehidupan sosial karena mendorong terciptanya keharmonisan dan efektivitas dalam setiap aktivitas (Wijaya et al. , 2. Selaras dengan itu. Roucek dan Warren sebagaimana dikutip Abdul Syani juga menekankan bahwa kolaborasi adalah bentuk paling dasar dari proses sosial, di mana individu bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Ciri khas dari kolaborasi adalah pembagian tugas yang jelas dan proporsional, sehingga setiap individu bertanggung jawab menyelesaikan bagian tugasnya untuk mendorong tercapainya hasil kolektif. Dengan demikian, kolaborasi tidak sekadar berbagi pekerjaan, tetapi juga menyatukan semangat kerja dan komitmen terhadap pencapaian tujuan Pentingnya kolaborasi dalam pendidikan juga ditekankan oleh Comer dan Haynes. Mereka menyatakan bahwa anak-anak akan belajar lebih optimal dalam lingkungan yang suportif, di mana terdapat dukungan dari orang tua, guru, keluarga. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. dan masyarakat. Sekolah tidak dapat berdiri sendiri dalam memenuhi seluruh kebutuhan tumbuh kembang siswa. Oleh karena itu, keterlibatan aktif dari berbagai pihak, termasuk komunitas lokal, sangat diperlukan agar proses pendidikan menjadi lebih holistik dan berkesinambungan. (Ningsih & Wiyani, 2. Dari sudut pandang administrasi. Hadari Nawawi mendefinisikan kerja sama sebagai upaya sistematis untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan bersama melalui pembagian tugas yang efisien. Ia menekankan bahwa pembagian kerja bukan sekadar distribusi beban, melainkan merupakan bagian integral dari kesatuan kerja yang terarah dan terkoordinasi. Pandangan ini menegaskan bahwa kolaborasi yang efektif tidak dapat dipisahkan dari manajemen yang baik dan struktur kerja yang terorganisasi Berdasarkan berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kolaborasi merupakan bentuk kerja sama yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam bidang tertentu, dengan tujuan untuk memaksimalkan hasil melalui sinergi keahlian dan peran masing-masing. Dalam dunia pendidikan, sosial, hingga administrasi produktivitas, memperkuat komunikasi, dan mencapai tujuan kolektif secara (Izzah & MaAoruf, 2. Jenis-Jenis Kerja Sama Kerja sama atau kolaborasi dalam konteks sosial dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis, salah satunya adalah kolaborasi primer. Jenis kolaborasi ini ditandai oleh hubungan yang sangat erat dan menyatu antara individu dan Dalam kolaborasi primer, batas antara individu dan kelompok menjadi kabur karena keduanya saling melebur dalam satu kesatuan sosial. Individu tidak lagi bertindak atas nama dirinya sendiri, melainkan atas nama kelompok, dan segala tindakannya diarahkan demi kepentingan bersama. Contoh dari bentuk kolaborasi ini dapat ditemukan dalam kehidupan keluarga, kelompok masyarakat tradisional, dan komunitas kecil yang erat secara emosional. (Sunanto & Rohmadi, 2. Kolaborasi primer lebih mudah terbentuk secara alami dalam kelompok kecil yang memiliki kedekatan emosional, seperti keluarga inti atau komunitas berbasis nilai budaya dan agama. Dalam kelompok-kelompok ini, kerja sama tidak JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. muncul karena adanya aturan formal atau kontrak, melainkan karena adanya rasa saling percaya, empati, dan tanggung jawab moral terhadap sesama anggota. Hubungan antarpersonal yang kuat mendorong anggota kelompok untuk saling membantu tanpa pamrih, bahkan tanpa diminta, karena merasa memiliki ikatan dan tanggung jawab yang sama terhadap kelangsungan kelompok. Dinamika sosial dalam kolaborasi primer mencerminkan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan keterikatan dan kebersamaan. Dalam kelompok primer, seperti komunitas adat atau keluarga besar, nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah, dan tolong-menolong menjadi fondasi utama dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Individu dalam kelompok ini cenderung mengutamakan kepentingan kolektif dibandingkan kepentingan pribadi, karena merasa bahwa keberhasilan dan kesejahteraan kelompok adalah cerminan dari keberhasilan pribadi. (Masluhah, 2. Lebih jauh lagi, kolaborasi primer tidak hanya memperkuat kohesi sosial, tetapi juga menjadi sarana penting dalam pewarisan nilai-nilai budaya dan moral. Anak-anak yang tumbuh dalam kelompok primer yang erat akan lebih mudah menyerap nilai tanggung jawab, solidaritas, dan pengorbanan. Mereka juga belajar untuk berinteraksi secara langsung dan membangun empati terhadap sesama. Oleh karena itu, kolaborasi primer berkontribusi besar dalam pembentukan karakter dan identitas sosial seseorang sejak usia dini. Dengan demikian, kolaborasi primer memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial manusia. Meskipun masyarakat modern saat ini semakin individualistis dan tergantung pada struktur organisasi yang formal, keberadaan dan kekuatan kolaborasi primer tetap relevan. Dalam banyak kasus, hubungan yang terbentuk dalam keluarga, komunitas lokal, dan kelompok sosial kecil menjadi fondasi penting dalam mengatasi krisis, membangun solidaritas, serta membentuk masyarakat yang inklusif dan penuh empati. Upaya untuk mempertahankan dan memperkuat kolaborasi primer harus terus dilakukan, terutama di tengah perubahan sosial yang cepat dan kompleks(Anisa, 2. Kolaborasi Sekunder Jika masyarakat primitif dicirikan oleh kolaborasi primer, maka masyarakat modern dicirikan oleh kolaborasi sekunder. Setiap anggota kolaborasi sekunder JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. yang sangat terspesialisasi dan terstruktur ini hanya menyumbangkan sebagian dari kehidupan mereka kepada kelompok tempat mereka menjadi bagiannya. Di sini, orang-orang memiliki pola pikir yang lebih penuh perhitungan dan individualistis. Contohnya adalah kerja sama di pemerintahan, manufaktur, kantor perdagangan, dan lingkungan lainnya. Kolaborasi Tertier Konflik laten menjadi dasar bagi kerja sama dalam hal ini. Pihak-pihak yang bekerja sama hanya memiliki sikap oportunis. Struktur mereka sangat longgar dan ketika tujuan masing-masing pihak tidak lagi terpenuhi oleh instrumen Interaksi antara karyawan dan eksekutif bisnis dan hubungan antara dua pihak dalam upaya memerangi pihak ketiga adalah dua contohnya. Tanggung Jawab Anak Tanggung jawab pribadi adalah kemampuan seseorang untuk mengelola dirinya sendiri secara sadar dan mandiri, termasuk dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan sosial. Bagi siswa, tanggung jawab pribadi merupakan fondasi penting dalam proses tumbuh kembang, baik di rumah maupun di lingkungan Tindakan sederhana seperti bangun pagi tanpa disuruh, mandi, sarapan, mempersiapkan perlengkapan sekolah, dan datang tepat waktu ke kelas adalah bentuk awal dari tanggung jawab yang akan terus berkembang seiring dengan kedewasaan mereka. Ketika hal-hal ini dilakukan dengan kesadaran, siswa mulai belajar tentang disiplin, ketekunan, dan kemandirian yang sangat berpengaruh dalam kehidupan jangka panjang. (Irfan et al. , 2. Lebih jauh lagi, tanggung jawab pribadi siswa juga mencakup sikap mereka terhadap kegiatan belajar. Mencatat pelajaran dengan rapi, mengerjakan tugas tepat waktu, membawa buku-buku yang relevan seperti buku matematika dan alat tulis, serta menjaga kebersihan dan ketertiban ruang belajar, semuanya mencerminkan kesungguhan mereka dalam menunaikan tanggung jawab akademik. Anak-anak yang terbiasa mengurus keperluan sekolahnya sendiri cenderung lebih siap secara mental untuk menerima pelajaran dan lebih jarang merasa cemas atau bingung dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa tanggung jawab pribadi sangat erat kaitannya dengan kesiapan belajar. (Daulay, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Tanggung jawab juga melibatkan penghormatan terhadap otoritas dan aturan yang berlaku, baik di rumah maupun di sekolah. Murid yang bertanggung jawab akan menaati perintah orang tua dan guru, memahami batasan perilaku yang diterima, dan menjalankan tugas-tugas yang diberikan dengan penuh kesadaran. Mereka tidak hanya sekadar mematuhi karena takut dihukum, tetapi karena memahami bahwa kepatuhan adalah bentuk tanggung jawab moral terhadap pihak yang telah memberikan bimbingan dan perhatian. Nilai-nilai ini sangat penting dalam membentuk karakter yang kuat dan beretika. Pentingnya tanggung jawab pribadi juga tercermin dari hubungan eratnya dengan motivasi dan keberhasilan belajar. Siswa yang memiliki rasa tanggung jawab akan lebih termotivasi untuk belajar, karena mereka menyadari bahwa prestasi tidak datang dengan sendirinya, tetapi melalui usaha dan komitmen pribadi. Mereka juga lebih tahan terhadap tekanan, karena memiliki kontrol terhadap waktu, kegiatan, dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan begitu, rasa percaya diri dan kepuasan terhadap hasil belajar akan tumbuh secara alami, sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan peran dan tugas mereka sebagai pelajar(Imam. Oleh karena itu, semua pihakAiorang tua, guru, dan masyarakatAiharus bersinergi dalam menumbuhkan tanggung jawab pribadi siswa. Pendidikan karakter tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah atau keluarga saja. Butuh keterlibatan kolektif dalam memberikan teladan, dukungan, dan penguatan nilainilai tanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan anak. Jika hal ini berhasil diterapkan secara konsisten, maka siswa tidak hanya akan berprestasi secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan berintegritas dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Kerja Sama Guru-Orang Tua dalam Hafalan Al-QurAoan Anak Peneliti mencatat bahwa proses pembelajaran di PKBM Liwaul Hamdi memiliki kemiripan dengan model kuliah non-reguler yang cenderung fleksibel dan menitikberatkan pada capaian akhir dibandingkan proses pembelajaran itu sendiri. Fleksibilitas ini tentu memberikan keuntungan bagi sebagian siswa yang memiliki keterbatasan waktu atau kondisi tertentu, namun juga menimbulkan tantangan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Salah satu tantangan tersebut adalah menjaga konsistensi dan disiplin siswa dalam menjalankan tanggung jawab pribadi mereka, khususnya dalam hal menghafal Al-QurAoan dan menjalankan tugas-tugas keagamaan lainnya secara (Muliadi et al. , 2. Dalam implementasinya, kerja sama antara guru dan orang tua juga menemui berbagai kendala. Berdasarkan angket yang diberikan kepada guru Pendidikan Agama Islam, guru MR menyoroti kurangnya perhatian siswa terhadap penampilan, terutama dalam hal berpakaian yang rapi dan sopan. Bagi beliau, cara berpakaian mencerminkan kedisiplinan dan tanggung jawab pribadi seorang anak. Ia melihat bahwa kecerobohan dalam hal ini berkorelasi dengan sikap malas dan kurang serius dalam proses belajar, termasuk dalam kegiatan menghafal Al-QurAoan. Dari sisi orang tua. Bapak IT mengungkapkan keluhan mengenai kurangnya keterlibatan beberapa guru di luar jam pelajaran. Ia menilai bahwa beberapa guru hanya aktif selama kegiatan belajar mengajar di kelas, tanpa membangun hubungan personal dengan siswa di luar lingkungan formal. Padahal, kehadiran guru dalam kehidupan siswa secara lebih luas dapat membangun ikatan emosional dan kepercayaan yang penting bagi keberhasilan pendidikan, khususnya dalam program hafalan yang membutuhkan pendampingan dan motivasi terus-menerus. (Muryati & Hariyanti, 2. Lebih jauh. Bapak IT menegaskan bahwa keberhasilan program hafalan AlQurAoan tidak bisa dilepaskan dari kualitas hubungan antara guru, orang tua, dan Relasi yang hangat dan kokoh antara ketiganya akan menciptakan suasana belajar yang mendukung dan membangun komitmen bersama. Guru tidak cukup hanya hadir sebagai pengajar di ruang kelas, tetapi juga harus mampu menjadi pembina yang dapat memotivasi dan membimbing siswa secara konsisten, termasuk di luar jam sekolah. Sementara itu. Ibu NH menyoroti persoalan motivasi siswa di rumah. mengeluhkan bahwa anak-anak lebih tertarik menghabiskan waktu dengan gawai atau bersosialisasi dengan teman di luar rumah daripada melaksanakan kewajiban agama seperti menghafal Al-QurAoan. Menurutnya, gawai menjadi gangguan utama yang membuat anak-anak kesulitan fokus, bahkan ketika orang tua telah memberikan arahan. Masalah ini, menurut Ibu NH, harus diatasi melalui JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. pengawasan ketat, komunikasi yang baik, dan pendekatan pendidikan yang lebih menyentuh sisi emosional anak. (Masquri & Maruddani, 2. Selain itu. Ibu NH juga menekankan pentingnya keteladanan dari orang tua dan guru dalam mendorong semangat anak untuk menghafal. Anak-anak tidak cukup diberi perintah atau tugas semata, tetapi perlu disadarkan melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ketika orang tua dan guru menunjukkan kecintaan terhadap Al-QurAoan dan disiplin dalam menjalankan ibadah, maka anakanak akan terdorong untuk meniru dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sendiri. (Khairanis et al. , 2. Berdasarkan temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa kerja sama antara guru dan orang tua di PKBM Liwaul Hamdi harus dilakukan secara terstruktur, intensif, dan berkelanjutan. Komunikasi yang terbuka, evaluasi yang rutin, serta pendekatan yang melibatkan aspek psikologis dan spiritual menjadi kunci utama dalam membentuk tanggung jawab siswa dalam menghafal Al-QurAoan. Dengan komitmen yang kuat dari seluruh pihak dan pemahaman yang mendalam tentang kondisi siswa, maka program hafalan Al-QurAoan tidak hanya akan berjalan lancar, tetapi juga memberikan dampak positif jangka panjang terhadap karakter dan akhlak anak-anak. (Adawiah, 2. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kerja sama antara guru dan orang tua sangat berpengaruh terhadap peningkatan tanggung jawab anak dalam menghafal Al-QurAoan. Sinergi ini menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung baik di sekolah maupun di rumah, di mana anak merasa didampingi secara emosional dan spiritual. Keteladanan guru dalam mengajar serta keterlibatan aktif orang tua dalam memantau dan memotivasi anak menjadi faktor utama yang mendorong tumbuhnya kedisiplinan dan komitmen anak dalam menjalani proses Kerja sama ini tidak hanya memperkuat aspek akademik dan hafalan anak, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter, akhlak mulia, serta kecintaan terhadap Al-QurAoan sejak usia dini. Menghafal Al-QurAoan bukanlah sekadar kewajiban akademik, tetapi merupakan proses pembentukan jiwa yang berlandaskan pada nilai-nilai Ilahiah. Al-QurAoan sebagai pedoman hidup mengandung ajaran moral, etika, hukum, dan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. kebijaksanaan yang sangat relevan dalam membentuk kepribadian anak. Oleh karena itu, anak yang tumbuh dengan pembiasaan menghafal dan memahami AlQurAoan akan memiliki sensitivitas sosial yang tinggi, spiritualitas yang mendalam, serta integritas moral yang kuat. Dalam jangka panjang, kolaborasi efektif antara guru dan orang tua diharapkan melahirkan generasi QurAoani yang mampu menjadi pemimpin yang adil, amanah, dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang beradab dan berlandaskan nilai-nilai Islam. *** DAFTAR PUSTAKA