Volume: 23 Nomor 2. September 2025 P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 ANALISIS EKONOMI POTENSI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERIKANAN YANG BERNILAI TAMBAH BERBASIS SUNGAI DAN DAN DANAU DI KABUPATEN SINTANG Marselina Evy Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Univesitas Kapuas Sintang. Jl. Oevang Oeray No. Sintang. Indonesia, email: marselinaevy@gmail. Abstract: This research is inspiring by the significant potential of inland fisheries in Sintang Regency. In addition. Sintang Regency has shown a strong commitment to environmental conservation efforts. In fact, the local government issued the Sintang Lestari Regional Action Plan in 2019 and incorporated it into the Regional Medium-Term Development Plan (RPJMD) for the 2021Ae 2026 period. The production levels of both capture and aquaculture fisheries in Sintang Regency are also relatively high. Currently, local fishing communitiesAiespecially those around Lake Jemut and Lake JentawangAihave begun developing processed fish products such as belonsong lais . easoned salted fis. and salai lais . moked fis. However, the production process remains traditional and is highly dependent on weather conditions, which results in high production costs. This study employs a mixed-methods approach, combining both qualitative and quantitative methods. The findings indicate that the belonsong lais product packaged in smaller sizes . using vacuum plastic offers the highest added value. Similarly, salai lais in 250-gram packages provides the greatest added value. Meanwhile, toman cage culture . is only profitable when using self-produced feed. Based on these findings, it is recommended that assistance programs be provided to fish processors in Nanga Ketungau and Jentawang Hilir Villages to help them produce value-added products. In addition, capacity-building initiatives are needed for fish processors and community members interested in investing in toman fish farming in the lakes. Keywords : economic analysis, value-added fisheries industry, inland fisheries Abstrak: Penelitian ini dilatar belakangi oleh besarnya potensi perikanan darat yang ada di Kabupaten Sintang. Pemerintah menerbitkan Rencana Aksi Daerah Sintang Lestari pada tahun 2019 dan memasukkan program pelestarian lingkungan dalam upaya menjaga potensi perikanan darat ini dalam Rencana Pembangunana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sintang periode 2021- 2026. Capaian produksi perikanan umum dan budidaya di Kabupaten Sintang juga cukup tinggi. Saat ini masyarakat nelayan, khususnya di kawasan Danau Jemut dan Danau Jentawang sudah mengembangkan produk olahan ikan seperti belonsong lais . kan asin berbumb. dan salai lais . kan asa. Proses produksi dilakukan secara tradisional dan sangat bergantung pada cuaca. Hal ini mengakibatkan biaya produksi yang tinggi. Penelitian ini menggunakan metode campuran . ix metho. kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opsi blonsong dengan kemasan lebih kecil . kuran kemasan 200 g. menggunakan plasik vakum memberikan nilai tambah paling besar. Salai lais yang menggunakan kemasan lebih kecil . kuran kemasan 200 g. memberikan nilai tambah yang paling besar. Serta keramba toman hanya menguntungkan apabila dilakukan dengan pakan mandiri. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar dilakukan kegiatan pendampingan bagi para pengolah ikan menjadi produk olahan di Desa Nanga Ketungau dan Desa Jentawang Hilir agar dapat menghasilkan produk bernilai tambah. Perlu adanya kegiatan peningkatan kapasitas bagi berinvestasi melakukan usaha pembesaran ikan toman di danau. Kata Kunci: analisis ekonomi, industri perikanan bernilai tambah, perikanan darat. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 PENDAHULUAN Kabupaten Sintang memiliki potensi perikanan air tawar yang sangat besar, ini tergambar dari keberadaan 4 sungai besar yang ada di Kabupaten Sintang seperti Sungai Kapuas. Melawi. Kayan. Ketungau. 4 sungai besar ini melewati seluruh kecamatan . yang ada di Kabupaten Sintang. Keberadaan empat sungai besar ini menggambarkan peran keberadaan sungai-sungai tersebut kehidupan masyarakat di Kabupaten Sintang. Sungai sebagai sarana transportasi, sumber air untuk kebutuhan kebutuhan sehari-hari, kebutuhan pertanian, dan sebagai sumber mata pencaharian untuk aktivitas perikanan tangkap maupun ikan budidaya . Kabupaten Sintang juga telah menetapkan 11 kawasan danau lindung yang berada di salah satu sungai besar tersebut (Sungai Ketunga. Danau-danau tersebut diharapkan dapat menjadi sumber ikan berproduksi, tempat ikan bertelur dan berkembang biak serta dapat dimanfaatkan secara Permasalahan yang sering dihadapi saat ini terkait perikanan air tawar di Kab. Sintang adalah . harga ikan rendah pada saat musim panen, dan begitu juga sebaliknya harga tinggi pada saat musim pasang/bukan panen . upply/demand la. , . biaya produksi tinggi . ransport cost, dl. spek tidak dipedulika. , . alat tangkap yang digunakan tidak berkelanjutan . aring/pukat P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 dengan ukuran keci. , . rendahnya produk olahan ikan yang bernilai . ebatas asin/kering, salai, kerupuk, dl. , dan . akses transportasi yang sulit dan distribusi tinggi sehingga daya saing harga dan produk perikanan rendah. Produksi perairan umum dan budidaya di Kabupaten Sintang pada tahun 2022 mencapai 1. 243,159ton, yang terdiri dari produksi perikanan 953,2540ton sedangkan produksi perikanan dari perairan umum adalah 289,9050 ton (BPS Kabupaten Sintang, 2. Pengelolaan danau yang lestari menjadi upaya untuk meningkatkan ekonomi lokal masyarakat. Salah satu Lokasi perairan yang berpotensi ekonomi tinggi adalah di Kawasan Danau Jemut dan Danau Jentawang di Kecamatan Ketungau Hilir. Untuk tambah pada produksi ikan hasil Kawasan Danau Empangau dan Danau Jemut ini. Metode Hayami. Metode agroindustri (Kisroh Dwiyono, 2. Metode yang diperkenalkan oleh Yujiro Hayami seorang ekonom Jepang. Metode ini dipergunakan untuk menganalisis nilai tambah pada suatu produk dengan tujuan untuk mengukur besaran kontribusi atau peningkatan nilai ekonomi dari proses pengolahan suatu produk. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode campuran . ix method. pendekatan penelitian . uantitatif dan masing-masing FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 Pendekatan digunakan untuk menganalisis angket yang berkaitan dengan penguatan kelembagaan perikanan di Danau Jemut, dan perhitungan nilai tambah perikanan air tawar di Danau Jemut. Sedangkan Masyarakat pelaksanaan pengelolaan Danau Jemut dan Danau Jentawang berdasarkan potensi perikanan dan nilai tambah. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam kajian ini, identifikasi dilakukan pada 2 produk olahan ikan yang umum dilakukan di masyarakat, pembuatan blonsong dan salai lais. Serta usaha keramba toman yang juga menjadi sumber ekonomi yang ada di sekitar Danau Jemut dan Danau Jentawang. Produk blonsong dibagi dalam 3 kategori. yaitu: Belonsong 1 merupakan kondisi yang saat ini terjadi di proses produksi masyarakat. Hasil belonsong di packing dengan ukuran 500gram menggunakan plastik klip bening. Perlakuan pembeda dilakukan pada Belonsong 2 yaitu dengan mengemas menjadi satuan yang lebih kecil dengan asumsi bahwa kemasan kecil menjadikan harga lebih terjangkau sehingga dapat menjaring lebih banyak pembeli. Pengemasan ini dilakukan dengan ukuran 200gram per pack nya dan masih dikemas dengan plastik klip. Sedangkan Belonsong 3 menggunakan ukuran 200gram per pack namun perubahan dilakukan pada jenis packing yang Dari data yang ada dihasilkan tabel perhitungan nilai tambah Belonsong Lais sebagai berikut: P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Dari tabel di bawah terlihat bahwa peningkatan nilai tambah hingga harga jual dibandingkan dengan ikan Untuk menghasilkan 12kilogram belonsong memerlukan 30kilogram ikan lais segar dengan nilai konversi sebesar 0,4. Dengan pertimbangan tenaga kerja bekerja setiap kali produksi selama 8 jam kerja, maka satu hari orang kerja untuk membuat belonsong koefisien tenaga kerjanya sebesar 0,067. Upah rata-rata dalam proses pengolahan ini adalah 100. 000 per HOK. Input lain seperti bumbu dan kemasan dikenakan nilai berbeda. Ada 3 . perlakukan yang diberikan pada produk belonsong lais ini. Secara sederhana perubahan yang dilakukan hanyalah pada proses packing produk. Perlakukan perbedaan pula pada nilai tambah produk dibanding dengan nilai ikan lais sebelum diolah. Pada belonsong 1 nilai tambah yang terjadi sebesar 000 per kilogram, belonsong 2 terjadi penambahan nilai sebesar 000 per kilogram sedangkan pada belonsong 3 nilai tambah yang terjadi hanya sebesar 55. 000 per kilogramnya. Dengan rasio penambahan ketiganya 50% Sebelumnya plastic klip di sini digunakan plastik Ada penambahan yang cukup besar pada nilai sumbangan Pada keuntungan yang diberikan masih belonsong 1 tapi lebih rendah dari Belonsong 2. Nilai keuntungan yang dihasilkan dapat dilihat dari marjin FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 produk pada belonsong 1 sebesar 000 sedangkan pada belonsong 2 dan belonsong 3 sama-sama sebesar Namun, keuntungan bagi pengusaha pada belonsong 3 lebih rendah dikarenakan nilai sumbangan input lain lebih tinggi P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Pada belonsong 1 dan belonsong 3, pengusaha mendapatkan keuntungan belonsong 2 keuntungan pengusaha Tabel 1. Perhitungan Nilai Tambah dengan Metode Hayami pada usaha belonsong Belonsong Belonsong Belonsong Keterangan Formulasi Out put. Input. Harga 1 Output 2 Input . ahan bak. 3 Tenaga Kerja (HOK) 4 Faktor Konversi 5 Koef Tenaga Kerja 5 = 3/2 0,067 0,067 0,067 (HOK/k. 6 Harga output . (Rp/k. 7 Upah Tenaga Kerja 7 (Rp/HOK) II Penerimaan Keuntungan 8 Harga bahan baku 8 (Rp/K. 9 Sumbangan input lain 9 (Rp/k. 10 Nilai out put . 10 = 4 x 6 (Rp/k. 11 a Nilai tambah 11a = 10 Ae (Rp/k. 8Ae9 b Rasio nilai tambah 50,00 60,00 55,00 11a/10 x 12 a Pendapatan tenaga 12a = 5 x 7 666,67 666,67 666,67 kerja (Rp/k. b Pangsa 16,67 11,11 12,12 tenaga kerja (%) 12a/11a x 13 a Keuntungan 13a = 11a Ae 333,33 333,33 333,33 (Rp/k. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 b Tingkat keuntungan (%) . a/11. x 100% P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 83,33 88,89 87,88 i Balas Jasa pemilik faktor 14 Marjin 14 = 10 Ae 8 a Pendapatan tenaga 14a = . a 14,81 10,26 10,26 kerja (%) /. b Sumbangan input 14b 11,11 7,69 15,38 lain (%) . c Keuntungan 74,07 82,05 74,36 pengusaha (%) . x Sumber: hasil pengolah tim kajian, 2024. Ada keuntungan lain yang tidak Dari tabel di bawah tampak bisa dihitungkan dalam metode bahwa nilai tambah yang dihasilkan Hayami pada Belonsong 3 adalah dari pengolahan salai ini bisa produk dapat disimpan lebih lama 000 . %) hingga 30. %) dari nilai ikan segar yang belum Hal ini membuka Salai lais sendiri memiliki nilai peluang untuk menjangkau lebih konversi sebesar 0,3 dimana dari banyak pembeli. Dari hasil analisis ini menghasilkan 9kilogram salai. Dengan pengemasan blonsong dengan ukuran nilai sumbangan input lain berupa kayu bakar. Terlihat pula bahwa memberikan marjin keuntungan yang pengemasan yang lebih kecil dapat lebih tinggi. selain dapat membuka memberikan keuntungan yang lebih peluang pasar baru dari para pembeli baik dibanding bila produk dijual baru yang melakukan pembelian uji dengan kemasan besar. Besarnya coba pada produk belonsong ini. Pada keuntungan yang dihasilkan dari salai yang dikemas dalam besar sebesar penelitian ini, produk salai dibagi 000 . %) sedangkan bila dikemas dalam 2 jenis menurut berat atau kecil bisa mencapai 23. %) per bobot pengemasannya. kedua jenis kilogram nya. tersebut yaitu: salai lais yang dikemas Marjin yang dihasilkan dari per 500 - 1. 000 gram per bungkus dan penjualan salai lais kemasan besar salai lais yang dikemas dalam ukuran 000 sedangkan bila 250 gram. pengemasan yang lebih dikemas lebih kecil bisa sampai 40. kecil diharapkan dapat menarik minat Nilai keuntungan yang diperoleh pembeli untuk mencoba produk salai pengusaha bila menjual dalam lais ini, artiya hal ini dapat dipakai kemasan besar kurang dari 50% hanya untuk membuka pasar yang lebih 33% saja. Sedangkan bila dijual dalam kemasan kecil bisa mencapai 58,33% FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 selisih 20%. Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa produk salai lais yang dikemas dengan ukuran lebih kecil memberikan nilai tambah pada marjin menjadi lebih tinggi. Tabel 2Perhitungan Nilai Tambah dengan metode Hayami pada Usaha Salai Lais Keterangan Formulasi Salai 1 Salai 2 Out put. Input. Harga Output . asil produks. Input . ahan bak. Tenaga Kerja (HOK) Faktor Konversi Koef Tenaga Kerja 5 = 3/2 0,067 0,067 (HOK/k. Harga (Rp/k. Upah Tenaga Kerja 7 (Rp/HOK) II Penerimaan dan Keuntungan Harga bahan baku (Rp/K. Sumbangan (Rp/k. 10 Nilai out put . 10 = 4 x 6 (Rp/k. 11 a Nilai tambah (Rp/k. 11a = 10 Ae 8 Ae 9 b Rasio nilai tambah 11b = 11a/10 x 25,00 40,00 12 a Pendapatan tenaga kerja 12a = 5 x 7 666,67 666,67 (Rp/k. b Pangsa . tenaga 12b = 12a/11a x 44,44 22,22 kerja (%) 13 a Keuntungan (Rp/k. 13a = 11a Ae 12a 333,33 333,33 b Tingkat keuntungan (%) 13b = . a/11. 55,56 77,78 x 100% i Balas Jasa 14 Marjin 14 = 10 Ae 8 a Pendapatan tenaga kerja 14a = . a /. 26,67 16,67 (%) b Sumbangan input lain 14b = . 40,00 25,00 (%) c Keuntungan pengusaha 14c = . 33,33 58,33 (%) Sumber: hasil pengolah tim kajian, 2024 FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 Pada kajian ini secara khusus dianalisis mengenai proses pembesaran ikan toman di dalam keramba dengan menggunakan jenis pakan yang Pada skenario A pembesaran ikan toman dilakukan dengan menggunakan pakan pabrik sedangkan pada skenario B usaha pembesaran ikan toman dilakukan dengan cara memberikan pakan mandiri yang dihasilkan sendiri oleh warga. Pakan ini bahan baku utamanya limbah ikan seperti perut, insang yang diperoleh dari sisa operasional pembuatan belonsong atau salai lais. Perhitungan analisis usaha pembesaran ikan toman dengan model keramba yang dapat dilakukan di Danau Jemut dan Danau Jentawang dapat dilihat pada tabel 3. Dari tabel dapat dilihat bahwa usaha ini layak . untuk Hal ini terlihat dari nilai rasio pengembalian berbanding biayanya (R/C) yang berada di atas 1 dan rasio manfaat atas biayanya juga lebih dari 1 serta periode pengembalian modalnya kecil, yang artinya modal yang diinvestasikan cepat kembali. Dari analisis usaha, terlihat juga bahwa untuk membuat 1 keramba dibutuhkan modal sebesar 5 juta rupiah dengan periode ekonomis keramba sampai 3 tahun. Biaya tetap yang terjadi hanya biaya penyusutan nilai keramba pada setiap tahunnya 667 rupiah. Biaya variabel usaha ini cukup besar. Dalam setahun bila menggunakan pakan pabrik diperlukan biaya mencapai nilai nyaris 28 juta dalam setahun untuk 1. 000 ekor Biaya variabel ini dapat diperkecil dengan mengembangkan usaha pembesaran toman pakan mandiri yang dibuat dari limbah ikan dari proses pengolahan ikan yang Pada usaha pembesaran toman P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 dengan pakan pabrik nilainya 1,3 dan pembesaran toman dengan pakan mandiri bernilai 2. Begitu juga untuk nilai manfaat atas biaya, pada usaha pembesaran toman dengan pakan mandiri yang bernilai 1,04. Usaha pembesaran toman dengan pakan pabrik jika dilakukan di Desa Nanga Ketungau dan Desa Jentawang Hilir kurang layak, karna manfaat yang dihasilkan kurang dari 1 yaitu 0,3. Nilai rasio per biaya baik itu penerimaan dan manfaat yang diha-silkan. Dapat disimpulkan bahwa usaha pembesaran toman dalam keramba dianjurkan untuk menggunakan pakan mandiri karna lebih menguntungkan dan lebih layak untuk diinvestasikan karena nilai nya lebih tinggi daripada bila menggunakan pakan dari pabrik. Penggunaan pakan mandiri juga membantu efisiensi sumber daya yang ada di desa karena pakan dibuat dari memanfaatkan limbah usaha pengolahan ikan. Sekaligus menjadi alternatif yang baik agar limbah ikan tidak menjadi pencemaran pada lingkungan karna dibuang sembarangan. Tentu saja dalam hal ini ada proses pengolahan limbah menjadi pakan yang dapat disimpan lama. Artinya menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat Dari nilai periode pengembalian modalnya, usaha pembesaran ikan toman dalam keramba merupakan jenis usaha yang layak dan dapat diterima karena nilai PPnya kecil artinya nilai investasi dapat segera Dalam analisis ini nilainya kurang dari 1 artinya periode pengembalian modal terjadi kurang lebih 1 tahun. FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 Tabel 3. Perhitungan Analisis Usaha Pembesaran Ikan Toman dengan menggunakan Keramba Keterangan 1 Anakan Rp/Siklus 2 Pakan 3 Tenaga Kerja Biaya Variabel Total Biaya D KEUNTUNGAN E R/C 1,30 F B/C 0,30 A INVESTASI Keramba B BIAYA Biaya Tetap 1 Penyusutan Biaya Variabel C PENERIMAAN 1 Toman Konsumsi G PP (Siklu. Keterangan : . asumsi umur ekonomis 667/tahun. Sumber: hasil pengolahan tim kajian, 2024. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa pengelolaan Danau Jemut dan Danau Jentawang sampai saat ini telah dilaksanakan secara partisipatif stakeholder terkait. Namun demikian pengelolaan Danau Jemut dan Danau Jentawang untuk dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat masih dapat ditingkatkan Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Berdasarkan hasil perhitungan penelitian ini menunjukan bahwa: 0,60 3 tahun, . Penyusutan karamba : Rp. Opsi blongsong dengan kemasan lebih kecil . kuran kemasan 200 g. memberikan nilai tambah yang paling Salai yang menggunakan kemasan lebih kecil . kuran kemasan 200 g. memberikan nilai tambah yang paling besar Keramba menguntungkan apabila dilakukan dengan pakan mandiri Secara umum, pengelolaan Danau Jemut Danau Jentawang memberikan manfaat: FOKUS: Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa. Staf Pengajar dan Alumni Universitas Kapuas Sintang Volume: 23 Nomor 2. September 2025 bagi masyarakat setempat, dengan adanya nilai tambah ekonomis yang baik dapat menjadi motivasi bagi masyarakat lingkungan danau agar pasokan ikan lais tetap terjaga. bagi Kabupaten Sintang, adanya nilai tambah ekonomis dari proses pengolahan hasil tangkapan dari dukungan dari pemerintah agar dapat terus menjaga ekosistem Dengan adanya danau yang terlindungi. Kabupaten Sintang jadi memiliki pusat-pusat konservasi lingkungan berbasis masyarakat dan kolaborasi multi-pihak untuk terus lingkungan setempat. Adapun saran untuk perbaikan dan kegiatan berikutnya antara lain: Diperlukan pendampingan bagi para pengolah ikan menjadi produk olahan di Desa Nanga Ketungau Desa Jentawang Hilir Perlu adanya kegiatan peningkatan kapasitas bagi para pengolah ikan pembesaran ikan toman di danau. Dapat dilakukan tambahan personal pemasaran produk dapat dilakukan P-ISSN: 1693-0762 E-ISSN: 2599-3518 sampai menjangkau pasar yang lebih Misalnya bila sudah ada personal branding, produk ini dapat dipergunakan sebagai oleh-oleh khas Kabupaten Sintang. DAFTAR PUSTAKA