Jurnal Keislaman p-ISSN : 2089-7413 and e-ISSN : 2722-7804 Published by Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya Jl. Kalirungkut Mejoyo I No. Kec. Rungkut. Kota Surabaya. Jawa Timur 60293 Email: jurnalkeislaman@staitaruna. Spiritualitas Salat Mahasiswa dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Naela NiAomatu Ajrina1 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Jawa Timur. Indonesia1 Naaelaa45@gmail. Nurlailatul Musyafaah2 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Jawa Timur. Indonesia2 nurlailatul@uinsa. https://doi. org/10. 54298/jk. Abstract This study aims to examine how prayer . is understood and practised as a spiritual value in society, particularly with reference to the thought of Imam Al-Ghazali. The research focuses on how university students perform salat amidst their busy routines, and how it provides spiritual meaning that influences discipline, tranquillity, and self-control. This study employs a qualitative field research method by distributing questionnaires to 32 respondents and conducting direct interviews with several students of UIN Sunan Ampel Surabaya. The data were analysed using a philosophical approach, especially based on Imam Al-GhazaliAos perspective on salat, which emphasises the importance of devotion . , presence of heart, and Sufi The findings reveal that although most respondents acknowledge salat as the pillar of religion, its practice is often affected by busyness, laziness, and other factors such as work and gadget use. The dawn . and night . prayers tend to be performed near the end of their time, while the noon . prayer is frequently delayed due to academic or professional activities. Another key finding reveals that performing salat with full devotion fosters discipline, brings inner peace, and serves as a moral safeguard, in line with the teachings of Imam Al-Ghazali. Thus, salat is not merely a ritual obligation but also a spiritual medium for shaping character, strengthening the relationship with Allah, and maintaining balance in modern social life Keywords: Imam Al-Ghazali, salat, worship, spirituality, society. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana salat dipahami dan dijalankan sebagai nilai spiritual dalam kehidupan mahasiswa, khususnya dengan merujuk pada pemikiran Imam Al-Ghazali. Kajian ini berfokus pada cara mahasiswa, melaksanakan salat di tengah rutinitas yang padat, serta bagaimana salat dapat memberi makna spiritual yang berpengaruh pada kedisiplinan, ketenangan, dan pengendalian diri. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan studi lapangan, yaitu dengan menyebarkan kuesioner kepada 32 responden dan melakukan wawancara langsung kepada 4 mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Data kemudian dianalisis dengan pendekatan filosofis, terutama berdasarkan pandangan Imam Al-Ghazali tentang salat, yang menekankan pentingnya kekhusyukan, kehadiran hati, dan nilai tasawuf. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa meskipun sebagian besar responden memahami bahwa salat adalah tiang agama, praktik pelaksanaannya masih sering terpengaruh oleh kesibukan, rasa malas, maupun faktor lain seperti pekerjaan dan penggunaan gadget. Salat subuh dan isya cenderung lebih sering dikerjakan di akhir waktu, sementara salat zuhur kerap tertunda karena aktivitas kuliah atau pekerjaan. Temuan lain menunjukkan bahwa salat yang dilakukan dengan khusyuAo dapat menumbuhkan sikap disiplin, membawa ketenangan batin, dan berfungsi sebagai benteng moral, sesuai dengan ajaran Imam Al-Ghazali. Artinya, salat tidak hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga sarana spiritual untuk membentuk akhlak, memperkuat hubungan dengan Allah, dan menjaga keseimbangan hidup dalam masyarakat modern. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Kata Kunci: Imam Al-Ghazali. Pendahuluan Dalam ajaran Islam, salah satu ibadah utama yang menjadi pondasi agama adalah salat. Karena itu, salat hukumnya wajib bagi seorang muslim. 2 Salat secara etimologi, salat berasal dari bahasa Arab yaitu yang bermakna doa dan mengagungkan. 3 Seperti halnya Allah menjelaskan di dalam surat at-Taubah ayat 103: AuDan mendoalah untuk mereka sesungguhnya doa-doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui. Ay Menurut terminologi, salat adalah ucapan dan perbuatan tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram dan ditutup dengan salam. 4 Makna ucapan yang dimaksud adalah bacaan-bacaan Alquran takbir tasbih serta doa. Sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan merupakan gerakan-gerakan yang ada dalam salat seperti berdiri, ruku, sujud duduk serta gerakan-gerakan yang ada dalam salat. Setiap orang muslim wajib mengerjakan salat 5 waktu setiap hari dan dikerjakan pada waktu yang sudah ditentukan serta melalui syarat dan rukun tertentu yang sudah disyariatkan dalam agama Islam. 6 Ketentuan-ketentuan salat meliputi syarat wajib, syarat sah dan rukun salat. Syarat wajib salat ada 3, yaitu: Islam, baligh, berakal. 7 Sedangkan syaratsyarat sah salat ada lima yaitu suci badan dari hadas dan najis, menutup aurat dengan bagian yang suci, tempat yang suci, mengetahui masuknya waktu salat, dan menghadap kiblat. Rukun salat ada 18, yakni: niat, berdiri bagi yang mampu, takbiratul ihram, membaca surah al-Fatihah, rukuk, tumakninah, bangun dari rukuk dan iktidal, tumakninah, sujud, tumakninah, duduk di antara dua sujud, tumakninah, duduk untuk tasyahhud akhir, membaca tasyahhud akhir, membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW saat tasyahhud akhir, salam pertama, niat keluar dari salat, dan tertib. KhusyuAo dibutuhkan dalam salat. 10 Hasbi ash-shiddieqy berpendapat bahwa khusyuAo yang bermakna adalah dengan memusatkan pikiran pada bumi dan memejamkan mata atau dengan meringankan suara ketika salat. 11 Dalam salat, manusia diperintah untuk menghadap kiblat dengan menghadap kepada Allah untuk menghadirkan hati walaupun sebelumnya Yusuf Sarkingobir et al. AuReligious and Health Benefits of Salah/Prayer,Ay International Journal of Emerging Issues in Islamic Studies 2, no. 2 (December 19, 2. : 58, doi:10. 31098/ijeiis. 2 Septian Wahyu Rahmanto. Rahma Ayuningtyas Fachrunisa, and Bayu Suseno. AuKhushoo In Salah: An Overview of Nafs (Islamic Psychological Perspectiv. ,Ay Asian Journal of Islamic Psychology 1, no. 1 (December 29, 2. : 8Ae14, doi:10. 23917/ajip. 3 Mahmud Yunus. Kamus Arab-Indonesia (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1. , 252. 4 Purnama Indah et al. AuVector Analysis of Prayer Movement Health Using Visual Media Multimedia Application Development Life Cycle,Ay Indonesian Journal of Education. Social Sciences and Research (IJESSR) 2, no. : 92, doi:https://doi. org/10. 30596/ijessr. 5 Achmad Sunarto. Kunci Ibadah Dan Tuntunan Shalat Lengkap (Jakarta: Setia Kawan, 2. , 15. 6 Ibid. , 160. 7 Muhammad Hamim. Terjemah Kitab Fathul Qorib (Fath Al-Qari. Syarah Kitab Matan Taqrib Abu Syujak, vol. (Kediri: Lirboyo Press, 2. , 12. 8 Ibid. , 3:13. 9 Abid Nurhuda. Inamul Hasan Ansori, and Ts. Engku Shahrulerizal Bin Engku Ab Rahman. AuThe Urgency Of Prayer In Life Based On The Al-QurAoan Perspective,Ay LISAN AL-HAL: Jurnal Pengembangan Pemikiran Dan Kebudayaan 17, no. 1 (June 15, 2. : 52Ae61, doi:10. 35316/lisanalhal. 10 Muhammad Fakhruddin Al-Razi and Muhammad Azhar. AuTrends in Local and Global Studies on Mindfulness during Islamic Prayer ( Khusyu A. : Where and How It Should Be Linked,Ay ed. Jusman et al. SHS Web of Conferences 204 . : 01008, doi:10. 1051/shsconf/202420401008. 11 Hasbi Ash-Shiddieqy. Dasar-Dasar Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1. , 125. Spiritualitas Salat Mahasiswa dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Ae Naela NiAomatu Ajrina dan Nurlailatul Musyafaah membangkang atau menyelisihi-Nya. 12 Ibadah salat tidak hanya sekadar kewajiban formal, tetapi juga sarana spiritual yang mendidik hati, menenangkan jiwa, serta membentuk akhlak yang baik. 13 Secara ideal, salat dikerjakan dengan khusyuAo sehingga menghadirkan kesadaran penuh akan kehadiran Allah Swt. 14 Salat seharusnya berfungsi sebagai penopang kehidupan religius sekaligus pembentuk kepribadian muslim. 15 Namun kenyataannya, pelaksanaan salat di masyarakat sering kali jauh dari nilai ideal tersebut. Banyak orang melaksanakannya sebatas menggugurkan kewajiban, bahkan menundanya hingga akhir waktu karena kesibukan, pekerjaan, atau sekadar kelalaian. 16 Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara ajaran ideal tentang salat dengan praktik sehari-hari. Permasalahan yang muncul dari kondisi tersebut antara lain kurangnya kekhusyukan . dalam salat, kebiasaan menunda-nunda hingga akhir waktu, serta pengaruh faktor eksternal seperti kesibukan akademik,17 pekerjaan,18 dan penggunaan gadget19 yang semakin menggerus kualitas ibadah. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran karena menjadikan salat sebatas rutinitas formal tanpa menyentuh aspek spiritual yang mendalam. Di sisi lain, kurangnya pemahaman tentang makna batiniah salat menjadikan ibadah ini kehilangan fungsi utamanya sebagai penenang jiwa dan benteng moral. Dengan demikian, masalah utama yang ingin dijawab penelitian ini adalah bagaimana praktik salat di kalangan mahasiswa dapat dipahami tidak hanya dari aspek fiqh formal, tetapi juga dari sisi spiritualitas sebagaimana ditekankan oleh Imam Al-Ghazali. Imam al-Ghazali dikenal sebagai Hujjatul Islam, tokoh yang berhasil mengintegrasikan fiqh, teologi, dan tasawuf. 20 Pemikirannya tentang salat tidak hanya menyoroti aspek hukum formal, tetapi juga dimensi ruhani seperti hadirnya hati, khusyuAo, taAozhim, rajaAo, dan hayaAo. Al-Ghazali menempatkan salat sebagai sarana pembentukan akhlak dan benteng moral, bukan sekadar kewajiban ritual. Pemikiran ini bisa menjadi tawaran solusi atas fenomena menurunnya kualitas pelaksanaan salat di kalangan generasi muda. Dalam konteks Lailatul Izzah. AuPengaruh Praktik Sholat Khusyuk Dalam Kegiatan Pembinaan Psikospiritual Erhadap Konsentrasi Belajar Mahasiwa,Ay Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan 21, no. 1 (March 29, 2. : 6, doi:10. 25299/al-hikmah:jaip. 13 Al Ghazali. Rahasia-Rahasia Shalat (Bandung: Karisma, 2. , 15. 14 Muhammad Fakhruddin Al-Razi and Sri Mukti. AuMindfulness in Salah Prayer: Understanding KhusyuAo from A Psychological Term Approach,Ay in Science and Education, vol. 4 (Proceeding International Conference on Religion. Science Education. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 1139Ae48, https://sunankalijaga. org/prosiding/index. php/icrse/article/view/1551. 15 Cho Cho Zaw @ Raheema and Myat Min @ Mohd Omar. AuFive Pillars of Islam in Relation to Physical Health. Spiritual Health and Nursing Implications,Ay IIUM Medical Journal Malaysia 17, no. 1 (July 18, 2. : 105Ae8, doi:10. 31436/imjm. 16 Fiantika Armanda et al. AuShalat sebagai Pilar Falsafah Islam : Pemahaman dan Praktik,Ay ALADALAH: Jurnal Politik. Sosial. Hukum dan Humaniora 3, no. 2 (February 11, 2. : 126, doi:10. 59246/aladalah. 17 Muhammad Akbar. Basti Tetteng, and Ahmad Yasser Mansyur. AuHubungan antara Kedisiplinan Salat Subuh dengan Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa yang Sedang Mengerjakan Skripsi di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar,Ay Jurnal Psikologi Karakter 2, no. 1 (June 30, 2. : 45Ae53, doi:10. 56326/jpk. 18 Abdul Rahman. AuDampak Pemahaman Ajaran Agama Islam Terhadap Ketaatan Ibadah Salat Lima Waktu Pada Masyarakat Kec. Makale Selatan Tana TorajaAy (Skripsi. IAIN Pare Pare, https://repository. id/id/eprint/1306/. 19 Sri Sugita. AuPengaruh Kecanduan Media Sosial terhadap Kedisiplinan dalam Melaksanakan Ibadah Shalat Fardhu Remaja Pasie Nan TigoAy (Skripsi. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, 2. , 11, http://eprints. id/3382/. 20 Akbar Idris Fazlurrahman and M. Slamet Yahya. AuStudi Komparasi Pemikiran Tasawuf Imam Al-Ghazali dan Ibn Taimiyah Perspektif Pendidikan Islam,Ay Jurnal Kependidikan 12, no. 2 (November 29, 2. : 184, doi:10. 24090/jk. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 mahasiswa yang sering terjebak rutinitas, distraksi teknologi, dan tekanan akademik, konsep salat menurut al-GhazaliAiyang menekankan keseimbangan antara lahiriah dan batiniahAi sangat relevan untuk menghadirkan kembali makna spiritual salat. Penelitian ini penting dilakukan, karena belum ada penelitian tentang pelaksanaan shalat sebagai nilai spiritualitas perspektif Imam Ghazali. Meski demikian, terdapat sejumlah penelitian terdahulu yang mengkaji tentang peran salat dalam aspek psikologis maupun pendidikan, di antaranya: Penelitian Arsyadana dkk. yang meneliti hubungan antara intensitas salat tahajud dan tingkat kecemasan mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran,21 penelitian Hambali tentang pengaruh salat dhuha terhadap kualitas pendidikan, dengan fokus pada konsentrasi belajar,22 dan penelitian Azzahra dkk. , yang membahas mengenai pemahaman mahasiswa terhadap ibadah salat Jumat. 23 Dari ketiga penelitian tersebut tentu memberikan kontribusi yang berharga, namun belum ada yang meneliti salat secara menyeluruh sebagai media spiritual yang mencakup aspek khusyuk, kehadiran hati, serta kedisiplinan waktu sebagaimana digariskan oleh Imam Al-Ghazali. Inilah yang menjadi celah penelitian . esearch ga. yang hendak dijawab dalam kajian Berangkat dari gap tersebut, penelitian ini diarahkan untuk mendeskripsikan bagaimana praktik salat dijalankan di kalangan mahasiswa dengan mengacu pada perspektif nilai spiritualitas Imam Al-Ghazali. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran makna salat dari ibadah yang ideal yakni khusyuAo, tepat waktu, dan penuh kesadaran menjadi ibadah yang lebih bersifat formalitas. Lebih jauh, penelitian ini menawarkan pemaknaan ulang tentang salat berdasarkan pemikiran Imam Al-Ghazali agar dapat dijadikan pedoman praktis dalam meningkatkan kualitas ibadah sekaligus spiritualitas sosial mahasiswa di tengah tantangan kehidupan Metode Penelitian Hasilnya menunjukkan bahwa semakin sering mahasiswa melaksanakan tahajud, semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami. Sebaliknya, kurangnya kebiasaan tahajud berhubungan dengan kecemasan yang lebih Temuan ini menegaskan bahwa tahajud tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga berperan sebagai coping spiritual yang membantu mahasiswa mengurangi tekanan akademik dan sosial, sekaligus menjaga kesehatan mental mereka. Gemilang Mutsaqqofa Arsayadana et al. AuHubungan Intensitas Shalat Tahajud dengan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa Preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya,Ay JurnalMU: Jurnal Medis Umum 1, no. 3 (December 6, 2. : 107Ae15, doi:10. 30651/jmu. 22 Menggunakan analisis regresi, hasilnya menunjukkan bahwa kebiasaan melaksanakan salat dhuha berkontribusi 42,8% terhadap peningkatan konsentrasi siswa. Temuan ini menegaskan bahwa salat dhuha tidak hanya bernilai ibadah ritual, tetapi juga memiliki dimensi spiritualitas yang mendukung ketenangan, fokus, dan disiplin belajar. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa ibadah sunnah dapat berperan langsung dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus membentuk karakter akademik dan religius siswa. Muh Hambali and Dewita Sekar Wangi. AuThe Influence of Sunnah Prayer Spirituality on the Quality of EducationAy 16, no. 23 Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar mahasiswa sebenarnya sudah memahami tata cara dan mengetahui keutamaan salat Jumat. Namun, dalam praktiknya masih banyak hambatan yang membuat pelaksanaannya kurang maksimal. Hambatan tersebut antara lain jadwal kuliah yang bertepatan dengan waktu salat Jumat, kurangnya motivasi pribadi, serta jarak antara kampus dengan masjid. Untuk mengatasi persoalan tersebut, penelitian ini merekomendasikan beberapa strategi agar pemahaman sekaligus praktik salat Jumat dapat ditingkatkan. Nayla Meisyah Azzahra et al. AuRevitalisasi Pemahaman Ibadah Salat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa: Salat Jumat,Ay IJEDR: Indonesian Journal of Education and Development Research 2, no. 2 (July 1, 2. : 1186Ae94, doi:10. 57235/ijedr. Spiritualitas Salat Mahasiswa dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Ae Naela NiAomatu Ajrina dan Nurlailatul Musyafaah Jenis Penelitian Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan filosofis. Tujuannya bukan hanya untuk melihat bagaimana mahasiswa melaksanakan salat, tetapi juga untuk memahami makna spiritual salat menurut pemikiran Imam Al-Ghazali. Metode kualitatif dipilih karena lebih menekankan pada pemahaman yang mendalam tentang persoalan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menampilkan data dalam bentuk Sementara itu, pendekatan filosofis dipakai sebagai alat analisis untuk mengkaji nilai-nilai spiritual dalam salat, sehingga dapat menjelaskan hakikat, tujuan, dan makna terdalam dari ibadah tersebut. Subjek Penelitian Penelitian ini melibatkan 32 responden yang dipilih melalui kuesioner online menggunakan Google Form. Responden adalah mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Mahasiswa dipilih karena dianggap mewakili kelompok yang sering menghadapi tantangan dalam menjaga keteraturan salat di tengah padatnya kegiatan kuliah dan aktivitas sehari-hari. Dari jumlah tersebut, terdapat 18 responden laki-laki dan 14 responden perempuan. Selain kuesioner, peneliti juga melakukan wawancara mendalam dengan 4 mahasiswa dari fakultas yang berbeda. Berdasarkan karakteristik responden tersebut, penelitian ini dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang bagaimana mahasiswa melaksanakan salat, baik dari segi kebiasaan sehari-hari maupun pemaknaan spiritual yang mereka rasakan. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara utama, yaitu melalui kuesioner dan wawancara. Kuesioner disebarkan secara online menggunakan Google Form kepada 32 responden mahasiswa. Pertanyaan dalam kuesioner berkaitan dengan kebiasaan mereka dalam melaksanakan salat, pemahaman tentang pentingnya salat, serta faktor-faktor yang memengaruhi ketepatan waktu dalam beribadah. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara semi-terstruktur dengan 4 mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Wawancara ini dimaksudkan untuk melengkapi data dari kuesioner dengan menggali lebih dalam pengalaman pribadi responden, alasan mengapa salat sering dilakukan di akhir waktu, serta pandangan mereka tentang salat sebagai sarana spiritual. Teknik semi-terstruktur dipilih agar peneliti tetap memiliki pedoman pertanyaan, tetapi tetap memberi kebebasan bagi responden untuk menjawab secara lebih terbuka dan detail. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan metode deskriptif-filosofis. Artinya, hasil dari kuesioner dan wawancara tidak hanya disajikan dalam bentuk deskripsi, tetapi juga dikaitkan dengan ajaran Imam Al-Ghazali tentang salat, khususnya mengenai khusyuk, kehadiran hati, dan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Analisis ini bertujuan untuk melihat relevansi antara praktik ibadah masyarakat modern dengan pemikiran filosofis Imam Al-Ghazali. Nilai Spiritualitas Menurut Imam Al-Ghazali Spiritual berasal dalam bahasa latin, yaitu: spirit atau spiritus berarti napas. 24 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, spiritual merupakan sesuatu yang berkaitan dengan kejiwaan . ahir dan bathi. Dengan kata lain, spiritual dapat diartikan hubungan habluminallah . ubungan manusia dengan Alla. yang prakteknya dengan cara salat, puasa, zakat, haji, doa. Jalaluddin. Psikologi Agama (Jakarta: Rajawali Pers, 2. , 330. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 dan segala bentuk ibadah lainya. Sedangkan menurut ahli tasawuf, spiritual adalah jiwa. Sehingga dalam dunia kesufian jiwa adalah titik tumpu kehidupan. Beberapa aspek spiritualitas, diantaranya: berhubungan terhadap sesuatu yang tidak ada pastian . idak jela. dalam hidup, menemukan adanya arti dan tujuan hidup, memngetahui kemampuan untuk menggunakan sumber atau kekuatan pada diri sendiri, adanya perasaan terikat kepada Allah. 25 Adapun faktor yang memiliki hubungan dengan spiritualitas, antara lain: diri sendiri, orang lain, dan tuhan. Imam al-Ghazali adalah ulama yang mendapat gelar hujjatul Islam karena kemampuan yang dimiliki dalam menghimpun akidah, syariah, dan akhlak ke dalam lingkup tasawuf menjadi suatu sumber tegaknya Islam. Menurut al-Ghazali, salat yang baik adalah memancarkan cahaya-cahaya dari dalam hati karena seorang hamba yang salat perbuatannya dikagumi oleh sepuluh malaikat. 26 Hal ini disebabkan manusia ketika melakukan salat yang mencakup gerakan-gerakan seperti berdiri rukuk sujud dan duduk sehingga terbukanya pintu langit bagi hamba yang sedang melakukan ibadah salat dengan khusyuAo serta menghadirkan dirinya kepada Allah. 27 Karena sejatinya salat adalah suatu komunikasi kepada Allah dengan menghayati serta merenungkan secara lahir dan batin antara ucapan dengan hati yang memiliki persamaan dalam memahami secara benar bahwa saat itulah sedang menghadap Allah. Begitu luasnya dan besar arti dibalik pengerjaan salat maka sangat perlu ditanamkan pada setiap jiwa agar merasakan apa nilai spiritual dalam mengerjakan ibadah salat. Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa cahaya yang terpancar di dalam hati ketika salat akan menjadi kunci pembuka bagi ilmu-ilmu mukasyafah. Kedudukan salat dalam Islam sangat luar biasa sehingga apabila ada orang yang meninggalkan salat maka secara otomatis lemah pondasi spiritualnya. Di dalam salat bukan hanya dilatih untuk mengikhlaskan semua tetapi juga dilatih bagaimana agar berserah diri kepada Allah ketika menerima cobaan dengan keyakinan bahwa Allah yang mampu menolong serta menerima dengan lapang dada. Menurut Al-Ghazali, untuk khusyuAo, ruh salat harus ada minimal ketika takbiratul ihram. Kurang dari tersebut merupakan kerusakan, orang yang lalai dalam semua salatnya, bahkan tidak mungkin bisa ingat Allah. KhusyuAo merupakan tolok ukur sebuah ruh yang terdapat dalam bagian salat. Orang yang lalai dalam salatnya, yaitu seperti orang hidup akan tetapi tidak punya daya untuk bergerak . eperti orang mat. Memang jasad tersebut hidup akan tetapi hatinya mati. Ibadah salat dalam pandangan Imam Al-Ghazali seperti yang diketahui bahwa salat merupakan salah satu jalan bagi seorang manusia untuk bertemu dengan Tuhannya dan memiliki arti yang sangat luas, yang terangkum enam kalimat, yaitu: Hudhurul Qalb (Hadirnya Hat. , dengan maksud hati tersebut kosong dari segala sesuatu yang bercampur padanya atau membuang segala sesuatu yang tidak berkaitan saat salat sehingga pikiran tidak menembus pada sesuatu ketika salat. Dalam kitab IhyaAo Ulumuddin dijelaskan bahwa salat yang tidak hadir hati di dalamnya maka orang yang salat itu lebih cepat mendapatkan siksa dan apabila tidak khusyuk dalam salatnya maka salatnya rusak. Ibid. , 334. Mardiana. AuNilai-Nilai Spiritualitas Shalat Dalam Perspektif al-GhazaliAy (Skripsi. IAIN Bengkulu, 2. , 7, http://repository. id/10530/. 27 Fatakhul Huda. AuSudut Pandang Al-Ghozali Dalam Memaknai Spiritualitas Shalat,Ay Taqorrub: Jurnal Bimbingan Konseling dan Dakwah 3, no. 1 (June 18, 2. : 20, doi:10. 55380/taqorrub. 28 Al-Ghazali. Mutiara IhyaAo AoUlumuddin (Bandung: Mizan, 2. , 67. 29 Imam Ghazali. Rahasia Shalatnya Orang-Orang Makrifat (Bandung: MitraPress, 2. , 143. Spiritualitas Salat Mahasiswa dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Ae Naela NiAomatu Ajrina dan Nurlailatul Musyafaah Taffahum (Pemahama. , dengan maksud seseorang bukan hanya paham terhadap lafadzlafadznya saja akan tetapi terhadap makna yang terkandung di dalamnya karena dengan mengerti maksud dalam bacaan yang dibaca tersebut akan hadir pemahaman di hati yang benar akan makna-makna bacaan tersebut. Dengan demikian salat merupakan suatu perbuatan mencegah dari keburukan dan kemungkaran karena di dalam salat seseorang memahami urusan yang mencegah dari keburukan. Sepert contoh sseorang membaca surat al-fatihah di dalam salat maka secara otomatis orang tersebut harus mengetahui makna yang terkandung di dalam surat terebut. TaAozhim (Pengagunga. , dengan maksud dibalik hadirnya hati dan pemahaman serta adanya pengagungan terhadap zat yang maha besar serta maha agung Karena hal itu tidak bisa ditinggalkan. Haibah (Ketakuta. , dengan maksud suatu sifat melebihi taAodhim, tambahan atas pengakuan tetapi ungkapan tentang takut adalah pengagungan terhadap orang yang tidak disertai rasa takut maka bukan disebut orang yang takut. Dengan kata lain, ketakutan yang disertai dengan pengagungan terhadap sesuatu yang dihormati disebut ketakutan . dan hakikat ketakutan itu pemuliaan. RajaAo (Harapa. , dengan maksud tidak ada keraguan. Hal ini berbeda jika manusia mengagungkan seorang raja dengan sebab takut terhadap kewibawaannya atau takut karena tindakannya tetapi tidak terbesit untuk mengharap pemberian atau pahala. Adapun jika manusia sejatinya ketika saat salat dia bisa berharap akan pahala dari Allah sebagaimana halnya dengan takut pada mendapat siksa Allah karena kelalaiannya dan meyakini bahwa Allah merupakan dzat yang selalu memberi harapan tempat hambanya bergantung, tempat meminta pertolongan. HayaAo (Mal. , dengan maksud perasaan malu yang timbul kepada Allah karena sebagai manusia yang bukan memiliki pribadi baik atau sempurna, selalu lalai, sering melakukan dosa dan salah, bahkan sering terkalahkan oleh hawa nafsu sehingga merayakan kewajiban dan perintahnya. Padahal semua orang mengetahui bahwa Tuhan maha mengetahui segala rahasia baik hanya terlintas di dalam hati, sekecil apapun atau sesamar apapun bisikannya. Apabila manusia memperoleh pengetahuan semacam ini dengan seyakin-yakinnya maka dengan sendirinya akan timbul terhadap semua hal dengan perasaan malu terhadap Allah. Rasulullah pernah bersabda bahwa tentang perintah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu. Hadis tersebut diriwayatkan oleh at Tirmidzi. Dari keenam aspek tersebut, titik penting sesungguhnya adalah hadirnya hati karena di dalam hatilah tempat segala cita-cita apapun yang manusia inginkan maka di situlah hati akan ikut serta begitu pula sebaliknya ketika manusia tidak menginginkan maka hati tidak akan Jika hati tidak hadir dalam salat, bukan pula berarti kosong akan tetapi akan menghadirkan sesuatu yang diinginkan dari urusan-urusan dunia. Sehingga salah satunya obat terbaik bagi hati yang mencintai dunia yaitu salat. Dengan demikian itu iman dan pembenaran kalau akhirat lebih baik serta lebih kekal sedangkan salat di sini berperan sebagai perantara kepadanya. Di samping itu salat memberikan kesan besar terhadap kesejahteraan kerohanian seseorang karena sebagai tonggak keyakinan dan jalan utama dalam meningkatkan diri Al Ghazali. Rahasia-Rahasia Shalat, 63. Sitti Maryam. AuShalat Dalam Perspektif Imam Al-Ghazali (Kajian Sufisti. ,Ay Al-Fikrah 1, no. 2 (June 2. : 106Ae Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 kepada Allah. 32 Segala pergerakan perlakuan dan amalan lahir berkaitan dengan salat bermula dari adzan, takbir, menyempurnakan rukun-rukun salat, baik fardhu maupun sunnah baik secara berjamaAoah ampun munfarid semuanya mengandung rahasia tersendiri yaitu tujuan pembersihan jiwa dan pembentukan watak manusia. Serta didukung dengan adanya amalan bathin, adanya khusyuk, hati yang hadir, dan ikhlas. KhusyuAo secara singkat merupakan hasil dari iman dan keyakinan disebabkan adanya faktor-faktor seperti memahami apa yang dibaca dalam salat mengagungkan serta rasa takut karena mengetahui dan merasakan kehebatan kekuasaan, bahkan kelembutan serta kemurahannya walaupun manusia tidak terlepas dari rasa malu yang timbul karena kelemahan,dosa, dan kezaliman yang cenderung kepada kebahagiaan di dunia padahal Allah mengetahui segala rahasia serta getar hati yang tersembunyi. Manusia melaksanakan salat dengan khusyuAo memperoleh banyak pengaruh yang dapat dirasakan: pertama, akan disiplin waktu karean merasa diawasi oleh Allah serta tidak menyia-nyiakan nikmat yang mahal harganya atau membuangnya. Kedua, sifat tawadhuAo. Hal ini bisa dilihat ketika sujud yang mana derajat kepala dan kaki itu sama bahkan setiap orang yang mengerjakan salat pun memiliki derajat yang sama. Karena kemulian sejatinya hanya milik Allah. Ketiga, orang yang khusyuAo akan terjaga dari keburukan. Keempat, akan membawa ketenangan, kedamaian, dan ketentraman dalam hidup manusia. Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan Salat Sebagai Nilai Spiritualitas Mahasiswa Hasil Angket . Berikut merupakan pemaparan penelitian yang diambil melalui pengumpulan data dengan menggunakan angket atau kuesioner dengan memanfaatkan teknologi berupa G- form sebagai salah satu teknik dalam pengumpulan datanya dari 32 responden masyarakat secara Salat merupakan rukun islam yang kedua Gambar 1. Hasil responden pertanyaan pertama Berdasarkan gambar di atas, diketahui bahwa 90,6% responden menyatakan bahwa Salat merupakan rukun Islam yang kedua. Al Ghazali and Abu Hamid Muhammad. IhyaAo Ulum al-Din Jilid 1 (Terjemah H. Ismail Yaku. (Singapura: Pustaka Nasional, 1. , 509. 33 Ibid. , 544. 34 Al-Ghazali. Mutiara IhyaAo AoUlumuddin, 88. Spiritualitas Salat Mahasiswa dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Ae Naela NiAomatu Ajrina dan Nurlailatul Musyafaah Pentingnya melaksanakan salat tepat waktu Gambar 2. Hasil responden pertanyaan kedua Kebanyakan masyarakat berpendapat sangat penting tentang pelaksanakan salat tepat waktu dan hanya 12. 5% responden berpendapat pelaksanakan salat tepat waktu dinilai menurut kondisional atau sesuai dengan kondisi yang memperngaruhi. Karena tidak dapat dipungkiri kesibukan seseorang berbeda-beda. Melaksanakan salat di awal waktu Gambar 3. Hasil responden pertanyaan ketiga Hasil responden pada gambar 3 menyatakan bahwa masyarakat dengan 40,6% sering melaksanakan salat di awal waktu dan untuk kategori sering sekali terdapat 25% responden yang memiliki selisih 3,1% lebih banyak bagi masyarakat yang jarang melaksanakan salat di awal waktu. Dengan kata lain 32 responden yang melaksanakan salat rata-rata di awal Melaksanakan salat di akhir waktu Gambar 4. Hasil responden pertanyaan keempat Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Pada gambar 4 hasil penelitian menyatakan bahwa sebanyak 56,3% responden sering melaksanakan salat di akhir waktu. hal ini memiliki persentase yang lebih tinggi daripada salat di awal waktu. adapun responden yang jarang melaksanakan salat di akhir waktu memiliki persentase 21,9%, responden yang tidak pernah terdapat 9,4%. Sisanya responden yang sering sekali malaksankan diakhir waktu terdapat 12,5%. Jika dilihat dari kedua gambar yaitu gambar 3 dan gambar 4 perbandingan pelaksanaan salat lebih banyak responden yang sering mengakhirkan waktu salat dengan selisih 15,7%. Akan tetapi untuk responden sering sekali 1 banding 2 untuk di awal dan diakhir waktu. Dengan demikian hal tersebut tidak dapat dipastikan karena bersifat kondisional. Alasan ketika salat di akhir waktu Gambar 5. Hasil responden per tanyaan kelima Adapun alasan dijelaskan pada gambar kelima. Responden terbanyak adalah tuntutan pekerjaan dengan persentase 34,4%. Pada persentase 18,8% terdapat 3, yaitu karena malas, ketiduran, dan urusan dunia. Sisanya responden memiliki alasan lain yaitu biasanya mendahulukan hal-hal lain dengan begitu alasan bagi mereka ketika salat di akhir waktu karena mementingkan pekerjaan yang lain daripada mengerjakan waktu salat. Ada dua kategori alasan yang dapat ditarik kesimpulan dalam penelitian tersebut, yaitu: alasan yang tidak dapat dihindarkan dan alasan yang dapat dihindarkan. Menilik dari responden, alasan yang tidak bisa dihindarkan yaitu ketiduran dan keadaan darurat. Tetapi hal tersebut bisa ditekankan bahwa keadaan darurat apapun bisa terantisipasi dengan membagi waktu. Sedangkan alasan yang dapat dihindarkan untuk melaksanakan salaat diwaktu akhir, seperti malas, urusan dunia . croll instagram, tiktok, olsho. , atau mementingkan urusan lain. Hal tersebut bisa dilakukan setelah mengerjakan salat terlebih dahulu. Adapun untuk tuntutan pekerjaan atau kuliah bisa diatur dengan memiliki tekad kuat ketika sudah selesai dengan urusan tersebut bergegas untuk mengerjakan salat. Salat yang sering dilaksanakan di akhir waktu Spiritualitas Salat Mahasiswa dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Ae Naela NiAomatu Ajrina dan Nurlailatul Musyafaah Gambar 6. Hasil responden pertanyaan keenam Studi penelitian dari responden 32 orang menyatakan bahwa 34,4% salat subuh yang termasuk kategori salat yang memiliki potensi besar dilaksanakan di akhir waktu. Biasanya karena faktor waktu subuh yang singkat atau faktor tidak bangun pada waktunya . Sedangkan 28,1% responden menyatakan salat yang sering dilaksanakan di akhir waktu yaitu salat isya dengan faktor ketidaksengajaan tidur atau yang awalnya menunda karena ada kesibukan sehingga lalai dalam waktunya. Dengan 18,8% responden menyatakan bahwa salat zuhur nomor 3 kategori sering dilaksanakan di akhir waktu dengan faktor bahwa waktu Zuhur merupakan waktu orang-orang beraktivitas dan menepati nomor 4 yaitu waktu magrib dengan responden 12,5% sementara waktu maghrib merupakan waktu paling sempit. Tabel 1. Ringkasan Hasil Kuesioner Pertanyaan / Variabel Hasil Utama Persentase / Temuan Salat sebagai rukun Islam kedua Mayoritas responden menyadari 90,6% menyatakan benar Pentingnya salat tepat Mayoritas menilai sangat penting, sebagian menyesuaikan kondisi A 87,5% sangat penting. 12,5% kondisional Melaksanakan salat di awal waktu Sering: 40,6%. Sering sekali: 25%. Jarang: 31,3% Lebih sedikit dibanding akhir waktu Melaksanakan salat di akhir waktu Sering: 56,3%. Sering sekali: 12,5%. Jarang: 21,9%. Tidak pernah: 9,4% Lebih dominan dibanding awal waktu Alasan salat di akhir Tuntutan pekerjaan/kuliah . ,4%), malas . ,8%), ketiduran . ,8%), urusan dunia . ,8%), lainnya . ,4%) Faktor utama: kesibukan & gadget Subuh . ,4%). Isya . ,1%). Zuhur Salat yang paling sering . ,8%). Maghrib . ,5%). Asar . Subuh & Isya dominan Hasil Wawancara Studi penelitian Pelaksanaan Salat Sebagai Nilai Spiritualitas dalam masyarakat dengan wawancara sebagai penguat data sebelumnya. Pengumpulan data ini mengambil sampel 4 orang mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan: Narasumber pertama Menurut narasumber pertama35 ketiduran adalah alasan utama seseorang melaksanakan salat di akhir waktu terutama pada salat subuh, bangun di luar waktunya . Menjadikan salat subuh adalah salat yang sulit untuk dilaksanakan pada awal Untuk mengantisipasi salat yang lainnya. Narasumber melaksanakan salat diawal waktu jika tanpa kendala kesibukan atau factor lainya. Terkecuali jika kepepet maka akan berusaha untuk melaksanakan walaupun terlambat . arena menurutnya sebisa mungkin untuk tidak meninggalkan sala. Menurutnya salat fardhu yang dikerjakan selama ini tidak di awal atau di akhir . ipertengahan wakt. Mengerjakan salat dengan khusyuAoadalah suatu Rizky. AuPelaksanaan Salat Sebagai Nilai Spiritualitas Dalam Masyarakat,Ay Interview, 30 2023. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 hal yang tidak mudah karena terkadang manusia memikirkan hal duniawi. Salah satu cara untuk mengontrol hati agar bisa khusyuAo dengan memikirkan bacaan salat. Narasumber kedua Narasumber kedua36 menuturkan bahwa kebiasaannya mengerjakan salat di tengahtengah waktu. Adapun untuk salat yang sering dilaksanakan di akhir waktu yaitu salat dhuhur dan asar dengan alasan melaksankan akhir waktu karena ketiduran dan terkadang merasa bahwa batas akhir waktu salat masih lama. Terkadang untuk mengantisipasinya dengan melaksanakan salat sebisa mungkin untuk tidak di akhir waktu kecuali jika ada suatu yang penting secara tiba-tiba . idak dapat di kondisionalka. atau sebelum rasa malas datang. Pelaksanaan salat tidak dapat di kondisikan secara pasti karena terkadang keadaan tidak sama antara hari ke hari. Menurut narasumber mengerjakan salat dengan khusyuAo adalah melalui mengingat Allah, dengan maksud fokus bahwa kita adalah hamba-Nya Allah sehingga apa yang ada dipikiran sudah tergerbangi hanya pada Allah terutama dengan mengingat banyaknya kesalahan kita sebagai hamba sehingga membuat seseorang lebih khusyuAo. Kuncinya sebelum salat untuk teguhkan niat bahwa kita mau berkomunikasi dengan Allah. Narasumber ketiga Menurut narasumber ketiga,37 menuturkan bahwa sebab utama dalam mengakhirkan salat karena gadget. Menurutnya ketika tidak memegang gadget, akan mudah melaksanakan salat diawal waktu karena tidak ada factor untuk menunda-nunda. Adapun factor lainnya seperti scroll gadget, malas, atau fokus mengerjakan tugas. Salat subuh adalah salat yang sering dikerjakan pada akhir waktu karena susahnya bangun dalam waktu subuh. Walaupun dalam kondisi yang tidak memungkinkan sebisa mungkin menyempatkan salat dan sebisa mungkin untuk tidak meninggalkan salat karena sebagai menghormati waktu salat tersebut. menurut narasumber cara untuk melaksanakan salat secara khusyuAo dengan cara sebelum takbir membaca salawat dan surat An-Nas lalu ketika takbir membaca Ya Allah Ya Rasullah. Narasumber keempat Narasumber keempat38 menuturkan bahwa sering mengusahakan untuk melakukan salat diawal waktu di tengah-tengah kesibukan seperti: sebelum masuk kampus terutama pada siang hari atau sore. Adapun salat yang sering diakhirkan pada waktu zuhur dan isyaAo. Karena adanya factor kepentingan kuliah, jadwal kampus dan sedangkan salat isyaAo waktu dikerjakannya sebelum tidur. Sebenarnya pelaksanaan salat tergantung aktivitas yang dikerjakan tidak dapat di pastikan waktu pelaksanaannya akan tetapi sebisa mungkin untuk tidak melaksanakan diakhir waktu karena untuk menghindari kemalasan. Menurut narasumber menjadikan salat khusyuAo dengan berada di tempat yang tenang serta membaca bacaan salat dengan seksama dan merasa dilihat oleh Allah. Berdasarkan hasil wawancara kepada empat narasumber tersebut maka dapa diketahui bahwa Pola pelaksanaan salat bervariasi, sebagian berusaha melaksanakan di awal waktu, tetapi banyak yang terjebak pada kebiasaan menunda hingga pertengahan atau akhir waktu, terutama untuk salat subuh, zuhur, dan isyaAo. Faktor utama yang menyebabkan KA. AuPelaksanaan Salat Sebagai Nilai Spiritualitas Dalam Masyarakat,Ay Interview, 30 2023. T P. Praktik Masyarakat Tentang Pelaksanaan Salat Secara Tepat Waktu di Era Generasi Z. Interview, 30 2023. R H. Praktik Masyarakat Tentang Pelaksanaan Salat Secara Tepat Waktu di Era Generasi Z. Interview, 30 2023. Spiritualitas Salat Mahasiswa dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Ae Naela NiAomatu Ajrina dan Nurlailatul Musyafaah keterlambatan adalah ketiduran . hususnya subu. , kesibukan kuliah atau aktivitas lain, rasa malas, serta distraksi gadget. Upaya menjaga kekhusyukan berbeda tiap individu, antara lain dengan mengingat makna bacaan, meneguhkan niat sebelum salat, membaca doa/doa tambahan sebelum takbir, mencari tempat tenang, dan merasakan kehadiran Allah. Kesadaran untuk tidak meninggalkan salat cukup tinggi, meskipun di akhir waktu, para mahasiswa tetap berusaha melaksanakan salat wajib. Hasil wawancara mempertegas bahwa tantangan utama bukan pada pemahaman hukum salat, melainkan pada pengendalian diri, manajemen waktu, dan konsistensi menghadirkan hati, sesuai dengan konsep Imam alGhazali. Tabel 2. Ringkasan Hasil Wawancara Narasumber Kebiasaan Faktor Upaya untuk Pelaksanaan Salat Keterlambatan KhusyuAo Fokus pada bacaan salat lain di . , salat untuk awal/pertengahan mengontrol hati Ketiduran. Meneguhkan niat. Menilai kondisi merasa masih mengingat Allah & tiap hari tidak ada waktu pertengahan waktu. zuhur & asar sering di Menekankan Subuh sering di akhir Ketiduran Biasanya di Catatan Khusus Subuh sering di akhir. Gadget, malas, lainnya tergantung tugas kuliah pentingnya tetap salat meski Membaca salawat Gadget disebut & surat An-Nas faktor utama sebelum takbir penunda salat Tempat tenang. Berusaha awal waktu. Kesibukan membaca bacaan Isya sering kecuali zuhur & isya kuliah, jadwal dengan seksama, sering terlambat merasa diawasi sebelum tidur Allah Analisis Spiritualitas Imam al-Ghazali terhadap Pelaksanaan Salat Masyarakat Berdasarkan hasil penelitian melalui angket dan wawancara, ditemukan bahwa mayoritas mahasiswa menyadari salat sebagai rukun Islam kedua dan kewajiban utama, namun pelaksanaannya sering kali tidak konsisten dengan nilai-nilai ideal yang diajarkan. Salat subuh dan isya cenderung dilaksanakan mendekati akhir waktu, bahkan tidak jarang tertinggal karena ketiduran atau kesibukan. Sementara itu, salat zuhur kerap tertunda akibat aktivitas akademik, dan salat asar maupun magrib dipengaruhi oleh rutinitas harian. Faktorfaktor yang menjadi alasan utama adalah kesibukan kuliah, pekerjaan, rasa malas, serta distraksi gadget. Kondisi ini menggambarkan bahwa banyak mahasiswa memandang salat Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 sebatas kewajiban formal, bukan sebagai sarana spiritual yang menumbuhkan kesadaran diri dan kedekatan dengan Allah. Dalam perspektif Imam al-Ghazali, fenomena tersebut menunjukkan adanya ketidakhadiran hati . udhurul qal. dalam ibadah. 39 Salat yang dilakukan hanya sebagai rutinitas cenderung kehilangan makna taffahum . emahaman terhadap bacaa. , taAozhim . , serta haibah . asa taku. kepada Allah. 40 Padahal, al-Ghazali menegaskan bahwa salat yang berkualitas harus mampu menghadirkan dimensi khusyuAo, karena khusyuAo adalah ruh dari ibadah. Tanpa itu, salat tidak lebih dari sekadar gerakan jasmani yang kosong dari makna ruhani. Temuan penelitian juga memperlihatkan bahwa keterlambatan salat seringkali terjadi karena manusia lebih mendahulukan kepentingan duniawi dibanding seruan Allah. Dalam kacamata al-Ghazali, kondisi ini mencerminkan lemahnya sifat rajaAo . arapan akan pahala Alla. 4243 dan hayaAo . asa malu di hadapan-Ny. Salat seharusnya menjadi pengingat tentang keterbatasan manusia serta ketergantungan kepada Allah, namun dalam praktiknya banyak mahasiswa justru menomorduakan ibadah tersebut. Meski demikian, sebagian responden menyatakan bahwa ketika mereka berusaha menghadirkan khusyuAoAimisalnya dengan memfokuskan niat, membaca doa sebelum takbir, atau mencari tempat yang tenangAimereka merasakan ketenangan batin, kedisiplinan waktu, dan pengendalian diri. Hal ini sejalan dengan pandangan al-Ghazali bahwa salat yang khusyuAo akan memancarkan cahaya hati, mencegah dari keburukan, serta menjadi benteng Dengan kata lain, data penelitian ini sekaligus membuktikan relevansi ajaran alGhazali: semakin seseorang menghadirkan hati dalam salat, semakin kuat pula dampak positif yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, analisis menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman normatif mahasiswa tentang salat dengan penghayatan spiritualnya. Imam al-Ghazali menawarkan solusi melalui internalisasi nilai-nilai sufistikAihudhurul qalb, taffahum, taAozhim, haibah, rajaAo, dan hayaAoAiagar salat tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban formal, melainkan sebagai sarana penyucian jiwa, pengendalian diri, dan penguatan karakter religius di tengah dinamika kehidupan modern. Kesimpulan Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara terhadap 32 mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden memahami salat sebagai rukun Islam kedua dan menganggap pelaksanaannya sangat penting. Namun, praktiknya masih Fahrul Rozi and Fathurrahman Mukhtar. AuPeran Qalb dan FuAoad dalam Pendidikan Islam Menurut Al-Ghazali,Ay Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan 9, no. 3 (July 30, 2. : 1613, doi:10. 29303/jipp. 40 Mardiana. AuNilai-Nilai Spiritualitas Shalat Dalam Perspektif al-Ghazali,Ay vi. 41 Diana Safitri. Zakaria Zakaria, and Ashabul Kahfi. AuPendidikan Kecerdasan Spiritual Perspektif Al-Ghazali Dan Relevansinya Dengan Emotional Spiritual Quotient (ESQ),Ay Tarbawi : Jurnal pemikiran dan Pendidikan Islam 6, no. 1 (February 8, 2. : 78Ae98, doi:10. 51476/tarbawi. 42 Al Halim Kusuma and Laila Rahmadani. AuImam Al-Ghazali dan Pemikirannya,Ay Jurnal Ekshis 1, no. 1 (April 23, 2. : 23Ae31, doi:10. 59548/je. 43 Haikal Ihza Nur Muhammad. Ngarifin Shidiq, and Salis Irvan Fuadi. AuNilai-Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Al-Usfuriyyah Karya Syaikh Muhammad Bin Abu Bakar Al-Usfuri,Ay Reflection : Islamic Education Journal 2, 1 (December 12, 2. : 61, doi:10. 61132/reflection. 44 Mardiana. AuNilai-Nilai Spiritualitas Shalat Dalam Perspektif al-Ghazali,Ay 7. 45 Ibid. , vi. Spiritualitas Salat Mahasiswa dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Ae Naela NiAomatu Ajrina dan Nurlailatul Musyafaah dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kesibukan kuliah, pekerjaan, rasa malas, ketiduran, dan distraksi gadget. Salat subuh dan isyaAo merupakan salat yang paling sering diakhirkan, disebabkan waktu yang singkat atau tertidur sebelum waktunya. Salat zuhur juga sering tertunda karena aktivitas akademik. Hanya sebagian kecil responden yang mampu konsisten melaksanakan salat di awal waktu. lebih banyak yang melaksanakannya di akhir waktu. Alasan keterlambatan dapat dibagi menjadi dua kategori: a. Tidak dapat dihindarkan: ketiduran, kondisi darurat. Dapat dihindarkan: malas, penggunaan gadget, mendahulukan urusan duniawi. Ketika salat dilakukan dengan khusyuAo, responden merasakan ketenangan, disiplin, serta pengendalian diri, sesuai dengan ajaran Imam al-Ghazali tentang pentingnya hadirnya hati . udhurul qal. , pemahaman bacaan . , pengagungan . aAozhi. , dan rasa takut serta malu kepada Allah. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan adanya kesenjangan antara pemahaman normatif mahasiswa mengenai salat dan penghayatan spiritualnya. Konsep spiritualitas salat menurut Imam al-Ghazali dapat menjadi solusi praktis untuk meningkatkan kualitas ibadah mahasiswa di era modern. Daftar Pustaka