Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Kampung Rasa Cafy: Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga melalui Pelatihan Barista Berbasis Ekonomi Hijau di Kampung Wisata Kakaskasen Dua. Kota Tomohon. Provinsi Sulawesi Utara Dimas Ero Permana*1. Bet El Silisna Lagarense2. Mercy Ariane Lumare3. Vesty Like Sambeka4. Hendry Moudy Kumaat5 1,3,5 Program Studi D4 Manajemen Perhotelan. Politeknik Negeri Manado. Indonesia 2 Program Studi D4 Global Tourism Management. Politeknik Negeri Manado. Indonesia 4 Program Studi Usaha Perjalanan Wisata. Politeknik Negeri Manado. Indonesia e-mail: betel. lagarense3@gmail. Artikel dikirim: 06 Oktober 2025. Revisi-1: 17 Februari 2026. Revisi-2: 20 Maret 2026. Diterima: 22 Maret 2026. Dipublikasikan: 12 April 2026. Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kampung Wisata Kakaskasen Dua. Kota Tomohon, dengan tujuan memberdayakan ibu rumah tangga melalui pelatihan kepada 20 anggota kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) yang terdiri dari ibu-ibu PKK. Karang taruna dan pelaku UMKM. Pelatihan peningkatan keterampilan barista dan layanan hospitaliti berbasis ekonomi hijau. Permasalahan mitra adalah rendahnya keterampilan dalam mengolah produk kopi lokal serta belum adanya standar pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan. Metode pelaksanaan meliputi . pelatihan keterampilan barista menggunakan bahan baku kopi lokal, . pelatihan hospitaliti berorientasi wisata ramah lingkungan, serta . pendampingan dalam membangun brand AuKampungRasa CafyAy sebagai identitas komunitas. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan peserta dalam meracik minuman berbasis kopi lokal, penerapan praktik layanan hospitaliti yang lebih ramah wisatawan, serta munculnya motivasi kewirausahaan pada ibu rumah Dampak kegiatan ini tidak hanya meningkatkan peluang ekonomi keluarga, tetapi juga memperkuat daya tarik KampungWisata Kakaskasen Dua sebagai destinasi berbasis ekonomi hijau dan berkelanjutan. Dengan demikian, program ini memberikan kontribusi pada pemberdayaan komunitas, pengembangan pariwisata berkelanjutan, dan pelestarian nilai lokal dalam kerangka ekonomi kreatif. Kata kunci: barista. Kampungwisata. ekonomi hijau. pemberdayaan perempuan. Tomohon. Abstract This community service program was conducted in Kakaskasen Dua Tourism Village. Tomohon City, with the aim of empowering housewives by enhancing their skills in barista practices and hospitality services based on the principles of a green economy. The main problems identified were the lack of skills in processing local coffee products and the absence of standardized services that meet tourist expectations. The implementation methods included: . barista training using locally sourced coffee, . hospitality training with a focus on eco-friendly tourism practices, and . mentoring in developing the AuKampungRasa CafyAy brand as a community identity. The results indicated a significant improvement in participantsAo abilities to create coffee-based beverages, adoption of more tourist-friendly hospitality practices, and the emergence of entrepreneurial motivation among housewives. The impact of this program not only increased family economic opportunities but also strengthened the attractiveness of Kakaskasen Dua Tourism Village as a sustainable and green economyAebased destination. Therefore, this program contributes to community empowerment, sustainable tourism development, and the preservation of local values within the creative economy framework. Keywords: barista. green economy. tourism village. women empowerment. Tomohon PENDAHULUAN Pariwisata berbasis komunitas . ommunity-based touris. telah berkembang menjadi salah satu strategi penting dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di wilayah pedesaan. Model ini menekankan partisipasi aktif masyarakat lokal dalam mengelola sumber daya, menciptakan pengalaman wisata otentik, serta memperkuat identitas komunitas (TursinoviN, aorceviN, & VukiNeviN, 2. Dalam konteks tersebut, pemberdayaan perempuan, khususnya ibu rumah tangga, menjadi aspek strategis karena mereka tidak hanya berperan dalam menopang ekonomi keluarga, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan sosial dan penggerak ekowisata P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. (Aboe. Beazley, & Livingstone, 2023. Idris & Herdiani, 2. Kota Tomohon, khususnya Kampung Wisata Kakaskasen Dua, memiliki potensi besar dalam mengembangkan wisata berbasis ekonomi Kampung ini dikenal dengan lanskap alam yang indah serta tradisi pengolahan kopi lokal. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan, terutama dalam aspek pengolahan produk kopi yang berstandar barista dan layanan hospitaliti yang sesuai dengan ekspektasi Penelitian sebelumnya menegaskan bahwa wisata kopi dapat menjadi pendorong identitas destinasi sekaligus meningkatkan niat kunjung wisatawan (Setiyorini, 2023. Mukti. Haryanto, & Nurhadi, 2. Di sisi lain, tren Authird-wave coffeeAy menuntut keahlian barista profesional, kreativitas, serta kualitas pelayanan yang konsisten (Lee, 2. Kendati demikian, keterlibatan perempuan dalam industri kopi dan hospitaliti masih menghadapi berbagai hambatan, baik struktural maupun kultural. Perempuan pelaku usaha wisata seringkali terpinggirkan ketika menghadapi krisis atau tekanan sosial, sehingga mereka membutuhkan dukungan melalui pelatihan dan ekosistem kewirausahaan yang inklusif (Filimonau. Mika, & PawCowska, 2024. Widiastuti. Utami, & Kurniawati, 2. Penguatan kapasitas melalui pelatihan barista dan hospitaliti juga terbukti meningkatkan kualitas layanan dan daya saing industri pariwisata (Abdelhamied, 2019. Lin. Chang, & Chen, 2. Selain aspek pemberdayaan perempuan, isu keberlanjutan juga menjadi perhatian utama. Saat ini, pariwisata diarahkan pada paradigma ekonomi hijau yang menekankan efisiensi sumber daya, pengurangan dampak lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal (UNWTO, 2012. Pan et al. , 2. Penerapan prinsip hijau dalam pariwisata terbukti mampu meningkatkan efisiensi pembangunan daerah dan memberikan manfaat jangka panjang (Wu. Zhang, & Li, 2. World Bank . juga menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur dan kapasitas masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan lapangan kerja di sektor pariwisata. Melihat kondisi di atas, permasalahan utama mitra di Kampung Wisata Kakaskasen Dua dapat dirumuskan sebagai berikut: . keterampilan ibu rumah tangga dalam mengolah kopi masih terbatas pada cara tradisional dan belum memenuhi standar barista. layanan hospitaliti yang diberikan belum sesuai dengan kebutuhan dan . praktik usaha belum sepenuhnya mengintegrasikan prinsip ekonomi hijau. Kondisi ini diperparah oleh minimnya akses terhadap pelatihan formal di bidang hospitaliti dan Studi Prasetyo dan Wahyuni . menemukan bahwa pelaku usaha wisata perempuan di kawasan pedesaan Indonesia umumnya hanya mengandalkan pengetahuan turun-temurun tanpa terpapar standar industri pariwisata modern. Hal ini menyebabkan kualitas produk dan layanan yang dihasilkan belum mampu bersaing di pasar wisata yang semakin kompetitif. Selain itu, menurut Santoso et al. , desa wisata yang tidak dilengkapi dengan kapasitas SDM yang terlatih cenderung stagnan dalam pengembangan produk wisatanya, sehingga menurunkan daya tarik bagi wisatawan yang mencari pengalaman autentik dan berkualitas. Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk: . meningkatkan keterampilan ibu rumah tangga dalam bidang barista berbasis kopi lokal. memperkuat kapasitas layanan hospitaliti yang berorientasi pada ramah wisatawan dan ramah serta . mendorong terbentuknya identitas komunitas melalui inisiatif AuKampung Rasa CafyAy sebagai wadah ekonomi kreatif berbasis ekonomi hijau. Dengan demikian, program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi juga memperkuat daya tarik KampungWisata Kakaskasen Dua sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan di Kota Tomohon (Formosa Publisher, 2. Oleh karena itu, melalui program Kampung Rasa Cafy, kegiatan pengabdian ini dirancang tidak sekadar sebagai pelatihan teknis, melainkan juga sebagai strategi pemberdayaan sosial-ekonomi yang berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan menekankan pada integrasi keterampilan barista, layanan hospitaliti, dan prinsip ekonomi hijau, sehingga mampu menciptakan nilai tambah bagi ibu rumah tangga sekaligus memperkuat daya tarik wisata berbasis komunitas di Kampung Wisata Kakaskasen Dua. Dengan landasan tersebut, uraian berikut memaparkan metode pelaksanaan kegiatan secara sistematis. Pemilihan pendekatan pelatihan barista berbasis ekonomi hijau sebagai solusi utama didasarkan pada tiga pertimbangan pokok. Pertama, kopi merupakan komoditas lokal yang sudah dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Kakaskasen, sehingga pelatihan barista memiliki relevansi kontekstual yang tinggi. Kedua, pendekatan ekonomi hijau memungkinkan integrasi nilai keberlanjutan lingkungan dalam praktik bisnis sehari-hari, yang sejalan dengan arah P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. pengembangan desa wisata berkelanjutan di Kota Tomohon. Ketiga, model pelatihan berbasis komunitas terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas perempuan secara holistik, mencakup aspek teknis, sosial, dan psikologis (Rahayu & Koswara, 2. Dengan demikian, program ini tidak sekadar mentransfer keterampilan, tetapi juga membangun ekosistem kewirausahaan inklusif yang berakar pada potensi dan identitas lokal masyarakat Kampung Wisata Kakaskasen Dua. METODE Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah pendekatan partisipatif dengan menekankan pelibatan aktif ibu rumah tangga sebagai anggota Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS), karang Taruna sebagai subjek utama. Kegiatan dirancang untuk mencapai tujuan peningkatan keterampilan barista, layanan hospitaliti, dan penerapan prinsip ekonomi hijau. Setiap tahap pelaksanaan disertai indikator yang dapat diukur secara deskriptif maupun kualitatif, sehingga keberhasilan program dapat dievaluasi secara menyeluruh. Kegiatan ini dilaksanakan di Kampung Wisata Kakaskasen Dua. Kecamatan Tomohon Utara. Kota Tomohon. Provinsi Sulawesi Utara, pada bulan AgustusAeOktober 2025. Peserta program berjumlah 20 orang yang terdiri dari ibu-ibu PKK, anggota Karang Taruna, dan pelaku UMKM yang berdomisili di Kakaskasen Dua. Kriteria seleksi peserta meliputi: . perempuan berusia 18Ae55 tahun, . berdomisili tetap di Kampung Wisata Kakaskasen Dua, . memiliki minat terhadap pengembangan usaha berbasis kopi atau hospitaliti, dan . belum pernah mengikuti pelatihan barista formal sebelumnya. Sebagian besar peserta berlatar belakang ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan SMP hingga SMA, dan sebagian kecil merupakan pelaku UMKM kuliner skala Instrumen evaluasi yang digunakan meliputi: . kuesioner pre-test dan post-test terstruktur untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan, . lembar observasi instruktur untuk menilai performa praktik barista dan simulasi hospitaliti, . wawancara semiterstruktur dan Focus Group Discussion (FGD) untuk menggali perubahan sikap dan dinamika sosial-budaya, serta . catatan monitoring pendapatan pascapelatihan untuk mengukur dampak ekonomi secara deskriptif. Mekanisme pendampingan pascapelatihan dilakukan melalui kunjungan lapangan berkala setiap dua minggu selama dua bulan untuk memastikan keberlanjutan penerapan keterampilan yang telah diperoleh (Hidayat & Nurjanah, 2. Tahapan Kegiatan Identifikasi Kebutuhan dan Sosialisasi Dilakukan melalui wawancara singkat dan diskusi kelompok dengan peserta. Tujuannya untuk memetakan tingkat pengetahuan awal, minat, dan harapan ibu rumah tangga terhadap program. Alat ukur: catatan hasil wawancara, kuesioner awal . aseline surve. Pelatihan Keterampilan Barista Materi mencakup pengenalan kopi lokal, teknik penyeduhan, dan inovasi Peserta dilatih praktik langsung dengan peralatan sederhana dan ramah Alat ukur: lembar observasi instruktur mengenai keterampilan teknis . isalnya kemampuan menyeduh dengan metode manual bre. , serta pre-test dan post-test pengetahuan dasar barista. Pelatihan Layanan Hospitaliti Berbasis Ekonomi Hijau Pengenalan standar pelayanan wisatawan . ospitality servic. yang dipadukan dengan praktik ramah lingkungan. Simulasi pelayanan dilakukan dalam kelompok kecil untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Alat ukur: observasi sikap dan perilaku saat simulasi, kuesioner kepuasan diri peserta, dan catatan perubahan sikap ramah wisatawan. Pendampingan dan Branding AuDesa Rasa CafyAy Peserta didampingi untuk merancang identitas komunitas dan mencoba melayani konsumen dalam kegiatan uji coba . op-up caf. P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Alat ukur: jumlah produk yang berhasil disajikan, umpan balik konsumen, serta peningkatan keterampilan komunikasi dan pelayanan. Keberhasilan kegiatan dievaluasi dengan menilai perubahan pada tiga dimensi: Perubahan Sikap Diukur melalui observasi langsung dan kuesioner persepsi diri. Indikator: meningkatnya rasa percaya diri, motivasi berwirausaha, dan kesadaran akan praktik ramah lingkungan. Perubahan Sosial Budaya Diukur melalui diskusi kelompok terarah (FGD). Indikator: meningkatnya kerjasama antar ibu rumah tangga, penguatan solidaritas kelompok, serta tumbuhnya kesadaran kolektif dalam menjaga identitas kopi lokal dan praktik hijau. Perubahan Ekonomi Diukur secara deskriptif dengan membandingkan pendapatan tambahan dari hasil uji coba penjualan kopi sebelum dan sesudah program. Indikator: adanya potensi pemasukan rumah tangga, munculnya rencana usaha kecil berbasis komunitas, serta kesiapan kelompok untuk mengelola Desa Rasa Cafy. Analisis Data Data kuantitatif . asil pre-test dan post-test, kuesioner, dan pendapatan tambaha. dianalisis secara deskriptif komparatif untuk melihat peningkatan keterampilan dan dampak Sementara itu, data kualitatif . FGD, umpan balik konsume. dianalisis secara tematik untuk menggambarkan perubahan sikap dan sosial budaya masyarakat. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah seluruh rangkaian kegiatan pengabdian dilaksanakan sesuai dengan metode yang telah dirancang, diperoleh berbagai temuan yang menggambarkan tingkat ketercapaian tujuan Hasil yang diperoleh mencakup data kuantitatif yang menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta, serta data kualitatif yang merefleksikan perubahan sikap, sosial-budaya, dan dampak ekonomi pada masyarakat sasaran. Temuan-temuan ini kemudian dianalisis lebih lanjut dalam bagian pembahasan untuk melihat relevansinya dengan tujuan kegiatan, konteks lokal, dan kajian literatur yang telah dipaparkan sebelumnya. Hasil Kuantitatif Pelaksanaan pelatihan barista dan layanan hospitaliti berbasis ekonomi hijau diikuti oleh 20 peserta di Kampung Wisata Kakaskasen Dua. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Selain itu, 85% peserta menyatakan bahwa pelatihan ini sangat relevan dengan kebutuhan ekonomi keluarga, terutama dalam konteks peningkatan kemandirian finansial dan pemanfaatan waktu luang secara produktif. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan barista berbasis ekonomi hijau tidak hanya memperkenalkan keterampilan baru, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, untuk memiliki sumber penghasilan alternatif tanpa meninggalkan peran domestik mereka. Relevansi program ini juga tercermin dalam meningkatnya kesadaran peserta akan pentingnya kreativitas dan inovasi dalam mengolah produk minuman berbasis bahan lokal secara ramah lingkungan. Lebih lanjut, 90% peserta menyatakan siap untuk mempraktikkan keterampilan baru yang diperoleh, baik dalam bentuk usaha rumahan . ome-based busines. maupun usaha kelompok . ommunity-based Hal ini menandakan adanya transfer kompetensi yang efektif dari kegiatan pelatihan ke ranah praktis, serta potensi keberlanjutan program dalam jangka panjang. Peserta yang sebelumnya belum memiliki pengalaman dalam dunia usaha kini menunjukkan kesiapan dan kepercayaan diri untuk memulai inisiatif ekonomi mandiri. Kondisi ini juga memperlihatkan efek pengganda . ultiplier effec. dari kegiatan PkM, di mana pelatihan tidak hanya meningkatkan kapasitas individu tetapi juga mendorong tumbuhnya jejaring ekonomi baru di tingkat komunitas. P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Tabel 1. Perbandingan Hasil Pre-test dan Post-test Peserta Pelatihan Aspek yang Dinilai Pengetahuan dasar kopi dan teh Teknik dasar barista . Layanan hospitaliti . Konsep ekonomi hijau dalam Rata-rata keseluruhan Rata-rata Pretest (%) Rata-rata Posttest (%) Peningkatan (%) Sumber: PkM, 2025 Dampak ekonomi langsung dari program pelatihan ini mulai terlihat pada sebagian Berdasarkan hasil monitoring, sekitar 30% peserta mengalami peningkatan pendapatan rata-rata sebesar Rp750. 000 per bulan setelah mengikuti pelatihan. Peningkatan ini diperoleh dari hasil penjualan produk minuman olahan berbasis kopi dan bahan lokal yang dikembangkan selama pelatihan. Meskipun angka ini tampak sederhana, namun memiliki makna signifikan dalam konteks pemberdayaan ekonomi rumah tangga di wilayah desa wisata. Dampak ini sekaligus memperlihatkan bahwa pelatihan barista tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan edukatif, tetapi juga sebagai katalis ekonomi kreatif yang mampu menggerakkan potensi lokal dan menumbuhkan semangat kewirausahaan berkelanjutan. Bar chart berikut menggambarkan tren peningkatan pendapatan tersebut sebagai indikator nyata keberhasilan program dalam mendorong transformasi ekonomi berbasis keterampilan hijau di kalangan ibu rumah tangga peserta pelatihan. Gambar 1: Dampak ekonomi . dan Peningkatan sikap dan sosial-budaya (Tim Pengabdi, 2. Gambar 1 menunjukkan perubahan signifikan pada aspek ekonomi setelah pelatihan Sebelum pelatihan, peserta belum memperoleh tambahan pendapatan dari aktivitas terkait kopi. Namun, setelah pelatihan, sekitar 30% peserta yang menerapkan keterampilan barista dalam usaha kecil berhasil meningkatkan pendapatan tambahan rata-rata sebesar Rp750. 000 per bulan. Hal ini mengindikasikan bahwa transfer keterampilan praktis memiliki dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga, sekaligus membuka peluang usaha berbasis ekonomi hijau di tingkat lokal. Sementara itu. Gambar 2 memperlihatkan dinamika perubahan sikap dan sosial-budaya peserta berdasarkan skala Likert. Rata-rata skor sikap meningkat dari 2 . sebelum pelatihan menjadi 4 . sesudah pelatihan. Hal ini mencerminkan tumbuhnya rasa percaya diri, antusiasme, serta orientasi kewirausahaan pada ibu rumah tangga. Pada aspek sosial-budaya, skor juga meningkat dari 2 menjadi 4,5, yang P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. menegaskan terbangunnya solidaritas, jejaring antaranggota, dan kebanggaan terhadap potensi Dengan demikian, pelatihan tidak hanya berdampak pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga pada penguatan nilai kolektif dan identitas komunitas. Hasil Kualitatif Hasil observasi lapangan dan wawancara menunjukkan beberapa perubahan signifikan yang terjadi setelah pelaksanaan program pelatihan barista dan layanan hospitaliti berbasis ekonomi hijau di Kampung Wisata Kakaskasen Dua. Berdasarkan pengamatan langsung terhadap aktivitas peserta dan interaksi selama proses pelatihan hingga tahap tindak lanjut, tampak adanya peningkatan nyata dalam aspek pengetahuan, keterampilan, serta perubahan sikap terhadap peluang usaha berbasis lingkungan. Wawancara mendalam dengan para peserta, fasilitator, dan perwakilan komunitas mitra juga mengungkap bahwa kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kompetensi individu, tetapi turut memperkuat rasa kebersamaan, tanggung jawab kolektif, dan motivasi untuk berkontribusi pada pengembangan ekonomi lokal. Temuan ini mencerminkan keberhasilan pendekatan partisipatif yang diterapkan dalam program, di mana peserta bukan hanya menjadi penerima manfaat, melainkan juga aktor aktif dalam merancang dan menjalankan inisiatif ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Dampak Pelatihan Pelaksanaan pelatihan barista dan layanan hospitaliti berbasis ekonomi hijau di Kampung Wisata Kakaskasen Dua memberikan dampak yang luas bagi kehidupan peserta, terutama bagi ibu rumah tangga yang selama ini lebih banyak berperan di ranah domestik. Melalui proses pembelajaran yang interaktif dan kontekstual, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam mengolah minuman berbasis bahan lokal, tetapi juga mengalami perubahan dalam cara berpikir, berinteraksi, dan memandang potensi diri. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sosial yang menumbuhkan rasa percaya diri, solidaritas, serta kesadaran akan pentingnya kemandirian ekonomi di tengah dinamika kehidupan modern yang semakin menuntut adaptasi. Perubahan Sikap: Sebelum pelatihan, sebagian besar ibu rumah tangga di Kampung Wisata Kakaskasen Dua cenderung bersikap pasif terhadap kegiatan ekonomi dan merasa kurang yakin akan kemampuan mereka untuk berwirausaha. Setelah mengikuti pelatihan, terjadi perubahan signifikan dalam cara mereka memandang peluang. Peserta menunjukkan peningkatan rasa percaya diri, antusiasme, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Mereka mulai mempraktikkan keterampilan meracik minuman, mengatur penyajian, hingga berlatih melayani pelanggan dengan standar sederhana namun Semangat untuk belajar dan berkreasi tampak dalam setiap pertemuan tindak lanjut, menunjukkan bahwa pelatihan ini berhasil menumbuhkan orientasi kewirausahaan yang berbasis pada nilai-nilai keberlanjutan. Perubahan Sosial-Budaya: Dari sisi sosial-budaya, pelatihan ini melahirkan bentuk solidaritas baru di antara peserta. Ibu-ibu yang sebelumnya beraktivitas sendiri kini mulai membangun jejaring dan bekerja dalam kelompok kecil untuk mengembangkan produk minuman bersama. Cafy komunitas yang dibentuk sebagai hasil kegiatan menjadi tempat mereka berkumpul, bertukar ide, dan saling mendukung. Suasana gotong royong dan rasa kebersamaan tumbuh secara alami, memperkuat hubungan sosial di antara warga. Lebih jauh, keberadaan cafy ini menjadi simbol kebanggaan baru bagi masyarakat desa wisata dan bukan hanya karena produk yang dihasilkan, tetapi karena menggambarkan kemampuan lokal untuk beradaptasi dengan tren pariwisata berkelanjutan tanpa kehilangan jati diri budaya. Perubahan Ekonomi: Dampak ekonomi menjadi salah satu hasil yang paling nyata dari kegiatan ini. Beberapa peserta mulai mengaplikasikan keterampilan barista dalam usaha kecil-kecilan, seperti membuka warung kopi sederhana di rumah atau bekerja sama dalam pengelolaan cafy komunitas. Hasil monitoring menunjukkan bahwa sekitar 30% peserta P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. yang aktif mempraktikkan keterampilan hasil pelatihan mengalami peningkatan pendapatan tambahan antara Rp500. 000 hingga Rp1. 000 per bulan. Meski nominal ini relatif kecil, namun sangat berarti dalam konteks ekonomi rumah tangga desa. Lebih penting lagi, peningkatan ini mencerminkan terjadinya pergeseran paradigma Ai dari ketergantungan pada pendapatan keluarga tunggal menuju kontribusi ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Tabel 1. Perubahan yang Terjadi Sebelum dan Sesudah Pelatihan Aspek Kondisi Sebelum Kondisi Sesudah Indikator Perubahan Pelatihan Pelatihan Keberhasilan Ibu rumah tangga Meningkatnya cenderung pasif, kurang Lebih percaya diri, motivasi dan Sikap percaya diri, dan belum antusias, dan berorientasi partisipasi aktif memiliki orientasi pada kewirausahaan. dalam kegiatan ekonomi lokal. Adanya Terbentuk solidaritas dan Interaksi antaranggota jejaring antaranggota. masih terbatas, solidaritas interaksi sosial. Sosialkomunitas menjadi ruang kelompok rendah, dan jejaring komunitas. Budaya berkumpul yang belum ada ruang bersama dan identitas mendorong gotong royong untuk aktivitas komunitas. kolektif berbasis dan kebanggaan lokal. potensi lokal. Indikasi Sebagian peserta membuka Belum ada penerapan warung kopi sederhana keterampilan barista ramah lingkungan. keluarga dan Ekonomi dalam usaha. peserta memperoleh tambahan dari sektor ini pendapatan tambahan keterampilan hasil belum terlihat. Rp500. 000Ae pelatihan dalam Rp1. 000/bulan. usaha nyata. Sumber: PkM, 2025 Secara keseluruhan, pelatihan barista dan hospitaliti ini tidak hanya mentransfer keterampilan teknis, tetapi juga membentuk pola pikir baru tentang kemandirian dan kreativitas perempuan desa dalam konteks ekonomi hijau. Perubahan-perubahan yang muncul di tingkat individu dan komunitas menunjukkan bahwa pemberdayaan sejati bukan semata tentang memberikan pelatihan, melainkan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk menemukan makna dan kekuatan dalam setiap proses pembelajaran. Hasil Observasi dan wawancara Hasil observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan peserta memberikan gambaran yang lebih kontekstual mengenai perubahan yang terjadi setelah pelatihan. Pada aspek sikap, beberapa ibu rumah tangga mengungkapkan bahwa pelatihan barista telah menjadi pengalaman pertama mereka terlibat dalam kegiatan ekonomi yang berorientasi pada keterampilan praktis. Salah satu peserta menyatakan: AuDulu saya hanya di rumah dan tidak berani mencoba hal baru. Setelah ikut pelatihan, saya merasa lebih percaya diri melayani orang dan bahkan berani mencoba membuat usaha kecil di rumah. Ay (Wawancara. Peserta A, 2. Pernyataan tersebut mencerminkan adanya transformasi psikologis dan sosial di kalangan peserta. Sebelum mengikuti pelatihan, sebagian besar ibu rumah tangga berada dalam posisi pasif terhadap peluang ekonomi di sekitarnya, baik karena keterbatasan pengetahuan maupun rasa kurang percaya diri. Pelatihan barista yang dirancang secara aplikatif dan inklusif ternyata mampu membuka ruang partisipasi baru, di mana peserta tidak hanya belajar P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. keterampilan teknis, tetapi juga mengembangkan sense of agency yakni kesadaran dan keyakinan bahwa mereka mampu mengubah kondisi ekonomi keluarga melalui tindakan nyata. Peningkatan skor sikap dari 2 menjadi 4 memperkuat bukti adanya perubahan perilaku positif pasca pelatihan. Secara kualitatif, perubahan ini dapat diinterpretasikan sebagai bentuk internalisasi nilai-nilai kewirausahaan berkelanjutan, seperti kemandirian, tanggung jawab, dan keberanian mengambil risiko dalam skala kecil. Proses ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui pengalaman langsung, interaksi sosial selama pelatihan, dan dukungan emosional dari sesama peserta serta Dalam konteks pemberdayaan perempuan, perubahan ini menunjukkan pergeseran peran ibu rumah tangga dari sekadar pelaku domestik menjadi co-creator dalam aktivitas ekonomi kreatif desa. Lebih jauh, perubahan sikap ini juga memiliki dimensi sosial yang lebih luas. Keberanian untuk tampil, berpendapat, dan mempraktikkan keterampilan baru mendorong munculnya rasa saling menghargai di antara peserta. Mereka mulai saling memberi dukungan dan berbagi pengalaman, yang pada akhirnya membentuk learning community berbasis solidaritas. Dinamika ini memperlihatkan bahwa pelatihan barista tidak hanya berfungsi sebagai sarana peningkatan kapasitas individu, tetapi juga sebagai wadah pembentukan identitas sosial baru bagi perempuan desa yang ingin berkontribusi pada pembangunan ekonomi lokal secara Dengan demikian, hasil observasi dan wawancara ini mempertegas bahwa perubahan sikap peserta tidak hanya dapat diukur secara numerik melalui peningkatan skor, tetapi juga perlu dipahami secara kualitatif sebagai proses pembelajaran sosial yang mendalam. Pelatihan barista berbasis ekonomi hijau terbukti menjadi pintu masuk menuju pemberdayaan perempuan yang lebih holistik Ai mencakup aspek pengetahuan, kepercayaan diri, dan kesadaran ekologis yang terintegrasi dalam praktik ekonomi sehari-hari. Temuan ini konsisten dengan hasil studi sejenis yang dilakukan di wilayah lain di Indonesia. Penelitian Kusumastuti et al. di desa wisata Jawa Tengah menunjukkan bahwa program pelatihan kewirausahaan berbasis produk lokal yang dirancang secara partisipatif mampu meningkatkan kepercayaan diri perempuan pelaku usaha sebesar rata-rata 67% dalam tiga bulan pertama implementasi. Sementara itu. Nurhidayah dan Pratama . menegaskan bahwa pelatihan hospitaliti berbasis ekologi di kawasan wisata Sulawesi memberikan dampak ganda: meningkatkan kualitas layanan sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan pada pelaku wisata lokal. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan yang diterapkan dalam program Kampung Rasa Cafy bukan hanya relevan secara kontekstual, tetapi juga didukung oleh bukti empiris dari berbagai lokasi pengabdian serupa di Indonesia. Pada aspek sosial-budaya, terbentuknya solidaritas dan jejaring antaranggota kelompok terlihat dari kebiasaan mereka berkumpul di cafy komunitas untuk saling bertukar pengalaman dan resep minuman. Salah satu peserta menggambarkan: AuSekarang kami sering berkumpul di cafy. Rasanya seperti punya rumah kedua, tempat kami belajar, bekerja sama, dan bangga menunjukkan kopi lokal Tomohon kepada pengunjung. Ay (Wawancara. Peserta B, 2. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya berfungsi sebagai sarana peningkatan keterampilan individu, tetapi juga sebagai pemantik terbentuknya komunitas pembelajar baru di tingkat lokal. Cafy komunitas yang muncul sebagai hasil dari kegiatan pelatihan telah bertransformasi menjadi ruang sosial yang memiliki makna simbolis: tempat belajar, berbagi pengalaman, dan meneguhkan rasa kebersamaan antaranggota. Ruang ini berperan sebagai hub sosial di mana nilai-nilai seperti gotong royong, saling mendukung, dan kebanggaan terhadap potensi lokal tumbuh secara organik. Meningkatnya skor sosial-budaya hingga 4,5 menunjukkan adanya penguatan ikatan sosial . ocial bondin. yang signifikan di antara Kegiatan bersama seperti mengelola cafy, berdiskusi tentang pengolahan minuman, dan melayani pelanggan secara bergiliran telah menciptakan pola interaksi yang lebih terbuka dan Dalam konteks masyarakat desa wisata, proses ini menjadi penting karena memperluas peran perempuan dari ranah domestik menuju ruang publik yang produktif. Ibu rumah tangga tidak lagi hanya sebagai pendukung kegiatan keluarga, tetapi juga sebagai representasi komunitas yang aktif mengelola identitas pariwisata lokal. Selain itu, penguatan solidaritas sosial ini juga berimplikasi pada penguatan identitas budaya lokal. Melalui pelatihan dan aktivitas cafy komunitas, peserta secara tidak langsung ikut melestarikan nilai-nilai lokal, seperti kebanggaan P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. terhadap cita rasa kopi Tomohon dan tradisi keramahan dalam pelayanan. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak sekadar tentang keterampilan ekonomi, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif akan potensi budaya yang dapat dijadikan kekuatan ekonomi baru. Dengan demikian, cafy komunitas tidak hanya menjadi tempat usaha, tetapi juga ruang representasi budaya di mana perempuan menjadi agen aktif dalam memperkenalkan karakter dan kearifan lokal kepada pengunjung. Dari perspektif pembangunan komunitas, perubahan sosial-budaya ini menandai terjadinya proses social transformation di tingkat akar rumput. Pelatihan barista berbasis ekonomi hijau telah berhasil menciptakan lingkungan sosial yang kondusif bagi pembelajaran berkelanjutan dan kolaborasi antarpeserta. Hal ini memperkuat argumen bahwa kegiatan PkM yang dirancang secara partisipatif dapat menghasilkan dampak sosial yang melampaui tujuan teknisnya, yakni membangun modal sosial . ocial capita. yang menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan ekonomi kreatif berbasis Dari sisi ekonomi, sebagian peserta mulai menerapkan keterampilan barista untuk membuka usaha kecil berbasis rumah tangga. Salah satu ibu rumah tangga menuturkan: AuSaya mencoba menjual kopi dengan konsep ramah lingkungan. Walaupun masih sederhana, ada tambahan penghasilan sekitar Rp600. 000 sebulan. Itu sudah sangat membantu ekonomi keluarga. Ay (Wawancara. Peserta C, 2. Pernyataan ini mencerminkan bahwa dampak ekonomi dari pelatihan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi telah diwujudkan dalam praktik nyata di tingkat rumah tangga. Melalui penerapan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan, peserta mulai menunjukkan kemandirian ekonomi dan keberanian untuk berinovasi, meskipun dalam skala kecil. Usaha kopi rumahan yang mereka jalankan bukan hanya sekadar aktivitas ekonomi tambahan, melainkan bentuk nyata dari empowerment proses di mana perempuan menyadari kapasitas dirinya untuk menghasilkan nilai ekonomi yang bermakna bagi keluarga. Hal di atas menguatkan data kuantitatif bahwa sekitar 30% peserta memperoleh tambahan pendapatan antara Rp500. 000AeRp1. 000 per bulan setelah pelatihan. Meskipun nominal tersebut tergolong modest, dalam konteks sosial-ekonomi masyarakat desa wisata, angka ini menunjukkan kemajuan penting menuju kemandirian finansial. Peningkatan pendapatan tersebut dihasilkan dari penjualan minuman kopi dan olahan bahan lokal seperti jahe, pandan, dan gula aren Ai bahan yang mudah ditemukan di sekitar desa dan diolah dengan prinsip ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan keterpaduan antara local resources utilization dan green entrepreneurship, dua konsep utama yang mendasari pendekatan ekonomi hijau dalam kegiatan ini. Lebih jauh, perubahan ekonomi yang terjadi tidak hanya berimplikasi pada aspek finansial, tetapi juga memicu pergeseran nilai dan cara pandang terhadap peran ekonomi Para peserta yang sebelumnya menggantungkan pendapatan sepenuhnya pada suami kini berkontribusi secara aktif dalam menopang ekonomi keluarga. Hal ini menciptakan rasa percaya diri dan harga diri baru yang berdampak positif terhadap keharmonisan rumah tangga serta posisi sosial mereka dalam komunitas. Dengan kata lain, pelatihan barista tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperluas agency perempuan sebagai penggerak ekonomi kreatif desa. Dampak ekonomi ini juga berkontribusi terhadap terbentuknya rantai nilai lokal . ocal value chai. yang mendukung keberlanjutan desa wisata. Produk kopi yang dijual peserta sebagian menggunakan bahan dari petani lokal, sementara cafy komunitas menjadi saluran pemasaran bersama yang memperkuat jejaring ekonomi antaranggota kelompok. Sinergi ini menggambarkan transformasi dari pelatihan keterampilan menjadi ekosistem ekonomi mikro yang hidup dan adaptif. Dengan demikian, kegiatan pelatihan barista berbasis ekonomi hijau tidak hanya menghasilkan output berupa keterampilan teknis, tetapi juga outcome berupa penguatan ekonomi rumah tangga dan munculnya pola kolaborasi ekonomi berbasis komunitas. Secara keseluruhan, data kualitatif mempertegas bahwa pelatihan ini berperan sebagai katalis perubahan multidimensional menghubungkan peningkatan finansial dengan transformasi sikap personal dan dinamika sosial komunitas. Proses belajar yang berawal dari keterampilan meracik kopi sederhana berkembang menjadi gerakan kecil yang menumbuhkan kesadaran ekonomi hijau dan kemandirian perempuan di desa wisata. P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. Hasil keseluruhan dari observasi, wawancara, dan data kuantitatif menunjukkan bahwa pelatihan barista berbasis ekonomi hijau telah menjadi katalis perubahan yang bermakna bagi ibu rumah tangga di Desa Wisata Kakaskasen Dua. Transformasi yang terjadi tidak hanya terbatas pada peningkatan keterampilan teknis dalam meracik minuman, tetapi juga mencakup pergeseran paradigma sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Dari sisi personal, pelatihan ini menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi yang sebelumnya dianggap di luar jangkauan peran domestik mereka. Dari sisi sosial-budaya, cafy komunitas yang lahir dari hasil pelatihan berfungsi sebagai ruang interaksi sosial yang produktif, memperkuat nilai gotong royong dan membentuk identitas baru sebagai komunitas kreatif yang bangga terhadap produk lokal. Sementara dari aspek ekonomi, muncul inisiatif usaha kecil yang mempraktikkan prinsip keberlanjutan, baik dalam penggunaan bahan lokal maupun dalam konsep bisnis ramah lingkungan, yang berkontribusi langsung pada peningkatan pendapatan Dengan demikian, pelatihan barista berbasis ekonomi hijau bukan hanya program peningkatan kapasitas, tetapi juga medium transformasi sosial yang memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga sekaligus membangun ekosistem wisata berkelanjutan. Dampak ini menandai langkah awal menuju pemberdayaan perempuan desa dalam konteks pariwisata berwawasan lingkungan, di mana keterampilan, solidaritas, dan kreativitas menjadi fondasi utama perubahan yang berkelanjutan. Jika dibandingkan dengan program pemberdayaan perempuan sejenis, hasil program Kampung Rasa Cafy menunjukkan capaian yang cukup Dalam studi Rahayu dan Koswara . di desa wisata Jawa Barat, peningkatan skor pengetahuan peserta pelatihan kuliner lokal rata-rata mencapai 35%, sedikit lebih rendah dibandingkan peningkatan 40,3% yang dicapai dalam program ini. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pendekatan pembelajaran yang lebih terintegrasi antara teori dan praktik langsung, serta dukungan pendampingan yang konsisten selama program berlangsung. Di sisi lain. Kusumastuti et al. melaporkan bahwa program kewirausahaan perempuan berbasis produk lokal di Jawa Tengah berhasil meningkatkan pendapatan peserta rata-rata 20Ae30% dalam tiga bulan pertama, yang sebanding dengan capaian 30% peserta aktif dalam program ini. Perbandingan ini memperkuat validitas pendekatan yang digunakan dan menunjukkan bahwa model pelatihan yang diterapkan di Kampung Wisata Kakaskasen Dua berpotensi untuk direplikasi di desa wisata lain dengan konteks yang serupa. Secara praktis, hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan barista berbasis ekonomi hijau dapat direplikasi di desa wisata lain sebagai model pemberdayaan perempuan yang berakar pada potensi lokal. Untuk menjaga keberlanjutan dampaknya, perlu dilakukan pendampingan lanjutan melalui pembentukan koperasi mikro atau unit usaha bersama yang mengintegrasikan produksi, pemasaran, dan pelatihan lanjutan. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan vokasi, dan komunitas pariwisata dapat berperan sebagai mitra strategis dalam mengembangkan jejaring kewirausahaan hijau yang lebih luas. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, model ini berpotensi memperkuat posisi perempuan desa tidak hanya sebagai pelaku ekonomi kreatif, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang mendorong transformasi menuju pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat melalui program Kampung Rasa Cafy berhasil menunjukkan bahwa pelatihan barista dan layanan hospitaliti berbasis ekonomi hijau mampu memberikan dampak nyata terhadap pemberdayaan ibu rumah tangga di Desa Wisata Kakaskasen Dua. Hasil kuantitatif memperlihatkan adanya peningkatan pendapatan tambahan rata-rata Rp500. 000AeRp1. 000 per bulan pada 30% peserta, serta perubahan sikap dari pasif menjadi lebih percaya diri dan berorientasi kewirausahaan. Data kualitatif memperkuat temuan ini dengan menunjukkan tumbuhnya solidaritas, jejaring komunitas, serta kebanggaan terhadap potensi kopi lokal yang dikembangkan melalui cafy komunitas. Keunggulan utama program ini terletak pada keberhasilannya mengintegrasikan aspek keterampilan teknis, nilai sosial-budaya, dan keberlanjutan ekonomi dalam satu model pemberdayaan yang kontekstual dengan potensi Namun demikian, keterbatasan masih terlihat pada jangkauan peserta yang relatif kecil dan keterbatasan modal usaha untuk mengembangkan inisiatif pascapelatihan. Oleh karena itu. P-ISSN 2830-2303 | E-ISSN 2830-1773 Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat https://jippm. Vol. No. 1 Juni 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jippm. pengembangan selanjutnya perlu diarahkan pada perluasan skala pelatihan, pendampingan usaha berkelanjutan, serta penguatan jejaring dengan sektor pariwisata lokal agar manfaat yang dihasilkan dapat lebih merata dan berkelanjutan. Dari perspektif praktis, terdapat beberapa implikasi penting yang dapat ditindaklanjuti. Pertama, bagi pemerintah desa dan pemangku kepentingan lokal, program semacam ini dapat dijadikan model pemberdayaan berbasis potensi wisata dengan dukungan regulasi serta fasilitasi akses permodalan. Kedua, bagi pelaku pariwisata. Desa Rasa Cafy dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekowisata yang memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus memperkuat citra destinasi Tomohon sebagai kota wisata Ketiga, bagi komunitas perempuan, program ini membuka ruang untuk meningkatkan kapasitas diri, memperluas jejaring sosial, dan menciptakan peluang ekonomi alternatif yang ramah lingkungan. Dengan demikian, keberlanjutan program sangat bergantung pada sinergi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan sektor swasta dalam mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif yang berakar pada kearifan lokal dan berorientasi pada keberlanjutan. Secara kuantitatif, capaian program ini dapat dirangkum sebagai berikut: rata-rata skor pre-test peserta sebesar 42,5% meningkat menjadi 82,8% pada post-test, mencerminkan peningkatan pemahaman dan keterampilan sebesar 40,3 poin persentase. Sebanyak 85% peserta menyatakan pelatihan sangat relevan dengan kebutuhan ekonomi keluarga, dan 90% menyatakan siap menerapkan keterampilan baru dalam usaha nyata. Dari sisi dampak ekonomi, 30% peserta yang aktif menerapkan keterampilan barista berhasil memperoleh pendapatan tambahan antara Rp500. 000 hingga Rp1. 000 per bulan. Capaian-capaian ini secara bersama-sama menunjukkan efektivitas program yang terukur dan bermakna dalam konteks pemberdayaan ekonomi perempuan desa wisata. Keterbatasan utama program ini terletak pada jangkauan peserta yang masih terbatas pada 20 orang dan durasi pendampingan pascapelatihan yang relatif Faktor keberhasilan utama yang teridentifikasi adalah: . relevansi materi pelatihan dengan potensi dan kebutuhan lokal, . pendekatan partisipatif yang menumbuhkan rasa kepemilikan peserta terhadap program, dan . adanya produk konkret berupa cafy komunitas yang menjadi simbol identitas dan ruang sosial bersama. Ke depan, program lanjutan perlu diarahkan pada pembentukan koperasi atau unit usaha bersama, pelatihan bahasa asing dasar untuk hospitaliti wisatawan mancanegara, serta penguatan akses permodalan melalui kemitraan dengan lembaga keuangan mikro (Nurhidayah & Pratama, 2022. Santoso et al. , 2. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Riset. Teknologi, dan Pendidikan Tinggi/Kemenristeksaintek atas dukungan pendanaan yang memungkinkan terlaksananya kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini. Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh peserta dan mitra masyarakat yang berperan aktif dalam keberhasilan pelatihan Kampung Rasa Cafy dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekowisata yang memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus memperkuat citra destinasi Tomohon sebagai kota wisata kreatif. DAFTAR PUSTAKA