https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 DOI: https://doi. org/10. 38035/jpsn. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Kurikulum Merdeka Pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri Ardia Ayuningtyas1. Leo Agung Sutimin2 Universitas Sebelas Maret. Indonesia, ardiaayuningtyas@student. Universitas Sebelas Maret. Indonesia, leoagung@staff. Corresponding Author: ardiaayuningtyas@student. Abstract: This study aims to . Describe the implementation of differentiated learning in the Independent Curriculum in the history subject at SMA Negeri 1 Wonogiri. Identify the impact of the implementation of differentiated learning on history learning. Identify the obstacles faced by teachers in implementing differentiated learning. This research is a qualitative study with a case study approach. Data sources include history teachers, learning activities, and supporting documents. The sampling technique used was purposive sampling. Data collection techniques were conducted through observation, interviews, and Data validity was tested using source triangulation, while data analysis was conducted interactively. The results of this study are as follows: . The implementation of differentiated learning in the Independent Curriculum for history subjects was carried out through adjustments to the content, process, and learning products. Teachers adapted learning materials to the students' ability levels, using various methods such as discussions, presentations, and analysis of historical events, and provided a variety of assessment methods according to student characteristics. Learning became more flexible, active, and studentcentered. The implementation of differentiated learning had a positive impact on the history learning process, as evidenced by increased student activity, engagement, and motivation. Furthermore, students were better able to think critically and analyze historical events and specific materials from everyday life, making learning more meaningful. In its implementation, teachers faced several obstacles, including limited time in planning and implementing differentiated learning, differences in student abilities and characteristics, and teacher preparedness in managing the classroom and conducting comprehensive assessments. Therefore, teachers need to adapt strategies such as effective time management, the use of varied methods, and improving competency in understanding the concept of differentiated learning to ensure optimal learning Keyword:Differentiated Learning. Independent Implementation. Challenges. Curriculum. History Learning. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk . Mendeskripsikan implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 107 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Wonogiri. Mengidentifikasi dampak penerapan pembelajaran berdiferensiasi terhadap pembelajaran sejarah. Mengidentifikasi hambatan yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data meliputi guru sejarah, aktivitas pembelajaran, dan dokumen Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji validitas data menggunakan triangulasi sumber, sedangkan analisis data dilakukan secara interaktif. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah telah dilaksanakan melalui penyesuaian konten, proses, dan produk pembelajaran. Guru menyesuaikan materi pembelajaran dengan tingkat kemampuan peserta didik, menggunakan berbagai metode seperti diskusi, presentasi, dan analisis peristiwa sejarah, serta memberikan variasi bentuk penilaian sesuai karakteristik siswa. Pembelajaran menjadi lebih fleksibel, aktif, dan berpusat pada peserta didik. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran sejarah, ditunjukkan dengan meningkatnya keaktifan, keterlibatan, serta motivasi belajar peserta didik. Selain itu, peserta didik lebih mampu berpikir kritis, menganalisis peristiwa sejarah, serta mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dalam pelaksanaannya, guru menghadapi beberapa hambatan, antara lain keterbatasan waktu dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi, perbedaan kemampuan dan karakteristik peserta didik yang beragam, serta kesiapan guru dalam mengelola kelas dan melakukan asesmen secara Oleh karena itu, guru perlu melakukan strategi penyesuaian seperti pengelolaan waktu yang efektif, penggunaan metode yang bervariasi, serta peningkatan kompetensi dalam memahami konsep pembelajaran berdiferensiasi agar pembelajaran dapat berjalan optimal. Kata Kunci: Pembelajaran Berdiferensiasi. Kurikulum Merdeka. Pembelajaran Sejarah. Implementasi. Hambatan. PENDAHULUAN Kurikulum merupakan sistem yang dirancang untuk mengatur materi pembelajaran agar berjalan efektif dan sesuai tujuan pendidikan. Kurikulum dapat berubah mengikuti perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, teknologi, serta dinamika sosial masyarakat. Penyusunannya mempertimbangkan tingkat kecerdasan, karakteristik peserta didik, budaya, sistem nilai, dan kebutuhan yang terus berkembang. Kurikulum berperan penting dalam memastikan proses pendidikan tetap relevan dan mampu menghasilkan individu yang kompeten menghadapi tantangan masa depan (Rahayu, 2. Saat ini kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka pertama kali diperkenalkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Nadiem Makarim, berdasarkan hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2019 yang menunjukkan bahwa 70% siswa berusia 15 tahun masih berada di bawah standar minimum dalam memahami bacaan sederhana dan menerapkan konsep matematika dasar. Skor PISA Indonesia juga tidak mengalami peningkatan signifikan dalam 10Ae15 tahun terakhir. Kondisi tersebut diperparah oleh kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah dan kelompok sosial ekonomi akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu. Kurikulum Merdeka diperkenalkan sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah melalui pendekatan yang lebih fleksibel dan berfokus pada pengembangan keterampilan abad ke-21 (Rahmawati dkk. , 2. Kurikulum Merdeka memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mendalami konsep dan mengembangkan keterampilan melalui pembelajaran intrakurikuler yang beragam. 108 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Kurikulum ini menekankan fleksibilitas bagi pendidik dalam memilih dan menyesuaikan perangkat pembelajaran yang adaptif sesuai model pengajaran yang digunakan sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan sesuai karakteristik peserta didik (Idris dkk. , 2. Salah satu pendekatan yang relevan dalam Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pembelajaran yang menyesuaikan proses belajar dengan kondisi peserta didik yang beragam. Guru memperhatikan perbedaan kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk memahami materi dan berkembang secara optimal (Dwi Putriana, 2. Pembelajaran berdiferensiasi juga dirancang untuk meningkatkan minat dan kesiapan belajar siswa sehingga mampu mendorong kemampuan berpikir kreatif karena siswa lebih aktif dan terlibat dalam kegiatan pembelajaran (Restu Tera dkk. , 2. Pembelajaran berdiferensiasi menciptakan kelas yang menghargai keberagaman siswa dengan memberikan kesempatan mengakses berbagai sumber belajar dan mengembangkan ide sesuai kemampuannya. Pendekatan ini membantu siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik karena tugas dan produk pembelajaran disesuaikan dengan minat serta karakteristik siswa (Annisa Alfath, 2. Selain berdampak positif bagi siswa, pembelajaran berdiferensiasi juga mendorong peningkatan kualitas praktik mengajar guru dan menjadi dasar pengembangan pendidikan serta pelatihan guru secara berkelanjutan (Ade Sintia, 2. Penerapan Kurikulum Merdeka membawa tantangan bagi guru sebagai pelaksana utama pembelajaran. Guru dituntut memiliki keterampilan untuk menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel. Kemampuan tersebut perlu didukung melalui kolaborasi sekolah, penyelenggara kurikulum, dan sesama guru agar guru mampu memahami strategi pembelajaran yang sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka (Ayu dkk. , 2. Dalam pembelajaran sejarah. Kurikulum Merdeka membawa perubahan yang cukup Berkurangnya jam pelajaran sejarah menjadi salah satu tantangan, namun di sisi lain guru memperoleh fleksibilitas untuk menerapkan model pembelajaran yang lebih inovatif dan sesuai kebutuhan siswa (Ahsani, 2. Efektivitas pembelajaran sejarah bergantung pada kemampuan guru dalam memanfaatkan fleksibilitas tersebut melalui strategi pembelajaran yang tepat. Fokus penelitian ini adalah mengkaji implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan guru sejarah serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam penerapannya, baik yang berkaitan dengan kesiapan guru, keberagaman karakteristik peserta didik, keterbatasan waktu, maupun sarana dan prasarana pendukung. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran empiris mengenai penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri. Penelitian terdahulu yang relevan antara lain penelitian Edwin Mirzachaerulsyah . berjudul AuAnalisis Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah (Studi pada SMA Negeri di Pontiana. Ay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru sejarah telah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi melalui perencanaan konten, proses, produk, dan lingkungan belajar, serta memanfaatkan kegiatan In House Training (IHT) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sebagai sarana penguatan pemahaman Kurikulum Merdeka. Penelitian Hafidz Zachary. Nana Supriatna, dan Didin Saripudin . berjudul AuPenerapan Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan Kesadaran Sejarah Siswa dalam Pembelajaran SejarahAy menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna, kontekstual, dan sesuai karakteristik 109 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 peserta didik. Pemanfaatan media digital membuat pembelajaran sejarah lebih relevan dan meningkatkan partisipasi aktif serta kesadaran sejarah siswa. Penelitian Aldi Cahya Maulidan. Didin Saripudin, dan Nana Supriatna . berjudul AuImplementasi Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi pada Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 16 Kota BandungAy menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih inklusif, interaktif, dan bermakna. Pemanfaatan media digital seperti infografis, podcast, video dokumenter, dan komik digital meningkatkan motivasi, kreativitas, dan partisipasi aktif peserta didik. Penelitian Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin, dan Nur Aeni Marta . berjudul AuImplementasi Pembelajaran Diferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten TangerangAy menunjukkan bahwa guru sejarah telah menerapkan diferensiasi konten, proses, dan produk sesuai kesiapan, minat, dan gaya belajar peserta didik. Dampak penerapan pembelajaran berdiferensiasi terlihat pada meningkatnya keterampilan berpikir kritis dan kreatif peserta didik meskipun masih terdapat kendala berupa keterbatasan waktu dan sarana prasarana sekolah. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada fokus kajian yang secara khusus meneliti implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri. Penelitian ini menitikberatkan pada penyesuaian konten, proses, dan produk pembelajaran oleh guru sesuai kemampuan, minat, dan kebutuhan peserta didik serta implikasinya terhadap kualitas dan kebermaknaan pembelajaran sejarah. Penelitian ini bertujuan memahami sejauh mana kebebasan dalam merancang pembelajaran dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, kreativitas guru, serta keterlibatan siswa dalam proses belajar. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan yang dihadapi guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan strategi yang digunakan untuk mengoptimalkan pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa, guru, pengembang kurikulum, dan SMA Negeri 1 Wonogiri. TINJAUAN PUSTAKA Pembelajaran Berdiferensiasi Pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan yang memberi ruang bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai kemampuan awal, minat, dan gaya belajarnya. Artinya, guru tidak memaksakan satu cara yang sama untuk semua siswa, tetapi menyesuaikan pembelajaran agar kebutuhan masing-masing terpenuhi. Dalam pembelajaran ini, perhatian tidak hanya diarahkan pada hasil akhir berupa tugas atau produk belajar, tetapi juga pada bagaimana proses belajar berlangsung dan bagaimana materi atau konten disajikan agar lebih sesuai bagi setiap siswa. Dengan demikian, siswa dapat belajar secara lebih optimal dan merasa dihargai perbedaan potensinya (Fitriyah. Moh Bisri 2. Kurikulum Merdeka Kurikulum merdeka yang dirumuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Nadiem Makarim, memiliki cakupan luas dan berlandaskan pada gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang pentingnya kemandirian dalam pendidikan. Kurikulum ini tidak hanya berfokus pada transfer pengertahuan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan secara mandiri dengan bimbingan guru dan orang tua. Pendekatannya lebih menekankan pemahaman mendalam dan penguatan soft skills dibanding sekedar mengajar standar kompentensi yang kaku. Kurikulum merdeka memberikan fleksibilitas bagi guru dan siswa untuk mengekplorasi metode pengajaran yang lebih menarik dan menyenangkan, sehingga dapat membentuk karakter serta kompetensi yang lebih baik (Heryanti dkk. , 2. Pembelajaran Sejarah 110 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Pembelajaran sejarah merupakan bidang studi yang meneliti asal-usul serta perkembangan suatu masyarakat dan perannya di masa lalu, dengan tujuan menggali nilai-nilai kearifan yang dapat meningkatkan serta membentuk karakter. Pembelajaran sejarah juga berkontribusi dalam memba gun sikap sosial, seperti menghargai perbedaan. Penyampaian materi sejarah perlu dilakukan dengan cara menarik agar lebih efektif dan tidak membosankan (Purni, 2. Guru Guru merupakan pilar utama dalam dunia pendidikan yang berperan besar dalam membentuk kualitas generasi penerus bangsa. Keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum atau fasilitas yang tersedia, tetapi juga peran aktif guru dalam mendidik dan membimbing siswa. Sebagai penyampai ilmu pengetahuan, guru juga berperan sebagai motivator yang mendorong siswa untuk terus berkembang, menggali potensi diri, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, membangun semangat belajkar siswa, serta membentuk karakter yang tangguh dan berdaya saing di masa depan (Sulistiani & Nugraheni. Peserta Didik Secara etimologi, peserta didik merujuk pada anak yang menerima pengajaran ilmu. Sementara itu, secara terminologi, peserta didik adalah individu yang mengalami proses perkembangan dan masih membutuhkan bimbingan dalam membentuk kepribadian serta menjalani pendidikan sebagai bagian dari sistem struktural. Peserta didik menjadi salah satu elemen penting dalam proses pembelajaran, mereka berperan aktif dalam sistem pendidikan tertentu guna mengembangkan potensi diri dan mencapai pertumbuhan yang optimal (Darmiah, 2. METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk memahami secara mendalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Wonogiri yang berlokasi di Jalan Perwakilan No. Sanggrahan. Giripurwo. Kecamatan Wonogiri. Kabupaten Wonogiri. Provinsi Jawa Tengah, dengan waktu penelitian selama tujuh bulan, mulai Oktober 2025 hingga April 2026. Populasi penelitian meliputi seluruh pihak yang terlibat dalam implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran sejarah, sedangkan sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu guru sejarah kelas X dan XI serta wakil kepala sekolah bidang kurikulum yang dianggap memahami dan terlibat langsung dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi. Instrumen penelitian terdiri atas peneliti sebagai instrumen utama yang didukung pedoman wawancara, lembar observasi, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi partisipasi pasif, dan analisis dokumen seperti modul ajar, perangkat pembelajaran, serta arsip pendukung lainnya. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi, sedangkan keabsahan data diuji menggunakan teknik triangulasi sumber untuk memastikan validitas dan kredibilitas hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pemahaman guru sejarah terhadap proses pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri Pemahaman guru Sejarah terhadap Kurikulum Merdeka sangat berpengaruh dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi. Berdasarkan hasil wawancara dengan 111 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 tiga informan, yaitu dua guru Sejarah NC dan ZR dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum yaitu DR. SMA Negeri 1 Wonogiri menerapkan Kurikulum Merdeka sejak tahun ajaran 2022/2023. DR selaku wakil kepala sekolah bidang kurikulum menyatakan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen diagnostik dilakukan secara fleksibel serta mandiri oleh setiap guru guna menyesuaikan kebutuhan spesifik siswa tanpa adanya penyeragaman. Untuk pembelajaran berdiferensiasi, guru-guru telah belajar secara mandiri agar bisa menerapkannya sesuai kebutuhan masing-masing, tanpa penyeragaman baik melalui diferensiasi produk maupun proses. Di awal semester atau sebelum unit pembelajaran baru, guru melakukan asesmen diagnostik yang disesuaikan dengan mapel dan kebutuhan mereka. bahkan dalam satu mapel dan kelas yang sama, cara penerapannya bisa berbeda-beda. (Wawancara dengan DR, 3 Februari 2. Pernyataan tersebut menunjukan bahwa dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi di sekolah tersebut, guru-guru menunjukkan inisiatif belajar mandiri yang kuat untuk mengimplementasikan pendekatan ini secara fleksibel. Guru-guru tidak bergantung pada penyeragaman metode. Mereka menyesuaikan diferensiasi baik pada produk . utput hasil belajar sisw. maupun proses . ara penyampaian mater. Pendekatan ini memungkinkan setiap guru merancang strategi sesuai kebutuhan spesifik siswa di kelas mereka. Pembelajaran menjadi lebih inklusif dan efektif. Pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka merupakan pendekatan yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan belajar peserta didik yang beragam, baik dari segi kesiapan, minat, maupun gaya belajar. Dalam konteks pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri, peran guru menjadi sangat penting dalam memahami dan mengimplementasikan pendekatan ini secara tepat agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif dan bermakna. Pemahaman tersebut tidak hanya terbatas pada konsep, tetapi juga tercermin dalam bagaimana guru merancang dan melaksanakan setiap tahapan pembelajaran, mulai dari pendahuluan, kegiatan inti, hingga penutup. Berikut gambaran pelaksanaan dari proses pembelajaran berdiferensiasai di SMAN 1 Wonogiri : Pendahuluan Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri, kegiatan pendahuluan menunjukkan bahwa guru telah berupaya menerapkan prinsip pembelajaran berdiferensiasi sejak awal proses pembelajaran. Guru membuka pelajaran dengan salam, pengecekan kehadiran, serta membangun suasana kelas yang kondusif. Selanjutnya, guru melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan pemantik yang dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari peserta didik, sehingga mampu menarik perhatian dan meningkatkan keterlibatan siswa. Dalam tahap ini, guru juga tampak mengidentifikasi kesiapan belajar siswa secara sederhana melalui respons yang diberikan, baik secara lisan maupun nonverbal. Selain itu, guru memberikan gambaran tujuan pembelajaran serta menjelaskan aktivitas yang akan dilakukan, sehingga siswa memiliki pemahaman awal mengenai arah pembelajaran. Meskipun demikian, diferensiasi pada tahap pendahuluan masih terlihat terbatas pada pengenalan umum terhadap karakteristik siswa dan belum sepenuhnya terstruktur dalam pemetaan kebutuhan belajar secara mendalam. Guru tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga memberi ruang bagi siswa untuk merespons pertanyaan dan mengemukakan pendapat, sehingga tercipta interaksi yang lebih hidup. Selain itu, penyampaian tujuan pembelajaran dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, sehingga membantu siswa dari berbagai tingkat kemampuan untuk mengikuti alur pembelajaran. Meskipun penerapan diferensiasi pada tahap pendahuluan belum sepenuhnya terstruktur, praktik yang dilakukan guru menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya mengenali karakteristik peserta didik sebagai landasan dalam pembelajaran. 112 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Dengan demikian, kegiatan pendahuluan yang diamati telah mencerminkan langkah awal yang positif dalam mendukung implementasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas sejarah. Hasil observasi yang telah dilakukan di kelas semakin diperkuat oleh hasil wawancara mendalam dengan NC, yang memberikan penjelasan lebih komprehensif mengenai pelaksanaan kegiatan pendahuluan dalam pembelajaran sejarah berbasis diferensiasi. Dalam wawancara tersebut, ia menyampaikan bahwa tahap pendahuluan tidak hanya dipahami sebagai kegiatan pembuka semata, tetapi juga sebagai langkah awal untuk mengenali kondisi dan karakteristik peserta didik sebelum memasuki materi inti. Ia menjelaskan bahwa melalui apersepsi dan pertanyaan pemantik, guru dapat mengamati sejauh mana pemahaman awal siswa serta melihat variasi minat dan keaktifan mereka dalam merespons pembelajaran. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan dalam kutipan wawancara berikut: Au Pada kegiatan awal, saya biasanya mencoba menggali dulu pemahaman siswa lewat pertanyaan sederhana atau mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari mereka. Dari situ saya bisa melihat mana siswa yang sudah paham, mana yang masih perlu dibimbing, dan bagaimana respons mereka terhadap pelajaran sejarah. Untuk diferensiasi pembelajaran, kami menerapkannya berdasarkan minat dan bakat siswa. Dalam proses pembelajarannya, biasanya kami menggunakan media audio, membuat makalah, atau kerajinan tangan dan sebagainya seperti itu. Biasanya semua siswa kami ajarkan secara seragam. Pengelompokan siswa kadang sulit dilakukan karena waktu tidak mencukupi. Saya menyadari bahwa siswa memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda, namun untuk saat ini pengelompokan berdasarkan perbedaan tersebut belum dapat kami terapkanAy. (Wawancara dengan NC, 3 Februari 2. Lebih lanjut. ZR juga menguatkan pentingnya penyampaian tujuan pembelajaran sebagai bagian dari kegiatan pendahuluan agar siswa memiliki arah yang jelas dalam mengikuti Hal ini tercermin dalam pernyataannya: Saya selalu menyampaikan tujuan pembelajaran di awal supaya siswa tahu apa yang akan dipelajari dan apa yang diharapkan dari mereka. Dengan begitu, mereka bisa lebih fokus dan Saya berusaha membuat suasana kelas santai tapi tetap serius, supaya siswa tidak tegang dan berani untuk ikut berpendapat. Dalam hal ini, pembelajaran berdiferensiasi berarti kami mengajar siswa dengan cara yang berbeda karena setiap siswa memiliki cara belajar dan kebutuhan yang berbeda. Ada siswa yang lebih suka mendengarkan, ada pula yang lebih suka Oleh karena itu, metode ini dibuat untuk menyesuaikan dengan perbedaan tersebut. Dalam mengajar sejarah, saya menerapkannya pada beberapa materi saja, seperti pembahasan Kerajaan Majapahit. Kelas dibagi menjadi kelompok auditori yang membuat dan membacakan puisi di depan kelas, serta kelompok yang suka berakting untuk memperagakan peristiwa (Wawancara dengan ZR, 3 Februari 2. Hasil wawancara ini memperkuat temuan observasi bahwa kegiatan pendahuluan yang dilakukan oleh guru telah mencerminkan adanya pemahaman terhadap prinsip pembelajaran Meskipun belum menggunakan instrumen pemetaan yang formal, guru telah berupaya mengenali kebutuhan dan karakteristik siswa melalui pendekatan yang komunikatif dan interaktif. Praktik ini menunjukkan bahwa kegiatan pendahuluan tidak hanya berfungsi sebagai pembuka pembelajaran, tetapi juga sebagai fondasi penting dalam merancang pembelajaran yang responsif terhadap keberagaman peserta didik. Dari pernyataan di atas menyatakan bahwa guru memahami pembelajaran berdiferensiasi sebagai pendekatan mengajar yang menyesuaikan metode penyampaian materi dengan karakteristik unik setiap Pemahaman ini berpijak pada pengertian dasar kata "diferensiasi" yang berarti Setiap siswa menunjukkan preferensi belajar yang berbeda, seperti kecenderungan mendengarkan bagi siswa auditori atau menulis bagi siswa yang lebih verbal. Kebutuhan belajar yang beragam ini mendorong penciptaan metode khusus agar proses pembelajaran efektif bagi semua. Guru menyadari bahwa pendekatan seragam sering kali tidak optimal. 113 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Pemahaman konsep ini menjadi fondasi kuat dalam merancang strategi pengajaran sejarah yang inklusif dan responsif terhadap keragaman siswa. Kegiatan Inti Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri, kegiatan inti pembelajaran menunjukkan bahwa guru telah berupaya mengimplementasikan prinsip pembelajaran berdiferensiasi secara lebih konkret dan terarah. Pada tahap ini, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mengelola proses belajar agar dapat menjangkau seluruh peserta didik dengan karakteristik yang beragam. Penyampaian materi dilakukan dengan memadukan berbagai strategi pembelajaran, seperti penjelasan langsung, diskusi kelompok, analisis sumber sejarah, serta pemberian tugas yang menuntut pemahaman konseptual maupun keterampilan berpikir Variasi metode ini memberikan ruang bagi siswa dengan gaya belajar yang berbeda baik visual, auditori, maupun kinestetik untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Guru juga tampak memberikan perhatian yang berbeda terhadap kebutuhan masingmasing siswa selama kegiatan inti berlangsung. Siswa yang terlihat mengalami kesulitan dalam memahami materi mendapatkan pendampingan lebih intensif, baik melalui penjelasan ulang, contoh yang lebih sederhana, maupun bimbingan secara langsung saat mengerjakan tugas. Sementara itu, siswa yang telah menunjukkan pemahaman yang lebih baik diberi kesempatan untuk mengembangkan pengetahuannya melalui tugas yang lebih menantang, seperti menganalisis peristiwa sejarah secara lebih mendalam atau menyampaikan hasil pemikirannya dalam diskusi kelas. Hal ini menunjukkan adanya upaya diferensiasi dalam aspek proses dan produk pembelajaran, meskipun belum sepenuhnya dirancang dalam bentuk yang sistematis dan terdokumentasi. Interaksi antara guru dan siswa dalam kegiatan inti juga terlihat cukup dinamis. Guru secara aktif mendorong siswa untuk bertanya, mengemukakan pendapat, serta terlibat dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Suasana pembelajaran yang terbuka ini memungkinkan siswa untuk lebih percaya diri dalam menyampaikan ide dan memperdalam pemahaman mereka terhadap materi sejarah. Selain itu, penggunaan sumber belajar yang beragam, seperti buku teks, materi visual, dan contoh-contoh kontekstual, turut membantu siswa dalam memahami materi dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, kegiatan inti pembelajaran yang diamati menunjukkan bahwa guru telah berupaya mengakomodasi keberagaman peserta didik melalui pendekatan yang fleksibel dan responsif, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih inklusif, bermakna, dan berpusat pada siswa sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Penerapan praktis pembelajaran berdiferensiasi terlihat jelas dalam pelajaran sejarah, khususnya pada materi Kerajaan Majapahit. Guru tidak menerapkan diferensiasi secara menyeluruh pada semua topik, melainkan memilih materi yang kaya narasi dan visual untuk strategi ini. Pembagian kelas menjadi kelompok dilakukan berdasarkan gaya belajar dominan Kelompok auditori menerima tugas membuat puisi yang menggambarkan peristiwa sejarah, kemudian membacakannya di depan kelas untuk memperdalam pemahaman melalui Aktivitas ini memanfaatkan kekuatan siswa dalam memproses informasi secara verbal dan ritmis. Guru memastikan setiap kelompok memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan dan mempresentasikan hasil kerja mereka di akhir pelajaran. Kelompok siswa dengan gaya belajar kinestetik mendapat tugas berakting yang memperagakan peristiwa penting Kerajaan Majapahit. Siswa secara aktif memerankan tokoh sejarah atau menyimulasikan kejadian krusial seperti pertempuran atau diplomasi. Pendekatan ini membuat pembelajaran sejarah terasa hidup dan relevan bagi siswa yang belajar paling baik melalui gerakan fisik dan ekspresi dramatis. Guru memberikan panduan skenario sederhana agar pertunjukan tetap terfokus pada konsep inti materi. Interaksi antar-kelompok tercipta saat kelompok auditori mendengarkan presentasi berakting, sehingga terjadi saling melengkapi 114 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 antar-gaya belajar. Hasilnya, pemahaman siswa terhadap sejarah menjadi lebih mendalam melalui pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual. Hasil observasi pada kegiatan inti pembelajaran semakin diperkuat oleh hasil wawancara dengan NC dan ZR yang memberikan penjelasan lebih komprehensif mengenai penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Dalam wawancara tersebut, keduanya menegaskan bahwa kegiatan inti merupakan tahap paling krusial dalam pembelajaran karena pada fase ini guru dapat secara langsung menyesuaikan strategi, metode, dan penugasan dengan kebutuhan serta karakteristik peserta didik yang beragam. Guru tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada bagaimana siswa dapat memahami dan mengolah informasi sesuai dengan kemampuan dan gaya belajar masing-masing. Hasil observasi pada kegiatan inti pembelajaran semakin diperkuat oleh hasil wawancara dengan dua informan, yaitu NC dan ZR, yang menunjukkan adanya pemahaman yang cukup baik terkait penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Berdasarkan wawancara dengan NC, kegiatan inti dipahami sebagai tahap utama dalam mengakomodasi keberagaman peserta didik melalui variasi metode dan penyesuaian tugas. Ia menekankan bahwa penggunaan strategi pembelajaran yang beragam menjadi kunci agar seluruh siswa dapat mengikuti pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan gaya belajar masing-masing. Selain itu, ia juga menunjukkan adanya upaya diferensiasi dalam pemberian tugas dengan mempertimbangkan tingkat pemahaman siswa, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih inklusif dan adaptif. NC mengungkapkan bahwa: AuDi kegiatan inti, saya berusaha menggunakan berbagai metode pembelajaran agar siswa tidak merasa bosan dan bisa memahami materi dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya, saya menggunakan diskusi kelompok supaya siswa bisa saling bertukar pendapat, kemudian tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka, dan juga penugasan agar mereka bisa belajar secara mandiri. Saya melihat bahwa setiap siswa memiliki cara belajar yang tidak sama, jadi kalau hanya menggunakan satu metode saja, tidak semua siswa bisa mengikuti dengan baik. Dengan variasi ini, saya berharap semua siswa bisa terlibat dan memahami materi sejarah secara lebih mendalam. Kalau ada siswa yang masih kesulitan dalam memahami materi, biasanya saya tidak langsung menyamakan dengan yang lain, tetapi saya beri penjelasan tambahan secara perlahan, kadang juga saya beri contoh yang lebih sederhana supaya mereka lebih mudah memahami. Selain itu, saya juga menyesuaikan tugas yang diberikan, di mana siswa yang masih kesulitan diberi tugas yang lebih sederhana terlebih dahulu, sedangkan siswa yang sudah memahami materi saya beri tugas yang lebih menantang, misalnya analisis atau pendapat. Dengan cara ini, saya berharap semua siswa tetap bisa belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing dan tidak merasa tertinggal. Ay (Wawancara dengan NC, 3 Februari 2. Sementara itu, hasil wawancara dengan ZR menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam kegiatan inti lebih ditekankan pada fleksibilitas guru dalam menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi kelas yang dinamis. Ia memandang bahwa respons siswa selama proses pembelajaran menjadi dasar dalam menentukan metode yang digunakan, sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Adapun kutipan wawancara dengan ZR adalah sebagai berikut: Au Dalam kegiatan inti, saya biasanya tidak terpaku pada satu cara mengajar saja, tetapi saya menyesuaikan dengan kondisi siswa di kelas pada saat itu. Kadang saya menggunakan diskusi kelompok jika siswa terlihat aktif, tetapi jika kondisi kelas kurang kondusif, saya lebih banyak menggunakan penugasan individu atau penjelasan langsung. Saya melihat bahwa respon siswa sangat menentukan bagaimana pembelajaran itu berlangsung, jadi saya harus fleksibel dalam memilih metode agar pembelajaran tetap berjalan dengan baik. Saya memahami bahwa kemampuan siswa itu berbeda-beda dalam pemberian tugas juga tidak bisa disamakan. Ada siswa yang bisa langsung memahami materi dan mengerjakan tugas dengan baik, tetapi ada 115 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 juga yang membutuhkan waktu lebih lama. Oleh karena itu, saya berusaha menyesuaikan tugas agar semua siswa tetap bisa mengikuti pembelajaran. Yang terpenting bagi saya adalah semua siswa bisa memahami materi sesuai dengan kemampuan mereka, bukan harus sama persis Ay (Wawancara dengan ZR, 3 Februari 2. Dengan demikian, kedua hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan penekanan dalam praktiknya, baik NC dan ZR sama-sama telah mengupayakan penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam kegiatan inti. Hal ini tercermin dari adanya variasi metode pembelajaran, penyesuaian tugas, serta fleksibilitas dalam merespons kondisi siswa, sehingga pembelajaran sejarah dapat berlangsung secara lebih inklusif dan berpusat pada peserta didik sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Temuan wawancara ini mengilustrasikan penerapan diferensiasi yang realistis dan kontekstual di lapangan pengajaran sejarah. Guru menunjukkan fleksibilitas dengan menerapkan strategi hanya pada materi yang paling sesuai, menjaga keseimbangan antara inovasi dan efisiensi waktu pelajaran. Praktik pembagian kelompok auditori dan kinestetik melalui puisi serta berakting menjadi model konkret diferensiasi proses pembelajaran. Pendekatan ini berhasil meningkatkan partisipasi siswa tanpa membebani persiapan guru secara berlebihan. Penelitian ini menemukan bahwa diferensiasi bertahap seperti ini lebih berkelanjutan di sekolah dengan kondisi nyata. Guru sejarah tersebut menjadi contoh adaptasi teori pembelajaran modern dengan realitas mengajar harian di Indonesia. Kegiatan Penutup Kegiatan penutup dalam pembelajaran berdiferensiasi merupakan tahap penting yang berfungsi untuk mengakhiri proses pembelajaran secara terarah sekaligus memastikan bahwa seluruh peserta didik memperoleh pemahaman yang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pada tahap ini, guru tidak hanya menutup pembelajaran secara administratif, tetapi juga melakukan refleksi bersama, memberikan umpan balik, serta memperkuat materi yang telah dipelajari dengan pendekatan yang tetap memperhatikan keberagaman siswa. Melalui kegiatan penutup, guru dapat mengidentifikasi sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai dan bagaimana respon siswa terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung. Hasil observasi pada kegiatan penutup pembelajaran semakin diperkuat oleh hasil wawancara dengan dua informan, yaitu NC dan ZR, yang menunjukkan adanya pemahaman yang cukup baik terkait penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Berdasarkan wawancara dengan NC, kegiatan penutup dipahami sebagai tahap penting untuk memastikan pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari sekaligus memberikan penguatan melalui refleksi dan umpan balik. Ia menekankan bahwa pada tahap ini guru perlu melibatkan siswa secara aktif agar dapat mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman mereka, sehingga pembelajaran tidak hanya berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga pada proses evaluasi yang bermakna. Adapun kutipan wawancara dengan NC adalah sebagai berikut AuPada kegiatan penutup, saya biasanya mengajak siswa untuk menyimpulkan materi yang sudah dipelajari dengan bahasa mereka sendiri, supaya saya bisa melihat sejauh mana mereka memahami pelajaran. Selain itu, saya juga memberikan umpan balik terhadap hasil kerja mereka dan kadang memberikan pertanyaan refleksi agar siswa bisa berpikir kembali tentang apa yang sudah mereka pelajari. Dengan cara ini, saya bisa mengetahui siswa mana yang sudah paham dan mana yang masih perlu dibimbing, sehingga bisa menjadi dasar untuk pembelajaran berikutnya. Ay (Wawancara dengan NC, 3 Februari 2. Sementara itu, hasil wawancara dengan ZR menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam kegiatan penutup lebih ditekankan pada fleksibilitas guru dalam memberikan penguatan materi serta tindak lanjut pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan siswa. Ia memandang bahwa respons siswa selama proses pembelajaran menjadi dasar dalam menentukan bentuk refleksi, umpan balik, maupun penugasan lanjutan, sehingga kegiatan penutup tidak hanya bersifat formal, tetapi benar-benar membantu siswa 116 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 memahami materi secara lebih optimal. Adapun kutipan wawancara dengan ZR adalah sebagai AuDalam kegiatan penutup, saya biasanya tidak terpaku pada satu cara saja, tetapi menyesuaikan dengan kondisi siswa setelah pembelajaran berlangsung. Jika masih banyak siswa yang belum paham, saya akan memberikan penjelasan ulang atau merangkum kembali materi bersama mereka. Namun jika sebagian besar sudah memahami, saya lebih fokus pada refleksi atau pemberian tugas lanjutan. Saya melihat bahwa respon siswa sangat menentukan bagaimana kegiatan penutup dilakukan, jadi saya harus fleksibel agar semua siswa bisa memahami materi dengan baik. Saya juga memahami bahwa kemampuan siswa itu berbedabeda, sehingga dalam pemberian tugas lanjutan tidak selalu sama. Ada siswa yang cukup diberi penguatan sederhana, tetapi ada juga yang perlu pendalaman. Yang terpenting bagi saya adalah semua siswa tetap bisa mengikuti pembelajaran sesuai dengan kemampuan mereka, bukan harus sama persis hasilnya. Ay (Wawancara dengan ZR, 3 Februari 2. Dengan demikian, kedua hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan penekanan dalam praktiknya, baik NC dan ZR sama-sama telah mengupayakan penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam kegiatan inti. Hal ini tercermin dari adanya variasi metode pembelajaran, penyesuaian tugas, serta fleksibilitas dalam merespons kondisi siswa, sehingga pembelajaran sejarah dapat berlangsung secara lebih inklusif dan berpusat pada peserta didik sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Berdasarkan hasil wawancara dengan VF dan SN selaku peserta didik kelas X E di SMA Negeri 1 Wonogiri, diketahui bahwa proses pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah dalam Kurikulum Merdeka telah diterapkan melalui variasi metode pembelajaran, pemberian pilihan tugas, serta penyesuaian pendampingan belajar oleh guru. Kedua informan menyampaikan bahwa guru sejarah berupaya menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kemampuan dan gaya belajar siswa sehingga suasana kelas menjadi lebih aktif dan partisipatif. VF menjelaskan bahwa dalam pembelajaran sejarah guru tidak hanya menggunakan metode ceramah, tetapi juga diskusi kelompok dan presentasi yang membuat siswa lebih terlibat dalam proses belajar. Ia menyatakan. Biasanya dalam pembelajaran sejarah kami dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk membahas materi yang sedang dipelajari. Setiap kelompok mendapatkan topik tertentu yang kemudian harus didiskusikan bersama dengan mencari informasi dari buku paket, sumber bacaan lain, maupun internet. Setelah itu, hasil diskusi disusun dan dipresentasikan di depan kelas secara bergantian. Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya mendengarkan penjelasan guru seperti pembelajaran biasa, tetapi juga ikut aktif mencari, memahami, dan menjelaskan kembali materi dengan bahasa kami sendiri. Proses diskusi dan presentasi membuat kami lebih memahami isi materi sejarah karena dapat saling bertukar pendapat, mengajukan pertanyaan, serta mendapatkan tambahan penjelasan baik dari teman maupun guru. (Wawancara denganVF, 3 Februari 2. Menurutnya, kegiatan tersebut membantu siswa memahami materi karena dapat berdiskusi dan saling bertukar pendapat dengan teman sekelas. Selain itu, guru memberikan arahan berbeda kepada siswa yang mengalami kesulitan agar tetap dapat mengikuti Hal serupa disampaikan oleh SN yang menilai bahwa pembelajaran sejarah memberikan kebebasan kepada siswa dalam mengerjakan tugas sesuai minat masing-masing. Guru biasanya memberikan beberapa pilihan bentuk tugas yang dapat kami kerjakan, seperti membuat rangkuman materi, menyusun infografis, atau menyiapkan presentasi untuk dipaparkan di depan kelas. Setiap siswa diperbolehkan memilih jenis tugas yang dirasa paling sesuai dengan kemampuan, minat, dan cara belajar masing-masing. Dengan adanya pilihan tersebut, kami menjadi lebih nyaman dalam mengerjakan tugas karena tidak semua siswa harus 117 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 mengerjakan tugas dengan bentuk yang sama. Misalnya, siswa yang lebih suka menulis dapat membuat rangkuman, sementara yang lebih kreatif secara visual memilih membuat infografis, dan yang percaya diri berbicara di depan kelas dapat memilih presentasi. Menurut saya, cara ini membantu kami memahami materi sejarah dengan lebih baik karena kami mengerjakan tugas sesuai kekuatan yang dimiliki, sehingga proses belajar terasa lebih mudah dipahami dan tidak membosankan. (Wawancara dengan SN, 3 Februari 2. Berdasarkan keterangan kedua informan sebagai peserta didik kelas X E, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri telah terlihat melalui penggunaan strategi pembelajaran yang bervariasi, pemberian pilihan bentuk tugas, serta adanya pendampingan belajar dari guru. Namun, dari sudut pandang siswa, pelaksanaan tersebut belum sepenuhnya merata dirasakan oleh seluruh peserta didik. Variasi metode seperti diskusi dan presentasi memang mendorong keaktifan belajar, tetapi tingkat partisipasi siswa masih dipengaruhi oleh rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi masing-masing. Selain itu, fleksibilitas penugasan memberikan ruang bagi siswa untuk memilih cara belajar yang sesuai, meskipun sebagian siswa masih membutuhkan arahan lebih jelas agar tidak kebingungan dalam menentukan pilihan tugas. Pendampingan guru juga dinilai membantu siswa yang mengalami kesulitan memahami materi, tetapi intensitas bimbingan terkadang bergantung pada kondisi waktu pembelajaran di kelas. Berdasarkan keseluruhan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, dapat ditegaskan kembali bahwa pemahaman guru sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri terhadap proses pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka telah menunjukkan arah yang positif, meskipun belum sepenuhnya optimal dan sistematis. Guru telah memahami bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi kesiapan belajar, minat, maupun gaya belajar, sehingga diperlukan penyesuaian dalam proses pembelajaran. Pemahaman ini tercermin dalam pelaksanaan tiga tahapan pembelajaran, yaitu pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup, di mana guru berupaya membangun keterlibatan siswa sejak awal, mengelola variasi metode dan penugasan pada kegiatan inti, serta melakukan refleksi dan penguatan pada tahap penutup. Secara analitis, pemahaman guru terhadap pembelajaran berdiferensiasi dapat dikategorikan sebagai pemahaman yang bersifat praktis-kontekstual, yaitu lebih banyak diwujudkan dalam tindakan nyata di kelas dibandingkan dalam perencanaan yang terstruktur secara formal. Pada kegiatan pendahuluan, guru telah menunjukkan upaya mengenali kondisi awal siswa melalui apersepsi dan interaksi, meskipun belum menggunakan instrumen diagnostik yang sistematis. Pada kegiatan inti, penerapan diferensiasi terlihat lebih menonjol melalui variasi metode pembelajaran, fleksibilitas strategi, serta penyesuaian tingkat kesulitan tugas sesuai kemampuan siswa. Sementara itu, pada kegiatan penutup, guru telah melakukan refleksi dan pemberian umpan balik, namun diferensiasi pada tahap ini masih bersifat umum dan belum secara spesifik menyesuaikan kebutuhan individual siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman guru sejarah terhadap pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Wonogiri sudah berada pada tahap implementatif awal yang cukup baik, tetapi masih memerlukan penguatan, khususnya dalam aspek perencanaan yang lebih sistematis dan penggunaan instrumen pemetaan kebutuhan belajar yang lebih terstruktur. Hal ini penting agar praktik pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya bersifat spontan dan kontekstual, tetapi juga terarah, berkelanjutan, serta mampu mengakomodasi keberagaman peserta didik secara lebih optimal. Dampak penerapan pembelajaran berdiferensiasi terhadap proses pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka menjadi salah satu upaya strategis dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran, khususnya pada mata 118 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri. Pendekatan ini menekankan pentingnya pengakuan terhadap keberagaman karakteristik peserta didik, baik dari segi kesiapan belajar, minat, maupun gaya belajar, sehingga proses pembelajaran tidak lagi bersifat seragam, melainkan lebih fleksibel dan adaptif. Dalam konteks pembelajaran sejarah, yang selama ini kerap dipandang sebagai mata pelajaran yang menuntut hafalan, penerapan pembelajaran berdiferensiasi memberikan peluang untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna, interaktif, dan kontekstual bagi siswa. Melalui penerapan pendekatan ini, guru dituntut untuk mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada penyampaian materi, tetapi juga memperhatikan kebutuhan individual siswa. Hal ini berdampak pada perubahan dalam berbagai aspek pembelajaran, mulai dari strategi yang digunakan, variasi metode, bentuk penugasan, hingga pola interaksi antara guru dan siswa di dalam kelas. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih dinamis dan memberikan ruang bagi siswa untuk berpartisipasi aktif sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji secara mendalam dampak penerapan pembelajaran berdiferensiasi terhadap proses pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri. Kajian ini tidak hanya berfokus pada hasil belajar siswa, tetapi juga pada perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran itu sendiri, seperti tingkat keterlibatan siswa, efektivitas penyampaian materi, serta kemampuan guru dalam mengelola kelas yang heterogen. Dengan memahami dampak tersebut, dapat diketahui sejauh mana pembelajaran berdiferensiasi mampu menjawab tantangan pembelajaran di era Kurikulum Merdeka serta memberikan kontribusi dalam menciptakan pembelajaran sejarah yang lebih inklusif, efektif, dan berpusat pada peserta didik. Hasil penelitian mengenai dampak penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri juga diperkuat oleh hasil wawancara dengan DR. Dalam wawancara tersebut, ia menjelaskan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka telah memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran, khususnya dalam meningkatkan keterlibatan siswa, kualitas interaksi di kelas, serta fleksibilitas guru dalam mengelola pembelajaran. Menurutnya, pendekatan ini mendorong guru untuk lebih memahami perbedaan karakteristik peserta didik dan tidak lagi menggunakan pendekatan pembelajaran yang seragam. Hal tersebut tercermin dalam kutipan wawancara berikut: AuDengan adanya pembelajaran berdiferensiasi, guru menjadi lebih sadar bahwa siswa memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga proses pembelajaran tidak bisa disamakan. Dampaknya, siswa menjadi lebih aktif karena mereka merasa diperhatikan dan dilibatkan dalam pembelajaran. Selain itu, suasana kelas juga menjadi lebih hidup karena guru menggunakan berbagai metode yang menyesuaikan kondisi siswa, sehingga interaksi antara guru dan siswa menjadi lebih baik dan pembelajaran terasa lebih bermaknaAy (Wawancara dengan DR, 3 Februari 2. Berdasarkan kutipan wawancara dengan DR dapat dipahami bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi memberikan dampak yang cukup luas terhadap proses pembelajaran, tidak hanya pada siswa tetapi juga pada guru. Penekanan pada kesadaran guru terhadap keberagaman kemampuan dan kebutuhan siswa menunjukkan adanya perubahan paradigma dalam pembelajaran, dari yang sebelumnya cenderung seragam menjadi lebih adaptif dan berpusat pada peserta didik. Dampak tersebut terlihat dari meningkatnya keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, karena mereka merasa lebih diperhatikan dan diberi ruang untuk berpartisipasi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Selain itu, suasana pembelajaran yang menjadi lebih hidup dan interaktif menunjukkan bahwa penggunaan metode yang bervariasi mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif. Interaksi antara guru dan siswa yang semakin baik juga menjadi indikator bahwa pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan melibatkan komunikasi dua arah yang lebih efektif. Dengan 119 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 demikian, kutipan wawancara tersebut menegaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi berkontribusi dalam menciptakan proses pembelajaran yang lebih inklusif, dinamis, dan bermakna, sehingga mampu mendukung tercapainya tujuan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka secara lebih optimal. Temuan tersebut semakin diperkuat oleh hasil wawancara dengan NC dan ZR yang menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi secara langsung berdampak pada meningkatnya keterlibatan dan pemahaman siswa dalam pembelajaran sejarah. Kedua guru tersebut menegaskan bahwa penggunaan metode yang bervariasi serta penyesuaian tugas berdasarkan kemampuan siswa membuat proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan tidak bersifat satu arah. Siswa menjadi lebih aktif dalam berdiskusi, bertanya, serta mengemukakan pendapat, sehingga suasana kelas lebih hidup dan interaktif. Selain itu, diferensiasi dalam penugasan juga membantu siswa belajar sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing, sehingga tidak ada siswa yang merasa tertinggal maupun kurang tertantang. Hal tersebut tercermin dalam kutipan wawancara berikut: AuDengan menggunakan berbagai metode pembelajaran seperti diskusi kelompok, tanya jawab, dan juga penugasan yang bervariasi, saya melihat siswa menjadi jauh lebih aktif dibandingkan sebelumnya. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga mulai berani bertanya, menyampaikan pendapat, dan terlibat dalam diskusi dengan temantemannya. Suasana kelas juga menjadi lebih hidup karena hampir semua siswa ikut berpartisipasi, meskipun dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan karakter mereka. Hal ini membuat pembelajaran sejarah tidak lagi terasa membosankan, tetapi justru lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswaAy (Wawancara dengan NC, 3 Februari 2. ZR juga menyampaikan argument yang menguatkan pernyataan sebelumnya: AuKetika saya menyesuaikan tugas dengan kemampuan siswa, dampaknya sangat terlihat dalam proses pembelajaran. Siswa yang sebelumnya mengalami kesulitan menjadi lebih terbantu karena mereka mendapatkan tugas yang sesuai dengan tingkat pemahamannya, sehingga mereka bisa mengikuti pembelajaran dengan lebih percaya diri. Di sisi lain, siswa yang sudah memahami materi tidak merasa bosan karena mereka tetap diberikan tantangan yang lebih Dengan cara ini, semua siswa tetap terlibat dalam pembelajaran dan tidak ada yang merasa tertinggal ataupun kurang berkembang. Saya melihat bahwa pendekatan ini membuat pembelajaran menjadi lebih efektif dan hasil belajar siswa juga lebih baikAy (Wawancara dengan ZR, 3 Februari 2. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri menunjukkan adanya perubahan yang cukup signifikan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang semula cenderung berpusat pada guru mulai bergeser menjadi lebih berpusat pada peserta didik, di mana siswa diberikan ruang untuk berpartisipasi aktif sesuai dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing. Variasi metode pembelajaran yang digunakan, seperti diskusi, tanya jawab, dan penugasan yang beragam, membuat suasana kelas menjadi lebih dinamis dan interaktif. Selain itu, penyesuaian tugas berdasarkan tingkat pemahaman siswa membantu menciptakan pembelajaran yang lebih inklusif, sehingga siswa yang mengalami kesulitan tetap dapat mengikuti pembelajaran, sementara siswa yang lebih cepat memahami materi tetap mendapatkan tantangan. Di sisi lain, guru juga dituntut untuk lebih fleksibel dan responsif dalam mengelola pembelajaran, sehingga mampu menyesuaikan strategi dengan kondisi kelas yang heterogen. Dengan demikian, penerapan pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya berdampak pada meningkatnya keaktifan dan pemahaman siswa, tetapi juga mendorong terciptanya proses pembelajaran yang lebih efektif, adaptif, dan bermakna sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Hambatan yang dihadapi guru sejarah dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Wonogiri 120 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi di SMAN 1 Wonogiri tidak lepas dari berbagai hambatan yang muncul di lapangan. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi masih menghadapi berbagai hambatan. Guru perlu menyesuaikan perencanaan pembelajaran, memilih metode yang beragam, serta memastikan semua siswa dapat terlibat aktif, yang tentu tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat. Guru juga harus beradaptasi dari kebiasaan mengajar yang sebelumnya lebih seragam menjadi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa. Perbedaan kemampuan, kesiapan, dan kemandirian belajar siswa di dalam kelas juga menjadi tantangan tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya membutuhkan pemahaman konsep, tetapi juga kesiapan dalam praktik, kemampuan mengelola kelas, serta dukungan dari lingkungan sekolah agar dapat berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan DR selaku wakil kepala sekolah bidang kurikulum menyatakan bahwa kendala utama pembelajaran berdiferensiasi adalah keterbatasan waktu dan perbedaan kesiapan serta motivasi siswa. Rencana pembelajaran tidak selalu berjalan sesuai harapan karena ada siswa yang masih kesulitan atau kurang termotivasi, sehingga guru perlu menyesuaikan kembali pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Kendala pembelajaran berdiferensiasi meliputi keterbatasan waktu karena guru harus mengikuti jadwal yang ada, sementara pelaksanaan di kelas tidak selalu sesuai rencana. Beberapa siswa masih mengalami kesulitan sehingga guru perlu menyesuaikan dan memperdalam materi. Selain itu, perbedaan kemampuan dan motivasi siswa juga menjadi Tidak semua siswa siap belajar sesuai rencana, bahkan ada yang kurang termotivasi, sehingga pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan mereka. (Wawwancara dengan DR, 3 Februari 2026. Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa kendala dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi yang ditemukan di lapangan berkaitan erat dengan keterbatasan waktu yang dimiliki guru. Guru tetap harus menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan jadwal, kalender pendidikan, serta perangkat ajar yang telah disusun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat ruang gerak guru menjadi terbatas ketika harus mengakomodasi kebutuhan belajar siswa yang beragam. Pelaksanaan pembelajaran di kelas sering kali tidak berjalan sesuai dengan rencana karena adanya dinamika yang muncul selama proses Kondisi siswa yang beragam menjadi faktor utama yang memengaruhi ketidaksesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Sebagian siswa masih mengalami kesulitan meskipun guru telah menerapkan strategi pembelajaran yang dirancang sebelumnya. Situasi tersebut mendorong guru untuk melakukan penyesuaian dengan cara mengulang materi, memberikan penjelasan tambahan, atau memperdalam pemahaman siswa sebelum melanjutkan ke materi berikutnya. Upaya tersebut memerlukan waktu tambahan sehingga berpotensi mengganggu ketercapaian target pembelajaran yang telah ditetapkan. Perbedaan kemampuan dan motivasi belajar siswa juga menjadi kendala yang cukup Setiap siswa memiliki tingkat kesiapan belajar yang berbeda, sehingga tidak semua mampu mengikuti pembelajaran sesuai dengan alur yang telah direncanakan. Sebagian siswa menunjukkan kesulitan bukan karena keterbatasan kemampuan, melainkan karena rendahnya motivasi dalam mengikuti pembelajaran. Rendahnya motivasi tersebut berdampak pada kurangnya keterlibatan siswa dalam proses belajar, sehingga hasil yang dicapai tidak optimal. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi menuntut guru untuk memiliki fleksibilitas dalam mengelola kelas dan menentukan strategi yang tepat. Penyesuaian terhadap kebutuhan siswa menjadi hal yang tidak dapat dihindari agar proses pembelajaran tetap berjalan efektif. Kemampuan guru dalam memahami karakteristik siswa, mengelola waktu, serta menciptakan suasana belajar yang mendukung menjadi faktor penting dalam mengatasi berbagai kendala 121 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 yang muncul. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran secara lebih optimal meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan. Berdasarkan hasil wawancara dengan NC dan ZR, menunjukkan adanya berbagai kendala yang dihadapi dalam praktik pembelajaran di kelas. Hambatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, seperti keterbatasan waktu dan jumlah siswa, tetapi juga menyangkut kesiapan guru dalam merancang pembelajaran yang benar-benar terdiferensiasi. Guru mengungkapkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan perencanaan yang lebih matang serta kemampuan untuk menyesuaikan strategi pembelajaran secara fleksibel sesuai dengan kondisi siswa yang beragam. Adapun kutipan wawancara dengan NC adalah sebagai berikut: AuSalah satu kendala yang saya rasakan dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah keterbatasan waktu, karena untuk menyiapkan pembelajaran yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan siswa itu membutuhkan persiapan yang lebih banyak dibandingkan pembelajaran biasa. Selain itu, jumlah siswa dalam satu kelas juga cukup banyak, sehingga tidak mudah untuk memberikan perhatian secara maksimal kepada setiap siswa. Kadang saya sudah mencoba menyesuaikan metode atau tugas, tetapi tetap saja ada siswa yang belum bisa terakomodasi dengan baik. Di sisi lain, saya juga merasa masih perlu belajar lebih banyak tentang bagaimana menerapkan diferensiasi yang benar-benar sesuai, terutama dalam hal membedakan konten, proses, dan produk pembelajaran secara lebih sistematis. Ay (Wawancara dengan NC, 3 Februari 2026 Sementara itu. ZR juga mengungkapkan adanya hambatan dalam hal pelaksanaan pembelajaran di kelas yang dinamis serta keterbatasan dalam pemetaan kebutuhan siswa secara Adapun kutipan wawancara dengan ZR adalah sebagai berikut: AuHambatan yang saya hadapi dalam pembelajaran berdiferensiasi itu lebih pada bagaimana menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi kelas yang berbeda-beda setiap Tidak semua siswa bisa langsung mengikuti pembelajaran dengan baik, ada yang cepat memahami, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama. Sementara itu, waktu pembelajaran terbatas, jadi kadang saya harus memilih cara yang paling efektif meskipun belum sepenuhnya bisa mengakomodasi semua siswa. Selain itu, saya juga merasa belum memiliki alat atau cara yang benar-benar tepat untuk memetakan kemampuan siswa secara detail, sehingga penyesuaian yang saya lakukan masih berdasarkan pengamatan selama pembelajaran Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri agar pembelajaran bisa berjalan Ay (Wawancara dengan ZR, 3 Februari 2. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh melalui observasi dan wawancara, hambatan yang dihadapi guru sejarah dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Wonogiri menunjukkan adanya tantangan yang cukup kompleks, baik dari aspek perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. Salah satu hambatan utama yang ditemukan adalah keterbatasan waktu dalam mempersiapkan pembelajaran yang terdiferensiasi secara optimal. Guru membutuhkan waktu lebih untuk merancang variasi metode, media, serta bentuk penugasan yang sesuai dengan karakteristik peserta didik yang beragam, sehingga dalam praktiknya tidak semua aspek diferensiasi dapat dilaksanakan secara Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa guru masih mengalami kendala dalam melakukan pemetaan kebutuhan belajar siswa secara sistematis. Meskipun guru telah berupaya mengenali perbedaan kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa melalui interaksi di kelas, namun belum didukung oleh penggunaan instrumen diagnostik yang terstruktur. Hal ini menyebabkan penerapan pembelajaran berdiferensiasi masih bersifat kontekstual dan belum sepenuhnya dirancang secara komprehensif sejak tahap perencanaan. Di samping itu, jumlah siswa dalam satu kelas yang relatif banyak turut menjadi kendala dalam memberikan perhatian secara individual kepada setiap peserta didik. 122 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran juga menjadi faktor penghambat dalam mengoptimalkan penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Guru tidak selalu dapat menggunakan media dan sumber belajar yang beragam sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga harus menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi yang tersedia. Meskipun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa guru tetap berupaya mengatasi hambatan tersebut dengan pendekatan yang fleksibel dan adaptif. Dengan demikian, hambatan yang dihadapi tidak hanya menjadi kendala, tetapi juga menjadi bagian dari proses penyesuaian dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi secara bertahap di lingkungan Hasil penelitian juga menunjukkan adanya tantangan yang berkaitan dengan kesiapan dan kedalaman pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran berdiferensiasi secara Meskipun guru telah memahami bahwa peserta didik memiliki karakteristik yang beragam, dalam praktiknya masih terdapat kesulitan dalam mengintegrasikan diferensiasi konten, proses, dan produk secara seimbang dalam satu rangkaian pembelajaran. Kondisi ini terlihat dari kecenderungan guru yang lebih sering menerapkan diferensiasi pada aspek proses dan penugasan, sementara diferensiasi konten dan produk belum sepenuhnya dikembangkan secara optimal. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman guru masih berada pada tahap implementasi awal yang bersifat kontekstual dan belum sepenuhnya terstruktur dalam perencanaan pembelajaran yang sistematis. Keterbatasan akses terhadap pelatihan dan pengembangan profesional yang berkelanjutan turut memengaruhi kesiapan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran Guru belum sepenuhnya memperoleh pendampingan yang intensif terkait strategi praktis, sehingga pelaksanaan di kelas masih banyak bergantung pada pengalaman mengajar serta improvisasi. Perubahan paradigma pembelajaran dari yang berorientasi pada guru menuju pembelajaran yang berpusat pada peserta didik juga memerlukan proses adaptasi yang tidak singkat. Guru perlu menyesuaikan pola pikir, strategi pembelajaran, serta pengelolaan kelas yang heterogen, sementara siswa juga perlu beradaptasi dengan tuntutan keaktifan dan kemandirian dalam belajar. Dinamika kelas yang beragam turut menjadi tantangan dalam penerapan pembelajaran Perbedaan tingkat kemampuan, motivasi, dan partisipasi siswa menuntut guru untuk mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat dalam menentukan strategi Kemampuan manajerial kelas dan kepekaan terhadap situasi pembelajaran menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan implementasi. Keterbatasan waktu pembelajaran dan kondisi kelas yang tidak selalu kondusif juga memengaruhi optimalisasi penerapan diferensiasi sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Hambatan yang dihadapi guru tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencakup aspek konseptual, pedagogis, dan adaptasi terhadap perubahan dalam sistem pembelajaran. Meskipun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa guru tetap berupaya mengembangkan praktik pembelajaran berdiferensiasi secara bertahap. Hambatan tersebut menjadi bagian dari proses peningkatan kompetensi profesional guru dalam mengelola pembelajaran yang lebih responsif terhadap keberagaman peserta didik. Implementasi yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan mampu menghasilkan pembelajaran yang lebih sistematis, efektif, dan sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka. Upaya mengatasi hambatan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri, berdasarkan hasil penelitian, dilakukan melalui langkah-langkah adaptif yang menyesuaikan kondisi pembelajaran di kelas. Guru berusaha mengelola keterbatasan waktu dengan merancang pembelajaran yang lebih fleksibel dan efisien, seperti memanfaatkan diskusi kelompok dan penugasan bertingkat yang dapat mengakomodasi perbedaan kemampuan siswa dalam satu kegiatan. Pemetaan kebutuhan belajar siswa tetap dilakukan secara kontekstual melalui interaksi langsung di kelas, sehingga 123 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 guru dapat mengenali karakteristik siswa tanpa harus bergantung sepenuhnya pada instrumen Peningkatan pemahaman terhadap konsep pembelajaran berdiferensiasi juga dilakukan melalui berbagai kegiatan pengembangan profesional. Guru memanfaatkan sumber belajar mandiri seperti buku, artikel, maupun media digital, serta aktif berdiskusi dengan rekan sejawat untuk saling berbagi pengalaman dan strategi pembelajaran. Kolaborasi antar guru menjadi sarana penting dalam menemukan solusi atas kendala yang dihadapi, sekaligus memperkaya variasi metode pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas. Pemanfaatan sarana dan prasarana yang tersedia dilakukan secara optimal untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi. Guru menunjukkan kreativitas dalam mengembangkan media pembelajaran sederhana serta menggunakan sumber belajar yang mudah diakses oleh siswa. Pengelolaan kelas dilakukan secara fleksibel dengan menyesuaikan strategi pembelajaran terhadap dinamika dan kondisi siswa selama proses berlangsung. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk tetap menerapkan prinsip diferensiasi meskipun dalam keterbatasan. Berbagai upaya tersebut menunjukkan adanya komitmen guru dalam mengatasi hambatan yang dihadapi selama penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Proses adaptasi yang dilakukan secara bertahap mencerminkan usaha untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih responsif terhadap keberagaman peserta didik. Implementasi yang berkelanjutan diharapkan mampu menghasilkan pembelajaran sejarah yang lebih efektif, inklusif, dan sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka. Pembahasan Pemahaman guru sejarah terhadap proses pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri Pemahaman guru sejarah terhadap pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka tercermin dari upaya menyesuaikan proses pembelajaran dengan karakteristik peserta didik yang beragam. Guru tidak lagi menggunakan pendekatan pembelajaran yang seragam, tetapi mulai mengakomodasi perbedaan kesiapan belajar, minat, dan gaya belajar siswa melalui variasi metode dan strategi pembelajaran. Penyesuaian tersebut terlihat dari penggunaan diskusi, tanya jawab, serta penugasan yang fleksibel sesuai kemampuan siswa. Kondisi ini menunjukkan bahwa guru telah memahami esensi pembelajaran berdiferensiasi sebagai upaya memberikan ruang bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai potensinya (Fitriyah & Moh Bisri, 2. Pada tahap pendahuluan, guru menggunakan apersepsi dan pertanyaan pemantik untuk menggali pemahaman awal siswa sekaligus membangun keterlibatan mereka dalam Cara ini memberikan gambaran mengenai kesiapan belajar siswa meskipun belum didukung asesmen diagnostik yang terstruktur. Identifikasi awal melalui interaksi langsung di kelas menjadi langkah penting dalam menentukan arah pembelajaran selanjutnya agar strategi yang digunakan lebih efektif dan sesuai karakteristik peserta didik (Ahmad Teguh. Pada kegiatan inti, guru menerapkan variasi metode dan penyesuaian tugas. Guru melibatkan siswa secara aktif melalui diskusi kelompok, tanya jawab, serta pemberian tugas dengan tingkat kesulitan berbeda. Siswa dengan kemampuan lebih tinggi diberikan tantangan yang lebih kompleks, sedangkan siswa yang mengalami kesulitan memperoleh pendampingan dan tugas yang lebih sederhana. Praktik ini mencerminkan penerapan diferensiasi proses dan produk sesuai kemampuan dan minat siswa (Saiful Almujab, 2. Variasi metode tersebut membantu meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman materi sejarah secara lebih 124 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Fleksibilitas guru dalam mengelola pembelajaran menjadi faktor penting dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Guru menyesuaikan strategi pembelajaran berdasarkan situasi kelas dan respons siswa selama pembelajaran berlangsung. Pendekatan ini menunjukkan bahwa guru telah berupaya menciptakan pembelajaran yang adaptif dan tidak kaku sehingga mampu menjangkau seluruh peserta didik dengan berbagai latar belakang Guru juga mulai berperan sebagai fasilitator yang mendampingi siswa dalam proses belajar. Kondisi ini sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang memberikan fleksibilitas kepada guru dalam merancang pembelajaran sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik (Heryanti dkk. , 2. Kegiatan penutup menunjukkan adanya refleksi dan evaluasi terhadap proses Guru mengajak siswa menyimpulkan materi dengan bahasa mereka sendiri serta memberikan umpan balik untuk memperkuat pemahaman. Praktik ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa proses pembelajaran mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi guna memastikan tercapainya tujuan pembelajaran (Pane & Dasopang, 2. Namun, penerapan diferensiasi pada tahap evaluasi masih belum sepenuhnya menyesuaikan kebutuhan individual siswa (Ubabuddin, 2. Secara keseluruhan, pemahaman guru terhadap pembelajaran berdiferensiasi lebih terlihat dalam praktik di kelas dibandingkan dalam perencanaan yang sistematis. Guru mampu menerapkan variasi metode dan penyesuaian tugas sesuai kondisi siswa, tetapi belum didukung pemetaan kebutuhan belajar melalui asesmen diagnostik yang terstruktur. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah telah sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran fleksibel, berpusat pada siswa, dan memberikan kebebasan dalam mengembangkan potensi individu (Marliani, 2. Penguatan masih diperlukan pada aspek perencanaan agar implementasi pembelajaran berdiferensiasi dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan. Dampak penerapan pembelajaran berdiferensiasi terhadap proses pembelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri menunjukkan adanya perubahan yang cukup nyata dalam proses pembelajaran di kelas. Keterlibatan siswa meningkat terlihat dari keaktifan mereka dalam diskusi, tanya jawab, dan penyampaian pendapat. Siswa tidak lagi hanya menjadi penerima informasi secara pasif, tetapi mulai terlibat aktif karena pembelajaran yang diberikan lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mereka (Fitriyah & Moh Bisri. Suasana kelas menjadi lebih hidup dan dinamis sehingga pembelajaran bergeser dari teacher centered menuju student centered. Kualitas interaksi antara guru dan siswa juga meningkat. Guru tidak lagi menjadi satusatunya sumber informasi, tetapi berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses belajar Hubungan yang lebih terbuka menciptakan suasana belajar yang nyaman sehingga siswa tidak ragu dalam mengemukakan ide dan berdiskusi dengan teman sekelas (Pane & Dasopang. Interaksi yang aktif membantu siswa memahami materi sejarah secara lebih mendalam sekaligus membantu guru memahami kebutuhan belajar siswa (Ubabuddin, 2. Variasi metode pembelajaran seperti diskusi kelompok, tanya jawab, dan penugasan yang beragam membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak monoton. Siswa dengan gaya belajar visual, auditori, maupun kinestetik tetap dapat terlibat dalam pembelajaran karena metode yang digunakan tidak bersifat tunggal. Pembelajaran sejarah yang sebelumnya dianggap membosankan mulai berubah menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Kondisi tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dilakukan melalui penyesuaian proses pembelajaran agar sesuai dengan karakteristik siswa (Saiful Almujab, 2. 125 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Penyesuaian tugas berdasarkan tingkat kemampuan siswa memberikan kontribusi terhadap kualitas proses pembelajaran. Siswa yang mengalami kesulitan mendapatkan tugas sesuai kemampuan dasar yang dimiliki, sedangkan siswa dengan kemampuan lebih tinggi tetap memperoleh tantangan melalui tugas yang lebih kompleks. Pemberian tugas yang tidak disamaratakan menciptakan suasana belajar yang lebih adil karena setiap siswa memperoleh kesempatan belajar sesuai kebutuhannya. Strategi ini sejalan dengan tujuan pembelajaran berdiferensiasi yang menyesuaikan konten, proses, dan produk pembelajaran berdasarkan kebutuhan siswa (Desy Wahyuningsari dkk. , 2. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi juga berdampak pada meningkatnya rasa percaya diri dan motivasi belajar siswa. Siswa yang sebelumnya kurang aktif mulai berani terlibat karena merasa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Kesempatan memilih cara belajar maupun bentuk tugas sesuai minat membuat siswa lebih menikmati pembelajaran (Marliani, 2. Motivasi belajar yang meningkat mendorong siswa lebih aktif mencari informasi, berdiskusi, serta mengaitkan materi sejarah dengan kehidupan nyata. Pembelajaran sejarah tidak lagi sekadar hafalan, tetapi menjadi proses belajar yang lebih bermakna dan Secara keseluruhan, pembelajaran berdiferensiasi menjadikan proses pembelajaran sejarah lebih adaptif, inklusif, interaktif, dan berpusat pada siswa. Guru menjadi lebih kreatif dan fleksibel dalam merancang strategi pembelajaran, sementara siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna. Implementasi ini juga mendorong guru menjadi lebih reflektif dalam mengevaluasi pembelajaran dan lebih peka terhadap kebutuhan siswa sehingga kualitas proses belajar meningkat secara menyeluruh. Hambatan yang dihadapi guru sejarah dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 1 Wonogiri Hambatan Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri masih menghadapi berbagai hambatan. Keterbatasan waktu menjadi kendala utama karena guru harus menyesuaikan pembelajaran dengan jadwal, kalender pendidikan, dan target Guru perlu menyiapkan variasi metode, media, serta bentuk penugasan yang berbeda agar dapat mengakomodasi keberagaman peserta didik. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran sering kali tidak berjalan sesuai perencanaan karena dinamika kelas yang berubah-ubah sehingga tidak semua aspek diferensiasi dapat diterapkan secara optimal. Perbedaan kemampuan, kesiapan, dan motivasi belajar siswa juga menjadi tantangan yang cukup signifikan. Siswa dengan kemampuan tinggi cenderung lebih cepat memahami materi, sedangkan siswa dengan kemampuan lebih rendah membutuhkan waktu tambahan dan pendampingan lebih intensif. Rendahnya motivasi belajar sebagian siswa turut memengaruhi keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Kondisi ini menuntut guru untuk mampu mengelola kelas secara fleksibel dan menyesuaikan strategi pembelajaran secara berkelanjutan sesuai kebutuhan individu peserta didik (Desy Wahyuningsari dkk. , 2. Hambatan lain berkaitan dengan pemetaan kebutuhan belajar siswa yang belum dilakukan secara sistematis. Guru masih mengandalkan pengamatan langsung selama pembelajaran untuk mengenali kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa. Pendekatan ini membantu memahami kondisi kelas secara umum, tetapi belum mampu memberikan gambaran mendalam mengenai kebutuhan belajar setiap siswa. Ketiadaan asesmen diagnostik yang terstruktur menyebabkan perencanaan pembelajaran berdiferensiasi belum sepenuhnya berbasis data yang akurat (Fitriyah & Moh Bisri, 2. Jumlah siswa dalam satu kelas yang relatif banyak juga memengaruhi efektivitas implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Guru mengalami kesulitan dalam memberikan perhatian secara individual kepada setiap siswa, terutama bagi siswa yang memerlukan 126 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 pendampingan lebih intensif. Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana menyebabkan variasi metode dan media pembelajaran menjadi terbatas sehingga peluang mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa belum optimal. Guru dituntut lebih kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia agar pembelajaran tetap berlangsung efektif. Kesiapan dan pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran berdiferensiasi secara komprehensif masih menjadi tantangan. Guru telah memahami pentingnya memperhatikan keberagaman siswa, tetapi masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan diferensiasi konten, proses, dan produk secara seimbang dalam satu rangkaian pembelajaran. Penerapan diferensiasi lebih banyak difokuskan pada aspek proses dan penugasan, sementara aspek konten dan produk belum sepenuhnya berkembang optimal (Saiful Almujab, 2. Keterbatasan akses pelatihan dan pengembangan profesional juga memengaruhi kemampuan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi secara maksimal. Upaya Mengatasi Hambatan Guru melakukan berbagai upaya untuk mengatasi hambatan pembelajaran berdiferensiasi melalui pengelolaan pembelajaran yang lebih fleksibel dan efisien. Keterbatasan waktu diatasi dengan penggunaan strategi seperti diskusi kelompok, kerja kolaboratif, serta penugasan bertingkat agar seluruh siswa tetap dapat terlibat aktif tanpa harus dipisahkan secara kaku berdasarkan tingkat kemampuan. Strategi ini memungkinkan guru mengakomodasi berbagai kebutuhan siswa dalam satu aktivitas pembelajaran. Pemetaan kebutuhan belajar siswa tetap dilakukan meskipun belum menggunakan asesmen diagnostik formal. Guru memanfaatkan interaksi langsung selama pembelajaran untuk mengenali kemampuan awal, minat, dan kecenderungan gaya belajar siswa. Informasi tersebut digunakan sebagai dasar dalam menentukan strategi pembelajaran yang lebih sesuai dengan kondisi siswa. Upaya ini menunjukkan adanya kesadaran guru terhadap pentingnya memahami kebutuhan siswa sebagai dasar pembelajaran berdiferensiasi (Fitriyah & Moh Bisri, 2. Peningkatan pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran berdiferensiasi dilakukan melalui pengembangan profesional secara mandiri maupun kolaboratif. Guru memanfaatkan buku, artikel ilmiah, dan media digital untuk memperdalam pemahaman mengenai diferensiasi. Diskusi dengan rekan sejawat juga menjadi strategi efektif dalam berbagi pengalaman dan menemukan solusi terhadap berbagai permasalahan pembelajaran. Kolaborasi antar guru membantu memperluas wawasan, memperkaya strategi pembelajaran, dan meningkatkan kepercayaan diri guru dalam menerapkan pendekatan diferensiasi. Guru juga berupaya memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia secara optimal dengan mengembangkan media pembelajaran sederhana namun tetap bermakna. Buku paket, sumber digital yang mudah diakses, serta bahan ajar kontekstual dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran. Guru berusaha mengemas materi sejarah menjadi lebih menarik melalui penyajian yang variatif sehingga dapat menjangkau berbagai gaya belajar Kreativitas guru menjadi faktor penting dalam mengatasi keterbatasan fasilitas agar pembelajaran tetap efektif dan tidak monoton. Pengelolaan kelas dilakukan secara fleksibel dengan menyesuaikan strategi pembelajaran terhadap dinamika siswa selama proses berlangsung. Siswa yang membutuhkan pendampingan lebih diberikan perhatian khusus, sedangkan siswa yang lebih cepat memahami materi tetap diberikan tantangan agar tidak merasa bosan. Fleksibilitas ini memungkinkan pembelajaran tetap berjalan sesuai prinsip diferensiasi meskipun dalam kondisi terbatas. Secara keseluruhan, berbagai upaya yang dilakukan menunjukkan adanya komitmen guru untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran. Proses adaptasi yang dilakukan secara bertahap membantu menciptakan pembelajaran sejarah yang lebih efektif, inklusif, dan berpusat pada siswa sesuai prinsip Kurikulum Merdeka (Marliani, 2. Guru menjadi lebih reflektif dalam mengevaluasi pembelajaran dan lebih terbuka terhadap inovasi sehingga implementasi pembelajaran berdiferensiasi dapat terus berkembang secara berkelanjutan. 127 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Wonogiri secara umum telah berjalan cukup baik. Guru sejarah telah berupaya menerapkan diferensiasi melalui penyesuaian konten, proses, dan produk pembelajaran sesuai kebutuhan, minat, dan kemampuan peserta didik sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif, adaptif, dan berpusat pada siswa. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi juga memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran sejarah, seperti meningkatnya keaktifan, motivasi belajar, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta terciptanya pembelajaran yang lebih bermakna karena siswa mampu memahami materi sejarah secara kontekstual. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai hambatan, di antaranya keterbatasan waktu pembelajaran, keberagaman karakteristik siswa, keterbatasan sarana dan prasarana, serta kesiapan dan pemahaman guru yang masih perlu ditingkatkan, khususnya dalam perencanaan dan evaluasi pembelajaran sesuai prinsip Kurikulum Merdeka. REFERENSI