Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 136-143 Analisis Kurikulum 2013 Terhadap Pembentukan Nalar Kritis Dan Karakter Siswa Devin Wiranda1. Siti Tiara Maulina2 1Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Program Studi Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan. Universitas Jambi. Mendalo. Indonesia. Email: 1wirandadevin05@gmail. com , 2sititiaramaulia@unja. Abstrak - Pendidikan merupakan suatu komponen penting yang tidak bisa di abaikan, pendidikan mengantarkan manusia kepada SDM yang lebih baik lagi. pendidikan merupakan wadah dimana karakter para siswa di bentuk. Semakin berkembang nya zaman sudah sepatutnya para pelajar ataupun pemuda untuk berfikir kritisuntuk menuju SDM yang unggul. sebagai mana pada. Pada peraturan UU no 20 tahun tentang sistem pendidikan nasional ( pasal 12 ayat 1 ) di nyatakan pendidikan memiliki jalur formal, nonformal, dan informal. Pada penelitian kali ini akan berfokus kepada pendidikan formal dan akan mengalisis strategi kurikulum 2013 terhadap pembentukan nalar kritis dan karakter siswa. Kata Kunci: Kurikulum 2013. Nalar Kritis. Karakter. Siswa Abstract - Education is an important component that cannot be ignored, education leads people to better human Education is a place where the character of students is formed. The more developed the times, it is fitting for students or youth to think critically towards superior human resources. as in Law No. 20 of the year concerning the national education system . rticle 12 paragraph . it is stated that education has formal, nonformal and informal channels. This research will focus on formal education and analyze the 2013 curriculum strategy for the formation of critical thinking and student character. Keywords: Curriculum. Critical Reason. Character. Student PENDAHULUAN Pendidikan merupakan komponen utama dan fundamental yang sangat penting, dengan peran yang signifikan dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa untuk meraih kesuksesan di masa Menurut Langeveld . alam Munib, 2012: . , pendidikan adalah proses bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak-anak yang belum dewasa agar mereka dapat mencapai Secara nasional, "pendidikan" didefinisikan sebagai upaya yang disengaja dan terencana untuk menciptakan lingkungan belajar dan proses pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk secara aktif mengembangkan potensi mereka dalam hal kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang dibutuhkan oleh diri mereka sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara (UUR. No. 20 Tahun 2003. Bab I. Pasal . Pendidikan memiliki makna yang sangat luas, mencakup semua aspek kepribadian manusia, termasuk hati nurani, nilai-nilai, perasaan, pengetahuan, dan keterampilan. Manusia ingin atau berusaha meningkatkan, mengembangkan, dan memperbaiki nilai-nilai, hati nurani, perasaannya, pengetahuan, dan keterampilannya melalui pendidikan. Dalam konteks ini, pendidikan merupakan upaya untuk membentuk kepribadian siswa, sedangkan pengajaran bertujuan mengembangkan kecerdasan siswa, dan pelatihan berfungsi untuk mengasah keterampilan bahasa dan praktik siswa, sehingga siswa menjadi orang yang beriman, memiliki pendidikan yang baik, dan mampu memberikan prestasi untuk diri mereka sendiri dan bahkan dapat memperoleh pengakuan untuk Indonesia sebagai bangsa yang berprestasi. Untuk mencapai kualitas pendidikan yang baik, diperlukan upaya untuk menciptakan masyarakat berkualitas, yang merupakan tanggung jawab pendidikan. Pendidikan bertanggung jawab untuk mempersiapkan siswa menjadi subjek yang memiliki kemampuan yang tangguh, kreatif, mandiri, dan profesional di bidang masing-masing. Selain kualitas yang baik, sistem kurikulum yang dapat dijalankan dengan baik sesuai dengan gagasan pemerintah harus menjadi bagian dari pendidikan untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Konsep kurikulum sendiri telah dikembangkan oleh para ahli dalam pengembangan kurikulum sejak dahulu hingga sekarang. Istilah Devin Wirand. https://journal. id/index. php/manekin | Page 136 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 136-143 "kurikulum" berasal dari bahasa Latin "Curriculae", yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari (Hamalik, 2008:. Kurikulum merujuk pada program pendidikan yang dirancang untuk mengajar siswa (Hamalik, 2008:. dan dibangun berdasarkan kebutuhan bangsa dan masa yang dapat ditingkatkan jika diperlukan. Tujuan Kurikulum dalam pendidikan adalah untuk memudahkan pencapaian tujuan pendidikan (Nurdin Syafruddin, 2005:. , dan terdiri dari empat unsur utama: tujuan, isi, metode, dan evaluasi. Kurikulum di Indonesia telah mengalami beberapa kali perbaikan, dimulai dari kurikulum berbasis kompetensi 2004 (KBK), kurikulum tingkat satuan pendidikan 2006 (KTSP). Kurikulum 2013 (K-. , hingga Kurikulum Merdeka 2021. Penelitian ini akan mempelajari dampak penerapan Kurikulum 2013 terhadap pembentukan nilai karakter dan kemampuan berpikir kritis Undang-undang No. 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa salah satu strategi untuk membangun pendidikan nasional adalah dengan mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi. Pasal 35 dalam undang-undang tersebut menjelaskan bahwa lulusan harus memiliki kompetensi yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Kurikulum 2013 meneruskan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang dimulai pada tahun 2004, dengan mengintegrasikan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara menyeluruh (Hidayat, 2013: 112-. Perpindahan dari Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013 di Indonesia berbeda dalam berbagai aspek, termasuk dalam cara penilaian yang berbeda untuk setiap kurikulum. Kurikulum yang minim pendekatan telah menyebabkan perbedaan kriteria penilaian antara Kurikulum 2013, yang menekankan pendekatan saintifik, dengan kurikulum sebelumnya. Kurikulum 2013 lebih fokus pada pendidikan karakter, yang menjadi ide utama dari pemerintah (Mendikbu. dalam membentuk karakter peserta didik yang memiliki akhlak yang baik di masa Perubahan yang dilakukan pada Kurikulum 2013 meliputi penggabungan mata pelajaran dan penambahan jam pelajaran untuk memperkuat karakteristik siswa (Amri, 2013: 282-. Meskipun seharusnya Kurikulum 2013 yang dicanangkan oleh pemerintah untuk mengikuti perkembangan era informasi dan pengetahuan, yang ditandai oleh penggunaan teknologi informasi dan kemampuan intelektual sebagai modal utama dalam berbagai bidang kehidupan, telah memberikan dampak negatif pada pertumbuhan karakter bangsa. Hal ini terlihat dari semakin meningkatnya degradasi moral, sikap, dan perilaku di berbagai kalangan masyarakat. Salah satu contoh dari degradasi moral pada calon pemimpin bangsa pada saat ini meliputi penurunan sikap santun, ramah, dan semangat kebhinnekaan, kebersamaan, dan kegotongroyongan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Selain itu, perilaku anarkisme dan ketidakjujuran semakin marak di kalangan peserta didik, seperti terjadi tawuran dan tindakan menyontek (Zuchdi dkk, 2013: Tujuan dari pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan dengan tujuan membentuk budi pekerti dan akhlak mulia secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan di setiap satuan pendidikan. Melalui penerapan Kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi dan karakter dengan pendekatan tematik dan kontekstual, diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menerapkan pengetahuannya, mengevaluasi dan menanamkan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia ke dalam diri mereka, sehingga dapat tercermin dalam perilaku sehari-hari. Dalam Kurikulum 2013, pendidikan karakter dapat disatukan ke dalam pembelajaran pada setiap subjek yang ada di dalam kurikulum. Isi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai pada setiap subjek harus diperkaya, ditegaskan, dan dihubungkan dengan situasi kehidupan seharihari. Dengan cara ini, pendidikan moral dan pembentukan karakter tidak hanya terfokus pada pemahaman saja, tetapi juga mencakup internalisasi dan pengalaman nyata dalam kehidupan seharihari. Untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi, semua pihak yang terlibat dalam sistem pendidikan harus dilibatkan. Pihak-pihak tersebut meliputi kurikulum, rencana pembelajaran, proses pembelajaran, penilaian, hubungan antar pelaku Devin Wirand. https://journal. id/index. php/manekin | Page 137 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 136-143 pendidikan, pengelolaan pembelajaran, pengelolaan sekolah/madrasah, pengembangan diri peserta didik, pemberdayaan sarana dan prasarana, pembiayaan, serta etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah/madrasah. Kerjasama yang optimal antara guru-guru menjadi hal yang diperlukan dalam Kurikulum 2013, yang memerlukan pembelajaran dalam bentuk tim dan kerjasama yang kompak di antara para anggota tim. Karena proses pendidikan yang sangat pesat, kerjasama antara guru-guru sangat penting dalam keberhasilan Kurikulum 2013 dalam membentuk kompetensi dan karakter di sekolah. Bukti keberhasilan tersebut dapat dilihat dari berbagai perilaku sehari-hari peserta didik dan warga sekolah, seperti kesadaran, kejujuran, keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, kepedulian, kebebasan dalam bertindak, kecermatan, ketelitian, dan komitmen (Mulyasa, 2013: 9-. Karena pentingnya keberhasilan Kurikulum 2013 yang dirancang oleh pemerintah dengan fokus pada pendidikan karakter dan tidak luput pula nilai kritis pada peserta didik , para guru sebagai tenaga pendidik harus memperhatikan hal tersebut agar mampu membentuk karakter dan nilai kritis peserta didik yang sesuai dengan harapan pemerintah. METODE Dalam penelitian ini, pendekatan deskriptif kualitatif atau metode deskriptif kualitatif digunakan oleh peneliti. Data yang dihasilkan berasal dari penelitian kepustakaan atau literatur, yang sering disebut sebagai library research. Sumber data primer yang digunakan adalah buku-buku yang relevan dengan topik penelitian dan membahas masalah yang diteliti secara teoretis. Untuk teknik analisis data, peneliti menggunakan pendekatan deduktif, yang melibatkan penarikan kesimpulan dari hal yang umum ke hal yang lebih spesifik, guna mencapai kesimpulan yang diinginkan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Kurikulum 2013 Definisi Kurikulum Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah seperangkat rencana dan pengaturan yang mencakup tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta metode yang digunakan sebagai pedoman dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum 2013 yang diterapkan sejak tahun ajaran 2013/2014 memenuhi kedua dimensi tersebut dengan baik. Rasional Pengembangan Kurikulum 2013 Kurikulum 2013 didasarkan pada beberapa faktor, termasuk tantangan internal dan eksternal. Tantangan internal mencakup kondisi pendidikan yang harus sesuai dengan 8 Standar Nasional Pendidikan, serta pertumbuhan populasi usia produktif di Indonesia yang menjadi tantangan besar untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten melalui pendidikan. Di sisi lain, tantangan eksternal meliputi arus globalisasi dan isu lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, serta perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Indonesia juga dihadapkan dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia dan investasi serta transformasi di bidang pendidikan. Capaian anak-anak Indonesia dalam studi TIMSS dan PISA menunjukkan bahwa terdapat kelemahan dalam kurikulum Indonesia, di mana banyak materi uji yang tidak ditanyakan dalam kurikulum tersebut. Perbaikan Pola Pikir Kurikulum 2013 diperbarui dengan fokus pada perbaikan pola pikir melalui langkah-langkah seperti: Menguatkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan memberikan pilihan materi dan gaya belajar yang sesuai dengan kompetensi yang sama. Menguatkan pembelajaran interaktif melalui kolaborasi antara guru, peserta didik, masyarakat, lingkungan alam, dan sumber/media lainnya. Devin Wirand. https://journal. id/index. php/manekin | Page 138 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 136-143 Menguatkan pembelajaran secara jejaring dengan memungkinkan peserta didik untuk memperoleh ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi melalui Menguatkan pembelajaran aktif-mencari dengan memperkuat pendekatan pembelajaran saintifik dan membuat siswa lebih aktif mencari pengetahuan. Menguatkan pembelajaran berbasis tim dengan memperkuat pembelajaran sendiri dan Menguatkan pembelajaran berbasis multimedia. Menguatkan pola pembelajaran klasikal-massal dengan memperhatikan pengembangan potensi khusus setiap peserta didik. Menguatkan pembelajaran multidisiplin. Menguatkan pola pembelajaran kritis. Penguatan Tata Kelola Kurikulum Kurikulum 2013 juga diperbarui dengan penguatan tata kelola yang meliputi: Kolaborasi guru dalam bekerja. Penguatan kemampuan manajemen kepala sekolah sebagai pimpinan pendidikan. Peningkatan sarana dan prasarana untuk manajemen dan proses pembelajaran. Penguatan Materi Penguatan materi dilakukan dengan cara mengurangi materi yang tidak relevan dan memperdalam serta memperluas materi yang relevan bagi peserta didik. Karakteristik Kurikulum 2013 Kurikulum 2013 Didesain Dengan Karakteristik Yang Mengembangkan: Keseimbangan antara sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Sekolah sebagai bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar. Waktu yang cukup untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan Kompetensi inti kelas yang dirinci dalam kompetensi dasar mata pelajaran. Organizing elements kompetensi dasar yang berdasarkan pada kompetensi inti kelas. Kompetensi dasar yang bersifat akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya antarmata pelajaran dan jenjang pendidikan. Tujuan Kurikulum 2013 Tujuan dari Kurikulum 2013 adalah untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar mampu hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, afektif, serta dapat berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban duni. 2 Karakter Pengertian Karakter Menurut Kemendiknas, karakter mengacu pada watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang, yang terbentuk melalui internalisasi kebijakan dan digunakan sebagai dasar pandangan, pemikiran, perilaku, dan tindakan. Karakter sering disamakan dengan istilah temperamen, tabiat, dan watak, dan memiliki berbagai arti dalam etimologi seperti instrument of marking, to engrove, ciri wanci, dan sifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku, budi pekerti, tabiat, dan perangai. Menurut Wynne, kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti to mark dan memfokuskan pada penerapan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Karakter menggambarkan hubungan antara tingkah laku dan kepatuhan pada nilai-nilai agama, budaya, etika-moral, kejujuran, dan keberanian dalam menegakkan kebenaran. Orang yang memiliki karakter mulia adalah orang yang teguh pada nilai-nilai tersebut, seperti jujur, rendah hati. Devin Wirand. https://journal. id/index. php/manekin | Page 139 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 136-143 dan membantu orang lain dalam kesulitan. Di sisi lain, orang yang tidak memegang teguh nilai-nilai tersebut dan melakukan tindakan yang buruk. Pendidikan karakter memiliki nilai-nilai yang berasal dari sumber-sumber Agama. Pancasila, dan nilai budaya dan universal. Dalam mengembangkan pendidikan karakter, terdapat beberapa landasan yang menjadi dasar, yaitu landasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Landasan ontologi pendidikan karakter berkaitan dengan tujuan pendidikan karakter yang substansial untuk membangun karakter yang positif, melihat peserta didik yang memiliki background yang berbeda-beda, pendidik harus memiliki inovasi dalam mendesain suasana kelas, kesuksesan siswa dipengaruhi faktor intern yaitu self-management yang dilakukan dengan pendekatan intrinsic education, dan lingkungan yang mempengaruhi dan memperkuat pembentukan karakter seseorang. Landasan epistemologi pendidikan karakter mencakup moral knowing, moral feeling, dan moral action yang merupakan aspek pembentukan karakter yang tercermin dalam kehidupan bermasyarakat, emosi dalam karakter, dan kompetensi dalam melaksanakan sesuatu secara konsisten dan berkontribusi tinggi dalam melaksanakan tugas. Landasan aksiologi pendidikan karakter merupakan bentuk dari kedewasaan seseorang dalam perubahan berprilaku. Karakter merupakan manifestasi kualitas manusia yang menggambarkan keterkaitan antara tingkah laku dengan ketaatannya terhadap nilai-nilai, ajaran agama, budaya, etikamoral, kejujuran, dan keberanian menegakkan kebenaran. Seseorang yang memiliki karakter mulia adalah orang yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama, budaya, etika-moral, dan keberanian menegakkan kebenaran, sedangkan orang yang memiliki karakter buruk adalah orang yang tidak berpegang pada nilai-nilai, etika-moral, seperti tidak jujur, suka berdusta, angkuh, dan sombong. Prinsip Pendidikan Karakter Standar Kualitas Pendidikan Karakter merekomendasikan sebelas prinsip untuk mencapai pendidikan karakter yang efektif, yang meliputi: Mempromosikan nilai-nilai etika dasar sebagai fondasi karakter. Mengidentifikasi karakter secara menyeluruh agar mencakup aspek pemikiran, perasaan, dan perilaku. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif, dan efektif dalam membangun karakter. Menciptakan komunitas sekolah yang peduli. Memberikan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan perilaku yang baik. Meliputi kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua siswa, membantu mereka membangun karakter, dan mencapai kesuksesan. Mendorong motivasi diri siswa. Melibatkan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang membagi tanggung jawab dalam mendidik karakter dengan nilai dasar yang sama. Mempunyai kepemimpinan moral yang terbagi dan dukungan yang luas dalam mengembangkan inisiatif pendidikan karakter. Mengikutsertakan keluarga dan masyarakat sebagai mitra dalam membangun karakter. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sebagai guru karakter, dan pengejawantahan karakter positif dalam kehidupan siswa. 3 Upaya peningkatan nalar kritis pada kurikulum 2013 Dalam Kurikulum 2013, siswa yang memiliki kemampuan akademik yang lebih unggul diberikan kesempatan untuk memperdalam mata pelajaran dalam kelompok peminatan mereka. Hal ini memungkinkan siswa yang memiliki kemampuan dan prestasi tertentu dalam suatu mata pelajaran untuk lebih fokus dan mendalami substansi materi yang berkaitan dengan peminatan Devin Wirand. https://journal. id/index. php/manekin | Page 140 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 136-143 Kurikulum 2013 juga memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih kelompok mata pelajaran yang diminati, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam. Ilmu-ilmu Sosial, atau Ilmu Bahasa dan Budaya, sejak awal masuk ke SMA atau kelas X semester pertama. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dapat dipandang sebagai proses, produk, dan prosedur. Sebagai proses. IPA melibatkan kegiatan ilmiah untuk meningkatkan pemahaman tentang alam atau menemukan pengetahuan baru. Sebagai produk. IPA menghasilkan pengetahuan yang diajarkan dalam sekolah atau di luar sekolah, atau menjadi bahan bacaan untuk penyebaran pengetahuan. Sebagai prosedur. IPA mengacu pada metodologi atau cara untuk mengetahui sesuatu yang biasa disebut sebagai metode ilmiah. Begitu pula dengan bidang ilmu SOSHUM terutama pada mata pelajaran PPKn dan Sejarah Indonesia . mata pelajaran ini adalah mata pelajaran yang banyak menanamkan nilai nilai patriotism dan rasa cinta tanah air, dan dari nilai itu lah bagaimana kemudian nilai perjungan para pahlawan membentuk siswa menjadi insan pribadi yang cinta tanah air dan menumbuhkn nalar kritis pada diri siswa tentunya. Keterampilan berpikir kritis penting untuk dikembangkan pada siswa karena dapat membantu mereka memahami konsep dengan lebih baik, mengidentifikasi masalah, menyelesaikan masalah, dan mengaplikasikan konsep dalam situasi yang berbeda. Pendidikan perlu mengembangkan kemampuan bersikap dan berperilaku adaptif pada siswa agar dapat menghadapi tantangan dan tuntutan dalam kehidupan sehari-hari secara aktif. Berpikir kritis dapat membantu siswa mempelajari bidang ilmu tertentu dengan perspektif yang lebih terfokus, dengan mencari informasi secara lebih mendalam dan mengevaluasi konsistensi logis dari pemikiran yang disajikan. Diharapkan bahwa implementasi kurikulum 2013 dapat menciptakan individu yang produktif, kreatif, dan inovatif. Kurikulum 2013 didasarkan pada karakter dan kompetensi, dan dalam implementasinya akan membawa dampak positif maupun negatif. Beberapa dampak positif dan negatif dari penerapan kurikulum 2013 mencakup penggunaan pendekatan ilmiah untuk mencari informasi, penggunaan berbagai metode pembelajaran yang bervariasi, peningkatan hasil evaluasi, dan penampilan karakter positif seperti kejujuran, disiplin, dan religiusitas. Namun, dampak negatif mencakup beban belajar yang berat dan penilaian yang rumit. Dampak postif Anak-anak akan lebih aktif dalam mencari informasi sebelum pelajaran dimulai karena dilakukan dengan pendekatan scientific yang melibatkan mencari informasi, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan. Siswa menjadi lebih semangat, aktif, dan mudah menyerap materi dengan penggunaan berbagai metode pembelajaran yang bervariasi. Peserta didik akan lebih rajin dalam belajar karena dituntut untuk bisa atau mampu memahami setiap materi. Implementasi kurikulum 2013 meningkatkan hasil evaluasi dibanding sebelumnya. Karakter jujur, disiplin, religius, toleransi, dan lainnya terlihat dalam kegiatan sehari-hari Pentingnya pendidikan karakter dalam masyarakat Indonesia harus ditanamkan sejak dini pada semua orang. Ada beberapa persyaratan dan indikator penting yang harus dipenuhi agar karakter yang baik dapat terbentuk dalam masyarakat. Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia telah merumuskan 18 nilai-nilai karakter yang harus ditanamkan pada semua siswa sebagai upaya membangun dan menguatkan karakter bangsa. Beberapa nilai karakter tersebut meliputi: Religious. Jujur. Disiplin. Toleransi. Kerja Keras. Kreatif. Mandiri. Demokratis. Rasa Ingin Tau. Semangat Kebangsaan. Cinta Tanah Air. Menghargai Prestasi. Bersahabat/Komunikatif. Cinta Damai. Gemar Mebaca. Peduli Lingkungan. Peduli Social. Tanggung Jawab. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk menerapkan pendidikan karakter di sekolah antara lain: Devin Wirand. https://journal. id/index. php/manekin | Page 141 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 136-143 Menerapkan program K3 (Kebersihan. Keindahan, dan Ketertiba. secara konsisten, seperti melalui kegiatan Jumat bersih, dan membuatnya menjadi budaya sekolah yang dipraktikkan. Guru harus mempersiapkan kelas sebelum proses pembelajaran dimulai dengan mengatur dan mengamati situasi kelas. Guru harus menjadi contoh yang baik bagi siswa dalam ucapan dan perilakunya, serta memperlihatkan akhlak yang baik yang pada akhirnya dapat membentuk karakter siswa. Guru harus menjadi sahabat dan teman curhat bagi siswa sehingga siswa merasa nyaman untuk mengadukan permasalahan yang mereka alami. Guru harus mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam materi pelajaran yang diajarkan. Sekolah harus mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam kegiatan-kegiatan yang diprogramkan, sehingga nilai-nilai karakter terus ditanamkan dan diterapkan. Guru harus memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk berani menyampaikan pendapat mereka di kelas melalui kegiatan diskusi dan pengambilan keputusan secara Sekolah harus mengadakan upacara bendera secara tertib dan hikmat sesuai dengan program yang ditetapkan untuk menanamkan dan menguatkan nilai-nilai karakter. Dampak negative Ada terlalu banyak materi yang harus dipelajari oleh siswa, sehingga tidak semua materi dapat dipelajari dengan baik. Untuk mengatasinya, guru dan siswa harus aktif dalam mengelola waktu dan memprioritaskan materi yang paling penting. Beban belajar siswa terlalu berat karena mereka dituntut untuk menguasai semua materi. Untuk mengatasinya, siswa harus diberikan motivasi untuk belajar lebih giat dan guru harus membantu siswa untuk memahami materi yang sulit. Penilaian autentik terlalu rumit dan memerlukan waktu yang lama. Untuk mengatasinya, guru harus lebih sabar dan teliti dalam memberikan penilaian, serta memberikan penjelasan yang jelas mengenai penilaian tersebut. Meskipun ada dampak negatif, penerapan kurikulum 2013 telah membantu siswa menjadi lebih aktif dan bersemangat dalam mempelajari bidang studi yang dipelajarinya. Penerapan kurikulum 2013 juga sangat penting dalam pembentukan karakter religius siswa, dan memerlukan faktor-faktor pendukung untuk mencapai tujuan tersebut. KESIMPULAN Kurikulum 2013 adalah sebuah penyempurnaan dari kurikulum-kurikulum sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh perubahan metode pembelajaran dari yang sebelumnya pasif menjadi aktif, kreatif, dan inovatif. Dengan adanya kurikulum ini, peserta didik dan pendidik diharapkan dapat menjadi lebih kreatif dalam segala bidang dan dalam mengolah materi pembelajaran serta suasana belajar menjadi menyenangkan. Dalam kurikulum ini, pendidikan diharapkan dapat menciptakan peserta didik yang jenius dan pendidik yang profesional. Namun, semua itu tidak akan maksimal tanpa adanya karakter yang baik, yang merupakan langkah awal yang menentukan baik buruknya masa depan setiap orang. Oleh karena itu, karakter dan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar keseimbangan terus tercipta. Kurikulum 2013 memberikan banyak manfaat dalam mengembangkan potensi dalam diri setiap individu, terutama bagi pendidik dalam mengubah cara berpikir menjadi lebih kreatif untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih optimal. Kurikulum ini tidak hanya meningkatkan minat belajar peserta didik, tetapi juga bertujuan menciptakan peserta didik yang jenius dalam berpikir dan mengolah emosi, sehingga dapat membantu mengurangi dekadensi moral yang terjadi di Indonesia, terutama dalam dunia pendidikan. Devin Wirand. https://journal. id/index. php/manekin | Page 142 Jurnal Manajemen. Ekonomi. Hukum. Kewirausahaan. Kesehatan. Pendidikan dan Informatika (MANEKIN) Volume 1. No. Juni Tahun 2023 ISSN 2985-4202 . edia onlin. Hal 136-143 Kurikulum 2013 yang dsebagai kurikulum yang digunakan sebelum kurikulum merdeka pada saat iini memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter peserta didik dan pendidik. Hal ini disebabkan karena kurikulum ini menuntut perubahan perilaku dari setiap individu dan tidak hanya mengembangkan pengetahuan semata. Terdapat perubahan nyata yang dapat dirasakan oleh orang di sekitar kita melalui pengembangan pengetahuan yang kita miliki, yang berarti pengimplementasian pola perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum 2013 memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan nalar kritis siswa. REFERENCES