Journal for Science and Religious Studies Vol. 2 No. DOI: 10. The Concept of Tajdid in Hasan Al-BannaAos Thought and Its Relevance to Contemporary Islamic Renewal Konsep Tajdid Dalam Pemikiran Hasan Al-Banna dan Relevansinya Terhadap Pembaruan Islam Kontemporer Salma Mustafidah Affiliasi: Universitas Islam Negeri K. Abdurrahman Wahid Pekalongan Corresponding Email: mustafidah@mhs. Abstract Background: The concept of tajdid (Islamic renewa. is central to modern reform discourse, yet many approaches remain partial, either focusing solely on doctrinal purification or on sociocultural Hasan al-Banna proposed an integrative model of tajdid that bridges this tension. however, systematic academic studies examining his conceptual framework remain limited. Methods: This study employs a qualitative approach using critical literature review of al-BannaAos primary works and relevant secondary sources, followed by thematic analysis to identify the principles, dimensions, and strategies of tajdid that he articulated. Key Findings: The findings reveal that al-BannaAos tajdid is integrative, comprehensive, and gradual . yAmil and tadarru. It encompasses not only spiritual aspects but also social, educational, political, economic, and cultural domains. His model preserves the authenticity of Islamic teachings while remaining responsive to modern realities, thus avoiding both rigid scripturalism and excessive Contribution: This study positions al-Banna as the architect of a balanced tajdid paradigm that harmonizes text and context, and it offers a conceptual framework applicable to designing reform strategies across various spheres of Muslim life. Conclusion: Hasan al-BannaAos tajdid model provides a relevant and contextual methodological foundation for the development of contemporary Islamic civilization. Nevertheless, further research is needed to examine the implementation and limitations of this model within more complex modern socio-political contexts. Keywords: Tajdid. Hassan al-Banna. Islamic Reform. Library Research. Islamic Thought. Abstrak Latar Belakang: Konsep tajdid . embaruan Isla. merupakan tema sentral dalam wacana pembaruan modern, namun banyak pendekatan yang bersifat parsial antara pemurnian ajaran dan adaptasi terhadap realitas sosial. Hasan al-Banna menawarkan model tajdid The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 141 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies yang dinilai mampu menjembatani ketegangan tersebut, tetapi kajian akademik yang menelaah kerangka konseptualnya secara sistematis masih terbatas. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka kritis terhadap karya-karya utama Hasan al-Banna dan kajian sekunder relevan, serta analisis tematik untuk mengidentifikasi prinsip, dimensi, dan strategi tajdid yang ia Temuan Utama: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tajdid menurut al-Banna bersifat integratif, komprehensif, dan bertahap . yAmil dan tadarru. Tajdid tidak hanya mencakup aspek spiritual, tetapi juga sosial, pendidikan, politik, ekonomi, dan budaya. Model ini menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus responsif terhadap dinamika modernitas, sehingga menghindari ekstremisme skriptural maupun liberalisasi berlebihan. Kontribusi: Penelitian ini menempatkan al-Banna sebagai perumus paradigma tajdid yang seimbang antara teks dan realitas, serta menawarkan kerangka konseptual aplikatif bagi perancangan strategi pembaruan Islam di berbagai sektor kehidupan umat. Simpulan: Model tajdid Hasan al-Banna memberikan landasan metodologis yang relevan dan kontekstual bagi pembangunan peradaban Islam kontemporer. Namun, penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji implementasi dan batas-batas model ini dalam konteks sosial-politik modern yang lebih kompleks. Kata kunci: Tajdid. Hassan al-Banna. Pembaharuan Islam. Kajian Pustaka. Pemikiran Islam PENDAHULUAN Dalam sejarah peradaban Islam, tajdid atau pembaruan berfungsi menjaga relevansi ajaran Islam di tengah arus perubahan sosial, politik, dan budaya. Tajdid tidak dimaksudkan mengubah substansi ajaran, tetapi mengaktualisasikannya agar mampu menjadi kekuatan transformatif bagi umat (KhosyiAoin 2. Namun, wacana pembaruan Islam kerap terjebak pada dua kutub ekstrem: pendekatan skripturalis yang terlalu kaku dan pendekatan liberal yang terlalu longgar terhadap teks (Madjid 2. Fragmentasi ini menimbulkan kebingungan umat dalam menentukan arah pembaruan yang otentik sekaligus kontekstual. Polarisasi ini menimbulkan masalah karena pendekatan literal cenderung kaku dan kurang adaptif terhadap dinamika sosial, sedangkan pendekatan kontekstual berisiko mengaburkan makna asli teks (Iqbal dan Khadijah 2. Kelompok tekstualis berusaha memurnikan praktik hukum Islam melalui makna langsung tanpa melibatkan penalaran tentang realitas, sementara kontekstualis berusaha mendialogkan teks dengan realitas sosial yang dinamis (Zarah dan Sultan 2. Di sinilah letak kesenjangan akademik: masih diperlukan model tajdid yang mampu menjembatani ketegangan antara pemeliharaan kemurnian ajaran dan kebutuhan adaptasi dengan realitas kontemporer. Hassan al-Banna hadir dengan tawaran tajdid yang bersifat integratif melalui konsep syamil . , tadarruj . , dan sistematis (Al-Banna 2. Melalui Ikhwanul Muslimin, ia membangun kerangka pembaruan yang mencakup dimensi The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 142 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies teologis, sosial, pendidikan, politik, hingga ekonomi, sehingga tajdid tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi gerakan peradaban. Konsep tajdid . mewakili gerakan peradaban komprehensif yang melampaui wacana belaka untuk mencakup berbagai dimensi kehidupan Muslim. Tajdid melibatkan proses pemurnian dan pengembangan yang membawa perubahan progresif (Suriadi Rahmat dan Romelah 2. Gerakan pembaruan ini ditandai dengan kembali ke Al-Qur'an dan Sunnah sambil mendorong ijtihad dan merevitalisasi semangat periode salaf (Masykur 2. Pemikiran Islam modern mencakup upaya transformasi institusi dan adat istiadat lama agar selaras dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kontemporer, yang menghasilkan kebangkitan Islam dalam bidang pendidikan, politik, dan perlawanan terhadap kolonialisme (Gunawan 2. Hal ini menunjukkan bagaimana tajdid berfungsi sebagai gerakan revolusioner yang membahas berbagai aspek peradaban Muslim, alih-alih sekadar kembali ke masa lalu (Masykur 2. Semua gagasan tersebut dituangkan dalam karyanya. Risalah TaAolim. tulisan yang menegaskan pentingnya pembentukan pribadi Muslim, penguatan institusi keluarga, serta pembentukan tatanan sosial Islami sebagai fondasi kebangkitan Dengan demikian, kajian ini menjadi penting untuk menelaah relevansi dan kontribusi pemikiran Hassan al-Banna sebagai model tajdid yang dapat menawarkan sintesis antara otentisitas ajaran Islam dan kebutuhan transformasi sosial di era modern. Hassan al-Banna merupakan salah satu tokoh penting pembaharuan Islam. Hal itu menjadikannya sebuah objek kajian, khususnya pada pemikiran, gagasan dan gerakangerakannya. Hassan al-Banna merupakan tokoh pembaharuan Islam yang pemikiran dan gagasannya memiliki kontribusi besar terhadap pengembangan pendidikan Islam yang bersifat holistik, berorientasi pada Tuhan, dan menekankan pengembangan akal sebagai landasan pembentukan manusia ideal sebagai khalifah di bumi (Aswanda. Hulawa, dan Dewi 2023. Hufron dan Maulana 2021. Putri dan Nurhuda 2. Al-Banna juga dikenal sebagai motivator yang vesioner melalui gerakan Ikhwanul Muslimin, perlawanan terhadap modernitas, pendidikan yang harus diubah menjadi fokus pada intelek, fisik, dan spiritual, serta gagasan politik Islamisme (Hesti Suci April Lia dan Muhammad Syarifuddin 2024. Nurulloh 2020. Rasyidin 2022, 2022. Wardana dkk. Berdasarkan uraian di atas, muncul pertanyaan pokok: bagaimana konsep tajdid yang ditawarkan Hassan al-Banna dapat menjadi model pembaruan Islam yang menjaga kemurnian ajaran sekaligus adaptif terhadap dinamika sosial, politik, dan budaya kontemporer? Pertanyaan ini menuntut kajian mendalam terhadap prinsip-prinsip tajdid yang ia rumuskan serta implikasinya bagi pembangunan peradaban Islam di era modern. The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 143 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep tajdid Hassan al-Banna secara prinsip-prinsip relevansinya dalam menjawab tantangan pembaruan Islam di era modern. Selain itu, penelitian ini berupaya menawarkan model tajdid yang dapat menjembatani ketegangan antara skripturalisme yang rigid dan liberalisme yang longgar. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah kajian pemikiran Islam modern dengan menghadirkan sintesis model tajdid yang bersifat integratif. Secara praktis, penelitian ini memberikan panduan konseptual bagi akademisi, aktivis, dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan strategi pembaruan Islam yang seimbang antara otentisitas ajaran dan kebutuhan transformasi sosial. Penelitian ini menggunakan model kajian pustaka . ibrary researc. , dengan menitikberatkan pada analisis kritis terhadap sumber-sumber literatur primer dan sekunder yang relevan. Sumber primer mencakup karya-karya asli Hassan al-Banna, terutama Risalah TaAolim dan teks-teks lain yang memuat konsep tajdid. Sumber sekunder meliputi buku, artikel jurnal, disertasi, dan laporan penelitian yang mengkaji pemikiran al-Banna maupun wacana pembaruan Islam secara umum. Analisis dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan langkah-langkah berikut: Inventarisasi Sumber Ae mengumpulkan literatur yang relevan dari basis data ilmiah, perpustakaan, dan repositori digital. Klasifikasi Data Ae mengelompokkan sumber sesuai tema: prinsip tajdid, konteks sosial-historis, dan implementasi pemikiran al-Banna. Analisis Isi (Content Analysi. Ae membaca secara mendalam, mengidentifikasi konsep kunci, serta menginterpretasikan gagasan al-Banna. Sintesis Temuan Ae menyusun hasil kajian secara sistematis untuk menemukan relevansi konsep tajdid al-Banna dengan kebutuhan pembaruan Islam kontemporer. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan pemahaman komprehensif terhadap teks dan konteks pemikiran al-Banna, sekaligus memetakan posisi pemikirannya dalam diskursus pembaruan Islam. PEMBAHASAN Pemahaman terhadap konsep pembaruan dalam Islam merupakan sebuah kebutuhan yang tidak terelakkan seiring dengan dinamisnya perubahan sosial, politik, dan budaya yang dihadapi umat Islam saat ini. Istilah tajdid atau pembaruan bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah keislaman, melainkan sebuah tradisi intelektual yang telah berlangsung sejak zaman klasik hingga modern. Tajdid dalam konteks Islam menjadi suatu usaha kritis dan reflektif untuk menghidupkan kembali nilai-nilai ajaran Islam yang autentik agar dapat menjawab problematika kontemporer tanpa meninggalkan substansi The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 144 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies agama itu sendiri. Keberlanjutan umat Islam sebagai komunitas yang dinamis sangat bergantung pada kemampuannya beradaptasi dan mereformasi diri sesuai tuntutan zaman, sehingga menjadikan kajian tentang tajdid sebagai sesuatu yang strategis dan Perkembangan pemikiran tajdid secara historis menunjukkan bagaimana para ulama dan tokoh-tokoh Islam memberikan respon yang berbeda terhadap perubahan zaman. Dari Al-Ghazali hingga para pembaharu modern seperti Muhammad Abduh, gagasan pembaruan selalu berakar pada usaha untuk menyesuaikan praktek keagamaan dan sosial dengan kebutuhan masyarakat tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar agama (Esposito 2. Hal ini menjadi penting mengingat tantangan modernitas yang meliputi sekularisme, globalisasi, serta krisis identitas umat Islam yang menuntut adanya interpretasi baru dan penyesuaian paradigma keagamaan (Hashim 2. Kajian mendalam terhadap konsep tajdid, khususnya dalam pemikiran tokoh-tokoh pembaruan Islam, akan memberikan kontribusi intelektual yang signifikan untuk merumuskan model pembaruan yang komprehensif dan adaptif. Dalam konteks kontemporer, pemikiran Hasan Al-Banna menjadi sangat relevan untuk dikaji sebagai salah satu rujukan utama dalam mengartikulasikan kembali konsep Sebagai pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin. Al-Banna mengembangkan paradigma pembaruan yang tidak hanya berfokus pada aspek ritual dan individual, melainkan juga menyentuh dimensi sosial, politik, dan pendidikan yang integral dalam kehidupan umat (Calvert 2. Pendekatan komprehensif dan bertahap yang ia tawarkan menjadi sebuah model strategis untuk menghadapi tantangan modern sekaligus menjaga otentisitas nilai Islam. Oleh karena itu, penelitian ini menitikberatkan pada pemahaman mendalam tentang konsep tajdid dalam pemikiran Hasan Al-Banna dan relevansinya terhadap pembaruan Islam masa kini. Pengertian Tajdid Menurut Para Ulama Pemahaman tentang tajdid dalam Islam tidak hanya terbatas pada definisi leksikal, melainkan meluas pada dimensi terminologis dan konseptual yang berkembang dalam tradisi keilmuan Islam. Secara bahasa, istilah tajdid berarti AomembaharuiAo atau Aomenghidupkan kembaliAo sesuatu yang telah lama ada (Rahman 2. Namun dalam ranah ilmu agama, tajdid mengandung makna pembaruan yang bersifat menyeluruh, baik dalam aspek keimanan, ibadah, maupun tata kelola sosial dan politik umat Islam (Saeed The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 145 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies Para ulama klasik seperti Al-Ghazali menempatkan tajdid sebagai usaha pembaruan spiritual dan moral yang berakar pada pemurnian akidah dan praktik keagamaan agar sesuai dengan syariat (Al-Ghazali 2. Sedangkan di era modern, tokoh seperti Muhammad Abduh menekankan pentingnya pembaruan dalam aspek pemikiran, pendidikan, dan reformasi sosial sebagai respon atas tantangan kolonialisme dan modernitas (Abduh 2. Dengan demikian, tajdid bukan semata-mata perubahan formal, tetapi sebuah proses dinamis yang mempertahankan inti ajaran Islam sambil mengadaptasi konteks baru. Sejarah tajdid dalam Islam dapat ditelusuri melalui berbagai periode yang menampilkan respon intelektual terhadap perubahan zaman. Pada era klasik, tokoh-tokoh seperti Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah memberikan kontribusi besar dalam pembaruan pemikiran teologi dan hukum Islam, dengan tujuan mengembalikan umat pada jalan yang lurus dan menghilangkan praktik-praktik yang dianggap menyimpang (Ali 2. Mereka mengembangkan konsep tajdid sebagai metode untuk memperbaharui agama tanpa meninggalkan tradisi yang sahih. Memasuki era modern, para pembaharu seperti Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh menghadapi tantangan yang lebih kompleks berupa kolonialisme dan dominasi Barat, yang menuntut pembaruan intelektual yang juga mengakomodasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Faruqi 2. Mereka menegaskan bahwa tajdid harus meliputi aspek pendidikan dan penguatan kesadaran umat agar dapat berperan aktif dalam perkembangan dunia modern. Urgensi tajdid sangat nyata dalam konteks permasalahan umat Islam masa kini, terutama dalam menghadapi disorientasi identitas dan fragmentasi sosial yang makin Globalisasi dan arus informasi yang cepat membawa dampak ganda bagi umat Islam, antara peluang integrasi dan risiko kehilangan jati diri keislaman (Hashim 2. Tajdid hadir sebagai solusi untuk merevitalisasi nilai-nilai Islam yang esensial sekaligus membentuk respon adaptif terhadap berbagai problematika kontemporer seperti kemiskinan, ketidakadilan, serta konflik ideologi dan budaya. Selain itu, tajdid juga memiliki peran penting dalam memperkuat kohesi sosial dan memperbaharui struktur institusional umat Islam yang sering kali terjebak pada stagnasi dan konservatisme (Saeed 2. Dengan pendekatan yang menyeluruh, tajdid diharapkan mampu membawa transformasi sosial yang tidak hanya berbasis pada aspek ritual, tetapi juga menyentuh perubahan struktural dalam kehidupan masyarakat Islam secara global. The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 146 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies Konsep Tajdid dalam Pemikiran Hasan Al-Banna Hasan Al-Banna, sebagai pendiri Ikhwanul Muslimin pada awal abad ke-20, mengembangkan pemikiran tajdid yang sangat kontekstual dan integratif, berangkat dari kondisi umat Islam yang mengalami keterpurukan akibat kolonialisme dan krisis moral (Calvert 2. Dalam Risalah TaAolim. Al-Banna mengemukakan bahwa tajdid bukan sekadar pembaruan ritual, melainkan sebuah revolusi spiritual dan sosial yang bertujuan mengembalikan umat kepada kemurnian Islam yang holistik (Mujahid 2. Konsep ini lahir dari kesadaran bahwa kemunduran umat Islam bukan hanya soal praktik agama yang keliru, tetapi juga karena kerusakan sistem sosial, politik, dan pendidikan yang harus dibenahi secara simultan. Menurut Al-Banna, tajdid harus bersifat menyeluruh . yAmi. dan bertahap . , artinya perubahan dilakukan secara bertingkat dan menyentuh berbagai aspek kehidupan tanpa memaksa umat secara drastis (Badran 2. Ia mengkritik pendekatan pembaruan yang parsial karena berisiko menimbulkan resistensi dan fragmentasi umat. Oleh karena itu, gerakan Ikhwanul Muslimin dirancang sebagai wadah untuk merealisasikan tajdid tersebut, dengan memperkuat struktur sosial, menghidupkan kembali semangat keagamaan, dan menata ulang pendidikan agar menghasilkan generasi yang berkarakter Islam sekaligus cakap menghadapi modernitas (Brown 2. Pemikiran tajdid Hasan Al-Banna dapat dilihat dari beberapa unsur utama yang saling terkait dan membentuk kerangka pembaruan yang komprehensif. Pertama adalah pembaruan spiritual, yang menekankan pembersihan hati dan niat individu dari unsurunsur syirik, kemunafikan, dan keburukan moral (Calvert 2. Dalam hal ini. Al-Banna menekankan pentingnya tazkiyah al-nafs . enyucian jiw. sebagai fondasi pembaruan diri yang kemudian berimbas pada perubahan sosial yang lebih luas. Kedua, pembaruan sosial yang mengacu pada penataan kembali hubungan antarindividu dan institusi dalam masyarakat agar selaras dengan prinsip keadilan dan persaudaraan Islam. Al-Banna percaya bahwa sistem sosial yang tidak adil dan kesenjangan ekonomi menjadi penghambat utama kemajuan umat (Mujahid 2. Oleh sebab itu, gerakan Ikhwanul Muslimin turut mengadvokasi penghapusan kemiskinan dan pemerataan kesejahteraan sebagai bagian dari tajdid sosial. Ketiga, pembaruan pendidikan merupakan pilar penting dalam pemikiran Al-Banna. Ia melihat pendidikan sebagai instrumen strategis untuk membentuk karakter generasi muda yang Islami dan berwawasan luas, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 147 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies (Badran 2. Pendidikan menurut Al-Banna harus mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan ilmu pengetahuan modern, serta menumbuhkan semangat ukhuwah dan tanggung jawab sosial. Implementasi tajdid dalam pemikiran Hasan Al-Banna juga terlihat dari bagaimana gerakan Ikhwanul Muslimin memposisikan diri sebagai agen perubahan yang sistematis dan terorganisir. Al-Banna membangun Ikhwanul Muslimin tidak hanya sebagai organisasi dakwah, tetapi sebagai kekuatan sosial-politik yang mampu mempengaruhi tatanan masyarakat (Brown 2. Ia mengusulkan metode dakwah yang menyentuh setiap lapisan masyarakat melalui pendidikan, sosial, dan politik secara bertahap. Strategi ini memperlihatkan pemahaman Al-Banna bahwa tajdid bukan proses instan, melainkan sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Pendekatan yang sistematik ini membedakan pemikirannya dari para pembaharu sebelumnya yang cenderung fokus pada aspek teologis atau pendidikan saja (Calvert Dalam konteks pembaruan Islam kontemporer, model ini memberi inspirasi bagaimana membangun gerakan perubahan yang inklusif dan adaptif. Relevansi Konsep Tajdid Hasan Al-Banna terhadap Pembangunan Islam Kontemporer Pemikiran Hasan Al-Banna mengenai tajdid memiliki relevansi signifikan terhadap pembaruan Islam di era kontemporer. Umat Islam saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan globalisasi, sekularisasi, serta kompleksitas sosial-politik yang menuntut pembaruan yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga struktural dan konseptual (Haddad Al-Banna menawarkan model tajdid yang integral, yang dapat dijadikan pijakan dalam merumuskan strategi pembaruan Islam yang adaptif dan kontekstual. Al-Banna memandang tajdid sebagai solusi atas kerusakan sosial dan moral yang menggerogoti umat Islam. Krisis identitas dan nilai yang terjadi akibat pengaruh kolonialisme, kemiskinan, dan alienasi budaya memerlukan upaya pembaruan yang menyentuh akar permasalahan (El Fadl 2. Dalam konteks ini, tajdid berperan sebagai proses restorasi yang mengembalikan umat kepada prinsip-prinsip Islam asli sekaligus membuka ruang dialog dengan modernitas (Sachedina 2. Contohnya, gerakan Ikhwanul Muslimin di masa Al-Banna tidak hanya berfokus pada aspek ibadah, tetapi juga menekankan pentingnya pembentukan karakter sosial yang Islami melalui pendidikan dan pelayanan sosial (Wiktorowicz 2. Ini relevan dengan tantangan kontemporer seperti radikalisme dan keterasingan sosial, di mana pembaruan The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 148 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies Islam harus memperkuat kohesi sosial dan membangun moralitas yang inklusif (Esposito Pendidikan menjadi titik sentral dalam strategi tajdid Hasan Al-Banna, yang sangat relevan untuk pembaruan pendidikan Islam masa kini. Sistem pendidikan Islam modern masih menghadapi problem klasik seperti kurangnya integrasi ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum dan kurangnya relevansi kurikulum dengan kebutuhan zaman (Siddiqui dan Siddiqui 2. Al-Banna menekankan perlunya pendidikan yang menggabungkan aspek spiritual dan intelektual, membentuk insan yang beriman sekaligus kompeten (Rahman 2. Hal ini sejalan dengan tuntutan pendidikan Islam kontemporer yang harus mampu menghasilkan generasi yang kritis, inovatif, dan beretika. Beberapa studi menunjukkan bahwa reformasi pendidikan Islam dengan mengadopsi prinsip tajdid Al-Banna dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan peran institusi pendidikan dalam pembangunan masyarakat (Ahmad 2. Pemikiran Al-Banna tentang tajdid juga melibatkan aspek politik, terutama bagaimana umat Islam harus aktif dalam politik untuk membangun tatanan sosial yang adil dan berkeadaban (Kepel 2. Konsep ini masih sangat relevan dalam konteks negara-negara Muslim yang tengah menghadapi proses demokratisasi dan pembangunan negara hukum. Al-Banna mengajarkan bahwa politik Islam harus dilakukan dengan cara yang etis dan dialogis, tidak eksklusif atau radikal, sehingga mampu membangun koalisi sosial yang luas (Mandaville 2. Model ini memberikan panduan bagi kelompok Islam kontemporer untuk berpartisipasi secara konstruktif dalam sistem politik demokratis tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam. Di era globalisasi, umat Islam menghadapi tantangan baru berupa interkoneksi budaya, ekonomi, dan politik global yang cepat berubah (Fauzi 2. Konsep tajdid Hasan Al-Banna yang mengedepankan prinsip syamil dan tadarruj menjadi sangat relevan karena menawarkan pendekatan pembaruan yang komprehensif sekaligus fleksibel. Pendekatan ini memungkinkan umat Islam untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri keislaman. Studi kontemporer mengindikasikan bahwa gerakan Islam yang mampu beradaptasi dengan prinsip tajdid ini lebih berhasil dalam menjawab tantangan modern tanpa mengorbankan otentisitas agama (Nasr 2. Konsep tajdid yang dikembangkan Hasan Al-Banna tidak hanya merupakan teori pembaruan Islam semata, melainkan juga membawa konsekuensi praktis yang dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan modern. Implikasi The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 149 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies tersebut menyangkut berbagai aspek kehidupan beragama, sosial, politik, dan budaya. Hasan Al-Banna menempatkan masyarakat sebagai subjek penting dalam proses tajdid (Al-Banna 2. Ia mengajak umat untuk berperan aktif dalam membangun masyarakat Islami yang beradab, harmonis, dan bertanggung jawab sosial. Konsep ini merefleksikan kebutuhan pembaruan sosial yang melampaui ritual ibadah, termasuk mengatasi masalah kemiskinan, pendidikan, dan konflik sosial (Esposito 2. Dalam konteks kontemporer, implikasi sosial dari tajdid Al-Banna menuntut gerakan Islam yang berorientasi pada pemberdayaan komunitas, toleransi, dan keadilan sosial. Studi di beberapa negara menunjukkan bahwa gerakan Islam yang mengadopsi model pembaruan ini mampu meningkatkan kohesi sosial sekaligus mendorong peran aktif umat dalam pembangunan sosial (Eickelman dan Piscatori 2. Pendidikan menjadi titik sentral implementasi tajdid bagi Al-Banna. Pendidikan Islam yang merefleksikan tajdid harus bersifat inklusif, menggabungkan nilai spiritual dan intelektual serta responsif terhadap perubahan zaman (Rahman 2. Implikasi praktisnya adalah perlunya reformasi kurikulum yang mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu sosial dan sains, serta metode pembelajaran yang menumbuhkan kritis dan kreatifitas (Siddiqui dan Siddiqui 2. Dalam konteks Indonesia dan dunia Muslim lain, upaya memperbaharui pendidikan Islam sesuai tajdid Al-Banna dapat memperkuat kualitas pendidikan dan menjawab kebutuhan sumber daya manusia yang adaptif dan berakhlak (Ahmad 2. Konsep tajdid Al-Banna juga membawa implikasi penting dalam bidang politik Islam. menekankan bahwa umat Islam harus aktif berpartisipasi dalam proses politik secara damai dan konstruktif, menjunjung nilai-nilai keadilan dan musyawarah (Kepel 2014:. Hal ini menuntut penyesuaian gerakan Islam terhadap demokrasi modern tanpa menghilangkan prinsip dasar Islam (Mandaville 2. Dalam dunia kontemporer, implikasi ini menjadi pijakan bagi partai dan organisasi Islam agar lebih inklusif, moderat, dan dialogis dalam membangun sistem politik yang demokratis dan berkeadaban (Nasr 2. Dalam kerangka globalisasi, implikasi tajdid Hasan Al-Banna juga terkait dengan bagaimana umat Islam menghadapi tantangan budaya asing tanpa kehilangan jati diri (Fauzi 2. Konsep syamil dan tadarruj membuka ruang bagi adaptasi budaya yang selektif, di mana umat Islam tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional sembari menerima hal-hal positif dari modernitas (Haddad 2. Implikasi budaya ini menuntut pendekatan dialogis dan inklusif yang The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 150 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies memperkuat identitas Islam dan memperluas wawasan terhadap pluralitas budaya di era global (Esposito 2. Penerapan konsep tajdid yang diajukan oleh Hasan Al-Banna dalam konteks kekinian membutuhkan strategi yang sistematis dan adaptif. Strategi ini harus mampu merangkul berbagai aspek kehidupan umat Islam sekaligus menjawab tantangan globalisasi, modernitas, dan dinamika sosial-politik yang terus berubah. Berikut ini uraian rinci strategi implementasi yang dapat menjadi acuan dalam upaya pembaruan Islam berdasarkan pemikiran Hasan Al-Banna. Pendidikan merupakan fondasi utama dalam proses pembaruan menurut Al-Banna (Al-Banna 2. Oleh karena itu, strategi pertama adalah memperkuat sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, moral, dan intelektual secara seimbang. Hal ini mencakup reformasi kurikulum yang menekankan pada pembelajaran kritis, kreatif, dan kontekstual (Rahman 2. Selain itu, pendidikan berbasis tajdid harus mampu membentuk karakter generasi muda yang tidak hanya religius secara ritual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial, toleransi, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman (Siddiqui 2. Pendekatan interdisipliner antara ilmu agama dan ilmu sosial menjadi kunci keberhasilan strategi ini (Esposito 2. Hasan Al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin sebagai wadah aktualisasi konsep tajdid (Kepel 2. Oleh sebab itu, revitalisasi organisasi Islam modern harus menjadi strategi kunci dalam implementasi tajdid. Organisasi-organisasi ini perlu mengedepankan manajemen yang profesional, transparan, dan partisipatif agar mampu merespon dinamika sosial-politik dan kebutuhan umat secara efektif (Mandaville Selain itu, organisasi Islam harus mengedepankan dialog antaragama dan dialog budaya sebagai bagian dari strategi membangun koeksistensi sosial yang harmonis (Nasr Hal ini akan memperkuat posisi Islam sebagai agama rahmat bagi semesta dan sekaligus menghindarkan dari praktik ekstremisme yang kontraproduktif (Haddad 2. Strategi ketiga adalah membangun sistem ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai keadilan, solidaritas, dan kesejahteraan bersama (Chapra 2. Hasan Al-Banna menekankan pentingnya ekonomi sebagai bagian integral dari pembaruan umat (Al-Banna 2. Oleh karena itu, strategi implementasi harus mencakup pengembangan ekonomi umat melalui sistem keuangan syariah, usaha mikro dan koperasi berbasis komunitas, serta pemberdayaan ekonomi umat yang inklusif (Iqbal. Molyneux, dan Molyneux 2. Implementasi ekonomi Islam yang progresif ini dapat membantu mengatasi kesenjangan sosial dan meningkatkan kualitas hidup umat secara berkelanjutan, sejalan The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 151 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies dengan tujuan tajdid yang menyeluruh (Esposito 2. Dalam era digital, teknologi informasi dan media sosial merupakan sarana strategis untuk menyebarkan ide-ide pembaruan dan dakwah yang efektif dan masif (Fauzi 2. Hasan Al-Banna sudah mencontohkan pentingnya komunikasi massa dalam gerakan Islam (Kepel 2. Oleh karena itu, strategi implementasi tajdid harus memaksimalkan pemanfaatan platform digital untuk edukasi, advokasi, dan kolaborasi umat Islam secara global (Haddad 2. Penggunaan teknologi ini juga harus diimbangi dengan literasi digital yang baik agar pesan-pesan dakwah tidak disalahgunakan atau menimbulkan misinformasi yang dapat merusak citra Islam (Nasr 2. Strategi terakhir adalah membangun dialog dan kerjasama internasional antar umat beragama untuk mempromosikan perdamaian dan toleransi (Esposito 2. Dalam pandangan Al-Banna. Islam harus menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia, sehingga membangun hubungan yang konstruktif dengan kelompok lain merupakan bagian tak terpisahkan dari proses tajdid (Al-Banna 2. Kerjasama lintas agama dan budaya juga penting dalam mengatasi masalah global seperti kemiskinan, perubahan iklim, dan konflik (Rahman 2. Melalui dialog ini, umat Islam dapat memperkuat posisi strategisnya dalam masyarakat global yang multikultural dan kompleks (Siddiqui 2. Tantangan dan Hambatan Implementasi Tajdid Hasan Al-Banna di Era Kontemporer Menerapkan konsep tajdid Hasan Al-Banna dalam konteks kekinian bukan tanpa Konteks sosial, politik, dan budaya yang berubah drastis memunculkan tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh para pelaku pembaruan Islam. Berikut adalah analisis rinci terkait berbagai hambatan yang muncul. Resistensi merupakan hal yang umum terjadi dalam setiap proses pembaruan, terutama dari kalangan konservatif yang memegang teguh tradisi. Kelompok ini sering kali menganggap pembaruan sebagai suatu inovasi yang menyimpang dari ajaran asli, atau bidAoah, sehingga menimbulkan penolakan kuat terhadap perubahan (Esposito 2. Dalam konteks Islam, penolakan terhadap tajdid bisa dipicu ketakutan kehilangan otoritas dan legitimasi keagamaan. Menurut Rahman . , sikap konservatif yang kaku ini cenderung menghambat perkembangan pemikiran Islam yang dinamis dan adaptif, sehingga menimbulkan stagnasi dalam sistem sosial dan keagamaan umat. Penelitian oleh Nasr . menegaskan bahwa dialog antar kelompok dan pendidikan yang inklusif menjadi kunci meredam resistensi ini, membuka ruang pemahaman bahwa tajdid adalah bagian dari warisan keilmuan Islam. Lebih jauh, resistensi konservatif ini juga muncul karena ketidaktahuan atau ketakutan terhadap perubahan. Oleh sebab itu, pendekatan yang The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 152 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies bersifat komunikatif dan partisipatif, serta memanfaatkan media dakwah modern, sangat diperlukan agar pesan pembaruan dapat diterima luas (Mandaville 2. Globalisasi membawa arus informasi dan pengaruh budaya yang masif dan sangat cepat, yang dapat menimbulkan dilema bagi umat Islam dalam memposisikan diri (Mandaville 2. Fenomena ini menuntut umat Islam untuk mampu menyaring pengaruh asing tanpa mengorbankan identitas dan nilai-nilai Islam yang fundamental. Hasan Al-Banna sudah mengantisipasi kebutuhan ini dengan menekankan pentingnya adaptasi ajaran Islam terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensinya (AlBanna 2. Namun, dalam praktiknya, modernitas membawa tantangan berupa munculnya nilai-nilai sekularisme, individualisme, dan relativisme yang berpotensi mengikis kekuatan spiritual dan solidaritas sosial umat (Kepel 2. Untuk itu, perlu dikembangkan model tajdid yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai modern dengan prinsip Islam secara harmonis, agar umat tidak terjebak dalam salah satu ekstrem yang bisa merusak keutuhan sosial dan keagamaan (Chapra 2. Fragmentasi politik dan sosial menjadi salah satu hambatan besar dalam implementasi tajdid. Konflik internal antar kelompok dan negara-negara Muslim sering kali menghalangi terbentuknya gerakan pembaruan yang kohesif dan terorganisir (Haddad Dalam banyak kasus, persaingan ideologi dan kepentingan politik menyebabkan perpecahan yang menghambat kolaborasi antar lembaga dan aktivis pembaruan (Fauzi Kondisi ini mengakibatkan lemahnya posisi tawar umat Islam di kancah global dan menurunkan efektivitas upaya pembaruan. Menurut Siddiqui . , untuk mengatasi hambatan ini, dibutuhkan pendekatan strategis yang menekankan persatuan dan solidaritas, mengedepankan kepentingan bersama di atas perbedaan ideologis. Penguatan jaringan organisasi Islam berbasis nilai tajdid bisa menjadi salah satu solusi untuk meredam fragmentasi ini. Pelaksanaan tajdid juga terkendala oleh keterbatasan sumber daya, baik dari sisi dana, tenaga ahli, maupun infrastruktur dakwah (Iqbal and Molyneux 2016:. Banyak komunitas Muslim terutama di negara-negara berkembang belum memiliki akses memadai ke teknologi informasi dan fasilitas pendidikan yang bisa mendukung program pembaruan. Chapra . menekankan pentingnya peran sinergi antara berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta, untuk menyediakan sumber daya yang dibutuhkan. Pemanfaatan teknologi digital sebagai media dakwah modern juga dapat membantu mengatasi keterbatasan geografis dan meningkatkan jangkauan pesan pembaruan (Rahman 2. Perubahan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 153 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies Muslim masa kini sangat cepat dan kompleks. Nilai-nilai tradisional yang selama ini menjadi pijakan umat mulai mengalami transformasi akibat modernisasi, urbanisasi, dan penetrasi budaya global (Esposito 2. Fenomena ini menciptakan dissonansi nilai antara generasi tua dan muda, yang pada akhirnya berpotensi menimbulkan konflik internal dalam komunitas Muslim. Menurut Mandaville . perubahan nilai ini menuntut pendekatan tajdid yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga dinamis dan inklusif. Artinya, pembaruan harus memperhatikan konteks sosial budaya yang berkembang tanpa meninggalkan prinsipprinsip Islam yang fundamental. Pendekatan yang dialogis dan berbasis partisipasi menjadi kunci untuk mengatasi dissonansi ini. Sebagai contoh, isu perempuan dan hakhak mereka dalam masyarakat Islam menjadi topik hangat yang perlu mendapat perhatian dalam implementasi tajdid. Hasan Al-Banna telah membuka ruang bagi pemberdayaan perempuan dalam konteks sosial dan pendidikan, namun tantangan praktisnya masih besar dalam menghadapi konservatisme sosial yang kuat (Siddiqui 2. Kemajuan teknologi informasi memberikan peluang sekaligus tantangan bagi umat Islam dalam menjalankan proses pembaruan. Di satu sisi, teknologi mempercepat penyebaran ilmu dan informasi, mempermudah akses ke sumber-sumber keilmuan Islam, serta memungkinkan mobilisasi sosial yang lebih efektif (Rahman 2. Di sisi lain, teknologi juga menghadirkan konten-konten yang berisi misinformasi, ekstrimisme, dan konsumsi budaya asing yang berpotensi merusak nilai-nilai Islam. Dalam konteks ini, tajdid Al-Banna menuntut pemanfaatan teknologi secara cerdas dan terarah. Media sosial dan platform digital harus digunakan sebagai sarana dakwah yang mengedukasi, membangun kesadaran, dan memperkuat jaringan komunitas Muslim (Chapra 2. Namun, hal ini memerlukan pengelolaan yang hati-hati dan penguatan literasi digital umat agar terhindar dari jebakan informasi negatif. Konsep tajdid Hasan Al-Banna tidak hanya relevan secara historis, tetapi juga memiliki implikasi praktis yang kuat bagi umat Islam saat ini, mengingat berbagai tantangan dan kebutuhan yang muncul akibat perubahan sosial, politik, dan ekonomi. Krisis identitas menjadi fenomena yang sangat menonjol dalam masyarakat Muslim di era globalisasi (Esposito 2. Pergeseran nilai budaya, dominasi media Barat, dan tekanan modernitas membuat sebagian umat Islam merasa kehilangan arah dan makna keberagamaan yang autentik. Konsep tajdid Al-Banna yang mengedepankan penyegaran nilai-nilai Islam dan pemahaman baru terhadap ajaran agama, menjadi jalan keluar yang dapat menguatkan The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 154 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies kembali identitas umat secara holistik dan inklusif (Nasr 2. Pendekatan ini mendorong umat untuk memaknai Islam secara kontekstual tanpa kehilangan akar tradisi (Mandaville Lebih jauh, penguatan identitas melalui tajdid juga menciptakan kesadaran kritis dan tanggung jawab sosial, sehingga umat tidak hanya berorientasi pada ritual keagamaan, tetapi juga aktif dalam pembangunan sosial dan kemanusiaan (Rahman 2. Salah satu aspek paling nyata dari relevansi tajdid adalah pembaruan sistem pendidikan dan dakwah. Al-Banna menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama pembaruan umat Islam (Al-Banna 2. Pendidikan yang bersifat menyeluruh, menggabungkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, menjadi modal utama dalam menghadapi tantangan zaman. Menurut Siddiqui . , modernisasi kurikulum dan metode pembelajaran yang interaktif dan kontekstual dapat meningkatkan daya saing dan kapasitas generasi muda Islam. Hal ini sejalan dengan kebutuhan menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Dalam konteks dakwah, penggunaan media digital dan pendekatan dakwah yang dialogis menjadi sangat relevan untuk menjangkau masyarakat luas dan mengedukasi umat secara efektif (Rahman 2. Ekonomi Islam juga mendapat perhatian penting dalam pembaruan menurut AlBanna. Prinsip keadilan, solidaritas, dan kesejahteraan sosial menjadi landasan bagi pengembangan ekonomi yang inklusif (Chapra 2. Dalam praktik kontemporer, ekonomi Islam yang berbasis syariah dan keadilan sosial ini dapat menjadi alternatif untuk mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan yang semakin melebar (Iqbal and Molyneux 2. Model pembaruan ini sangat relevan bagi banyak negara Muslim yang tengah berupaya memadukan pertumbuhan ekonomi dengan nilai-nilai keadilan sosial dan keberlanjutan (Haddad 2. Dalam menghadapi dinamika sosial yang kompleks dan pluralitas agama serta budaya, tajdid Al-Banna membuka jalan bagi pengembangan dialog antaragama dan toleransi (Haddad 2. Pendekatan ini menempatkan nilai kemanusiaan dan keadilan sebagai pijakan utama dalam interaksi sosial. Fauzi . menegaskan bahwa sikap terbuka dan dialogis ini sangat diperlukan untuk mengurangi konflik horizontal dan memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat majemuk. Hasan Al-Banna dikenal sebagai pendiri Ikhwanul Muslimin, sebuah gerakan sosial politik yang menempatkan tajdid sebagai landasan utama perjuangannya. Gerakan ini tidak hanya berfokus pada aspek ritual keagamaan, tetapi juga memperjuangkan perubahan sosial yang komprehensif (AlBanna 2. Relevansi model gerakan sosial ini sangat terasa dalam konteks The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 155 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies kontemporer, di mana umat Islam menghadapi berbagai persoalan sosial-politik dan Menurut Fauzi . , gerakan sosial Islam yang mengadopsi konsep tajdid harus mampu merespons kebutuhan masyarakat luas, termasuk di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, sehingga pembaruan menjadi nyata dan berkelanjutan. Pendekatan ini menghindari sikap eksklusif yang hanya berorientasi pada aspek keagamaan semata. Penerapan tajdid juga dapat diintegrasikan dalam kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan di negara-negara mayoritas Muslim. Konsep keadilan sosial, pemerataan ekonomi, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia yang menjadi bagian dari tajdid dapat menjadi pedoman dalam penyusunan kebijakan yang inklusif dan progresif (Haddad 2. Menurut Kepel . , implementasi prinsip-prinsip tajdid dalam tata pemerintahan dapat meningkatkan legitimasi dan efektivitas pemerintahan Islam, sekaligus menguatkan posisi umat Islam dalam kancah global. Hal ini membutuhkan kader-kader pemimpin yang memahami dan menghayati nilai-nilai tajdid secara mendalam. SIMPULAN Temuan utama dari kajian ini menunjukkan bahwa konsep tajdid yang ditawarkan Hassan al-Banna bersifat integratif, bertahap, dan sistematis, menjembatani ketegangan antara skripturalisme yang rigid dan liberalisme yang longgar. Melalui kerangka syamil . dan tadarruj . , al-Banna mengembangkan model pembaruan Islam yang tidak hanya menekankan pemurnian ajaran, tetapi juga menata kembali sistem sosial, pendidikan, ekonomi, dan politik agar selaras dengan nilai-nilai Islam dan tuntutan Pemikiran ini membuktikan bahwa tajdid berfungsi sebagai kekuatan transformatif yang menghidupkan kembali relevansi Islam dalam menghadapi tantangan modernitas tanpa kehilangan otentisitas ajaran. Kontribusi teoretis dari penelitian ini adalah menghadirkan model tajdid integratif berbasis pemikiran Hassan al-Banna yang dapat dijadikan kerangka analisis untuk memahami dan mengembangkan gerakan pembaruan Islam kontemporer. Secara aplikatif, kajian ini memberikan implikasi praktis bagi akademisi, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam merancang kurikulum pendidikan Islam yang menggabungkan nilai spiritual, moral, dan intelektual. memperkuat kohesi sosial melalui pemberdayaan serta mendorong partisipasi politik umat yang etis dan konstruktif. Model ini berpotensi menjadi rujukan strategis dalam mengembangkan pembaruan Islam yang kontekstual, moderat, dan berkelanjutan. The Concept of Tajdid. (Salma Mustafida. | 156 Vol. 2 No. Averroes: Journal for Science and Religious Studies Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya menggunakan pendekatan kajian pustaka . ibrary researc. tanpa verifikasi lapangan. Hal ini membatasi kemampuan penelitian untuk mengukur sejauh mana prinsip tajdid al-Banna telah diimplementasikan secara nyata dalam masyarakat Muslim kontemporer. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan metode empiris, seperti studi kasus atau survei lapangan, guna mengevaluasi efektivitas penerapan model tajdid ini dalam konteks sosial, politik, dan pendidikan di berbagai negara Muslim. REFERENCES