Journal of Economics and Management 2023, Vol. 1, No. 2, 103-111 https://doi.org/10.55681/ecoma.v1i2.15 Pengaruh Return on Asset, Earning per Share dan Price to Book Value terhadap Harga Saham: Studi pada Perusahaan LQ45 yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Aqilah Al Afif Fadhil1 Insitut Kesehatan dan Bisnis Kurnia Jaya Persada *Corresponding Author: aafiffadhil@gmail.com Received: 12/05/2023 | Revised: 25/05/2023 | Accepted: 24/07/2023 | Published: 15/08/2023 Abstract: This study aims to examine the effect of Return on Assets (ROA), Earnings per Share (EPS), and Price to Book Value (PBV) on stock prices. The sample consists of companies included in the LQ45 index and listed on the Indonesia Stock Exchange. The sampling technique employed was purposive sampling, which selects samples based on predetermined population characteristics. The research sample comprised 32 LQ45 companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the 2016–2020 period. This study utilized secondary data in the form of companies’ financial statements, with data collected through documentation techniques. The data analysis method applied was multiple linear regression analysis, supported by classical assumption tests. The results indicate that Return on Assets (ROA) has a negative and insignificant effect on stock prices, Earnings per Share (EPS) has a positive and significant effect on stock prices, and Price to Book Value (PBV) has a negative and insignificant effect on stock prices. In conclusion, Earnings per Share (EPS) has a positive and significant effect on stock prices, while Return on Assets (ROA) and Price to Book Value (PBV) have negative or insignificant effects on stock prices. Keywords: Return On Asset(ROA), Earning Per Share(EPS), Price To Book Value(PBV), Harga Saham. PENDAHULUAN Faktor terpenting dalam aktivitas perekonomian saat ini adalah investasi. Investasi kini sebagai pemenuhan kebutuhan seseorang maupun perusahaan setelah menjadi aktivitas alternatif untuk mendapatkan keuntungan. Investasi merupakan suatu gerakan dalam menanamkan sumber daya atau modal pada saat ini, dengan keinginan para investor bisa memperoleh keuntungan dan manfaat yang lebih di masa yang akan datang. Tujuan untuk melakukan ekspansi usaha dengan banyaknya perusahaan yang memilih untuk memanfaatkan sarana dalam memenuhi kenaikan modal usaha ataupun mendokrin modal. Menurut Wiyono & Kusuma (2021) perusahaan yang berhasil mendapatkan tingkat kemajuan yang tinggi, tentu akan memerlukan peningkatan investasi. Dikutip dari Melliana et al. (2021) bagi perusahaan publik, meningkatkan nilai perusahaan merupakan wujud yang harus dicapai karena dengan meningkatnya harga saham dapat memikat minat investor baru. Di tahun 2014, terjadi fenomena kasus pada ekonomi secara global yang berimbas This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. 103 Journal of Economics and Management Vol. 1 No. 2, August 2023 | E-ISSN: 2987-7407 | DOI: https://doi.org/10.55681/ecoma.v1i2.15 kepada kebijakan restrukturisasi keuangan di Indonesia sehingga memasuki keterlambatan pertumbuhan disebabkan adanya dilema yang dihadapi oleh kemajuan di berbagai aspek bidang industri perusahaan yang bertempat di Indonesia; adapun dilema yang dihadapinya terkait dengan tingginya suku bunga sebesar 7,5% diikuti dengan kenaikan harga dasar listrik industri terhitung mulai di awal bulan Mei 2014. Pengaruh dari hal tersebut berdampak kepada biaya di berbagai aspek industri di perusahaan sebab tingginya akan suku bunga tersebut membuat konsumsi masyarakat menjadi tertekan seperti mulainya minat masyarakat dalam pembelian motor terutama mobil yang menjadi alasan mengapa perusahaan industri logam mengalami penurunan untuk berkembang, sehingga pendapatan perusahaan tersebut tidak dapat menutupi biaya tentang kenaikan konsumsi listrik dalam rangka menambah menjalankan produksinya. Pada tahun 2015 lalu, tingkat pertumbuhan ekonomi global mendapati ketidakpastian. Hal tersebut diungkapkan oleh International Monetary Fund (IMF) di awal tahun 2016, dalam pertemuan World Economic Outlook, yang menyatakan bahwa jika laju peningkatan ekonomi di Negara Tirai Bambu (China) sedang memasuki laju pertumbuhan ekonomi yang lambat, hal tersebut di luar dugaan IMF. Sehingga, banyak kegiatan impor maupun ekspor di Negara Tirai Bambu (China) yang mengalami kegagalan keuangan terutama dalam aktivitas usaha investasi serta aktivitas manufaktur. Adapun dampak kasus yang terjadi dari pengaruh ketidakstabilan perekonomian dunia terhadap Indonesia ialah kepada perusahaan manufaktur sektor industri. Sebagian besar investor menetapkan analisis rasio yang merupakan alat yang digunakan untuk mendukung menguraikan laporan keuangan perusahaan sampai dapat diketahui kapasitas dan ketidakseimbangan suatu perusahaan dalam menetapkan pembelian saham. Penelitian empiris menunjukkan bahwa rasio-rasio keuangan seperti profitabilitas dan valuasi memiliki pengaruh terhadap harga saham di berbagai pasar berkembang (Gharaibeh, Saleh, Jawabreh, & Ali, 2022). Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan rasio Return On Asset (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Price to Book Value (PBV). Tiga rasio ini yang merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mewujudkan keuntungan yaitu rasio profitabilitas dan rasio valuasi (Korkeamäki & Välimäki, 2010; Chen, Leung, & Lin, 2018). Analisis tiga rasio ini berdampak terhadap harga saham di pasar bursa efek, karena bertambah luas tingkat kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba maka akan semakin besar pula atensi investor untuk berinvestasi (Penman & Zhang, 2002; Linnainmaa, 2018). Lebih lanjut, faktor-investasi perusahaan seperti tingkat investasi aktiva dan struktur modal juga terbukti mempengaruhi return saham (Jiao, 2017). Hasil analisis Apsara & Indriani (2017) menunjukkan bahwa variabel Return on Asset (ROA) berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Berselisih dengan penelitian yang dilakukan Alifatussalimah & Sujud (2020) yang menemukan bahwa ROA berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham tetapi EPS berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Ani et al. (2019) menyimpulkan Return On Asset (ROA) secara parsial berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Earning Per Share (EPS) secara parsial berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan beberapa hasil analisis yang inkonsisten tercatat, maka peneliti tertarik untuk membuat penelitian pengaruh Return On Asset, Earning Per Share dan Price To Book Value terhadap harga saham. This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. 104 Journal of Economics and Management Vol. 1 No. 2, August 2023 | E-ISSN: 2987-7407 | DOI: https://doi.org/10.55681/ecoma.v1i2.15 METODE PENELITIAN Jenis Penelitian, Populasi dan Sampel Penelitian ini menerapkan jenis penelitian kuantitatif, yaitu penelitian yang menguji hubungan variabel terhadap obyek yang diteliti lebih bersifat sebab dan akibat (kausal), artinya dalam penelitian akan terdapat variabel independen dan dependen (Sugiyono, 2016). Populasi penelitian ini yaitu perusahaan LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada perode tahun 2016-2020. Datasekunder diperoleh dari 32 perusahaan dengan mengunakan purposive sampling method dan terdapat 160 sampel. Tempat dan Waktu Pengambilan Data Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah perusahaan yang tergabung dalam kelompok sektor LQ 45 di Bursa Efek Indonesia. Waktu yang digunakan peneliti untuk penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal dikeluarkannya ijin penelitian dari bulan September, pengolahan data yang meliputi penyajian dalam bentuk skripsi dan proses bimbingan berlangsung. Definisi Operasional Variabel Harga Saham Dalam suatu organisasi, pengaturan kegiatan keuangan sering disebut sebagai manajemen keuangan. Menurut Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.740/KMK.00/1989 “Kinerja keuangan adalah prestasi yang dicapai oleh perusahaan dalam periode tertentu mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut. Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu dasar penilaian mengenai kondisi keuangan yang dapat dilakukan berdasarkan analisis rasio-rasio keuangan”. Menurut Kasmir (2015:104)“Rasio keuangan adalah kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya. Return On Asset (ROA) Menurut Hery (2015:168) Return On Asset(ROA) merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas penggunaan aset peruahaan dalam menciptakan laba bersih. Menurut V.Wiratna Sujarweni (2016:352) ROA digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan di dalam menghasilkan keuantungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik karena tingkat kembali investasi semakin besar, perhitungannya dengan cara: Earning Per Share (EPS) Earning Per Share(EPS) atau Pendapatan per lembar saham adalah suatu rasio yang menggambarkan jumlah keuntungan yang akan diperoleh dari setiap lembar saham yang dimiliki., Earning Per Sharemengacu pada laba bersih yang diperoleh dari setiap saham biasa yang beredar padaperiode tertentu. Perhitungan Earning Per Share(EPS) adalah: This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. 105 Journal of Economics and Management Vol. 1 No. 2, August 2023 | E-ISSN: 2987-7407 | DOI: https://doi.org/10.55681/ecoma.v1i2.15 Price To Book Value (PBV) Price to Book Value(PBV) Darmadji dan Fakhruddin (2012:157) mendefinisikan Price to Book Value(PBV) merupakan rasio yang menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham dari perusahaan. Perhitungan harga saham yang dipakai adalah harga saham pada penutupan periode tertentu. Harga saham yang dimaksud adalah nilai saham yang tertera di pasar sedangkan nilai buku adalah perbandingan antara nilai ekuitas dengan jumlah saham beredar. Perhitungannya dengan cara: HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik Uji NormalitasBerdasarkan dasar pengambilan keputusan yang ditetapkan, apabila p-plot terlihat mengikuti titik-titik dan mendekati garis diagonalnya maka dinyatakan normal, sebaliknya apabila tidak mengikuti garis diagonal maka dinyatakan tidak normal.Dapat dilihat hasil grafik Normal P-P Plot of Regression Standardized Residualmenunjukkan data berada disepanjang garis diagonal, sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini berdistribusi normal. Sumber : Data statistik diolah dengan SPSS (2022) Gambar 1. Hasil Uji P-Plot ROA This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. 106 Journal of Economics and Management Vol. 1 No. 2, August 2023 | E-ISSN: 2987-7407 | DOI: https://doi.org/10.55681/ecoma.v1i2.15 Sumber : Data statistik diolah dengan SPSS (2022) Gambar 2. Hasil Uji P-Plot EPS Sumber : Data statistik diolah dengan SPSS (2022) Gambar 3. Hasil Uji P-Plot PBV Uji Autokorelasi Tabel Tabel 1. Hasil Uji Autokorelasi Hasil uji autokorelasi setelah menggunakan Durbin Watson two step method. Diketahui sampel akir 160 dan k (variabel independen) = 3. Nilai dL= 1,7035, nilai dU= 1,7798 dan nilai dari 4-dU=2,2202. Syarat tidak terjadi autokerelasi yaitu Du < DW < 4 -Du, Nilai Durbin Watson sesuda melakukan penyembuhan Durbin Watson two step method, dengan Durbin Watson d sebesar 1,824 berkesimpulan tidak terjadi gejalah This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. 107 Journal of Economics and Management Vol. 1 No. 2, August 2023 | E-ISSN: 2987-7407 | DOI: https://doi.org/10.55681/ecoma.v1i2.15 autokorelasi atau asumsi autokorelasi terpenuhi karena nilai Du < DW < 4 –Du (1,7798 < 1,824 < 2,2202. Tabel 2. Perhitungan Durbin Watson (DW) Menunjukan nilai dL sebesar 1,7035 dan nilai dU sebesar 1, 7798, hal ini berarti bahwa nilai DW 1,824 lebih besar dari pada nilai dU 1, 7798 dan kurang dari 2,2965. Dengan dihasilkan nilai 1, 7798 < 1,824 < 2,2965, maka dapat disimpulkan dalam penelitian ini tidak terjadi autokorelasi dalam model regresinya. Uji Hipotesis Linear Berganda Tabel 6. Hasil Uji Linear Berganda Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai constantsebesar 34829.803 dan nilai Return On Asset(ROA) sebesar -31.496, Earning Per Share(EPS) sebesar 1.951 dan Price To Book Value(PBV) sebesar 3.929 terhadap variabel dependent (Harga Saham), maka dapat disusun persamaan regresi linear berganda sebagai berikut : Y = β0 + β1Χ1 + β2Χ2 + β3Χ3 + e Y = 34829.803 + (-31.496) + 1.951 + 3.929 + e Yang berarti bahwa : 1. Nilai konstanta saham beredar (Y) sebesar 34829.803 yang menyatakan jika variabel bebas yaitu Return On Asset(X1), Earning Per Share(X2), Price To Book Value(X3), maka terjadi menurun sebesar probabilitas saham beredar 34829.803. 2. Koefisien, X1 sebesar -31.496 yang berarti bahwa setiap terjadi peningkatan variabel X1 Return On Asset(ROA) sebesar 1% maka saham beredar (Y) meningkat sebesar -31.496. 3. Koefisien, X2 sebesar 1.951 yang berarti bahwa setiap terjadi peningkatan variabel X2 Earning Per Share(EPS) sebesar 1% maka saham beredar (Y) meningkat sebesar 1.951. 4. Koefisien, X3 sebesar 3.929 yang berarti bahwa setiap terjadi peningkatan variabel X3 Price To Book Value(PBV) sebesar 1% maka saham beredar (Y) meningkat sebesar 3.929. Dari uraian diatas menunjukkan bahwa variabel Return On Asset(ROA) memiliki nilai koefisien beta sebesar -31.496 dan nilai signifikannya 0,131 yang berarti nilai This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. 108 Journal of Economics and Management Vol. 1 No. 2, August 2023 | E-ISSN: 2987-7407 | DOI: https://doi.org/10.55681/ecoma.v1i2.15 signifikannya lebih besar dari 0,05. Maka dari hasil tersebut menyimpulkan bahwa variabel Return On Asset(ROA) mempunyai pengaruh negatif atau tidak signifikan, sehingga dapat disimpulkan H1 ditolak. Variabel Earning Per Share(EPS) memiliki nilai koefisien beta sebesar 1.951 dan nilai signifikan 0,009 yang berarti nilai signifikannya lebih kecil dari 0,05. Maka dari hasil tersebut menyimpulkan bahwa variabel Earning Per Share (EPS) mempunyai pengaruh positif atau signifikan, sehingga dapat disimpulkan H2 diterima. Variabel Price To Book Value(PBV) memiliki nilai koefisien beta sebesar 3.929 dan nilai signifikan 0,804 yang berarti nilai signifikannya lebih besar dari 0,05. Maka dari hasil tersebut menyimpulkan bahwa variabel Price To Book Value(PBV) mempunyai pengaruh negatif atau tidak signifikan, sehingga dapat disimpulkan H3 ditolak. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Hasil penelitian Return On Asset(ROA) terhadap harga saham diperoleh nilai beta - 0,124 dengan signifikansi 0,181 lebih besar dari taraf signifikansi yaitu 0,05 (0,181 > 0,05), karena nilai signifikansi Return On Asset(ROA) lebih besar dari 0,05 maka hipotesis ditolak. Maka penelitian ini menunjukkan pengaruh Return On Asset(ROA) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham; (2) Hasil penelitian Earning Per Share (EPS) terhadap Harga Saham diperoleh nilai beta 0,207 dengan signifikansi 0,009 lebih besar dari taraf signifikansi yaitu 0,009 (0,009 > 0,05), karena nilai signifikansi Earning Per Share(EPS) lebih besar dari 0,05 maka hipotesis diterima. Pada penelitian ini menunjukkan Earning Per Share(EPS) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap harga saham; (3) Hasil penelitian Price To Book Value(PBV) terhadap harga saham diperoleh nilai beta 0,020 dengan signifikansi 0,804 lebih besar dari taraf signifikansi yaitu 0,05 (0,804 > 0,05), maka hipotesis ditolak. Pada penelitian ini menunjukkan Pengaruh Price To Book Value(PBV) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut: (1) Bagi Pihak Perusahaan, Untuk lebih memperhatikan dan cepatmengambil tindakan ketika rasio keuangan yang diharapkan ternyata tidak sesuai harapan, memperhatikan nilai ROA, EPS, dan PBV serta mempertahankan dan meningkatkan laba. Dimana laba dapat tercermin pada EPS sehingga para investor ataupun calon investor tertarik untuk menanamkan modalnya. (2) Bagi investor, Bagi para investor maupun calon investor, sebaiknya melakukan analisis tentang rasio keuangan perusahaan dulu sebelum melakukan penanaman modal. Hal tersebut untuk meminimalisir bahkan menghilangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang tidak diinginkan. Selain itu, dengan analisis laporan keuangan, para investor juga bisa memperediksi harga saham sehingga bisa mengambil keputusan untuk membeli saham perusahaan; (3) Bagi Peneliti Selanjutnya, Peneliti selanjutnnya disarankan lebih banyakmenggunakan jumlah sampel dan menambah periode pengamatan serta mempertimbangkan variabel lainnya. This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. 109 Journal of Economics and Management Vol. 1 No. 2, August 2023 | E-ISSN: 2987-7407 | DOI: https://doi.org/10.55681/ecoma.v1i2.15 DAFTAR PUSTAKA Alifatussalimah, & Sujud, A. (2020). Pengaruh ROA, NPM, DER, dan EPS terhadap harga saham perusahaan subsektor perkebunan di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen, 16(2), 13-28. Aljifri, R. (2023). Investor psychology in the stock market: An empirical study of the impact of overconfidence on firm valuation. Borsa Istanbul Review, 23(1), 93-112. https://doi.org/10.1016/j.bir.2022.09.010 Almansour, B. Y. (2023). Behavioral finance factors and investment decisions. Cogent Business & Management, 10(1), 2239032. https://doi.org/10.1080/23322039.2023.2239032 Ani, N. K. S., Trianasari, & Cipta, W. (2019). Pengaruh ROA dan ROE serta EPS terhadap harga saham sektor farmasi yang terdaftar di BEI. Jurnal Manajemen, 5(2), 148-157. Apsara, R. H., & Indriani, A. (2017). Analisis pengaruh crude oil price, earning per share, price to book value, return on assets dan debt to equity ratio terhadap harga saham perusahaan batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016. Diponegoro Journal of Management, 6(4), 1-13. Basu, S. (1983). The relationship between earnings’ yield, market value and returns on the common stock of NYSE firms. Journal of Financial Economics, 12(1), 129-156. Chen, C., Leung, W., & Lin, W. (2018). Earnings quality, valuation, and stock returns. Journal of Empirical Finance, 48, 129-145. https://doi.org/10.1016/j.jempfin.2018.06.003 Chue, T. K., & Xu, J. K. (2022). Profitability, asset investment, and aggregate stock returns. Journal of Banking & Finance, 134, 106452. https://doi.org/10.1016/j.jbankfin.2021.106452 Fama, E. F., & French, K. (1992). The cross-section of expected stock returns. Journal of Finance, 47(2), 427-465. Gharaibeh, A. M., Saleh, A. M., Jawabreh, O. A., & Ali, M. M. (2022). Financial ratios and their impact on stock prices: Evidence from Jordanian industrial companies. Cogent Economics & Finance, 10(1), 2070348. https://doi.org/10.1080/23322039.2022.2070348 Hery. (2015). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Grasindo. Jiao, W. (2017). Whether profitability and investment factors have additional explanatory power for stock returns? China Finance and Economic Review, 10(1), 5. https://doi.org/10.1186/s40589-017-0051-5 Kasmir. (2015). Analisis Laporan Keuangan (Edisi 8). Jakarta: RajaGrafindo Persada. Korkeamäki, T., & Välimäki, E. (2010). Financial ratios and firm value in Nordic markets. Baltic Journal of Management, 5(3), 379-396. https://doi.org/10.1108/17465261011079790 Laili, T. F. (2024). Financial ratios and stock prices: Evidence from manufacturing companies listed on Indonesia Stock Exchange. Jameela: Journal of Accounting and Management, 2(1), 45-57. Li, L. (2025). The role of intangible investment in predicting stock returns: Six decades of evidence. Financial Management. https://doi.org/10.1111/fima.12505 Liao, C., Jiang, F., Jin, F., & Tang, G. (2020). Intangible assets aligned: In search of return predictability. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.3692106 This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. 110 Journal of Economics and Management Vol. 1 No. 2, August 2023 | E-ISSN: 2987-7407 | DOI: https://doi.org/10.55681/ecoma.v1i2.15 Linnainmaa, J. T. (2018). History of the cross-section of stock returns. The Review of Financial Studies, 31(7), 2606-2646. https://doi.org/10.1093/rfs/hiy029 Melliana, N., Wiyono, G., & Sari, P. P. (2021). Pengaruh return on equity (ROE), price to book value (PBV), dan debt to equity ratio (DER) terhadap price earning ratio (PER) pada perusahaan manufaktur sektor industri barang dan konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2015-2019. Jurnal Manajemen, 13(4), 702-709. https://doi.org/0.29264/jmmn.v13i4.10302 Penman, S. H., & Zhang, X. J. (2002). Accounting conservatism, the quality of earnings, and stock returns. The Accounting Review, 77(2), 237-264. https://doi.org/10.2308/accr.2002.77.2.237 Sukmawati, F., & Garsela, I. (2016). The effect of return on assets and return on equity to the stock price. In Proceedings of the 2016 Global Conference on Business, Management and Entrepreneurship. Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/gcbme16.2016.8 Supriyanto, Y., & Kurnianingsih, H. (2021). The effect of EPS, ROA, DER, and PBV on stock prices in the LQ45 index amid COVID-19 pandemic. International Journal of Multidisciplinary and Current Educational Research, 3(5), 58-68. Wiyono, G., & Kusuma, H. (2021). Manajemen Keuangan Lanjutan: Berbasis Corporate Value Creation (2nd ed.). Yogyakarta: UPP STIM YKPN. This is a Creative Commons License. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. 111