Journal of Medical Science Jurnal Ilmu Medis Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Vol. No. Hlm. 1 - 11. April 2026 e-ISSN: 2721-7884 https://doi. org/10. 55572/jms. Hubungan Adekuasi Hemodialsis dan Kadar Natrium Terminal Prohormone of Brain Natriuretic Peptide (NT-proBNP) dengan Efusi Pleura Transudat pada Penyakit Ginjal Kronik The Relationship between Adequacy of Hemodialysis and Levels of Terminal Prohormone of Brain Natriuretic Peptide (NT-proBNP) with Transudative Pleural Effusion in Chronic Kidney Disease Abdullah1*. Reza Tandi1. Maimun Syukri1. Desi Salwani1. Amelia Cassandra2 Bagian/KSM Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUD dr. Zainoel Abidin. Banda Aceh Peserta Program Studi Pendidikan Ilmu Penyakit Dalam Bagian/KSM Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUD dr. Zainoel Abidin. Banda Aceh *E-mail: abdullah. sawang@yahoo. Submit : 24 April 2025. Revisi: 22 April 2026. Terima: 29 April 2026 Abstrak Penyakit ginjal kronis (PGK) masih menjadi masalah kesehatan global. Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. menunjukkan peningkatan prevalensi PGK di Indonesia dari 0,2 menjadi 0,38 % . Hemodialisis (HD) merupakan salah satu modalitas terapi pengganti ginjal pada penyakit ginjal kronik tahap akhir (PGTA). Efusi pleura sering dijumpai pada pasien PGTA yang menjalani HD. Pada PGTA yang belum HD terdapat 3% efusi pleura dan 31,85% yang telah menjalani HD. Mekanisme efusi pleura pada PGTA dianggap berkaitan erat dengan kondisi kelebihan cairan dan HD yang tidak optimal. N-terminal prohormone-brain natriuretic peptide (NT-proBNP) dianggap dapat mendeteksi kondisi kelebihan cairan dan evaluasi adekuasi HD berkala perlu dilakukan pada pasien HD. Karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana hubungan Adekuasi Hemodialisis dan Kadar NT-proBNP terhadap jenis Efusi Pleura Pada Pasien PGK. Penelitian bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan total sampling mulai 1 April 2024 hingga 31 Juli 2024 yang dilakukan di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Penelitian ini melibatkan pasien efusi pleura yang menjalani HD di RSUZA. Variabel bebas pada penelitian ini adalah Adekuasi HD (Kt/V) dan Kadar NT-proBNP dan variabel terikat Efusi Pleura. Uji normalitas menggunakan Shapiro wilk. Hubungan antar variabel diuji menggunakan Pearson correlation test bila distribusi data normal atau uji Spearman correlation test distribusi data tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan NT-proBNP memiliki hubungan yang signifikan terhadap Efusi Pleura Transudat dengan nilai p=0,762 di tingkat kepercayaan 99%. Adekuasi HD tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap efusi pleura transudat dengan nilai p= -0,134. Kata Kunci: Efusi Pleura Transudat. Adekuasi Hemodialisis. NT-proBNP, hemodialisis Abstract Chronic kidney disease (CKD) remains a global health problem. Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. data show an increase in CKD prevalence in Indonesia from 0. 2% to 0. 38% . 3Ae2. Hemodialysis (HD) is one of the renal replacement therapy modalities used in end-stage renal disease (ESRD). Pleural effusion is often found in ESKD patients undergoing HD. In ESRD patients who have not undergone HD, pleural effusion occurs in 3%. Abdullah dkk. /Journal of Medical Science. Vol. 7 No. whereas it occurs in 31. 85% of those who have received HD. The mechanism of pleural effusion in ESRD is considered to be closely related to fluid overload and inadequate HD. N-terminal prohormone-brain natriuretic peptide (NT-proBNP) is considered a marker of fluid overload, and patients on hemodialysis should undergo regular assessments of dialysis adequacy. Therefore, the researcher is interested in examining the relationship between hemodialysis adequacy and NT-proBNP levels with the type of pleural effusion in ESRD This analytic study used a cross-sectional approach with total sampling from April 1, 2024, to July 31, 2024, conducted at dr. Zainoel Abidin General Hospital. Banda Aceh. The study involved pleural effusion patients undergoing HD at RSUZA. The independent variables were HD adequacy (Kt/V) and NT-proBNP levels, while the dependent variable was pleural effusion. Normality testing used the ShapiroAeWilk test. The relationship between variables was tested using the Pearson correlation test for normally distributed data or the Spearman correlation test for non-normal data. The results showed that NT-proBNP had a significant relationship with transudative pleural effusion . = 0. at a 99% confidence level. HD adequacy had no significant relationship with transudative pleural effusion . = Ae0. Keywords: Transudative Pleral Effusion. Hemodialysis Adequacy. NT-proBNP, hemodialysis Pendahuluan Penyakit ginjal kronis (PGK) masih menjadi masalah kesehatan global. Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. menunjukkan peningkatan prevalensi PGK di Indonesia 0,2 menjadi 0,38 % . Analisis prevalensi PGK meningkat menjadi 0,5%. Hemodialisis (HD) merupakan salah satu modalitas terapi pengganti ginjal pada penyakit ginjal kronik tahap akhir (PGTA). Jumlah pasien yang menjalani HD tahun 2015 sebanyak 30554 pasien meningkat menjadi 132142 . Terdapat peningkatan pasien yang menjalani HD 11,1 % setiap tahunnya. Pasien HD kronik memiliki peningkatan risiko kematian 9 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Terdapat 246 pasien menjalani hemodiailisis di RSUDZA Banda Aceh tahun 2024 (Afiatin 2018. Riskesda 2013. Hill, 2013. Hustrini 2023. Hustrini, 2. Terapi pengganti ginjal merupakan tatalaksana PGTA. Hemodialisis (HD) merupakan salah satu modalitas terapi pengganti ginjal. Keberhasilan hemodialisis bergantung pada adekuasi HD dan Adekuasi hemodialisis merupakan kecukupan dosis hemodialisis untuk membuang zat sisa dan toksin dari darah pasien yang dinilai berdasarkan klirens ureum, volume ureum yang didistribusikan, dan waktu dialisis (Maksum, 2. Penyakit ginjal kronis gangguan hemodinamik menyebabkan retensi natrium dan air serta penurunan fungsi ginjal. Efusi pleura sering ditemukan pada pasien PGK stadium akhir yang menjalani HD. Pada PGTA terdapat 3% efusi pleura. Mekanisme efusi pleura pada PGTA berkaitan erat dengan hipervolemia, gagal jantung, hipoproteinemia, infeksi pleura kronik malignansi, atau emboli paru. Nitin dkk di India penelitian pada 40 pasien hemodialisis, 75% dengan efusi pleura Dwianggita dkk melaporkan bahwa dari 107 pasien efusi pleura transudat yang dirawat inap di RSUP Sanglah Denpasar, 9,3% PGK (Nitin, 2019. Dwiangga, 2. N-terminal prohormone-brain natriuretic peptide (NT-proBNP) adalah hormon peptida disintesis oleh kardiomiosit ventrikel sebagai respons peregangan miokard. NT-proBNP meniingkat pada gagal jantung, iskemia jantung, emboli paru, cor pulmonale, hipertensi, hipertiroidisme, sindrom cushing, hiperaldosteronisme, sirosis, perdarahan subaraknoid, dan PGK. Studi Wu dkk mendapatkan prevalensi 31,85% pasien hemodialisis dengan efusi pleura transudat. Terdapat 77,84% pasien dengan efusi pleura akibat gagal jantung, hal ini dikaitkan dengan kadar NT-proBNP yang meningkat(Wang 2007. Wu 2021. Koratala, 2. Berdasarkan latar belakang di atas, kami tertarik mencari hubungan antara adekuasi hemodialisis dan kadar NT-proBNP pada pasien PGK. Abdullah dkk. /Journal of Medical Science. Vol. 7 No. Metodelogi Desain penelitian Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain cross sectional. Penelitian juga telah dinyatakan lulus etik oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) RSUD dr. Zainoel Abidin dengan nomor : 076/ETIK-RSUDZA/2024. Penelitian dilakukan di Instalasi hemodialisis Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Banda Aceh dari 1 April 2024 s. 31 Juli 2024. Populasi target penelitian ini adalah seluruh pasien PGK, sedangkan populasi terjangkaunya adalah pasien efusi pleura yang menjalani HD di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Subjek penelitian ini adalah populasi terjangkau memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Penelitian ini menggunakan total sampling. Kriteria inklusi . Pasien PGK yang menjalani HD regular di RSUDZA > 3 bulan, . Usia Ou 18 tahun, . Terdiagnosis dengan efusi pleura. Bersedia menjadi responden penelitian. Kriteria Eksklusi pada penelitian ini adalah . Pasien PGK dengan efusi pleura yang disertai penyakit kronis lain seperti: keganasan dan sirosis hepatis. Instrumen penelitian Subjek yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi akan mendapat penjelasan terkait tujuan dan manfaat penelitian oleh peneliti serta meminta pasien untuk menandatangani persetujuan . nformed consen. menjadi subjek penelitian. Selanjutnya akan dilakukan aspirasi diagnostik cairan pleura . hingga 60 mL) yang diambil saat tindakan torakosintesis. Selanjutnya digunakan kriteria Light untuk untuk mengklasifikasikan efusi pleura sebagai eksudat atau transudat dengan membandingkan parameter cairan pleura terhadap serum pada waktu pemeriksaan yang Efusi dikategorikan sebagai eksudat bila minimal satu dari tiga kondisi terpenuhi: . rasio protein total cairan pleura terhadap protein serum > 0,5. rasio LDH cairan pleura terhadap LDH serum > 0,6. LDH cairan pleura melebihi dua pertiga batas atas nilai normal . pper limit of normal. ULN) LDH serum dari laboratorium yang sama. Jika ketiga kriteria tidak terpenuhi, efusi diklasifikasikan sebagai transudat. Kemudian peneliti akan menghitung adekuasi HD dengan menilai rata-rata Kt/V dalam 1 minggu . -3 sesi HD). Selanjutnya dilakukan pemeriksaan laboratorium darah terhadap pasien dengan melakukan vena punksi pada fossa cubiti sebanyak 5 cc untuk pemeriksaan plasma darah berupa analisis kadar NT-proBNP dengan menggunakan Human NT-proBNP ELISA kit. Analisis data Data dikumpulkan melalui data primer dengan melakukan pemeriksaan kepada pasien. Data langsung dimasukkan pada sebuah software database pengumpulan data yang dibuat oleh peneliti untuk kemudian dilakukan analisa data. Uji normalitas menggunakan Shapiro wilk. Hubungan antar variabel diuji menggunakan Pearson correlation test bila distribusi data normal atau uji Spearman correlation test bila distribusi data tidak normal. Hasil dan Pembahasan Karakteristik Sosiodemografis dan Klinis Pasien Pada tabel 1 dan 2 dibawah ini menampilkan karakteristik umum dan klinis dari subjek penelitian pasien dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Abdullah dkk. /Journal of Medical Science. Vol. 7 No. Tabel 1. Karateristik umum subjek penelitian Karakteristik Jenis Kelamin Usia Tingkat Pendidikan Efusi Pleura Lama Hemodialisis Adekuasi Hemodialisis NT-proBNP Indeks Massa Tubuh Kategori Laki-laki Perempuan 18Ae39 tahun 40Ae59 tahun Ou60 tahun Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Perguruan Tinggi Transudat (LightAos Criteria Ou 1,. Eksudat (LightAos Criteria < 1,. <1 tahun 1 Ae <2 tahun 2 Ae <3 tahun 3 Ae <4 tahun Efisien Inefisien <2. 000 ng/mL 000 Ae <3. 000 ng/mL 000 Ae <4. 000 ng/mL 000 Ae <5. 000 ng/mL >5. 000 ng/mL Berat badan kurang Normal Berat badan lebih Obesitas Total Observasi . Didapatkan 45 pasien PGK dengan karakteristik sosiodemografi jumlah laki-laki sebanyak 15 pasien . ,33%) dan perempuan sebanyak 30 pasien . ,67%). Pasien dengan usia 18-39 tahun sebanyak 6 orang . ,33%), 40-59 tahun sebanyak 26 orang . ,78%), dan >60 tahun sebanyak 13 orang . ,89%). Efusi pleura transudat dijumpai sebanyak 26 pasien . ,78%) dan eksudat sebanyak 19 pasien . ,22%). Lama hemodialisis dibagi menjadi 4 kategori yaitu <1 tahun sebanyak 30 pasien . ,67%), 1-<2 tahun sebanyak 7 pasien . ,56%), 2-<3 tahun sebanyak 3 pasien . ,67%), dan 3-<4 tahun sebanyak 5 pasien . ,11%). Pada adekuasi hemodialisis dijumpai 43 pasien . ,56%) tidak mencapai target, 2 pasien . ,44%) mencapai target. Kadar NT-proBNP pasien paling banyak pada 4000-<5000 ng/mL sebanyak 18 pasien . %), diikuti oleh <2000 ng/mL sebanyak 12 pasien . ,67%), 2000-<3000 ng/mL sebanyak 7 pasien . ,56%), 3000-<4000 ng/mL sebanyak 6 pasien . ,33%), dan >5000 ng/mL sebanyak 2 pasien . ,44%). Indeks Massa Tubuh (IMT) paling tinggi yaitu Normal sebanyak 35 pasien . ,78%) dan paling sedikit adalah obesitas sebanyak 1 pasien . ,27%). Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit ginjal kronis (PGK) 0,2 menjadi 0,38 % . di Indonesia, namun analisis prevalensi PGK mencapai 0,5%. (Riskesdas 2013. Hill, 2013. Hustrini 2023. Hustrini, 2018. Mills, 2. Hemodialisis merupakan salah satu modalitas terapi pengganti ginjal pada PGTA. Dialisis adalah salah satu bentuk terapi Abdullah dkk. /Journal of Medical Science. Vol. 7 No. pengganti ginjal. Frekuensi dialisis yang paling optimal adalah tiga kali seminggu dan untuk durasi 4-5 jam, idealnya 10-15 jam per minggu. Terdapat peningkatan pasien HD 30554 menjadi 132142 pasien . dengan peningkatan 11,1 % setiap tahun. Pasien HD kronik memiliki risiko kematian 9 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Terdapat 246 pasien menjalani hemodialisis di RSUDZA Banda Aceh tahun 2024 (Afiatin 2018. Riskesdas 2013. Hill, 2013. Mills, 2015. KDIGO 2. Tabel 2. Karakteristik klinis subjek penelitian No. Karakteristik Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia (Rata-rata tahu. 18Ae39 tahun 40Ae59 tahun Ou60 tahun Tingkat Pendidikan Sekolah Dasar SLTP SLTA Perguruan Tinggi Lama Hemodialisis . <1 tahun 1 Ae <2 tahun 2 Ae <3 tahun 3 Ae <4 tahun Adekuasi HD (Kt/V) <0,5 0,5 Ae <1 1 Ae <1,5 >1,5 NT-proBNP . g/mL) <2. 000 Ae <3. 000 Ae <4. 000 Ae <5. >5. Indeks Massa Tubuh . g/mA) Kurang Normal Lebih Obesitas Berat Badan . Tinggi Badan . Lingkar Lengan . BUN Pre . g/dL) BUN Post . g/dL) Hemoglobin . /dL) Total . Transudat . Eksudat . Pvalue 0,306 0,399 0,960 . 0,128 0,289 0,000 0,484 0,646 0,460 0,545 0,287 0,310 0,495 Abdullah dkk. /Journal of Medical Science. Vol. 7 No. Leukosit (/AAL) . No. Karakteristik Total . Trombosit (/AAL) Gula Darah Sewaktu URR (%) Keterangan : * : =10%. *** : =1%. Transudat . Eksudat . 0,640 Pvalue 0,088 0,509 0,299 Tabel 2 menunjukkan bahwa efusi pleura lebih banyak terjadi pada laki-laki, baik pada kelompok transudat . ,8%) maupun eksudat . ,89%). Sebagian besar pasien berada pada rentang usia 40Ae 59 tahun, yaitu 53,58% pada transudat dan 63,16% pada eksudat. Berdasarkan tingkat pendidikan, mayoritas pasien merupakan lulusan pendidikan menengah atas, masing-masing 61,54% pada transudat dan 57,8% pada eksudat. Durasi hemodialisis terbanyak adalah kurang dari 1 tahun pada kedua kelompok . ,08% pada transudat dan 57,89% pada eksuda. Adekuasi hemodialisis yang paling sering ditemukan adalah <0,5 Kt/V pada kedua jenis efusi pleura . ,23% pada transudat dan 57,89% pada eksuda. Kadar NT-proBNP paling banyak berada pada rentang 4000Ae<5000 ng/mL pada kelompok transudat . ,23%), sedangkan pada kelompok eksudat sebagian besar berada pada kadar <2000 ng/mL . ,16%). Sebagian besar pasien pada kedua kelompok efusi pleura memiliki indeks massa tubuh (IMT) dalam kategori normal . ,92% pada transudat dan 78,95% pada eksuda. Rata-rata berat badan pada kelompok transudat adalah 55,46 kg dan 56,58 kg pada eksudat, dengan tinggi badan masingmasing 158,46 cm dan 161,68 cm. Lingkar lengan rata-rata hampir sama pada kedua kelompok, yaitu 28,19 cm pada transudat dan 28,53 cm pada eksudat. Nilai rata-rata blood urea nitrogen (BUN) sebelum dan sesudah pada kelompok transudat adalah 54,20 mg/dL dan 46,35 mg/dL, sedangkan eksudat 62,61 mg/dL dan 52,26 mg/dL. Kadar hemoglobin rata-rata sedikit lebih rendah pada kelompok eksudat . ,38 g/dL) dibandingkan transudat . ,66 g/dL). Jumlah leukosit rata-rata lebih tinggi pada kelompok transudat . dibandingkan eksudat . , begitu pula dengan trombosit . 846,15 dan 193. Sementara itu, kadar gula darah sewaktu lebih tinggi pada kelompok transudat . ,08 mg/dL) dibandingkan eksudat . ,16 mg/dL). Rata-rata urea reduction rate (URR) pada kelompok transudat adalah 11,64%, sedangkan pada eksudat sebesar 15,05%. Efusi pleura sering terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang akibat kelebihan cairan dan HD yang tidak optimal. Efusi bilateral dan transudat dengan tanda kelebihan cairan paru ekstravaskular merupakan pertanda kelebihan cairan. (Jabbar, 2021. Bakirci, 2. Meskipun gagal jantung merupakan penyebab paling umum dari efusi pleura, penyebab lain seperti tuberkulosis (TB), uremia, pleuropneumonia, harus dipertimbangkan dan diselidiki terutama pada kasus efusi pleura unilateral. (Stack, 2001. Linguist, 2. Jabbar dkk . menunjukkan bahwa 280 pasien PGTA dengan efusi pleura, 75,7% transudat . ,3 % menjalani HD) dan 24,3% eksudat . ,7% menjalani HD). Penyebab efusi pleura transudat pada PGK adalah kelebihan cairan . Hamada dkk menemukan insidensi efusi pleura saat inisiasi HD adalah 48,8 % (KDIGO, 2012. Jabbar, 2021. Virupakshappa, 2017. Hamada, 2. Hubungan NT-proBNP dan Adekuasi Hemodialisis terhadap Efusi Pleura Analisis hubungan antara kadar NT-proBNP dan kejadian efusi pleura dilakukan untuk mengevaluasi keterkaitan antara kedua variabel tersebut. Hasil analisis disajikan pada Tabel 3. Abdullah dkk. /Journal of Medical Science. Vol. 7 No. Tabel 3. Hubungan Analisis NT-proBNP dan Efusi Pleura No. Variabel Kategori Transudat . Eksudat . Koefisien Korelasi Spearman . NT-proBNP . g/mL) < 3. 0,762 . *** Ou 3. Total Berdasarkan Tabel 3, uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa kadar NT-proBNP memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian efusi pleura, dengan kekuatan korelasi yang cukup kuat . = 0,. dan tingkat kepercayaan 99%. Kadar NT-proBNP . g/mL) berhubungan secara searah dengan nilai kriteria Light. Nilai kriteria Light O1,2 diklasifikasikan sebagai efusi pleura eksudat, sedangkan nilai >1,2 menunjukkan efusi pleura transudat. Dengan demikian, semakin tinggi kadar NT-proBNP, semakin tinggi pula nilai kriteria Light, sehingga peningkatan kadar NT-proBNP cenderung berkaitan dengan efusi pleura tipe transudat. Pola peningkatan kadar NT-proBNP pada pasien hemodialisis juga dapat diamati pada Gambar 1. Sebaran NT-proBNP terhadap Hemodialisis, yang menunjukkan kecenderungan distribusi kadar NT-proBNP pada populasi penelitian. Brain natriuretic peptide (BNP), yang termasuk dalam golongan peptida natriuretik, disintesis oleh kardiomiosit ventrikel sebagai respons terhadap stres dinding jantung, serta berperan penting dalam regulasi tekanan darah dan volume cairan ekstraseluler (Levin. Gardner, and Samson, 1. Dalam sirkulasi, pro-BNP akan dipecah menjadi BNP aktif dan NT-proBNP yang merupakan fragmen N-terminal yang tidak aktif. NT-proBNP terutama dieliminasi melalui ginjal, sedangkan BNP dibersihkan melalui reseptor peptida natriuretik spesifik dan enzim endopeptidase (Ducros dkk. Penelitian oleh Ducros dkk. menunjukkan bahwa kadar NT-proBNP secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan protein energy wasting (PEW), sehingga biomarker ini tidak hanya mencerminkan fungsi jantung, tetapi juga dapat mengindikasikan status nutrisi pada pasien yang menjalani hemodialisis. Transudat Eksudat < 3. 000 ng/mL > 3. 000 ng/mL Gambar 1. Sebaran NT-proBNP terhadap Hemodialisis Kadar NT-proBNP pada pasien hemodialisis umumnya meningkat akibat kombinasi peningkatan sekresi dan penurunan clearance oleh ginjal. Oleh karena itu, kadar NT-proBNP cenderung lebih tinggi pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dibandingkan individu dengan fungsi ginjal Selain itu, kadar NT-proBNP juga dilaporkan lebih tinggi pada pasien dengan indeks massa Abdullah dkk. /Journal of Medical Science. Vol. 7 No. tubuh (IMT) rendah meskipun tanpa gangguan jantung, serta pada individu dengan komposisi lemak tubuh yang rendah. Penelitian oleh Ducros dkk. yang menggunakan penilaian Subjective Global Assessment (SGA) dan Malnutrition-Inflammation Score (MIS) menunjukkan bahwa kondisi malnutrisi yang disertai dengan overload cairan berkaitan dengan peningkatan kadar NT-proBNP. Penelitian oleh Abdalla dkk. menunjukkan bahwa kadar NT-proBNP secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan efusi pleura non-kardiogenik, namun biomarker ini juga memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mengidentifikasi efusi pleura yang disebabkan oleh faktor kardiogenik. Hal ini sejalan dengan meta-analisis oleh Jun Han dkk. yang menyatakan bahwa peningkatan kadar NT-proBNP berkorelasi dengan efusi pleura yang berasal dari penyebab kardiogenik, khususnya pada pasien gagal jantung. Di sisi lain, penelitian Yilmaz . mengemukakan bahwa penilaian klinis terhadap kelebihan cairan relatif sulit dilakukan. Edema secara umum mencerminkan kelebihan volume ekstravaskular, namun tidak selalu akurat dalam menilai volume intravaskular. Meskipun biomarker seperti BNP dan NT-proBNP dapat digunakan untuk mengevaluasi perubahan status cairan, interpretasinya dapat dipengaruhi oleh adanya penyakit kardiovaskular serta akumulasi pada pasien penyakit ginjal tahap akhir (PGTA). Oleh karena itu, penggunaannya sebagai indikator tunggal dalam evaluasi status cairan memiliki keterbatasan. Keterkaitan antara faktor klinis lainnya, termasuk adekuasi hemodialisis dengan kejadian efusi pleura, dapat dilihat pada Tabel 4. Analisis Hubungan Adekuasi Hemodialisis dan Efusi Pleura. Tabel 4. Analisis Hubungan Adekuasi Hemodialisis dan Efusi Pleura No. Variabel Kategori Transudat . Eksudat . Koefisien Korelasi Spearman . -valu. Adekuasi HD (Kt/V) -0,134 . Ou1 Total Berdasarkan Tabel 4, uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa adekuasi hemodialisis tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian efusi pleura. Kedua variabel tersebut menunjukkan hubungan yang sangat lemah dengan koefisien korelasi sebesar -0,134. Distribusi kejadian efusi pleura pada pasien hemodialisis dapat dilihat pada Gambar 2. Sebaran Efusi Pleura terhadap Hemodialisis. Transudat Eksudat < 1 Kt/V > 1 Kt/V Gambar 2. Sebaran Efusi Pleura terhadap Hemodialisis Abdullah dkk. /Journal of Medical Science. Vol. 7 No. Berdasarkan Gambar 2, terlihat distribusi kejadian efusi pleura pada pasien yang menjalani hemodialisis, yang menunjukkan bahwa efusi pleura tetap dapat terjadi pada berbagai kondisi hemodialisis tanpa pola hubungan yang jelas terhadap adekuasi dialisis, sejalan dengan hasil analisis pada Tabel 4. Peningkatan hemodialisis pemeliharaan dan meningkatnya harapan hidup pasien end-stage renal disease (ESRD) juga diikuti oleh berbagai komplikasi. Permasalahan yang muncul dapat bersifat toraks maupun ekstratoraks. Dialisis sering dikaitkan dengan beberapa gangguan toraks, salah satunya adalah efusi pleura (Bintcliffe dkk. , 2. Efusi pleura merupakan komplikasi akibat uremia yang dapat terjadi pada sekitar 40% pasien ESRD yang menjalani hemodialisis jangka panjang (Wiradinata. Santoso, dan Soeroto, 2. Penelitian retrospektif oleh Bakirci dkk. menunjukkan bahwa sekitar 20% pasien dengan durasi hemodialisis yang lama mengalami efusi pleura, dengan penyebab tersering adalah hipervolemia dan efusi parapneumonik, serta mayoritas berupa tipe transudat . ,3%). Penelitian oleh Lakadayamli dan Ergun . yang berfokus pada manifestasi toraks pada pasien hemodialisis simptomatik menunjukkan bahwa gejala yang sering muncul meliputi batuk, dispnea, demam ringan, malaise, dan penurunan berat badan, serta sebanyak 45,3% pasien uremia mengalami efusi pleura. Penelitian lain oleh Azrini. Shahnaz, dan Zulkarnain . juga menunjukkan bahwa efusi pleura pada pasien penyakit ginjal tahap akhir (PGTA) yang menjalani hemodialisis jangka panjang paling sering disebabkan oleh overload cairan dan efusi parapneumonik, dengan distribusi tipe eksudat dan transudat yang relatif seimbang. Hal ini didukung oleh penelitian cross-sectional oleh Raghunath dkk. yang menemukan proporsi efusi pleura hampir sebanding antara transudat . ,8%) dan eksudat . ,2%). Lebih lanjut, penelitian oleh Jabbar . menunjukkan bahwa stadium penyakit ginjal kronik berhubungan secara signifikan dengan jenis efusi pleura. Efusi transudatif lebih dominan pada pasien dengan stadium lanjut PGTA, sedangkan efusi eksudatif lebih sering ditemukan pada pasien yang menjalani hemodialisis. Penyebab utama efusi pleura transudat adalah overload cairan dan gagal jantung, sedangkan efusi eksudat umumnya disebabkan oleh tuberkulosis, uremik pleuritis, dan empiema. Pada pasien hemodialisis, efusi pleura juga sering dikaitkan dengan kondisi underdialysis, sehingga diperlukan frekuensi dialisis yang lebih optimal, yaitu tiga kali per minggu dengan durasi yang lebih adekuat. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, kadar NT-proBNP berhubungan signifikan dengan efusi pleura Sedangkan nilai Kt/V tidak memiliki hubunga yang signifikan dengan efusi pleura transudat pada penelitian ini. Ucapan Terimakasih Puji syukur kepada Allah SWT atas terselesaikannya penelitian ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pasien dan keluarga pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, serta kepada seluruh DPJP, perawat, tenaga administrasi, logistik, dan pekarya atas dedikasi dan pelayanan yang diberikan. Terima kasih juga disampaikan kepada Bidang Penelitian dan Pengembangan RSUDZA atas dukungan dan pendanaan sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Abdullah dkk. /Journal of Medical Science. Vol. 7 No. Daftar Pustaka